Penerjemah: Arif77
Proffreader: Arif77
Chapter 10
Keributan di Festival Budaya - Bunkasai Soudou
Langit cerah musim gugur membentang jernih, seolah tak mau kalah dari musim panas.
Hari festival budaya, pukul tujuh tiga puluh pagi.
Saat aku tiba di depan gerbang sekolah, sebagian anggota panitia sudah mulai bersiap.
Pada lengan para panitia kelas terpasang ban lengan berwarna kuning, dan di antara mereka ada juga sosok Mitani-senpai.
“Yo, Yoshiki! Datangmu telat banget!”
“Selamat pagi. Senpai yang terlalu cepat, kan? Katanya patokannya jam delapan?”
“Kami para senpai digeret jauh lebih pagi, tahu. Harusnya kebalik ya, haha.”
Meski begitu, ekspresi Mitani-senpai terlihat sangat bersemangat.
“Aku hari ini bakal tampil band di panggung, lho! Datang nonton ya, pahlawan yang menyelamatkan klub handball!”
Diantar senyum lebar Mitani-senpai, aku berjalan cepat menuju pintu masuk gedung sekolah. Di sana dipasang papan sambutan dengan huruf warna-warni.
Di balik pintu masuk, lorong yang biasanya sepi pagi-pagi kini penuh poster acara tiap kelas, dan musik pop berdentum.
Biasanya hanya ada murid-murid latihan pagi di jam segini, tapi sekolah sudah ramai dan penuh kehangatan.
Di berbagai penjuru ada siswa mengangkat kardus, menempel ulang dekorasi dengan selotip, dan guru yang menegur anak-anak yang berlarian.
Sepertinya cukup banyak yang datang pagi-pagi karena persiapan kelas belum selesai.
Saat aku menaiki tangga sambil menikmati suasana yang terasa “tidak biasa”, aku berpapasan dengan MINEGISHI.
Begitu melihatku, Minegishi langsung berhenti.
“Oh, Yoshiki… kelas dua sudah lumayan banyak yang datang.”
“Eh, serius? Cepat banget.”
“Semua orang pasti nggak sabar.”
Ia mengangkat bahu, lalu berdiri diam tanpa bergerak ke mana pun.
Ketika aku merasa heran, Minegishi mulai bicara pelan.
“...Aku nyesel.”
“Hah?”
“Aku nyesel. Karena ngasih Yuzuha julukan ‘matahari’. Karena waktu dia kena gosip, aku malah ikut-ikutan memanas-manasi.”
‘Matahari yang bisa diajak siapa saja.’
── Kalau gue coba minta ke dia gimana ya? Kira-kira berapa bayarannya?
Suara Minegishi yang menggema di kelas waktu itu masih jelas teringat.
Kenangan pahit itu tidak memudar sedikit pun.
“...Aku nggak berniat memaafkanmu sekarang.”
Minegishi berkedip, lalu tersenyum pahit. “Ya wajar sih. Aku keterlaluan.”
Sepertinya dia memang tidak mengharapkan untuk dimaafkan. Aku sedikit terkejut, tapi tetap menambahkan:
“...Yah, itu yang kupikirkan waktu itu. Tapi Yuzuha sama sekali nggak peduli, jadi jujur saja, aku juga kehilangan alasan buat marah.”
“Yuzuha?”
“Iya.”
Yuzuha pasti sejak awal tidak ingin aku marah.
Waktu itu aku terlalu terbakar oleh rasa marah karena temanku disakiti, tapi belakangan ini perasaanku mulai menyusul.
“Lagipula, kelas kita bisa mempersiapkan semuanya dengan suasana baik juga berkat kalian, kan. Aku tahu kok kalau kamu yang ngurus semua pekerjaan ribet. Jadi… rasanya aku juga harus menyudahi ini.”
“...Apa kamu yakin? Kamu sahabat paling dekatnya.”
“Ya. Menghormati perasaan Yuzuha berarti begitu. Selain itu, sebagai panitia kelas dua, kalian benar-benar banyak bantu.”
“A-ah… ya wajar sih. Maid café kita terlalu panas buat dilewatkan.”
Aku tak bisa menahan tawa.
“Hahaha, itu memang nggak berubah ya. Ingat waktu di kolam renang, kamu terlalu banyak ngelihatin baju renang sampai digusur sama Kagami-sensei? Serius deh, tolong jaga sikap hari ini.”
Entah karena teringat kejadian itu, Minegishi ikut tersenyum.
Di hari itu, memang benih persahabatan sempat tumbuh antara dia dan Miyashi Group.
“Ya sudah, ayo kita nikmati festival hari ini.”
Ucapan mengalir begitu saja dari mulutku.
Hubungan yang dulu terasa rapuh ternyata masih tersisa, meski sedikit.
Memang Minegishi dulu payah. Tapi kalau sekarang dia sudah berubah, tak ada alasan untuk memutus hubungan.
Selama kami masih satu sekolah dan satu kelas, hubungan itu akan terus berlanjut.
Karena itu, kami masih bisa memperbaikinya kapan pun.
Mungkin beginilah hidup sebagai anak SMA.
***
Begitu memasuki lorong kelas satu, suasana riuh langsung menghilang.
Di pintu masuk lorong, berdiri sebuah lengkungan dekorasi dan papan tulisan tangan bertuliskan “Selamat Datang di Festival Budaya!”.
Berbeda dengan kelas atas, semua tampak sudah siap.
“Anak-anak kelas satu kayaknya lebih jago, ya…”
Aku bergumam sambil melangkah ke kelas dua.
Lorong yang biasanya biasa saja kini terasa seperti runway.
Di dinding terpasang poster dengan ilustrasi indah, dari tiap kelas terdengar BGM.
Seluruh lorong seperti berubah menjadi panggung besar, dan kelas 1-2 adalah bagiannya.
Tepat di depan kelas dua, plat nama kelas digantikan tulisan khusus hari ini:
【Kafe Ciel — Buka Hari Ini!】
Jendela ditutup kain hitam, membuatnya tampak seperti tempat berbeda dari kelas biasanya.
Begitu aku membuka pintu, terdengar suara cerah menyambut.
“Ah, Yoshiki lama banget! Nggak pantas jadi panitia, tahu!”
Yuzuha datang mendekat sambil tersenyum lebar.
Aku menutup pintu dan membela diri.
“Ini masih setengah jam lebih awal dari waktu kumpul panitia, lho. Yang aneh itu malah kamu bisa datang sepagi ini.”
“Ehehe, aku terlalu excited sampai nggak bisa tidur~”
Ia tersenyum bahagia.
Sejak obrolan kami di taman dekat stasiun, kami beberapa kali berduaan lagi.
Kami menghabiskan waktu seperti biasa, tidak ada yang berubah, dan tanpa sadar hari ini pun tiba.
Dengan ekspresinya yang selalu ceria, ia berkata:
“Soalnya ini festival budaya pertamaku! Jelas aku semangat dong.”
“Ya. Festival budaya pertama, ya.”
Saat aku tersenyum kecil, Yuzuha membelalakkan mata.
Aku tidak boleh mengalihkan pandangan. Aku harus menatap balik. Matanya yang besar punya daya tarik yang membuatku merasa begitu.
Dengan pipi mengendur, ia meletakkan tangan di bahuku.
“...Nggak bagus kalau kamu tegang begitu.”
Rasa panas hilang dari bahuku.
…Apa aku tanpa sadar gugup?
“A-aku nggak tegang kok.”
“Beneran~? Kalau begitu sih, justru kabar baik buat aku.”
Ujung matanya melengkung.
Saat ia hendak mengatakan sesuatu, Takano datang sambil melambaikan tangan. Tangan kanannya sudah dihias nail art, tapi tangan kiri masih polos.
“Yui! Cepet bantuin nail art aku! Kalau nggak selesai, aku nggak bakal ngerjain punyamu!”
“Gawat, Youko marah. Yoshiki, nanti ya!”
“…Jadi kamu bangun pagi cuma buat nail art, ya.”
Ya… itu sangat seperti Yuzuha.
Melihat Yuzuha dimarahi Takano, aku kembali fokus ke kelas.
Hari ini festival budaya.
Seperti biasa, Yuzuha bersikap hangat padaku.
Mungkin dia memang memutuskan untuk tetap berjalan bersamaku sebagai teman.
Aku mengedarkan pandangan ke dalam kelas.
Berkat kerja keras kemarin, hasilnya memuaskan.
Meja disusun berpasangan, ditutup taplak putih.
Di atasnya diberi pita satin merah sebagai aksen, serbet, kartu menu, dan bunga kecil yang membuat suasana lebih meriah.
Jendela dihias kain beige, menghasilkan bayangan lembut seperti café sungguhan.
Kertas lentera menggantung sebagai tirai dan bergoyang pelan.
Speaker sudah dipasang, musik pop diputar pelan untuk uji coba, sementara Takeru, Miyagi, dan Sudo ikut bergoyang mengikuti irama.
Takeru melihatku lewat dan menampilkan senyuman lebar.
“Yo, akhirnya datang! Yoshiki, ikut nari!”
“Please deh, jangan kayak NPC… aku lewat dulu.”
“Haaa! Pelit banget!”
“Kalian yang ke depan umum nari dengan pede itu yang aneh!”
Jujur, hari ini aku sedikit paham perasaan ingin bertindak nekat.
Festival budaya memberi izin tak tertulis untuk melakukan hal-hal memalukan. Meski tetap, aku nggak akan ikut menari.
Aku melanjutkan mengitari kelas.
Aku menjalankan tugas sebagai panitia bersama Remi dalam sistem dua orang, tetapi hal-hal yang terjadi di dalam kelas pada dasarnya diserahkan kepadaku.
Katanya, “Kesempatan begini mending kamu cobain langsung.”
Aku merasa sedikit seperti dibebani, tapi bagaimanapun juga, aku harus memastikan semua persiapan akhir berjalan lancar.
Seperti yang dikatakan Minegishi, setengah kelas sudah datang, dan setiap kali aku bertemu seseorang, pertanyaan langsung melayang.
“Yoshiki, napkin-nya pakai wadah yang ini, kan?”
“Ah, iya, benar.”
“Yoshikii~ pergantian shift untuk bagian minuman jam berapa?”
“Sekitar jam tiga sore. Coba cek juga di catatan Line kelas, ya—shiftnya kutempel di sana.”
Aku menjawab berbagai pertanyaan yang beterbangan di seluruh kelas.
──Sepertinya semuanya aman-aman saja.
Tak lama kemudian, tibalah waktu ketika para siswi mulai keluar kelas satu per satu.
Para siswa laki-laki mengirimkan tatapan panas melewati meja counter buatan, ke arah punggung para gadis yang pergi.
Beberapa siswi harus datang ke ruang ganti sebelum festival dimulai. Ya, untuk berganti ke seragam maid.
“Wah nggak sabar lihat Yuzuha pakai maid!”
“Aku lebih nungguin Nikaidou! Kok belum datang sih!”
“Nggak, bro! Yang paling bahaya itu si Hanazono, gap-nya pasti brutal!”
Di antara para cowok, candaan tidak berubah—sama ramai seperti biasa.
Aku merasa lega karena mereka setidaknya masih menjaga batas minimum, tapi tetap penasaran apa yang para gadis pikirkan tentang itu.
Setelah aku mengitari kelas yang tampil sangat berbeda dari biasanya, kudapati Yuzuha dan Takano masih bergulat dengan manicure, dan mereka sedang bertengkar.
“Hey! Yui, kamu ngasal ya! Jangan dikerjain sembarangan!”
“Soalnya kalau nurutin semua detail Yoko, kita nggak bakal selesai!”
“Itu karena kamu telat kan!?”
Dia telat!?
Aku hampir spontan nyeletuk, tapi berhasil menahan diri.
Aku keluar ke koridor sebelum keduanya menyeretku ke drama mereka, dan saat itu aku melihat Remi lewat di depan kelas.
Sepertinya dia berkeliling lorong tanpa masuk ke kelas.
Waktu mulai mepet, jadi aku memanggilnya dari belakang.
“Remi. Ada masalah di lorong kelas satu?”
Remi menoleh, lalu menjawab santai.
“Sejauh ini nggak ada masalah. Syukurlah sama seperti kondisi kemarin.”
“Ya. Kadang ada kelas yang tiba-tiba menyelipkan acara tambahan pas hari H, tapi kelas satu seharusnya aman.”
“Benar. Tapi tetap harus waspada.”
Panitia tidak hanya mengurus kelas masing-masing, tapi juga bekerja di belakang layar untuk seluruh sekolah.
Tidak seperti aku yang mengurus bagian dalam kelas, Remi bertanggung jawab atas sisi teknis dan koordinasi antar area.
Pekerjaan yang tidak mencolok, tapi tanpanya festival tidak bisa berjalan.
Remi menyingsingkan lengan seragamnya, memegang checklist, dan mulai menulis dengan cepat.
Ketika aku memperhatikannya sejenak, Remi menyadari tatapanku dan mengangkat penanya.
“Bagaimana dengan kelas dua? Lancar?”
“Beres. Semua dokumen sudah dicek, peralatan sudah diterima, dan daftar hadir juga sudah diserahkan.”
“Oh, syukurlah. Bagus juga kita bagi tugas dari awal.”
“Ya. Tapi sebelum festival mulai, kamu juga harus mampir ke kelas dua, lho. Sayang kalau nggak ikut merasakan suasananya.”
“Aku nggak apa-apa. Aku memang berniat fokus di belakang layar.” Jawabnya, sambil merapikan kertas pengumuman yang lecek.
Sambil meluruskan kertas itu, ia bertanya,
“Oh iya, kelas lima mau pinjam termos listrik untuk hari ini. Di kelas kita masih ada yang kosong?”
“Nggak ada. Di ruang tata boga juga kayaknya habis.”
“Kuduga begitu… kalau gitu, apa aku perlu ke toko elektronik di dekat pasar untuk minjam?”
“Hah? Itu kan urusan kelas lima. Suruh mereka saja.”
“Sudah terlanjur minta tolong sih.”
“Masalahnya bukan itu—”
Aku hendak membalas, tapi Remi memotong dengan tatapan mendekat.
“Kamu sendiri sebaiknya cepat ganti baju. Tinggal tiga puluh menit kan?”
“Aku masih aman, cuma perlu pakai apron dan dasi.”
“...Oh iya, cowok memang simpel. Kalau begitu, aku ganti jam berapa ya?”
“Sekarang lah.”
Tidak perlu menghabiskan waktu lagi mengurus kelas lima.
Aku ingin menyerahkan kembali urusan itu ke orang yang menyuruh Remi, tapi aku juga mengerti keinginannya untuk saling membantu.
Namun, melihat Remi mengorbankan waktunya sendiri tetap membuatku merasa tidak tenang.
“Ya sudahlah, sudah terlanjur aku terima,” katanya.
Remi melirik ke dalam kelas dua sambil berjalan.
Beberapa siswi sudah selesai berganti dan sedang memeriksa kostum mereka.
Terdengar tawa dan candaan yang terdengar seperti rasa malu-malu.
Mungkin ada yang baru keluar dengan kostum maid.
“...Urusan sepele kelas lain jangan kamu ambil terus. Itu jelas kesiapan yang kurang dari kelas lima. Tinggal pinjam dari rumah juga beres. Kamu juga pengen gabung kelas dua kan?”
“Aku nggak lihat ke kelas karena itu kok.”
“Masih mau mengelak?”
Remi mengerutkan alis.
Kena.
Sejak kami bekerja bersama sebagai panitia, percakapan soal kerja jadi lebih banyak, demikian juga waktu yang kami habiskan bersama.
Karena itu aku semakin bisa membaca perasaan Remi.
Dia sebenarnya ingin bergabung ke kelas sendiri, tapi sifatnya yang tidak suka melakukan sesuatu setengah-setengah membuatnya tetap bekerja.
“Kalau gitu aku saja yang urus. Kamu fokus menikmati festival, oke? Katamu dulu, kalau tidak, ‘dewa kesenangan tidak akan menoleh’, kan?”
Aku mengembalikan perkataannya sebelum camping, dan Remi akhirnya menyerah.
“...Terima kasih. Tapi, beneran nggak apa-apa?”
“Tentu saja. Lagian kalau kamu ganti baju sekarang, kamu bisa bergabung tanpa menarik perhatian. Kalau masuk kelas setelah semua siap… pasti jadi pusat perhatian banget.”
“Ugh…”
Dulu Remi pasti tak akan pernah menyerahkan tugas padaku.
Ia tipe yang lebih memilih mengerjakan sendiri daripada hasilnya kurang sempurna.
Tapi Remi pun sudah berubah. Ia tersenyum kecil.
“Baik. Kalau begitu aku titipkan padamu.”
“Aman. Serahkan padaku.”
“Terima kasih. Kalau begitu aku pergi dulu!”
Remi menuju ruang ganti dengan langkah tegap tanpa keraguan.
Rasanya itu tanda bahwa ia telah mengakui kemampuanku.
Dadaku terasa hangat.
Aku sudah lama bersama Remi. Ia selalu memperlakukanku secara khusus.
Dulu, itu semua karena kami teman masa kecil. Karena hubungan yang sudah terjalin sejak lama.
Karena kebetulan kami bisa saling memahami. Mungkin aku sudah memakai banyak sekali ‘jatah keberuntungan’ hanya karena terlahir sebagai teman masa kecil Remi.
Tapi sekarang berbeda.
Ia mempercayakan banyak hal padaku. Ia percaya pada kemampuanku.
Semakin perasaannya padaku melampaui batas “teman masa kecil”… semakin aku merasa bahagia.
***
Lima menit sebelum festival dimulai, lima menit sebelum Ciel dibuka.
Suasana kelas dipenuhi sedikit ketegangan.
Sampai kemarin semua sibuk melakukan penyesuaian terakhir demi satu tujuan: sukses.
Kini para siswi dalam kostum maid saling meminjamkan cermin untuk merapikan rambut, sementara para siswa laki-laki berlatih membawa nampan dengan gaya seperti pelayan sungguhan.
“Sekarang tinggal menikmatinya.”
Ucapanku membuat semua orang menoleh.
“Bener juga! Ayo kita nikmati bareng-bareng!”
Seruan Yuzuha menjadi pemicu, dan suara dukungan pun bermunculan dari berbagai arah.
Panggung satu hari bernama festival budaya akhirnya akan dibuka.
***
Pukul sepuluh pagi, maid café Ciel akhirnya dibuka.
Saat pintu terbuka, pelanggan pertama yang sudah menunggu di lorong masuk dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Selamat datang kembali, Tuan!(Irassaimasen, Goshujin-sama!)"
Suara ceria dan jelas para gadis memenuhi ruangan.
Para pelanggan sempat menunjukkan ekspresi bingung, namun perlahan senyum malu-malu mulai muncul di wajah mereka.
“Uwah, gila, ini beneran serius banget konsepnya!”
“Agak malu juga kalau anak kelas satu sampai segininya.”
Sambil saling berbisik kecil, mereka diarahkan ke tempat duduk.
Di tengah, setelah mereka duduk, Remi mendekat dengan senyum lembut untuk mencatat pesanan.
“Silakan, Tuan. Mau memesan apa?”
Seorang kakak kelas laki-laki, wajahnya sedikit memerah, menjawab pelan, “E-eh… kopi saja…”
Remi mengangguk sopan dan mencatatnya dengan gerakan anggun.
Sementara itu, di meja dekat pintu masuk, Yuzuha dengan energik menebar senyum cerah dan menyapa penuh semangat.
“Selamat datang kembali, Tuan~!”
“Uwoah! Yuzuha-chan, sumpah cocok banget jadi maid!”
“Eh serius? Makasih~!”
Karena sapaan akrab itu, siswa laki-laki kelas satu yang disapanya terlihat sangat senang.
Suasana dalam kafe semakin ramai, suara riang para pelanggan saling bertumpuk di berbagai penjuru ruangan.
“Geh, Takano cocok banget pakai maid!? Kenapa!?”
“Diam! Cepetan duduk sana!”
“Eh staf—tolong, maid galak ini bahaya!”
Sesekali terdengar candaan antar teman, tapi secara umum semuanya berjalan dengan baik.
Sepertinya para cowok ini sebenarnya memang punya ketertarikan terselubung pada maid café, meskipun tidak pernah diucapkan secara langsung.
Setelah beberapa puluh menit sejak café mulai ramai, aku kembali dulu ke ruang ganti untuk menyimpan apron dan kembali menjalankan tugas sebagai panitia.
Di sana, kulihat Yuzuha sedang memeriksa penampilannya dengan sangat teliti di depan cermin.
Di belakangnya, Takano dan Sudō sedang sibuk berdiskusi.
“Eh, boleh ga sih nunjukin sedikit bagian stocking gini?”
“Ngerasa gitu kan? Aku juga pengen nunjukin. Lebih imut tau!”
“Eh, Youko rambutmu dibikin curly? Bolehlah rambutku juga!”
“Sekarang!? Aku bentar lagi harus balik! Bikin sendiri lah!”
Sepertinya para gyaru itu menambahkan modifikasi sendiri pada kostum maid mereka.
Padahal Takano dan Sudō awalnya menolak habis-habisan konsep maid café ini… tapi sekarang lihatlah mereka.
Beberapa detik kemudian, Yuzuha menyadari tatapanku.
“Ah, Yoshiki! Gimana, gimana? Maid versi aku!”
Yuzuha berputar pelan di tempat.
Dengan gaun maid hitam-putih, rok pendek yang berayun ringan, rambut yang sedikit di-curly dan dihiasi headpiece frill putih—ditambah senyum malu-malu—dia terlihat… terang sekali.
“Nnng… cocok banget.”
“Pendek amat!? Pujinya tambah dong! Pasti pengen liat aku ganti baju tadi kan?”
“Jangan bikin aku jadi kriminal!”
“Daripada cowok yang nggak mau muji, mending kriminal sekalian!”
“Sekejam itu!?”
Yuzuha memanyunkan pipinya, lalu Takano menyelamatkan situasi.
“Tapi jujur, kamu kan penasaran juga gimana Yuzuha pas melayani pelanggan? Jarang banget kita begini, tau?”
“Kalo gitu semuanya jarang, bukan cuma kalian…”
“Ugh, dingin amat. Yuzuha~ Yoshiki bakal susah menghadapi kamu, loh. Mending nyerah~”
Sudō ikut nimbrung sambil menyeringai, sementara Yuzuha hanya tersenyum kecil sambil mengangkat sedikit sudut mulutnya.
“Tenang! Aku tahu kok apa yang kuhadapi!”
Takano dan Sudō memandangku dengan senyum penuh arti.
Padahal aku bahkan belum menjawab apa pun… membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya mereka pikirkan.
“Cowok curang banget cuma perlu apron sama dasi!”
“Bener banget! Kita sampai pake makeup segala loh!”
“E-eh, make-up kan sebenernya dilarang…”
“Nah, itu dia! Kita nggak bisa dibantah wkwk!”
Saat Takano cekikikan, Yuzuha membuka tirai ruang ganti.
Setelah memberi isyarat ke dua gyaru itu, ia menghadapku.
“Ya udah, kami balik ke floor ya. Jangan kaget nanti!”
“...Kaget kenapa?”
“Karena kami akan melakukan pelayanan seksi!”
“Jangan lakukan itu!”
“Cemburu? Heeeh? Cemburu ya?”
“Aku panitia! Kalo kalian kelewatan batas bakal langsung diseret keluar!”
“Tapi Maki bilang dia pengen pelayanan seksi juga—”
“HA!? Jangan bawa-bawa aku!!” potong Sudō cepat-cepat.
Yuzuha kabur sambil tertawa, diikuti Takano yang menggoda, dan Sudō yang ribut sendiri.
Melihat pemandangan itu, kami semua tertawa, sambil merasa waktu semakin mendekati batas persiapan terakhir.
***
Sudah dua jam sejak Cafe kami dibuka.
Kelas dipenuhi semangat yang jauh melampaui perkiraan, suara orang-orang yang tampak bersenang-senang dan tawa terdengar tanpa henti.
Sambil mengantar pesanan, aku menyapu pandangan ke seluruh ruang kelas.
Remi sedang melayani pelanggan dengan rapi dan tenang di meja bagian tengah. Mungkin karena memakai seragam maid, kesannya terlihat lebih lembut dibanding saat ia masih “memasang topeng”. Setiap kali ia tersenyum, terdengar teriakan kecil kagum dari para pengunjung—benar-benar sudah ketahuan oleh kelas lain. Kalau Remi yang sekarang ada yang menyatakan cinta, kira-kira bagaimana reaksinya? Dia pasti tidak mengangguk… kan?
Sementara itu, Yuzuha menangani kursi dekat pintu masuk.
Yuzuha menyambut pelanggan dengan senyum penuh, menghidupkan suasana kedai dengan suara ceria dan berenergi. Ia menanggapi pesanan atau permintaan pelanggan tanpa keraguan, dan sifat ramahnya tampaknya menarik perhatian banyak siswa laki-laki.
“Yoshiki, minta tambahannya ya!”
“Oke!”
Dipanggil oleh Yuzuha, aku segera melangkah cepat mengantarkan pesanan.
Melihat suasana kedai yang begitu hidup, rasanya semua persiapan hingga kemarin terbayar lunas.
“Yoshiki, sini juga tolong! Meja Nikaidou lumayan lama nunggu!”
“Siap!”
Dipanggil Miyagi, aku kembali menjawab dengan senyum. Kafe Ciel benar-benar sukses besar.
Beberapa saat kemudian, Takano memanggilku.
“Yoshiki, kamu harusnya mulai istirahat.”
“Hah? Nggak apa-apa, kok. Aku udah beberapa kali keluar buat urusan panitia.”
“Dasar bego, yang bilang aturan istirahat 30 menit itu siapa? Pemimpin itu harus ngasih contoh!”
“B-baik…”
“Jangan keliatan jijik gitu dong!?”
Takano lalu menepuk punggungku keras-keras dan kembali melayani pelanggan.
Kalau pelanggan tahu itu sifat aslinya, mungkin mereka bakal merinding nanti.
Aku melepas apron dan sedikit meregangkan tubuh. Rasa lelah yang nyaman menyelimuti badan.
Aku menuju ruang istirahat yang ada di sudut kelas. Ketika masuk, hanya ada satu orang di dalamnya.
— Hanazono.
Dia sedang merapikan rambut di depan cermin.
Sepertinya sudah cukup lama dia ada di sana setelah masuk waktu istirahat. Karena tak ada yang menyebut namanya, aku tidak sadar kalau dia istirahat.
Hanazono tampak seperti biasa—membawa aura sunyi yang tenang.
“…Ada apa?”
Ternyata dia menyadari tatapanku, lalu perlahan menoleh.
Hanazono dalam balutan seragam maid memiliki kekuatan yang mampu mengguncang perasaanku.
Tidak mencolok, tidak terbuka, tidak berlebihan. Tapi kenapa mata ini tidak bisa lepas memandangnya? Mungkin hanya karena penampilan yang berbeda dari biasanya.
Aku perlahan melangkah mendekatinya.
“…Gimana? Kamu menikmatinya?”
Hanazono mengangguk kecil.
“Mm. Semua orang ternyata lebih bersemangat dari dugaan. Kalau manusia terjebak di satu lingkungan, mereka cepat terbiasa.”
“Kalimatnya berat banget…”
“Fufu. Itu jujur, lho?”
Hanazono berkata sambil tersenyum kecil hanya dengan bibirnya.
Di matanya seolah tercermin ruang kosong tanpa siapa pun.
“Jadi, kamu juga sempat gugup di awal?”
“Kelihatannya begitu?”
“Justru karena nggak keliatan gugup itu yang bikin serem.”
“Masih sejujur biasanya, ya.”
Nada bicaranya tetap dingin, seperti sisi dirinya yang tersembunyi. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan dia juga sedikit menikmati percakapan ini—rasanya tidak buruk.
“Yang mengejutkan, kamu mau pakai seragam maid juga.”
“Begitu?”
“Iya. Soalnya lebih dari setengah cewek milih jadi panitia belakang layar. Jadi yang pakai seragam maid itu lebih sedikit. Apalagi kamu… Aku kira kamu lebih pilih nggak menonjol seperti yang lain.”
Hanazono peka dengan bagaimana orang melihat dirinya.
Seragam maid pasti menarik perhatian. Itu sebabnya banyak yang memilih jadi panitia belakang.
Dengan posisi Hanazono, kupikir wajar kalau dia ikut yang belakang layar.
Membalikkan semua ekspektasi dan malah memilih seragam maid—rasanya seperti ada alasan tertentu.
“Ini lebih menguntungkan buatku.”
“‘Menguntungkan’?”
“Iya. Menguntungkan buatku.”
Hanazono tersenyum samar, lalu mengalihkan topik.
“Ngomong-ngomong, kamu gugup tadi?”
“Eh… ngomongin aku sekarang ya…”
“Iya. Ngomongin kamu.”
Topik sebelumnya menggangguku, tapi kalau pun kutanya, dia pasti tidak akan jawab.
Jadi aku menyerah dan menjawab.
“…Sedikit sih. Soalnya semua orang udah kerja keras, jadi aku pengin semuanya berjalan lancar.”
“Begitu. Syukurlah. Ya, kamu itu inti dari kelas 2-B juga—wajar kalau kamu mikirin itu.”
“Hentikan, nggak gitu, kok.”
“Masa? Aku sih merasa begitu.”
Dia mengatakan sesuatu yang terdengar bermakna, lalu tersenyum lagi.
Tapi tidak menambahkan apa pun. Hanazono hanya menata ulang name tag di dadanya.
“Waktu istirahat kita barengan. Mau nggak nanti lihat-lihat stand lain bareng?”
“…Apa yang kamu rencanakan?”
“Ada yang sedikit bikin aku penasaran. Nggak mau?”
“Ehm… ya, boleh.”
“Baik. Kalau begitu, nanti kita ketemu di aula.”
“Ok.”
Nanti ketemu, ya.
Sudah lama sekali sejak Hanazono mengatakannya.
Saat melihat punggungnya keluar dari ruang istirahat, aku berpikir begitu.
***
Cahaya lembut sore hari masuk ke koridor depan kelas 2-B.
Sekarang aku berdiri sebagai pengunjung, ikut mengantre.
Melihat Ciel dari luar anehnya membuat deg-degan. Tapi tentu saja aku tidak bisa datang hanya untuk bersenang-senang.
Sebagai panitia, tugasku adalah memastikan layanan maid café ini sesuai standar yang ditetapkan panitia.
Dengan kata lain, ini adalah sidak mendadak.
Antrian panjang terus mengular tanpa putus.
Setelah puluhan menit menunggu, akhirnya giliranku.
Pintu terbuka, maid dengan seragam hitam putih berdiri menyambut.
“Tamu berikutnya… eh? Kamu ngapain?”
Takano Youko melotot.
“Sa-saya… pelanggan.”
“Hah? Ya terserah sih…”
Takano mengantarku dengan malas.
Setelah masuk sambil menahan rasa malu, aku melihat tiga wajah yang sudah kukenal sibuk melayani.
Waktu ini, meja dikelola oleh Remi, Yuzuha, dan Hanazono.
Karena waktu tunggu di luar memanjang, jadwal bergeser dari rencana awal.
Melihatku yang mencoba mengecilkan diri agar tidak menarik perhatian, Takano mendesah.
“Serius dong, ikut jadi pelanggan segala. Aneh banget seleramu.”
“Bukan gitu! Ini buat pengecekan resmi!”
“Oh begitu. Jadi, Tuan Pemeriksa mau duduk di mana? Meja Hanazono? Remi? Atau tentu saja—Yui, ya?”
“Tolong jangan intimidasi aku. Ini tugas resmi, jadi aku duduk di tengah biar kelihatan semuanya.”
“Dasar cowok brengsek!”
“Kata-katamu kotor banget, tahu!?”
Kalau ini tanda kami sudah akrab, baguslah. Kalau bukan, rasanya aku tidak sanggup.
Duduk di tengah seperti yang diarahkan, aku mengamati sebagai pelanggan.
Remi melayani dengan sempurna seperti dalam buku.
Cara meletakkan cangkir ke piring saji begitu rapi, dan ia membungkuk mengikuti tinggi pandangan pelanggan dengan kesopanan yang hampir berlebihan.
Semua gerakannya elegan, membuat para siswa laki-laki yang disajikan teh oleh Remi secara refleks duduk lebih tegak.
“Satu kopi, ya. Baik, segera saya bawakan.”
Nada suaranya dan tatapan matanya sama sekali tidak goyah—seakan pelanggan dibawa ke masa lain dalam sekejap.
Lebih mirip pelayan kerajaan Eropa daripada maid café.
“Wah, pilihan Tuan bagus banget! Pesanan itu enak, lho!”
Yuzuha kebalikan dari Remi.
Setiap kali mendekat, ia berseru riang dan aktif mengajak bicara.
Jika pelanggan sedang memegang menu, dia dengan gaya khasnya memberikan rekomendasi dan membuat suasana ramai dengan sedikit candaan.
Kalau ada minuman tumpah, dia langsung membersihkan dengan tawa lepas, “Nggak apa-apa kok!”
Keahlian seperti itu bukan hasil latihan—itu bakat alami.
“Pesanan Anda?”
Suara lembut Hanazono terdengar dari meja sebelah.
Geraknya tenang dan minim, membuat pelanggan tidak merasa terdorong untuk terlalu banyak bicara. Namun tatapannya memberi rasa aman—jika diajak bicara, dia akan merespons dengan baik.
“Hanazono-san, aku sering lihat kamu di pertemuan kelas…! Seragam maid-nya cocok banget!”
“Terima kasih. Berkat itu, aku bisa lebih semangat.”
Jawaban Hanazono meninggalkan kesan lembut, seperti riak halus di permukaan danau.
Mejanya memiliki persentase siswa laki-laki paling tinggi dibanding dua lainnya.
Siapa yang harus kupanggil ya…?
Takano benar, mungkin harusnya aku ajak bicara Yuzuha… tapi—
Saat aku berpikir begitu—
Pintu kelas dibuka kasar.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi masuk. Dia adalah kakak kelas yang tadi berada di antrian belakangku.
Dasi seragamnya longgar, langkahnya berisik.
Dia langsung menjatuhkan diri ke kursi kosong di area Hanazono.
“Sial, lama banget nunggunya. Ngerasa rugi banget!”
Keluhan kerasnya membuat ruangan menegang.
Takeru, yang memakai kostum pelayan, tampak panik.
Kakak kelas itu mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya dan menatap Hanazono.
“Mana pelayanannya?”
“...Selamat datang, Tuan.”
“Eh? Kenapa kayak nggak ikhlas?”
…Gawat.
Untuk pelanggan dengan sikap seburuk itu, Hanazono bisa saja melontarkan kata-kata dingin tanpa ragu.
Dia bahkan berani membalas senpai seperti Mitani. Pada dasarnya dia tipe yang agresif—ekspresi lembutnya saja yang menipu.
“Ah—kamu Hanazono, kan? Kudengar kamu nolak Mitani, jadi kukira kamu tipe pendiam dan suram. Eh, tapi kamu lucu juga pakai baju gitu.”
Laki-laki itu menyeringai.
Hanazono tetap tanpa ekspresi saat menaruh segelas air.
Tapi aku bisa melihat wajahnya perlahan berubah datar seperti topeng.
“Foto bareng, boleh? Kayaknya bakal viral nih.”
Tanpa penyesalan sama sekali, ia mengeluarkan ponsel dan membuka kamera.
Ini parah.
Saat aku hendak berdiri—
Dengan anggun Remi masuk di antara mereka.
Tanpa senyum, tatapannya hampir seperti menatap sesuatu yang menjijikkan.
“Mohon maaf. Di toko kami, pengambilan gambar dilarang.”
Kakak kelas itu mengernyit, tapi Remi tidak bergeser satu inci pun.
Punggungnya tegak lurus, seolah atmosfer kelas berada di genggamannya.
Hanazono memeluk nampan di dadanya, terkejut melihat Remi berdiri di depannya.
Ekspresinya sulit dibaca, tapi tampak sedikit tercengang.
Kakak kelas itu sempat terdiam, lalu menyeringai kesal.
“Kenapa gitu ngomongnya? Biasanya maid lebih ramah, tahu.”
“Kalau tamunya benar-benar tamu, tentu saya akan begitu.”
“Jadi menurutmu aku bukan tamu? Harusnya dari awal dibilang aturannya!”
Suaranya meninggi. Yuzuha mengintip dengan wajah khawatir.
Hanazono mundur selangkah, menunduk.
Remi mengangkat sedikit bahunya lalu tersenyum tipis.
Tapi senyuman itu dingin—seperti permukaan es.
“Harusnya ada tulisan di pintu. Ini hanya kafe sementara di kelas sekolah. Tentu saja ada aturannya. Mohon setidaknya ikuti etika dasar.”
Kakak kelas itu mendengus dan bersandar kasar pada kursi.
“Sok serius amat. Itu juga bukan tindak kriminal. Kalau maid cantik ketahuan dan viral, bukannya itu malah menguntungkan?”
“Kafe ini bukan tempat untuk memuaskan hasrat pameran diri Anda.”
Kalimat itu membelah keheningan seperti pisau.
Remi tidak bergeming.
Tatapannya menusuk lurus ke senpai itu.
Senpai itu mengeklik lidahnya, lalu menambahkan dengan suara meremehkan:
“Hasrat pameran diri? Kamu ngomong begitu padahal pakai baju kayak gitu?”
Senpai itu menyeringai seolah mengejek, dan tanpa ragu-ragu mengulurkan tangan ke arah rok Remi.
Pada saat itu, mata Hanazono terbuka lebar, dan Yuzuha tersentak maju seolah tubuhnya meloncat sendiri.
—Dalam sekejap, tubuhku bergerak tanpa keraguan, bahkan aku sendiri terkejut.
Bash!
Suara keras dan tajam menggema di seluruh kelas ketika aku menendang tangan senpai itu dengan kuat.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan, jatuh bersama kursinya, dan sikunya menghantam keras tepi meja.
“Ugh…!”
Sambil mengerang kesakitan, senpai itu menatapku tajam, tapi aku membalas dengan pandangan yang sama sekali tak gentar.
“Keluar, Kakak kelas. Kamu nggak mau bikin masalah sebelum ujian, kan?”
“...Kau mau cari ribut?”
“Kalau cuma gengsi yang bikin kamu nggak bisa mundur, sekarang kesempatan terakhir. Mungkin ini titik balik hidupmu.”
Senpai itu terdiam beberapa detik, lalu mengeklik lidahnya dengan kesal.
Melihat wajahnya, rasa jijik yang pernah membekas kembali muncul di kepalaku.
Ia memiliki bau yang sama seperti orang-orang yang mengejek kami di kantin seminggu setelah Remi pindah sekolah.
Ekspresi mereka seolah berkata, ‘Kalian nggak selevel.’ Hanya mengingatnya saja membuat pelipisku berdenyut.
Awalnya aku hanya ingin mengusirnya, tapi membiarkan ini selesai begitu saja terasa tidak adil.
Amarah yang lama membara di dadaku berubah menjadi kata-kata yang dingin dan tajam.
“Demi orang kayak kamu, kami nggak akan mundur satu mili pun. Ini bukan tempatmu, dan kami nggak akan hidup sedetik pun buat orang sepertimu.”
Ucapanku membuat seluruh kelas terdiam.
Wajah senpai itu memerah, ia bangkit sambil mendengus tiga kali, lalu keluar tanpa sepatah kata pun.
Punggungnya dihujani tatapan dingin dari seluruh kelas.
Keheningan berat menyelimuti ruangan. Perlahan, semua mata tertuju padaku dan Remi.
Remi, dengan wajah yang masih sedikit tegang, memandang profilku lekat-lekat.
“Terima kasih. Kamu menolongku.”
Ia tersenyum lega.
“Kebalikannya dari waktu itu ya.”
“Ya. Semoga kali ini kita lebih seimbang.”
Kupikir itu akan terdengar seperti lelucon, tapi Remi justru menyipitkan mata.
Setelah menghela napas, ia tersenyum lembut.
“Kamu bodoh ya. Dari awal kita sudah setara.”
Dalam senyum itu tak ada lagi sikap dingin atau kepura-puraan—hanya ketulusan yang polos.
Aku mengangkat sedikit bahu dan tertawa, “Iya juga.”
Pernah ada masa ketika aku ingin ‘menyamai’ Remi.
Padahal mungkin sebenarnya tak perlu memikirkan apakah kita ‘setara’ dengan seseorang atau tidak. Semua orang hanya perlu hidup sebagai diri mereka sendiri.
Tapi sering kali hal itu terlupa karena hal-hal kecil dan tatapan orang lain.
Namun Remi… dia akan mengingatkanku lagi dan lagi.
“Mulai sekarang pun kita tetap setara.”
“Iya. Dan kebetulan, aku ada di pihakmu.”
“Wah, itu sangat meyakinkan.”
“Kan?”
Remi tersenyum kecil.
Cahaya matahari sore masuk melalui jendela kelas, mengisi ruangan dengan sinar lembut.
***
Ketika pintu gym dibuka, musik menyerbu seperti gelombang.
Banyak siswa berdiri di bangku penonton, bertepuk tangan sambil menatap panggung dengan penuh semangat. Para senpai di atas panggung bermain dengan tubuh yang berkilau oleh keringat.
Terkadang nada meleset, mungkin ritme pun sedikit kacau.
Namun musik mereka justru membuat suasana semakin membara.
Di barisan paling belakang, kulihat punggung Hanazono dan berdiri di sampingnya.
“Yo. Meriah banget ya.”
Hanazono menoleh sebentar, lalu kembali menatap panggung.
“Iya. Padahal mereka nggak terlalu jago, aneh ya.”
“Jangan diucapkan keras-keras.”
“Fufu. Soalnya yang denger Yoshi-kun doang.”
Aku hendak balas bicara, tapi musik sudah berakhir.
Sorakan dan tepuk tangan mengguncang seluruh gym, lantainya seolah bergetar.
Di tengah cahaya lampu panggung yang menyilaukan, kulihat sosok Mitani-senpai.
Ketika aku melirik Hanazono di sampingku, ia menatap panggung dengan tenang.
“...Sejak kamu menolaknya, kalian belum bicara lagi?”
“...Menurutmu gimana?”
“Entahlah. Tapi aku nggak akan tanya jawabannya.”
Aku menggeleng, lalu berkata,
“Tapi tetap aja, aku kaget. Kamu datang ke tempat begini.”
“Masa?”
“Iya.”
Aku benar-benar tak menyangka Hanazono akan mengajakku menonton live band.
Ia menoleh dan tersenyum tipis.
“Kalau begitu, ini penemuan baru ya. Ternyata aku nggak benci hal-hal seperti ini.”
“Oh begitu.”
Sosok Hanazono yang ‘gelap’ sudah tak ada.
Dia tidak memakai topeng lagi—yang ada hanya dirinya apa adanya.
Mungkin batas antara dirinya yang ‘di depan’ dan ‘di belakang’ mulai mengabur.
Karena aku tahu bagaimana ia dulu, aku bisa merasakan betul perubahan kecil dalam dirinya.
Hanazono pasti akan terus berubah.
Suatu hari, wajah ‘luar’ dan ‘dalam’-nya akan menghilang, dan ia membentuk dirinya yang baru.
Mungkin setelah lulus, atau bahkan hanya karena pindah kelas, kami tak akan banyak bicara lagi.
Hanya bisa melihat perubahan itu dari jauh terasa sedikit menyedihkan.
“Ayo pergi.”
“...Ya.”
Kami meninggalkan gym.
Angin musim gugur menyelimuti tubuh kami begitu keluar.
Suasana panas di dalam gym perlahan memudar, dan sisa-sisa musik hanya tinggal gema samar di telinga.
Suara langkah Hanazono berdampingan denganku terasa tenang. Keheningan yang nyaman mengalir di antara kami.
“Kenapa kamu ngajak aku? Katanya ada sesuatu yang kamu cemaskan.”
“Hmm… mungkin cuma kekhawatiran berlebihan. Atau mungkin… aku cuma pengen habiskan waktu sama kamu.”
“Apa-apaan itu.”
“Aku sendiri juga heran.”
Hanazono menggaruk pipinya, lalu berbalik.
“Kalau gitu, aku balik ke kelas dulu. Aku shift lagi.”
“Keras banget jadwalnya.”
“Bukannya kamu yang bikin jadwal shift-nya?”
Hanazono menyipitkan mata dengan sebal lalu melambaikan tangan kecil dan berjalan pergi.
Aku menghela napas melihat punggungnya menjauh.
Suara riuh dari gym terasa makin jauh, dan bayangan panjang gedung sekolah memanjang ditimpa matahari senja.
Dalam ketenangan yang perlahan menggantikan hiruk pikuk festival, aku mulai berjalan.
“...Hah? Yoshi?”
Suara terdengar dari belakang.
Tubuhku menegang tanpa sadar. Kakiku berhenti.
Itu suara yang nyaris sudah kulupakan.
Suara yang berusaha ingin kulupakan.
Namun sekali mendengarnya, semua kejadian masa itu kembali mengalir.
Ketika aku berbalik, yang berdiri di sana adalah—
Mimpi buruk masa SMP.
Seto Miyabi.
Sosok mimpi buruk itu berdiri di depanku.
Ia memakai seragam yang berbeda dari kenangan, sambil menggenggam kaleng minuman dan menatapku.
Senyuman yang terasa sedikit familiar.
Senyuman yang pernah kusukai… lalu kubenci sepenuh hati.
Seto berbicara dengan senyum yang sama seperti dulu.
“Serius banget kita bisa ketemu di sini?”
“Seto…”
Nada santainya membuat dadaku terasa menggores.
Pada saat yang sama, sesuatu yang lama mengendap di dasar jiwaku perlahan naik ke permukaan.
Orang yang menertawakan aku, menghancurkan lingkungan sekelilingku, dan meremukkan apa yang kubangun.
Di balik pandangan yang menggelap, ingatan lama kembali muncul—
***
“Dari dulu aku mikir, Yoshi itu anak baik ya.”
“Hah?”
“Cowok-cowok di kelas kebanyakan tolol. Tapi kalau ngobrol sama Yoshi tuh rasanya tenang. Kamu kayak nggak akan tiba-tiba ngelakuin hal bego.”
“Itu… aku senang dengernya. Tapi aku udah kelas dua SMP loh. Biasa aja.”
“Justru karena udah kelas dua. Bukannya makin tolol tuh bocah-bocah?”
“Hahaha, iya juga.”
“Tuh kan. Makanya jangan tiba-tiba jadi tolol ya.”
“Tenang aja!”
“...Aku bersyukur kamu ada di kelas.”
“Hey…”
“Hm? Apa?”
“...Mau nggak pacaran sama aku?”
“...Hah? Ogah. Kenapa jadi gitu sih?”
“Eh? Tapi…”
“Tapi apaan? Baru aja aku bilang jangan tiba-tiba ngelakuin hal tolol. …Beneran nggak banget.”
“Kamu tuh menjijikan tau nggak kalau suka salah paham begitu.”
***
“Ini kebetulan banget kan.”
Seto tertawa kecil.
Seakan bertemu teman lama. Tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Senyum tanpa kewaspadaannya justru memancing emosiku.
…Apa-apaan dia? Kenapa dia bisa ngomong kayak nggak ada apa-apa? Dan kenapa dia ada di sini?
Tidak ada satu pun pengikut Seto di sekolah ini. Aku belajar keras untuk memastikan aku tak akan satu sekolah dengan orang-orang seperti mereka.
“Kamu sekolah di Kitataka ya? Pinter juga.”
“...Kenapa kamu ada di sini.”
Aku menjawab tanpa ekspresi.
Seto, yang tampak tak terganggu, menjawab ringan.
“Eh, nggak boleh datang?”
Seto memiringkan kepala.
“Aku dengar Yui ada di sini, jadi aku mampir. Lagi pula katanya festival budaya Kitataka lebih seru.”
Nada suaranya seolah tanpa niat buruk.
Suaranya yang begitu polos membuatku tak percaya.
Apa dia sama sekali nggak ingat bagaimana dia menghancurkan aku waktu itu?
“...Kamu beneran nggak mikir apa-apa?”
Kalimat itu keluar tanpa bisa kutahan.
Dulu aku pasti akan menutupi perasaanku dengan senyum palsu dan menghindari konflik.
Namun sekarang berbeda—dan aku tahu alasannya.
Karena ada Yuzuha, Remi, dan Hanazono.
Karena sekarang aku punya orang-orang yang akan membela aku.
Karena aku tak lagi sendirian menghadapi Seto.
“Eh? ‘Nggak mikir apa-apa’ soal apa?”
Mungkin Seto benar-benar tidak mengerti.
Dengan emosi yang meluap, aku bertanya tanpa menyaring kata-kata.
“Waktu SMP, kamu lihat sendiri gimana hidupku hancur gara-gara kamu kan!? Kamu nyebarin rumor kalau aku mau nyerang kamu, dan gara-gara itu semua orang ngejauhin aku! Aku bahkan keluar dari klub handball karena ulah kamu!”
“...Ah.”
Senyum Seto sedikit berubah.
“Tapi yang gangguin kamu kan bukan cuma aku?”
Mendengar pembelaan itu, kepalaku seperti mendidih.
“Bukan itu masalahnya! Kamu yang bikin semuanya mulai! Kamu sumber masalahnya!”
Siasat Seto menjadi awal dari keruntuhan tempatku berada.
Seto mengangkat bahu, seolah hal itu tak sepenting itu.
“Aah… ya maaf deh. Emang aku kebablasan sih.”
“...Sudahlah.”
Ngomong apa pun tak ada gunanya.
Walaupun aku akan tetap merasa kacau setelah ini, mungkin suasana festival bisa membantu mengalihkan pikiranku hari ini.
Aku lebih membenci kalau pikiranku kembali diacak-acak oleh Seto daripada menerima permintaan maaf yang buruk.
Tiba-tiba, seolah ingin mengganti topik, Seto melangkah selangkah lebih dekat.
“Yoshiki, kamu berubah ya. Dulu kamu bukan tipe yang ngomong sejelas itu, kan?”
“Itu nggak ada hubungannya sama kamu.”
Nada bicaraku terdengar lebih keras.
Seto sama sekali tak terlihat terganggu dan hanya menyesap minumannya sebentar.
“Ah, iya juga. Memang nggak ada hubungannya.”
…Dalam ingatanku, Seto yang arogan pasti sudah marah besar dari tadi.
Kenapa dia tidak menjauh?
Pikiranku berputar-putar, tapi Seto memberi jawabannya sendiri.
“Tadi aku bilang ketemu kamu cuma kebetulan, tapi jujur aja, aku memang kepikiran bakal ketemu. Bukan karena mau menebus dosa, cuma… aku penasaran apa kamu benar-benar sudah bangkit lagi atau belum.”
“...Gitu.”
Aku menjawab singkat dan membalikkan badan. Tanpa menoleh, aku melangkah menuju tangga yang menghubungkan ke gedung sekolah.
“Tunggu sebentar, Yoshiki.”
Saat aku menoleh, Seto berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam di depan dada. Ekspresinya seperti campuran keraguan dan tekad.
“Boleh nggak… kita bicara sebentar?”
Selangkah demi selangkah ia mendekat.
Dalam langkahnya itu masih ada perpaduan antara keluguan dan perhitungan, seperti dirinya yang dulu.
“Sudah cukup. Aku nggak punya waktu buat ngobrol sama kamu.”
“Eh? Padahal tadi kamu sempat nongkrong di aula.”
“...Aku panitia festival budaya, jadi banyak yang harus diurus.”
“Kamu panitia, ya. Padahal waktu SMP keliatannya nggak cocok sama hal begituan.”
Aku menyipitkan mata tanpa menjawab.
Dia hanya sedang membangun landasan untuk sesuatu yang ingin ia katakan.
“Apa intinya?”
Kening Seto sedikit bergerak.
Lalu ia menunduk dan berkata, “Kayaknya nggak ada gunanya ya.”
“Aku itu… dari dulu tetap kepikiran tentang kamu.”
Degup jantungku sedikit goyah.
“Sebenarnya aku nggak berniat ngejatuhin kamu sejauh itu. Makanya aku pengen kamu mau memaafkan aku.”
Ia mengucapkannya perlahan, seakan memilih kata yang paling aman.
Seto Miyabi yang sombong itu kini mencoba mengakui kesalahannya.
“Waktu kamu nembak aku, aku memang kesel. Kamu tahu kan sebelum itu aku sempat bilang kalau aku muak ditaksir terus?”
“...Iya, kamu bilang.”
Tapi aku pikir aku beda dari yang lain. Kalau dipikir lagi, memang waktu itu aku ceroboh. Tapi aku tidak merasa itu kesalahan yang pantas membuatku dikucilkan.
“Itu maksudnya… tiap kali ada yang nembak aku, rasanya aku dianggap enteng. Dan aku benci itu.”
Aku terbelalak. Aku sama sekali tidak pernah memikirkan itu.
“Waktu itu aku pikir kita cukup dekat sampai aku bisa cerita hal yang nggak pernah aku bilang ke orang lain. Aku percaya sama kamu.”
Seto menatap kosong ke udara.
“Makanya begitu kamu ngaku suka, rasanya aku dikhianati. Itu beda sama cowok lain. Kalau cowok lain cuma meremehkan aku, aku masih bisa tahan. Tapi kalau orang yang aku percaya ternyata sama aja kayak mereka… aku muak.”
Ia menunduk lebih dalam.
“...Terus aku jadi pengin melampiaskan semua rasa kesal yang aku simpan selama ini.”
Sambil mendengarnya, pikiranku kacau.
Aku tidak merasa semua ini sepenuhnya salahku.
Seto tetap sengaja memburukkan namaku sesudahnya, dan itu tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Tapi keyakinanku bahwa Seto sepenuhnya salah pun mulai retak.
Mungkin aku juga punya bagian kecil dalam semua ini.
Karena aku tidak tahu perasaannya waktu itu, aku datang dengan waktu yang salah. Dan itu membawa hasil yang terburuk.
“Tapi menyebar rumor kayak gitu… aku nggak bakal cukup minta maaf berapa kali pun. Aku benar-benar minta maaf. Tadi juga aku sulit banget buat ngomong ini.”
Kali ini, kata-kata Seto terasa jujur.
Setelah pertama kali meminta maaf, seolah bendungannya pecah.
Kalau begini, aku tidak tahu ia akan meminta maaf berapa kali.
“...Sudah. Aku ngerti.”
Seto langsung menatapku dengan mata berbinar.
“Tapi meskipun kamu minta maaf, itu nggak mengubah apa pun. Kamu menghancurkan aku waktu itu. Handball, tempatku di kelas, hubungan pertemanan… semuanya.”
“...Aku benar-benar menyesal. Menyebarkan fitnah kayak gitu untuk menjatuhkan kamu… itu dosa yang akan aku bawa seumur hidup.”
“Ya. Udah cukup.”
Akhirnya selesai.
Luka masa lalu memang tidak hilang.
Mungkin nanti, setiap kali aku mengingatnya, dadaku tetap terasa perih.
Tapi dengan memilih memaafkan—meskipun hanya di permukaan—aku bisa melangkah maju.
Lebih baik begitu daripada terus menyimpan amarah.
Seto mengulurkan tangan. Mungkin itu tanda perdamaian.
Aku hendak menyambutnya—saat itu juga.
“Jadi nanti kamu bisa bilang, ‘Dulu aku salah, tapi aku sudah minta maaf dan dimaafkan’, begitu?”
Sebuah suara lembut namun tajam terdengar dari belakang.
Saat aku menoleh, Hanazono sedang berjalan mendekat.
“──Itu yang ingin kamu capai kan, Seto Miyabi?”
Seolah tahu waktu terbaik untuk muncul, Hanazono berdiri di sana. Seto tampak jelas terkejut.
“Kamu siapa?”
“Aku orang yang tahu kalau kamu cuma peduli sama citramu sendiri.”
Wajah Seto sedikit memucat.
“Kamu ngomong apa sih? Jangan ikut campur.”
“Yang berhak bilang campur atau nggak itu Yoshiki.”
Hanazono berpaling padaku.
“...Hanazono. Maksudmu apa?”
“...Orang yang benar-benar menyesal tidak akan berharap untuk dimaafkan. Dia hanya menanggung kesalahan itu.”
Suara Hanazono tetap datar, seperti sedang membacakan fakta.
“Tunggu. Kamu bilang aku nggak menyesal?”
Seto menggigit bibir, matanya tajam. Ekspresi yang dulu membuatku takut.
Tapi Hanazono sama sekali tidak gentar—bahkan sedikit tersenyum.
“Kamu ingin fokus sama dunia hiburan kan? Jadi kamu ingin menghapus masalah sebelum terkenal.”
Hanazono mengambil ponsel dari sakunya.
“──Ini yang kamu cari?”
Di layar terlihat profil SNS.
Foto avatarnya adalah wajah Seto sendiri. Ada banyak foto glamor yang diposting.
Hanazono menggulir halaman itu sambil miringkan kepala.
“Pakai nama asli, ya. Follower-mu sebentar lagi seribu. Hebat. Kamu kerja keras mengejar mimpimu.”
Seto menelan ludah.
“Semoga makin terkenal nanti. Aku yakin bisa.”
“Apa maksudmu…”
Seto mendekat selangkah dengan suara rendah.
...Tidak bagus.
Tapi sebelum aku sempat bergerak, Hanazono menekan tombol play.
Di layar muncul video aku dan Seto.
Isinya… rekaman penuh saat Seto meminta maaf padaku tadi.
Warna wajah Seto langsung memutih sepenuhnya.
Napasnya tercekat.
“Ke-kenapa… kamu rekam…?”
Seto tercekat, tapi Hanazono tidak menjawab—ia hanya tersenyum lembut.
“Satu video begini bisa menghancurkan impianmu. Ada wajah dan suara asli. Nggak bisa kamu edit.”
Jari Hanazono tetap bergerak memainkan ponsel.
“Tunggu! Kenapa kamu sampai melakukan ini ke aku?!”
“Kamu menyakiti seseorang. Dapat balasan sebanding itu wajar kan?”
Seto gemetar.
Ia hanya berdiri terdiam, seolah dunianya runtuh.
“Masa lalu yang ingin kamu hapus justru ada di tangan orang lain. Hidup sambil menanggung dosa itu ya beginilah.”
Hanazono memasukkan ponsel ke sakunya.
“Mulai sekarang, aku yang pegang kendalimu.”
Cahaya hilang dari mata Seto.
Ia menatap kami bergantian, membuka mulut untuk bicara—tapi tidak ada suara keluar.
Ia mengepalkan tangan, hampir terisak.
“Itu… nggak boleh… aku bukan datang untuk… begitu…”
“Ya sudah. Pulanglah. Semakin lama di sini, situasinya bisa makin buruk.”
Seto menggigit bibir, berbalik, lalu menuruni tangga.
Bunyi sepatu berhaknya memantul di lantai sebelum pelan-pelan menjauh.
Dengan punggung menghadapnya, aku berkata singkat.
“Terima kasih sudah datang, Seto. Nanti aku bilang ke Hanazono buat berhenti.”
Seto terhenti sejenak di bordes, bahunya bergetar sedikit, tapi ia tidak menoleh.
Kemudian ia kembali berjalan.
Suara haknya menghilang ke dalam gelap.
Setelah memastikan ia sudah benar-benar pergi, aku memasukkan tangan ke saku.
Mungkin baginya terdengar seperti sindiran, tapi itu tulus.
Aksi Seto dulu memang merusak hidupku. Aku membencinya berkali-kali.
Tapi berkat itu juga aku bertemu orang-orang yang berharga.
Kalau bukan karena pengkhianatan Seto waktu itu, aku mungkin bukan aku yang sekarang.
“Hanazono… aku juga seharusnya bilang terima kasih. Jadi, terima kasih.”
“Kedengarannya tidak tulus. Yoshiki, kamu kan sebenarnya nggak mau balas dendam sampai segini.”
“...Enggak juga. Kalau boleh jujur, setelah memaafkan dia lalu tahu semua ini, rasanya aku lega. Kayaknya aku orangnya busuk.”
Hanazono membelalakkan mata, lalu terkekeh.
“Gak usah dipaksa jadi suci. Urusan kotor kayak begini biar aku yang urus.”
“Tugas ya? Ada hubungannya sama kamu yang datang pas timingnya pas banget?”
“Iya. Aku sudah lama mantau akun dia. Pas lihat dia update story, feeling-ku langsung jalan. Dan ternyata tepat banget.”
Benarkah begitu? Entahlah. Tapi rasanya… ada hal yang lebih baik tidak aku tanya.
Sebagai gantinya, aku membuka satu pertanyaan yang mengganjal.
"Kenapa kamu sampai sebegitunya mau membantuku?"
"Mm… mungkin karena aku mantan pacarmu?"
Senyuman kecil dan samar muncul di sudut bibir Hanazono.
Alisnya perlahan terangkat, lalu ia bergumam, "Entah kenapa rasanya agak nyesek juga."
Dua bayangan yang menyatu dalam sinar matahari itu seakan perlahan menghilang.
Yang tersisa di depan mataku hanyalah senyum seorang Hanazono.
***
Melawan arus kerumunan yang kembali ke sekolah, Seto Miyabi berjalan seorang diri menuju gerbang.
Langkahnya di atas aspal yang disinari senja terdengar sangat pelan, sesekali langkahnya goyah seperti kehilangan ritme.
Wajahnya menunduk, bibir terkatup rapat. Siapa pun yang melihatnya selama beberapa detik saja pasti langsung tahu ada yang tidak beres—begitu tegang ekspresinya.
Sejak meninggalkan tempat itu, rasa hampa dan malu yang tak bisa dijelaskan terus menekan dadanya, perlahan tapi menusuk.
Ketika gerbang sekolah tinggal beberapa langkah lagi, suara seseorang memanggilnya dari belakang.
"Hei, Miyabi!"
Saat menoleh, yang dilihat Seto adalah Yuzuha Yui yang melambaikan tangan sambil berlari ke arahnya.
Dari balik gedung yang menjatuhkan bayangan gelap, Yuzuha muncul dengan keceriaan dan kepolosan khas dirinya.
"Sayang banget loh, pulang secepat itu!"
Melihat ekspresi Yuzuha membuat Seto merasa seperti kembali menjadi anak SD dahulu.
Yuzuha selalu tertawa, selalu mengajaknya, “Ayo bareng-bareng!”
Bagi Seto yang selalu kesulitan mendekat dengan orang lain, Yuzuha adalah satu-satunya orang yang benar-benar datang mendekat padanya tanpa ragu.
Namun, itu semua sudah masa lalu.
Saat SMP, mereka berpisah jalan—dan ketika Yuzuha memihak Yoshiki, semuanya seharusnya sudah berakhir.
Dengan nada menggertak, Seto meludahkan kata-kata.
"Kamu… kok bisa sih ngomong biasa ke aku?"
"Kan biasa aja. Kita sahabatan, kan!"
"Bodoh. Kamu bikin aku kesel."
Yuzuha tersenyum tipis dan berkata, "Ya itu juga tugas sahabat, kan—nerima semuanya."
Seto mengerutkan alis.
Dia tahu betul dirinya penuh rasa iri dan kehitaman. Dia tahu tindakannya yang tak terkendali adalah penyebab semua ini.
"Kamu yakin bisa menerima semuanya?"
"Yakin!"
Melihat keyakinan di wajah Yuzuha, Seto pun membuka mulut.
"Orang yang kerja di kawasan hotel itu… rekaman diam-diam itu… itu aku. Akun anonim itu, aku yang bikin. Kamu sadar ‘kan, ID-nya sengaja kubikin mirip?"
Mata Yuzuha membesar karena terkejut.
Seto melanjutkan, mengakui semuanya.
Karena kelemahannya yang dipegang oleh Hanazono Yuka, Seto sempat putus asa dan bertindak sembrono.
"Waktu SMP kamu nolong Yoshiki, kan. Itu bikin aku marah banget. Orang-orang yang harusnya nempel ke aku, sebenarnya lebih mau sama kamu… Aku tahu itu. Aku memang nggak pernah suka sama kamu, tapi itu jadi titik akhirnya."
Saat mengakui semuanya, Seto merasa ada yang aneh.
Karena Yuzuha tidak marah—justru menunjukkan ekspresi seolah-olah sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Ah… ternyata bener ya."
Seto spontan mundur selangkah. Dia tidak mengerti, bagaimana Yuzuha bisa menunjukkan wajah seperti itu.
"Aku sih sudah curiga. Miyabi dari dulu memang super manipulatif, sih."
"…Iya, memang begitu. Tapi kamu nggak marah sama aku?"
"Ahaaha, apaan sih."
Yuzuha tertawa tanpa beban.
"Aku malah mikir… mungkin aku juga pernah bikin kamu sakit hati. Jadi yuk, lupain aja semuanya. Kita ngobrol lagi kayak dulu."
"…Kamu bodoh? Mana bisa begitu."
"Bisa kok. Kita kan sahabat."
Itu adalah senyuman polos yang tidak mencoba membalas rasa sakit dengan sakit.
Justru karena itu, rasanya jauh lebih menyiksa.
Yuzuha tidak membuatnya mudah.
Alih-alih memaki, Yuzuha bilang ingin bersama lagi—seperti dulu.
Teman selalu mengkhianatimu, pikir Seto.
Saat situasi enak, mereka bersama. Saat buruk, mereka kabur.
Karena pengalaman itu, Seto pun memutuskan: lebih baik mengkhianati duluan daripada dikhianati.
Tapi… kalau yang berdiri di depannya ini adalah sosok yang benar-benar menghargai dirinya…
"…Begitu ya."
Sebutir air mata jatuh dari sudut mata Seto.
Ia mulai memahami apa yang selama ini ia hancurkan.
Dan apa yang telah hilang dari dirinya.
***
Gedung sekolah yang disinari senja dipenuhi cahaya jingga lembut.
Di kelas 2-2, yang sebelumnya berubah menjadi kafe maid, pembongkaran dekorasi telah dimulai.
Meja dikembalikan ke posisi semula, dan poster serta menu yang sudah dicopot menumpuk seperti gunung di atas loker.
"Akhirnya selesai juga ya, festival budaya."
Takeru berkata dengan nada sedikit sedih.
Sambil membereskan bersama, aku menjawab,
"Ya. Tapi aku jujur lega sih."
"Kamu kan panitia. Eh, tau nggak? Penjualan kelas kita peringkat satu se-angkatan! Gila kamu emang!"
"Yah, itu sihir kafe maid, bro."
"Dan itu terjadi karena kamu juga, lho."
Takeru tersenyum, lalu tiba-tiba diam.
Suara kardus berat yang digeser terdengar keras di belakang kelas.
Saat aku mau membuka pembicaraan lagi soal festival, Takeru mendahului.
"Tadi Yuzuha nyari kamu, loh."
"Eh, Yuzuha?"
"Kayaknya ada sesuatu."
Tanganku berhenti bergerak.
Saat menatap Takeru, ia tersenyum rumit.
"Dari luar sih dari bulan April kalian sudah cocok banget. Tapi kalian selalu ngegas kalau dibilang gitu. Tapi… ya, kayaknya keadaan udah berubah."
"…Takeru."
Takeru tidak menatapku.
Ia menatap dinding kelas yang sudah polos tanpa dekorasi, sambil melanjutkan.
"Aku ngerti kok. Kita kan temenan dari awal masuk. Aku nggak bakal bilang ke siapa pun. Jadi pergilah."
"…Kamu nggak bakal menghentikan aku?"
"Eh? Kenapa aku harus ngelarang? Soalnya aku nge-push Yuzuha?"
Jawabannya santai sekali.
Takeru selalu bilang ia "mengidolakan" Yuzuha, tapi di balik kata itu, aku tahu ada perasaan yang lebih dalam. Aku tidak pernah bertanya, dan sekarang pun aku tak bisa.
Tapi aku mengerti.
Dia mengatakannya begitu enteng supaya aku tidak merasa bersalah.
Dia memakai kata “push” sebagai batas aman—agar perasaannya tidak menghalangiku.
Dia memudahkanku untuk melangkah.
Takeru menggaruk kepalanya.
"Tapi boleh lah aku ngomong satu hal."
"Ya."
Aku menghadapnya sepenuhnya.
Takeru masih tak melihat ke arahku, tapi itu tidak penting. Menghadapnya adalah bentuk hormatku.
"…Jangan bikin keputusan setengah-setengah. Kalau sampai begitu, sebagai perwakilan ‘push’, aku bakal marah."
"Siap. Akan kuingat."
"Ya udah. Aku serahin dia ke kamu."
Takeru tersenyum.
Dulu, aku pasti akan menutupi semua urusan cinta-cintaan agar tidak mengganggu keseharian kami.
Tapi sekarang, setelah kasus Seto selesai, aku merasa lebih berani.
Dan mengakui semuanya—tanpa kabur—rasanya benar.
Untuk melangkah maju, seseorang harus percaya dulu.
"Takeru… makasih."
"Ugh, apa sih. Malu tau."
Takeru tertawa ringan seperti biasa.
Tapi matanya… jauh lebih serius dari biasanya.
Angin akhir musim gugur menyapu sisa-sisa suasana festival.
Kerumunan orang sudah lenyap dari belakang gedung sekolah, dan cahaya senja mewarnai dindingnya menjadi merah.
Berjalan berdampingan dengan Yuzuha, aku mendengar langkah kami bergema bersamaan.
"Capek juga ya hari ini…"
Yuzuha berkata pelan sambil memutar bahu dan sedikit meregangkan tubuh.
Dia sudah ganti dari baju maid ke seragam sekolah, tapi rambutnya masih agak berantakan.
Pipinya yang sedikit merah… bukan karena matahari.
Dari panggilannya saja, aku sudah tahu alasannya.
"Eh, Yoshiki. Tadi aku kepikiran… festival tuh cepet banget ya kelarnya. Rasanya ntar kita tiba-tiba lulus gitu loh, tanpa sadar."
"…Iya juga. Dulu waktu SMP lama banget rasanya, tapi sekarang malah cepet."
"Kan? Kita bakal jadi orang dewasa sebelum sadar."
Yuzuha menunduk sedikit, menggenggam lengan seragamnya.
Aku tetap berjalan tanpa banyak bicara.
Di depan, ada sebuah bangku kecil di samping pagar belakang gedung.
Kami pernah memakainya beberapa kali, tapi rasanya ini pertama kalinya aku duduk di sini dengannya.
"…Duduk yuk."
"Ah… iya."
Dengan panggilanku, Yuzuha duduk perlahan.
"Thanks ya udah ngasih waktu. Aku… ada yang mau aku bilang ke kamu. Kayaknya kamu sudah tau sih."
"…Ya."
Aku bisa mendengar napas Yuzuha.
Mungkin karena aku sedang menunggu momen pengakuan cinta, bahkan getaran kecil di udara pun terasa mengguncang gendang telingaku.
Jantungku mulai berdetak sangat keras.
Hampir tidak pernah ada yang menyatakan perasaan padaku dalam hidup ini.
Saat aku baru putus dari Hanazono dan mendadak ada yang menyatakan cinta, aku terlalu terkejut sampai tidak sempat gugup.
Tapi kalau situasinya disiapkan seperti ini, ternyata gugupnya bisa sampai sejauh ini.
Yuzuha menghadapku.
Pasti dia sudah mengulang-ulang kata-kata itu berkali-kali hari ini, dan berlatih berkali-kali juga.
Dalam hidup, tidak banyak situasi di mana seseorang menaruh perasaan sedalam ini ke dalam kata-kata.
Karena itu aku juga harus menghadapinya dengan benar. Jawaban setengah hati tidak boleh.
Yuzuha membuka mulut.
"──Hari ini, aku sudah baikan sama Miyabi."
"…Sama Seto?"
Karena kata-katanya berbeda dari yang kuduga, aku berkedip.
Aku tidak terlalu terkejut kalau Yuzuha bertemu Seto.
Kalau Seto datang ke festival budaya, malah aneh kalau dua orang yang teman masa kecil itu tidak bertemu.
Hanya saja… aku penasaran apakah Yuzuha yang memanggil Seto.
"Aku juga ketemu Seto. Kamu yang kasih tahu dia aku ada di mana, kan?"
Aku ingin dia menyangkal.
Memang, aku sudah menerima permintaan maaf Seto.
Tapi itu juga bisa dianggap sebagai permintaan maaf demi menyelamatkan dirinya sendiri. Tetap saja, dia adalah sosok negatif bagiku. Yuzuha yang sudah menolongku kemudian berpihak pada Seto… rasanya rumit.
Sambil berpikir seperti itu, aku juga setengah pasrah.
Matahari yang kukenal… pasti akan menyinari siapa pun.
Bahkan kalau itu Seto Miyabi.
"…Iya, aku yang kasih tahu. Miyabi bilang dia mau minta maaf."
"…Begitu."
"Maaf ya. Dia memang sudah minta maaf ke kamu, tapi waktu itu pasti masih demi dirinya sendiri, kan?"
"…Sekarang sudah beda?"
"Jujur aja, aku nggak tahu. Aku percaya dia benar-benar menyesal… tapi aku nggak akan mempertemukan kalian lagi."
Jadi setelah aku berpisah dengannya, dia bertemu lagi dengan Seto.
Aku tidak tahu bagaimana mereka akhirnya bertemu—mungkin mereka janjian. Kalau begitu, ya… perasaan rumitku wajar.
Tapi Yuzuha bukan tipe orang yang mengabaikan perasaan orang lain.
"Ya, pasti kamu punya pertimbangan sendiri. Nggak apa-apa."
Saat aku mengatakan itu, Yuzuha menggeleng.
"Enggak. Aku yang nggak bener. Makanya… aku putusin buat membatalkan pengakuanku ke kamu."
"…Hah?"
Perlahan, kedua tangannya bertumpuk di atas rok.
Ia tersenyum, tapi terlihat seperti bisa menangis kapan saja.
"Aku memang nggak bisa, ya. Aku selalu kepengen semua orang bahagia. Padahal aku sendiri sampai mikir… sejak kapan aku se-“baik hati” ini, sih?"
Untuk pertama kalinya suara Yuzuha bergetar.
Bukan karena gugup—tapi karena sedih.
Perasaan yang selama ini ditahannya mulai terlihat di matanya.
"Miyabi itu musuhnya kamu, kan? Tapi… dia tetap penting buat aku. Aku tahu dia udah ngelakuin hal yang nggak bisa kamu maafin. Tapi begitu ngeliat punggung Miyabi tadi… aku nggak tahan. Aku kepengen baikan lagi sama dia."
Sambil menahan sesak di tenggorokan, Yuzuha melanjutkan kata-katanya terputus-putus.
"Makanya… maaf. Aku nggak bisa pacaran sama kamu. Kalau aku pacaran sama kamu… aku nggak akan bisa bareng sama Miyabi lagi."
Karena kata-kata itu terlalu jauh dari dugaanku, aku refleks bersuara tanpa sadar.
"…Tunggu. Kamu cuma lagi mikirin perasaanku, ya?"
"Bukan. Lebih parah dari itu."
Yuzuha tersenyum getir.
"Itu cuma keegoisanku. Aku membatalkan pengakuanku… demi diriku sendiri."
"…Begitu."
Jadi Yuzuha sudah mengambil keputusan.
Apakah sudah sejak festival dimulai?
Atau dia sudah mempertimbangkan berbagai kemungkinan berdasarkan apa yang akan dilakukan Seto?
Segala kemungkinan ada… tapi semua sudah lewat.
"…Kupikir kamu mau ngaku lagi, jujur saja."
"Ahaha, aku tahu. Kamu kelihatan gugup banget tadi."
"Ya wajar lah."
"Ya juga sih."
Yuzuha tersenyum kecil, terlihat menyesal.
"Jadi… kamu sebenarnya mau pacaran sama aku?"
"…Enggak."
Aku menarik napas.
"──Aku memang berniat menolak."
Yuzuha terbelalak.
Aku bisa mendengar jelas suara kecil seperti ia menelan kembali kata-katanya.
Tapi aku harus mengatakan ini.
Kalau tidak, kami berdua tidak akan bisa maju.
"Keji banget, ya. Bahkan harapan kecil pun nggak kamu kasih."
"Iya. Setelah kamu menunggu sejauh ini… aku nggak bisa pura-pura."
"…Hmm. Jadi itu baik juga, ya? Memang… aku bergantung banget. Aku tahu aku bakal ditolak, tapi aku menunggu sambil berharap. Kalau nggak sekarang… mungkin suatu hari nanti."
Yuzuha mengalihkan pandangan, lalu menatapku lagi.
Matanya… berbeda dari tadi. Lebih tegas. Lebih kuat.
"Boleh bilang satu kalimat terakhir?"
"Apa?"
"Aku nggak akan biarin kita jadi canggung. Sama sekali nggak."
Kedua lengannya melingkari punggungku.
Aksi yang berlawanan dengan kata-katanya… tapi aku tidak ingin menolaknya.
Bahkan sebelum sempat merasakan hangat tubuhnya, ia sudah melepaskan pelukan itu. Seolah itu adalah bentuk dari tekadnya.
"Terima kasih. Mulai sekarang, tolong tetap temani aku ya."
Yuzuha tersenyum.
Senyuman itu adalah sinar matahari yang murni.
Pohon di belakang gedung sekolah bergoyang, dan sehelai daun hijau jatuh di bahuku.
Senyuman Yuzuha adalah senyuman untuk melangkah maju. Senyuman untuk menguatkan diri, dan mengerti perasaanku.
Aku mengukir senyuman itu dalam pikiranku.
Agar tidak pudar di masa depan.
Agar aku bisa melangkah satu langkah ke depan.
Lalu saat itulah—
Terdengar suara bruk, dan langkah kaki buru-buru menjauh.
…Dilihat orang.
Dan aku tahu persis siapa.
Punggung yang kulihat sekilas… adalah orang yang paling lama bersamaku.
"…Iya."
Yuzuha mengangguk. Aku langsung mengerti maksudnya.




Post a Comment