NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Anokoro ii Kanjidatta Joshi-tachi to Onaji Kurasu ni Narimashita Volume 3 Chapter 9

 Penerjemah: Arif77

Proffreader: Arif77


Chapter 9

Ayo, Festival Budaya! - Iza Bunkasai!

Semester kedua pun dimulai.

Panasnya sedikit mereda. Meski sinar matahari musim panas masih tersisa, begitu masuk ke bayangan gedung sekolah, keringat perlahan menghilang.

Suara jangkrik yang sempat memenuhi telinga kini mulai mereda, digantikan hembusan angin sepoi-sepoi yang membungkus telinga dengan lembut.

Langit masih cerah seperti biasa, tetapi birunya sudah mulai pudar. Itu membuatku merasa kalau sebentar lagi musim gugur yang singkat akan tiba.

Dalam perjalanan menuju kelas, aku benar-benar merasakan perubahan musim.

Suara langkah sepatu kets yang bergema di pintu masuk.

Aroma seragam yang saling berpapasan, suara loker sepatu yang dibuka dan ditutup.

Begitu memasuki lorong, terdengar suara tawa teman-teman sekelas yang sudah datang lebih dulu.

“Eh, kamu tambah cokelat ya?” “Lah, kamu juga,” obrolan penuh keceriaan saat saling bertemu kembali membuatku ikut tersenyum.

Perubahan musim selalu datang dengan garis yang begitu halus, membuat kita baru menyadarinya belakangan.

Mungkin hari ini terasa lebih jelas karena aku memang menantikan pertemuan dengan semuanya.

Aku membuka pintu kelas.

Yuzuha sudah duduk di kursinya, menoleh padaku dan tersenyum lebar.

“Halo, Yoshiki! Kamu baik-baik aja?”

“Pagi, Yuzuha. Baik sih, lagian kita juga kadang ketemu di klub, kan?”

“Eeeh, aku belakangan sibuk kerja paruh waktu, jadi jarang datang.”

“Oh iya ya, akhir-akhir ini kamu memang gak ada. Tapi kenapa kamu duduk di kursiku?”

Yuzuha dengan santainya bersandar pada sandaran kursiku seolah-olah itu miliknya.

“Kursinya Yoshiki tuh nyaman banget~. Kalau kamu mau banget, ya… mungkin bisa aku balikin?”

“Kursinya sama aja bentuknya. Dan sekali lagi, itu kursiku!”

“Ahaha!”

Tawa cerianya seperti meniup pergi sisa panas musim panas.

Sudah dua minggu kami tidak bertemu, tapi Yuzuha tetap saja penuh energi seperti biasa.

Aku sedikit memaksanya bangkit, lalu akhirnya bisa duduk.

Pandanganku mengarah ke arah teman masa kecilku.

Remi sudah membuka buku pelajarannya dan sama sekali tidak melirik ke arahku.

Melihatnya seperti itu, rasanya waktu saat camping kemarin seperti mimpi belaka.

Meski masih sulit dipercaya, aku memang tidur satu tenda dengan Remi.

Jika hari-hari berlalu dengan pelajaran yang kembali dimulai, tugas yang menumpuk, mungkin kenangan musim panas itu perlahan akan memudar.

Tetapi jarak antara hatiku dan Remi jelas semakin dekat saat camping.

Walaupun setelah itu kami tidak berbicara secara khusus, setiap kali mata kami bertemu — aku selalu teringat malam itu.

***

Lalu tibalah jam kelima, saat homeroom yang sedikit lebih panjang.

Mengantuk setelah makan siang membuat suasana kelas temaram, ketika wali kelas, IHasegawa-sensei, mengeluarkan selembar kertas terlipat dari saku jasnya dan meletakkannya di meja dengan ringan.

“Baik, dua bulan lagi kita punya festival budaya. Sudah waktunya memutuskan acara apa yang akan kalian tampilkan.”

Kelas langsung mulai berisik.

Festival budaya.

Sebuah acara yang setara dengan festival olahraga sebagai simbol suasana "di luar rutinitas".

Kami diberi selebaran berisi penjelasan festival, dan semua orang membacanya dengan antusias.

Ternyata bukan sekadar menampilkan sesuatu, tetapi setiap kelas juga saling bersaing untuk menarik perhatian pengunjung sebanyak-banyaknya.

“Oh, ini kayaknya seru.”

Gumamku disambut oleh Takeru di kursi depan. “Bener kan!?”

Stan bazar, pertunjukan panggung, pameran—ide-ide itu akan dinilai, dan persaingan antar kelas pun tercipta.

“Kelas satu dapatnya stan bazar, ya.”

Ekspresi teman-teman sekelas terlihat bersemangat, dan IHasegawa-sensei mengangguk kecil, lalu melanjutkan.

“Ini adalah kesempatan terbaik agar satu kelas bisa benar-benar kompak. Untuk itu, aku ingin menunjuk seseorang untuk menjadi koordinator acara. Ada yang mau?”

Pandangan guru menyapu seluruh kelas.

Semua orang pura-pura tidak melihat.

Aku juga menatap punggung Takeru tanpa alasan supaya terhindar dari tatapan guru.

Melihat tidak ada yang angkat tangan, Hasegawa-sensei menghela napas panjang dan berkata:

“Sepertinya tidak ada, ya. Kalau begitu, aku percayakan lagi pada Yuzuha, ya?”

Begitu nama Yuzuha disebut, seluruh tatapan langsung tertuju padanya.

“Eeeh, aku lagi?”

Dengan tawa kecil, Yuzuha berdiri. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut—lebih mirip menikmatinya.

Ini pertama kalinya ia memimpin sesuatu setelah insiden di rapat seluruh angkatan.

Melihatnya begitu tenang, aku tak bisa menahan rasa kagum.

…Memang, Yuzuha itu kuat.

Aku tahu ia punya sisi rapuh, tapi bahkan dengan itu, ia tetap terlihat kuat.

Yuzuha melangkah ke depan, mengambil selebaran dari tangan guru seperti biasa.

“Oke, ayo kita mulai tentukan?”

Begitu Yuzuha berdiri di depan, rasanya seluruh ruangan langsung lebih terang.

“Sang Matahari kelas 1-2” masih bersinar hari ini.

Namun tiba-tiba, ia terdiam selama beberapa detik.

“…?”

Semua orang tampak bingung ketika Yuzuha berdeham kecil.

“Ehem. Sebelum mulai, aku mau pastiin satu hal. Boleh ya aku yang mengumpulkan pendapat kalian?”

Tatapannya mengarah jelas ke kelompok cowok—Miyagi, Minegishi, dan yang lainnya.

Mereka tampak terkejut. Terutama Minegishi, wajahnya jelas merasa bersalah.

Minegishi adalah orang yang pernah menyebarkan rumor buruk tentang Yuzuha dan mempermalukannya.

Mengatakan ia seperti “cewek murahan yang mau sama siapa pun”, dan menyebutnya “Matahari”—bukan sebagai pujian, tapi ejekan.

Suasana kelas menegang, semua menunggu reaksinya.

Minegishi pun menunduk dan bergumam:

“...Maaf. Aku kasih julukan yang keterlaluan, dan percaya sama gosip bodoh itu.”

Kelas menjadi hening.

Sebuah permintaan maaf tidak seharusnya membuat semuanya selesai begitu saja.

Tapi yang memutuskan hanya Yuzuha.

Semua orang menahan napas, menunggu jawabannya.

Dan kemudian—

“Gak apa-apa! Tapi sebagai gantinya kita harus menang di festival nanti, oke?”

Yuzuha tersenyum lebar, suaranya cerah tanpa celah.

Para cowok termasuk Miyagi tampak lega.

Takano dan Sudo—dua sahabat dekat Yuzuha—juga tidak keberatan. Sepertinya mereka sudah tahu keputusan Yuzuha sebelumnya.

Kalau bukan karena Yuzuha sudah bicara dengan mereka dulu, dua orang itu pasti sudah protes keras.

Begitu mereka menerima keputusan itu, seluruh kelas pun menerima bahwa masalah besar itu akhirnya selesai.

Dan saat pemahaman itu menyebar, aku melihat wajah Yuzuha.

Ketika mata kami bertemu, ia tersenyum nakal.

—Aku saja gak peduli, jadi kamu juga gak usah khawatir, Yoshiki.

Mungkin itu maksud tatapannya.

Aku menghela napas pelan.

…Kalau itu keputusan Yuzuha, aku terima.

Dengan Yuzuha secara terbuka memaafkan, kelas dua akhirnya punya kesempatan untuk bersatu lagi.

Festival budaya akan menjadi alasan sempurna untuk menghapus sisa ketegangan.

…Sejauh mungkin, ini memang penyelesaian terbaik.

Guru menepuk tangan.

“Baiklah, kalau semuanya sudah siap, mari kita tentukan jenis stan-nya.”

Yuzuha menunjukkan senyum lebar, penuh semangat.

“Oke! Pertama-tama, keluarkan semua ide yang ada! Apa saja boleh!”

Kelas menjadi ramai kembali.

Meski masih mengantuk setelah makan siang, seisi kelas tampak lebih hidup daripada sebelumnya.

Ini festival budaya pertama kami sejak masuk SMA.

Antusiasme itu membuat semua orang duduk sedikit lebih tegap.

“Aku! Rumah hantu!”

Takeru mengangkat tangan pertama.

Wajar, dia memang paling semangat soal acara.

Ketegangan yang sempat muncul seketika mencair.

Teman di depannya menyahut.

“Takeru, itu tahun lalu juga ada lho. Kalau dua tahun beruntun, anak kelas atas bosen.”

“Nggak! Tergantung siapa yang bikin! Kalau kita, pasti bisa bikin lebih seram! Meski… aku gak tahu kualitas tahun lalu gimana!”

“Takeru serius tuh biasanya meragukan.”

“Hah!? Siapa barusan!?”

Suara tawa pecah.

“Hei, jangan ribut!”

“Siap!”

Takeru langsung memberi hormat. Kesetiaan tingkat tinggi pada Yuzuha itu menggelikan sekaligus mengagumkan.

“Next! Ada ide lain!?”

Tangan lain terangkat.

Takano Youko.

“Gimana kalau bikin pemutaran video? Kayak film pendek gitu!”

Ide itu memancing reaksi beragam.

“Kayaknya ribet banget deh.”

“Tapi akhir-akhir ini yang berbau video itu dinilai tinggi lho. Aku dengar kelas lain juga ada yang mau bikin.”

Lalu ide “stan ala festival rakyat” muncul.

Permainan tembak-tembakan, undian, dan dekorasi ala Jepang kuno.

Cowok dan cewek sama-sama terlihat suka dengan ide itu.

Kemudian ada juga ide “museum kelas”.

Anak-anak seni rupa ingin memamerkan karya mereka.

Saat semua tampak lancar, tiba-tiba—

“Boleh aku bilang sesuatu?”

Suara yang cukup keras muncul dari kelompok cowok.

Miyagi.

Pemimpin kelompok cowok, biasanya tegas dan jago menengahi masalah, tapi belakangan lebih pendiam karena kasus Yuzuha.

Sepertinya semangatnya kembali setelah melihat keberanian Yuzuha.

Aku sedikit waspada, tapi—

“Bagaimana kalau… maid café?”

Satu detik hening.

Lalu, suasana kelas bergoyang.

“Tuh kan! Aku sudah tahu cowok pasti bilang itu!”

“Terus siapa yang jadi maid? Masa semua harus pakai?”

“Itu kan enaknya buat cowok doang. Aku sih gak masalah, tapi…”

“Tunggu! Kalau mau maid café, harus ada butler café juga dong! Biar adil!”

Reaksinya sangat beragam.

Ada yang tertawa, ada yang mencibir.

Namun tidak ada yang langsung menolak total.

Seolah semua sedang menunggu bagaimana Yuzuha menanggapi.

Yuzuha menghela napas panjang.

“Ha—h…”

Miyagi menggaruk kepala. “Kayaknya aku kebablasan, ya?”

“Hmm… nggak juga. Ide jujur dari cowok juga penting kok, kita satu kelas. Aku masukin ke daftar kandidat, ya.”

Kemudian ia melirikku sejenak.

Entah apa maksud tatapan itu.

Di tengah suasana yang sedikit ribut, Yuzuha mengalihkan tatapan ke dua gal di belakang kelas: Yoko dan Maki.

“Makaaanii~. Kalau maid café beneran, kalian sebagai perwakilan ‘tim yang jadi maid’, gimana?”

Dua gadis itu angkat wajah bersamaan.

““Kenapa kami yang dipilih!?””

Kelas tertawa kecil.

Sudo lalu menatap tajam ke Miyagi.

“Miyagi, jijik. Serius, gak banget.”

“Iya bener. Ngapain sih bikin seolah-olah kami yang pasti dipaksa pakai baju itu?”

Banyak cewek tampak lega karena ada yang berani bicara terang-terangan.

Miyagi buru-buru melambaikan tangan.

“Maaf! Beneran cuma iseng nyebut kok! Yuzuha, kalo ribet ya gak usah dimasukin juga gak apa!”

Pasti dia sebetulnya ingin sekali.

Tapi dengan hubungan cowok–cewek yang belum sepenuhnya pulih, dia tidak bisa memaksakan.

Yuzuha menatapnya sebentar, lalu berkata:

“Hmm… tapi cowok bakal beneran gak apa-apa? Kita kan satu kelas. Memang sulit cari ide yang bikin semua setuju, tapi langsung menghapus satu ide juga rasanya kurang fair.”

Kelas langsung hening.

Apakah benar-benar perlu menghormati grup laki-laki sampai sejauh itu? Mungkin ada beberapa siswi yang berpikir begitu.

Dalam suasana yang agak canggung, Takeru tiba-tiba bersuara.

“Eh, Yoshiki gimana?”

“Hah?”

Tatapan orang-orang di sekitar secara alami tertuju padaku.

…Tunggu dulu, kenapa arahnya jadi aku yang harus memutuskan?

Namun Takano berkata seolah itu hal yang wajar.

“Yah, menurutku pendapat Yoshiki penting sih.”

“Eh, jangan gitu lah… siapa pun yang ngasih pendapat juga hasilnya sama aja, kan?”

“Sama aja gimana? Kita cuma buat referensi, kok.”

Yuzuha menatapku dengan mata polos sambil menambahkan.

Kalau aku menghindar di sini, suasananya pasti makin canggung.

Akhirnya aku pasrah, mengangkat bahu sedikit.

“…Yah, sebagai cowok, aku nggak punya alasan untuk menolak maid café, sih.”

Beberapa anak laki-laki tertawa kecil mendengar jawabanku.

Beberapa siswi memberi tatapan dingin, tapi sejak insiden rapat angkatan, kelompok Miyagi dianggap sebagai kelompok terpisah, jadi tidak ada penolakan keras.

Bahkan Sudou, yang tadi menatap Miyagi tajam, kini berkata santai, “Yah kalau Yoshiki yang bilang, ya udah deh.”

Melihat itu, Yuzuha terkekeh.

“Bener juga, terasa kayak mimpi para cowok, ya. Kalau aja setengah kelas punya mimpi itu tapi nggak dimasukin sebagai kandidat, ya wajar kelas nggak bakal kompak.”

Lalu dia melirik ke arah jendela kelas.

“Hey, Hanazono-san. Dari sudut pandang OSIS, maid café itu sebenernya boleh nggak sih? Kalau boleh, aku mau masukin ke kandidat, tapi takutnya nanti malah dilarang.”

Dalam sekejap, kelas sedikit menegang.

Semua pandangan serentak mengarah ke bangku depan.

Hanazono merapikan poni, lalu mengangkat wajah tenang.

“Menurutku itu ide yang bakal bikin suasana rame. Dan cuma karena itu maid café, kayaknya nggak bakal langsung dilarang, kok.”

Dari sudut pandangku, aku bisa lihat Miyagi dan Minegishi tampak lega.

Seolah membaca reaksi mereka, Hanazono menambahkan:

“Tapi akan lebih baik kalau mempertimbangkan perasaan yang jalaninnya juga. Bagian belakang panggung aja banyak kerjaannya, dan untuk maid-nya, harus diisi orang-orang yang memang nggak keberatan.”

Tidak menolak sepenuhnya, namun juga tidak menyetujui secara mutlak.

Setidaknya dengan mempertimbangkan perasaan peserta, maid café jadi terasa lebih realistis.

Karena tidak semua cewek harus dipaksa memakai kostum maid, beberapa siswi langsung terlihat lega.

Yuzuha mengangguk mantap.

“Ooh, masuk akal. Memang bisa diandalkan ya, Hanazono-san!”

“Kamu juga, Yuzuha-san.”

Hanazono menjawab dengan ramah.

Tidak ada yang merasa aneh dengan sikapnya, dan pembicaraan kembali mengalir.

“Kalau begitu, kita masukin maid café sebagai kandidat, ya. Biar adil!”

Munculin protes belakangan itu nggak perlu. Ajakan Yuzuha membuat semua orang merasa begitu.

Dia mengambil sesuatu dari dekat meja Hasegawa-sensei.

“Oke, ayo mulai undiannya.”

Di tangannya ada kotak hitam kecil sebesar telapak tangan.

Di dalamnya sudah ada kertas kosong, dan Yuzuha dengan cepat menuliskan kandidatnya:

Rumah hantu, pameran video, stan ala festival, museum kelas, maid café.

“Siap, masukin~. Deg-degan juga ya?”

Ia tertawa kecil, dan seluruh kelas ikut berbisik-bisik.

“Yuzuha, maid cafe— tolong banget lah.”

“Tolong tarik rumah hantu, plis…”

“Pameran tuh agak boring sih.”

“Hah? Aku sih lumayan tertarik.”

Baik cowok maupun cewek mengutarakan harapannya sambil mengetuk meja.

Tapi undian adalah permainan keberuntungan—nggak bisa dikendalikan siapa pun.

“Kalau gitu, aku tarik ya! Eiii!”

Yuzuha memasukkan jarinya, meraba beberapa detik, lalu mengambil satu kertas.

Kelas langsung hening.

Ia membuka kertasnya, lalu menyebutkan hasilnya dengan jeda singkat.

“──Maid café!”

Tawa, teriakan, keluhan, dan tepuk tangan.

Berbagai emosi bercampur, menyelimuti ruang kelas.

Anak-anak cewek di barisan depan saling menatap bingung, sementara anak cowok di belakang melakukan pose kemenangan.

Hanazono hanya tersenyum tipis. Ekspresi Remi tidak terlihat dari posisiku.

Di pojok papan tulis, ditambahkan tulisan “Maid Café”.

“Ya udah lah. Kayaknya aku juga harus siap ganti baju nih~.”

Setelah selesai menulis, Yuzuha membalikkan badan.

Senyumnya tetap ceria seperti biasa.

Hasegawa-sensei yang menyilangkan tangan menguap sambil berkata,

“Ternyata konsep maid café masih hidup di antara kalian, ya. Kukira itu cuma tren zaman Heisei.”

“Maid café itu abadi!”

Takeru berseru keras.

Guru menerima dengan “iya iya” dan melanjutkan,

“Festival budaya itu acara yang bakal kalian ingat terus sampai dewasa. Yang keinginannya terkabul tentu senang, tapi yang nggak pun bakal dapat pengalaman baru yang berharga. Mungkin suatu saat berguna.”

Walau duduknya agak malas, pandangnya sangat serius.

Itulah gaya khas Hasegawa-sensei—seimbang antara santai dan bertanggung jawab.

“Yah, sepertinya kali ini keberuntungan cowok menang ya?”

Saat guru tersenyum nakal, Yuzuha mendengus, “Ih, sensei juga tim cowok ternyata.”

Kami para cowok merasa makin dekat dengan guru.

Ternyata Hasegawa-sensei masih punya sisi kekanak-kanakan.

“Terakhir, tentukan juga panitia pelaksana festival budaya. Satu cowok dan satu cewek dari kelas sudah cukup.”

Yuzuha berkedip.

“Panitia ya. Kalau cewek paling aku bisa, tapi cowoknya siapa?”

Para cowok saling menatap.

“Eh, Minegishi aja. Anggap bayar dosa.”

“Nggak lah, itu justru makin salah. Yang paling masuk akal Miyagi.”

“Kalau gitu aku juga nggak terlalu baik sih posisinya.”

Dua tiga suara berbisik bersahutan.

Yuzuha tersenyum canggung sembari memandangi kelas.

“Eh, sudahlah. Aku kan udah maafin. Jangan pakai alasan itu! Ada yang mau jadi panitia nggak?”

Namun tetap tidak ada tangan yang terangkat.

Miyagi dan Minegishi masih merasa bersalah, sementara yang lain hanya menunggu orang lain maju.

Kalau harus memilih cowok yang posisinya netral, mungkin Takeru.

Saat aku memikirkan itu, sebuah kalimat terlintas:

—Kalau dengan begini Yoshiki bisa berubah ke arah yang lebih baik, berarti ada makna dari apa yang aku lakukan.

…Kalau ingin memberi makna pada waktu itu, mungkin saatnya sekarang.

Insting itu membuatku berdiri.

“Aku mau.”

Beberapa orang menoleh padaku.

Anehnya aku tidak menyesal.

“Serius? Nggak nyangka.”

Takeru memandangku sambil menggumam.

Itu memicu beberapa komentar lain; bahkan ada yang reaksinya lebih mendekati dukungan.

Kalau ini dulu, aku pasti minder.

Tapi sekarang, aku tidak merasa negatif soal menjadi panitia.

Yuzuha terkejut sebentar, lalu tersenyum lebar.

“Wow, langka banget. Besok hujan kali, ya.”

Nada bercandanya jelas, tapi matanya terlihat bahagia.

“Kalau gitu aku juga jadi panitia! Kayaknya seru juga.”

Saat dia mengumumkan itu, suasana kelas langsung mencair.

Matahari—secara harfiah maupun suasana—benar-benar kembali.

“Kalau Yuzuha yang megang, pasti aman lah~”

“Ya. Kayaknya kelas bakal rapi.”

Saat itu, satu gerakan halus muncul.

Jari ramping terangkat pelan.

Tidak ragu, tidak terlalu mencolok, namun jelas mengarah ke papan tulis.

“Aku juga boleh jadi panitia?”

Yang berbicara adalah Remi.

Dalam keheningan, semua orang memandangnya.

Ia duduk tegak, berwibawa.

Namun di matanya ada kilau yang tidak biasa.

Yuzuha terdiam dengan mulut sedikit terbuka, lalu buru-buru melambai.

“Re-miremi, aku yang ngerjain kok? Aku kan selalu yang megang hal beginian.”

“Itulah kenapa aku yang melakukannya. Kita selalu menyerahkan semuanya padamu.”

Ucapannya blak-blakan, membuat beberapa orang merasa tidak enak.

Mereka memang sadar hal itu.

“Dan panitia itu bakal nyita waktu cukup banyak. Kamu kan kerja part-time? Hari yang bisa kamu ambil shift juga udah sedikit gara-gara klub, kan? Aku nggak mau nambah bebanmu.”

“Ya… tapi… bukan berarti harus dipikirin banget…”

Meski berkata begitu, Yuzuha tampak menggigit bibir—sepertinya memang kepikiran.

Remi ada benarnya.

Takano dan Sudo ikut bersuara:

“Iya juga.”

“Betul. Yui juga sesekali harus istirahat!”

Yuzuha terlihat bimbang, lalu tersenyum pelan.

“Re-miremi, kamu yakin?”

“Tentu.”

Remi mengangguk lembut.

Suaranya lebih halus dari biasanya.

Ada sesuatu yang aneh, tapi mungkin hanya aku yang merasakannya.

Yang lain hanya melihatnya sebagai Remi yang sedikit berbeda.

Yuzuha tampak kecewa sejenak, lalu kembali tersenyum cerah.

“Baik, kalau begitu aku serahin, ya. Makasih, Remiremi!”

“Sama-sama. Dan terima kasih juga selama ini.”

Yuzuha tersenyum lebar mendengar itu.

“Kalo gitu, diputuskan! Yoshiki dan Remiremi jadi panitia. Semua, nanti kita bakal koordinasi sama dua orang ini!”

Bersamaan dengan deklarasi itu, bel pun berbunyi.

Hasegawa-sensei berdiri, menutup buku catatannya.

“Oke, berhasil nyampe akhir tepat waktu. Seperti biasa, Yuzuha yang beresin, jadi aku nggak usah banyak ngomong.”

“Sensei, bantu dikit kek…”

Keluhan kecil Yuzuha membuat kelas tertawa.

Home room di siang hari itu hanyalah kelanjutan dari hari-hari biasa.

Tapi festival budaya—benar-benar dimulai dari sini.

*** 

Keesokan harinya, bahkan setelah jam pelajaran berakhir, kelas masih saja ramai.

Tulisan [Panitia Pelaksana Kafe Maid] yang tertulis di papan tulis menunjukkan apa yang akan segera dimulai.

“Kalau tadi yang jadi koordinator bukan Yui, aku bakal nolak habis-habisan. Atau sebenarnya… sampai sekarang pun aku masih pengin batal ikut,”

Takano mengeluh sambil memindahkan barang-barangnya.

Anggota yang tersisa di kelas ada belasan orang. Tentu saja tidak semuanya adalah panitia.

Rasa penasaran untuk datang ke rapat awal rupanya cukup besar hingga banyak teman kelas berkumpul dengan sendirinya.

Beberapa anak laki-laki seperti Takeru, Miyagi, dan Minegishi juga ikut.

Yuzuha pun, yang hari ini kebetulan tidak ada shift kerja, duduk di bangku bagian tengah.

“Syukurlah aku bisa bolos klub hari ini.”

“Eh, aku sih memang tertarik sama festival budaya.”

Alasan ikutnya beragam, tapi makin banyak tenaga itu jelas menguntungkan, jadi tentu saja kami senang.

Remi yang berdiri di depan papan tulis memberi isyarat lewat mata agar aku maju.

Dengan tekad bulat, aku melangkah ke depan, dan langsung merasakan tatapan setengah dari orang-orang yang hadir.

Pemandangannya terasa sangat berbeda dibanding saat duduk di bangku sendiri.

Rasanya seperti semua orang menatapku seolah sedang menguji.

“Baik, kalau begitu, kita mulai lagi.”

Remi menepukkan kedua tangannya.

Seruangan langsung tenang, dan sisa orang yang tadi masih mengobrol pun menatap ke depan.

Semuanya tampak sedikit terkejut.

Biasanya yang berdiri di depan kelas 2 adalah Yuzuha.

Dengan suaranya yang ceria, ia biasa menyatukan pendapat kelas dan menciptakan suasana hangat.

Namun panggilan Remi barusan terasa seperti punya daya tarik, seolah menarik perhatian semua orang.

Daripada seperti teman seangkatan, auranya lebih mirip guru yang memimpin kelas. Tak heran semua orang terlihat penasaran, karena biasanya Remi bukan tipe yang tampil di depan umum.

“Tak kusangka Nikaido cukup cocok juga di posisi itu,”

Takeru berceletuk, membuatku sedikit bangga.

Tak pernah terpikir aku bisa melihat Remi kembali menjadi seorang pemimpin.

Jika mengingat betapa ia masih ‘memasang topeng’ saat pertama kali pindah sekolah, perubahan ini terasa menakjubkan.

Aku memang selalu berharap Remi bisa kembali seperti ini.

Meski dulu aku sempat menyerah karena itu adalah pilihan hidupnya sendiri, tapi kini melihatnya kembali seperti dulu… rasanya aku benar-benar senang.

Dia adalah teman masa kecil yang pertama kali membuatku merasakan kedekatan hati.

Kenangan itu tumpang tindih dan menghilang begitu saja.

Aku tahu betul bahwa teman kecilku itu kini sudah semakin dewasa.

Mengingat kejadian saat berkemah—ketika aku tanpa sengaja melihat bagian dadanya—aku segera mencubit paha sendiri. Kalau sampai ketahuan sedang mengingat hal memalukan seperti itu di depan semua orang, sudah pasti aku bakal dikucilkan. Bahkan aku sendiri pun merasa pantas dikucilkan kalau itu terjadi.

Tanpa tahu bagaimana aku sedang ‘berjuang’, Remi menggulung kertas catatan di tangannya dan mulai berbicara dengan suara jernih.

“Festival budaya tinggal dua bulan lagi. Menurut Hasegawa-sensei, setiap tahun stan makanan biasanya selalu mepet persiapannya. Jadi mulai hari ini, ‘Panitia Pelaksana Kafe Maid’ akan beroperasi secara penuh.”

Nada bicara yang tenang dipadukan dengan isi pengumuman yang absurd membuatku nyaris tertawa.

Sekitar juga langsung merasa lebih rileks, saling pandang sambil menahan senyum.

“Memang benar sih, tapi kedengarannya lucu kalau diucapkan serius begitu.”

“Harusnya tadi kita gantung papan nama sekalian.”

“Jangan! Nanti kelas lain salah paham. Kalau kau berani masang, kubanting kau ke dalam loker.”

“Serem banget!”

Semua orang ribut, tapi wajah mereka tampak bersenang-senang.

Menyebut ini rapat memang sedikit berlebihan, tapi bentuk acara seperti ini penting. Karena dengan suasana ‘rapat’, semua orang merasa harus membuat keputusan. Remi mulai menulis di papan tulis.

“Baik, pertama kita cek dulu. Kita akan mencatat semua persiapan yang diperlukan, jadi kalau ada yang ingin ikut di bagian tertentu, langsung sebutkan saja.”

Suara kapur yang berlari di papan tulis terdengar jelas, dan huruf Remi jauh lebih rapi dibanding tulisan Hasegawa-sensei.

[Dekorasi / Kostum / Menu makanan / Belanja / Papan & Poster]

Sudo langsung bereaksi melihat daftar itu.

“Kerja berat bagi anak laki-laki saja ya. Tapi yang butuh selera nanti kami yang putuskan.”

“Eh, jangan gitu dong! Sudo aja pasti lebih kuat dari aku!”

“Ku-hajar kau nanti!!”

Remi melirikku—itu tanda bahwa giliran aku memimpin.

“Baik… kita mulai dari pembahasan kostum maid atau butler, sesuai ide awal?”

Aku bertanya pada seluruh ruangan.

Sejenak tidak ada jawaban.

Kalau sampai mereka diam saja, itu bakal bikin aku malu setengah mati.

Tapi tak lama, Takeru mengangkat tangan sambil bersorak.

“Waktunya tiba! Saatnya mendandani para cewek dengan baju maid favoritku!!”

Yuzuha langsung mengernyit jijik. “Ih, norak banget.”

Tapi Takeru tetap tidak sadar.

Sudo menghela napas lalu bertanya.

“Hey, Yoshiki. Ini telat banget sih aku tanya, tapi… kostum maid-nya bakal seberapa serius? Jelasin dong.”

“Tentu saja serius. Lewat koneksi Yuzuha, kita bisa sewa satu kostum 500 yen. Itu batas budget kita, tapi katanya kualitasnya bagus.”

Dari belakang Remi menambahkan,

“Kalau terlalu terbuka bakal aku coret dari daftar, jadi tenang saja.”

“Woy, Takeru! Jangan kelihatan kecewa dong!” seru seseorang, membuat ruangan pecah.

Remi kembali memberi penjelasan.

“Menurutku gaya seragam maid yang paling realistis itu model klasik. Gaun hitam panjang dengan apron putih—sudah terlihat seperti maid tanpa harus banyak buka-bukaan.”

Kali ini Hanazono ikut mengangguk.

“Ya, kalau begitu aku juga masih bisa memakainya.”

“Kan? Aku ingin kita pilih kostum yang semua orang bisa nikmati.”

Remi lalu berbisik padaku,

“Hari ini minimal kita harus menetapkan 20% dari seluruh keputusan. Khusus bagian belanja, harus mulai secepatnya. Bisa kita kebut hari ini kan?”

“Makes sense… Memang tidak bagus kalau masih ada bagian kosong tanpa penanggung jawab. Oke, siap.”

Aku lalu kembali menatap semua orang.

“Jadi hari ini kita putuskan semuanya secara garis besar dulu. Selanjutnya, soal menu makanan… Hanazono, waktu itu kau dapat info dari OSIS, kan?”

Hanazono mengangguk dan tersenyum kecil.

“Ya. Karena alasan higienis, pilihannya sangat terbatas. Kalau dessert mungkin sedikit lebih fleksibel.”

“Kalau begitu yuk bikin dessert yang ‘instagrammable’! Kita menangin dari tampilan!!”

Yuzuha mengusulkan dengan antusias, membuat para siswi langsung heboh.

Sementara para siswa laki-laki… wajah mereka jelas menunjukkan “kami nggak ngerti apa lucunya”.

(Ya, seperti mereka yang tak paham soal maid outfit yang barusan bikin kami heboh.)

“Selanjutnya bagian seni. Kita perlu tentukan siapa yang buat poster dan papan nama. Ada yang mau jadi ketua?”

Takeru langsung mengangkat tangan.

“Serahkan padaku! Guru seni bilang aku punya energi yang dahsyat!”

“Itu bukan pujian!” seruku.

Namun Remi justru tertarik.

“Bagus kok. Ketua sebaiknya dari yang mengajukan diri.”

“Eh… kalau begitu, harus ada yang ngawasin dia. Takeru pasti bakal kebablasan.”

“Benar juga. Baik, kita bagi tugasnya ya. Ada yang mau daftar?”

Remi terus menulis di papan, mencatat nama per nama.

Pembahasan pun mengalir dari berbagai arah.

Anak laki-laki banyak ambil bagian dekorasi dan pekerjaan berat, sedangkan anak perempuan mengurus kostum dan perlengkapan kecil.

Hanazono—anehnya—memilih untuk satu tim dengan Takeru dan dimasukkan ke tim poster.

Di tengah gelak tawa dan candaan, aku melihat seisi kelas.

Semua tersenyum.

Meski ada banyak perbedaan pendapat, tidak ada satu pun yang marah. Seolah suasana ini memiliki semacam “sihir”.

Aku biasanya malu tampil, tapi memimpin seperti ini… tidak buruk juga.

***

Beberapa puluh menit berlalu.

Sinar matahari sore menerobos jendela kelas, bayangan di papan tulis bergeser sedikit demi sedikit.

Remi sedang menelusuri daftar yang tertulis satu per satu.

Semua anggota sudah mendapat tugas sementara—kecuali pembelian barang.

Yang tersisa di kelas hanya aku, Remi, dan Yuzuha. Yang lain sedang rapat dalam kelompok kecil.

Remi menatap Yuzuha.

“Belanja bisa dimulai hari ini, jadi kita putuskan sekarang. Tapi… yang tersisa cuma kamu.”

“Gak apa-apa kok. Jadi aku harus beli apa aja?”

“Terima kasih. Yang utama itu barang konsumsi—gelas kertas, sedotan, dan semacamnya.”

Lalu Remi menambahkan tanpa menoleh.

“Yoshiki, boleh ikut menemani?”

Begitu namaku disebut, Yuzuha langsung membelalakkan mata.

“Hah? Kok Yoshiki juga? Dia kan panitia!”

“Yui ada shift kerja. Kalau ada kejadian mendadak, mungkin dia tidak bisa beradaptasi. Yoshiki pasti akan dengan senang hati membantu. Seperti kuda pekerja.”

“Hey! Itu kejam!”

Yuzuha tertawa keras.

“Ahaha! Tapi ya… belanja sama Yoshiki kayanya seru juga sih. Lagian… ada hal yang pengin aku omongin.”

Bagian terakhir itu ia bisikkan—tapi cukup untuk membuatku gugup.

Ia mengatakan secara implisit bahwa dia ingin jawaban dariku.

Sebelum aku sempat menjawab, Yuzuha berbalik ke arah Remi.

“Eh Remi-Remi, kalau kami mampir sebentar boleh kan?”

Remi melihat jam dan mengangguk.

“Ya. Selama masih di lokasi nanti, terserah kalian.”

Ia mengangkat bahu, tidak berniat mengganggu lebih jauh.

Aku akhirnya mengambil keputusan.

“Baik. Kita berangkat sekarang?”

“Ya. Kalian hanya punya waktu sekitar dua jam.”

Yuzuha tersenyum.

Rambut pirang keemasannya bergoyang pelan.

“Baik, Yoshiki! Yuk berangkat!”

“Uh, iya. …Remi, kami pergi dulu.”

Remi hanya mengangguk kecil.

Membeli perlengkapan sebenarnya hanyalah tugas kecil.

Namun pergi berdua dengan Yuzuha… terasa seperti sesuatu yang jauh lebih penting.

***

Begitu kami keluar gerbang sekolah, aroma udara berubah.

Angin yang berhembus membawa campuran antara akhir musim panas dan awal musim gugur—berat namun jernih.

Di sampingku, Yuzuha berjalan sambil meregangkan tubuh.

Lengan seragamnya ia gulung hingga siku, dan di tangannya ada daftar belanja yang diberikan Remi.

Dia tampak sedikit senang—sepertinya kata-katanya tadi memang bukan basa-basi.

Melihat itu, aku jadi gelisah.

Ini pertama kalinya kami benar-benar berdua sejak hari aku menyatakan perasaan.

Waktu latihan klub selalu ada orang lain.

Saat jam istirahat atau saat pelajaran, selalu saja ada seseorang di sekitar, jadi hampir tidak pernah ada waktu bagi kami berdua untuk bicara berdua saja.

Bukannya aku menghindar, tapi akulah yang membiarkan waktu berlalu terlalu lama sejak pengakuan itu.

Sampai hari ini pun, Yuzuha tetap seperti biasa. Ceria, suaranya hidup, suka melontarkan candaan.

Namun, Yuzuha yang ada di depanku sekarang tidak mengatakan apa pun.

Ia membuka mulut lalu menutupnya lagi, memainkan ujung roknya dengan ujung jari, atau menyesuaikan langkahnya sedikit dengan langkahku.

Akhirnya ia bersuara ketika kami tiba di sebuah perempatan dekat stasiun.

“A—hei, Yoshiki. Jalan ke Gyomu Super lewat sini kan?”

“Iya. Di ujung pusat pertokoan itu.”

“Ah, iya ya~. Eh, hari ini agak panas ya? Masih berasa kayak musim panas.”

“Bener juga. Ya, sedikit-sedikit sih sudah kerasa musim gugur, lumayan menyelamatkan.”

“Eh—belum, masih musim panas banget lah.”

Mungkin karena obrolannya tidak penting, meski suasananya sedikit canggung, kami tidak merasa kaku.

Anehnya, aku juga merasa rileks.

Saat kami memasuki pusat pertokoan, asap dari restoran di sisi kanan mengepul ke udara, dan di sisi kiri sekelompok mahasiswa nongkrong di depan minimarket.

Di kejauhan suara bel sepeda terdengar, bercampur dengan tawa para pelajar.

“…Tahu nggak, aku suka suasana kota pas setelah jam sekolah begini.”

“Oh ya? Kayaknya aku paham maksudmu.”

“Masa? Soalnya pas sore, kota kelihatan beda, kan? Jalan yang biasa kita lalui rasanya jadi sedikit spesial. Rasanya kalau bisa, momen ini ingin aku tahan lama-lama.”

“…Iya, aku ngerti.”

Begitu keluar dari pusat pertokoan, kami langsung sampai di depan Gyomu Super.

Saat pintu otomatis terbuka, udara dingin dari dalam menyapu kulit.

Begitu masuk, Yuzuha langsung berkata, “Dingin banget!”

Rak-rak dipenuhi botol minuman ukuran besar, gelas kertas tanpa merek dalam jumlah ratusan, dan berbagai barang yang cocok dipakai untuk festival sekolah.

“Uwaa, jadi semangat. Kayaknya sudah lama banget nggak ke sini!”

Dengan mata berbinar, Yuzuha meraih keranjang dan bergerak cepat, langsung memasukkan gelas kertas.

Tertulis isinya dua ratus buah—apa tidak kebanyakan? Yuzuha menahan tumpukan gelas itu dengan satu tangan sambil berkeliling melihat rak demi rak, tak menunjukkan tanda-tanda canggung seperti tadi.

“Kalau cuma buat air, itu sudah cukup banget kan? Kayaknya juga nggak bakal sampai dua ratus orang yang datang.”

“Apa-apaan, justru harus bikin semua siswa datang dong!”

Yuzuha mengangkat lengannya penuh semangat.

Sifatnya yang all-out dalam hal acara memang khas Yuzuha. Karena itu, aku jadi bertanya-tanya kenapa dia menyerahkan posisi ketua panitia pada Remi.

Yuzuha memang bukan tipe pemimpin, jadi kalau itu hanya karena kemunculan Remi membuat semuanya lebih mudah, mungkin tidak ada masalah.

“Kayak… waktu-waktu begini aja udah kerasa vibe festival, nggak sih? Kayak… nuansa persiapannya.”

“Ya memang kita lagi nyiapin sih.”

“Ih—bukan itu maksudku!”

Yuzuha merengut, dan aku hanya bisa tertawa kecil.

Aku sendiri, ini pertama kalinya terlibat dalam persiapan acara.

Tidak seperti Yuzuha, biasanya aku hanya melihat dari jauh.

“Oh, ada taplak meja nih. Yoshiki lebih suka yang bermotif atau yang putih?”

“Putih kayaknya. Cuma ya, gampang kotor, jadi harus beli agak banyak.”

“I see~, kalau gitu buat sampel dulu beberapa ya.”

Yuzuha memasukkan beberapa taplak meja ke keranjang.

“Terus… sedotan, tisu basah gitu?”

“Tisu basah bisa pinjam dari ruang tata boga, sisanya kayak sedotan ya boleh. Remi juga bilang fokusnya barang-barang habis pakai.”

“Bener juga~.”

Dengan anggaran terbatas, kami tidak bisa asal membeli.

Setelah membayar dan membawa kantong plastik di kedua tangan, kami keluar dari toko.

Pusat pertokoan sore hari dipenuhi pelajar dan pembeli, dan suasana semacam itu justru terasa sangat khas waktu pulang sekolah.

Karena kota tetangga sudah jauh lebih modern, pemandangan seperti ini sudah jarang ditemui di sana.

“Balik ke sekolah lagi?”

“…Iya. Yuk.”

Saat aku menjawab, Yuzuha memperlambat langkahnya sedikit.

Di seberang jalan, pohon-pohon pinggir jalan memanjang bayangannya di bawah cahaya senja.

“Hey.”

“Hm?”

“Boleh… kita mampir sebentar?”

Yuzuha bertanya sambil menatapku. Cahaya oranye senja membuat pipinya sedikit berwarna, dan di matanya terlihat sedikit gugup.

Ia merapikan rambut yang tersapu angin, lalu berkata pelan, “Atau… kamu sibuk hari ini?”

“…Nggak. Boleh. Kamu tadi juga sudah bilang mau mampir kan.”

“Syukurlah. Kalau gitu ikut aku.”

Dengan langkah sedikit lambat, Yuzuha berjalan ke arah berlawanan dari sekolah.

Aku bisa merasakan punggung bajunya perlahan berubah warna, disinari matahari yang hampir tenggelam.

Kami tiba di sebuah taman kecil di belakang stasiun.

Dulu, aku sering mampir ke sini sepulang bimbingan belajar bersama Hanazono.

Di tengah taman ada ayunan dan perosotan yang agak berkarat, tapi tidak ada yang memakainya.

Ada tiga bangku berdiri sendiri di atas rerumputan yang agak liar.

Tak ada siapa pun di sini selain kami. Hanya angin dan cahaya senja memenuhi tempat itu.

“Tempat ini… kerasa familiar nggak?”

“Hah? Kita nggak pernah ke sini bareng, kan.”

“Ketahuan ya.”

“Bohong apa itu.”

“Ahaha.”

Yuzuha meletakkan barang belanja di bangku, lalu duduk.

Aku ikut duduk di sebelahnya, menatap langit tanpa berkata apa-apa.

Langit yang dicampur warna merah senja dan biru tua perlahan gelap, dan titik-titik hitam beterbangan.

Suara burung gagak dan hembusan angin terdengar jelas.

Waktu serasa berjalan lebih pelan.

“…Kamu sering ke sini, Yuzuha?” tanyaku. Yuzuha mencabut sehelai rumput dan menjawab,

“Iya, waktu SMP. Kalau bolos latihan, atau kalau lagi ada hal yang bikin sebel. Aku datang ke sini, cuma… lihat langit aja.”

“Sendirian? Bahaya nggak sih?”

“Nggak kok, aman banget. Lihat nih rambutku?”

“Buat orang berbahaya itu nggak ngaruh.”

“Eh—ya sih. Tapi makasih ya, sudah khawatir.”

Yuzuha tersenyum malu.

Ia menyisir rambut pirangnya dengan jari, lalu membuka mulut.

“Kita… berubah ya.”

“…Gitu ya.”

Jawabanku terdengar seperti seseorang yang berharap semuanya tetap sama seperti dulu.

Dan Yuzuha ingat hal itu. Ia tahu, tapi tetap mengatakannya.

Tenggorokanku kering karena gugup.

Yuzuha tersenyum tipis dan melanjutkan.

“Aku berubah. Sedikit demi sedikit, tapi pasti.”

Masih duduk berdampingan, Yuzuha perlahan mendekat.

Aroma shamponya terbawa angin sore.

“Soalnya sekarang… aku pengin nyentuh kamu, Yoshiki.”

Bisikan itu menggelitik telingaku, dan pundakku terasa hangat ketika ia menyandarkan kepalanya.

Rambut Yuzuha mengenai pipiku, terasa lembut, membuat jantungku berdegup kencang.

Aku melirik sekilas; Yuzuha tampak tersipu, bibirnya menggigit sedikit seolah menahan malu.

Detak jantungku sendiri terdengar jelas.

“…Gini aja, lima menit. Oke?”

Ia menggenggam tanganku.

“Lima menit itu lama, tahu. Aku bisa mati karena gugup.”

“Kalau gitu nggak usah dipaksa!”

“Bukan gitu maksudku. …Maaf, jawabanku barusan kurang peka.”

“Hah? Aku nggak apa-apa kok. Kita sama-sama nggak peka. Aku nggak keberatan.”

Matahari makin rendah, dan taman berubah warna menjadi jingga lembut.

Yuzuha memandang jauh ke depan, matanya menyempit sedikit, lalu menarik napas pelan.


“Festival budaya memang kelihatannya seru, tapi rasanya juga akan berakhir dalam sekejap.”

“...Ya, benar juga.”

Yuzuha perlahan menundukkan pandangannya ke arah kakinya.

Bayangan tubuhnya yang memanjang oleh cahaya senja tampak bergetar sedikit.

“Tapi, entah kenapa… untuk festival budaya tahun ini saja, aku berharap waktu berjalan lebih pelan.”

Saat aku menoleh ke samping, bibir Yuzuha tampak membentuk sebuah senyum lembut.

Namun dalam senyum itu, ada sedikit bayangan kesedihan yang samar.

“Aneh ya. Rasanya sekarang ini adalah saat yang paling menyenangkan.”

“Bukan begitu, kan?”

“Nggak. Bukan itu maksudku.”

Sambil mengatakan itu, Yuzuha tiba-tiba berdiri dan membalikkan badan, seperti berusaha menghindar dari tatapanku.

Angin senja mengibaskan rambut pirangnya yang berkilau lembut, dan ia menggeleng kecil seolah berusaha menepis sesuatu.

“Ayo pulang! Sudah mau gelap.”

Dari punggung Yuzuha yang berjalan di depan, aku merasa ada perasaan yang ia sembunyikan—pelan namun jelas—merembes keluar.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close