Penerjemah: Arif77
Proffreader: Arif77
Chapter 1
Patah Hati - Shoushin
Di sebagian siswa kelas 1-2, suasana canggung yang berbeda dari biasanya terasa mengambang.
Penyebabnya, sembilan dari sepuluh kemungkinan, masih berkaitan dengan kasus Yuzuha.
Kasus ketika ia difoto diam-diam saat berjalan berdua dengan seorang pria asing di kawasan hotel cinta.
Baru minggu lalu, sebuah akun anonim di Instagram mulai mengikuti para siswa Kitakō, lalu mengunggah foto-foto curian Yuzuha tanpa henti.
Karena nama Yuzuha Yui sudah cukup dikenal, hampir seluruh siswa kelas satu langsung mengetahui kejadian itu. Ditambah setiap foto menampilkan pria berbeda di sampingnya, tak sedikit yang percaya bahwa Yuzuha melakukan papa-katsu.
Namun dalam pertemuan kelas beberapa hari lalu, kesalahpahaman itu berhasil diluruskan.
Berkat itu, suasana kelas seharusnya sudah kembali normal. Tetapi kini para lelaki terlihat canggung. Sikap Yuzuha yang sama sekali tidak ingin menyalahkan siapa pun mungkin membuat mereka baru merasakan rasa bersalah.
Garaa, pintu terbuka.
“Pagi~!”
Dengan suara ceria tanpa batas, masuklah si gal—Yuzuha Yui, gadis yang terlibat dalam insiden tersebut.
Para siswa laki-laki memasang senyum kaku ketika mendengar sapaan Yuzuha.
Terutama kelompok Miyagi, dari wajah mereka tampak sangat tidak nyaman. Di kelompok itu ada Minegishi, orang yang terang-terangan menghina Yuzuha. Mungkin karena itu, Miyagi berusaha menghalangi pandangan Minegishi agar tidak tertuju ke Yuzuha.
Sambil mengobrol ringan dengan para gadis, Yuzuha mendekat ke arahku dan menyapa.
“Pagi, Yoshiki!”
“Ou. Pagi.”
Setelah kubalas singkat, Yuzuha tersenyum puas dan kembali ke tempat duduknya.
“Remi~! Pagi! Kamu baik-baik aja?”
Ia menghampiri Remi yang sudah datang lebih awal, lalu mengobrol dengan penuh semangat.
Remi menjawab, “Bukannya kita nggak lama banget nggak ketemu?” dengan nada sedikit kesal, tapi tubuhnya sendiri menghadap ke Yuzuha.
Sudah dua bulan sejak Nikaidō Remi—teman masa kecilku—pindah ke sekolah ini.
Ia memang cepat berbaur dengan kelas, tapi itu hanya penampilan luarnya. Karena ia bersikap anggun dan sopan seperti memakai topeng. Namun, pemandangan di depanku terasa janggal.
Tatapan Remi pada Yuzuha terasa… sangat mendekati dirinya yang asli.
Sejak kapan mereka jadi sedekat itu?
Ketika suasana kelas mulai mencair dan kembali hangat, pintu terbuka lagi.
Beberapa orang menoleh, begitu juga aku.
Yang masuk adalah… Hanazono.
…Hanazono.
Ketika mata kami bertemu, ia tersenyum lembut padaku.
Senyum anggun, lembut, dan persis seperti sosok Hanazono yang dulu kukagumi.
…Benar-benar seperti biasa, ya.
Ekspresi yang tak berubah itu entah kenapa membuat dadaku terasa hampa. Aku buru-buru mengalihkan pandangan.
Ketika kulirik kembali beberapa detik kemudian, Hanazono sudah tidak ada.
***
Setelah homeroom pagi selesai dan aku melangkah ke lorong, terdengar langkah kaki berlari kecil dari belakang.
“Hey, Yoshiki, Yoshiki~”
Si gal memanggilku dengan penuh semangat.
Untuk menghindari tempat yang terlalu terbuka, aku mengubah arah dan menuruni tangga. Tapi dari atas, panggilan itu muncul lagi.
“Yoshikiii~?”
“Tunggu sebentar.”
“Yoshiki Yoshiki! Hey, Yoshiki!”
“Kan udah kubilang tunggu! Ada apa sih?”
Sesampainya di bordes tangga, aku berbalik dan mendapati Yuzuha Yui menatapku dengan senyum nakal.
“Hehe, pagi, Yoshiki~”
“…Pagi. Ini udah berapa kali sih?”
“Biarin, aku mau bilang pagi berkali-kali juga nggak apa-apa~”
Yuzuha lalu melompat turun ke bordes.
Dari pendaratan ringannya saja sudah terlihat betapa bagusnya kemampuan fisiknya.
“Yoshiki, kamu ngapain ke sini? Ada urusan ke ruang guru?”
“Bukan, bukan begitu.”
“Kalau gitu aku ikut!”
Belum selesai aku menjelaskan, Yuzuha sudah menatapku dengan mata berbinar.
Aku merasa geli sekaligus jengkel, lalu membuka mulut.
“Bukan gitu maksudku. Kalau kamu nempel di tempat yang banyak orang lewat, jadi kelihatan banget. Para cowok juga lagi canggung, jadi kalau cuma aku yang ngobrol normal sama kamu, nanti aneh.”
“Masa sih? Ngobrol sama orang yang udah nolong aku itu bener-bener normal, lho.”
“Normal sih… tapi aku nggak mau jadi pusat perhatian.”
“Ooh, gitu ya. Hahaha, oke deh, masuk akal!”
Yuzuha menyandarkan tubuhnya pada pegangan tangga, pipinya mengendur santai.
“Jadi artinya Yoshiki pengen berdua sama aku~”
“…Cara ngomong kamu itu menimbulkan salah paham.”
“Tapi itu fakta!”
“Ya, memang faktanya begitu sih…”
“Eeh? Tapi kamu kan udah nolak aku kemarin. Bukannya harusnya kamu nggak bakal mikirin aku?”
Dengan senyum nakal seperti iblis kecil, Yuzuha mencolek dadaku pelan.
Aku menurunkan tumit yang tadi keluar dari sepatu, lalu memakainya lagi dengan benar.
“Itu… sudah kubilang kan. Aku belum beres beresin perasaanku setelah putus.”
Ingatan kemarin terlintas kembali.
Meski tidak ada jendela di bordes itu, cahaya matahari tetap menerobos masuk.
***
"Yoshiki, aku menyukaimu. Tolong jadilah pacarku."
Aku terdiam di tempat selama hampir sepuluh detik setelah mendengar pengakuan Yuzuha.
Aku mengerti apa yang baru saja terjadi.
Tapi tidak pernah terbayangkan bahwa aku akan berada di posisi yang menerima pengakuan cinta.
Dua bulan lalu saja aku masih sibuk memahami apa itu “hubungan yang hampir jadian”, dan sekarang? Siapa sangka aku bakal menerima pengakuan dari cewek paling menonjol di angkatan.
Dalam hidupku, bukan berarti aku tidak pernah membayangkan skenario seperti ini.
Tapi ternyata, kalau benar-benar terjadi di dunia nyata, rasanya seperti ini, ya…
Aku harus menyampaikan jawabanku dengan benar. Sedikit saja salah bicara, bisa menimbulkan salah paham, dan dalam situasi seperti ini hubungan kami bisa berubah drastis.
Lagipula, setelah seminggu penuh badai seperti kemarin, pikiranku sama sekali belum siap untuk memulai hubungan baru. Tapi tetap saja, aku harus memberikan jawabanku sekarang juga.
Saat aku masih menyusun kata-kata dengan hati-hati, Yuzuha mulai gelisah dan bersuara.
“...Di-diemin gini tuh bahaya banget gak sih?”
“Eh, a—iya, maaf.”
“Jadi kamu nolak aku barusan!?”
“Bukan! Aku cuma lagi bingung!”
“Kalau begitu bagus! Mulai sekarang kita resmi ya!”
“Tunggu dulu! Aku belum jawab apa pun!”
Dengan nada panik, aku menatap Yuzuha lagi.
Ia mengedipkan mata seperti terkejut, lalu merapatkan bibir menunggu jawabanku.
“...Aku tanya dulu. Kamu serius?”
“Mm. Serius.”
Dari suaranya yang hampir berbisik, aku tahu ia tidak main-main.
“...Serius banget ya.”
Saat aku berbisik begitu, Yuzuha tersenyum kecil.
“Emang kerasa mendadak, ya?”
“Mendadak banget. Terlalu mendadak malah.”
“Ahaha, maaf.”
“Sungguh deh…”
Begitu pembicaraan berjalan, rasa tegangku perlahan mereda.
Mungkin karena aku sudah naik mimbar saat rapat angkatan, dan mental ditempa terus oleh Hanazono.
“Yoshiki, terus jawabannya?”
“...Belum sepenuhnya tersusun, tapi aku sudah punya jawaban.”
“Kalau gitu, boleh aku nambahin satu hal? Aku, bakal nurut apa aja kalau itu kamu yang bilang.”
“Itu nggak ada hubungannya. Dan jangan pernah milih cowok cuma karena dia bisa ngatur kamu gitu.”
“Eh tapi kalau Yoshiki, aku mau kok.”
Aku berusaha tidak memikirkan kalimat itu terlalu dalam, dan akhirnya membuka mulut.
“...Soalnya aku—”
“Yaaay!!”
“Aku belum jawab apa-apa!!”
Dia menganggap kalimat pembukaanku tadi sudah jawaban positif??
Dengan tangan terangkat ke atas, ia bersorak penuh kemenangan. Aku buru-buru melanjutkan.
“Yuzuha, aku senang kamu bilang begitu.”
Wajah Yuzuha langsung berubah seperti baru menelan sesuatu yang pahit.
“Aduh, muncul lagi tuh kalimat khas penolakan halus. Berarti aku memang nggak cocok jadi pacarmu ya?”
“Bukan gitu.”
“Jadi cocok!? Itu versi bagusnya!?”
Kenapa dari tadi dia suka banget nyebut ‘versi bagus’ dan ‘versi jelek’ segala? Pengaruh main game arcade ya?
Aku mencoba menenangkan diri dan berkata jujur.
“Sejujurnya… sekarang aku belum bisa mikirin hubungan sama kamu. Jadi aku minta waktu. Kamu tahu sendiri, baru seminggu sejak aku putus sama Hanazono.”
Memang bukan jawaban langsung. Aku sadar.
Tapi daripada memberi jawaban asal-asalan, aku ingin menyampaikan perasaanku dengan tepat.
“Dan waktu aku bilang aku senang, itu bukan basa-basi. Aku benar-benar senang. Seperti mimpi rasanya.”
“Eh? Aku kira mimpimu itu punya pacar?”
“Bukan. Yang istimewa itu… bisa dapat pengakuan cinta. Apalagi dari kamu.”
Mata Yuzuha melebar, lalu ia melangkah mendekat.
“...Hmmm. Jadi boleh aku anggap ini ‘masih ada harapan’, ya?”
“Terserah kamu mau nganggepnya gimana. Tapi aku belum mikirin apa pun sejauh itu. Itu intinya.”
Beberapa bulan lalu, aku pasti langsung mengiyakan. Mungkin aku akan berpikir, “setuju dulu aja, nanti dipikir belakangan.”
Tapi setelah putus dari Hanazono, aku nggak bisa mengambil keputusan semudah itu.
Aku sudah pernah melewati gerbang “relationship yang beneran”. Sudah melihat sisi manis dan pahitnya. Dan rasanya… itu masih terlalu cepat buatku.
“Kalau gitu, aku pakai interpretasiku sendiri ya?”
“Untuk jaga-jaga, aku ulang lagi… aku belum memberi jawaban apa pun.”
“Cukup kok. Yang penting kamu nggak nolak seketika. Artinya masih ada peluang!”
Peluang. Dia bilang begitu karena dia menyerahkan penentuan hubungan ini padaku.
Si Yuzuha yang itu… memintaku memutuskan masa depannya denganku?
“Nah, tapi aku rasa kamu salah paham soal satu hal, Yuzuha.”
“Eh?”
“Kamu suka aku itu cuma gara-gara aku nolong kamu. Karena aku nyelametin kamu waktu kamu lagi disudutkan. Itu reaksi sementara aja.”
Aku sendiri sempat ngerasa hal yang sama dulu—begitu diselamatkan dari keterpurukan, hatiku kebawa suasana.
Tapi ketika keadaan stabil, aku sadar hubungan pertemanan saja sudah cukup berharga.
Yuzuha punya banyak teman. Banyak cowok keren, populer, berbakat.
Sedangkan aku? Cuma mantan atlet cadangan yang bahkan kehilangan tempatnya.
“Aku nolong kamu kemarin cuma untuk balas budi. Kamu sudah nolong aku waktu SMP. Jadi buatku, ngomong di depan angkatan pun bukan hal besar. Aku senang kamu menghargainya, tapi aku nggak mikir itu harus jadi awal hubungan romantis.”
“Boleh aku cium kamu?”
“Hah!? Di tengah pembicaraan kayak gini??”
Saat aku membelalakkan mata, Yuzuha tersenyum jahil.
“Iya, aku pingin banget cium Yoshiki. Peluk juga mau. Mau nyium bau kamu. Bukannya itu cukup bukti kalau perasaanku bukan salah paham?”
Ia melangkah hingga dada kami hampir bersentuhan. Lalu ia menggesekkan pipinya ke dadaku dan mengendus pelan.
“...Ya ampun, baunya masih enak aja.”
“MALU BANGET!”
“Namanya juga naluri cewek!”
Sambil tersenyum cerah, ia meneruskan.
“Aku memang nggak ngerti perasaan kamu, tapi perasaanku sendiri aku tahu. Jelas-jelas paham. Dan aku lebih ngerti diriku sendiri daripada kamu ngerti dirimu.”
…Diri sendiri paling paham diri sendiri, ya.
“Walaupun aku bilang itu mungkin cuma salah paham, kamu yakin itu bukan?”
“Iya yakin. Namanya juga orang jatuh cinta, suka buta gitu kan?”
“Makanya kubilang itu justru tanda salah paham.”
“Eeeh~”
Ia manyun protes.
“Yoshiki kan nggak benci aku, kan? Bahkan lumayan tertarik sama aku, kan? Aku tau kok. Kelihatan banget, kamu ngeliatin dadaku beberapa kali.”
“Tolong jangan bilang itu dengan wajah polos begini! Dan kamu nggak risih!?”
“Enggak lah! Aku tahu bedanya tatapan mesum sama tatapan kamu. Lagian kita udah kenal lama banget. Makanya aku nggak risih.”
“Ah… begitu ya.”
Meskipun ia berkata begitu, rasa bersalah itu tetap menusukku.
Aku teman yang berdiri di sampingnya sebagai sesama korban gosip. Tapi mataku kadang… ya, seperti itu. Kalau bukan Yuzuha, mungkin aku sudah ditampar.
“Soalnya ya, tatapan ‘mau makan orang’ itu aku benci banget. Tapi tatapan Yoshiki tuh… beda. Kayak sayang gitu.”
Tatapan sayang.
Cewek yang dijuluki “Matahari Nakal”—yang difitnah seolah gampang diajak tidur, bahkan dicurigai melakukan papa-katsu—mengatakan hal seperti itu… padaku.
“Aku… rasa sayang itu mungkin memang ada. Tapi itu… lebih ke rasa sayang sebagai teman, aku rasa.”
“Eh!?”
Yuzuha memekik kecil.
Aku pun terkejut dengan reaksinya.
“Apa sih?”
“Enggak… kayaknya kamu udah naik level aja gitu. Biasanya kamu nggak ngomong sejujur itu.”
“Ya wajar. Soalnya… banyak yang terjadi.”
Hubunganku dengan Hanazono terasa seperti pacaran dengan dua orang yang berbeda sepanjang waktunya.
Suka atau tidak, aku pasti belajar banyak dari itu.
“Ya. Makanya kalian putus kan?”
“Bilang-bilang begitu ke orang baru putus itu jahat banget tahu!? Perasaan masih anget!! Kasihanilah aku!”
Itulah yang bisa kubalas. Karena lukanya memang belum sembuh.
Yuzuha tertawa kecil, lalu berbalik pergi.
Namun ketika ia hendak pergi, ia melihat ke arahku sekali lagi.
“Soal barusan, perasaanku ke kamu itu bukan salah paham. Jadi kamu nggak perlu takut soal itu.”
Ia meninggalkanku dengan kata-kata itu.
Salah paham, ya.
Ucapan yang kuberikan barusan memang bisa terdengar menyakitkan.
Aku sadar… tapi tetap kuucapkan.
Jawaban Hanazono saat aku mengungkapkan perasaanku waktu itu…
***
— “Sama seperti kamu nggak ngasih lihat semua sisi dirimu ke aku, aku juga punya sisi yang nggak aku tunjukin. Jadi, gambaran kamu tentang aku itu cuma salah paham.”
***
Baru setelah itu aku sadar.
Percakapanku barusan dengan Yuzuha… mirip sekali dengan ucapan Hanazono dulu.
Kalau begitu… Hanazono juga pakai “benteng pertahanan”, ya?
Benteng dari rasa takut disakiti.
Kalau benar begitu… berarti dia sepertiku.
Dan di saat-saat seperti ini pun, aku masih memikirkan Hanazono.
Padahal aku sudah tak bisa menanyakannya lagi.
“...Kayaknya butuh waktu lama buat move on.”
Syukurlah aku tidak memberi jawaban langsung pada Yuzuha.
Dengan kondisi seperti ini, aku bisa saja membuat situasinya semakin kacau.



Post a Comment