Penerjemah: Arif77
Proffreader: Arif77
Chapter 2
Kekhawatiran pada Teman Masa Kecil - Osananajimi e no Kizukai
Ketika jam menunjuk pukul delapan belas hari itu, aku sedang bersantai di ruang tamu bersama adikku, Seira.
Karena sofa sudah dikuasai olehnya, aku terpaksa berbaring di atas karpet—tapi ternyata cukup nyaman juga.
Orang tua kami pulang terlambat karena lembur dan diperkirakan baru kembali beberapa jam lagi, jadi ini kesempatan langka untuk santai di ruang tamu.
Saat aku selesai membaca satu buku komik, bel interkom rumah berbunyi.
Dengan wajah malas, Seira bangkit sedikit dari sofa dan melirikku sekilas.
“...Onii, kamu yang lebih dekat ke pintu. Bukalah.”
“Nggak mau. Kamu kan sudah duduk, ya sudah kamu saja yang pergi.”
“Onii yang bukalah!”
Beberapa detik kemudian, kami berdua kembali menatap ponsel masing-masing.
Bel interkom berbunyi lagi.
Pertandingan chicken race antara siapa yang akan bangkit menuju pintu pun resmi dimulai.
“Buruan pergi!”
“Aku habis ini mau ke bimbel, tau! Biarkan aku menikmati lima menit terakhir dengan damai!”
“Aku juga habis ini mau tidur.”
“Nah, bagus dong!? Biar aku istirahat dulu!”
“Enggak bisa, aku ini kakakmu!”
“Dalam hubungan saudara itu nggak berlaku tau!”
Saat aku mau membalas, suara lain terdengar dari atas.
“Kalian ngapain sih?”
“Eh?”
Kami mendongak, dan di sana berdiri Remi.
Seira langsung berdiri sambil berseru, “Remi-nee!”
“...Jangan masuk seenaknya!?” protesku.
“Bukan seenaknya. Ibumu sudah meminta aku datang,” jawab Remi santai sambil menggoyang-goyangkan gantungan kunci.
Jadi di dalamnya ada kunci cadangan rumah kami? Gimana sih keamanan rumah ini…
Seira melompat-lompat kecil di sekitar Remi dengan santai sambil mengangkat kedua tangannya.
“Remi-nee, ayo main game! Hari ini TV ruang tamu bebas dipakai!”
“Hey, Seira. Kamu kan habis ini ada bimbel.”
“Hah? Ya diskip lah.”
“Jangan bolos! Kemarin saja kamu dimarahi Ibu karena nilai ulanganmu!”
“Berisik! Aku kan biasanya sudah belajar keras! Sekali-kali terserah aku!”
Seira menjulurkan lidah, namun Remi langsung menegurnya.
“Seira-chan, Mama kamu nitip pesan supaya kamu jangan bolos. Pulang bimbel nanti kita main game, ya?”
“Eeh… beneran mau main game sama aku?”
“Beneran.”
Saat Remi mengangguk lembut, Seira langsung menerima dengan, “Okaaay,” seolah tak ada bantahan.
Perbedaan sikap ini… harga diriku sebagai kakak rasanya hancur berkeping-keping.
Saat Seira naik ke lantai dua untuk mengambil perlengkapan bimbelnya, aku bertanya pada Remi.
“Kamu serius mau numpang lama di sini?”
“Ya nggak lah.”
“Dingin amat… nggak ada belas kasihan.”
Remi memang lumayan tegas pada Seira.
Waktu itu saja, saat pernah datang ke rumah, Remi menjewer leher Seira dan menariknya begitu saja.
…Kenapa Seira begitu nempel ke dia, ya?
Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalaku.
***
Sepertinya, ibuku meminta Remi untuk menyiapkan makan malam.
Remi mengeluarkan bahan-bahan dari rak sayur ke meja dapur, lalu mengikat celemek miliknya di pinggang.
Aku yang entah kenapa mengikuti sampai ke dapur, bertanya pada teman masa kecilku yang kini sudah bersiap memasak.
“Kamu nggak apa-apa diperlakukan kayak pembantu gini?”
“Nggak apa-apa. Aku dikasih uang jajan kok.”
“Eh, berapa?”
“Mana boleh aku bilang.”
“Kenapa!?”
Jangan-jangan lebih banyak dari uang sakuku sebulan. Kalau mengingat betapa lunaknya Ibu pada Remi, sangat mungkin.
Remi sedikit menunduk, mengambil panci dan wajan.
Ketika ia mengambil pisau, baru ia melirikku.
“Sana minggir. Bahaya.”
“Timing kamu ngomong itu bahaya banget.”
“Nanti nggak sengaja kesabet, loh.”
“Itu ancaman?”
Aku buru-buru keluar dari dapur dan berdiri di balik counter yang menghadap ke ruang tamu.
Setelah Remi mulai merebus brokoli, suasana kembali hening. Saat ia hendak memotong wortel, akhirnya ia menatapku dengan kesal.
“Naik ke kamarmu sana. Aku jadi nggak fokus kalau dilihatin.”
“Jangan gitu dong. Aku ini mau lapor sesuatu.”
Remi berkedip, lalu mengalihkan pandangan ke talenan.
“Hmm. Apa?”
“Aku putus sama Hanazono.”
Terdengar suara mendidih dari panci. Selain itu, tidak ada suara.
Keheningan memenuhi ruang tamu seluas dua puluh tatami itu, sampai akhirnya dipecahkan oleh suara pisau menghantam talenan.
Tok tok tok—ritme teratur itu terus terdengar saat Remi berkata,
“Begitu. Lumayan cepat, ya.”
“Iya. Tapi ya… pengalaman bagus sih.”
“Kelihatannya kamu baik-baik saja. Aku agak kaget.”
Begitu katanya.
Apa aku memang kelihatan baik-baik saja? Memang aku tidak menangis dan hidupku berjalan normal seperti biasa.
Mungkin aku juga sedikit lebih jarang menatap Hanazono.
Kalau Remi bilang aku terlihat baik-baik saja… mungkin memang begitu.
“Percuma aku khawatir.”
“Khawatir… jadi kamu tahu aku putus?”
Remi mengangguk.
“Iya. Aku dengar langsung dari orangnya.”
Orangnya—selain aku, hanya ada satu.
“Hanazono yang bilang? Kukira kalian nggak akur. Tak disangka.”
“Itu hal biasa. Makanya alasannya pun aku nggak tanya.”
“Hm. Kamu penasaran sama alasannya?”
“…”
Remi terus memotong wortel sambil memindahkan potongannya ke mangkuk.
Sesaat ia menatapku, lalu segera memalingkan wajah.
“Aha! Kamu ke sini buat nanya itu, ya!”
Gerakan Remi berhenti seketika. Ia kembali melirikku.
“Ha? B-bukan! Aku ke sini karena khawatir!”
“Yakin?”
Nada bicaraku sengaja kubuat meragukan.
Remi menyipitkan mata, lalu mengangkat jari telunjuk.
“Pertama: uang jajan. Kedua: khawatir. Ketiga: penasaran!”
“Tuh kan ada juga rasa penasarannya!”
“Ya iyalah! Teman masa kecilku diputusin. Cuma sebulan pula. Aneh kalau nggak penasaran!”
“Baru pertama kali aku berharap kamu bersikap kalem sedikit.”
“Sama-sama.”
Remi terkekeh santai.
Jadi… rasa khawatirnya tadi berarti apa dong.
“Ya sudahlah. Sikapmu begini justru enak buat diajak ngobrol.”
Daripada suasana muram, lebih enak begini.
Terutama karena hubungan Remi dan Hanazono pun agak rumit.
Remi pernah, di kantin sekolah dulu, hampir menyerang cowok yang menjelek-jelekkan aku.
Alasan kami putus, jika diceritakan secara blak-blakan, menurutku tidak aneh kalau sampai menyerbu Hanazono.
Namun, melihat sikapnya sekarang, sepertinya kekhawatiran itu tidak perlu.
Aku pun memutuskan untuk bercerita pada Remi.
Dengan menutupi sisi gelap Hanazono, aku menceritakan bagaimana proses kami akhirnya berpisah.
Sisi lain Hanazono itu, pastilah bagian terdalam dari privasinya.
Karena aku menutupinya, ada beberapa bagian cerita yang jadi tidak nyambung, tetapi entah kenapa Remi tampak bisa memahaminya.
“Ya, kira-kira begitu. Kami benar-benar putus dengan baik-baik.”
“Heh… begitu.”
Remi menjawab tanpa terlihat tertarik.
“Hei, aku ini cerita karena kamu kelihatannya ingin tahu, tahu?”
“Sudah cukup. Sisanya aku akan tanya langsung ke orangnya.”
“Orangnya?”
Siapa yang dia maksud dengan “orangnya”? Aku juga tadi sempat berpikir begitu.
Ya, meski orang yang paling terkait—aku—ada di depannya, satu-satunya ‘orangnya’ selain aku hanyalah Hanazono.
Jangan-jangan dia benar-benar mau menyerbu Hanazono.
Tapi tadi aku bercerita karena kupikir dia tidak akan melakukan itu.
Aku juga lega karena Remi terlihat tertawa seperti biasa.
Saat berpikir sejauh itu, akhirnya aku menyadarinya.
“Kamu cuma berpura-pura tidak peduli!?”
“Benar. Kalau aku kelihatan serius, Ryota pasti akan menyembunyikan alasan sebenarnya, kan?”
“Dan kamu tetap pura-pura tidak peduli demi itu!? Itu jahat! Aku juga tidak cerita semuanya ke kamu, jadi kalau cuma dengar dari satu pihak kan tetap ada bagian yang nggak akan kamu pahami!”
“Aku tahu semuanya, kok. Kamu menyentuh sisi tersembunyi Hanazono, kan?”
Dari balik dapur, suara tenangnya terdengar.
Sambil tetap memasak dengan santai, Remi bergumam pelan.
“Lebih tepatnya sisi ‘asli’-nya.”
“A–apa maksudnya…?”
“Hanazono yang bicara denganmu hari itu, itu sebenarnya dirinya yang sebenarnya.”
…Kalau Remi sampai tahu Hanazono yang itu, berarti hubungan mereka memang cukup dalam.
Dulu waktu aku sakit dan mereka bertemu di depan rumah, sikap Hanazono saat itu memang cukup dingin.
—Atau apa, kamu mau membuat masalah lagi?—
Apa maksud dari kata-katanya waktu itu? Ya, tapi sekarang bukan itu fokusnya.
“Hei, bisakah kamu tidak menyerbu demi aku? Aku sudah menerima semuanya, dan bukan seperti aku diselingkuhi atau apa.”
Walau bagaimana pun bentuknya, itu kesimpulan yang kami capai setelah bicara baik-baik.
Putus adalah jejak terakhir yang kami tinggalkan berdua, dan rasanya salah kalau orang lain ikut campur.
“Bukan demi Ryota, kok.”
“Eh, bukan? Lalu demi siapa?”
“Demi Hanazono.”
“…Begitu ya. Berarti kalian memang bukan musuhan.”
“Kami musuhan.”
“Tapi barusan kamu bilang biasa-biasa saja, kan!?”
Aku hampir tersandung mendengar perubahan arah mendadak itu.
Di kepalaku, orang yang tidak akur tidak mungkin peduli sejauh itu. Aku benar-benar tidak mengerti.
Namun kalau katanya itu demi Hanazono, aku tidak bisa menolak.
“Ya sudah, aku nggak akan bilang apa-apa lagi. Kalau itu untuk kebaikan Hanazono, silakan.”
“…Begitu. Ryota, kamu masih suka Hanazono, ya.”
“Aku nggak tahu. Makanya kami putus.”
“Begitu. Ya sudah, anggap begitu saja.”
…Dia jelas tidak percaya. Ya wajar, dia tidak ada di tempat kejadian waktu itu.
“Lagipula ada alasan kenapa perasaanku goyah.”
“Oh?”
Sambil menatap Remi yang mulai membereskan dapur, aku melanjutkan.
“Sebenarnya… Yuzuha menembakku.”
BRAK!
Pisau dan talenan jatuh ke wastafel dengan suara keras.
Kali ini Remi benar-benar terkejut, matanya membesar.
“Hah? Yuzuha? Kenapa!?”
“Entahlah. Mungkin gara-gara kejadian rapat angkatan kemarin. Mungkin efek ‘sihir’ karena dia merasa diselamatkan. Dia bilang bukan begitu sih.”
Aku menutupinya dengan candaan. Maaf ya, Yuzuha.
Remi memalingkan pandangan, mengambil pisau dan talenan, lalu mencucinya.
Suaranya kemudian terdengar lirih, hampir kalah oleh suara air.
“...Aku tidak tahu soal itu.”
“Ya, kamu kan pakai persona palsu di depan Yuzuha. Mungkin dia tahu kamu bersandiwara.”
“Dia tahu.”
“Kok tahu!? Kapan!?”
Sambil mengusap sisi pisau, Remi menjawab.
“Aku belum bilang ke kamu, tapi Yuzuha memintaku untuk menunjukkan sifat asliku. Aku menunjukkannya pada Yuzuha, Sudo, dan Takano.”
“Serius? Aku nggak tahu itu. Dan jarang-jarang kamu mau melakukan permintaan semacam itu.”
Yuzuha pasti memaksa dengan gigih. Remi yang awalnya menghindar akhirnya menyerah—kayaknya begitu.
Dan pada Sudo dan Takano juga.
Kalau dia sampai menunjukkan sifat aslinya pada geng Yuzuha, berarti secara tidak langsung dia sudah benar-benar masuk ke lingkaran mereka.
Mungkin karena itu kabar ini jadi mengejutkan baginya.
“Untuk hal sebesar pengakuan cinta, aku kira… dia akan cerita ke aku. Apa karena kami belum lama berteman?”
“Itu tergantung orangnya. Mungkin Yuzuha cuma nggak kepikiran.”
“Entahlah. Dia terlihat seperti orang yang memikirkan hal-hal begitu.”
“Mungkin dia menahan diri karena aku teman masa kecilmu.”
“Ah, itu lebih masuk akal.”
Remi bergumam kesal.
Broccoli sudah matang, dan Remi mengangkat panci.
Dengan cekatan dia meniriskan broccoli, dan suara air panas menabrak wastafel terdengar keras.
“…Tapi kenapa aku yang harus dipertimbangkan? Aku tidak mengerti.”
“…Iya juga.”
“Tidak enak kalau harus nanya langsung ke orangnya… Aku bingung.”
“Nanti Yuzuha sendiri yang bilang kok.”
“Terima kasih atas penghiburannya,” jawab Remi datar sambil kembali fokus memasak.
Mungkin dia cemas apakah dia benar-benar dianggap teman oleh Yuzuha.
Sambil memandang punggungnya, aku terus berpikir.
Pikiran yang sempat terlintas, akhirnya tidak kuucapkan.
Karena kupikir kemungkinannya terlalu kecil.
Bahwa Remi mungkin… masih menyimpan sedikit perasaan tentang masa ketika hubungan kami berjalan dengan baik.




Post a Comment