NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Anokoro ii Kanjidatta Joshi-tachi to Onaji Kurasu ni Narimashita Volume 3 Chapter 4

 Penerjemah: Arif77

Proffreader: Arif77


Chapter 4

Teman Masa Kecil dan Teman Wanita - Osananajimi to Onnatomodachi

Angin dari arah kolam renang bertiup melewati jendela yang terbuka lebar, melintas dari ruang kelas menuju lorong.

Hari ini, di akhir bulan Juli, sehari sebelum upacara penutupan semester.

Angin yang lembap menyentuh pipiku, membuatku mengernyit di tempat dudukku.

Suhu tertinggi hari ini tiga puluh derajat. Kapan sekolah ini mau menyalakan AC, sih?

“Yoshikiiii!”

Suara yang terdengar dari belakang begitu cerah hingga aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.

Tetap saja, saat kuputar badan, rambut pirang muda milik Yuzuha berayun lembut.

Blus putih seragamnya tembus cahaya matahari, menonjolkan siluet tubuhnya dengan samar.

Pita merah muda di dadanya bergoyang ringan, sementara hoodie yang diikatkan di pinggang memberi kesan santai khas dirinya.

“Yuzuha. Gimana hasil tesmu?”

“Itu harusnya aku yang nanyain duluan!”

Yuzuha duduk dengan gerakan ringan seperti melayang, lalu menyilangkan kakinya yang jenjang di bawah rok.

Bahkan hanya dari posenya saja, ia memancarkan pesona natural.

Di balik keceriaan gaya gyaru-nya, ada nuansa manja yang membuat pandangan ini langsung tertarik padanya.

“Kalau aku sih… lumayanlah. Setidaknya nggak ada nilai merah. Katanya kamu juga aman untuk semua mata pelajaran kecuali Bahasa Jepang, kan?”

“Aku itu lebih pinter dari Yoshiki, tahu?”

“Muka polosmu itu ngeselin banget…”

Memang benar, dan itu yang bikin makin menyebalkan. Balas dendam di tes berikutnya saja. Untuk kali ini, aku sudah menyerah.

“Yuk, kita rayain! Berdua aja!”

“Hah, berdua?”

Aku membuat suara bodoh tanpa sadar, dan Yuzuha menatapku dengan mata setengah menyipit.

“Apa sih itu. Sesekali nggak apa-apa kan! Aku tuh nungguin kamu loh, Yoshiki!”

“H-hei, jangan bilang kayak gitu di kelas…!”

Saat coba menghalanginya dengan tangan, Yuzuha dengan lincah menghindar.

Dia… memang jago.

Walau suara kelas cukup bising setelah kegiatan bersih-bersih, tetap saja membuatku gelisah.

Namun Yuzuha melanjutkan tanpa ragu.

“Rayainnya juga cuma makan es krim bareng kok. Yah, kalau itu aja nggak bisa, waktu kita masih cuma teman biasa malah lebih enak deh rasanya~”

“Baik, baik! Jangan bilang begitu!”

“Yay!”

Tanpa menunggu jawabanku selesai, Yuzuha mengangkat kedua tangan.

Suaranya yang cerah membuat beberapa orang di bagian belakang kelas menoleh.

Tatapan mereka seakan berkata, “Tuh kan, mereka memang super dekat.”

Interaksi Yuzuha tak pernah padam. Bahkan akhir-akhir ini makin intens nempel ke aku.

Seiring itu, tatapan orang-orang juga perlahan kembali seperti saat awal semester.

Tapi… sekarang rasanya berbeda.

Dulu, teman sekelas hanya menjadikan kami topik pembicaraan demi membangun relasi.

Tapi setelah kumpul angkatan waktu itu, terutama para cewek, rasanya mereka melihat kami dengan tatapan mendukung.

Pokoknya, tatapan mereka lembut.

“...Es krim aja ya. Aku ada latihan klub, jadi waktunya nggak banyak.”

“Sedikit aja nggak apa-apa. Itu hadiah karena kita udah berjuang di tes! Terutama aku yang berhasil lolos dari ancaman tinggal kelas! Hari ini rasanya boleh egois sedikit, kan?”

“Kamu hampir tinggal kelas bukan karena nilai tes, tapi karena bolos dan telat. Nilai tesmu malah lebih bagus dariku.”

“Kamu cemburu ya? Ih, lucu banget, Yoshiki~”

“Jangan alihin topik!”

Yuzuha terkekeh, lalu memiringkan kepala dan menaruh pipinya di atas meja.

Rambutnya yang terkena sinar matahari tergerai lembut, memperlihatkan sisi wajahnya yang tampak tanpa pertahanan.

“Hehe. Dengar kamu ngomel kayak gitu tuh… bikin aku lega.”

“Hah?”

Nada suaranya santai, tapi di balik ekspresi itu, ada ketegangan yang samar.

Dengan hanya mengangkat pandangan, ia menatapku lurus.

Matanya seperti sedang memastikan sesuatu—atau menguji.

“Kayak… ‘Ah, dia masih mau ngomong sama aku.’ Aku tuh takut kalau nanti jadi canggung.”

Aku refleks menutup mulut.

—Jadi selama ini dia merasa seperti itu.

Aku pikir bagaimana pun juga, hubungan pertemanan kami akan tetap sama. Dan kupikir Yuzuha juga percaya begitu.

Tapi itu cuma karena aku berada di posisi yang merasa aman.

Bagi Yuzuha, bisa jadi berbeda.

Dia sudah menyatakan perasaan.

Jawabanku belum kuberikan. Memang aku bilang butuh waktu karena semuanya terlalu mendadak.

Tapi buat Yuzuha… mungkin itu tetap menakutkan.

“Maaf. Aku nggak kepikiran sejauh itu tentang perasaanmu.”

“Eh, nggak apa-apa kok. Aku juga mikir sekarang itu terlalu buru-buru, hehe. Kan kamu baru banget putus waktu itu.”

“Terus kenapa kamu masih kelihatan sedikit khawatir? Kita ini temenan, kan?”

“Itu dia yang susah. Justru karena aku pengen keluar dari status teman, jadinya takut.”

Yuzuha mengangkat wajahnya dan melanjutkan.

“Soalnya kalau nggak ada jaminan kalau kita tetap temenan, aku takut semuanya jadi nggak jelas.”

“...Yuzuha, kamu ternyata ada sisi begitu juga, ya.”

“Heh? Maksudnya apa tuh?”

Yuzuha Yui.

Dulu aku pikir dia lebih kuat, lebih benar, lebih jauh di depan.

Tapi Yuzuha pun bisa takut. Bisa sedih. Bisa murung.

Kalau aku sudah tahu itu… aku nggak boleh terus diam.

Di sudut penglihatanku, aku seakan menangkap sosok Hanazono.

Segera kubuang pikiran itu, mencoba tersenyum.

“Gini… aku nggak bakal canggung sama kamu. Kita aman. Selama kamu nggak canggung duluan. Soalnya kalau kamu canggung, itu bakal nular ke aku. Ini murni masalah kemampuan sosialisasi, ya.”

Saat kuungkapkan isi hatiku secara jujur, Yuzuha terbelalak sebentar.

Lalu tertawa kecil.

“Hahaha! Oke, kalau gitu aku tenang! Aku mah nggak bakal canggung duluan!”

“Aku juga gitu. Jadi jangan mikir aneh-aneh.”

“Hehe, maaf yaa.”

…Semoga maksudku tersampaikan.

Tak lama kemudian, Yuzuha berdiri.

“Yoshiki, kamu tuh emang baik banget.”

Ucapan itu entah kenapa membuat dadaku sedikit ringan.

Matahari.

Buatku, Yuzuha adalah itu.

Bukan “cewek yang bisa diajak apa saja”, julukan buruk yang dulu beredar dari geng Miyagi.

Tapi matahari—dalam arti yang sebenarnya.

Saat Yuzuha tersenyum, duniaku ikut terang.

Walaupun hatiku diselimuti malam, sinarnya tetap mampu menyinariku.

Malam—

Tanpa sadar, pandanganku kembali jatuh ke sudut kelas.

Di sana, Hanazono duduk dengan tenang.

Sudah lama aku tak berbicara dengannya.

Sejak malam itu di kolam renang, waktu terasa panjang.

Tidak ada air mata waktu itu, tapi ingatannya masih begitu jelas.

Kami bahkan berbagi ciuman yang melelehkan hati. Tanganku menyentuh tubuhnya yang lembut.

Tidak mungkin aku bilang aku tak peduli padanya.

Tapi… alasan untuk mendekatinya lagi, kata-kata untuk memulai kembali—semuanya tak bisa kutemukan.

Angin musim panas kembali menerpa, mengibaskan ujung bajuku.

Di luar jendela, suara cicada mulai terdengar.

—Kayaknya… sudah waktunya mengakhiri satu bab.

“Benar-benar sudah musim panas ya.”

Suara Yuzuha terdengar seperti dorongan lembut dari belakangku.

*** 

── Kiin koon kaan koon.

Bel pulang berbunyi, bergema perlahan di seluruh gedung sekolah.

Di dalam udara panas yang terperangkap, terdengar suara kursi-kursi yang serempak diseret.

Sedikit lebih ramai dari biasanya—ada harapan dan rasa lega bercampur di udara.

Tubuhku bisa merasakan bahwa sebentar lagi liburan musim panas akan dimulai.

Di saat itu, dengan kecepatan yang terasa panas dan gelisah, Yuzuha melesat keluar ke koridor.

Ketika aku menggendong tasku dan menyusul ke luar kelas, Yuzuha sudah mengetuk-ngetukkan kakinya menunggu.

“Lama! Ayo cepat pergi!”

“Ya ya, sabar.”

Meski begitu, jujur saja aku cukup menantikan bisa pulang bersama Yuzuha lagi.

Beberapa waktu ini aku sering pulang dengan para senpai atau teman cowok karena masa uji coba klub.

Waktu yang kuhabiskan bersama Yuzuha pun sedikit berkurang.

Lagipula para senpai bilang, “Selama masih masa uji coba, latihan belum wajib!”

Jadi setidaknya hari ini tidak apa-apa untuk membolos sebentar.

“Oke, berangkat.”

Mendengar perkataanku, Yuzuha mengangguk dengan senyum cerah.

Saat itu—suara lain terdengar dari belakang.

“Tidak boleh.”

Di koridor yang dipenuhi suara ramai selepas sekolah, berdirilah seseorang yang langsung menarik perhatian.

Remi.

Rok seragamnya bergoyang ringan, di bawah blus putihnya terlihat bahu ramping yang hampir tampak rapuh.

Di sela-sela kerah seragam musim panas, butir kecil keringat di lehernya berkilau—membuatnya terlihat mencolok sekaligus memikat.

Dari balik bayang-bayang bulu matanya yang panjang, tatapannya menangkap kami dengan tepat.

“Ryouta, mau ke mana? Kamu kan ada latihan klub.”

Dengan ekspresi yang sama seperti biasanya, ia sedikit mengangkat sudut bibirnya.

Namun suaranya membawa sedikit tekanan halus.

“Eh? Tapi Ryouta mau pergi merayakan kelulusan tes sama aku, loh!” Yuzuha langsung memotong, berdiri di depanku dengan kedua tangan di pinggang.

Remi menurunkan pandangannya sebentar, lalu mengerutkan kening.

“Yui? Dengar ya, posisi dia itu hanya anggota percobaan. Menurutmu pantas nggak, cuma numpang nama di klub supaya memenuhi aturan sekolah tapi tidak pernah ikut latihan?”

“Tapi kan itu karena dipaksa sama guru.”

“Itu nggak ada hubungannya dari sudut pandang para senpai. Secara sistem memang anggota percobaan tidak wajib latihan, tapi urusan perasaan itu beda. Ryouta, kamu sudah memikirkan itu?”

── T-Tentu saja… tidak.

Itu argumen telak yang sulit dibantah.

Ketika aku melirik Yuzuha, ia menggigit bibirnya.

“Kalau gitu… kalau dia minta maaf, mungkin bisa—”

“Bodoh. Aku bilang jangan sampai kamu perlu minta maaf.”

Suasana sedikit menegang, atau setidaknya terasa seperti itu—namun.

“…Benar-benar ya, Yui itu longgar banget urusannya.”

Remi menghela napas seolah lelah, namun ekspresinya melunak.

Tarikan napasnya tidak menusuk, malah terdengar akrab. Bahkan ia mengurangkan jarak, lalu meletakkan tangan di bahu Yuzuha.

Itu adalah sikap yang menunjukkan kedekatan—sesuatu yang jarang ditunjukkan Remi kepada orang lain.

“Hei, kenapa kamu pasang wajah aneh begitu. Aku kan lagi ngomongin kamu.”

Remi menatapku tajam, membuatku buru-buru bicara.

“A-ah, maaf. Aku cuma senang kalian benar-benar akrab. Baguslah kalian bisa dekat.”

Mendengar itu, Yuzuha berkedip pelan, lalu tersenyum cerah.

“Fufun. Remi itu anaknya baik banget, tau!”

“Aku tahu. Dan Yuzuha, makasih udah ngurusin Remi.”

Mendengar itu, bahu Remi tersentak kecil.

“Tunggu, kenapa kamu yang bilang terima kasih!? Kamu bukan wali aku!”

“Maaf maaf. Tapi bukannya itu normal antara teman masa kecil? Kamu juga sering banget jagain aku.”

“Itu karena kamu menyedihkan, nggak bisa ambil keputusan, tapi ego keras. Aku TERPAKSA bantu, oke!”

“Kamu nggak punya empati, ya!?”

Remi membuang muka, tapi kedua telinganya sedikit merah.

Yuzuha menghela napas panjang.

“Haaah… ya udah, aku pulang sendiri deh… Remi juga latihan.”

“Sebaliknya, kenapa kamu nggak punya klub sih? Klub aneh kamu tuh dihitung gak sah sama Hasekawa-sensei, kan?”

“Itu klub fashion! Dan iya aku tahu! Makanya di sela-sela kerja part-time aku tetap harus datang!”

Yuzuha merengut sambil merapikan tas di punggung.

Meski bilang “aku tahu”, jelas-jelas dia tetap ingin pulang.

Remi lalu membuka mulut.

“Kalau gitu, ikut klubku saja.”

Yuzuha mengedip beberapa kali.

“Klub handball? Tapi aku nggak ngerti peraturannya!”

“Sebagai manajer tidak perlu langsung tahu semuanya. Lagipula kalau sering lihat, lama-lama paham.”

“Aku cuma tahu kalau masukin bola ke gawang, dapat poin!”

“Hampir semua olahraga juga begitu.”

Balas Remi datar.

Melihat Yuzuha yang semakin semangat, aku menyela pelan.

“Kamu yang ajari saja, Remi. Yuzuha cuma bisa datang sesekali, jadi pasti bakal lama paham aturannya.”

“…Aku tidak kepikiran sampai sejauh itu.”

Remi mengajak teman?

Kalau mengingat bagaimana ia saat baru pindah, itu hal yang mustahil dibayangkan dulu.

Ekspresi Remi yang sedikit menyesal dan bingung terlihat begitu baru—dan agak lucu, jujur saja.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close