NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Anokoro ii Kanjidatta Joshi-tachi to Onaji Kurasu ni Narimashita Volume 3 Chapter 5

 Penerjemah: Arif77

Proffreader: Arif77


Chapter 5

Pertemuan di Liburan Musim Panas - Natsuyasumi no Kaikou

Suara jangkrik memenuhi bangunan sekolah yang lengang.

Kelas yang kosong, lorong yang dipenuhi hawa panas, perpustakaan yang tertutup.

Sekolah saat libur musim panas terasa anehnya luas… dan sunyi.

Namun, ada pengecualian.

Salah satunya adalah halaman sekolah. Klub sepak bola, klub baseball, dan klub atletik—banyak anggota yang selalu bergerak di sana.

Dan satu lagi adalah gedung olahraga.

Daan! Bashu!—

Terdengar suara sepatu menghentak lantai kayu, dan suara bola yang mengguncang jaring gol.

Gedung olahraga di tengah musim panas, tanpa AC, menjadi ruang panas membakar.

Meski semua jendela dibuka lebar, angin yang masuk tetap lembap dan berat, dan panas berkumpul di langit-langit.

Meski begitu, aku tetap menjejakkan kakiku di lantai, lalu menyeka keringat yang mengalir dari dahiku.

Sudah dua minggu sejak libur musim panas dimulai.

Sebagian besar teman sekelasku mulai tersebar ke kegiatan masing-masing—latihan klub, kerja paruh waktu, atau hal lain yang mereka suka.

Dengan Takeru dan teman-teman lelaki lain, kalau beda klub, kami hampir tidak bertemu sama sekali.

Hari ini aku datang lagi ke gedung olahraga sebagai calon anggota sementara, tetapi entah kenapa aku merasa sedang menjalani waktu yang sangat berat.

Mungkin faktor lingkungannya juga, pikirku.

Klub handball ini sebagian besar diisi oleh senpai yang ikut dua klub sekaligus, dan guru pembina jarang datang.

Meski begitu, mereka masih mempertahankan bentuk organisasi yang disebut “klub”, tapi sekarang kami sudah mengalami 9 kekalahan berturut-turut.

Jika kalah lagi, itu akan menjadi kekalahan ke-10 secara beruntun. Kalau sampai terjadi, benar-benar ada kemungkinan klub ini dibubarkan. Kami berada di tepi jurang.

Dengan kondisi seburuk itu, wajar saja kalau terasa berat.

Tapi, kalau ini di masa SMP, mungkin aku tidak akan berpikir seperti ini.

Dulu aku selalu bertanding demi kemenangan—dan demi mempertahankan tempatku di tim.

Namun lingkungan itu dihancurkan oleh Seto Miyabi, dan semua yang kubangun kembali padaku sebagai luka yang besar.

Seandainya aku tidak membangun apa pun, mungkin aku bisa lebih cepat melupakan semuanya. Mungkin aku bisa lebih cepat kabur dari klub handball.

Kalau dipikir-pikir, mungkin lingkungan sekarang justru cocok untukku.

Memulai dari titik minus… entah kenapa terasa pas untuk diriku saat ini.

“Yoshiki, minum duluuu!”

Dari ujung gedung olahraga, terdengar suara nyaring memanggil.

Saat aku menoleh, kilau keemasan melintas di pinggir pandanganku.

Rambut pirang terang yang diikat ponytail bergoyang, dengan sedikit warna pink sebagai highlight di ujungnya.

Yuzuha melambai sambil tersenyum selebar biasanya, memegang handuk dan menggoyangkannya.

Tidak banyak yang tahu, tapi Yuzuha juga menjadi manajer klub handball.

“Kamu ceria sekali, ya…”

Aku bergumam sambil berjalan ke arah panggung tempat para manajer menunggu.

Di sebelah Yuzuha berdiri teman masa kecilku, berambut hitam dengan highlight biru, memandang ke arahku dengan ekspresi tenang.

Di atas kaus polo putih khusus manajer, garis tubuhnya terlihat samar.

Meski desainnya sederhana, lengan tipis yang terlihat dari ujung lengan baju, serta kilau keringat di lehernya—entah kenapa membuatku sangat menyadarinya. Dari celana pendek biru tua, terlihat kaki jenjang yang semakin jelas bentuknya setiap kali ia bergerak, tertimpa cahaya dan bayangan.

Dua gadis itu, berada di gedung olahraga penuh laki-laki, benar-benar mencolok.

Tapi bukan berarti mereka bermain-main. Terutama Remi, ia sangat serius sebagai manajer. Setelah mengusap keringat, Remi mengulurkan botol minum padaku.


“Jangan sampai kena heatstroke, ya. Tapi tadi kamu mainnya bagus.”

“Ou, makasih.”

Mendengar jawabanku, Remi menyipitkan mata lalu berjalan menuju para senpai.

“Senpai, tadi Anda sempat bertabrakan cukup keras dengan defense, tidak apa-apa?”

“Feint barusan keren banget ya. Pengalaman basket Anda kepake banget kayaknya.”

“Panasnya parah, jadi kalau mau minum bilang saja, ya.”

Tatapan para senpai terpaku pada Remi.

Kelihatan sekali kalau mereka menunggu-nunggu untuk dipuji oleh Remi.

“Uhh… panas banget…”

Ketika menoleh ke arah suara itu, Yuzuha terlihat lemas sambil mengusap keringat dengan handuk.

Sepertinya ingin mengusap keringat yang menetes di dagu, dia mengangkat ujung bajunya.

Sedikit kulitnya terlihat terkena cahaya, membuatku merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.

Garis bra yang tersembunyi di balik kaus terlihat samar—bahkan bentuknya pun agak terlihat.

Mungkin itu gerakan tanpa sadar, tapi aku kehilangan timing untuk menegurnya dan buru-buru mengalihkan pandanganku.

Tapi kalau senpai lain melihat, pasti langsung heboh.

“...Yuzuha, kelihatan, kelihatan.”

“Eh? Ah—ehehe.”

Sepertinya dia sendiri tidak berniat memperlihatkan sejauh itu, karena Yuzuha tersenyum malu.

Ia segera menurunkan bajunya, tapi pemandangan itu sudah terlanjur terekam jelas di otakku.

“Aduh, hati-hati dong.”

“Cemburu, ya?”

“Bukan! Itu cuma peringatan!”

“Masaaa!? Kejam banget!”

Yuzuha menekan kedua pipinya dengan kedua telapak tangan sampai wajahnya membulat.

Tapi seolah teringat betapa panasnya, ia kembali mengipas-ngipas dengan tangannya.

“Serius deh, panas banget… Gimana bisa semua orang tetap olahraga di tempat kayak gini…?”

“Energi barusan ke mana?”

“Itu doping karena ada Yoshiki~. Tapi panasnya nggak bisa kalahin aku.”

“Apa itu. Yah, panas sih, tapi semua klub indoor juga begini.”

“Eh, waktu SMP kamu juga begini?”

“Iya. Lagian, bisa pakai aula tiap hari itu udah lumayan banget.”

Aku melemparkan ingatan panas barusan ke luar pikiran dan kembali teringat masa SMP.

Waktu itu, klub handball hanya bisa menggunakan aula kalau mau pertandingan. Selebihnya latihan di lapangan di bawah terik matahari.

Padahal, pertandingan tingkat lanjut selalu di aula. Kalau dipikir sekarang, latihan waktu itu benar-benar tidak efisien.

──Tapi, awalnya itu semua adalah kenangan menyenangkan.

Aku menarik napas panjang dan berjalan ke tepi aula.

Latihan adalah proses menumpuk. Semakin banyak yang kau tumpuk, semakin besar rasa sakit ketika kehilangan semuanya.

Makanya aku hanya berniat untuk bergerak secukupnya. Tapi begitu bola ada di depan mata, sisa-sisa naluri rakus masa itu muncul kembali.

Setelah keluar dari klub handball, bola latihan yang kubeli sendiri kusimpan di bawah tempat tidur.

Setiap kali menyentuhnya, rasa penyesalan datang dan mood-ku turun.

Tapi sekarang—

“Oi, Yoshiki! Tadi yang 1-on-2 itu gila banget!”

Aku tersentak dari lamunanku.

Sepertinya Mitani senpai sangat senang aku bergabung, sampai-sampai dia sangat bersemangat menyapaku.

Di belakang, Yuzuha menggeram rendah.

“Ugh… si senpai panas datang…”

Aku hampir tertawa, tapi berhasil menahannya.

Mitani senpai terlihat bingung, namun segera tersenyum ramah.

“Yoshiki, makasih ya sudah bawa dua manajer sekali lagi. Berkat mereka, tidak ada yang berani bolos latihan, itu keajaiban.”

“Semua orang pengen ketemu Nikaidou kayaknya.”

“Aku gimana!? Hei Yoshiki, aku aku!”

“Yuzuha itu kerjanya lebih banyak tiduran di panggung. Mana sempat ngobrol sama senpai.”

“Jahat! Dasar bodoh bodoh bodoooh!”

Mitani senpai tertawa kecil sambil mengangkat bagian bawah seragam untuk mengusap keringat.

“Tapi tadi step-in kamu beneran gila. Kamu beneran pernah main, ya.”

“Yah… lumayan. Waktu SMP sih.”

“Kelihatan banget itu bukan ‘lumayan’. Jujur, aku pengen kasih posisi kiri 45 buatmu mulai pertandingan berikutnya.”

“Itu posisi ace, Senpai. Berat buat pemula.”

Posisi penyerang utama tak mungkin diberikan pada anak baru. Tapi Mitani senpai menggeleng.

“Ahh, kamu mikir soal senpaiitas? Tenang aja. Kebanyakan di sini anak yang rangkap klub, jadi kita nggak terlalu peduli hal begitu.”

“Rangkap, ya… itu sih masuk akal.”

“Kan?”

Ia menjawab singkat, lalu tersenyum.

Sekilas, ia terlihat seperti senpai yang ramah.

Namun aku tahu ia punya sisi lain. Hal itu terlihat sedikit saat aku diputuskan Hanazono.

Tapi setiap orang punya sisi yang tidak diperlihatkan. Selama ia tidak membuat orang tak nyaman, itu justru bentuk keterampilan sosial.

Melihat Mitani senpai begitu, aku bisa memahaminya.

“...Ada sesuatu, Senpai?”

Pertanyaanku membuatnya menoleh sedikit, lalu ia mengalihkan pandangan.

Begitu aku tetap diam menunggunya, ia akhirnya bicara dengan nada datar.

“Kamu mungkin sudah sadar… Guru pembina belum datang sekali pun selama liburan, kan? Artinya, secara praktis dia sudah lepas tangan.”

“Kayaknya dari dulu juga jarang datang.”

“Ya. Tapi aku nggak nyangka dia nggak muncul sama sekali di liburan. Makanya rumor soal ‘kalah sekali lagi lalu klub dibubarkan’ itu makin terasa nyata. Ada yang bilang bercanda, tapi aku yakin itu beneran.”

Suaranya tenang, tapi penuh kegelisahan.

Sekilas, aku melihat ke panggung.

Di sana, Yuzuha sedang berbaring menatap langit-langit.

Sementara itu, Remi sedang melipat handuk dengan serius.

Dengan jarak masing-masing, kedua gadis itu mulai terlibat dengan klub.

Takano dan Sudo—yang bilang akan ikut klub yang sama dengan Yuzuha—juga sedang mempertimbangkan untuk benar-benar masuk. Katanya keputusan final setelah liburan. Mungkin sekarang mereka menikmati masa bebas terakhir.

“Padahal mulai banyak yang ingin menjadikan klub ini tempat mereka. Meski aku anak rangkap, tetap saja aku punya rasa punya. Aku sudah ada di sini sejak kelas satu. Makanya… aku ingin mempertahankan tempat ini.”

Suara sorakan terdengar.

Para senpai mulai bermain dodgeball memakai bola handball, tertawa-tawa.

Mitani senpai ikut tersenyum melihatnya.

“Eh, Yoshiki. Buatmu… tempat ini sudah jadi ‘tempatmu’ belum?”

“Uh… belum.”

“Hahaha! Jujur banget!”

Aku sendiri terkejut memberi jawaban sejujur itu.

Mungkin karena aku tahu ia tidak akan marah.

“Gak masalah. Santai saja. Aku cuma ingin tempat ini jadi tempat yang semua orang bisa nikmati.”

Belum ada yang sepertiku—yang menunda masuk resmi berhari-hari.

Tapi ia sudah memperlakukanku seolah aku anggota penuh.

Mitani senpai menepuk punggungku pelan.

“Jadi… tolong bantu klub ini ya. Aku sudah nggak bisa bikin tim ini menang.”

Di telapak tangannya ada panas… dan sedikit harapan.

…Tempat, huh.

Dulu aku tak menyangka tempat itu akan kembali menjadi klub handball.

Sebuah bola menggelinding ke tengah lapangan.

Aku diam menatap tempat yang tadi kugunakan untuk berlari.

Padahal cuma anggota percobaan, tapi aku mendorong tubuhku sejauh ini.

──Kenapa, ya.

Padahal dulu aku berantakan karena handball.

Tapi kaki ini tetap melangkah masuk aula.

Begitu memegang bola, kakiku bergerak sendiri.

Detik bola meninggalkan ujung jariku, ada kegembiraan kecil yang muncul.

Aku mungkin terluka lagi.

Mungkin kehilangan sesuatu lagi.

Menumpuk sesuatu berarti menambah risiko kehancuran.

Semakin tinggi tumpukan, semakin keras suara runtuhnya.

Tapi──

Entah kenapa, hatiku tetap menginginkan tempat ini.

Bukan karena aku tidak ingin menumpuk.

Yang kutakutkan hanya… kehilangan lagi.

Ketika kurasakan tatapan, aku menoleh.

Remi sedang memandangku.

Tangannya berhenti melipat handuk.

Ia sedikit memiringkan kepala, menatapku dalam diam.

Ia tidak mengomel.

Tidak memakiku.

Hanya menatap… seakan bisa melihat hatiku.

Mungkin dia tahu aku ragu.

Ia tak mendekat.

Tak mengatakan apa pun.

Lalu, sesaat… bibirnya melunak sedikit.

Bukan dukungan.

Bukan semangat.

Lebih lembut. Lebih sunyi. Lebih hangat.

──Aku ada di sini.

Ekspresi itu seolah mengatakan hanya itu.

Sesuatu turun perlahan di dadaku.

…Benar juga.

Yang dulu tidak ada di klub SMP, tapi ada sekarang.

Itu adalah keberadaan Nikaidou Remi—sahabat masa kecilku.

Dan juga Yuzuha.

Rasa aman karena tidak akan sendirian.

Aku belum akrab dengan senpai.

Tapi sekalipun rasa sakit yang sama kembali, ada orang yang akan menopangku.

Dengan itu saja, aku bisa maju.

“Senpai.”

Aku bergumam pelan.

“Aku… mau masuk resmi.”

Suaraku tenang, tapi detak jantungku ribut.

Mitani senpai membuka mata sedikit lebar, lalu tersenyum lega.

Ia menatap lapangan seolah beban besar terlepas.

Melihat profil wajahnya, aku mengembuskan napas.

Bukan napas pasrah—tapi tekad.

Aku akan menumpuknya sekali lagi.

Panasnya musim panas… akan membuatku lebih kuat.

*** 

Ketika aku keluar dari aula setelah latihan, cahaya sore masuk miring melalui gedung sekolah.

Suara jangkrik tumpang tindih, terasa seakan memanjang tanpa akhir.

Saat melangkah di koridor yang masih menyimpan sisa panas, seragamku menempel pada punggung yang basah oleh keringat setelah latihan klub.

Tujuanku adalah ruang guru.

Lebih cepat lebih baik. Untuk menyerahkan formulir pendaftaran klub hari ini juga, aku terus melangkah maju.

Meski takut, aku sudah memutuskan untuk berdiri di sisi yang terus “menumpuk” sesuatu.

Karena sudah memilih itu, aku harus segera mewujudkannya.

Aku memaksa tubuh lelahku menaiki tangga.

Lewat pukul lima sore, tak ada tanda-tanda orang di koridor.

Di gedung sekolah yang sunyi itu, hanya suara langkahku yang bergema.

Saat aku hampir sampai di ruang guru, sudut penglihatanku menangkap papan bertuliskan “Ruang OSIS”.

Selama liburan musim panas, ruangan itu sering tertutup tirai, dan saat kudekati, sepertinya hari ini pun tidak berbeda. Entah kenapa, pemandangan itu memberiku sedikit rasa lega.

Kalau memang lega, harusnya aku cukup bergegas melewatinya saja. Tapi entah kenapa aku malah mendekat. Aku sendiri tidak mengerti kenapa.

Saat itulah—

“…Yoshiki-kun?”

Deg.

Aku spontan menoleh karena suara yang muncul tiba-tiba.

Di sana berdiri Hanazono Yuuka.

Lengan bajunya yang dipasangi ban OSIS membuat kulit putihnya semakin menonjol, dan rambut coklatnya tampak tembus cahaya sore, bergoyang lembut. Sepertinya ia baru kembali dari suatu urusan OSIS; sebuah buku catatan terselip di lengannya.

“…Jarang sekali ya. Bisa ketemu saat liburan musim panas.”

Ekspresi Hanazono ketika mengatakan itu tetap seperti biasanya.

Ia menampilkan senyum lembut — bukti dirinya yang ditunjukkan pada dunia luar.

Aku sempat kehilangan kata-kata, bingung bagaimana harus menjawab. Tetapi akhirnya, aku membuka mulut.

“…Iya. Kamu baik-baik saja?”

“Fufu, apa itu? Aku selalu baik-baik saja kok.”

…Seperti yang kuduga.

Walau kuberi sapaan, “Hanazono yang itu” tidak muncul.

Ada sedikit rasa sepi karenanya, tapi memang begitulah adanya.

Keinginanku untuk berbicara dengan Hanazono yang kutemui sebelum kami berpisah… hanyalah ego milikku.

Karena itulah, aku tidak berbicara dengannya sebagai “dirinya yang lain”, aku hanya melemparkan kata-kata ringan ke udara.

“Aku memutuskan untuk masuk klub. Secara resmi.”

Mendengar itu, Hanazono sempat berkedip sekali… lalu tersenyum pelan.

“Begitu ya. Semangat, ya.”

“Ini juga sebagian berkat kamu.”

“Benarkah? Senang mendengarnya.”

Sejak kami berpisah, kami bahkan tidak pernah berbicara apalagi bertukar pesan.

Meski ada kekosongan satu bulan, saat mulai berbicara… udara di antara kami tetap terasa lembut.

“Karena kamu mendorongku pergi, aku bisa berada di tempatku yang sekarang.”

Begitu aku mengatakannya singkat, Hanazono kembali mengedip pelan sejenak.


Reaksi yang hampir refleks itu larut ke dalam senyumnya—lebih tenang bahkan daripada tarikan napas.

“Begitu ya. Syukurlah, sepertinya kamu tidak terluka.”

“Kamu juga, Hanazono… tetap seperti biasanya.”

“Iya.”

Hanazono menjawab ringan, lalu melemparkan pandangannya ke belakangku.

Tidak ada siapa pun di sana—seolah ia hanya memastikan.

“…Yoshiki-kun, kita berpisah dengan cara seperti itu, tapi kamu masih mau bicara denganku. Aneh, ya.”

Ekspresi Hanazono tidak berubah. Sama seperti dirinya di ruang kelas.

Tak ada nada menyalahkan, tak ada sisi gelap—yang ada hanya Hanazono seperti biasanya.

“…Bukan karena aku jadi membencimu atau apa.”

“Mungkin begitu. Tapi biasanya… orang tidak bisa lagi percaya setelah itu.”

“Itu tidak benar.”

“…Ternyata memang berbeda, ya. Karena itu kamu bisa tetap bicara seperti ini.”

Jadi Hanazono berniat memutus hubungan begitu saja setelah kejadian itu.

Padahal kami sudah menghabiskan begitu banyak waktu sejak SMP.

Hanazono menyipitkan mata.

“Kita cuma pacaran selama sebulan, tapi waktu sebagai teman itu berkali-kali lipat. Kamu ingin kembali ke sana, kan? Itu maksudmu?”

…Dia benar-benar menebak tepat sasaran.

Ketika aku terdiam tak bisa menjawab, Hanazono bergumam seolah sudah mengetahui jawabannya.

“Hm. Begitu ya.”

Sudut matanya turun tipis.

Sekilas, itu tampak seperti ekspresi lembut.

Aku tahu kelembutan itu muncul karena ia sedang menutup rapat sisi dirinya yang lain.

Tidak ada lagi dinginnya, tidak ada lagi tatapan tajam yang seakan menembus isi kepalaku.

Namun jauh di dasar matanya, hanya keheningan yang tersisa.

Perhatian yang tipis—hanya sebatas itu.

Seakan ia sedang mengamati roda gigi yang dulu bergerak sesuai perkiraannya, dari tempat yang lebih jauh.

“…Hei, Yoshiki-kun.”

Hanazono memilih kata-kata sejenak.

Lalu, dengan nada yang benar-benar santai, ia bertanya:

“Jadi… kamu akhirnya jadian dengan Yuzuha-san?”

Aku terbelalak.

Tidak pernah terpikir ia akan membahas itu—sekarang pula.

“T–tidak, bukan begitu. Aku bahkan belum menjawabnya dengan benar… itu juga, kenapa tiba-tiba nanya?”

“Nggak apa-apa. Cuma penasaran.”

…Rasanya kami pernah punya percakapan mirip ini sebelumnya.

“Tapi… kenapa kamu tahu dia nembak aku? Yuzuha yang bilang?”

“Aku hanya bilang kalau kita sudah putus.”

Hanazono menundukkan mata sebentar, lalu tersenyum lembut.

“Kamu sudah ditembak, aku baru tahu. Ya, meski sebenarnya… sudah bisa diprediksi.”

“…Jadi, yang barusan itu karena aku keceplosan?”

“Iya.”

“Ugh… maaf, Yuzuha…”

Saat aku memegangi kepala, Hanazono menenangkan dengan berkata, “Tenang, aku rahasiakan.”

Baik sekali. Yah, aku sudah tahu dia bukan tipe yang suka menyebar gosip.

“Tapi kenapa kamu bisa memprediksi sih?”

Ketika aku bertanya dengan nada sedikit sebal, ia menjawab cepat:

“Aku bilang ke Nikaidou-san soal putus. Tapi Yuzuha-san malah ngasih ekspresi ‘Yes!’ gitu. Jadi kupikir, yang akan menyerang duluan ke kamu ya dia. Hanya itu.”

Ia lalu melanjutkan:

“Nikaidou-san juga, meski terlihat begitu, dia sebenarnya cukup tulus. Penasaran deh, kamu akan cocok dengan yang mana.”

“Bukan begitu… dia bahkan enggak ngelihat aku sebagai cowok. Kami cuma teman masa kecil.”

“Masa sih?”

Hanazono terkikik.

Aku merengut.

“…Hanazono, kamu kayaknya menikmati ini ya.”

“Iya. Menarik soalnya.”

Mendengar jawabannya yang terlalu jujur, aku terpaku menatapnya.

Seolah sudah memperhitungkan reaksiku, Hanazono pun menatap balik lurus-lurus.

“Sedikit penasaran. Kamu akan mengalir ke siapa. Yoshiki-kun yang tidak memilih aku… akan memilih siapa.”

Angin melewati koridor.

Ketika aku sedang memikirkan makna kata-katanya, ia melanjutkan:

“Aku bersamamu… untuk menemukan diriku sendiri.”

Nada suaranya datar—seperti pengakuan, tapi juga seperti komentar biasa.

Sisi tersembunyi Hanazono mulai muncul perlahan.

“Perasaan itu… kamu yang memberikannya padaku. Kamu masih ada di dalam diriku.”

Ia tersenyum tipis.

“…Kamu sudah cukup menjadi cermin untukku. Aku membuatmu repot kala itu, kan? Tapi tenang saja. Aku tidak akan mengganggu siapa pun. Aku akan mendukungmu.”

Setelah mengatakan itu, sudut bibirnya terangkat sedikit.

Senyumnya masih tanpa panas.

Namun juga tidak dingin—hangat pada suhu yang sulit dijelaskan.

“Nanti… aku akan membalas jasanya. Kalau butuh sesuatu, bilang saja, ya?”

“Eh… tidak, aku—”

“Fufu.”

Hanazono memiringkan kepala, tersenyum manis seolah semuanya biasa saja.

“Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Semangat, untuk klubnya.”

Ia melambai ringan, lalu kembali ke ruang OSIS.

Punggungnya perlahan menghilang dari pandangan.

Aku berdiri lama di tempat itu.

Kemudian, terdorong angin hangat, aku mulai berjalan menuju ruang guru.

Kata-kata Hanazono terus berputar-putar di kepalaku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close