Penerjemah: Arif77
Proffreader: Arif77
Chapter 8
Mereka Berdua Berbicara di Bawah Matahari Senja - Yuuhi no Shita de Futari wa Kataru
Hari terakhir liburan musim panas.
Meski sudah sore, panas di dalam gedung olahraga masih belum juga enyah.
Setelah latihan berakhir, aku menyeret tubuh yang sudah kelelahan menyusuri koridor sekolah.
Di area loker, peralatan yang dipakai berlebihan selama liburan menumpuk begitu saja.
Beberapa menit setelah keluar dari gedung, aku melangkah ke tangga yang memperlihatkan seluruh lapangan sekolah.
Lapangan yang dipenuhi cahaya senja itu kosong, hanya garis putih yang tinggal samar-samar.
Aku duduk di anak tangga dan menghela napas.
…Kira-kira dia akan datang tidak ya?
Begitu selesai dari perkemahan, aku langsung menghubungi Hanazono. Ada hal yang ingin kubicarakan berdua dengannya.
Namun mungkin karena pesanku terlalu tiba-tiba… atau karena dia sudah memblokirku, pesan itu bahkan belum dibaca sampai sekarang.
Aku sudah mengirim lokasi dan waktu bertemu secara sepihak. Tapi kalau dia tidak datang, mungkin aku bakal sedih beneran.
Waktu yang dijanjikan semakin dekat, dan aku hanya bisa menatap matahari terbenam.
Hari terakhir liburan musim panas—yang terasa panjang tapi sekaligus singkat—perlahan mendekati akhir.
Saat rasa kantuk ringan mulai menyelimuti, aku merasakan kehadiran seseorang.
“Ada apa?”
Sebuah suara datang dari belakang. Aku menoleh.
“Ah… cuma ada yang pengen kubicarain.”
“Aku bisa menebaknya.”
Hanazono terkekeh kecil dan duduk di sebelahku.
Ekspresi halus di wajahnya tidak berubah sejak malam kami di kolam renang.
Itu sedikit membuatku tenang.
“Liburan musim panas akhirnya selesai, ya.”
“Iya. Bagaimana liburanmu?”
“Lumayan sih, cukup berisi. Klub handball juga menang pertandingan tanpa masalah. Lingkungan berubah, tapi ternyata bisa juga beradaptasi.”
“Wah, hebat dong.”
“Tentu.”
Jawabku singkat.
Kami sama-sama tahu itu bukan inti pembicaraan.
Akhirnya aku memberanikan diri membuka mulut.
“Soalnya waktu liburan kemarin… aku pergi camping bareng Remi dan keluarganya. Di sana, aku dengar cerita tentang kamu.”
“Dari Nikaidō-san? Cerita tentang aku?”
“Iya. Tentang hari saat kalian bertemu pertama kali. Tentang keluargamu juga.”
Hanazono membelalakkan mata.
“…Agak mengejutkan, sih. Padahal aku percaya sama Nikaidō-san.”
“Masa? Waktu itu di rumahku aja kamu sempat nge-tease dia habis-habisan.”
Waktu aku sakit dan Remi serta Hanazono bertemu di rumahku—
—“Atau jangan-jangan, kamu mau bikin masalah lagi?”
Aku baru paham sekarang maksud kata-katanya.
Hanazono hanya berdesis, “Ah, itu,” dengan nada seolah tidak peduli.
“Sebenarnya tidak masalah kalau orang lain tahu. Cuma… ya, itu bukan urusan Yoshiki-kun. Maksudku, secara harfiah memang bukan urusanmu.”
“Yah, memang aku orang luar. Masalah keluarga… itu terlalu berat buatku. Kalau aku ikut campur, paling cuma makin berantakan.”
“Menurutku sih, kamu bahkan tidak akan bisa mengacaukannya. Tapi ya sudah.”
Hanazono menoleh ke sekeliling, lalu berbicara tanpa melihatku.
“Jadi, mau ngomong apa? Kamu sengaja memanggilku jauh-jauh ke sini.”
Gaya bicaranya seperti sudah kehilangan minat. Tapi aku tidak terganggu.
Hanazono tipe orang yang bisa mengakhiri percakapan kapan pun kalau ia mau.
Artinya, kalau ia masih duduk di sini, itu pertanda ia setidaknya punya sedikit ketertarikan.
“Kurasa… waktu itu aku jatuh cinta pada ‘sisi luar’ yang kamu perankan.”
“Begitu.”
“Kita putus karena aku melihat sisi belakangmu—maksudku, dirimu yang asli. Tapi itu bukan berarti aku menolak dirimu yang sebenarnya. Itu saja yang ingin kusampaikan.”
“Hm?”
Akhirnya mata kami benar-benar bertemu.
“Kamu mencoba memahami aku? Tapi… jujur, aku tidak butuh itu.”
Nada bicara Hanazono dingin.
“Waktu aku ke rumahmu saat kita masih pacaran, aku sadar sesuatu. Kamu itu dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari kecil. Di sekolah pun, kamu punya orang yang bisa kamu percaya di sampingmu. Dari awal sampai akhir, hidupmu selalu berlawanan dengan hidupku. Jadi aku bahkan tidak pernah berharap kamu bisa memahami aku.”
Kata-katanya terdengar seperti menolak, tapi entah kenapa aku tahu itu bukan maksudnya.
Ia hanya sedang menyampaikan isi hatinya—tanpa harapan, tanpa ekspektasi.
“Bahkan, aku sendiri bingung kenapa kita masih ngobrol begini. Selama ini yang bersamamu itu sisi luarku, kan? Kamu putus dengan sisi diriku yang asli. Itu wajar. Jadi… apa yang masih membuatmu penasaran?”
“…Aku cuma ingin tahu. Kenapa kamu sampai memisahkan dirimu menjadi dua seperti itu?”
“…Aneh banget sih pertanyaanmu.”
Untuk orang lain, ini percakapan biasa saja. Setiap manusia punya sisi luar dan dalam.
Tapi untuknya, pertanyaan itu menyentuh akar terdalam dirinya.
Namun Hanazono justru mengangguk begitu ringan.
“Ya sudah, tidak apa. Aku kasih tahu, khusus untukmu.”
Matahari senja sudah condong, dan bayangan kami memanjang di tanah.
Hanazono menatap bayangan itu sebentar, lalu berdiri selangkah di depan.
“Aku tidak mau dipengaruhi siapa pun. Sampai aku bisa menjadi diriku sendiri, aku butuh sisi luar itu untuk melindungiku. Itulah alasanku membaginya.”
Ia mencubit pipinya dengan kedua jari.
“Bagus kan? Cara bicaraku yang sekarang juga cuma tiruan dari seorang polisi wanita yang dulu banyak membantuku. Dia satu-satunya orang yang memperlakukan aku sebagai manusia dan bersikap lembut padaku. Jadi… ‘diriku’ yang kamu suka itu cuma hasil pinjaman.”
…Polisi wanita yang disebut Remi, mungkin.
Ia menggunakan hubungan yang jauh untuk menciptakan sebuah “kulit” pelindung.
Karena menjalani hidup tanpa bisa mengandalkan siapa pun, satu-satunya yang bisa ia percaya hanyalah dirinya sendiri.
Tapi—
“Begitu ya. Jadi kamu terus bersandiwara demi tidak dipengaruhi siapa pun.”
“Benar. Karena aku pandai meniru, aku tidak akan terpengaruh.”
“Kenapa sih kamu tidak ingin dipengaruhi?”
“Karena kalau aku terpengaruh, aku jadi palsu. Itu artinya aku kehilangan diriku sendiri. Dan itu yang paling kubenci.”
“Hmm. Tapi bukannya cara berpikirmu itu sendiri… hasil pengaruh dari Remi?”
Hanazono terdiam.
Seolah kemungkinan itu tidak pernah ada di pikirannya.
“Jadi aku… dipengaruhi Nikaidō-san…?”
“Tentu saja. Kalau tidak bertemu Remi, kamu pasti tidak akan jadi dirimu yang sekarang. Bukankah itu bukti paling nyata?”
Kelopak mata Hanazono bergetar halus.
Dan dengan ekspresi yang belum pernah kulihat, ia menatapku tajam.
Sepertinya apa yang kukatakan barusan adalah hal yang paling ia benci.
“Memangnya kamu paham apa, Yoshiki-kun?”
“Aku setidaknya tahu wujud dirimu yang ada dalam ingatanku.”
Aku berdiri dan mulai berbicara.
“Kita kenal gara-gara coretan iseng di meja, kita pulang bareng setiap selesai bimbel, kita pacaran… semua itu pilihanmu sendiri kan, Hanazono? Apa benar sosok polisi itu benar-benar terlintas di kepala waktu kamu mengambil pilihan-pilihan itu? Jujur aja, itu maksa banget.”
Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat.
Kata-kata yang muncul dari dadaku mendorongku untuk terus bicara.
“Semuanya itu pilihanmu sendiri. Dan dari pilihan-pilihan itu, kepribadianmu terlihat jelas. Aku nggak pernah sekalipun menganggap dirimu sebagai ‘barang pinjaman’, dan setelah dengar cerita itu pun pendapatku nggak berubah.”
Hidup itu rangkaian dari pilihan.
Kepribadian bukan hal yang kamu putuskan secara sengaja—itu terbentuk dari jejak yang kamu tinggalkan selama hidup.
Dan orang yang membuatku sadar hal itu adalah Yuzuha.
Dia menilai kepribadiannya sendiri tidak begitu baik, tapi buatku, dia itu yang terbaik.
Bahkan antara dirinya dengan sahabatnya sendiri pun bisa ada perbedaan persepsi sebesar itu.
Yang pasti hanyalah bagaimana dirimu merasakannya. Hanya itu yang benar-benar milikmu.
Karena itulah, apa pun yang Yuzuha katakan, aku tetap bisa mempercayainya.
Dan hal yang sama berlaku untuk Hanazono Yuuka.
“Aku, tahu nggak, sebenarnya nggak terluka seperti yang kamu bayangkan. Kamu juga nggak pernah benar-benar jahat sama aku.”
“Tapi aku pacaran sama kamu cuma demi diriku sendiri. Aku nggak mikirin perasaanmu.”
“Justru itu yang aku syukuri. Karena berkat itu, kita bisa pacaran.”
“Itu cuma hasil akhirnya.”
“Ya, hasil akhirnya. Dan karena itu, aku nggak perlu ragu lagi. Apa pun yang kamu katakan, aku nggak akan menganggapmu orang jahat.”
Ya. Dia bukan orang jahat.
“Bahkan… menurutku kamu itu orang baik, tahu?”
Begitu aku menyimpulkan, Hanazono membelalakkan mata.
Mata besar itu bergetar sedikit, lalu ia menundukkan pandangannya.
“…Orang baik, ya. Kamu benar-benar asal ngomong.”
“Nggak apa kalau kamu pikir begitu. Tapi buatku itu sudah pasti.”
“Kalau misalnya aku mulai mengganggu Nikaidō-san yang kamu sayang itu… kamu masih bisa bilang aku orang baik?”
“Nggak lah? Kalau kamu memilih melakukan itu, penilaianku bakal berubah.”
Hanazono tetap menunduk, tidak menatapku.
Jadi aku terus bicara.
Untuk menyampaikan perasaanku apa adanya.
“Tapi ya… sejauh ini, aku nggak pernah merasa kamu tipe orang yang bakal melakukan hal begitu.”
“…Begitu ya.”
“Soalnya, kamu itu sudah melampaui batas yang bisa ditutupi dengan akting. Tanyakan saja ke siapa pun di kelas—nggak ada yang bilang hal buruk tentang kamu. Dan menurutku, itu sudah cukup untuk menjawabnya.”
Setelah kuucapkan semua itu, yang muncul hanyalah sedikit keheningan. Tapi anehnya, tidak terasa canggung. Lalu—
“…Fufu.”
Hanazono terkekeh pelan.
Suara itu terdengar seperti racunnya telah memudar.
“Aneh ya. Kamu menasihatiku padahal kamu sendiri nggak dapat untung apa-apa.”
“Ini bukan soal untung rugi. Aku berterima kasih sama kamu.”
“Oh, ya?”
“Yang membuatku sadar bahwa hidup itu rangkaian pilihan adalah Yuzuha. Tapi yang membuktikan hal itu… adalah kamu.”
Aku tidak tahu apa maksud Remi ketika ia menceritakan tentang Hanazono.
Tapi aku bukan ingin mengubah Hanazono lewat pembicaraan ini.
Berpikir bahwa aku punya kekuatan untuk mengubah dasar diri seseorang—itu sombong.
Intinya, aku hanya ingin menyampaikan isi hatiku.
Karena aku tidak ingin perasaanku disalahpahami. Itu cuma kepuasan diri.
Meski begitu, aku tetap ingin menyampaikannya.
Karena dulu… aku memang sungguh-sungguh menyukai dirinya.
Angin bertiup.
Hanazono mengedip pelan dan tersenyum samar.
“Mungkin aku rugi ya dulu…”
“…Kalau kamu mikir begitu, ya kapan-kapan kita pulang bareng lagi.”
“Kayak waktu ke kolam renang malam itu?”
“Yang itu jangan.”
“Fufu. Aku ditolak lagi, ya.”
Nada suaranya kini sudah tak memiliki duri seperti sebelumnya.
Ekspresi yang seolah beban telah terangkat dari dirinya—aku hanya bisa berharap itu bukan ilusi.




Post a Comment