Chapter 2
Kekalahan Abstract Queen (Hari 58)
"Aku
menyerah."
Sambil menatap
puncak kepala lawan mainku yang tertunduk, aku──Utakata Tsukino, menghela napas
panjang.
Rasanya seperti
baru bernapas setelah berjam-jam. Pertandingan resmi selalu dibumbui
ketegangan, tetapi yang hari ini benar-benar luar biasa. Keringat dingin
merembes di tengkukku.
Entah
bagaimana, aku berhasil bertahan.
Sembilan puluh
persen dari kesanku setelah bertanding belakangan ini adalah ini. Bukan
kepuasan manis karena menang, tetapi rasa lega karena entah bagaimana tidak
kalah, entah bagaimana berhasil bertahan hidup, yang lebih dominan.
Akibatnya, yang
tersisa setelah pertandingan bukanlah "pecundang dan pemenang,"
melainkan "korban mati dan korban luka parah."
Setelah bertukar
komentar pasca-pertandingan yang sama-sama terasa pahit, aku bersiap-siap dan
meninggalkan Gedung Pusat Sendagaya. Tepat ketika hendak menuju stasiun, bahuku
tiba-tiba ditepuk dari belakang.
"Permisi,
Anda Utakata Tsukino, kan? Joryuu Meijin (Juara Wanita)!"
Suara bernada
tinggi yang ceria. Karena kelelahan setelah pertandingan, sejujurnya aku malas
sekali untuk menoleh, tetapi aku juga seorang pemain Shogi wanita.
Menyebarkan budaya Shogi juga merupakan tanggung jawab penting. Aku
langsung memasang business smile dan berbalik ke mode
"melayani," lalu──
"Canda
deh~"
──Aku sangat
menyesal karena menerima "Pembaptisan Era Showa" berupa pipiku
dicolek dengan jari.
Benar.
"Orang ini" memang selalu melakukan hal seperti itu sejak dulu.
"……Kenapa
Anda ada di sini, Guru?"
"Astaga, Tsuk-chan
selalu saja dingin, deh."
Wanita paruh baya
itu menjawab dengan nada yang sangat ringan, menanggapi wajah datarku.
Tatsumi Marisa.
Sulit dipercaya dari penampilannya yang mencolok dan terbuka, tetapi dia adalah
mantan pemain Shogi wanita.
Sambil
membuat bunyi gemerincing dari berbagai aksesori logam, dia melanjutkan.
"Lagi
pula, sudah berapa kali kubilang untuk tidak memanggilku Guru? Aku kan sudah
tidak aktif lagi."
"Oh,
benar juga, 'Nenek Tua'."
"Oke, itu
lebih baik kita hindari deh. Dari segi bunyinya."
Wanita berusia
hampir 30 tahun itu tiba-tiba menjadi serius. Namun, aku membalasnya dengan
tanggapan yang wajar.
"Tapi
hubungan Mari-san dan aku, selain Guru-Murid, adalah 'Bibi' dan 'Keponakan'
jadi—"
"Tolong panggil Mari-san saja, Tsuk-chan."
"Haaah."
Dulu dia akan
menerima sambil tertawa, baik dipanggil "Bibi" maupun
"Guru". Susah sekali.
Ngomong-ngomong,
"Tsuk-chan" adalah nama panggilanku yang terutama digunakan di
kalangan kerabat. Konon, itu berasal dari masa kecilku yang cadel, di mana aku
tidak bisa mengucapkan namaku, "Tsukino," dengan benar, dan terus
berkata, "Tsukuno bukan, Tsukuno bukan."
……Ada pepatah
yang mengatakan karakter masa kecil terbawa sampai dewasa, tetapi aku tidak
menyangka itu akan terbawa sampai usiaku saat ini.
Aku berharap
setidaknya di depan umum, dia memanggilku "Tsukino" alih-alih
"Bibi" atau "Guru," tetapi permintaanku itu ditolak hanya
dengan satu kata: "Tidak lucu." Tidak lucu, katanya.
Yah, aku tidak
berniat mencela hal itu lagi sekarang. Aku memutuskan untuk melanjutkan
pembicaraan.
"Jaranga
sekali Shisho—Mari-san berada di gedung asosiasi."
"Hm? Ah, aku
ada urusan di Sendagaya untuk pekerjaan sekarang. Terus, aku ingat ada
pertandingan Tsuk-chan, jadi aku mampir sebentar."
"Begitu ya.
Terima kasih banyak karena sudah menyem—"
Tepat ketika aku
mengucapkan terima kasih dan sedikit membungkuk dalam-dalam, Mari-san menyela.
"Cara
bermainmu membosankan, Tsuk-chan."
"────"
Itu bukanlah
kata-kata ringan dari Bibi seperti biasanya—bukan kata-kata Mari-san, tetapi
kata-kata dari "Guru" yang mengajarkanku segalanya tentang Shogi.
Aku menelan ludah dan menjawab.
"Anda…… melihatnya?"
"Ya,
sedikit."
Kata Mari-san
sambil mengayunkan ponselnya. Aku memalingkan wajah yang mulai pucat, tetapi
dia tidak menghentikan pengejarannya.
"Tidak
masalah kalau Tsuk-chan memiliki gaya bermain yang sangat kaku, itu
sudah dari dulu."
"Kalau
begitu……"
"Tapi
itu,"
Mari-san
menatapku dengan tatapan tajam yang jarang ia tunjukkan bahkan ketika masih
menjadi Guru.
"Hanya
berlaku jika disertai dengan keyakinan yang kuat, kan?"
"…………"
Aku tidak
bisa menjawab apa-apa dan hanya menggenggam lengan kiriku dengan tangan kanan. Mari-san menghela napas.
"Sampai
sekitar turnamen Joryuu Meijin (Juara Wanita), aku tidak punya keluhan.
Karakter Tsuk-chan muncul dengan cara yang baik, dan hasilnya juga
memuaskan."
"…………"
"Tapi,
mungkin setelah itu. Gaya bermain Tsuk-chan mulai goyah."
"…………...…………Ya."
Aku mengakuinya
dengan suara yang tercekat. Mungkin Mari-san menyadari bahwa aku kesulitan
mengungkapkan masalahku, jadi dia menyarankan agar kami pergi ke kafe terdekat.
Aku mengangguk
setuju, dan mengikutinya ke kafe sambil merapikan pikiranku.
Setelah duduk dan
memesan, aku sekali lagi mencurahkan isi hatiku kepada Mari-san.
"Seperti
yang Mari-san katakan… sampai beberapa waktu lalu, aku tidak pernah meragukan
gaya bermainku."
"Aku tahu. Tsuk-chan
selalu memanggilku Guru, tapi gaya bermainmu sama sekali tidak mirip
denganku."
"Menurutku
itu juga karena Mari-san terlalu bebas…"
"Ah-ha-ha,
aku mungkin satu-satunya pemain Shogi wanita yang melakukan nihu
(langkah ganda) lima kali di pertandingan resmi!"
"Itu sama
sekali tidak lucu."
Padahal saat itu
dia mendapat banyak kritik, tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam
keluarga. Karena orangnya selalu seperti ini, aku merasa hormat sekaligus
heran…
"Yah,
lupakan aku. Dari mana datangnya keraguan Tsuk-chan?"
"Soal
itu…"
Tepat ketika aku
memulai, Azuki Milk Latte pesananku tiba.
"Fufu."
Dengan kedatangan
manisan Jepang kesukaanku, aku pun sesaat melupakan masalah duniawi dan mataku
berbinar. Kemudian, pelayan itu mulai meletakkan bahan tambahan di atas meja,
yang sudah kupesan dengan biaya tambahan sebelumnya, dengan wajah sedikit bingung.
"Dan ini
dia, ada fresh milk, madu, sirup maple, dan gula stik."
"Ini sangat
membantu. Terima kasih banyak."
Aku membungkuk
dengan senyum sopan. Sementara Mari-san tertawa kecil, mengenang kata-kataku,
"Tersedia," pelayan itu pergi dengan business smile,
"Selamat menikmati."
Saat aku dengan
rajin melakukan proses penambahan pemanis "seperti biasa" pada Azuki
Milk-ku, Mari-san mendesakku, "Jadi?"
"Kenapa
jenius pemain Shogi wanita langka, Utakata Tsukino, tiba-tiba kehilangan
performanya?"
Untuk pertanyaan
itu, aku menyesap Azuki Milk yang sudah sangat manis dan menjawab.
"Begini,
belakangan ini jumlah orang yang menonton pertandinganku meningkat pesat.
Berbagai hal juga dikatakan di internet…"
"Begitu ya.
Ah, tapi…"
Saat Mari-san
hendak melanjutkan, "Tropical Big Thunder Parfait" pesanannya tiba. …Besar
sekali. Aku menatapnya dengan pandangan malas dan berkomentar.
"Sepertinya akan membuat mual."
"Hei, aku tidak mau mendengarnya darimu."
Mari-san membalas sambil menatap bahan pemanis yang
kugunakan. …Yah, selera setiap orang berbeda.
Sambil dengan berani mengeruk bagian es krim parfait
hingga membuatku khawatir, dia melanjutkan topik sebelumnya.
"Tsuk-chan
tipe yang peduli dengan reaksi di media sosial?"
Aku
menggelengkan kepalaku dengan kuat menanggapi pertanyaan itu.
"Tidak,
sama sekali tidak. Hanya saja, ada satu kritik yang bahkan aku tidak bisa
abaikan."
"Apa
itu?"
"Kecurigaan
bahwa gaya bermainku mirip dengan AI… perangkat lunak Shogi."
"Ah, yang semacam itu, ya."
Mari-san
berhenti makan parfait dan mengerang dengan ekspresi jengkel.
"Itu sudah ada sejak aku masih aktif. Kecurigaan menyontek menggunakan perangkat lunak Shogi."
"Ya. Aku
juga sedikit dituduh begitu."
"Terus? Kamu
benar-benar melakukannya?"
"Mana
mungkin."
"Benar
juga."
Mari-san mulai
memasukkan parfait ke mulutnya lagi, seolah dia sudah tahu. Aku
melanjutkan pembicaraan, sedikit merasa lega atas kepercayaan mutlaknya yang
tak bersyarat.
"Hal
itu sendiri tidak berdasar, jadi tidak ada keributan besar. Itu sangat membantu."
"Baguslah
kalau begitu. Tapi, lalu apa masalahnya?"
Aku menjawab
pertanyaan Mari-san yang masuk akal itu sambil menghela napas panjang.
"Masalahnya,
aku sendiri jadi mulai menyadari keberadaan AI itu lagi setelah insiden
tersebut."
"Ah……"
Mari-san bereaksi
seolah dia mengerti. Aku terus mencurahkan isi hatiku.
"Aku bisa
mengerti kekhawatiran orang-orang yang mengkritik. Gaya bermainku memang
cenderung mengejar jalur 'menemukan solusi optimal melalui akumulasi
pembelajaran demi pembelajaran'."
"Itu bisa
dikatakan untuk semua pemain Shogi. Tapi, ya, kecenderungan itu memang
lebih kuat padamu. Seolah-olah preferensi pribadi atau kebiasaanmu hampir tidak
tercermin dalam strategimu."
"Ya. Dan aku
mulai berpikir, mungkinkah bentuk sempurna dari pemikiran itu adalah AI? Tapi
kalau begitu…"
"Kamu mulai
berpikir, 'Apakah aku boleh terus seperti ini?'"
"Sayangnya,
iya."
"Masih muda
ya."
Dia tertawa
terbahak-bahak, lalu segera menambahkan self-correction aneh, "Eh,
tapi aku juga masih muda." Aku mengabaikan komedi tunggalnya dan
melanjutkan pembicaraan.
"Dan sebagai
akibat dari mulai mencari 'gaya bermain yang khas diriku' saat ini…"
"Yang
tercipta adalah pemain Shogi membosankan yang hanya merusak bentuk
sebelumnya, begitu ya."
"Uhh……"
Aku menundukkan
kepala. Sudah dari dulu begini. Aku sangat pandai maju menuju "jawaban
yang sudah ditentukan," tetapi aku bingung ketika diminta mencari
"jawabanku sendiri." Aku bisa menyelesaikan PR liburan musim panas di
hari pertama, tetapi "penelitian bebas" tidak pernah berjalan lancar.
Itulah diriku, Utakata Tsukino.
Itu sebabnya aku
mulai bermain Shogi, terinspirasi oleh Bibi-ku, pemain Shogi
wanita yang bebas dan terbuka, dan akhirnya mencapai beberapa hasil. Tepat
ketika aku mulai mendapatkan sedikit kepercayaan diri pada diriku… ini terjadi
lagi.
Aku masih bisa
bertahan dengan kemenangan tipis, jadi dalam hal rekor pertandingan, aku belum
jatuh ke dalam situasi yang serius. Tapi jika kemerosotan ini berlanjut, bahkan
itu pun terancam. Dan aku punya firasat bahwa jika aku benar-benar runtuh
sekali saja, aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Aku sudah melihat banyak
pemain Shogi seperti itu selama menjadi Shoureikai (Liga
Promosi).
Tiba-tiba aku
menyadari bahwa Mari-san sudah menghabiskan parfait raksasa itu. Aku
terkejut dan melihat Azuki Milk Latte-ku; aku baru menyesapnya sedikit
di awal. Aku buru-buru meminumnya, tetapi sudah dingin. Rasanya ingin menangis.
Meskipun manis dan enak.
Mungkin karena
wajahku terlihat seperti kiamat sudah dekat, Mari-san melembutkan nadanya.
"Tsuk-chan
itu, dari dulu, kurang 'bermain'. Mirip seperti kakakku."
Seseorang yang
merupakan perwujudan dari kata "bermain" baru saja mengatakan
sesuatu. Mari-san tertawa terbahak-bahak melihat ekspresiku.
"Wajahmu
bilang, 'Seseorang yang merupakan perwujudan dari kata bermain baru saja
mengatakan sesuatu,' ya."
"Ugh…!"
Aku
mengerang karena dia menebaknya dengan tepat. Mari-san menatap mataku dari depan dan
melanjutkan.
"Tentu saja
keseriusan dan sifat pantang mundur adalah kelebihanmu, Tsuk-chan. Tapi
ketika menghadapi masalah yang tidak jelas seperti masalahmu saat ini…
'jatidiri', penting untuk melebarkan pandanganmu."
"Melebarkan
pandangan?"
"Ya. Coba
lihat, misalnya, saat menjelajahi labirin yang gelap, handlight itu
praktis, tapi kalau kamu menjelajahi padang rumput di malam hari, lampion yang
menerangi area lebih luas adalah alat yang tepat, kan?"
"!"
"Intinya,
ketika titik tujuan sudah jelas, dan ketika kamu mencari sesuatu yang samar,
kamu harus mengganti caramu."
Itu adalah
ungkapan yang sangat khas Mari-san, sederhana namun tepat mengenai kebenaran.
Memang, itulah persisnya kesulitan yang kuhadapi sekarang. Aku benar-benar
mengalami penyempitan sudut pandang.
Aku gemetar
karena terharu atas pencerahan dari Guruku setelah sekian lama.
"……Guru, itu
sangat membantu."
"Ahaha, aku
mendapat 'sangat membantu' darimu! Tapi jangan Guru, Mari-san ya."
Meskipun
memperingatkanku, Mari-san tiba-tiba menggenggam erat tanganku yang ada di atas
meja. Aku terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu. Namun, Mari-san menatapku
dengan tatapan serius dan melanjutkan.
"Ngomong-ngomong.
Jika Tsuk-chan saat ini berpikir, 'Aku ingin melebarkan pandangan,' aku
punya pekerjaan paruh waktu yang sangat cocok untukmu… Tertarik?"
…? Eh, tunggu,
sepertinya pembicaraan mulai berbelok ke arah yang aneh…
"P-pekerjaan
paruh waktu? E-ehm, ngomong-ngomong, pekerjaan Mari-san saat ini itu apa—"
Tepat ketika aku
bertanya, ponsel Mari-san yang diletakkan di meja bergetar.
Pesan yang muncul
di layar menyentuh pandanganku.
《 Usa-kun》 《 Sudah
sampai. Kamu di mana sekarang?》
(Usa? Siapa
itu?)
Setidaknya itu
bukan seseorang yang kukenal, tetapi tidak ada gunanya terlalu mengorek
hubungan Bibi-ku.
Mari-san
melepaskan tanganku, mengambil ponselnya, dan buru-buru mengambil struk.
"Ah, maaf ya, Tsuk-chan. Aku harus pergi
sekarang."
Mari-san
berdiri sambil buru-buru bersiap. Aku menjawab dengan bingung.
"B-baik,
tidak masalah, tapi pekerjaan Mari-san itu pada dasarnya…"
"Ah,
detailnya lain kali saja ya! Sampai jumpa, Tsuk-chan!"
"Kalau
begitu…"
Mari-san berjalan
dengan tergesa-gesa. ──Namun, setelah beberapa langkah, dia menoleh ke belakang
dan berkata dengan senyum polos.
"Bermain,
itu penting! Pada akhirnya, yang penting dalam hidup adalah keseimbangan antara
kerja dan bermain! Ya, Tsuk-chan!"
Begitu, Guruku
mengucapkan kata-kata perpisahan yang sangat "khas dia" lalu pergi.
"……Baik! Itu
sangat membantu, Guru!"
Ketika aku
menjawab, dia dengan cepat membayar di kasir dan keluar dari kafe dengan sibuk
sambil berbicara di telepon dengan seseorang.
Sedangkan aku,
karena Azuki Milk Latte-ku masih setengah, aku memutuskan untuk
berlama-lama sendirian sebentar. Kebetulan aku duduk di dekat jendela, jadi aku terus mengikuti sosok
Mari-san dengan mataku. Dia berdiri di luar toko, melihat sekeliling sambil
berbicara di telepon. Tampaknya dia sedang menunggu seseorang. Apakah itu rekan
kerjanya?
Saat aku
mengawasinya, dia sepertinya menemukan orang yang ditunggu dan melambaikan
tangan. Dan orang yang dia temui itu adalah──
"……Eh?"
──Seorang
siswa SMA berambut pirang berseragam sekolah. Dan yang mengejutkan, begitu
mereka bertemu, dia dengan santai mengacak-acak rambut pemuda itu dengan akrab.
……Eh, ehm…
(Wanita
paruh baya yang mementingkan "bermain"… berinteraksi akrab… dengan
pemuda…)*
…………...…Aku
merasa melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat. Sangat. ………….
Aku
tiba-tiba mengalihkan pandanganku dari luar jendela dan menatap tanaman hias di
dalam kafe.
…………...
Ah, Azuki Milk
Latte-ku enak. Ya, sangat membantu, sangat membantu.
*
Dua puluh menit dari Sendagaya dengan Jalur Soubu. Aku turun di Stasiun Ogikubo dan berjalan
gontai menuju rumah.
Dulu, aku bahkan
diantar jemput mobil untuk menghindari wartawan, tetapi sekarang semuanya sudah
tenang. Aku hampir tidak pernah disapa orang dalam perjalanan. Yah, orang tidak
akan mudah mengingat wajah siswa SMA biasa yang hanya sesekali muncul di berita.
Selain itu, aku
juga melakukan sedikit penyamaran—meski agak memalukan untuk disebut
penyamaran.
Aku mengikat
rambutku ke atas dan memakai topi.
Jujur, itu
terlalu sederhana untuk disebut penyamaran, tetapi entah kenapa ini cukup
efektif. Alasannya, biasanya… saat pertandingan atau di depan wartawan, aku
selalu membiarkan rambutku terurai, dan entah bagaimana masyarakat umum
memiliki kesan kuat tentang "rambut hitam panjang"ku. Oleh karena
itu, hanya dengan menyembunyikan rambut, ciri khas "Utakata Tsukino"
cukup menghilang.
Maka, hari ini
pun, tanpa disapa siapa pun, aku berjalan santai di sepanjang "Jalan
Perbelanjaan Ogikubo Suzuran-dori" menuju rumah.
"Kurang bermain…… ya."
Aku merenungkan kritik dari Guruku dalam perjalanan pulang.
Terlepas dari sesi minum teh dengan Guruku tadi, fakta bahwa aku langsung
pulang setelah pertandingan juga menunjukkan "kurangnya bermain" pada
diriku. Aku merasa sedikit tertekan,
dan tanpa sadar menghela napas berat.
Ah, pada hari seperti ini, aku ingin
menikmati manisan sepuasnya… Tepat ketika aku memikirkan itu, aku sadar lupa
membeli "manisan setelah makan malam" hari ini. Kalau tidak salah,
stok kue kesukaanku juga sudah habis. Mau tidak mau aku harus mampir ke
minimarket, tetapi sejauh ini, di jalur tercepat menuju rumah, sudah tidak ada
toko yang menjual manisan kesukaanku.
(Tidak ada
pilihan, harus sedikit memutar. Eh, kalau tidak salah dari gang ini…)*
Berpikir
begitu, aku berbelok ke jalan yang biasanya tidak kulalui. Pemandangan yang
agak baru. Meskipun ini adalah daerah tempat tinggalku, ini adalah jalan di
luar rutinitas harian. Biasanya tidak ada alasan khusus untuk melewatinya…
…………?
"……Kafe?"
Di tengah
jalan yang kuanggap hanya dipenuhi rumah dan gedung-gedung komersial—tiba-tiba
papan nama asing menarik perhatianku. Aku mendekat untuk memeriksanya.
"……Board
Game Cafe?"
Tampaknya
itu adalah Board Game Cafe bernama "Kurumaza". Apakah baru
buka? Jika ada kafe baru di sekitar sini, tidak mungkin aku yang suka manisan
tidak menyadarinya…
"Mungkin
fokus utamanya board game daripada makanan dan minuman, ya."
Aku
sejujurnya tidak begitu mengerti seperti apa model bisnis "Board Game
Cafe" itu. Jika mirip dengan kafe manga, mungkin itu bukan tempat yang
dituju untuk tujuan kuliner.
Aku
menatap papan nama itu sejenak, tetapi karena itu bukan urusanku, aku hendak
pergi lagi──tepat pada saat itu, suara Bibi-ku tiba-tiba menggema di kepalaku,
seperti sebuah wahyu.
"Tsuk-chan
itu, dari dulu, kurang 'bermain'."
"!"
Aku
langsung menghentikan langkahku. …Bermain…. …Sejujurnya, meskipun
nasihat Guru sangat berharga, aku tidak bisa membayangkan bentuk konkret dari
"bermain" itu.
Night out, bermain api, bermain-main dengan pria. Ada
berbagai macam kata untuk menggambarkan "bermain" di dunia ini,
tetapi semuanya terasa sangat jauh dari diriku saat ini. Aku yang hidup hanya
untuk Shogi merasa tidak akan bisa menikmatinya. Tapi…
"……Board, Game…… ya…"
…………...
Dan ketika aku
menyadarinya. Aku sudah mulai menaiki tangga gedung itu.
◆◇◆
"S-selamat
siang~"
Mungkin itu
adalah bekas properti kafe. Aku mendorong pintu yang anehnya elegan dan kuno,
dan melangkah melewati ambang pintu Board Game Cafe
"Kurumaza". Dan pada saat yang sama, aku langsung sedikit menyesal.
Interiornya
ternyata cukup rapi, tetapi tidak ada pelanggan di sana. Terlalu ramai juga
merepotkan, tetapi restoran yang nol pelanggan juga memiliki standar yang
tinggi.
Tepat ketika
pikiran untuk kembali muncul di benakku, tiba-tiba sebuah suara datang dari
belakang.
"Ah,
t-tunggu, selamat datang!"
Seorang karyawan
yang tampak terkejut, disertai dengan salam yang jelas menunjukkan kegugupan
karena kedatangan pelanggan, berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Itu adalah pemuda
kurus berkacamata. Usianya mungkin sebaya denganku. Papan nama di celemeknya
bertuliskan "Tokiwa."
"E-ehm, a-ah… reservasi… nggak ada ya. Eh, ehm,
apakah Anda sendiri?"
Meskipun bekerja di layanan pelanggan, pemuda
itu—Tokiwa-san—terlihat sangat tidak terbiasa dengan orang dan sangat tidak
bisa diandalkan. Namun, itu justru melegakan bagiku yang sedang gugup. Entah
kenapa, aku merasakan keakraban yang aneh.
Dia mulai memainkan gagang kacamatanya dengan gugup, jadi
aku juga ikut menyentuh kacamata palsu yang kupakai—tambahan penyamaran yang
kupakai sesaat sebelum masuk toko. Kemudian, keheningan sesaat. …Apa ini, apa
kami sedang melakukan komunikasi kacamata? Tidak, aku harus bicara.
"A-anu, tidak ada reservasi, dan aku sendiri.
…Ngomong-ngomong, aku benar-benar pemula dalam hal board game, apakah
tidak apa-apa?"
Ketika aku berbicara sedikit cepat, Tokiwa-san, mungkin
merasakan kekhawatiranku, tiba-tiba tersenyum hangat, menghilangkan semua
kegugupannya yang aneh sebelumnya.
"Tentu saja.
Kami justru sangat menyambut. Silakan duduk di sini."
Aku pun
dipersilakan ke meja. Itu adalah meja untuk empat orang. Ketika aku meletakkan
barang-barangku di salah satu kursi, Tokiwa-san pergi ke konter, menyiapkan air
dan lap tangan. Sambil duduk dan melihatnya tanpa niat khusus, dia bergumam
sesuatu.
"Kenapa gyaru
itu harus telat di saat seperti ini, sih…"
…Rupanya,
karyawan lain sedang terlambat. Memang, meskipun pelanggan sepi, kafe sebesar
ini hanya memiliki satu staf itu aneh.
Tokiwa-san,
yang membawakan air dan lap tangan, menjelaskan sistem toko.
"Tempat
ini pada dasarnya memiliki sistem yang sama dengan kafe biasa. Tidak ada biaya
kursi atau semacamnya; selama Anda memesan makanan atau minuman, Anda bebas
bermain board game yang ada di toko."
"Begitu
ya. Ah, kalau begitu, aku mau Teh Gyokuro dulu… dengan gula dan madu."
"Ya,
baik──ya?"
"Ah,
tentu saja aku akan membayar biaya tambahan pemanis jika ada."
"E, ah, b-baik. Sudah dicatat. M-mohon tunggu
sebentar."
Setelah berkata begitu, pelayan itu kembali ke konter. Sementara aku mengamati interior toko
tanpa niat khusus, beberapa menit kemudian, dia membawakan teh dan pemanis. Dan
yang menyenangkan, dia tidak membawakan pemanis satu per satu, tetapi dalam
nampan yang berisi beberapa buah.
"Ini Teh
Gyokuro-nya. Ehm, gula stik dan madunya silakan diambil sendiri."
"Wah, terima
kasih. Sangat membantu, sangat membantu."
"Sangat…?"
Saat pelayan itu
memiringkan kepalanya, aku dengan riang menuangkan gula stik dan madu ke dalam Gyokuro
sambil memulai obrolan ringan.
"Ngomong-ngomong,
toko ini sudah buka sejak kapan?"
"Baru
sekitar dua bulan. Jadi aku dan staf lain masih belum terbiasa…"
"Begitu ya.
Apakah pelayan biasanya hanya satu orang?"
"Tidak,
tidak. Biasanya kami berdua, termasuk aku, ditambah manajer kadang-kadang,
tapi…"
Di situ, dia
menghela napas berat.
"Manajer
sering tidak ada, ditambah lagi hari ini rekan kerjaku juga terlambat…"
"K-kelihatannya
sulit, ya."
Sepertinya
lingkungan kerjanya agak black company. Mendengar itu, aku jadi merasa
sedikit tidak enak karena dilayani secara eksklusif.
"A-anu,
meskipun sudah terlambat, apakah tidak apa-apa aku datang sendirian?"
Aku
khawatir apakah seharusnya kafe ini digunakan oleh sekelompok teman yang datang
dan "meminjam" board game atau meja.
Tokiwa-san,
seolah merasakan kekhawatiranku, tersenyum balik.
"Tentu
saja sangat disambut. Untuk pelanggan yang datang sendirian, Anda bisa bermain
dengan kami para staf, atau bergabung dengan pelanggan lain di meja yang sama,
atau bahkan bermain game yang dirancang untuk satu pemain."
"Ah, kalau
begitu, untuk hari ini…"
"Ya, jika
tidak keberatan, aku akan menjadi penjelas dan juga lawan main Anda,
bagaimana?"
"Ya, itu
sangat membantu."
"Sangat…?"
"Ah, tidak, tolong bantu aku."
"Baik, sudah dicatat. Kalau begitu, hari ini aku,
Tokiwa, yang akan menjadi lawan main Anda. Ehm, kalau boleh tahu, nama
pelanggan…"
"Ah, aku Uta—"
Aku hampir memperkenalkan diri dengan lancar, tetapi
buru-buru menahan diri. Aku tidak curiga pada Tokiwa-san, tetapi karena aku
sudah sedikit menyamar, terasa canggung untuk mengungkapkan nama asliku
sekarang. Berpikir begitu, aku segera mengubah arah perkenalan diri.
"Uta—Panggil saja Utamaru."
"Tiba-tiba Rhymester."
Nama samaran mendadak itu memang dipaksakan. Seharusnya aku
bisa memilih sesuatu yang lebih baik. Aku benar-benar ingin menghilang saja
rasanya, tetapi Tokiwa-san, setelah melontarkan komentar, segera tersenyum
lembut membalas.
"Tapi
'Utamaru' bagus ya. Sepertinya sangat mudah dipanggil. Ah, kalau begitu, tolong
panggil aku juga 'Banjo,' jangan Tokiwa."
"Eh?"
Menanggapi
kebingunganku, Tokiwa-san menggaruk pipinya dengan malu.
"Itu semacam
nama panggilanku di kafe ini. Tokiwa dibalik, jadi Banjo. Ah, memalukan sekali
karena sangat sederhana, ya."
"T-tidak,
tidak begitu…"
"Tapi coba
lihat, ketika kita bermain, baik digital maupun analog, bukankah terasa lebih
natural menggunakan handle name atau nama panggilan?"
"Eh? Ah…
sepertinya begitu, ya."
Terutama dalam
kasusku, bermain dengan nama asli pasti akan mengingatkanku pada
"pertandingan." Dalam hal itu, seperti yang dia katakan,
"Utamaru" mungkin adalah nama dengan jarak yang pas.
Banjo-san—Tokiwa-san—menatapku
dengan senyum yang sangat tenang, setelah aku kembali tenang. …Hmm.
(Dia ini, mau dibilang apa ya, 'orang baik' dari lubuk
hati, baik dalam arti positif maupun negatif.)
Meskipun dia tidak terbiasa berinteraksi dengan orang, dia
sangat peka terhadap kekhawatiran dan kebingunganku, dan jelas sekali dia tulus
meskipun canggung dalam menunjukkan perhatian.
Jujur, dalam dunia persaingan, dia adalah tipe yang sulit
bertahan hidup. Di mata pemain Shogi wanita, Utakata Tsukino, dia pasti
terlihat rapuh.
Namun, di sisi
lain, sebagai Utakata Tsukino biasa──
(Bagaimana, Tsukino-chan. Shogi itu, menyenangkan?)
Tiba-tiba, kenangan masa kecil melintas di benakku, saat
ibuku pertama kali bermain "Dobutsu Shogi" denganku.
Aku mengendurkan bahuku dan sekali lagi mengarahkan senyum
alami yang muncul dari dalam diriku padanya.
"Kalau begitu, mohon bantuannya, Banjo-san."
"Ya, Utamaru-san."
Kami
berdua saling menyapa dan tersenyum. Banjo-san kemudian bertanya padaku.
"Baik,
Utamaru-san, apakah ada permintaan board game yang ingin Anda
mainkan?"
"Permintaan…
ya."
Karena aku masih
belum mengerti, Banjo-san menambahkan.
"Ah, bukan
hal yang sulit sama sekali. Jadi, misalnya, permintaan yang sering datang dari
pemula adalah, 'Aku ingin ada elemen keberuntungan,' atau 'Aku ingin yang bisa
memicu percakapan,' atau 'Aku tidak mau terlalu banyak berpikir,' begitulah."
"Ah, aku
mengerti. Kalau begitu, seleraku adalah…"
Aku mengucapkan
kesukaanku, mengikuti kata hati.
"Aku suka
bertarung dalam keheningan, mengerahkan kecerdasan di medan perang yang telah
menghilangkan campur tangan keberuntungan atau takdir."
"Apakah
profesi Anda seorang ahli strategi atau semacamnya?"
Aku menyadari
Banjo-san sedikit mundur. Sial. Aku tanpa sadar terlalu menunjukkan obsesiku
pada Shogi. Padahal hari ini aku datang untuk belajar
"bermain."
Seperti yang
kuduga, Banjo-san berbicara dengan ekspresi sedikit sulit.
"Kalau
begitu, secara ekstrem, aku jadi ingin merekomendasikan 'Shogi' ya…"
Dia mulai
mengatakan hal yang sama sekali tidak ada gunanya. Apa gunanya aku bermain Shogi
di kafe board game yang kudatangi sebagai penghiburan dari Shogi?
Aku buru-buru memperbaiki seleraku.
"A-a, tapi,
aku juga datang ke sini untuk membuka pintu baru hari ini, jadi daripada
sepenuhnya mengikuti seleraku, aku justru akan merasa sangat terbantu jika
sedikit digeser…"
"Ah,
aku mengerti. Baik. Kalau begitu…"
Setelah
mengatakan itu, Banjo-san menuju rak yang menyimpan banyak board game,
dan membawa kembali sebuah kotak seukuran majalah komik bulanan.
"Bagaimana
dengan 'Splendor' ini?"
Meskipun
dia bertanya bagaimana, aku belum memiliki bahan untuk membuat penilaian.
Banjo-san sepertinya mengerti hal itu dan melanjutkan penjelasan tentang garis
besarnya.
"Splendor
adalah game yang menggunakan kartu dan chip yang bergambar
berbagai permata."
Sambil
berbicara, Banjo-san mengeluarkan kartu dan chip yang sebenarnya
digunakan dari kotak dan memperlihatkannya padaku.
Aku tidak
tahu harus melihat apa, tetapi chip yang kuambil terasa lumayan berat
dan berkualitas tinggi, membuatku terkejut.
Baguslah
alatnya autentik. Sama seperti Shogi, meskipun Shogi magnetik
atau Shogi daring tentu memiliki keunggulannya masing-masing,
menggunakan papan dan bidak asli pasti meningkatkan fokus dan imersi.
Banjo-san
melanjutkan penjelasan.
"Detailnya
akan menyusul, tetapi pada dasarnya, ini adalah game di mana kamu
membeli kartu menggunakan chip ini sebagai mata uang untuk mendapatkan
poin."
Banjo-san
menjelaskan dengan hati-hati, termasuk menunjukkan bagian-bagian yang
dijelaskan.
"Namun,
chip dan kartu ini diambil dari area umum. Jadi…"
"Begitu,
di situ akan muncul negosiasi dengan lawan. Seperti saling berebut chip
dan kartu yang diinginkan, ya."
"Tepat
sekali. Utamaru-san, Anda cepat tanggap ya."
Banjo-san
bergumam seolah benar-benar terkesan. Tentu saja mungkin ada unsur basa-basi,
tetapi kata-katanya tidak terdengar palsu, dan anehnya aku tidak merasa buruk.
Banjo-san
melanjutkan dengan sedikit bersemangat, "Ngomong-ngomong."
"Dalam
game ini ada sistem yang disebut 'reservasi kartu' yang setara dengan
'pemesanan' dalam belanja di dunia nyata. Ini adalah sistem yang digunakan
ketika ada kartu yang sangat kamu inginkan, tetapi belum punya cukup uang, dan
kamu tidak mau kartu itu dibeli orang lain. Itu intinya."
Banjo-san
menekankan kata "intinya". Aku berpikir sejenak mengenai maksudnya
dan kemudian mengatakan apa yang terlintas di benakku.
"Dengan
kata lain, ada juga strategi di mana kita bisa menyita kartu yang diinginkan
lawan dengan cara mereservasinya terlebih dahulu, ya?"
"Ya,
benar sekali! Benar! Hebat sekali, Utamaru-san!"
Banjo-san
menunjukkan kegembiraan polos yang membuat kegugupannya di awal terasa seperti
kebohongan. Entah kenapa, orang ini sangat senang jika tingkat pemahamanku
terhadap game itu tinggi. Orang yang aneh sekali. Tapi yah, aku juga
begini terhadap Shogi, jadi aku bisa mengerti.
Ketika aku
tersenyum ramah, Banjo-san melanjutkan.
"Tidak hanya
pada game ini, dalam board game secara umum, gerakan yang
menghalangi keuntungan lawan juga disebut 'cut'. Ini adalah salah satu taktik
penting, dan kecenderungan itu sangat kuat terutama dalam format 'pertarungan
dua orang' seperti ini, karena…"
Tentu saja,
sebagai pemain Shogi wanita, aku tidak perlu diberitahu. Aku mengambil
alih penjelasannya.
"Interferensi
terhadap musuh dalam pertarungan dua orang langsung bekerja untuk keuntungan
kita sendiri, kan? Tentu saja kita harus secara aktif mengincarnya. Di sisi
lain, game yang melibatkan tiga orang atau lebih memerlukan sedikit
kehati-hatian. Jika kita mengerahkan upaya untuk menghalangi seseorang, pihak
ketiga justru yang paling diuntungkan."
"Ooh…"
Banjo-san
menatapku, yang menjelaskan dengan tenang, dengan mata berbinar-binar seolah
dia sedang memuja dewa.
Aku
terkejut. Ada apa dengan orang ini? Apakah dia sering menjelaskan kepada orang
yang daya tangkapnya buruk?
Mungkin
dia menyadari aku agak mundur, dia berdeham dan menenangkan diri.
"Jadi,
seperti ini, meskipun ini adalah game strategi yang hampir tanpa elemen
keberuntungan, ada sekitar sepuluh persen keberuntungan yang terlibat,
tergantung pada waktu kartu muncul. Selain itu, ini bukan game untuk menikmati percakapan, tetapi juga
tidak memaksa keheningan. Bagaimana?"
Itu adalah jenis game
yang sedikit bergeser setengah langkah dari seleraku yang kusebutkan.
Aku
tersenyum dan menjawabnya.
"Kedengarannya
menarik. Aku pasti ingin
mencobanya."
"Benarkah!
Kalau begitu, ayo kita main!"
Banjo-san
tersenyum lebar seperti anak kecil dan mulai menyiapkan dengan riang. Dia pasti sangat menyukai board game.
Senyumnya membuatku ikut merasa senang. Tapi…
"Ngomong-ngomong, apakah Banjo-san hebat dalam game
ini?"
"Ah, ya. Karena pekerjaanku, aku sudah bermain game
ini dengan banyak pelanggan, jadi pengalaman bermainku pasti tinggi. Dan jujur,
game ini adalah tipe yang perbedaan pengetahuan cukup berpengaruh, bisa
dibilang begitu…"
"Pengetahuan
tentang Jouseki (Langkah standar) memang berhubungan langsung dengan
kekuatan dalam game papan, ya."
"Ya,
tepat sekali. Ngomong-ngomong, Utamaru-san sering menggunakan kata-kata yang
keren ya."
Sambil
melanjutkan persiapan dan tersenyum seperti biasa, Banjo-san melontarkan
kalimat yang sedikit tidak bisa kuabaikan.
"Ah,
tapi jangan khawatir. Awalnya, aku juga tidak akan bermain terlalu
serius."
Itu memang perhatian yang tepat untuk lawan yang baru
pertama kali main board game.
Namun, bagi diriku… bagi pemain Shogi wanita, Utakata
Tsukino, yang hidup dengan cara menipu orang lain di dunia Shogi,
pernyataan itu hampir sama dengan menginjak ekor harimau.
Aku berusaha mempertahankan senyum dan berkomentar ringan
pada Banjo-san.
"Maksud Anda──Anda akan meremehkan saya? Melawan
saya?"
"Eh? Ah, tidak, bukan meremehkan, maksudku, ehm,
itu…"
Banjo-san
berhenti menyiapkan dan terlihat bingung. Aku melanjutkan, sambil tetap
memasang senyum palsu.
"Fufu,
jangan khawatirkan aku. Aku minta Anda bermain dengan sekuat tenaga."
"Eh?
Tidak, tapi, seperti yang kubilang tadi, dalam game ini orang yang
berpengalaman pasti jauh lebih unggul…"
"Banjo-san."
"Y-ya."
"Dengan
sekuat tenaga, mohon bantuannya."
Menerima
tatapan seriusku, Banjo-san terlihat sangat bingung, lalu menelan ludah, dan
menyerah.
"…K-kalau
itu yang Anda inginkan."
"Sangat membantu."
Aku membalas dengan senyum manis. Bagaimanapun, dalam
kompetisi, keseriusan adalah yang terbaik. Meskipun begitu, untuk sedikit
meredakan suasana yang tegang ini, aku menambahkan sedikit provokasi bercanda
kepada Banjo-san.
"Fufu, tolong jangan berkecil hati ya, Banjo-san,
bahkan jika aku yang menang."
"Ha-ha,
Anda mengatakannya sendiri ya, Utamaru-san."
Banjo-san tertawa menyegarkan. …Aku merasa tidak enak pada
orang baik seperti dia, tetapi selama ini adalah kompetisi, meskipun hanya
bermain, aku tidak berniat kalah. Aku diam-diam memompa semangat di dadaku.
Aku kemudian mendengarkan penjelasan rinci tentang aturan game
ini dari Banjo-san.
Aku memastikan bahwa elemen keberuntungannya kurang dari
yang kubayangkan, dan setelah itu, aku dengan tepat mengatur logika game
ini dan poin-poin penting untuk meraih kemenangan di kepalaku.
Hmm, menarik. Mengerjakan "strategi" selain
Shogi seperti ini terasa sangat baru.
Namun, justru karena itu, proses berpikirku berjalan terlalu
lancar, seperti orang dewasa yang kekanak-kanakan. Aku merasa tidak mungkin kalah lagi.
"Kalau
begitu, mari kita mulai, Utamaru-san."
"Ya. Mohon
bantuannya."
Aku membungkuk
dalam-dalam sebagai salam sebelum dimulainya pertandingan. Banjo-san juga
sedikit bingung, lalu tersenyum dan membungkuk, "I-ini formal sekali
ya." Hmm, dia memang pemuda yang baik. Namun…
(Meskipun
begitu, aku minta maaf. Aku akan membuat senyum itu menghilang dalam beberapa
puluh menit ke depan.)
Meskipun
demikian, tempat ini sudah menjadi dunia pertarungan. Selama kami berdua sudah
mengeluarkan pedang, tidak ada lagi pilihan untuk "meremehkan".
Begitu game
dimulai, aku menyerang dengan ganas seperti api. Aku memanfaatkan "sistem
reservasi" yang merupakan inti dari game ini, menghalangi Banjo-san
berulang kali, sampai dia terkesan, "Utamaru-san, Anda benar-benar cepat
tanggap ya!"
Di sisi
lain, aku mengatur area permainanku dengan lancar, dan terus berjalan dengan
pasti menuju kemenangan yang kokoh. Dan tepat dua puluh tiga menit kemudian──
"Aku
menyerah."
Aku
menemukan diriku mengucapkan deklarasi menyerah yang pahit dan penuh
penyesalan, seolah-olah ini adalah pertandingan Shogi.
…………...
Lho!?
Banjo-san,
yang melihatku terus menatap papan game—tumpukan kartu di atas meja—dan
dengan cepat melakukan "ulasan pertandingan di otak" sambil sangat
terkejut, memberikan dukungan dengan senyum masam.
"Hebat
sekali, Utamaru-san! Strategi tingkat tinggi yang luar biasa untuk pertandingan
pertama…"
"Tapi
aku kalah."
"Y-yah,
ini board game, jadi bisa dibilang ini keberuntungan sesaat…"
"Tadi
Banjo-san bilang, elemen keberuntungan dalam game ini hanya sekitar
sepuluh persen."
"E-eh, yah.
Tapi, ehm, sepuluh persen itu kali ini menguntungkan aku…"
"Banjo-san."
Aku memotong
kata-katanya, mengangkat wajah, dan menatap matanya lurus-lurus.
"Kerendahan
hati pemenang terkadang merupakan penghinaan bagi pecundang."
"…………"
Banjo-san
menunjukkan ekspresi serius, seolah tertekan oleh tekananku. Melihat itu, aku
langsung tersadar.
(Tidak, tidak,
kenapa aku membawa-bawa logika seperti itu untuk permainan 'bermain'!?)
Wajahku tiba-tiba
terasa panas. Fakta bahwa aku kalah meskipun bermain serius sungguh
mengejutkan, sehingga aku kehilangan ketenangan. Diriku yang asli muncul.
Sungguh memalukan.
Aku buru-buru
meminta maaf.
"A-anu,
maaf, yang tadi itu—"
"……Memang
benar."
"Eh?"
Namun,
Banjo-san mengangguk seolah dia telah mencapai pemahaman yang mendalam.
"Takanashi-san
yang suka pamer kemenangan itu, meskipun sedikit menyebalkan, tapi juga terasa
melegakan ya."
"?
Takanashi-san?"
Siapa yang dia
bicarakan. Ketika aku memasang tanda tanya, Banjo-san tiba-tiba menatap mataku
dengan sungguh-sungguh, dan menjawab.
"Terima
kasih, Utamaru-san. Kritikmu tadi sangat berguna."
"Eh,
a-anu…"
Di tengah
kebingunganku, Banjo-san mengangkat tanda peace yang terlihat canggung
dan menyatakan.
"Jadi,
'Splendor' dimenangkan olehku. Yeaah, berhasil, v-v!"
Banjo-san
menunjukkan senyum dan gerakan jari yang sangat kaku. Melihat pemandangan itu,
aku tanpa sadar tertawa kecil.
"Ya ampun,
apa-apaan itu, Banjo-san."
"M-maaf. Aku
masih mencari cara yang tepat untuk mengekspresikan kegembiraan diriku…"
Sambil berkata
begitu, Banjo-san bergumam pada dirinya sendiri, "Pokoknya, Takanashi-san
tidak boleh dijadikan contoh…" Sungguh orang yang lucu dan baik hati. Dan
dalam berbagai hal, aku merasa dia adalah orang yang harus banyak kupelajari
saat ini.
Tentu saja itu
termasuk sisi kemanusiaannya. Tapi juga, mengenai jenis "gaya
bermain."
(Memang,
strateginya luar biasa. Cara dia mengambil buffer untuk elemen keberuntungan
yang kecil jelas lebih baik dariku. Itu memang cara berpikir yang tidak ada
dalam Shogi, dan karena itulah, terasa segar.)
Aku merasakan
bagian otakku yang biasanya tidak digunakan sedang distimulasi. Ini mungkin
benar-benar bagus. Aku merasa "bermain" yang kurang dariku, seperti
kata Guruku, ada di sini.
Mungkin karena
dia mengkhawatirkan kekalahanku, Banjo-san menawarkan.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita bermain satu pertandingan lagi, anggap yang tadi
latihan?"
Itu adalah ajakan
yang sangat menarik. Tapi…
"Tidak,
terima kasih banyak, tapi tidak usah."
"Ah, Anda
tidak menyukainya?"
"Tidak,
bukan begitu. Justru karena sangat menyenangkan, aku ingin mencoba bentuk
lain…"
Di situ, aku
sedikit tersipu dan menjawab.
"Aku ingin
bermain denganmu."
Setelah
mengatakannya, aku merasa malu karena itu terdengar seperti pernyataan cinta
pribadi padanya… Namun, Banjo-san sendiri…
"Syukurlah!"
Dia menjawab
tanpa sedikit pun rasa malu, hanya dengan mata berbinar murni.
"Board
game memang menyenangkan, kan!"
"Eh?"
Meskipun
bukan pernyataan cinta yang sebenarnya, kata-kataku mengandung rasa suka
terhadap Banjo-san secara pribadi. Namun, dia sepertinya tidak menangkapnya
sama sekali. Dia hanya sangat senang karena ada pelanggan baru yang menyadari
daya tarik board game. Begitulah tampangnya.
Aku
tertawa kecil melihat tingkahnya dan menjawab.
"Ya,
benar. Menyenangkan, dan… aku rasa aku akan menyukainya."
"Benar
kan! Benar kan!"
Banjo-san
tertawa, benar-benar gembira dari lubuk hatinya. Dia dengan cepat membereskan Splendor
sambil bertanya padaku.
"Ngomong-ngomong,
Utamaru-san, apakah Anda ada waktu hari ini?"
"Ah,
ehm, sekitar satu setengah jam lagi…"
"Baik.
Kalau begitu, mari kita cari beberapa game yang bisa dimainkan dalam
waktu singkat."
"Mohon
bantuannya. Ah, boleh aku ikut melihat raknya bersamamu?"
"Tentu saja.
Silakan saja."
Aku berdiri di
sampingnya yang gembira dengan polos, dan kami berdua melihat rak board game.
Meskipun aku
masih tidak mengerti banyak, ketika aku mengambil sebuah kotak karena tertarik
dengan visual atau judulnya, Banjo-san akan dengan gembira menjelaskan isinya
secara singkat seolah berkata, "Selera yang bagus," dan menarik
minatku, lalu menutup pembicaraan dengan, "Ayo kita mainkan ini lain
kali."
Sejujurnya,
sebagai seseorang yang berusaha mempromosikan Shogi, keahliannya dalam
menjelaskan sangat luar biasa hingga aku ingin menirunya.
Aku
benar-benar terkesan dari lubuk hati.
"Penjelasan
Banjo-san semuanya sangat ringkas, mudah dimengerti, dan luar biasa."
"Eh?"
Mendengar
penilaianku, dia menunjukkan ekspresi terkejut sesaat, lalu tertawa kecil
dengan sedikit malu.
"Aku
senang Anda mengatakan itu… Tapi
itu mungkin berkat rekan kerjaku."
"Rekan
kerja, ya?"
"Ya.
Sayangnya dia terlambat hari ini. Begini, rekan kerjaku itu… awalnya
benar-benar tidak tertarik sama sekali dengan board game."
"Eh, padahal dia staf board game cafe?"
"Ya, padahal dia staf board game cafe."
Sambil melanjutkan dengan nada, "Benar-benar
merepotkan," wajahnya terlihat sangat tenang.
"Ketika aku mencoba menjelaskan board game
padanya, secara alami, aku harus memikirkan cara bicara yang berbeda."
"Cara
yang berbeda…"
"Menjelaskan
dengan ringkas. Menekankan
poin-poin positif. Sama sekali tidak menggunakan kata-kata yang rumit. Detail dijelaskan hanya setelah
dia benar-benar tertarik, begitu kira-kira."
"I-itu masuk
akal."
Dia sepertinya
mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari pekerjaan ini. …Meskipun ada
masalah karena subjek yang ia pelajari bukanlah pelanggan melainkan rekan
kerjanya.
Apa pun itu, itu
adalah cerita yang bagus. Aku mengucapkan terima kasih padanya.
"Terima
kasih atas cerita yang sangat berharga ini, itu sangat membantu."
"S-sangat
membantu ya."
Banjo-san
bereaksi terhadap pilihan kata-kataku yang sedikit unik. Dia bertanya sambil
mengobrol santai.
"Utamaru-san,
Anda punya cara bicara yang unik ya?"
"M-maaf. Itu
kebiasaan, atau lebih karena lingkungan hidupku…"
Yah, ini lebih
karena Bibi-ku yang menanamkannya padaku saat masa kecil untuk
bersenang-senang, daripada ada hubungannya dengan Shogi.
Banjo-san membalas dengan senyum.
"Tidak, aku
hanya berpikir, keren sekali kalau kata-kata seperti itu keluar secara alami.
Padahal usia kita tidak jauh berbeda."
"Ah, aku
tujuh belas."
"Berarti
kita seumuran."
Banjo-san
tersenyum gembira. Dan dalam alur percakapan itu, aku tanpa sengaja mengatakan
sesuatu yang agak ceroboh.
"Kalau
begitu, Banjo-san yang bekerja sambil bersekolah di SMA jauh lebih hebat…"
"Ah,
tidak."
Banjo-san
menyangkal dengan sedikit malu.
"Aku
tidak bersekolah di SMA, sekarang."
"Ah…"
Aku
langsung menyesal. Itu adalah kesalahan yang tidak akan pernah kulakukan
biasanya, tetapi alur percakapan tadi, entah kenapa, seperti jebakan. Tapi
tetap saja, aku terlalu ceroboh.
Saat aku
merenung, Banjo-san memberikan dukungan dengan perhatiannya.
"T-tapi
tolong jangan khawatir sama sekali. Aku keluar atas kemauanku sendiri,
kok…!"
"Ah, kalau
begitu, begitu, Anda punya impian lain…"
"T-tidak,
tidak juga."
Kesalahan kedua.
Aku terlalu ceroboh hari ini. Aduh…
Saat aku memeluk
kepalaku dalam hati, Banjo-san melanjutkan.
"Pokoknya,
aku keluar sekolah dengan tenang, begitu…"
"B-benar
kan! Pasti bukan karena kamu punya masalah apa pun sampai harus keluar!"
"Eh, ah,
tidak, aku keluar sekolah setelah mengalami masalah yang cukup parah,
kok…"
Kesalahan ketiga.
Kalau dalam bisbol, ini sudah out. Aku ingin mati saja.
Ketika aku
menutupi wajahku dengan kedua tangan, tidak hanya dalam hati tetapi juga di
dunia nyata, Banjo-san tertawa masam dan meminta maaf.
"Hehe,
yang tadi itu buruk ya. Aku juga masih perlu belajar."
"Eh?"
"Lihat, tadi, poin-poin tentang penjelasan board
game. Bagian 'ringkas
dan katakan hal positif'. Aku benar-benar tidak mematuhinya sekarang,
kan?"
"Ah…"
"Kalau ada
Takanashi-san, aku pasti sudah dimarahi habis-habisan. Untung saja."
"Banjo-san…"
Aku sedikit lega
dengan candaannya. Dia melanjutkan dengan lembut padaku.
"Baiklah,
cerita 'Episode Mundur Sekolah yang Bikin Menciut Hati: Babak Neraka Lumpur'
milikku akan kita bahas lain kali saja."
"Apa judul
itu! Aku jadi penasaran banget!"
"Fufu,
benarkan? Tapi sayang, cerita ini hanya bisa didengar setelah kunjungan yang
kesepuluh."
"Betapa
pintarnya berbisnis."
Banjo-san tertawa
bercanda. Senyumnya sekali lagi benar-benar menyelamatkanku. Dia benar-benar
orang yang baik.
Dia berdeham
untuk mengembalikan pembicaraan ke topik awal.
"Ngomong-ngomong, mari kita main board game
berikutnya, Utamaru-san."
"Oh, benar
juga."
Aku sedikit lupa.
Banjo-san menggodaku.
"Sepertinya
luka kekalahanmu sudah sembuh?"
"Anda
mengatakannya, ya?"
Aku pun membalas
dengan nada menantang.
"Berikutnya…
tidak, aku tidak akan pernah kalah lagi. Aku sebenarnya kuat lho dalam hal
seperti ini."
"Haha, itu
menakutkan. Kalau begitu, aku harus membalasnya dengan sekuat tenaga
juga."
"Itu sangat
membantu. Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku bisa mematahkan keangkuhan
Banjo-san dengan kemenangan beruntun mulai sekarang."
Aku mendengus dan
bersemangat.
Setelah
mempelajari pertandingan pertama tadi, aku tidak punya titik buta lagi. Kalau
begitu, meskipun sedikit tidak enak pada Banjo-san, demi memulihkan rasa
percaya diriku, aku akan mendominasi mulai sekarang.
Ah, kasihan sekali dirimu, tuan yang baik
hati, Banjo-sama.
──Satu setengah
jam kemudian, setelah kami berdua kembali asyik bermain board game.
Di sana, ada
diriku, yang telah kalah di semua pertandingan dan dengan sempurna mematahkan
keangkuhan diriku sendiri.
…………... Kenapa ya?
"Ah,
sepertinya waktu kita sudah habis. Mari kita sudahi sampai di sini saja."
"Eh? Ah,
ya…"
Aku berdiri,
didorong oleh Banjo-san, sambil banyak tanda tanya melayang di kepalaku.
…………Eh, aku, baru
saja memenangkan gelar Joryuu Meijin beberapa waktu lalu, kan? Aku
datang ke sini setelah memenangkan pertandingan melawan pemain Shogi
wanita berpengalaman, meskipun tipis, kan?
Tapi, kalah
semua?
"…………"
"Kalau
begitu, total tagihannya 1.100 yen untuk dua minuman."
Aku sudah
berada di depan kasir. Aku berhasil merespons sambil masih linglung.
"…Ehm, bayar pakai PayPay."
"Baik."
Aku memindai ponselku ke reader kecil yang disodorkan
Banjo-san. Suara elektronik yang biasanya terasa lucu, hari ini terasa
mengganggu di telingaku.
Setelah pembayaran selesai, Banjo-san mengucapkan kalimat
standar.
"Kami menantikan kunjungan Anda berikutnya."
"Eh? Ah, ya.
Benar juga. Aku harus membalas kekalahan ini."
"B-benar juga."
Banjo-san menjawab dengan canggung. Sementara itu, aku, yang melihat saldo yang
ditampilkan di ponselku, memeluk kepalaku karena alasan lain.
(Meskipun
begitu, dompetku tidak cukup tebal untuk sering-sering ke kafe setiap hari…)
Faktanya,
uang sakuku adalah jumlah rata-rata siswa SMA pada umumnya. Penghasilanku dari Shogi
dikelola sepenuhnya oleh orang tuaku. Tentu saja, pengeluaran yang diperlukan
terkait Shogi akan dibayarkan sebagai "biaya operasional," dan
karena itu, aku tidak pernah kekurangan uang.
Namun,
aku tidak punya nyali untuk secara terang-terangan melaporkan biaya kafe board
game sebagai "biaya operasional" kepada orang tuaku.
(Tapi kalau
hanya dari uang saku, seminggu sekali pun agak berat…)
Aku mulai
menghitung lagi dengan cemberut.
Tiba-tiba,
Banjo-san, yang mungkin salah paham melihat tingkahku, membungkuk meminta maaf
dengan ekspresi sangat menyesal.
"A-anu, ehm,
hari ini aku benar-benar minta maaf."
"Eh?"
"Begini… Utamaru-san itu luar biasa sekali, entah
bagaimana. Daya serapmu terhadap penjelasan aturan benar-benar seperti 'memukul
akan menghasilkan gema,' dan sebagai seorang board gamer sejati,
semangatku benar-benar membuncah di luar pekerjaan, begitu…"
Banjo-san menggaruk pipinya dengan malu.
"Akibatnya,
aku benar-benar lupa membatasi diri… Sungguh, aku gagal sebagai
pelayan."
Banjo-san melanjutkan, seolah dia benar-benar malu sampai
ingin menghilang saja.
Yah, memang, kafe board game yang membiarkan
pelanggan kalah telak dalam pertarungan satu lawan satu dan pulang, jika
dipikir-pikir, itu keterlaluan. Mungkin itu memang membuat dia gagal sebagai
staf. Tapi…
Aku tersenyum kecil menanggapinya.
"Aku senang, kok. Banjo-san benar-benar menghadapi aku
dengan sungguh-sungguh, bahkan melampaui batasan pekerjaan. Justru, terima
kasih banyak. Itu benar-benar menyenangkan."
"Utamaru-san…"
Banjo-san menunjukkan wajah sedikit lega. Dia benar-benar
orang yang tidak terlihat seperti "pelayan." Sepanjang waktu, sama
sekali tidak ada "aroma bisnis" darinya. Itu, bagiku… sangat
menyenangkan. Mungkinkah karena itu.
Tanpa kusadari, aku juga mengucapkan isi hatiku yang lebih
dari yang diperlukan.
"Selain itu,
aku sangat menyukai orang yang bisa serius menghadapi apa yang mereka
sukai."
"Eh?"
"Eh?"
…Melihat reaksi
Banjo-san yang terperangah, aku ikut terperangah.
Beberapa detik
kemudian… pipiku mulai memanas. A-apa yang baru saja kukatakan?
Berani-beraninya aku mengatakan hal yang terdengar seperti "Aku sangat
menyukai kepribadianmu" kepada lawan jenis seumuran di depan wajahnya!
"Ah, tidak,
itu bukan, ehm…"
Aku berusaha
memperbaiki alur pembicaraan dengan panik. Tepat pada saat itu, bel di pintu
masuk toko tiba-tiba berdering. Seseorang telah datang.
"Ah, selamat
datang────oh, Takanashi-san rupanya."
Banjo-san secara
terang-terangan mengubah sikapnya saat melihat pengunjung itu. Aku menduga itu
adalah karyawan lain atau semacamnya.
Aku melihat
seorang siswa SMA cantik berambut merah muda yang sedang cemberut dengan manis.
"Ugh, bikin bad
mood. Kenapa gak dilayani sampai akhir sih, Banjo. Bilang 'Selamat datang
kembali, Tuan' gitu."
"Lho, kita
kan tidak menggunakan format layanan pelanggan seperti itu biasanya."
"Eh?
Aku sering melakukannya, kok. Just for fun."
"Tolong
jangan ubah genre toko kami sesukamu, Takanashi-san… Ngomong-ngomong, ini lho,
pelanggan sungguhan masih ada."
Banjo-san melihat
ke arahku. Karena aku sudah selesai membayar dan hampir keluar, sebenarnya
tidak perlu diperkenalkan, tetapi aku memberi hormat padanya.
"Aku
Utamaru."
"Gila, itu
kan nama lawak. Sense of naming-nya dewa banget."
Asosiasinya
ternyata cukup jadul. Saat aku tertawa samar, dia mendesakku.
"Aku
Takanashi Mifuru. Salam kenal, Uta-chan."
"M-mohon
bantuannya, Takanashi-san."
"Ngomong-ngomong, Uta-chan, maaf ya?"
"Eh?"
"Soalnya gara-gara aku telat, gadis imut harus main
berdua dengan Pecinta Keju Sapi gitu kan?"
"Siapa yang
Pecinta Keju Sapi, siapa!"
"Kalau
begitu Banjo, menu apa yang paling kamu suka di Sukiya?"
"Cheese
Gyudon."
"Lah,
beneran Pecinta Keju Sapi dong. Kocak."
"Jangan
diketawain. Lagipula, kamu salah orang untuk minta maaf karena terlambat, gal."
"Aduh, Banjo
berisik, menjijikkan, dan sulit diubah."
"Komentar
balasanmu terlalu berlebihan, woi."
A-apa
yang sedang kutonton sekarang. Padahal baru sekitar satu menit sejak
Takanashi-san muncul, tetapi pertukaran kata-kata mereka begitu cepat hingga
aku merasa sudah kenyang.
Aku
memasang senyum ramah dan sedikit membalikkan badan ke arah pintu keluar.
"Kalau
begitu, aku permisi…"
Tiba-tiba
Banjo-san datang untuk mengantarku dengan tergesa-gesa.
"A-anu,
ada banyak board game seru lainnya selain yang kita mainkan hari ini,
jadi jika tertarik, ehm, aku akan senang jika Anda datang berkunjung
lagi!"
"B-baik.
Jika aku ada waktu dan uang, aku pasti akan datang…"
Karena
keadaan keuanganku tidak memungkinkan untuk sering datang, aku menjawab dengan
samar dan hendak pergi.
Namun,
Takanashi-san, dengan kebebasan yang tidak peduli dengan proses kepergianku,
dengan santai melontarkan topik pembicaraan lain.
"Nah, Banjo
dan Uta-chan, kalian main apa dan siapa menang berapa kali hari ini?"
"Eh? Ah,
itu…"
Banjo-san terlihat canggung dengan pertanyaan itu. Aku menghela napas dan menjawabnya
dengan business smile.
"Memalukan,
tetapi dari lima game aku kalah semua. Kalau begitu, aku permisi
dulu—"
"Eh,
serius? Kocak banget. Uta-chan payah banget ya? Wkwk."
"……Ya?"
Di situ, aku
terhenti dari langkahku untuk keluar.
"T-tunggu
sebentar, Takanashi-san!"
Banjo-san mencoba
menghentikannya, menyadari aku kesal, tetapi Takanashi-san melanjutkan tanpa
peduli.
"Ya, soalnya Banjo itu lemah banget dalam board game!
Terus kamu bisa kalah beruntun gitu
wkwk."
"Eh? Lemah?
Banjo-san?"
Itu adalah hal
yang tidak bisa kuabaikan. Aku menatapnya dengan terkejut. Setelah melotot pada
Takanashi-san dengan sangat tidak puas, dia menghela napas dan menjelaskan
padaku.
"Yah,
melawan dia—Takanashi-san—tingkat kemenanganku memang rendah."
"Hehehe."
Takanashi-san
membusungkan dada. Tapi Banjo-san segera menambahkan penjelasan.
"Tapi itu
karena aku pada dasarnya menahan diri. Lagipula, dengarkan ini, Utamaru-san.
Orang ini, kebalikan dari kamu, dia justru akan marah kalau aku bermain dengan
sungguh-sungguh."
Mungkin karena
terbawa suasana, Banjo-san mulai mengeluh.
"Dan
lagi, orang ini sering menyalahgunakan 'Ah, yang ini dibatalkan saja'! Tapi
karena dia pemula, semua orang mengalah, dan kemudian dia tiba-tiba memukul
kita dengan keberuntungan dadu yang luar biasa! Jadi sebenarnya bukan berarti
aku lemah…"
"Hahaha,
alasan otaku pecundang terdengar menyedihkan! Ah, maaf, bukannya
Uta-chan yang lebih lemah ya? Wkwk."
"Kocak,"
Takanashi-san terus tertawa terbahak-bahak. ………….
Sambil
menerima ejekan itu, aku membuka pintu toko dengan ekspresi seolah-olah tidak
tahan mendengarnya.
"Ah,
Utamaru-san! M-maaf, Takanashi-san hanya…!"
"Eh, Uta-chan sudah mau pulang? Padahal aku juga ingin
main satu game denganmu."
Kepada aku yang hendak keluar, Banjo-san meminta maaf, dan
Takanashi-san melontarkan kalimat yang lebih provokatif secara alami.
Aku berbalik ke arah mereka berdua dengan "senyum
terbaik" – dan tanpa kusadari, aku telah mengucapkan kalimat yang
mengabaikan kondisi keuanganku sendiri.
"Kalau begitu, alangkah baiknya jika besok di jam yang
sama kalian bersedia bertanding denganku – kalian berdua."
◆◇◆
Kesimpulannya, aku terus menelan kekalahan beruntun dari
mereka berdua selama kurang lebih tiga minggu setelah itu.
Tentu saja, aku
"biasa" kalah dari Banjo-san seperti pada pertemuan pertama. Selain
itu, "Takanashi Mifuru" memang musuh alami yang terlalu kuat bagiku.
Seperti kesaksian
Banjo-san, dia benar-benar memukulku dengan "batal" dan
"keberuntungan." Kekuatan ini adalah konsep yang tidak ada dalam Shogi
dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Di sisi lain, karena kepribadianku, aku
juga tidak bisa membalas dengan "membatalkan pembatalan."
Selain itu,
sementara aku meminta Banjo-san untuk "tidak menahan diri,"
Takanashi-san memaksanya untuk "tidak bermain sungguh-sungguh,"
kebalikan dariku. Hasilnya, Banjo-san berubah menjadi "familias gyaru"
yang "membantu Takanashi-san dan menyerangku saja."
Maka, sudah pasti
dalam permainan bertiga, Takanashi-san hampir selalu mendominasi.
Namun, anehnya,
ini sama sekali tidak terasa tidak menyenangkan. Sebaliknya, jika hanya
berfokus pada "kesenangan bermain game," bisa dikatakan
Takanashi-san yang berada satu meja denganku jauh lebih seru.
Entah bagaimana,
dia adalah orang yang secara alami berbakat untuk "bermain." Dia akan
bersorak jika menang, merajuk jika kalah, dan membuat suasana permainan menjadi
ramai. Dia benar-benar kebalikan dariku. Karena itulah, dia adalah lawan yang
sempurna untuk "mengubah suasana dari Shogi."
Di sisi lain, aku
juga sangat menyukai pertandingan berdua dengan Banjo-san seperti pada hari
pertama.
Waktu yang
kuhabiskan menghadapinya di sore hari libur yang cerah, sambil menikmati teh
yang lezat dan terlibat dalam permainan intelektual yang tenang, adalah
"harta karun" yang mengingatkanku pada masa-masa awal aku belajar Shogi.
…Yah, meskipun
itu termasuk bagian di mana aku akhirnya kalah dan menyesalinya
sedalam-dalamnya.
Tidak,
sebenarnya, aku memang sesekali meraih kemenangan berkat elemen keberuntungan.
Tentu saja, pada
saat kemenangan, semangatku akan melonjak, dan aku akan pulang dengan perasaan
sangat puas, berpikir bahwa hari ini sudah cukup dan aku tidak akan
sering-sering ke kafe board game lagi.
Namun, saat aku
berendam santai di bak mandi pada malam hari, entah kenapa wajah Banjo-san
tiba-tiba muncul di benakku. Dan kemudian, muncul perasaan, "Entah kenapa,
rasanya masih sulit disebut kemenangan telak."
Orang yang
berkecimpung di dunia "profesional," tidak hanya dalam Shogi,
cenderung sangat mementingkan "tingkat kemenangan" dalam jangka
panjang. Tentu saja, aku salah satunya.
Dalam artian itu,
pandanganku adalah bahwa "sekadar menang secara kebetulan" melawan
Banjo-san tidak berarti kekuatanku benar-benar melampauinya.
Akibatnya, saat
aku keluar dari bak mandi, api semangat bertarung baru sudah berkobar di dadaku
untuk meraih kemenangan berikutnya.
Hasilnya, aku
kembali muncul di kafe board game keesokan harinya, dan tentu saja
kembali dihajar habis-habisan, yang semakin memicu semangatku untuk menang…
Sebuah lingkaran setan yang membuatku terperosok.
Kunjunganku ke
kafe board game benar-benar menjadi kebiasaan.
Lalu, pada saat
pembayaran suatu hari. Kritikan
yang menusuk titik lemahku tiba-tiba datang.
"Uta-chan,
apa kamu sebenarnya seorang profesional atau semacamnya?"
"Eh—?"
Seketika,
wajahku langsung pucat. Sesaat, aku mengira identitasku sebagai pemain Shogi
wanita, Utakata Tsukino, telah terbongkar. Namun, niat Takanashi-san ternyata
berbeda.
"Ya,
meskipun aku staf toko yang mengatakannya, tapi pengeluaranmu di sini cukup
besar, kan? Uta-chan datang hampir empat kali seminggu. Jadi aku pikir kamu
mungkin orang yang punya penghasilan serius."
"Ah,
jadi begitu."
Sepertinya
identitasku sebagai pemain Shogi wanita, Utakata Tsukino, tidak
terbongkar, tetapi dia tajam. Orang ini benar-benar tidak bisa diremehkan dalam
banyak hal. Beberapa waktu lalu, dia tiba-tiba mencoba melepas topi
penyamaranku sambil berkata, "Uta-chan, bukankah kamu lebih imut tanpa
ini?"… Benar-benar sulit ditebak.
Aku
memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan tentang pengeluaran dengan alasan yang
asal-asalan.
"Ehm,
terlepas dari apakah aku profesional atau tidak, aku punya pekerjaan paruh
waktu yang gajinya bagus."
Namun, alasan ini
ternyata merupakan langkah yang buruk dalam arti lain. Begitu aku mengatakan
"pekerjaan paruh waktu yang gajinya bagus," mata Takanashi-san
berbinar dan dia langsung tertarik.
"Eh,
serius!? Apa itu, kenalkan aku dong—"
Namun, Banjo-san,
yang sepertinya mendengar percakapan itu di samping, melapor ke belakang toko
dengan nada datar.
"Manajer—,
Takanashi-san sepertinya ingin keluar dari pekerjaan paruh waktu kita—"
"T-tunggu,
Banjo! Bohong, bohong, Manajer. Aku saaaangat suka toko ini—"
Takanashi-san
pun bergegas menghilang ke belakang kasir. Ini melegakan. Aku menyelesaikan
pembayaran dan melarikan diri dari situasi itu dengan diam-diam keluar.
Setelah
berjalan beberapa saat keluar dari toko, aku memeriksa saldo uang elektronik di
ponselku dan menghela napas panjang.
Kritikan
Takanashi-san memang benar-benar menusuk.
Karena
penghasilanku sebagai pemain Shogi wanita dikelola oleh orang tuaku, dan
dompet pribadiku hanya sebatas rata-rata siswa SMA, pengeluaran untuk
mengunjungi kafe board game empat kali seminggu itu gila. Terlalu gila.
Saat ini, aku sedang mengikis habis uang sakuku yang telah kutabung.
Terlebih
lagi, sebagai pemain Shogi wanita, pemborosan waktu juga tidak bisa
diabaikan. Bisa dibilang aku memotong waktu yang seharusnya kualokasikan untuk
belajar Shogi.
Namun,
hal ini sepertinya tidak terlalu menjadi masalah, bahkan bisa dibilang
berdampak positif pada diriku saat ini.
Mungkin
ini bisa disebut pandangan jauh ke depan dari Bibi-ku dan Guruku, Mari-san.
Berkat belajar "bermain" dengan pergi ke kafe board game,
prestasiku di bidang Shogi akhir-akhir ini membaik. Bahkan ada beberapa
artikel daring yang menulis bahwa aku "benar-benar pulih."
Sejujurnya,
aku sendiri tidak begitu mengerti "apa yang telah terjadi dan bagaimana
itu bekerja." Namun, yang pasti kondisi mentalku lebih baik dari
sebelumnya.
Waktu
yang dulunya kuhabiskan untuk gelisah tanpa jawaban karena kemerosotan Shogi
kini telah digantikan oleh waktu untuk berpikir, "Bagaimana aku bisa
mengalahkan Banjo-san, lupakan saja Takanashi-san yang di luar nalar."
Dalam hal
memiliki obsesi untuk menang, itu sama, tetapi mengapa? Rencana untuk
bertanding—tidak, bermain—dengan Banjo-san disertai dengan "rasa
gembira," membuat hatiku hangat, dan aku tidur nyenyak. Ibuku bahkan
merasa lega dengan mengatakan, "Wajahmu terlihat lebih cerah akhir-akhir
ini." Ini benar-benar bagus.
Singkatnya,
kunjunganku ke kafe board game, sejauh ini, hanya membawa manfaat,
bahkan untuk pekerjaan utamaku.
…Kecuali masalah
keuangan.
(Apa yang
harus kulakukan ya…)
Normalnya, akan
lebih baik untuk berbicara dengan orang tuaku dan meminta kenaikan uang saku,
tetapi dalam kasus keluargaku, itu sama sekali tidak mungkin. Karena…
(Orang tuaku
sangat punya alergi terhadap 'game'.)
Mereka berdua
sama sekali bukan orang tua yang buruk, tetapi hanya untuk urusan
"game," baik digital maupun analog, mereka sangat cenderung membatasi
suplai kepadaku. Terutama Ibuku yang menunjukkan kecenderungan itu.
Ini semua
disebabkan oleh sebuah insiden terkait "Shogi" yang terjadi di masa
lalu antara Ibu dan adik perempuannya—Mari-san. Begini ceritanya.
Saat kecil, Ibu
pergi ke kelas Shogi di lingkungan sekitar, dan berkat ketekunannya, dia
berkembang pesat, dan dalam waktu kurang dari setahun, dia dipandang sebagai
calon pemain profesional yang menjanjikan.
Namun, suatu
hari, Mari-san, yang iseng menemani kakaknya ke kelas Shogi karena
"bosan tidak ada game seru," hanya dalam waktu tiga hari
berhasil mengalahkan kakaknya secara telak.
Dan kekalahan
tragis itu, tentu saja, benar-benar mematahkan semangat Ibu terhadap Shogi…
bahkan minatnya terhadap "game."
Sejak saat itu,
Ibu benar-benar berhenti bermain Shogi. Sementara itu, Mari-san yang
bebas, dengan semangat, "Shogi lumayan seru juga ya," terus
maju hingga menjadi pemain Shogi wanita profesional.
…………...
Ya, wajar kalau
dia jadi tidak suka game.
Meskipun ini
kisah Ibuku, setiap kali mendengarnya, aku selalu terharu. Yang paling
mengharukan adalah, bagaimanapun juga, Ibuku setelah itu tetap mendukung dengan
antusias kegiatan Mari-san sebagai pemain Shogi wanita, dan bahkan
sekarang, dia mendukung karier Shogi-ku semaksimal mungkin. Dia
benar-benar orang yang baik.
Terutama ketika
aku masih kecil dan tertarik pada Shogi karena "mengagumi
Bibi-ku," dia bahkan membelikan board game "Doubutsu
Shogi" dan "bermain" denganku dengan gembira.
…Meskipun aku
yang masih kecil saat itu tidak tahu latar belakang Ibuku, betapa kejamnya yang
kulakukan. Jujur, aku masih menyesalinya sampai sekarang. Atau lebih tepatnya,
betapa besar kasih sayang Ibuku yang bisa bermain Shogi denganku,
anaknya, sambil tersenyum tanpa sedikit pun menunjukkan latar belakang tragis
itu. Betapa "baiknya" dia.
Namun, justru
karena itu. Aku ingin menghormati sikap Ibu yang saat ini ingin menjaga jarak
dari game dan "bermain" secara umum sebisa mungkin.
Jadi,
meskipun keuanganku sedang terdesak—
"Hai,
Ibu. Aku mau sering-sering ke kafe board game biar bisa main sepuasnya,
jadi kasih aku uang dong."
—Tidak mungkin
aku bisa mengatakan itu! Anak durhaka macam apa aku! Benar-benar seperti iblis!
Jadi,
membicarakan masalah ini dengan orang tua dan meminta uang saku benar-benar
dibatalkan.
Kalau begitu,
satu-satunya cara adalah mencari pekerjaan paruh waktu secara diam-diam…
(Tapi, dari
mana aku akan mencuri waktu?)
Aku sudah
mengurangi waktu Shogi-ku untuk pergi ke kafe board game.
Menambah jam kerja paruh waktu di atas itu, jelas mustahil.
Tiba-tiba,
perkataan Takanashi-san terlintas di benakku.
"Pekerjaan
paruh waktu yang gajinya bagus, ya…"
Kalau ada
pekerjaan seperti itu, aku justru yang ingin diberi tahu.
Waktu kerjanya
hampir tidak ada, gajinya tinggi, dan identitasku sebagai pemain Shogi
wanita tidak terbongkar.
Tepat saat aku
memikirkan apakah ada pekerjaan paruh waktu yang begitu ideal—ponsel di
tanganku bergetar. Ternyata, tidak seperti biasanya, itu adalah panggilan masuk
dari Guruku—Mari-san.
"Ya,
halo."
《 Ah, Tsuku-chan? Ini aku, bagaimana, sudah kamu pikirkan
pembicaraan kita yang tempo hari?》
"?
Pembicaraan tempo hari? Ehm, yang mana ya? Ah, apakah itu nasihat tentang aku yang kurang
'bermain'?"
《 Bukan, bukan yang itu. Lagipula, kamu sudah bagus
kok dalam hal itu akhir-akhir ini, Tsuku-chan. Fleksibilitas gaya bermainmu
sudah muncul.》
"Ah,
terima kasih. Ya, benar, berkat Guru aku menemukan 'permainan' yang
bagus…"
《 Syukurlah kalau begitu. Tapi, topik utama hari ini bukan
itu. Ini
tentang yang satu lagi.》
"Yang
satu lagi? Ehm, apakah ada yang lain?"
Rasanya aku hanya membicarakan soal "bermain"
dengan Mari-san waktu itu.
Melihatku yang kebingungan, Guruku melanjutkan dengan nada
heran.
《 Kamu tidak peduli ya,
Tsuku-chan. Saat kita berpisah di kafe waktu itu, aku mengajukan tawaran
penting, kan?》
"Saat berpisah, tawaran? Ehm…"
Barulah aku samar-samar mengingatnya. Ya, benar, aku ingat saat itu tanganku
digenggam dan dia mengajukan tawaran aneh. Karena saat itu aku tidak tertarik sama sekali
selain nasihat "bermain," aku mengabaikannya. Tapi, seingatku, itu…
Seolah mendukung
ingatanku. Pada waktu yang sangat iblis ini.
Mari-san
melancarkan skakmat dramatis, yang mungkin dia lakukan di masa jayanya sebagai
pemain Shogi wanita.
《 Tsuku-chan. Tertarik dengan
pekerjaan paruh waktu yang gajinya bagus?》
◆◇◆
Keesokan harinya. Ketika aku tiba di tempat yang ditentukan
Mari-san, tempat itu sangat tidak terduga, hingga aku tanpa sadar terperangah.
"Ini kan…"
Itu adalah gedung serbaguna di lingkungan Ogikubo yang
sering kukunjungi baru-baru ini—yaitu gedung serbaguna yang di lantai empatnya
terdapat kafe board game "Kurumaza".
Aku
memeriksa lagi dengan aplikasi peta di ponselku, dan memang tidak salah. Ini
dia.
Gedung
Interaksi Ogikubo, lantai lima.
(Tidak
kusangka, kantor Mari-san ada di lantai atas Kurumaza…)
Aku dan
Ibu hanya tahu bahwa pekerjaan Mari-san sekarang adalah "sebagai
direktur" dan "lumayan sibuk," tapi tidak kusangka dia
mendirikan kantor begitu dekat dengan rumah kami.
Setelah
berpikir sejenak, aku memutuskan untuk naik ke lantai lima dengan lift hari
ini. Entah kenapa, aku merasa
sedikit segan untuk melewati pintu masuk "Kurumaza" melalui tangga
menuju lantai lima. Padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun.
Keluar dari lift
dan melihat sekeliling, berbeda dengan lantai empat yang seluruhnya ditempati
Kurumaza, lantai lima tampaknya terdiri dari sekitar tiga ruangan.
Kantor
Konsultan Pajak, Agen Detektif Swasta. Dan—perusahaan yang menjadi tujuanku hari ini.
Perusahaan
Penyedia Tenaga Kerja Role Worker.
Aku menarik napas
dalam-dalam di depan pintu tak bernyawa dengan nama perusahaan tertulis dalam
huruf sederhana.
…Entahlah,
meskipun berada di gedung yang sama, suasananya sangat berbeda dengan suasana pop
Kurumaza. Yah, mungkin Kurumaza yang lebih tidak biasa. Aku ingat Takanashi-san
pernah mengatakan dia mendekorasinya sendiri seenaknya.
Aku
menekan interkom yang terpasang di samping pintu. Seketika, suara langsung
terdengar dari dalam ruangan.
"Ya, ya,
terbuka kok—"
"Permisi."
Aku membuka pintu
dan masuk dengan sedikit ketegangan. Interiornya benar-benar seperti kantor kecil di gedung serbaguna.
Di tengah
ruangan, ada meja panjang yang tampaknya berfungsi ganda sebagai meja bisnis
dan meja resepsi, serta sekitar empat kursi.
Di
belakangnya, ditempatkan meja bisnis yang kemungkinan besar untuk direktur. Saat ini, Mari-san duduk di sana.
Ngomong-ngomong, saat ini, karyawan lain tidak terlihat.
Mari-san, yang
menyadari kedatanganku, menjulurkan wajahnya dari samping monitor komputer dan
tersenyum ramah.
"Terima
kasih sudah datang, Tsuku-chan."
"Ya,
Guru."
"Panggil aku
Mari-san. Ah, atau,
di sini 'Direktur'."
Sambil
berkata begitu, Mari-san berdiri dan menghampiriku. Aku melihat sekeliling
ruangan dan bergumam.
"Direktur…"
"Ya,
Direktur. Bagaimana, kantorku?"
"Ehm,
bagaimana ya, maksudku…"
Sejujurnya,
tidak ada yang istimewa, juga tidak ada yang mencolok untuk dikritik. Aku bingung ketika diminta kesan, tetapi
ada satu tempat yang sedikit menarik perhatianku.
"Ehm, yang
itu…?"
Dari pintu masuk
kantor, sudut di sebelah kanan belakang berwarna biru. Ehm, seingatku itu
disebut blue screen atau semacamnya.
Di depan dinding
itu terdapat peralatan fotografi dan bahkan ada bilik ganti yang terlihat
seperti di toko pakaian. Itu memberikan kesan bahwa ruang yang cukup besar
telah dialokasikan untuk kantor kecil semacam ini.
Mari-san menjawab
pertanyaanku.
"Ah, itu
tempat untuk foto profil, atau sesekali mengambil video."
"Foto atau
video…?"
Aku tanpa sadar
menelan ludah. …Ini karena aku sering mendengar Ibuku berkata, "Aku
khawatir dengan pekerjaan Marisa yang sepertinya agak mencurigakan."
Dan sekarang
setelah aku datang ke sini, kekhawatiran itu seolah menjadi kenyataan.
Kantor
mencurigakan di gedung serbaguna. Pekerjaan yang enggan diceritakan. Karyawan
yang tidak terlihat. Bilik pengambilan gambar yang misterius. Klaim
"perusahaan penyedia tenaga kerja" yang terlalu umum, dan juga…
(Terakhir
kali aku bertemu, Mari-san terlihat sangat akrab dengan pemuda berambut pirang,
kan…)
Aku tanpa sadar
menyipitkan mata dan menatap Mari-san.
(Mungkin
terlalu gegabah aku terpikat dengan kata-kata 'pekerjaan paruh waktu yang
gajinya bagus.')
Aku langsung menyesal. …Yah, hari ini sebaiknya aku
menghindarinya dengan alasan yang asal-asalan dan pulang.
Saat aku
memutuskan itu dan melihat ke arah Mari-san, dia tersenyum sinis, seolah sudah
membaca semua pikiranku.
"Tsuku-chan,
kamu curiga pekerjaanku mencurigakan, kan?"
"Uh.
T-tidak, aku tidak…"
Aku memalingkan
muka karena tebakannya tepat. Namun, Mari-san tertawa kecil dan melanjutkan
dengan kata-kata tak terduga.
"Itu benar.
Aku memang terlibat dalam bisnis yang cukup grey sehingga tidak bisa
kuceritakan pada kakakku."
"Eh?"
"Meskipun
begitu,"
Mari-san
mengedipkan mata padaku sedikit.
"Aku tidak
berniat melakukan pekerjaan yang busuk sampai tidak bisa menghadapimu atau
matahari."
"Mari-san…"
Aku
menghela napas lega dengan sikap Bibi-ku yang tidak berubah. Benar.
Dia
memang orang seperti ini sejak dulu. Meskipun dia tipe yang bebas dan tanpa
batas, dia adalah orang yang tahu batasan penting. Itulah mengapa Ibu dan aku
terus berhubungan baik dengannya.
Aku
tersenyum lega dan bertanya pada Mari-san.
"Jadi,
pekerjaan Mari-san itu sebenarnya apa…"
"Ah, ya,
tentang itu. Secara singkat, begini…"
Dia memberi tahu
dengan senyum, terus terang, tanpa rasa malu.
"Penyewaan
pemuda!"
"Ah, aku
harus mampir ke kantor polisi dulu sebelum pulang hari ini."
"Tunggu,
tunggu, tunggu, tunggu!"
Bibi itu
mati-matian menghentikan keponakannya yang segera ingin lari ke polisi.
Di hadapanku yang
menatapnya dengan pandangan dingin seolah kehilangan kasih sayang keluarga,
Guruku—tidak, Tatsumi Marisa (29 tahun) membela diri dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan,
bukan! Aku tidak melakukan apa pun yang melanggar hukum!"
"Begitu,
pekerjaan yang berhasil lolos dari celah hukum dengan cerdik. Sungguh, sensei
memang cerdas."
"Cara bicaramu! B-bukan begitu… Aduh! Lihat,
ini, lihat ini!"
Guruku mengacak-acak rambutnya dan tiba-tiba menyalakan
televisi yang terpasang di dinding.
Kemudian,
dia memutar rekaman yang sepertinya direkam di hard disk recorder.
Yang
ditampilkan di layar adalah adegan wawancara jalanan biasa. …Ah, tidak,
ada sedikit yang tidak biasa.
Orang yang diwawancarai adalah seorang siswa SMA laki-laki,
dan entah bagaimana, dia aneh dan perkataannya lucu sekali. Para selebritas di
studio yang ditampilkan di sudut layar juga tertawa terbahak-bahak.
Sepertinya
ini adalah segmen dari sebuah acara varietas.
Setelah
menontonnya sebentar, aku terkejut dan bertanya.
"Ah,
jangan-jangan, siswa SMA ini…"
"Ya, dia
anak yang kami kirim dari sini."
"Ah, jadi
yang dimaksud dengan penyewaan pemuda itu seperti itu…"
Mari-san
mematikan TV setelah melihatku seolah mengerti. Aku meminta maaf atas
kesalahpahamanku, tetapi kemudian melanjutkan pembicaraan.
"Intinya,
itu seperti agensi hiburan atau perusahaan penyedia figuran, kan? Kalau begitu
kenapa tidak bilang begitu saja…"
"Ah, tidak,
itulah sedikit sisi grey dari perusahaan kami."
Mari-san menggaruk kepalanya dengan canggung.
"Seperti yang bisa kamu lihat dari wawancara jalanan
tadi, kami tidak boleh secara terang-terangan mengatakan bahwa itu adalah
'figuran' atau 'aktor'."
"Hah, memang. Itu kan ditampilkan sebagai pemuda yang
kebetulan diwawancarai di jalan, kan."
"Tepat. Tapi
konten pembicaraan itu sendiri tidak sepenuhnya bohong. Anak yang kami kirim
itu benar-benar punya kepribadian dan cerita seperti itu. Tidak ada kebohongan
di situ. Hanya saja…"
"Hanya
bagian 'kebetulan di jalan' yang bohong besar?"
"Begitulah."
Mari-san tersenyum masam. …Begitu, meskipun tidak melanggar
hukum, ini memang pekerjaan yang sulit untuk diceritakan kepada Ibuku yang
benar-benar serius.
Mari-san melanjutkan detailnya.
"Selain itu, kami juga mengirim orang untuk mengisi
jumlah penonton di acara atau sesi tanda tangan, melakukan flash mob
sederhana, menemani ke restoran yang tidak bisa dipesan hanya untuk satu
orang…"
"Ah… itu
memang 'penyedia tenaga kerja.' Sedikit grey sih. Tapi…"
Di situ, aku teringat gaya bermain Guruku dan tertawa kecil.
"Itu khas Guru. Dalam Shogi juga, ciri khasmu
adalah penggunaan bidak yang berani dan unik."
"Terima kasih, Tsuku-chan. Ah, tapi jangan sampai
kakakku tahu ya?"
"Fufu, aku mengerti."
Yah, meskipun ada bagian yang sedikit grey,
sepertinya ini bukan pekerjaan anti-sosial.
Setelah memahami
pekerjaan Mari-san, aku bertanya lagi.
"Jadi,
pekerjaan paruh waktu apa yang ingin Mari-san tawarkan padaku?"
"Ya, ya, itu dia. Ini pekerjaan paruh waktu yang
gajinya bagus dan sangat mudah, sempurna untuk Tsuku-chan yang tidak punya
banyak waktu."
"Wah, itu bagus sekali. Aku memang sedang mencari
pekerjaan seperti itu."
"Fufu, syukurlah kalau begitu. Jadi, pekerjaan yang ingin kuminta darimu
adalah…"
"Ya."
"Menjadi
pacar sewaan."
"Ah, aku
akan mampir ke Bungeishunjū dulu sebelum pulang."
"Tunggu,
tunggu, tunggu! Tunggu lebih daripada ke kantor polisi!"
"Kenapa
pekerjaan paruh waktuku tiba-tiba menjadi sangat mencurigakan!"
"Bukan,
bukan! Meskipun disebut pacar sewaan, itu tidak seperti itu, ya? Bukan yang bersifat seksual!"
"Tentu
saja! Meskipun begitu, aku tetap bilang tidak!"
"Kenapa?"
"Kenapa, maksudmu…!"
…………... …Ah, tunggu, kenapa ya?
Guruku tidak melewatkan keraguanku sesaat itu, dan langsung
menusuk dengan tepat.
"Tadi aku bilang 'pacar sewaan' demi kemudahan, tapi
yang kami tangani sedikit berbeda dari yang dipikirkan masyarakat umum."
"…Apa maksudmu?"
"Yang kamu bayangkan pasti semacam kencan sehari, di
mana pelanggan menikmati cinta pura-pura dan kamu dibayar… Terus terang,
seperti sugar dating, kan?"
"Yah… begitu. Punya Mari-san berbeda?"
"Ya. Ini sama seperti wawancara, acara, atau sesi tanda
tangan. Yang kami tangani bukanlah cinta pura-pura, melainkan pacar sewaan
sebagai 'figuran'. Dengan kata lain…"
Mari-san berhenti sejenak, lalu dengan antusias menjelaskan
definisi "pacar sewaan" di sini.
"Pacar sewaan untuk pamer ke orang lain, bertujuan
untuk 'orang lain'!"
"Masa
sih hal itu harus diucapkan dengan bangga!"
Menanggapi
komentar sarkastikku, Mari-san mengangkat bahu dan menghela napas jenuh.
"Tsuku-chan. Setiap orang pasti punya momen di mana
mereka membutuhkan pasangan yang terlihat keren."
"K-kenapa
ini terasa sangat meyakinkan?"
Guruku berdeham
dan melanjutkan.
"Jadi,
pekerjaan ini tidak seseram yang terlihat dari namanya. Kegiatan utamanya
adalah menyediakan materi untuk media sosial."
"Ah, memposting foto kencan?"
"Ya. Intinya, 'figuran peran pacar.' Tentu saja tidak
ada kontak seksual atau semacamnya. Lagi pula, kami akan melakukan pemeriksaan
latar belakang secara menyeluruh di awal, dan jika ada perjalanan jauh, kami
bahkan bekerja sama dengan agen detektif sebelah untuk mengawasi.
Ngomong-ngomong, jam kerja dan tarifnya seperti ini."
Sambil berkata begitu, Mari-san menunjukkan angka di
ponselnya. …!
"I-ini bisa dibilang sangat menggiurkan…"
Mataku tanpa
sadar berubah menjadi simbol uang. Itu memang "pekerjaan yang gajinya
bagus." Bisa dibilang luar biasa. Dan jika hanya untuk berfoto, jam
kerjanya juga akan singkat.
Mari-san
memberikan penjelasan tambahan saat aku mulai mempertimbangkannya.
"Baru-baru
ini, salah satu anak yang biasanya menangani pekerjaan pacar sewaan keluar dari
agensi. Tapi permintaan untuk itu cukup tinggi, bahkan itu salah satu pekerjaan
andalan kami yang berfungsi sebagai iklan. Jadi, kami harus segera mencari pengganti.
Meskipun harus memberikan sedikit insentif pada gaji dan jam kerja."
"Begitu,
makanya tawarannya sangat bagus…"
"Ya.
Ditambah lagi, karena ini adalah pekerjaan semacam itu, nama panggung yang
menyembunyikan identitasmu tidak masalah."
Ini sangat cocok
untukku saat ini. Aku tergoda, tetapi masih ada masalah.
"Ah, tapi Mari-san. Ini 'pacar sewaan', kan? Bukan
'pacar wanita'."
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah menyewakan
keponakanku yang manis ke pria asing."
Yah, tapi kamu
mencoba menyewakannya ke wanita asing. …Bukan itu intinya.
"Aku
harus berperan sebagai pria?"
Memang,
akan lebih mudah bagiku untuk bergerak jika perannya benar-benar berbeda dari
"Utakata Tsukino" asliku…
"Ya.
Jangan khawatir, Tsuku-chan, kamu punya wajah yang tampan sekaligus
cantik."
Apakah itu hal yang patut disyukuri? Saat aku bimbang, Mari-san melanjutkan.
"Lagi pula,
Tsuku-chan pandai menyamar, kan?"
"Eh? Tidak,
bukan pandai, tapi aku cenderung mudah 'berubah' hanya dengan sedikit sentuhan.
Terutama rambut, bahkan hanya dikuncir sedikit, penampilan wajahku langsung
berubah drastis."
Bukti adalah
fakta bahwa aku belum terbongkar sebagai "Utakata Tsukino" di kafe board
game. Dan—
"Itu! Itu
yang paling penting! Ah, tunggu sebentar!"
Mari-san
tiba-tiba bergegas ke belakang kantor dengan napas terengah-engah, dan beberapa
detik kemudian, dia kembali dengan sesuatu di tangannya.
"Ini dia!
Aku beli untuk anak yang sebelumnya, tapi akhirnya tidak terpakai."
"Hah,
wig pirang… ya."
Aku
bergumam sambil tanpa sadar menerimanya. Karena Mari-san secara implisit
mendesakku untuk "memakainya," mau tak mau aku pergi ke depan cermin
di samping dan mulai memasangnya.
Selama proses
itu, Mari-san terus berbicara.
"Anak yang
sebelumnya mewarnai rambutnya sendiri karena malas. Dia juga menyukainya jadi
tidak masalah, tapi wig ini jadi sia-sia karena tidak terpakai. Jadi ini pas banget."
"Hah…
anak yang sebelumnya berambut pirang…"
…Ngomong-ngomong,
aku ingat pernah melihat Mari-san bertemu dengan seorang pemuda berambut pirang
terakhir kali. Jika dia adalah "mantan," apakah aku akan mengambil
alih perannya—bahkan nama panggungnya? Jika ya, seingatku waktu itu…
"Wah,
ini bagus!"
Sambil
memikirkan hal itu, wig sudah terpasang tanpa kusadari.
Di cermin
di depanku, terpantul seorang pemuda tampan berambut pirang.
Aku
sendiri terkesan dengan perubahan yang begitu total dan penampilan yang sangat
berbeda itu.
"Wah…
luar biasa. Ini… aku—"
"Ah,
bukankah lebih cocok jika kata ganti orang pertamanya 'gue(ore)'?"
Benar
juga. Aku berdeham dan mencoba berbicara dengan nada yang sedikit lebih rendah.
"…Ini, gue?"
"Sangat bagus!"
Mari-san bertepuk tangan. Meskipun aku merasa itu agak berlebihan, jujur saja aku tidak merasa
keberatan.
Aku memang tipe
orang yang mudah berubah tergantung gaya rambut, tetapi dengan mengenakan wig
seperti ini, kesadaranku dengan mudah beralih ke persona orang lain, dan itu
terasa anehnya mendebarkan.
Mari-san
melanjutkan penilaiannya dengan penuh semangat.
"Seperti
yang kuduga. Tsuku-chan, penampilan laki-lakimu terlalu cocok. Dengan ini, kamu
bisa langsung bertugas. Ya!"
Sambil berkata
begitu, dia menepuk punggungku dengan keras, dan tanpa menunggu jawabanku,
Mari-san menyelesaikan kontrak pekerjaan paruh waktu.
"Kalau
begitu, mohon bantuannya. Pacar sewaan andalan perusahaan kita—"
Dan direktur
perusahaan penyedia tenaga kerja ini.
Kepada aku, yang
kini telah berubah menjadi pemuda tampan berambut pirang dengan ekspresi wajah
yang cerdas.
Dia
memberikan "nama" yang pernah kudengar sekali sebelumnya.
"—Itsuki Usaki-kun."



Post a Comment