Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 6
Pengakuan Saeki Kana
10 Oktober. Jumat yang membawa akhir pekan semakin dekat. Mulai terlihat beberapa murid yang perlahan-lahan berganti ke seragam musim dingin, dan langkah musim pun makin terasa menuju suasana khas musim gugur.
Hari pelaksanaan rapat umum siswa. Berkat kerja para anggota OSIS yang benar-benar gesit, isi pengumumannya sudah diberitahukan kepada seluruh siswa melalui jam homeroom sebelumnya.
“‘Kami akan menayangkan Saluran OSIS di monitor kelas. Yang mau nonton silakan nonton, yang nggak mau boleh belajar sendiri atau tidur siang’… Rapat umum siswa tahun lalu kayak gini juga, ya?”
“Mana mungkin. Tahun ini anggotanya aja ada orang-orang kuat kayak Orito-kun dan Saeki-san, jauh lebih heboh dibanding tahun lalu. Kayaknya mereka nggak mau ikut jalur normal lagi deh.”
“Eh lihat nih. Dari situs sekolah sekarang kita juga bisa kirim komentar real-time khusus untuk acara Saluran OSIS. Pasti mereka pede banget sama kontennya.”
“Ketua OSIS angkatan ini juga lumayan nyeleneh sih. Waktu festival olahraga aja bawa-bawa kembang api.”
Di kelas 2-1 pun para murid sedang ramai membicarakan rapat umum siswa itu. Masaomi sendiri hanya tahu bagaimana rapat umum tahun lalu, tapi mungkin belum pernah ada angkatan yang begitu menarik perhatian siswa seperti sekarang.
Yah, dia juga agak paham alasannya. Acara yang diberi judul Saluran OSIS itu pada dasarnya sama saja dengan “Acara Mengagumi Saeki Kanae.” Cantik, imut, fisiknya kuat, mentalnya penuh dedikasi—untuk menikmati semuanya itu dengan antusias, para siswa pun terpaku pada monitor. Ada sebagian yang bahkan berbondong-bondong menuju ruang siaran. Masaomi, yang merasa “tidur siang juga boleh nih,” jelas termasuk golongan minoritas.
Merasa tangannya kosong dan gelisah, Masaomi memijat bahu kirinya yang masih terasa ngilu. Beberapa hari terakhir ini ada rasa panas seperti gatal menyengat yang muncul berkali-kali, dan seperti sudah ia duga, sejak pagi tadi mulai muncul bekas seperti lebam memanjang.
“Hei hei, Masaomi, kapan bagian Keiji muncul?”
Kasuka—satu lagi anggota minoritas—sedang tak sabar menunggu debut partner mereka di “Orix.” Memanfaatkan kursi tetangga Masaomi yang kosong karena pemiliknya pergi ke ruang siaran, Kasuka duduk sambil menggoyang-goyangkan bokong kecilnya ke kanan dan kiri dengan gelisah. Bahkan sebelum debutnya saja ia sudah seperti fans berat. Saking fokusnya, ia sampai lupa soal bahu Masaomi, dan mulai menepuk-nepuknya tanpa ampun hingga sakit.
『Halo semua siswa! Ini Saluran OSIS!』
Tak lama kemudian suara Kanae mengalun dari speaker. Dibanding saat berbicara langsung dengan Masaomi, suaranya sedikit lebih dibuat-buat, tapi tetap lancar, nyaman, dan jernih seperti biasa.
Tak lama setelah jingle yang jelas-jelas suara buatan sendiri, gambar muncul di monitor. Seruan “wooo!” terdengar dari siswa laki-laki ketika dada Kanae sempat tampil close-up sesaat—entah karena salah berdiri atau sengaja.
Di layar muncul tulisan:
“Wakil Ketua OSIS Kelas 2, Saeki Kanae sebagai pembawa acara. Kirim komentar lewat situs sekolah ya♡”
…tapi sepertinya tak ada satu pun yang benar-benar membaca itu.
Setelah kamera menjauh, terdengar suara-suara seperti “Untung nggak ke ruang siaran,” dari arah siswa laki-laki. Masaomi sempat mengira para siswi bakal ilfeel, tapi ternyata mereka juga berseru, “Gila, gede banget,” sambil menelan ludah. Ternyata efek visualnya memang luar biasa bahkan bagi sesama perempuan.
“Besarnyaaa. Hebat banget. Kayak gini? Gini?”
Kasuka berkata polos sambil meremas-remas dadanya sendiri melalui seragam. Masaomi buru-buru menegurnya sambil tak tahu harus memandang ke mana. Kasuka sendiri termasuk kategori “gede banget,” tapi karena dia nggak sadar betapa mencoloknya itu, kadang dia melakukan hal-hal seperti ini. Untunglah seluruh kelas sedang fokus ke monitor.
『Kalian menikmati sesi istirahat OSIS? Mau tidur boleh, mau belajar boleh, mau nonton OSIS juga boleh. Santai saja dan siapkan diri untuk pulang sekolah nanti!』
Serempak, komentar dan suara “iyaa” muncul dari para murid. Benar-benar seperti pendengar setia.
『Kalau begitu, mari kita perkenalkan anggota OSIS baru! Pertama, aku, Wakil Ketua OSIS kelas 1, Saeki Kanae! Sesi istirahat OSIS akan kami adakan secara rutin, jadi kalau ada permintaan tinggal kirimkan ke OSIS!』
Satu kali kedipan mata dari Kanae saja sudah membuat suasana kelas pecah. Dengan visual, pesona, dan fan service yang komplit, lahirlah idola yang tak terkalahkan… mungkin. Agak berlebihan memang, tapi kalau bayangkan bahwa Keiji mungkin yang menulis naskahnya, Masaomi malah ingin tertawa. Mungkin saja.
Setelah itu, para anggota OSIS masuk bergiliran untuk memperkenalkan diri. Sayangnya, dibandingkan sorotan yang dibawa Kanae, semuanya terasa datar dan tidak begitu berkesan. Jumlah komentar yang masuk secara real time dengan jelas menunjukkan seberapa besar ketertarikan siswa terhadap tiap anggota.
Akhirnya giliran Keiji muncul sebagai anggota biasa, dan ia memperkenalkan diri dengan cukup rapi. Mungkin ia memang sedang memainkan “anak berandalan tapi kalau serius jadi keren,” karena muncul komentar seperti, “Eh Orito, kalau kayak gitu ternyata oke juga ya.” Kepalanya yang botak jelas sangat berkontribusi pada citra itu, dan Masaomi merasa puas—kerja bagus. Kasuka pun langsung berdiri dan menggenggam kedua tangan dengan penuh kegirangan. Awal yang bagus untuk OSIS yang baru.
Satu-satunya noda mungkin adalah ketua OSIS lama yang tampak benar-benar diikat seperti ulat dan kadang-kadang masuk frame. Betapa besar keinginannya untuk tetap terlihat.
『Baik, sekarang masuk sesi Ask Time! Kami akan menjawab pertanyaan yang dikirim lewat formulir sebelumnya. Semua sudah diperiksa guru, jadi pertanyaan yang melanggar norma sudah disaring. Yang kirim pertanyaan nakal, sayang sekali ya!』
Terdengar suara siul nakal dari seseorang—pasti Takei.
『Pertanyaan pertama. “Warna celana dalam hari ini?”—loh, kok masih ada! Filternya lemah sekali!』
Kelas pun pecah tertawa, sambil komentar “Penanya terbaik” dan “Dasar laki-laki…”
『Silakan jawab, Orito-senpai』
『Merah.』
“Jawab juga toh!? Bukan giliranmu, woy! Wah, dia ternyata penuh gairah!”—begitulah suasana yang langsung pecah jadi heboh. Entah siapa yang membisikkan ide ini atau sudah disiapkan semuanya dari awal, tapi arahnya jelas: mereka sengaja menelan mentah-mentah yang bagus dan yang buruk demi hiburan.
『Kalau begitu, silakan jawab, Ketua Furuotani.』
『Argyle emas!』
Apa-apaan itu... gumaman bingung pun menyebar di kelas. Masaomi sendiri juga berpikir, “Serius, itu gimana rupanya…”
『Baik, kupikir penanya sudah puas karena mimpinya terkabul, jadi kita lanjut ke pertanyaan berikutnya. Ah, terima kasih komentarnya. Iya, meski ketua kita ini seleranya kuat banget, aku—Saeki—akan berusaha tetap semangat.』
Cara mereka mainkan tempo antara serius dan santai lewat pertanyaan serta komentar itu benar-benar rapi. Wajah tampan tapi berisik Sou juga berkali-kali dipakai sebagai punchline oleh sang adik kelas Saeki, dan trik itu bekerja dengan sangat baik. Masaomi hampir yakin naskahnya pasti ditulis bersama Keiji. Rasanya masuk akal.
Walau ini seharusnya jam self-study, pada kenyataannya hampir semua orang fokus ke monitor. Penilaian untuk “Student Council Channel” ini benar-benar tinggi. Efek “siestime” entah bagaimana hasilnya, tapi yang penting acara sukses.
Sudah lama Masaomi tidak melihat Keiji yang tampak hidup seperti ini. Kasuka pun senang dari awal sampai akhir.
Setelah itu, “rapat siswa” yang sebenarnya hanyalah video bebas ala OSIS baru terus berlanjut dengan lancar—kadang serius, kadang bercanda—membuat orang yakin bahwa OSIS baru ini memang kompeten.
『──Baik, pertanyaan terakhir. “Saeki-san, aku suka kamu. Tolong jadilah pacarku.”──Maaf ya♪』
“Ehhh—!?”
Teriakan yang entah itu ratapan atau sorakan pun muncul dari para siswa laki-laki. Masaomi cuma bisa heran, “Ada juga ya orang yang ngirim pengakuan macam hukuman game begini…”—meski dia sendiri jelas tidak berhak bicara begitu.
Kemudian. Seperti saat pidato dukungan di panggung waktu itu, Masaomi merasa seperti beradu pandang dengan Saeki lewat monitor. Bersamaan dengan itu, rasa nyeri di bahu kirinya kembali menusuk. Seperti dipukul berkali-kali pada titik yang sama, menumpuk dendam dan rasa benci jadi satu. Tentu saja itu bukan luka fisik. Masaomi bisa menebak alasannya, tapi apa yang benar-benar terjadi sekarang di Astral Side, dia tak punya cara mengetahuinya.
Entah kenapa, firasatnya sangat buruk.
『Sebenarnya, aku sudah menyukai orang lain. Jadi aku tidak bisa menjawab perasaan itu.』
“Oho?”
Suasana kelas langsung memuncak oleh pengakuan mendadak itu. Di monitor, para anggota OSIS terlihat panik—tampaknya ini bukan bagian dari naskah. Keiji sempat melirik Sou yang masih terikat seperti kepompong di belakang, tapi Sou berguling ke arah lain, seakan berkata “urus sendiri”. Entah dia percaya pada Saeki atau memang cuma ingin disorot sebanyak mungkin.
『Mumpung ini channel bebas… boleh ya, aku juga sedikit bebas?』
Saat Saeki mencondongkan badan seolah mendengarkan reaksi pemirsa, “Silakan—!” teriak para penonton tanpa berpikir. Padahal suara itu tak mungkin terdengar di ruang siaran, tapi jelas mereka sudah memperhitungkan respons penonton.
『Kalau begitu, menjawab dukungan kalian yang luar biasa itu…』
Dan seperti memang sudah ditakdirkan untuk sampai ke sini—
『Kelas 2-1, Kusunoki Masaomi-senpai.』
Komentar makin liar, dan kelas pun langsung riuh besar. Wajar saja. Ini kelas 2-1. Tempat duduk Kusunoki Masaomi, orang yang tiba-tiba jadi pusat badai.
Di layar, Saeki berdiri dengan wajah tegang namun penuh emosi, matanya berkaca-kaca, pipinya merah karena malu tapi tak berusaha menutupinya, seakan menghimpun semua keberanian di dunia. Dibantu dorongan suasana, ia memerankan sempurna sosok adik kelas yang jatuh cinta.
『Aku mencintai Senpai. Jadi… tolong pacari aku dengan niat menikah.』
“Oh, jadi begini caranya,” pikir Masaomi sambil memandang monitor tanpa ekspresi.
Sejenak hening. Lalu—meledak.
Jeritan? Sorakan? Umpatan? Entahlah. Ledakan emosi warna campur aduk itu memenuhi kelas—bahkan mungkin seluruh sekolah. Kalau melihat komentar yang menggelombang seperti tsunami, kelas lain pun pasti sama kacaunya. Memikirkannya saja membuat Masaomi pusing.
『Aku tahu Senpai sudah punya pacar. Tapi aku tidak bisa menghentikan perasaanku.──Demi Senpai, aku akan melakukan apa saja.』
Bukannya mereda, Saeki justru menambah bensin ke api. Semua tatapan dan suara bising yang campur aduk—iri, ingin tahu, dengki, kagum—semuanya menabrak Masaomi seorang diri. Tekanan sosial yang sesak, menyakitkan, dan melelahkan.
Kasuka sendiri santai seperti biasa. “Ah, Keiji gemeteran. Dia lumayan marah tuh,” ujarnya tanpa peduli badai besar yang menimpa Masaomi. Benar-benar sahabat terbaik.
『Baiklah, Saeki Wakil Ketua. Kau tidak boleh mendominasi channel. Ini tetap rapat siswa. Acara perkenalan OSIS baru. Simpan ambisi pribadimu untuk nanti, di belakang gym sepulang sekolah.』
Sou akhirnya mengambil alih. Kelas langsung melemparkan hujan boo. Masaomi pun bisa menebak maksud Sou—dia sengaja jadi kambing hitam agar OSIS baru tak harus menanggung angin buruk. Meski berhasil menarik perhatian sekolah, menghentikan arus besar ini pasti menimbulkan reaksi yang keras. Tugas berat.
『Maafkan aku. Kalau begitu, Masaomi-senpai. Aku tunggu di ruang OSIS sepulang sekolah ya♪』
『Makanya jangan bertindak seenaknya! …Sudahlah. Dengan ini rapat siswa ditutup!Aku Furuoya Sou, Fu, ru, o, ya (tersambung terputus)』
“Cara matiin mic itu pasti kerjaan Keiji,” pikir Masaomi tanpa alasan jelas. Tapi ia yakin. Urusan ruang siaran pasti bisa diatasi Keiji.
Masalahnya adalah… kekacauan di kelas ini. Bisik-bisik yang tak berhenti. Tatapan menusuk. Campuran rasa penasaran dan iri yang menekan. Atmosfer yang berat dan tak menyenangkan, seperti gaya tolak yang mendorong Masaomi keluar dari ruangan.
Gosip tujuh puluh lima hari? Lah, ini pasti sampai babak tambahan.
Masaomi menopang pipinya di meja dan menghela napas berat.
Bagaimana dengan Hibari? Apakah dia di kelas 3 lagi mengalami hal yang sama? Tidak, pikir Masaomi sambil menggeleng.
Dengan siestime—yang memperbolehkan tidur atau self-study—tak ada alasan Hibari menatap monitor di kelas.
Keiji awalnya menolak, tapi Masaomi mengancam dengan “insiden musim panas itu”, jadi Keiji menyerahkan satu kunci cadangan—yang kemudian langsung diserahkan Masaomi ke Hibari. Dengan itu, Hibari pasti sekarang sedang naik ke atap, memandang Astral Side tanpa halangan, dan melakukan apa pun caranya untuk membantu Masaomi keluar dari masalah ini, selangkah demi selangkah.
Karena Sasuga Hibari—yang sedikit aneh dan sangat telepatis—adalah pacar terbaik di dunia.
“Masaomi-senpai♪ Ternyata Senpai tetap datang, ya.”
Dengan nada yang sama seperti biasanya, tanpa satu pun perubahan, Kanae menyambut kedatangan Masaomi.
Setelah rapat siswa yang berakhir setengah-memaksa itu, lalu homeroom yang terasa panjang tak berkesudahan, Masaomi berjalan menembus kerumunan para siswa yang melihatnya dari jauh seakan mengamatinya seperti tontonan, dan akhirnya tiba di ruang OSIS.
Sesaat sebelum masuk, dia berpapasan dengan Midou yang baru keluar dari ruang guru. Dengan gerakan dagu yang jelas-jelas berarti “urus ini cepat, biar luar aku yang jaga,” ia menunjuk ke ruang OSIS. Bahkan sekarang pun, hanya berjarak satu pintu, Midou menahan para pengintip yang ingin mendekat. Mungkin sebagai pembina OSIS sekaligus wali kelas, setelah mempertimbangkan posisi Masaomi, ia menilai bahwa inilah cara paling cepat menyelesaikan masalah.
“Bahkan di saat seperti ini pun Masaomi-senpai tetap dengan wajah serius, ya. Padahal aku pikir, dengan impact sebesar tadi, bahkan Masaomi-senpai pasti bakal sedikit panik. Aku benar-benar mengira begitu, lho.”
Benar, apa yang dilakukan Kanae pasti meninggalkan kesan kuat di seluruh sekolah. Wakil ketua OSIS kelas satu, Saeki Kanae, secara terbuka menyatakan cinta pada Masaomi, seorang siswa kelas dua, pacar dari gadis pusat pusaran kejadian, Sasuga Hibari. Mungkin sekarang klub koran sedang menyiapkan edisi ekstra.
“Tapi tidak apa-apa. Karena Masaomi-senpai… akhirnya memilih aku juga. Kalau Senpai memilih Hibari-senpai, pasti Senpai akan mengabaikan pengakuan cintaku, kan? Makanya… aku senang.”
Padahal dia baru saja menimbulkan kekacauan sedemikian besar, wajah Kanae tetap tersenyum seperti biasa. Bahkan, wajahnya tampak lebih berwarna, pipinya memerah lembut seperti bunga-bunga yang menghiasi Flower Park.
“Kenapa kamu melakukan hal kayak begitu? Siapa pun bisa lihat itu cuma jadi tontonan.”
“Kan sudah kubilang. Aku tidak bisa menahan perasaanku. Bukankah cinta memang seperti itu?”
Kanae menjawab dengan suara manis, hampir meleleh, sambil mengembuskan napas tipis. Kulitnya yang merona sedikit basah oleh keringat, terlihat memesona. Entah kenapa, pita di blusnya dilepas dan dua kancingnya terbuka, sehingga lekukan payudaranya naik-turun dengan jelas setiap ia bernapas.
Masaomi merasakan gerah yang sama dan melonggarkan dasinya. Ruangan ini memang terasa aneh panasnya. Suara AC terdengar, tapi mungkin ini justru mode pemanas? Ia mengarahkan pandangan mencari remote, namun sekilas saja tidak bisa menemukannya.
Kalau mereka terus bicara lama-lama begini, ia merasa akan meleleh. Jadi Masaomi langsung masuk ke inti.
“Maksudmu apa barusan?”
“Maksud yang mana?”
“‘Cinta’ yang Kana bilang itu. Maksudmu… kamu mencintaiku?”
“Apa maksudnya, ya?”
Kanae memiringkan kepala, seolah mengembalikan pertanyaan.
“Ya jelas, dong. Aku mengaku sepenuh hati tadi. Masaomi-senpai benar-benar lambat, ya.”
“Karena itu… bohong.”
Ucapan Masaomi, yang diucapkan dengan sangat datar, membuat Kanae membeku sesaat—lalu waktu kembali berjalan seperti pasir dalam jam pasir yang dibalik.
“…Keji banget. Aku… aku sungguh-sungguh, lho…!”
Wajah Kanae runtuh seperti bunga yang kelopaknya rontok. Pengakuan dari lubuk hati, kasih sayang penuh, panggung ajaib yang penuh keberanian—kenapa semua itu harus diragukan? Dengan seluruh dirinya sebagai instrumen bernama Saeki Kanae, ia memainkan emosi duka itu. Bahwa ia telah menaruh seluruh hidupnya pada cinta sekali seumur hidup kepada Senpai yang ia kagumi… hanya untuk diinjak begitu saja. Itu menyakitkan. Itu tak tertahankan.
Semuanya—sesuai dengan sosok Saeki Kanae yang selama ini Masaomi kenal. Karena itu, Masaomi mengucapkannya dengan keyakinan yang makin kuat.
“Keji, ya. Iya. Aku tahu itu.”
Benar—semuanya seperti biasa. Rasa panas, keringat yang muncul—wajar saja, ruangan ini terlalu panas. Tatapannya, geraknya, bahkan nada suaranya. Tanpa gemetar, tanpa berkedip, ia menunjukkan emosi yang tepat. Kalau Kanae sungguhan mengaku cinta—dan kalau pengakuannya ditolak—ia akan bertingkah persis seperti ini.
“Aku tahu. Kamu serius. Tapi—”
Seperti Masaomi di masa lalu…
“Dengan kata-kata palsu seperti itu, kamu tidak akan pernah mencapai ‘cita-cita’ yang harus kujaga.”
“…Kenapa Masaomi-senpai yang selalu baik, harus mengatakannya seperti itu? Ada alasannya? Apa mungkin… agar aku bisa menyerah dengan benar? Kalau begitu, tidak perlu repot-repot begitu. Meski perasaanku tidak dibalas, aku tetap akan menyukai Senpai. Seperti biasanya… dan seterusnya, mulai sekarang juga.”
Sejenak, hanya sekejap, Masaomi memejamkan mata dan mengunyah ulang kata-kata Kanae dalam pikirannya. Tanpa mengingat semua persiapan atau konteks sebelumnya—hanya membayangkan adegan pengakuan yang baru saja terjadi. Betapa menyenangkan rasanya. Ini jelas termasuk dalam jajaran teratas “situasi pengakuan cinta yang paling ingin diterima oleh anak laki-laki SMA.” Tak mungkin seorang siswa laki-laki tidak senang ketika seorang gadis secantik itu menyatakan perasaan dengan begitu tulus dan rapuh. Kanae pasti maju dengan keyakinan penuh bahwa pengakuannya akan berhasil.
“Kalau kau tanya kenapa…”
—Andai saja lawan pengakuan itu bukan Masaomi.
—Andai saja Masaomi bukan kekasih Hibari, dan bukan “Guardian”-nya.
“Aku ini, punya sedikit pengalaman soal pengakuan palsu. Makanya… aku lumayan bisa tahu bedanya.”
“Tidak…! Pengakuanku tidak palsu! Karena, karena aku benar-benar menyukai Senpai!”
Sungguh meremehkan dirinya, pikir Masaomi, dan untuk pertama kalinya muncul rasa kesal terhadap Kanae. Sejak awal, niat sebenarnya Kanae selalu terasa ganjil. Sampai membawa-bawa Astral Side, memasang wajah adik kelas yang manis dan pengertian, berkata ia mencintai Masaomi—kenapa harus berpura-pura sejauh itu?
Akhirnya Masaomi sudah mendapatkan jawabannya.
“Soalnya seseorang yang benar-benar mencintai orang lain… biasanya tidak bisa bicara selancar itu. Contohnya, pengisi suara Pure Angel, atau… seorang senior yang kau kagumi karena hidupnya berbeda dari duniamu sendiri.”
“──!?”
“Wajah tetap tenang seperti biasa, bicara tanpa gemetar, tanpa berkedip, semua tampak alami. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan kalau kau berkata dari hati. Itu hanya bisa dilakukan kalau kau menjalankan pengakuan itu seperti semacam hukuman atau permainan. Minimal, kalau ini beneran, topengnya pasti jatuh. Kalau tidak, itu sama saja dengan bilang: ‘Sebenarnya aku tidak peduli pada kamu’.”
Di wajah Kanae yang sebelumnya penuh ratapan karena pengakuannya ditolak mentah-mentah, muncul retakan kecil. Keyakinan bahwa ia telah dipahami—atau lebih tepatnya, tersentuh pada titik yang paling ia ingin sembunyikan. Tangan yang mengusik idealnya. Tangan yang ingin ia singkirkan secara refleks.
“Jadi, orang yang benar-benar kau sukai itu bukan aku, tapi… Hibari, kan?”
Masaomi mendengar jelas suara krek seperti kaca yang retak—suara keras, padat, seperti inti hati seseorang pecah dari dalam.
Ah…, Masaomi menjerit dalam hati pada takdir kejam yang terasa seperti ironi. Kata-kata yang ia tujukan pada Kanae adalah pisau yang ia tusukkan pada dirinya sendiri di masa lalu. Ia tak boleh lupa rasa sakit yang menyertainya. Luka ini bukan hanya untuk Kanae. Ini juga tentang trauma Masaomi sendiri—tentang kebohongan yang membuatnya pernah melukai Hibari. Tentang “permainan hukuman” berupa pengakuan palsu yang pernah ia lakukan. Dan kini, rasa sakit yang sama sedang memecahkan topeng Kanae.
“…nggak… gitu…”
“Sudah kubilang, aku tahu soal pengakuan palsu. Karena aku pernah mengalaminya. Jadi aku tahu betul—pengakuan yang benar-benar membawa perasaan asli… tidak akan pernah bisa dilakukan seperti biasanya.”
Akhir musim panas. Pengakuan kedua Masaomi pada Hibari. Saat ia, dengan rasa malu dan putus asa, menumpahkan seluruh isi hatinya. Saat ia bahkan menangis. Pengakuan cinta yang sungguh-sungguh itu memang seperti itu.
“Kana waktu di Taman Pantai, hampir tidak bisa bicara dengan Hibari sama sekali. Bahkan tidak bisa menatap matanya. Kalau alasanmu benar-benar karena menyukaiku, mungkin kau merasa canggung karena aku ada di sana bersama pacarku. Tapi… perempuan yang cukup berani untuk merebut pacar orang lain tidak akan pernah takut pada pacarnya. Dan kau—kau itu Saeki Kanae, gadis yang bisa memenuhi ekspektasi siapa pun.”
Wajah Kanae tampak berubah seperti tanah liat yang diremas, ekspresi mulai hancur. Kali ini bukan topeng kesedihan—tapi panas yang asli, amarah yang nyata. Di balik topeng “siswi teladan yang dicintai semua orang”, sifat asli Saeki Kanae muncul seperti air keruh yang bergolak.
“Setiap kali bertemu denganku Kana ingin tahu tentang Hibari, tapi kau tidak pernah mencoba bertemu langsung dengannya. Karena… kau terlalu menyukai Hibari, terlalu mengaguminya, sampai malu dan takut. Padahal sebenarnya, kau ingin dekat dengannya, ingin jadi temannya, atau lebih dari itu… Perasaan itu yang membuatku paham. Dan waktu kau bilang ‘senpai’ tanpa menyebut siapa—kau sebenarnya selalu bicara tentang Hibari, kan?”
Pengakuan barusan pun, sasarannya tetap Hibari. Masaomi hanya menjadi orang yang kebetulan berdiri di jalur itu. Karena itulah ia bertanya: “Apa yang kau maksud cinta itu… apakah benar kau mencintaiku?”
Akhirnya, Kanae menundukkan kepala. Bahunya bergetar. Entah menyembunyikan wajahnya dari tatapan Masaomi, atau sedang dilanda ledakan emosi. Ketegangan di bahunya terasa menyakitkan hanya dengan melihatnya, tapi Masaomi menahan diri untuk tidak kehilangan fokus. Sebab jika ia meleset di saat ini, topeng Kanae tidak akan pernah pecah lagi. Dan akhirnya—retakan itu runtuh sepenuhnya.
“Ah… jadi dari tadi sudah ketahuan, ya? Masaomi-senpai ini jahat juga ternyata.”
Ketika Kanae kembali mengangkat wajahnya, Masaomi tidak lagi tahu siapa yang dilihatnya. Rambut ash-blonde cantik yang diikat half-up, mata biru navy yang jernih, wajah yang sangat indah—semuanya sama. Hanya satu hal yang hilang: topeng manis yang selalu dipakainya.
Ekspresinya datar. Hampir menyerupai Masaomi—tenang, sunyi, dan seolah tidak peduli pada seluruh drama besar barusan. Itulah “Saeki Kanae” yang sesungguhnya.
“Kau tahu perasaanku, tapi malah membiarkanku terus? Padahal aku ini tipe perempuan yang disukai laki-laki, kan? Tapi ya memang lawannya buruk… soalnya lawannya ‘itu’—Hibari-senpai!”
Begitu nama Hibari disebut, sorot mata Kanae berkilat dengan gairah aneh.
“Hibari-senpai… benar-benar luar biasa, ya? Aku tidak bisa mengalahkan beliau, itu wajar. Kau tahu? Hibari-senpai itu hampir tidak pernah bicara dengan teman sekelasnya. Selalu sendirian, menjalani hari-harinya dengan tenang. Dalam kandang kesendirian, tapi tetap menjaga martabat, tidak pernah merendahkan diri, larut dalam dunianya sendiri. Pengakuan dari para laki-laki bodoh itu—ditebas begitu saja, atas nama dunianya sendiri. Tidak mungkin… mustahil seseorang seperti itu ada. Dia selisih satu tahun saja denganku! Bagaimana bisa seseorang memilih hidup seperti itu? Bagaimana bisa seseorang menjadi seperti itu? Bahkan di Astral Side. Hibari-senpai selalu menyelamatkan dunia dengan ketenangan surgawi seperti malaikat. Meski tidak ada yang berterima kasih. Meski tidak ada yang mengakui. Ia tetap berjuang demi keyakinannya sendiri. Itulah kenapa Hibari-senpai itu mulia. Indah. Ideal.”
Dengan seluruh panas dalam tubuhnya, seolah sedang memaparkan doktrin agama, Kanae dengan cepat berbicara tentang Hibari. Betapa Hibari adalah sosok luhur. Betapa ia selalu memperhatikan Hibari. Seberapa dalam ia mengaguminya.
“Makanya, Masaomi-senpai. ‘Guardian’ itu cuma belenggu yang tidak perlu.”
—Dengan kata lain, Masaomi tidak layak untuk Hibari. Masaomi adalah noda yang mencemari malaikat yang ia puja.
“Waktu aku dengar Hibari-senpai mulai pacaran denganmu, awalnya kupikir itu cuma permainan kecil sang malaikat. Selama ini pun ada beberapa orang yang mengikat ‘kontrak sementara’ dengan Hibari-senpai, lalu pergi sendiri karena sadar mereka tidak sebanding dengan beliau. Kupikir kali ini juga begitu. …Tapi ternyata tidak?”
Nada suaranya seperti orang dewasa yang memarahi anak nakal.
“Masaomi-senpai malah jadi Guardian. Padahal sudah hampir putus, tapi kembali lagi. Makanya aku… tidak bisa memaafkan. Lihat ini.”
Dari saku rok seragamnya, Kanae mengeluarkan sesuatu dan menaburkannya ke lantai ruang OSIS.
“…Sungguh selera yang buruk. Kameranya pasti menangis.”
Potongan-potongan foto—sepertinya foto di bianglala—berserakan di lantai. Semuanya dipotong sedemikian rupa sehingga hanya Masaomi yang tercabik-cabik, sementara bagian yang menunjukkan Hibari disimpan dengan rapi oleh Kanae.
Sambil memperlihatkan bagian foto yang masih utuh—yang menunjukkan Hibari—Kanae berkata:
“Lihat… wajah seorang gadis yang sedang dimabuk cinta. Wajah tenang, lembut, penuh rasa aman… itu bukan ekspresi yang pantas untuk Hibari-senpai. Hibari-senpai menunjukkan wajah seperti ini hanya pada satu orang saja? Itu… itu tidak lain adalah kejatuhan, bukan?”
—Jatuh… ya.
Sayangnya, Masaomi sama sekali tidak merasa punya satu pun alasan untuk disalahkan. Bukannya diusir dari surga, Hibari masih hidup bebas di Astral Side seperti saat mereka pertama kali bertemu. Bagian yang Masaomi campuri pun hanya sebagian kecil saja. Lagipula keputusan untuk tetap menjadi “Guardian” adalah keinginannya sendiri, tidak ada hubungannya dengan urusan malaikat jatuh atau semacamnya.
“Yah, aku ngerti kok maksudmu, Kana. Intinya aku ini penghalang, kan? Terus… kalaupun memang benar Hibari jatuh atau apa pun itu, Kana mau ngapain?”
“Tentu saja,” ujar Kana sambil menyeringai.
Di wajahnya muncul senyuman bulan sabit yang begitu buruk rupa, sangat tidak cocok dengan kecantikan malam yang biasanya menyelimutinya.
“Masaomi-senpai—jadi, ayo kita pacaran, ya? Aku ini tipe perempuan yang tulus kalau mencintai. Aku pasti bisa jadi pacar ideal yang kamu mau. Jadi,putuskan hubunganmu dengan Hibari-senpai secara tuntas.”
Di taman kecil itu, kegilaan menggantung di udara.
“Freya no Niwa”—struktur pantulan Astral Side dari area Flower Park di Taman Shirogane Kaigan. Saat ini itu adalah markas Messian, Sang Penyelamat, sebuah taman bunga aneh di mana bunga-bunga empat musim mekar melampaui batas waktunya. Jika seorang ahli botani melihatnya, mereka pasti akan pingsan melihat keanehan ekosistemnya. Namun bagi para Astral Diver, cukup dengan berkata, “Ya karena ini Astral Side,” dan semua pertanyaan pun lenyap.
Sakura merah muda pucat yang tampak rapuh, lavender ungu kebiruan yang anggun, kinmokusei jingga keemasan yang seperti sinar di bawah pepohonan, camellia merah menyala yang mengingatkan pada api kehidupan—bunga-bunga dengan warna, bentuk, dan aroma yang serba berbeda itu bersama-sama memainkan sebuah orkestra warna.
Di atas karpet ilusi itu, Suonare sedang mengayunkan morning star-nya dengan kegilaan total. Setiap kali Suonare mengayunkan lengannya, bola besi mengerikan itu menghantam tanah—tidak, menghantam Guardian-nya—dan setiap benturan disertai percikan noise layaknya semburan darah yang menyerangnya.
Setelah melampaui batas toleransi dan terkirim pulang, Guardian itu akan dipanggil kembali setelah cooldown, lalu dihancurkan lagi dengan cara yang sama. Apa lagi sebutan untuk ini selain kegilaan?
Tanpa mengubah sedikit pun ekspresi wajahnya, Suonare seperti boneka yang hanya bisa melakukan satu gerakan. Ia terus membidik bagian yang sama, berkali-kali, menghancurkan bahu kiri Guardian yang berwajah Kusunoki Masaomi.
Guardian hanyalah budak tanpa suara; tanpa perintah, tentu tidak akan melawan. Tidak tahu apa arti tindakannya, tidak mempertanyakannya. Karena itu kegilaan ini tidak berhenti.
Jika anak-anak melihat sosok “Pure Angel” seperti ini, mereka pasti menangis—betapa jauh wujud itu dari malaikat indah yang biasa mereka kagumi.
“Petak umpetnya selesai.”
Suara yang tiba-tiba terdengar membuat Suonare berhenti. Seolah melupakan seluruh tindakannya barusan, ia mendarat ringan, menoleh, dan menyapa dengan santai, “Chao.”
“Jadi ini semacam ‘oni-san kochira, te no naranai hou e’, gitu ya?”
“Benar. Kemampuanmu memang hebat. Kalau kau terus pindah lokasi tiap kali dive, aku mungkin takkan bisa mengejarmu. Tapi setelah kusisiri seluruh area tempat suara tak bisa mencapaimu, ada satu titik kosong yang pas sekali—seolah kau ingin ditemukan.”
“Strategi keroyokan ala Messian, ya. Keren juga.”
Malaikat bersayap putih—tidak, gadis pejuang berperisai biru-perak bernama Noble Lark—menatap diver yang pernah menjadi sosok idola para gadis, dengan kemarahan yang tenang.
“Kau benar-benar terobsesi dengan Guardian-ku, ya?”
“Kau juga cukup obsesif, tahu? Menyisiri seluruh Astral Side seluas ini… berapa lama coba. Tapi ‘yang ini’ milikku, jadi menurutku kau nggak punya hak protes. Tapi tetap aja, cepat juga kau nyampe sini. Beneran telepati, ya? Begitu kalau pacaran?”
“Entahlah. Kalau kau penasaran, coba saja punya pacar sendiri.”
“Wow, sombong banget,” jawab Suonare datar. Jelas ia bahkan tidak peduli.
Seperti yang ia katakan, Noble Lark sudah mencarinya selama beberapa hari. Ketika Masaomi mengeluhkan rasa tidak enak di bahu kirinya, hal pertama yang ia curigai adalah efek Astral Side. Dampaknya berbeda dari luka yang ia terima saat menggunakan General, ini lebih lokal, seperti pukulan tertentu.
Dengan semua masalah yang Kanae sebabkan sejauh ini, target pertama jelas orang penting yang terkait di Astral Side—itu hal yang nyaris otomatis.
“Jadi kau mau menjelaskannya?”
“Tentu. Meski setelah ini kau tetap akan kukirim pulang.”
“Ih serem,” Suonare bercanda, tapi matanya tidak tersenyum.
Artinya: ini bukan sekadar iseng menyiksa Guardian. Noble Lark tahu betul apa artinya menyerang Masaomi di depan dirinya. Jika Suonare berani melakukan ini, pasti ada maksud tertentu di baliknya. Ada tangan pengamat yang menggerakkan benang, menghasilkan disonansi.
“Katanya… bahu kiri itu kayak kursi khusus seseorang, dan itu bikin dia bete. Jadi pelampiasannya begini.”
“Kebetulan sekali. Aku juga lagi merasa begitu.”
“Di depan mata ada ‘ideal’, tapi tak bisa digapai. Ada orang dekat yang bisa meraih ‘ideal’ itu, tapi diri sendiri tidak. Masih cerita yang sering terjadi, sebenarnya. Bedanya cuma satu: di sini, dunia tempat ideal bisa terwujud itu benar-benar ada. Makanya terasa makin sesak.”
“Itu kata-kata yang salah orang, untukku ataupun untuk dia.”
“Mungkin. Tapi kamu punya kekasih, dan ada di sini demi dia, kan? Menginjak-injak kekaguman orang lain.”
“Mungkin. Tapi itu bukan urusan siapa pun. Dengan siapa aku berdiri—itu pilihanku.”
“Dan itulah masalahnya. Bahu kiri tempatmu duduk nyaman seperti kucing, tempat yang hangat buatmu, itu… kalau dilihat dari balik bayangan yang gelap, pasti tampak menjengkelkan sekali. Karena kau itu ‘malaikat’.”
“Aku bilang, itu bukan urusan siapa pun.”
Tanpa rasa terancam sedikit pun, Suonare mengangkat bahu. Seakan menegaskan bahwa semua ini tidak penting baginya.
“Oh ya, karena kamu udah nemuin aku, aku kasih satu kabar bagus soal pacarmu. Kalau kamu balik ke sana sekarang, sepertinya bakal terjadi hal besar. Waktu aku ketiduran kemarin, dia ngoceh terus. Soal rapat siswa? Atau apa, aku nggak nangkep. Tapi kayaknya dia bakal kena sesuatu.”
Beberapa detik Noble Lark mencerna kata-kata tanpa subjek itu. Masaomi juga mengirim pesan LINE soal kemungkinan masalah di rapat siswa, jadi itu bukan info yang mengejutkan. Dan yang jelas: ini tidak ada hubungannya dengan alasan Suonare menghancurkan Guardian tadi.
“Terus terang ya, aku nggak nyangka situasinya bakal runyam sampai gini. Aku kira aku bisa lebih akrab sama kamu. Tapi ya… mungkin tingkat pemujaannya kebablasan. Kalau saja aku menolak lebih awal, mungkin tak seperti ini… tapi kalau aku lakukan itu—aku bakal sendirian. Jadi demi ideal kami, sampai titik ini tidak bisa dihindari.”
Lalu Suonare memelintir benang kendali, dan berkata:
“Sampai titik ini adalah ideal yang seseorang inginkan. Dari sini sampai seterusnya—ini nada yang ingin aku mainkan. Kebetulan kemarin pacarmu ngedorong aku sedikit. Jadi, dalam artian tertentu, kamu juga malaikatku. Oh iya—kalau nanti ada kesempatan lagi, aku bakal pakai cosplay itu. Yang kamu usulkan.”
Tentu saja, Noble Lark hanya bisa menghela napas dalam hati. Guardian yang wajahnya selalu datar itu rupanya pergi menemui perempuan lain dan membuat kesepakatan. Ia memang tidak bertemu Kanae, jadi tidak ada kewajiban laporan. Ia percaya itu bagian dari strategi. Tapi perasaan bukan sesuatu yang bisa dibendung. Intinya satu—ini menyebalkan.
Jadi, kini hanya ada satu hal yang bisa dilakukan Noble Lark.
“Aku tidak tertarik. Aku hanya akan menjalani duniaku sendiri. Kalau kau cuma mau mengagumi dari jauh, lakukan sesukamu.”
“Yap. Sesuka hati. Jadi—tolong lanjutkan ya, kelanjutan ideal aku dan Kana-chan.”
Bunyi iinnggg memantul di “Freya no Niwa”.
Serangan secepat kilat dari Noble Lark menembus pertahanan suara Suonare dan tubuhnya sekaligus. Dengan perlindungan titik pusat ini, dan setelah mempelajari seluruh kemampuannya, tidak ada kemungkinan gagal untuk kedua kalinya.
Dengan seolah-olah adegan yang sudah diskenariokan, Suonare tercerai-berai menjadi noise dan terkirim pulang. Meski tindakannya brutal, ia pergi tanpa sisa penyesalan.
“Rasanya menyebalkan. Bicara seenaknya, tapi bagaimana bisa sampai segitunya demi Saeki-san… sungguh?”
Namun tak ada yang menjawab.
“Aku punya firasat buruk.”
Sebagai diver kawakan, Noble Lark tahu firasat seperti ini sering benar. Jika sesuatu akan terjadi, itu bukan di Astral Side. Itu kelak akan terjadi di dunia nyata—Material Side.
“Rapat siswa, ya. Harusnya sudah selesai sekarang.”
Ia menancapkan tombaknya ke tanah, menatap dua matahari di langit, dan bergumam lesu:
“Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang Guardian-ku rencanakan diam-diam di belakangku itu…”
“-Jadi… ayo kita berpacaran?”
Kanae melangkah perlahan, hanya beberapa langkah jarak di antara mereka. Entah sejak kapan rasa sakit di bahu Masaomi menghilang, dan sebagai gantinya, senyum miring yang ganjil itu memaku dirinya sampai tak bisa bergerak. Kata-kata yang keluar dari mulut Kanae—yang jelas tadi telah ia tolak—tak bisa langsung ia pahami.
Saat Kanae tiba tepat di hadapannya, ia meraih tangan kanan Masaomi, lalu—mendorongnya lembut—namun pasti—ke payudara kirinya, yang hampir meluap dari blusnya.
“K-Kana…? Uwo—”
Lalu tanpa memberi kesempatan Masaomi untuk menahan dirinya, Kanae menarik lengannya dengan kekuatan mengejutkan, menjatuhkan Masaomi dan membaringkan dirinya bersama di atas meja. Masaomi tak bisa menahan diri—bukan karena kekuatan Kanae, melainkan karena sensasi yang memenuhi telapak tangannya. Kekerasan bra bercampur dengan kelembutan daging di baliknya—sensasi pertama dalam hidup seorang remaja laki-laki. Cukup untuk membuat siapapun kehilangan kewarasan selama lima tahun hanya dengan mengingatnya.
Bahkan seorang Magao-mi pun tak mungkin tetap tenang sepenuhnya.
“Nn, bahkan dalam keadaan begini pun ekspresi Masaomi-senpai tetap tidak berubah… apa payudaraku tidak berkenan? Kalau mau lebih keras pun tak apa, kok…”
Napas panas Kanae, aroma keringat yang memabukkan, dan tubuhnya yang seperti terbakar menekan telapak tangan Masaomi dengan kekuatan dan panas yang memaksa. Masaomi hendak melepaskannya, namun Kanae terus menggenggam tangannya erat. Tangan satunya memegang smartphone—dan dengan gerakan yang sudah jelas direncanakan, ia menekan tombol kamera.
Setelah melemparkan smartphonenya ke samping, Kanae langsung mulai melepaskan dasi Masaomi. Panas tubuhnya bercampur dengan suhu ruangan membuat kepala Masaomi terasa berat dan berputar. Situasi yang tak ia prediksi membuat pikirannya terguncang lebih dari yang ia sadari. Bisikan manis seperti milik iblis menempel di gendang telinganya.
“Keringatmu banyak sekali ya? Masaomi-senpai juga panas dan sudah tak tahan lagi, kan? Jangan khawatir, tadi itu hanya asuransi saja. Mulai sekarang, bukan cuma dadaku… apa pun yang seharusnya bisa kamu dapatkan dari Hibari-senpai, akan kuberikan semuanya padamu.”
Entah kapan, dasinya sudah hilang. Dua kancing kemejanya terbuka, dan telapak tangan panas Kanae menyapu dada Masaomi. Sensasi dingin merayap di punggungnya—tetapi ini juga kesempatan untuk menyentuh niat sebenarnya Kanae.
“Kenapa kamu sampai sejauh ini? Kamu bahkan tidak benar-benar ingin berpacaran denganku. Sampai merusak reputasi sendiri—untuk apa?”
“Kalau Hibari-senpai bisa kembali menjadi malaikat yang agung, kalau dia bisa hidup bebas di Astral Side, aku tidak peduli harus tidur dengan seseorang yang sama sekali tidak menarik bagiku. Tidak peduli menjadi kotor. Asal Hibari-senpai mau menyerah terhadapmu, dia bisa kembali hidup dalam kesendirian yang indah.”
Kegilaan Kanae, yang ia ucapkan sambil terpikat seakan bermimpi—
adalah keinginan murni yang fanatik: merebut Masaomi, sang Guardian, agar Hibari kembali ke dunia kesendirian yang ia anggap ideal.
Masaomi bahkan lupa untuk menyingkirkan Kanae. Ia hanya bertukar tatap dengan mata serius Kanae. Dan waktu seakan berhenti, seolah shutter kamera ditekan sekali lagi.
『Ah, hei Sasuga… jangan masuk dulu ke ruangan itu—』
“Iya. Selain aku, tolong kosongkan semua orang dari sini, Sensei ──Permisi ya.”
Suara itu seakan memiliki kekuatan magis yang memutus belenggu Masaomi. Ia menepis Kanae dan berguling menjauh dari meja.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Hibari memasuki ruang OSIS.
“Panas sekali… dan baunya tidak menyenangkan.”
Hanya sekilas melihat Masaomi yang tergeletak dekat pintu, Hibari segera mengalihkan pandangannya pada Kanae—yang kini dalam keadaan tak pantas.
“Seperti kucing birahi, ya? Naik-naik di tempat seperti ini… apa kamu sedang labil?”
Ah… dia benar-benar sangat marah—
Melihat wajah Hibari yang tampak seperti biasa, Masaomi justru merasa dingin menyelimuti tubuhnya. Dan berkeringat dingin. Rencana untuk mengungkap motif Kanae berhasil, tapi Masaomi jelas tidak membayangkan bahwa situasinya akan kacau begini.
“Aha, indah sekali tatapan itu, Hibari-senpai. Ya, begitulah… itulah Hibari-senpai yang sebenarnya. Seseorang yang tak peduli pada orang lain seperti aku—yang tidak berarti sama sekali.”
Baik karena panas atau euforia, Kanae menatap Hibari tanpa rasa takut sedikit pun.
“Oh iya, lihat ini. Masaomi-senpai kesayanganmu begitu terpikat oleh dadaku—nih, buktinya.”
Kanae memperlihatkan foto “asuransi” tadi, tersenyum puas seolah ia sudah memenangkan segalanya.
“Kalian bilang ‘Guardian’ lah, apa lah… tapi pada dasarnya manusia lain itu ya seperti ini. Mudah tergoda, mudah pergi. Menghabiskan waktu untuk itu… malaikat tidak butuh hal seperti itu. Tidak perlu mengurusi dunia bawah. Kan?”
Ia mengeluarkan sapu tangan Masaomi—yang dulu pernah ia pinjam—dan dengan sengaja mengusap keringat di dadanya sendiri. Gerakan yang akan tampak menggoda dalam situasi berbeda, namun sekarang hanya menjadi bensin yang disiram ke api Hibari.
Hibari mengernyit jijik, menyentuh jepit rambutnya sebentar. Lalu, menyadari bahwa Masaomi tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun,
“Sepertinya beda dari cerita yang kudengar. Mau menjelaskan? Masaomi-kun.”
“…Tunggu sebentar, Ratu.”
Diserahi pertanyaan tiba-tiba, Masaomi buru-buru menuju loker peralatan kebersihan, berdiri jinjit, dan meraih sesuatu dari atasnya. Dengan dua gadis yang menatapnya penuh kecurigaan di belakang, akhirnya ia menggenggam benda yang ia cari.
“Ini kamera yang Keiji pasang sebelumnya. Semua rekamannya lengkap. Kita bisa jelaskan siapa yang memulai dan kenapa foto itu bisa ada… oh, tapi soal fakta bahwa aku sempat… eeh… memegangnya, meski karena dipaksa—itu tidak bisa kubela, jadi maaf banget.”
“Aku akan minta komentarmu nanti. Pelan-pelan, ya.”
Apa-apaan interogasi neraka itu, pikir Masaomi sambil merinding, lalu menyerahkan kamera itu kepada Hibari.
“…Orito-senpai benar-benar melakukan hal yang tidak perlu,” ujar Kana dengan wajah semakin merah, sedikit limbung, seperti memuntahkan ketidaksukaannya. Entah dia sudah memutuskan untuk tidak memakai lagi topeng manisnya, atau dia memang sudah kehilangan tenaga untuk mempertahankannya.
“Mata dibalas mata. Pengintip dibalas dengan pengintaian.”
Hibari, setelah memastikan kamera itu, berkata begitu sambil sedikit meredakan amarahnya. Masaomi benar-benar lega sudah membicarakan ini dengan Keiji sepulang dari Kutsuna—dia sudah menduga akan terjadi sesuatu di rapat dewan siswa, sejak Kana berhenti menguntitnya sepulang sekolah itu. Bukan hanya ruang dewan siswa, bahkan ruang siaran pun sudah dipasangi kamera.
Bagaimanapun, arusnya kini berubah. Selama dia tidak lagi punya beban terhadap Hibari, tidak ada lagi yang bisa mengguncang hati Masaomi. Bahkan kalau sifat asli Kana ternyata jauh berbeda dari kesehariannya—atau mungkin justru karena itu—Penampilan polos dan blak-blakan yang ini malah terasa lebih jujur dan lebih mudah disukai saat dia sudah tenang kembali.
“Aku kasih tahu satu hal. ‘Guardian’-ku tidak mengkhianatiku. Kalau kamu bilang kamu menganggapku sebagai sosok ideal, aku ingin kamu memahami hal itu juga. Di situlah garis start-nya.”
Tatapan Masaomi yang sedikit menyalahkan—karena Hibari sempat meragukannya—tentu saja diabaikan.
“Sikap kalian seperti saling memahami… jujur saja, itu benar-benar tidak pantas. Hibari-senpai, kamu tidak butuh guardian. Soalnya kamu itu, cuma dengan berada di sana apa adanya pun, kamu sudah seperti malaikat. Seperti biasanya, kamu tinggal memotong semuanya. Pengakuan cinta? Kamu sudah dapat begitu banyak, dan setiap kali menolak, kamu selalu melukai mereka sampai tak bersisa, kan?”
“Ngomong-ngomong soal malaikat yang kamu sebut-sebut dari tadi… maksudmu yang ini?”
Masaomi mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto patung malaikat yang dia ambil di Kutsuna.
“Kamu tahu rupanya. Ya, itu wujud idealku. Itu persis Hibari-senpai di sana, di Astral Side.”
Kana menatapnya dengan mata sedikit kabur, seolah terpesona.
Melihat itu, Masaomi pun akhirnya mendapatkan kepastian.
“Kana… jangan-jangan, sebenarnya kamu tidak benar-benar melihat Astral Side, ya?”
Atau—hanya melihat apa yang ingin dia lihat.
“…Kenapa kamu bilang begitu? Aku tahu Hibari-senpai itu malaikat, aku tahu tentang Tsubaki juga. Semua itu sesuai observasiku, aku sudah yakin…”
Kata-katanya mulai kacau.
Entah karena terlalu bersemangat, atau karena kelelahan yang sudah menumpuk, jelas sekali keadaan Kana sudah tidak normal. Seolah ada beban berat di otaknya, dan kewarasannya mulai terseret oleh suara bising yang samar. Namun Masaomi tidak berhenti. Dia berniat mendorong Kana sampai batasnya, dan menyelesaikan ini sekarang juga.
“Aku sudah lama ngerasa ada yang aneh. Kalau kamu benar-benar bisa melihat Astral Side, dan melihat wujud Hibari di sana, kamu nggak akan pernah menyebut Hibari sebagai ‘malaikat’. Kakinya memang bagus sih, tapi dia jauh dari kata anggun, apalagi suci. Dia itu tipe petarung garis depan, penyerang murni. Bukannya lebih mirip dewi perang ketimbang malaikat?”
“Kamu ini, kamu berani bilang begitu di depanku juga ya…”
“Ada bantahan?”
“…Tidak ada.”
Wajah Hibari tampak tidak puas, sementara Kana menatap mereka dengan api cemburu menyala-nyala. Wajar saja—dia sedang melihat orang yang dia sukai bermesraan dengan idolanya.
“Itu cuma pemicunya saja. Jadi aku pikir kata ‘malaikat’ itu pasti punya arti lain buatmu. Setelah ngobrol dengan Sena-sensei, aku makin yakin. Malaikat versi kamu—Hibari versi kamu—itu cuma idealisasi. Hanya gambaran yang kamu ingin dia miliki. Hanya… pemaksaan idealmu sendiri.”
Seperti kaca yang retak saat disentuh, emosi Kana bergetar dan pecah. Tapi Masaomi tetap melanjutkan.
“Jadi menyebut dirimu sebagai orang yang paling memahami Hibari? Itu terlalu narsis. Yang kamu lihat itu bukan Astral Side. Cuma keinginanmu sendiri. Kalau kamu mau jadi ‘Guardian’, tingkatkan dulu resolusi pemahamanmu terhadap Hibari. Kalau perlu, sebagai senior, aku bisa ngasih kuliah ‘Hibari 101’ buatmu.”
“…Diam.”
Kana membuang saputangan Masaomi dengan jijik.
“Diam.”
Rambut emasnya berantakan, ia memegangi kepalanya.
“Diam, diam, diam! Apa yang kamu tahu tentang aku?! Aku—yang hidup cuma dengan membaca suasana wajah orang lain, yang hanya bisa bertahan dengan memenuhi ekspektasi orang lain—apa yang kamu tahu tentang aku! Aku bahkan tidak bisa melindungi Tsubaki! Aku bahkan tidak bisa mencapai ideal yang aku inginkan! Aku… aku… aku…!”
Lalu tiba-tiba—putus.
Kesadarannya mencapai batas. Fokus matanya hilang, pupil biru navy itu terselimuti kekosongan.
“Kana!”
Masaomi buru-buru menangkap tubuhnya saat ia roboh ke lantai. Ia mengalihkan pandangan agar tidak melihat dada atau pakaian dalam Kana yang tersingkap, dan sebuah ketenangan lembut muncul di wajah Kana—berbanding terbalik dengan keringat dan napas beratnya.
Sebuah pemandangan yang sudah ia kenal.
—Dive.
“…Dia benar-benar dive kali ini.”
Akhirnya, Kana membuka jalur menuju Astral Side.
Itulah yang Masaomi tunggu-tunggu. Itulah alasan dia sengaja datang ke ruang dewan siswa, menjawab tantangan Kana. Menurut Hibari, orang yang pingsan tanpa melakukan dive namun tetap dapat merasakan Astral Side menunjukkan gejala “syndrom batas” dari awal CCD—yang berarti mereka berpotensi menjadi diver sepenuhnya dengan suatu pemicu.
Dicocokkan dengan informasi yang Masaomi dapatkan sebelumnya, peluangnya cukup besar. Sama seperti dulu, Masaomi membaringkan Kana di sofa dan menyelimuti dengan selimut. Hibari membantu merapikan pakaiannya. Lalu Masaomi berkata:
“Kalau begitu—sisanya aku serahkan padamu, Hibari. Tolong jatuhkan ‘malaikat palsu’ yang merasukinya.”
“Guardian yang memperlakukan majikannya seperti ini… benar-benar cuma kamu, Masaomi-kun.”
Sebagai Observer, Masaomi tak bisa menyentuh Kana secara langsung tanpa melanggar hukum. Tapi Hibari, sebagai Astral Diver, bisa menghadapi Kana secara langsung di Astral Side.
Masaomi memastikan Hibari duduk di kursi, bersandar, memejamkan mata, memulai dive-nya. Ia hanya bisa berharap setelah ini, Kana bisa kembali ke kehidupan yang lebih normal. Sisanya…
Ideal Astral Side yang akan menuntun jalan mereka.



Post a Comment