NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kokou no Denpa Bishoujo To Koi de Tsunagattara Giga Omoi Volume 2 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 5

Patung Malaikat Tempat Kami Berpulang

“...Haa, indah sekali, ya.”


Kanae terlentang di atas ranjang kamarnya, menatap foto-foto yang ia potret pagi tadi di bianglala Taman Kaihin. Kalau melihat jam di ponselnya, sudah hampir satu jam berlalu. Namun rasa bosan sama sekali tidak muncul.


Semakin ia melihat, semakin tampak seperti pemandangan yang membakar idealnya ke dalam wujud nyata. Semua alasan kenapa Kanae begitu mencintai alat bernama kamera ada di dalam foto ini. Sihir yang merenggut sepotong dari suatu momen, dari suatu waktu, dan meninggalkannya sebagai jejak. Tak ada kehendak atau kesadaran yang ikut campur di sana. Itu hanyalah rekaman dari kenyataan yang ada di tempat itu, apa adanya. Dan wujud apa adanya itulah yang terus menarik Kanae tanpa henti.


“Haa…”


Ia mengeluarkan desahan yang nyaris terdengar manja, lalu larut dalam dunianya sendiri dengan wajah terpukau.


Sebuah acara yang terwujud berkat “hadiah.” Kalau mengingat perjalanan menuju ke sana, banyak bagian yang membuatnya terpuruk, tapi begitu mulai menatap foto—satu-satunya hasil yang layak disebut pencapaian—ia bisa melupakan kenyataan pahit yang tak ia suka. Kenyataan… yang tak ia suka.


Begitu sakelar itu menyala, ia langsung terpental balik. Cahaya dari foto-foto itu lenyap dari pandangannya, dan kekusaman kembali menumpuk di hatinya. Semakin ia memikirkannya, semakin serasa disayat oleh sakit kepala membakar yang mendesak dari dalam. 


Sejak ia pingsan di ruang OSIS, frekuensinya semakin meningkat, dan setiap kali itu terjadi, ia makin muak pada dunia yang tak pernah berjalan sesuai keinginannya, juga pada dirinya sendiri.

Secara objektif, ia tahu bahwa dirinya itu… “beruntung.” Terutama setelah masuk SMA, penampilannya hampir selalu membuat orang lain iri. Kalau ia berusaha bersikap ceria seperti Tsubaki, sekutu akan banyak dan musuh hampir tak muncul. Walau cukup melelahkan, lingkar pertemanannya jauh lebih luas dibanding masa SMP—dan ia bahkan punya teman dekat, Tsubaki.


Namun ia sudah mengetahui, tentang hati yang tak pernah terpuaskan… seperti tenggorokan yang terus-menerus kering.


Bukan tentang orang lain yang menaruh harapan pada dirinya—melainkan dunia di mana ia sendiri yang menaruh harapan sepihak, dan terpesona secara sepihak.


Itu bukan masalah ia beruntung atau tidak.

Itu berada pada dimensi yang berbeda.

Sebuah ideal yang tak terjamah.

Kekuatan untuk mengintipnya.

Sang Pengamat.

Astral Diver, sang pelepas jiwa.


Tapi semakin banyak yang ia ketahui, semakin jelas bahwa dirinya masih setengah matang. Dunia yang bisa ia tangkap pun remang-remang, dan pada akhirnya ia bahkan disebut orang luar.


Meski begitu, ia tetap tidak bisa berhenti mencoba meraih ideal itu.

Ia tidak tahu harus apa.


『Kau kan punya mimpi juga, ‘kan? Menjadi tenaga medis, setelah banyak mempelajari penyakit supaya bisa menyembuhkan temanmu?』


—Pada akhirnya… ia tak bisa langsung menjawab. Fakta itu membuatnya terperanjat, dan yang tertinggal hanya rasa bersalah yang mengeras seperti lumpur yang melapisi seluruh tubuhnya.


Mimpi itu… keinginannya untuk menyembuhkan Tsubaki… bukanlah kebohongan. Namun, apakah dirinya yang sekarang… bisa dengan bangga berkata bahwa ia memberikan seluruh tubuh dan jiwanya demi hal itu? Apakah ia tidak sedang menggunakan mimpi itu sebagai surat pengampunan di hatinya? Atau bahkan menjadikannya undakan yang bengkok untuk mengejar ideal yang berbeda?


“Benar… karena aku ini setengah-setengah. Karena aku tidak sungguh-sungguh.”


Karena itu. Karena cara kerja seorang yang setengah hati. Sayap malaikat pun membusuk dan berkarat, dibakar matahari hitam, lalu patah dan jatuh.


“…Kalau saja aku tak menghindari kekotoran, kalau aku mau mempertaruhkan tubuhku dan benar-benar serius … kalau begitu…”


—Pasti aku bisa menjangkau dirimu, kan… Senpai?


“Kalau kau berani melawan aku, bersiaplah jatuh lebih dalam lagi.”


“‘Noble Lark’, itu sepenuhnya dialog villain, tahu…?”


Tolong jangan menjauh dariku begitu—rasanya menyakitkan.


Aku teringat kalau Wind pernah mengatakan sesuatu yang mirip, dan sedikit penasaran apakah monster badai itu dulu juga merasa seperti ini. Aku memang menjalankan misi menyelamatkan dunia, tapi… belakangan aku mulai merasa tak apa kalau sesekali ada musuh tangguh yang membuat segalanya sedikit mendebarkan. Begitulah pikiranku sebagai gadis berserk petarung sejati.


Karena salah satu pasak di markas pihak Mesian, Sang Penyelamat Musa, tercabut, aku—Noble Lark—dipanggil mendadak. Seperti biasa, aku merobek dan melempar para pembuat kekacauan, satu per satu, dan meraih hasil yang sesuai harapan semua orang. Dan seperti biasa pula, sambil diberi tepuk tangan entah pujian atau pengusiran roh jahat ala “tos tangan”, para sekutu memperlakukanku seolah mereka memanggil iblis untuk memperdaya oni. Aku melotot ke arah mereka, dan kemudian tersadar.


“Dia nggak datang hari ini, ya?”


Yang kumaksud adalah Suonare.


Bukan berarti aku punya kedekatan khusus dengannya, tapi akhir-akhir ini bahkan sekutu pun takut pada Noble Lark seperti ini, jadi percakapan di Astral Side makin jarang. Satu-satunya yang tetap nimbrung seperti biasa hanyalah para Four Wind Flowers, tapi jadwal dive mereka jarang cocok, dan selain itu tak banyak medan perang yang membutuhkan dua kepala nuklir sekaligus.


Aku meninggalkan titik pos dan, seperti biasa, menuju “Teater Besar Senja”.


Beberapa objek humanoid yang samar terlihat berdiri di sana, tetapi tak ada tanda-tanda pertarungan. Justru suasananya sunyi sampai terasa tidak wajar—seolah ada seseorang yang mengintai.Tatapan—rasa tertohok yang sama yang juga sering kurasakan di sekolah.

Aku menggoyangkan helm bersayap, mengambil keputusan, dan mengangkat tombakku ke posisi serong atas.


“『Pertunjukan gadis perawan tertutup salju darah, Pure Valkyrie! Dengan berkahku, kau mau tak mau akan menjadi jujur! 』“


Ternyata lumayan seru juga saat dicoba. Aku hampir kembali ke jiwa masa kecilku. Kalau Masaomi ada di sini, dia pasti akan berkata datar, “Bukankah untuk acara anak-anak ini terlalu penuh niat membunuh?” Dan efek dari gaya bak pahlawan itu benar-benar bekerja.


“『Keanggunan penyembuhan malaikat, Pure Angel! Dengan berkahku, jadilah anak manis yang jujur♪』—Akhirnya kau bangkit juga, Valkyrie!”


“…Nggak kusangka benar-benar bisa ditarik keluar hanya dengan itu.”


“Eh? Kok gitu sih ngomongnya? Bukan aku sembunyi karena mau!”


Pure Angel—atau tepatnya Suonare—mengembungkan pipinya sambil protes. Sayap di punggungnya bergerak-gerak—sepertinya itu ekspresi marah.


“Lalu kenapa sembunyi? Kalau tetap keluar juga, jadinya cuma dua kali kerja.”


“Eh? Kau nunggu aku? Kau nunggu aku? Kau anggap aku teman?”


“Aku pulang, ya.”


“Tunggu dulu, Pure Valkyrie! Pertemuan kita baru dimulai! ‘Jadilah anak manis!’”


Ini bukan soal jujur atau keras kepala, tapi melihat dia panik memohon begitu… yah, lumayan menurunkan tensiku, jadi kuputuskan untuk meladeninya.


“Ba—bam! Tebak ini apa?”


Di samping Suonare yang membusungkan dada dengan bangga, udara yang buram seperti fatamorgana bergelombang—perlahan berubah menjadi wujud manusia.


“Sebenarnya, aku mengangkat seorang Guardian! Seorang Pure Curer tentu harus punya familiar, kan!”


Nada suaranya yang santai itu… entah kenapa membuatku muak sampai tak mampu berkata-kata.


“Terdiam, ya? Kaget? Aku mau bikin malaikat tercengang!”


Dan begitu aku menginjakkan kakiku ke sana, sisanya jelas—


“Guardian itu… aku kenal. Saking kenalnya, sampai sulit dilupakan.”


“Tentu saja kenal—karena itu pacarmu.”


Suonare mengatakan hal itu dengan santai, tak peduli pada amarah Noble Lark yang hampir setara dengan niat membunuh. Guardian yang ia panggil memiliki wajah Kusunoki Masaomi.


Ia bukan General yang selalu menemaniku berlari di Astral Side, melainkan Masaomi dari dunia nyata—pacar Sasuga Hibari—dengan seragam musim panas SMA kedokteran. Itu adalah simbol… dunia tempatku kembali. Tanpa sadar aku menggenggam tombak panjangku begitu erat hingga nyaris retak, dan suara logam dingin pun berdering sebagai balasan.


“Aku dengar penjelasanmu dulu.”


“Penjelasan? Untuk apa? Pilihan Guardian itu bebas, kan?”


Benar juga. 


Di Astral Side, siapa yang dijadikan Guardian ditentukan oleh Diver. Mau itu pacar seseorang atau orang asing sekalipun, tak ada hak bagiku untuk campur tangan. Semuanya sesuai ideal sang Diver. Dan karena itu—tidak ada alasan bahwa aku tak boleh ikut campur juga.

“Berarti ini memang sengaja, ya.”


“Kalau tidak sengaja justru lebih aneh, tau?”


“Jadi… ini semacam peringatan untukku?”


“Hm~ mungkin iya, mungkin nggak. Secara hasil, bisa dibilang begitu.”


Dengan gaya santai yang seolah mengejek, Suonare berbicara.


Ekspresi yang tak bisa dibaca—bisa tampak jahat, bisa tampak baik. Seakan ia hanya mengikuti skenario yang ditulis orang lain, tanpa keinginan pribadi dalam pilihannya.


“Guardian itu lumayan, lho. Walau jauh lebih lemah daripada punyaku dan punyamu, dia cukup bisa jadi tameng. Dan kau sedang emosi berat, jadi kelihatannya penuh celah.”


Kalau helm bersayapku tidak menutupinya, mungkin pelipisku sudah memunculkan labirin urat marah. Namun—menyebut ini “celah”… sungguh sombong.


“Pacar dijadikan tameng, Pure Valkyrie dalam bahaya besar! Episode selanjutnya: ‘Tunggu dulu, tunggu! Perpecahan antar teman!? Guardian, selamanya—’”


Ia menembuskan tombaknya.


Sebelum Suonare sempat mengucapkan kalimatnya sampai akhir—ia dan Guardian-nya ditusuk sekaligus. Terdengar suara iiiiiiiiin seperti dengungan frekuensi tinggi yang menusuk telinga.


“…Serius? Tanpa ragu sedikit pun? Itu di luar perkiraanku, sih. Kukira kamu bakal sedikit lebih melodramatis.”


Masaomi palsu lenyap menjadi serpihan noise dalam sekejap. Di hadapan hilangnya tiruan itu, tombak panjang yang terhunus menoreh cukup dalam pipi Suonare, namun tidak langsung menghancurkan wajahnya—tombak itu tertahan tepat di samping kepala.


—Jadi lintasannya digeser, ya.


Noble Lark benar-benar menargetkan wajah yang mengeluarkan suara menjengkelkan itu. Ia tidak menahan diri. Rencananya memang sedikit berubah, tapi setelah dipermainkan sejauh ini, ia tak bisa berbuat lain. Ia juga sudah menilai dengan tenang bahwa efek pantulan dari mengembalikan Guardian itu kepada si pemanggil tak akan cukup besar untuk memengaruhi Suonare. Ia tidak kehilangan kendali karena amarah.


Karena itu, serangan yang cukup kuat untuk mengubah lintasan tombak beratnya… jelas merupakan suatu serangan balik. Suara itu—mengganggu telinga.


—Begitu, jadi ini sumbernya.


“Pengendali suara. Suonare berarti ‘memainkan musik’ dalam bahasa Italia, kan? Jadi suara yang kamu kirim dari jauh itu semacam serangan audio jarak jauh. Kamu juga bisa menutupi keberadaanmu. Tipe seperti itu cukup kusukai sebagai Diver. Suara ideal, ya begitu?”


“Tebakanku benar. Seperti yang diharapkan dari Diver veteran. Apa kamu tipe yang jago bahasa?”


Suonare—sebuah nama yang benar-benar punya makna ganda, pikir Noble Lark.


Inilah yang membuat Astral Side menarik. Astral Side memang dunia seperti permainan. Ada yang memperkuat kemampuan fisik seperti Noble Lark, ada juga yang mengkhususkan diri pada sihir atau kemampuan khusus tertentu. Pure Angel memang heroine otot, tapi Suonare tampaknya tidak mengikuti jalur itu.


Dihindarinya serangan mematikan tadi memang sangat menjengkelkan, namun justru membuat Noble Lark tenang kembali. Menyelesaikan ini dengan emosi tak ada artinya. Dan karena sudah berhasil menahan diri, ia memilih kembali ke rencana awal.


“Kau pasti kenal nama Saeki Kanae, kan?”


“Kenal banget, sih. Tapi bahas-bahas nama dunia nyata itu kan… semacam tabu di sini?”


Suonare berkata begitu dengan raut wajah yang menunjukkan ketidaksukaan yang sangat jelas. Sesuai namanya, ia memang jujur.


Di dunia para Diver yang meninggalkan Material Side, banyak yang berpikir nama dunia nyata tak punya arti. Hampir semuanya adalah orang-orang yang muak dengan realitas, jadi itu wajar. Namun itu bukan urusan Noble Lark.


“Seperti yang dulu pernah kubilang, kamu yang mulai membawa-bawa itu.”


“Yah, iya juga.”


Suonare mengakuinya jujur. Namun hanya itu.


Sambil memutar-mutar morning star-nya, ia memiringkan kepala, seolah berkata: terus kenapa?


Sikapnya jauh dari penyerahan diri; kalau ada, justru lebih mirip tantangan. Kalau dia berniat begitu—Noble Lark akan menekan balas.


“Kau mau terus begini sampai kapan?”

“Bicara soal apa, ya?”


“Kalau permainan boneka yang kau mainkan itu benar-benar layak untuk mempertaruhkan otakmu—hidupmu—maka aku tak akan menghentikanmu. Dalam dunia ini, apa yang ingin dijunjung itu kebebasan masing-masing.”


“…Dan karena itu aku nggak suka serangan mental. Ribet, tau.”


Suonare tersenyum getir. Untuk seseorang yang mempertaruhkan hidup atas keyakinannya sendiri, ia terlalu santai, terlalu acuh pada dirinya.


—Dan itu yang membuat Noble Lark yakin.


Saeki Kanae bukan Suonare. Namun Suonare memang Saeki Kanae.


“Sampaikan pada si tukang intip yang memegang talimu. Apa yang ia sentuh adalah wilayah suci. Ini bukan main-main. Ideal seseorang bukanlah alat untuk memainkan orang lain sesuka hati. Kalau ia berani bersumpah pada tag aslinya—idealnya yang bukan pinjaman—bahwa ia akan mewujudkannya sendiri… aku akan melawannya kapan saja.”


“Aduh aduh, Malaikat-san ini darahnya panas banget. Padahal kamu lebih cocok jadi Pure Angel daripada aku.”


Suonare mundur beberapa langkah seperti menari, lalu dengan tekad menusuk, ia berkata:


“Biar kuperbaiki satu hal. Aku bukan sedang main-main. ‘Cosplay’ ini—dive ini—adalah kehendak pribadiku. Sesuatu yang cukup bernilai untuk mempertaruhkan hidup. Kalau Kana-chan menginginkannya, itu juga keinginanku. Kalau aku menginginkannya, Kana-chan juga akan menginginkannya. Entah kau benar-benar bisa melihat itu atau tidak, itu sebenarnya tidak terlalu penting.”


Dalam tubuh Astral Side, untuk satu momen singkat itu, bersinar hati dari Material Side.


“Jadi ya, aku berharap keinginanku terkabul—begitu saja!”


Tanpa menunggu Noble Lark melempar pertanyaan, suara Pure Angel menghilang. Gerakannya yang cepat, melesat di antara pilar-pilar, lebih mirip ninja daripada malaikat. Tapi Pure Cure memang terkenal mengandalkan kekuatan fisik, jadi itu cukup setia pada “sumbernya”.


Sebagai gadis petarung, ia bisa saja mengejarnya dan menangkapnya dengan mudah. Namun ia tahu, Suonare tak akan mengatakan apa pun lagi.


『“Berkah itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang mabuk atau orang waras yang setengah hati!” —gitu deh. Dadah, malaikat asli. Di permainan petak umpet berikutnya, usahakan yang serius ya? Kalau nggak, pacarmu… bisa hancur, lho?”』


Suara itu menggema langsung ke telinga lewat kemampuannya—tinggi, cerah, ceroboh seperti biasa.


Senyum angelic yang sempurna. Pose pamungkas yang khas. Bayangan dari sikap itu terus menempel di benak Noble Lark—bayangan dari Pure Angel yang polos, yang pernah memikat Sasuga Hibari di masa kecilnya.


7 Oktober, hari Selasa.


Tiga hari menjelang sidang umum siswa, orang akan mengira para anggota OSIS sedang kelimpungan… tapi ternyata tidak.


“Yah, setelah Saeki tumbang memang sempat ada sedikit jeda, tapi Minggu siang dia ngurus banyak hal bareng aku. Kemarin juga semangat banget, sampai ngatur semuanya dengan rapi dan bikin ketua kewalahan. Sekarang tinggal pelaksanaan aja.”


“Punya junior yang kompeten itu memang berharga,” puji Keiji sambil hampir saja bersiul.


Dia sempat bekerja sepulang dari Taman jougadaikai…?


Masaomi mengembuskan napas lelah membayangkan sifat workaholic Saeki. Karena ia tumbang pada hari Jumat, tentu saja ia ingin menambal kerugian itu—sangat seperti dirinya. Memang Saeki itu pintar, tapi rem dalam dirinya benar-benar sudah rusak. Dan, seperti sudah diduga, dua hari ini Saeki tidak melakukan serangan apa pun. Wajar saja: setelah dipaksa melihat segala kemesraan Masaomi–Hibari, siapa pun pasti akan “mabuk” karenanya.


Berkat itu, barulah mereka bisa menikmati sore yang tenang. Masaomi merasa ada sedikit ketegangan di bahu kiri sejak kemarin, mungkin karena terlalu sering jadi bantal bahu Hibari—begitu, setidaknya, menurut pengakuan si lelaki budak cinta itu.


“Makanya hari ini aku cukup senggang. Jadi biar aku luangkan waktu buatmu, Masaomi.”


“Aku kurang paham kenapa nadamu sok banget, tapi kebetulan aku juga punya urusan. Jadi aku ikut.”


“Yatta! Hari ini kita bisa pulang bertiga lagi!”


Tanpa diajak pun, Kasuka yang telinganya tajam langsung melompat kecil dan menyusul mereka. Demikianlah trio bodoh ini—yang biasa bersama di sekolah, namun terlihat tak masuk akal saat dilihat dari luar—melangkah pulang bersama.


Tujuan mereka adalah rumah sakit universitas. Masaomi dan Kasuka menemani Keiji sampai setengah perjalanan karena dia bilang ingin menjenguk adiknya kalau ada waktu luang.


“Pertama-tama, apa urusanmu? Pasti soal Sasuga… atau Saeki, ’kan?”


“Populer banget ya kamu, Masaomi.”


Masaomi menjitak kepala putih Kasuka yang lebarnya pas untuk dijadikan landasan tangan, lalu masuk ke inti.


“Aku mau tahu lebih detail soal gangguan koma kronis.”


“Hah? Tiba-tiba rajin belajar? Bukannya aku udah jelasin panjang lebar waktu musim panas kemarin?”


“Udah lebih dari sebulan berlalu. Kupikir anak dokter yang super jenius sepertimu mungkin sudah nemu penemuan baru.”


“Dunia yang nggak bergerak setahun lebih itu nggak bakal maju dalam sekali loncat, tahu.”


Keiji menggerutu, tapi seperti biasa, itu bukan akhir dari penjelasannya.


“Tapi, mendengar cerita soal Astral Side dari Nagi, bukan berarti sama sekali nggak ada perkembangan. CCD itu intinya penyakit yang bikin otak jadi terlalu aktif, tapi bagian otak yang aktif beda-beda. Kayaknya itu terkait pengalaman masa lalu ketika pasien kehilangan kesadaran. Ada bagian yang lebih mudah ‘jatuh dalam’, ada yang enggak.”


“Maksudnya?”


“Singkatnya: Astral Diver juga punya ‘kelas’ atau ‘tingkatan’ secara alami. Dan kemungkinan besar, apakah obat baru manjur atau nggak, ditentukan oleh kelas itu.”


Jika kelas itu dapat diidentifikasi, maka metode penyembuhan untuk tingkat tertentu bisa ditetapkan. Itu bukan sekadar kemajuan kecil—itu terobosan besar.


“Itu kemajuan besar, bukan?”


“Andai bisa menentukan kelasnya dengan mudah sih ya. Tapi memang ada sedikit petunjuk. …Pasien bisa saling berinteraksi, kan? Dalam Astral Side. Nah, kalau mereka bisa menilai kemampuan—kelas—satu sama lain, mungkin kita bisa dapat gambaran. Dari sana, otak tiap kelas bisa disimulasikan secara mekanis. …Mungkin saja. Intinya, otak berbicara lebih jujur daripada mulut.”


Masaomi membayangkan adegan seperti para master bela diri yang saling mengukur kekuatan dalam sekali pandang. Kedengarannya mudah, tapi para Astral Diver tidak semudah itu diajak kerja sama. Hanya sebagian kecil yang ingin sembuh—kebanyakan justru ingin tetap menjadi Diver. Minimal, Hibari pasti akan menunjukkan wajah sangat tidak suka, dan Masaomi pun tidak akan rela kalau itu mengganggunya. Dengan kata lain, jalannya masih panjang.


“Kalau saja ada cara dari luar, tanpa pakai obat berbahaya atau harus menyelam ke Astral Side… bukankah itu lebih baik?”


“Enak banget kamu ngomong… tapi, hmm. Ya. Itu juga salah satu pendekatan yang mungkin.”


Keiji mengetik sesuatu di ponselnya—mungkin mencatat idenya itu. Benar-benar, kalau soal adiknya, dia tidak pernah main-main.


“Hei, Keiji. Aku nggak tahu berapa banyak kelas yang ada, tapi ada tingkatan dari yang tinggi seperti adikmu sampai yang rendah, kan?”


“Ya. Datanya nggak cukup buat bikin klasifikasi detail, tapi obat baru kemarin itu memang efeknya beda tergantung kelas. Ke yang rendah efeknya kayak doping; ke yang tinggi efeknya kayak obat penenang. Pokoknya racun yang bikin dokter stress.”


Masaomi membayangkan: seperti petinju yang bisa naik atau turun kelas berat. Ada batas naiknya, ada batas turunnya.


“Kelas paling rendah itu… seperti apa? Misalnya cuma bisa ngintip sedikit Astral Side, atau gampang capek?”


“Siapa tahu. Kalau cuma segitu, mereka nggak bakal masuk rumah sakit, jadi datanya hampir nol. Aku juga nggak tahu soal pasien di RS lain. Hanya bisa bilang: mungkin saja. …Ini tentang Saeki, ’kan?”


“Kamu cepat sekali paham.”


Anak dokter memang punya kepekaan aneh dalam hal begini. Kadang terlalu cepat sampai terasa menyeramkan.


“Yang sengaja mendekati kamu pasti ada sesuatu yang nggak normal. Dari apa yang terjadi musim panas, mencurigainya itu wajar.”


Masaomi hampir ingin mencabut paksa anting di kepala botak Keiji, tapi sayangnya yang satu ini terlalu tepat untuk dibantah.


Faktanya, waktu Kanae pingsan dulu, Keiji pertama kali memastikan apakah CCD atau bukan. Itu berarti ia sudah punya dugaan sejak awal. Sebagai sesama anggota OSIS, Keiji sering bersama Saeki. Dan setelah setahun lebih merawat Diver tingkat tinggi seperti Nagi, intuisi Keiji terhadap Diver sudah berkembang… seakan-akan ia ikut “tertular” kemampuan seorang Diver.


“Di dunia medis, yang disebut sebagai Astral Side itu cuma ilusi yang diperlihatkan otak. Hanya para pasien yang bisa merasakan keberadaannya. Karena ini penyakit yang memaksa otak bekerja terlalu keras, ya wajar kalau muncul halusinasi atau kelelahan sebagai gejala awal. Tapi itu juga bisa dijelaskan dengan banyak penyakit lain. Cara paling cepat itu kalau kita bisa ambil gelombang otaknya; dari situ bisa kelihatan apakah bentuk gelombangnya khas CCD atau bukan.”


Gejala awal. Atau mungkin disebut gejala batas? Hibari juga pernah mengatakan hal yang mirip. Tapi untuk saat ini, gelombang otak Kanae yang bahkan tidak sakit sama sekali, jelas tidak mungkin diambil.


“Hei hei, Saeki-san itu sakitnya sama kayak Sasuga-san dan Nagi-chan?”


Kasuka yang sedari tadi mengikuti dengan gelisah, bertanya ketika kedua orang itu sedang diam.


“Bukan, cuma… aku cuma kepikiran aja. Dia bilang dia mengamati dunianya Hibari, kan? Tapi bukannya itu berarti dia setengah ‘mengawali gejala’? Semacam setengah-diver.”


Meski hanya menjawab dengan dugaan sembarangan, Masaomi merasa itu mungkin saja merupakan hipotesis yang cukup tepat.


Entah kenapa, Masaomi punya firasat bahwa Kanae ingin keluar dari keadaan setengah menggantung ini… dan menjadi diver yang sebenarnya.


“Sehebat apa pun dia bisa mengamati Astral Side, kalau Kana sendiri bukan diver, bukankah dia cuma melihat mimpi orang lain? Itu kan nggak ada gunanya. Bahkan sebagai hiburan pun rasanya kayak sesuatu yang nggak pernah sampai ke inti.”


Setelah sahabatnya mengalami onset, Kanae menunjukkan kecerdasannya tanpa sisa dan mulai menganalisis Astral Side secara otodidak. Itu dunia yang katanya bisa mewujudkan harapan. 


Wajar kalau lama-lama muncul keinginan untuk mencobanya sendiri. Masaomi sendiri tidak terobsesi dengan Astral Side, tapi ia bisa memahami perasaan seorang diver yang ingin menjadi diver “seutuhnya”.


Dengan bersentuhan dengan Masaomi sebagai seorang Guardian, ada kemungkinan Kanae bisa memahami Astral Side lebih dalam lagi. Masih belum jelas apa “level”-nya, tapi kalau memakai analogi petinju, setidaknya ia bisa menambah “berat badan”, dan kalau melewati ambang tertentu, mungkin ia akan ‘terbangun’ sebagai diver.


“Tapi masalahnya, Kana itu kan ingin menyembuhkan diver yang jadi sahabatnya. Kalau dia sendiri jadi diver, bukannya itu kayak ‘pemburu mumi jadi mumi’? …ahh, aku jadi bingung sendiri.”


“Saeki punya sahabat dekat yang jadi pasien CCD?”


“Iya. Kasugano… Tsubaki, kalau nggak salah.”


“Itu pasien dari tempatku. Seingatku dia dirawat sejak habis libur musim panas. Aku pernah lihat kartunya.”


Sebagai CCD Meister sejati, rasanya ingin bersiul memuji, tapi membocorkan informasi pasien seenaknya itu jelas bukan hal yang benar. Soal kewajiban menjaga kerahasiaan dan perlindungan data pribadi misalnya.


Kalau dia sudah sering melihat informasi pribadi Hibari, Masaomi agak merasa tidak nyaman memikirkannya.


“Yah, sekarang aku ini pahlawan yang berhasil membawa pulang Nagi, kan? Ayahku sampai ketawa pahit saking berubah total sikapnya, dan sekarang dia bilang ‘kalau butuh apa-apa bilang saja’. Hah, dokter sialan.”


Sepertinya dia menyadari tatapan Masaomi yang menyalahkan. Bukannya mencari alasan, Keiji malah mengangkat bahu seolah menunjukkan bahwa ia tidak menyesal sedikit pun.


Benar-benar bajingan yang lahir dari bajingan.


“Temannya lagi jatuh ke jurang sekarang. Jadi Saeki juga pasti nggak bisa bersantai. Bisa jadi dia ingin dapat informasi penyakit ini secepat mungkin dengan memanfaatkan Masaomi—menggoda Masaomi, mengorek semua info soal CCD. Pasti dia penasaran gimana Sasuga dan kau bisa hidup berdampingan.”


Saat membicarakan Hibari dan Kanae, Masaomi tanpa sadar sering memikirkan arah yang condong ke soal percintaan, tapi sudut pandang baru dari Keiji benar-benar membuka matanya.


Hibari, meski seorang pasien CCD, tetap bisa hidup normal; masuk akal kalau Masaomi sebagai Guardian memberi dampak tertentu. Penjelasan itu cukup masuk akal.


“Tapi tetap kerasa muter-muter, ya? Seingatku nggak pernah ditanya apakah aku tahu cara menyembuhkan diver. Soal Hibari memang sering ditanyain sih. Tapi yaa… entahlah.”


Ia juga merasa aneh bahwa Kanae mengaku memahami Hibari tapi selalu menghindari bertemu langsung dengannya.


Tentu saja kesimpulan tidak akan muncul. Tanpa orang yang bersangkutan, semua hanya tebakan belaka. Masaomi memijat bahu kirinya yang terasa menyangkut, dan ketika menggerakkan pandangan, Kasuka ternyata sedang menatapnya.


“Kasuka, kenapa?”


“Dari tadi bahumu… kamu beneran nggak apa-apa?”


“Oh, cuma agak gatal dan pegal. Nggak ada apa-apa.”


Sepertinya Kasuka melihat Masaomi sering tak sadar memegang bahunya. Memang anak ini selalu peka pada hal-hal aneh.


Kasuka tampak tidak puas dengan jawaban itu, tapi seperti biasa, ia tiba-tiba mengganti topik.


“Saeki-san itu, kenapa bisa jadi ‘pengamat’? Dia kan sama sekali nggak sakit, ya?”


“Iya, mana aku tahu. Pasti ada penyebabnya, tapi itu sama seperti pertanyaan kenapa Hibari atau adiknya Keiji jadi diver. Mungkin karena mereka ingin jadi begitu…?”


“Stres itu biang segala penyakit. Minimal buat adikku, itu alasan dia jadi makin parah.”


Walau kedengarannya langsung dan tanpa basa-basi, sebagai alasan seseorang mencari jalan kabur dari kenyataan, itu memang penjelasan yang paling mudah.


“Tapi entah kenapa aku rasa bukan itu,” kata Kasuka sambil menyangkal ucapan Keiji. Sikapnya yang tak terduga itu membuat Keiji juga cukup terkejut.


Tampaknya sejak insiden di musim panas, Kasuka mulai mencoba memikirkan ulang segala hal yang dikatakan Masaomi dan Keiji, dan sebagai teman sekaligus pengasuh, Masaomi merasa terharu.


Oh ya, untuk urusan Kasuka mencari pekerjaan paruh waktu, Masaomi juga sudah memberi tahu Keiji. Keiji sampai merinding mendengarnya. Wajar.


Kasuka menempelkan kedua jari telunjuknya ke pelipis, lalu memutarnya seolah sedang mengaduk-aduk pikirannya.


“Masaomi—hei, kamu punya ideal sesuatu?”


Pertanyaan Kasuka yang terdengar sepele itu membuat detak jantung Masaomi tersentak. Sisa-sisa ingatan yang jauh dan samar menggesek bagian belakang kepalanya, seakan memaksa menarik pelatuk emosi lama. Kata-kata itu—pernah terdengar di suatu tempat, entah kapan.


“Kalau aku misalnya… aku ingin melihat kakakku.”


“Kakak? Kamu punya kakak?”


“Enggak? Nggak punya kok.”


Kasuka memang selalu begitu—pembicaraan yang tak masuk akal. Tegangan di bahu Masaomi seketika menghilang dan apa pun yang tadi ingin ia ingat pun buyar.


“Aku nggak punya, tapi katanya mungkin seharusnya aku punya. Kakek bilang aku seharusnya lahir sebagai kembaran. Di Astral Side? Kayaknya hal-hal begitu bisa kelihatan kan. Aku agak takut kalau harus bertemu sih, tapi kalau aku bisa jadi seseorang yang bisa melihatnya, meskipun nggak bisa ketemu, itu juga nggak apa-apa. Mungkin jadi pengamat tuh kayak begitu.”


Masaomi tidak terlalu mengerti, tapi mungkin itu terkait urusan keluarga yang rumit. Ia tidak pernah bertanya lebih dalam karena Kasuka sendiri selalu tampak santai, tapi dengan sifat seperti itu, keluarganya pasti juga mengalami banyak kesulitan. Masaomi yang masih seorang siswa SMA pun tidak yakin apakah ia boleh masuk terlalu jauh ke ranah pribadi itu.


“Katanya, ada bagian otakku yang ‘menyatu’ sama otak kakak yang nggak lahir itu. Makanya aku ada di sini, tapi nggak bisa ketemu. Tapi kadang aku merasa pernah bertemu dia di mimpi atau entah di mana. Menurutku itu agak mirip Astral Side, kan? Haha, jangan-jangan aku juga punya penyakit yang sama. Kalau iya, berarti kita semua seragaman deh.”


Kasuka menggeleng-geleng pelan sambil menyentuh rambut putihnya, lalu tersenyum lebar. Seolah ingin mengatakan bahwa tidak perlu khawatir—bahwa semuanya akan berjalan baik tanpa alasan yang jelas namun penuh keyakinan.


“Hmm, intinya ya… semacam oshikatsu? Gitu.”


“Oshikatsu, apaan…”


“Bukan ‘ingin menjadi’, tapi ‘ingin tetap mengagumi’. Aku juga suka banget sama Masaomi dan Keiji, tapi aku nggak pernah mikir aku bisa jadi seperti kalian.”


Entah ia benar-benar paham atau tidak, Kasuka mengangguk sambil mengayun-ayunkan rambut sampingnya. Tapi karena dia menutup mata sambil berjalan, Masaomi dan Keiji terpaksa menempatkan diri di kiri-kanannya agar dia tidak menabrak sesuatu atau tersandung. Mereka mungkin berlebihan melindunginya, tapi sebagai dua remaja laki-laki yang baru saja dibilangi “suka banget”, keduanya menahan rasa geli di wajah mereka.


“Bukan karena aku ingin sakit atau ingin sembuh atau apa. Tapi kalau ada dunia di mana seseorang bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan, dan aku jadi begitu di dunia itu… mungkin aku Cuma ingin melihat mimpi ideal itu dari jauh.”


Kasuka menyampaikan sudut pandang baru lagi, dan ketika Masaomi semakin tidak bisa menyatukan semuanya, gerbang depan rumah sakit besar akhirnya terlihat. Padahal jaraknya cukup jauh dari sekolah, tapi karena mengobrol, perjalanan terasa sangat singkat.


“Kasuka punya otak yang menarik juga ya. Beneran pengen ngebelah dan lihat dalamnya.”


“Hei, Keiji. Itu udah di luar jalur.”


“Nanti kalau dibelah jadinya dua, kayak kembar beneran~”


Kasuka tertawa santai. Masalah besar baginya, tapi baginya tetap bahan canda.


“Bukan soal Saeki, tapi kalau memang ada penyatuan otak begitu, pasti ada alasannya. Apa pun bisa terjadi.”


“Walau begitu…”


Keiji mengangkat bahu, seolah paham tapi jelas tidak benar-benar paham. Kalau ia serius, ia pasti akan membuat Kasuka menurut. Keiji itu teman buruk dalam artian paling nyata—kredibilitasnya sudah nol. Dalam hal menjijikkan dan mencurigakan, ia seperti kecoa dalam tubuh singa.


“Kalau Keiji mau, aku bisa kasih lihat semuanya kok. Isinya kepalaku. Jangan terlalu sakit ya?”


Keiji sampai kehilangan kata, dan hanya bisa menimpali, “Otak nggak punya rasa sakit, tahu,” yang merupakan komentar tidak nyambung, sehingga percakapan itu pun berakhir.


Sepertinya Keiji dan Kasuka akan menjenguk Nagi selanjutnya. Kasuka juga sedikit kenal Nagi, jadi ia ikut. Masaomi sendiri tidak keberatan bubar. Namun—


“Ya, pokoknya tinggal tanya langsung aja ke Saeki. Kalau di rumah sakitku, mau alat gelombang otak atau apa pun, tinggal bilang. Semakin banyak sampel CCD semakin bagus.”


Keiji tetap saja blak-blakan dan lugas kalau urusan tujuannya. “Mau apa saja, kapan saja,” benar-benar mental orang berkuasa.


—Kalau begitu.


“Keiji, sebenarnya aku ada tempat yang ingin dikunjungi sebentar di dalam rumah sakit. Boleh?”


“Aah? …Kalau itu sih.”


Keiji dengan sangat terbiasa meminjam telepon di meja informasi dekat pintu masuk, dan menelepon seseorang.


“Yah, bahkan aku nggak bisa memaksanya untuk hari ini.”


“Begitu ya.”


Masaomi sudah menduga. Tidak mengecewakan—wajar saja.


—Namun.


"Makanya, aku udah nyatuin jadwal pemeriksaan ulang buat lusa sepulang sekolah. Enaknya punya kekuasaan, ya?"

Nada bicaranya—Masaomi merasa pernah mendengarnya di suatu tempat—dan Keiji mengangguk sangat puas seolah orang lain.


Masaomi hanya bisa berpikir bahwa kalau ada kata “penyalahgunaan wewenang”, itu pasti diciptakan khusus untuk orang seperti Keiji.


『Habis pulang sekolah nanti, kasih mukamu ke sini sebentar, ya? 』


Masaomi menerima pesan yang, kalau dilihat sekilas, cuma bisa dianggap sebagai panggilan dari preman jadul. Nama preman itu, kalau bukan LINE yang tiba-tiba sadar diri dan menipu Masaomi, adalah seseorang yang menamai dirinya ‘Kusunoki Hinata @♡’.


Tak ada tusukan ke organ dalam yang lebih berbahaya daripada simbol “♡” yang dikirim adik kandung sendiri.


Itu terjadi saat jam istirahat siang keesokan harinya.


Hibari sudah selesai makan dan langsung mulai dive, jadi Masaomi sedang iseng men-tap aplikasi berita. Ketika ia membalas “Tiba-tiba kenapa?”, pesan itu langsung terbaca dan seketika dibalas.


『Nama Saeki Kanae itu, aku dengar dari O-chan jadi kebayang lagi. Tahun lalu dia dapat penghargaan di sekolah. Katanya menang kontes foto yang temanya menangkap junior atau menjadikan mereka objek, gitu. Kamu tertarik sama hal-hal kayak gitu?』


Kalau punya adik yang terlalu sempurna, seorang kakak itu bisa sekaligus bangga dan merasa kecil hati.


『Judul karya yang menang itu—“Malaikat”. Keren banget kan namanya? Berlebihan gitu, ya?』


Kalau ada yang disebut intuisi, pasti maksudnya perasaan seperti ini.

Masaomi tanpa sadar mencondongkan badan ke depan, hampir saja membuat Hibari yang sedang munimuni berguling. Ia buru-buru menahan tubuh Hibari, lalu langsung membalas Hinata untuk membuat janji. Dan kemudian, sepulang sekolah──


“Lama juga, ya. Walau dibilang nostalgia, aku juga nggak punya banyak kenangan berarti sih.”


“Sebagai murid yang masih aktif, aku cuma bisa bilang ini memalukan. Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah gagal meluruskan Onii jadi manusia yang benar selama masa sekolahku… ya nggak juga sih. Silakan tanggung sendiri.”


“Memangnya ada yang harus kamu tanggung? Menurutku, salahnya ada di pihak sekolah yang gagal meng-handle murid luar biasa seperti aku.”


“Itu cuma ocehan seorang pecundang yang gagal menunggangi gelombang bernama ‘lingkungan sekolah’.”


Adik ini memang jago ngomong. 


Masaomi diam-diam mengumpat gen buruk yang diwariskan orang tuanya—keluar lagi nih sisi jeleknya.


Kakak-adik Kusunoki berjalan berdampingan dan tiba di gedung sekolah. Bagi Masaomi, ini pertama kali setelah sekitar satu setengah tahun lulus.


Bagi Hinata, ini masih sekolah yang ia datangi setiap hari. Gedung tua yang dulunya terlihat punya sejarah lumayan panjang… sekarang, apakah memang seperti ini? Masaomi mulai samar-samar lupa, mungkin karena ingatan tentang kehidupan SMA-nya yang sekarang jauh lebih kuat dan berkesan. Sekolah ini memang ikut program GIGA School atau apalah itu, jadi bahkan waktu Masaomi masih bersekolah pun sudah terasa seperti hibrida tradisi dan teknologi.


Setelah menunggu Hinata di depan gerbang, mereka berjalan menuju pintu masuk sambil melewati lapangan tenis dan lapangan utama di kanan kiri. 


Baru sekitar lima puluh meter, Hinata sudah disapa dua kelompok teman sekelasnya dan enam adik kelas. Mereka bilang dia lucu lah, minta dipeluk lah—langsung tampak aura dominasi sosialnya yang gila.


Salah satu laki-laki yang nyelonong menyentuh bahunya ditegur Hinata dengan tatapan senior, “Kamu, duduk bersila situ, ya?” Sementara itu kakaknya yang berdiri di sana cuma bengong karena laki-laki itu nggak mengerti maksudnya.


Sedangkan si kakak–Masaomi–yang tak punya wibawa sama sekali, harus menanggung tatapan penuh rasa ingin tahu dari semua orang. Itu benar-benar neraka tatapan.


Ekspresi para junior pun seragam: “Ah… jadi dia yang itu…”.


Sebenarnya seperti apa sih Hinata memperkenalkan kakaknya ini?


Melihat Hinata setiap kali disapa orang, berbicara ceria, sesekali bercanda dan menggoda teman-temannya, membuat Masaomi merasa penampilan adiknya—dengan seragam sailor-nya—tampak lebih dewasa daripada yang ia lihat setiap hari.


Kakak ini pun berdoa dalam hati: Semoga adikku yang kubanggakan ini suatu hari bisa berkembang… terutama di bagian yang perlu berkembang. Hanya sedikit doa ringan sebagai kakak.


Begitu masuk gedung sekolah, aroma familiar yang seperti kampung halaman menguar di hidung Masaomi. Otaknya otomatis bernostalgia. Bukan sesuatu yang manis atau menyengat, tapi aroma kenangan lama yang seolah keluar dari album foto.


“Senacchi sudah aku hubungi. Katanya nunggu di ruang guru.”


“Siapa itu Senacchi?”


“Ah, waktu Onii sekolah dulu dia bukan guru mata pelajaranmu ya? Dia guru IPS yang jadi pembina Klub Kebudayaan, dan juga wali kelas Saeki-senpai. Tahun lalu pensiun, tapi kayaknya masih kerja paruh waktu atau apa gitu.”


Masaomi mencoba mengingat apakah dulu ada klub bernama Klub Kebudayaan, tapi Hinata langsung mengangkat bahu dengan gaya menyindir: Maaf ya, kakakku ini memorinya payah.


Ketika Masaomi bilang “Maaf,” Hinata menjawab “Sudah tahu.”


Pada akhirnya, Masaomi sama sekali tak punya ingatan tentang guru bernama Sena itu.


“Permisi~ selamat siang~. Apa ada Sena-sensei di sini~?”


Berbeda dari sang kakak, adik perempuan itu tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut terhadap ruang guru. 


Dengan langkah mantap, ia membuka pintunya lebar-lebar. Seolah seorang pendekar yang hendak menantang dojo, Hinata masuk tanpa ragu, tanpa mempertimbangkan hal remeh seperti mengetuk pintu. Kuat benar anak ini.


Melihat reaksi para guru yang sekilas seperti “Ah, Kusunoki ya”, tampaknya ini memang jadi kejadian sehari-hari. Beberapa guru menoleh ke arah Masaomi yang berdiri di samping Hinata, berkata, “Oh, yang ini kakaknya? Jarang muncul ya.” Masaomi hanya bisa membungkuk dan tersenyum sopan. Bahkan wali kelasnya dulu pun memperlakukan Masaomi bukan sebagai dirinya, melainkan sebagai “kakaknya Hinata”. Begitulah tipisnya keberadaan Masaomi di masa SMP.


Tak lama, seorang guru laki-laki berusia lanjut berjalan perlahan mendekat.


“Meminta waktu setelah jam pulang sekolah? Ada apa, Kusunoki? Bukannya kamu sibuk dengan atletik?”


“Enggak kok, Senacchi. Aku sudah pensiun dari klub.”


“Kamu manggil guru ‘Senacchi’ gitu?”


Tak apa, tak apa, ujar guru itu—Sena—sambil mengayunkan tangan seolah kakek baik hati. Sepertinya Hinata memang selalu bicara begitu, jadi ia tak keberatan.


“Soal Saeki-senpai. Kakakku ini pengin tahu sedikit tentang dia.”


“Oh… Saeki ya. Setelah lulus, dia baik-baik saja?”


“Iya, baik… lumayan sehat.”


Mau bilang “Sehat sampai-sampai tiap sore datang menghampiriku” rasanya agak sulit diucapkan.


Sena-sensei lalu berkata, “Pindah tempat yuk,” dan tanpa menunggu jawaban sudah langsung berjalan pergi. Hinata mengikuti dengan wajah seolah itu hal biasa, dan Masaomi pun mengejar keduanya.


Ruang guru SMP Kusuna berada di dekat pintu masuk, di lantai satu. Dari sana mereka naik ke lantai dua, melewati deretan kelas siswa tahun kedua sekarang. Sena-sensei masuk ke ruang seni.

“Permisi~! Halo semuanya~! Anak-anak Klub Kebudayaan, lagi berkarya ya~?”


Hinata masuk dengan sapaan yang cerah dan penuh energi seperti biasa, sementara Masaomi mengikuti seperti ekor ikan mas koki. Semua siswa di dalam ruangan sontak menatap ke arah mereka. Wajar saja—Hinata adalah siswi sekolah itu, tapi lelaki asing dengan seragam sekolah kedokteran yang muncul tiba-tiba jelas mencolok.


“Hinata-chan! Kamu bawa kakakmu?”


“Iya nih~. Walau mukanya nggak begitu keren, dimaklumin ya.”


“Hah? Menurutku cukup tampan kok. Tenang, dewasa gitu.”


“…tch.”


Masaomi merasa ada seseorang yang baru saja mengeluarkan suara klik lidah secara sangat diam-diam. Ia menatap tersangka, tapi orang itu cepat-cepat mengalihkan pandangan. 


Omongan tentang wajah orang lain seperti itu… terlalu ikut campur. Terutama harusnya mereka minta maaf ke Hibari dulu. Namun itu hanya sepersekian detik. Hinata kemudian melakukan fanservice seperti idol—melambai, membuat finger heart, bercanda dengan mudah dan elegan. Masaomi hanya bisa tertegun. Jadi ini ya… kehidupan sehari-hari Kusunoki Hinata?


Mereka beda dua angkatan, jadi semasa sekolah dulu Masaomi jarang mendengar rumor soal adiknya. Tapi jelas, Hinata telah memperluas jaringan sosialnya dengan mantap. Karena itulah, tolong hentikan tatapan “Ah, jadi ini dia kakaknya…” yang diarahkan padaku, pikir Masaomi.


Sena-sensei masuk ke ruang persiapan di sebelah, jadi Masaomi pun cepat-cepat mengikutinya. Hinata akhirnya selesai memberikan fanservice dan masuk ke ruangan itu juga.


Sena-sensei mengatur beberapa kursi kayu tua khas ruang seni, dan mereka pun duduk.


“Jadi, apa yang ingin kamu tahu tentang Saeki? Tapi ya, aku tak bisa menjelaskan terlalu rinci. Aku cuma guru paruh waktu sekarang, dan soal privasi murid itu semakin ketat belakangan.”


Karena Hinata memberi kode halus lewat tatapannya—ayo, bilang—Masaomi pun memberanikan diri.


“Um… seperti apa Saeki-san sebagai murid?”


“Pertanyaan yang samar sekali. Seperti seniman atau filsuf saja.”


Masaomi tak tahu apakah itu pujian atau sindiran, tapi ya, memang pertanyaannya agak terlalu abstrak.


“Begini… Saeki-san punya sahabat bernama Kasugano, kan? Sekarang Kasugano-san sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Kondisinya juga tidak begitu baik. Saeki-san kelihatan sangat terpukul karena itu.”


“Ah, Kasugano-san ya. Aku tahu. Setahuku, sampai awal musim panas lalu kondisinya masih lumayan stabil.”


Tampaknya nama Kasugano Tsubaki masuk dalam lingkaran kenalan dari teman-temannya Hinata. Berbeda dari Kanae yang adalah senior, Kasugano adalah teman seangkatan Hinata, jadi sebenarnya Masaomi lebih baik bertanya Kasugano lebih dulu daripada ke Kanae.


“Kasugano… Begitu. Kalau menurut adikmu, waktu menjelang kelulusan Saeki itu, aku dengar dia cuma mengalami gejala seperti gampang tertidur sebentar. Jadi kondisinya memburuk?”


Karena dianggap punya hubungan yang cukup dekat dengan Kanae, satu lapis kewaspadaan Sena-sensei seolah mengelupas. Mungkin juga karena Masaomi adalah kakak Hinata, yang dinilai dapat dipercaya. Meski tetap saja, memanfaatkan reputasi adik demi mendapatkan informasi—rasanya menyedihkan juga sebagai seorang kakak.


“Dia itu murid yang pendiam, tidak menonjol, sering menunduk.” 


“Kasugano-san begitu?”


“Bukan, Saeki. Kasugano itu anak yang ceria dan mudah akrab. Jadi kalau dilihat dari luar, rasanya justru Saeki yang sering mengikuti Kasugano. Saeki di Klub Kebudayaan fokus pada fotografi. Tapi Kasugano sering datang, merengek meminta ini itu, lalu mereka akan pergi berdua entah ke mana.”


“Aku pernah lihat dia cosplay juga. Bajunya yang agak terbuka, jadi para laki-laki bodoh itu pada terpukau. Ya masuk akal sih, Kasugano-san itu punya badan bagus. Jelas-jelas tipe yang usaha keras supaya dilihat orang. Sayang banget dia itu sejenis sama aku yang cute, cantik, dan slim beauty. Hmm, mungkin waktu itu ada juga perempuan yang polos dan nggak menonjol? Ada kali? Tapi levelnya tuh sampai aku mikir, ‘eh, ada ya?’”


Hinata bicara seperti bapak-bapak genit, tapi Masaomi mengabaikannya.


Masaomi yang sudah terbiasa dengan rambut pirang berkilau dan tingkah menggemaskan Kanae sekarang, merasa penilaian Sena-sensei sangat berbeda dari wujud Kanae yang ia kenal. Kanae memang bilang dirinya bagian dari “kelompok yang mekar di SMA”, tapi ternyata itu bukan merendah sama sekali—di SMP, dia benar-benar gadis pendiam dan tidak mencolok. Apalagi Hinata pernah satu sekolah dan tetap tidak mengingatnya, itu sudah cukup membuktikan betapa tidak menonjolnya Kanae dulu.


"Kurasa itu sekitar waktu ketika aku mendengar kabar bahwa Kasugano jatuh sakit. Saeki tiba-tiba berhenti muncul di ruang seni, padahal setelah pensiun pun dia sering datang. Lalu saat kelulusan, tiba-tiba dia mewarnai rambutnya—setidaknya aku kira begitu—tapi dia bilang itu warna rambut aslinya, jadi aku cukup terkejut. Katanya dia sibuk mempelajari penyakit Kasugano, dan obrolannya tentang hal-hal seperti mental, malaikat, dan sebagainya makin banyak—dari luar tampak seperti dia mulai terlalu memaksakan diri."


Membayangkan Kanae yang dengan penuh pengabdian berusaha menolong Tsubaki bukanlah hal sulit. Dalam pusaran itu, dia menemukan konsep dunia roh Astral Side, dan sekarang Kanae telah berada dalam kondisi yang disebut pengamat.


"Terus terang, aku sempat mengira dia mengalami gangguan mental. Bukan hanya karena warna rambutnya—kesan pendiamnya selama ini berubah drastis, dan dia mulai berperilaku seperti Kasugano."


Jadi inilah pemicu yang membuat Kanae menjadi dirinya yang sekarang. Debut masa SMA—atau tepatnya sejak menjelang kelulusan—Kanae secara sengaja mulai berperilaku seperti dirinya yang sekarang.


Kesan Masaomi tentang Kanae sebagai seseorang yang memakai karakter pinjaman pun dengan demikian dikonfirmasi, meski itu bukan sesuatu yang membuatnya senang.


"Karena mereka berdua tumbuh seperti kakak-adik sejak kecil, aku yakin ketika Kasugano jatuh sakit, Kana—maksudku, Saeki—mengalami tekanan mental yang cukup berat. Sepertinya dia benar-benar memaksakan diri."


Sebagai penjelasan tambahan, Sena menimpali, “Benar juga,” seraya menunjukkan ekspresi lembut, meski tampak jelas kekhawatirannya terhadap Kanae. Dia adalah siswi dari kelas yang pernah dia ajar, sekaligus anggota klub tempat dia menjadi pembina. Mungkin rasa kasih sayang yang serupa dengan orang tua atau nenek tengah memenuhi pikirannya.


"Lalu, Kusunoki-kun, setelah mendengar cerita ini… apa yang ingin kau lakukan?"


"Aku ingin membantunya. Kalau aku tahu dengan lebih jelas penyebab dia memaksakan diri, mungkin aku bisa menemukan jalan keluarnya."


Setengah dari kata-kata itu adalah kebenaran, dan setengahnya lagi kebohongan—atau lebih tepatnya, Masaomi sendiri belum memutuskan apa tujuan sebenarnya. Jika dia mengetahui identitas topeng yang dikenakan Kanae, lalu apa yang akan dia lakukan? Apakah dia berharap dapat menemukan alasan kenapa Kanae mengejarnya? Atau ingin memastikan apakah sebutan “orang yang memahami Astral Side” itu benar?


Hinata sempat meliriknya dengan tatapan penuh kecurigaan, namun tampaknya memilih untuk tidak membuka mulut.


Mungkin karena itu, Sena pun mempercayai ekspresi serius yang dipasang Masaomi—ekspresi yang kulit mukanya begitu tebal sampai tak bergerak sedikit pun.


"Ada cerita yang cukup membekas bagiku. Saeki dan Kasugano sama-sama menyukai anime yang sama. Mereka pernah datang ke acara seorang pengisi suara—entah siapa namanya—tapi akhirnya Saeki tidak bisa mengajak bicara sama sekali. Sampai-sampai dia menceritakannya padaku, seorang pembina yang bahkan tak tertarik anime—pasti dia menyimpan penyesalan yang besar. Kasugano, dengan sifatnya yang mudah akrab, bahkan sempat berjabat tangan dengan pengisi suara itu, sedangkan Saeki, yang seharusnya menjadi sosok kakak, tidak bisa bergerak sedikit pun. Katanya, ketika berhadapan dengan seseorang yang benar-benar dia kagumi, pikirannya langsung kosong dan dia tak bisa bicara."


Mungkin ekspresi Masaomi menunjukkan keterkejutan—Kanae yang itu? Kok bisa…?—karena Sena tersenyum tipis, seolah geli membayangkannya.


"Tapi menurutku, itu sangat Saeki. Dia sebenarnya anak yang pendiam, tidak pernah menyuarakan keinginan sendiri—secara baik bisa dibilang mudah menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, tapi secara buruk bisa dibilang dia tidak begitu melekat pada siapa pun. Dia pada dasarnya pasif. Karena itu, saat dia memiliki emosi yang kuat dan aktif, dia mungkin tidak mampu mengendalikannya."


Dunia Astral Side—sebuah dunia yang dibentuk oleh idealisme. Kekaguman yang dilihatnya melalui Tsubaki. Memakai topeng seperti Tsubaki—sebuah kepribadian lain yang Kanae bangun sendiri. Keinginan menolong Tsubaki, kekuatan sebagai pengamat yang terasa seperti memanfaatkan penyakit Tsubaki, dua perasaan yang bertentangan.


"Itu hanya dugaan, ya, tapi menurutku, Saeki meniru Kasugano karena dia merasa Kasugano mengharapkannya.”


“Diharapkan… olehnya?”


“Atau lebih tepatnya, dia mengira sedang diharapkan. Aku tidak tahu detail penyakit Kasugano, tapi mungkin Saeki mencoba menjalani kehidupan yang seharusnya dijalani Kasugano. Aku bilang tadi kan, Saeki itu pasif? Dan pada dasarnya dia selalu berada dalam bayang-bayang Kasugano—kalau kukatakan dengan buruk, dia orang yang sangat bergantung pada orang lain. Penilaian orang lain adalah cara tercepat untuk memastikan posisi dirinya yang tidak pernah dia yakini. Kalau ada pedoman hidup bagi Saeki dalam kehidupan yang tak lagi bisa dijalani Kasugano… bukankah itu berarti memenuhi keinginan Kasugano?”


Ada bagian yang masuk akal, dan ada yang tidak sepenuhnya cocok. Namun bagi Masaomi, fakta bahwa Kanae meniru Tsubaki bukanlah hal yang begitu mengganggu. Bahkan topeng yang dikenakannya pun terasa seperti bagian dari dirinya. Jika topeng itu membuatnya tertekan—bahkan sampai pingsan—namun tetap tidak ingin melepasnya, bukankah itu justru sesuatu yang layak dihargai? 


Sama seperti Hibari yang masih bersikeras berperilaku sebagai “gadis penyiar gelombang aneh” di sekolah.


Yang ingin Masaomi ketahui hanyalah alasan mengapa Kanae, yang begitu keras mempertahankan topeng—yang tidak ingin memperlihatkan dirinya yang asli—terus mengejar dirinya. 


Di Taman Kaihama Jougadai, ia sempat mengira itu hanya bentuk kebaikan berlebihan, tapi setelah mendengar cerita Sena, sepertinya tidak sesederhana itu. Karena Masaomi sama sekali tidak punya ekspektasi seperti itu terhadap Kanae.


"Aku rasa sebagian cara berpikir Saeki memang seperti itu. Tapi selain itu, aku yakin setiap tindakannya punya maksud… meski tidak ada satu pun yang terasa konsisten, jadi susah merangkumnya…"


"Orang yang menganggap dirinya bisa melihat diri sendiri secara objektif… justru seringkali tidak melihat apa pun. Menurutku, justru ketidakselarasan itu yang lebih manusiawi. Emosi kuat yang muncul dari dasar hati tidak selalu bisa dikendalikan—Saeki mungkin belum menyadari itu. Atau malah, mungkin dia tenggelam dalam kenikmatan menyerah pada perasaan itu. Kekaguman adalah hal yang sulit dikendalikan siapa pun di usia remaja."


Tidak konsisten. Ketika ditunjukkan sudut pandang bahwa tidak semua tindakan seseorang adalah suara hati yang utuh, Masaomi tanpa sadar memandangi wajah Sena. Wajah seorang guru yang peduli pada muridnya.


"Meski itu hanyalah idealisme pinjaman sekalipun."


Seharusnya Sena tidak mengetahui apa pun tentang Astral Side. Karena itu, ia pasti tidak benar-benar sampai pada pemahaman sejati mengenai apa yang dipikirkan Kanae.


Meski begitu, perasaan samar—‘rasa tidak cocok’ yang sulit diungkapkan dalam kata-kata—yang Masaomi rasakan setiap kali berinteraksi dengan Kanae, telah berhasil Sena jelaskan seolah beliau melihatnya sendiri.


Sebagai guru yang selama puluhan tahun berhadapan dengan para murid yang berada di masa paling rumit dalam hidup mereka, mungkin ia memang memiliki kemampuan untuk menyusuri rahasia kecil para siswa, lalu menemukan akar dari kebimbangan dan kegelisahan mereka.


“Cerita saya barusan, ada gunanya untukmu?”


“Iya, sangat. …Lalu, ini agak tidak pantas sebagai ‘sekalian menanyakan’, aku minta maaf, tapi… satu hal lagi saja.”


Itulah tujuan asli Masaomi datang ke ruang persiapan seni.


“Tentang kata ‘malaikat’ yang sering Saeki-san ucapkan… apa Sensei tahu sesuatu yang berkaitan dengan itu?”


Ah, ujar Sena, lalu beliau mengulurkan tangan dan menunjuk.


“Terlihat dari jendela situ. Patung di halaman belakang itu.”


Masaomi mengikuti arah yang ditunjuk. Dari jendela kecil ruang persiapan seni, halaman belakang tampak diselimuti warna senja. Di sudut yang kurang terkena cahaya—seakan menghindari cahaya merah yang menebas dari samping—berdiri sebuah patung batu. Katanya, patung itu merupakan hadiah dari para alumni pada peringatan berdirinya sekolah beberapa puluh tahun silam. Meski Masaomi nyaris tidak mengingat tata letak sekolah, entah mengapa patung itu terasa familier—lalu ia sadar:


Itu ikon LINE milik Kanae.


“Karya itu bernama ‘Patung Malaikat yang Meninggalkan Sarang Kami’. Sebuah patung berbasis gaya lukisan religius. Seorang pemuda yang hendak terbang mengejar mimpinya digambarkan sebagai malaikat. Dua gadis itu sangat menyukai patung tersebut. Kasugano bahkan pernah melakukan cosplay patung itu. Tentu saja aku menegurnya agar tidak melakukannya di dalam sekolah.”


“Serius…? Itu kan kainnya super tipis dan buka-bukaan. Gila berani banget…”


Hinata yang sedari tadi diam langsung meraba dada, perut, dan paha sendiri dengan wajah ngeri, jadi bisa dibayangkan betapa terbukanya kostum itu. Untuk anak SMP, itu jelas racun mata.


“Di sana tidak banyak orang lewat, dan bagi gadis-gadis muda yang sedang memimpikan masa depan, itu mungkin tempat yang pas. Sosok malaikat itu sepertinya wujud mimpi yang mereka berdua bagi. Kasugano sebagai ‘pengungkap’—ekspresor. Saeki sebagai ‘pencatat’. Mereka menggambarkan masa depan yang saling melengkapi. Hanya bayangan seorang tua saja sih. Foto yang memenangkan penghargaan itu… memotret keduanya sebagaimana adanya—malaikat mereka.”


Masaomi, yang selama ini selalu melihat Kanae sebagai tipe ‘yang mengekspresikan sesuatu’, harus menerima bahwa rupanya sisi asli Kanae justru berada di tempat lain—tidak sama dengan perannya sebagai wakil ketua OSIS, yaitu ‘sosok yang diminta orang lain untuk menjadi’.


Malaikat: wujud mimpi dan ideal.

Dunia Astral Side: dunia rancangan ideal itu sendiri.


Tidak mudah memasuki dunia itu.


Hibari yang kini tampak stabil pun pernah jatuh jauh, sampai hampir tidak dapat kembali. Adik Keiji juga begitu. Tsubaki pun mungkin sedang menuju tepi itu… dan Kanae, dengan terlibat terlalu dalam sebagai “diver”, mungkin juga sedang berdiri di pinggir jurang yang sama.


Masa depan yang saling melengkapi—sekacau apa pun keadaan kini, Masaomi tidak pernah berhenti berharap bahwa pada akhirnya, Kanae akan benar-benar menjadi “teman” Hibari.


Meskipun itu terkesan ikut campur, meskipun itu berlebihan. Masaomi tidak mampu mempercayai kehidupan yang mudah runtuh; itu sudah seperti penyakit baginya.


Hibari bebas hidup dengan caranya, dan Masaomi juga bebas menjalani hidupnya sendiri. 


Sesederhana itu.


“…Sepertinya sudah cukup larut, ya.”


Masaomi mengecek ponsel—waktu sudah lebih lewat daripada perkiraannya. Meski matahari masih memancarkan sinar jingga menyilaukan, Sena pasti memiliki urusan sebagai pembina klub. Sudah waktunya undur diri.


“Maaf sudah mengganggu lama sekali.”


“Sena-sensei, terima kasih sudah berbicara dengan kakakku. —Lain kali aku bawain camilan ya!”


Masaomi mengira Hinata akan menutup dengan penuh hormat, tetapi dia malah beralih ke gaya santai seperti biasanya, membuat Masaomi hanya bisa terdiam. Tapi mungkin memang seperti itulah seseorang. Sama halnya dengan Kanae: wakil ketua OSIS, pengamat, junior yang manis—semua itu hanyalah satu dari berbagai sisi dirinya.


“Tidak, justru aku yang minta maaf tidak bisa menjamu kalian dengan layak. Terima kasih sudah menyempatkan diri datang, anak alumni.”


Inilah manusia yang benar-benar matang. Inilah sosok yang disebut orang dewasa. Inilah seorang guru.


Masaomi berpikir: para wali kelas payah di sekolah lamanya harus minum air rendaman kuku kaki Sena, sedikit saja, biar belajar jadi manusia.


“Sebelum pulang, mampirlah melihat patung malaikat itu. Mungkin kamu bisa menemukan sedikit petunjuk untuk kegelisahanmu.”


Begitu kata sang guru yang pasti memperhatikan Kanae dengan sangat baik. dan memang, patung malaikat itu benar-benar memakai kostum yang sangat minim untuk dipakai cosplay.


Sosok perempuan setengah telanjang, mengulurkan tangan ke langit. Sayapnya seperti kain tipis—pada dasarnya hanya selembar kain sempit yang melingkari tubuhnya. Memang ada keindahan ‘yang hendak terbang’ pada patung itu.


Masaomi sendiri merasa deg-degan karena sedikit mirip dengan Hibari—dan ia bertekad membawa rahasia itu sampai mati.


Hinata, di sisi lain, menatap patung itu dan spontan berkata, “Ugeee”—reaksi yang sungguh tidak sopan. Melihatnya, Masaomi ingin bilang: Idol yang mereka kejar-kejar ini aslinya ‘ugeee’, tahu?


Dalam perjalanan pulang, para penggemar Hinata tetap menghampirinya seperti idol sungguhan. Masaomi ingin berteriak pada mereka bahwa yang mereka kejar itu barusan jijik melihat patung.


Akhirnya mereka sampai di jalan pulang yang tenang. Hinata berkata tiba-tiba:


“Kayaknya ya, Senacchi sebenarnya sadar kalau masalah yang Onii bilang itu ada bagian bohongnya. Tapi karena beliau juga khawatir sama Saeki-senpai dan Kasugano-san, makanya beliau kayak bilang, ‘kalau udah ikut campur, beresin sampai tuntas’. Itu namanya apa, ya? Pengalaman hidup? Makanya aku juga percaya sama beliau. Beliau tuh beneran guru yang bagus.”


Kalau Hinata sudah bilang begitu, Masaomi percaya tanpa ragu.


Sejak tadi, Masaomi merasakan sengatan panas yang membakar di sekitar bahu kirinya.


Kemarin seseorang menyinggung hal itu, tapi kini jelas: ini bukan sisa pegal dari “bantal bahu”.


Sebagai Guardian yang terbiasa diperlakukan kasar oleh tuannya, ini jelas bukan metode Noble Lark.


Ada niat lain. Niat milik seseorang. Kemungkinan tersangkanya hanya sedikit. Dan karena itu, Masaomi memutuskan untuk segera mengirim beberapa pesan—sebagai persiapan menghadapi apa pun yang akan terjadi.


"Menurutku, aku sendiri sebenarnya nggak jelek-jelek amat, sih."


Di depan cermin seluruh badan di kamar pribadinya, diterangi hanya cahaya redup lampu malam, ia berdiri mematung seorang diri. Tanpa mengenakan baju tidur, hanya memakai pakaian dalam berwarna navy—warna yang sama dengan matanya—ia menatap sosoknya di cermin, memperhatikan satu per satu siluet yang tampak samar di balik gelap ruangan. Rambut ash-blonde yang ia biarkan kembali ke warna aslinya setelah lama tak mewarnai hitam, wajah yang teratur dan tegas hasil darah neneknya, dua bukit yang semakin penuh beberapa waktu belakangan, pinggang dengan lekuk yang pas, kulit putih bersih dan halus, tangan dan kaki yang lentik, serta karakter dirinya yang menggemaskan dan mudah disukai—seperti sahabat dekat yang semua orang sayangi.


"Udah terlanjur kepikiran juga… tapi ya tetap saja bikin tegang. Soalnya orang itu ekspresinya nggak pernah berubah."


Berbanding terbalik dengan kata-katanya, suaranya datar tanpa semangat, ditambah suasana kamar yang gelap membuatnya terdengar seperti gumaman hantu.


"Tapi… kalau lebih langsung dan lebih menggoda, pasti dia bakal bereaksi. Soalnya… dia kan laki-laki."


Seakan menyemangati dirinya sendiri, ia mengelus seluruh tubuhnya perlahan, teliti. Gerakan itu begitu dewasa dan sensual untuk seorang gadis, dan wajah cantik yang selalu dipuji orang pun—sejauh ini—belum membawanya pada tujuan.


Ia mengalihkan pandangan dari cermin, menuju meja. Di sana, diterangi samar cahaya redup, foto-foto yang ia ambil sendiri berjajar memenuhi permukaan meja. Kadang di sekolah, kadang di arcade, kadang di rumah sakit, kadang di taman—latar waktu dan tempatnya berantakan dan acak, tapi subjeknya selalu sama.


Sasuga Hibari dan Kusunoki Masaomi.


Belakangan ini beberapa fotonya diambil langsung di depan Masaomi, tapi sebagian besar adalah hasil mengambil gambar diam-diam.


"Kalau soal aku… biar dia lakukan sesukanya."


Masih hanya dengan pakaian dalam, ia mendekati meja dan mengambil sebuah foto. Mata gelapnya, seperti langit malam tanpa bintang, menatap foto itu tanpa ekspresi—seperti melihat batu tak bernilai.


"Kalau mau menjadikanku tempat pelampiasan pun… nggak apa-apa."


Foto itu menampilkan pasangan yang saling menempel manis di gondola bianglala di Jougadai Kaihin Park. Komposisi dari depan, langit biru yang menusuk lewat jendela gondola, suasana kepercayaan penuh di antara keduanya—foto itu sempurna. Benar-benar "rekaman" yang menangkap apa adanya. Sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai nilai tertinggi dalam fotografi. Dan ia, yang menatap foto itu, justru menatapnya dengan kebalikan dari keindahan itu—sepenuhnya tanpa ekspresi.


"Walaupun aku sampai jadi kotor… kamu tetaplah seperti dirimu. Karena itu…"


Dunia yang terlalu sempurna itu—terlalu menjijikkan.


"Orang yang menodai Senpai… harus hilang."


Ia mengambil gunting, lalu perlahan—sangat perlahan—mulai mengiris foto itu. Seolah memisahkan sesuatu yang pada dasarnya tak boleh bersatu. Ia memotongnya berulang kali, berkali-kali, memastikan satu orang dalam foto itu takkan pernah bangkit lagi. Mengulang dan mengulang, seakan menulis ulang hukum dunia.


Potongan-potongan kecil itu ia tumpuk rapi menjadi satu di atas meja.


"Biarkan aku yang memperbaikinya. Setelah itu, Senpai pasti bisa jadi jujur."


Ia meraih akrilik stand Pure Angel, menggenggamnya kuat-kuat, lalu menghantamkannya pada tumpukan potongan foto.


Serpihan yang berterbangan jatuh seperti hujan, sementara ia menghela napas berat dan memeluk diri sendiri. Dada yang penuh itu berubah bentuk karena tekanan lengannya, seakan ia mencoba memeluk seluruh isi jiwanya sekaligus.


Dalam kamar yang gelap dan sunyi. Cahaya kecil yang redup menerangi tubuhnya.


"Haah… rapat besar OSIS… aku nggak sabar…"


Di sana, dengan napas terengah, Saeki Kanae menampilkan sebuah senyum palsu—senyum yang bukan miliknya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close