Chapter 186
Para Lelaki pada Saat Itu
"Selamat
datang, ini adalah tokoku."
Setelah
menyerahkan para bajak laut kepada penjaga, aku datang ke toko Seibei-san
karena dia bersikeras ingin membalas budi secara resmi.
Bangunan
tokonya sangat besar, jelas sekali menunjukkan kalau Seibei-san adalah pemilik
toko besar yang berpengaruh. Di papan namanya tertulis nama toko dalam bahasa
Negeri Timur, Echigoya.
"Echigoya...?"
"Benar, selamat datang di 'Echigoya', Rex-san."
Eh? Seingatku, itu adalah nama toko tempat kami seharusnya
mengambil barang pesanan untuk permintaan yang kami terima.
Aku mengeluarkan catatan detail tentang permintaan tersebut
dari dalam saku untuk memastikan nama tokonya, lalu menyodorkan surat dari
guild yang seharusnya diberikan kepada rekan transaksi.
"Anu, sebenarnya aku memang punya keperluan di toko
ini."
"Ooh, benarkah begitu! Tak disangka nyawa dan barang
daganganku diselamatkan oleh pelanggan toko kami sendiri, ini benar-benar
takdir!"
Tidak, tidak, itu berlebihan.
"Mari, tidak enak bicara sambil berdiri, silakan masuk
ke dalam."
Seibei-san
menerima surat itu dan membimbingku masuk ke dalam toko.
""""Selamat
datang kembali, Tuan!""""
Begitu masuk ke
dalam, para pegawai toko serentak menundukkan kepala begitu melihat sosok
Seibei-san.
"Ya, aku
baru saja kembali."
"Tuan!"
Lalu dari bagian
dalam toko, seorang pria muncul dengan terburu-buru.
Dibandingkan
pegawai lain, penampilannya tampak lebih berwibawa, mungkin dia adalah petinggi
di toko ini?
"Kami
sangat khawatir karena Anda pulang sangat terlambat."
"Ah,
maafkan aku, Yokichi. Kami terjebak badai dan kapal hampir karam."
"A-apa
Anda bilang?!"
Pria
bernama Yokichi itu wajahnya menjadi pucat setelah mendengar penjelasan
Seibei-san.
"L-lalu
bagaimana dengan kapalnya?! Para
kru?! Bagaimana dengan muatannya?!"
"Tenanglah.
Berkat Rex-san di sini yang kebetulan lewat, semuanya selamat."
"O-oh! Kalau
begitu, terima kasih banyak su... dah?"
Yokichi-san yang
berbalik ke arahku untuk berterima kasih tiba-tiba menghentikan ucapannya dan
celingak-celinguk melihat ke sekeliling.
"E-eh..."
"Yokichi,
tidak salah lagi, memang orang ini. Rex-san adalah penyihir berbakat meskipun
usianya masih muda."
"Eeeh?!
Mo-mohon maafkan kelancangan saya!!"
Begitu tahu bahwa
orang yang menyelamatkan kapal adalah anak muda sepertiku, Yokichi-san meminta
maaf dengan wajah pucat pasi.
"Dasar kamu
ini. Berhentilah menilai orang dari penampilannya. Maafkan dia ya, Rex-san. Dia
ini masih belum berpengalaman."
"Tidak
apa-apa, jangan dipikirkan. Aku juga baru sebentar menjadi petualang."
"Petualang,
seingatku itu adalah sebutan untuk orang yang serba bisa di benua sana,
ya."
Karena dia bilang
'di benua sana', apakah konsep petualang tidak ada di negara ini?
"Maafkan
aku, Rex-san. Aku akan memastikan isi surat ini dan memberi instruksi pada
bawahanku, jadi tolong tunggu sebentar di ruang tamu di bagian dalam."
"Baiklah."
"Oi kamu,
antar orang ini ke ruang tamu. Beliau adalah penolong toko kita. Perlakukan
dengan sangat hormat."
"S-siap!
Lewat sini, Pelanggan. Silakan lepaskan alas kaki di sini sebelum naik."
Seorang pegawai
toko muda yang diperintah Seibei-san memanduku.
"Silakan
tunggu di sini."
Ruangan tempat
aku diantar memiliki interior yang tidak biasa, hanya ada meja pendek dengan
bantal duduk di sekelilingnya.
Sebagai gantinya,
dindingnya terbuka lebar, memperlihatkan taman yang tertata rapi yang
terbentang luas seperti sebuah lukisan.
Untuk rakyat
jelata yang bukan bangsawan bisa merawat taman sehebat ini, sepertinya
Seibei-san benar-benar pedagang yang hebat.
Setelah pegawai
yang mengantarku pergi, kali ini seorang pegawai perempuan muda datang
membawakan teh dan kue.
"Silakan,
ini hanya teh alakadarnya."
"Terima
kasih."
Teh dan kue yang
disediakan sangat lezat, membuatku merasa lega tanpa sadar.
Meskipun kuenya
sederhana, rasa manisnya terasa mantap, menunjukkan kalau mereka menyediakan
sesuatu yang berkualitas tinggi.
Jujur saja,
rasanya lebih nikmat dibandingkan saat aku diundang ke kediaman bangsawan di
kehidupan sebelumnya.
Saat itu, aku
bisa melihat dengan jelas nafsu dari orang yang minum teh bersamaku, jadi aku
tidak bisa menikmati makanannya sama sekali.
Pemandangan indah
dengan teh dan kue yang lezat, ini benar-benar keramahan kelas satu!
"Maaf
menunggu lama."
Saat aku sedang
menikmati pemandangan sambil minum teh, Seibei-san datang.
"Mohon maaf.
Mengenai barang transaksinya, sepertinya butuh waktu sedikit lebih lama karena
masalah pengadaan."
"Tidak
apa-apa. Klienku juga sudah memperkirakan hal itu."
Karena itulah aku
diberikan biaya pengeluaran yang cukup banyak.
"Terima
kasih atas pengertiannya. Sebagai permintaan maaf, silakan menginap di tempat
kami sampai barangnya terkumpul."
"Eh? Itu
terlalu merepotkan bagi Anda."
Bagaimanapun
juga, aku tidak bisa bermanja-manja sampai sejauh itu. Aku juga sudah menerima
biaya penginapan dari klien.
"Tidak,
Rex-san sudah menyelamatkan bawahan dan muatanku. Aku ingin membalas
budi untuk hal itu."
Hmm. Padahal aku hanya kebetulan lewat saja, tidak perlu
sampai dipikirkan sejauh itu. Sejujurnya, aku merasa sudah cukup dibalas dengan
teh, kue, dan pemandangan taman ini. Bagaimana ya... ah, benar juga.
"Mohon maaf, tapi aku harus mencari rekan-rekanku yang
terpisah saat badai."
"Rekan-rekan Anda?"
"Iya."
Jika pengadaan barang butuh waktu, selama itu aku akan
berkeliling ke kota atau desa sekitar untuk mencari Liliera-san dan yang
lainnya. Mungkin semuanya juga sudah sampai di kota atau desa terdekat.
"Begitu
ya, kalau begitu biar orang-orang dari tokoku yang mencarinya!"
"Eh?"
"Kemungkinan
rekan-rekan Rex-san juga sedang mencari Anda. Jika begitu, jika semua orang
bergerak ke sana kemari mencari satu sama lain, ada risiko kalian malah akan
saling berpapasan tanpa bertemu."
Yah, itu mungkin
ada benarnya juga.
"Tapi kota
ini adalah kota tempat kapal yang Rex-san tumpangi sampai. Belakangan ini,
karena badai itu, kapal dari luar negeri jarang sekali datang, jadi kota
ini—tempat kapal asing berhasil sampai dengan selamat—akan menjadi penanda yang
bagus."
Begitu ya, jika
benar badai itu adalah penyebab kapal-kapal tidak kembali seperti yang kudengar
di Guild Petualang, maka kota ini mungkin memang penanda paling tepat untuk
mereka semua.
"Omong-omong, badai itu sebenarnya apa?"
Aku mencoba bertanya pada Seibei-san tentang badai tersebut.
Karena aku merasakan ada unsur buatan manusia dalam badai yang tidak alami itu.
Siapa dan dengan niat apa badai itu ditimbulkan? Jika
situasi di sekitar itu tidak diketahui, kapal-kapal yang datang ke Negeri Timur
akan terus diserang badai.
"Masalahnya,
kami sendiri pun tidak tahu."
"Tidak
tahu?"
"Iya.
Beberapa bulan lalu, tepat saat kapal yang keluar dari pelabuhan sampai di
lepas pantai, tiba-tiba badai muncul. Awalnya kami pikir hanya sedang sial,
jadi kami mencoba berlayar lagi di hari lain, tapi badai muncul lagi. Saat itu
kami pikir nasib buruk sedang beruntun, tapi setelah berkali-kali mencoba
berlayar dan badai selalu muncul saat kapal mencapai jarak tertentu dari
pantai, kami sadar kalau ini bukan kebetulan."
Karena Seibei-san
dan yang lainnya juga berpikir begitu, sepertinya badai itu memang disengaja.
Merepotkan juga kalau tidak tahu penyebabnya.
"Terlebih
lagi, sepertinya badai ini tidak hanya terjadi di sekitar sini, tapi di seluruh
lautan negara ini."
"Seluruh
negara?!"
Itu gawat
sekali!?
Negeri Timur
memang bukan negara kepulauan yang sangat besar, tapi tetap saja luasnya cukup
untuk disebut sebuah negara.
Untuk menutupi
semuanya sekaligus pasti butuh usaha yang luar biasa!?
"Hal yang
sama juga terjadi pada kapal yang datang dari luar, sehingga negara kami
menjadi tidak bisa dimasuki maupun ditinggalkan. Hal yang bisa dilakukan
hanyalah berpindah-pindah antar pelabuhan di dalam negeri sambil menjaga jarak
aman agar badai tidak muncul. Gara-gara itu, perdagangan dengan negara asing benar-benar mati."
Sepertinya
toko Seibei-san juga melakukan perdagangan luar negeri ya. Tapi sekarang
kondisinya hanya bisa melakukan transportasi dan penjualan di dalam negeri
saja.
"Apakah
tidak ada keanehan lain yang terjadi?"
Apakah ada
masalah lain yang sepertinya berhubungan dengan penyebab laut bergejolak?
"Mari kita
lihat, selain laut yang bergejolak, tidak ada hal yang terlalu menyulitkan...
Ah, benar juga, ada satu kejadian besar."
"Apa
itu?"
Seibei-san
memberitahuku tentang kejadian itu dengan raut wajah yang tampak enggan.
"Sepertinya
ini tidak ada hubungannya sih. Beliau telah 'bersembunyi'. Maksud saya,
Shogun negara kami."
"Shogun?
Shogun dari negara mana?"
Apakah badai ini
muncul karena suatu operasi militer? Bersembunyi artinya hilang... tidak, dari
ekspresi Seibei-san, sepertinya itu bukan makna harfiahnya. Mungkin itu
bermakna beliau telah wafat.
"Bukan,
Shogun negara kami bagi kalian orang asing adalah sosok yang setara dengan
Raja."
"Raja negara
ini?!"
"Secara
teknis berbeda, tapi kurang lebih mirip."
Begitu ya,
Rajanya meninggal dunia. Benar-benar kejadian besar bagi orang-orang di negara ini.
"Tapi,
sepertinya tidak ada hubungannya dengan alasan laut bergejolak ya."
"Memang
begitu, sih."
Hmm,
kejadian ini mungkin tidak ada hubungannya?
"Terlebih
lagi, tepat setelah Shogun-sama wafat, Tuan Muda juga menghilang, sehingga para
petinggi di atas sedang gempar. Karena itulah para petugas juga sedang sangat
sensitif. Jika Rex-san yang merupakan orang asing yang langka berkeliling ke
sana kemari, ada risiko akan mengundang kecurigaan yang tidak perlu. Oleh
karena itu, menurutku lebih baik biarkan anak buahku yang mencari rekan-rekan
Anda sambil mereka melakukan pengadaan barang."
"Begitu
ya..."
Sepertinya
alasan Seibei-san menawarkan kamar juga merupakan bentuk pertimbangan agar aku
tidak dicurigai oleh petugas.
Meskipun
aku ingin segera mencari yang lain, sepertinya bekerja sama dengan orang yang
paham medan akan memberikan kemungkinan lebih tinggi untuk menemukan mereka
dengan cepat.
"Baiklah.
Kalau begitu, aku akan menerima bantuan Anda."
"Ooh, terima
kasih banyak! Akan aku perintahkan bawahanku untuk segera menemukan rekan-rekan
Anda!"
Begitulah,
setelah sampai di 'Echigoya' yang merupakan tujuanku, aku memutuskan untuk
mencari rekan-rekanku yang terpisah dengan bantuan Seibei-san. Kuharap semuanya
selamat. ...Tapi, menunggu terus-menerus itu membosankan juga ya.
◆Jairo◆
"Daryaaaaa!!"
Aku membelah monster raksasa yang menyerang desa menjadi dua
dengan pedang sihir yang telah diperkuat atribut api.
"Sekarang sudah aman!"
Setelah membasmi monster itu, aku menyapa gadis berbaju
putih bersih yang gemetar tepat di belakangku.
Katanya, desa ini sudah dikacaukan oleh monster tadi sejak
bertahun-tahun yang lalu, dan gadis ini dijadikan tumbal untuk melindungi desa.
Aku juga kaget mendengarnya, tapi katanya karena di negara
ini tidak ada Guild Petualang, desa tidak bisa menyewa petualang. Jadi kalau
diserang monster, mereka hanya bisa mengandalkan tuan tanah.
Tapi tuan tanah yang memimpin daerah sini adalah pengecut;
setelah sekali kalah bertarung melawan monster ini, dia selalu mencari alasan
untuk mengabaikan teriakan minta tolong dari desa.
Mendengar cerita begitu, mana bisa aku tinggal diam!
Kebetulan aku dengar hari ini adalah hari penyerahan tumbal, jadi aku
bersembunyi diam-diam dan menunggu monster itu datang.
"Tapi
monsternya tidak seberapa ya. Dibandingkan naga atau iblis, ini sama sekali bukan apa-apa!"
"A-anu...
te-terima kasih banyak. Aku... aku..."
Gadis yang
dijadikan tumbal itu meneteskan air mata sambil terbata-bata.
Yah, wajar saja,
sampai tadi dia pasti sudah menahan diri sekuat tenaga karena ketakutan bakal
dimakan monster. Tidak heran kalau dia belum bisa menenangkan perasaannya.
"Tenanglah!
Seperti yang kamu lihat, monsternya sudah aku kalahkan. Sudah tidak ada yang
perlu dikhawatirkan lagi!"
Aku menarik gadis
itu mendekat dan mengusap kepalanya. Bocah-bocah di tetanggaku yang menangis
ketakutan biasanya juga akan tenang kalau aku melakukan ini. Benar saja, gadis
yang tadi menangis kencang ini perlahan-lahan mulai tenang.
"Ma-maaf.
Aku ini benar-benar cengeng."
Kepada gadis yang
merasa malu itu, aku berkata padanya.
"Tidak
begitu, kok. Aku sudah dengar kalau kamu sendiri yang menawarkan diri menjadi
tumbal demi melindungi semua orang di desa. Kamu itu hebat. Orang biasa pasti
tidak akan sanggup mengatakannya. Kamu benar-benar orang yang luar biasa. Jadi,
tidak ada yang perlu dimalukan!"
"Ta-tapi,
pada akhirnya aku tidak bisa melakukan apa-apa..."
"Bukan masalah apa yang bisa kamu lakukan! Yang penting adalah kamu bergerak untuk melakukan sesuatu! Kamu bergerak demi melindungi semua orang! Hal itu tidak bisa ditiru oleh sembarang orang! Itulah kenapa aku pun berpikir untuk melindungimu! Percayalah pada dirimu sendiri! Kamu adalah orang yang hebat!"
"Ya,
baik..."
Mungkin
karena tidak terbiasa dipuji, gadis itu menunduk dengan wajah yang memerah
padam.
Hehe, aku
benar-benar mengerti kerja kerasmu, kok! Jadi jangan berkecil hati!
◆
"Terima
kasih banyak! Terima kasih banyak!"
Seluruh penduduk
desa berkumpul dan menundukkan kepala kepadaku.
"Jangan
dipikirkan. Aku cuma memberi pelajaran pada monster yang sedikit bertingkah
itu."
Lalu, Kepala Desa
menyodorkan sesuatu kepadaku.
"Maaf, hanya
ucapan terima kasih sebesar ini yang bisa kami berikan..."
"Ah,
tidak usah, tidak usah. Kali
ini aku tidak sedang menjalankan misi, aku cuma melakukannya atas kemauanku
sendiri."
"Eh? Kenapa
tidak diambil saja, Tuan Muda? Itu kan imbalan yang sah. Terima saja, yuk," celetuk salah satu
bajak laut itu.
Dia
adalah salah satu orang yang aku selamatkan saat jatuh ke laut, tapi orang ini
benar-benar tidak punya nyali. Waktu aku pergi membasmi monster pun, dia cuma
bersembunyi di desa karena ketakutan.
"Jangan
panggil aku Tuan Muda. Lagipula, kamu kan cuma bersembunyi dan menonton tanpa
melakukan apa-apa."
Aku menjitak
kepala bawahan bajak laut yang menyuruhku mengambil imbalan itu.
"Tapi
manusia normal tidak akan mau menantang monster seperti itu dari depan, lho.
Apalagi sendirian."
"Ngomong
apa kamu. Kalau Kakak, dia pasti bisa menghajar monster yang jauh lebih besar
seorang diri."
"Dari dulu
aku penasaran, apakah orang itu benar-benar manusia?"
"Hmm,
kurasa... dia manusia."
Yah, kekuatan
Kakak memang sudah tidak masuk akal, tapi yang terpenting adalah Kakak itu
sosok pria yang patut dihormati!
"Kalau
begitu, ayo jalan. Kita harus segera bertemu dengan Kakak dan yang
lainnya!"
"Si-siap!
Ahh, sayang sekali ya imbalannya..."
Masih saja
mengeluh, ya.
"A-anu!"
Tiba-tiba, gadis
yang tadinya jadi tumbal berlari mengejarku dengan napas terengah-engah.
"Te-terima
kasih banyak atas segalanya!"
"Sudah,
jangan dipikirkan. Aku cuma melakukannya atas kemauanku sendiri, kok."
"Aku
tidak bisa memberikan imbalan yang pantas, tapi to-tolong terima ini!"
Dia
menyodorkan sebuah kantong berisi masakan Negeri Timur.
"Kamu
yang membuatnya?"
"A-aku
berusaha keras membuatnya!"
Sepertinya dia
terburu-buru menyiapkannya. Wajah gadis itu merah padam.
"Terima
kasih! Ini imbalan terbaik!"
Kebetulan perutku
memang lapar! Aku segera memakan masakan berwarna putih yang dibentuk bulat
itu.
"Wah,
enak!"
"Sy-syukurlah..."
Jujur, ini enak
sekali. Rasa asinnya pas dan terasa sangat lezat.
"Datanglah
lagi ya. Nanti aku akan membuatkan banyak masakan untukmu!"
"Tentu, aku
nantikan!"
Setelah membuat
janji dengan gadis yang wajahnya masih merah itu, kami pun meninggalkan desa.
"Wah,
aku jadi tidak sabar ingin berkunjung ke desa ini lagi!"
"...Haaah,
Tuan Muda, kamu tidak paham maksud perkataan gadis itu, ya?"
"Sudah
kubilang jangan panggil Tuan Muda! Lagipula, maksud apa?"
"Ah,
sudahlah. Kalau tidak paham ya sudah, bukan kapasitas saya untuk
mengatakannya."
"Apa-apaan,
sih."
Benar-benar
tidak mengerti.
Ya
sudahlah. Pokoknya sekarang prioritasku adalah mencari Kakak! Kalau aku terus beraksi seperti ini, Kakak
pasti akan mendengar prestasiku dan itu bisa jadi petunjuk bagi mereka!
"Di
mana-mana selalu begini. Sebenarnya berapa banyak gadis yang ingin kamu buat
bimbang, Tuan Muda..."
◆Norb◆
"Nah, dengan ini pengobatannya sudah selesai."
Setelah selesai memberikan perawatan, aku menyapa gadis yang
tadinya meringkuk sambil memejamkan mata di depanku.
"A-apakah sudah selesai?"
Gadis itu bertanya dengan suara gemetar yang seolah sedang
mengintip keadaan. Aku mengangguk pelan. Lalu aku memberi isyarat pada pelayan
pribadinya, dan pelayan itu melihat ke arah wajah sang nona.
"...?!
Nona?!"
Mendengar
suara terkejut si pelayan, gadis yang dipanggil nona itu tersentak gemetar.
"A-apakah masih tidak berhasil?"
"Kebalikannya! Lukanya! Lukanya sudah menghilang dengan
bersih!"
"...Eh?"
Mendengar kata-kata pelayannya, gadis itu mengerjapkan mata
sejenak, tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan. Lalu ia gemetar saat
pelayan itu menyodorkan cermin, dan dengan rasa takut yang terpancar, ia
perlahan mengarahkan pandangannya ke cermin.
"...Ah."
Hanya satu gumaman kecil, namun aku bisa merasakan perasaan
tidak percaya yang mendalam di dalamnya. Kemudian, sambil menyentuh wajahnya
dengan jari, suara gemetar keluar dari bibirnya.
"Lukanya... sembuh."
Gadis ini adalah putri dari seorang penguasa wilayah. Namun,
ia menderita luka besar di wajahnya akibat serangan monster. Bagian terburuknya
adalah monster itu beracun.
Dan proses untuk
mendapatkan bantuan sihir penyembuhan memakan waktu terlalu lama. Akibatnya,
meski racunnya bisa diobati, luka di wajahnya tidak bisa disembuhkan.
Sejak
saat itu, ia mengurung diri di kamar dan tidak pernah keluar lagi. Bagi seorang
bangsawan... tidak, bagi gadis yang belum menikah, memiliki luka di wajah
adalah hal yang sangat berat.
Sebagai
pria, aku mungkin tidak bisa sepenuhnya memahami penderitaannya, namun tidak
diragukan lagi bahwa ia telah merasakan kesedihan dan penderitaan yang luar
biasa.
Saat
itulah, sang penguasa mendengar kabar bahwa ada pengguna sihir penyembuhan dari
luar negeri yang muncul di kota dan menyembuhkan banyak orang.
Ya, itu
aku. Sambil mengumpulkan uang dan informasi untuk bertemu kembali dengan
rekan-rekan, aku mengobati orang-orang di kota dengan sihir penyembuhan.
Berpikir
bahwa sihir penyembuhan asing yang kugunakan mungkin bisa menyembuhkan luka
putrinya, sang penguasa memanggilku ke kediamannya.
Ah,
omong-omong, bajak laut yang kuselamatkan di laut kujadikan sebagai pengikutku.
Kalau mereka tahu dia bajak
laut, dia pasti langsung dihukum gantung. Karena berbagai alasan itulah, aku
akhirnya mengobati sang nona, dan...
"Sembuh...
sudah sembuh, Oshizu."
"Iya, iya,
syukurlah, Nona."
Si pelayan
bernama Oshizu itu ikut menangis bahagia bersama sang nona seolah itu adalah
kegembiraannya sendiri.
Hmm, benar-benar
syukurlah. Jujur, kalau itu sihir penyembuhanku yang dulu, aku pasti tidak akan
bisa menyembuhkannya.
Ini semua berkat
berbagai sihir penyembuhan yang diajarkan oleh Rex-san. Aku benar-benar
bersyukur bisa bertemu dengan Rex-san.
...Meskipun aku
masih sedikit ragu untuk bersyukur soal latihan meningkatkan jumlah mana yang
seperti neraka itu.
"Te-terima
kasih banyak, Tuan Penyembuh..."
Saat sedang
memikirkan hal itu, sang nona mengucapkan terima kasih kepadaku.
"Aku
senang kekuatanku bisa berguna."
Benar-benar
melegakan.
◆
"Wah,
benar-benar sangat terbantu."
Setelah selesai
mengobati sang nona, aku juga menerima ucapan terima kasih dari Sang Penguasa.
"Aku
senang kekuatan yang belum matang ini bisa berguna."
"Hahaha!
Mana mungkin orang yang menyembuhkan luka putriku—yang bahkan telah menyerah
diobati oleh seluruh tabib di negeri ini—disebut belum matang!"
Sang
Penguasa tampak sangat senang dan terus tertawa sejak tadi. Mengingat luka
parah putri kesayangannya telah sembuh, wajar jika ia bereaksi seperti itu.
"Sesuai
janji, aku akan memberikan imbalan yang melimpah. Tidak, kalau kamu mau, aku
bisa mengangkatmu menjadi bawahan langsungku!"
"T-tidak.
Aku sangat berterima kasih atas tawarannya, tapi aku masih dalam masa
pelatihan."
Faktanya,
baik sebagai anggota gereja maupun sebagai petualang, aku masih hijau. Aku
masih harus terus berlatih.
"Sayang
sekali. Tapi mungkin kejam jika menahanmu yang merupakan orang asing di tanah
yang tidak biasa ini. Maafkan
aku, sepertinya aku terlalu bersemangat. Lupakan saja."
Mungkin itu hanya
basa-basi diplomatik. Sang Penguasa segera membatalkan tawarannya dengan
santai.
"Nah, kamu
sedang mencari rekan-rekanmu yang terpisah, kan?"
"Benar."
Saat menerima
permintaan dari Sang Penguasa, aku mengajukan syarat bahwa aku juga ingin
mengumpulkan informasi tentang Jairo-san dan yang lainnya. Karena sejak awal,
itulah tujuan utamaku.
"Setelah
kusuruh bawahan menyelidiki, aku mendapatkan informasi tentang orang yang
sepertinya adalah orang asing."
"Benarkah?!"
"Umu,
tapi..."
Tiba-tiba
ekspresi Sang Penguasa menjadi muram.
"Laporannya
sedikit tidak masuk akal. Kurang bisa dipercaya."
"Tidak
masuk akal... maksudnya?"
"Umu.
Katanya... ada sebuah kapal terbang yang membawa orang asing datang ke
pelabuhan."
"Ah, kalau
itu pasti kenalan saya."
"Benar.
Bagaimanapun, tidak mungkin kita bisa mempercayai cerita yang tidak masuk akal
sepert—apa?"
Sang Penguasa
mengerjapkan mata dan memiringkan kepala mendengar kata-kataku.
"Orang asing
yang datang dengan kapal terbang itu adalah kenalan saya."
"...Hah?"
Ya, aku sangat
mengerti perasaan Anda. Tapi orang yang bisa melakukan hal seperti itu cuma
Rex-san. Atau lebih tepatnya, jika ada rumor seperti itu, mustahil bagi kami
untuk tidak mencurigai keberadaan Rex-san.
Yah, bagaimanapun juga, mendapatkan informasi tentang rekan adalah hal yang bagus. Tinggal berharap aku bisa bertemu kembali dengan semuanya tanpa ada masalah...



Post a Comment