Chapter 187
Kota Omitsu
◆Mina◆
"Kita
sampai! Inilah kota pelabuhan Omitsu!"
Begitu tiba di
kota, Yukitaka menunjukkan ekspresi lega seolah akhirnya bisa bernapas setelah
perjalanan panjang. Tapi, aku tidak boleh membiarkannya lengah di sini.
"Jangan
ceroboh. Ingat, kamu masih diincar. Jangan mengendurkan kewaspadaan sebelum
kita masuk ke kediaman pamanmu dan keamananmu benar-benar terjamin."
"U-umu. Kamu
benar..."
Begitu aku
menegurnya, Yukitaka tampak menciut dan jadi lesu seketika. Andai saja Jairo
bisa sepenurut ini, pasti hidupku jauh lebih tenang.
"Kak, apa
tidak sebaiknya Kakak sedikit lebih lembut padanya?"
Entah kenapa,
Gobun melirikku dengan tatapan seolah-olah dia kasihan pada Yukitaka. Apa ini?
Semacam solidaritas sesama pria atau semacamnya?
"Bagaimanapun
juga, sampai di kota dengan selamat adalah hal yang patut disyukuri. Mari kita
tetap waspada dan langsung menuju kediaman Tuan Hanshu."
Sama halnya
dengan Gobun, Haruomi-san mencoba menengahi sambil mengusulkan agar kami segera
bergerak menuju kediaman penguasa.
"Baiklah. Omong-omong, Hanshu itu apa?"
"U-umu! Hanshu adalah orang yang diberikan
mandat oleh Shogun untuk memerintah sebuah Han!"
"Han?"
"Itu istilah hubungan antara tuan tanah dan wilayah
kekuasaannya di negeri ini, Kak," bisik Gobun di telingaku.
Meski aslinya bajak laut, sebagai pelaut ternyata dia tahu
banyak soal Negeri Timur. Lumayan berguna juga anak ini.
"Kalau begitu, ayo pergi! Ikuti aku!"
Kami dipandu oleh Yukitaka yang tiba-tiba kembali
bersemangat menuju kediaman sang Hanshu.
Yah, sebenarnya dari sini pun sudah terlihat bangunan besar
yang jelas-jelas rumah penguasa, jadi tidak perlu dipandu pun kami tidak akan
tersesat.
◆
"Kalau dilihat dari dekat, ternyata besar sekali
ya."
"Benar juga, Kak."
Setibanya di depan gerbang, kami terpukau oleh ukuran rumah
itu yang di luar dugaan. Bukan karena tingginya, melainkan luas bangunannya
yang berbeda jauh dengan rumah biasa.
Pagar yang mengelilingi kediaman itu luasnya hampir seukuran
desa kecil, menunjukkan betapa masifnya tanah yang mereka miliki.
Dari jauh tadi, bangunan-bangunan di sekitarnya menghalangi
pandangan sehingga luas aslinya tidak terlihat.
"Kalian! Ada
urusan apa di kediaman ini?!"
Penjaga pintu
yang berjaga di depan gerbang berseru waspada saat melihat kami, orang-orang
asing yang tidak dikenal.
"Ini adalah
kediaman keluarga Omitsu. Jika tidak ingin dicurigai, segera angkat kaki dari
sini!"
Hmm, seperti yang
kuduga, kami benar-benar tidak disambut dengan hangat.
Namun,
Haruomi-san berjalan mendekati penjaga itu dan menunjukkan sesuatu secara
sembunyi-sembunyi. Seketika itu juga, wajah sang penjaga berubah pucat pasi.
"...I-ini?!
Mohon maaf atas kelancangan saya! Saya akan segera membukakan gerbang!"
Kewaspadaan
tadi menguap entah ke mana. Sikapnya berubah menjadi sangat sopan, seolah-olah
sang pemilik rumah sendiri yang baru saja datang.
"Silakan
masuk."
"Umu."
Yukitaka
menjawab dengan gaya angkuh seolah-olah perlakuan itu adalah hal yang wajar
baginya, lalu melangkah masuk ke dalam area kediaman. Melihat itu, aku pun menyampaikan kata-kata
perpisahan.
"Nah,
tugasku sampai di sini saja."
"Mu? Apa
maksudmu, Mina?"
Namun, Yukitaka
memiringkan kepalanya, sama sekali tidak menangkap maksudku.
"Sesuai
perkataanku. Tugasku adalah mengantarmu sampai ke kediaman pamanmu. Jadi,
pekerjaanku sudah selesai."
Benar, permintaan
yang kuterima adalah mengantar Yukitaka ke rumah pamannya di kota Omitsu.
Aku tidak
berniat mengambil pekerjaan lebih dari itu. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh
dengan urusan bangsawan.
Lagipula,
mengantarnya sampai sini sudah cukup untuk membuat dia berutang budi padaku.
"Ti-tidak,
itu memang benar, tapi... Benar! Aku masih harus membayar imbalanmu,
bukan?!"
"Kalau
soal itu, biarkan kami yang mengaturnya sebagai perwakilan."
Salah
satu penjaga berlari menuju pos jaga yang ada di bagian dalam gerbang.
"A-ah,
tunggu! Berhenti dulu!"
"Apakah
jumlah ini cukup?"
Penjaga itu segera kembali dan menyodorkan sebuah kantong berisi uang kepada Haruomi-san. Setelah memeriksa isinya, Haruomi-san mengangguk tanda tidak ada masalah.
"Hm, jumlah
ini kurasa sangat pantas untuk pahlawan yang telah melindungi Tuan Muda.
Mina-dono, silakan diterimanya."
Aku menerima
kantong dari Haruomi-san dan memeriksa isinya. Sudah kuduga, isinya mata uang
yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Satu
kantong itu cukup bagi rakyat jelata untuk hidup selama setengah tahun tanpa
bekerja."
Haruomi-san
menjelaskan nilai nominalnya secara garis besar padaku yang sedang bingung
menaksir nilainya. Begitu ya, sekitar setengah tahun biaya hidup.
Baiklah, nanti
akan kupastikan lagi dengan membandingkannya dengan harga barang di pasar.
"Sampai
jumpa, Yukitaka."
"A-ah..."
Sambil
meninggalkan Yukitaka yang tampak sangat lesu, kami pun beranjak dari kediaman
itu.
◆
"Nah,
pertama-tama mari kita cari penginapan."
Setelah
meninggalkan kediaman, kami memutuskan untuk mencari tempat beristirahat
sebagai markas sementara. Matahari sudah mulai terbenam, kami harus segera
mendapatkan kamar.
Tepat saat
itulah.
Terdengar
teriakan dari ujung jalan besar, dan suasana seketika menjadi gaduh.
"Ini...?"
Orang-orang
berhamburan seolah sedang lari dari sesuatu.
"Perampok!
Seseorang, tolong tangkap mereka!"
Sepertinya ada
pencuri. Berani sekali mereka beraksi di waktu senja begini.
"Minggir,
minggir, minggir!"
"Kalau
tidak mau terluka, menyingkirlah!"
Jumlah
perampoknya lumayan banyak, hampir sepuluh orang. Kalau sebanyak ini, mereka
sudah bisa disebut gerombolan bandit.
Apalagi
mereka berlari mencar di sepanjang jalan agar tidak bisa disapu bersih
sekaligus dengan sihir atau panah; benar-benar licik.
"Yah,
tapi kalau cuma segitu sih masih dalam batas toleransi."
Aku
sengaja berdiri menghalangi jalur lari mereka.
"Mengganggu
saja, Nak!"
Perampok
yang paling depan tanpa ragu mengayunkan senjatanya untuk menebas ku sambil
terus berlari kencang.
"Maaf
ya, aku tidak berniat bertarung jujur dengan kalian. Stan Mist!"
Sihir
diaktifkan, dan kabut tebal seketika menyelimuti para perampok.
"Sihir?!"
"Cuma
pengalih pandangan! Terjang
saja, kita pasti segera keluar!"
"Ini
bukan sekadar pengalih pandangan biasa. Meledaklah."
Dalam
sekejap, kabut itu melepaskan aliran listrik.
""""GWAARGHHHH!!""""
Terkena
serangan petir yang muncul tiba-tiba, semua perampok itu tumbang tanpa
terkecuali.
"Gafuh..."
"Fufu,
sepertinya yang lukanya lebih dari sekadar lecet itu kalian ya."
Ini
adalah Stan Mist, sihir penangkapan tipe petir khusus untuk meredam kerusuhan
yang diajarkan langsung oleh Rex.
Sihir ini
mengurung musuh dalam kabut penghasil listrik, merampas jarak pandang sekaligus
melumpuhkan lawan dengan sengatan listrik.
Berbeda
dengan panah atau sihir tembak yang bisa dihindari, sihir ini menyebar dan
membungkus musuh, jadi sangat sulit untuk melarikan diri darinya.
"He-hebat...
dia mengalahkan para perampok tanpa melibatkan penduduk kota sedikit
pun..."
Benar, seperti
yang dikatakan Gobun, sihir ini bentuknya bisa diubah sesuka hati, jadi aku
bisa menyerang tanpa melukai warga sekitar.
Dan musuh yang
tertelan kabut akan terkena serangan petir dari segala arah seperti mangsa yang
sedang dicerna di dalam perut ular.
Hmm, tapi
dipikir-pikir, ini sihir yang cukup sadis juga ya. Karena berupa kabut, ia bisa
menyelinap masuk ke dalam rumah selama ada celah, dan aku bisa mengatur waktu
kapan akan menyengat mereka.
Sangat praktis.
Lagipula, akhir-akhir ini aku merasa daya serangku terlalu tinggi, jadi sihir
yang bisa menahan diri seperti ini sangat membantu.
"Tuan Rex
memang luar biasa, tapi Kakak juga punya kekuatan yang tidak masuk
akal..."
Aku sih tidak ada
apa-apanya dibanding Rex. Pasalnya, kalau Rex yang memakai sihir ini, dia bisa
menciptakan kabut yang ukurannya cukup untuk membungkus satu kota penuh.
Aku tidak habis
pikir berapa banyak mana yang dihabiskan untuk kabut sebesar itu.
"Terima
kasih banyak!! Berkat Anda kami tertolong!"
Orang-orang
dari toko yang mengejar perampok tadi datang berterima kasih padaku.
Mereka
segera mengambil kembali barang dagangan yang dicuri, lalu mengikat para
perampok itu dengan tali yang mereka bawa untuk dibawa pergi. Mungkin diserahkan ke petugas keamanan.
Hmm? Petugas
keamanan? Rasanya ada sesuatu yang aku lupakan... Ah, sudahlah. Kalau terlupa,
berarti bukan hal penting.
"Jangan
dipikirkan. Aku kebetulan lewat saja."
Benar-benar cuma
kebetulan.
"Tidak,
berkat Anda produk baru kami yang berharga tidak sampai dicuri. Izinkan kami
membalas budi. Jika tidak, kami akan dimarahi habis-habisan oleh Tuan
Besar."
Tapi orang toko
itu bersikeras ingin membalas budi sambil membungkuk berkali-kali.
"Kalau
kalian memaksa sampai begitu..."
"Terima
kasih banyak!"
Rasanya aneh juga
ya, menerima tawaran balas budi tapi malah kita yang diberikan ucapan terima
kasih lagi.
"Mari, toko
kami ada di sebelah sana."
Mengikuti orang
toko tersebut, tak lama kemudian terlihat sebuah bangunan yang tampaknya adalah
toko yang tadi dirampok.
"Heh,
lumayan besar juga ya."
Ya, toko
ini memang besar. Sepertinya ini toko yang sangat berpengaruh.
"Eh?
Bukannya ini cabang toko Echigoya?"
Tiba-tiba
Gobun berseru saat melihat nama tokonya.
"Kamu
tahu toko ini?"
"Iya.
Ini pengusaha terbesar di Negeri Timur. Toko ini sangat terkenal sampai-sampai
pedagang dari luar negeri pasti akan bertransaksi dengan Echigoya setidaknya
sekali."
Heh—ternyata
ini toko yang sangat terkenal ya.
"Hahaha,
disebut nomor satu di Negeri Timur itu berlebihan. Tentu saja kami semua berusaha keras untuk
mencapai gelar itu."
Namun
orang toko itu merendah dengan rendah hati.
"Perkenalkan,
nama saya Tatsukichi, pengelola cabang Echigoya di Omitsu ini."
Orang
bernama Tatsukichi itu membungkuk dalam. Tunggu, pengelola cabang berarti dia
ini kepala cabang?! Bukankah dia orang yang cukup penting?!
"Anu, namaku
Mina."
"Saya
Gobun."
"...Mina-san, dan Gobun-san ya."
Hmm?
Kenapa dia menatapku dengan aneh begitu?
Apa karena aku terlalu cantik sehingga dia jadi penasaran?
...Yah, aku
memikirkan hal bodoh.
"Omong-omong,
kalian menjual banyak barang ya."
Aku
melihat sekeliling toko untuk membuang pikiran bodohku tadi.
"Koleksi
barang kami adalah kebanggaan kami."
"Heh."
Bukan
toko spesialis, tapi lebih ke toko serba ada ya. Lagipula, barang-barang di
Negeri Timur ini banyak yang tidak aku mengerti fungsinya.
"Oh, benar
juga! Karena ini kesempatan bagus, sebagai tanda terima kasih, akan saya
berikan produk baru toko kami!"
Mungkin karena
melihatku yang tampak tertarik melihat-lihat isi toko, Tatsukichi-san
mengusulkan hal itu.
"Produk
baru?"
"Iya,
melalui koneksi Tuan Besar di kantor pusat, ada barang-barang yang dibuat oleh
pengrajin ahli yang datang dari luar negeri."
Heh,
orang asing ya.
"Luar
negeri? Apa maksudnya orang
dari benua seperti kami?"
"Benar.
Karena kualitasnya yang luar biasa, barang ini langsung populer begitu masuk ke
toko kami! Yah, gara-gara itu juga para bandit tadi mengincarnya."
"Oh,
orang-orang tadi ya."
"Aduh,
memalukan sekali."
Fumu, begitu ya.
Kalau produk populer dari luar negeri, pasti harganya akan melambung tinggi
jika dijual di kota lain. Mungkin para perampok tadi merasa risikonya sepadan.
Memang benar,
barang biasa pun bisa menghasilkan keuntungan besar jika dijual di negeri yang
berbeda.
Kalau tidak
salah... itu disebut hukum permintaan dan penawaran? Rex dan Mina (yang satu
lagi) kadang membicarakan hal semacam itu.
"Bagaimanapun,
saya percaya diri dengan kualitasnya, jadi silakan dilihat sendiri."
"Kalau
begitu, aku lihat ya."
Boleh juga.
Meskipun barang dari benua yang sama, jika negaranya berbeda, mungkin ada
barang yang berguna untukku juga.
"Ini
dia! Inilah deretan produk baru toko kami."
"Banyak
juga ya."
Barang-barang
yang sengaja diletakkan terpisah dari area penjualan biasa ini seolah
menegaskan bahwa mereka adalah produk baru yang sangat berharga.
"Iya.
Ini adalah ramuan pemulih tingkat tinggi. Bukan hanya luka dalam, tapi luka lama dari
puluhan tahun lalu pun bisa sembuh total berkat khasiatnya."
"Eeeh?!
Bukankah itu hebat sekali?!"
Setahu umum,
ramuan atau potion tidak akan bisa menyembuhkan luka yang sudah terlalu
lama.
Meski begitu,
jika luka lama bisa sembuh hanya dengan diminum, itu sudah bukan potion
lagi, tapi lebih cocok disebut magic item cair, kan?!
"Tidak hanya
itu. Cairan penawar racun ini adalah penawar universal yang berkhasiat untuk
racun jenis apa pun! Cukup bawa satu ini, Anda tidak perlu menyiapkan berbagai
macam penawar racun lagi!"
"Hm?"
Khasiatnya
terasa familiar di telingaku.
"Ada
apa?"
"Ti-tidak.
Lalu barang lainnya apa saja?"
"Nah, pupuk
ini jika ditebar di ladang, tanaman akan berbuah dengan kecepatan yang tidak
masuk akal. Terlebih lagi, hasil panennya akan tumbuh beberapa kali lipat lebih
besar dari ukuran aslinya!"
"Aku juga
merasa pernah mendengar itu di suatu tempat..."
Entah kenapa,
meskipun seharusnya aku tidak tahu, aku merasa sangat mengenal hal ini.
Apa mungkin aku
pernah mendengar seseorang membicarakannya? Nanti aku tanya ke yang lain deh.
"Lalu ini
adalah zirah dan perisai yang dibuat dari sisik naga! Entah bagaimana caranya,
sisik naga yang keras itu bisa ditempa dengan bebas seolah-olah mengolah besi!
Berkat itu, pergerakan pemakainya jauh lebih leluasa dibandingkan jika sisik
hanya ditempelkan begitu saja pada pelindung!"
"Pelindung
dari material naga..."
Kenapa ya, ada
sesuatu dalam hatiku yang mulai membunyikan lonceng peringatan...?
"Dan inilah
primadonanya! Bukan barang galian dari reruntuhan kuno, tapi ini benar-benar
pedang sihir asli buatan pengrajin zaman sekarang! Luar biasanya, pengrajin
tersebut bukan hanya seorang ahli obat, tapi juga seorang pandai besi yang
sangat jenius! Saya sudah lama berbisnis, tapi baru kali ini bertemu pandai
besi yang bisa membuat magic item! Tentu saja performa pedang sihir ini
asli! Saat dicoba, sebuah batu besar terbelah menjadi dua dengan mudahnya! Saya
sendiri sampai tidak percaya melihatnya!"
"Bagaimana?
Luar biasa sekali barang-barangnya, bukan?! Jujur saja, wajar jika perampok
mengincarnya!"
"Ah, iya,
benar juga ya..."
...Ini sudah
pasti barang buatan Rex.
Deretan barang
dengan performa yang jelas-jelas tidak normal namun terasa sangat familiar.
Terlebih lagi,
saat mendengar bahwa semua itu hasil karya satu orang pengrajin saja, identitas
pengrajin itu sudah sejelas api yang menyala terang.



Post a Comment