NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 20

Chapter 157

Liliera Bertarung Melawan Majin!


Pertarungan melawan Venom Beet yang kupikir akan menjadi pertempuran sengit, ternyata berakhir dengan sangat antiklimaks di luar dugaan.

"Tak kusangka bisa dikalahkan semudah ini..."

Karena perlawanannya yang hampir tidak ada, aku merasa seperti memukul angin. Namun, di sana aku terpikir akan sebuah kemungkinan.

"Jangan-jangan, segel itu sebenarnya dimaksudkan untuk terus mengikis kekuatan Venom Beet mutan ini!"

Begitu ya! Walaupun kadar racunnya tinggi, aku sempat heran kenapa mereka harus repot-repot menyegelnya. Ternyata itu alasannya!

"Artinya makhluk ini dulu sangat kuat sampai-sampai tidak bisa dilemahkan jika tidak menggunakan cara seperti itu."

Orang-orang yang terlibat kala itu pasti sangat khawatir meninggalkan benih kecemasan bagi masa depan. Tapi berkat itu, kami berhasil mengalahkannya!

"... Entah kenapa ya. 'Bukan, bukan itu alasannya, tahu!' Begitulah rasanya sesuatu di dalam diriku sedang berteriak," gumam Liliera-san.

Oya? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hati Liliera-san?

"Dan yang lebih penting, aku harus membereskan bangkai Venom Beet ini. Kalau tidak segera ditangani, meskipun tanahnya sudah dimurnikan, area ini akan terkontaminasi lagi."

"High Area Purification!"

Setelah merapalkan sihir pemurnian area luas, aku mendekati Venom Beet sambil menggunakan sihir angin sebagai pencegahan untuk membuang udara beracun yang baru keluar.

"Hup!"

Lalu, aku memasukkan bangkai Venom Beet ke dalam kantong sihir.

"Dengan ini, sumber polusi tanah sudah disingkirkan."

Sisanya, aku hanya perlu memurnikan kembali tanah yang sudah tercemar. Dengan begitu, orang-orang yang tinggal di dekat Tanah Korosi tidak perlu lagi dipusingkan oleh perluasan rawa beracun.

Tiba-tiba, terjadi ledakan hebat di udara.

"Sepertinya di sana juga sudah mendekati klimaks."


Liliera

Selagi aku menghadapi sang Majin, Rex-san berhasil mengalahkan Venom Beet dengan sangat mudah.

Sejujurnya aku pikir itu akan memakan waktu lebih lama, tapi dia menyelesaikannya lebih cepat dari perkiraan.

Yah, karena itu Rex-san, kurasa itu hal yang wajar, tapi dia tampak sedang mengangguk-angguk paham setelah memikirkan alasan kenapa Venom Beet itu bisa kalah dengan gampang.

Ya, aku merasa dia pasti salah paham.

"U-Uoooooooohhh! Beraninya kau melakukan itu pada Venom Beet-kuuuuu!!"

Saat aku sedang terpana dengan keajaiban Rex-san, sang Majin yang tadi sempat bengong karena Venom Beet dikalahkan dengan mudah, akhirnya tersadar kembali. Gawat, seharusnya aku menyerangnya saat dia sedang syok tadi. Aku malah ikut-ikutan ingin melontarkan komedi situasi (tsukkomi).

"Tak akan kumaafkan! Tak akan kumaafkan kalian, sampah-sampah!! Kalian tak akan lolos begitu saja! Akan kubunuh kalian setelah kuseksa dengan penderitaan yang tiada taranyaaaaa!!"

Sang Majin mengamuk hebat karena Venom Beet yang merupakan inti dari rencana mereka telah dibasmi.

Yah, memang benar sih, monster raksasa yang menyebarkan racun mematikan bahkan bagi seorang Majin adalah senjata yang bisa menghancurkan dunia.

Tapi bagaimana cara mereka berencana mengendalikannya?

"Pertama-tama adalah kauuuu! Akan kupamerkan kepala rekanmu itu pada bocah itu!"

Majin itu menusukkan tombak yang terbuat dari energi sihir ke arahku. Dia tampak kehilangan akal sehat karena amarah, tapi gerakan tombaknya tetap stabil. Dia membidik bahuku.

Biasanya, dasar serangan dalam situasi seperti ini adalah membidik kaki untuk melambatkan pergerakan, tapi karena kami berdua bisa terbang, cedera di kaki tidak akan memengaruhi kemampuan menghindar.

Majin itu paham akan hal tersebut, makanya dia mengincar lengan yang memegang senjata.

"Tapi aku tidak berniat membiarkannya kena, tahu!"

Bukan hal mudah untuk mendaratkan serangan dalam pertarungan udara yang melibatkan pergerakan kecepatan tinggi.

Meskipun bisa terbang bebas, rasanya sulit karena tidak ada pijakan tanah untuk menumpu kekuatan saat menyerang.

Menurut Rex-san, jika aku membuat pijakan dari energi sihir di bawah telapak kaki sesaat sebelum menyerang, itu akan mempermudah tumpuan, tapi aku masih belum terbiasa.

Karena itu, gaya bertarung udaraku pada dasarnya fokus pada menghindar, dan baru menyerang saat menemukan celah.

Serius, memotong musuh dengan lincah di udara seperti yang dilakukan Rex-san itu bukan lagi di level sulit, tapi mustahil!

Aku menghindari serangan sang Majin setipis mungkin. Pada saat itulah, sang Majin sedikit menyeringai melihatku berhasil menghindar.

"!"

Rasa dingin merayapi punggungku, instingku berteriak agar aku segera menghindar.

Sambil mundur sekuat tenaga ke arah belakang diagonal, aku mengikuti suara insting yang bilang itu pun belum cukup dan melentingkan tubuhku ke belakang.

Detik itu juga, ujung tombak di tangan sang Majin meledak.

Secara tidak masuk akal, ujung tombak itu memanjang ke arah samping, menembus tempat di mana kepalaku berada sesaat yang lalu.

"Cih, meleset ya."

"... Ngomong-ngomong, tombak itu terbuat dari energi sihir ya. Aku tidak menyangka kau bisa merubah bentuknya dengan bebas."

"Hmph, apa manusia bahkan tidak bisa melakukan hal sepele seperti ini?"

Boleh juga provokasinya.

Tapi ini tetap menjadi masalah yang merepotkan.

Jika lawan bisa merubah bentuk tombaknya dengan bebas, pertarungan jarak dekat menjadi sangat berbahaya.

"Tapi aku tidak bisa terus-menerus menjadi beban, tahu! Ice Rush!"

Aku melancarkan bongkahan es yang tercipta dari sihir secara bertubi-tubi untuk menyerang sang Majin, tapi dia menerjang ke arahku tanpa memedulikannya.

"Fuhahahahaha! Mainan apa ini!? Apa kau menyebut ini sihir serangan?"

Tapi, aku sudah tahu hal itu sedari tadi!

"Water Blast!"

"Uoah!?"

Setelah merebut pandangan sang Majin dengan rentetan es, aku merubah posisiku dan menghantamkan gumpalan air besar ke arahnya.

"Sudah kubilang ini tidak mempan—"

Dan kemudian, aku melepaskan serangan intinya.

"Blizzard Breath!"

"Nuuuh!"

Badai salju sihir yang kulepaskan menerjang sang Majin.

"Hmph! Dibandingkan main air tadi, ini sedikit lebih baik, tapi tetap saja bagi diriku yang— Apa!?"

Baru pada titik ini sang Majin menyadari fenomena yang terjadi pada tubuhnya.

"Tu-Tubuhku membeku...!? Jangan-jangan serangan tadi adalah untuk ini!?"

"Kau terlambat menyadarinya!"

Benar, es pertama dan air berikutnya bukanlah sekadar pengalih perhatian. Itu semua adalah persiapan untuk meningkatkan efek sihir badai salju ini!

"Aku belajar bahwa menggabungkan sihir dari elemen yang sama bisa meningkatkan kekuatannya! Jika kau terkena badai salju setelah baru saja disiram air dan es dalam jumlah banyak secara berturut-turut, tentu saja kecepatan tubuhmu membeku akan meningkat!"

Dengan ini, meskipun aku bukan penyihir tulen, aku bisa mengeluarkan kekuatan yang tidak kalah dari Mina!

... Walaupun referensi yang ditunjukkan Rex-san sepertinya hanya bisa dilakukan oleh Rex-san sendiri, jadi ini adalah versi reproduksi yang bisa kulakukan dengan caraku sendiri.

Makanya, ini hanya bisa berhasil dengan sihir elemen es yang merupakan bakatku.

"O-Onoreeee!!"

Sang Majin meronta-ronta berusaha lepas dari es, tapi tubuhnya semakin membeku dan dia kehilangan kemampuan bergerak.

"Eeei! Menyebalkan sekali!"

Sang Majin mengeluarkan api dari kedua tangannya dan mulai mencairkan es.

"Fuhahahahaha! Pada akhirnya sihir manusia hanya di level ini!"

"Ya, level ini sudah lebih dari cukup."

"Apa!?"

Cukup untuk memberiku celah untuk merangsek ke dalam jangkauanku!

Selagi sang Majin meronta-ronta mencairkan es, aku sudah berada tepat di depannya.

"Selama kau mengeluarkan api itu, kau tidak bisa menggunakan tombak itu, kan?"

"Si-Sial!?"

Benar, tombak merah kehitaman itu adalah tombak yang terbuat dari sihir.

Jika begitu, dia tidak bisa menggunakannya selagi menggunakan sihir lain.

"Rasakan ini!"

Tombak yang dilapisi es melalui penguatan elemen menembus dada sang Majin.

"Guha!?"

Lalu, energi sihir es yang meresap ke dalam tubuh membekukan sang Majin dari dalam.

"Hup!"

Dengan kekuatan otot yang ditingkatkan melalui penguatan fisik, aku mengayunkan tombakku ke samping.

Tombak itu terlepas sambil menghancurkan tubuh sang Majin yang membeku. Dan begitu saja, tubuh sang Majin jatuh terhempas ke daratan.

"Fuu, sepertinya entah bagaimana aku berhasil."

Aku turun ke daratan untuk memberikan serangan terakhir pada sang Majin.

"Kerja bagus, Liliera-san!"

Saat mendarat, Rex-san menyambutku.

"Terima kasih, Rex-san. Tapi aku belum memberikan serangan terakhir."

Akan sia-sia jika aku lengah di sini dan terkena serangan balik dari sang Majin.

Karena aku sudah menyatakan dialah lawan yang kuhadapi, aku harus menyelesaikannya dengan benar sampai akhir.

"U-Uuu..."

Namun, sang Majin tidak menunjukkan tanda-tanda akan membalas serangan. Dia hanya tergeletak di tanah sambil mengerang.

Mengingat dia jatuh dalam kondisi tidak bisa terbang dengan benar, kerusakannya sepertinya nyata.

"Setidaknya aku akan memberimu serangan terakhir agar kau tidak menderita lebih lama."

Aku juga tidak punya hobi menyiksa lawan.

"Ku... kukuku..."

Namun, entah kenapa sang Majin malah tertawa. Meski menderita kesakitan, sang Majin benar-benar tertawa.

"Kau pasti merasa sangat senang karena telah mengalahkanku... Tapi, jangan pikir ini semua sudah berakhir!"

Mengulur waktu? Bukan, suasananya tidak terasa seperti itu. Rasanya ada sesuatu yang mengerikan.

"Memang aku telah kalah darimu... Da-Dan Venom Beet juga telah dibasmi oleh bocah di sana... Aku tidak mau mengakuinya, tapi aku terpaksa mengakuinya."

Anehnya, sang Majin tampak menerima kekalahannya dari kami dengan jujur.

"Tapi, ini bukan akhirnya! Ya, bencana Venom Beet yang sesungguhnya baru akan dimulai sekarang!"

"A-Apa maksudmu!?"

"Telur."

"Telur...?"

"Benar, sebelum disegel di tanah ini, Venom Beet telah mengeluarkan telur dalam jumlah banyak di Tanah Korosi! Dan telur-telur itu telah tumbuh besar dengan menyerap nutrisi dari sekian banyak nyawa yang mati di rawa beracun yang luas ini, menunggu saat untuk dilahirkan!"

"A-Apa katamu!?"

Telur Venom Beet dalam jumlah tak terbatas!? Jika itu menetas, situasinya akan menjadi sangat gawat!

"Telur yang telah menyimpan nutrisi cukup akan segera terbangun merespons kebangkitan sang induk! Saksikanlah momen saat serangga beracun tak terhitung jumlahnya yang akan menghancurkan dunia dilepaskan!"

"Ba-Bagaimana ini Rex-san!?"

"Tenanglah, Liliera-san. Aku akan mencari reaksi anak-anak Venom Beet yang menetas menggunakan sihir deteksi!"

"Ta-Tapi, Tanah Korosi ini sangat luas! Jika dia mengeluarkan telur di sini, kita tidak tahu seberapa luas area penyebarannya!?"

"Tepat sekali! Dan sekuat apa pun kalian bisa membasmi Venom Beet, tidak mungkin kalian bisa membasmi seluruh larva Venom Beet yang menetas di Tanah Korosi yang luas ini! Selagi kalian bertarung, larva-larva yang melarikan diri akan menciptakan Tanah Korosi yang baru!"

Gawat! Ini terlalu gawat! Tak disangka di detik-detik terakhir malah jadi kacau begini! Jika dibiarkan, kota dan desa di sekitar sini akan menjadi korban Venom Beet!

"... Eh?"

Namun, entah kenapa suara yang dikeluarkan Rex-san bukan suara panik, melainkan lebih ke arah bingung.

"Ada apa, Rex-san?"

"Anu, itu, tadi aku mencoba memindai radius 100 kilometer dengan sihir deteksi, tapi tidak ada reaksi monster yang memiliki kekuatan besar."

"Eh? Apa maksudnya?"

"Hmm, ada reaksi yang mirip dengan Giant Poison Centipede yang kita lawan sebelumnya, tapi tidak ada reaksi yang sepertinya adalah larva Venom Beet."

"Kalau begitu, apa telurnya diletakkan di tempat yang lebih jauh lagi?"

Jika begitu, kita tidak akan tahu di mana telurnya berada!

"Tidak, kurasa bukan begitu."

"Eh? Kenapa?"

"Karena Venom Beet meletakkan telurnya sudah sangat lama sekali, kurasa saat itu Tanah Korosi masih jauh lebih sempit. Faktanya, ada cerita bahwa para pendeta Gereja terus menekan penyebaran Tanah Korosi ini."

"Ah."

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Seperti yang dikatakan Rex-san, lebih masuk akal jika berpikir bahwa Tanah Korosi saat penyegelan dulu jauh lebih sempit.

"Tapi kalau begitu, di mana larva-larva Venom Beet itu?"

"Karena ini spesies mutan, mungkin mereka bersembunyi di dalam tanah. Mari coba kita gali tanahnya dengan sihir untuk memeriksanya."

"Menggali tanah?"

Bagaimana caranya? Belum sempat aku bertanya, Rex-san sudah mengaktifkan sihirnya.

"High Area Earthquake!!"

Detik berikutnya, tanah mulai berguncang dengan kekuatan yang dahsyat.

"Kyaa!?"

"Uwoooooh!?"

Aku terburu-buru terbang ke udara dengan sihir terbang, lalu aku melihat pemandangan daratan yang bergejolak layaknya makhluk hidup.

"Ini semua dilakukan dengan sihir Rex-san!?"

"Ah, ada sesuatu."

"Eh?"

"Lihat, di sebelah sana."

Melihat ke arah yang ditunjuk Rex-san, di tempat yang agak jauh dari posisi kami, muncul benda-benda bulat putih dalam jumlah banyak.

"Ayo kita lihat."

Rex-san menghentikan sihirnya, lalu sambil mencengkeram sang Majin yang sekarat, dia turun menuju gumpalan bulat yang muncul di daratan.

"Ooh, ukurannya lumayan besar ya."

"Benar, ukurannya hampir sama dengan kita."

"Sepertinya ini adalah telur Venom Beet."

Seperti yang dikatakan Rex-san, yang muncul di daratan adalah telur-telur besar.

Saat aku mencoba menusuknya dengan tombak dengan ragu-ragu, teksturnya cukup lunak hingga ujung tombak perlahan menusuk masuk.

Sepertinya ini bukan telur seperti burung atau reptil, melainkan telur lunak seperti telur serangga atau ikan.

"Tapi bukankah telurnya akan segera menetas? Apa mereka baru akan lahir? Ah, kalau begitu lebih baik segera kita hancurkan!"

"Tidak, sepertinya tidak perlu. Telur-telur ini sudah mati."

"Eh?"

Saat aku terburu-buru ingin menghancurkannya, Rex-san menahanku dengan perkataan itu.

"Apa maksudnya sudah mati?"

"Sihir deteksiku tidak merasakan hawa kehidupan sama sekali dari telur-telur ini."

"Benarkah?"

"Iya, jika perkataan Majin itu benar, di dalam telur ini seharusnya ada larva Venom Beet yang siap lahir. Tapi sihirku tidak mendeteksi hawa kehidupan maupun energi sihir dari larva tersebut."

"Jadi karena itulah kau bilang mereka mati?"

"Benar," Rex-san menegaskan dengan yakin.

"Mustahil! Tidak mungkin mereka mati! Di Tanah Korosi ini tenggelam banyak mayat, dan nutrisi yang mengalir dari sana seharusnya telah membesarkan telur-telur ini! Tanpa ada musuh alami, tidak mungkin mereka mati!"

Sang Majin yang sekarat berteriak menyangkal, bersikeras bahwa itu mustahil.

"Kalau begitu mari kita pastikan."

Segera setelah mengatakannya, Rex-san menyabetkan senjatanya pada telur Venom Beet. Dalam sekejap, cangkang telur terbelah menjadi dua dan memperlihatkan isinya.

"Ah, ternyata benar-benar sudah mati."

Dilihat dari dalam telur, ada seekor Venom Beet kecil—walaupun bagi kami ukurannya sudah lebih dari cukup besar. Namun, sama seperti induknya, ia dalam posisi meringkuk.

"Benar-benar sudah mati ya."

Aku tidak tahu alasannya, tapi sepertinya larva-larva Venom Beet ini memang sudah mati sejak lama.

"Tapi kenapa mereka mati? Jika perkataan Majin itu benar, seharusnya mereka tidak mudah mati, kan? Apa mereka diserang pemangsa?"

"Mustahil! Telur Venom Beet tenggelam di dasar Tanah Korosi! Tak akan ada makhluk bernyawa yang cukup gila untuk mengincar telur yang dilindungi oleh racun!"

Yah, sepertinya ada orang yang mengincar induknya dan mengalahkannya dengan mudah sih.

"Ah... mungkinkah karena aku merapalkan sihir pemurnian area luas, nutrisi yang sudah teracuni itu ikut termurnikan."

"Eh? Apa itu?"

"A-Apa maksudnya!?"

"Eeto, ini kemungkinan saja, tapi kurasa telur Venom Beet menyerap nutrisi dari air yang terkandung dalam lumpur beracun di Tanah Korosi. Karena dilindungi oleh racun, telur ini tidak perlu membuat cangkangnya menjadi keras. Sebagai gantinya, mereka memiliki sistem untuk menyerap nutrisi secara efisien dari air di lumpur tersebut."

Namun, Rex-san melanjutkan dengan nada yang agak sungkan.

"Tapi karena lumpur di sekitarnya dimurnikan oleh sihir pemurnian dan kembali menjadi tanah biasa, lumpur beracun yang mengandung nutrisi itu menghilang dan mereka tidak bisa lagi menyerap nutrisi. Makhluk hidup biasa biasanya menyimpan nutrisi yang diperlukan di dalam telur atau cangkangnya sendiri yang menjadi makanan, tapi bagi makhluk sebesar Venom Beet, sepertinya itu saja tidak cukup."

Rex-san menjelaskan bahwa untuk menjaga tubuh yang sudah cukup besar sejak lahir, sepertinya mereka memiliki ekologi yang membutuhkan nutrisi terus-menerus.

"Eeto, singkatnya, karena tanahnya dimurnikan, mereka jadi tidak bisa mendapat nutrisi dan telur-telur ini mati kelaparan?"

"Jadinya begitu."

"Ma-Mati kelaparaaaaaannn!!??"

Tak menyangka bahwa telur-telur Venom Beet ternyata kering kerontang karena kurang gizi, sang Majin berteriak histeris.

"Ja-Jangan bercanda! Mana mungkin telur Venom Beet mati karena alasan konyol seperti itu... kukh."

Namun, di sana sepertinya kekuatannya sudah habis, sang Majin akhirnya jatuh pingsan.

... Bagaimana ya bilangnya, dia benar-benar bertemu lawan yang salah.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close