Chapter 194
Mereka yang Menunggu
◆Ronin yang Menunggu di Pos
Pemeriksaan◆
"Hehe,
jumlahnya luar biasa juga, ya."
Aku
berada di satu-satunya pos pemeriksaan untuk memasuki wilayah klan yang
terletak di kaki Gunung Amatsukami.
Di
sekeliling pos tersebut, sudah berkumpul banyak sekali ronin selain
diriku.
Tujuannya
adalah menghabisi seorang bocah yang akan datang ke sini.
Ini
memang pekerjaan kotor seperti pembunuhan berencana, tapi mungkin karena itulah
imbalannya sangat menggiurkan. Namun, itu bukan satu-satunya alasanku menerima
pekerjaan ini.
"Cuma
membunuh satu bocah saja bisa langsung jadi pejabat resmi, pekerjaan yang
sangat mudah," gumam seorang ronin di dekatku.
Ya, itulah alasan
sebenarnya aku menerima permintaan ini. Katanya, jika berhasil menyelesaikan
tugas ini, kami akan diangkat menjadi pejabat di departemen yang berada di
bawah kendali langsung Keshogunan.
Buktinya, si
pemberi tugas menunjukkan lambang yang tidak mungkin bisa digunakan kecuali
oleh mereka yang melayani keluarga Shogun.
Menggunakan
lambang itu tanpa izin akan membuat kepala melayang tanpa perlu diadili, jadi
sudah pasti pemberi tugas ini bergerak atas perintah orang penting di
Keshogunan.
"Kapan bocah
yang jadi target itu sampai, ya?"
Persiapan untuk
membunuh bocah target sudah matang.
Sesuai instruksi
pemberi tugas, pembunuh bayaran lainnya menyamar sebagai pengembara dan
pedagang yang sedang mengantre di pos pemeriksaan agar si bocah tidak bisa
melarikan diri ke dalam wilayah klan.
Selain itu, kami
berpura-pura menunggu antrean kosong sambil berakting makan atau beristirahat
di sekitar sana, tersebar di berbagai titik.
Rencananya, saat
bocah itu datang, kami akan berpura-pura ikut mengantre untuk mengepungnya,
lalu membunuhnya sambil menutupi pandangan para petugas pos.
Dengan kata lain,
mustahil bagi bocah itu untuk bisa masuk ke dalam wilayah klan, bagaimanapun
dia berusaha.
Kami terus
menunggu dengan tidak sabar kedatangan bocah yang menjadi target itu.
Saat itulah...
"Oi, o-oi,
apa itu?"
Salah
satu ronin yang sedang menyamar mendongak ke langit dan berseru.
"Apa?"
Terkejut
dengan apa yang baru saja dilihatnya, aku ikut menengadah ke langit dan
mendapati sesuatu yang janggal. Sesuatu yang berbentuk panjang, kecokelatan,
dan terasa sangat asing berada di angkasa.
"Burung...
bukan. Apa itu monster?"
"Mana
ada monster yang tidak punya sayap."
Benar
kata orang itu, makhluk apa pun yang terbang di langit seharusnya punya sayap.
Perlahan
tapi pasti, benda itu semakin mendekat dan menampakkan wujud aslinya secara
utuh.
"Apa...
itu? Kapal?"
Ya, benda
itu benar-benar sebuah kapal.
"""Tu-Tunggu,
apa-apaan ituuuuuuuu!?"""
"Ka-Kapal
terbang?"
"Kenapa
ada kapal terbang di langit...? Bukannya kapal itu seharusnya mengapung di atas
air!?"
"Mana
aku tahu!"
Kapal itu
sudah berada di jarak yang sangat dekat, hingga mustahil bagi kami untuk salah
lihat lagi. Benar, itu benar-benar sebuah kapal.
"A-Apa
itu!?"
"Ka-Kapal
katanya!?"
Bukan
hanya kami, para petugas pos pemeriksaan pun dibuat ternganga melihat kapal
terbang tersebut. Kemudian, kapal itu melintasi bagian atas pos pemeriksaan dan
terus terbang menuju Gunung Amatsukami.
"......Tadi
itu apa sebenarnya?"
"Mana aku
tahu."
Meski sempat
bingung dengan pemandangan yang tidak masuk akal itu, kami berusaha menenangkan
diri dan teringat akan tugas utama menunggu si bocah target. Kami pun kembali
waspada ke arah sekeliling.
Namun, pada
akhirnya, sampai kapan pun bocah yang menjadi target itu tidak pernah
menampakkan batang hidungnya.
◆Ronin yang Menyusup ke Dalam Wilayah Klan◆
"Ada
informasi masuk ke magic item yang kutitipkan. Katanya target sedang
menuju ke sini menaiki kapal terbang."
Kontak
dari pengawas sampai kepada kami yang sudah menyusup ke dalam wilayah klan dan
bersiaga di dekat desa para pendeta.
"Kapal
terbang? Apa-apaan itu?"
Salah
satu dari kami mengernyit bingung mendengar laporan tersebut. Yah, aku bisa
mengerti perasaannya.
"Aku
juga tidak paham, tapi katanya itu sejenis magic item."
"Kapal
magic item!? Ada-ada saja benda luar biasa seperti itu."
Orang itu
berseru kaget, walau tidak terlihat terlalu serius. Lagipula, tugas kami tetap
tidak berubah.
"Hei,
bagaimana cara menyerang musuh yang ada di magic item terbang? Aku tidak
pandai menggunakan panah."
"Jangan
khawatir. Bukankah kita sudah meminjam magic item yang bisa melontarkan
sihir dari majikan kita?"
Benar,
kami telah dipinjami berbagai macam magic item oleh si pemberi tugas.
Semuanya demi memastikan bocah target itu terbunuh.
"Oh,
benar juga. Hahaha, majikan kita benar-benar dermawan sampai mau meminjamkan
barang-barang ini."
"Hehe,
kita ini berbeda dari para kroco yang menunggu di pos pemeriksaan."
"Ya,
kita dipercaya karena kemampuan kita untuk menghadang mereka di sekitar desa
ini."
Itu
memang fakta. Kami adalah pembunuh bayaran ahli yang direkrut langsung oleh si
pemberi tugas.
Semuanya
adalah mantan pengabdi yang memiliki kemampuan mumpuni, baik yang pernah
tergabung dalam pasukan Keshogunan maupun pelayan tuan tanah yang menguasai
wilayah besar.
"Meski
itu kapal terbang sekalipun, kalau aku menembakkan sihir api dengan tongkat
sihir ini, benda itu akan langsung hangus dalam sekejap."
"Sayang
sekali aku tidak bisa menebas bocah Yoren itu secara langsung."
Salah satu
pembunuh menggumamkan nama sang target. Ya, aku... tidak, semua pembunuh yang
ada di sini tahu bahwa identitas asli target kami adalah Yoren Yukinojo,
penerus Shogun yang sah.
Meski tahu, kami
tetap menerima tugas pembunuhan ini.
"Benar
sekali! Padahal aku ingin sekali membantai bocah Yoren itu dengan tanganku
sendiri!"
Kami semua
dulunya melayani keluarga Shogun. Ada yang berasal dari klan pejabat penting,
ada pula yang merupakan anggota keluarga atau pengabdi tuan tanah.
Jika ditanya
mengapa orang-orang seperti kami berakhir menjadi pembunuh bayaran di tempat
seperti ini, jawabannya sederhana.
Karena keluarga
Shogun-lah kami kehilangan pekerjaan.
Ada yang
jabatannya dicopot karena melakukan kesalahan besar, ada pula pengabdi tuan
tanah yang wilayahnya disita karena berani menentang Shogun.
Alasannya
beragam. Namun satu yang pasti, kami semua membenci keluarga Shogun.
Itulah alasan
kami menerima pekerjaan untuk menghabisi Yoren Yukinojo, calon Shogun
berikutnya.
Semuanya demi
menggulingkan keluarga Shogun yang sekarang, agar sang pemberi tugas bisa
menduduki takhta Shogun yang baru.
Dan jika hal itu
tercapai, kami dijanjikan jalan untuk kembali menjadi pejabat resmi.
Klan tuan tanah
yang wilayahnya dirampas dijanjikan wilayah mereka kembali, dan mereka yang
diusir dari jabatan dijanjikan posisi mereka lagi.
Bahkan kami
dijanjikan akan diberikan jabatan para pengabdi dan tuan tanah yang saat ini
setia kepada keluarga Shogun.
Menghancurkan
keluarga Shogun yang dibenci, lalu membiarkan keluarga Shogun baru menguasai
Imperium Tenfeng ini.
Ah, rasanya
seperti mimpi. Tidak sia-sia aku bertahan hidup di tempat kumuh seperti kotoran
sampai hari ini!
"Oh,
sepertinya mereka datang."
Salah satu
pembunuh menunjuk ke langit. Di sana, gumpalan cokelat yang tampak tidak serasi
dengan langit biru mulai terlihat.
"Wuaa,
benar-benar terbang. Bagaimana cara kerjanya, ya!?"
"Mana
peduli! Ayo, mati sana!"
"Mampuslah
kau, keluarga Shogun!"
Tanpa sabar,
mereka yang tidak bisa menahan diri mulai menembakkan api dari magic item
ke arah kapal tersebut.
Sihir api
menghantam bagian bawah kapal, membuatnya memerah.
"Hahahaha!
Terbakarlah, terbakarlah!"
Ternyata
menjatuhkan keluarga Shogun semudah ini! Rasanya sungguh menyenangkan!
"Hahahaha...
hmm?"
Tiba-tiba aku
merasakan kejanggalan. Aneh. Seharusnya kapal itu terbakar hebat setelah
terkena telak tembakan dari tongkat sihir.
Tapi kenapa tidak
jatuh? Kenapa tidak terbakar lebih besar?
Kenapa dia tetap
terbang sambil mempertahankan ketinggiannya?
"Apa yang
terjadi? Kenapa tidak hancur?"
"Kalau
begitu tinggal hajar sekali lagi!"
Serangan magic
item pun berlanjut, dan yang lainnya mulai ikut menyerang.
"Benar.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan, tapi kalau kita konsentrasikan
serangan sebanyak ini, dia pasti akan hancur!"
Serangan
dari magic item dalam jumlah besar dilepaskan ke arah kapal terbang itu.
"Hehe,
kali ini kau benar-benar tamat!"
Namun,
yang tamat justru adalah kami. Kapal yang tadinya hanya menerima serangan tanpa
perlawanan itu tiba-tiba mulai memancarkan cahaya.
"A-Apa? Apa
yang akan dia lakukan!?"
Detik berikutnya,
cahaya yang menyilaukan meledak, dan ribuan kilatan cahaya menghujani permukaan
tanah.
"Uwaaaaaaaaaaa!?"
"Gyaaaaaaaa!"
Mereka yang
terkena telak cahaya itu terpental tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Dia-Dia
membalas menyerang!?"
"Guwaaaaaaa!
Sakit! Sakit sekali!"
Mereka yang
seharusnya berhasil menghindar pun jatuh tersungkur dan berguling-guling
kesakitan di tanah.
"Mustahil!?
Kita kan dilindungi oleh magic item pelindung yang dipinjamkan oleh
majikan kita!?"
Namun,
rekan-rekan yang terkena serangan terus merintih kesakitan seolah-olah mereka
tidak memakai pelindung apa pun.
"Ja-Jangan
gentar! Balas menyerang! Mereka
sudah menerima serangan kita mentah-mentah. Tidak mungkin serangan kita tidak
mempan!"
Benar, tidak
mungkin mereka tidak terluka setelah menerima serangan sebanyak itu!
"Mati kau,
oiiii!"
"Mampuslah,
brengsek!"
Mereka yang masih
selamat menahan rasa takut dengan amarah dan makian sambil mulai menyerang
kembali.
Namun kapal
terbang itu sama sekali tidak memedulikan serangan kami dan terus melancarkan
serangan dari langit.
Serangan itu
turun bagaikan hujan dari surga, mengempaskan orang-orang di sekitarnya satu
demi satu.
"Ti-Tidak
mungkin! Sama sekali tidak mempan!"
"A-Apa yang
terjadi!?"
Permukaan tanah
kini sudah berubah menjadi gambaran neraka. Semuanya terluka, tidak ada satu
pun yang tidak tersentuh. Aku pun terkena cahaya yang jatuh dari langit, dan
rasa sakit yang luar biasa menyerangku.
Apa yang
sebenarnya terjadi!? Kenapa baju pelindung ini sama sekali tidak berguna!?
Jangan-jangan kami diberikan barang rongsokan!?
"Sial,
bukankah ini seharusnya tugas mudah cuma membunuh seorang bocah!? Aku tidak pernah dengar akan jadi
seperti ini!"
"La-Lari!
Lariiiii!"
Mereka
yang hanya mengalami luka ringan bergegas melarikan diri, tapi itu sudah
terlambat. Sejak awal, lawan berada di langit sedangkan kami berlari di darat,
tentu saja ini bukan pertarungan yang seimbang.
"Hiii!?
Dia mengejar kitaaaa!?"
Mereka
yang melarikan diri langsung terkejar dan terpental oleh serangan cahaya.
"""Gyaaaaaaaaaaaaaaaa!!"""
"Ba-Bagaimana
caranya mengalahkan hal seperti itu..."
Begitulah,
kami yang seharusnya berada di posisi yang sangat menguntungkan, habis disapu
bersih dalam sekejap mata.
Brukk.
◆Seorang Pendeta Tertentu◆
"Nah, kapan
kiranya Tuan Muda Yoren akan sampai?"
Ada laporan dari
utusan Nona Omitsu bahwa Tuan Muda Yoren akan datang untuk melaksanakan ritual
penobatan Shogun. Namun, sepertinya Tuan Yamazakurakoji merencanakan
pemberontakan dan sedang melakukan penghadangan.
"Hmm, Tuan
Yamazakurakoji, ya... padahal kupikir orang itu tidak tertarik dengan posisi
Shogun? Tidak, manusia bisa berubah. Jika terlalu lama terbuai dunia fana,
garis keturunan pendeta pun bisa tercemar oleh keduniawian."
Tapi itu bukan
urusan kami para pendeta. Siapa pun yang menjadi Shogun, kami hanya perlu
menjalankan tugas kami.
Dan siapa pun
yang menjadi Shogun akan menyadari kebenaran desa ini, sehingga mereka tidak
punya pilihan selain menerima keberadaan kami.
Di saat yang
sama, mereka akan mengerti alasan kami tidak ingin muncul ke permukaan, jadi
mereka akan memutuskan bahwa membiarkan kami adalah pilihan terbaik.
Ya, sama seperti
para perebut kekuasaan yang mengambil takhta Shogun sebelum-sebelumnya. Karena
itu, bagi kami tidak masalah siapa pun yang duduk di kursi Shogun.
"A-Apa
itu!?"
Tiba-tiba,
seseorang berteriak dengan suara keras, sesuatu yang jarang terjadi. Di desa yang tertutup ini, jarang
sekali ada orang selain anak-anak yang berteriak lantang.
Apa yang
terjadi? Saat aku menoleh ke arah pandangan warga desa yang ketakutan, di
sana...
""""Ka-Kapal
terbang di langit!?""""
Ya,
sebuah kapal raksasa sedang melayang di angkasa.
Tunggu, benda apa
itu sebenarnya!?
Terlebih lagi,
kapal itu tidak hanya melayang, tapi mulai menyerang ke arah daratan.
"Uwaa!? Dia
menyerang!?"
Untungnya,
serangan itu jatuh di daratan yang agak jauh dari desa, tapi kapal itu terus
mendekat ke arah sini.
Kalau begini
terus, serangan itu akan mencapai desa!
"Di-Dia
mendekat ke sini!?"
"La-Lariiiiiiiiiiiii!!"
Warga
desa lari kocar-kacir sambil berteriak ketakutan.
"Te-Tenanglah
semuanya! Jangan panik! Jangan panik!"
Namun warga desa
yang sudah terlanjur panik tidak mendengarkan. Semuanya berlarian ke segala
arah tanpa tujuan.
"A-Apa yang akan terjadi dengan desa ini!?"
Wahai para dewa Puncak Langit! Tolonglah, selamatkan desa ini!!



Post a Comment