NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 21

Chapter 200

Tekad Seorang Pria


Yukinojo

"Ugh..."

"Haruomi! Sadarlah, Haruomi!"

Aku terus memanggil Haruomi yang wajahnya semakin pucat karena kehilangan banyak darah. Jangan mati! Jangan mati di tempat seperti ini, Haruomi!

"Uuu..."

Mungkin pengobatan Norb membuahkan hasil, Haruomi perlahan membuka matanya sedikit.

"Haruomi!"

"Aku...?"

Haruomi tampak bingung dengan apa yang terjadi, pandangannya mengawang ke sekeliling, namun saat matanya melihat alat sihir yang hancur, fokusnya kembali tajam.

"Fu, fuhaha... Memalukan... Mengenaskan sekali nasibku ini..."

Seolah menyadari apa yang telah terjadi, Haruomi tertawa dengan tawa yang terdengar getir dan hancur.

"Baru saja aku mendapatkan kendali atas alat sihir ini dan berniat membalas dendam pada mereka yang merampas segalanya dariku, malah berakhir seperti ini... Aku pikir aku yang memanfaatkannya, ternyata aku hanya berakhir dimanfaatkan saja."

"Haruomi..."

Mendengar suaraku, Haruomi menoleh ke arahku dengan wajah heran.

"Kenapa kau memasang wajah begitu...? Kenapa kau memasang wajah seolah-olah ingin menangis?"

"Entahlah! Aku sendiri tidak tahu!"

"Apa... katamu?"

"Aku adalah... musuh yang membunuh ayahmu, tahu? Aku adalah musuh yang mencoba membunuhmu juga...?"

"Aku tahu... aku tahu itu, tapi tetap saja aku tidak mengerti..."

"Tidak apa-apa, kok."

Pria yang dipanggil Norb, rekan dari Mina, berkata sambil mengarahkan cahaya sihir penyembuh ke luka Haruomi.

"Aku akan bertanggung jawab untuk mengobati kakakmu ini. Jadi, jangan khawatir."

Berbeda jauh dengan sikapnya yang kurang percaya diri saat di desa, pria di depanku ini menyatakan hal itu dengan tatapan mata yang kuat, layaknya seorang tabib ulung yang sudah sangat berpengalaman.

"...... Begitu ya. Jadi begitu rupanya."

Mendengar kata-kata itu, akhirnya aku memahami perasaan apa yang ada di hatiku ini.

Aku benar-benar lamban. Aku sampai benci pada diri sendiri karena begitu bodoh.

Lalu, apa yang sedang kulakukan sekarang?

Meskipun lahir di keluarga kasta pendekar, aku tidak bertarung dan malah meributkan hal-hal seperti anak kecil.

Apakah ini perilaku seorang samurai?

"Bukan, aku adalah seorang samurai."

Mengingat kembali apa yang harus kulakukan, aku memantapkan tekad di hati dan berdiri tegak.

"Norb, aku percayakan Haruomi padamu!"

"Baik, serahkan saja padaku."

Norb menjawab dengan tenang namun penuh kekuatan. Fuhu, inikah yang disebut tabib ternama? Aku benar-benar merasa tenang sekarang! Lalu, aku bicara pada Haruomi.

"Haruomi, aku sudah mengerti."

"Mengerti...?"

"Mengapa aku merasa seperti ini. Jawabannya sederhana. Aku merasa 'khawatir' padamu."

"A-apa... katamu?"

Haruomi membelalakkan matanya karena terkejut. Fuhu, ternyata orang ini bisa menunjukkan ekspresi seperti itu juga.

"Ya, rasa 'khawatir'. Setelah dipahami, ternyata ini hal yang sangat sederhana."

"Dasar bodoh... Aku ini sudah membunuh orang tuamu..."

Dia pasti ingin bilang kalau dia sudah membunuh ayahku.

"Benar, kau adalah musuh. Tapi di saat yang sama, kau juga adalah kakak sedarahku!"

"......!"

"Jika kita keluarga... jika kita keluarga, maka tugas keluarga adalah membenarkan kesalahan dan juga memaafkan!"

"! ...... Keluarga... katamu? Aku... dan kau?"

Haruomi memasang wajah yang rumit, perpaduan antara terkejut dan penolakan, seolah ia tidak bisa percaya, atau lebih tepatnya tidak ingin percaya.

"Kau mungkin tidak mau mengakuinya, tapi bagiku kau tetaplah kakak kandungku. Ayahanda telah berbuat salah. Beliau mempercayai pemberontakan palsu itu, lalu merampas namamu, keluargamu, dan mengusirmu. Tapi jika dia adalah keluarga, jika dia adalah ayah, seharusnya dia tidak menjauhkanmu melainkan mendekapmu erat-erat walau kau masih kecil. Meskipun tindakannya itu demi keselamatanmu sendiri, jika kalian adalah keluarga, dia seharusnya berada di sisimu dan melindungimu!"

Ah, saat diucapkan dengan kata-kata, aku benar-benar merasakannya.

"Lagipula, sejak kau masih menjadi Haruomi, bagiku kau sudah seperti sosok seorang kakak, tahu? Wajar jika aku khawatir padamu."

Benar, dibandingkan dengan ayah yang sibuk dan jarang bisa kutemui, aku melihat Haruomi—yang mengabdi di sisiku sebagai pengawal—sebagai orang yang paling dekat denganku.

"Mungkin sudah terlambat. Mungkin segalanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Tapi meski begitu, aku ingin melindungimu. Haruomi, bukan, Shun'ou, biarlah aku yang menanggung dosa dan kesalahanmu serta ayahanda!"

Sambil menggenggam pedang tanpa pelindung gagang itu, aku menerjunkan diri ke dalam pertempuran melawan sang Majin.

"Aku adalah pewaris jabatan Shogun! Naren Yukinojo! Bersiaplah, Majin!"

"GWAAAAAAAAA!!"

"Eh?"

Namun, pemandangan yang menyambutku saat melangkah ke medan tempur adalah sosok sang Majin yang sedang melayang di udara sambil dipukuli habis-habisan oleh Mina dan yang lainnya.

"E-eh?"

"Kalau sihir tidak mempan, tinggal gunakan sihir penguat fisik untuk memperkuat tubuh lalu memukulnya sampai babak belur, kan!"

"Meskipun efek sihir dari magic item tidak mempan, tapi magic item buatan khusus Rex sangat tajam, jadi tinggal ditebas biasa saja."

"Lagipula sejak awal kita memang tidak bisa menggunakan sihir luar, dan penguat fisik untuk membantu serangan sendiri itu bisa digunakan normal, jadi kita sama sekali tidak merasa dirugikan, kok."

"Setuju."

Sambil melontarkan logika-logika aneh itu, Mina dan yang lainnya membuat sang Majin melambung tinggi ke angkasa.

"I-itu tidaaaaakkkk mungkinnnnnn!!"

Teriakan histeris sang Majin seolah-olah mewakili suara di dalam hatiku. Dengan serangan beruntun dari mereka bertiga yang tanpa jeda, kepala sang Majin terhantam keras ke langit-langit.

"Guboha!"

Dosaa!! Sang Majin jatuh ke tanah layaknya sehelai kain pel kotor, lalu tubuhnya yang mengenaskan itu mulai kejang-kejang.

"Kyuu!"

Seolah ingin memberikan serangan penutup, makhluk aneh berbulu putih bersih menaiki punggung sang Majin dengan langkah mantap, lalu mulai mengunyah sayapnya dengan lahap.

"Eee..."

Meskipun dia adalah penyebab kematian ayahku dan musuh benci yang telah menjebak kakak kandungku, melihat sosoknya yang begitu malang seketika menenangkan amarah dan kebencian yang bergejolak di dalam diriku. Malah, aku yang tadi sudah berapi-api ingin bertarung justru merasa hampir patah semangat karena melihat ini.

"...... Menyedihkan sekali."

Ya, mau bagaimana lagi, sepertinya dia memang sedang sial karena bertemu lawan yang salah.

"Fuu."

Setelah menyelesaikan pembantaian sepihak yang bahkan tidak layak disebut pertarungan itu, Mina menghela napas panjang dan melakukan pose siaga (zanshin).

"Mi, Mina."

Mendengar suaraku, Mina menoleh.

"Yukinojo? Apakah Haruomi-san baik-baik saja?"

"U-umu. Karena Norb sedang mengobatinya. Aku tadi berniat membantu kalian bertarung, tapi..."

"Ah."

Mina mengeluarkan suara kikuk sambil melirik sekilas ke arah sang Majin.

"Kami sudah telanjur mengalahkannya, ya."

"Be-benar juga."

Jika dipikir-pikir lagi, Mina dan yang lainnya jauh lebih kuat dariku.

Aku tahu kalau ikut campur dalam pertarungan mereka aku hanya akan menjadi penghambat, tapi tetap saja, ini sudah melampaui masalah menjadi penghambat atau bukan. Benar-benar memalukan bagiku.

"Yah, yang penting kan sang Majin sudah kalah, dan selama ada Norb, dia pasti akan mengobati Haruomi-san dengan benar."

"Be-benar juga."

Kami pun berbincang dalam suasana yang agak kikuk. Namun, justru hal itu mengundang kelengahan.

"!?"

Di belakang Mina, sang Majin bangkit berdiri. Di bawah kakinya, sebuah wadah yang mungkin berisi obat cair tampak terguling. Apakah itu obat penyembuh!?

"Gawat, Mina!"

Sang Majin melompat ke arah kami secepat kilat dan melayangkan serangan tangan pisau ke arah Mina.

"Eh?"

Tubuhku bergerak secara refleks. Aku mencengkeram bahu Mina, menariknya mendekat, lalu mendorongnya ke samping. Dengan ini, Mina pasti selamat.

"Cih! Tapi jika aku membunuhmu, negeri ini akan kacau balau! Jika aku membunuhmu, si calon Shogun!"

Sang Majin yang gagal melakukan serangan mendadak pada Mina mendecih kesal, namun ia segera mengalihkan targetnya padaku dan terus menerjang.

"Majin!? Kau masih hidup!?"

Menghindar sudah mustahil. Karena baru saja mendorong Mina dengan terburu-buru, posisiku sekarang sudah tidak seimbang.

"Berhenti!"

Mina mengulurkan tangannya, namun tangan itu tidak akan sampai mencengkeramku.

Tapi tidak apa-apa begini. Wahai orang yang berkali-kali menepuk punggungku dan mendorongku maju saat aku berada di jurang keputusasaan.

Jika aku mati demi melindungimu, aku tidak akan menyesal! Mati demi melindungi wanita yang dicintai adalah kehormatan bagi seorang samurai, bukan, bagi seorang pria!

Dan maafkan aku. Aku terpaksa membebankan urusan selanjutnya kepada kalian. Jika memungkinkan, aku mohon uruslah Haruomi, kakakku!

"Matilah kau!"

Sang Majin mengayunkan bilah pedang jahatnya untuk membunuhku.

"Kaulah yang harus mati!"

Namun, bilah itu tidak pernah sampai menebas tubuhku. Tiba-tiba, suara pria yang tidak kukenal terdengar dari belakang sang Majin.

"Teryaaaaa!!"

"GWAAAAAA!?"

Menerima serangan dari belakang oleh entah siapa, sang Majin menjerit kesakitan.

"A-apa yang...!?"

"Yo, barusan berbahaya sekali, ya."

Dari belakang sang Majin yang kali ini benar-benar tersungkur ke tanah, seorang pria yang tidak kukenal muncul dengan gaya bicara yang santai.

Pakaiannya bukan milik rakyat Amamine. Apakah orang ini juga berasal dari negeri asing?

"K-kau...!? Jairo!"

"Yo, sudah lama tidak bertemu, semuanya!"

Mina berseru kencang. Sepertinya pria ini adalah kenalan Mina dan kawan-kawan, kemungkinan besar adalah rekan terakhir yang sedang mereka cari.

"Kau selama ini berkeliaran di mana saja, sih!"

"Hmm? Ah, itu, aku berjalan-jalan ke berbagai tempat untuk mencari kalian, tahu."

Mina menginterogasi pria bernama Jairo itu dengan kemarahan yang nyata, namun yang bersangkutan tampak bersikap santai saja.

"Bukan sekadar berjalan-jalan ke berbagai tempat. Tuan Muda ini, setiap kali melihat gadis yang kesulitan, dia pasti pergi ke sana-sini sampai-sampai kita masuk semakin jauh ke pedalaman. Padahal aku sudah berkali-kali bilang kalau yang lain pasti mencari Tuan Muda di kota pinggir laut."

Lalu, seorang pria dengan pakaian seperti bandit muncul seolah-olah sedang mengeluhkan perkataan Jairo.

"Yah, habis bagaimana lagi. Kalau ada orang yang kesulitan, aku kan tidak bisa membiarkannya begitu saja?"

"Gadis?"

Mendengar kata menyelamatkan gadis, alis Mina terangkat tajam.

"Tunggu dulu kau, sebenarnya apa saja yang kau lakukan! Akui semuanya! Akui semuanya sekarang!"

"Hmm? Aku tidak melakukan hal yang istimewa, kok. Cuma membantu orang-orang yang sedang kesulitan sedikit saja."

"Itu sih bukan level 'sedikit' lagi. Di setiap tempat yang kita datangi, Tuan Muda selalu jadi akrab dengan gadis-gadis cantik."

Pria itu menghela napas panjang seolah lelah dengan kelakuan Jairo. Hmm, sepertinya dia sudah cukup menderita.

"Sebenarnya apa sih yang kau lakukan!"

Mina mencengkeram kerah baju Jairo dan mendesaknya.

"Hei, hei, ada apa sih sebenarnya?"




"Kau ini benar-benar selalu membuatku khawatir! sungguh..."

Suara Mina yang tadinya meledak-ledak karena marah perlahan-lahan mengecil.

"Ah, maaf ya."

Jairo sepertinya benar-benar merasa bersalah. Sambil meminta maaf, ia menyipitkan mata dan mengusap pelan kepala Mina.

Jangan-jangan ini...

"Lain kali lebih tenanglah sedikit."

"Iya, iya, aku akan berhati-hati."

Melihat pemandangan itu, aku tersadar.

"Ah, jadi begitu rupanya."

Tega sekali nasibku. Jadi hati Mina sudah ditentukan sejak awal? Sungguh konyol rasanya diriku ini.

"Ternyata sejak awal aku bahkan tidak pernah berdiri di atas panggungnya, ya."

Wajar saja. Mina adalah wanita yang luar biasa. Jika dia tidak punya seseorang di hatinya, justru itu yang aneh. Sebaliknya, aku harus bersyukur karena menyadari ini sebelum sempat menyatakan perasaan.

"Yo! Kau hebat juga tadi!"

"E-eh?"

Di saat aku sedang meratapi nasib di dalam hati, si Jairo itu tiba-tiba mengajakku bicara. Lagipula, apa yang sedang dia bicarakan?

"Tadi saat melihat sang Majin masih hidup, kau langsung bergerak melindungi Mina, kan? Padahal kalau gagal, kau bisa saja mati. Kau punya nyali juga!"

"U-umu."

Saat itu aku hanya bergerak tanpa pikir panjang. Sama sekali tidak ada rencana untuk selamat di kepalaku.

Namun, mendengar pujian yang begitu tulus dari pria ini, aku hanya bisa merasakan kebahagiaan yang jujur.

Bukan sanjungan penuh niat terselubung kepada putra Shogun, bukan pula teguran bagi penerus yang tidak kompeten.

Itu adalah pujian yang ditujukan hanya untuk seorang Yukinojo. Tanpa sadar, aku merasa terharu.

Ah, memang aku tidak bisa menang melawannya. Karena dia pria yang menyenangkan seperti inilah, Mina bisa tertarik padanya. Di saat-saat terakhir, aku justru mengalami kekalahan telak. Namun, anehnya aku tidak merasa kesal.

"Kau pun tadi melakukan serangan yang luar biasa."

Pertarungan melawan sang Majin yang mengenakan magic item kuat telah berakhir dengan kemenangan berkat bantuan Liliera-san dan yang lainnya, serta Jairo-kun yang muncul di saat terakhir.

Dulu mereka semua selalu bilang tidak mungkin bertarung melawan Majin atau naga, tapi sekarang mereka sudah menjadi begitu hebat.

Sejak awal mereka memang punya bakat. Yang kurang hanyalah penilaian yang tepat terhadap kemampuan diri mereka sendiri.

Tapi dengan ini, mereka pasti sudah memahami kekuatan mereka yang sebenarnya, sehingga kedepannya mereka akan bisa mengerahkan kekuatan itu tanpa rasa takut.

"Perbaikan darurat pada magic item-nya juga sudah selesai, untuk sementara masalah ini sudah beres."

Tepat saat aku memikirkan hal itu...

Tiba-tiba, dari kedalaman tanah terdengar raungan dahsyat seekor binatang buas.

"Suara apa itu!?"

Semuanya langsung bersiaga, mengira akan ada serangan monster lagi. Namun, keanehan tidak berhenti di situ. Gua di reruntuhan itu kembali berguncang hebat, dan daratan mulai terbelah!

"Gempa lagi!?"

"Bukankah Rex sudah membereskannya!?"

"Bukan, ini berbeda!"

Ini bukan gempa bumi. Ini adalah sesuatu yang lain...

"Apa!? Terang sekali!?"

"Lalu, apa-apaan hawa panas ini!?"

Dari celah-celah tanah, udara panas menyembur keluar bersamaan dengan cahaya berwarna jingga.

"Jangan-jangan ini!"

Aku mengintip ke dalam celah sambil berhati-hati agar tidak terjatuh. Seperti dugaanku, di sana terlihat cairan kental yang bersinar jingga.

"Benar, ini lava!"

Ya, yang mengalir di dasar celah itu adalah lava. Namun bukan itu saja. Di dasar celah yang dalam, dari balik lava itu, sebuah objek raksasa sedang mencoba merangkak naik.

"Makhluk hidup!? Di tempat seperti itu!?"

"Fu, fuhahahaha!!"

Di saat itulah, sang Majin yang telah tumbang oleh serangan Jairo-kun tertawa dengan suara yang terdengar gila.

"Tepat sekali! Di dasar lava ini, di tempat di mana nadi bumi (ley line) dan nadi spiritual bersilangan, dialah tempatnya bersemayam!"

"Dia!?"

"Ya! Itulah sang Great Demon Beast, sumber bencana sesungguhnya yang menyerang negeri ini!"

"Great Demon Beast!?"

Seolah mengejek kami yang baru saja merayakan kemenangan, sang Majin mengungkapkan fakta mengejutkan tersebut.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close