Chapter 200
Tekad Seorang Pria
◆ Yukinojo ◆
"Ugh..."
"Haruomi!
Sadarlah, Haruomi!"
Aku terus
memanggil Haruomi yang wajahnya semakin pucat karena kehilangan banyak darah. Jangan mati! Jangan mati di tempat seperti
ini, Haruomi!
"Uuu..."
Mungkin
pengobatan Norb membuahkan hasil, Haruomi perlahan membuka matanya sedikit.
"Haruomi!"
"Aku...?"
Haruomi tampak
bingung dengan apa yang terjadi, pandangannya mengawang ke sekeliling, namun
saat matanya melihat alat sihir yang hancur, fokusnya kembali tajam.
"Fu,
fuhaha... Memalukan... Mengenaskan sekali nasibku ini..."
Seolah menyadari apa yang telah terjadi, Haruomi tertawa
dengan tawa yang terdengar getir dan hancur.
"Baru saja aku mendapatkan kendali atas alat sihir ini
dan berniat membalas dendam pada mereka yang merampas segalanya dariku, malah
berakhir seperti ini... Aku pikir aku yang memanfaatkannya, ternyata aku hanya
berakhir dimanfaatkan saja."
"Haruomi..."
Mendengar suaraku, Haruomi menoleh ke arahku dengan wajah
heran.
"Kenapa kau
memasang wajah begitu...? Kenapa kau memasang wajah seolah-olah ingin
menangis?"
"Entahlah!
Aku sendiri tidak tahu!"
"Apa...
katamu?"
"Aku
adalah... musuh yang membunuh ayahmu, tahu? Aku adalah musuh yang mencoba
membunuhmu juga...?"
"Aku tahu...
aku tahu itu, tapi tetap saja aku tidak mengerti..."
"Tidak
apa-apa, kok."
Pria yang
dipanggil Norb, rekan dari Mina, berkata sambil mengarahkan cahaya sihir
penyembuh ke luka Haruomi.
"Aku akan
bertanggung jawab untuk mengobati kakakmu ini. Jadi, jangan khawatir."
Berbeda jauh
dengan sikapnya yang kurang percaya diri saat di desa, pria di depanku ini
menyatakan hal itu dengan tatapan mata yang kuat, layaknya seorang tabib ulung
yang sudah sangat berpengalaman.
"...... Begitu ya. Jadi begitu rupanya."
Mendengar kata-kata itu, akhirnya aku memahami perasaan apa
yang ada di hatiku ini.
Aku
benar-benar lamban. Aku sampai benci pada diri sendiri karena begitu bodoh.
Lalu, apa
yang sedang kulakukan sekarang?
Meskipun
lahir di keluarga kasta pendekar, aku tidak bertarung dan malah meributkan
hal-hal seperti anak kecil.
Apakah ini
perilaku seorang samurai?
"Bukan, aku
adalah seorang samurai."
Mengingat kembali
apa yang harus kulakukan, aku memantapkan tekad di hati dan berdiri tegak.
"Norb, aku
percayakan Haruomi padamu!"
"Baik,
serahkan saja padaku."
Norb menjawab
dengan tenang namun penuh kekuatan. Fuhu, inikah yang disebut tabib ternama? Aku benar-benar merasa tenang
sekarang! Lalu, aku bicara pada Haruomi.
"Haruomi,
aku sudah mengerti."
"Mengerti...?"
"Mengapa aku
merasa seperti ini. Jawabannya sederhana. Aku merasa 'khawatir' padamu."
"A-apa...
katamu?"
Haruomi
membelalakkan matanya karena terkejut. Fuhu, ternyata orang ini bisa
menunjukkan ekspresi seperti itu juga.
"Ya, rasa
'khawatir'. Setelah dipahami, ternyata ini hal yang sangat sederhana."
"Dasar
bodoh... Aku ini sudah membunuh orang tuamu..."
Dia pasti ingin
bilang kalau dia sudah membunuh ayahku.
"Benar, kau
adalah musuh. Tapi di saat yang sama, kau juga adalah kakak sedarahku!"
"......!"
"Jika kita
keluarga... jika kita keluarga, maka tugas keluarga adalah membenarkan
kesalahan dan juga memaafkan!"
"! ...... Keluarga... katamu? Aku... dan kau?"
Haruomi memasang wajah yang rumit, perpaduan antara terkejut
dan penolakan, seolah ia tidak bisa percaya, atau lebih tepatnya tidak ingin
percaya.
"Kau mungkin tidak mau mengakuinya, tapi bagiku kau
tetaplah kakak kandungku. Ayahanda telah berbuat salah. Beliau mempercayai
pemberontakan palsu itu, lalu merampas namamu, keluargamu, dan mengusirmu. Tapi
jika dia adalah keluarga, jika dia adalah ayah, seharusnya dia tidak
menjauhkanmu melainkan mendekapmu erat-erat walau kau masih kecil. Meskipun
tindakannya itu demi keselamatanmu sendiri, jika kalian adalah keluarga, dia
seharusnya berada di sisimu dan melindungimu!"
Ah, saat diucapkan dengan kata-kata, aku benar-benar
merasakannya.
"Lagipula, sejak kau masih menjadi Haruomi, bagiku kau
sudah seperti sosok seorang kakak, tahu? Wajar jika aku khawatir padamu."
Benar, dibandingkan dengan ayah yang sibuk dan jarang bisa
kutemui, aku melihat Haruomi—yang mengabdi di sisiku sebagai pengawal—sebagai
orang yang paling dekat denganku.
"Mungkin sudah terlambat. Mungkin segalanya sudah tidak
bisa diperbaiki lagi. Tapi meski begitu, aku ingin melindungimu. Haruomi,
bukan, Shun'ou, biarlah aku yang menanggung dosa dan kesalahanmu serta
ayahanda!"
Sambil menggenggam pedang tanpa pelindung gagang itu, aku
menerjunkan diri ke dalam pertempuran melawan sang Majin.
"Aku adalah
pewaris jabatan Shogun! Naren Yukinojo! Bersiaplah, Majin!"
"GWAAAAAAAAA!!"
"Eh?"
Namun,
pemandangan yang menyambutku saat melangkah ke medan tempur adalah sosok sang Majin
yang sedang melayang di udara sambil dipukuli habis-habisan oleh Mina dan yang
lainnya.
"E-eh?"
"Kalau sihir
tidak mempan, tinggal gunakan sihir penguat fisik untuk memperkuat tubuh lalu
memukulnya sampai babak belur, kan!"
"Meskipun
efek sihir dari magic item tidak mempan, tapi magic item buatan
khusus Rex sangat tajam, jadi tinggal ditebas biasa saja."
"Lagipula
sejak awal kita memang tidak bisa menggunakan sihir luar, dan penguat fisik
untuk membantu serangan sendiri itu bisa digunakan normal, jadi kita sama
sekali tidak merasa dirugikan, kok."
"Setuju."
Sambil
melontarkan logika-logika aneh itu, Mina dan yang lainnya membuat sang Majin
melambung tinggi ke angkasa.
"I-itu
tidaaaaakkkk mungkinnnnnn!!"
Teriakan histeris
sang Majin seolah-olah mewakili suara di dalam hatiku. Dengan serangan
beruntun dari mereka bertiga yang tanpa jeda, kepala sang Majin
terhantam keras ke langit-langit.
"Guboha!"
Dosaa!! Sang Majin jatuh ke tanah layaknya
sehelai kain pel kotor, lalu tubuhnya yang mengenaskan itu mulai kejang-kejang.
"Kyuu!"
Seolah ingin
memberikan serangan penutup, makhluk aneh berbulu putih bersih menaiki punggung
sang Majin dengan langkah mantap, lalu mulai mengunyah sayapnya dengan
lahap.
"Eee..."
Meskipun dia
adalah penyebab kematian ayahku dan musuh benci yang telah menjebak kakak
kandungku, melihat sosoknya yang begitu malang seketika menenangkan amarah dan
kebencian yang bergejolak di dalam diriku. Malah, aku yang tadi sudah
berapi-api ingin bertarung justru merasa hampir patah semangat karena melihat
ini.
"...... Menyedihkan sekali."
Ya, mau bagaimana lagi, sepertinya dia memang sedang sial
karena bertemu lawan yang salah.
"Fuu."
Setelah menyelesaikan pembantaian sepihak yang bahkan tidak
layak disebut pertarungan itu, Mina menghela napas panjang dan melakukan pose
siaga (zanshin).
"Mi,
Mina."
Mendengar
suaraku, Mina menoleh.
"Yukinojo?
Apakah Haruomi-san baik-baik saja?"
"U-umu.
Karena Norb sedang mengobatinya. Aku tadi berniat membantu kalian bertarung,
tapi..."
"Ah."
Mina mengeluarkan
suara kikuk sambil melirik sekilas ke arah sang Majin.
"Kami sudah
telanjur mengalahkannya, ya."
"Be-benar
juga."
Jika
dipikir-pikir lagi, Mina dan yang lainnya jauh lebih kuat dariku.
Aku tahu kalau
ikut campur dalam pertarungan mereka aku hanya akan menjadi penghambat, tapi
tetap saja, ini sudah melampaui masalah menjadi penghambat atau bukan.
Benar-benar memalukan bagiku.
"Yah, yang
penting kan sang Majin sudah kalah, dan selama ada Norb, dia pasti akan
mengobati Haruomi-san dengan benar."
"Be-benar
juga."
Kami pun
berbincang dalam suasana yang agak kikuk. Namun, justru hal itu mengundang
kelengahan.
"!?"
Di belakang Mina,
sang Majin bangkit berdiri. Di bawah kakinya, sebuah wadah yang mungkin
berisi obat cair tampak terguling. Apakah itu obat penyembuh!?
"Gawat,
Mina!"
Sang Majin
melompat ke arah kami secepat kilat dan melayangkan serangan tangan pisau ke
arah Mina.
"Eh?"
Tubuhku
bergerak secara refleks. Aku mencengkeram bahu Mina, menariknya mendekat, lalu
mendorongnya ke samping. Dengan
ini, Mina pasti selamat.
"Cih! Tapi
jika aku membunuhmu, negeri ini akan kacau balau! Jika aku membunuhmu, si calon
Shogun!"
Sang Majin
yang gagal melakukan serangan mendadak pada Mina mendecih kesal, namun ia
segera mengalihkan targetnya padaku dan terus menerjang.
"Majin!?
Kau masih hidup!?"
Menghindar sudah
mustahil. Karena baru saja mendorong Mina dengan terburu-buru, posisiku
sekarang sudah tidak seimbang.
"Berhenti!"
Mina mengulurkan
tangannya, namun tangan itu tidak akan sampai mencengkeramku.
Tapi tidak
apa-apa begini. Wahai orang yang berkali-kali menepuk punggungku dan
mendorongku maju saat aku berada di jurang keputusasaan.
Jika aku
mati demi melindungimu, aku tidak akan menyesal! Mati demi melindungi wanita
yang dicintai adalah kehormatan bagi seorang samurai, bukan, bagi seorang pria!
Dan maafkan aku.
Aku terpaksa membebankan urusan selanjutnya kepada kalian. Jika memungkinkan,
aku mohon uruslah Haruomi, kakakku!
"Matilah
kau!"
Sang Majin
mengayunkan bilah pedang jahatnya untuk membunuhku.
"Kaulah yang
harus mati!"
Namun, bilah itu
tidak pernah sampai menebas tubuhku. Tiba-tiba, suara pria yang tidak kukenal
terdengar dari belakang sang Majin.
"Teryaaaaa!!"
"GWAAAAAA!?"
Menerima serangan
dari belakang oleh entah siapa, sang Majin menjerit kesakitan.
"A-apa
yang...!?"
"Yo, barusan
berbahaya sekali, ya."
Dari belakang
sang Majin yang kali ini benar-benar tersungkur ke tanah, seorang pria
yang tidak kukenal muncul dengan gaya bicara yang santai.
Pakaiannya bukan
milik rakyat Amamine. Apakah
orang ini juga berasal dari negeri asing?
"K-kau...!?
Jairo!"
"Yo,
sudah lama tidak bertemu, semuanya!"
Mina
berseru kencang. Sepertinya pria ini adalah kenalan Mina dan kawan-kawan,
kemungkinan besar adalah rekan terakhir yang sedang mereka cari.
"Kau selama
ini berkeliaran di mana saja, sih!"
"Hmm? Ah,
itu, aku berjalan-jalan ke berbagai tempat untuk mencari kalian, tahu."
Mina
menginterogasi pria bernama Jairo itu dengan kemarahan yang nyata, namun yang
bersangkutan tampak bersikap santai saja.
"Bukan
sekadar berjalan-jalan ke berbagai tempat. Tuan Muda ini, setiap kali melihat
gadis yang kesulitan, dia pasti pergi ke sana-sini sampai-sampai kita masuk
semakin jauh ke pedalaman. Padahal aku sudah berkali-kali bilang kalau yang
lain pasti mencari Tuan Muda di kota pinggir laut."
Lalu, seorang
pria dengan pakaian seperti bandit muncul seolah-olah sedang mengeluhkan
perkataan Jairo.
"Yah, habis
bagaimana lagi. Kalau ada orang yang kesulitan, aku kan tidak bisa
membiarkannya begitu saja?"
"Gadis?"
Mendengar kata
menyelamatkan gadis, alis Mina terangkat tajam.
"Tunggu dulu
kau, sebenarnya apa saja yang kau lakukan! Akui semuanya! Akui semuanya
sekarang!"
"Hmm? Aku
tidak melakukan hal yang istimewa, kok. Cuma membantu orang-orang yang sedang
kesulitan sedikit saja."
"Itu sih
bukan level 'sedikit' lagi. Di setiap tempat yang kita datangi, Tuan Muda
selalu jadi akrab dengan gadis-gadis cantik."
Pria itu menghela
napas panjang seolah lelah dengan kelakuan Jairo. Hmm, sepertinya dia sudah
cukup menderita.
"Sebenarnya
apa sih yang kau lakukan!"
Mina mencengkeram
kerah baju Jairo dan mendesaknya.
"Hei, hei, ada apa sih sebenarnya?"
"Kau ini
benar-benar selalu membuatku khawatir! sungguh..."
Suara Mina yang
tadinya meledak-ledak karena marah perlahan-lahan mengecil.
"Ah, maaf ya."
Jairo sepertinya benar-benar merasa bersalah. Sambil meminta maaf, ia menyipitkan mata dan
mengusap pelan kepala Mina.
Jangan-jangan
ini...
"Lain kali
lebih tenanglah sedikit."
"Iya,
iya, aku akan berhati-hati."
Melihat
pemandangan itu, aku tersadar.
"Ah,
jadi begitu rupanya."
Tega sekali
nasibku. Jadi hati Mina sudah ditentukan sejak awal? Sungguh konyol rasanya
diriku ini.
"Ternyata
sejak awal aku bahkan tidak pernah berdiri di atas panggungnya, ya."
Wajar saja. Mina
adalah wanita yang luar biasa. Jika dia tidak punya seseorang di hatinya, justru itu yang aneh. Sebaliknya, aku harus bersyukur karena
menyadari ini sebelum sempat menyatakan perasaan.
"Yo! Kau
hebat juga tadi!"
"E-eh?"
Di saat aku
sedang meratapi nasib di dalam hati, si Jairo itu tiba-tiba mengajakku bicara.
Lagipula, apa yang sedang dia bicarakan?
"Tadi saat
melihat sang Majin masih hidup, kau langsung bergerak melindungi Mina,
kan? Padahal kalau gagal, kau bisa saja mati. Kau punya nyali juga!"
"U-umu."
Saat itu aku
hanya bergerak tanpa pikir panjang. Sama sekali tidak ada rencana untuk selamat
di kepalaku.
Namun, mendengar
pujian yang begitu tulus dari pria ini, aku hanya bisa merasakan kebahagiaan
yang jujur.
Bukan sanjungan
penuh niat terselubung kepada putra Shogun, bukan pula teguran bagi penerus
yang tidak kompeten.
Itu adalah pujian
yang ditujukan hanya untuk seorang Yukinojo. Tanpa sadar, aku merasa terharu.
Ah,
memang aku tidak bisa menang melawannya. Karena dia pria yang menyenangkan
seperti inilah, Mina bisa tertarik padanya. Di saat-saat terakhir, aku justru
mengalami kekalahan telak. Namun, anehnya aku tidak merasa kesal.
"Kau
pun tadi melakukan serangan yang luar biasa."
◆
Pertarungan
melawan sang Majin yang mengenakan magic item kuat telah berakhir
dengan kemenangan berkat bantuan Liliera-san dan yang lainnya, serta Jairo-kun
yang muncul di saat terakhir.
Dulu
mereka semua selalu bilang tidak mungkin bertarung melawan Majin atau
naga, tapi sekarang mereka sudah menjadi begitu hebat.
Sejak
awal mereka memang punya bakat. Yang kurang hanyalah penilaian yang tepat
terhadap kemampuan diri mereka sendiri.
Tapi
dengan ini, mereka pasti sudah memahami kekuatan mereka yang sebenarnya,
sehingga kedepannya mereka akan bisa mengerahkan kekuatan itu tanpa rasa takut.
"Perbaikan
darurat pada magic item-nya juga sudah selesai, untuk sementara masalah
ini sudah beres."
Tepat saat aku
memikirkan hal itu...
Tiba-tiba, dari
kedalaman tanah terdengar raungan dahsyat seekor binatang buas.
"Suara
apa itu!?"
Semuanya
langsung bersiaga, mengira akan ada serangan monster lagi. Namun, keanehan
tidak berhenti di situ. Gua di reruntuhan itu kembali berguncang hebat, dan
daratan mulai terbelah!
"Gempa
lagi!?"
"Bukankah
Rex sudah membereskannya!?"
"Bukan,
ini berbeda!"
Ini bukan
gempa bumi. Ini adalah
sesuatu yang lain...
"Apa!?
Terang sekali!?"
"Lalu,
apa-apaan hawa panas ini!?"
Dari celah-celah
tanah, udara panas menyembur keluar bersamaan dengan cahaya berwarna jingga.
"Jangan-jangan
ini!"
Aku mengintip ke
dalam celah sambil berhati-hati agar tidak terjatuh. Seperti dugaanku, di sana
terlihat cairan kental yang bersinar jingga.
"Benar, ini
lava!"
Ya, yang mengalir
di dasar celah itu adalah lava. Namun bukan itu saja. Di dasar celah yang
dalam, dari balik lava itu, sebuah objek raksasa sedang mencoba merangkak naik.
"Makhluk
hidup!? Di tempat seperti itu!?"
"Fu,
fuhahahaha!!"
Di saat itulah,
sang Majin yang telah tumbang oleh serangan Jairo-kun tertawa dengan
suara yang terdengar gila.
"Tepat
sekali! Di dasar lava ini, di tempat di mana nadi bumi (ley line) dan
nadi spiritual bersilangan, dialah tempatnya bersemayam!"
"Dia!?"
"Ya! Itulah
sang Great Demon Beast, sumber bencana sesungguhnya yang menyerang negeri
ini!"
"Great Demon
Beast!?"
Seolah mengejek
kami yang baru saja merayakan kemenangan, sang Majin mengungkapkan fakta
mengejutkan tersebut.



Post a Comment