NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 22

Chapter 201

Demon Beast Api Raksasa


"Ya! Itulah sang Great Demon Beast, sumber bencana sesungguhnya yang menyerang negeri ini!"

Tepat saat kami mengira pertempuran telah usai, sang Majin melontarkan pernyataan yang sangat mengejutkan.

"Great Demon Beast!?"

Apa-apaan itu? Jadi makhluk semacam itu yang selama ini menjadi biang keladi bencana di negeri ini!?

"Kalian para manusia mengira telah menenangkan bencana dengan magic item, padahal yang sebenarnya disegel adalah makhluk itu!"

"Menyegel monster itu!?"

"Tempat ini adalah wilayah spiritual penting yang mengendalikan aliran kehidupan dan sihir, titik temu antara nadi bumi dan nadi spiritual negeri ini! Namun, ini juga merupakan tempat yang sangat berbahaya, karena sedikit gangguan saja bisa dengan mudah memicu bencana dahsyat!"

Benar juga. Nadi bumi mengendalikan aliran energi kehidupan tanah, sedangkan nadi spiritual mengendalikan aliran sihir.

Biasanya, dua titik penting seperti ini jarang sekali bertumpang tindih. Tapi di negeri ini, hal itu terjadi. Pantas saja tempat ini dipuja sebagai wilayah sakral.

"Tunggu, jangan-jangan!"

"Benar! Demi menjadikan kekuatan yang melimpah di tempat ini sebagai mangsanya, dia selama ini 'makan' dengan cara merangsang nadi bumi dan nadi spiritual selama bertahun-tahun. Tak peduli meski tindakannya itu mengakibatkan negeri ini terus-menerus dilanda bencana!"

"Benar-benar monster yang merepotkan ya!?"

Mina-san benar. Bisa-bisanya ada makhluk yang memicu bencana besar hanya demi kepentingan perutnya sendiri!

"Nah, menurutmu apa yang akan dilakukan makhluk yang terbangun dalam kondisi sangat lapar itu? Tentu saja dia akan langsung berpesta! Untuk menyantap hidangan terbaik, dia akan menghantamkan rangsangan ke nadi bumi dan nadi spiritual dengan kekuatan yang tak tertandingi sebelumnya! Bencana yang dipicunya nanti tidak akan sebanding dengan kebocoran segel yang terjadi tadi! Bukan sekadar menghancurkan negeri ini, mungkin seluruh daratan akan tenggelam ke dasar laut!"

Sang Majin tertawa riang meski darah terus mengalir dari tubuhnya. Karena dia tahu nyawanya takkan lama lagi, dia berniat menyeret segalanya untuk mati bersamanya!

"Tak hanya itu! Setelah bebas, sang Great Demon Beast akan berkeliling dunia merangsang setiap nadi bumi dan nadi spiritual demi mencari mangsa baru! Berakhir sudah! Dunia ini akan menemui ajalnya!"

Mengerikan sekali! Mungkinkah makhluk ini ada hubungannya dengan 'Bencana Putih' yang meruntuhkan peradaban sihir kuno...

"Oleh sang Great Demon Beast yang dijuluki Cangkang Gunung Berapi Raksasa, Volcanic Turtle!"

Sang Majin menyebutkan nama monster itu seolah-olah ingin kami gemetar ketakutan.

"...... Eh, Volcanic Turtle?"

Hm? Apa maksudnya?

"Benar! Monster jahat yang telah menghancurkan banyak negara, Volcanic Turtle!"

Hmm, sepertinya aku tidak salah dengar.

"Oalah, cuma Volcanic Turtle toh."

"...... Apa?"

"Bikin kaget saja. Habisnya, kau bilang 'Great Demon Beast' yang tersegel di dalam gunung berapi titik temu nadi bumi dan nadi spiritual yang bisa menghancurkan dunia, aku kira yang disegel itu sejenis Volcanic Tiger atau apa."

Karena dia menakut-nakuti sedemikian rupa, aku sempat mengira monster mengerikan macam apa yang akan muncul.

Ternyata cuma monster elemen api yang biasa ditemukan di mana-mana, kan? Duh, rugi rasanya sudah sempat kaget tadi.

"T-tunggu dulu. Ini Volcanic Turtle, tahu!? Monster raksasa sebesar gunung! Dari cangkang di punggungnya, ia bisa melontarkan bola lava layaknya gunung berapi dan telah menghancurkan banyak negara! Berhenti berlagak tangguh!"

"Volcanic Turtle menghancurkan banyak negara?"

Hmm?

Apa maksudnya ya?

 Memang sih Volcanic Turtle itu besar, tapi dia bukan monster dengan tingkat ancaman setinggi itu.

Penyihir elemen air atau es yang cukup ahli—bahkan elemen tanah sekalipun—seharusnya bisa mengalahkannya. Malah, kenalanku ada yang biasa membelahnya hanya dengan pedang.

Ah, mungkinkah Volcanic Turtle di dunia sang Majin jauh lebih berbahaya daripada yang ada di dunia kami?

Terkadang, tingkat bahaya monster dengan spesies yang sama bisa berbeda tergantung wilayahnya.

Mungkin bagi sang Majin, itu benar-benar monster yang menakutkan?

Atau mungkin ini adalah varian mutasi dengan kekuatan khusus seperti Venom Beet yang kami lawan sebelumnya?

Hmm, kalau dipikir begitu, aku tidak boleh lengah!

"Meski begitu, tidak ada gunanya hanya dipikirkan saja. Aku pergi membasminya sebentar ya. Hap!"

Aku melompat turun menuju dasar retakan tanah tempat Volcanic Turtle terlihat.

"Tunggu! Rex-san!?"

"BOAAAAAAAAAAAAA!!"

Seketika, Volcanic Turtle yang mengapung di atas lava di dasar retakan menatap ke arahku dan mengaum keras.

Entah karena dia menyadari keberadaanku, atau hanya karena dia menemukan jalan keluar menuju kebebasan.

Selagi aku memikirkan itu, sejumlah besar bola lava dan cairan lava menyembur keluar dari kawah di cangkangnya diiringi suara gemuruh. Ah, sepertinya dia memang menyadari kehadiranku.

"Reflect Field!"

Agar teman-teman yang ada di atas tidak terkena dampaknya, aku merapalkan sihir pemantul di ruang tepat di depanku.

Begitu bola lava dan cairan lava itu memasuki area sihir, semuanya terpental kembali ke arah Volcanic Turtle seolah menabrak dinding.

Reflect Field adalah sihir pencegatan praktis yang memantulkan kembali materi atau sihir yang masuk ke dalam area tersebut ke arah asalnya.

Kecuali musuhnya adalah tipe yang kebal terhadap elemen serangannya sendiri, sihir ini sangat bagus untuk memberikan kerusakan pada hampir semua lawan.

"Boaaaa!?"

Sepertinya monster itu tidak menyangka serangannya sendiri akan berbalik arah, sehingga terdengar suara terkejut darinya.

Hmm, karena serangannya bisa dipantulkan secara normal, rasanya memang tidak jauh berbeda dengan Volcanic Turtle yang kukenal.

Meski begitu, karena dia memang monster yang hidup di dalam lava, terkena pantulan bola lavanya sendiri sepertinya tidak memberikan luka yang berarti.

Lagipula, selain cangkangnya, kulit makhluk itu juga cukup keras.

"Nah, bagaimana cara mengalahkannya ya. Kalau menyerang sembarangan dan menyebabkan lava di nadi bumi menyembur keluar bisa gawat, jadi sebaiknya aku pakai serangan elemen es saja untuk menyelesaikannya!"

Aku mengarahkan sihir pemungkas ke arah Volcanic Turtle yang masih bingung.

Karena di bawah sini panas akibat lava, sihir elemen es memang pilihan klasik, ya? Tapi sihir es itu agak merepotkan saat proses pencairannya nanti.

"Baiklah, karena di sini panas, aku tarik saja dia ke sini! High Area Apports!"

Aku menyelaraskan koordinat pada Volcanic Turtle yang mengapung di atas lava, lalu menggunakan sihir untuk menarik seluruh ruangnya ke hadapanku. Seketika, Volcanic Turtle muncul tepat di depan mataku.

"Boa!?"

Dari sudut pandangnya, mungkin terlihat seolah aku yang tiba-tiba muncul di depannya. Maaf ya sudah membuatmu kaget, tapi aku akan menghabisimu sekarang!

"Metal Slicer!"

Aku memberikan sihir penguat pemotong pada pedangku—sihir yang dikhususkan untuk membelah monster dengan kulit atau cangkang sekeras logam—lalu menebas leher Volcanic Turtle.

Pedangku meluncur mulus layaknya memotong mentega, merobek leher monster itu.

Gelombang tebasan yang terpancar memanjang, memotong leher yang lebih tebal dan besar dari bilah pedangku itu.

Saat aku menurunkan pedang, leher setebal menara itu sudah terpisah rapi dari tubuhnya.

"Boa?"

Volcanic Turtle yang belum menyadari lehernya telah terputus mencoba memiringkan kepalanya, namun ia tampak heran karena kepalanya tidak bisa digerakkan.

Di saat yang sama, lava yang ikut tertarik tadi mulai jatuh kembali ke bawah tanah.

"Ups, kalau yang ini aku ambil ya!"

Aku memasukkan tubuh Volcanic Turtle yang mulai terjatuh ke dalam tas sihir, lalu menyusul dengan mengambil bagian kepalanya yang akhirnya mati.

Karena ini monster elemen api dengan zirah berat, bagian tubuhnya bisa digunakan untuk membuat senjata maupun pelindung.

Apalagi Jairo-kun memiliki elemen api, ini pasti berguna untuk memperkuat perlengkapannya.

"Sip, pengambilan barang selesai."

"A-apaaaaaaaaa!?"

Terdengar suara terkejut dari sang Majin, Yukinojo-san, dan yang lainnya dari arah atas.

Hmm, padahal kekuatannya cuma segini tapi mereka kaget sekali ya. Mungkin si Majin itu benar-benar salah sangka dan mengiranya sebagai Volcanic Tiger karena namanya mirip?

"Ah iya, aku harus mengurus nadi bumi dan nadi spiritual juga."

Penyebab bencana yang membuat nadi bumi dan nadi spiritual mengamuk memang sudah disingkirkan, tapi jika dibiarkan begitu saja dalam keadaan kacau, bencana bisa terjadi lagi setelah efek sihirku habis.

Padahal butuh ratusan tahun bagi alam untuk pulih dengan sendirinya, jadi lebih baik aku memasang sesuatu untuk menyembuhkan tanah ini.

"Pertama-tama, Calm Wave!!"

Aku memancarkan gelombang penenang dan penyembuh ke dalam nadi bumi dan nadi spiritual.

Sihir ini biasanya memancarkan energi penyembuh di sekitar penggunanya, namun dengan memasukkannya ke dalam aliran nadi bumi dan spiritual, kekuatan tersebut bisa terbawa arus menuju wilayah-wilayah yang normalnya tidak terjangkau.

Yah, hal seperti ini hanya bisa dilakukan di tempat seperti ini, di mana kedua nadi tersebut bertumpang tindih.

Tapi berkat itu, aku tinggal memasukkan energi sihir dalam jumlah besar di sini, jadi tidak perlu repot-repot mendatangi setiap lokasi bencana untuk menenangkan tanahnya.

"Oke, sudah tenang. Sisanya, aku akan memodifikasi magic item yang tadinya menyegel bencana ini, lalu menanamkan fungsi untuk mengirimkan gelombang penyembuh secara berkala untuk merawat tanah dalam jangka panjang."

Setelah memastikan melalui nadi spiritual bahwa wilayah-wilayah jauh telah berhasil ditenangkan, aku memikirkan langkah selanjutnya.

Tempat ini adalah wilayah spiritual yang sangat istimewa, tidak menutup kemungkinan monster seperti Volcanic Turtle akan melirik tempat ini lagi.

Jika ini nadi bumi atau spiritual biasa, keterlibatan Volcanic Turtle mungkin tidak akan jadi masalah sebesar ini. Mereka hanya sedang sial saja.

Jadi, selain kemampuan penyegel bencana seperti sebelumnya, aku harus menambahkan fungsi penyembuh tanah dan pengusir monster.

Setelah kembali dari retakan tanah, aku memberi tahu semuanya bahwa kestabilan daratan telah berhasil dipulihkan.

"A-apakah itu benar!? S-sungguh tak bisa dipercaya... bencana yang telah menyengsarakan tanah Amamine selama bertahun-tahun, berhasil diselesaikan seorang diri tanpa bantuan alat sihir sedikit pun..."

Aku mendengar suara kekaguman Yukinojo-san, padahal ini semua berkat identitas monster yang disegel ternyata bukan lawan yang terlalu kuat.

"M-mustahil... rencana dua lapisku... ghak."

"Ah, dia mati."

Sang Majin yang menyaksikan seluruh kejadian tadi akhirnya kehabisan tenaga dan terkulai lemas.

Meguri-san yang pergi memeriksa denyut nadinya menyilangkan kedua tangan di atas kepala, menandakan bahwa sang Majin telah benar-benar tewas.

"Kyuu! Burp."

Dan makhluk berbulu yang selesai memakan sayap sang Majin tadi mengeluarkan sendawa yang terdengar sangat puas.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close