Chapter 201
Demon Beast Api Raksasa
"Ya! Itulah
sang Great Demon Beast, sumber bencana sesungguhnya yang menyerang negeri
ini!"
Tepat saat kami
mengira pertempuran telah usai, sang Majin melontarkan pernyataan yang
sangat mengejutkan.
"Great Demon Beast!?"
Apa-apaan itu? Jadi makhluk semacam itu yang selama ini
menjadi biang keladi bencana di negeri ini!?
"Kalian para manusia mengira telah menenangkan bencana
dengan magic item, padahal yang sebenarnya disegel adalah makhluk
itu!"
"Menyegel monster itu!?"
"Tempat ini adalah wilayah spiritual penting yang
mengendalikan aliran kehidupan dan sihir, titik temu antara nadi bumi dan nadi
spiritual negeri ini! Namun, ini juga merupakan tempat yang sangat berbahaya,
karena sedikit gangguan saja bisa dengan mudah memicu bencana dahsyat!"
Benar juga. Nadi bumi mengendalikan aliran energi kehidupan
tanah, sedangkan nadi spiritual mengendalikan aliran sihir.
Biasanya, dua titik penting seperti ini jarang sekali
bertumpang tindih. Tapi di negeri ini, hal itu terjadi. Pantas saja tempat ini
dipuja sebagai wilayah sakral.
"Tunggu, jangan-jangan!"
"Benar! Demi menjadikan kekuatan yang melimpah di
tempat ini sebagai mangsanya, dia selama ini 'makan' dengan cara merangsang
nadi bumi dan nadi spiritual selama bertahun-tahun. Tak peduli meski
tindakannya itu mengakibatkan negeri ini terus-menerus dilanda bencana!"
"Benar-benar monster yang merepotkan ya!?"
Mina-san benar. Bisa-bisanya ada makhluk yang memicu bencana
besar hanya demi kepentingan perutnya sendiri!
"Nah, menurutmu apa yang akan dilakukan makhluk yang
terbangun dalam kondisi sangat lapar itu? Tentu saja dia akan langsung
berpesta! Untuk menyantap hidangan terbaik, dia akan menghantamkan rangsangan
ke nadi bumi dan nadi spiritual dengan kekuatan yang tak tertandingi
sebelumnya! Bencana yang dipicunya nanti tidak akan sebanding dengan kebocoran
segel yang terjadi tadi! Bukan sekadar menghancurkan negeri ini, mungkin
seluruh daratan akan tenggelam ke dasar laut!"
Sang Majin
tertawa riang meski darah terus mengalir dari tubuhnya. Karena dia tahu
nyawanya takkan lama lagi, dia berniat menyeret segalanya untuk mati
bersamanya!
"Tak
hanya itu! Setelah bebas, sang Great Demon Beast akan berkeliling dunia
merangsang setiap nadi bumi dan nadi spiritual demi mencari mangsa baru!
Berakhir sudah! Dunia ini akan menemui ajalnya!"
Mengerikan
sekali! Mungkinkah makhluk ini ada hubungannya dengan 'Bencana Putih' yang
meruntuhkan peradaban sihir kuno...
"Oleh
sang Great Demon Beast yang dijuluki Cangkang Gunung Berapi Raksasa, Volcanic
Turtle!"
Sang Majin
menyebutkan nama monster itu seolah-olah ingin kami gemetar ketakutan.
"...... Eh, Volcanic Turtle?"
Hm? Apa maksudnya?
"Benar! Monster jahat yang telah menghancurkan banyak
negara, Volcanic Turtle!"
Hmm,
sepertinya aku tidak salah dengar.
"Oalah, cuma Volcanic Turtle toh."
"...... Apa?"
"Bikin kaget saja. Habisnya, kau bilang 'Great Demon
Beast' yang tersegel di dalam gunung berapi titik temu nadi bumi dan nadi
spiritual yang bisa menghancurkan dunia, aku kira yang disegel itu sejenis
Volcanic Tiger atau apa."
Karena dia
menakut-nakuti sedemikian rupa, aku sempat mengira monster mengerikan macam apa
yang akan muncul.
Ternyata cuma
monster elemen api yang biasa ditemukan di mana-mana, kan? Duh, rugi rasanya
sudah sempat kaget tadi.
"T-tunggu
dulu. Ini Volcanic Turtle, tahu!? Monster raksasa sebesar gunung! Dari cangkang
di punggungnya, ia bisa melontarkan bola lava layaknya gunung berapi dan telah
menghancurkan banyak negara! Berhenti berlagak tangguh!"
"Volcanic
Turtle menghancurkan banyak negara?"
Hmm?
Apa maksudnya ya?
Memang sih Volcanic Turtle itu besar, tapi dia
bukan monster dengan tingkat ancaman setinggi itu.
Penyihir elemen
air atau es yang cukup ahli—bahkan elemen tanah sekalipun—seharusnya bisa
mengalahkannya. Malah, kenalanku ada yang biasa membelahnya hanya dengan
pedang.
Ah, mungkinkah
Volcanic Turtle di dunia sang Majin jauh lebih berbahaya daripada yang
ada di dunia kami?
Terkadang,
tingkat bahaya monster dengan spesies yang sama bisa berbeda tergantung
wilayahnya.
Mungkin
bagi sang Majin, itu benar-benar monster yang menakutkan?
Atau
mungkin ini adalah varian mutasi dengan kekuatan khusus seperti Venom Beet yang
kami lawan sebelumnya?
Hmm,
kalau dipikir begitu, aku tidak boleh lengah!
"Meski
begitu, tidak ada gunanya hanya dipikirkan saja. Aku pergi membasminya sebentar
ya. Hap!"
Aku
melompat turun menuju dasar retakan tanah tempat Volcanic Turtle terlihat.
"Tunggu!
Rex-san!?"
"BOAAAAAAAAAAAAA!!"
Seketika,
Volcanic Turtle yang mengapung di atas lava di dasar retakan menatap ke arahku
dan mengaum keras.
Entah karena dia
menyadari keberadaanku, atau hanya karena dia menemukan jalan keluar menuju
kebebasan.
Selagi aku
memikirkan itu, sejumlah besar bola lava dan cairan lava menyembur keluar dari
kawah di cangkangnya diiringi suara gemuruh. Ah, sepertinya dia memang
menyadari kehadiranku.
"Reflect
Field!"
Agar teman-teman
yang ada di atas tidak terkena dampaknya, aku merapalkan sihir pemantul di
ruang tepat di depanku.
Begitu bola lava
dan cairan lava itu memasuki area sihir, semuanya terpental kembali ke arah
Volcanic Turtle seolah menabrak dinding.
Reflect Field
adalah sihir pencegatan praktis yang memantulkan kembali materi atau sihir yang
masuk ke dalam area tersebut ke arah asalnya.
Kecuali musuhnya
adalah tipe yang kebal terhadap elemen serangannya sendiri, sihir ini sangat
bagus untuk memberikan kerusakan pada hampir semua lawan.
"Boaaaa!?"
Sepertinya
monster itu tidak menyangka serangannya sendiri akan berbalik arah, sehingga
terdengar suara terkejut darinya.
Hmm, karena
serangannya bisa dipantulkan secara normal, rasanya memang tidak jauh berbeda
dengan Volcanic Turtle yang kukenal.
Meski begitu,
karena dia memang monster yang hidup di dalam lava, terkena pantulan bola
lavanya sendiri sepertinya tidak memberikan luka yang berarti.
Lagipula, selain
cangkangnya, kulit makhluk itu juga cukup keras.
"Nah,
bagaimana cara mengalahkannya ya. Kalau menyerang sembarangan dan menyebabkan
lava di nadi bumi menyembur keluar bisa gawat, jadi sebaiknya aku pakai
serangan elemen es saja untuk menyelesaikannya!"
Aku mengarahkan
sihir pemungkas ke arah Volcanic Turtle yang masih bingung.
Karena di bawah
sini panas akibat lava, sihir elemen es memang pilihan klasik, ya? Tapi sihir
es itu agak merepotkan saat proses pencairannya nanti.
"Baiklah,
karena di sini panas, aku tarik saja dia ke sini! High Area Apports!"
Aku menyelaraskan
koordinat pada Volcanic Turtle yang mengapung di atas lava, lalu menggunakan
sihir untuk menarik seluruh ruangnya ke hadapanku. Seketika, Volcanic Turtle
muncul tepat di depan mataku.
"Boa!?"
Dari sudut
pandangnya, mungkin terlihat seolah aku yang tiba-tiba muncul di depannya. Maaf
ya sudah membuatmu kaget, tapi aku akan menghabisimu sekarang!
"Metal
Slicer!"
Aku memberikan
sihir penguat pemotong pada pedangku—sihir yang dikhususkan untuk membelah
monster dengan kulit atau cangkang sekeras logam—lalu menebas leher Volcanic
Turtle.
Pedangku meluncur mulus layaknya memotong mentega, merobek
leher monster itu.
Gelombang tebasan yang terpancar memanjang, memotong leher
yang lebih tebal dan besar dari bilah pedangku itu.
Saat aku menurunkan pedang, leher setebal menara itu sudah
terpisah rapi dari tubuhnya.
"Boa?"
Volcanic Turtle yang belum menyadari lehernya telah terputus
mencoba memiringkan kepalanya, namun ia tampak heran karena kepalanya tidak
bisa digerakkan.
Di saat yang
sama, lava yang ikut tertarik tadi mulai jatuh kembali ke bawah tanah.
"Ups,
kalau yang ini aku ambil ya!"
Aku
memasukkan tubuh Volcanic Turtle yang mulai terjatuh ke dalam tas sihir, lalu
menyusul dengan mengambil bagian kepalanya yang akhirnya mati.
Karena
ini monster elemen api dengan zirah berat, bagian tubuhnya bisa digunakan untuk
membuat senjata maupun pelindung.
Apalagi Jairo-kun
memiliki elemen api, ini pasti berguna untuk memperkuat perlengkapannya.
"Sip,
pengambilan barang selesai."
"A-apaaaaaaaaa!?"
Terdengar suara
terkejut dari sang Majin, Yukinojo-san, dan yang lainnya dari arah atas.
Hmm, padahal
kekuatannya cuma segini tapi mereka kaget sekali ya. Mungkin si Majin
itu benar-benar salah sangka dan mengiranya sebagai Volcanic Tiger karena
namanya mirip?
"Ah iya, aku
harus mengurus nadi bumi dan nadi spiritual juga."
Penyebab bencana
yang membuat nadi bumi dan nadi spiritual mengamuk memang sudah disingkirkan,
tapi jika dibiarkan begitu saja dalam keadaan kacau, bencana bisa terjadi lagi
setelah efek sihirku habis.
Padahal butuh
ratusan tahun bagi alam untuk pulih dengan sendirinya, jadi lebih baik aku
memasang sesuatu untuk menyembuhkan tanah ini.
"Pertama-tama,
Calm Wave!!"
Aku memancarkan
gelombang penenang dan penyembuh ke dalam nadi bumi dan nadi spiritual.
Sihir ini
biasanya memancarkan energi penyembuh di sekitar penggunanya, namun dengan
memasukkannya ke dalam aliran nadi bumi dan spiritual, kekuatan tersebut bisa
terbawa arus menuju wilayah-wilayah yang normalnya tidak terjangkau.
Yah, hal seperti
ini hanya bisa dilakukan di tempat seperti ini, di mana kedua nadi tersebut
bertumpang tindih.
Tapi berkat itu,
aku tinggal memasukkan energi sihir dalam jumlah besar di sini, jadi tidak
perlu repot-repot mendatangi setiap lokasi bencana untuk menenangkan tanahnya.
"Oke, sudah
tenang. Sisanya, aku akan memodifikasi magic item yang tadinya menyegel
bencana ini, lalu menanamkan fungsi untuk mengirimkan gelombang penyembuh
secara berkala untuk merawat tanah dalam jangka panjang."
Setelah
memastikan melalui nadi spiritual bahwa wilayah-wilayah jauh telah berhasil
ditenangkan, aku memikirkan langkah selanjutnya.
Tempat ini adalah
wilayah spiritual yang sangat istimewa, tidak menutup kemungkinan monster
seperti Volcanic Turtle akan melirik tempat ini lagi.
Jika ini nadi
bumi atau spiritual biasa, keterlibatan Volcanic Turtle mungkin tidak akan jadi
masalah sebesar ini. Mereka hanya sedang sial saja.
Jadi, selain
kemampuan penyegel bencana seperti sebelumnya, aku harus menambahkan fungsi
penyembuh tanah dan pengusir monster.
Setelah kembali
dari retakan tanah, aku memberi tahu semuanya bahwa kestabilan daratan telah
berhasil dipulihkan.
"A-apakah
itu benar!? S-sungguh tak bisa dipercaya... bencana yang telah menyengsarakan
tanah Amamine selama bertahun-tahun, berhasil diselesaikan seorang diri tanpa
bantuan alat sihir sedikit pun..."
Aku mendengar
suara kekaguman Yukinojo-san, padahal ini semua berkat identitas monster yang
disegel ternyata bukan lawan yang terlalu kuat.
"M-mustahil...
rencana dua lapisku... ghak."
"Ah, dia
mati."
Sang Majin
yang menyaksikan seluruh kejadian tadi akhirnya kehabisan tenaga dan terkulai
lemas.
Meguri-san yang
pergi memeriksa denyut nadinya menyilangkan kedua tangan di atas kepala,
menandakan bahwa sang Majin telah benar-benar tewas.
"Kyuu! Burp."
Dan makhluk
berbulu yang selesai memakan sayap sang Majin tadi mengeluarkan sendawa
yang terdengar sangat puas.



Post a Comment