Cerita Tambahan
Hari Memancing yang Cerah di Langit
"Ternyata
ikan yang baru ditangkap memang rasanya luar biasa ya."
Setelah
membereskan masalah Yukinojo-san dan yang lainnya, kami kembali ke kota
pelabuhan tempat toko Seibei-san berada untuk memenuhi tujuan awal kami datang
ke Negeri Timur. Karena mumpung sedang berada di kota pesisir, kami memutuskan
untuk menikmati hasil laut bersama-sama.
Menikmati
bahan makanan lokal langsung di tempatnya memang yang terbaik. Teksturnya jauh
lebih kenyal dan segar dibandingkan ikan yang sudah dikirim jauh ke pedalaman.
"Oho,
pelanggan sekalian! Jangan puas dulu dengan yang ini! Bintang utamanya adalah
ini, Big Maguro!"
Pelayan
restoran itu membawa seekor ikan yang saking besarnya hingga memenuhi seluruh
permukaan meja.
"Wah,
besar sekali! Ikan sebesar ini tidak pernah kulihat di dekat desa kami,"
seru Mina-san.
"Benar.
Di sungai dekat desa kita, ikan-ikannya bahkan lebih kecil daripada hidangan
pembuka tadi," tambah Norb-san.
Semua
orang sangat bersemangat melihat Big Maguro untuk pertama kalinya.
"Hahaha!
Ini adalah ikan yang tumbuh di lautan luas! Tentu saja ukurannya jadi raksasa!" ujar sang
pelayan bangga.
"Aku pikir
aku sudah terbiasa melihat makhluk besar setelah melawan Kraken, tapi melihat
ikan biasa jadi sebesar ini tetap saja membuatku kaget," kata Liliera-san.
Memang benar.
Justru karena kita sudah familiar dengan bentuknya, perubahan ukuran yang
ekstrem terkadang membuat kita tercengang.
"Paman,
bagaimana cara menangkap ikan sebesar ini? Kalau pakai alat pancing biasa pasti patah,
kan?" tanya Jairo-kun penasaran.
"Tidak,
ini ditangkap dengan alat pancing, kok!"
"Eeeh!? Ikan
sebesar ini!?"
"Bukan alat
pancing kecil untuk ikan sungai, tentu saja. Kami menggunakan joran tebal
khusus untuk buruan besar. Tentu saja tali pancingnya juga sangat kuat! Dengan itu, kami menaklukkan dan
menarik Big Maguro yang mengamuk!"
"Uwooo, serius!? Aku juga ingin mencoba
memancingnya!!"
Mendengar cerita pelayan itu, Jairo-kun yang sangat
bersemangat langsung berdiri.
"Baiklah,
sudah kuputuskan! Semuanya, ayo kita pergi memancing!!"
Begitulah
ceritanya, kami akhirnya memutuskan untuk pergi memancing.
◆
"Lalu,
kenapa kau juga ada di sini?"
Saat kami tiba di
pelabuhan untuk menyewa kapal pancing, entah kenapa Yukinojo-san dan
Haruomi-san sudah berdiri di sana.
"Fuh, aku
dengar Mina akan pergi memancing. Aku juga akan ikut!"
"Bekerjalah
sana," timpal Mina-san ketus.
"Aku
benar-benar minta maaf atas kelakuan adik bodohku ini..." Haruomi-san
menghela napas sambil meminta maaf dengan wajah malu.
"Fuhahaha!
Begini-begini, aku sangat ahli dalam memancing. Aku mungkin kalah dalam hal
pedang, tapi kalau memancing, aku tidak akan kalah! Rex, Jairo!"
"Heh, boleh
juga nyalimu!"
Sepertinya
Yukinojo-san dan Jairo-kun sudah benar-benar akrab.
"Berangkaaaat!!"
Atas komando
Yukinojo-san, kapal bekas bajak laut itu melayang ke udara dan meluncur menuju
lepas pantai.
"Hahaha,
kapal terbang ini memang luar biasa! Kita bisa sampai ke sarang ikan besar
dalam sekejap!"
Tiba-tiba
Yukinojo-san teringat sesuatu.
"Mumpung
sedang bersama, bagaimana kalau kita bertaruh siapa yang bisa menangkap ikan
paling besar!"
"Hee, ide
bagus. Aku terima tantangannya!!" sahut Jairo-kun.
Keduanya
menyeringai penuh percaya diri, mengangkat joran mereka ke langit seolah
bersumpah akan menangkap buruan terbesar.
"Heheh, aku
mulai bersemangat! Kakak, tolong bawa kami ke tempat ikan paling besar
berada!"
"Tentu, serahkan padaku!"
Memancing buruan besar, ya? Kalau begitu, tempat itu sepertinya cocok. Aku menggerakkan kapal menuju
titik yang kurasa dihuni oleh monster-monster raksasa.
"Eh? Lho?
Kenapa ke sini?"
Begitu sampai di
koordinat tujuan, aku mengaktifkan Magic Anchor untuk mengunci posisi kapal.
"Kita
sampai. Nah, mari kita mulai."
Aku melepaskan
kemudi dan berjalan ke geladak, namun entah kenapa semua orang menatapku dengan
wajah bingung.
"Lho? Ada
apa dengan kalian?"
"He-hei, Rex-san. Kita datang untuk memancing,
kan?"
"Iya,
benar."
"Eeto, kalau
begitu, kenapa kita datang ke tempat seperti ini?"
"Kenapa?
Tentu saja untuk menangkap ikan besar."
"Maksudku,
sebelum soal ikan, bukankah ini DI ATAS AWAN!?"
Ya, tempat yang
kutuju adalah tepat di atas lautan awan yang sangat luas.
"Iya. Karena
kalian ingin buruan besar, kupikir Memancing Lautan Awan adalah yang
terbaik."
"""""""MEMANCING
LAUTAN AWAN?"""""""
Memancing lautan
awan, sesuai namanya, adalah kegiatan memancing dari atas samudra awan. Aku
menyiapkan joran, lalu mengayunkannya menuju titik yang tampak menjanjikan.
"Eh? Serius nih?"
"Memasukkan pancing ke dalam awan? Apa kita mau
memancing burung?"
"Aku... punya firasat buruk soal ini."
Entah kenapa, meski aku sudah mulai memancing, yang lain
hanya diam mematung. Are?
Jangan-jangan ini pertama kalinya mereka memancing di lautan awan?
"Memancing
di lautan awan sama saja dengan memancing biasa, kok. Cukup jatuhkan kail ke
titik yang ada ikannya."
"B-begitukah...?"
Yah, kalau aku
berhasil mendapatkan sesuatu, mereka pasti akan paham caranya. Nah, mari kita
incar buruan besar!
Setelah menunggu
beberapa saat, aku merasakan getaran halus pada joranku.
"Oh, sepertinya sudah ada yang datang!"
Sesaat setelah pelampung bergerak sedikit, joranku langsung
melengkung tajam dengan kekuatan yang luar biasa. Aku segera memperkuat tubuhku
dan joran dengan sihir Body Reinforcement.
Tali pancing yang terhubung dengan mangsa langsung menegang
kencang, membuat joran meliuk ke kanan dan ke kiri seolah-olah kapal akan ikut
terseret.
"Tidak akan
kulepaskan!"
Tapi karena joran
ini sudah diperkuat, tidak perlu takut akan patah. Begitu juga dengan tali dan
mata kailnya. Dan sesaat kemudian, permukaan lautan awan berguncang hebat.
"A-apa
itu!?"
Membelah lautan
awan yang putih bersih, sebuah bayangan hitam raksasa muncul ke permukaan.
"Eh? Apa
itu? Sebuah pulau?"
Bagus,
tubuhnya melengkung! Sekarang!
"FISH!!"
Aku menarik
mangsa itu sekaligus dengan satu sentakan kuat. Begitu tubuh raksasanya
melayang di udara, aku menggunakan sihir petir untuk melumpuhkan gerakannya
agar tidak mengamuk. Nah, kira-kira apa yang tertangkap ya?
"Benda
ini..."
Yang tertangkap
adalah ikan dengan tubuh panjang seperti ular.
"Ternyata
seekor Cloud Leviathan."
"LEVIATHAN!?
Bukankah itu nama monster legendaris dalam mitologi yang bisa menghancurkan
dunia dengan tsunami!?"
"Ahaha, yang
ini tidak seberbahaya itu, kok. Paling-paling dia hanya menyebabkan badai,
hujan lebat, dan angin kencang yang memicu bencana alam."
"""""""ITU
SUDAH TERMASUK SANGAT BERBAHAYA
TAHU!!"""""""
"Tapi
ukurannya kecil ya."
"""""""INI
KECIL!?"""""""
"Iya, kalau
yang ukuran besar, besarnya bisa dua kali lipat dari ini."
"""""""DUA
KALI LIPAT!?"""""""
Benar, Cloud
Leviathan yang satu ini adalah individu yang tergolong kecil.
"Hmm, kalau
cuma segini tidak masuk hitungan skor. Nah, sana pulang."
Aku menyembuhkan
luka Cloud Leviathan itu dengan sihir pemulih, lalu melepaskannya (release)
kembali ke lautan awan.
"Eh? Boleh
dilepaskan begitu saja? Benda itu?"
"Tentu.
Memancing dengan etika itu berarti melepas kembali ikan yang tidak masuk skor
atau tidak untuk dimakan."
"Melepas
monster seperti itu dianggap sebagai etika dasar ya..."
"Nah, mari
kita lanjutkan pertandingannya!"
Dengan ini
semuanya pasti sudah paham cara memancing di lautan awan. Sekaranglah saat yang
sesungguhnya!
"Aku...
mulai sekarang memutuskan untuk tidak akan terbang dekat-dekat awan
lagi..." gumam Liliera-san.
"Aku juga..." tambah Norb-san.
"Syukurlah aku tidak bisa terbang..." Meguri-san
tampak gemetar.
Setelah itu, yang lain juga mulai memancing, tapi sepertinya
keberuntungan mereka sedang buruk hari ini.
Akhirnya, Cloud Leviathan kecil yang kutangkap tadi tetap
menjadi buruan terbesar hari ini.
Benar-benar hari yang sial ya, membayangkan ikan sekecil itu bisa menjadi yang paling besar.



Post a Comment