Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Catatan Perjalanan Giro di Negeri Timur ~Edisi Rival yang Menawan~
Aku Jairo. Murid nomor satu Kakak Rex! Yah, begitulah aku,
tapi di tengah perjalanan menuju Negeri Timur, kami terkena badai dan aku
terpisah dari teman-temanku.
"Tuan Muda,
desa sudah terlihat!"
"Jangan
panggil aku Tuan Muda!"
Orang ini adalah
salah satu bajak laut yang aku selamatkan saat badai. Yah, aku langsung menghajar mereka dan
sekarang dia malah jadi seperti anak buahku.
"Baiklah,
ayo kita cari informasi tentang Kakak dan yang lainnya di desa!"
Begitu pikirku
saat sampai di desa, tapi suasananya terasa agak aneh.
"Hei kalian,
kenapa wajah kalian suram begitu?" Dalam situasi seperti ini, bertanya langsung
adalah cara terbaik. Aku menyapa seorang paman yang ada di dekatku.
"...Kalian
pengembara? Aku beri saran, lebih baik segera pergi dari desa ini. Kalau tidak, kalian juga akan diserang
Oni."
"Oni? Apa
itu?"
"Oni adalah
monster yang luar biasa kuat. Penampilannya seperti manusia, tapi punya tanduk
di kepala dan mengamuk dengan kekuatan yang mengerikan. Lalu mereka akan
melahap manusia dengan lahap!"
Hee, kekuatan
yang mengerikan ya. Punya tanduk... apa mereka sejenis Majin?
"Lalu, di
mana Oni itu berada?"
"Kenapa kau
bertanya... jangan-jangan kau berniat pergi ke tempat Oni!? Jangan lakukan itu!
Oni itu monster yang tak masuk akal! Kalau kau ketahuan, kau juga akan
dibunuh!!"
Mungkin karena
mengira aku akan menantang Oni itu, si paman mencoba menghentikanku dengan
wajah pucat.
"Bukan
begitu, kalau aku tidak tahu tempatnya dan malah masuk ke sana tanpa sengaja
kan bahaya, benar tidak?"
"Ah, benar
juga. Oni itu tinggal di tengah gunung sana. Kalau kau sayang nyawa, jangan
pernah ke sana."
"Paham.
Terima kasih informasinya, Paman."
Yah, tentu saja
aku akan ke sana.
◆
"Kenapa kita
malah menuju gunung!? Padahal sudah dilarang! Ayo kita berhenti saja! Nyawa itu
cuma satu, Tuan Muda!?"
Si bajak laut itu
menahanku dengan wajah putus asa.
"Sudahlah,
kau sembunyi saja di sekitar sini. Biar aku yang bertarung."
"Tentu
saja saya tidak akan bertarung! Tapi Tuan Muda tidak perlu bertarung juga
kan!"
Yare
yare, dia tidak mengerti ya.
"Bodoh,
kalau aku membiarkannya, orang-orang desa akan jadi korban sebelum aku bertemu
Kakak. Alasan itu saja sudah
cukup."
"Waduh,
orang ini keren banget."
Sambil
membicarakan hal itu dan berjalan di gunung, tanpa terasa hari sudah malam.
Nah, kalau penjahat mau muncul, ini waktu yang pas.
"Bocah, apa urusanmu di tengah malam begini?"
Akhirnya muncul! Begitu pikirku, tapi yang muncul dari balik
pepohonan adalah seorang perempuan yang umurnya tidak jauh berbeda denganku.
Sesaat kupikir dia Oni yang dirumorkan itu, tapi dia tidak
punya tanduk, jadi sepertinya bukan. Mungkin dia tersesat? Tapi kelihatannya
tidak begitu.
Kalau begitu, kemungkinannya adalah dia juga datang untuk
membasmi Oni sepertiku.
"Aku
dengar ada Oni yang berbuat jahat. Aku datang untuk menghajarnya."
"Kukuku, bukankah kau yang akan
dihajar?"
Perempuan
itu membalas dengan senyum meremehkan. Heh, aku sudah terbiasa diremehkan oleh
para Majin. Aku tidak akan terpancing provokasi.
"Yah,
tidak akan tahu kalau tidak dicoba, kan?"
"Humu,
jadi kau bocah yang tidak akan paham kalau belum merasakan sakit ya. Baiklah,
aku tidak tertarik pada anak-anak, tapi akan kuberi pelajaran sedikit."
"Heh,
padahal dari awal memang niatmu begitu."
"Akan
kuberikan serangan pertama padamu. Majulah."
"Terima kasih! Kalau begitu, aku
menyerang!"
Aku langsung
mengeluarkan kekuatan penuh!!
Aku mengaktifkan
sihir penguatan atribut secara maksimal, menyemburkan api dari punggung dan
telapak kaki, lalu melesat masuk ke jarak dekat perempuan itu dalam sekejap.
Rasakan seranganku!!
"Mutt!?"
Namun di luar
dugaan, perempuan itu menangkis seranganku tanpa menghindar. Terlebih lagi,
dengan tangan kosong.
"Ditahan!?
Serius!?"
"Hou, kau
lumayan kuat juga."
Perempuan itu
menyeringai. Tapi seringai itu bukan lagi senyum meremehkan seperti tadi,
melainkan seringai binatang buas yang menemukan mangsa.
"Sekarang
giliranku!"
Kali ini
dia yang menyerbu. Cepat, tapi jujur saja bukan berarti aku tidak bisa
merespons. Namun, bidikannya sangat tepat, tinjunya meluncur ke posisi yang
sangat sulit dihindari.
"Sialan!"
Aku menyemburkan
api dari tubuh dengan penguatan atribut, menghindari serangan itu tipis sekali,
tapi...
"Muu, boleh
juga."
Jangan bercanda!
Harusnya aku sudah menghindarinya, tapi tekanan anginnya saja membuat
pinggangku sakit! Serius, aku terkejut.
Tidak kusangka
ada orang seberbahaya ini di dunia... tapi ini membuatku bersemangat!
Tanpa sadar kami
berdua tertawa. Sambil tertawa kami saling melontarkan serangan menggunakan
pedang, tinju, tendangan, dan sihir. Setelah bertarung beberapa lama, perempuan
itu tiba-tiba melepaskan kudakudanya.
"...Fuu,
sudah lama aku tidak sesenang ini."
"Apa-apaan,
sudah mau berhenti?"
"Jangan sok
kuat. Kau juga sudah mencapai batasmu, kan?"
"Yah, terserahlah..."
Sejujurnya aku
tertolong. Kalau bertarung lebih lama lagi, mana dan tenagaku pasti habis.
"Hohoho,
karena perasaanku sedang bagus sebagai hadiah karena telah menghiburku... oh
iya, tadi kau bilang datang untuk membasmi Oni ya. Baiklah. Untuk sementara
waktu, aku tidak akan mengganggu desa itu. Sampaikan begitu pada orang-orang
desa." Lalu perempuan itu mengatakan hal aneh.
"Kenapa
kalau perasaanmu bagus kau jadi tidak mengganggu desa? Yang ingin kuhentikan
kejahatannya itu si Oni tahu?"
Mendengar itu,
perempuan itu membelalakkan matanya dengan wajah terkejut.
"...Ha?
Jangan-jangan kau bertarung denganku tanpa tahu siapa aku sebenarnya?"
"Iya, aku
bertarung karena kau kelihatannya kuat!"
Begitu aku
menjawab dengan jujur, dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Kukk,
Ahahahahaha! Kebodohanmu ini benar-benar mengagumkan! Begitu ya, kau bertarung
karena aku kelihatannya kuat!"
"Apa
salahnya!?"
"Lihatlah
ini."
Dia menunjuk ke
arah tanduk yang tumbuh dari dahinya.
"Oni itu
punya apa di kepalanya?"
"Tentu saja
tanduk. Orang desa juga bilang be... ah!!"
Jika dilihat
baik-baik, dari dahi perempuan itu tumbuh dua tanduk yang gagah.
"Kau!
Jangan-jangan kau ini Oni!?"
"Akhirnya
sadar juga. Bocah yang lamban."
Serius,
ternyata dia benar-benar Oninya.
"Begitulah
ceritanya, jadi jangan khawatir. Selain itu, malam sudah semakin larut. Cepatlah kembali ke pemukiman
manusia. Penghuni gunung bukan hanya Oni saja, lho."
Aku sempat
bingung harus bagaimana, tapi entah kenapa aku merasa dia bisa dipercaya, jadi
aku memutuskan untuk mengikuti kata-katanya.
"Ooh paham,
kau juga hati-hati ya!"
"Hohoho, kau
mengkhawatirkanku? Benar-benar bocah yang menarik. Bocah, kau akan menjadi jauh
lebih kuat lagi. Jika kau sudah lebih kuat, suatu saat mari kita bertemu
lagi."
Setelah
mengatakan itu, perempuan—bukan, si Oni itu menghilang ke dalam kegelapan
malam.
"Ooh! Aku
juga menantikannya!"
◆
"Tuan Muda,
apa tidak apa-apa membiarkan Oni itu pergi?"
Saat turun
gunung, si bajak laut bertanya padaku.
"Jangan
panggil aku Tuan Muda! Yah, tidak apa-apalah! Dia bilang tidak akan berbuat
jahat lagi, jadi tidak masalah!"
"Tapi
dia bilangnya 'untuk sementara waktu' kan. Yah, kalau Tuan Muda bilang oke sih
tidak apa... tapi tetap saja, tidak disangka dia disukai bahkan oleh perempuan
selain manusia... sebenarnya Tuan Muda ini siapa sih."
"Sudah
kubilang berhenti panggil Tuan Muda!!"
Kata Penutup
Penulis: "Terima kasih banyak sudah membeli
volume 10 Nido Tensei!"
Mofumofu: "Akhirnya kita menembus angka dua
digit!! Ini adalah pencapaian luar biasa pertama bagi sang Penulis!!"
Penulis: "Ini semua berkat dukungan dari
kalian semua yang telah mendukung Nido Tensei!!"
Mofumofu: "Karena itu, tumben-tumbennya ada
pengumuman bisnis yang serius. Mulai volume 10, sebagai bentuk penyegaran seri,
ilustrasi yang sebelumnya ditangani oleh Gaou-sensei akan dialihkan kepada
Ikeshita-sensei, yang juga bertanggung jawab atas versi manga."
Penulis: "Gaou-sensei, terima kasih banyak
atas segalanya sampai sekarang!"
Mofumofu: "Desain penampilanku yang bagaikan
dewa ini adalah buah dari selera desain Gaou-sensei yang luar biasa!!"
Penulis: "Ikeshita-sensei, mohon bantuannya
untuk menangani dua tugas sekaligus bersama versi manganya!"
Mofumofu: "Jangan lupa saksikan juga sosok
gagahku yang beraksi di versi manga!"
Penulis: "(Walaupun lebih tepatnya itu adalah
kumpulan reaksi wajah konyol, sih. Detailnya ada di komik bab tiga.)"
Gobun: "Ngomong-ngomong, bukankah sudah
saatnya kita membahas isi volume 10?"
Penulis: "Ah, ada karakter figuran
bernama yang langka muncul."
Mofumofu: "Dia cuma kroco yang tidak
tahu malu meminta jatah tampil."
Gobun: "Kejam sekali perlakuannya!
Jadi, apa ada bagian yang membuat Anda kesulitan saat menulis volume 10?"
Penulis: "Kesulitan, ya... Aku rasa
iblis yang menjadi dalang sebenarnya boleh menangis."
Mofumofu: "Bagian penutup itu adalah hal
pertama yang diputuskan saat menyusun plot volume 10. Jadi, akhir seperti itu
memang sudah seharusnya terjadi."
Gobun: "Kenyataan yang tidak punya mimpi
maupun harapan!! Kenapa justru bagian itu yang diputuskan paling awal!?"
Penulis: "Aku menentukannya dari sana sebagai
salah satu variasi akhir untuk si iblis."
Gobun: "Apa tidak ada keselamatan bagi si
iblis? Dan juga bagi masa depan kami?"
Mofumofu: "Tidak ada. Karena iblis (sayapnya)
adalah camilanku."
Penulis: "Lalu untuk para bajak laut yang
diseret itu, mereka akan diadili oleh pihak berwenang yang berbeda-beda. Gobun
yang ditangkap oleh paman Yukinojo termasuk mendapatkan perlakuan yang cukup
lunak."
Gobun: "Heh, ternyata aku termasuk yang
beruntung, ya."
Mofumofu: "Yah, meski tetap saja kerja paksa
seumur hidup, sih."
Gobun: "Hiiiee!! Om-omong-ngomong,
bagaimana nasib Negeri Timur setelah ini? Berkat Tuan Laut... maksudku, Tuan
Rex, penyebab bencananya sudah terselesaikan, kan? Kalau begitu, bukankah
Kaisar dan para pendeta yang memiliki status khusus untuk meredam bencana jadi
kehilangan pekerjaan?"
Penulis: "Tidak, seperti yang dikatakan Rex,
karena jalur energinya cukup unik, ada kemungkinan monster berbahaya akan
mengincarnya di masa depan, jadi perangkatnya tetap dibiarkan ada. Selain itu,
butuh waktu ratusan tahun untuk menstabilkan tanah itu secara permanen. Hanya
saja, berkat berbagai fungsi item sihir yang praktis dibuat baru oleh Rex,
kekhawatiran itu tidak ada sedikit pun. Ditambah lagi ada sihir pengawet
status, jadi alat itu akan terus beroperasi tanpa perawatan selama ribuan
tahun."
Gobun: "Ribuan tahun..."
Mofumofu: "Dan begitulah, hanya ritualnya saja
yang tersisa sebagai formalitas belaka."
Gobun: "Jadi mereka akan terus melakukan
ritual tanpa tahu apa-apa, atau lebih tepatnya, meniru cara perawatan item
sihir itu, ya."
Mofumofu: "Lagipula, perawatan benda itu sudah
menjadi semacam hak istimewa bagi mereka. Kurasa meski diberi tahu bahwa
perawatan tidak diperlukan lagi, mereka tidak akan bisa berhenti."
Gobun: "Kenyataan yang cukup
realistis!"
Penulis: "Yah, kalau bencana besar terjadi
lagi, alat itu akan beraksi. Tapi karena akan mereda dalam sekejap, mungkin
mereka tidak akan menyadarinya."
Gobun: "Ternyata tidak semuanya buruk,
ya."
Mofumofu: "Ngomong-ngomong, bagaimana nasib
barang-barang yang diserahkan Rex dan kawan-kawan ke Guild? Iblis yang menjadi
kliennya sudah mati, jadi tidak ada yang bisa menerimanya, kan?"
Penulis: "Dalam kasus permintaan jenis
pengumpulan, jika klien tidak bisa dihubungi dalam jangka waktu tertentu dan
tidak datang mengambil barangnya, maka barang itu akan dimusnahkan. Jika
barangnya tahan lama, sistemnya adalah Guild akan menyimpannya sebagai 'biaya
penyimpanan' untuk masuk ke kantong mereka sendiri."
Mofumofu: "Guild untung besar!?"
Penulis: "Tidak juga, karena ada barang yang
cepat busuk, jadi harus disimpan sampai batas hari yang ditentukan. Barang
seperti itu biasanya dimasukkan ke botol dan disegel, tapi saat pemusnahan,
botolnya harus dibuka, kan..."
Gobun: "Ah... (aku mengerti)."
Penulis: "Sebagai catatan, jika keberadaan klien
terkonfirmasi setelah pemusnahan, klien tersebut akan ditagih biaya pemusnahan,
jadi berhati-hatilah."
Mofumofu: "Barang busuk memang tidak
bisa dijual, sih. Ngomong-ngomong,
aku punya satu pertanyaan."
Penulis: "Apa itu?"
Mofumofu: "Kapal bajak laut yang dimodifikasi
oleh Rex itu jadinya bagaimana?"
Penulis: "Diambil alih oleh desa
Kaisar."
Gobun: "Apa mereka mencurinya!?"
Penulis: "Bukan, awalnya sempat ada
perdebatan antara pihak Keshogunan Yukinojo tentang siapa yang akan
mengelolanya. Tapi karena muncul teori bahwa Rex dan kawan-kawan adalah utusan
dewa, maka diputuskan bahwa Kaisar yang membawahi para pendeta lebih berhak
mengelolanya."
Mofumofu: "Ah, dengan tingkat teknologi di
dunia itu, ada kapal yang bisa terbang, ya. Wajar saja kalau disalahpahami
sebagai ciptaan dewa."
Penulis: "Begitulah. Kapal itu dirawat dengan
bersih dan digunakan untuk upacara keagamaan. Karena utusan dewa
meninggalkannya di daratan, apalagi di desa para pendeta, mereka yakin itu
pasti diberikan sebagai benda suci."
Mofumofu: "Legendanya jadi semakin
menggila..."
Gobun: "Kalau begitu, sepertinya sudah
waktunya untuk berpisah."
Mofumofu: "Seri Nido Tensei akhirnya
mencapai volume 10! Bersama dengan versi manganya, seri ini masih akan terus
berlanjut! (Ngomong-ngomong, kapan cerita sampinganku rilis?)"
Penulis: "Mari kita targetkan sampai volume
20! (Kurasa menjadikan Jairo sebagai tokoh utama masih lebih baik daripada
kamu, lho.)"
Mofumofu: "Sampai jumpa di volume
berikutnya!!"
Penulis: "Sampai bertemu lagi!!"
Gobun: "Semoga kalian sehat selalu!"
Previous Chapter | ToC | End



Post a Comment