NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 11

Chapter 148

Debut Petualang Sang Putri!


"Nona Idra, golem-nya sudah jadi!"

"Eh? Cepat sekali!?"

Karena golem yang dipesan Nona Idra sudah selesai, aku segera kembali ke ibu kota menggunakan Gerbang Transfer untuk mengantarkannya.

Ngomong-ngomong, Jairo-kun sedang menjaga rumah di kota dekat Tanah Korosi. Hasil penilaian material monster yang aku titipkan di Guild Petualang kota itu belum selesai.

Katanya, karena jumlahnya terlalu banyak dan mereka kekurangan tenaga, mereka memintaku untuk menunggu sebentar.

Itu sebabnya, di sela-sela waktu luang tersebut, aku datang sendirian untuk menyerahkan golem yang kubuat.

"Anu, kurasa belum ada sepuluh hari sejak aku memesannya...?"

Melihat kedatanganku yang tiba-tiba, Nona Idra membelalakkan matanya sambil memeluk Mofumofu.

Ah, pantas saja akhir-akhir ini aku tidak melihat Mofumofu, ternyata dia ada di sini. Padahal aku mengira dia sedang berkeliling meminta makanan dari tetangga sekitar.

"Gyupuuu."

...Tapi kalau diperhatikan, dalam waktu singkat ini kamu jadi gemuk sekali ya, Mofumofu. Apa kamu diberi makan makanan yang sangat enak? Nanti aku harus menyuruhmu diet.

"Zokyuuu!?"

Waduh, gawat. Aku harus fokus pada Nona Idra dulu.

"Karena ini bukan golem tempur untuk pertempuran penentuan atau yang benar-benar bisa menyamar menjadi manusia seutuhnya, melainkan hanya golem yang luarnya saja terlihat seperti manusia, pengerjaannya tidak memakan waktu lama kok."

"Pertempuran penentuan...? Anu, aku tidak begitu mengerti, tapi memangnya seperti itu ya?"

"Iya! Meski begitu, yang baru selesai ini hanya golem untuk menyamar. Untuk golem pengganti tubuh, rencananya aku akan menyesuaikannya secara saksama sesuai dengan cara penggunaan Anda setelah Anda mencoba menggunakan golem ini."

"Seperti pengepasan baju (fitting) ya. Iya, aku mengerti."

Seperti yang diharapkan dari seseorang yang menerima pendidikan keluarga kerajaan, Nona Idra cepat tanggap. Sepertinya dia langsung memahami maksudku.

Golem yang memiliki wujud berbeda dengan penggunanya terkadang memiliki keseimbangan yang berbeda dengan tubuh asli.

Kebanyakan orang mungkin tidak terlalu memikirkannya, tapi jika postur dan ukuran tubuhnya jauh berbeda dari tubuh asli, gerakannya akan menjadi tidak luwes.

Terkadang ada orang sensitif yang merasa terganggu oleh perbedaan sekecil apa pun.

Dan karena Nona Idra adalah anggota keluarga kerajaan, lebih baik aku berhati-hati dalam hal tersebut. Tapi, mengibaratkan penyesuaian golem dengan pengepasan baju itu sangat elegan ya.

Aku mengeluarkan golem tersebut dari kantong ajaib.

"Inikah golem-ku..."

Agar tidak ada yang mengaitkan golem ini dengan Nona Idra, warna rambutnya kubuat pirang dan penampilannya pun kuubah.

Jika usia fisiknya terlalu berbeda jauh, itu akan menghambat aktivitas di luar, jadi aku membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa saja.

"Luar biasa! Dengan begini, tidak akan ada yang menyadari kalau aku yang sedang pergi ke luar!"

Syukurlah dia menyukai penampilan golem-nya.

Ngomong-ngomong, di kehidupan sebelum-sebelumnya, golem seperti ini terkadang digunakan untuk pertemuan keluarga bangsawan yang sudah bertunangan. Kenapa digunakan untuk hal seperti itu?

Misalnya, ada bangsawan yang sudah bertunangan, tapi karena tempat tinggal pasangannya jauh dan butuh waktu lama untuk pergi ke sana, mereka mengirim golem ke lokasi sebagai pengganti untuk melakukan pertemuan tatap muka.

...Yah, selain penggunaan seperti itu, ada juga kasus buruk di mana mereka menggunakan golem yang sudah dipercantik hingga tidak terlihat seperti aslinya untuk menipu pasangan saat pertemuan.

Aku ingat ada kenalan bangsawan di kehidupan sebelum-sebelumnya yang berteriak, "Aku tertipu!" karena hal itu.

Ya, dunia bangsawan memang menakutkan.

"Dan ini adalah kontroler golem khusus untuk Nona Idra."

Aku menyodorkan peralatan untuk mengoperasikan golem kepada Nona Idra.

"Ara, dibandingkan dengan yang kugunakan tempo hari, desainnya jauh berbeda ya."

Seperti yang dikatakan Nona Idra, kontroler golem ini dibuat lebih tipis, ringan, dan ramping dari sebelumnya. Selain itu, dengan adanya hiasan tambahan, alat ini terlihat seperti aksesori.

Layar kristal berbentuk papan yang memproyeksikan pandangan golem kini diubah menjadi bentuk melengkung. Saat tidak digunakan, layar itu bisa digeser ke atas sehingga terlihat seperti tiara.

"Setelah dikenakan di kepala, jika Anda menurunkan papan kristal ini, kekuatan sihir akan tersinkronisasi dan golem akan mulai bergerak. Pada dasarnya, golem akan bergerak hanya dengan Anda memikirkannya saja, jadi Anda tidak perlu menggerakkan tubuh asli Anda."

Bagian ini adalah penerapan teknik dari sihir pelacak jarak jauh.

"Anu, hanya dengan memikirkannya..."

Begitu Nona Idra menurunkan papan kristal dan mulai mengoperasikannya, golem di depan kami mulai bergerak.

"Bergerak!"

"Permisi sebentar ya."

Aku menyentuh lengan golem Nona Idra.

"...Eh?"

Seketika itu juga, Nona Idra tersentak. Dia menaikkan papan kristalnya dan melihat lengannya sendiri.

"Tadi, apa kamu menyentuh lenganku?"

"Tidak, yang kusentuh adalah lengan golem-nya."

"Eh? Tapi barusan!?"

"Di golem ini, aku sudah mengaturnya agar dia bisa merasakan panca indra sama seperti manusia. Jadi, jika ada yang menyentuh golem yang sedang aktif ini, sensasinya akan tersampaikan kepada Anda."

"Golem itu hebat sekali ya..."

Berbeda dengan golem sederhana sebelumnya yang tidak memiliki sensasi rasa, golem khusus ini secara harfiah adalah tubuh kedua.

Nona Idra tampaknya sangat senang dengan sensasi itu. Begitu dia kembali mengoperasikannya, dia menyentuh segala sesuatu di sekitarnya dan menikmati setiap sensasi yang tersampaikan.

"Kalau begitu, mari kita langsung mencoba pergi ke luar."

"Eh? Boleh!?"

Tentu saja, kan memang untuk itu aku membuat golem penyamaran ini.

"Latihan pengoperasian golem juga diperlukan. Apa ada tempat yang ingin Anda kunjungi?"

"Tempat yang ingin kukunjungi..."

"Iya, ke mana saja boleh."

Saat ditanya ingin pergi ke mana, Nona Idra berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban.

"Lexus-sama, ada tempat yang ingin kudatangi!"

"Luar biasa! Aku sedang berada di luar ibu kota!"

Setelah mendengar permintaan Nona Idra, kami datang ke hutan di sekitar ibu kota. Namun, alasan kami datang ke hutan bukan sekadar karena ingin ke hutan saja.

"Mulai sekarang, aku akan memulai petualanganku sebagai seorang petualang!"

Benar, kami datang ke hutan untuk menyelesaikan permintaan sebagai petualang. Alasan kenapa bisa jadi begini adalah karena keinginan Nona Idra sendiri.

Waktu itu, Nona Idra mengatakannya padaku.

"Lexus-sama, aku ingin menjadi petualang dan pergi berpetualang!"

Aku sempat terkejut dengan permintaan yang tak terduga itu, tapi aku bisa mengerti setelah mendengar alasannya.

"...Megurielna, aku ingin meniru anak itu. Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan saat menjadi petualang, padahal dia diizinkan keluar rumah tidak seperti aku. Dan juga, perasaan seperti apa yang dia rasakan saat berpetualang."

Wajar saja, sebagai seorang putri, Nona Idra tidak bisa keluar rumah dengan bebas karena posisinya. Namun, Meguri-san yang merupakan bayangannya dan memiliki wajah yang sama bisa bebas ke luar. Tidak aneh jika dia merasakan sesuatu tentang kenyataan itu.

"Lagipula, anak itu terlihat sangat senang! Curang sekali! Aku juga ingin menjadi petualang dan mencoba berpetualang! Tidak, aku akan melakukannya! Pasti!"

Hmm, sepertinya tidak ada perasaan kelam yang berlebihan.

Eh? Apa pengujinya tidak melakukan tes padanya seperti saat aku menjadi petualang? Ya, soal itu aku juga sempat bingung harus bagaimana, tapi resepsionis Guild membantu kami. Katanya...

"Tidak apa-apa. Kasus anak bangsawan yang menyamar menjadi rakyat jelata karena ingin bermain jadi petualang itu jarang terjadi tapi sering ada. Jika ada orang yang bersedia menjadi wali, saya akan memberikan izin khusus."

Begitu katanya. Tapi, sebenarnya ini jarang atau sering ya? Rasanya dia memberikan penekanan pada bagian "sering ada"... Yah, lebih baik jangan terlalu dipikirkan.

Bagaimanapun juga, dengan begitu Nona Idra berhasil menjadi petualang dengan selamat.

"Kalau begitu, mari kita mulai petualangannya!"

Nona Idra tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya dan mendesakku.

"Untuk saat ini, permintaannya adalah mengumpulkan tanaman obat. Karena ada risiko diserang monster di tengah jalan, mohon jangan lengah ya, Nona Idra."

"Aku mengerti! Aku juga sudah punya senjata!"

Nona Idra mencabut pedang di pinggangnya dan mengangkatnya ke langit. Ngomong-ngomong, perlengkapan yang dia pakai sekarang adalah buatanku di masa lalu. Karena saat ini Nona Idra tidak membawa uang.

"Ah, satu lagi, panggil aku Dora."

"Eh?"

"Namaku. Dalam wujud ini, aku memutuskan untuk menggunakan nama Dora."

Ah, aku sempat kaget karena tiba-tiba, tapi ternyata itu nama samaran untuk golem-nya. Memang benar, jika aku memanggilnya dengan nama Nona Idra dalam wujud ini, rahasia bahwa golem ini adalah penyamarannya bisa terbongkar.

"Baiklah, Nona Dora."

"Jangan pakai bahasa formal juga. Aku kan cuma Dora, si rakyat jelata. Aku juga akan memanggilmu Lexus sebagai sesama rekan rakyat jelata."

"Baik... Baiklah, Dora."

Sejujurnya, gerak-gerik Nona Idra terlalu berkelas, sama sekali tidak terlihat seperti rakyat jelata.

"Kalau begitu, petualangan dimulai!"

"Nona Do... Dora, di sana juga ada tanaman obat."

"Aku mengerti!"

Setelah memasuki hutan, aku menunjukkan lokasi tanaman obat kepada Nona Idra sambil tetap waspada terhadap lingkungan sekitar.

"Fuuu, ternyata tanaman obat ada banyak sekali ya. Kupikir itu barang yang lebih langka."

"Tanaman obat untuk ramuan (potion) tingkat tinggi memang langka, tapi yang digunakan untuk ramuan tingkat rendah itu jumlahnya lumayan banyak."

"Begitu rupanya, aku mengerti."

Saat aku menjelaskan tentang jenis-jenis ramuan, Nona Idra terlalu kagum hingga tanpa sengaja kembali ke gaya bicara aslinya. Memang sulit ya kalau harus bicara dengan gaya bicara yang tidak biasa.

"Tapi, ini agak antiklimaks ya."

"Antiklimaks?"

Apa ada yang kurang memuaskan?

"Iya, kalau bicara soal petualang, bukankah seharusnya mereka bertarung melawan monster? Tapi kita belum bertemu satu monster pun."

Ah, itu karena aku sudah memantau posisi monster di sekitar dengan sihir deteksi secara sempurna. Aku sengaja bergerak lewat jalur yang tidak ada monsternya agar tidak mengganggu kegiatan pengumpulan tanaman obat Nona Idra.

Tapi sepertinya itu tidak membuat Nona Idra puas. Yah, aku juga mengerti perasaan itu.

"Memang benar, sebagai petualang pemula, setidaknya pasti ingin mencoba bertarung melawan Goblin sekali saja."

Baiklah, kalau begitu mari kita pergi ke arah monster lemah yang terdeteksi oleh sihirku.

"Dora, ayo kita pindah tempat."

"Iya, ayo!"

Nah, kalau begitu, mari kita mulai pertempuran debut Sang Tuan Putri yang gemilang!

"GOAAARRR!!"

"Kyaaa!? A-apa itu!?"

Yang kami temui adalah Goblin. Tingginya sekitar setengah dari manusia biasa dengan pakaian yang lusuh. Pedang di tangannya sudah berkarat, mungkin hasil memungut di medan perang.

"Itu Goblin."

"I-itu Goblin..."

Nona Idra tampak gemetar melihat wujud Goblin untuk pertama kalinya.

"Dora, meski golem itu menyampaikan panca indra, aku sudah mengaturnya agar rasa sakit hampir tidak terasa, jadi tidak apa-apa meski terkena serangan!"

"I-iya benar. Tubuh ini kan golem."

Nona Idra kembali menghadap ke arah Goblin dan menyiapkan pedangnya.

"Mofumofu... dasarnya jangan ikut campur dulu, tapi kalau terjadi apa-apa, lindungi Nona Idra ya."

Aku memberikan instruksi diam-diam kepada Mofumofu di belakang. Meskipun tubuh golem itu sangat kokoh, jika dia mengalami trauma diserang monster, itu bisa meninggalkan luka di hatinya.

"Kyuppu!"

Mofumofu membusungkan dada seolah berkata, "Serahkan padaku."

"Baiklaaah! Rasakan iniii!"

Lalu, Nona Idra memberanikan diri dan menerjang ke arah Goblin.

"GOAAAAAA!!"

"KYAAAAAAA!!"

Tapi dia malah ketakutan mendengar teriakan Goblin dan langsung lari kembali. Hmm, benar-benar seorang tuan putri ya.

"Lexus, makhluk itu sangat menakutkan! Apa Megurielna selalu bertarung melawan monster mengerikan seperti itu!?"

"Anu, yah..."

Ini merepotkan. Nona Idra benar-benar terlihat seperti tuan putri yang sangat dimanja, sepertinya tidak mungkin dia bisa bertarung melawan Goblin. Kalau begini tidak bisa disebut petualangan.

"Baiklah, kalau sudah begini, ini cara terakhir!"

"Apa ada cara yang bagus?"

"Iya, pertama, arahkan telapak tanganmu ke arah Goblin."

"Begini?"

Nona Idra mengarahkan telapak tangannya ke arah Goblin sesuai instruksiku.

"Lalu, katakan ini: Flame Inferno!"

"F-Flame Inferno!"

Detik berikutnya, api yang sangat dahsyat menyembur dari tangan Nona Idra dan menelan Goblin tersebut.

"Eh!?"

Api itu tidak hanya melahap Goblin, tapi juga pepohonan di sekitarnya.

"Ups, Cocytus Pillar!"

Aku segera menggunakan sihir es untuk memadamkan api agar tidak menyebar lebih luas.

"Le-Lexus... apa itu tadi? Ta-tadi ada api yang luar biasa keluar dari tanganku?"

Nona Idra, yang baru saja membasmi Goblin, bertanya dengan wajah bingung tentang apa sebenarnya api tadi.

"Itu adalah item sihir penyerang yang kupasang untuk pertahanan diri dalam keadaan darurat. Jika kamu mengucapkan kata kuncinya, dia akan melepaskan sihir serangan dengan kekuatan yang lumayan dalam jangkauan sempit."

"Lu-lumayan? Dengan kekuatan sebesar ini?"

"Yah, karena ini bukan golem murni untuk tempur. Kurasa kekuatan segini sudah cukup untuk pertahanan diri. Ah, kalau mau lebih kuat, nanti aku sesuaikan lagi?"

"Ti-tidak perlu! Segini saja sudah cukup! Benar-benar cukup! Jangan dibuat lebih kuat lagi!"

Nona Idra sangat rendah hati ya, padahal dia bilang kekuatan segini sudah cukup. Padahal biasanya kalau bangsawan, mereka akan meminta untuk dipasang sihir yang jauh lebih kuat secara bertubi-tubi.

"Mungkin itu tandanya Nona Idra dibesarkan dengan benar sebagai anggota keluarga kerajaan."

"Eh? Kamu bilang sesuatu?"

"Tidak, bukan apa-apa. Lebih dari itu, bagaimana? Apa kesanmu setelah pertama kali membasmi monster?"

"Eh? Ah!?"

Karena perkataanku, Nona Idra menoleh kembali ke tempat di mana Goblin tadi berdiri.

"...Sejujurnya."

"Iya."

"Sama sekali tidak terasa seperti sudah mengalahkannya."

...Yah, Goblin yang terbungkus api itu kan langsung jadi abu dalam sekejap.

Karena tidak ada mayatnya, wajar saja kalau dia merasa tidak seperti sudah mengalahkannya.

Melawan Goblin biasa dengan sihir yang kupasang memang terlalu berlebihan sih.

"Hmm... Ah, benar juga!"

Tiba-tiba aku mendapat ide bagus.

"Ada apa, Lexus?"

"Iya, kalau melawan Goblin terasa kurang memuaskan, mari kita pergi ke tempat di mana ada monster yang lebih kuat!"

"...Eh? Monster yang lebih kuat...?"

"Ada tempat di mana performa golem ini bisa digunakan untuk bertarung dengan baik."

"Anu, tunggu sebentar... Maksudku tadi bukan begitu..."

"Namanya adalah Tanah Korosi!"

Ya, mumpung ada kesempatan, ayo pertemukan Nona Idra dengan semuanya dan biarkan dia ikut berpartisipasi membasmi monster bersama-sama!



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close