Chapter 148
Debut Petualang Sang Putri!
"Nona
Idra, golem-nya sudah jadi!"
"Eh?
Cepat sekali!?"
Karena golem
yang dipesan Nona Idra sudah selesai, aku segera kembali ke ibu kota
menggunakan Gerbang Transfer untuk mengantarkannya.
Ngomong-ngomong,
Jairo-kun sedang menjaga rumah di kota dekat Tanah Korosi. Hasil penilaian
material monster yang aku titipkan di Guild Petualang kota itu belum selesai.
Katanya,
karena jumlahnya terlalu banyak dan mereka kekurangan tenaga, mereka memintaku
untuk menunggu sebentar.
Itu
sebabnya, di sela-sela waktu luang tersebut, aku datang sendirian untuk
menyerahkan golem yang kubuat.
"Anu, kurasa
belum ada sepuluh hari sejak aku memesannya...?"
Melihat
kedatanganku yang tiba-tiba, Nona Idra membelalakkan matanya sambil memeluk
Mofumofu.
Ah, pantas saja
akhir-akhir ini aku tidak melihat Mofumofu, ternyata dia ada di sini. Padahal
aku mengira dia sedang berkeliling meminta makanan dari tetangga sekitar.
"Gyupuuu."
...Tapi kalau
diperhatikan, dalam waktu singkat ini kamu jadi gemuk sekali ya, Mofumofu. Apa
kamu diberi makan makanan yang sangat enak? Nanti aku harus menyuruhmu diet.
"Zokyuuu!?"
Waduh, gawat. Aku
harus fokus pada Nona Idra dulu.
"Karena ini
bukan golem tempur untuk pertempuran penentuan atau yang benar-benar
bisa menyamar menjadi manusia seutuhnya, melainkan hanya golem yang
luarnya saja terlihat seperti manusia, pengerjaannya tidak memakan waktu lama
kok."
"Pertempuran
penentuan...? Anu, aku tidak begitu mengerti, tapi memangnya seperti itu
ya?"
"Iya! Meski
begitu, yang baru selesai ini hanya golem untuk menyamar. Untuk golem
pengganti tubuh, rencananya aku akan menyesuaikannya secara saksama sesuai
dengan cara penggunaan Anda setelah Anda mencoba menggunakan golem
ini."
"Seperti
pengepasan baju (fitting) ya. Iya, aku mengerti."
Seperti
yang diharapkan dari seseorang yang menerima pendidikan keluarga kerajaan, Nona
Idra cepat tanggap. Sepertinya dia langsung memahami maksudku.
Golem yang memiliki wujud berbeda
dengan penggunanya terkadang memiliki keseimbangan yang berbeda dengan tubuh
asli.
Kebanyakan
orang mungkin tidak terlalu memikirkannya, tapi jika postur dan ukuran tubuhnya
jauh berbeda dari tubuh asli, gerakannya akan menjadi tidak luwes.
Terkadang
ada orang sensitif yang merasa terganggu oleh perbedaan sekecil apa pun.
Dan
karena Nona Idra adalah anggota keluarga kerajaan, lebih baik aku berhati-hati
dalam hal tersebut. Tapi, mengibaratkan penyesuaian golem dengan
pengepasan baju itu sangat elegan ya.
Aku
mengeluarkan golem tersebut dari kantong ajaib.
"Inikah
golem-ku..."
Agar
tidak ada yang mengaitkan golem ini dengan Nona Idra, warna rambutnya
kubuat pirang dan penampilannya pun kuubah.
Jika usia
fisiknya terlalu berbeda jauh, itu akan menghambat aktivitas di luar, jadi aku
membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa saja.
"Luar
biasa! Dengan begini, tidak akan ada yang menyadari kalau aku yang sedang pergi
ke luar!"
Syukurlah dia
menyukai penampilan golem-nya.
Ngomong-ngomong,
di kehidupan sebelum-sebelumnya, golem seperti ini terkadang digunakan
untuk pertemuan keluarga bangsawan yang sudah bertunangan. Kenapa digunakan
untuk hal seperti itu?
Misalnya, ada
bangsawan yang sudah bertunangan, tapi karena tempat tinggal pasangannya jauh
dan butuh waktu lama untuk pergi ke sana, mereka mengirim golem ke
lokasi sebagai pengganti untuk melakukan pertemuan tatap muka.
...Yah, selain
penggunaan seperti itu, ada juga kasus buruk di mana mereka menggunakan golem
yang sudah dipercantik hingga tidak terlihat seperti aslinya untuk menipu
pasangan saat pertemuan.
Aku ingat ada
kenalan bangsawan di kehidupan sebelum-sebelumnya yang berteriak, "Aku
tertipu!" karena hal itu.
Ya, dunia
bangsawan memang menakutkan.
"Dan
ini adalah kontroler golem khusus untuk Nona Idra."
Aku menyodorkan
peralatan untuk mengoperasikan golem kepada Nona Idra.
"Ara,
dibandingkan dengan yang kugunakan tempo hari, desainnya jauh berbeda ya."
Seperti
yang dikatakan Nona Idra, kontroler golem ini dibuat lebih tipis,
ringan, dan ramping dari sebelumnya. Selain itu, dengan adanya hiasan tambahan, alat ini terlihat seperti
aksesori.
Layar kristal
berbentuk papan yang memproyeksikan pandangan golem kini diubah menjadi
bentuk melengkung. Saat tidak digunakan, layar itu bisa digeser ke atas
sehingga terlihat seperti tiara.
"Setelah
dikenakan di kepala, jika Anda menurunkan papan kristal ini, kekuatan sihir
akan tersinkronisasi dan golem akan mulai bergerak. Pada dasarnya, golem
akan bergerak hanya dengan Anda memikirkannya saja, jadi Anda tidak perlu
menggerakkan tubuh asli Anda."
Bagian ini adalah
penerapan teknik dari sihir pelacak jarak jauh.
"Anu, hanya
dengan memikirkannya..."
Begitu Nona Idra
menurunkan papan kristal dan mulai mengoperasikannya, golem di depan
kami mulai bergerak.
"Bergerak!"
"Permisi
sebentar ya."
Aku
menyentuh lengan golem Nona Idra.
"...Eh?"
Seketika
itu juga, Nona Idra tersentak. Dia menaikkan papan kristalnya dan melihat
lengannya sendiri.
"Tadi,
apa kamu menyentuh lenganku?"
"Tidak,
yang kusentuh adalah lengan golem-nya."
"Eh?
Tapi barusan!?"
"Di golem
ini, aku sudah mengaturnya agar dia bisa merasakan panca indra sama seperti
manusia. Jadi, jika ada yang menyentuh golem yang sedang aktif ini,
sensasinya akan tersampaikan kepada Anda."
"Golem
itu hebat sekali ya..."
Berbeda dengan golem
sederhana sebelumnya yang tidak memiliki sensasi rasa, golem khusus ini
secara harfiah adalah tubuh kedua.
Nona Idra
tampaknya sangat senang dengan sensasi itu. Begitu dia kembali
mengoperasikannya, dia menyentuh segala sesuatu di sekitarnya dan menikmati
setiap sensasi yang tersampaikan.
"Kalau
begitu, mari kita langsung mencoba pergi ke luar."
"Eh?
Boleh!?"
Tentu saja, kan
memang untuk itu aku membuat golem penyamaran ini.
"Latihan
pengoperasian golem juga diperlukan. Apa ada tempat yang ingin Anda
kunjungi?"
"Tempat yang
ingin kukunjungi..."
"Iya, ke
mana saja boleh."
Saat ditanya
ingin pergi ke mana, Nona Idra berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban.
"Lexus-sama,
ada tempat yang ingin kudatangi!"
◆
"Luar biasa!
Aku sedang berada di luar ibu kota!"
Setelah mendengar
permintaan Nona Idra, kami datang ke hutan di sekitar ibu kota. Namun, alasan
kami datang ke hutan bukan sekadar karena ingin ke hutan saja.
"Mulai
sekarang, aku akan memulai petualanganku sebagai seorang petualang!"
Benar, kami
datang ke hutan untuk menyelesaikan permintaan sebagai petualang. Alasan kenapa
bisa jadi begini adalah karena keinginan Nona Idra sendiri.
Waktu itu, Nona
Idra mengatakannya padaku.
"Lexus-sama,
aku ingin menjadi petualang dan pergi berpetualang!"
Aku sempat
terkejut dengan permintaan yang tak terduga itu, tapi aku bisa mengerti setelah
mendengar alasannya.
"...Megurielna,
aku ingin meniru anak itu. Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan saat menjadi
petualang, padahal dia diizinkan keluar rumah tidak seperti aku. Dan juga,
perasaan seperti apa yang dia rasakan saat berpetualang."
Wajar saja,
sebagai seorang putri, Nona Idra tidak bisa keluar rumah dengan bebas karena
posisinya. Namun, Meguri-san yang merupakan bayangannya dan memiliki wajah yang
sama bisa bebas ke luar. Tidak aneh jika dia merasakan sesuatu tentang
kenyataan itu.
"Lagipula,
anak itu terlihat sangat senang! Curang sekali! Aku juga ingin menjadi
petualang dan mencoba berpetualang! Tidak, aku akan melakukannya! Pasti!"
Hmm, sepertinya
tidak ada perasaan kelam yang berlebihan.
Eh? Apa
pengujinya tidak melakukan tes padanya seperti saat aku menjadi petualang? Ya,
soal itu aku juga sempat bingung harus bagaimana, tapi resepsionis Guild
membantu kami. Katanya...
"Tidak apa-apa. Kasus anak bangsawan yang menyamar
menjadi rakyat jelata karena ingin bermain jadi petualang itu jarang terjadi
tapi sering ada. Jika ada orang yang bersedia menjadi wali, saya akan
memberikan izin khusus."
Begitu katanya. Tapi, sebenarnya ini jarang atau sering ya?
Rasanya dia memberikan penekanan pada bagian "sering ada"... Yah,
lebih baik jangan terlalu dipikirkan.
Bagaimanapun juga, dengan begitu Nona Idra berhasil menjadi
petualang dengan selamat.
"Kalau
begitu, mari kita mulai petualangannya!"
Nona Idra tidak
bisa menyembunyikan kegembiraannya dan mendesakku.
"Untuk saat
ini, permintaannya adalah mengumpulkan tanaman obat. Karena ada risiko diserang monster di tengah
jalan, mohon jangan lengah ya, Nona Idra."
"Aku
mengerti! Aku juga sudah
punya senjata!"
Nona Idra
mencabut pedang di pinggangnya dan mengangkatnya ke langit. Ngomong-ngomong,
perlengkapan yang dia pakai sekarang adalah buatanku di masa lalu. Karena saat
ini Nona Idra tidak membawa uang.
"Ah,
satu lagi, panggil aku Dora."
"Eh?"
"Namaku.
Dalam wujud ini, aku memutuskan untuk menggunakan nama Dora."
Ah, aku sempat
kaget karena tiba-tiba, tapi ternyata itu nama samaran untuk golem-nya.
Memang benar, jika aku memanggilnya dengan nama Nona Idra dalam wujud ini,
rahasia bahwa golem ini adalah penyamarannya bisa terbongkar.
"Baiklah,
Nona Dora."
"Jangan
pakai bahasa formal juga. Aku kan cuma Dora, si rakyat jelata. Aku juga akan memanggilmu Lexus sebagai sesama
rekan rakyat jelata."
"Baik... Baiklah, Dora."
Sejujurnya, gerak-gerik Nona Idra terlalu berkelas, sama
sekali tidak terlihat seperti rakyat jelata.
"Kalau begitu, petualangan dimulai!"
◆
"Nona Do... Dora, di sana juga ada tanaman obat."
"Aku mengerti!"
Setelah memasuki hutan, aku menunjukkan lokasi tanaman obat
kepada Nona Idra sambil tetap waspada terhadap lingkungan sekitar.
"Fuuu,
ternyata tanaman obat ada banyak sekali ya. Kupikir itu barang yang lebih langka."
"Tanaman
obat untuk ramuan (potion) tingkat tinggi memang langka, tapi yang digunakan
untuk ramuan tingkat rendah itu jumlahnya lumayan banyak."
"Begitu
rupanya, aku mengerti."
Saat aku
menjelaskan tentang jenis-jenis ramuan, Nona Idra terlalu kagum hingga tanpa
sengaja kembali ke gaya bicara aslinya. Memang sulit ya kalau harus bicara
dengan gaya bicara yang tidak biasa.
"Tapi,
ini agak antiklimaks ya."
"Antiklimaks?"
Apa ada
yang kurang memuaskan?
"Iya,
kalau bicara soal petualang, bukankah seharusnya mereka bertarung melawan
monster? Tapi kita belum bertemu satu monster pun."
Ah, itu
karena aku sudah memantau posisi monster di sekitar dengan sihir deteksi secara
sempurna. Aku sengaja bergerak lewat jalur yang tidak ada monsternya agar tidak
mengganggu kegiatan pengumpulan tanaman obat Nona Idra.
Tapi
sepertinya itu tidak membuat Nona Idra puas. Yah, aku juga mengerti perasaan
itu.
"Memang
benar, sebagai petualang pemula, setidaknya pasti ingin mencoba bertarung
melawan Goblin sekali saja."
Baiklah, kalau
begitu mari kita pergi ke arah monster lemah yang terdeteksi oleh sihirku.
"Dora, ayo
kita pindah tempat."
"Iya,
ayo!"
Nah, kalau
begitu, mari kita mulai pertempuran debut Sang Tuan Putri yang gemilang!
◆
"GOAAARRR!!"
"Kyaaa!?
A-apa itu!?"
Yang kami temui
adalah Goblin. Tingginya sekitar setengah dari manusia biasa dengan pakaian
yang lusuh. Pedang di
tangannya sudah berkarat, mungkin hasil memungut di medan perang.
"Itu
Goblin."
"I-itu
Goblin..."
Nona Idra
tampak gemetar melihat wujud Goblin untuk pertama kalinya.
"Dora,
meski golem itu menyampaikan panca indra, aku sudah mengaturnya agar
rasa sakit hampir tidak terasa, jadi tidak apa-apa meski terkena
serangan!"
"I-iya
benar. Tubuh ini kan golem."
Nona Idra
kembali menghadap ke arah Goblin dan menyiapkan pedangnya.
"Mofumofu...
dasarnya jangan ikut campur dulu, tapi kalau terjadi apa-apa, lindungi Nona
Idra ya."
Aku
memberikan instruksi diam-diam kepada Mofumofu di belakang. Meskipun tubuh golem
itu sangat kokoh, jika dia mengalami trauma diserang monster, itu bisa
meninggalkan luka di hatinya.
"Kyuppu!"
Mofumofu
membusungkan dada seolah berkata, "Serahkan padaku."
"Baiklaaah!
Rasakan iniii!"
Lalu,
Nona Idra memberanikan diri dan menerjang ke arah Goblin.
"GOAAAAAA!!"
"KYAAAAAAA!!"
Tapi dia
malah ketakutan mendengar teriakan Goblin dan langsung lari kembali. Hmm,
benar-benar seorang tuan putri ya.
"Lexus,
makhluk itu sangat menakutkan! Apa Megurielna selalu bertarung melawan monster
mengerikan seperti itu!?"
"Anu,
yah..."
Ini
merepotkan. Nona Idra benar-benar terlihat seperti tuan putri yang sangat
dimanja, sepertinya tidak mungkin dia bisa bertarung melawan Goblin. Kalau
begini tidak bisa disebut petualangan.
"Baiklah,
kalau sudah begini, ini cara terakhir!"
"Apa ada cara yang bagus?"
"Iya,
pertama, arahkan telapak tanganmu ke arah Goblin."
"Begini?"
Nona Idra
mengarahkan telapak tangannya ke arah Goblin sesuai instruksiku.
"Lalu,
katakan ini: Flame Inferno!"
"F-Flame
Inferno!"
Detik berikutnya,
api yang sangat dahsyat menyembur dari tangan Nona Idra dan menelan Goblin
tersebut.
"Eh!?"
Api itu tidak
hanya melahap Goblin, tapi juga pepohonan di sekitarnya.
"Ups, Cocytus
Pillar!"
Aku segera
menggunakan sihir es untuk memadamkan api agar tidak menyebar lebih luas.
"Le-Lexus...
apa itu tadi? Ta-tadi ada api yang luar biasa keluar dari tanganku?"
Nona Idra, yang
baru saja membasmi Goblin, bertanya dengan wajah bingung tentang apa sebenarnya
api tadi.
"Itu adalah item
sihir penyerang yang kupasang untuk pertahanan diri dalam keadaan darurat. Jika
kamu mengucapkan kata kuncinya, dia akan melepaskan sihir serangan dengan
kekuatan yang lumayan dalam jangkauan sempit."
"Lu-lumayan?
Dengan kekuatan sebesar ini?"
"Yah, karena
ini bukan golem murni untuk tempur. Kurasa kekuatan segini sudah cukup
untuk pertahanan diri. Ah, kalau mau lebih kuat, nanti aku sesuaikan
lagi?"
"Ti-tidak
perlu! Segini saja sudah cukup! Benar-benar cukup! Jangan dibuat lebih kuat lagi!"
Nona Idra
sangat rendah hati ya, padahal dia bilang kekuatan segini sudah cukup. Padahal
biasanya kalau bangsawan, mereka akan meminta untuk dipasang sihir yang jauh
lebih kuat secara bertubi-tubi.
"Mungkin
itu tandanya Nona Idra dibesarkan dengan benar sebagai anggota keluarga
kerajaan."
"Eh?
Kamu bilang sesuatu?"
"Tidak,
bukan apa-apa. Lebih dari itu, bagaimana? Apa kesanmu setelah pertama kali membasmi
monster?"
"Eh?
Ah!?"
Karena
perkataanku, Nona Idra menoleh kembali ke tempat di mana Goblin tadi berdiri.
"...Sejujurnya."
"Iya."
"Sama sekali
tidak terasa seperti sudah mengalahkannya."
...Yah, Goblin
yang terbungkus api itu kan langsung jadi abu dalam sekejap.
Karena tidak ada
mayatnya, wajar saja kalau dia merasa tidak seperti sudah mengalahkannya.
Melawan
Goblin biasa dengan sihir yang kupasang memang terlalu berlebihan sih.
"Hmm...
Ah, benar juga!"
Tiba-tiba
aku mendapat ide bagus.
"Ada
apa, Lexus?"
"Iya, kalau
melawan Goblin terasa kurang memuaskan, mari kita pergi ke tempat di mana ada
monster yang lebih kuat!"
"...Eh?
Monster yang lebih kuat...?"
"Ada tempat
di mana performa golem ini bisa digunakan untuk bertarung dengan
baik."
"Anu, tunggu sebentar... Maksudku tadi bukan
begitu..."
"Namanya adalah Tanah Korosi!"
Ya, mumpung ada kesempatan, ayo pertemukan Nona Idra dengan semuanya dan biarkan dia ikut berpartisipasi membasmi monster bersama-sama!



Post a Comment