Chapter 184
Mereka yang Menuju Pelabuhan
◆Liliera◆
"Nah,
sekarang apa yang harus kita lakukan ya?"
Aku dan Meguri,
yang berhasil menolong para bajak laut yang terjatuh ke laut, entah bagaimana
bisa mendarat di Negeri Timur.
Beruntungnya
lagi, kami sampai di sebuah kota pelabuhan, tapi informasi mengenai Rex-san dan
yang lainnya tidak ditemukan di mana pun.
"Apa kita
sebaiknya menunggu di kota ini, atau mencari di kota pelabuhan lain?"
Saat ini, kami
tidak punya sarana untuk menghubungi rekan-rekan kami. Pasalnya...
""Tak
disangka ternyata tidak ada Guild Petualang di sini...""
Begitulah.
Di Negeri Timur ini, organisasi bernama Guild Petualang itu tidak eksis.
Berkat
itu, rencana untuk meminta bantuan guild guna mencari tahu keberadaan Rex-san
di cabang lain jadi tidak bisa digunakan.
"Kalau
begini, kita benar-benar buntu."
"Maafkan
kami, Kak. Ini semua
gara-gara menolong kami..."
"Maaf
ya."
Dista dan
Shitaba, dua bajak laut yang kami selamatkan, membungkuk meminta maaf.
"Tidak
perlu dipikirkan. Ini adalah hasil dari keputusan dan tindakan kami sendiri
untuk menolong kalian."
"Mm.
Semua tindakan petualang adalah tanggung jawab pribadi. Itulah harga diri
seorang petualang sebagai manusia bebas."
Benar,
apa pun yang dilakukan adalah tanggung jawab sendiri. Itulah kebanggaan kami.
""K-keren
baangeeet!!""
Bisa
tidak ya, Dista dan Shitaba berhenti kegirangan sambil menatap kami dengan
tatapan kagum begitu?
Orang-orang
yang lewat jadi melihat ke arah sini dengan wajah heran. Karena pakaian di
Negeri Timur memiliki desain yang unik, penampilan kami sebagai orang asing
jadi semakin mencolok.
"Po-pokoknya,
karena Rex-san tidak ada di kota ini, bukankah lebih baik kita pergi ke kota
pelabuhan lain? Jika
beruntung, mungkin kita bisa bertemu mereka di sepanjang jalan raya."
"Aku juga
berpikir begitu. Aku sudah bertanya pada orang-orang di pelabuhan tentang arah
datangnya badai, jadi aku tahu dari mana kita hanyut. Jika kita berjalan ke
arah sana, kita seharusnya sampai di kota pelabuhan terdekat dari lokasi badai
itu terjadi."
Luar
biasa, Meguri. Dia benar-benar teliti soal hal semacam itu.
"Kalau
begitu, mari kita segera berangkat."
"Mm."
""Siap!!""
Maka kami pun
memutuskan untuk menuju kota pelabuhan lain, tapi...
"Hyahhaaa!
Jika sayang nyawa, cepat lari sana! Meski begitu, aku tidak berniat membiarkan
kalian lolos hidup-hidup!"
"Akan kami
preteli semua barang bawaan kalian!"
Tak lama setelah
meninggalkan kota dan berjalan kaki, kami malah berpapasan dengan bandit.
"Ah—pemandangan
yang pernah kulihat di suatu tempat."
""Maaf
ya.""
Omong-omong, yang
diserang bukan kami, melainkan sebuah kereta kuda.
"Sepertinya
bukan kereta pedagang biasa ya."
"Keretanya
mewah, bukan kereta pos umum."
Intinya,
itu kereta orang kaya. Masalahnya, kalau itu orang kaya, ada kemungkinan yang
diserang adalah bangsawan.
Aku
sering mendengar cerita petualang yang niatnya menolong malah jadi terseret
masalah rumit dengan bangsawan, jadi bertindak gegabah itu berbahaya.
"Kak, coba
lihat perlengkapan pengawalnya. Itu zirah Negeri Timur."
Mendengar ucapan
Dista, aku melihat ke arah para pengawal yang sedang bertarung.
Apakah itu zirah
kulit?
Berbeda dengan
yang biasa digunakan petualang, desainnya terlihat sangat rumit dan penuh
hiasan.
"Itu adalah
zirah resmi ksatria Negeri Timur."
"Heh,
ksatria Negeri Timur memakai zirah kulit ya?"
"Ksatria
di sini menyesuaikan dengan iklim dan medan. Daripada full plate, mereka
lebih suka memakai zirah kulit yang diperberat dengan hiasan mencolok dan cat
warna-warni."
Begitu
ya, karena faktor daerah, zirah kulit lebih mudah digunakan di sini.
"Lalu,
zirah ksatria yang tumbang itu juga sama. Artinya, rombongan yang diserang ini
adalah orang kaya yang sanggup menyediakan perlengkapan seragam seperti
itu."
"Benar.
Bangsawan yang sanggup memberikan perlengkapan bagus untuk semua anggotanya
adalah orang kaya. Artinya, gelarnya tinggi."
"Ya,
begitulah kira-kira."
Tak
disangka para bajak laut ini cukup cerdas juga. Tidak, mungkin itu cuma
keahlian mereka dalam menilai mangsa.
"Bagaimanapun,
jika yang diserang adalah bangsawan tinggi, bukankah kita bisa membuat mereka
berutang budi jika menolongnya?"
Mereka
mungkin akan membantu kami untuk bertemu kembali dengan Rex-san.
"Liliera,
ada satu hal lagi."
Meguri
menarik lenganku.
"Apa?"
"Para
bandit itu, meski perlengkapan mereka seadanya, mereka sanggup mendesak para
pengawal berbaju zirah yang terlatih."
"Ah."
Sadar
akan maksud Meguri, aku mengamati gerakan para bandit itu.
"Benar.
Gerakan bandit-bandit itu jelas sangat bagus."
"Maksudnya
bagaimana?"
Menjawab
kebingungan Dista, aku menjelaskan maksud pemahamanku.
"Intinya,
bandit-bandit itu lebih kuat daripada ksatria profesional yang dilatih secara
khusus dan memiliki perlengkapan lebih baik."
"Berarti
mereka cuma bandit yang kebetulan sangat kuat dan rombongan itu lagi
sial?"
Hmm,
sepertinya belum paham ya.
"Artinya,
kemungkinan besar bandit-bandit itu adalah tentara profesional atau pembunuh
bayaran ahli yang menyamar jadi bandit."
""Ooooh!!""
Mendengar
jawaban Meguri, Dista dan Shitaba berseru paham.
"Kalau
begitu, situasinya jadi mulai berbau amis ya."
"Tadi mereka
bilang tidak berniat membiarkan lawan lolos hidup-hidup. Jika mereka tahu
lawannya orang kaya, harusnya mereka meminta tebusan. Tidak melakukannya adalah
hal yang mencurigakan."
Hmm, sudah jelas
ini sebuah konspirasi.
"Bagaimana?"
Meguri menatapku,
menunggu keputusan. Dia memintaku memutuskan sebagai pemimpin kelompok ini. Apa
dia sedang menghormatiku sebagai petualang senior?
"Eh?
Bukannya kita harus sembunyi dan membiarkan mereka lewat?"
"Lawannya
adalah orang ahli yang bisa mengalahkan ksatria asli lho?"
Dista dan Shitaba
tampak gemetar ketakutan, padahal kalian kan aslinya bajak laut.
"Menurutku,
jika mereka bangsawan yang sampai diincar seperti itu, kemungkinan besar mereka
punya posisi yang cukup penting. Jika kita menolong orang seperti itu, mereka
pasti akan memberikan banyak kemudahan bagi kita nanti."
"Ta-tapi
jumlah mereka lebih banyak dari kita!"
"Apalagi
mereka kuat!"
"Tidak
masalah. Aku sudah mengamati gerakan para bandit itu. Kalau cuma segitu, kita
bisa menang."
Benar,
kami tidak hanya sekadar menonton. Kami sudah memastikan apakah musuh-musuh itu
bisa kami lawan atau tidak.
"Aku
akan menyerang dengan sihir dari darat, Meguri lakukan serangan kejutan dari
atas, oke?"
"Oke."
"Kalau
begitu kami yang tidak berguna ini akan sembunyi agar tidak menghalangi
ya..."
...Yah, kurasa
itu lebih baik.
"Aku
berangkat."
Meguri
segera menghilang ke balik bayangan dan menjauh dariku. Setelah dia memastikan jarak yang cukup, aku
merapalkan sihir ke arah para bandit.
"Ice Rush
Arrow!"
Aku menembakkan
sihir panah es tingkat rendah secara beruntun ke arah bandit.
Sebagai seorang
pejuang, mana milikku tidak banyak sehingga aku tidak bisa menggunakan sihir
yang spektakuler, tapi selama aku punya sarana serangan jarak jauh, cakupan
taktikku akan meluas. Seperti untuk pengalih perhatian kali ini.
Meskipun begitu,
karena lawan adalah pejuang berpengalaman, serangan kejutan tingkat ini mungkin
tidak akan memberikan damage besar.
"A-apa
ini?!"
"Guwaaaa?!"
"Gyaaaaa!!"
Eh? Ternyata
cukup ampuh? Di saat aku terkejut, Meguri menyerbu para bandit dari atas.
"Gah?!"
"Da-dari
mana—guakh?!"
"Di mana
musuhnya?! Gofuh?!"
Meguri yang
menyerbu dari atas langsung berjongkok di tanah memanfaatkan momentumnya, lalu
segera terbang kembali ke langit menggunakan sihir terbang.
Saat
melakukannya, dia menebas satu orang lagi dengan tebasan miring ke atas.
Karena musuh yang
tiba-tiba masuk ke jarak dekat menghilang dalam sekejap, para bandit kehilangan
jejak Meguri dan mencari ke sekeliling.
Manusia
normal pasti tidak akan menyangka bakal diserang dari atas. Memanfaatkan
kejutan psikologis itu, Meguri berkali-kali menyerang bandit dengan bergerak
zig-zag berkecepatan tinggi antara langit dan bumi.
Namun,
jika hal yang sama dilakukan berulang kali, wajar jika para bandit mulai
terbiasa. Bagaimanapun, mereka adalah pembunuh bayaran ahli.
"Atas!
Dia ada di atas!"
"Dia
terbang?! Sihir?! Bukan, apa itu barang sihir?!"
Gaya
bicara bandit yang setengah panik itu kembali ke asalnya untuk sesaat. Benar
saja, mereka hanya berpura-pura jadi bandit.
"Tapi
yah, mengabaikan keberadaanku adalah sebuah kecerobohan. Ice Rush Arrow!"
Aku
menghantamkan sihir ke wajah para bandit yang sedang mendongak ke atas saat
Meguri kabur ke langit.
""Guwaaaa!!""
Sihir
yang mendarat telak memberikan luka berat pada para bandit, dan Meguri
menghabisi sisa-sisa bandit yang masih bertahan.
"Selesai
sudah."
Semua
bandit telah dikalahkan, yang tersisa hanya kami dan para pengawal yang
selamat.
"Kalian
tidak apa-apa?"
Aku
menyapa para pengawal yang masih terpana dengan nada suara yang tenang.
Namun,
para pengawal itu segera tersadar dan menghunuskan pedang ke arah kami dengan
tatapan waspada.
"Si-siapa
kalian?!"
"Kami
melihat kalian diserang dan datang untuk membantu. Buktinya, yang tumbang di
sana hanyalah bandit-bandit yang menyerang kalian, kan?"
"Muuu..."
Para
pengawal melirik ke arah bandit, tampak ragu bagaimana harus menilai situasi
ini.
"Te-terima
kasih atas bantuannya. Tapi bukan berarti kalian bukan kelompok penjahat lain.
Jadi, jangan mendekat!"
Begitu ya, jadi
mereka berpikir begitu. Mungkin mereka mengira para bandit tadi adalah pengalih
perhatian, dan kamilah musuh yang sebenarnya. Hmm, ini di luar dugaan.
"Hentikan."
Saat aku sedang
bingung bagaimana cara meyakinkan mereka, pintu kereta terbuka dan seorang
lelaki tua dengan pakaian yang tidak biasa keluar.
"Tuan?!
Di luar masih berbahaya! Mohon kembali ke dalam!"
"Jangan
mempermalukan diri, dasar bodoh! Jika mereka adalah bawahan orang itu, mereka tidak perlu menolong kita.
Cukup biarkan para pengejar yang menyamar jadi bandit itu menyerang kita. Tidak
ada gunanya membunuh rekan mereka yang sedang unggul hanya untuk
mendekatiku!"
Ah, syukurlah.
Sepertinya ada orang yang bisa melihat situasi dengan kepala dingin.
"Maafkan
mereka. Orang-orang ini hanya sedang panik demi melindungiku. Tolong jangan
diambil hati."
"Tu-tuan?!"
Melihat
tuan mereka meminta maaf, para pengawal itu menjadi pucat dan gelisah. Hmm,
kalau mudah gelisah begitu, apa mereka benar-benar bisa jadi pengawal? Aku jadi
sedikit khawatir.
"Tolong
jangan dipikirkan. Mungkin mereka masih tegang setelah pertarungan tadi."
"Aku
berterima kasih jika kau berkata begitu. Rasanya kurang pas jika kita bicara
sambil berdiri di sini. Jika kalian berkenan, aku ingin mengundang kalian ke
kediamanku. Aku ingin membalas budi secara resmi karena telah menyelamatkan
nyawaku."
Aku dan
Meguri saling bertukar pandang.
"Bagaimana?"
"Menurutku
tidak apa-apa. Kita
juga tidak sedang terburu-buru."
"Benar
juga."
Tentu
saja, diskusi barusan hanyalah akting. Kami memang sudah memutuskan sejak awal
untuk bekerja sama dengan pihak yang kami tolong.
"Baiklah.
Kalau begitu, kami akan menerima undangan Anda."
"Umu.
Kalau begitu, ikutlah."
Meski
kami tidak diperbolehkan naik ke dalam kereta, sebagai gantinya kami
diperbolehkan menunggangi kuda milik para pengawal.
Sepertinya
mereka khawatir akan adanya bala bantuan bandit, rombongan ini terus melaju
tanpa berhenti di desa atau kota mana pun, melainkan hanya mengganti kuda di
tengah jalan.
Dan saat
tiba di sebuah kota tepat ketika matahari hampir terbenam, barulah langkah kuda
mulai melambat.
"Apa kita
akan menginap di kota ini?" tanyaku pada pengawal yang memboncengku.
"Bukan, kota
ini adalah tujuan kami."
Begitu ya, karena
sudah dekat dengan tujuan, mereka memutuskan untuk langsung menembusnya
sekaligus. Kereta kuda terus melaju di dalam kota, memasuki kawasan yang
tampaknya adalah distrik bangsawan.
Dan saat kami
terus melaju ke bagian dalam, terlihat sebuah kediaman dengan tembok yang
sangat tinggi.
"Tuan telah
kembali! Buka gerbang!"
Atas perintah
pengawal, gerbang terbuka, dan kereta beserta kuda yang kami tunggangi masuk ke
dalam.
"U-uwaaaa..."
Aku tak sengaja
mengeluarkan suara. Pasalnya, di balik gerbang itu terbentang rumah mewah yang
jauh melampaui dugaanku.
"Ada
hutan di dalam gerbang?!"
"Hahaha, itu
adalah taman."
"Taman?!"
Di kedua sisi
jalan yang kami lalui, pepohonan dan bunga-bunga yang tampak seperti hutan
tumbuh dengan indahnya.
Jika
diperhatikan baik-baik, tata letak dan bentuknya memang hasil sentuhan tangan
manusia. Terlebih lagi, ada banyak dekorasi yang tidak kumengerti berdiri di
sana-sini.
"Luar
biasa..."
Meguri pun tampak
terpukau, hal yang jarang terjadi kecuali pada harta karun.
"A-apa tidak
apa-apa kami ikut masuk ke sini?"
"U-uhyaa..."
Dista dan yang
lainnya yang ikut bersama kami juga tampak tertegun melihat pemandangan
kediaman dan taman ini.
"Hahaha,
taman ini adalah kebanggaan Tuan kami. Meski banyak kediaman ksatria di
Amatsumine, tidak ada yang skalanya sebesar ini selain kediaman ini."
Itu artinya,
orang tua yang kami tolong adalah orang yang memiliki kekuasaan sangat besar...
kan?
Setelah menyusuri
jalan di antara taman selama beberapa saat, akhirnya pintu masuk kediaman
terlihat.
"Besar
sekali..."
Dilihat
dari dekat, rumah itu benar-benar raksasa. Karena hari sudah senja dan
sekeliling agak gelap, sulit untuk memastikannya, tapi luasnya luar biasa.
Dan di
depan rumah, puluhan orang yang tampaknya adalah pelayan berdiri berjajar di
kedua sisi jalan.
Kuda dan
kereta yang berada di depan berhenti, dan setelah kami turun dari kuda, pintu
kereta terbuka dan lelaki tua tadi menampakkan dirinya.
"""""Selamat
datang kembali, Tuan!!"""""
"Umu,
maaf telah membuat kalian khawatir."
Lelaki tua itu
menyapa para pelayan, lalu menoleh ke arah kami.
"Nah, meski
tadi kalian telah menolongku, aku belum memperkenalkan diri ya," ucapnya
tiba-tiba.
"Lagipula,
tadi situasinya kita tidak tahu di mana pengejar bersembunyi. Aku tidak ingin
memberikan kepastian pada lawan bahwa akulah target yang mereka incar."
Begitu
ya, makanya tadi dia langsung masuk ke kereta tanpa memperkenalkan diri.
"Lalu,
kurasa karena di sini sudah banyak pengawal, meski kalian mencoba lari, dia
bisa mengirim pengejar untuk menangkap kalian," bisik Meguri pelan agar
hanya aku yang mendengar.
Kakek ini
ternyata cukup licik juga ya.
"Namaku
Sanyozoji Sakyounosuke. Aku menjabat sebagai Kepala Penasihat (Hittou Karou) di
negeri ini."
"Kepala
Penasihat...?"
Itu apa?
""K-Kepala
Penasihat?!""
Seolah
menggantikan aku yang tidak mengerti arti kata tersebut, Dista dan yang lainnya
berseru kaget. Sebagai
pelaut, apa mereka berdua ternyata cukup berpengetahuan?
"Kalian tahu
itu apa?"
"T-tahu
katamu?! Itu bukan sekadar tahu lagi!"
"Kepala
Penasihat itu, jika di negeri kita, setara dengan kedudukan Wali Raja
(Regent)!!"
"Heh—Wali
Raja ya."
Begitu ya, memang
pantas jika Dista dan yang lainnya terkejut...
"Tunggu,
WALI RAJA?!"
Aku menoleh
dengan kaget ke arah lelaki tua yang menyebut dirinya Kepala Penasihat itu. Dia
menyeringai tipis dengan tatapan sedikit jahil dan berkata:
"Kalian
terkejut, wahai gadis-gadis asing?"
"..."
Bukan cuma terkejut lagi... sepertinya kami baru saja berkenalan dengan sosok yang luar biasa penting...



Post a Comment