NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 9

Chapter 146

Para Monster Beracun


"Nah, bahannya sudah cukup terkumpul, ayo kita pulang."

Setelah pengumpulan material selesai, aku memanggil teman-teman yang lain.

"Setuju! Perutku sudah keroncongan, nih!"

"Bahannya sudah terkumpul sangat banyak. Sepertinya Guild Petualang bakal bilang mereka tidak butuh material monster dari Tanah Korosi untuk sementara waktu."

"Fufuh, itu mungkin saja terjadi."

Sambil berbincang santai, kami terbang ke angkasa. Dari sana, terlihat pemandangan Tanah Korosi yang mulai meredup tertutup cahaya matahari terbenam.

"Luas sekali, ya. Sampai sejauh mana hamparan ini membentang?"

"Kalau tidak salah, sampai ke negara tetangga."

Sampai negara tetangga!? Wah, negara sebelah pasti kesulitan juga kalau begitu.

"Hm? Lho?"

Tiba-tiba Jairo memiringkan kepalanya sambil menatap ke bawah.

"Ada apa, Jairo?"

"Anu, bukannya rawa itu kembali ke wujud semula? Lihat, di bagian monster lipan raksasa tadi."

"Eh?"

Jairo menunjuk ke arah perbatasan antara Tanah Korosi dan tanah biasa.

Di sisi yang seharusnya menjadi bagian Tanah Korosi, terdapat sosok Giant Poison Centipede yang mencuat dari tanah seperti pohon dan bergerak-gerak dengan gelisah.

"Itu kan monster yang tadi terjepit di tanah karena sihir Kakak, kan? Seharusnya area itu sudah dimurnikan oleh sihir Kakak dan kembali jadi tanah biasa, tapi kenapa sekarang jadi rawa lagi?"

"Ah, benar juga."

Setelah diperhatikan, ucapan Jairo benar. Jika aku sudah menguncinya ke tanah, seharusnya area di sekitar Giant Poison Centipede itu tetap berupa tanah biasa.

Lipan raksasa itu terus menggeliatkan tubuhnya untuk meronta. Seiring dengan itu, tanah di sekitarnya tampak mulai melunak, dan tubuhnya sedikit demi sedikit mulai terlepas.

Setelah berkali-kali mengibaskan tubuhnya untuk menghancurkan tanah yang menjepitnya, lipan tersebut akhirnya berhasil membebaskan seluruh tubuhnya.

Kemudian, dia menenggelamkan dirinya ke dalam rawa dan melarikan diri ke bagian rawa yang lebih dalam.

"Kalau tidak salah ingat, Tanah Korosi itu mirip dengan Hutan Monster, yaitu tipe Area Berbahaya yang terus mengerosi wilayah di sekitarnya..." gumam Liliera-san seolah teringat sesuatu.

"Meskipun begitu, bukankah ini terlalu cepat? Dengan kecepatan seperti ini, dalam beberapa tahun saja ibu kota bisa ikut tererosi, tahu?"

Kekhawatiran Mina ada benarnya. Kecepatan erosinya terasa sangat cepat. Bukankah ini lebih cepat dibanding Hutan Monster?

"Sepertinya pihak gereja secara rutin melakukan ritual untuk menekan kecepatan korosi ini. Meskipun detail isinya dirahasiakan."

Begitu ya, pantas saja pihak kerajaan tidak terlihat panik meski kecepatan erosinya secepat ini.

"Tapi ya, bukankah masalah ini bakal beres kalau Kakak memurnikan semuanya sekaligus? Tadi saja bisa dimurnikan dengan mudah."

"..."

"Tunggu, tunggu, seberapa hebat pun Rex, kalau itu sih..."

"Aku mengerti apa yang ingin kamu katakan, tapi wilayahnya terlalu luas. Biar Rex-san pun, kurasa itu mustahil."

Liliera-san dan yang lainnya melirik ke arahku.

"Benar juga. High Area Purification yang dibuat untuk pemurnian kota saja batasnya hanya radius beberapa puluh meter, jadi tidak realistis jika ingin memurnikan seluruh wilayah Tanah Korosi dengan sihir ini. Aku tidak tahu pasti seluas apa tempat ini, tapi kalau sampai ke negara tetangga, saat aku memurnikan satu titik, racun dari rawa di titik lain pasti akan mengalir masuk dan mencemarinya lagi."

"Begitu ya. Padahal kupikir kalau Kakak yang turun tangan, masalah ini bakal selesai dengan cepat."

"Yah, sebat-hebatnya Rex pun, pasti ada hal yang bisa dan tidak bisa dia lakukan, kan?"

"Be-benar juga."

"Nah, sebelum gelap, ayo cari penginapan di kota terdekat."

"""Okee!"""

Setelah pembicaraan selesai, kami terbang kembali menyusuri jalan yang tadi kami lalui.

"Kalau tidak salah, agak jauh di depan sana ada sebuah desa."

"Lebih baik cari kota yang di baliknya saja. Di sana pasti ada penginapan yang lebih bagus."

"Benar juga, kalau di desa ada kemungkinan tidak punya penginapan sama sekali."

"Iya, aku setuju. Sisa material monster yang tidak dipakai untuk bahan Golem harus kita jual ke Guild Petualang juga."

"Ah, benar juga. Tapi, apa material monster ini tidak bisa dipakai untuk membuat perlengkapan baru?" tanya Jairo soal bahan yang kami dapatkan di Tanah Korosi.

"Kamu ini, kan baru kemarin perlengkapanmu diperbarui dengan bahan naga."

"Tapi kan, kalau Kakak yang buat, siapa tahu bisa jadi sesuatu yang hebat."

"Aku mengerti perasaanmu, tapi rasanya sulit menemukan bahan yang lebih unggul dibanding material naga."

"Ah, benar juga. Perlengkapan kita kan memang sudah pakai bahan naga."

"Kalau dipikir-pikir, rasanya seperti tiba-tiba mendapatkan perlengkapan legendaris yang biasanya didapat pahlawan di akhir dongeng."

"Habisnya ini bahan naga, sih."

"Tidak, tidak selalu begitu, kok."

"""Eh?"""

Semua orang menoleh mendengar ucapanku.

"Bahan naga memang bagus, tapi naga sendiri punya tingkatan. Di antara monster peringkat S lainnya, ada yang setara dengan naga, bahkan tergantung jenisnya, ada yang lebih kuat dari naga."

"""Monster yang lebih kuat dari naga!?"""

"Monster macam apa yang lebih kuat dari naga!?"

"Hmm, Raja Lava dan Binatang Buas Volcanic Tiger, Penguasa Es dan Air Tidal Fishu, Kaisar Angin dan Kilat Bang Wing, Sang Transenden Racun dan Miasma Venom Beat... mungkin itu beberapa yang cukup terkenal."

"Tunggu, itu bukannya makhluk dalam mitologi!? Kamu pasti bercanda, kan!?"

"Tidak, aku tidak bercanda. Mereka benar-benar ada."

Benar, mereka adalah monster nyata. Yah, biasanya mereka tidak muncul di pemukiman manusia... atau lebih tepatnya, manusia biasa tidak akan bisa bertahan hidup di habitat mereka.

"Se-serius... Jadi monster dalam mitos itu benar-benar ada..."

Yah, memang langka sih, tapi kalau sampai disebut mitos... ah, begitu ya.

Di zaman sekarang, mungkin mereka jarang menampakkan diri di depan manusia. Habisnya Ancient Plant dan Bahamut saja dianggap monster legenda.

Di kehidupanku yang dulu dan sebelumnya lagi, banyak orang yang pergi ke wilayah terpencil demi mencari bahan mereka, jadi mungkin monster-monster yang cukup pintar itu merasa malas berurusan dengan manusia dan memindahkan sarang mereka.

"Lebih dari itu, aku lebih penasaran kenapa Rex-san bisa tahu tentang keberadaan monster-monster seperti itu..."

...Soal itu, lebih baik aku tutup mulut saja. Saat kami sedang berbincang, kota tujuan kami mulai terlihat.

"Kotanya sudah kelihatan."

"Akhirnya! Ayo cepat makan!"

"Bukannya lebih baik jual material dulu?"

"Melihat jamnya, bukankah lebih baik cari penginapan dulu? Jualnya besok pagi saja."

Karena kami berburu seharian, pendapat semua orang mulai terpecah.

"Hmm, kalau begitu mari kita bagi tugas. Satu tim mencari penginapan, tim lainnya mengurus penjualan material."

"Benar. Itu ide bagus."

"Sip! Aku ikut tim jual material!"

"Kalau begitu aku tim cari penginapan."

"Kantong sihirku hanya bisa dibuka olehku, jadi aku ikut tim jual material."

"Berarti aku dan Mina yang akan mencari penginapan."

"Tolong ya, Liliera-san."

"Sip! Kalau begitu ayo cepat kita jual, Kakak!"

Setelah peran ditentukan, kami turun ke jalan utama di depan kota.

"A-apa-apaan dengan jumlah material monster sebanyak ini!?"

Begitu menemukan Guild Petualang di kota ini, kami langsung meminta penjualan material, tapi sepertinya jumlahnya terlalu banyak sampai-sampai petugas resepsionis terkejut.

"Maaf, kami agak terlalu banyak berburu."

"Te-terlalu banyak berburu katamu, ini kan material monster dari Tanah Korosi!? Semuanya kan monster sangat berbahaya yang punya racun mematikan!? Bagaimana caranya kalian bisa membasmi sebanyak ini!?"

Padahal Giant Poison Centipede racunnya tidak seberapa.

"I-ini Inferno Spider!? Dan ini Pain Needle!? Aaakh!? Bahkan ada Murder Spike!?"

"O-oi, kalian dengar itu!? Inferno Spider!? Dia berburu monster beracun api itu!?"

"Pain Needle itu yang itu, kan? Yang bersembunyi di dasar rawa dan kalau ada orang mendekat, dia bakal menusuk pakai jarum racun yang bisa menembus plat besi? Itu kan monster gawat. Apalagi kalau disengat, katanya bakal berguling-guling karena rasa sakit yang luar biasa..."

"Aku baru pertama kali melihat Murder Spike. Bagaimana caranya mengalahkan kura-kura beracun keras yang seluruh tempurungnya ditutupi duri beracun itu!?"

"""Dan jumlahnya sebanyak itu!?"""

Lho? Aneh sekali... kenapa petugas resepsionis dan para petualang di sini sangat terkejut, ya?

"Hehehe, hebat kan, hebat kan."

Di tengah keramaian itu, entah kenapa hanya Jairo yang terlihat bangga.

"Ah! Kalau tidak salah aku pernah dengar! Katanya di Guild Petualang ibu kota mulai dijual penawar racun yang luar biasa!"

Hm? Guild Petualang ibu kota? Rasanya aku pernah mendengar cerita ini sebelumnya...

"Apa!? Benarkah!?"

"Katanya penawar racun itu sangat hebat sampai bisa menetralkan racun mematikan dari Inferno Spider."

"Bukannya itu cuma penawar racun biasa untuk Inferno Spider?"

"Tidak, katanya itu adalah penawar racun universal yang manjur untuk segala jenis racun."

"""Penawar Racun Universal!?"""

Anu, apa itu berbeda dengan Antidote Low yang aku ajarkan?

"Oi, serius? Kalau ada penawar racun seperti itu, penawar racun lain jadi tidak laku, dong?"

"Tenanglah, kalaupun barang seperti itu ada, harganya pasti mahal sampai kita tidak sanggup beli."

"Be-benar juga."

"Tidak, katanya harganya cukup murah, tidak terpaut jauh dari penawar racun biasa."

"Serius!? Kalau ada yang begitu aku juga mau beli!"

"Penawar racun universal yang bisa menetralkan racun Inferno Spider, ya... Kalau benar ada, aku sangat menginginkannya. Karena Tanah Korosi dekat dari sini, aku ingin punya satu untuk berjaga-jaga..."

"""Benar sekali."""

Hmm, kenapa orang-orang itu sangat takut dengan racun sekelas Inferno Spider, ya?

Racun api monster itu memang menyakitkan, tapi itu racun tingkat rendah yang cukup diobati dengan Antidote Low.

Sihir penawar racun biasa juga bisa menyembuhkannya, atau kalau mau lebih praktis, tinggal minum obat imun racun monster sebelumnya saja sudah beres...

"Ah, benar juga! Begitu rupanya!"

Di sana aku menyadari hal penting.

"Begitu ya, mutasi genetik."

Terlepas dari monster atau bukan, makhluk hidup di alam terkadang mengalami mutasi dan lahir dengan karakteristik yang berbeda jauh dari spesies aslinya.

Di saat yang sama, mutasi juga bisa membuat karakteristik aslinya menjadi jauh lebih kuat.

Dengan kata lain, Inferno Spider yang dibicarakan para petualang ini mungkin adalah hasil mutasi dengan tingkat racun yang jauh lebih tinggi.

Faktanya, sepertinya sudah cukup lama sejak aku meninggal di kehidupan sebelumnya, jadi tidak aneh jika Inferno Spider yang hidup di sekitar sini memiliki racun mematikan yang jauh melampaui Inferno Spider di zamanku.

"Begitu ya, begitu ya, itu tadi adalah titik butaku."

Kalau begitu, penawar racun universal yang dibicarakan petualang itu pasti berbeda dengan resep Antidote Low yang kuberikan.

"Meskipun begitu, ada monster yang karakteristiknya menguat karena mutasi, ya. Aku harus berhati-hati."

Mungkin saja ini juga pengaruh dari Tanah Korosi.

Hmm, melihat reaksi petugas resepsionis, mungkin monster lain juga terpengaruh Tanah Korosi sehingga racunnya semakin kuat.

Aku harus lebih waspada dalam menangani racun ke depannya.

"..."

Saat aku sedang memantapkan tekad, entah kenapa Jairo menatapku dalam diam.

"Lho? Ada apa, Jairo?"

"...Tidak, aku cuma merasa Kakak sedang mengalami kesalahpahaman yang aneh."

Hnn? Jairo bicara hal yang aneh saja, ya.



0

Post a Comment

close