Chapter 146
Para Monster Beracun
"Nah,
bahannya sudah cukup terkumpul, ayo kita pulang."
Setelah
pengumpulan material selesai, aku memanggil teman-teman yang lain.
"Setuju!
Perutku sudah keroncongan, nih!"
"Bahannya
sudah terkumpul sangat banyak. Sepertinya Guild Petualang bakal bilang mereka
tidak butuh material monster dari Tanah Korosi untuk sementara waktu."
"Fufuh, itu
mungkin saja terjadi."
Sambil
berbincang santai, kami terbang ke angkasa. Dari sana, terlihat pemandangan Tanah Korosi yang
mulai meredup tertutup cahaya matahari terbenam.
"Luas
sekali, ya. Sampai sejauh mana hamparan ini membentang?"
"Kalau tidak
salah, sampai ke negara tetangga."
Sampai negara
tetangga!? Wah, negara sebelah pasti kesulitan juga kalau begitu.
"Hm?
Lho?"
Tiba-tiba Jairo
memiringkan kepalanya sambil menatap ke bawah.
"Ada apa,
Jairo?"
"Anu,
bukannya rawa itu kembali ke wujud semula? Lihat, di bagian monster lipan
raksasa tadi."
"Eh?"
Jairo menunjuk ke
arah perbatasan antara Tanah Korosi dan tanah biasa.
Di sisi yang
seharusnya menjadi bagian Tanah Korosi, terdapat sosok Giant Poison Centipede
yang mencuat dari tanah seperti pohon dan bergerak-gerak dengan gelisah.
"Itu
kan monster yang tadi terjepit di tanah karena sihir Kakak, kan? Seharusnya
area itu sudah dimurnikan oleh sihir Kakak dan kembali jadi tanah biasa, tapi
kenapa sekarang jadi rawa lagi?"
"Ah,
benar juga."
Setelah
diperhatikan, ucapan Jairo benar. Jika aku sudah menguncinya ke tanah,
seharusnya area di sekitar Giant Poison Centipede itu tetap berupa tanah biasa.
Lipan raksasa itu
terus menggeliatkan tubuhnya untuk meronta. Seiring dengan itu, tanah di
sekitarnya tampak mulai melunak, dan tubuhnya sedikit demi sedikit mulai
terlepas.
Setelah
berkali-kali mengibaskan tubuhnya untuk menghancurkan tanah yang menjepitnya,
lipan tersebut akhirnya berhasil membebaskan seluruh tubuhnya.
Kemudian, dia
menenggelamkan dirinya ke dalam rawa dan melarikan diri ke bagian rawa yang
lebih dalam.
"Kalau tidak
salah ingat, Tanah Korosi itu mirip dengan Hutan Monster, yaitu tipe Area
Berbahaya yang terus mengerosi wilayah di sekitarnya..." gumam Liliera-san
seolah teringat sesuatu.
"Meskipun
begitu, bukankah ini terlalu cepat? Dengan kecepatan seperti ini, dalam
beberapa tahun saja ibu kota bisa ikut tererosi, tahu?"
Kekhawatiran Mina
ada benarnya. Kecepatan erosinya terasa sangat cepat. Bukankah ini lebih cepat
dibanding Hutan Monster?
"Sepertinya
pihak gereja secara rutin melakukan ritual untuk menekan kecepatan korosi ini.
Meskipun detail isinya dirahasiakan."
Begitu ya, pantas
saja pihak kerajaan tidak terlihat panik meski kecepatan erosinya secepat ini.
"Tapi ya,
bukankah masalah ini bakal beres kalau Kakak memurnikan semuanya sekaligus?
Tadi saja bisa dimurnikan dengan mudah."
"..."
"Tunggu,
tunggu, seberapa hebat pun Rex, kalau itu sih..."
"Aku
mengerti apa yang ingin kamu katakan, tapi wilayahnya terlalu luas. Biar
Rex-san pun, kurasa itu mustahil."
Liliera-san dan
yang lainnya melirik ke arahku.
"Benar juga.
High Area Purification yang dibuat untuk pemurnian kota saja batasnya hanya
radius beberapa puluh meter, jadi tidak realistis jika ingin memurnikan seluruh
wilayah Tanah Korosi dengan sihir ini. Aku tidak tahu pasti seluas apa tempat
ini, tapi kalau sampai ke negara tetangga, saat aku memurnikan satu titik,
racun dari rawa di titik lain pasti akan mengalir masuk dan mencemarinya
lagi."
"Begitu ya.
Padahal kupikir kalau Kakak yang turun tangan, masalah ini bakal selesai dengan
cepat."
"Yah,
sebat-hebatnya Rex pun, pasti ada hal yang bisa dan tidak bisa dia lakukan,
kan?"
"Be-benar
juga."
"Nah,
sebelum gelap, ayo cari penginapan di kota terdekat."
"""Okee!"""
Setelah
pembicaraan selesai, kami terbang kembali menyusuri jalan yang tadi kami lalui.
"Kalau tidak
salah, agak jauh di depan sana ada sebuah desa."
"Lebih baik
cari kota yang di baliknya saja. Di sana pasti ada penginapan yang lebih
bagus."
"Benar juga,
kalau di desa ada kemungkinan tidak punya penginapan sama sekali."
"Iya, aku
setuju. Sisa material monster yang tidak dipakai untuk bahan Golem harus kita
jual ke Guild Petualang juga."
"Ah, benar
juga. Tapi, apa material monster ini tidak bisa dipakai untuk membuat
perlengkapan baru?" tanya Jairo soal bahan yang kami dapatkan di Tanah
Korosi.
"Kamu ini,
kan baru kemarin perlengkapanmu diperbarui dengan bahan naga."
"Tapi kan,
kalau Kakak yang buat, siapa tahu bisa jadi sesuatu yang hebat."
"Aku
mengerti perasaanmu, tapi rasanya sulit menemukan bahan yang lebih unggul
dibanding material naga."
"Ah, benar
juga. Perlengkapan kita kan memang sudah pakai bahan naga."
"Kalau
dipikir-pikir, rasanya seperti tiba-tiba mendapatkan perlengkapan legendaris
yang biasanya didapat pahlawan di akhir dongeng."
"Habisnya
ini bahan naga, sih."
"Tidak,
tidak selalu begitu, kok."
"""Eh?"""
Semua orang
menoleh mendengar ucapanku.
"Bahan naga
memang bagus, tapi naga sendiri punya tingkatan. Di antara monster peringkat S
lainnya, ada yang setara dengan naga, bahkan tergantung jenisnya, ada yang
lebih kuat dari naga."
"""Monster
yang lebih kuat dari naga!?"""
"Monster
macam apa yang lebih kuat dari naga!?"
"Hmm,
Raja Lava dan Binatang Buas Volcanic Tiger, Penguasa Es dan Air Tidal Fishu,
Kaisar Angin dan Kilat Bang Wing, Sang Transenden Racun dan Miasma Venom
Beat... mungkin itu beberapa yang cukup terkenal."
"Tunggu,
itu bukannya makhluk dalam mitologi!? Kamu pasti bercanda, kan!?"
"Tidak,
aku tidak bercanda. Mereka benar-benar ada."
Benar,
mereka adalah monster nyata. Yah, biasanya mereka tidak muncul di pemukiman
manusia... atau lebih tepatnya, manusia biasa tidak akan bisa bertahan hidup di
habitat mereka.
"Se-serius... Jadi monster dalam mitos itu benar-benar
ada..."
Yah, memang langka sih, tapi kalau sampai disebut mitos...
ah, begitu ya.
Di zaman sekarang, mungkin mereka jarang menampakkan diri di
depan manusia. Habisnya Ancient Plant dan Bahamut saja dianggap monster
legenda.
Di kehidupanku yang dulu dan sebelumnya lagi, banyak orang
yang pergi ke wilayah terpencil demi mencari bahan mereka, jadi mungkin
monster-monster yang cukup pintar itu merasa malas berurusan dengan manusia dan
memindahkan sarang mereka.
"Lebih dari itu, aku lebih penasaran kenapa Rex-san
bisa tahu tentang keberadaan monster-monster seperti itu..."
...Soal itu, lebih baik aku tutup mulut saja. Saat kami sedang berbincang, kota tujuan kami
mulai terlihat.
"Kotanya
sudah kelihatan."
"Akhirnya!
Ayo cepat makan!"
"Bukannya lebih baik jual material dulu?"
"Melihat jamnya, bukankah lebih baik cari penginapan
dulu? Jualnya besok pagi saja."
Karena kami berburu seharian, pendapat semua orang mulai
terpecah.
"Hmm, kalau
begitu mari kita bagi tugas. Satu tim mencari penginapan, tim lainnya mengurus
penjualan material."
"Benar. Itu ide bagus."
"Sip! Aku ikut tim jual material!"
"Kalau begitu aku tim cari penginapan."
"Kantong sihirku hanya bisa dibuka olehku, jadi aku
ikut tim jual material."
"Berarti aku dan Mina yang akan mencari
penginapan."
"Tolong ya, Liliera-san."
"Sip! Kalau begitu ayo cepat kita jual, Kakak!"
Setelah peran
ditentukan, kami turun ke jalan utama di depan kota.
◆
"A-apa-apaan
dengan jumlah material monster sebanyak ini!?"
Begitu menemukan
Guild Petualang di kota ini, kami langsung meminta penjualan material, tapi
sepertinya jumlahnya terlalu banyak sampai-sampai petugas resepsionis terkejut.
"Maaf, kami
agak terlalu banyak berburu."
"Te-terlalu
banyak berburu katamu, ini kan material monster dari Tanah Korosi!? Semuanya
kan monster sangat berbahaya yang punya racun mematikan!? Bagaimana caranya
kalian bisa membasmi sebanyak ini!?"
Padahal Giant
Poison Centipede racunnya tidak seberapa.
"I-ini
Inferno Spider!? Dan ini Pain Needle!? Aaakh!? Bahkan ada Murder Spike!?"
"O-oi,
kalian dengar itu!? Inferno Spider!? Dia berburu monster beracun api
itu!?"
"Pain Needle
itu yang itu, kan? Yang bersembunyi di dasar rawa dan kalau ada orang mendekat,
dia bakal menusuk pakai jarum racun yang bisa menembus plat besi? Itu kan
monster gawat. Apalagi kalau disengat, katanya bakal berguling-guling karena
rasa sakit yang luar biasa..."
"Aku baru
pertama kali melihat Murder Spike. Bagaimana caranya mengalahkan kura-kura
beracun keras yang seluruh tempurungnya ditutupi duri beracun itu!?"
"""Dan
jumlahnya sebanyak itu!?"""
Lho? Aneh
sekali... kenapa petugas resepsionis dan para petualang di sini sangat
terkejut, ya?
"Hehehe,
hebat kan, hebat kan."
Di tengah
keramaian itu, entah kenapa hanya Jairo yang terlihat bangga.
"Ah!
Kalau tidak salah aku pernah dengar! Katanya di Guild Petualang ibu kota mulai
dijual penawar racun yang luar biasa!"
Hm? Guild Petualang ibu kota? Rasanya aku pernah mendengar
cerita ini sebelumnya...
"Apa!? Benarkah!?"
"Katanya penawar racun itu sangat hebat sampai bisa
menetralkan racun mematikan dari Inferno Spider."
"Bukannya itu cuma penawar racun biasa untuk Inferno
Spider?"
"Tidak, katanya itu adalah penawar racun universal yang
manjur untuk segala jenis racun."
"""Penawar Racun
Universal!?"""
Anu, apa itu berbeda dengan Antidote Low yang aku ajarkan?
"Oi, serius? Kalau ada penawar racun seperti itu,
penawar racun lain jadi tidak laku, dong?"
"Tenanglah,
kalaupun barang seperti itu ada, harganya pasti mahal sampai kita tidak sanggup
beli."
"Be-benar
juga."
"Tidak,
katanya harganya cukup murah, tidak terpaut jauh dari penawar racun
biasa."
"Serius!?
Kalau ada yang begitu aku juga mau beli!"
"Penawar racun universal yang bisa menetralkan racun
Inferno Spider, ya... Kalau benar ada, aku sangat menginginkannya. Karena Tanah Korosi dekat dari sini, aku
ingin punya satu untuk berjaga-jaga..."
"""Benar
sekali."""
Hmm, kenapa
orang-orang itu sangat takut dengan racun sekelas Inferno Spider, ya?
Racun api monster
itu memang menyakitkan, tapi itu racun tingkat rendah yang cukup diobati dengan
Antidote Low.
Sihir penawar
racun biasa juga bisa menyembuhkannya, atau kalau mau lebih praktis, tinggal
minum obat imun racun monster sebelumnya saja sudah beres...
"Ah, benar
juga! Begitu rupanya!"
Di sana aku
menyadari hal penting.
"Begitu ya,
mutasi genetik."
Terlepas dari
monster atau bukan, makhluk hidup di alam terkadang mengalami mutasi dan lahir
dengan karakteristik yang berbeda jauh dari spesies aslinya.
Di saat yang
sama, mutasi juga bisa membuat karakteristik aslinya menjadi jauh lebih kuat.
Dengan kata lain,
Inferno Spider yang dibicarakan para petualang ini mungkin adalah hasil mutasi
dengan tingkat racun yang jauh lebih tinggi.
Faktanya,
sepertinya sudah cukup lama sejak aku meninggal di kehidupan sebelumnya, jadi
tidak aneh jika Inferno Spider yang hidup di sekitar sini memiliki racun
mematikan yang jauh melampaui Inferno Spider di zamanku.
"Begitu ya,
begitu ya, itu tadi adalah titik butaku."
Kalau begitu,
penawar racun universal yang dibicarakan petualang itu pasti berbeda dengan
resep Antidote Low yang kuberikan.
"Meskipun
begitu, ada monster yang karakteristiknya menguat karena mutasi, ya. Aku harus
berhati-hati."
Mungkin saja ini
juga pengaruh dari Tanah Korosi.
Hmm, melihat
reaksi petugas resepsionis, mungkin monster lain juga terpengaruh Tanah Korosi
sehingga racunnya semakin kuat.
Aku harus lebih
waspada dalam menangani racun ke depannya.
"..."
Saat aku sedang
memantapkan tekad, entah kenapa Jairo menatapku dalam diam.
"Lho? Ada
apa, Jairo?"
"...Tidak,
aku cuma merasa Kakak sedang mengalami kesalahpahaman yang aneh."
Hnn? Jairo bicara hal yang aneh saja, ya.



Post a Comment