NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 16

Chapter 195

Monolog Haruomi dan Bayangan Iblis Putih


"Aduh, saya benar-benar mengira dunia akan kiamat tadi."

Setelah pertempuran dengan para ronin berakhir, kami tiba di desa para pendeta.

Namun, situasi di dalam desa sedang kacau balau akibat dampak pertempuran tadi. Sepertinya pertarungan kami dengan para ronin benar-benar mengejutkan mereka, aku jadi merasa tidak enak.

Setelah kami semua menenangkan warga, dan ditambah penjelasan dari Yukinojo-san serta Haruomi-san sebagai pihak yang berkepentingan, barulah mereka akhirnya memahami situasinya.

"Selama ini memang sering ada penyusup yang mengincar nyawa calon Shogun dan membuat keributan di wilayah klan ini, tapi kekacauan luar biasa seperti ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah."

"Ahaha, maafkan kami..."

Untungnya, para pendeta memaafkan kami karena tidak ada kerusakan pada desa. Ya, mereka benar-benar orang baik.

"Kami sudah mendengar perihal Tuan Yamazakurakoji dari Nona Omitsu. Saya tidak menyangka beliau akan melakukan tindakan seberani itu... Saya benar-benar minta maaf."

Entah kenapa, pendeta itu meminta maaf atas perbuatan sang Kepala Penasihat.

"Tidak apa-apa. Memang benar dalam tubuh Yamazakurakoji mengalir darah pendeta, tapi itu tidak ada hubungannya dengan kalian. Kejadian ini murni tindakan pribadi Yamazakurakoji."

"Kami sangat tertolong jika Anda berkata demikian."

Begitu rupanya, Kepala Penasihat yang memberontak itu masih berkerabat dengan para pendeta di desa ini. Pantas saja mereka merasa tidak tenang.

Namun Yukinojo-san memaafkan mereka begitu saja, seraya menegaskan bahwa Kepala Penasihat adalah Kepala Penasihat, dan pendeta adalah pendeta.

Memaafkan kerabat dari orang yang mengincar nyawanya tanpa rasa benci... itu bukan hal yang mudah dilakukan.

Yukinojo-san mungkin akan menjadi raja yang cukup hebat nanti.

"Waktu sangat berharga. Aku ingin segera melaksanakan ritual penobatan Shogun."

"Kami mengerti."

Saat Yukinojo-san berkata tidak butuh istirahat, sang pendeta memandu kami menuju sebuah kediaman besar di bagian dalam desa.

Bangunannya sangat besar, saking luasnya aku merasa sepertiga desa ini adalah bagian dari kediaman tersebut. Rumah-rumah di negeri ini memang sangat melebar, mungkin karena ada tamannya.

"Kalau begitu, Tuan Yukinojo, silakan maju ke sini."

"Umu."

Saat Yukinojo-san melangkah maju, Haruomi-san hendak mengikuti, namun sang pendeta menghentikannya.

"Mohon maaf, bagi para pengiring diharapkan menunggu di sini."

"Apa!? Aku ini pengawal Tuan Muda!"

Haruomi-san membentak, merasa tidak mungkin membiarkan Yukinojo-san sendirian.

"Ini adalah adat istiadat penobatan Shogun. Karena itu, siapapun yang bukan calon Shogun tidak diizinkan masuk lebih jauh."

"...-!!"

Wajah Haruomi-san menegang saat diberi tahu bahwa pihak luar tidak boleh masuk.

"Tempat di depan ini adalah wilayah Kaisar, sang pemimpin sejati Tenfeng. Meski Anda sekalian berasal dari keluarga Shogun, Anda tetap harus mematuhi adat istiadat."

"...-!"

Seketika nama Kaisar disebut, tubuh Haruomi-san kaku. Kalau tidak salah, di negeri ini memang Kaisar adalah raja yang sesungguhnya.

Menyadari tidak ada yang bisa dilakukan jika nama itu sudah disebut, Haruomi-san mengertakkan gigi dan mengepalkan tinjunya kuat-kuat, lalu mematuhi perkataan pendeta itu.

"Tenanglah Haruomi. Ini adalah tanah yang dipimpin Kaisar. Tidak mungkin ada bahaya yang mengancamku di sini."

"Tuan Muda..."

"Jangan khawatir. Aku akan segera dinobatkan menjadi Shogun dan kembali."

"Saya... mengerti."

Mungkin dia merasa tidak berdaya karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Haruomi-san menghela napas panjang dan melemaskan kepalan tangannya, lalu berlutut dan menundukkan kepala kepada Yukinojo-san.

"Tuan Muda, selamat berjuang."

"Umu! Kalau begitu aku pergi dulu. Mina, Rex, terima kasih sudah mengawal sampai ke sini. Selama aku belum kembali, beristirahatlah dengan santai di desa."

"Semangat ya—!"

"Hahahaha, serahkan padaku!"

Setelah berkata demikian, Yukinojo-san masuk ke bagian dalam bangunan bersama sang pendeta.

"Apa anak itu sedikit berubah?"

Tiba-tiba Mina-san bergumam sambil menatap kepergian Yukinojo-san.

"Benarkah?"

"Iya. Saat pertama bertemu denganku, dia itu anak yang tidak bisa diam. Ah, setelah bertemu Rex pun sama saja. Tapi sejak sampai di desa ini, dia terlihat cukup tenang."

Heh, apa terjadi sesuatu ya?

"...Tuan Muda datang ke tempat ini sebagai calon Shogun. Karena itu, saat ini beliau sedang mendisiplinkan dirinya sebagai anggota keluarga Shogun."

Saat kami sedang membicarakan Yukinojo-san, Haruomi-san menyahut dengan suara rendah.

"Sebagai anggota keluarga Shogun?"

"Benar. Tuan Muda adalah putra Shogun yang memimpin tanah Tenfeng. Karena itu, di acara resmi seperti ini, beliau dididik dengan keras untuk bertingkah laku layaknya putra Shogun agar tidak mempermalukan nama besar ayahnya."

Oh, semacam tata krama bangsawan, ya?

"Tuan Muda memang sudah tumbuh menjadi putra calon Shogun yang luar biasa. Melalui perjalanan ini pun, beliau mendapatkan banyak pengalaman yang tidak mungkin didapat jika hanya berdiam diri di dalam kastil."

"Memang banyak pengalaman luar biasa sih. Pengalaman gila yang biasanya tidak akan dialami orang normal."

Tunggu, Mina-san? Kenapa Anda melihat ke arahku saat mengatakan itu?

"Tapi tetap saja, Tuan Muda masih kurang pengalaman. Kehilangan Shogun sebelumnya membuat beliau tidak sempat mewarisi kebijaksanaan dan kesiapan mental sebagai penguasa, itu adalah hal yang sangat merugikan."

Bagi bangsawan, melihat pekerjaan orang tua adalah pelajaran penting. Haruomi-san sepertinya sangat khawatir karena Yukinojo-san tidak sempat merasakannya.

Seperti anak pedagang yang baru mulai bekerja kasar tapi tiba-tiba diserahi bisnis orang tuanya, pasti dia tidak akan bisa apa-apa.

"Tapi bukankah itu gunanya kalian sebagai pengabdi?"

Apa yang dikatakan Mina-san benar. Di saat seperti inilah pengabdi bertugas menyokong tuannya.

"Benar, tapi Kepala Penasihat Yamazakurakoji yang merupakan pemimpin para pengabdi justru berkhianat. Terlebih lagi, banyak penguasa wilayah yang mengikutinya untuk menghalangi kami. Meski sudah dinobatkan sebagai Shogun, pemerintahan Tuan Muda pasti akan sangat berat."

Begitu rupanya. Kepala Penasihat pasti akan dicopot dari jabatannya, dan tergantung situasinya, gelar bangsawan serta wilayahnya pun bisa disita.

Para penguasa wilayah yang membantunya juga pasti akan dihukum. Jika itu terjadi, Yukinojo-san harus memerintah negara tanpa pengabdi berpengalaman tinggi seperti Kepala Penasihat.

Artinya, dia harus memulai semuanya dengan bawahan yang kurang pengalaman atau kurang berkemampuan. Itu memang terdengar sangat sulit.

"Apalagi setelah kejadian ini, para pengabdi dari pemberontak seperti Kepala Penasihat pasti akan menjadi ronin."

Benar juga. Karena mereka adalah bawahan pemberontak, mereka yang tidak terlibat langsung mungkin tidak akan dieksekusi, tapi mereka pasti akan kehilangan pekerjaan.

"Jika itu terjadi, jumlah ronin yang menyimpan dendam tidak masuk akal kepada keluarga Shogun akan semakin bertambah."

"Entah harus disebut menuai apa yang ditanam, atau mengabdi pada majikan yang salah..."

Mina-san mengerang sambil mengernyitkan dahi. Di saat seperti ini, menjadi bawahan orang berkuasa itu memang sulit, karena mereka tidak bisa menentang perintah atasan.

Di kehidupan sebelumnya, aku juga sering melihat ksatria yang terpaksa mematuhi perintah tidak masuk akal, bahkan aku sendiri juga sering dimanfaatkan dengan alasan demi melindungi dunia.

"Namun yang lebih menakutkan adalah apakah Tuan Muda sendiri akan mengulangi kesalahan yang sama dengan orang-orang itu."

"Yukinojo-san?"

Eh?

Apa maksudnya?

Bukankah Yukinojo-san akan menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini?

Kurasa tidak ada lagi pihak yang akan memberontak demi kekuasaan atau hak istimewa.

Satu-satunya saingan adalah Kaisar, tapi kabarnya Kaisar tidak mencampuri politik, jadi tidak ada untungnya bermusuhan.

"Dalam sejarah negeri ini pun pernah terjadi. Ada Shogun yang mempercayai hasutan pengabdi licik dan menghukum pengabdi yang tidak bersalah tanpa menyelidikinya terlebih dahulu."

Ah, itu cerita yang sering kudengar juga di benua kami. Shogun pada masa itu pasti dimanfaatkan dengan cerdik oleh orang jahat.

"Yang terburuk adalah saat dia jatuh ke dalam paranoia dan menjauhkan bawahan yang berani memberikan pendapat jujur. Kalau cuma dijauhkan masih mending, tapi dalam kasus terburuk, seluruh klan pengabdi itu sampai dieksekusi."

"Itu kejam sekali."

Di zaman manapun, raja yang pengecut memang selalu ada.

"Faktanya, pada masa pemerintahan Shogun sebelumnya pun terjadi peristiwa di mana Shogun sendiri menghukum pejabat pentingnya."

"Waktu itu bagaimana? Apa pejabat itu benar-benar melakukan kejahatan?"

"Entahlah. Mengenai detail kejadian itu telah diberlakukan perintah tutup mulut. Waktu itu aku masih kecil, jadi tidak bisa mendapatkan informasi yang mendalam."

Sampai diberlakukan perintah tutup mulut, itu pasti bukan masalah sembarangan. Mungkinkah telah terjadi peristiwa yang sangat besar?

"Tapi... karena pihak yang dihukum bukan orang sembarangan, sepertinya identitas siapa yang dihukum tidak bisa disembunyikan."

"Siapa orang itu?"

"Huh, kan sudah kukatakan ada perintah tutup mulut. Kalau klan prajurit yang sudah rahasia umum sih tidak masalah, tapi kenapa aku harus memberi tahu kalian yang orang asing?"

Ah, benar juga. Tentu saja hal seperti itu biasanya tidak akan diberitahukan.

"Bagaimanapun juga, Tuan Muda punya banyak musuh. Karena itulah aku ingin Nona Omitsu menjadi pendukungnya dan ingin Tuan Muda belajar banyak tentang kesiapan mental penguasa sebelum dinobatkan... tapi dunia memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Yamazakurakoji benar-benar membuat keadaan jadi sulit."

Setelah berkata sejauh itu, Haruomi-san berdiri dan menghadap ke arah kami.

"Aku akan menunggu kembalinya Tuan Muda di sini. Kalian beristirahatlah seperti yang diperintahkan beliau."

"Baiklah. Untuk berjaga-jaga, kami akan berkeliling desa dulu untuk memastikan tidak ada sisa-sisa ronin yang menyusup sebelum kami beristirahat."

"Umu."

Sebenarnya aku sudah tahu tidak ada ronin melalui sihir deteksi. Tapi aku harus memberikan rasa aman kepada Haruomi-san agar dia bisa menunggu dengan tenang.

"Ayo berangkat."

"Iya."

Kami pun berkeliling desa sambil menyapa warga yang berpapasan.

"Meski ini desa para pendeta, tapi rasanya..."

"Ya, desa yang sangat normal."

Sambil berjalan, aku menyuarakan apa yang ada di pikiranku. Benar, desa ini terlihat seperti desa biasa di manapun.

Karena ini desa pendeta, kukira akan mirip dengan kuil-kuil di negeri kami, tapi pakaian mereka pun (kecuali sebagian orang) terlihat seperti penduduk desa normal.

Orang-orang itu bahkan sedang menuju ladang sambil membawa cangkul.

Sesampainya di gerbang masuk desa, aku melihat para penjaga gerbang dan beberapa orang yang tampak seperti pemburu sedang berbicara dengan wajah serius.

"Anu, apa terjadi sesuatu?"

Saat aku menyapa, para penjaga gerbang menoleh ke arah kami.

"Kalian ini... ah, tamu luar biasa yang tadi ya."

"Ahaha, maaf soal keterkejutan yang tadi."

Untungnya penjaga gerbang itu mau menjelaskan situasinya kepada kami.

"Begini, monster-monster mulai terlalu banyak dan berbahaya, jadi kami sedang membicarakan apakah sebaiknya dilakukan pembasmian lebih awal dari jadwal."

"Pembasmian?"

"Ya, akhir-akhir ini ada monster yang belum pernah kami lihat tinggal di hutan sekitar sini. Sepertinya monster itulah penyebab monster-monster lain dari sekitar berkumpul ke dalam hutan."

"Monster yang belum pernah dilihat, ya..."

Hmm, monster apa itu? Tapi kalau monster-monster sampai berkumpul, ada kemungkinan itu adalah monster jenis varian. Jika benar, akan berbahaya jika dibiarkan.

"Tapi, apa tidak terlalu sedikit jumlah orang untuk melakukan pembasmian? Seharusnya kalian mengumpulkan lebih banyak orang."

Benar kata Mina-san, tenaga mereka terlalu sedikit. Cuma ada dua penjaga gerbang dan satu pemburu.

"Kami sudah meminta penguasa wilayah untuk mengirimkan personel pembasmi monster. Tapi selama menunggu, jumlah monster terus bertambah. Lagipula, ini bukannya tidak ada hubungannya dengan kalian."

Penjaga gerbang itu mengatakan sesuatu yang menarik perhatianku.

"Kalian datang ke desa ini untuk ritual yang diadakan puluhan tahun sekali itu, kan? Tapi untuk melaksanakan ritual itu, kalian harus pergi ke situs kuno di luar desa. Dan untuk mencapai situs itu, kalian harus melewati hutan."

Ah, begitu rupanya. Benar, ini bukan lagi urusan orang lain bagi kami.

"Selain itu, agar warga desa bisa mengambil hasil hutan dengan tenang, kami ingin mengurangi jumlah monster sebanyak mungkin mulai dari sekarang."

Memang benar, hutan adalah tempat penting yang memberikan banyak berkah. Mereka tidak mungkin tidak mendekatinya hanya karena berbahaya. Wajar jika mereka ingin mengurangi jumlah monster demi menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Terlebih jika ini berkaitan dengan ritual Yukinojo-san, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak membantu.

"Kalau begitu, kami akan bantu."

"Eh!? Boleh kah!?"

Pemburu itu berseru kaget mendengar tawaran kami.

"Pekerjaan utama kami adalah membasmi monster, jadi kami punya cukup kekuatan tempur. Kami juga bisa menggunakan sihir serangan tingkat tertentu."

"Bukan cuma 'tingkat tertentu' lagi, tahu. Tapi yah, kami sudah mengawal tamu yang punya urusan di desa ini sampai ke sini. Kalian boleh menaruh harapan pada kami."

Mina-san ikut menawarkan bantuan sambil mengedipkan mata padaku. Ya, perasaan saling mengerti tanpa perlu kata-kata ini... rasanya seperti rekan sejati yang menyenangkan.

"Heh, di usia semuda itu sudah jadi pengawal, hebat juga."

Pemburu itu memuji dengan kagum setelah mendengar kami adalah pengawal.

"Hanya saja, kami tidak punya uang untuk membayar kalian..."

Penjaga gerbang terlihat bingung karena tidak bisa memberikan imbalan atas bantuan kami.

"Eeto, begini saja. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena tadi sudah mengejutkan kalian saat kami tiba."

Ya, tadi mereka pasti sangat kaget melihat pertempuran dengan para ronin.

"Ah— soal itu. Tadi benar-benar membuat kaget, ya."

"Ya, kukira dunia sudah mau kiamat."

Eeto, aku benar-benar minta maaf.

"Tapi yah, karena kalian pemilik kapal luar biasa itu, sepertinya kami memang bisa berharap banyak!"

"Tapi apa benar tidak apa-apa membantu kami?"

"Serahkan saja pada kami. Lagipula kami sedang senggang sampai urusan Yukinojo-san selesai."

Aku menepuk dadaku untuk meyakinkan mereka. Kenalan di kehidupan sebelumnya pernah bilang, di saat seperti ini kita harus terlihat penuh percaya diri agar keraguan lawan bicara hilang.

"Begitu ya, kalau begitu kami sangat mengharapkan kerja samanya."

"Baik, serahkan pada kami!"

"Benar-benar sangat membantu."

Begitulah, akhirnya kami memutuskan untuk membantu pembasmian monster yang menghuni hutan.

"Omong-omong, monster yang belum pernah dilihat itu seperti apa wujudnya?"

Untuk berjaga-jaga, aku menanyakan informasi tentang monster penyebab keributan tersebut.

Karena kemungkinan besar itu adalah monster varian, informasi sekecil apapun akan sangat berguna. Namun pemburu itu menggaruk kepalanya dengan bingung.

"Masalahnya, tempatnya agak gelap di dalam hutan, dan monster itu sangat cepat serta berbahaya, jadi aku hanya melihatnya dari kejauhan."

"Tidak apa-apa, katakan saja."

"Baiklah. Monster yang kulihat itu seluruh tubuhnya berwarna putih bersih. Pokoknya dia sangat cepat dan kuat, dia bertarung tanpa rasa takut melawan monster yang ukurannya jauh lebih besar darinya. Bahkan dia berhasil mengalahkan Great Magic Bear yang merupakan penguasa terkuat di daerah sini."

Great Magic Bear, apa itu monster khas negeri ini?

Dari namanya sepertinya besar dan bisa memakai sihir.

Tapi tetap saja, monster putih dan kecil namun punya semangat juang tinggi... informasinya masih terlalu sedikit untuk menebak jenisnya. Namun yang pasti, dia adalah lawan yang berbahaya.

"Putih, kecil... rasanya aku pernah dengar tapi lupa..."

Mina-san sepertinya juga tidak terpikir monster apa itu, sehingga kami belum bisa mengidentifikasinya.

Yah, di alam liar, memiliki warna putih itu sama saja dengan memberitahu lokasi diri sendiri kepada musuh, kecuali di daerah bersalju di utara.

"Ayo berangkat, Mina-san."

"Ayo, kita kalahkan mereka dengan cepat supaya Yukinojo bisa segera pergi melaksanakan ritualnya!"


Monster Misterius

Grrrrrrrrrrrr

Di bawah pandanganku, terdapat ratusan monster berkumpul. Ada monster kuat, monster lemah, dan monster dengan berbagai kemampuan khusus.

Terlebih lagi, mereka bukan dari satu ras saja. Ada banyak ras yang biasanya bermusuhan, ada pula yang memiliki hubungan predator dan mangsa.

Namun, monster-monster itu tidak berkelahi satu sama lain dan hanya menunggu perintahku dengan tenang.

Menunggu perintah dariku, sang Raja Monster! Hu, huhuhu, huhahahahahahahaha!

Benar, aku telah mendirikan Kerajaan Monster di sini! Tidak hanya monster di hutan ini saja.

Monster dari gunung, sungai, dataran, bahkan dari hutan lain pun sudah kutundukkan dan kupimpin menjadi satu pasukan besar yang mengabdi padaku!

Adapun orang-orang bodoh yang melawan, sudah kubasmi dengan cepat dan kunikmati dengan lezat. Hmm, monster di tanah ini terasa berempah dan enak sekali.

Cita rasa oriental! Rasa enak, kekuatan oke, loyalitas mantap—monster negeri ini benar-benar kompeten.

Dengan ini, mereka akan menjadi pasukan elit yang patuh pada perintahku! Fufufu, tidak ada Tuan Besar, hidup ini terasa paling mantap!

Apa aku tinggal di hutan ini saja ya, tanpa perlu berpikir untuk mengkhianati Tuan Besar? K-A-N-A!

BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMM!!

Baru saja aku berpikir demikian, tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat dan pasukanku lenyap seketika. Lenyap bersih tanpa sisa.

Aku yang sedang memantau dari atas pohon, terjatuh dari dahan yang hancur dan mendarat di atas tanah yang kini sudah rata.

...Haaaaaaaaaaaaaaa!?

Apa-apaan ini!?

Apa yang baru saja terjadi!?

Kenapa sekelilingku jadi tanah rata!?

Mana hutan tempatku tadi!?

Mana pasukan besarku!?

Mana bawahan-bawahanku yang gagah!?

Apa yang sebenarnya terjadi!?

Namun sejauh mata memandang, tidak ada satu pun bulu bawahanku yang tersisa.

Eh, tunggu, ada! Dari kejauhan tanah rata itu, dua bayangan sedang mendekat ke sini. Apa ada yang selamat!?

Hm? Eh? Itu bukan... monster... kan...

"※※※※?"

GEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!! Tuan Besarrrrrrrrrrrrr!?

Kenapa!? Kenapa Tuan Besar ada di tempat seperti ini!?

"※※※※※!"

Awawawawa, aku harus lari tapi tubuhku gemetar dan tidak bisa digerakkan. Jangan-jangan ketahuan!? Rencana masa depanku yang agung untuk menguasai tanah ini dengan pasukan monster!?

"※※※※"

Gyaaaaa! Aku tertangkaaaaaap! Kenapa!?

Padahal aku sudah menjauh dari pesisir pantai dan lari sampai ke pelosok gunung supaya tidak ketemu Tuan Besar!

Kupikir ini kesempatan emas untuk kabur dari Tuan Besar!

Ya, aku memang tidak menyangka Tuan Besar akan mati hanya karena badai selevel itu sih! Sialaaaaan!

"※※※※"

Tangan Tuan Besar diletakkan di atas kepalaku. Awawawawa, apa Anda berniat meremukkan kepalaku!?

I-Ini salah paham, Tuan Besar!

Aku sama sekali tidak punya niat sedikit pun untuk memberontak!

Crrrttttt

Ouf, aku mengompol.


Mina

"Wah, jumlah monsternya banyak sekali."

Rex yang sedang mencari monster tersebut menggunakan sihir deteksi berseru kaget.

"Maksudku, tanpa pakai sihir deteksi pun kita sudah tahu, kan."

Karena pepohonan di sekitar sini sangat tinggi, kami mencari dari udara menggunakan kombinasi sihir terbang dan sihir deteksi, tapi ternyata itu tidak perlu karena lokasi monster tersebut segera diketahui.




Sebab, monster dalam jumlah yang luar biasa telah berkumpul di salah satu sudut hutan. Bahkan meski tersembunyi di balik pepohonan yang tinggi, kawanan monster itu sangat banyak hingga terlihat jelas dari atas.

Hmm, untung saja kami mencarinya dari angkasa. Kalau kami mencarinya sambil berjalan di darat, kami pasti sudah berpapasan dengan kawanan itu tanpa persiapan sama sekali.

"Tunggu, jumlahnya bukan cuma monster dari hutan ini saja, kan? Sebenarnya ada berapa banyak itu...?"

Meskipun pepohonan tinggi menyulitkan pengamatan dari udara, aku bisa memastikan bahwa kawanan monster itu tersebar di sebagian besar area hutan. Aku sampai takut membayangkan jumlah pastinya...

"Hmm, sepertinya ada beberapa ribu ekor," sahut Rex.

"Beberapa ribu!?"

Apa-apaan!? Bukankah itu berarti hampir seluruh monster di negeri ini berkumpul di sini!?

"Ba-Bagaimana ini!? Kalau monster sebanyak itu menyerang, desa tidak akan mungkin bisa bertahan!?"

Dinding pertahanan desa itu tidak akan sanggup menahan serangan pengepungan.

Kami mungkin bisa membawa lari Yukinojo dan yang lain, tapi mustahil menyelamatkan para pendeta sambil melarikan diri.

Kalau menggunakan kapal terbang Rex... jika tanpa barang bawaan, mungkin semua orang bisa dipaksa masuk?

"Begitu ya. Karena merepotkan, bagaimana kalau kita basmi semuanya di sini saja?" ucap Rex santai.

"Basmi!? Semuanya!?"

"Iya, kita habisi sekaligus dengan sihir area."

"Sihir area katamu, tapi kan ada ribuan!?

Ah, tapi kalau itu kau, mungkin saja bisa?

Tapi bagaimana caranya?

Awalnya mungkin berhasil, tapi mereka pasti akan langsung kocar-kacir. Kalau bos yang memimpin mereka kabur, urusannya akan jadi lebih sulit nanti."

Sihir Rex memang hebat, tapi kurasa mustahil menghabisi ribuan monster sekaligus dalam satu waktu. Setidaknya harus dibagi dalam puluhan kali serangan.

Jika begitu, pertama-tama kami harus memastikan di mana letak bosnya. Sebab, ada monster yang jauh lebih cerdas dari yang dibayangkan manusia.

Terutama bos yang memimpin kawanan besar, biasanya mereka tidak hanya unggul dalam kekuatan, tapi juga licik.

"Ya, aku mengerti. Karena itulah..."

Rex menjawab seolah sudah paham segalanya. Apa dia punya rencana bagus untuk menyelesaikan masalah ini?

Tentu saja, pasti karena punya rencana itulah dia berani melakukan hal senekat itu.

"Aku akan memasukkan seluruh monster ke dalam jangkauan serangan dan menyapu bersih mereka dalam satu tarikan napas!"

"Ternyata strateginya jauh lebih mengandalkan otot daripada yang kukiraaaaa!"

A-Apa benar bisa!? Mengalahkan ribuan monster sekaligus!?

Dalam ingatanku, sihir-sihir yang digunakan Rex memang luar biasa.

Tapi aku belum pernah melihat sihir gila yang bisa membasmi ribuan monster dalam sekali tebas.

Sihir yang hanya muncul di dalam mitologi seperti itu, apa benar-benar ada!?

"Ta-Tapi, membunuh monster sebanyak itu, apa hutannya akan baik-baik saja!?"

"Benar juga. Memang agak merepotkan kalau harus membunuh monster sebanyak ini tanpa merusak sekitar. Jadi, mari kita ratakan saja hutannya dengan cepat, lalu kita gunakan sihir tanaman dan pupuk khusus untuk melakukan restorasi instan—bukan pertumbuhan instan, tapi regenerasi instan."

Ternyata solusinya pun mengandalkan kekuatan kasar!?

"Ah, tenang saja. Aku akan memasang sihir deteksi supaya tidak ada manusia yang terkena dampaknya."

"A-Ah, iya. Benar juga. Itu bagian yang penting."

"Mumpung monsternya sedang berkumpul di satu titik, sekarang adalah saat terbaik untuk menekan kerusakan pada tanah di sekitarnya seminimal mungkin."

Oalah, ternyata dia tetap memikirkan hal itu saat hendak menyapu bersih mereka.

"Selain itu, aku akan mempersempit radius pemusnahan hingga batas maksimal."

Begitu Rex berkata demikian dan mulai memfokuskan kesadarannya, energi sihir yang sangat pekat mulai berkumpul di sekelilingnya.

Srak srak srak srak!!

Bahkan aku yang tidak memiliki kemampuan deteksi hawa keberadaan sehebat pencuri pun bisa menyadari hewan-hewan hutan yang panik dan mulai melarikan diri karena merasakan firasat buruk.

"Hei, bukankah para monster juga akan menyadarinya?"

"Jarak kita cukup jauh dari kawanan itu, jadi tidak apa-apa. Mungkin monster di lingkar luar yang paling dekat akan sadar, tapi aku sudah memasang penghalang di sekeliling kawanan itu, jadi mustahil bagi mereka untuk kabur."

"Eh!? Sejak kapan!?"

Bukan cuma berniat membunuh, dia bahkan sudah menyiapkan penghalang agar tidak ada yang lolos!?

"Baiklah, aku mulai! Inferno Country!"

Sihir yang dikeluarkan Rex ternyata hanyalah sebuah bola api yang tampak sangat biasa. Bola api itu meluncur ke arah daratan lalu meledak pelan.

Apa dia gagal? Baru saja aku berpikir begitu...

BOOOOOOOOOOOOOOOMMM!!

"!!!!!?"

Bersamaan dengan suara ledakan dahsyat, api menyebar ke seluruh hutan dalam sekejap, membentuk lingkaran raksasa yang tidak beraturan.

"Hah!?"

Itu benar-benar terjadi dalam sekejap mata. Bola api kecil tadi menelan seluruh monster yang berkumpul di hutan dalam satu kedipan.

"A-A-Apa-apaan itu tadi?"

"Itu sihir pemusnahan area luas, Inferno Country. Kalau Flame Inferno itu sihir 'pembersih rumput' untuk membakar jalur lurus, yang ini adalah sihir 'pembersih rumput' tipe penentuan area untuk membasmi hama dan hewan liar di jangkauan yang luas."

"Sihir pembersih rumput tipe penentuan area!?"

"Iya, agar bisa membersihkan tanah atau ladang yang bentuknya tidak beraturan, aku bisa membakar hanya pada bagian yang aku tentukan saja. Lihat itu, kalau diperhatikan baik-baik, di dalam radiusnya masih ada pepohonan yang tersisa, kan? Itu adalah titik di mana tidak ada monster atau bagian yang memang ingin kusisakan pohonnya."

Setelah diperhatikan, memang benar ada pepohonan dan area yang tidak terbakar meskipun berada di dalam radius serangan.

"Sebenarnya sihir ini saja sudah cukup, tapi hutan ini adalah sumber pangan penting bagi para pendeta dan hewan hutan. Jadi aku melindungi bagian itu dengan sihir penghalang tadi. Ah, aku juga melindungi hewan liar biasa yang terlambat kabur supaya tidak ikut terkena dampak."

"Bukankah pelayananmu ini terlalu berlebihan!?"

Tunggu sebentar!?

Apa-apaan itu!?

Bukan hanya menyerang area yang sangat luas, tapi dia juga bisa mengecualikan bagian-bagian tertentu dari jangkauan serangan!?

Terlebih lagi, dia mengaktifkan sihir penghalang dengan skala yang sama secara bersamaan!?

Bagaimana cara melakukannyaaaaa!?

"Meski begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tanaman yang ada di bawah kaki para monster itu."

"Itu sudah lebih dari cukup, tahu!"

Skala perhatiannya benar-benar di luar nalar!

"Ah, sudah selesai. Eh, tunggu? Ada satu yang selamat?"

"Eh?"

Mendengar suara Rex yang kebingungan, aku merasakan firasat buruk.

Jangan-jangan ada monster yang berhasil bertahan hidup dari serangan tadi!?

Monster macam apa yang bisa selamat dari sihir monster seperti itu!?

"Ayo pergi. Kemungkinan besar itu adalah bos kawanan yang dibicarakan para pendeta."

"...Baiklah."

Mendengar perkataan Rex, aku mengaktifkan sihir penguatan tubuh hingga batas maksimal.

Monster yang tahan terhadap sihir Rex... monster mengerikan seperti apa yang akan kami lawan nanti?

Aku mencoba sekuat tenaga menekan rasa takut di dalam hati sambil mengikuti Rex.

Kami tidak turun tepat di depan musuh, melainkan mendarat di daratan yang agak jauh. Rex memimpin di depan, sementara aku sebagai pendukung mengikuti dari belakang dengan jarak tertentu.

"Mungkin aku tidak akan banyak membantu, tapi setidaknya aku akan berusaha memberikan gangguan!"

Merasakan firasat akan pertarungan sengit yang akan terjadi, tanpa sadar aku menelan ludah.

"Lho?"

Tiba-tiba Rex mengeluarkan suara aneh. Kemudian dia melangkah santai mendekati satu-satunya monster yang tersisa.

"Hei, bukankah kau terlalu tidak waspada!?"

Namun Rex mengabaikan kekhawatiranku dan terus mendekat. Justru monster itulah yang terlihat bingung melihat sikap Rex. Kemudian, Rex berhadapan dengan monster tersebut.

...Tunggu, eh? Dibandingkan dengan Rex, monster itu kecil sekali...?

"Ternyata benar, bukankah kau si Mofumofu!"

"Eh!? Mofumofu!?"

Apa!? Monster yang dirumorkan itu ternyata si Mofumofu!?

"Begitu ya, sihir pertahanan yang tertanam di gelang tanduk yang kuberikan aktif dan melindungimu dari Inferno Country, ya."

"Kyu, kyukyuu..."

Mofumofu gemetar mendengar perkataan Rex.

"Begitu ya, jadi kau dikejar-kejar dan lari tunggang langgang dari monster-monster tadi. Sekarang sudah aman, kok."

Rex menggendong Mofumofu dengan lembut.

"Kyu!?"

Mofumofu yang diangkat mengeluarkan suara ketakutan.

"Tidak apa-apa, Mofumofu. Semua hal menakutkan sudah kuusir jauh-jauh."

"Kyufuu~"

Rex mengelus kepala Mofumofu dengan lembut. Merasa sangat lega, Mofumofu mengeluarkan suara lemas seolah seluruh kekuatannya hilang...

Crrrttttt...

Dia mengompol.

"Uwah!? Ada apa, Mofumofu!?"

"Yah, wajar saja sih. Kalau tiba-tiba monster di sekitarmu terbakar mati, pasti menakutkan sekali."

Aku sendiri pun merasa kalau berada di posisi yang sama, aku pasti akan mengompol juga. Tapi, aku memutuskan untuk menyimpannya di dalam hati saja.

"Tapi syukurlah Mofumofu berhasil ditemukan. Bisa dibilang, mencari Mofumofu adalah bagian yang paling sulit."

"Kyukyuu~"

Mungkin karena sangat lega bisa bertemu kembali dengan kami, Mofumofu terkulai lemas di pelukan Rex.

"Benar juga ya. Kalau Jairo dan yang lain, kita bisa mencari mereka di kota atau mereka sendiri yang akan mencari kita. Tapi bagi anak ini, itu tidak mungkin."

"Benar. Selain itu, dalam kasus terburuk, dia bisa saja diserang manusia karena dianggap monster, atau ditangkap untuk dijadikan tontonan."

"Ah, iya. Tapi dalam kasus itu, pihak yang menangkapnya yang akan berada dalam bahaya."

Bagaimanapun juga, aku sangat senang bisa bertemu dengannya lagi. Sambil merayakan reuni dengan Mofumofu, kami menuju ke desa. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan beberapa penduduk desa yang bersenjata.

"Eh? Ada apa, semuanya?"

Di antara penduduk desa, terlihat para penjaga gerbang yang tadi mengobrol dengan kami di pintu masuk.

"Oh, kalian selamat! Tiba-tiba terdengar suara ledakan besar, kami khawatir dan datang untuk membantu!"

Melihat kami baik-baik saja, penjaga gerbang menghela napas lega.

"Maaf sudah membuat kalian khawatir. Monster yang memimpin kawanan itu sudah kami basmi beserta seluruh kelompoknya, jadi tidak perlu khawatir lagi."

"Apa!? Sudah kalian basmi!?"

"Bahkan seluruh kawanannya!?"

"Iya."

"Kalian hebat sekali!"

Para penjaga gerbang memuji kami dengan penuh semangat dan rasa kagum yang mendalam.

"Kami tidak melakukan hal yang istimewa, kok."

"Bahkan aku tidak melakukan apa-apa."

"Tidak, tidak, jangan rendah hati begitu. Bagi kami, mengusir satu atau dua ekor monster saja sudah mati-matian. Berkat kalian, seluruh warga desa bisa tidur dengan tenang."

"Ahaha, kami senang kalau usaha kami bisa berguna."

"Bukan 'kami'. Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa kali ini."

Setelah menjelaskan kepada para penjaga gerbang bahwa monster-monster itu sudah tidak ada, kami semua kembali ke desa bersama-sama. Seharusnya ritual penobatan Shogun Yukinojo-san juga sudah hampir selesai.

Tepat saat aku berpikir demikian...

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah desa.

"A-Apa itu!?"

"Lihat! Ada asap dari arah desa!"

Melihat asap hitam yang membumbung tinggi secara tiba-tiba, para penduduk desa berteriak panik.

"Mina-san!"

"Iya!"

"Semuanya, kami akan kembali ke desa duluan!"

Tanpa menunggu jawaban, kami segera menggunakan sihir terbang untuk bergegas menuju desa. Begitu desa terlihat, kami menyadari asap itu berasal dari salah satu sudut kediaman besar yang terletak di bagian dalam.

"T-Tuan Rex! Nona Mina!"

Melihat ke bawah, para pendeta yang menyambut kami tadi sedang melambai. Kami pun mendarat untuk menanyakan apa yang terjadi.

"Apa yang terjadi!?"

Para pendeta terlihat sangat panik. Sudah pasti telah terjadi peristiwa yang tidak biasa.

"I-Ini gawat! Tuan Yukinojo diserang oleh Majin dan ada korban luka-luka!"

"A-Apa katamu!?"

Begitulah, kami yang baru saja menyelesaikan satu pekerjaan, langsung terseret ke dalam insiden berikutnya tanpa sempat beristirahat.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close