NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 3

Chapter 182

Pendaratan di Tengah Badai


Sudah tiga hari berlalu sejak aku memodifikasi kapal bajak laut itu untuk menuju ke Negeri Timur.

"Daratan sudah terlihat!"

"Daratan?!"

Mendengar kabar bahwa daratan akhirnya terlihat, kami semua segera keluar ke geladak. Namun, di arah tujuan kapal hanya ada hamparan laut luas, dan rupa daratan tidak terlihat di mana pun.

"Oi, oi, di sebelah mana daratannya?"

"Sudah mulai kelihatan jelas, kok—" terdengar suara dari menara pengintai di atas tiang kapal.

"Mungkin kalau naik ke atas baru kelihatan, ya?"

"Sip! Ke atas kalau begitu!"

Begitu Jairo-kun membubung ke langit menggunakan sihir terbang, yang lain pun menyusul di belakangnya. Aku juga melompat menggunakan sihir penguatan tubuh dan mendarat di atas tiang layar.

Lalu, di ujung tujuan kapal, terlihat sesuatu yang memanjang dan tipis.

"Itu... gunung?"

Benar, di ujung lautan sana, tampak puncak sebuah gunung yang menyembul sendirian.

"Daratannya belum kelihatan, tapi gunungnya sudah tampak jelas."

"Ya, itu adalah gunung tertinggi di Negeri Timur, Gunung Amatsukami."

""""""Gunung Amatsukami?""""""

Begitu aku membubung lebih tinggi di atas kapal dengan sihir terbang, barulah wujud utuhnya terlihat.

"Luar biasa. Padahal daratannya sama sekali belum kelihatan, tapi gunungnya bisa tampak sejelas ini."

Itu artinya, Gunung Amatsukami adalah gunung yang teramat sangat besar. Mungkin ukurannya sudah bisa disebut sebagai pegunungan.

"Ukurannya luar biasa ya."

"Kira-kira seberapa luas ya kalau cuma gunung itu saja?"

Semua orang ikut terpana melihat keagungan Gunung Amatsukami.

"Yah, pokoknya akhirnya sampai di daratan juga! Aku rindu menginjak tanah!"

Ahaha, benar juga, karena sejak tadi kita terus berada di atas kapal. Aku bahkan sudah terbiasa dengan guncangan tubuh.

"Eh? Apa itu?"

Tepat saat itu, bajak laut yang sedang mengawasi sekitar dari menara pengintai menunjuk ke arah langit di dekat sana.

"Hei, lihat itu! Awan hujan!"

Tampak awan gelap mulai mendekat dari seberang langit.

"Kalau jaraknya sejauh itu, harusnya kita sampai di daratan lebih dulu. Paling buruk pun, kalau kita terjebak badai sebelum sampai pelabuhan, kita bisa membuang sauh di dekat daratan dan menunggu badai lewat."

Para bajak laut segera berdiskusi tentang cara menangani badai. Terlepas dari baik atau buruknya mereka, dalam hal ini mereka benar-benar terasa seperti pria laut sejati.

"Yah, dengan kecepatan kapal ini yang sekarang, kita pasti sampai di daratan sebelum awan hujan itu tiba."

"Benar juga!"

"""Hahahaha!"""

Memang benar, dengan kecepatan kapal ini, kami bisa bergerak lebih cepat daripada pergerakan awan hujan yang mendekat. Selama tidak ada masalah serius, harusnya tidak perlu khawatir terjebak badai.

...Begitulah pikirku, tapi—

"Oi, ada yang aneh."

Bajak laut lain yang berada di menara pengintai berseru dengan nada curiga sambil melihat ke sekeliling.

"Ada apa—?"

"Kecepatan awan hujannya terlalu gila! Padahal tadi langit masih cerah, tapi sekarang sekeliling kita sudah dikepung awan!"

"Eh?"

Benar saja. Tanpa kusadari, langit perlahan-lahan berubah menjadi mendung.

"Lagipula awan ini... bukankah semakin lama semakin gelap dan tebal?"

"Apa-apaan ini? Aku belum pernah melihat cuaca seperti ini..."

Para bajak laut pun ikut bingung dengan cuaca yang aneh ini.

"Firasatku tidak enak! Cepat menuju daratan!"

""""Siap, Kapten!!""""

Pergerakan para kru kapal yang menyadari bahaya sungguh cepat. Namun...

"Kecepatan penyebaran awan apa-apaan itu?!"

Awan menyebar jauh lebih cepat dari perkiraan, menyelimuti seluruh area di sekitar dengan awan hujan yang gelap gulita.

"Gawat. Angin ini... akan jadi badai!!"

Sesuai perkataan kapten, ombak perlahan-lahan meninggi dan kapal mulai berguncang.

"A-apakah badai memang datang secepat ini?!"

Liliera-san yang tidak punya pengalaman menghadapi badai berseru bingung, sementara Kapten menyangkalnya sambil berusaha menahan guncangan.

"T-tidak, ini pertama kalinya aku melihat badai seaneh ini. Ini tidak masuk akal!"

Kapal sudah dilanda guncangan yang cukup hebat, dan para bajak laut kesulitan bekerja di geladak yang terus bergoyang.

"Dalam situasi begini, untung saja aku sudah memasang penghalang pelindung angin di geladak untuk menahan tekanan angin."

Jika mereka juga terkena dampak angin dan hujan secara langsung, mungkin para bajak laut itu sudah terlempar ke laut sejak tadi.

Selain itu, modifikasi untuk meningkatkan kekuatan lambung kapal juga membuahkan hasil. Kita benar-benar tidak tahu apa yang akan berguna dalam hidup.

"Tuan-tuan, silakan kembali ke ruangan sebelum badainya semakin parah!" Kapten memperingatkan kami dengan wajah serius.

"Benar. Mari kita serahkan pada ahlinya dan tetap tenang di dalam."

"Baiklah."

Semua orang pun menurut dan masuk ke dalam kapal, sadar bahwa tidak ada yang bisa dilakukan jika lawannya adalah fenomena alam. Namun tepat saat itu, sebuah gelombang yang sangat besar menerjang, membuat kapal berguncang hebat.

"Uwah!"

"Kyaa?!"

Semua orang jatuh terguling karena guncangan yang tiba-tiba.

"Kalau tidak bisa melihat pemandangan di luar, kita tidak bisa mengantisipasi guncangan dari ombak yang menerjang ya."

Sepertinya memang lebih baik diam di dalam ruangan. Namun, keadaan tidak semudah itu, dan masalah baru pun muncul.

"Gawaaat! Guncangan tadi membuat dasar kapal berlubang!"

"Eeeh?!"

Gawat, kalau kapal berlubang, air akan masuk ke dalam!

"Bahaya! Kita harus segera membantu memperbaikinya!"

Begitu kami sampai di bagian dasar kapal, keadaannya sudah kacau balau. Sudah ada beberapa lubang di dasar kapal, dan meski para bajak laut berusaha keras memperbaikinya, mereka benar-benar kewalahan.

"Bagaimana ini, Kak Rex?!"

"Pertama-tama kita sumbat lubangnya dengan sihir! Freezing Cube!"

Aku membekukan air yang mengalir masuk dengan sihir pembeku.

"Begitu ya, mencegah air masuk dengan membekukan air laut! Kalau begitu kami juga bisa melakukannya!"

Melihat caraku, Liliera-san dan Mina-san ikut membekukan lubang-lubang lainnya dengan sihir es yang serupa.

"U-uuu..."

"Anda baik-baik saja? Wahai Tuhan, berikanlah mukjizat penyembuhan. Healing."

Norb-san merapalkan sihir pemulihan untuk mengobati bajak laut yang terluka.

"Te-terima kasih banyak."

"Ini hanya penyumbatan sementara, jadi tolong perbaiki mumpung masih sempat."

"Ba-baik!"

Tapi ini merepotkan. Meski aku sudah meningkatkan kekuatannya saat memodifikasi lambung kapal, bahan aslinya memang kurang kuat, ditambah lagi kapal ini sendiri pembuatannya tidak terlalu bagus. Tergantung kekuatan badainya, kapal ini mungkin tidak akan bertahan.

"Hiiiii!! Dindingnya—!"

"Uwaaa! Di sini juga berlubang!"

Bahaya, sepertinya masalah juga muncul di tempat lain.

"Kalau tidak melindungi kapal dari ombak, kita tidak akan bisa memperbaikinya."

Aku segera keluar ke geladak untuk memastikan situasi di sekitar. Badai sudah menjadi sangat kuat, dan para bajak laut berpegangan pada apa saja agar tidak terlempar dari kapal.

"T-Tuan! Bahaya, silakan kembali ke dalam!"

Kapten berteriak kepadaku agar kembali sambil berpegangan pada tali yang terikat di tiang layar. Dengan kondisi geladak seperti ini, sepertinya mustahil untuk mengemudikan kapal.

"Aku akan melindungi kapal dari ombak! Float Field!"

Begitu aku mengaktifkan sihir, guncangan kapal mulai mereda.

"A-apa ini? Guncangannya berhenti?"

"O-oi lihat! Kapalnya melayang!"

""""Apa-apaan itu?!""""

Sadar bahwa kapal mereka melayang, para bajak laut segera melihat ke permukaan laut dari pinggir kapal.

"B-benar. Kapalnya melayang... bagaimana bisa begini?"

"Jangan-jangan ini juga perbuatan Tuan?"

Kapten yang menyadari bahwa aku yang melakukannya bertanya dengan nada ragu.

"Ya. Karena aku sudah membuat kapal ini melayang dengan sihir, tolong perbaiki kapalnya selagi sempat."

"S-serius Tuan yang melakukannya?!"

"He-hebat, bisa membuat kapal melayang di udara..."

"Tidak bisa dipercaya..."

Para bajak laut menatapku dengan terpana, tapi aku tidak bisa membiarkan mereka terus begitu.

"Ayo, cepat perbaiki mumpung sempat!"

"Si-siap! Oi, kalian! Segera perbaiki kapalnya!"

""""Siap, Kapten!!""""

Lalu saat para bajak laut pergi memperbaiki kapal, Liliera-san dan yang lainnya muncul secara bergantian.

"Rex-san! Pertolongan pertama di bawah sudah selesai!"

"Kerja bagus semuanya."

"Omong-omong, kenapa guncangannya tiba-tiba hilang? Apa badainya sudah selesai?"

"Tidak, angin dan hujannya masih kuat. Saat ini aku sedang membuat kapal melayang dengan sihir supaya bisa diperbaiki."

"Melayang? ...Ah, benar juga. Melayang."

"Aku sudah mulai terbiasa menerima fakta kapal ini melayang, tapi kau benar-benar melakukan hal yang tidak masuk akal lagi ya."

"Bukannya memodifikasi dengan barang sihir agar bisa terbang, tapi murni menggunakan mana pribadi untuk membuat benda sebesar ini melayang... Sihir Rex memang luar biasa."

"Tidak, ini cuma masalah kecocokan formula sihir saja. Float Field ini membuat efek gravitasi pada benda apa pun di dalam ruang lingkupnya menjadi hampir nol. Kegunaannya adalah sihir transportasi khusus saat kendaraan besar rusak di tempat yang tidak memiliki fasilitas perbaikan."

"Aku baru pertama kali mendengar sihir seperti itu."

Bagaimanapun juga, pertama-tama kita harus menunggu sampai perbaikan kapal selesai. Karena Float Field bukanlah sihir untuk berpindah tempat.

"Selagi sempat, aku juga harus memasang fungsi terbang pada kapal ini agar bisa menghindari dampak ombak."

"Uwaaaaaaaa!!"

Tepat saat itu. Para bajak laut yang sedang bekerja memperbaiki di geladak berteriak histeris sambil menunjuk ke arah belakang.

"A-apa itu?!"

Itu adalah gelombang raksasa. Gelombang setinggi puluhan meter menerjang ke arah kami yang sedang melayang di udara.

"Kh! Avoid!"

Meski berhasil menghindari ombak raksasa itu, gelombang-gelombang besar lainnya terus menyerang bertubi-tubi. Semua ombak raksasa itu memiliki ukuran yang sanggup mencapai kapal yang melayang ini.

Namun, mengalihkan perhatian pada ombak raksasa itu adalah kesalahan. Gelombang tinggi yang tersembunyi di balik ombak raksasa menghantam dasar kapal, membuat kapal berguncang hebat.

""""Uwaaaaaa!!""""

Dan malangnya, para bajak laut yang sedang bekerja di geladak terjatuh ke laut.

"Bahaya!"

Gawat! Aku harus menolong orang-orang yang jatuh itu! Tapi kalau aku pergi menolong mereka, efek Float Field akan terputus!

Sepertinya gelombang tinggi tadi membuat dasar kapal berlubang lagi, terdengar suara teriakan dari dalam kapal. Dalam kondisi begini, aku tidak bisa membiarkan kapal kembali ke permukaan laut! Kh, apa yang harus kulakukan?!

"Serahkan ini pada kami!"

Tepat di saat kritis itu, Liliera-san dan yang lainnya melompat ke laut.

"Semuanya?!"

"Kami yang akan menolong mereka, Rex-san urus kapalnya!"

"Tapi!"

"Kami juga bisa melakukannya, Kak! Percayalah pada kami!"

Sambil berkata begitu, mereka semua memacu kecepatan dengan sihir terbang untuk menyelamatkan para bajak laut yang terjatuh.

"Baiklah! Aku serahkan pada kalian! Tapi jika terjadi sesuatu, gunakan fungsi pernapasan bawah air yang ada di baju renang kalian! Lalu di dalam air, lemaskan tubuh dan bergeraklah ke arah permukaan!"

Aku meningkatkan volume suaraku dengan sihir pengeras suara agar nasihatku sampai kepada mereka yang sedang terpapar badai.

"Di-men...!"

Suara dari Liliera-san dan yang lainnya terdengar samar, membuatku khawatir apakah suaraku benar-benar sampai, tapi kalau mereka pasti akan baik-baik saja!

"Aku serahkan pada kalian!"

Aku pun bergegas merakit dan memasang barang sihir untuk membuat kapal ini bisa terbang, sembari terus melindungi kapal dari gempuran ombak raksasa yang mendekat.

"Fuu, sepertinya kita berhasil melewati badai."

Setelah itu, aku yang berhasil menyelesaikan alat terbang darurat segera menyerahkan kemudi pada para bajak laut, lalu menuju daratan sambil meledakkan ombak-ombak besar yang menghalangi jalan kapal dengan sihir.

Lalu, saat pantai sudah mendekat, badai tiba-tiba berhenti.

"Tapi sebenarnya apa sih badai tadi itu?"

Begitu mendarat di permukaan air di dekat pantai, kami menurunkan sauh dan berhenti sejenak. Meski para bajak laut sudah melakukan pertolongan pertama, aku harus memeriksa kondisi kapal secara menyeluruh sekali lagi.

"Nah, sebelum ke pelabuhan mari kita perbaiki kapalnya... eh?"

Saat aku menoleh, entah kenapa para bajak laut itu bersujud (dogeza) ke arahku.

"Eh? Ada apa?"

""""Terima kasih banyak, wahai Dewa Laut!!!""""

"Hah?"

Dewa Laut? Siapa?

"Melindungi kami dari badai seperti mimpi buruk itu, lalu terbang di langit hingga sampai di daratan dengan selamat, hal semacam itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia biasa! Anda pastilah Dewa Laut yang menguasai samudra ini, tidak salah lagi!"

Eh? Eeeeeeh?! Apa-apaan sih orang-orang ini?!

"Anda datang untuk memberikan hukuman sekaligus penyelamatan bagi kami yang telah merendahkan diri menjadi bajak laut, bukan?"

Kapten, tidak, seluruh bajak laut menatapku dengan mata yang berbinar-binar.

"Eh? Bukan, itu sa—"

"Badai tadi pastilah kemarahan Anda kepada kami yang telah mengotori laut, kan? Seharusnya kami sudah menjadi buih di lautan. Namun Anda memberikan kami kesempatan kedua. Karena di tengah badai tadi kami benar-benar menyesali kejahatan kami dan bertobat, Anda pun menyelamatkan nyawa kami!"

""""Kami benar-benar sudah bertobat!! Kami tidak akan berbuat jahat lagi!!""""

Tidak, tidak, tidak. Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ini benar-benar salah paham total?!

"Dan orang-orang yang menyelam ke laut badai demi menolong rekan kami... mereka adalah pengikut Anda, para Pelayan Dewa, bukan?!"

"Bukan, tahu?!"

Gawat, kalau begini terus kesalahpahaman mereka akan semakin menjadi-jadi. Aku harus segera membuat mereka paham kalau mereka salah!

"Benar-benar bukan begitu! Kami ini cuma petualang biasa!"

"Baik! Agar Dewa Laut bisa beraktivitas dengan mudah di daratan, kami akan bersikap seolah-olah memang begitu!"

Sia-sia! Sama sekali tidak sampai!

"Dengar kalian semua! Supaya tidak merepotkan Dewa Laut, kita harus berpura-pura tidak tahu apa-apa!"

""""Siap, Kapten!!""""

Uwaaa, bagaimana ini. Kapten dan yang lainnya malah memperparah kesalahpahaman dan menafsirkan kata-kataku dengan cara yang aneh.

Jika mereka tidak menyebarkan salah paham yang aneh, mungkin lebih baik aku diam saja?

"Lagi pula masalah utamanya adalah Liliera-san dan yang lainnya."

Setelah melewati badai, aku sudah mencoba melihat ke sekeliling dari atas langit. Namun, rupa mereka tidak ditemukan di mana pun.

Yah, karena mereka mengenakan baju renang khusus dengan fungsi pernapasan bawah air dan ketahanan tekanan air yang pernah kuberikan saat penyelidikan Megalo Whale di negara pesisir dulu, kurasa mereka tidak akan tenggelam, tapi...

"Dipikirkan lebih jauh pun tidak ada gunanya. Mari percaya bahwa mereka selamat, dan sekarang fokus memperbaiki kapal! Agar tetap aman jika terjebak badai seperti itu lagi, aku harus membuat alat terbangnya menjadi lebih permanen."

Terlepas dari apa pun yang terjadi, beginilah cara aku dan para bajak laut berhasil mendarat di Negeri Timur.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close