NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 17

Chapter 154

Kuil Penyegelan


Rex

"Bangunan yang sangat kuno, ya."

Saat kami mendekati bangunan yang berdiri di atas bukit kecil itu, detailnya mulai terlihat jelas.

"Ini bukan bangunan tempat tinggal manusia."

Jika harus dibilang, ini lebih mirip sebuah kuil untuk melakukan semacam upacara. Bangunan itu sudah mengalami kerusakan parah, tampak seolah bisa runtuh kapan saja.

Mungkin racun dari Tanah Pembusukan telah mempercepat pelapukan material bangunannya.

"Ayo kita masuk ke dalam."

"Iya."

Tepat saat kami mendekati bangunan tersebut...

"Hm?"

Kulitku merasakan sebuah sensasi janggal.

"Ini..."

"Ada apa, Rex?"

Kak Liliera yang melihat reaksiku bertanya apakah terjadi sesuatu.

"Tidak, bukan apa-apa..."

Ya, akan gawat jika dia menyadarinya. Sepertinya lebih baik aku tidak mengatakannya sekarang.

Bagian dalam bangunan itu sangat sederhana. Tidak ada perabot apa pun, hanya ada sebuah altar besar yang sudah bobrok.

"Sebenarnya itu apa ya?"

Kak Liliera juga tampak penasaran dengan altar yang bertakhta dengan mencolok di sana, ia memiringkan kepalanya.

Di atas altar berdiri sebuah piringan besar yang dipenuhi ukiran aksara rumit.

Jika aku menggambarkannya sebagai piring hiasan berukuran raksasa yang diletakkan di penyangga pajangan, mungkin akan lebih mudah dibayangkan.

"Hmm, sepertinya ini adalah semacam segel."

"Eh!? Kamu tahu hanya dengan melihatnya saja!?"

"Iya, coba lihat tulisan yang terukir di altar ini."

"Eh? Ini tulisan!? Bukannya ini cuma pola hiasan!?"

Aku sedikit terkejut saat dia bilang tidak menyadari bahwa itu adalah aksara. Padahal Kak Liliera seharusnya bisa membaca tulisan yang tertempel di papan permintaan Guild Petualang...

"Jangan-jangan ini yang namanya 'Aksara Kuno'? Aku baru pertama kali melihatnya..."

Ah, benar juga! Karena ini adalah aksara dari zamanku, bagi Kak Liliera ini dianggap sebagai aksara kuno! Bahaya, bahaya, aku hampir saja keceplosan.

"Anu... Kak Liliera, apa selama berpetualang sebelumnya Kakak tidak pernah punya kesempatan bersinggungan dengan aksara kuno?"

"Sayangnya tidak pernah. Aku aktif di sekitar Hutan Demon Beast demi mengobati penyakit orang-orang di kampung halamanku, jadi aku tidak pernah melakukan penjelajahan reruntuhan. Kalau boleh dibilang, paling hanya saat bertemu Penduduk Langit dan saat ikut membantu Rex di reruntuhan bawah tanah di dalam tambang. Yah, dalam kedua kasus itu aku tidak sempat berinteraksi dengan reruntuhannya sendiri."

Kalau dipikir-pikir benar juga. Saat masalah dengan Penduduk Langit, kami menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan bahan di Pulau Hutan atau berada di desa sebelah barat daripada di Kastil Langit yang merupakan reruntuhan itu.

Di reruntuhan bawah tanah dalam tambang pun, Kak Liliera dan yang lainnya bertugas menjaga perkemahan, jadi mereka tidak masuk ke ruang arsip reruntuhan.

"Kalau begitu, kapan-kapan mau pergi berpetualang ke reruntuhan kuno di suatu tempat?"

"Pfftt."

Tiba-tiba Kak Liliera tertawa, membuatku bingung.

"K-Kak Liliera?"

"Ma-maaf. Habisnya, itu kan reruntuhan kuno yang berbahaya, tapi kamu mengatakannya dengan nada santai seolah sedang mengajak kencan."

"Ke-kencan!? Ah, ti-tidak, aku tidak bermaksud begitu..."

"Aku tahu kok kalau Rex tidak bermaksud begitu. Tapi kamu mengatakannya benar-benar tanpa beban sih."

Aku kaget juga. Tidak kusangka penjelajahan reruntuhan kuno bisa dianggap seperti kencan.

"Fufu, kalau begitu penjelajahan Dungeon sepertinya menarik juga ya."

Penjelajahan Dungeon, ya. Itu tempat yang jarang kudatangi di kehidupanku yang sebelumnya.

Pada dasarnya tugas Pahlawan adalah membasmi Majin, jadi tempat-tempat yang tidak ada Majin-nya secara alami menjadi jauh dari jangkauanku.

"Meski begitu, segel ini sepertinya menjadi sedikit merepotkan."

"Merepotkan... apa mungkin ini penyebabnya?"

Kak Liliera menunjuk ke arah goresan miring besar pada piringan terukir formula sihir yang bertakhta di atas altar.

"Iya, ini jelas luka yang sengaja dibuat belakangan. Karena luka ini, segelnya melemah dan mempercepat perluasan Tanah Pembusukan. Konsentrasi racun yang sangat tinggi di titik pusat ini juga disebabkan oleh itu. Ditambah lagi, segelnya sendiri mengalami kerusakan cepat akibat efek sampingnya."

Entah siapa pun pelakunya, dia benar-benar merepotkan. Gara-gara ini, penduduk desa di sekitar sini jadi kesusahan.

"Bukankah itu gawat?"

"Sangat gawat. Jika dibiarkan, segelnya akan hancur total dan makhluk yang terkurung di dalamnya akan terbebas."

Walau begitu, dari kejadian-kejadian sejauh ini, aku sudah bisa menebak secara garis besar apa yang disegel di sini.

Namun yang membuatku penasaran adalah mengapa seseorang repot-repot menggunakan metode penyegelan yang rumit ini.

Apa mereka sengaja menyegelnya agar bisa dimanfaatkan untuk sesuatu?

Segel ini sepertinya tipe sekali pakai yang tidak bisa dilepas sampai hancur, jadi sepertinya bukan untuk digunakan kembali.

"Hei, apa yang akan terjadi jika segelnya hancur?"

Kak Liliera bertanya dengan cemas tentang apa yang akan terjadi jika segel itu pecah.

"Mari kita lihat... toksin yang selama ini terkonsentrasi di dalam oleh segel akan menyembur keluar sekaligus. Aku rasa seluruh monster beracun yang tinggal di Tanah Pembusukan akan mati seketika. Lalu, Tanah Pembusukan akan meluas dengan cepat dan area yang sangat luas akan tenggelam ke dalam rawa beracun."

"Bahkan monster beracun pun akan mati!?"

"Iya. Lebih jauh lagi, karena kota dan desa akan tertelan Tanah Pembusukan bahkan sebelum mereka sempat melarikan diri, banyak nyawa orang yang akan hilang."

"I-itu mengerikan!? Bahkan tidak ada waktu untuk lari..."

Wajah Kak Liliera menjadi pucat pasi saat mengetahui banyak nyawa akan hilang.

"Hei Rex, berapa lama lagi segelnya bisa bertahan? Kita harus segera kembali ke kota terdekat, minta tolong pada Guild Petualang untuk memerintahkan evakuasi! Kalau Guild, mereka bisa melaporkan situasi ini pada negara, dan karena Rex adalah petualang Rank S, kredibilitas informasinya akan jauh berbeda!"

Meskipun pucat karena membayangkan situasi terburuk, Kak Liliera segera mengusulkan langkah antisipasi. Kemampuan penilaian ini benar-benar mencerminkan petualang Rank A. Sayangnya, waktu yang tersedia tidak cukup untuk mengambil cara itu.

"Kak Liliera, maafkan aku, tapi tidak ada cukup waktu untuk mengevakuasi penduduk sekitar. Waktu sampai segelnya lepas tinggal kurang dari tiga hari lagi. Itu pun estimasi terlamanya."

"Secepat itu!? Ta-tapi, kalau kita suruh mereka segera lari dan membuang barang bawaan, setidaknya nyawa mereka bisa selamat!"

"Tidak, itu pun tetap tidak akan sempat. Mempertimbangkan usia segel dan konsentrasi racun di pusat ini, aku rasa dampak saat segel pecah akan mencapai ibu kota. Bahkan jika semua orang menaiki kereta kuda pun tidak akan sempat."

"I-itu tidak mungkin..."

"Karena itu, bagaimana kalau kita segel ulang saja dengan cepat?"

"...Mustahil, tidak ada cara lain selain menyegel ula—eh?"

Kak Liliera menatapku dengan mata melongo.

"Iya. Karena tidak mungkin untuk evakuasi sebelum segel hancur, kupikir lebih baik kita segel ulang dulu baru kemudian menangani masalahnya pelan-pelan."

"Bukan itu, maksudku... apa menyegel ulang itu memangnya bisa!?"

"Iya, bisa kok."

"Kenapa bisa!?"

"Apanya yang kenapa? Kalau aku membedah segel ini, aku bisa tahu segel macam apa yang digunakan."

"Kenapa kamu bisa tahu semudah itu!?"

"Siapa pun juga bisa tahu kalau bisa membaca bahasa kuno."

"Itu pasti bohooong!!!"

Padahal aku tidak bohong.

"Haaa... aku jadi merasa bodoh karena sudah berpikir serius soal apa yang terjadi saat segel pecah... Maksudku, kalau memang bisa disegel ulang, beritahu aku dari awal dong!"

"Ah— maaf. Soalnya tadi Kakak bertanya apa yang terjadi jika segelnya lepas, jadi kupikir Kakak sedang memikirkan cara menangani situasi setelah segelnya hancur."

"Jadi sejak awal premis kita sudah melenceng ya. Lain kali, aku akan bertanya dulu apa Rex punya solusinya baru mulai berpikir."

"Ahaha... Kalau begitu, pertama-tama aku buat segel sementara dulu ya. Setelah itu baru aku buat segel ulang yang resmi."

"Sementara? Kenapa tidak langsung segel resmi?"

"Karena segel tua yang hampir rusak ini masih tersisa. Jika aku memasang segel baru dalam kondisi ini, ada risiko terjadi masalah nantinya. Jadi, aku buat segel buatan di luar dulu. Saat segel aslinya hancur, segel buatanku akan mengurung toksin yang menyembur beserta 'makhluk' yang tersegel di dalamnya. Baru setelah itu aku pasang segel permanen."

"Repot juga ya prosesnya."

"Sebagai gantinya, segel permanen yang baru akan kubuat sedemikian rupa agar segel baru bisa dipasang di atasnya tanpa harus dilepas terlebih dahulu."

"Begitu ya. Jadi kamu sengaja melakukan pekerjaan yang merepotkan ini agar orang-orang di masa depan tidak kesulitan."

Kak Liliera mengangguk tanda mengerti.

"Benar sekali!"

"...Hanya saja masalahnya, apakah orang-orang di masa depan nanti sanggup memahami segel buatan Rex?"

"Apa Kakak mengatakan sesuatu?"

"Tidak, bukan apa-apa."

"Kalau begitu, mari kita pasang segel sementaranya... Oh, tapi sebelum itu, bagaimana kalau kamu keluar sekarang saja?"

Aku memanggil seseorang yang sedang bersembunyi di dekat pintu keluar.

"Eh?"

Kak Liliera mengeluarkan suara kebingungan, seolah bertanya 'apa maksudmu?'.

"Ternyata kau menyadarinya ya..."

Bersamaan dengan bergandanya suara ketiga di dalam kuil kosong itu, sebuah bayangan muncul dari balik pilar di dekat pintu masuk.

"Mustahil!? Ada orang di tempat seperti ini!?"

Wajar saja Kak Liliera terkejut. Tempat ini adalah tanah terkutuk yang dipenuhi konsentrasi Shomadoku tingkat tinggi.

"Kak Liliera, ingatlah. Segel ini melemah karena dirusak oleh seseorang."

"Jadi dia pelakunya... ya?"

Kak Liliera bergumam dengan suara tegang saat melihat sosok pelaku yang muncul... atau setidaknya, dia tidak bisa menyelesaikan gumamannya.

Pasalnya, aku sendiri pun dibuat bingung melihat apa yang terjadi pada sang pelaku.

"Benar sekali. Akulah orang yang menghancurkan segel Tanah Pembusukan ini, geho! Goho! Gahoook!!"

Pelakunya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya dan terbatuk-batuk hebat. Ya, pelaku yang menampakkan diri itu... tidak, Majin itu, sedang berada di ambang kematian sambil menyemburkan darah dari sekujur tubuhnya.

"“...Kenapa pelakunya malah mau mati begitu!?”"

Apa yang sebenarnya terjadi di sini!?



Previouus Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close