Chapter 154
Kuil Penyegelan
◆ Rex ◆
"Bangunan
yang sangat kuno, ya."
Saat kami
mendekati bangunan yang berdiri di atas bukit kecil itu, detailnya mulai
terlihat jelas.
"Ini
bukan bangunan tempat tinggal manusia."
Jika
harus dibilang, ini lebih mirip sebuah kuil untuk melakukan semacam upacara. Bangunan itu sudah mengalami kerusakan
parah, tampak seolah bisa runtuh kapan saja.
Mungkin racun
dari Tanah Pembusukan telah mempercepat pelapukan material bangunannya.
"Ayo kita
masuk ke dalam."
"Iya."
Tepat saat kami
mendekati bangunan tersebut...
"Hm?"
Kulitku merasakan
sebuah sensasi janggal.
"Ini..."
"Ada apa,
Rex?"
Kak Liliera yang
melihat reaksiku bertanya apakah terjadi sesuatu.
"Tidak,
bukan apa-apa..."
Ya, akan gawat
jika dia menyadarinya. Sepertinya lebih baik aku tidak mengatakannya sekarang.
◆
Bagian dalam
bangunan itu sangat sederhana. Tidak ada perabot apa pun, hanya ada sebuah
altar besar yang sudah bobrok.
"Sebenarnya
itu apa ya?"
Kak Liliera juga
tampak penasaran dengan altar yang bertakhta dengan mencolok di sana, ia
memiringkan kepalanya.
Di atas altar
berdiri sebuah piringan besar yang dipenuhi ukiran aksara rumit.
Jika aku
menggambarkannya sebagai piring hiasan berukuran raksasa yang diletakkan di
penyangga pajangan, mungkin akan lebih mudah dibayangkan.
"Hmm,
sepertinya ini adalah semacam segel."
"Eh!? Kamu
tahu hanya dengan melihatnya saja!?"
"Iya, coba
lihat tulisan yang terukir di altar ini."
"Eh? Ini
tulisan!? Bukannya ini cuma pola hiasan!?"
Aku sedikit
terkejut saat dia bilang tidak menyadari bahwa itu adalah aksara. Padahal Kak
Liliera seharusnya bisa membaca tulisan yang tertempel di papan permintaan
Guild Petualang...
"Jangan-jangan
ini yang namanya 'Aksara Kuno'? Aku baru pertama kali melihatnya..."
Ah, benar juga!
Karena ini adalah aksara dari zamanku, bagi Kak Liliera ini dianggap sebagai
aksara kuno! Bahaya, bahaya, aku hampir saja keceplosan.
"Anu... Kak
Liliera, apa selama berpetualang sebelumnya Kakak tidak pernah punya kesempatan
bersinggungan dengan aksara kuno?"
"Sayangnya
tidak pernah. Aku aktif di sekitar Hutan Demon Beast demi mengobati penyakit
orang-orang di kampung halamanku, jadi aku tidak pernah melakukan penjelajahan
reruntuhan. Kalau boleh dibilang, paling hanya saat bertemu Penduduk Langit dan
saat ikut membantu Rex di reruntuhan bawah tanah di dalam tambang. Yah, dalam
kedua kasus itu aku tidak sempat berinteraksi dengan reruntuhannya
sendiri."
Kalau
dipikir-pikir benar juga. Saat masalah dengan Penduduk Langit, kami
menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan bahan di Pulau Hutan atau
berada di desa sebelah barat daripada di Kastil Langit yang merupakan
reruntuhan itu.
Di reruntuhan
bawah tanah dalam tambang pun, Kak Liliera dan yang lainnya bertugas menjaga
perkemahan, jadi mereka tidak masuk ke ruang arsip reruntuhan.
"Kalau
begitu, kapan-kapan mau pergi berpetualang ke reruntuhan kuno di suatu
tempat?"
"Pfftt."
Tiba-tiba Kak
Liliera tertawa, membuatku bingung.
"K-Kak
Liliera?"
"Ma-maaf.
Habisnya, itu kan reruntuhan kuno yang berbahaya, tapi kamu mengatakannya
dengan nada santai seolah sedang mengajak kencan."
"Ke-kencan!?
Ah, ti-tidak, aku tidak bermaksud begitu..."
"Aku
tahu kok kalau Rex tidak bermaksud begitu. Tapi kamu mengatakannya benar-benar tanpa beban
sih."
Aku kaget juga.
Tidak kusangka penjelajahan reruntuhan kuno bisa dianggap seperti kencan.
"Fufu, kalau
begitu penjelajahan Dungeon sepertinya menarik juga ya."
Penjelajahan Dungeon,
ya. Itu tempat yang jarang kudatangi di kehidupanku yang sebelumnya.
Pada dasarnya
tugas Pahlawan adalah membasmi Majin, jadi tempat-tempat yang tidak ada Majin-nya
secara alami menjadi jauh dari jangkauanku.
"Meski
begitu, segel ini sepertinya menjadi sedikit merepotkan."
"Merepotkan...
apa mungkin ini penyebabnya?"
Kak Liliera
menunjuk ke arah goresan miring besar pada piringan terukir formula sihir yang
bertakhta di atas altar.
"Iya, ini
jelas luka yang sengaja dibuat belakangan. Karena luka ini, segelnya melemah
dan mempercepat perluasan Tanah Pembusukan. Konsentrasi racun yang sangat
tinggi di titik pusat ini juga disebabkan oleh itu. Ditambah lagi, segelnya
sendiri mengalami kerusakan cepat akibat efek sampingnya."
Entah siapa pun
pelakunya, dia benar-benar merepotkan. Gara-gara ini, penduduk desa di sekitar
sini jadi kesusahan.
"Bukankah
itu gawat?"
"Sangat
gawat. Jika dibiarkan, segelnya akan hancur total dan makhluk yang terkurung di
dalamnya akan terbebas."
Walau begitu,
dari kejadian-kejadian sejauh ini, aku sudah bisa menebak secara garis besar
apa yang disegel di sini.
Namun yang
membuatku penasaran adalah mengapa seseorang repot-repot menggunakan metode
penyegelan yang rumit ini.
Apa mereka
sengaja menyegelnya agar bisa dimanfaatkan untuk sesuatu?
Segel ini
sepertinya tipe sekali pakai yang tidak bisa dilepas sampai hancur, jadi
sepertinya bukan untuk digunakan kembali.
"Hei, apa
yang akan terjadi jika segelnya hancur?"
Kak Liliera
bertanya dengan cemas tentang apa yang akan terjadi jika segel itu pecah.
"Mari kita
lihat... toksin yang selama ini terkonsentrasi di dalam oleh segel akan
menyembur keluar sekaligus. Aku rasa seluruh monster beracun yang tinggal di
Tanah Pembusukan akan mati seketika. Lalu, Tanah Pembusukan akan meluas dengan
cepat dan area yang sangat luas akan tenggelam ke dalam rawa beracun."
"Bahkan
monster beracun pun akan mati!?"
"Iya. Lebih
jauh lagi, karena kota dan desa akan tertelan Tanah Pembusukan bahkan sebelum
mereka sempat melarikan diri, banyak nyawa orang yang akan hilang."
"I-itu
mengerikan!? Bahkan tidak ada waktu untuk lari..."
Wajah Kak
Liliera menjadi pucat pasi saat mengetahui banyak nyawa akan hilang.
"Hei Rex,
berapa lama lagi segelnya bisa bertahan? Kita harus segera kembali ke kota
terdekat, minta tolong pada Guild Petualang untuk memerintahkan evakuasi! Kalau
Guild, mereka bisa melaporkan situasi ini pada negara, dan karena Rex adalah
petualang Rank S, kredibilitas informasinya akan jauh berbeda!"
Meskipun pucat
karena membayangkan situasi terburuk, Kak Liliera segera mengusulkan langkah
antisipasi. Kemampuan penilaian ini benar-benar mencerminkan petualang Rank A.
Sayangnya, waktu yang tersedia tidak cukup untuk mengambil cara itu.
"Kak
Liliera, maafkan aku, tapi tidak ada cukup waktu untuk mengevakuasi penduduk
sekitar. Waktu sampai segelnya lepas tinggal kurang dari tiga hari lagi. Itu
pun estimasi terlamanya."
"Secepat
itu!? Ta-tapi, kalau kita suruh mereka segera lari dan membuang barang bawaan,
setidaknya nyawa mereka bisa selamat!"
"Tidak, itu
pun tetap tidak akan sempat. Mempertimbangkan usia segel dan konsentrasi racun
di pusat ini, aku rasa dampak saat segel pecah akan mencapai ibu kota. Bahkan
jika semua orang menaiki kereta kuda pun tidak akan sempat."
"I-itu tidak
mungkin..."
"Karena itu,
bagaimana kalau kita segel ulang saja dengan cepat?"
"...Mustahil,
tidak ada cara lain selain menyegel ula—eh?"
Kak Liliera
menatapku dengan mata melongo.
"Iya. Karena
tidak mungkin untuk evakuasi sebelum segel hancur, kupikir lebih baik kita
segel ulang dulu baru kemudian menangani masalahnya pelan-pelan."
"Bukan itu,
maksudku... apa menyegel ulang itu memangnya bisa!?"
"Iya, bisa
kok."
"Kenapa
bisa!?"
"Apanya yang
kenapa? Kalau aku membedah segel ini, aku bisa tahu segel macam apa yang
digunakan."
"Kenapa kamu
bisa tahu semudah itu!?"
"Siapa pun
juga bisa tahu kalau bisa membaca bahasa kuno."
"Itu pasti
bohooong!!!"
Padahal aku tidak
bohong.
"Haaa... aku
jadi merasa bodoh karena sudah berpikir serius soal apa yang terjadi saat segel
pecah... Maksudku, kalau memang bisa disegel ulang, beritahu aku dari awal
dong!"
"Ah— maaf.
Soalnya tadi Kakak bertanya apa yang terjadi jika segelnya lepas, jadi kupikir
Kakak sedang memikirkan cara menangani situasi setelah segelnya hancur."
"Jadi sejak
awal premis kita sudah melenceng ya. Lain kali, aku akan bertanya dulu apa Rex
punya solusinya baru mulai berpikir."
"Ahaha...
Kalau begitu, pertama-tama aku buat segel sementara dulu ya. Setelah itu baru aku buat segel
ulang yang resmi."
"Sementara?
Kenapa tidak langsung segel resmi?"
"Karena
segel tua yang hampir rusak ini masih tersisa. Jika aku memasang segel baru
dalam kondisi ini, ada risiko terjadi masalah nantinya. Jadi, aku buat segel
buatan di luar dulu. Saat segel aslinya hancur, segel buatanku akan mengurung
toksin yang menyembur beserta 'makhluk' yang tersegel di dalamnya. Baru setelah
itu aku pasang segel permanen."
"Repot
juga ya prosesnya."
"Sebagai
gantinya, segel permanen yang baru akan kubuat sedemikian rupa agar segel baru
bisa dipasang di atasnya tanpa harus dilepas terlebih dahulu."
"Begitu
ya. Jadi kamu sengaja melakukan pekerjaan yang merepotkan ini agar orang-orang
di masa depan tidak kesulitan."
Kak
Liliera mengangguk tanda mengerti.
"Benar
sekali!"
"...Hanya
saja masalahnya, apakah orang-orang di masa depan nanti sanggup memahami segel
buatan Rex?"
"Apa Kakak
mengatakan sesuatu?"
"Tidak,
bukan apa-apa."
"Kalau
begitu, mari kita pasang segel sementaranya... Oh, tapi sebelum itu, bagaimana
kalau kamu keluar sekarang saja?"
Aku memanggil
seseorang yang sedang bersembunyi di dekat pintu keluar.
"Eh?"
Kak Liliera
mengeluarkan suara kebingungan, seolah bertanya 'apa maksudmu?'.
"Ternyata
kau menyadarinya ya..."
Bersamaan dengan
bergandanya suara ketiga di dalam kuil kosong itu, sebuah bayangan muncul dari
balik pilar di dekat pintu masuk.
"Mustahil!?
Ada orang di tempat seperti ini!?"
Wajar saja Kak
Liliera terkejut. Tempat ini adalah tanah terkutuk yang dipenuhi konsentrasi
Shomadoku tingkat tinggi.
"Kak
Liliera, ingatlah. Segel ini melemah karena dirusak oleh seseorang."
"Jadi dia
pelakunya... ya?"
Kak Liliera
bergumam dengan suara tegang saat melihat sosok pelaku yang muncul... atau
setidaknya, dia tidak bisa menyelesaikan gumamannya.
Pasalnya, aku
sendiri pun dibuat bingung melihat apa yang terjadi pada sang pelaku.
"Benar
sekali. Akulah orang yang menghancurkan segel Tanah Pembusukan ini, geho! Goho!
Gahoook!!"
Pelakunya tidak
bisa menyelesaikan kalimatnya dan terbatuk-batuk hebat. Ya, pelaku yang
menampakkan diri itu... tidak, Majin itu, sedang berada di ambang
kematian sambil menyemburkan darah dari sekujur tubuhnya.
"“...Kenapa
pelakunya malah mau mati begitu!?”"
Apa yang sebenarnya terjadi di sini!?



Post a Comment