NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 23

Chapter 202

Selamat Tinggal Negeri Ujung Timur, dan Pemandangan Seperti Biasanya


Haruomi

"Dengan ini, upacara suksesi Shogun bagi Naren Yukinojo dimulai."

Di tengah suasana yang khidmat, upacara penobatan Shogun dilaksanakan. Sosok yang memimpin upacara adalah Sang Kaisar yang datang langsung dari desa para pendeta. Dan orang yang menerima gelar itu adalah adikku, Yukinojo.

"Mulai hari ini, kau akan dikenal dengan nama Naren Tojin."

"Siap, Yang Mulia!"

Yukinojo menerima nama 'Tojin', yang menggunakan kanji musim dingin (Fuyu), dari Kaisar.

Seharusnya nama ini diberikan saat upacara kedewasaan, namun karena gangguan sihir Majin yang membuat lautan mengamuk, para penguasa wilayah dari berbagai penjuru tidak bisa hadir, sehingga upacara itu terus tertunda.

Namun, setelah sang Majin ditumpas, masalah tersebut teratasi. Upacara suksesi pun dilaksanakan bersamaan dengan upacara pemakaman mendiang Shogun sebelumnya.

"Tojin, bekerjalah demi negeri ini bersama kakakmu, Shun’ou."

"Siap, Yang Mulia!"

Mendengar titah Kaisar, mata para menteri di sekeliling tertuju padaku.

Namun, itu bukan tatapan terhadap seorang pemberontak yang membunuh Shogun dan bersekutu dengan Majin.

Melainkan tatapan penuh kebingungan dan rasa ingin tahu terhadap keturunan keluarga Togo yang ternyata masih hidup.

Setelah kejadian itu, dosaku yang membunuh ayah dimaafkan oleh Yukinojo dan Kaisar.

Alasannya karena alasan di balik pembunuhan itu adalah hasil manipulasi jahat sang Majin.

Sang Kaisar sendiri tampaknya merasa berutang budi karena pemusnahan keluarga Togo di masa lalu.

Seluruh tanggung jawab dilimpahkan kepada para Majin yang sudah mati. Yah, meskipun mereka memang penyebab utamanya, sih.

Tetap saja, fakta bahwa aku membunuh ayahku dan bahkan berniat melenyapkan adikku sendiri adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Aku tidak berniat lari dari dosa itu. Namun, adikku berkata:

"Jika kau merasa perbuatanmu adalah dosa, maka tebuslah kekacauan yang kau buat di dunia ini dengan menjadi kekuatanku."

Benar-benar adik yang terlalu lembut. Tapi, justru karena itulah aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Adik yang payah, kakak yang juga payah, begitulah kami.

Akhirnya, skenario resmi dibuat bahwa aku sebenarnya dilindungi oleh mendiang Shogun yang menyadari adanya konspirasi di balik pengkhianatan keluarga Togo.

Aku dianggap membuang nama keluarga Shogun dan mengabdikan diri dalam penyamaran demi mencari pelaku aslinya.

Sebagai buktinya, aku menyerahkan informasi kepada Bakufu mengenai para penguasa wilayah dan pedagang besar yang diam-diam bekerja sama dengan sang Majin.

Para menteri pun terpaksa menerima keaslian aktivitasku karena mereka sendiri mendapat keuntungan dengan berkurangnya lawan politik mereka.

Bagaimanapun, berkat upaya adikku dan Kaisar, aku kini dianggap sebagai pahlawan yang menumpas Majin bersama calon Shogun, dan keluarga Togo pun mendapatkan kembali nama baiknya.

Aku diizinkan kembali menyandang nama Shun’ou sebagai anggota keluarga Shogun.

Namun, karena posisi Shogun sudah dipastikan untuk adikku, aku akan menjadi kepala keluarga Togo yang telah dibangkitkan kembali demi menghindari konflik suksesi.

Meski begitu, wilayah keluarga Togo saat ini masih digabungkan dengan wilayah lain dan hartanya telah disita, sehingga mustahil untuk mengembalikan semuanya sekarang.

Sebagai gantinya, aku diberi jabatan sebagai Penasihat Terdekat Shogun.

Karena perlakuan yang terlalu istimewa ini, orang-orang bermulut tajam berbisik bahwa ini semua memang sudah direncanakan sejak awal.

Padahal kenyataannya, ini hanyalah keegoisan adikku yang ingin aku membantunya bekerja.

Pada akhirnya, apa yang kulakukan tidak jauh berbeda dengan saat sebelum Yukinojo dinobatkan menjadi Shogun.

Tapi yah, ini masa depan yang sedikit lebih baik daripada merampas takhta dengan mengotori tangan dengan darah saudara sendiri.

"Dia adik yang merepotkan, tapi aku akan menjaganya menggantikanmu, Ayah."

"Ini barang-barang yang Anda pesan."

Setelah penobatan Yukinojo-san selesai tanpa hambatan, kami kembali ke Toko Echigoya. Seibei-san memberi tahu bahwa barang pesanan kami baru saja tiba.

"Luar biasa, berkat pengumuman dari pemerintah bahwa sudah tidak ada lagi badai yang perlu dikhawatirkan, kapal-kapal akhirnya mulai berdatangan ke pelabuhan," ujar Seibei-san dengan suara riang saat kami memeriksa muatan tersebut.

Sepertinya setelah menumpas Volcanic Turtle yang menjadi penyebab bencana, badai di lautan pun benar-benar sudah mereda.

"Baiklah, karena barang-barang sudah kami terima, kami akan segera pulang ke negara kami."

"Eh? Tapi saat ini belum ada jadwal kapal yang menuju benua utama. Meskipun badai sudah reda, para pelaut tidak akan berani melakukan pelayaran jarak jauh sebelum benar-benar dipastikan aman. Untuk sementara mereka hanya akan berlayar di sekitar perairan sini saja," jelas Seibei-san mengenai situasi para pelaut.

"Ah, kalau itu tidak apa-apa. Kami punya cara sendiri untuk pulang."

"Apa!? Apakah Anda sudah membuat janji dengan pelaut dari tempat lain!?"

"Ahaha, yah, bisa dibilang begitu."

Setelah menyimpan semua barang ke dalam tas sihir, aku keluar dari toko untuk berkumpul dengan yang lainnya yang sudah menunggu di luar.

"Lho?"

Begitu keluar, aku melihat situasi yang agak aneh. Sebabnya adalah...

"Begitu ya, jadi kau akan segera pulang, Mina."

"Iya, urusanku sudah selesai di sini."

Ternyata Yukinojo-san ada di sana. Bersama dengan rombongan pengawal yang sangat banyak.

"He-hei. Bukankah panji yang dibawa oleh para pengawal samurai itu adalah lambang keluarga Shogun?"

"I-iya, benar. Berarti orang itu adalah Tuan Shogun yang baru!?"

"Hiiiiiiiiii!!"

Orang-orang di sekitar yang tadinya menonton dari jauh langsung sujud tersungkur ke tanah dengan panik.

"Sudah, sudah. Hari ini aku datang dalam penyamaran. Santai saja."

Penyamaran katamu? Dengan pakaian yang jelas-jelas terlihat seperti bangsawan dan membawa begitu banyak pengawal, itu sama sekali tidak meyakinkan...

"Hei kau, membawa pengawal sebanyak ini bukannya malah membuat identitasmu terbongkar?"

"Hiiiiii!?"

Orang-orang di sekitar menjerit ketakutan mendengar ucapan tidak sopan Mina-san.

"Hm? Ah, itu tidak bisa dihindari. Begitu aku bilang mau keluar, mereka langsung mengekor dan bilang kalau Shogun butuh pengawalan. Padahal bagiku dikawal Kakak saja sudah cukup."

"Tidak, tidak, tidak. Tidak bisa begitu."

Haruomi-san... bukan, Shun’ou-san, menyahut dengan nada pahit.

"Anda adalah pemimpin Amamine. Jumlah pengawal haruslah sesuai dengan kedudukan Anda."

"Kakak kaku sekali. Yah, begitulah situasinya. Lebih dari itu, Mina. Tidakkah kau mau tinggal lebih lama lagi? Bagiku, kalian adalah penyelamat negara dan keluargaku, aku ingin menjamu kalian atas nama seluruh negeri."

"Itu bukan gayaku. Lagipula kami datang ke sini untuk bekerja. Kami punya tanggung jawab untuk menyerahkan barang pesanan ini."

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku memerintahkan bawahanku untuk mengantarkannya?"

"Jangan bicara sembarangan!"

"Tidak boleh, ya?"

"Tentu saja tidak boleh!"

Saat dimarahi Mina-san, Yukinojo-san mengangkat bahunya dengan kecewa. Tapi ekspresinya tidak terlihat seperti orang yang benar-benar merasa menyesal.

"Ternyata aku memang tidak punya kesempatan, ya... Hei, Mina."

"Apa?"

"Apa hubunganmu dengan Jairo yang di sana itu?"

"He!? A-apa-apaan tiba-tiba tanya begitu!?"

"Hm? Ada apa denganku?" sahut Jairo.

"Umu, dari reaksimu saja aku sudah paham."

Melihat Mina-san yang terkejut karena pertanyaan tiba-tiba itu, Yukinojo-san tertawa kecil seolah sudah merasa puas.

"Kalau begitu, aku akan menyerah sebelum aku semakin mempermalukan diri sendiri."

"Apa-apaan sih kalian ini! Jangan menyimpulkan sendiri dong!"

"Tapi Mina."

"Apa lagi?"

"Jika kau sudah lelah dengannya, datanglah kepadaku. Aku akan mengosongkan posisi permaisuri untukmu, jadi kau bisa menjadi selirku kapan saja."

"APA-APAAAAAAN!?"

Mendengar pernyataan bombastis Yukinojo-san, bukan hanya Mina-san, tapi orang-orang di sekitar pun berteriak kaget.

"Eh!? Eeee!? Tuan Shogun suka pada gadis itu!?"

"A-apakah itu benar, Tuanku!?"

"Ya ampun, kau ini! Padahal baru saja jadi Shogun tapi tingkahmu masih begini!"

Di tengah kegaduhan itu, hanya Shun’ou-san sendiri yang memegang kepalanya sambil menghela napas panjang.

"E-eh, bagaimana ya ini?"

"Sepertinya lebih baik kita segera pulang saja," saran Liliera-san.

Aku berkonsultasi dengan Liliera-san, namun dia hanya mengangkat bahu seolah tidak mau ikut campur. Hmm, benar juga, kami sudah menerima barang pesanannya.

Tepat saat aku memikirkan itu, kekacauan lain muncul.

"Ketemu! Jairo-samaaa!"

"Jairo-saaan! Sesuai janji, aku datang untuk memasakkan makanan enak untukmuuu!"

"Jairo-sama! Aku sudah membujuk orang tuaku! Tolong jadikan aku istrimu!"

Tiba-tiba, puluhan gadis berlari mendekat sambil meneriakkan nama Jairo-kun.

"Uwek!? Kalian kenapa bisa di sini!?"

Sepertinya mereka semua saling kenal, karena Jairo-kun langsung berteriak kaget.

"Aku benar-benar tidak bisa menyerah untuk mendapatkan Jairo-sama!"

"Benar! Makanya kami sudah memutuskan! Jika Jairo-san tidak bisa tinggal di kota ini, maka akulah yang akan pergi ke tempat Jairo-san!"

"Eh? Serius nih!?"

"Tunggu dulu Jairo, apa-apaan ini!?"

Saat Jairo-kun kebingungan, Mina-san dengan ekspresi wajah yang menyeramkan mencengkeram bahunya dan mulai menginterogasi.

"Bagaimana, Mina? Bukankah lebih baik kau memilihku saja?"

"Yuki, maksudku Tuanku, tolong berhenti ikut campur dalam keributan konyol ini."

Sekarang semuanya sudah campur aduk dan jalanan menjadi sangat ramai serta ricuh.

"Wah, ini jadi heboh sekali ya."

"Bukankah sebaiknya kita cepat-cepat pulang saja?"

Benar juga. Kalau terus di sini, sepertinya kami akan terseret dalam masalah baru lagi. Aku menyetujui usul Liliera-san dan memanggil semuanya.

"O-oke semuanya! Ayo kita pulang!"

"O-oh!"

"Iya, iya."

"Eh? Ah, iya, aku mengerti."

"Wah, pulang dalam situasi begini bukannya malah bakal terlihat mencolok ya?"

"Yah, mau bagaimana lagi, bukankah sudah biasa kalau ada seseorang yang terkejut dengan cara kita?"




"Kyuu!"

Tanpa perlu dikomando, semua orang segera berkumpul dengan sigap sebelum tergulung oleh gelombang lautan manusia di sekitar mereka.

Baiklah, saatnya mengaktifkan formula sihir teleportasi.

"Kalau begitu semuanya, selamat tinggal!"

"Sampai jumpa lagi—!"

Bersamaan dengan kata-kata itu, sihir Teleport diaktifkan, dan kami pun meninggalkan tanah Negeri Timur.


Yukinojo

"...... Ha?"

Seiring dengan kata-kata perpisahan itu, sosok Mina dan kawan-kawan menghilang. Seolah-olah sejak awal tidak pernah ada siapa pun di sana.

"MEREKA MENGHILAAAANG!?"

Di hadapan khalayak ramai, rakyat berteriak kaget melihat orang-orang yang tiba-tiba lenyap di depan mata mereka. Tidak, bukan hanya rakyat.

Aku, Kakak, dan para menteri pun serempak mengeluarkan suara terkejut. Tak peduli ke mana pun kami memandang, sosok Mina dan yang lainnya sudah tidak ada.

"S-sebenarnya mereka pergi ke mana!?"

Aku sempat mengira mereka terbang ke langit dengan sihir lagi, tapi di langit pun tidak ada jejak mereka. Mereka benar-benar telah menghilang tanpa bekas.

"...... J-jangan-jangan, sampai akhir pun mereka menghilang begitu saja. Apakah mereka itu benar-benar penduduk dunia ini?"

Aku merangkul Kakak yang tampak pening dan sempoyongan karena syok.

"Benar sekali. Sudah membuat orang terkejut berkali-kali, tapi di saat terakhir pun mereka masih saja ingin mengejutkan kita..."

Sejujurnya, aku pun masih belum bisa menghilangkan rasa kaget ini.

"Tapi, mungkin saja mereka memang bukan penduduk dunia ini."

"Apa maksudmu?"

"Mungkin saja, mereka adalah utusan para dewa yang dikirim khusus untuk melindungi tanah Amamine ini."

"Tidak, mana mungkin... mana mungkin begitu..."

Meskipun Kakak mencoba menyangkalnya, ia tampak tidak bisa sepenuhnya membantah kemungkinan itu. Melihat wajahnya yang bimbang, aku pun tersenyum.

"Hahaha, tidak masalah meski mereka bukan utusan dewa sekalipun. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang telah menyelamatkan aku dan Kakak."

"...... Benar...... juga ya."

Mendengar perkataanku, Kakak mengangguk sambil tersenyum kecut.

"Bagi kita, mana pun tidak ada bedanya...... ya."

Sambil memandangi keributan yang masih berlangsung di jalanan, aku dan Kakak tertawa kecil sambil menengadah ke arah langit.

Kelak, akibat keributan ini, Mina dan kawan-kawan mulai dipuja sebagai utusan dewa.

Di masyarakat luas, kisah petualangan kepahlawanan Jairo sang Pendekar Langit dan kisah cinta antara aku dengan sang bidadari Mina menjadi sangat populer.

Namun, untuk poin yang kedua, aku benar-benar merasa malu dan berharap mereka berhenti menyebarkannya.

Ah, tunggu dulu, Kakak! Apa kau baru saja membeli buku "Kisah Bidadari" yang baru lagi!? Berhenti membelinya setiap kali kau menemukannya, itu benar-benar memalukan!


???

"Kukuku, akhirnya saat yang dinanti tiba."

Senjata invasi yang telah kuperbaiki selama bertahun-tahun akhirnya bangkit kembali.

Memang ada masalah teknis dan kualitas material yang tersedia, sehingga senjata ini hanya bisa mengerahkan sekitar 30% dari performa aslinya, namun itu sudah lebih dari cukup untuk melumat manusia-manusia zaman sekarang.

"Satu-satunya kekhawatiran adalah para petualang peringkat S, namun mereka semua sudah termakan permintaan palsuku dan pergi jauh ke seberang lautan. Mustahil bagi mereka untuk kembali sekarang."

Ya, para petualang peringkat S yang merupakan variabel tak terduga yang bisa mengacaukan rencana telah terjebak dalam siasatku dan sedang menuju tanah yang jauh dari negara ini.

Di tempat di mana rekan-rekanku yang hilang dikabarkan menjalankan misi, sosok-sosok kuat yang dipanggil petualang peringkat S oleh manusia sempat terkonfirmasi kehadirannya.

Aku tidak percaya manusia bisa bertarung setara melawan kami, namun karena misi-misi sebelumnya gagal, itu berarti memang ada manusia yang memiliki kekuatan yang lumayan.

"Lagipula ada manusia yang memiliki magic item kuno. Pasti rekan-rekanku lengah dan terkena serangan kejutan."

Benar-benar rekan yang bodoh. Namun, sehebat apa pun kartu as mereka, jika mereka tidak ada di sini, mereka tidak akan bisa menggunakannya.

"Aku juga sudah memahami kemampuan militer manusia di negara ini, atau lebih tepatnya di era ini. Mereka tidak punya sarana untuk menghentikan senjata yang telah kubangkitkan."

Sempurna. Benar-benar sempurna!

"Kukukukuku, gemetarlah ketakutan wahai manusia! Mulai hari ini, era kalian berakhir, dan nama kami para Majin akan kembali mengukir teror di dunia ini!"

Demi mengukir ketakutan terdalam, aku mengirimkan deklarasi perang kepada petinggi negara menggunakan monster yang ditakuti manusia sebagai peringkat A. Berkat itu, istana manusia menjadi gempar. Padahal aku hanya mengirim surat lewat monster, lho.

Hahahaha! Saat senjata invasiku mendekati ibu kota, sekelompok pasukan yang terlihat kecil seperti semut mulai bergerak maju. Itulah ksatria para manusia.

Pasukan ksatria itu mencoba melakukan pencegatan menggunakan panah dan sihir terhadap senjata invasiku yang terbang di langit.

Namun, panah mereka tidak akan sampai ke ketinggian senjata ini terbang.

Sihir memang sampai, tapi sepertinya mereka sudah kehabisan tenaga hanya untuk mencapai ketinggian ini. Serangan mereka tidak sanggup menembus zirah kami.

"Hahahahaha! Sempurna!"

Melihat pemandangan yang begitu dominan, aku tidak bisa berhenti tertawa.

"Nah, kalau begitu, dimulai dari kalian dulu. Wahai manusia, apakah kalian akan tetap tenang saat ksatria yang menjadi tumpuan kalian ini musnah? Fuhahahaha, keluarkanlah jeritan yang akan mewarnai kehancuran umat manusia—"

Tiba-tiba saja, sebuah cahaya menyilaukan menembus tubuhku dari kejauhan.

"!?"

Begitu terkena cahaya itu, aku kehilangan kesadaranku, atau lebih tepatnya, kehilangan nyawaku untuk selamanya.

"Itu tadi sebenarnya benda apa ya? Benda itu memancarkan gelombang sihir ke mana-mana dan terasa berbahaya, jadi tanpa sadar aku menghancurkannya."

Setelah kembali ke rumah di ibu kota menggunakan gerbang teleportasi, kami langsung keluar untuk mengantarkan barang pesanan ke Guild Petualang...... tapi suasana kota terasa agak aneh. Karena penasaran, aku menggunakan sihir terbang untuk naik ke langit, lalu melihat sebuah magic item raksasa dengan bentuk aneh seolah sedang menyerang ke arah ibu kota?

Karena benda itu menyerang, tanpa sadar aku menangkisnya sambil memperkuat daya serangannya dan memantulkannya kembali.

Apakah tidak apa-apa aku menghancurkannya?

Kalau ada magic item sebesar itu menyerang, seharusnya pasukan ksatria atau penyihir istana sudah mencegatnya dari tadi, kan?

Jangan-jangan mereka sedang melakukan eksperimen?

Misalnya eksperimen penghalang pertahanan jenis baru untuk kota.

"Bukannya tidak apa-apa? Kita kan diserang duluan. Karena tiba-tiba diserang, tidak akan ada yang protes kalau kita membalasnya," ujar Jairo-kun.

"Hmm...... yah, benar juga sih."

Andaikata itu adalah eksperimen pertahanan negara, jika mereka melaporkan dengan jujur bahwa eksperimen mereka dihancurkan oleh petualang yang kebetulan lewat, pasti penanggung jawabnya akan dimarahi habis-habisan oleh atasannya, "Mana ada senjata yang bisa dilumpuhkan oleh warga sipil!".

Jadi, kemungkinan mereka juga akan diam saja.

Yah, di kehidupanku yang sebelumnya, banyak warga sipil—atau lebih tepatnya pendekar—yang bisa menghancurkan senjata militer, sehingga laporan pertanggungjawaban di departemen terkait biasanya menjadi sangat mengerikan.

Ya, aku bersyukur di kehidupan ini aku adalah seorang petualang.

Setelah merasa puas dengan penjelasan Jairo-kun, kami memutuskan untuk pura-pura tidak melihat apa pun dan pergi ke Guild Petualang.

"Baik, barang pesanannya sudah kami terima. Guild Petualang akan bertanggung jawab menyerahkannya kepada pemesan. Wah, kami benar-benar terbantu karena Rex-san yang mengerjakannya. Tidak disangka tugas ini bisa selesai secepat ini!"

Setelah melaporkan penyelesaian misi, resepsionis tersebut mengucapkan terima kasih dengan wajah gembira.

Hmm, kalau dipuji secara tulus begitu, aku juga ikut senang.

"Ahaha, kebetulan arah angin kapalnya sedang bagus saja, kok."

Ngomong-ngomong, di belakangku para staf lain sedang berteriak-teriak dengan wajah panik, "Musuh yang menyerang ibu kota dihancurkan oleh sesuatu!" atau "Cepat selidiki penyebabnya!", tapi sepertinya itu bukan urusanku, ya?

"Ini adalah imbalannya."

Setelah menerima imbalan, kami meninggalkan gedung Guild yang masih gaduh seperti diterjang badai.

"Akhirnya misi selesai juga ya."

"Karena tujuannya jauh, kali ini perjalanannya terasa panjang sekali," ujar Liliera-san.

Benar juga. Aku tidak menyangka akan terjebak badai, konflik suksesi takhta, hingga rencana jahat Majin.

"Yah, meskipun pulangnya cuma sekejap."

"Benar. Di jalan pulang sama sekali tidak terasa capeknya," timpal Jairo-kun.

Begitu penanda gerbang teleportasi sudah dipasang, perjalanan pulang memang cuma sekejap, sih.

"Tapi memang rasanya seperti benar-benar sudah pulang saat melihat ibu kota kembali," Norb-san tersenyum lembut, seolah merasa tenang melihat pemandangan kota yang sudah biasa ia lihat.

"Aku setuju. Terutama makanannya. Makanan di sana enak sih, tapi aku tetap ingin makan makanan dengan rasa yang sudah biasa kumakan," Jairo-kun berseru sambil mengelus perutnya, seolah-olah sudah lapar.

Padahal seingatku belum lama sejak kami sarapan.

"Aku mau beli macam-macam di kedai pinggir jalan!"

"Ide bagus, kan?"

"Baiklah, kalau begitu makan siang hari ini kita beli dari kedai-kedai saja!"

"SETUJUUUUU!"

Demikianlah, perjalanan ke Negeri Timur berakhir. Namun, ada satu hal aneh yang terjadi.

Barang pesanan yang kami titipkan di Guild Petualang itu, entah mengapa hingga waktu yang lama tidak pernah ada pemesan yang datang untuk mengambilnya.

Akibatnya, barang itu terus tersimpan di gudang Guild menunggu pemiliknya, dan kelak dikenal sebagai salah satu dari Tujuh Misteri Guild Petualang.....



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close