NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 9

Chapter 188

Permintaan Ulang Sang Tuan Muda


Yukitaka

Setelah berpisah... setelah berpisah dengan Mina, aku melangkah masuk ke dalam kediaman Pamanku.

Saat itu juga, aku melihat sosok berambut putih yang sangat kukenali di pintu masuk.

"Selamat datang kembali, Tuan Yukiyunojo."

"Ooh, sudah lama tidak bertemu, Tetua Kashima."

Pria ini adalah Kashima Gennosuke, ajudan setia yang mengabdi pada Pamanku.

Katanya, dia sudah melayani Paman sejak Paman masih kecil, dan mereka berdua adalah rekan seperjuangan yang saling mendukung di medan perang dengan kekompakan yang luar biasa.

"Benar, saya sangat senang melihat Tuan Yukiyunojo tampak sehat walafiat."

"Umu!"

Tetua Kashima memanggilku dengan nama yang sudah sangat akrab di telinga, bukan dengan sebutan "Tuan Muda" ataupun "Yukitaka".

Yoren Yukiyunojo. Itulah nama asliku yang sebenarnya. Karena suatu alasan, aku tidak bisa memberitahukannya kepada Mina.

"Mari, tidak enak bicara sambil berdiri, silakan masuk ke dalam."

Dipandu oleh Tetua Kashima, aku melangkah masuk ke kediaman itu.

Karena aku sudah sering berkunjung ke sini sejak kecil, pergi ke ruangan yang dituju adalah perkara mudah meski tanpa panduan Tetua Kashima sekalipun.

Namun, di usia yang sudah dewasa ini, jika aku melakukan tindakan tidak sopan seperti itu, Haruomi pasti akan mengomeliku.

"Tolong tunggu sebentar di sini. Tuan Besar akan segera datang."

"Umu."

Begitu aku duduk di ruangan yang ditunjukkan Tetua Kashima, rasa lelah seketika menyerangku.

Sepertinya perjalanan sejauh ini telah benar-benar menguras energiku lebih dari yang kukira. Keheningan di dalam ruangan ini semakin mengundang rasa kantuk.

"Tuan Muda, bagaimana jika Anda beristirahat sejenak sampai Tuan Omitsu tiba?"

"Tidak, aku kenal Paman. Seperti kata Tetua, beliau pasti akan segera datang."

Aku belum menjelaskan situasinya kepada Paman, jadi aku baru bisa bersantai setelah urusan itu selesai. Beruntung, perjuanganku melawan rasa lelah tidak berlangsung lama.

Pasalnya, terdengar langkah kaki yang terburu-buru mendekati ruangan—sebuah hal yang jarang terjadi di kediaman ini. Pintu geser dibuka dengan paksa, dan sesosok pria bertubuh besar masuk ke dalam.

"Ooh! Sudah lama sekali, Yukiyunojo! Apa kamu sehat-sehat saja!?"

"Paman! Sudah lama tidak bertemu!"

Pria yang datang adalah seorang lelaki setengah baya. Dia adalah Pamanku, penguasa wilayah Omitsu, yang bernama Tuan Omitsu Sogen Akitsunosuke.

"Selamat datang, Yukiyunojo!"

Paman menyambutku dengan senyum lebar, tanpa menunjukkan rasa keberatan sedikit pun atas kedatangan keponakannya yang tiba-tiba ini.

"Aku terkejut saat mendengar keributan di Ibukota, tapi syukurlah kamu selamat."

Mendengar perkataan Paman, hatiku yang tadi sempat tenang kembali menegang.

"Paman, ada sesuatu yang ingin kusampaikan mengenai hal itu."

"Mu?"

Menyadari perubahan atmosfer dariku, ekspresi Paman yang tadinya ramah seketika berubah menjadi serius layaknya seorang ksatria.

"Fumu, sepertinya kamu terjebak dalam masalah yang sangat pelik, ya."

"Benar. Ini melibatkan keluarga Shogun, dan tentu saja melibatkan Paman yang memiliki hubungan darah dengan keluarga Shogun."

Bahkan, tidak berlebihan jika kukatakan hal ini melibatkan seluruh daratan Tenpo.

"Yare yare, sampai melibatkan orang tua sepertiku, sepertinya ini benar-benar masalah besar."

Paman duduk dengan mantap di atas bantal duduknya, lalu memberiku isyarat mata untuk melanjutkan cerita.

"Benar. Paman pasti sudah tahu bahwa ayahku, Shogun Yoren Katsunori, telah wafat."

Benar, ayahku adalah Shogun, pemimpin tertinggi di negara ini. Di negara ini, seorang Kaisar yang disebut Mikado berada di puncak hierarki, namun karena beliau memprioritaskan doa untuk melindungi negeri Tenpo dari bencana, urusan pemerintahan dijalankan oleh orang yang disebut Shogun sebagai perwakilannya.

Dengan kata lain, Shogun adalah pemegang kekuasaan tertinggi yang sebenarnya di negara ini.

Itulah alasan mengapa nyawaku diincar oleh pengejar, dan mengapa aku tidak bisa memberitahu nama asliku kepada Mina.

Dan sejak hari kematian ayahku, semuanya menjadi kacau.

"Aku sudah mendengar kabar duka tentang Kakak. Tak kusangka Kakak akan pergi mendahuluiku... Saat kami bertemu di salam tahun baru, aku sama sekali tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi."

Paman menatap kosong ke arah langit-langit, mungkin sedang mengenang mendiang ayahku.

"Benar, aku pun terkejut. Namun, aku adalah putra Shogun. Tidak ada waktu untuk larut dalam kesedihan. Aku segera bersiap untuk pemakaman Ayah dan upacara penobatan gelar Shogun berikutnya."

"Benar, jika posisi Shogun kosong terlalu lama, negara akan goyah. ...Tapi hal itu tidak terjadi. Kamu dilaporkan menghilang, dan pemakaman Shogun justru dipimpin oleh kepala penasihat, Yamazakurakoji Sakyonosuke."

"Tepat seperti yang Paman katakan."

Keheningan singkat tercipta di antara aku dan Paman.

"...Apa yang sebenarnya terjadi?"

Namun Paman tidak ingin membuang waktu dan segera mendesakku untuk melanjutkan cerita.

"...Di dalam kastel, aku diserang oleh segerombolan penjahat."

"Apa!?"

Wajar jika Paman terkejut. Kastel Kegon, tempat aku dan Ayah tinggal, adalah benteng untuk melindungi Shogun.

Oleh karena itu, penjagaannya dikatakan paling ketat di seluruh negeri, bahkan seekor kucing pun takkan bisa menyelinap masuk.

Terlebih lagi, para samurai yang bekerja di Kastel Kegon adalah pejuang-pejuang tangguh.

Pembunuh bayaran biasa, meski beruntung bisa menyelinap, akan segera ditemukan oleh samurai yang berpatroli dan ditebas di tempat. Fakta bahwa penjahat bisa masuk ke kastel itu tentu saja mengejutkan Paman.

"Untungnya, berkat Haruomi, nyawaku terselamatkan. Namun penjahat itu sangat ahli. Jika para pengikutku tidak mempertaruhkan nyawa untuk mengulur waktu, aku pasti sudah menyusul Ayah."

"Luar biasa, sampai ada petarung seahli itu..."

"Karena menganggap kembali ke kastel dengan pasukan sedikit adalah tindakan berbahaya, aku bersama Haruomi dan pengikut yang tersisa memutuskan untuk melarikan diri sambil menyembunyikan identitas untuk meminta bantuan Paman."

"Begitu rupanya. Padahal kamu baru saja kehilangan Kakak, tapi kamu harus melalui kesulitan yang luar biasa, ya."

"Tidak, ini semua karena ketidakmampuanku. Jika saja aku tidak lengah di hadapan para penjahat itu, aku tidak akan membiarkan Yamazakurakoji melakukan sesuka hatinya!"

"Nu? Kenapa nama Tuan Yamazakurakoji muncul di sini?"

"...Itu karena pelaku yang menyerangku adalah Yamazakurakoji!"

"Apa katamu!? Apa itu benar!?"

Yamazakurakoji Sakyonosuke. Dia adalah kepala penasihat yang melayani keluarga Shogun, dan darahnya terhubung dengan klan pendeta yang mengurusi ritual suci—seorang tokoh yang sangat, sangat berpengaruh.

Seharusnya, dia adalah orang yang membantu dan mendukungku sebagai Shogun baru setelah kehilangan Ayah.

"Benar. Haruomi telah mengonfirmasi bahwa di antara penjahat yang menyerangku, terdapat orang-orang suruhan Yamazakurakoji."

"Apakah itu benar, Haruomi?"

Saat ditanya oleh Paman, Haruomi yang sejak tadi diam akhirnya mengangguk dengan wajah penuh duka.

Bagi Haruomi pun, menyatakan bahwa Yamazakurakoji—yang merupakan ajudan terpercaya Ayah—telah menyerangku adalah hal yang sangat berat untuk diucapkan.

"Benar. Di antara penjahat yang berhasil kami kalahkan, ada orang-orang yang biasanya bekerja di kediaman Tuan Yamazakurakoji."

"Bagaimana mungkin... tak kusangka orang yang menjabat sebagai kepala penasihat tega melakukan itu..."

Paman memegangi dahinya seolah tidak percaya.

"Kejadiannya tepat setelah kematian Ayah. Bahkan, mungkin saja kematian Ayah pun adalah bagian dari rencana Yamazakurakoji."

"T-tidak mungkin, itu keterlaluan... Tuan Yamazakurakoji yang kaku itu... Umu, sulit sekali dipercayai..."

Wajar jika Paman merasa bingung. Yamazakurakoji dikenal sebagai pria yang sangat kaku dan disiplin.

Bahkan jika itu perintah Ayah selaku Shogun, jika dirasa tidak tepat, dia akan menentangnya secara terang-terangan. Justru karena itulah, Ayah sangat mempercayainya, tapi...

"Namun Tuan Akitsunosuke, kenyataannya saat ini pemerintahan negara sedang dikendalikan oleh Tuan Yamazakurakoji."

Menyadari Paman sedang bimbang dengan perkataanku, Haruomi menegaskan fakta bahwa saat ini Yamazakurakoji memang sedang mendominasi pemerintahan.

"Benar, Paman. Bajingan itu memanfaatkan pelarianku agar aku tidak bisa dinobatkan menjadi Shogun berikutnya, sehingga dia bisa menguasai negara sesuka hatinya. Faktanya, para penguasa wilayah yang berada di bawah pengaruhnya telah memperketat penjagaan gerbang menuju wilayah Omitsu ini hingga hampir tertutup total. Untungnya berkat Haruomi, kami bisa melewati gerbang, jika tidak, aku pasti sudah tertangkap sebelum sampai di tempat Paman."

Paman mengerang dengan wajah yang muram.

"Memang benar, sejak beberapa hari lalu ada laporan bahwa jumlah pelancong dari wilayah Kagata tetangga berkurang drastis. Tak kusangka alasannya adalah itu..."

Sepertinya Paman juga merasakan adanya keanehan.

"Paman, aku berniat dinobatkan menjadi Shogun dan merebut kembali posisi kepala penasihat dari Yamazakurakoji. Untuk itu, tolong pinjamkan kekuatanmu padaku."

Untuk merebut kembali negara dari Yamazakurakoji, tidak ada jalan lain selain aku harus naik ke takhta Shogun.

Untuk itu, aku membutuhkan kekuatan Paman yang merupakan adik kandung Shogun dan salah satu pemegang kekuasaan terbesar di negeri ini yang sanggup menandingi Yamazakurakoji.

"Mu, kalau begitu..."

Paman memejamkan mata dan berpikir sejenak. Namun tak lama kemudian, beliau membuka mata dan menatapku dengan tajam.

"Baiklah. Meskipun masalah Tuan Yamazakurakoji butuh penyelidikan lebih lanjut, kelahiran Shogun baru adalah urusan mendesak di saat posisi Shogun sedang kosong. Aku akan membantumu dalam penobatan Shogun."

"Terima kasih banyak, Paman!"

Ooh! Jika Paman mau bergerak, ini seperti mendapatkan kekuatan seribu orang! Kesewenang-wenangan Yamazakurakoji bukan lagi hal yang perlu ditakuti!

"Kalau begitu, mari segera kita laksanakan upacara penobatan Shogun!"

Untuk penobatan Shogun, dibutuhkan izin dari Kaisar. Bagaimanapun juga, pemilik asli negeri ini adalah Kaisar.

Meski merepotkan, karena urusan pemerintahan dijalankan oleh orang yang bukan raja asli, prosedur semacam itu tetap mutlak diperlukan.

Namun, Paman menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang menenangkan kegembiraanku.

"Jangan terburu-buru. Jika ingin dinobatkan menjadi Shogun, dibutuhkan persiapan yang matang. Yang terpenting, kita harus mencari pengawal baru. Jika ada pembunuh bayaran ahli yang bahkan pengawal keluarga Shogun pun bukan tandingannya, maka kita pun harus mencari orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Namun, mencari orang dengan keahlian setingkat itu pasti akan sangat sulit..."

Mutt, benar juga. Para samurai yang menjaga Kastel Kegon adalah pendekar-pendekar tangguh pilihan di seluruh Tenpo.

Menemukan seseorang yang setara atau bahkan lebih kuat dari mereka tidak akan semudah itu... Tunggu, saat itulah aku teringat akan wajah seseorang.

"Kalau soal itu, Paman tidak perlu khawatir! Aku punya kandidatnya!"

"Ho? Jadi ada pendekar sehebat itu?"

"Benar. Orang itu adalah pendekar tangguh yang sendirian mengalahkan para penjahat yang menyerangku. Jika bisa mendapatkan bantuannya, kita tidak perlu khawatir soal pengawalan!"

"Tuan Muda, mungkinkah orang itu..."

Haruomi sepertinya juga menyadari siapa yang kumaksud.

Dia mengerutkan kening dan bertanya kepadaku.

"Umu, tentu saja orang itu!"


Mina

"Fuu, tidak kusangka aku akan menemukan petunjuk tentang Rex di tempat seperti ini."

Setelah melihat barang-barang yang dijual di Echigoya, aku bertanya kepada Tatsukichi-san apakah perajin yang membuatnya adalah Rex.

Ternyata, Tatsukichi-san memberitahuku bahwa Rex memang memintanya untuk mencari kami.

Sepertinya itu alasan kenapa dia terlihat ragu saat mendengar namaku tadi.

Dan saat dia tengah mengamati situasinya untuk memastikan apakah aku benar-benar Mina yang dicari Rex, justru aku sendiri yang menyebut nama Rex duluan.

"Kalau begitu, tujuan selanjutnya adalah kota pelabuhan Hatoba tempat Rex berada, ya?"

"Mina-san, soal itu..."

Saat aku sedang memikirkan rencana ke depan, Tatsukichi-san memanggilku dengan nada bicara yang segan.

"Ada apa, Tatsukichi-sa—"

"Mina-dono!"

Tepat pada saat itu, seseorang yang tiba-tiba masuk ke toko memanggil namaku.

"Kau... Haruomi-san?"

Ya, yang memanggilku adalah Haruomi-san, pengawal Yukitaka. Karena namaku dipanggil di negeri asing, aku sempat terkejut karena mengira teman-temanku datang menjemput.

"Ada keperluan apa denganku?"

Haruomi-san mengangguk dengan wajah pahit. Hmm, apa aku dibenci oleh orang ini?

"Itu... Tuan Muda bilang beliau ingin memberikan permintaan kerja lagi padamu."

...Waduh, aku mencium bau-bau masalah.

"Lagi-lagi pekerjaan pengawalan?"

Haruomi-san membawaku ke kediaman penguasa wilayah, tempat yang baru saja kudatangi untuk mengantar Yukitaka tadi.

Di ruangan tempat aku dipandu, ada tiga orang: Yukitaka, seorang kakek bertubuh besar, dan seorang kakek lagi yang berpenampilan anggun namun memiliki aura yang tak boleh diremehkan.

"Yukinojo, inikah orang-orang hebat yang kau maksud?"

Si kakek bertubuh besar yang tidak kukenal itu memiringkan kepala sambil menatap kami.

Karena dia memanggil Yukitaka tanpa gelar, apa itu berarti dia paman Yukitaka?

Dan juga, ternyata benar kalau Yukitaka itu nama samaran.

"Benar, Paman. Mina di sini adalah penyelamat nyawaku. Dia membasmi para pengejar yang menewaskan pengawal-pengawalku hanya dengan satu sihir saja."

"Apa? Ternyata seorang penyihir."

Setelah mengetahui aku adalah seorang penyihir, paman Yukinojo—maksudku Yukitaka—mengangguk paham.

"Lalu, apakah orang di sampingnya itu seorang samurai? Tapi dia tidak membawa pedang?"

Samurai itu kalau tidak salah sebutan untuk ksatria di negeri ini. Baru beberapa hari aku di sini, tapi rasanya aku sudah cukup terbiasa dengan informasi tentang negeri ini.

"Anu, saya ini..."

Gobun melirik ke arahku. Ah, kalau diingat-ingat, aku membawanya dengan dalih dia adalah pengawal pribadiku... padahal kalau dipikir-pikir, dia ini kan bajak laut.

"Anu, dia ini bukan samurai, tapi bajak laut."

"""Apa?!"""

Yukinojo dan yang lainnya melotot kaget karena orang yang tadinya dianggap sebagai kekuatan tempur ternyata adalah bajak laut.

"Apa maksudnya ini, Mina?!"

"Begini, mereka ini memalsukan kapal mereka sebagai kapal dagang untuk menculikku dan temanku, lalu berniat menjual kami ke pedagang budak.

Tapi temanku berhasil membalikkan keadaan, dan sebagai penebus dosa, kami menyuruh mereka mengantar kami sampai ke negeri ini."

"Astaga..."

 "Ternyata ada alasan seperti itu..."

Di saat Yukinojo dan Haruomi-san tertegun mendengar rahasia yang kusembunyikan, ada satu orang yang tertawa terbahak-bahak. Ya, dia adalah paman Yukinojo.

"Hahahaha! Membalikkan keadaan terhadap bajak laut dan menggunakan mereka sebagai pengganti kaki! Sungguh memuaskan! Benar-benar gadis yang luar biasa seperti pilihanmu!"

Padahal yang sebenarnya menghajar mereka adalah Rex, sih. Tapi, hebat juga orang ini, dia malah tertawa sendiri di saat Yukinojo dan yang lainnya sedang kebingungan.

"Tidak mundur selangkah pun melawan bajak laut yang punya keuntungan medan di medan perang yang dikelilingi laut dan musuh, itu sungguh mengesankan! Baiklah, aku benar-benar bisa menaruh harapan pada kalian!"

"Ta-tapi, kenapa kau tetap membawa bajak laut itu bersamamu? Bukankah setelah sampai di tanah Tenfeng ini kau bisa pulang dengan kapal yang aman? Harusnya kau sudah tidak butuh bajak laut lagi, kan?"

"Ah, soal itu, kami terkena badai tepat sebelum sampai di negeri ini, dan saat itu aku terjatuh dari kapal. Karena aku berhasil mendarat bersama orang ini, aku menggunakannya sebagai penunjuk jalan."

Aku tidak mungkin bilang kalau aku mencoba menyelamatkan bajak laut yang jatuh ke laut, kan?

Kalau dipikir-pikir sekarang, aku memang melakukan hal yang bodoh. Hmm, aku jadi tidak bisa menertawakan kebodohan Rex dan Jairo lagi...

"Begitu rupanya. Kalau begitu masuk akal. Badai itu memang menyulitkan kami, orang-orang Tenfeng."

Berarti orang-orang di negeri ini pun tidak begitu paham tentang badai aneh itu.

Dan karena mereka bilang "menyulitkan", berarti itu bukan kejadian sekali atau dua kali saja. Sepertinya benar kata Rex, itu bukan badai biasa.

"Kalau begitu, bukankah orang itu sudah boleh ditangkap saja?"

"Hah?"

Mendengar teguran Haruomi-san, wajah Gobun langsung pucat pasi.

"Ah—yah, benar juga ya."

"A-A-Anee-saaan!?"

Yah, jangan menatapku dengan mata memohon sesedekah itu, dong. Bukannya kalian sendiri yang berniat menjual kami?

...Yah, setidaknya karena dia sudah memberitahu banyak informasi tentang negeri ini dan mengantarkan kami sampai ke sini, aku berniat meminta agar nyawanya diampuni.

"Yah, tunggu dulu. Jangan terlalu haus darah begitu, Haruomi."

Sosok yang menengahi pembicaraan itu adalah paman Yukinojo.

"Kamu, karena kamu seorang bajak laut, apakah kamu terbiasa menangani kapal?"

"Y-Ya! Kalau soal urusan kapal, saya tidak akan kalah dari siapa pun, Tuan!"

"Hoh, itu sangat meyakinkan. Hmm, hmm."

Paman Yukinojo menyunggingkan senyum seolah sedang merencanakan sesuatu.

"Baiklah. Kalau begitu, kamu jadilah pekerja kasar di kapalku."

"Hah!?"

"Eh!?"

"Paman!?"

"Akitsunosuke-sama!?"

Semua orang yang ada di sana sontak berseru terkejut karena ucapan yang tak terduga itu.

"Akibat badai tempo hari, banyak pelaut yang kehilangan nyawa. Karena itu, sebagai pengecualian, aku akan membiarkanmu menebus dosamu dengan bekerja sebagai pelaut. Seharusnya bajak laut itu dihukum gantung, tahu. Mengingat hal itu, ini bisa dibilang keringanan yang sangat besar, kan?"

"Y-Ya! Kalau bukan hukuman gantung, pekerjaan apa pun akan saya lakukan!"

Hmm, hasilnya tidak buruk, tapi untuk ukuran seorang bangsawan, bukankah ini tindakan yang terlalu lunak...?

Apa dia tidak takut orang ini akan kabur diam-diam?

Seolah menyadari pikiranku, paman Yukinojo menoleh ke arahku dan tersenyum.

"Tentu saja agar orang ini tidak melarikan diri, aku akan memberinya belenggu dengan Cursed Art. Lalu, untukmu yang telah menangkap bajak laut ini, aku akan memberikan upah yang seharusnya ia hasilkan dari bekerja sebagai imbalannya. Ini adalah hadiah karena telah menangkap bajak laut, sekaligus ucapan terima kasih karena telah menyediakan tenaga pelaut yang kurang. Bagaimana?"

Ah, begitu rupanya. Membiarkan Gobun hidup juga merupakan bentuk perhatian kepadaku.

Beliau sendiri bisa mengisi kekurangan pelaut, dan memberiku imbalan karena telah menyediakan tenaga kerja.

Mungkin ini juga termasuk ucapan terima kasih karena telah menolong Yukinojo?

Ya, kalau begitu aku bisa menyerahkan urusan bajak laut ini padanya, dan aku juga dapat uang, jadi sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

Yah, karena yang menangkapnya adalah Rex, nanti aku harus memberikan uangnya padanya, sih.

"Aku mengerti. Jika begitu masalahnya, aku serahkan urusan bajak laut ini kepada Anda."

"Umu. Kashima, bawa orang ini ke sel tahanan kriminal angkatan laut."

"Baik, Tuan."

"Annee-san, semoga sehat selalu ya—!"

Gobun dibawa keluar ruangan oleh kakek tua bernama Kashima itu. Rasanya dia jadi anehnya akrab denganku, ya.

Setelah Gobun keluar, percakapan sempat terhenti sejenak.

"Nah, kalau begitu, aku titipkan keponakanku padamu ya, Nona muda."

"Tunggu! Aku kan belum bilang akan menerima pekerjaan itu!?"

"Apa!? Kamu tidak mau menerimanya!?"

Ya iyalah! Sejak sampai di sini, hal yang baru kita bicarakan dengan benar kan cuma soal nasib Gobun!

"Aku datang ke sini karena Haruomi-san memintaku dengan sangat, tapi sejak awal aku tidak bilang akan menerima tugas pengawalan. Lagipula, tidak ada alasan harus aku, kan? Aku rasa di kastel ini ada banyak sekali orang yang jauh lebih kuat dariku."

Setidaknya, sebagai penguasa yang memiliki kediaman seluas ini, dia pasti mempekerjakan orang-orang hebat. Aku tidak yakin dia akan sengaja bergantung pada gadis muda sepertiku.

Tiba-tiba, Yukinojo bersuara.

"Mina. Para pengawal yang melindungiku dari pengejar dan kehilangan nyawa mereka itu adalah samurai-samurai dengan kemampuan yang cukup hebat di negeri ini."

"Eh? Begitu ya?"

"Umu. Kelelahan karena pelarian yang panjang dan jumlah musuh yang lebih banyak memang berpengaruh, tapi tetap saja, para elit negeri kami telah lengah. Karena itulah, Paman juga bingung karena tidak bisa menjadikan sembarang orang sebagai pengawal. Namun, kamu berhasil mengalahkan para pengejar itu dengan mudah. Oleh karena itu, aku ingin kamu meminjamkan kekuatanmu sekali lagi!"

Yukinojo memohon padaku dengan nada bicara yang menggebu-gebu.

Ini... begitu rupanya. Jadi Yukinojo sedang salah paham! Kemungkinan besar para pengejar itu sudah menderita luka yang cukup parah akibat perlawanan para pengawal Yukinojo yang terbunuh.

Makanya mereka bisa dikalahkan dengan mudah oleh sihirku.

Mungkin pihak lawan juga sudah terlalu percaya diri karena berhasil mengalahkan pengawal terkemuka di negeri ini, dan mereka jadi jemawa karena yang muncul kemudian adalah gadis muda sepertiku.

Mereka pikir melawan gadis sepertiku sekali lagi pun tidak masalah. Tapi itulah yang menjadi akhir nyawa mereka.

Dan karena Yukinojo sangat mempercayai kemampuan pengawalnya, dia jadi menilai kemampuanku secara berlebihan.

Meskipun aku sudah berkembang, aku tidak akan merasa begitu sombong sampai menganggap diriku lebih kuat dari prajurit-prajurit terhebat di negeri ini.

Hmm, ini benar-benar kesalahpahaman besar yang lahir dari situasi yang ada.

Sepertinya paman Yukinojo juga salah paham gara-gara informasi tidak jelas dari Yukinojo. Belum lagi ditambah cerita kepahlawanan Rex saat membasmi bajak laut.

Aku harus menolaknya dengan cara yang halus. Aku tidak boleh menerima permintaan berbahaya hanya karena kesalahpahaman.

"Aku mengerti situasinya. Tapi aku harus segera bertemu kembali dengan teman-temanku yang terpisah."

"Teman? Oh, kalau tidak salah Nona muda ini berasal dari negeri asing, ya. Jadi sekarang kamu sedang mencari teman-temanmu itu?"

"Iya. Aku sudah tahu keberadaan salah satu temanku yang terpisah saat badai, jadi aku berniat pergi ke sana dulu."

"Fumu, di kota mana temanmu itu berada? Jika kamu mau, aku akan menyiapkan kereta kuda."

Kereta kuda ya... sejujurnya pakai sihir terbang akan jauh lebih cepat sampai.

Meski begitu, menolak kebaikan hati seorang bangsawan itu tidak sopan. Kalau menolaknya dengan cara yang salah, itu bisa merusak harga dirinya.

"Temanku berada di sebuah tempat bernama kota pelabuhan Hatoba."

"Fumu, kalau kota pelabuhan Hatoba, itu adalah kota yang berada di tengah wilayah tetangga."

Ya, posisi kotanya sama dengan informasi yang kuterima dari Tatsukichi-san.

"Hanya saja, aku minta maaf padamu, tapi pos pemeriksaan menuju wilayah tetangga secara teknis sedang ditutup."

Paman Yukinojo memberitahuku dengan nada menyesal.

"Ditutup...?"

"Umu. Katanya ada pencuri berbahaya yang muncul di dalam wilayah, jadi mereka menutup jalan agar pencuri itu tidak kabur ke wilayah lain. Sebenarnya jika pedagang langganan membayar sejumlah uang, mereka bisa lewat, tapi gadis dari negeri asing sepertimu sepertinya tidak akan diizinkan lewat. Jika nasibmu buruk, kamu bisa-bisa disalahpahami sebagai komplotan pencuri itu."

Aah, jadi alasan Tatsukichi-san tadi terlihat ragu-ragu karena itu, ya!

"Tapi, urusan pencuri itu pasti cuma kedok. Tujuannya adalah agar Yukinojo tidak bisa bergerak bebas."

"Eh!?"

Apa urusan Yukinojo jadi terlibat di sini juga!? Ah, jangan-jangan orang ini berniat membuatku menerima permintaannya secara paksa dengan cara seperti ini. Aku tidak akan membiarkannya, tahu.

"Anu, meskipun Anda bilang pengawalan, aku bahkan belum mendengar siapa yang mengincar Tuan Yukinojo."

Aku sengaja menekankan nama Yukinojo, bukan Yukitaka, sambil memancing informasi, 'siapa sih yang mengincar orang ini?'.

Melihat situasinya, sudah pasti pengawalannya bukan untuk melawan monster atau bandit, dan di skenario terburuk, ada kemungkinan orang yang mengincarnya itu sebenarnya bukan orang jahat.

"Oto, benar juga ya. Memang jika meminta sebuah pekerjaan, penjelasan isi dan imbalannya harus disampaikan dengan jelas... kamu benar-benar gadis yang teliti. Ngomong-ngomong, kenapa Yukinojo terlihat begitu lesu?"

Mendengar itu, aku melihat ke arah Yukinojo, dan entah kenapa dia terlihat sangat murung.

"T-Tidak. Jangan hiraukan aku, Paman. Lebih baik lanjutkan pembicaraannya."

Apa ada sesuatu yang membuatnya syok?

"Nu? Begitukah? Kalau begitu pertama-tama mengenai isi permintaan, ini sangat mudah. Penjelasan kasarnya, Yukinojo adalah calon pemimpin klan berikutnya. Untuk mewarisi kedudukan ayahnya yang sudah meninggal, dia harus melakukan sebuah ritual. Namun, situasinya sekarang ada orang-orang yang tidak senang dan mencoba menghalangi hal itu. Penguasa wilayah tetangga juga pasti dihasut oleh orang-orang itu untuk menutup pos pemeriksaan. Lagipula, anak buahku sama sekali tidak mendengar kabar tentang adanya pencuri yang mengacau di wilayah tetangga."

Ah, karena beliau sudah punya informasi, jadi beliau tahu kalau urusan pencuri itu cuma omong kosong.

Tapi isinya terasa seperti perselisihan keluarga yang biasa terjadi, ya. Eh, tidak-tidak, bagi rakyat jelata sepertiku, terlibat dalam perselisihan keluarga bangsawan itu hal yang luar biasa besar.

Tidak boleh, tidak boleh. Belakangan ini aku terlalu sering terlibat masalah yang skalanya berbeda sampai-sampai perasaanku jadi tumpul.

"Oleh karena itu, aku ingin Nona muda mengawal Yukinojo sampai ke tempat ritual dan mengawasi agar ritualnya tidak diganggu."

"Apakah permintaan dianggap selesai setelah ritualnya berakhir?"

"Tidak, untuk jaga-jaga, setelah ritual selesai aku ingin kamu membawa Yukinojo kembali sampai ke kediaman ini. Dengan begitu, permintaannya tuntas."

Isi permintaannya tidak jauh berbeda dengan permintaan pengawalan pada umumnya.

Hanya saja lawannya adalah orang-orang hebat yang bisa mengalahkan prajurit terbaik negeri ini.

Bagaimanapun juga, entah aku akan menerima atau menolak permintaannya, bertemu kembali dengan Rex adalah prioritas utamaku. Soal penutupan pos pemeriksaan, yah, aku bisa mengatasinya sendiri.

"Mengenai imbalannya, aku akan memberikan setara 1000 keping koin emas dalam mata uang negerimu."

"1000!?"

Aku terkejut mendengar jumlah uang yang tak terduga itu. Maksudku, untuk satu tugas pengawalan, 1000 koin emas itu benar-benar terlalu banyak, kan!?

"Umu. Dan satu hal lagi. Tadi kamu bilang salah satu temanmu yang terpisah, kan? Itu artinya ada teman-teman yang lain, bukan? Aku akan membantu mencari keberadaan teman-temanmu itu. Sepertinya ada penguasa wilayah lain yang juga menutup pos pemeriksaan mereka, jadi pasti teman-temanmu juga sedang kesulitan untuk bertemu kembali. Bagaimana? Jika kamu berhasil menuntaskan misi ini, penutupan pos pemeriksaan akan dicabut dan kamu akan lebih mudah bertemu kembali dengan mereka. Sekali dayung dua pulau terlampaui, kan?"

"Mumu..."

Memang benar, alasanku mengawal Yukinojo juga untuk memastikan apakah semua orang ada di kota ini atau tidak.

Jika dengan aku mengawal Yukinojo penutupan pos pemeriksaan bisa dicabut, maka semua orang juga bisa bergerak bebas di negeri timur ini untuk berkumpul kembali.

Kalau dipikir-pikir begitu, terlibat dalam penyelesaian penyebab ditutupnya pos pemeriksaan mungkin adalah sebuah keberuntungan. Terutama Jairo, aku tidak tahu keributan macam apa yang akan dia buat kalau dibiarkan begitu saja.

"Di mana tempat tujuannya? Berapa hari waktu yang dibutuhkan dari sini?"

Meski begitu, aku tidak bisa menerima pekerjaan secara gegabah jika tidak tahu berapa lama aku akan tertahan.

"Umu. Tempat tujuannya adalah kaki Gunung Suci Amatsukami yang berada di pusat negeri ini. Di sanalah tempat ritualnya berada. Dari sini, jika menggunakan kuda akan memakan waktu tiga hari, tapi karena ada pos pemeriksaan, akan sulit untuk bergerak secara terang-terangan dengan kuda. Jika begitu, kita harus melewati jalan setapak di hutan yang jarang dilalui orang untuk melewati pos pemeriksaan, jadi mungkin sekitar delapan hari berjalan kaki untuk sekali jalan."

Uwah, lama juga aku akan tertahan ya. Pergi pulang saja sudah memakan waktu setengah bulan.

Untung saja aku bertanya dulu. Apalagi kalau mempertimbangkan adanya gangguan, pasti akan memakan waktu lebih lama lagi.

Hmm, jika mempertimbangkan situasi secara keseluruhan, menerima permintaan ini memberikan banyak keuntungan. Tapi kalau aku sendirian, ada banyak faktor yang membuatku cemas.

Lagipula aku ini penyihir, dan dengan anggota seperti ini, yang bisa bertarung di garis depan cuma Haruomi-san! Yukinojo kan objek yang harus dilindungi, jadi dia tidak masuk hitungan!

Kalau begitu, sudah pasti...

"...Jika aku menerima permintaan itu, daripada langsung menuju tempat tujuan, menurutku lebih baik lewat jalan lain."

"Fumu? Apa maksudmu?"

"Pertama-tama kita pergi ke kota pelabuhan Hatoba untuk bertemu dengan salah satu temanku. Dengan begitu, kekuatan tempur kita akan bertambah drastis."

"Bertambah drastis?"

"Iya, teman yang ada di sana jauh lebih kuat dariku."

"Lebih kuat dari Mina!?"

Mendengar ada orang yang lebih kuat dariku, Yukinojo berseru kaget. Padahal ada banyak sekali orang yang lebih kuat dariku, tahu.

"Ya, di sana ada guru kami, Rex. Jika butuh pengawalan, tidak ada orang yang lebih tepat daripada dia."

"Fumu, ternyata dunia ini luas ya sampai ada orang yang lebih hebat daripada Nona muda. Orang bernama Rex itu, aku benar-benar ingin mencoba bertanding dengannya."

"Jangan, Anda pasti mati, jadi tolong hentikan."

"Ma-Mati!?"

Karena paman Yukinojo bilang ingin bertarung dengan Rex, aku buru-buru menghentikannya. Kalau bertarung dengan Rex, punya nyawa berapa pun tidak akan cukup!?

"Tapi, bukankah akan memakan waktu terlalu lama kalau harus pergi ke kota pelabuhan Hatoba? Bukankah sebaiknya kita pergi ke Gunung Amatsukami dengan sedikit orang tapi yang benar-benar terpilih?"

Saat kami sedang membicarakan hal itu, Haruomi-san menarik kembali topik pembicaraan. Sepertinya Haruomi-san merasa bertemu kembali dengan Rex hanyalah buang-buang waktu. Yah, aku mengerti perasaannya, sih.

"Tidak, mungkin itu ide yang bagus, Haruomi."

"Akitsunosuke-sama!?"

Tapi berbeda dengannya, paman Yukinojo malah menganggap rencanaku masuk akal.

"Selain menambah kekuatan tempur, menuju Gunung Suci melalui kota pelabuhan Hatoba bisa menjadi pengalih perhatian yang bagus. Mereka pasti berpikir kalau kita ingin Yukinojo segera mewarisi jabatan. Mereka tidak akan menyangka kita akan sengaja memutar jalan. Sebaliknya, jalan memutar mungkin penjagaannya lebih longgar. Jika dalangnya benar-benar orang itu, dia pasti sudah menyadari kalau Yukinojo telah sampai ke tempatku."

"Benar juga..."

"Tidak, aku keberatan!"

Tapi entah kenapa, kali ini giliran Yukinojo yang menyatakan keberatan.

"Mari kita pergi berdua saja! Itu akan lebih menghemat waktu, Paman!"

"Tidak Yukinojo, orang itu adalah orang kuat yang kemampuannya dijamin oleh Nona muda ini. Di sini lebih baik kita memprioritaskan ketersediaan kekuatan tempur."

"Tidak, kekuatan kita sudah cukup! Kita tidak butuh laki-laki lain!"

"Kamu, jangan-jangan..."

"Tuan muda..."

Sepertinya paman Yukinojo dan Haruomi-san merasakan sesuatu dari perkataan Yukinojo, sehingga mereka menatapnya dengan pandangan yang sedikit jengah.

"Ya ampun, aku tidak menyangka apa yang kamu pikirkan di saat genting seperti ini... yah, mungkin keberanian seperti itu memang cocok untuk calon pemimpin generasi berikutnya."

Eh? Apa maksudnya?

"Tapi tidak boleh. Jangan kehilangan prioritas. Prioritas utamamu adalah mensukseskan ritual itu dengan pasti. Jika ingin terlihat keren di depan wanita, tunjukkanlah ketenangan yang pantas untuk itu."

"U... uu... baiklah."

Setelah membuat Yukinojo terdiam, pamannya menoleh ke arahku.

"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, pertama-tama temuilah temanmu itu. Aku juga akan memberikan imbalan untuk temanmu agar dia benar-benar mau membantu. Dan segera setelah kekuatan tempur terkumpul, tujuah Gunung Suci Amatsukami di pusat negeri ini!"

Begitulah, untuk bertemu kembali dengan teman-temanku, aku memutuskan untuk menerima permintaan baru ini.

Beberapa hari setelah menerima permintaan, akhirnya persiapan ritual selesai dan kami pun mulai bergerak. Pertama-tama kami menuju kota pelabuhan Hatoba yang berada di wilayah tetangga, tapi...

"Hmm, penjagaannya sangat ketat ya."

Ya, pos pemeriksaan untuk masuk ke wilayah tetangga sangat ketat, dan banyak pengelana yang menuju ke sana disuruh putar balik.

"Apa kita tidak bisa minta tolong pada Echigoya-san untuk membawa kita ke kota Hatoba?"

"Tidak, sepertinya kalau bukan karyawan langganan, mereka akan disuruh pulang."

Hmm, ketat sekali ya.

"Terus dulu bagaimana caranya kalian bisa lewat?"

"Umu, waktu itu kami melewati jalan setapak di hutan yang jauh dari pos pemeriksaan dan sulit dilalui orang. Itu sangat melelahkan, tapi berkat itu kami bisa sampai di wilayah Klan Omitsu dengan selamat."

"Kalau begitu, pakai cara yang sama lagi?"

"Tidak, itu mustahil."

Haruomi-san yang baru kembali dari pengintaian ikut bergabung dalam percakapan.

"Bagaimana hasilnya?"

"Lapor, prajurit ditempatkan dengan jarak tertentu di sepanjang garis batas wilayah, dan ada juga kavaleri yang berpatroli di antaranya. Dengan begini, mustahil untuk menyeberangi perbatasan dengan menghindari pos pemeriksaan."

Penjagaannya benar-benar ketat ya.

"Padahal lokasinya cukup jauh dari jalan menuju Gunung Amatsukami, kenapa penjagaannya seketat ini?"

"Mungkin pengejar yang berhasil kabur memberitahu mereka kalau kita menggunakan jalan setapak di hutan."

Begitu ya, jadi untuk menunjukkan kalau mereka tidak akan membiarkan kita memakai trik yang sama, mereka mengepung wilayah Omitsu ini. Ini berarti, seperti kata paman Yukinojo, keberadaan Yukinojo di sini sudah ketahuan.

"Muu, ini gawat."

"Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain selain menyelinap di kegelapan malam. Hanya saja, karena api unggun dan penjaga ditempatkan di posisi yang saling berdekatan, kemungkinan besar kita akan ketahuan meski bergerak di malam hari."

"Kalau begitu, sebaiknya kita mengandalkan rencana Paman."

Rencana yang dimaksud Yukinojo adalah menyiapkan umpan yang menyerupai mereka. Lalu membiarkan umpan itu sengaja ketahuan, dan di saat itulah kami melewati jalan setapak di hutan.

"Tapi dengan penjaga sebanyak ini, ada kemungkinan mereka tidak akan meninggalkan posnya. Skenario terburuknya, musuh hanya perlu mengurung kita di tempat ini untuk waktu yang lama."

"Tapi kita harus melakukannya. Jika kita terlalu lama menunda, kekuatan bajingan itu akan semakin besar."

Mendengar kata-kata Haruomi, Yukinojo bergumam dengan wajah serius. Hmm, rasanya semangat mereka mulai mengarah ke hal yang kurang baik.

"Hei, intinya kita hanya perlu menyeberangi perbatasan wilayah tanpa ketahuan, kan?"

"Umu. Itu yang terbaik, tapi dengan penjagaan seketat ini, itu pasti sulit."

"Tidak, ada caranya kok."

"Apa!?"

Sepertinya dia tidak menyangka akan ada strategi yang bisa mengatasi situasi ini, sehingga Yukinojo berseru kaget.

"Apa benar-benar bisa!?"

"A-Aku hampir tidak bisa mempercayainya!?"

"Mungkin akan baik-baik saja. Pertama-tama, mari kita tunggu sampai malam."

"...Baiklah. Ayo kita coba rencanamu, Mina."

"Apakah tidak apa-apa?"

"Lagipula kalau mau pakai umpan pun kita harus menunggu sampai malam. Jika ada cara lain yang lebih baik, tidak ada salahnya mencoba itu dulu."

"...Baik. Sesuai perintah Tuan Muda."

"Umu. Aku mengandalkanmu, Mina."

"Ya, serahkan padaku."

Nah, kalau begitu, mari kita tunggu sampai malam tiba.

"O-Oooh—!?"

Yukinojo berseru kegirangan.

"Hei, jangan berisik! Nanti ketahuan! Terus, jangan sentuh bagian yang aneh-aneh!"

"Ma-Maaf. Tapi ini pertama kalinya aku merasakan terbang di langit..."

Ya, metode yang aku usulkan adalah terbang di langit untuk melewati pos pemeriksaan.

Alasannya karena di negeri kami pun sihir terbang adalah teknologi yang sudah hilang, jadi kupikir pasti sama saja di negeri asing ini.

Dan percobaan itu membuahkan hasil. Para penjaga memang waspada terhadap bagian depan, kiri, dan kanan, tapi mereka sama sekali tidak melihat ke arah langit.

Yukinojo yang baru pertama kali seumur hidup terbang di langit awalnya memang terkejut, tapi sekarang dia malah bersenang-senang seperti anak kecil.

"Nah, sudah sampai. Aku akan segera menjemput Haruomi-san juga."

"U-Umu. Aku mengandalkanmu, Mina. Tapi sihir terbang itu hebat ya! Ini pertama kalinya aku mencoba sihir seperti itu! Apa semua orang asing bisa terbang di langit!?"

"...Ti-Tidak, tidak, hampir tidak ada orang yang bisa terbang di langit, tahu."

"Kalau begitu, berarti Mina memang penyihir yang sangat hebat ya!"

Yukinojo menatapku dengan mata yang berbinar-binar.

"Tidak, tidak, tidak. Aku ini bukan orang yang sehebat itu. Cuma Rex yang mengajariku sihir yang hebat."

"...Rex?"

Tiba-tiba, entah kenapa Yukinojo terdiam seketika.

"...Begitu ya, ternyata laki-laki itu yang..."

"? Aku tidak begitu mengerti, tapi intinya aku akan menjemput Haruomi-san dulu, jadi bersembunyilah di sini dan tunggu ya."

Begitulah, kami berhasil melewati rintangan pertama tanpa hambatan... tapi, ada apa dengan Yukinojo ya?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close