NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 8

Chapter 187

Kota Omitsu


Mina

"Kita sampai! Inilah kota pelabuhan Omitsu!"

Begitu tiba di kota, Yukitaka menunjukkan ekspresi lega seolah akhirnya bisa bernapas setelah perjalanan panjang. Tapi, aku tidak boleh membiarkannya lengah di sini.

"Jangan ceroboh. Ingat, kamu masih diincar. Jangan mengendurkan kewaspadaan sebelum kita masuk ke kediaman pamanmu dan keamananmu benar-benar terjamin."

"U-umu. Kamu benar..."

Begitu aku menegurnya, Yukitaka tampak menciut dan jadi lesu seketika. Andai saja Jairo bisa sepenurut ini, pasti hidupku jauh lebih tenang.

"Kak, apa tidak sebaiknya Kakak sedikit lebih lembut padanya?"

Entah kenapa, Gobun melirikku dengan tatapan seolah-olah dia kasihan pada Yukitaka. Apa ini? Semacam solidaritas sesama pria atau semacamnya?

"Bagaimanapun juga, sampai di kota dengan selamat adalah hal yang patut disyukuri. Mari kita tetap waspada dan langsung menuju kediaman Tuan Hanshu."

Sama halnya dengan Gobun, Haruomi-san mencoba menengahi sambil mengusulkan agar kami segera bergerak menuju kediaman penguasa.

"Baiklah. Omong-omong, Hanshu itu apa?"

"U-umu! Hanshu adalah orang yang diberikan mandat oleh Shogun untuk memerintah sebuah Han!"

"Han?"

"Itu istilah hubungan antara tuan tanah dan wilayah kekuasaannya di negeri ini, Kak," bisik Gobun di telingaku.

Meski aslinya bajak laut, sebagai pelaut ternyata dia tahu banyak soal Negeri Timur. Lumayan berguna juga anak ini.

"Kalau begitu, ayo pergi! Ikuti aku!"

Kami dipandu oleh Yukitaka yang tiba-tiba kembali bersemangat menuju kediaman sang Hanshu.

Yah, sebenarnya dari sini pun sudah terlihat bangunan besar yang jelas-jelas rumah penguasa, jadi tidak perlu dipandu pun kami tidak akan tersesat.

"Kalau dilihat dari dekat, ternyata besar sekali ya."

"Benar juga, Kak."

Setibanya di depan gerbang, kami terpukau oleh ukuran rumah itu yang di luar dugaan. Bukan karena tingginya, melainkan luas bangunannya yang berbeda jauh dengan rumah biasa.

Pagar yang mengelilingi kediaman itu luasnya hampir seukuran desa kecil, menunjukkan betapa masifnya tanah yang mereka miliki.

Dari jauh tadi, bangunan-bangunan di sekitarnya menghalangi pandangan sehingga luas aslinya tidak terlihat.

"Kalian! Ada urusan apa di kediaman ini?!"

Penjaga pintu yang berjaga di depan gerbang berseru waspada saat melihat kami, orang-orang asing yang tidak dikenal.

"Ini adalah kediaman keluarga Omitsu. Jika tidak ingin dicurigai, segera angkat kaki dari sini!"

Hmm, seperti yang kuduga, kami benar-benar tidak disambut dengan hangat.

Namun, Haruomi-san berjalan mendekati penjaga itu dan menunjukkan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Seketika itu juga, wajah sang penjaga berubah pucat pasi.

"...I-ini?! Mohon maaf atas kelancangan saya! Saya akan segera membukakan gerbang!"

Kewaspadaan tadi menguap entah ke mana. Sikapnya berubah menjadi sangat sopan, seolah-olah sang pemilik rumah sendiri yang baru saja datang.

"Silakan masuk."

"Umu."

Yukitaka menjawab dengan gaya angkuh seolah-olah perlakuan itu adalah hal yang wajar baginya, lalu melangkah masuk ke dalam area kediaman. Melihat itu, aku pun menyampaikan kata-kata perpisahan.

"Nah, tugasku sampai di sini saja."

"Mu? Apa maksudmu, Mina?"

Namun, Yukitaka memiringkan kepalanya, sama sekali tidak menangkap maksudku.

"Sesuai perkataanku. Tugasku adalah mengantarmu sampai ke kediaman pamanmu. Jadi, pekerjaanku sudah selesai."

Benar, permintaan yang kuterima adalah mengantar Yukitaka ke rumah pamannya di kota Omitsu.

Aku tidak berniat mengambil pekerjaan lebih dari itu. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh dengan urusan bangsawan.

Lagipula, mengantarnya sampai sini sudah cukup untuk membuat dia berutang budi padaku.

"Ti-tidak, itu memang benar, tapi... Benar! Aku masih harus membayar imbalanmu, bukan?!"

"Kalau soal itu, biarkan kami yang mengaturnya sebagai perwakilan."

Salah satu penjaga berlari menuju pos jaga yang ada di bagian dalam gerbang.

"A-ah, tunggu! Berhenti dulu!"

"Apakah jumlah ini cukup?"

Penjaga itu segera kembali dan menyodorkan sebuah kantong berisi uang kepada Haruomi-san. Setelah memeriksa isinya, Haruomi-san mengangguk tanda tidak ada masalah.




"Hm, jumlah ini kurasa sangat pantas untuk pahlawan yang telah melindungi Tuan Muda. Mina-dono, silakan diterimanya."

Aku menerima kantong dari Haruomi-san dan memeriksa isinya. Sudah kuduga, isinya mata uang yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Satu kantong itu cukup bagi rakyat jelata untuk hidup selama setengah tahun tanpa bekerja."

Haruomi-san menjelaskan nilai nominalnya secara garis besar padaku yang sedang bingung menaksir nilainya. Begitu ya, sekitar setengah tahun biaya hidup.

Baiklah, nanti akan kupastikan lagi dengan membandingkannya dengan harga barang di pasar.

"Sampai jumpa, Yukitaka."

"A-ah..."

Sambil meninggalkan Yukitaka yang tampak sangat lesu, kami pun beranjak dari kediaman itu.

"Nah, pertama-tama mari kita cari penginapan."

Setelah meninggalkan kediaman, kami memutuskan untuk mencari tempat beristirahat sebagai markas sementara. Matahari sudah mulai terbenam, kami harus segera mendapatkan kamar.

Tepat saat itulah.

Terdengar teriakan dari ujung jalan besar, dan suasana seketika menjadi gaduh.

"Ini...?"

Orang-orang berhamburan seolah sedang lari dari sesuatu.

"Perampok! Seseorang, tolong tangkap mereka!"

Sepertinya ada pencuri. Berani sekali mereka beraksi di waktu senja begini.

"Minggir, minggir, minggir!"

"Kalau tidak mau terluka, menyingkirlah!"

Jumlah perampoknya lumayan banyak, hampir sepuluh orang. Kalau sebanyak ini, mereka sudah bisa disebut gerombolan bandit.

Apalagi mereka berlari mencar di sepanjang jalan agar tidak bisa disapu bersih sekaligus dengan sihir atau panah; benar-benar licik.

"Yah, tapi kalau cuma segitu sih masih dalam batas toleransi."

Aku sengaja berdiri menghalangi jalur lari mereka.

"Mengganggu saja, Nak!"

Perampok yang paling depan tanpa ragu mengayunkan senjatanya untuk menebas ku sambil terus berlari kencang.

"Maaf ya, aku tidak berniat bertarung jujur dengan kalian. Stan Mist!"

Sihir diaktifkan, dan kabut tebal seketika menyelimuti para perampok.

"Sihir?!"

"Cuma pengalih pandangan! Terjang saja, kita pasti segera keluar!"

"Ini bukan sekadar pengalih pandangan biasa. Meledaklah."

Dalam sekejap, kabut itu melepaskan aliran listrik.

""""GWAARGHHHH!!""""

Terkena serangan petir yang muncul tiba-tiba, semua perampok itu tumbang tanpa terkecuali.

"Gafuh..."

"Fufu, sepertinya yang lukanya lebih dari sekadar lecet itu kalian ya."

Ini adalah Stan Mist, sihir penangkapan tipe petir khusus untuk meredam kerusuhan yang diajarkan langsung oleh Rex.

Sihir ini mengurung musuh dalam kabut penghasil listrik, merampas jarak pandang sekaligus melumpuhkan lawan dengan sengatan listrik.

Berbeda dengan panah atau sihir tembak yang bisa dihindari, sihir ini menyebar dan membungkus musuh, jadi sangat sulit untuk melarikan diri darinya.

"He-hebat... dia mengalahkan para perampok tanpa melibatkan penduduk kota sedikit pun..."

Benar, seperti yang dikatakan Gobun, sihir ini bentuknya bisa diubah sesuka hati, jadi aku bisa menyerang tanpa melukai warga sekitar.

Dan musuh yang tertelan kabut akan terkena serangan petir dari segala arah seperti mangsa yang sedang dicerna di dalam perut ular.

Hmm, tapi dipikir-pikir, ini sihir yang cukup sadis juga ya. Karena berupa kabut, ia bisa menyelinap masuk ke dalam rumah selama ada celah, dan aku bisa mengatur waktu kapan akan menyengat mereka.

Sangat praktis. Lagipula, akhir-akhir ini aku merasa daya serangku terlalu tinggi, jadi sihir yang bisa menahan diri seperti ini sangat membantu.

"Tuan Rex memang luar biasa, tapi Kakak juga punya kekuatan yang tidak masuk akal..."

Aku sih tidak ada apa-apanya dibanding Rex. Pasalnya, kalau Rex yang memakai sihir ini, dia bisa menciptakan kabut yang ukurannya cukup untuk membungkus satu kota penuh.

Aku tidak habis pikir berapa banyak mana yang dihabiskan untuk kabut sebesar itu.

"Terima kasih banyak!! Berkat Anda kami tertolong!"

Orang-orang dari toko yang mengejar perampok tadi datang berterima kasih padaku.

Mereka segera mengambil kembali barang dagangan yang dicuri, lalu mengikat para perampok itu dengan tali yang mereka bawa untuk dibawa pergi. Mungkin diserahkan ke petugas keamanan.

Hmm? Petugas keamanan? Rasanya ada sesuatu yang aku lupakan... Ah, sudahlah. Kalau terlupa, berarti bukan hal penting.

"Jangan dipikirkan. Aku kebetulan lewat saja."

Benar-benar cuma kebetulan.

"Tidak, berkat Anda produk baru kami yang berharga tidak sampai dicuri. Izinkan kami membalas budi. Jika tidak, kami akan dimarahi habis-habisan oleh Tuan Besar."

Tapi orang toko itu bersikeras ingin membalas budi sambil membungkuk berkali-kali.

"Kalau kalian memaksa sampai begitu..."

"Terima kasih banyak!"

Rasanya aneh juga ya, menerima tawaran balas budi tapi malah kita yang diberikan ucapan terima kasih lagi.

"Mari, toko kami ada di sebelah sana."

Mengikuti orang toko tersebut, tak lama kemudian terlihat sebuah bangunan yang tampaknya adalah toko yang tadi dirampok.

"Heh, lumayan besar juga ya."

Ya, toko ini memang besar. Sepertinya ini toko yang sangat berpengaruh.

"Eh? Bukannya ini cabang toko Echigoya?"

Tiba-tiba Gobun berseru saat melihat nama tokonya.

"Kamu tahu toko ini?"

"Iya. Ini pengusaha terbesar di Negeri Timur. Toko ini sangat terkenal sampai-sampai pedagang dari luar negeri pasti akan bertransaksi dengan Echigoya setidaknya sekali."

Heh—ternyata ini toko yang sangat terkenal ya.

"Hahaha, disebut nomor satu di Negeri Timur itu berlebihan. Tentu saja kami semua berusaha keras untuk mencapai gelar itu."

Namun orang toko itu merendah dengan rendah hati.

"Perkenalkan, nama saya Tatsukichi, pengelola cabang Echigoya di Omitsu ini."

Orang bernama Tatsukichi itu membungkuk dalam. Tunggu, pengelola cabang berarti dia ini kepala cabang?! Bukankah dia orang yang cukup penting?!

"Anu, namaku Mina."

"Saya Gobun."

"...Mina-san, dan Gobun-san ya."

Hmm?

Kenapa dia menatapku dengan aneh begitu?

Apa karena aku terlalu cantik sehingga dia jadi penasaran?

...Yah, aku memikirkan hal bodoh.

"Omong-omong, kalian menjual banyak barang ya."

Aku melihat sekeliling toko untuk membuang pikiran bodohku tadi.

"Koleksi barang kami adalah kebanggaan kami."

"Heh."

Bukan toko spesialis, tapi lebih ke toko serba ada ya. Lagipula, barang-barang di Negeri Timur ini banyak yang tidak aku mengerti fungsinya.

"Oh, benar juga! Karena ini kesempatan bagus, sebagai tanda terima kasih, akan saya berikan produk baru toko kami!"

Mungkin karena melihatku yang tampak tertarik melihat-lihat isi toko, Tatsukichi-san mengusulkan hal itu.

"Produk baru?"

"Iya, melalui koneksi Tuan Besar di kantor pusat, ada barang-barang yang dibuat oleh pengrajin ahli yang datang dari luar negeri."

Heh, orang asing ya.

"Luar negeri? Apa maksudnya orang dari benua seperti kami?"

"Benar. Karena kualitasnya yang luar biasa, barang ini langsung populer begitu masuk ke toko kami! Yah, gara-gara itu juga para bandit tadi mengincarnya."

"Oh, orang-orang tadi ya."

"Aduh, memalukan sekali."

Fumu, begitu ya. Kalau produk populer dari luar negeri, pasti harganya akan melambung tinggi jika dijual di kota lain. Mungkin para perampok tadi merasa risikonya sepadan.

Memang benar, barang biasa pun bisa menghasilkan keuntungan besar jika dijual di negeri yang berbeda.

Kalau tidak salah... itu disebut hukum permintaan dan penawaran? Rex dan Mina (yang satu lagi) kadang membicarakan hal semacam itu.

"Bagaimanapun, saya percaya diri dengan kualitasnya, jadi silakan dilihat sendiri."

"Kalau begitu, aku lihat ya."

Boleh juga. Meskipun barang dari benua yang sama, jika negaranya berbeda, mungkin ada barang yang berguna untukku juga.

"Ini dia! Inilah deretan produk baru toko kami."

"Banyak juga ya."

Barang-barang yang sengaja diletakkan terpisah dari area penjualan biasa ini seolah menegaskan bahwa mereka adalah produk baru yang sangat berharga.

"Iya. Ini adalah ramuan pemulih tingkat tinggi. Bukan hanya luka dalam, tapi luka lama dari puluhan tahun lalu pun bisa sembuh total berkat khasiatnya."

"Eeeh?! Bukankah itu hebat sekali?!"

Setahu umum, ramuan atau potion tidak akan bisa menyembuhkan luka yang sudah terlalu lama.

Meski begitu, jika luka lama bisa sembuh hanya dengan diminum, itu sudah bukan potion lagi, tapi lebih cocok disebut magic item cair, kan?!

"Tidak hanya itu. Cairan penawar racun ini adalah penawar universal yang berkhasiat untuk racun jenis apa pun! Cukup bawa satu ini, Anda tidak perlu menyiapkan berbagai macam penawar racun lagi!"

"Hm?"

Khasiatnya terasa familiar di telingaku.

"Ada apa?"

"Ti-tidak. Lalu barang lainnya apa saja?"

"Nah, pupuk ini jika ditebar di ladang, tanaman akan berbuah dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Terlebih lagi, hasil panennya akan tumbuh beberapa kali lipat lebih besar dari ukuran aslinya!"

"Aku juga merasa pernah mendengar itu di suatu tempat..."

Entah kenapa, meskipun seharusnya aku tidak tahu, aku merasa sangat mengenal hal ini.

Apa mungkin aku pernah mendengar seseorang membicarakannya? Nanti aku tanya ke yang lain deh.

"Lalu ini adalah zirah dan perisai yang dibuat dari sisik naga! Entah bagaimana caranya, sisik naga yang keras itu bisa ditempa dengan bebas seolah-olah mengolah besi! Berkat itu, pergerakan pemakainya jauh lebih leluasa dibandingkan jika sisik hanya ditempelkan begitu saja pada pelindung!"

"Pelindung dari material naga..."

Kenapa ya, ada sesuatu dalam hatiku yang mulai membunyikan lonceng peringatan...?

"Dan inilah primadonanya! Bukan barang galian dari reruntuhan kuno, tapi ini benar-benar pedang sihir asli buatan pengrajin zaman sekarang! Luar biasanya, pengrajin tersebut bukan hanya seorang ahli obat, tapi juga seorang pandai besi yang sangat jenius! Saya sudah lama berbisnis, tapi baru kali ini bertemu pandai besi yang bisa membuat magic item! Tentu saja performa pedang sihir ini asli! Saat dicoba, sebuah batu besar terbelah menjadi dua dengan mudahnya! Saya sendiri sampai tidak percaya melihatnya!"

"Bagaimana? Luar biasa sekali barang-barangnya, bukan?! Jujur saja, wajar jika perampok mengincarnya!"

"Ah, iya, benar juga ya..."

...Ini sudah pasti barang buatan Rex.

Deretan barang dengan performa yang jelas-jelas tidak normal namun terasa sangat familiar.

Terlebih lagi, saat mendengar bahwa semua itu hasil karya satu orang pengrajin saja, identitas pengrajin itu sudah sejelas api yang menyala terang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close