Chapter 170
Keresahan Aug?
Setelah berhasil
menyelamatkan Aug-san, kami datang ke kedai yang juga berfungsi sebagai kantin
untuk makan malam... tapi.
"Uwaaaaa!
Aku harus bagaimanaaaaaa!"
Ternyata kami
malah berpapasan dengan Aug-san yang sedang berteriak dengan wajah seolah dunia
akan kiamat.
"A-ada apa, Aug-san?"
Padahal tadi siang dia pulang terlihat sangat akrab dengan
Seria-sama, sebenarnya apa yang terjadi?
"Hm? ...O-ooh! Rex! Kamu datang di waktu yang tepat!"
Begitu
menyadari bahwa itu aku yang memanggilnya, wajah putus asanya tadi langsung
cerah seketika, seolah kesedihannya hanyalah bohong belaka.
"Benar,
benar juga! Kan ada kamu!"
"Eh? Apa
maksudnya itu?"
"Hei Rex!
Sisik Naga yang kamu berikan padaku dulu, apa masih ada sisanya!? Kalau ada,
tolong berikan padaku!"
"Eh? Sisik
Naga?"
Maksudnya mungkin
sisik Green Dragon yang kuberikan sebagai tanda terima kasih saat kami pertama
kali bertemu dulu.
Tapi sisik itu
sudah kujual di pelelangan ibu kota, dan potongan-potongan kecilnya pun sudah
habis kupakai.
Bahan Green
Dragon yang kudapatkan di Puncak Naga juga sudah habis kugunakan untuk
pertempuran melindungi kota kemarin...
"Maaf, yang
itu sudah tidak tersisa satu lembar pun."
"Ti-tidaaaaaakkkk...
bruk."
Begitu diberitahu
bahan Green Dragon sudah habis, Aug-san langsung ambruk ke atas meja.
"Sebenarnya
ada masalah apa?"
Aug-san yang
biasanya ceria, percaya diri, dan petualang kelas satu, tidak mungkin depresi
sampai begini kalau bukan karena masalah besar. Jangan-jangan dia terlibat
insiden yang sangat gawat.
"Zirahku..."
"Hah?
Zirah?"
"Saat aku
membawanya ke Paman Goldov, dia bilang zirahnya sudah tidak bisa diperbaiki
lagi..."
"Eh?"
Zirah Aug-san?
Ah, benar juga, zirah itu memang sudah hancur berantakan setelah pertarungan
melawan monster Orc aneh itu.
"Tapi dengan
keahlian Goldov-san, bukankah zirah yang rusak itu bisa dilebur kembali dan
dibuat ulang dari nol?"
Ya, meskipun
memperbaikinya sulit, seharusnya tidak masalah kalau dibuat ulang.
"Dia
bilang tidak ada bahannya. Serpihan zirah yang tersisa tidak cukup untuk
membuat zirah yang menutupi seluruh tubuh seperti sebelumnya. Paling-paling
cuma bisa jadi pelindung bagian vital saja... Terus aku diceramahi
habis-habisan. Katanya 'Harusnya kamu cepat kabur sebelum jadi
begini'..."
Ah, sepertinya ceramahnya yang justru lebih menyakitkan
daripada rusaknya zirah ya?
"Senjataku juga hancur dan hilang di hutan itu, jadi
aku harus menyiapkan semuanya dari awal lagi. Tapi, meskipun aku berhasil
mengumpulkan perlengkapan, kalau bahannya cuma besi biasa atau bahan monster
kelas rendah, peringkat perlengkapanku akan turun jauh dari yang sebelumnya.
Kalau dalam kondisi begitu aku harus melawan monster Orc itu lagi... sigh."
Begitu ya, jadi kegelisahan Aug-san adalah karena kekurangan
bahan untuk perlengkapannya.
Memang benar, kalau lawannya adalah musuh yang bisa
menghancurkan zirah Naga miliknya sampai babak belur, dia pasti ingin
perlengkapan yang mumpuni.
Tapi, kenapa Aug-san
sangat terpaku pada bahan Green Dragon?
Kalau lawannya
kuat, kurasa tidak perlu memaksakan diri memakai bahan Naga yang paling lemah,
masih banyak bahan monster lain yang lebih kuat.
Oh, tapi kalau
Goldov-san bilang tidak ada bahan, mungkinkah distribusi bahan sedang macet?
Mungkin ada yang
menimbun, atau ada negara lain yang memborong untuk keperluan perang. Makanya
dia pikir mungkin bahan Green Dragon yang kualitasnya lebih rendah masih bisa
didapatkan.
Lagi pula, dia
mungkin tidak ingin merasa menang hanya karena kekuatan perlengkapan saat
bertarung ulang (rematch) dengan musuh yang pernah mengalahkannya.
Itulah sebabnya
dia bersikeras menggunakan bahan Green Dragon.
Ya, Pendekar
Pedang Besar Raigard pun saat bertarung ulang dengan musuh yang pernah
membuatnya ceroboh, sengaja menggunakan perlengkapan yang setara dengan lawan
untuk membersihkan namanya dengan kemenangan yang adil. Aug-san pasti
memikirkan hal yang sama.
Hmm, kalau begitu
aku ingin sekali memberikan bahan Green Dragon, tapi sayangnya memang sudah
tidak ada. Setidaknya kalau ada bahan yang setingkat...
"Ah, benar
juga!"
Aku teringat baru
saja mendapatkan sesuatu yang sangat pas.
"Aug-san,
aku memang tidak punya bahan Green Dragon, tapi bagaimana kalau bahan monster
yang setingkat dengan itu?"
"...Apa!?"
Mendengar
usulku, Aug-san langsung bangkit berdiri.
"Aslinya
ini adalah monster tingkat tinggi, tapi saat aku melawannya, monster itu sudah
sangat lemah, jadi kualitas bahannya pun turun beberapa peringkat dari aslinya.
Jika Anda tidak keberatan,
saya bisa memberikannya."
"Serius!?
Wah, kamu menyelamatkanku! Tolong berikan padaku!"
Mata Aug-san
berbinar-binar sambil menggenggam tanganku. Ternyata dia memang ingin melakukan
balas dendam dengan perlengkapan yang sama.
"Baiklah!
Kalau begitu, makan malam kali ini aku yang traktir! Bagaimanapun aku ini
adalah ksatria dengan gaji tinggi sekarang!"
Tepat saat Aug-san
berkata demikian...
"""""WOI,
KALIAN AUG YANG TRAKTIIIIIRRR!!"""""
Orang-orang
di kedai serentak berdiri dan berteriak kegirangan.
"B-bukan
kalian, woi!"
"Ooi
Sati-chan, minta steik Tackle Buff!"
"Aku
minta teriyaki Spear Bird!"
"Aku minta
anggur dari Neftika ya."
Semua
orang serentak mengangkat tangan dan memesan kepada pelayan.
"Bodoh!
Jangan seenaknya memesan menu mahal mentang-mentang ditraktir!"
"Hahaha,
maaf ya Aug, kami terima traktiranmu."
"Terima
kasih makanannya, Aug-san!"
"Hidup
Ksatria Aug! Dermawan sekali!"
"Yoo!
Bintang sukses dari Serikat Petualang!"
"Jangan
bercanda! Lain kali
aku tidak akan mentraktir kalian lagi!"
Ah, kalau
diingat-ingat, dulu saat Aug-san mentraktirku makan, suasananya juga jadi
begini di mana dia akhirnya mentraktir semua orang.
"Anu,
apa sebaiknya aku bayar sendiri saja?"
Melihat pemandangan itu, Liliera-san bertanya dengan wajah
bingung.
"Yah, kalau
melihat alirannya, kurasa tidak apa-apa kalau ditraktir."
"Be-benarkah?"
Tiba-tiba,
Mofumofu memanjat ke atas meja.
"Kyuuu!"
Dia memanggil
pelayan, lalu dengan lihai menunjuk hidangan daging yang sedang dimakan tamu di
meja sebelah untuk memesan.
"Kyu-kyuu."
Setelah selesai
memesan, Mofumofu berjalan mendekat ke depan Aug-san, lalu berdiri dengan kaki
depannya sambil mengeluarkan suara seolah sedang bilang "Terima
kasih".
"...Eh?
Aku juga harus mentraktir makhluk ini?"
Gumam kebingungan Aug-san pun tenggelam di balik suara tawa riang semua orang. Baiklah, aku juga akan memesan makanan.



Post a Comment