NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 6

Chapter 143

Pemeran Pengganti dari Pemeran Pengganti!?


Atas permintaan Idra-sama, kami pun menceritakan kisah pertemuan kami dengan Meguri-san serta berbagai petualangan yang telah kami lalui sejak menjadi petualang.

"Luar biasa! Megurielna, ternyata kamu sudah melewati petualangan sehebat itu! Mengagumkan! Bertarung melawan monster raksasa yang mengerikan, lalu pergi berpetualang ke pulau yang melayang di angkasa... itu benar-benar terdengar seperti dunia di dalam dongeng!"

Mendengar cerita kami, Idra-sama menatap Meguri-san dengan binar mata yang tampak sangat ceria sekaligus iri.

"Tapi, kenapa kamu menjadi petualang? Jika pekerjaanmu adalah menjadi pemeran penggantiku, bukankah tidak perlu sampai menjadi petualang?"

"Saya diperintahkan oleh ibu untuk menjadi petualang. Beliau berkata bahwa sebelum saya resmi mengabdi sebagai pemeran pengganti, saya harus menimba pengalaman dalam pertarungan sungguhan."

Begitu ya, itu memang masuk akal. Lagipula, tidak akan ada yang menyangka kalau pemeran pengganti sang tuan putri ternyata sedang bekerja sebagai petualang.

"Selain itu, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, status sebagai petualang akan sangat berguna."

Ah, memang sering terjadi anggota keluarga kerajaan menjadi petualang untuk membuat identitas samaran.

Dalam kisah petualangan Pendekar Pedang Agung Ryguard pun, ada cerita tentang seorang pangeran yang menyamar jadi petualang dan menghajar para penjahat bersama Ryguard.

Tapi cerita itu jadi terlalu populer, sampai-sampai muncul seri spin-off yang menjadikan pangeran itu sebagai tokoh utamanya.

"Aah, senangnya. Aku juga ingin mencoba petualangan hebat seperti itu."

"Idra-sama, kalau itu... rasanya tidak mungkin..."

"Aku tahu. Hal itu memang tidak diperbolehkan, kan."

Suasana ceria tadi seketika berubah. Idra-sama menundukkan pandangannya dengan raut kecewa. Sebagai gantinya, Meguri-san mengalihkan pandangannya kepada kami.

"Semuanya, atas perintah ibu, aku harus menjalankan tugasku sebagai pemeran pengganti Idra-sama. Karena itu, aku tidak bisa lagi bersama kalian sebagai petualang."

"...Yah, mau bagaimana lagi."

"Benar. Sejak awal memang begini rencananya, kan."

Sepertinya Jairo dan Mina sudah membicarakan hal ini sebelumnya, sehingga mereka menerima keputusan Meguri-san dengan tenang.

"Apa benar tidak apa-apa?"

Sebaliknya, Liliera-san bertanya kepada mereka berdua. Liliera-san mungkin mengerti situasinya, tapi dia tetap merasa harus menanyakannya.

Bagaimanapun, meski mereka tidak berada dalam satu parti yang sama, mereka adalah rekan petualang yang pernah berjuang bersama. Tentu saja sedih rasanya jika mendengar rekan sendiri akan berpisah jauh.

"Terima kasih, Liliera. Tapi aku harus selalu berada di sisi Idra-sama agar bisa menjadi pemeran penggantinya kapan pun dibutuhkan. Jika aku pergi berpetualang, aku mungkin tidak akan sempat kembali saat keadaan darurat. Kalau begitu, peranku sebagai Kagemusha jadi tidak ada artinya."

"...Kamu benar."

Ini memang masalah yang sulit. Bagi seorang pemeran pengganti bangsawan, karena kita tidak pernah tahu kapan sesuatu akan terjadi, biasanya disiapkan beberapa orang pengganti sekaligus. Bahkan ada negara yang sampai menggunakan Golem super canggih sebagai pemeran pengganti.

"Ah, benar juga. Bagaimana kalau kita siapkan pemeran pengganti berupa Golem saja?"

Tiba-tiba aku teringat hal itu dan mengusulkannya kepada semua orang.

"""""Eh?"""""

"Anu, Rex-sama. Apa yang Anda maksud dengan pemeran pengganti Golem?"

Idra-sama bertanya dengan wajah bengong setelah mendengar perkataanku. Kurasa penggunaan Golem sebagai pemeran pengganti cukup terkenal di kalangan bangsawan... ah, Idra-sama adalah putri yang selalu dilindungi, jadi mungkin dia justru tidak tahu soal itu.

"Di antara para Golem, ada jenis yang sangat halus dan presisi yang biasa digunakan sebagai pemeran pengganti kaum bangsawan."

"Be-benarkah ada yang seperti itu!?"

"Tunggu!? Aku tidak pernah dengar ada Golem semacam itu!? Apa itu jauh lebih canggih daripada Golem tempo hari!?"

Mina bertanya dengan tubuh condong ke depan. Aduh, biarpun kamu tertarik dengan teknologi sihir baru, jangan terlalu bersemangat begitu dong.

"Iya, meski butuh bahan langka dan sedikit usaha lebih, membuat Golem yang bisa bergerak semirip aslinya untuk menjadi pemeran pengganti itu sangat mungkin dilakukan."

""""Itu pasti tidak 'sedikit' atau 'sekadar usaha' saja bagi orang normal!""""

Ahaha, tidak juga, kok.

"Ta-tapi, kurasa mustahil membuat Golem yang bisa bertingkah laku persis sepertiku... maksudku Idra-sama. Kurasa Golem tidak akan bisa melakukan percakapan yang rumit."

Itu ada benarnya. Jika ada bahan dan waktu, hal itu mungkin saja dilakukan, tapi saat ini aku tidak punya bahan yang cukup untuk itu.

"Ah, tapi kalau tidak harus tipe mandiri, aku bisa membuatkan tipe Golem yang dikendalikan oleh pengguna melalui Magic Item."

"""""Magic Item untuk pengendalian?"""""

"Iya. Golem yang bisa digerakkan persis seperti tubuh sendiri, seolah-olah penggunanya benar-benar berada di tempat Golem itu berada."

""""Teknologi super macam apa itu!? Boy!""""

"Anu, begini saja. Kebetulan aku masih punya sisa bahan Golem yang kubuat di Dragonia tempo hari, ayo kita coba sedikit eksperimen."

""""Sisa bahan!? Kamu pikir itu sisa makan malam!? Boy!""""

Aku mengeluarkan Golem tipe zirah dari kantong sihir, bersama dengan alat penghenti darurat. Golem ini kubuat karena kualitas bahannya agak kurang bagus, jadi alat ini disiapkan untuk berjaga-jaga seandainya dia mengamuk.

"Aku akan memodifikasi alat penghenti darurat ini menjadi alat pengendali. Untuk penglihatannya... pakai bongkahan permata mentah dari Megalo Whale saja, ya. Tinggal dipahat sedikit... hmm, yah, karena ini cuma percobaan, bagian ini dikerjakan seadanya saja."

"Ma-Magic Item sedang dibuat dengan 'seadanya'..."

"Te-tenanglah, Mina. Inilah 'Kualitas Rex-san'. Jika kita membandingkannya dengan akal sehat kita, kita hanya akan lelah sendiri..."

"Ooh, hebat benar Kakak! Aku tidak mengerti apa yang kamu lakukan, tapi bisa memodifikasi Magic Item semudah itu benar-benar hebat!"

"Wah, ternyata memodifikasi Magic Item itu mudah, ya."

"Idra-sama, itu terlihat mudah hanya karena dilakukan oleh Rex. Biasanya itu mustahil."

"Nah, sudah jadi! Silakan Idra-sama, coba gunakan ini untuk menggerakkan Golem-nya."

Karena Magic Item pengendali untuk uji coba sudah selesai, mari kita minta Idra-sama mencobanya.

"Bagaimana cara menggunakannya?"

"Pertama, pasangkan kristal visual dari permata mentah ini di kepala Anda. Lalu, tekan bagian ini pada alat pengendalinya..."

"Ya ampun! Ada diriku di depanku!?"

Begitu Golem diaktifkan, Idra-sama terkejut karena bisa melihat sosok dirinya sendiri. Ya, soalnya aku menempatkan Golem itu tepat di depan Idra-sama.

"Silakan coba gerakkan Golem-nya. Jika Anda menggerakkan bagian ini, dia akan bergerak ke kiri dan ke kanan."

"Be-begini, ya!"

Setelah aku ajarkan cara pengoperasiannya, Idra-sama mulai menggerakkan Golem tersebut dengan kaku.

"He-hebat! Rasanya seperti punya dua tubuh!"

Idra-sama berseru kegirangan saat pertama kali mengendalikan Golem.

"Ini cuma barang darurat untuk percobaan, tapi jika Anda memberiku sedikit waktu lagi, aku bisa membuatnya bergerak dengan sensasi yang jauh lebih mendekati tubuh asli."

"Luar biasa, Rex-sama! Anu, misalnya, ini cuma permisalan saja, tapi apakah mungkin membuatkan Golem untuk 'penyamaran' agar aku bisa berjalan-jalan di dunia luar sementara diriku yang asli tetap berada di kastel!?"

Idra-sama yang mulai tertarik dengan Golem tipe kendali ini tampak sangat antusias.

"Iya. Jika alat pemancar pengendalinya diganti dengan tipe jarak jauh, itu sangat mungkin dilakukan."

"Ka-kalau begitu, tolong buatkan untukku! Golem pemeran penggantiku dan Golem untuk penyamaranku! Ah, untuk Golem penyamaran, tolong buat wajahnya berbeda dariku, ya."

Idra-sama yang sudah jatuh hati pada pesona Golem langsung memberikan pesanannya. Sebagai putri yang biasanya tidak bisa keluar, dia pasti sangat penasaran dengan dunia luar.

"Baiklah. Jadi dua unit Golem, ya."

Membuat Golem dengan gerakan alami yang bisa menyamar jadi manusia, ya... sudah lama sekali, aku jadi bersemangat! Benar juga! Karena Golem ini untuk menikmati dunia luar, aku harus memberinya ketahanan dan kekuatan tertentu untuk perlindungan diri!

"Aku akan memberimu imbalan apa pun yang kamu mau. Tentu saja biaya bahan di luar itu. Benar juga! Jika mau, aku bahkan bisa memberimu gelar bangsawan!"

Idra-sama yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya menyuruhku meminta apa pun selain uang sebagai imbalan, tapi kurasa aku tidak butuh hal seperti itu.

"Tidak, aku tidak butuh gelar bangsawan. Cukup bayar harga Golem-nya saja."

"Kenapa!? Jika kamu bisa membuat Golem sehebat itu, negara akan menyambutmu dengan tangan terbuka!"

Justru itu yang tidak kumau. Karena hal itulah, di kehidupanku yang sebelumnya lagi, aku dipaksa mengerjakan tumpukan pekerjaan merepotkan sampai muak.

"Aku tidak terlalu ingin terlibat dengan kekuasaan. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa menarik perhatian."

Lagipula, itulah alasanku menjadi petualang.

""""Tidak, kurasa itu mustahil.""""

"Kyuuuu—"

Tunggu, kenapa kalian semua langsung menyangkalnya!? Bahkan Mofumofu juga ikut-ikutan!

"Te-terlepas dari itu, petualang adalah mereka yang mencintai kebebasan, jadi seberapa berharga pun imbalannya, kami tidak tertarik pada hal-hal yang mengekang kebebasan kami."

"Ya ampun!? Rex-sama ternyata orang yang sangat rendah hati, ya!"

Idra-sama menatapku seolah tidak percaya, namun dia menghela napas pendek dan membetulkan sikap duduknya sambil menatapku.

"Baiklah. Jika aku terus memaksamu menerima imbalan, itu hanya akan memperburuk kesanmu terhadapku. Meski begitu, jika aku hanya membayar harganya saja, itu akan memalukan nama keluarga kerajaan. Aku akan memberi bonus yang melimpah, dan aku akan menyiapkan barang berharga yang tidak akan menjadi beban bagi Rex-sama. Bagaimana?"

"Iya, kalau begitu tidak apa-apa."

Negosiasi selesai. Syukurlah tuan putrinya pengertian.

"Ah benar juga, ada satu permintaan lagi."

"Iya, katakan saja apa pun."

Ya, hal ini harus kukatakan.

"Tolong rahasiakan tentang kami, ya? Soalnya hari ini kami masuk tanpa izin."

"Oh, benarkah? Ah, benar juga, kalian tadi masuk sambil menghilang, ya."

""""Maafkan kami karena masuk tanpa izin.""""

Liliera-san dan yang lainnya menundukkan kepala di sampingku.

"Fufu, jangan dipikirkan. Kalian kan teman-temannya Megurielna. Aku tidak akan mempermasalahkan fakta bahwa kalian telah menyusup ke kamar putri yang belum menikah di tengah malam."

"...Lho? Jangan-jangan kita tadi melakukan sesuatu yang sangat berbahaya?"

"Bukan cuma sangat, tapi luar biasa berbahaya. Menyusup saja sudah parah, tapi kalau ketahuan ada laki-laki seperti Rex dan Jairo yang masuk ke kamar tidur putri yang belum menikah, itu sudah pasti hukumannya eksekusi mati."

Uwah, seram juga. Ngomong-ngomong, di kehidupanku yang dulu, aku justru sering dipaksa masuk dengan sengaja.

"Ka-kalau begitu, ayo kita segera pulang! Kita juga sudah memastikan Meguri baik-baik saja."

"Wah, kalian sudah mau pulang?"

Saat kami pamit, wajah Idra-sama tampak kesepian.

"Tujuan kami datang ke sini karena mengkhawatirkan Meguri-san. Karena kami tahu Meguri-san tidak dalam bahaya, kami mohon pamit. Tidak enak juga kalau kami berlama-lama di sini."

Kalau kami terlalu gaduh dan para ksatria penjaga menerjang masuk, itu bisa jadi gawat.

"Baiklah. Tidak sopan juga kalau aku menahan kalian terlalu lama."

"Kalau begitu, aku akan datang lagi setelah Golem-nya selesai."

"Iya, aku akan menantinya."

"Meguri, lain kali kalau mau pergi, tinggalkan pesan tertulis yang benar dulu sebelum berangkat."

"Hm, maaf."

"Tapi ya sudahlah, aku lega melihat Meguri baik-baik saja."

"Benar, kami semua sangat khawatir, tahu."

"Aku menyesal."

Setelah selesai berpamitan, kami pergi ke arah jendela dan saling berpegangan tangan.

"Kalau begitu Meguri-san, jika terjadi sesuatu, datanglah kepada kami kapan saja."

"Iya, kalau saat itu tiba, aku mohon bantuannya."

Setelah percakapan singkat itu, aku mengaktifkan sihir tembus pandang.

"Megurielna, mereka menghilang lagi!"

"Iya, itu sihir Rex."

"Sihir memang luar biasa, ya."

Meskipun kami masih berada tepat di depan mereka, Idra-sama membelalakkan mata karena terkejut.

"Ayo pulang, semuanya."

"Iya, ayo."

Kami mengaktifkan sihir terbang dan meluncur keluar dari jendela.

"Malam sudah benar-benar larut, ya."

"Benar, setelah merasa lega, aku jadi lapar."

"Aku juga, aku juga! Kakak, ayo kita makan sesuatu sebelum sampai rumah!"

"Boleh juga, aku juga sudah lapar."

...Lho? Bicara soal lapar, rasanya aku melupakan sesuatu...?


Meguri

"Fufu, menyusup ke kastel demi teman, mereka benar-benar anak-anak yang hebat ya, Megurielna."

Idra-sama bergumam riang sambil menatap ke luar jendela.

"Rex dan yang lainnya... memang sedikit unik..."

Mendengar ucapanku, Idra-sama berbalik dan tersenyum simpul.

"Tenang saja. Aku akan merahasiakan tentang mereka dengan baik."

Idra-sama melenyapkan kekhawatiranku dengan tawa. Aku harus bersyukur karena beliaulah orang yang harus kulindungi.

"Kalau begitu, mari kita istirahat juga."

"Kyuu!"

Tiba-tiba, Mofumofu yang berada dalam pelukan Idra-sama meronta dan menjulurkan tubuhnya ke arah meja. Ah, ternyata tubuh Mofumofu bisa memanjang seperti kucing.

"Lho? Mofumofu-chan masih ingin makan camilan?"

"Kyu-kyuu!!"

Mofumofu mengangguk setuju, lalu Idra-sama mengambil camilan dari meja dan mendekatkannya ke mulut Mofumofu.

"Kyufuu!"

"Fufu, makanlah yang banyak agar cepat besar, ya."

Senyum itu tampak penuh kasih sayang layaknya seorang ibu suci, membuat hatiku terasa hangat.

"...Lho?"

Di sana, aku menyadari ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang selama ini kulupakan karena dia selalu ada di dekat kami.

"Mofumofu-nya ketinggalan!"

Benar, Rex pulang tanpa membawa kembali Mofumofu.

"Kyuu!"

"Fuuh..."

Setelah keluar dari kamar Idra-sama, aku kembali ke kamarku sendiri.

"Tidak kusangka Jairo dan yang lainnya akan datang ke sini..."

Sejujurnya, aku telah meremehkan betapa nekatnya Rex. Memikirkan dia berani menyusup ke kastel tanpa mempedulikan bahaya... Yah, bukan berarti aku tidak senang, sih... Lalu soal Mofumofu juga di luar dugaan.

Untuk sementara, karena Idra-sama sangat menyukainya, aku akan mengirim pesan untuk memberitahu mereka agar Mofumofu tinggal di kastel sebentar.

Nanti aku akan mengembalikannya saat membawa Golem untuk pemeran pengganti. Yah... mungkin Mofumofu yang sudah dimanjakan oleh Idra-sama malah tidak mau pulang.

Idra-sama tampak sangat gembira karena masalah Golem itu, tapi aku justru merasa murung saat memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.

"Tapi, kalau ada Golem buatan Rex, sepertinya masalah pemeran pengganti Idra-sama akan baik-baik saja. Walaupun Golem untuk penyamaran itu sepertinya bakal memicu kekacauan."

Memikirkan hal itu membuatku merasa lega sekaligus sedikit khawatir. Tapi yah, itu bukan sesuatu yang harus kupikirkan sekarang.

Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk. Namun itu bukan berasal dari kamar Idra-sama yang ada di sebelah.

Melainkan dari pintu yang satunya lagi. Pintu yang hanya dibuka oleh orang yang memiliki urusan denganku sebagai seorang Kagemusha.

"Silakan masuk."

Sebelum aku selesai menjawab, pintu sudah terbuka. Orang yang masuk adalah seseorang yang sangat kukenal.

"Ibu..."

Sosok yang masuk adalah ibuku. Dan, orang ini adalah pemimpin dari para mata-mata di negara ini. Kepada Rex dan kawan-kawan aku bilang aku adalah pengawal, tapi sebenarnya aku adalah mata-mata.

Ibu tidak mengatakan apa-apa dan menyentuh permata kecil yang dia keluarkan dari balik bajunya. Itu adalah Magic Item kedap suara.

Jika alat itu digunakan, suara tidak akan bocor ke luar radius dua meter dari alat tersebut. Menggunakan benda itu berarti pembicaraan ini adalah sesuatu yang tidak boleh didengar oleh Idra-sama.

"Megurielna, tanggal untuk ritualnya sudah ditetapkan."

"!!?"

Aku sudah tahu hal ini akan datang. Tapi tetap saja, mendengarnya secara langsung membuatku sedikit terguncang.

"Satu minggu lagi. Pada hari itu, semua persiapan akan selesai."

Satu minggu. Aku tidak tahu apakah itu waktu yang lama atau singkat.

"Maafkan aku. Kamu harus menjadi korban."

"...!?"

Aku terkejut. Kupikir orang ini tidak punya perasaan kasih sayang antara orang tua dan anak.

Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu darinya, dan sekali lagi aku merasa terguncang.

"Saya mengerti. Semua ini demi negara ini... kan?"

Tapi, apa yang harus kulakukan... apa yang seharusnya kulakukan tidak akan berubah.

"Benar. Demi menyelamatkan negara ini, tidak, demi menyelamatkan dunia. Kamu akan menjadi tumbal untuk menyegel iblis. Karena itulah tugasmu sebagai pemilik darah bangsawan."

"...Baik."

Benar, namaku adalah Meguri. Tapi nama asliku adalah Megurielna... Megurielna Terra Sierra Tion. Putri raja yang keberadaannya dihapus sejak hari dia dilahirkan hanya untuk menjadi tumbal. Itulah identitas asliku yang sebenarnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close