Chapter 142
Putri Itu Meguri!?
"Kenapa
Mofumofu bisa ada di sini..."
Aku terkejut
melihat ada dua orang Meguri-san sampai-sampai suaraku nyaris keluar, namun
berkat sihir tembus pandang, identitas kami masih belum terbongkar. Hanya
Mofumofu saja yang sudah ketahuan karena dia melompat keluar duluan.
"Megurielna,
apa anak ini temanmu?"
Kemudian,
Meguri-san yang pertama kali masuk ke ruangan ini bertanya kepada Meguri-san
yang dipanggil Megurielna sambil menggendong Mofumofu.
Anu, kalau aku
memercayai ucapan Meguri-san yang baru masuk tadi, berarti Meguri-san yang ini
adalah Idra-sama, kan? Mungkin. Hmm, membingungkan sekali.
"I-iya...
ini adalah hewan peliharaan milik kenalanku."
Sepertinya dia
mengenali Mofumofu, jadi Megurielna-san inilah Meguri-san yang kami kenal, ya?
"Ya ampun,
milik temanmu? Mereka pasti sangat mengkhawatirkannya. Kita harus segera
mengembalikannya."
"Lebih dari
itu, kenapa Mofumofu bisa ada di tempat seperti ini..."
"Manis
sekali, namamu Mofumofu, ya?"
"Kyuu!"
"Kya!"
Idra-sama sempat
terkejut karena Mofumofu mendadak melompat ke arahnya, namun dia segera
mendekapnya kembali dan mulai mengelusnya dengan lembut.
"Kyu-kyuu!"
Mofumofu yang
dielus mengeluarkan suara manja dan merapat ke arah Idra-sama. Padahal
penyusupan kita ke kastel sudah ketahuan, santai sekali kamu ini.
"Fufuh, lucu
sekali. Mau makan camilan?"
"Kyuu!"
Begitu Idra-sama
menyodorkan camilan dari atas meja, Mofumofu dengan gembira memakan camilan
yang terlihat mahal itu.
"Lihat
Megurielna, dia manis sekali!"
Kriuk kriuk
"Sebenarnya
dia makhluk yang sangat berbahaya, tapi..."
"Masa
sih? Kamu anak yang baik dan lembut, kan?"
"Kyuu!"
"...Dia
sedang pura-pura manis."
Sambil
diberi camilan oleh Idra-sama, Mofumofu terus pasrah saat dielus. Tidak ada
sedikit pun aura liar yang terlihat, dia benar-benar menunjukkan sosok manja
layaknya kucing peliharaan. Yah, Mofumofu kan masih bayi yang baru lahir.
Walaupun dia monster, dia tidak akan dianggap sebagai ancaman.
"..."
Berbeda dengan
keceriaan mereka berdua, Meguri-san tampak celingukan memperhatikan seisi
ruangan. Ada apa, ya?
"Ada apa,
Megurielna?"
Idra-sama yang
menyadari keanehan sikap Meguri-san pun bertanya padanya.
"Idra-sama,
sepertinya Anda akan sedikit terkejut setelah ini, tapi bisakah Anda berjanji
untuk tidak berteriak?"
"E-eh?
Aku kurang mengerti, tapi baiklah."
Idra-sama
memiringkan kepalanya dengan heran, namun karena dia memercayai Meguri-san, dia
tetap mengangguk meski bingung.
"Terima
kasih."
Meguri-san
berdiri membelakangi Idra-sama dan menghadap ke arah jendela—dengan kata lain,
tepat ke arah kami berada—lalu berkata.
"Rex,
tidak, semuanya ada di sana, kan?"
Kepastian dalam
suaranya menunjukkan kalau Meguri-san yakin kami ada di sini.
"Sepertinya
gara-gara Mofumofu kita jadi ketahuan, ya."
"Sepertinya
begitu."
"Bagaimana,
semuanya?"
Aku menoleh ke
arah Jairo dan yang lainnya untuk meminta keputusan. Kali ini, kurasa lebih
baik mengikuti pendapat Jairo dan kawan-kawan.
"Boleh saja,
kan? Lagipula sepertinya kita sudah ketahuan."
"Benar juga,
lagipula sejak awal tujuan kita memang mencari Meguri."
"Baiklah
kalau begitu."
Setelah mendapat
persetujuan dari Jairo dan yang lainnya, aku tetap membiarkan sihir pengalihan
aktif untuk menangkal deteksi, namun aku membatalkan sihir tembus pandang kami.
"Eh!?
Orang!? Dari mana datangnya!?"
Idra-sama berseru
kaget karena kami mendadak muncul. Namun, mungkin karena sudah diperingatkan
oleh Meguri-san sebelumnya agar tidak terkejut, dia tidak sampai panik
berlebihan.
"Megurielna,
siapa sebenarnya orang-orang ini?"
Idra-sama
bertanya kepada Meguri-san yang mengetahui situasinya.
"Idra-sama,
mereka adalah teman-teman saya, para petualang."
"Wah!
Petualang!"
Mata Idra-sama
tampak berbinar penuh rasa ingin tahu setelah kami diperkenalkan.
"Muncul
tiba-tiba dari ruang hampa, hebat sekali ya yang namanya petualang!"
"Bukan, itu
karena dia adalah Rex... haah. Dari kanan ini adalah Jairo, Mina, Rex, dan Liliera."
"Ah, salam
kenal."
"Sa-salam
kenal!"
"Senang
bertemu dengan Anda, nama saya Rex, Idra-sama."
"Na-nama
saya Liliera!"
Saat kami memberi
salam, Idra-sama tersenyum sambil membetulkan sikap duduknya.
"Salam
kenal, saya Idra. Idra Sel Iska Tion."
Idra-sama
menjepit ujung roknya dan membalas hormat dengan anggun, selayaknya seorang
putri bangsawan. Kalau tidak salah, itu disebut curtsey, ya?
"Aku yakin
kalian pasti sudah paham, tapi beliau adalah tuan putri dari Kerajaan Tion
ini."
"Be-begitu ya... Tunggu, TUAN PUTRIIII!?"
Mendengar
Idra-sama adalah seorang putri, Liliera-san langsung berteriak kaget.
"Tenanglah
sedikit, Kak Liliera."
"Benar,
kalau terlalu berisik nanti orang-orang akan datang."
"Eh?
Ah, maaf."
"Ah,
kalau soal itu tidak apa-apa. Sekarang aku menggunakan sihir angin agar
suaranya tidak bocor keluar."
"Wah,
benarkah? Kalau begitu tidak apa-apa meski kita bicara dengan suara keras,
ya."
"Tu-tunggu!?
Kenapa kalian semua bisa setenang itu!?"
Liliera-san
merasa kebingungan melihat ketenangan kami.
"Yah, sejak
tahu dia tinggal di kastel, aku sudah menduga kalau dia adalah seorang
putri."
Di kehidupanku
yang dulu dan yang sebelumnya lagi, aku sering punya kesempatan masuk ke
kastel. Banyak anggota keluarga kerajaan yang mengundangku ke ruangan mereka
agar aku, sang orang bijak atau pahlawan, mau berbincang dengan mereka. ...Yah,
berbincang itu cuma alasan saja, lebih banyak lagi orang yang memanggilku untuk
tujuan lain di luar itu.
"Yah, kami
sudah dengar sedikit banyak dari Meguri sebelumnya..."
"Ma-maaf ya.
Karena situasinya memang rumit."
"Ja-jadi,
cuma aku saja yang tidak tahu kalau Meguri adalah seorang putri!?"
Bukan, aku juga
tidak tahu soal itu, kok.
"Salah."
Yang
menyangkal hal itu adalah Meguri-san.
"Aku
bukan putri. Aku adalah Kagemusha (pemeran pengganti) bagi Idra-sama."
""Kagemusha!?""
"Benar
sekali. Megurielna adalah pemeran penggantiku."
Idra-sama
ikut menyambung percakapan seolah melanjutkan penjelasan Meguri-san.
"Mumpung
kalian sudah datang jauh-jauh, silakan duduk di sini. Megurielna, bisakah kamu
membuatkan teh?"
"Baik,
saya mengerti."
Idra-sama
mengajak kami duduk di meja. Saat aku melihat Meguri-san, dia mengangguk tanpa
suara, jadi aku duduk terlebih dahulu di kursi.
Seolah
mengikuti jejakku, Jairo dan yang lainnya juga duduk, dan terakhir Liliera-san
duduk dengan ragu-ragu. Setelah
Meguri-san menyajikan teh untuk semua orang, Idra-sama mulai bicara.
"Fufufu, aku
tidak menyangka Megurielna akan membawa teman sebanyak ini."
"Mo-mohon
maafkan saya."
"Tidak
apa-apa. Aku tidak
marah. Justru aku merasa senang. Karena dengan peranmu itu, kamu jadi tidak
bisa berhubungan terlalu dalam dengan orang lain, kan?"
"Begitukah?"
"Tunggu,
Rex-san!?"
Begitu
aku ikut menimpali percakapan, Liliera-san tampak panik dan mencoba
menghentikanku.
"Tidak
apa-apa, Liliera-sama. Anda juga bicaralah dengan santai saja."
"Ba-baik!"
Hmm, sepertinya Liliera-san
terlalu gugup untuk bisa bicara dengan normal.
Saat menghadapi
Raja Langit dulu dia tampak lebih berani, tapi kalau berhadapan dengan putri
asli dari negaranya sendiri, mungkin perasaannya jadi berbeda.
Namun, biasanya
anak-anak orang hebat itu sangat mendambakan cerita tentang dunia luar.
Karena status
mereka, mereka sulit untuk pergi ke luar, dan meski bisa pun, mereka akan
dikelilingi pengawal sehingga tidak bisa benar-benar menikmatinya.
Itulah sebabnya
banyak dari mereka yang senang jika diajak bicara dengan santai.
Yah, ada juga sih
yang bakal marah kalau diperlakukan begitu, tapi orang tipe seperti itu
biasanya langsung terlihat dari sikap dan sorot matanya.
"Bolehkah
aku mendengar cerita tentang kalian dan Megurielna? Aku hanya tahu sosok
Megurielna yang kutemui di ruangan ini dan ruangan dalam saja."
Hal
pertama yang diminta Idra-sama adalah cerita tentang Meguri-san. Tapi cerita
tentang Meguri-san, ya. Apa yang sebaiknya kuceritakan?
"Kalian
semua adalah petualang, tapi apa hubungan kalian dengan Megurielna?"
Seolah
menyadari kebingungan kami tentang apa yang harus diceritakan, Idra-sama
mempersempit topik pembicaraan ke hubungan kami. Orang ini benar-benar
pintar mengarahkan percakapan.
"Anu, kami... maksudku aku dan Mina, adalah...
Meguri... bukan, Megurie... ee—"
"Jairo,
panggil Meguri saja tidak apa-apa."
"O-oh!
Baiklah. Anu, benar, kami adalah teman masa kecil Meguri!"
"Teman masa
kecil Megurielna?"
Idra-sama
memiringkan kepalanya dengan heran.
"Idra-sama,
sebelum diputuskan untuk bekerja sebagai pemeran pengganti Anda, saya menjalani
pelatihan untuk menjadi pengawal. Saat itulah saya tinggal di sebuah desa yang
letaknya jauh dari ibu kota."
"Wah,
ternyata begitu!"
Heh, jadi
begitulah cara Meguri-san mengenal Jairo dan yang lainnya.
"Be-benar
sekali! Kakek Mina dan kakek di rumah Meguri saling kenal, lalu para kakek itu
membawa Meguri ke tempat kami dan menyuruh kami untuk berteman dengannya."
"Ya ampun,
pertemuan yang manis sekali!"
"Heheh."
"Jadi kalian
bertiga adalah sahabat karib, ya."
"Ah, tidak,
kami berempat. Ada satu lagi anak bernama Norb, tapi dia sedang ada urusan di
tempat lain," Mina menambahkan penjelasan pada ucapan Idra-sama.
"Begitu ya.
Aku juga ingin bertemu dengan Norb-sama itu."
Kalau
dipikir-pikir, Norb-san juga belum pulang ke rumah. Semoga dia tidak khawatir
karena tidak ada siapa-siapa di rumah.
"Lho? Tapi
kalau begitu, kenapa kalian bisa tahu identitas asli Meguri? Bukankah gawat
kalau identitas Meguri sebagai pemeran pengganti Idra-sama terbongkar?"
Liliera-san
menyuarakan keraguan yang muncul di benaknya. Ah, benar juga kalau
dipikir-pikir.
"Ugh..."
Meguri-san sempat
mengeluarkan suara erangan sejenak, namun dia segera bersikap seolah tidak
terjadi apa-apa.
"Ah—soal
itu. Dulu waktu kami main bersama, kami membuat hukuman kalau siapa yang kalah
dalam permainan harus memberitahu rahasianya. Nah, saat itu Meguri kalah dan
dia memberitahu kami."
""Apa
rahasia seperti itu boleh diberitahu!?""
Aku dan Liliera-san
berseru bersamaan saking tidak percayanya.
"...I-itu
kan cuma ucapan anak kecil."
Anu,
Meguri-san, itu benar-benar tidak bisa dijadikan alasan untuk mengelak, lho.
Keringat dinginnya bercucuran deras.
"Karena
isinya memang gawat, aku juga sempat mengira dia cuma bercanda. Tapi sejak dulu
Meguri memang sering bolak-balik antara desa dan ibu kota secara rutin, dan
kakek-kakek kami berulang kali memperingatkan agar kami menjaga Meguri
baik-baik. Jadi, untuk berjaga-jaga kalau itu benar, aku menyuruh Jairo dan
yang lainnya untuk tutup mulut. Tapi menyuruh orang ini untuk diam itu
benar-benarrrr sulit sekali!"
"Habisnya,
mana mungkin orang bakal mengira itu beneran, kan?"
"..."
Wajah
Meguri-san menjadi tanpa ekspresi, lebih dari biasanya. Tidak, tidak, dengan
wajah seperti itu, alih-alih menyembunyikan kegelisahan, dia justru terlihat
sangat gelisah!?
"Pffft... Ahahahahaha!!"
Idra-sama yang mendengarkan cerita Jairo dan kawan-kawan
mulai tertawa terbahak-bahak.
"Ahaha,
Megurielna! Ternyata kamu pernah melakukan hal seperti itu, ya! Ahahaha!"
"I-itu
karena saat itu saya masih anak-anak yang belum bisa berpikir jernih..."
Meski berkata
begitu, wajah Meguri-san memerah padam. Meskipun wajahnya kaku, mungkin ini
pertama kalinya aku melihat Meguri-san dengan ekspresi sekaya ini.
"Fufufu, itu
manis sekali! Ceritakan lebih banyak lagi tentang kalian!"
Begitulah, atas desakan Idra-sama, kami pun menceritakan tentang pertemuan kami dengan Meguri-san hingga hari-hari kami setelah menjadi petualang.



Post a Comment