NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Special Chapter & Afterword

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Catatan Perjalanan Giro di Negeri Timur ~Edisi Rival yang Menawan~


Aku Jairo. Murid nomor satu Kakak Rex! Yah, begitulah aku, tapi di tengah perjalanan menuju Negeri Timur, kami terkena badai dan aku terpisah dari teman-temanku.

"Tuan Muda, desa sudah terlihat!"

"Jangan panggil aku Tuan Muda!"

Orang ini adalah salah satu bajak laut yang aku selamatkan saat badai. Yah, aku langsung menghajar mereka dan sekarang dia malah jadi seperti anak buahku.

"Baiklah, ayo kita cari informasi tentang Kakak dan yang lainnya di desa!"

Begitu pikirku saat sampai di desa, tapi suasananya terasa agak aneh.

"Hei kalian, kenapa wajah kalian suram begitu?" Dalam situasi seperti ini, bertanya langsung adalah cara terbaik. Aku menyapa seorang paman yang ada di dekatku.

"...Kalian pengembara? Aku beri saran, lebih baik segera pergi dari desa ini. Kalau tidak, kalian juga akan diserang Oni."

"Oni? Apa itu?"

"Oni adalah monster yang luar biasa kuat. Penampilannya seperti manusia, tapi punya tanduk di kepala dan mengamuk dengan kekuatan yang mengerikan. Lalu mereka akan melahap manusia dengan lahap!"

Hee, kekuatan yang mengerikan ya. Punya tanduk... apa mereka sejenis Majin?

"Lalu, di mana Oni itu berada?"

"Kenapa kau bertanya... jangan-jangan kau berniat pergi ke tempat Oni!? Jangan lakukan itu! Oni itu monster yang tak masuk akal! Kalau kau ketahuan, kau juga akan dibunuh!!"

Mungkin karena mengira aku akan menantang Oni itu, si paman mencoba menghentikanku dengan wajah pucat.

"Bukan begitu, kalau aku tidak tahu tempatnya dan malah masuk ke sana tanpa sengaja kan bahaya, benar tidak?"

"Ah, benar juga. Oni itu tinggal di tengah gunung sana. Kalau kau sayang nyawa, jangan pernah ke sana."

"Paham. Terima kasih informasinya, Paman."

Yah, tentu saja aku akan ke sana.

"Kenapa kita malah menuju gunung!? Padahal sudah dilarang! Ayo kita berhenti saja! Nyawa itu cuma satu, Tuan Muda!?"

Si bajak laut itu menahanku dengan wajah putus asa.

"Sudahlah, kau sembunyi saja di sekitar sini. Biar aku yang bertarung."

"Tentu saja saya tidak akan bertarung! Tapi Tuan Muda tidak perlu bertarung juga kan!"

Yare yare, dia tidak mengerti ya.

"Bodoh, kalau aku membiarkannya, orang-orang desa akan jadi korban sebelum aku bertemu Kakak. Alasan itu saja sudah cukup."

"Waduh, orang ini keren banget."

Sambil membicarakan hal itu dan berjalan di gunung, tanpa terasa hari sudah malam. Nah, kalau penjahat mau muncul, ini waktu yang pas.

"Bocah, apa urusanmu di tengah malam begini?"

Akhirnya muncul! Begitu pikirku, tapi yang muncul dari balik pepohonan adalah seorang perempuan yang umurnya tidak jauh berbeda denganku.

Sesaat kupikir dia Oni yang dirumorkan itu, tapi dia tidak punya tanduk, jadi sepertinya bukan. Mungkin dia tersesat? Tapi kelihatannya tidak begitu.

Kalau begitu, kemungkinannya adalah dia juga datang untuk membasmi Oni sepertiku.

"Aku dengar ada Oni yang berbuat jahat. Aku datang untuk menghajarnya."

 "Kukuku, bukankah kau yang akan dihajar?"

Perempuan itu membalas dengan senyum meremehkan. Heh, aku sudah terbiasa diremehkan oleh para Majin. Aku tidak akan terpancing provokasi.

"Yah, tidak akan tahu kalau tidak dicoba, kan?"

"Humu, jadi kau bocah yang tidak akan paham kalau belum merasakan sakit ya. Baiklah, aku tidak tertarik pada anak-anak, tapi akan kuberi pelajaran sedikit."

"Heh, padahal dari awal memang niatmu begitu."

"Akan kuberikan serangan pertama padamu. Majulah."

 "Terima kasih! Kalau begitu, aku menyerang!"

Aku langsung mengeluarkan kekuatan penuh!!

Aku mengaktifkan sihir penguatan atribut secara maksimal, menyemburkan api dari punggung dan telapak kaki, lalu melesat masuk ke jarak dekat perempuan itu dalam sekejap. Rasakan seranganku!!

"Mutt!?"

Namun di luar dugaan, perempuan itu menangkis seranganku tanpa menghindar. Terlebih lagi, dengan tangan kosong.

"Ditahan!? Serius!?"

"Hou, kau lumayan kuat juga."

Perempuan itu menyeringai. Tapi seringai itu bukan lagi senyum meremehkan seperti tadi, melainkan seringai binatang buas yang menemukan mangsa.

"Sekarang giliranku!"

Kali ini dia yang menyerbu. Cepat, tapi jujur saja bukan berarti aku tidak bisa merespons. Namun, bidikannya sangat tepat, tinjunya meluncur ke posisi yang sangat sulit dihindari.

"Sialan!"

Aku menyemburkan api dari tubuh dengan penguatan atribut, menghindari serangan itu tipis sekali, tapi...

"Muu, boleh juga."

Jangan bercanda! Harusnya aku sudah menghindarinya, tapi tekanan anginnya saja membuat pinggangku sakit! Serius, aku terkejut.

Tidak kusangka ada orang seberbahaya ini di dunia... tapi ini membuatku bersemangat!

Tanpa sadar kami berdua tertawa. Sambil tertawa kami saling melontarkan serangan menggunakan pedang, tinju, tendangan, dan sihir. Setelah bertarung beberapa lama, perempuan itu tiba-tiba melepaskan kudakudanya.

"...Fuu, sudah lama aku tidak sesenang ini."

"Apa-apaan, sudah mau berhenti?"

"Jangan sok kuat. Kau juga sudah mencapai batasmu, kan?"

 "Yah, terserahlah..."

Sejujurnya aku tertolong. Kalau bertarung lebih lama lagi, mana dan tenagaku pasti habis.

"Hohoho, karena perasaanku sedang bagus sebagai hadiah karena telah menghiburku... oh iya, tadi kau bilang datang untuk membasmi Oni ya. Baiklah. Untuk sementara waktu, aku tidak akan mengganggu desa itu. Sampaikan begitu pada orang-orang desa." Lalu perempuan itu mengatakan hal aneh.

"Kenapa kalau perasaanmu bagus kau jadi tidak mengganggu desa? Yang ingin kuhentikan kejahatannya itu si Oni tahu?"

Mendengar itu, perempuan itu membelalakkan matanya dengan wajah terkejut.

"...Ha? Jangan-jangan kau bertarung denganku tanpa tahu siapa aku sebenarnya?"

"Iya, aku bertarung karena kau kelihatannya kuat!"

Begitu aku menjawab dengan jujur, dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Kukk, Ahahahahaha! Kebodohanmu ini benar-benar mengagumkan! Begitu ya, kau bertarung karena aku kelihatannya kuat!"

"Apa salahnya!?"

"Lihatlah ini."

Dia menunjuk ke arah tanduk yang tumbuh dari dahinya.

"Oni itu punya apa di kepalanya?"

"Tentu saja tanduk. Orang desa juga bilang be... ah!!"

Jika dilihat baik-baik, dari dahi perempuan itu tumbuh dua tanduk yang gagah.

"Kau! Jangan-jangan kau ini Oni!?"

"Akhirnya sadar juga. Bocah yang lamban."

Serius, ternyata dia benar-benar Oninya.

"Begitulah ceritanya, jadi jangan khawatir. Selain itu, malam sudah semakin larut. Cepatlah kembali ke pemukiman manusia. Penghuni gunung bukan hanya Oni saja, lho."

Aku sempat bingung harus bagaimana, tapi entah kenapa aku merasa dia bisa dipercaya, jadi aku memutuskan untuk mengikuti kata-katanya.

"Ooh paham, kau juga hati-hati ya!"

"Hohoho, kau mengkhawatirkanku? Benar-benar bocah yang menarik. Bocah, kau akan menjadi jauh lebih kuat lagi. Jika kau sudah lebih kuat, suatu saat mari kita bertemu lagi."

Setelah mengatakan itu, perempuan—bukan, si Oni itu menghilang ke dalam kegelapan malam.

"Ooh! Aku juga menantikannya!"

"Tuan Muda, apa tidak apa-apa membiarkan Oni itu pergi?"

Saat turun gunung, si bajak laut bertanya padaku.

"Jangan panggil aku Tuan Muda! Yah, tidak apa-apalah! Dia bilang tidak akan berbuat jahat lagi, jadi tidak masalah!"

"Tapi dia bilangnya 'untuk sementara waktu' kan. Yah, kalau Tuan Muda bilang oke sih tidak apa... tapi tetap saja, tidak disangka dia disukai bahkan oleh perempuan selain manusia... sebenarnya Tuan Muda ini siapa sih."

"Sudah kubilang berhenti panggil Tuan Muda!!"





Kata Penutup

Penulis: "Terima kasih banyak sudah membeli volume 10 Nido Tensei!"

Mofumofu: "Akhirnya kita menembus angka dua digit!! Ini adalah pencapaian luar biasa pertama bagi sang Penulis!!"

Penulis: "Ini semua berkat dukungan dari kalian semua yang telah mendukung Nido Tensei!!"

Mofumofu: "Karena itu, tumben-tumbennya ada pengumuman bisnis yang serius. Mulai volume 10, sebagai bentuk penyegaran seri, ilustrasi yang sebelumnya ditangani oleh Gaou-sensei akan dialihkan kepada Ikeshita-sensei, yang juga bertanggung jawab atas versi manga."

Penulis: "Gaou-sensei, terima kasih banyak atas segalanya sampai sekarang!"

Mofumofu: "Desain penampilanku yang bagaikan dewa ini adalah buah dari selera desain Gaou-sensei yang luar biasa!!"

Penulis: "Ikeshita-sensei, mohon bantuannya untuk menangani dua tugas sekaligus bersama versi manganya!"

Mofumofu: "Jangan lupa saksikan juga sosok gagahku yang beraksi di versi manga!"

Penulis: "(Walaupun lebih tepatnya itu adalah kumpulan reaksi wajah konyol, sih. Detailnya ada di komik bab tiga.)"

Gobun: "Ngomong-ngomong, bukankah sudah saatnya kita membahas isi volume 10?"

Penulis: "Ah, ada karakter figuran bernama yang langka muncul."

Mofumofu: "Dia cuma kroco yang tidak tahu malu meminta jatah tampil."

Gobun: "Kejam sekali perlakuannya! Jadi, apa ada bagian yang membuat Anda kesulitan saat menulis volume 10?"

Penulis: "Kesulitan, ya... Aku rasa iblis yang menjadi dalang sebenarnya boleh menangis."

Mofumofu: "Bagian penutup itu adalah hal pertama yang diputuskan saat menyusun plot volume 10. Jadi, akhir seperti itu memang sudah seharusnya terjadi."

Gobun: "Kenyataan yang tidak punya mimpi maupun harapan!! Kenapa justru bagian itu yang diputuskan paling awal!?"

Penulis: "Aku menentukannya dari sana sebagai salah satu variasi akhir untuk si iblis."

Gobun: "Apa tidak ada keselamatan bagi si iblis? Dan juga bagi masa depan kami?"

Mofumofu: "Tidak ada. Karena iblis (sayapnya) adalah camilanku."

Penulis: "Lalu untuk para bajak laut yang diseret itu, mereka akan diadili oleh pihak berwenang yang berbeda-beda. Gobun yang ditangkap oleh paman Yukinojo termasuk mendapatkan perlakuan yang cukup lunak."

Gobun: "Heh, ternyata aku termasuk yang beruntung, ya."

Mofumofu: "Yah, meski tetap saja kerja paksa seumur hidup, sih."

Gobun: "Hiiiee!! Om-omong-ngomong, bagaimana nasib Negeri Timur setelah ini? Berkat Tuan Laut... maksudku, Tuan Rex, penyebab bencananya sudah terselesaikan, kan? Kalau begitu, bukankah Kaisar dan para pendeta yang memiliki status khusus untuk meredam bencana jadi kehilangan pekerjaan?"

Penulis: "Tidak, seperti yang dikatakan Rex, karena jalur energinya cukup unik, ada kemungkinan monster berbahaya akan mengincarnya di masa depan, jadi perangkatnya tetap dibiarkan ada. Selain itu, butuh waktu ratusan tahun untuk menstabilkan tanah itu secara permanen. Hanya saja, berkat berbagai fungsi item sihir yang praktis dibuat baru oleh Rex, kekhawatiran itu tidak ada sedikit pun. Ditambah lagi ada sihir pengawet status, jadi alat itu akan terus beroperasi tanpa perawatan selama ribuan tahun."

Gobun: "Ribuan tahun..."

Mofumofu: "Dan begitulah, hanya ritualnya saja yang tersisa sebagai formalitas belaka."

Gobun: "Jadi mereka akan terus melakukan ritual tanpa tahu apa-apa, atau lebih tepatnya, meniru cara perawatan item sihir itu, ya."

Mofumofu: "Lagipula, perawatan benda itu sudah menjadi semacam hak istimewa bagi mereka. Kurasa meski diberi tahu bahwa perawatan tidak diperlukan lagi, mereka tidak akan bisa berhenti."

Gobun: "Kenyataan yang cukup realistis!"

Penulis: "Yah, kalau bencana besar terjadi lagi, alat itu akan beraksi. Tapi karena akan mereda dalam sekejap, mungkin mereka tidak akan menyadarinya."

Gobun: "Ternyata tidak semuanya buruk, ya."

Mofumofu: "Ngomong-ngomong, bagaimana nasib barang-barang yang diserahkan Rex dan kawan-kawan ke Guild? Iblis yang menjadi kliennya sudah mati, jadi tidak ada yang bisa menerimanya, kan?"

Penulis: "Dalam kasus permintaan jenis pengumpulan, jika klien tidak bisa dihubungi dalam jangka waktu tertentu dan tidak datang mengambil barangnya, maka barang itu akan dimusnahkan. Jika barangnya tahan lama, sistemnya adalah Guild akan menyimpannya sebagai 'biaya penyimpanan' untuk masuk ke kantong mereka sendiri."

Mofumofu: "Guild untung besar!?"

Penulis: "Tidak juga, karena ada barang yang cepat busuk, jadi harus disimpan sampai batas hari yang ditentukan. Barang seperti itu biasanya dimasukkan ke botol dan disegel, tapi saat pemusnahan, botolnya harus dibuka, kan..."

Gobun: "Ah... (aku mengerti)."

Penulis: "Sebagai catatan, jika keberadaan klien terkonfirmasi setelah pemusnahan, klien tersebut akan ditagih biaya pemusnahan, jadi berhati-hatilah."

Mofumofu: "Barang busuk memang tidak bisa dijual, sih. Ngomong-ngomong, aku punya satu pertanyaan."

Penulis: "Apa itu?"

Mofumofu: "Kapal bajak laut yang dimodifikasi oleh Rex itu jadinya bagaimana?"

Penulis: "Diambil alih oleh desa Kaisar."

Gobun: "Apa mereka mencurinya!?"

Penulis: "Bukan, awalnya sempat ada perdebatan antara pihak Keshogunan Yukinojo tentang siapa yang akan mengelolanya. Tapi karena muncul teori bahwa Rex dan kawan-kawan adalah utusan dewa, maka diputuskan bahwa Kaisar yang membawahi para pendeta lebih berhak mengelolanya."

Mofumofu: "Ah, dengan tingkat teknologi di dunia itu, ada kapal yang bisa terbang, ya. Wajar saja kalau disalahpahami sebagai ciptaan dewa."

Penulis: "Begitulah. Kapal itu dirawat dengan bersih dan digunakan untuk upacara keagamaan. Karena utusan dewa meninggalkannya di daratan, apalagi di desa para pendeta, mereka yakin itu pasti diberikan sebagai benda suci."

Mofumofu: "Legendanya jadi semakin menggila..."

Gobun: "Kalau begitu, sepertinya sudah waktunya untuk berpisah."

Mofumofu: "Seri Nido Tensei akhirnya mencapai volume 10! Bersama dengan versi manganya, seri ini masih akan terus berlanjut! (Ngomong-ngomong, kapan cerita sampinganku rilis?)"

Penulis: "Mari kita targetkan sampai volume 20! (Kurasa menjadikan Jairo sebagai tokoh utama masih lebih baik daripada kamu, lho.)"

Mofumofu: "Sampai jumpa di volume berikutnya!!"

Penulis: "Sampai bertemu lagi!!"

Gobun: "Semoga kalian sehat selalu!"




Previous Chapter | ToC | End

0

Post a Comment

close