Epilog
Senin.
Sebuah suara menyambutku begitu aku melangkah masuk ke dalam kelas.
"Oー, Amacchi, selat pagi!"
Itu suara
Yuuouji Ouka, dengan semangat yang sama sekali tidak berubah seperti biasanya.
"Eh... ah,
iya, selamat pagi."
Mengingat
bagaimana hari Sabtu itu berakhir, aku sempat sedikit khawatir tentang
bagaimana keadaannya saat masuk sekolah, tapi ternyata aku saja yang terlalu
berlebihan.
Penampilannya pun
tidak berubah. Padahal dia sudah begitu malu saat celana dalam (dan garter
belt-nya) terlihat, tapi panjang roknya tetap saja sangat pendek seperti
biasa.
Melihat tatapan
curigaku, Yuuouji malah tiba-tiba mengangkat roknya sendiri untuk diperlihatkan
padaku.
"Uwa, bodoh!
Apa yang kamu laku—hm?"
Yang muncul dari
balik rok itu bukanlah celana dalam.
"Jreeeng, spats! This is spats! Kalau begini, mau dilihat sesering apa pun
nggak masalah!"
Yuuouji tertawa
riang. Nggak, bukan itu masalahnya... kan?
"Lihat nih
Amacchi, lihat! Shoryuken! Haha, roknya berkibar, berkibar!"
Bocah... ada
bocah di sini.
Aku pikir
kejadian hari Sabtu bakal menumbuhkan sedikit rasa malu di hatinya... yah, aku
nggak bilang dia harus tiba-tiba berubah jadi karakter seperti Yawakaze, tapi
setidaknya lebih... ya begitulah.
"Soalnya...
waktu itu beneran malu setengah mati, tahu."
"Eh, kamu
ngomong sesuatu?"
"N-nggak ada
apa-apa! Sekali lagi, shoryuken!"
"Bahayaaa!
Kenapa kamu benar-benar mengincar daguku!?"
"Wah,
sepertinya kalian sedang bersenang-senang ya."
Tiba-tiba,
suara bermartabat terdengar dari belakang.
"Oh,
Yukihira."
Kalau
diingat-ingat, minggu lalu dia bilang jangan mendekatinya untuk sementara waktu
lalu pergi begitu saja. Apa masa "larangan" itu sudah berakhir?
"Karena
Amakusa-kun terjebak dalam lelucon garing soal 'rusa' (shika) dengan
terus-menerus mengabaikanku (shikato), jadi aku yang berinisiatif
menyapamu."
"Bukannya
kamu sendiri yang bilang jangan mendekat..."
Masih
saja tidak masuk akal... yah, kalau aku menuntut konsistensi dari setiap ucapan
dan tindakan Yukihira, aku tidak akan pernah sanggup.
"Ngomong-ngomong
Amakusa-kun, apa kata kunci 'merangkak' mengingatkanmu pada sesuatu?"
"Merangkak?
Nggak, nggak ada..."
Kalau
dipikir-pikir, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di belakang
kepalaku, tapi memori yang jelas tidak kunjung muncul.
"...Sepertinya sudah tidak apa-apa."
"Eh, kamu
bilang sesuatu?"
"...Bukan
apa-apa. Aku hanya bertanya karena berpikir mungkin di kehidupan sebelumnya,
Amakusa-kun pernah merangkak di atas plat besi panas."
"Itu sih Yaki-Dogeza (sujud di atas plat
besi)!"
Nggak
bisa... ternyata kedua orang ini memang benar-benar tidak tertolong.
Tepat saat aku
mengeluh dalam hati, pintu depan kelas terbuka.
"Uiiiss."
Utage-sensei
masuk sambil menggaruk kepalanya. Entah kenapa, hari ini dia terlihat lebih lesu dari biasanya.
"Ahー, mendadak sih, tapi hari ini ada yang mau
aku perkenalkan pada kalian... Oi, boleh masuk."
Dia memanggil ke
arah koridor. Apa? Siswa pindahan di waktu nanggung begini?
Gara-ri! Bersamaan dengan suara pintu, sosok itu
berlari kencang menuju meja guru.
"Pfftt!"
Aku
langsung menyemburkan ludah.
"Sho...
Sho..."
Chocolat...
dilihat dari mana pun, itu Chocolat. Terlebih lagi... dia memakai seragam
sekolah kami?
"Halo
semuanya. Nama saya Chocolat, mulai hari ini akan belajar bersama kalian. Mohon
bantuannya!"
Si
"Anjing" ini malah memperkenalkan diri seenaknya. Apa-apaan ini...
apa-apaan ini... SERIUS, APA-APAAN INI!?
Mengabaikan
kebingunganku, para siswa laki-laki yang terpesona oleh penampilan Chocolat
mulai melontarkan pertanyaan sesuka hati.
"Nama
keluarga? Sebenarnya tidak punya, tapi kalau harus meminjam milik orang yang
tinggal serumah denganku, namanya Amakusa. Ya kan, Kanade-san?"
Deg-degan...
"Oi,
denger nggak? Katanya Amakusa-san." "Lagian tinggal serumah itu maksudnya apa?" "Tunggu... kalau
nggak salah dia pernah bilang orang tuanya lagi nggak ada di rumah kan."
"Berarti, dia tinggal berduaan sama gadis seimut itu!?" "Eh?
Berarti itu maksudnya apa?" "Ya itu maksudnya... sama gadis sepolos
itu... beneran nggak suci."
Apa-apaan ini...
aku merasa ingin mati saja, sebaiknya aku harus bagaimana?
"Woi, diam
kalian. Biar kuberitahu, dia ini bukan siswa pindahan."
Kalimat
Utage-sensei membuat tanda tanya muncul di kepala semua orang, termasuk aku.
"Katanya,
dia adalah 'Petugas Hewan Pembantu Akademik' milik Amakusa."
"APA-APAAN
ITU!?"
"Nggak tahu,
tanya saja sama kakek tua kepala yayasan."
Chocolat mendekat
ke arahku yang sedang berteriak, lalu berbisik di telingaku.
"Kanade-san.
Katanya, Tuhan yang genit itu bilang, 'Bakal lebih mudah membantu Kanade-kun
kalau bisa selalu ada di sampingnya kan?', makanya dia sudah menyiapkan dokumen
palsu, seragam, rahasia kepala yayasan, dan lain-lain."
Berani-beraninya...
berani-beraninya dia melakukan hal yang tidak perlu, Dasar Tuhan Chat-Chat
Brengsek!
"Lagipula
'Petugas Hewan Pembantu Akademik' itu sebenarnya apa sih!?"
"Itu adalah
tindakan khusus berdasarkan keputusan strategis tingkat tinggi, karena kalau
jadi siswa pindahan di saat seperti ini akan terasa tidak alami."
"Kalian
semua tolong cari kata 'Tidak Alami' di kamus sana!"
Sama sekali tidak
peduli dengan teriakan piluku, Chocolat malah tersenyum bodoh... benar-benar
membuatku kesal.
"Chocolat,
keluar."
"Eh?
Kenapa?"
"Nggak
penting kenapa. Pokoknya keluar."
"Tapi, aku
kan Petugas Hewan Pembantu Akade—"
"KE-LU-AR."
"...Au."
Menerima
penolakan total dariku, Chocolat terduduk lemas di lantai dan sengaja berpose
manja.
"K-Kanade-san,
kamu jahat sekali. Padahal kita sudah sampai melakukan '48 Gaya'
bersama..."
Zawa-zawa... (Kelas gaduh)
KAU MAU MEMBUNUHKU YA!? KAU MAU MEMBUNUH KARAKTER SOSIALKU
YA!?
"Semuanya,
itu salah paham! Maksudnya '48 Gaya Kilitikan'! Bukan sesuatu yang mesum!"
"Amakusa-kun,
'48 Gaya Gerayangan' itu sepertinya terlalu cabul deh."
"Salah dengar macam apa itu!?"
Satu orang berbahaya ikut campur!
"Ahaha, Chocolat-chi, dadamu besar ya."
"Baru
pertama ketemu sudah pegang-pegang bagian mana!? Dasar bocah SD!"
Satu lagi orang
berbahaya ikut campur!
"Ah,
jangan-jangan ini Furano-san si rekan lelucon kotor, dan Ouka-san yang
membantuku melihat celana dalam?"
"Iya."
"Benar
sekaliー."
Kalian berdua
nggak masalah apa dianggap begitu!?
"Kanade-ku...
maksudku, putraku yang bodoh ini selalu merepotkan kalian ya."
"Kenapa kamu
malah berlagak jadi ibuku!?"
"Kami sih
tidak melakukan hal besar, tapi mungkin dia menjadikan kami bahan untuk
menghibur 'putra bodohnya' di bawah sana ya."
"Aku
kaget! Aku kaget karena ucapanmu benar-benar di luar batas!"
"Ahaha,
Chocolat-chi, pahanya halus bangetー."
"Kubilang
baru pertama ketemu jangan pegang-pegang! Dasar bocah SD!"
"Mulai
sekarang ayo berteman baik!"
"Tentu."
"He-eh!"
"Kumohon
jangan berteman dengan merekaaaa!!"
Kepalaku sakit,
sakit, SAKIT. Benar-benar sakit yang menyiksa. Berpikir, berpikir, berpikir...
bagaimana cara menyelesaikan situasi yang sangat merepotkan ini. Tiba-tiba,
Absolute Choice turun lagi.
Cih... seriusan, kenapa harus di saat seperti ini—
PILIH:
① Masuki Harem Time, di mana kamu akan ditembak oleh
keempat orang di peringkat atas (siswi aktif)
② Sesuatu yang terasa sangat enak akan
terjadi
Bodoh... kenapa isinya bagus dua-duanya!?
【①
Bersambung ② To Be Continued...】
Previous Chapter | ToC | End V1



Post a Comment