NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 1 Epilog

Epilog

 

Senin. Sebuah suara menyambutku begitu aku melangkah masuk ke dalam kelas.

"Oー, Amacchi, selat pagi!"

Itu suara Yuuouji Ouka, dengan semangat yang sama sekali tidak berubah seperti biasanya.

"Eh... ah, iya, selamat pagi."

Mengingat bagaimana hari Sabtu itu berakhir, aku sempat sedikit khawatir tentang bagaimana keadaannya saat masuk sekolah, tapi ternyata aku saja yang terlalu berlebihan.

Penampilannya pun tidak berubah. Padahal dia sudah begitu malu saat celana dalam (dan garter belt-nya) terlihat, tapi panjang roknya tetap saja sangat pendek seperti biasa.

Melihat tatapan curigaku, Yuuouji malah tiba-tiba mengangkat roknya sendiri untuk diperlihatkan padaku.

"Uwa, bodoh! Apa yang kamu laku—hm?"

Yang muncul dari balik rok itu bukanlah celana dalam.

"Jreeeng, spats! This is spats! Kalau begini, mau dilihat sesering apa pun nggak masalah!"

Yuuouji tertawa riang. Nggak, bukan itu masalahnya... kan?

"Lihat nih Amacchi, lihat! Shoryuken! Haha, roknya berkibar, berkibar!"

Bocah... ada bocah di sini.

Aku pikir kejadian hari Sabtu bakal menumbuhkan sedikit rasa malu di hatinya... yah, aku nggak bilang dia harus tiba-tiba berubah jadi karakter seperti Yawakaze, tapi setidaknya lebih... ya begitulah.

"Soalnya... waktu itu beneran malu setengah mati, tahu."

"Eh, kamu ngomong sesuatu?"

"N-nggak ada apa-apa! Sekali lagi, shoryuken!"

"Bahayaaa! Kenapa kamu benar-benar mengincar daguku!?"

"Wah, sepertinya kalian sedang bersenang-senang ya."

Tiba-tiba, suara bermartabat terdengar dari belakang.

"Oh, Yukihira."

Kalau diingat-ingat, minggu lalu dia bilang jangan mendekatinya untuk sementara waktu lalu pergi begitu saja. Apa masa "larangan" itu sudah berakhir?

"Karena Amakusa-kun terjebak dalam lelucon garing soal 'rusa' (shika) dengan terus-menerus mengabaikanku (shikato), jadi aku yang berinisiatif menyapamu."

"Bukannya kamu sendiri yang bilang jangan mendekat..."

Masih saja tidak masuk akal... yah, kalau aku menuntut konsistensi dari setiap ucapan dan tindakan Yukihira, aku tidak akan pernah sanggup.

"Ngomong-ngomong Amakusa-kun, apa kata kunci 'merangkak' mengingatkanmu pada sesuatu?"

"Merangkak? Nggak, nggak ada..."

Kalau dipikir-pikir, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di belakang kepalaku, tapi memori yang jelas tidak kunjung muncul.

"...Sepertinya sudah tidak apa-apa."

"Eh, kamu bilang sesuatu?"

"...Bukan apa-apa. Aku hanya bertanya karena berpikir mungkin di kehidupan sebelumnya, Amakusa-kun pernah merangkak di atas plat besi panas."

"Itu sih Yaki-Dogeza (sujud di atas plat besi)!"

Nggak bisa... ternyata kedua orang ini memang benar-benar tidak tertolong.

Tepat saat aku mengeluh dalam hati, pintu depan kelas terbuka.

"Uiiiss."

Utage-sensei masuk sambil menggaruk kepalanya. Entah kenapa, hari ini dia terlihat lebih lesu dari biasanya.

"Ahー, mendadak sih, tapi hari ini ada yang mau aku perkenalkan pada kalian... Oi, boleh masuk."

Dia memanggil ke arah koridor. Apa? Siswa pindahan di waktu nanggung begini?

Gara-ri! Bersamaan dengan suara pintu, sosok itu berlari kencang menuju meja guru.

"Pfftt!"

Aku langsung menyemburkan ludah.

"Sho... Sho..."

Chocolat... dilihat dari mana pun, itu Chocolat. Terlebih lagi... dia memakai seragam sekolah kami?

"Halo semuanya. Nama saya Chocolat, mulai hari ini akan belajar bersama kalian. Mohon bantuannya!"

Si "Anjing" ini malah memperkenalkan diri seenaknya. Apa-apaan ini... apa-apaan ini... SERIUS, APA-APAAN INI!?

Mengabaikan kebingunganku, para siswa laki-laki yang terpesona oleh penampilan Chocolat mulai melontarkan pertanyaan sesuka hati.

"Nama keluarga? Sebenarnya tidak punya, tapi kalau harus meminjam milik orang yang tinggal serumah denganku, namanya Amakusa. Ya kan, Kanade-san?"

Deg-degan...

"Oi, denger nggak? Katanya Amakusa-san." "Lagian tinggal serumah itu maksudnya apa?" "Tunggu... kalau nggak salah dia pernah bilang orang tuanya lagi nggak ada di rumah kan." "Berarti, dia tinggal berduaan sama gadis seimut itu!?" "Eh? Berarti itu maksudnya apa?" "Ya itu maksudnya... sama gadis sepolos itu... beneran nggak suci."

Apa-apaan ini... aku merasa ingin mati saja, sebaiknya aku harus bagaimana?

"Woi, diam kalian. Biar kuberitahu, dia ini bukan siswa pindahan."

Kalimat Utage-sensei membuat tanda tanya muncul di kepala semua orang, termasuk aku.

"Katanya, dia adalah 'Petugas Hewan Pembantu Akademik' milik Amakusa."

"APA-APAAN ITU!?"

"Nggak tahu, tanya saja sama kakek tua kepala yayasan."

Chocolat mendekat ke arahku yang sedang berteriak, lalu berbisik di telingaku.

"Kanade-san. Katanya, Tuhan yang genit itu bilang, 'Bakal lebih mudah membantu Kanade-kun kalau bisa selalu ada di sampingnya kan?', makanya dia sudah menyiapkan dokumen palsu, seragam, rahasia kepala yayasan, dan lain-lain."

Berani-beraninya... berani-beraninya dia melakukan hal yang tidak perlu, Dasar Tuhan Chat-Chat Brengsek!

"Lagipula 'Petugas Hewan Pembantu Akademik' itu sebenarnya apa sih!?"

"Itu adalah tindakan khusus berdasarkan keputusan strategis tingkat tinggi, karena kalau jadi siswa pindahan di saat seperti ini akan terasa tidak alami."

"Kalian semua tolong cari kata 'Tidak Alami' di kamus sana!"

Sama sekali tidak peduli dengan teriakan piluku, Chocolat malah tersenyum bodoh... benar-benar membuatku kesal.

"Chocolat, keluar."

"Eh? Kenapa?"

"Nggak penting kenapa. Pokoknya keluar."

"Tapi, aku kan Petugas Hewan Pembantu Akade—"

"KE-LU-AR."

"...Au."

Menerima penolakan total dariku, Chocolat terduduk lemas di lantai dan sengaja berpose manja.

"K-Kanade-san, kamu jahat sekali. Padahal kita sudah sampai melakukan '48 Gaya' bersama..."

Zawa-zawa... (Kelas gaduh)

KAU MAU MEMBUNUHKU YA!? KAU MAU MEMBUNUH KARAKTER SOSIALKU YA!?

"Semuanya, itu salah paham! Maksudnya '48 Gaya Kilitikan'! Bukan sesuatu yang mesum!"

"Amakusa-kun, '48 Gaya Gerayangan' itu sepertinya terlalu cabul deh."

"Salah dengar macam apa itu!?"

Satu orang berbahaya ikut campur!

"Ahaha, Chocolat-chi, dadamu besar ya."

"Baru pertama ketemu sudah pegang-pegang bagian mana!? Dasar bocah SD!"

Satu lagi orang berbahaya ikut campur!

"Ah, jangan-jangan ini Furano-san si rekan lelucon kotor, dan Ouka-san yang membantuku melihat celana dalam?"

"Iya."

"Benar sekaliー."

Kalian berdua nggak masalah apa dianggap begitu!?

"Kanade-ku... maksudku, putraku yang bodoh ini selalu merepotkan kalian ya."

"Kenapa kamu malah berlagak jadi ibuku!?"

"Kami sih tidak melakukan hal besar, tapi mungkin dia menjadikan kami bahan untuk menghibur 'putra bodohnya' di bawah sana ya."

"Aku kaget! Aku kaget karena ucapanmu benar-benar di luar batas!"

"Ahaha, Chocolat-chi, pahanya halus bangetー."

"Kubilang baru pertama ketemu jangan pegang-pegang! Dasar bocah SD!"

"Mulai sekarang ayo berteman baik!"

"Tentu."

"He-eh!"

"Kumohon jangan berteman dengan merekaaaa!!"

Kepalaku sakit, sakit, SAKIT. Benar-benar sakit yang menyiksa. Berpikir, berpikir, berpikir... bagaimana cara menyelesaikan situasi yang sangat merepotkan ini. Tiba-tiba, Absolute Choice turun lagi.

Cih... seriusan, kenapa harus di saat seperti ini—

PILIH:

Masuki Harem Time, di mana kamu akan ditembak oleh keempat orang di peringkat atas (siswi aktif)

Sesuatu yang terasa sangat enak akan terjadi


Bodoh... kenapa isinya bagus dua-duanya!?

Bersambung To Be Continued...



Previous Chapter | ToC | End V1

Post a Comment

Post a Comment

close