NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 4 Interlude 1

Interlude

Kisah Tentang Sebuah Kemungkinan — Bagian 1


Pilih:

Seorang gadis cantik jatuh dari langit

Daiko-san jatuh dari langit


...Nggak, nggak, nggak mungkin.

Daiko-san baru saja jalan pulang ke rumahnya sendiri... Ah, tapi mikir begitu sekarang sudah telat, ya. Aku sudah kenyang merasakan pahitnya kenyataan bahwa hukum fisika sama sekali tidak berlaku bagi Absolute Choice.

Selama pilihan itu sudah diumumkan, meski isinya se-tidak masuk akal apa pun, kalau aku memilihnya, hal itu pasti akan terjadi.

Artinya, kalau aku pilih , probabilitas Daiko-san jatuh menimpaku adalah seratus persen. Kalau sampai kena hantaman benda semacam itu... tamatlah riwayatku. Secara fisik maupun mental.

Sambil meresapi arti dari pepatah "memilih yang mendingan di antara yang terburuk", aku pun memilih .

"Tapi, kalau dalam kasus begini jadinya gimana, ya?"

Masa tiba-tiba ada orang muncul di tengah awang-awang? Dengan ragu aku menengadah ke langit. Namun, tidak terjadi apa-apa.

"?"

Tepat saat aku merasa aneh dan mengalihkan pandangan kembali ke depan—

BRAKK!

"Dowaahhh!"

Tiba-tiba sebuah objek jatuh dengan kecepatan tinggi tepat di depan mataku dan menghantam tanah.

"A... Apa-apaan..."

Aku terduduk lemas, tak mampu berkata-kata. Oke, aku memang sudah menyiapkan mental sampai batas tertentu... tapi ini beneran! Beneran ada yang jatuh!

Sosok yang tadi mendarat dengan posisi satu lutut itu perlahan mulai berdiri... D-Dia tidak apa-apa, kan?

"Kamu Amakusa Kanade, kan."

Aku tersentak mendengar dia menyebut nama lengkapku secara tiba-tiba.

"A... Ah, iya, benar..."

Sambil kebingungan, aku mencoba mengorek ingatanku, tapi tidak ada informasi tentang gadis cantik ini di sudut mana pun dalam otakku.

"Anu... kamu siapa?"

"Hmm... sepertinya ingatanmu sedang mengalami kekacauan, ya... Yah, pelan-pelan juga bakal pulih."

Gadis itu tidak menjawab pertanyaanku, malah bergumam sendiri.

Kulitnya putih pucat hampir seperti orang sakit, rambut pirangnya terlihat lembut dan mengembang, dengan mata biru yang jernih. Dia mengenakan pakaian bergaya negeri dongeng dengan perpaduan warna yang mirip cokelat.

Saat aku terpesona oleh visualnya yang sangat jauh dari standar Jepang modern itu, dia tiba-tiba menegurku.

"Sampai kapan kamu mau memasang posisi memalukan begitu? Cepat berdiri."

"...Eh?"

"Kamu tidak dengar aku menyuruhmu cepat berdiri, dasar Anjing."

Gadis itu berucap dengan nada suara yang sangat dingin. A-Apa-apaan anak ini...

Akhirnya aku berdiri sesuai perintahnya, tapi mulut gadis itu belum berhenti bicara.

"Amakusa Kanade, mulai sekarang kamu adalah anjing setiaku. Dengan ini, aku memerintahkanmu untuk tunduk sepenuhnya."

"Nggak, tiba-tiba bilang begitu—"

"Diam, Anjing."

Ucapanku dipotong mentah-mentah.

Kenapa? Kenapa baru pertama ketemu aku sudah dipanggil anjing berkali-kali?

"...Tunggu sebentar. Sebenarnya kamu ini siapa, sih?"

Mendengar pertanyaanku, gadis itu menunjukkan gestur seolah sedang berpikir sejenak.

"Begitu ya, namaku sebenarnya tidak penting, tapi..."

Matanya tertuju pada cokelat yang terpental keluar dari tasku saat aku jatuh terduduk tadi.

"Pakai ini saja kalau begitu... Yah, kalau langsung dipanggil Cokelat sepertinya agak aneh untuk sebuah nama, jadi—"

Dia memberikan tatapan dingin padaku dan berucap dengan datar.

"Biar terdengar agak intelek, panggil saja aku Chocolat."






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close