NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 2 Epilog

Epilog



Setelah libur Sabtu dan Minggu, tibalah hari Senin.

Aku sedang menjalani pengalaman pertama dalam hidupku: teknik 'langkah kaki mengendap-endap'.

Di jam segini, aku tahu persis kalau mencoba sembunyi dari pandangan orang itu percuma. Tapi setelah kejadian itu, aku benar-benar tidak punya nyali untuk menaiki tangga dengan kepala tegak.

"Fuuu..."

Begitu sampai di depan kelas, aku menghela napas panjang dan saat aku membuka pintu—

"""Yaaa, wahai sahabat karib kami, Amakusa-kun."""

Yang menantiku adalah rekan-rekan lelakiku dengan senyum yang luar biasa lebar.

"Te-Teman-teman, kenapa muka kalian seram begitu?"

"Aduh, perasaanmu saja. Lihat, kami kan tersenyum ramah begini."

Sato menaruh tangannya di pundakku, tapi tenaga yang dia kerahkan beneran GAK MASUK AKAL.

"Benar itu, Amakusa. Jangan bicara yang aneh-aneh dong."

Takahashi melangkah maju, dan sepatu indoor-nya telak menginjak kakiku.

"Persahabatan kita kan nggak bakal hancur apa pun yang terjadi, iya kan?"

Di mata Ito, terpancar kilatan haus darah yang belum pernah kulihat seumur hidup.

"Anu... kalian... marah, ya?"

Begitu aku bertanya dengan ragu, saat itu juga—

"YA IYALAH, WOI!"

"Beraninya lo main-main sama Ibu Ketua!"

"Dapat Chocolat-chan saja sudah bikin iri, mending lo MATI SAJA SANA, WOIII!"

"Eh, kalian tenang du—GYAAAAAARGH!"

Ulu hati! Ulu hatiku kena bogem! Gawat, orang-orang ini sifat dan cara bicaranya berubah total! Ini bahaya! Lebih bahaya dari pasukan pengawal Yuuwaki!

"Uuu... mereka itu..."

Beberapa puluh detik kemudian, aku tergeletak di sudut kelas seperti kain pel rongsokan.

Tiba-tiba, sebuah bayangan mendekat.

"Yukihira..."

Sambil menahan badanku yang remuk, aku berusaha bangun.

"Selamat pagi, ○×▼□●."

Rasanya aku baru saja mendengar kata-kata yang sangat terlarang keluar dari mulutnya...

"Yukihira, barusan... kamu bilang apa?"

"Aku bilang ○×▼□●."

"OUT! OUT! OUT!"

Itu beneran kata-kata yang harus disensor di televisi!

"Itu adalah perasaan jujurku terhadap Amakusa-kun saat ini. Apa kamu tidak suka?"

"Mana mungkin aku suka!"

"Itu cuma bercanda, kok."

"Bercandamu sudah lewat level tahu...!"

Di depanku yang sedang melongo keheranan, Yukihira membuka mulutnya dengan wajah datar seperti biasa.

"Jadi, bagaimana penjelasan soal kejadianmu dengan Ketua Kokubyakuin?"

"Ugh..."

Yah, secara objektif, aku tahu semua orang ingin menanyakan itu. Tapi aku tidak menyangka pertanyaan itu bakal meluncur dari mulut Yukihira...

"Kira-kira bagaimana rasanya saat Amakusa-kun me-anu-kan bagian itu milik Ibu Ketua?"

"Kenapa malah jadi terdengar mesum begitu, sih?!"

"Aku tidak sedang bercanda. Aku bertanya dengan serius."

"Jelas-jelas yang lagi bercanda itu kamu, kan?!"

"Habisnya, kalau tidak begini... aku terlalu takut untuk bertanya."

"...Yukihira?"

Sepertinya dia membisikkan sesuatu, tapi suaranya terlalu pelan sampai tidak terdengar sama sekali.

"...Sudahlah, lupakan saja."

"Eh, oi, Yukihira...!"

Yukihira langsung berbalik dan berjalan menuju bangkunya... Dia aneh sekali hari ini.

Saat aku sedang memikirkan itu, seseorang memanggilku dari belakang.

"A-Amatchi..."

"Yuuouji..."

Hari Jumat kemarin, Yuuouji langsung pulang lebih awal, jadi ini pertama kalinya kami bertemu sejak kejadian "insiden celana dalam" itu.

Meski itu kecelakaan, tidak diragukan lagi kalau aku yang salah. Aku berniat minta maaf, tapi Yuuouji bicara lebih cepat.

"A-Anu ya, aku sekarang pakai celana ketat (spats), jadi nggak apa-apa kok! Ma-Makanya, semuanya okee-oke saja!"

Aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan "oke", tapi setidaknya kondisi Yuuouji sekarang sama sekali tidak terlihat oke.

Wajahnya merah padam, dia tidak berani menatap mataku, dan kakinya gelisah tidak bisa diam.

Anak ini... kenapa sensor malunya sensitif sekali kalau soal celana dalam? Kalau dia bersikap begini, aku kan jadi ikutan malu—

Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku.

"Lagi sibuk—Eh, UWOOOOOOH?!"

Saat aku menoleh, di sana berdirilah sang Ketua Murid, Seira Kokubyakuin.

"Se-Sejak kapan...?"

Sang Ketua yang kini menjadi pusat perhatian seluruh kelas itu tersenyum manis.

"Aku datang karena merindukanmu, Kanade-san~"

"Apa...!"

Seketika kelas menjadi gempar.

"Tu-Tunggu dulu Ketua, apa-apaan yang Anda katakan?!"

"Aduh~ jangan dingin begitu dong. Panggil saja aku Seira seperti biasanya."

ORANG INI... NGOMONG APA SIH?!

"Apa kamu malu kalau di depan banyak orang? Kalau begitu, ayo ke tempat di mana kita bisa berduaan saja—"

"Daaaah! Stop, stop! Ikut aku sebentar!"

Secara refleks, aku menarik tangan Ibu Ketua dan kabur keluar kelas.


"A-Apa sih yang sebenarnya Anda pikirkan!"

Setelah menariknya sampai ke tempat sepi, aku berteriak tanpa memedulikan bahasa sopan lagi.

"Fufu, aku memikirkan banyak hal kok~"

Nada bicaranya masih saja santai seperti biasa.

Sial... percuma saja, kalau begini terus tidak akan ada ujungnya.

"Ketua, cukup sudah. Setelah semua ini, orang bodoh pun tahu kalau Anda ada hubungannya dengan 'Dewa'. Tolong berhenti mempermainkanku dan katakan apa tujuan Anda sebenarnya."

Ketua masih dengan nada santainya ber- "hmmm" ria sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.

"Amakusa-san. Apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang~?"

Pertanyaan yang keluar malah sama sekali tidak nyambung.

"Ketua, jawab pertanyaanku dengan ben—"

"Apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang~?"

Kata-kata Ketua kali ini mengandung tekanan aneh yang tidak mengizinkanku untuk membantah.

Meski kesal, aku terpaksa menjawabnya.

"Pernah jatuh cinta... ya pastilah pernah. Meski sekarang aku dijauhi cewek-cewek gara-gara Absolute Choice, waktu SMP dulu aku lumayan populer tahu. Aku bahkan pernah ditembak beberapa ka—"

.............................. lho?

Melihat ekspresiku, Ketua tersenyum puas.

"Fufu, kutukan yang kamu sebut Absolute Choice itu hanya diberikan kepada orang-orang sepertimu."

"Orang sepertiku... apa maksudnya?"

"Fufu, hal yang barusan kamu sadari itu lho~"

Mata Ketua seolah berkata kalau dia tidak akan memberi tahu lebih dari itu.

"...Ya sudah, soal itu lupakan saja. Kalau begitu, setidaknya beri tahu aku kenapa Anda berlagak seperti naksir padaku?"

"Habisnya aku gemas sendiri sih~"

"Hah?"

Ketua menjawab dengan entengnya.

"Peran ini seharusnya dijalankan oleh anak itu, tapi sepertinya tidak berjalan dengan lancar. Jadi aku sendiri deh yang turun tangan mengintervensi~"

Anak itu... jangan-jangan maksudnya Chocolat?

"Yah, mungkin sampai di sini saja sudah cukup~"

"Ah, tunggu dulu Ketua...!"

"Sampai jumpa ya~"

Setelah mengatakan apa yang dia mau, Ketua Kokubyakuin melenggang pergi dan menghilang entah ke mana.

"...A-Apa-apaan sih itu barusan."

Dengan perasaan ganjil, aku kembali ke depan kelas dan menemukan Chocolat di sana.

"Ah... Kanade-san."

"Oh, kamu sudah bangun."

Tadi aku meninggalkannya karena dia tidak bangun-bangun meski sudah kuguncang sehebat apa pun, tapi ternyata dia bisa bangun sendiri.

"Hm?"

Ada yang aneh dengan Chocolat. Wajah cerianya yang biasa menghilang, dan rambut kuncir kuda yang mirip ekornya itu layu seperti tanaman kering.

"Chocolat?"

"Kanade-san... aku tidak merasa lapar."

"Hah?"

Aku butuh waktu sebentar untuk mencerna kata-katanya.

Tidak lapar? Si monster nafsu makan ini tidak lapar? Mana mungkin... eh? Kalau diperhatikan, wajahnya merah. Apa dia demam?

"Pokoknya masuk dulu. Kita duduk dan bicara pelan-pel—uuh..."

Begitu aku memegang tangan Chocolat dan membuka pintu, seluruh pandangan seisi kelas tertuju padaku.

Gawat... aku lupa kalau tadi aku kabur di tengah situasi genting.

Gimana ini? Cara kaburnya gimana—


PILIH:

Peluk Chocolat

Peluk Furano Yukihira

Peluk Uka Yuuouji


Gila... pilihannya ada tiga?!

 

[ Bersambung To Be Continued... ]




Previous Chapter | ToC | End V2

Post a Comment

Post a Comment

close