Epilog
Setelah
libur Sabtu dan Minggu, tibalah hari Senin.
Aku
sedang menjalani pengalaman pertama dalam hidupku: teknik 'langkah kaki
mengendap-endap'.
Di jam
segini, aku tahu persis kalau mencoba sembunyi dari pandangan orang itu
percuma. Tapi setelah kejadian itu, aku benar-benar tidak punya nyali
untuk menaiki tangga dengan kepala tegak.
"Fuuu..."
Begitu sampai di
depan kelas, aku menghela napas panjang dan saat aku membuka pintu—
"""Yaaa,
wahai sahabat karib kami, Amakusa-kun."""
Yang menantiku
adalah rekan-rekan lelakiku dengan senyum yang luar biasa lebar.
"Te-Teman-teman,
kenapa muka kalian seram begitu?"
"Aduh,
perasaanmu saja. Lihat, kami kan tersenyum ramah begini."
Sato menaruh
tangannya di pundakku, tapi tenaga yang dia kerahkan beneran GAK MASUK AKAL.
"Benar itu,
Amakusa. Jangan bicara yang aneh-aneh dong."
Takahashi
melangkah maju, dan sepatu indoor-nya telak menginjak kakiku.
"Persahabatan
kita kan nggak bakal hancur apa pun yang terjadi, iya kan?"
Di mata Ito,
terpancar kilatan haus darah yang belum pernah kulihat seumur hidup.
"Anu...
kalian... marah, ya?"
Begitu aku
bertanya dengan ragu, saat itu juga—
"YA IYALAH,
WOI!"
"Beraninya
lo main-main sama Ibu Ketua!"
"Dapat
Chocolat-chan saja sudah bikin iri, mending lo MATI SAJA SANA, WOIII!"
"Eh,
kalian tenang du—GYAAAAAARGH!"
Ulu hati! Ulu
hatiku kena bogem! Gawat, orang-orang ini sifat dan cara bicaranya
berubah total! Ini bahaya! Lebih bahaya dari pasukan pengawal Yuuwaki!
"Uuu... mereka itu..."
Beberapa puluh
detik kemudian, aku tergeletak di sudut kelas seperti kain pel rongsokan.
Tiba-tiba, sebuah
bayangan mendekat.
"Yukihira..."
Sambil menahan
badanku yang remuk, aku berusaha bangun.
"Selamat
pagi, ○×▼□●."
Rasanya aku baru
saja mendengar kata-kata yang sangat terlarang keluar dari mulutnya...
"Yukihira,
barusan... kamu bilang apa?"
"Aku bilang ○×▼□●."
"OUT! OUT! OUT!"
Itu beneran
kata-kata yang harus disensor di televisi!
"Itu adalah
perasaan jujurku terhadap Amakusa-kun saat ini. Apa kamu tidak suka?"
"Mana
mungkin aku suka!"
"Itu cuma bercanda, kok."
"Bercandamu sudah lewat level tahu...!"
Di depanku yang sedang melongo keheranan, Yukihira membuka
mulutnya dengan wajah datar seperti biasa.
"Jadi,
bagaimana penjelasan soal kejadianmu dengan Ketua Kokubyakuin?"
"Ugh..."
Yah, secara
objektif, aku tahu semua orang ingin menanyakan itu. Tapi aku tidak menyangka
pertanyaan itu bakal meluncur dari mulut Yukihira...
"Kira-kira
bagaimana rasanya saat Amakusa-kun me-anu-kan bagian itu milik
Ibu Ketua?"
"Kenapa
malah jadi terdengar mesum begitu, sih?!"
"Aku tidak
sedang bercanda. Aku
bertanya dengan serius."
"Jelas-jelas
yang lagi bercanda itu kamu, kan?!"
"Habisnya,
kalau tidak begini... aku terlalu takut untuk bertanya."
"...Yukihira?"
Sepertinya dia
membisikkan sesuatu, tapi suaranya terlalu pelan sampai tidak terdengar sama
sekali.
"...Sudahlah,
lupakan saja."
"Eh, oi,
Yukihira...!"
Yukihira
langsung berbalik dan berjalan menuju bangkunya... Dia aneh sekali hari ini.
Saat aku sedang
memikirkan itu, seseorang memanggilku dari belakang.
"A-Amatchi..."
"Yuuouji..."
Hari Jumat
kemarin, Yuuouji langsung pulang lebih awal, jadi ini pertama kalinya kami
bertemu sejak kejadian "insiden celana dalam" itu.
Meski itu
kecelakaan, tidak diragukan lagi kalau aku yang salah. Aku berniat minta maaf,
tapi Yuuouji bicara lebih cepat.
"A-Anu ya,
aku sekarang pakai celana ketat (spats), jadi nggak apa-apa kok!
Ma-Makanya, semuanya okee-oke saja!"
Aku tidak tahu
apa yang dia maksud dengan "oke", tapi setidaknya kondisi Yuuouji
sekarang sama sekali tidak terlihat oke.
Wajahnya merah
padam, dia tidak berani menatap mataku, dan kakinya gelisah tidak bisa diam.
Anak ini...
kenapa sensor malunya sensitif sekali kalau soal celana dalam? Kalau dia
bersikap begini, aku kan jadi ikutan malu—
Tiba-tiba,
seseorang menepuk pundakku.
"Lagi
sibuk—Eh, UWOOOOOOH?!"
Saat aku menoleh,
di sana berdirilah sang Ketua Murid, Seira Kokubyakuin.
"Se-Sejak
kapan...?"
Sang Ketua yang
kini menjadi pusat perhatian seluruh kelas itu tersenyum manis.
"Aku
datang karena merindukanmu, Kanade-san~"
"Apa...!"
Seketika kelas
menjadi gempar.
"Tu-Tunggu
dulu Ketua, apa-apaan yang Anda katakan?!"
"Aduh~ jangan dingin begitu dong. Panggil saja aku Seira seperti biasanya."
ORANG INI... NGOMONG APA SIH?!
"Apa kamu malu kalau di depan banyak orang? Kalau
begitu, ayo ke tempat di mana kita bisa berduaan saja—"
"Daaaah! Stop, stop! Ikut aku sebentar!"
Secara refleks, aku menarik tangan Ibu Ketua dan kabur
keluar kelas.
"A-Apa sih
yang sebenarnya Anda pikirkan!"
Setelah
menariknya sampai ke tempat sepi, aku berteriak tanpa memedulikan bahasa sopan
lagi.
"Fufu,
aku memikirkan banyak hal kok~"
Nada bicaranya
masih saja santai seperti biasa.
Sial... percuma
saja, kalau begini terus tidak akan ada ujungnya.
"Ketua,
cukup sudah. Setelah semua ini, orang bodoh pun tahu kalau Anda ada hubungannya
dengan 'Dewa'. Tolong berhenti mempermainkanku dan katakan apa tujuan Anda
sebenarnya."
Ketua masih
dengan nada santainya ber- "hmmm" ria sambil menempelkan jari
telunjuk ke bibirnya.
"Amakusa-san.
Apa kamu pernah jatuh cinta pada seseorang~?"
Pertanyaan yang
keluar malah sama sekali tidak nyambung.
"Ketua,
jawab pertanyaanku dengan ben—"
"Apa kamu
pernah jatuh cinta pada seseorang~?"
Kata-kata Ketua
kali ini mengandung tekanan aneh yang tidak mengizinkanku untuk membantah.
Meski kesal, aku
terpaksa menjawabnya.
"Pernah
jatuh cinta... ya pastilah pernah. Meski sekarang aku dijauhi cewek-cewek
gara-gara Absolute Choice, waktu SMP dulu aku lumayan populer tahu. Aku
bahkan pernah ditembak beberapa ka—"
.............................. lho?
Melihat
ekspresiku, Ketua tersenyum puas.
"Fufu,
kutukan yang kamu sebut Absolute Choice itu hanya diberikan kepada
orang-orang sepertimu."
"Orang
sepertiku... apa maksudnya?"
"Fufu,
hal yang barusan kamu sadari itu lho~"
Mata Ketua seolah
berkata kalau dia tidak akan memberi tahu lebih dari itu.
"...Ya
sudah, soal itu lupakan saja. Kalau begitu, setidaknya beri tahu aku kenapa
Anda berlagak seperti naksir padaku?"
"Habisnya
aku gemas sendiri sih~"
"Hah?"
Ketua menjawab
dengan entengnya.
"Peran ini
seharusnya dijalankan oleh anak itu, tapi sepertinya tidak berjalan dengan
lancar. Jadi aku sendiri deh yang turun tangan mengintervensi~"
Anak itu...
jangan-jangan maksudnya Chocolat?
"Yah,
mungkin sampai di sini saja sudah cukup~"
"Ah, tunggu
dulu Ketua...!"
"Sampai
jumpa ya~"
Setelah
mengatakan apa yang dia mau, Ketua Kokubyakuin melenggang pergi dan menghilang
entah ke mana.
"...A-Apa-apaan
sih itu barusan."
Dengan perasaan
ganjil, aku kembali ke depan kelas dan menemukan Chocolat di sana.
"Ah... Kanade-san."
"Oh, kamu sudah bangun."
Tadi aku meninggalkannya karena dia tidak bangun-bangun
meski sudah kuguncang sehebat apa pun, tapi ternyata dia bisa bangun sendiri.
"Hm?"
Ada yang aneh dengan Chocolat. Wajah cerianya yang biasa
menghilang, dan rambut kuncir kuda yang mirip ekornya itu layu seperti tanaman
kering.
"Chocolat?"
"Kanade-san... aku tidak merasa lapar."
"Hah?"
Aku butuh waktu sebentar untuk mencerna kata-katanya.
Tidak
lapar? Si monster nafsu makan ini tidak lapar? Mana mungkin... eh? Kalau diperhatikan, wajahnya
merah. Apa dia demam?
"Pokoknya
masuk dulu. Kita duduk dan bicara pelan-pel—uuh..."
Begitu aku
memegang tangan Chocolat dan membuka pintu, seluruh pandangan seisi kelas
tertuju padaku.
Gawat... aku lupa
kalau tadi aku kabur di tengah situasi genting.
Gimana ini? Cara kaburnya gimana—
PILIH:
① Peluk Chocolat
② Peluk Furano Yukihira
③ Peluk Uka Yuuouji
Gila... pilihannya ada tiga?!
[ ①
Bersambung ② To Be Continued... ]
Previous Chapter | ToC | End V2



Post a Comment