NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Sisi Sebenarnya Yukihira Furano


1

"Spiii..."

Gadis itu sedang tidur dengan sangat nyenyak, memeluk selimut seolah-olah benda itu adalah guling kesayangannya.

Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada respons, jadi terpaksa aku masuk ke kamarnya. Namun, meski aku sudah berdiri sedekat ini, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

"Mufufu... munya..."

Padahal aku sudah bangun dari satu jam yang lalu, mencuci baju, bahkan sudah menyiapkan sarapan. Kenapa makhluk yang cuma menumpang hidup di sini malah bisa tidur dengan perasaan tanpa dosa begini?

"...Kenapa jadi begini, ya?"

Sambil menggerutu, aku mengingat kembali rentetan kejadian tadi malam yang membuatku terpaksa menampung makhluk misterius bernama Chocolat ini.

◆◇◆

"Tu-Tuhan...?"

"Iya, benar!"

Tuhan? Apa-apaan sih dia ini? Biasanya aku pasti akan langsung menertawakannya, tapi sorot mata Chocolat begitu murni tanpa ada tanda-tanda sedang bercanda.

"Ah, Kanade-san, dari matamu sepertinya kamu nggak percaya ya."

"Ya iya dong, mana ada orang yang tiba-tiba percaya kalau dikasih tahu soal Tuhan... Hm?"

Tepat saat aku selesai bicara, seolah menyesuaikan dengan dialogku, ponsel di saku bergetar menandakan pesan masuk. Aku mengeluarkannya dan memeriksa: di kolom pengirim, tertulis nama "Tuhan".

Tuhan? Seingatku aku tidak pernah mendaftarkan nama seperti itu di kontakku. Dan di waktu yang sesinkron ini... Merasakan firasat yang aneh, aku membuka pesan berjudul "Misi Penghapusan Kutukan" tersebut.

<<Buat Yukihira Furano tertawa dari lubuk hatinya yang paling dalam. Batas waktu: Rabu, 8 Mei.>>

Apa-apaan ini? Yukihira? Kenapa nama dia yang muncul? Kalaupun ini prank, isinya benar-benar tidak masuk akal. Sebenarnya apa yang terjadi?

Di saat berbagai pertanyaan berputar di kepalaku, kali ini melodi tanda telepon masuk berbunyi.

"Ah, mungkin itu dari Tuhan-sama!"

Mengikuti suara ceria Chocolat, aku menatap layar ponsel. Di sana, tertulis nama yang sama: "Tuhan".

Sebenarnya, apa mungkin menampilkan nama di ponsel seseorang padahal nomornya tidak terdaftar? Jangan-jangan... yang ada di balik telepon ini memang sesuatu yang melampaui akal sehat manusia?

"...Halo?"

Aku menekan tombol jawab dan menempelkan ponsel ke telingaku dengan penuh keraguan.

Yuhuuu, Tuhan di sini!

Jawaban yang kudengar justru berlawanan dengan ekspektasiku. Suaranya sangat santai dan ringan.

Lho, lho? Halo~? Amakusa Kanade-kun?

"...Kamu siapa, sih?"

Ini... Tuhan? Bodoh sekali aku tadi sempat hampir percaya. Semangatku langsung anjlok, aku pun menjawab dengan nada asal-asalan.

Eh, kan sudah kubilang aku ini Tuhan. Tuhan, alias Gusti Allah. Hmm, kalau mau istilah kerennya, semacam... God gitu?

Apa-apaan orang ini... GAYA BICARANYA ALAY BANGET.

"Lalu, ada urusan apa Tuhan Alay ini denganku?"

Meskipun aku sudah tidak percaya sedikit pun kalau dia itu Tuhan, aku tetap meladeni pembicaraannya untuk mencari tahu situasi sebenarnya.

Wah, kok langsung gas ke intinya sih? Hebat, kamu tipe orang yang nggak sabaran ya.

Alay... lupakan soal Tuhan, orang ini cuma cowok alay yang kebetulan sedang mengerjaiku.

"Kamu beneran Tuhan?"

Eh? Masa nggak percaya sih? Dengar ya Kanade-kun, kalau bicara soal ke-Tuhanan-ku, aku ini sudah masuk level 'Dewa di Dunia Baru', lho. Beneran deh!

Sama sekali tidak bisa dimengerti.

"Kalau begitu tunjukkan buktinya."

Bukti?

"Iya. Kalau memang Tuhan, kamu pasti bisa duduk di atas awan atau mengeluarkan petir dari tongkatmu, kan?"

Tentu saja aku tidak serius menanyakan hal itu. Tujuanku cuma untuk melihat bagaimana reaksinya.

Uwah, kuno banget! Imajinasi Kanade-kun kuno banget! Miskin kreativitas tingkat dewa nih!

...Bikin kesal. Cowok alay ini benar-benar bikin naik darah.

Tapi ya, aku bisa melakukan sesuatu yang sama hebatnya dengan itu, lho~. Nih, rasakan.

"Makanya, kalau bisa ya tunjukkan buk—"

Oke, oke. Kalau kayak gini gimana~?

"Hm?"

Begitu si cowok alay itu selesai bicara, sebuah perasaan aneh yang sangat kuat langsung menghantamku.

Apa... ini?

Rasanya seperti diriku bukan lagi diriku sendiri. Sebuah sensasi yang sangat tidak nyaman. Tapi aku tidak tahu apa penyebabnya.

Fufu. Coba deh sentuh dadamu.

Suara si cowok alay terdengar seolah dia bisa membaca pikiranku.

"Dada? Kenapa harus... Hah?"

Apa ini? Sebuah sensasi lembut yang belum pernah kurasakan sekali pun dalam hidupku.

Aku mencoba menyentuhnya lagi... fuyon (kenyal).

Sekali lagi... taputapu (goyang-goyang).

Dan sekali lagi... baiiin (membal).

Tubuhmu sudah kuubah jadi perempuan~!

Hah? Apa yang dia bicarakan? Perempuan? Jangan bercanda. Tapi, sensasi tadi memang nyata...

Tanganku secara refleks bergerak menuju selangkangan.

"........................NGGAK ADA."

GAK ADA, GAK ADA, GAK ADA! Benda yang seharusnya terpasang di sana sudah lenyap! Simbol kejantanan laki-laki itu sudah tidak ada!

Wajahku langsung pucat pasi. Aku melemparkan ponselku dan berlari menuju cermin di kamar mandi.

Yang terpantul di sana memang benar-benar aku. Mata, hidung, mulut, semuanya memang fitur wajah yang sudah bersamaku selama bertahun-tahun. Itu tidak salah lagi.

Namun, wajah yang menatap balik ke arahku itu benar-benar wajah seorang gadis. Aku, tapi seorang gadis. Gadis, tapi adalah aku.

Model rambutku sudah tidak berbentuk aslinya, berubah menjadi rambut semi-long yang berkilau. T-tidak mungkin... Dengan gemetar, aku mengalihkan pandangan ke arah bawah.

Dada. Tidak, tonjolan ini lebih cocok disebut oppai (buah dada). Aku tidak begitu mengerti ukurannya, tapi sepertinya ini sekitar Cup D?

Fenomena yang terjadi pada diriku ini benar-benar tidak bisa dipahami sama sekali. Tanpa sadar apa yang ingin kulakukan, aku mulai melepas kancing kemejaku yang sudah sangat sesak dan nyaris robek.

Polon. Dua benda yang menggantung di bagian atas tubuhku itu adalah... yah, intinya itu adalah buah dada yang sangat nyata.

"Fu... fufu..."

Aku tertawa kecil, lalu mengambil napas dalam-dalam.

"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"

Seketika itu juga, aku berteriak histeris dan berlari kembali ke ruang tengah.

"C-C-CEWEK! CEWEK! AKU JADI CEWEK!"

Dalam kondisi kalut, aku berteriak ke arah Chocolat yang sedang memperhatikanku.

"Tenanglah, Kanade-chan."

"SIAPA YANG KAMU PANGGIL KANADE-CHAN... eh?"

Aku tersentak oleh tanggapanku sendiri. Aku baru sadar, bahkan nada suaraku pun sudah berubah menjadi manis dan imut seperti karakter di anime.




Aku menyambar ponsel yang tergeletak di lantai.

"A-apa yang terjadi?!"

Lho, kok kamu panik gitu?

"G-gak ada! Benda yang harusnya ada di selangkanganku nggak ada!"

Aduh, apanya sih yang nggak ada?

"Makanya kubilang, BURUNG—!?"

Tepat saat aku akan mengucapkan kata itu, wajahku mendadak terasa panas luar biasa... Ada apa ini?

Apa? Burung apa?

"Makanya, burung di selangkanganku... augh."

Sial, aku terlalu malu untuk melanjutkannya. Jangan-jangan... sebagian pikiranku juga ikut diubah jadi pikiran anak perempuan?

"Kanade-chan, kenapa kamu malah menggeliat-geliat malu gitu?"

"Udah kubilang jangan panggil Kanade-chan!"

Ahaha, Kanade-chan imut banget~

"Diam kamu! Cepat kembalikan aku jadi cowok sekarang juga!"

Ehh, beneran mau balik? Pengalaman kayak gini kan cuma sekali seumur hidup, lho.

"Gak butuh! Pengalaman kayak gini nggak bakal ada biarpun aku bereinkarnasi seratus kali!"

Tapi kan orang sering bilang: Mau berhenti jadi cowok? Atau berhenti jadi manusia? Begitu kan?

"Nggak ada yang bilang gitu! Lagian kenapa jadi cowok malah disamain kayak narkoba berbahaya!"

Aku meluapkan seluruh kekesalanku lewat kata-kata.

"Pokoknya cepet balikin aku jadi cowok—"


Pilih:

Menghabiskan sisa hidup sebagai perempuan

Melakukan Headstand sambil meneriakkan nama tokoh sejarah favorit]


"JOHN MANJIROOOO!" (T/N: John Manjiro: Tokoh sejarah Jepang yang terkenal karena terdampar di Amerika dan menjadi penerjemah penting.)

"Kanade-chan, kamu lagi ngapain?"

"AKU JUGA PENGEN TAHU!"

Sambil posisi terbalik, aku berteriak histeris ke arah Chocolat. Setelah memastikan pilihan itu menghilang, aku segera mengakhiri posisi headstand dan menyambar ponsel yang terlempar ke lantai.

"Pokoknya cepet balikin aku jadi cowok!"

Ehh, serius nih? Sayang banget, banget, banget, kan?

"BERISIK, BALIKIN!"

Buuu, ya sudahlah~

Setelah suara keberatan itu, sensasi aneh di tubuhku lenyap seketika. Aku meraba seluruh bagian tubuhku. Dada besarnya sudah hilang, dan "Anu"-ku sudah kembali.

"Haaaaah..."

Tenagaku terkuras habis, aku terduduk lemas di lantai.

Gimana, gimana? Sudah mulai percaya?

Sial... setelah diperlihatkan kejadian barusan, mau tidak mau aku harus mengakui kalau dia bukan manusia. Tapi apa makhluk se-alay ini beneran Tuhan?

Si pengirim suara di telepon sepertinya menganggap diamku sebagai jawaban "iya".

Oke. Berhubung kita sudah makin akrab, mari kita masuk ke topik utama.

Akrab? Kalau dia beneran menganggap begitu, otaknya pasti sudah geser.

Jadi, ini soal kutukanmu itu~

"Kutukan... ya."

Itu istilah yang tadi juga sempat diucapkan Chocolat.

Iya, benar. Di kasusmu itu—bentar, ah ini dia ketemu. Di dalam kepalamu suka muncul sesuatu yang nyuruh milih salah satu, kan?

"Iya, Pilihan Mutlak."

Pilihan Mutlak? Uwah, Kanade-kun, kamu ngasih nama yang memalukan gitu? Dasar Chuunibyou tingkat akut~

"Ugh..."

Karena selama ini aku jarang mengucapkannya langsung, aku tidak terlalu sadar. Tapi kalau dipikir-pikir, memang namanya agak memalukan sih.

Yah, terserah mau panggil apa. Jadi, soal cara menghapus kutukan itu...

Pembicaraan mendadak masuk ke inti masalah. Aku menahan napas, menunggu kata-kata dari si Tuhan Alay.

Singkatnya sih, kamu harus menyelesaikan misi-misi yang diberikan.

"Misi... jangan-jangan, pesan aneh yang tadi masuk ke ponselku?"

Seingatku isinya kalimat nggak jelas soal membuat Yukihira tertawa atau apalah.

Oh, serius? Gila, aku emang paling jago soal timing!

Aku merasa ada yang janggal dengan cara bicara Tuhan Alay ini.

"Tunggu sebentar. Dari tadi omonganmu agak nggak jelas, jangan-jangan kamu sendiri nggak paham seluruh situasinya?"

Yup! Bukannya nggak paham seluruhnya sih, lebih tepatnya hampir nggak tahu apa-apa.

Si Tuhan Alay mengucapkannya dengan sangat santai.

"Hampir nggak tahu apa-apa... Bukannya kamu Tuhan?"

Yah, memang sih. Tapi masalahnya, aku baru saja ditugaskan jadi penanggung jawab gugus duniamu ini. Pendahuluku pensiun tanpa ngasih serah terima jabatan yang jelas, jadinya repot banget, nih!

"Pendahulu... Maksudnya apa, Tuhan itu ada banyak?"

Banyak? Gila, jumlahnya mah bejibun sampai bisa disapu kayak sampah! Tahu kan istilah Delapan Juta Dewa? Ya segitulah jumlahnya.

Disapu kayak sampah... kalau dia ngomong gitu, kesannya jadi nggak ada sakral-sakralnya sama sekali. Tapi ya, kalau si Tuhan Alay ini memang level paling bawah di antara jutaan Tuhan lainnya, aku masih bisa sedikit maklum. Malah ngeri kalau makhluk kayak begini adalah satu-satunya Tuhan di alam semesta.

Terus ya, sistem kutukan itu cuma ada di gugus duniamu saja, makanya aku belum paham-paham amat.

Kalau omongannya benar, berarti si Tuhan Alay ini sama sekali tidak berguna dalam masalah ini.

"Apa kamu nggak bisa nanya ke pendahulumu soal kutukan ini?"

Ah, nggak bisa, nggak bisa. Kan tadi sudah kubilang dia sudah pensiun.

Pensiun, ya. Kira-kira apa alasan makhluk setingkat Tuhan sampai harus berhenti dari jabatannya?

Cuti melahirkan.

"Hah?"

Cuti melahirkan. Dia hamil.

"H-hamil? Tuhan bisa hamil?"

Kanade-kun, sepertinya kamu salah paham. Tuhan itu juga makan, juga tidur kalau capek, dan ya... mereka juga 'main' kok.

Bagian terakhir itu... tolong cara ngomongnya diperhalus sedikit napa.

"Tapi kan cuma cuti melahirkan? Bukan berarti dia luka parah, kan? Seharusnya kamu masih bisa hubungi dia."

Aduh, nggak bisa. Dia benar-benar syok, terus sekarang lagi pasang segel penghalang dan mengurung diri.

"Syok? Bukannya hamil itu berita bahagia?"

Masalahnya, dia hamil hasil perselingkuhan, terus istri sahnya melabrak dia sambil teriak 'Dasar pelakor!' dan nampar dia.

"INI MAH DRAMA KELUARGA DI TV!"

Ngapain aja sih para Tuhan ini.

Katanya sih dia mau berjuang membesarkan anaknya sendirian meski semua orang menentang. Tapi ya, paling dia baru bakal muncul lagi kalau anaknya sudah lahir.

"Ngomong-ngomong... berapa lama masa kehamilan Tuhan?"

Hmm, kalau dikonversi ke waktu duniamu, kira-kira sepuluh ribu tahun.

"KEBURU MATI SERATUS KALI, WOI!"

Aku memang tahu logika manusia nggak berlaku di sana, tapi sepuluh ribu tahun itu sudah keterlaluan jauhnya dari level sembilan bulan sepuluh hari.

Nah, sekarang aku lagi di ruang kerjanya nih. Pendahuluku itu ternyata jorok banget, dokumennya berantakan semua. Aku lagi ngumpulin bagian soal kutukan, tapi asli deh, males banget. Terus ruangannya agak bau apek lagi.

Tuhan... ternyata makhluk seceroboh ini pun bisa jadi Tuhan ya.

Lagian Kanade-kun, kamu kudet banget sih soal situasimu? Di sini tertulis nih: 'Mengenai kutukan Amakusa Kanade di dunia ke-49, terdapat beberapa anomali yang tidak bisa dipahami sepenuhnya, dan proses penghapusannya diprediksi akan sangat sulit. Oleh karena itu, salah satu pelayan paling berprestasi akan dikirim sebagai asisten pendukung.' Dia ada di dekatmu, kan? Detailnya tanya saja ke dia.

Asisten pendukung, ya. Kalau melihat situasinya, pasti yang dimaksud adalah Chocolat... tapi apa telingaku salah dengar? Tadi dia bilang "paling berprestasi"?

Yaudah deh, aku juga sibuk nih. Kalau ada apa-apa nanti kutelepon lagi. Baibyyy~

"O-oi..."

Belum sempat kuhentikan, si Tuhan Alay sudah mau memutus teleponnya.

Ah, tunggu sebentar. Aku nemu bagian yang kayaknya penting nih. Katanya, kalau kamu gagal menjalankan misi sekali saja, kutukannya bakal nempel seumur hidup~

"Hah? Maksudnya..."

Oke deh, dadah~

Pip. Sambungan diputus secara sepihak. Aku mencoba menelepon balik nomor yang tertera sebagai "Tuhan", tapi yang terdengar hanyalah suara operator yang datar.

Nomor yang Anda tuju berada di dunia yang tidak terjangkau sinyal atau sedang tidak aktif...

"APA-APAAN SIH!"

Aku refleks membanting ponselku ke lantai.

"Ah, apa obrolannya sudah selesai~?"

Chocolat yang sedang asyik nonton TV di sofa menyapa dengan suara santai. Pipinya menggembung penuh dengan kue kering. Kenapa kamu santai banget sih? Serasa di rumah sendiri ya.

"Chocolat-kun, sini bentar."

"Iya, ada apa?"

Setelah menelan semua kue di mulutnya, Chocolat mendekat dengan riang.

"Aku mau memastikan beberapa hal. Pertama, apa ingatanmu sudah kembali semua?"

"Ah, iya! Hampir semuanya sudah ingat!"

Melihat senyum lebarnya, aku sedikit lega. Sebebal apa pun dia, saat ini dia adalah satu-satunya sumber informasiku. Tapi ada bagian yang mengganjal... bagian "hampir" itu.

"Tapi entah kenapa, aku masih nggak ingat namaku sendiri."

Nama, ya. Syukurlah bagian yang hilang itu adalah hal yang nggak penting-penting amat. Mau namamu Chocolat, Parfait, atau Konnyaku sekalipun, nggak ada hubungannya sama Pilihan Mutlak-ku.

"Kalau gitu, kasih tahu semua yang kamu tahu."

"Sayangnya, itu tidak mungkin."

"...Hah?"

"Aku tidak punya informasi yang bisa kuberikan pada Kanade-san."

"Lho, katanya tadi sudah ingat semua selain namamu..."

"Iya. Aku sudah ingat fakta bahwa aku ini sebenarnya memang tidak tahu apa-apa."

"Hah?"

"Jadi begini, sepertinya dari awal aku memang sudah amnesia, tapi aku lupa kalau aku amnesia. Nah, barusan aku baru ingat kalau aku ini memang amnesia."

Jadi intinya, amnesia ganda dia sudah sembuh dan sekarang kembali jadi amnesia biasa... Apa-apaan sih.

"Fufufu. Begitulah, aku sendiri kaget lho ternyata aku nggak tahu apa-apa."

"Iya... aku juga kaget lihat kamu bisa pasang muka bangga gitu."

Gimana nih... rasanya aku langsung buntu di awal jalan. Nggak, jangan menyerah dulu. Chocolat kan setidaknya penduduk dunia sana (?), kalau aku tanya satu-satu pasti ada informasi yang bisa digali.

"Jelaskan pelan-pelan dari bagian yang kamu tahu saja. Pertama, gimana ceritanya kamu bisa dikirim ke tempatku?"

"Ah, iya. Jadi pas aku lagi nggak punya kerjaan dan nggak punya ingatan, cuma main game dan makan cemilan tiap hari, tiba-tiba datang sepucuk surat perintah. Isinya: 'Bantu Amakusa Kanade menghapus kutukannya'."

"Oke, terus?"

"Cuma itu saja."

"Hah?"

"Katanya sih, targetnya (Kanade-san) itu orang yang sangat jenius, dan kutukannya juga cuma masalah sepele, jadi aku disuruh nempel saja tanpa perlu ngapa-ngapain."

Ada yang aneh... rasanya ada sesuatu yang melenceng jauh di sini.

"Tapi aku nggak tahu apa-apa, lho."

"Aku juga nggak tahu apa-apa!"

Aku dan Chocolat saling bertatapan dengan tanda tanya besar di kepala masing-masing.

"Kanade-san, boleh aku nanya?"

Setelah hening sejenak, Chocolat mengangkat tangan dengan penuh semangat.

"Aku mau memastikan satu hal. Nama Amakusa Kanade itu cuma identitas samaranmu kan? Nama aslimu itu 'A. Magusa Ganadoure', kan?"

"SIAPA ITU, WOI!?"

"Terus di dunia ini, setiap harinya ada perulangan antara Waktu Luar dan Waktu Dalam, kan? Terus pas Waktu Dalam, monster Demonic Beast yang memusuhi umat manusia bakal menyerang secara serentak, kan?"

"Settingan Chuunibyou macam apa itu!"

"Terus kalau Kanade-san terjepit, kesadaran prajurit kuno di dalam tubuhmu bakal bangkit, terus kamu bakal memanggil robot terkuat hasil imajinasiku, 'Eldoraon', terus—"

"Cukup... sudah cukup."

"Oh, gitu ya? Ah, ngomong-ngomong Kanade-san, sudah waktunya tidur belum?"

"Hah? Ngomong apa sih tiba-tiba. Masih kepagian, tahu."

"Eh? Bukannya di dunia ini, kalau Kanade-san si 'Entitas Pengubah Kausalitas' tidur, dunianya bakal berubah jadi Waktu Dalam?"

"NGGAK BAKAL! Yang ada cuma hari esok yang datang!"

Ini... sebenarnya ada apa sih? Setelah mempertimbangkan percakapan dengan Tuhan Alay tadi dan perbedaan persepsi dengan Chocolat, satu-satunya kesimpulan yang masuk akal adalah—

Jangan-jangan, Tuhan salah mengirim orang ke dunia yang salah? Asumsikan ada dunia paralel. Pelayan paling berprestasi yang seharusnya membantuku mungkin malah pergi ke tempat si "A. Magusa" (yang sehari-harinya pakai nama Amakusa Kanade), sementara aku yang beneran kena kutukan merepotkan malah dikirimi si Chocolat bebal ini.

Begitu aku menjelaskan teori itu pada Chocolat, dia langsung menepukkan tangannya.

"Ooh, pantesan! Biasanya pelayan yang dikirim bakal otomatis di-install pengetahuan umum dan bahasa dunia tersebut ke kepalanya. Tapi karena dunia ini beda banget sama setting yang tertulis di surat perintah, aku sempat mikir 'Kok agak aneh ya~'."

...Jadi intinya. Makhluk aneh di depanku ini sama sekali NGGAK BERGUNA buat menghapus Pilihan Mutlak. Sambil memasang senyum paling lebar, aku menaruh tanganku di bahu Chocolat.

"Sana pulang."

"Gimana caranya?"

"Hah?"

"Menurut surat perintah, aku nggak bisa pulang sampai kutukan target asistenku terhapus."

"...Kenapa?"

"Nggak tahu!"

"Kok bisa nggak tahu?"

"Itu juga nggak tahu!"

"Terus, apa yang kamu tahu?"

"Kue buatan Kanade-san enak banget!"

"KAMU LAGI NGAJAK RIBUT YA!"

"Sudah, sudah Kanade-san. Mending kita makan malam yang enak dulu biar tenang."

Memang sih kalau lapar otak jadi nggak bisa mikir, tapi tetap saja aku nggak paham kenapa dia yang ngatur.

"Gimana kalau Salmon Meuniere? Tadi aku sudah intip isi kulkas, kayaknya bisa bikin salad buat sampingannya juga."

Aku malas menyerahkan dapurku pada orang asing, tapi dengan kondisi mentalku yang lagi kacau begini, aku juga nggak sanggup masak.

"Ya sudah, tolong masakin itu ya."

"Hm?" Chocolat memiringkan kepalanya bingung.

"Aku nggak bisa masak, lho?"

"Hah? Tadi kan kamu bilang Salmon Meuniere sama salad..."

"Itu kan menu yang PENGIN kumakan."

"JADI TETEP AKU YANG MASAK?!"

Fix. Sudah kuputuskan. Masa bodoh dia bisa balik ke dunianya atau nggak. Nggak ada alasan buat membiarkan makhluk nggak berguna ini tinggal di rumahku.

"Heh, Chocolat. Keluar dari rumah i—"


Pilih:

Menyerah dan membiarkan Chocolat menumpang di rumah

Menyerah dan kamu sendiri yang keluar dari rumah]


KOK GITU SIH!

...Setelah melewati satu babak yang tak terlukiskan itu, satu malam pun berlalu hingga pagi ini. Dibandingkan denganku yang sulit tidur karena berbagai pikiran berputar di kepala...

"Spiii..."

...Lihatlah makhluk ini. Wajah tidurnya begitu damai sampai-sampai aku merasa berdosa kalau membangunkannya. Tapi kalau nggak sarapan sekarang, aku bakal telat berangkat sekolah.

"Heh, bangun."

Aku mengguncangnya pelan, tapi dia tetap tidak bergerak. Saat aku baru mau menambah tenaga—

"Ah... Kanade-san..."

Tubuh Chocolat gemetar sedikit, dan dia mengeluarkan suara yang sangat seksi.

"Kanade-san... Kanade-san dalam bahaya..."

Hm? Bahaya apa?

"Aah, semua lubang Kanade-san kemasukan tentakel..."

Lubang? Tentakel? Jangan-jangan...

"Keperawanan belakang Kanade-san... A-ahhh!"

Makhluk ini... ternyata pikirannya mesum tingkat akut.

"Ooh... wajah Kanade-san yang lagi menggeliat kesakitan ternyata menggoda juga ya... Lanjut terus, hajar lagi..."

...Aku sadar makhluk ini nggak perlu dikasihani. Aku pun menutup hidung dan mulutnya sampai dia nggak bisa bernapas.

"...Nm? ...Fu? ...Myu-ff!?"

Setelah mengeluarkan suara aneh, kesadaran Chocolat akhirnya pulih. Dia menatap sekeliling dengan mata mengantuk, tapi begitu matanya bertemu denganku...

"Ah, Kanade-san, selamat pagi!"

Seketika wajahnya cerah dan dia memberikan senyum paling lebar.

"A-ah... pagi."

Melihat senyuman tulus itu secara langsung, aku refleks membuang muka. Padahal dia sedang tidak pakai makeup sama sekali, tapi fitur wajahnya beneran cantik banget.

Ditambah lagi, piyama pinjaman dariku agak melorot sehingga memperlihatkan kulit mulusnya yang cukup luas. Parahnya, dia sendiri sama sekali tidak peduli dan benar-benar tanpa pertahanan.

"Kanade-san, ada apa?"

"G-gak ada apa-apa."

Seberapa keras pun otakku bilang kalau dia bukan manusia, perasaanku tetap tidak bisa berbohong karena bentuk fisiknya adalah seorang gadis remaja. Aku yang mendadak panik sendiri akhirnya menundukkan kepala.

"Ah, jangan-jangan..."

Melihat tingkahku, Chocolat berkata dengan suara yang terdengar agak merasa bersalah.

"Kamu tahu ya kalau karpetnya jadi basah gara-gara aku ngiler pas tidur?"

"GIMANA SIH POSISI TIDURMU!"

...Bodoh sekali aku tadi sempat merasa deg-degan.

◆◇◆

"Owah! Hebat banget!"

Chocolat berseru heboh saat melihat sarapan yang tertata di meja. Kemarin aku memang nggak mood masak dan cuma makan mi instan, tapi kalau makan instan terus, selain nggak sehat juga bikin kantong jebol. Hasilnya, kemampuan masakku jadi lumayan terasah. Chocolat menatap makanan itu dengan mata berbinar.

"Ooooh!"

"Waaaah!"

Dia memberikan reaksi berlebihan pada setiap suapan. Padahal menunya biasa saja, tapi melihatnya makan dengan lahap sampai antena rambutnya naik-turun, aku sebagai yang masak jadi merasa lumayan senang. Tapi ya, itu bukan berarti aku setuju dia tinggal di sini.

"Tapi ya... buat ukuran penumpang, kamu makannya banyak juga ya."

"Ehehe."

Eh?

Kenapa kamu malah senang?

 Struktur otaknya gimana sih sampai bisa menganggap sindiranku sebagai pujian?

Melihat tatapan sinisku, sepertinya Chocolat akhirnya menyadari sesuatu. Dia menggoyangkan satu jarinya ke kiri dan kanan.

"Kanade-san, Kanade-san. Aku ini bukan tipe parasit nggak tahu diri yang cuma mau numpang hidup gratisan, lho."

Oh, syukurlah. Itulah yang ingin kudengar. Aku nggak minta uang atau apa pun. Aku cuma butuh perasaan sungkan dan rasa terima kasih.

"Serahkan urusan keamanan rumah ini padaku!"

"ITU MAH ARTINYA KAMU NGGAK NIAT NGAPA-NGAPAIN!"

Gak bener nih makhluk... tapi karena terikat pilihan, aku nggak bisa mengusirnya.

"Fufufu. Yang tadi itu cuma bercanda kok, Kanade-san."

Chocolat yang mendadak percaya diri memasukkan tangannya ke dalam belahan dadanya. Dari belahan yang kelewat berisi itu, dia mengeluarkan—

"Segepok... uang?"

Itu adalah kumpulan lembaran sepuluh ribu Yen. Jumlahnya pasti ratusan lembar.

"Ini dikirimkan sebagai biaya operasional. Katanya kalau kurang, bakal dikirim lagi berapa pun. Jadi, ini kutitipkan pada Kanade-san ya."

Serius nih... aku nggak nyangka bakal muncul uang tunai beneran. Aku penasaran apa maksudnya "dikirimkan", tapi ya sudahlah. Jumlahnya jelas-jelas terlalu banyak, tapi nanti akan kupakai seperlunya dan sisanya akan kukembalikan. Meskipun mencurigakan karena sumbernya dari Chocolat, tapi sepertinya ini bukan uang palsu—

"Aku kurang paham sih, tapi katanya uang ini sudah selesai di-laundry (dicuci)."

"BERARTI INI UANG HARAM, DONG!"

Refleks, aku membanting uang itu ke lantai.

"...Pokoknya kamu simpan dulu saja."

"Oh, gitu ya? Bilang saja kalau butuh ya."

Chocolat menyimpan kembali lembaran uang kotor itu ke belahan dadanya... Masalah ini akan kupikirkan baik-baik nanti.

"Pokoknya aku berangkat sekolah dulu."

Aku berdiri sambil mengembuskan napas panjang.

"Iya, hati-hati di jalan!"

Melihat senyum lebarnya yang tidak pernah berubah, aku mendadak penasaran.

"Heh Chocolat, kenapa kamu kelihatan senang banget sih?"

"Maksudnya?"

"Ya, kalau aku jadi kamu, tiba-tiba dikirim sendirian ke dunia lain terus disuruh bantu orang asing, aku nggak bakal bisa bersikap seceria itu."

Mungkin memang faktor kepribadian, tapi kalau dipikir secara normal, sikapnya itu tidak alami.

"Anu, begini. Kami para pelayan Tuhan tugasnya adalah membantu manusia. Jadi, kami diciptakan untuk merasa bahagia saat melakukan tugas itu. Kalau emosi kami sama target manusia jadi buruk, nanti tugasnya terhambat. Jadi, emosi kami sudah 'disetel' agar selalu merasa positif."

Caranya bicara seolah-olah dia adalah sebuah barang membuatku sedikit terganggu, tapi ya aku nggak tahu standar dunia sana sih.

"Hmm, gitu ya."

"Iya! Makanya aku suka banget sama Kanade-san!"

"Na..."

Itu adalah pernyataan suka yang terlalu jujur.

"Ada apa?"

Bukannya aku nggak tahu. Rasa sukanya itu ibarat rasa suka anjing pada tuannya, aku tahu banget kalau nggak ada unsur romantisnya sama sekali. Tapi kalau kata "Suka banget" keluar dari mulut makhluk berwujud perempuan—yang cantiknya minta ampun pula—logika laki-laki manapun pasti bakal buyar seketika.

"G-gak ada apa-apa."

Aku cuma bisa menunduk menyembunyikan wajahku yang mulai memerah. Padahal tadi di kamar sudah kapok, tapi aku beneran nggak punya kemampuan belajar ya.

"Oh, gitu ya? Kalau begitu, serahkan urusan rumah sepenuhnya padaku!"

Kata-kata itu langsung menarikku kembali ke realitas. Benar juga. Tadi aku asal bilang berangkat sekolah, tapi itu artinya aku harus menitipkan rumah pada makhluk ini. Pelayan bebal yang dikirim karena salah alamat.

"Kamu beneran oke, kan? Tahu cara nyuci piring?"

"Beres! Bakal kucuci sampai mengkilap biar bisa dijilat!"

"Piring kan emang harusnya bersih... tapi kenapa bahasamu kayak lagi nyuci kloset?"

Tetap saja aku merasa cemas. Sebaiknya aku melakukan simulasi dulu soal kejadian yang mungkin terjadi saat aku nggak ada.

"Chocolat, ini tes kecil sebelum kutinggal."

"Siap, laksanakan!"

Mulai dari yang ringan.

"Kalau tiba-tiba hujan?"

"Aku jadi malas keluar rumah."

"AKU NGGAK NANYA PERASAANMU! Angkatin jemurannya dong!"

Baru mulai saja sudah parah.

"Kalau ada sales koran datang?"

"Ambil hadiah sabunnya saja terus tutup pintunya rapat-rapat."

"Jahat banget kamu!"

Lanjut.

"Kalau ada telepon penipuan 'Mama minta pulsa' atau semacamnya?"

"Minta Tuhan kirim uang palsu terus aku transfer ke dia."

"MALAH JADI KASUS KRIMINAL YANG LEBIH GEDE, TAHU!"

...Lanjut.

"Kalau Nakajima datang ngajak main?"

"Main baseball!"

"GAK USAH! Lagian dia cuma ngajak Isono doang!" (T/N: Referensi ke anime Sazae-san).

"Menurutku tadi Kanade-san yang mancing duluan."

"Ugh... bener juga sih."

Aku malah jadi ikut bercanda.

"Baguslah kalau sadar."

Aku kesal melihat wajah sok menangnya itu. Aku mau membalasnya, tapi waktunya sudah mepet.

"Cih, ya sudah, aku berangkat."

"Daaaah, hati-hati yaaaa!"

Diringi salam perpisahan yang super ceria itu, aku meninggalkan rumah dengan perasaan cemas yang tidak terkira.


2

"BUHIIIIIIII!"

Di tengah jam istirahat siang di kelas 2-1, menggema suara yang terdengar seperti "seekor babi yang sedang dikeroyok massa".

"BUHIIIIIIII!"

Suara itu dipenuhi penderitaan, benar-benar mirip seperti "seekor babi yang sedang dikeroyok massa".

"BUHIIIIIIII!"

Wajah si pemilik suara memancarkan segala jenis emosi negatif, menunjukkan bahwa rasa sakit yang ia terima benar-benar tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kalau pemandangan ini harus diberi judul, mungkin judulnya adalah "Seekor Babi yang Sedang Dikeroyok Massa".

"BUHIIIIIIII!"

Setelah menyelesaikan teriakan yang kesepuluh kalinya, si "Babi yang Dikeroyok Massa"—maksudku, aku—turun dari atas meja guru dengan ekspresi kosong dan nyawa yang seolah sudah terbang.


Pilih:

Berbaring telentang di atas meja guru dan menirukan suara "Babi yang sedang dikeroyok massa" sebanyak 10 kali

Muncul Daiko-san (telanjang) yang seluruh tubuhnya dililit tali tambang, lalu kamu harus melakukan posisi yang sama dan melakukan Public Boneless Ham Play]


Begitu pilihan ini muncul, aku beneran... ya, beneran rasanya ingin loncat saja dari atap sekolah. Tapi kalau penyebab kematianku adalah "Menolak menirukan suara babi", kayaknya aku nggak bakal bisa mati dengan tenang. Jadi, aku terpaksa bertahan dan... melakukannya.

"Kenapa... kenapa aku harus mengalami ini..."

Ya, semuanya, semuanya gara-gara Pilihan Mutlak sialan ini. Kalau aku bisa menyingkirkan benda ini, aku bisa mendapatkan kembali hidupku yang tenang.

Syarat untuk itu pun sudah jelas. Aku hanya perlu menyelesaikan misi yang diberikan oleh Tuhan.

Tapi, isinya adalah "Buat Yukihira Furano tertawa dari lubuk hatinya yang paling dalam"... apa-apaan coba. Isinya terlalu absurd sampai aku tidak punya motivasi buat mengerjakannya.

"...Hm?"

Merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku menoleh. Ternyata itu adalah si Yukihira sendiri. Dia, dengan ekspresi datar seperti biasanya, menaruh tangannya di bahuku.

"Amakusa-kun, aku tahu kamu sangat mengagumiku, tapi menurutku yang barusan itu agak keterlaluan."

"Mengagumimu? Apa maksudmu?"

"Yah, sebenarnya aku ingin mengakuinya, tapi dunia itu tidak semudah yang kamu bayangkan."

"Maaf... aku beneran nggak paham kamu lagi ngomong apa."

"Sayangnya, yang barusan itu tidak bisa kuakui sebagai Butack Joke."

"AKU SAMA SEKALI NGGAK BERNIAT KE SANA, TAHU!"

Oh, ini maksudnya soal omongan dia kemarin yang bilang aku serangga atau babi itu ya...

"Ngomong-ngomong, karena kulitmu putih, punyamu itu bukan masuk kategori Black Butack Joke, melainkan White Butack Joke. Singkatnya, kamu itu babi putih."

"NGGAK TANYA!"

"Terus, kalau pakai julukan, namamu adalah 'Pig's Showtime: Candaan Renyah si Babi Putih'."

"Kok kamu bisa sih ngomong hal memalukan kayak gitu dengan muka datar?!"

"Kalau begitu aku balik tanya, kalau itu bukan Butack Joke, terus aksi anehmu barusan itu apa?"

"Ugh..."

Aku bungkam. Gimana cara jelasinnya... lagian sejak awal memang nggak ada alasannya, jadi nggak ada yang bisa dijelaskan.

...Eh, tunggu dulu. Bukannya ini malah kesempatan? Daripada dibilang menirukan suara babi tanpa alasan sama sekali, mungkin lebih baik berpura-pura kalau aku sedang mencoba menantang diri melakukan Butack Joke (?). Luka mentalku mungkin nggak bakal terlalu parah kalau begini caranya.

"S-sebenarnya, karena candaanmu kemarin lucu, aku jadi pengin coba niruin sedikit..."

Setelah tadi membantah mentah-mentah, apa alasan ini terlalu maksa ya? Saat aku menatapnya untuk mencari tahu reaksinya, Yukihira justru menatapku dengan tatapan menghina.

"Ternyata dugaanku benar."

"Hah?"

"Aku cuma mencoba menjebakmu, eh ternyata benar... Kamu mencoba menjiplak Butack Joke yang kupikirkan setiap malam sampai begadang, ya?"

Orang ini... ngomong apa sih?

"Ini sudah masuk level di mana aku harus menempuh jalur hukum."

"Eh, eh, aku nggak ada niat buat plagiat atau semacamnya kok."

"AKU AKAN MENUNTUTMU!"

Yukihira berteriak menirukan gaya pelawak terkenal.

"Bukannya gitu, aku nggak nge-plagiat hal begituan—"

"AKU AKAN MENUNTUTMU!"

Anak ini... dia pasti cuma pengin teriak kalimat itu saja, kan!

"Oke, oke, aku yang salah, jadi berhenti—"

"AKU AKAN MENUNTUTMU!"

BERISIK, WOI!

"Pak Hakim! Panggilkan Pak Hakim ke sini!"

"Nggak ada hakim di sini! Lagian kenapa gayamu kayak lagi manggil Chef di restoran sih!"

"Wah, kenyang, kenyang~"

Di saat yang sangat pas, Ouka muncul. Sepertinya dia baru selesai makan di kantin. Dia masuk ke kelas sambil menepuk-nepuk perutnya dengan puas.

"Ah, pas banget Pak Hakim-nya sudah kembali."

"Heh, dari sisi mana pun dia itu cuma si Ouka, kan..."

"Hm? Sepertinya ada aroma keributan yang menarik nih."

Gawat, firasatku bilang urusannya bakal makin ribet...

"Pak Hakim, orang ini adalah pelaku kriminal yang mencoba mencuri hak kekayaan intelektual orang lain. Berikan dia hukuman yang setimpal."

Hak kekayaan intelektual matamu... candaan soal babi dibilang kekayaan intelektual.

"Aku nggak begitu paham sih, tapi HUKUM MATI saja."

"INI MAH BUKAN LEVEL SIDANG KILAT LAGI!"

"Sudah diputuskan ya. Sana gih, cepat dipanggang jadi babi guling."

"AKU BUKAN BABI!"

Sambil mengabaikan bantahanku, Yukihira melanjutkan dengan nada datar.

"Pak Hakim, ada dua poin perdebatan kali ini. Pertama tentu saja apakah terdakwa 'Bersalah atau Tidak Bersalah'. Dan yang kedua adalah apakah terdakwa itu 'Manusia atau Babi'."

"NGGAK NYAMBUNG!"

"Kesimpulannya, pilihannya adalah terdakwa itu 'Bersalah atau Babi'."

"MAKIN NGGAK NYAMBUNG!"

"Amakusa-kun, manusia dan bersalah itu dalam satu sisi bisa dibilang sama. Karena, manusia adalah makhluk penuh dosa yang hidup di atas pengorbanan nyawa makhluk lain... Ya, bisa dibilang, keberadaan manusia itu sendiri adalah sebuah dosa."

"KENAPA KAMU JADI SOK KEREN GITU SIH!"

"Ayo Pak Hakim, saatnya membacakan vonis."

"Woi, kecepetan! Belum ada diskusi apa-apa juga!"

Lagian, apa yang mau didiskusikan soal pilihan "Bersalah atau Babi" coba?!

"Kalau gitu, Babi."

"AKU BUKAN BABI!"

"Kalau gitu, Bersalah."

"AKU NGGAK BERSALAH!"

"Padahal Pak Hakim sudah berbaik hati mengubah vonisnya, tapi sikapmu malah begini... Bisa nggak sih jangan main-main terus?"

"KALIAN YANG MAIN-MAIN! Dari sisi mana pun yang lagi bercanda itu KALIAN!"

"Tapi ya gimana ya~ Suara tiruan babinya Amacchi tadi kedengeran sampai luar kelas lho, terus dia juga sering ngelakuin hal-hal kriminal kan~"

"Ugh..."

Kalau dibilang begitu, aku nggak bisa balas. Memang sih secara teknis aku sering melakukan hal-hal yang masuk kategori tindak pidana ringan.

"Benar. Amakusa-kun itu entah kenapa terasa seperti babi, dan entah bagaimana terasa seperti orang bersalah."

"Terasa gimana... itu kan murni subjektivitasmu doang!"

"Amakusa-kun. Kalau kamu berpikir seorang individu bisa menghakimi orang lain dengan objektivitas mutlak, itu namanya egois."

"KENAPA JADI SOK FILOSOFIS GITU!"

"Sekarang pilihlah, Amakusa Kanade! Mau hidup sebagai babi di kandang babi, atau hidup sebagai manusia yang dijebloskan ke sel penjara!"

"DUA-DUANYA NGGAK MAU!"

Sumpah, aku sudah nggak kuat menghadapi dua orang ini.

"WOI!"

Tiba-tiba pintu terbuka lebar, dan Utage-sensei menerobos masuk ke kelas.

"Geh..."

Sensei langsung menyerbu ke arahku dan tanpa ba-bi-bu langsung mencengkeram kerah bajuku.

"Amakusa, kau... kudengar kau bawa babi ke kelas terus kau elus-elus terus ya?"

"Nggak mungkinlah! Sensei, sebenarnya Anda menganggap murid Anda ini apa sih?"

"Penyuka babi (Butasen)."

"Jangan dibilang kayak penyuka cowok gendut (Debusen) gitu dong!"

"Yah, itu tadi cuma bercanda sih. Tapi masalahnya, banyak laporan masuk ke ruang guru kalau ada suara menjijikkan kayak babi dari kelas satu.

"I-itu... memang aku sih."

"Kan? Amakusa-kun, seperti biasa, kalau kau bikin masalah kayak begini terus kubiarkan bebas tanpa hukuman, aku nggak bisa kasih contoh ke murid lain, kan?"

Ya, aku tahu itu cuma alasan formalitas Anda, tapi mbok ya pura-pura saja. Pura-pura disiksa sedikit terus dibawa ke ruang bimbingan konseling atau apa gitu... eh, tapi kenapa cengkeramannya makin kencang?!

"Ooh... sensasi jari yang menancap di daging ini, sudah lama aku tidak merasakannya."

Orang ini mulai menggumamkan hal-hal berbahaya!

"Gawat... darahku mulai mendidih. Kayaknya ini nggak bakal selesai kalau cuma sebentar."

Aneh, aneh, orang ini beneran aneh!

"Amakusa. Ya, begitulah."




"Bukannya gitu! Gueeeeeh!"

Tanpa sempat memprotes, entah bagaimana ceritanya, kesadaranku perlahan memudar.

◆◇◆

"Jadi?"

"Jadi, jadi matamu SOMPLAK! Harusnya ada kata-kata lain yang keluar dari mulutmu, kan!"

Di ruang bimbingan konseling. Begitu aku sadar, wali kelasku itu langsung mencoba bicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa, membuat kekesalanku meledak.

"Tenang saja, manusia nggak bakal mati cuma gara-gara begitu doang."

"Masalahnya bukan di situ, woi!"

"Aku ini profesional dalam hal piting-memiting, jadi aku tahu persis batas aman di mana orang nggak bakal tewas. Dulu aku sering dijuluki 'Utage si Pencerabut Nyawa', lho."

"Itu mah judul film yakuza!"

Bukan nama panggilan yang pantas disandang oleh guru Bahasa Jepang... Sebenarnya dia berasal dari dunia mana, sih?

"Tapi ya, kalau aku nggak bertindak begitu, keributan di kelas tadi nggak bakal reda, kan?"

"Bakalan reda, kok! Justru Anda yang bikin masalahnya makin gede!"

Terserah dia mau bernostalgia sambil kegirangan, tapi aku ini tadi mendadak dipiting sampai pingsan dan hampir kena trauma mental. Begitu aku komplain, wajah Utage-sensei tampak sedikit menyesal—tumben-tumbenan.

"Yah, mungkin aku memang agak kelewatan... Oke deh, sebagai gantinya, aku bakal kasih tahu cara yang bagus."

"Cara yang bagus?"

"Iya. Ada satu 'titik saraf yang bisa menghapus ingatan lima menit terakhir'."

Mencurigakan banget!

"Sekarang masih sekitar lima menitan sejak kejadian tadi, kan? Gimana? Kalau mau lupa soal yang tadi, mau kucoba?"

"Nggak, makasih... Ngomong-ngomong, titik sarafnya ada di sebelah mana?"

"Oh, di bagian belakang kepala. Karena aku nggak tahu titik persisnya, jadi kepalamu harus dibenturkan berkali-kali ke dinding atau lantai."

"Itu bukan titik saraf, itu mah namanya penganiayaan!"

Beneran deh, orang ini sebenarnya siapa... Tapi ya, orang yang ibaratnya menjadi perwujudan dari kata 'sombong dan angkuh' ini pun ternyata pernah mengalami masa-masa terkena kutukan. Aku tidak bisa membayangkan Utage-sensei dipermainkan oleh Pilihan Mutlak...

"Sensei, apa Anda benar-benar pernah dikutuk?"

Pertanyaan yang keluar secara spontan itu membuat tubuh Utage-sensei tampak bergetar sesaat.

"Ya... Sebenarnya, sifatku jadi agak kasar begini ya gara-gara kutukan itu. Kamu pasti paham, kan? Kalau benda sialan itu muncul di kepalamu setiap saat, sifat paling lurus pun bakal jadi bengkok. Padahal aslinya aku itu orangnya lebih pendiam, polos, lemah lembut... Ya, singkatnya, aku ini adalah definisi dari Yamato Nadeshiko (wanita ideal Jepang)."

"BOHONG BANGET!"

Suaraku keluar secara refleks.

"NGOMONG APA LO, HAH?!"

Ya habisnya... mana mungkin aku bisa percaya kalau Anda menunjukkan sikap mengancam begitu. Jujur saja, Anda itu menakutkan, tahu.

"Cih... ya sudahlah, lupakan soal itu. Terus, soal kejadian sesuatu yang jatuh dari langit kemarin, gimana kelanjutannya?"

Sensei bertanya sambil bersandar santai di kursinya. Oh, ternyata dia perhatian juga ya. Aku pun melaporkan secara mendetail tentang bagaimana Chocolat akhirnya menetap di rumahku, sampai percakapanku dengan Tuhan Alay itu.

"Ternyata misi kampret itu datang juga ya..."

Wajah Sensei tampak mendung setelah mendengar ceritaku.

"Ngomong-ngomong, misi itu sebenarnya apa sih? Karena isinya aneh banget, aku jadi nggak punya niat buat ngerjainnya."

Membuat Yukihira tertawa? Hubungannya sama Pilihan Mutlak itu nggak nyambung banget.

"Dengerin ya, itu misi serius."

"Hah?"

Atmosfer di sekitar Utage-sensei berubah.

"Tuhan sama pelayannya memang nggak jelas, dan isi misinya juga sering kali kelihatan kayak bercanda. Tapi, kalau kamu gagal sekali saja, kutukan itu nggak bakal bisa lepas selamanya... Itu fakta."

Mendengar nadanya yang begitu kaku, aku menahan napas.

"Nggak ada gunanya mikirin 'kenapa'. Begitu misinya muncul, mau nggak mau kamu harus menyelesaikannya. Dengar ya Amakusa, kerjakan seolah nyawamu jadi taruhannya."

Melihat ekspresi Sensei, jelas sekali kalau dia tidak sedang mengancam atau bercanda.

"Yah, aku bakal terus kasih dukungan kayak biasanya, sisanya tergantung perjuanganmu sendiri."

Dukungan bagian mananya yang kayak tadi... aku menggerutu dalam hati, tapi memilih diam karena kalau protes nanti urusannya makin panjang.

"Jadi, isi misi yang super penting itu apa? Coba liat ponselmu bentar."

Setelah memeriksa isinya, Sensei menatapku dengan tatapan penuh rasa iba.

"...Kasihan sekali kamu."

"Eh, bentar, kenapa reaksinya kayak 'Wah, mampus deh dia' gitu?"

Melihat reaksi Utage-sensei, rasa cemas mulai merayap naik dengan cepat. Tapi ya, membuat Yukihira tertawa dari lubuk hati paling dalam sebelum besok berakhir... Rasanya mustahil banget.

◆◇◆

"Maka dari itu—"

Selama pelajaran sore berlangsung, pandanganku terus tertuju ke tengah kelas, ke arah tempat duduk Yukihira. Yukihira sedang mendengarkan penjelasan guru sambil menopang dagu dengan tangan. Seperti biasa, ekspresinya datar, tapi harus kuakui fitur wajahnya memang sangat cantik.

Nggak, nggak, ini bukan waktunya mikirin hal santai begitu. Kalau aku nggak bisa bikin dia tertawa terbahak-bahak sampai besok, urusannya bakal gawat.

Justru karena ada contoh nyata seperti Utage-sensei yang berhasil melepas kutukan, dan karena ada harapan kalau suatu saat ini akan berakhir, aku bisa bertahan menghadapi tuntutan Pilihan Mutlak yang tidak masuk akal selama setahun ini.

Tapi kalau aku gagal menjalankan misi dan kutukan ini dipastikan nempel seumur hidup... Itu mah namanya pengumuman "Game Over" bagi hidupku.

"Kukaaa~"

Suara dengkur Ouka dari kursi belakang menarik kembali kesadaranku. Dia tertidur dengan sangat bahagia sampai air liurnya menetes ke buku catatan.

"Fufu... asyik, hamburg... ada nasi kari juga..."

Dia mimpi apaan sih? Kayak anak kecil saja. Kalau misi ini targetnya si Ouka yang instingnya selalu on begini, pasti gampang banget. Yah, percuma juga mengharapkan hal yang nggak mungkin. Aku kembali mengalihkan pandangan ke Yukihira.

Masalah utamanya adalah, aku belum pernah melihat Yukihira tertawa. Kalau lagi asyik bercanda atau nge-garing, dia memang sering meninggikan suara atau memberikan reaksi yang berlebihan, tapi begitu selesai, wajahnya langsung kembali datar tanpa ekspresi.

Tiba-tiba, Yukihira yang sepertinya merasakan pandanganku menoleh mendadak, membuat mata kami bertemu secara langsung.

"Ugh..."

Bukannya aku sedang melakukan hal yang salah, tapi ketahuan menatap orang secara intens itu tetap saja memalukan.

Yukihira seolah bisa membaca pikiranku; dia menyipitkan matanya sedikit, lalu kembali menatap ke arah papan tulis.

Dan setelah pelajaran berakhir. Yukihira berjalan lurus menuju mejaku.

"Amakusa-kun, sayangnya sesering apa pun kamu melihatku, hubungan antara aku dan kamu tidak akan berubah."

Ini... jangan-jangan dia salah paham mengira aku menyukainya karena terus-terusan menatapnya?

"E-eh, bukan begitu Yukihira, itu sama sekali buk—"

"Aku tidak bisa menjadi adikmu."

"...Hah? Kamu ngomong apa sih?"

"Sebenarnya, di episode 330 anime 'Mahou Seinen Grigua 5' yang tayang kemarin, muncul item sihir baru bernama 'Kacamata Aku Sayang Kakak'. Efeknya adalah, jika kamu memakainya lalu menatap punggung orang lain dengan tajam, siapa pun orang itu akan berubah menjadi adik perempuanmu."

Setting-an yang absurd banget. Kok bisa anime kayak gitu lanjut sampai 300 episode lebih...

"Ngomong-ngomong, ada kakek usia seratus tahun yang berubah jadi adik perempuan, lalu mulai bermesraan dengan karakter utamanya."

"EMANGNYA SIAPA YANG MAU NONTON HAL KAYAK GITU!?"

"Aku kira Amakusa-kun yang sudah mendapatkan 'Kacamata Aku Sayang Kakak' itu sedang mencoba mengubahku menjadi adikmu."

"Mana mungkin item sihir beneran ada di dunia nyata!"

"Tapi kan orang-orang bilang, kalau laki-laki sudah lewat umur tiga puluh tahun dan masih 'begitu', mereka bakal jadi penyihir."

"Bisa nggak jangan seenaknya nentuin masa depanku!"

Berlawanan dengan ucapannya yang super ngaco, wajah Yukihira tetap datar tanpa ekspresi.

Membuat orang ini tertawa terbahak-bahak... Rasanya beneran mustahil banget.


3

"Aku pulang... lho?"

Begitu sampai di rumah, sosok Chocolat tidak terlihat. Padahal si bodoh itu tadi bilang "serahkan urusan rumah padaku", tapi dia malah kelayapan keluar sendirian...

"Yah, sudahlah."

Sekarang bukan saatnya memikirkan Chocolat. Aku harus segera memikirkan cara untuk membuat Yukihira tertawa.

"......Nggak bisa."

Sambil memasak makan malam, aku terus memikirkan hal itu, tapi sama sekali tidak ada ide yang muncul. Lagipula, aku ini bukan pelawak atau apa pun, jadi menyuruhku membuat orang tertawa dari lubuk hati yang paling dalam itu dasarnya memang mustahil.

Yah, seperti kata Utage-sensei, mau tidak mau aku harus menyelesaikannya. Tapi masalahnya, ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan cuma dengan mengandalkan semangat atau tekad membara...

Tepat saat aku menghela napas pendek sambil mematikan kompor, di saat yang sangat pas, Chocolat pulang.

"Aku pulang!"

"Ooh, dari mana saja kamu... eh, tas apa itu?"

Chocolat yang melompat masuk ke ruang tamu membawa ransel yang tampak penuh sesak di punggungnya.

"Ini barang-barang untuk membuat Furano-san tertawa! Aku menghabiskan waktu seharian untuk mengumpulkannya demi Kanade-san!"

Dengan wajah riang, dia menurunkan ranselnya ke lantai.

Yah, mengingat dia yang menyiapkannya, tingkat ekspektasiku sebenarnya sangat rendah. Tapi karena sekarang aku belum punya ide sama sekali, rasanya aku ingin mencoba apa pun meski itu cuma harapan palsu. Baru saja aku hendak mengulurkan tangan ke ransel itu untuk memeriksa isinya—

"Hmm... bau enak apa ini?"

Chocolat mengendus-endus ke arah dapur.

"Ah, itu Pot-au-feu (sup daging dan sayuran) buat makan malam."

"P-pot-au-feu... Jadi di rumah ini keluar masakan yang gaul begitu ya?"

Baru kali ini aku melihat ada orang yang benar-benar mengucapkan kata "gaul" di kehidupan nyata. Lagipula, kurasa Pot-au-feu yang merupakan masakan rumahan sederhana tidak ada unsur gaul-nya sama sekali.

"Yah, kita lihat isi ranselnya dulu... Nggak deh, makan dulu saja."

"Ayo, ayo!"

Kalau sudah dikasih ekspresi wajah mirip anjing yang disuruh "tunggu" begini, mana bisa aku memeriksa barang dengan tenang.

"Hap... hoaaa... ini... gimana ya... beneran... terasa banget pot-au-feu-nya!"

"Anjing" peliharaanku ini ternyata punya kosakata yang sangat miskin. Yah, tapi kalau melihat pipinya yang mengendur saking nikmatnya, aku tahu dia sangat puas dengan rasanya.

"Nah, sekarang boleh aku lihat isi ranselnya?"

"Ah, benar juga. Fufufu, kalau begitu ayo kita langsung keluarkan senjata pamungkasnya!"

Dia menyerahkan sebuah buku yang terselip di kantong luar ransel.

"10 Cara Mendapatkan Senyuman Gadis ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi Raja Modus!~"

......Asli, buku ini baunya mencurigakan banget. Terus, tolonglah itu selera judul tambahannya dikondisikan.

"Coba kulihat."

Buku jenis begini biasanya 90% tidak berguna. Tapi biar bagaimanapun, karena Chocolat sudah susah payah membelinya, rasanya tidak sopan kalau langsung dikembalikan tanpa dilihat, jadi aku membukanya sekilas. Ilustrasinya banyak sekali, tapi bukunya lumayan tebal, sepertinya bakal melelahkan kalau dibaca sampai habis.

Daftar Isi:

Puji dia dengan kata 'Kamu cantik, ya'

 Isinya mendadak sangat to-the-point, tapi memang benar sih, tidak akan ada gadis yang merasa buruk kalau dipuji seperti itu.

Penjelasan: Jika gadis itu tidak cantik, cobalah katakan dengan nada sedikit bercanda, 'Kamu cantik banget deh (wkwk)'

Itu mah namanya menghina, woi!

Memuji dengan menggunakan metafora

Versi pengembangan dari nomor satu ya? Misalnya seperti "Senyumanmu seindah bunga matahari", atau semacam itu. Agak memalukan sih, tapi kalau disampaikan dengan benar, perempuan pasti senang.

Penjelasan: Contoh untuk gadis yang mukanya panjang (muka kuda): 'Hei Nona! Wajahmu seolah-olah sedang mengejar wortel ya!'

YANG ADA DIA BAKAL NGAMUK!

Pokoknya lakukan apa pun yang dia inginkan

 Kalau ini gimana ya... kurasa tergantung situasinya juga sih.

Penjelasan: Yah, meskipun apa yang menanti di depan sana belum tentu sebuah kebahagiaan...

KALAU GITU JANGAN DITULIS!

Pertama, cobalah kamu sendiri yang tertawa

Oh, kalau ini isinya lumayan mendalam. Memang benar, kalau diri sendiri saja tidak merasa senang, mana mungkin bisa membuat orang di sekitar tersenyum.

Penjelasan: Sebagai catatan, saat penulis mempraktikkan hal ini di depan seorang anak kecil sambil memakai mantel dan kacamata hitam di musim panas, anak itu malah menangis ketakutan.

ITU MAH NAMANYA EKSIBISIONIS CABUL!

Tangisan anak kecil itu... haah haah...

PAK POLISI, ORANGNYA DI SINI!

Kasih uang

Nggak boleh, dong! Hal kayak gini nggak boleh dilakukan! Memang sih, mungkin mereka bakal tersenyum sementara.

Penjelasan: Senyuman yang didapat dengan metode ini 100% adalah palsu.

Penulisnya sendiri nggak paham tujuan bukunya apa, ya?!

Gebuk saja bokongnya terus-menerus

Tunggu, tunggu, apa-apaan ini tiba-tiba?

Penjelasan: Istri penulis kalau diginiin bakal langsung senyum tanpa syarat.

Ini mah bukan level Masokis lagi, woi!

Tapi ya, aku sendiri lebih suka digebuk daripada menggebuk sih...

Sana gebuk-gebukan sendiri saja!

"Buku apaan sih ini..."

Aku mulai merasa mual. Aku tidak menaruh harapan sama sekali pada isi selanjutnya, tapi karena sudah terlanjur, aku memutuskan untuk membacanya sampai akhir.

Coba katakan, 'Kurasa, akan lebih baik kalau kamu tersenyum'

PLAGIAT JUDUL ANIME, KAN!

Penjelasan: Saat pacarmu yang biasanya tanpa ekspresi bertanya, 'Di saat seperti ini, aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa', cobalah balas dengan kalimat itu.

SITUASI KAYAK GITU NGGAK BAKAL ADA DI DUNIA NYATA!

Membicarakan rencana tahun depan

Itu mah peribahasa soal Iblis yang tertawa! Tadi sama yang ini, cakupan penggunaannya sempit banget!

Penjelasan: Meskipun cara ini sering dianggap hanya berlaku untuk Iblis, tapi perlu diingat bahwa setiap wanita memelihara Iblis di dalam hatinya.

"Melihara" matamu! Kenapa kamu sok-sokan pengen bilang kalimat yang terdengar puitis begitu!

Tersenyumlah...

Apa ini? Ini yang paling nggak jelas sejauh ini. Aku memiringkan kepala sambil membaca penjelasannya.

Penjelasan: Boleh saja! (T/N: Plesetan dari acara TV Jepang "Waratte Iitomo").

PENULISNYA SUDAH NGGAK NIAT KERJA YA!

Menggelitik

KAMU LAGI NGELEDEKIN GUA YAAAAA!

"CEPAT TARIK BUKU INI DARI PEREDARAN!"

Saking marahnya, aku membanting buku itu ke lantai.

"Lho, bukunya nggak membantu ya?"

"Iya, nggak berguna satu milimeter pun."

Lagipula, fakta bahwa buku ini bisa beredar sebagai produk itu sendiri adalah sebuah keajaiban. Tolonglah penerbitnya kerja yang bener.

"Masa sih?"

Chocolat mengambil buku yang terlempar di lantai dan membacanya dengan penuh minat.

"Iya kan? Nggak bermutu, kan?"

Gimana caranya isinya bisa dikembangkan sampai jadi 300 halaman lebih? Aku malah penasaran soal itu.

"Nggak kok, seru lho. Jurus rahasia '48 Teknik Menggelitik' semuanya ada ilustrasinya."

Apaan tuh... nggak mutu banget.

"Sudahlah. Aku mau mandi dulu."

Aku meninggalkan ruang tamu setelah berpamitan pada Chocolat yang entah kenapa matanya tampak berbinar-binar.

◆◇◆

"Oi, oi... kamu masih baca itu?"

Selesai mandi, aku kembali ke ruang tamu sambil mengeringkan kepala dengan handuk, dan Chocolat masih terlihat asyik membaca.

Kurasa buku itu tidak ada nilainya, tapi karena tidak ada alasan untuk melarangnya, aku duduk di sofa dan menyalakan TV.

Awalnya aku sempat berpikir ingin memeriksa isi ransel yang belum dibuka, tapi kalau senjata pamungkasnya saja buku sampah itu, kurasa cuma buang-buang waktu saja melihat yang lainnya.

Aku memindah saluran ke acara komedi, siapa tahu bisa jadi referensi.

"...Pfft."

Isinya adalah acara bincang-bincang biasa yang mengumpulkan para pelawak, tapi memang profesional itu beda, mereka lucu. Tapi, kalau aku memakai bahan yang sama dan langsung menceritakannya ke Yukihira, pasti tidak akan lucu.

Gimana ya, komedi itu bukan cuma soal materinya, tapi juga soal membangun suasana, soal timing, dan gabungan berbagai elemen kompleks. Rasanya aku tidak punya bakat di sana.

Terus gimana cara membuat Yukihira tertawa? Saat pikiranku mulai berputar-putar tanpa jawaban, tiba-tiba tangan seseorang hinggap di bahuku.

"Hm? Chocolat?"

"Kanade-san, aku sudah menguasai '48 Teknik Menggelitik'. Aku benar-benar tidak sabar ingin mencobanya langsung."

Dengan senyum penuh percaya diri, Chocolat melompat ke atas sofa.

"Lagi pula, ini adalah kesempatan bagus untuk melakukan skinship."

"Skinship?"

"Benar. Meskipun aku sangat ingin membantu, tapi Kanade-san selalu bersikap dingin. Aku sadar itu karena hubungan kita cuma sebatas permukaan saja. Untuk bisa lebih akrab, kita butuh sentuhan kulit ke kulit!"

Kenapa kamu bisa sampai ke kesimpulan nggak jelas begitu? Alasan aku bersikap dingin itu murni karena meladeni kamu itu melelahkan, tahu—eh?

Mendadak tubuhku dibalikkan dengan paksa, dan kedua tangannya menyelinap masuk ke bawah ketiakku untuk menahanku.

"W-woi, apa-apaan kamu, lepaskan... gila, kuat banget!"

Daiko-san dan Utage-sensei memang punya kekuatan super, tapi ini levelnya beda jauh. Padahal badannya terasa empuk, tapi cengkeramannya terasa sangat kokoh seolah dikunci oleh catok besi.

Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya... Masalahnya adalah, dadanya... dadanya nempel di punggungku!




"Fufu, percuma saja melawan."

Ditambah lagi, aroma apa ini... Wangi, benar-benar wangi dan manis. Aroma yang tak bisa dilukiskan ini membuatku merasa seolah otakku mulai meleleh... Logikaku... gawat...

"Oh, ekspresimu mulai mengendur dengan cara yang bagus ya, Kanade-san."

Tunggu, tunggu, tunggu! Tenang, diriku! Dia ini memang penampilannya gadis cantik, tapi dia itu makhluk asing yang tidak jelas asal-usulnya, bukan manusia, dia itu cuma seperti seekor anjing yang mendekat sambil mengibas-ngibaskan ekor... Benar, anjing! Dia anjing!

Dia cuma seekor anjing.

Masa aku nafsu sama peliharaan sendiri, sih. Sebagai pemilik, aku harus mendidiknya dengan benar.

"Oi Chocolat, lepaskan, ini perin—ahfuu!"

Gara-gara aku menggeliat, tangan Chocolat yang menyelinap dari bawah ketiak menyentuh puting susuku, membuat suara aneh keluar dari mulutku.

"Fufu, kalau begitu kita mulai. Pertama, 'Waki-ga Kuzushi'!"

"Eh, bentar ma—BUHAHAHA!"

Ketiakku digelitik habis-habisan.

"Bagus sekali, lanjut ke 'Midare Ura-Botan'!"

"Ch-Chocolat, kubilang berhenti... GYAHAHAHAHAHA!"

Aku menggeliat kegelian di atas sofa.

"Yang ini agak luar biasa lho, 'Kiku-za Ichimonji'!"

"Woi, bentar, di situ jangan HYAHAHAHAHAHA!"

"Fufu, skinship yang sesungguhnya baru dimulai dari sini."

"Ihi... ihi... cukup de—IHYA HYA HYA HYA HYA HYA HYA!"

◆◇◆

"Ahahaha... aha... ahahahaha."

Sepuluh menit kemudian. Aku yang terkapar di lantai diliputi oleh perasaan euforia yang luar biasa.

Aku tertawa. Entah kapan terakhir kali aku tertawa sebanyak ini.

"Ahahaha... Chocolat... tertawa itu, hal yang luar biasa ya..."

"K-Kanade-san jadi terlihat lebih berbahaya dari biasanya."

Sial, seluruh tenagaku terkuras habis, aku bahkan tidak punya sisa kekuatan untuk membalas ucapannya.

Lagipula, aku mengantuk. Benar-benar mengantuk... Apa aku tidur saja ya... Nggak, nggak boleh, aku belum memikirkan cara membuat Yukihira tertawa... Benar, aku tinggal melakukan ini saja ke Yukihira...

Misiku selesai, Yukihira juga jadi merasa senang, bukankah itu sekali dayung dua pulau terlampau?

Ah, tapi kalau aku yang melakukannya bakal jadi pelecehan seksual, ya... Kalau minta tolong Chocolat yang melakukannya, misinya tidak akan terhitung selesai, kan...

Ahh, tapi tetap saja aku mengantuk... ngantuk banget...


ï¼”

"A... Aduh!"

Baru pertama kali aku terbangun dengan keadaan sakit begini.

"Di sini... ruang tamu?"

Kenapa aku tidur di tempat begini? Tadi malam... oh iya, si Chocolat mulai melakukan hal-hal nggak jelas seperti '48 Teknik Menggelitik' itu.

Terus aku merasa keenakan dan tertidur... tidak, aku ingat sampai situ, tapi kenapa badanku sakit semua begini?

"Ugh..."

Sambil menyemangati otot-otot di seluruh tubuhku yang terasa kaku, aku melangkah menuju meja dan mengulurkan tangan ke buku "10 Cara Mendapatkan Senyuman Gadis ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi Raja Modus!~" yang tergeletak di sana.

Penyebabnya pasti cuma ini. Aku membalik halaman sampai ke bagian '48 Teknik Menggelitik'. Di bagian paling akhir, ada catatan kaki dengan tulisan merah.

※Perhatian! Jika kamu menguasai 48 teknik ini, kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa, namun sebanyak apa pun kenikmatan yang kamu rasakan, efek sampingnya juga akan menyerangmu.

Apa-apaan itu... ngawur banget. Dan di sampingnya, ada kutipan dari karakter moe yang sedang berkedip.

Di dunia ini, nggak ada hal yang terlalu indah untuk jadi kenyataan, lho!

"Lho matamu!"

Aku emosi, emosi banget! Nanti akan kutelepon dan kuberikan komplain. Penerbit mana sih yang mengeluarkan buku ini? Saat kulihat punggung bukunya, di sana tertulis: 'Penerbit UOG'.

"ELU LAGI!"

Refleks, aku membanting buku itu ke dinding.

"Terus sekarang jam berapa... gawat."

Begitu melihat jam di dinding, ternyata sudah waktunya aku berangkat sekolah seperti biasanya. Sial, padahal aku nggak pernah bangun kesiangan sebelumnya... Terpaksa, hari ini aku nggak sarapan.

Aku nggak punya waktu buat bangunin Chocolat. Lagian dia pasti cuma lagi tidur nyenyak dengan santainya, jadi ditinggal pun nggak masalah. Sambil mencambuk badanku yang menjerit kesakitan, aku berusaha keras mengganti pakaian.

Kemarin teknik yang Chocolat pakai ke aku paling cuma sekitar belasan (seingatku). Kalau segitu saja sudah sesakit ini, gimana jadinya kalau kena full course... Sambil gemetaran membayangkan hal itu, aku keluar ke lorong.

Untungnya rasa sakitnya mulai mereda, mungkin karena efeknya tidak permanen.

"...Oh iya, ada barang ini ya."

Ransel yang waktu itu ada di depan pintu masuk. Sebuah memo dengan tulisan tangan bulat yang mencolok tertempel di sana.

Dengan ini, Furano-san juga bakal, DUAARR, lho, DUAARR! Dari Chocolat

Gimana ya bilangnya, kalimatnya kelihatan bego banget.

Awalnya aku berniat memeriksa isinya, tapi tas itu tampak sangat penuh seolah-olah akan meledak saat dibuka.

Yah, lumayanlah daripada nggak ada apa-apa sama sekali. Sambil merasakan beban berat di pundakku, aku membuka pintu depan.

"Ternyata... nggak bisa ya."

Selama perjalanan ke sekolah, aku terus memikirkan ide komedi yang lucu, tapi sampai tiba di kelas pun aku tidak menemukan apa-apa. Begitu membuka pintu dan melihat seisi ruangan, mataku tertuju pada Yukihira yang berdiri tegak di dekat jendela.

Sambil memikirkan apa yang harus kulakukan, aku mendekatinya, dan tiba-tiba saja dia berbalik tanpa peringatan.

"Ara, Amakusa-kun, Oha-Yoghurt!"

...Salam yang benar-benar bikin bingung bagaimana harus menanggapinya.

Ini aku harus gimana? Protes, atau biarkan saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa?

Biasanya sih aku bakal pilih salah satu dari itu, tapi hari ini aku harus membuat Yukihira tertawa terbahak-bahak. Kalau aku nggak punya semangat buat membalas lawakannya, bakal gawat.

"Oi, oi, bukannya itu sudah MOO-da lama... MOO."

Aku mencoba memadukan kata yoghurt sebagai produk susu dengan suara sapi.

Yukihira menunjukkan ekspresi terkejut sesaat, lalu kembali ke wajah datarnya dan menatap mataku tajam.

"Kurasa itu garing banget."

...Ditolak mentah-mentah.

"Amakusa-kun memadukan yoghurt sebagai produk susu dengan suara sapi, kan?"

"Bisa nggak jangan dijelasin pakai nada datar begitu!"

"Apalagi, mungkin karena merasa kurang jelas, kamu mengulanginya sekali lagi di akhir. Benar-benar usaha yang sangat mengenaskan."

"Kejam banget sih lu!"

"Terlebih lagi, kamu terlihat agak malu dan sempat ragu sebelum mengucapkannya yang kedua kali. Padahal rasa malu dari seorang cowok SMA itu sama sekali nggak ada peminatnya di seluruh dunia."

"Anu... bisakah Anda cukup sampai di sini saja?"

"Baiklah, kita cukupkan saja sampai di sini. Ngomong-ngomong, selera humor menghubungkan sapi dengan 'moo'... (wkwk) aku nggak tahu harus bilang apa lagi."

"Punya lu juga nggak jauh beda, woi!"

"Ara, tidak sopan ya. Salamku ini sudah diakui sebagai salam resmi oleh majalah KoroK*ro Comic, jadi sudah tercantum di kamus juga, lho."

"Gimana kalau ada anak kecil yang percaya?!"

Yukihira sudah berada di performa puncaknya sejak pagi buta.

"Yukihira."

Begitu jam pelajaran pertama selesai, aku langsung menuju meja Yukihira. Batas waktuku cuma hari ini. Aku nggak punya waktu buat ragu hanya karena gagal di awal.

"Ara, ada apa Amakusa-kun?"

"Anu, ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan."

Tiba-tiba wajah Yukihira memerah dan dia mulai bertingkah gelisah.

"Eh... jangan dong. Anu, hal seperti itu... masih siang begini."

"SAMA SEKALI BUKAN HAL KAYAK GITU YANG LU BAYANGIN!"

"Ara, sayang sekali ya."

Dalam sekejap ekspresi Yukihira kembali menjadi tenang.

"Jadi, apa yang ingin kamu tunjukkan?"

"Itu... sebuah one-liner (lawakan pendek)."

Yukihira menunjukkan wajah curiga. Ya wajarlah, aku sendiri yang ngomong saja nggak tahu kenapa aku melakukan hal ini.

"Begini, aku kan biasanya cuma bagian protes (tsukkomi) terus, kan? Karena itu ngebosenin, aku pikir sekali-kali pengen nyoba jadi yang ngelawak (boke)."

Aku mencoba mengarang alasan yang terdengar masuk akal.

"Begitu ya, dan hasilnya adalah bencana besar pagi tadi."

"Bisakah Anda berhenti menaburkan garam di atas luka?"

"Baiklah. Kalau begitu, mari kita saksikan one-liner yang katanya paling lucu sepanjang sejarah itu."

...Nih orang kenapa malah ninggiin ekspektasi seenaknya, sih.

"Silakan, Amakusa Kanade-san dengan judul: 'Patung Nio yang Baru Lahir'."

"MANA BISA KAYAK GITU!"

Sial, nggak bisa. Aku harus melakukannya dengan caraku sendiri.

"A-aku mulai ya... 'Anjing Laut yang Tiba-tiba Sadar Geografi di Tengah Gonggongan'."

"Prok prok prok."

Tanpa ekspresi, Yukihira mengeluarkan suara tepuk tangan dari mulutnya... Rasanya kayak lagi diremehkan, tapi aku harus melakukannya. Ini adalah materi andalanku yang kupikirkan matang-matang sepanjang jam pelajaran pertama. Aku merangkak di lantai dan membusungkan tubuh bagian atasku.

"OW OW OW! OW OW... OW! OWUU, ouu, PEGUNUNGAN OU*!"

(T/N: Nama pegunungan di Jepang, bunyinya mirip dengan suara gonggongan anjing laut "Ou").

"…………"

Hening yang sangat mencekam menyelimuti ruangan.

Beberapa detik kemudian, Yukihira berbicara dengan nada yang lebih robotik dari biasanya.

"Amakusa-kun, kurasa lebih baik kamu diam saja dan jadi bagian protes seperti biasa."

Ya... aku sendiri juga mikir gitu.

"Tapi Yukihira, kalau kamu kasih pendapat jujur, itu bakal jadi referensi buatku nanti."

"Garing banget, mending kamu mati saja."

"Sampai segitunya?!"

...Misi, gagal total.

Selesai jam pelajaran kedua.

"Yukihira, coba lihat ini."

Aku kembali ke meja Yukihira tanpa rasa jera.

"Mentalmu tangguh juga ya."

Yukihira menatapku dengan sedikit kagum. Ya iyalah, kalau aku nggak berhasil nyelesaiin ini, aku bakal terikat sama Pilihan Mutlak seumur hidup.

"Jadi, lawakan pegunungan macam apa lagi yang mau kamu tunjukkan sekarang?"

"Nggak lah, setelah garing kayak tadi, aku nggak bakal nyoba yang mirip-mirip lagi."

"Ada apa? Aku nggak percaya Amakusa-kun bisa mikirin hal lain selain pegunungan."

"Woi, kenapa aku malah dianggap punya fetish pegunungan?!"

"Tapi kan kemarin Amakusa-kun bilang, 'Haa... haa... gawat Yukihira. Aku nggak puas cuma sama gunung biasa. Aku cuma bisa horny kalau lihat pegunungan!'"

"Mesum macam apa itu!"

Ujung-ujungnya kembali ke ritme biasanya. Memang sih, bagian protes lebih cocok buatku, tapi hal-hal nggak biasa ini cuma kulakukan sampai hari ini saja.

Bakal kubikin dia ketawa secepatnya, terus tamat!

"Sebenarnya, aku mau nyoba 'Patung Nio yang Baru Lahir'."

"...Amakusa-kun, ada perbedaan antara keberanian dan kenekatan."

"Hei, yang ngusulin ide ini kan Anda sendiri!"

"Yah, kalau kamu memang berniat bunuh diri secara sukarela, aku nggak punya hak buat melarangnya."

Sial... tapi selama 50 menit ini, aku sudah memikirkan ini matang-matang dan yakin ini bakal berhasil. Percayalah pada dirimu sendiri!

"ZUGOGOGOGOGOGO, ZUGOGOGOGO. Ossu, saya Patung Nio. Baru saja lahir ke dunia. ZUGOGOGOGO, ZUGOGOGOGOGO."

"…………"

Hening mencekam kembali menyelimuti ruangan.

...Wahai diriku, kenapa tadi aku kepikiran kalau ini bakal berhasil?

"Amakusa-kun, kurasa Patung Nio memang terlihat lebih keren kalau diam saja."

Kupikir dia bakal menghinaku habis-habisan, tapi komentar Yukihira ternyata cukup halus.

"Dan kurasa Amakusa-kun juga lebih baik diam saja, selamanya."

"A... iya... maaf ya."

...Misi, gagal total.

Selesai jam olahraga ketiga.

"Haa... haa... Yukihira... haa... lihatlah... punyaku."

Napas aku terengah-engah setelah lari kencang kembali ke kelas.

"Amakusa-kun, kalimat rumpangmu itu terdengar sangat mesum, lho."

"Itu... kebetulan sekali... karena yang mau kulakukan sekarang... motifnya memang mesum."

"Begitu ya, jadi kamu mau menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Mungkin itu bakal lebih lucu daripada lawakan garingmu."

Aku menahan diri buat nggak protes dan mengatur napas. Sekarang fokus ke materinya.

"Ini dia, 'Telepon dari Si Mesum'."

Pasti lucu... ini pasti berhasil!

"K-Kakak, sekarang lagi pakai celana dalam warna apa? Eh? Malu? Nggak apa-apa kali, nggak bakal luntur ini. Eh? Sebelum nanya ke orang lain, mending kasih tahu punya sendiri dulu? Gufufu... tentu saja aku nggak pakai celana dalam! Soalnya aku kan mesum!"

"…………"

Untuk ketiga kalinya, hening mencekam menyelimuti ruangan.

"Amakusa-kun, sebelum bicara soal lucu atau nggak lucu... ini menjijikkan."

"...Maafkan aku."

"Dan tentu saja, garing."

"...Maafkan aku."

"Lagian, punchline-nya mana?"

"...Maafkan aku."

"Singkatnya?"

"...Maafkan aku."

...Misi, gagal total.

Setelah itu, di jam keempat, istirahat siang, jam kelima, sampai jam keenam, aku terus-terusan gagal total. Sampai akhirnya jam pelajaran terakhir selesai tanpa hasil sedikit pun.

Gawat, gawat banget! Aku menahan rasa panik dan menghentikan Yukihira yang sedang bersiap pulang.

"Yukihira, tunggu sebentar."

"Amakusa-kun, maaf ya tapi setelah ini aku ada urusan, jadi aku pergi dulu."

"Eh?"

Belum sempat aku bicara, Yukihira sudah mengambil tasnya dan berjalan pergi dengan cepat.

"Woi, oi tunggu sebentar..."

Berniat menghentikannya, tiba-tiba gerakanku terhenti. Apa kalau aku pakai lawakan yang terpikir sekarang Yukihira bakal tertawa? Jawabannya TIDAK.

Tapi apa yang harus kulakukan... Di tengah keputusasaan, mataku tertuju pada ransel yang tergantung di samping meja. Benar, aku benar-benar lupa kalau masih punya barang ini.

Aku menyampirkan ransel itu di pundak dan mengejar Yukihira keluar kelas.

Bukannya menuju tangga loket sepatu yang ada di sebelah kanan kelas, Yukihira malah berjalan ke arah berlawanan di lorong. Ada urusan di sekolah?

Aku membuntutinya di sela-sela murid lain yang berpapasan denganku.

Yukihira berhenti di antara ruang kelas 7 dan 8. Lalu, dia mulai melihat sekeliling dengan gelisah. Aku bersembunyi di balik dinding agar tidak ketahuan.

Mungkin karena saat ini semua orang fokus untuk pulang atau pergi ke klub, tidak ada yang memperhatikan Yukihira selain aku.

Yukihira menaiki tangga dengan langkah cepat. Aku mengikutinya setelah memberi jarak sedikit.

Meskipun lantainya berbeda, tata letaknya sama, jadi di atas sana adalah antara kelas 3-7 dan 3-8. Aku melihat lorong yang memanjang ke kiri dan kanan, tapi tidak ada sosok Yukihira.

Apa dia masuk ke salah satu kelas?

Tapi Yukihira kan nggak ikut klub, dan apa dia punya kenalan anak kelas tiga?

"Satu lagi tempat yang mungkin..."

Aku menengadah. Di sana ada tangga menuju atap. Tapi atap sekolah kan dilarang dimasuki karena alasan keamanan, dan di depan tangga ini juga dipasang pembatas kerucut merah dan palang hitam-kuning.

"Hm, apa ini?"

Di tengah debu yang menumpuk di tangga itu, terlihat bekas sepatu seseorang dengan jelas. Bukan cuma satu, tapi banyak.

Tapi rasanya nggak mungkin ada banyak orang yang mau repot-repot masuk ke tempat seperti ini.

Artinya, ada satu orang yang kemungkinan besar sudah menggunakan tangga ini berkali-kali.

Dan melihat situasinya, orang itu pasti Yukihira. Aku melompati pembatas dan menaiki tangga.

Pintu besi menuju atap terlihat cukup tua. Di sana tertempel kertas besar bertuliskan 'Dilarang Masuk'.

Aku mencoba memutar gagang pintunya. Cklek, pintunya terkunci. Apa Yukihira menguncinya dari dalam?

"Nuuooooh!"

Aku mencoba memutarnya dengan paksa, tapi pintunya tidak bergeming sedikit pun.

Sial... apa aku harus menunggu Yukihira keluar? Nggak, aku nggak punya waktu buat santai-santai—


Pilih:

"Fuhahahaha! Wahai pintu dunia iblis yang tabu dan kokoh! Tunduklah padaku dan lepaskan segelmu!"

"Ooo tayang-tayang Pintu-chan, karena kamu anak baik, bisa nggak ya biarkan kakak lewat~"


Apa-apaan ini... aku disuruh ngomong begitu? Kalimat memalukan kayak gini?

Yah, meskipun aku nggak punya pilihan lain sih.

Untuk jaga-jaga, aku memastikan keadaan di bawah. Tidak ada tanda-tanda orang... baiklah.

"Fuhahahaha! Wahai pintu dunia iblis yang tabu dan kokoh! Tunduklah padaku dan lepaskan segelmu!"

Setelah suaraku bergema, keheningan kembali menyelimuti tempat itu.

"Berat juga ya... ini."

Justru karena nggak ada yang dengar, rasanya malah makin memalukan. Sambil memerah, aku memegang gagang pintu.

Cklek.

"TETEP NGGAK KEBUKA, WOI!"

Benda ini beneran ngerjain aku. Lihat saja ya Pilihan Mutlak sialan, kamu bakal kuhancurkan suatu saat nanti!

Langkah pertamanya, aku harus menembus tempat ini. Mau nggak mau harus pakai kekerasan—

"Lho?"

Saat aku memegang gagang pintu lagi, tiba-tiba gagangnya copot. Apa ini hasil dari pilihan tadi, atau cuma karena sudah tua saja?

Yah, apa pun alasannya, jalan sudah terbuka. Aku membuka pintu dan masuk ke atap.

"Ooooh."

Tanpa sadar aku berdecak kagum.

Pemandangannya luar biasa. Bukan cuma lapangan sekolah yang luas, tapi karena letaknya di dataran tinggi, seluruh kota bisa terlihat jelas. Rasanya seperti berada di dek observasi.

"Bentar, sekarang bukan waktunya buat kagum, Yukihira di mana?"

Atap ini cukup luas sebanding dengan ukuran gedung sekolah, tapi karena tidak ada penghalang apa pun, aku segera menemukan Yukihira.

Tapi penampilannya agak aneh. Dia bersujud di lantai dengan lemas. Singkatnya, dia sedang merangkak. Benar-benar posisi orz yang sempurna.

"Oi, Yukihira."

Aku memanggilnya dari jauh, tapi dia sepertinya tidak sadar.

"Yukihiraaa!"

Aku mendekat dan memanggilnya lebih keras, tetap tidak ada reaksi.

"Kenapa... kenapa aku begini ya..."

Meskipun aku sudah berada tepat di sampingnya, dia tidak sadar dan terus bergumam sendirian.

"Kejadian kemarin lusa itu nggak dimaafkan... kenapa aku melakukan hal sejahat itu ke pembawa acaranya... meskipun dia ngejek dadaku kecil sih... tapi waktu itu aku gugup banget karena banyak yang dengar sampai pikiranku kosong... uuh, maafkan aku, maafkan aku, ternyata aku memang nggak cocok siaran sekolah..."

Perasaan janggal yang sangat kuat.

"Kenapa... kenapa aku selalu begini... apalagi ke Amakusa-kun, aku selalu ngomong yang nggak-nggak... ah, aku pasti dianggap cewek aneh... Apa sesi introspeksi diri sendirian ini harus dilakukan lebih sering daripada seminggu sekali ya?"

Ini... beneran Yukihira?

"Tapi kan Amakusa-kun juga salah. Biasanya kelihatan normal, tapi tiba-tiba minta pegang dada atau ngomong mesum, terus tiba-tiba telanjang. Hari ini juga dia makin aneh dari biasanya... Padahal aku pengen ngobrol lebih normal... lagian kenapa sih aku jadi mikirin Amakusa-kun terus..."

"Oi, Yukihira."

Aku mencoba mencolek pundaknya.

"Tuh kan, sekarang sampai ada halusinasi suara Amakusa-kun..."

"Nggak, aku emang di sini."

"Haha... aku beneran sudah kacau hari ini."

"Dibilangin aku ada di sini, woi."

Aku melambaikan tangan di depan wajah Yukihira yang masih menghadap ke bawah.

"...Eh?"

Akhirnya Yukihira mendongak.

"Yo."

Mata kami bertemu.

"…………"

"Anu, Yukihi—"

"KYAAAAAAAAAAAAAA!"

Yukihira mengeluarkan teriakan seolah kiamat sudah tiba, lalu sambil tetap terduduk, dia mundur dengan kecepatan luar biasa!

"O-oi..."

"K-k-k-kenapa A-Ama... Amakusa-kun ada di sini?!"

"Anu, aku ada urusan sama kamu, makanya aku ikutin... Apa aku ganggu?"

"G-g-g-ganggu atau nggak itu bukan masalahnya, j-jangan-jangan... kamu lihat?"

"Lihat apa... yang kamu merangkak sambil gumam nggak jelas tadi?"

Pufff, dengan suara misterius, wajah Yukihira langsung memerah padam seperti gurita rebus, dan sesaat kemudian, dia pingsan terjatuh.

"Woi, kamu nggak apa-apa, Yukihira?!"

Aku segera menghampirinya dan mengguncang tubuhnya.

"U... un..."

Syukurlah, dia nggak benar-benar hilang kesadaran. Meskipun merasa bersalah, aku mengangkat tubuhnya dan menepuk pipinya pelan agar dia sadar.

Setelah beberapa kali, mata Yukihira perlahan terbuka.

"Oh, syukurlah. Kamu nggak apa-apa, Yukihira?"

"Eh... eh? Eh? Amakusa-kun? Aku? Eh? Eh?..................!!"

Sepertinya Yukihira baru sadar kalau dia sedang dipeluk olehku, dan tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat.

"U... u..."




"Ugh? Kenapa? Apa yang mau kau katak—Hah?"

"Uwaaaaaaaaah!"

Sebuah hantaman keras mendarat tepat di daguku, membuat kesadaranku terpental jauh ke alam baka.

◆◇◆

"……Ngh?"

Kesadaranku perlahan mulai pulih.

"Ara, akhirnya kamu bangun juga?"

Sosok Yukihira yang sedang bersedekap sambil menatap rendah ke arahku mulai terlihat.

"Yukihira...... Eh, kenapa aku bisa ada di tempat begini?"

Ah, benar juga. Karena aku harus membuat Yukihira tertawa, aku mengejarnya sampai ke atap dan......

"Lho, terus setelah itu apa yang terjadi?"

Rasanya aku melihat sesuatu yang sangat mengejutkan, tapi kepalaku terasa seperti dipenuhi kabut, memoriku tidak mau tersambung dengan benar.

"Sebenarnya apa yang—Aduh! Apa-apaan ini, sakit banget! Aduh!"

Tanpa sadar tanganku meraba bagian belakang kepala. Di sana, sudah muncul benjolan raksasa yang besarnya tidak masuk akal.

"Ah, itu hasil perbuatanku yang terus-menerus membenturkan bagian belakang kepalamu ke beton."

"KAMU LAGI NGAPAIN SIH, WOI?!"

"Maaf ya. Tadi aku mencoba 'Titik Saraf Penghilang Ingatan Lima Menit Terakhir' yang pernah diajarkan Douraku-sensei padaku."

"Suruh guru itu berhenti ngajar sekarang juga!"

Kalau diingat-ingat, dia memang pernah bilang begitu kemarin, tapi barang sampah begitu ternyata diajarkan ke murid lain juga ya...... Lagian, ini bukan soal titik saraf atau apa, kamu cuma membunuh sel otakku dengan tenaga kasar, tahu!

"Amakusa-kun, sebenarnya di atap ini sudah ada orang sebelum kita. Kamu pasti pernah dengar rumornya, kan? Yamato-kun dan Zara-kun dari kelas lima. Mereka berdua tadi sedang asyik melakukan 'perbuatan tidak senonoh' di sini."

"SERIUS?!"

Bahkan aku yang tidak terlalu peduli dengan gosip pun pernah mendengarnya. Katanya di kelas 2-5, ada dua cowok yang hubungannya kelewat akrab. Karena mereka berdua tampan, kabarnya beberapa siswi sering heboh membicarakan mereka, tapi siapa sangka kalau itu benar-benar nyata......

"Iya, dan setelah melihatnya, kamu saking syoknya sampai pingsan sambil mengeluarkan busa dari mulut. Karena kupikir ini bisa jadi trauma seumur hidup bagimu, aku meminta mereka pindah tempat lalu memutuskan untuk melakukan pengobatan ekstrem."

"Begitu ya...... Berarti aku terselamatkan...... kan?"

Yah, memori seperti itu memang pasti ingin kuhapus dari otakku, sih. Tapi sebagai gantinya, apa benjolan ini sepadan?

"......Syukurlah, sepertinya berhasil."

"Hah? Kamu bilang sesuatu?"

"......Bukan apa-apa. Maaf ya, sepertinya aku melakukannya sedikit berlebihan."

Untuk sesaat, aku merasa ekspresi Yukihira tampak diliputi kesedihan yang belum pernah kulihat sebelumnya, tapi dia segera kembali ke sikap biasanya.

"Jadi, ada urusan apa kamu mengejarku sampai ke tempat begini? Jangan-jangan, kamu mau melanjutkan yang tadi siang?"

Benar juga. Persetan soal ingatan itu, urusan ini lebih penting. Waktu yang tersisa sudah sangat mepet.

"Iya, begitulah."

"Lagian, kenapa harus aku? Kalau cuma mau melawak, kurasa orang lain juga bisa."

Kalau aku jujur bilang mau membuat dia tertawa terbahak-bahak di sini, dia pasti malah bakal waspada.

"Nggak, maksudku, kan aku hampir tiap hari membalas lawakanmu, tapi kupikir kamu itu hebat ya. Bisa-bisanya kepikiran ide begitu. Makanya, aku mau kamu menilai lawakanku."

"He~, hee...... Ternyata kamu punya selera juga ya. Kalau kamu sampai sebegitu mengagumiku, aku tidak keberatan membantumu."

Apa jangan-jangan, Yukihira ini lemah terhadap pujian? Ekspresi malunya itu benar-benar terlihat seperti gadis biasa.

"—Begitulah yang akan kukatakan kalau kamu pikir aku bakal tertipu!"

"SEBENARNYA MAUMU APA SIH?!"

Dalam sekejap, dia kembali ke wajah datarnya. Susah dipahami...... cewek ini benar-benar susah dipahami.

"Nah, karena basa-basi singkatnya sudah selesai, ayo kita mulai sesi pamer materinya."

Materi ya...... Yah, aku sendiri sudah sadar akan batas kemampuanku. Aku memungut ransel yang tergeletak di lantai beton, lalu membuka ritsletingnya.

"Owah!"

Ransel yang terlalu penuh itu meledak dan menumpahkan isinya tepat saat ritsletingnya baru terbuka setengah. Yah, habisnya tadi memang sesak banget, sih...... Aku akan memilih barang yang sekiranya bisa dipakai dari tumpukan ini.

Pertama, aku melirik benda yang meluncur ke dekat kakiku. Apa ini...... komik? Pas aku ambil, ternyata ini seri komik komedi yang baru-baru ini dapat adaptasi anime.

Nggak, ini memang lucu sih, aku juga membacanya, tapi menyuruh Yukihira membacanya sekarang lalu tertawa itu rasanya agak mustahil.

"Ah, kalau yang itu, aku punya koleksi lengkapnya."

Gagal total dua kali lipat. Sulit tertawa terbahak-bahak kalau sudah tahu isinya.

"Ngomong-ngomong, bagian mana yang menurutmu paling lucu, Yukihira?"

Kalau barangnya sendiri sulit dipakai, setidaknya aku ingin mencari tahu selera humornya.

"Bagian saat ayah sang pahlawan wanita terkena tebasan pedang demi melindungi anaknya."

"ITU KAN SATU-SATUNYA EPISODE YANG BIKIN NANGIS!"

"Habisnya wajah pahlawan wanitanya yang berantakan karena air mata itu konyol sekali."

"KAMU IBLIS YA?!"

"Bercanda kok, aslinya aku menangis sesenggukan."

"......Kok kedengarannya bohong ya."

"Beneran tahu, air mataku sampai membanjiri kamar dan aku hampir tenggelam."

"Anak SD zaman sekarang pun nggak bakal pakai kebohongan kayak gitu!"

Sial...... Seperti biasa, aku malah masuk ke ritme Yukihira. Lanjut, yang berikutnya. Aku mengalihkan pandangan.

"Ini......"

Kantong tertawa? Benda yang kalau dipencet bakal mengeluarkan suara tawa terus-menerus itu, kan?

Yah, ada istilah 'tawa menular', jadi mungkin layak dicoba. Aku mengambilnya lalu memencetnya di depan mata Yukihira.

Ahyahyahyahyahyaya!

Yap, suara tawa khas kantong tertawa. Oke, kalau mau memicu tawa menular, harus diulang berkali-kali.

Uwahha! Uwahha! Uwahha!

Suara tawanya berubah drastis dari yang tadi. Sepertinya ada beberapa variasi suara.

Fu, hahahahahaha geho...... geho! Gehon!

"Woi, kalau salah rekaman mbok ya diulang!"

GEGYARA! GEGYARARA! GEGYARARARA!

"Ini mah suaranya sudah bukan manusia lagi!"

Fufu...... Cuma segitu saja kemampuanmu, Nak?

"BUKAN GITU DONG! Memang ketawa sih, tapi kantong tertawa tuh harusnya nggak begini!"

Pu...... kukuku, Kondo-san itu...... masa, Kondo-san memelihara......

"KONDO-SAN ITU SIAPA?! Ini mah lawakan orang dalam doang!"

Wkwk.

"DIAM!"

Aku...... terkadang tiba-tiba bertanya-tanya...... apa tidak apa-apa kalau aku cuma tertawa terus begini......

"Nggak apa-apa! Kamu itu kantong tertawa, jadi begitu saja sudah benar!"

Aku...... sudah tidak bisa tertawa lagi......

"SEMANGAT DONG, WOI!"

Kantong tertawa yang tidak bisa tertawa, hanyalah sebuah kantong biasa.

"EMANG BENER SIH!"

Sudah, cukup. Aku membanting kantong tak berguna itu ke tanah. Aku melirik ke arah Yukihira, tapi dia masih memasang wajah tenang tanpa ada tanda-tanda bakal tertawa sedikit pun.

"Kalau boleh jujur, wajahmu saat sedang membalas lawakan tadi malah lebih lucu."

Ternyata cara dia menikmati sesuatu cukup unik ya.

"Be-Berikutnya, lanjut!"

Namun, barang-barang yang disiapkan Chocolat benar-benar jauh lebih tidak berguna dari dugaanku.

Kumpulan Lelucon Rahasia Suku Regero di Pelosok Hutan Belantara ~Mogorogururiregerorappa~

"SUBJUDULNYA KAN BELUM DITERJEMAHIN!"

Mana terbitan UOG Press lagi...... Cepat bangkrut saja sana.

Rakugo: Dua Puluh Master Era Showa

"Malah Kaset Pita!"

Gimana caranya coba menikmati ini di atap sekolah?

Aku Masih Bisa Tertawa! ~Bertanya pada Sepuluh Orang yang Kehilangan Senyumnya, Metode Keluar dari Keterpurukan~

"Ini mah buku berat! Pasti nggak ada unsur lucunya sama sekali!"

Lalu aku melihat potongan kertas yang terlipat. Saat kupungut, ada tulisan tangan Chocolat di sana.

Untuk Kanade-san, aku sudah memikirkan sesuatu yang hebat. Aku berikan jurus 'Patung Ninomiya Kinjiro yang Jadi Preman dan Berambut Riezent'.

"NGGAK BUTUH BANGET!"

Aku meremas kertas itu dan membantingnya sekuat tenaga ke tanah.

"L-Lanjut......"

Payah...... Semangatku sudah terkuras habis. Kalau aku saja begini, wajar kalau Yukihira mulai kehilangan minat. Meski ekspresinya datar, dia terlihat agak bosan sambil mengecek jam tangannya.

"Ara, ternyata sudah lewat banyak waktu ya. Amakusa-kun, setelah ini aku ada latihan berkuda, jadi aku permisi dulu."

Kh, gawat. Alasannya pasti bohong, tapi hati Yukihira sudah ingin pulang. Hubungan kami juga bukan yang bisa pulang bareng, kalau dia sudah keluar sekolah, bakal aneh kalau aku mengejarnya hanya untuk membuatnya tertawa.

Lagipula dalam situasi begitu, mustahil bisa memicu tawa yang tulus dari lubuk hati. Artinya, saat ini adalah batas waktu yang sebenarnya.

Tapi, harus bagaimana? Berjuang sendiri sepertinya mustahil, dan barang dari Chocolat juga sampah semua...... Sial, ini benar-benar gawat.

Tepat saat itu, tiba-tiba Absolute Choice turun.


Pilih:

Lawakan Klasik adalah Kunci. Mainstream adalah yang Terhebat dan Mutlak

Zaman Sekarang Itu Surealis. Kepekaan yang Berbeda bakal Menciptakan Komedi Masa Depan]


Apa-apaan ini...... Klasik atau Surealis? Maksudnya aku harus pilih mana yang bakal bikin Yukihira tertawa? Lawakan dia sendiri biasanya condong ke surealis sih, tapi apa yang dia suka itu urusan lain lagi.

Ah, sudahlah! Dipikirkan juga nggak bakal tahu jawabannya. Cuma buang-buang waktu saja. Nomor satu! Nomor satu!

Begitu aku memutuskan dan pilihan itu hilang dari kepalaku, tidak ada hal istimewa yang terjadi. Sementara itu, Yukihira sudah mulai berjalan menuju pintu keluar.

"Yukihira!"

Yukihira menoleh karena teriakanku yang sangat keras. Aku belum memutuskan apa yang akan kulakukan setelah ini. Tapi setidaknya, aku harus menghentikannya dulu, atau semuanya akan berakhir.

"Tunggu sebent—Hah?"

Ada sensasi licin di bawah telapak kaki yang kumajukan.

"ADUH!"

Aku terjatuh dengan spektakuler, bagian belakang kepalaku menghantam beton dengan sangat keras.

"Oooooogh!"

Benturan tambahan tepat di atas benjolan tadi membuatku mengerang kesakitan selama beberapa saat.

"Gu...... ini...... kulit...... pisang?"

Aku bangkit dan memeriksa pelakunya. Ternyata di antara barang yang tumpah tadi, ada benda begini juga...... Nggak, tapi ini mah kelewat klasik, woi!

"Pu...... kuku......"

Tapi,

"Yukihira?"

Ada yang aneh dengan suaranya.

"Di-Di zaman sekarang, zaman sekarang masih ada yang pakai kulit pisang...... kuku."

Eh, jangan-jangan, ini......

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

Yukihira mendadak meledak dalam tawa.

"Ahahaha! A-Amakusa-kun, kamu, kulit pisang, kulit pisang! Di abad ke-21 masih pakai kulit pisang! Apa-apaan, ini sketsa komedi zaman purba ya?! Pu, kukukukuku!"

Aku hanya bisa bengong tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa kulit pisang...... segitu lucunya buat dia?

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

"Hmm?"

Ponselku bergetar. Ada email masuk. Jangan-jangan, di waktu seperti ini......

Pengirimnya adalah 'Tuhan'. Subjeknya adalah 'Mission Completed'. Aku segera membukanya.

Selamat. Silakan nantikan misi berikutnya dengan antusias.

Eh? Serius? Begitu saja...... sudah dianggap clear?

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

Yah, kalau dia dibilang tidak tertawa dari lubuk hati setelah melihat ini, dia pasti pantas dapat piala Oscar. Saking hebatnya tawa itu meledak.

"Ku...... kuhuhu...... Ampun, perutku, perutku sakit sekali!"

Tawanya tidak mau berhenti, sampai-sampai dia berlutut merangkak sambil gemetaran.

Yukihira Furano...... Ternyata bukan cuma sifatnya yang beda dari orang normal, selera humornya juga aneh.

Awalnya tawanya sempat mereda menjadi tawa kecil, tapi sepertinya sakelarnya tertekan lagi. Dia sampai berbaring telentang di lantai sambil tertawa keras.

"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

Melihatnya menendang-nendang kaki dengan air mata di sudut mata, wajahnya yang cantik jadi berantakan. Jujur saja, sama sekali tidak bisa dibilang anggun.

Tapi, ekspresi Yukihira yang tertawa lepas sambil memegangi perut itu entah kenapa terasa jauh lebih memikat dibanding ekspresi apa pun yang pernah kulihat darinya sampai sekarang, hingga aku tidak bisa memalingkan mata darinya untuk beberapa saat.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close