Chapter 2
Sisi Sebenarnya
Yukihira Furano
1
"Spiii..."
Gadis itu sedang tidur dengan sangat nyenyak, memeluk selimut seolah-olah benda itu adalah guling kesayangannya.
Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada respons, jadi terpaksa aku masuk ke kamarnya. Namun, meski aku sudah berdiri
sedekat ini, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
"Mufufu... munya..."
Padahal aku sudah bangun dari satu jam yang lalu, mencuci
baju, bahkan sudah menyiapkan sarapan. Kenapa makhluk yang cuma menumpang hidup
di sini malah bisa tidur dengan perasaan tanpa dosa begini?
"...Kenapa jadi begini, ya?"
Sambil menggerutu, aku mengingat kembali rentetan kejadian
tadi malam yang membuatku terpaksa menampung makhluk misterius bernama Chocolat
ini.
◆◇◆
"Tu-Tuhan...?"
"Iya,
benar!"
Tuhan? Apa-apaan
sih dia ini? Biasanya aku pasti akan langsung menertawakannya, tapi sorot mata
Chocolat begitu murni tanpa ada tanda-tanda sedang bercanda.
"Ah,
Kanade-san, dari matamu sepertinya kamu nggak percaya ya."
"Ya iya
dong, mana ada orang yang tiba-tiba percaya kalau dikasih tahu soal Tuhan...
Hm?"
Tepat saat aku
selesai bicara, seolah menyesuaikan dengan dialogku, ponsel di saku bergetar
menandakan pesan masuk. Aku mengeluarkannya dan memeriksa: di kolom pengirim,
tertulis nama "Tuhan".
Tuhan? Seingatku
aku tidak pernah mendaftarkan nama seperti itu di kontakku. Dan di waktu
yang sesinkron ini... Merasakan firasat yang aneh, aku membuka pesan berjudul "Misi
Penghapusan Kutukan" tersebut.
<<Buat Yukihira Furano tertawa dari lubuk hatinya
yang paling dalam. Batas waktu: Rabu, 8 Mei.>>
Apa-apaan ini?
Yukihira? Kenapa nama dia yang muncul? Kalaupun ini prank, isinya benar-benar
tidak masuk akal. Sebenarnya apa yang terjadi?
Di saat
berbagai pertanyaan berputar di kepalaku, kali ini melodi tanda telepon masuk
berbunyi.
"Ah, mungkin
itu dari Tuhan-sama!"
Mengikuti suara
ceria Chocolat, aku menatap layar ponsel. Di sana, tertulis nama yang sama: "Tuhan".
Sebenarnya, apa
mungkin menampilkan nama di ponsel seseorang padahal nomornya tidak terdaftar?
Jangan-jangan... yang ada di balik telepon ini memang sesuatu yang melampaui
akal sehat manusia?
"...Halo?"
Aku menekan
tombol jawab dan menempelkan ponsel ke telingaku dengan penuh keraguan.
《Yuhuuu, Tuhan di sini!》
Jawaban
yang kudengar justru berlawanan dengan ekspektasiku. Suaranya sangat santai dan ringan.
《Lho, lho? Halo~? Amakusa Kanade-kun?》
"...Kamu
siapa, sih?"
Ini... Tuhan?
Bodoh sekali aku tadi sempat hampir percaya. Semangatku langsung anjlok, aku
pun menjawab dengan nada asal-asalan.
《Eh, kan sudah kubilang aku ini Tuhan. Tuhan, alias Gusti Allah. Hmm,
kalau mau istilah kerennya, semacam... God gitu?》
Apa-apaan orang ini... GAYA BICARANYA ALAY BANGET.
"Lalu, ada
urusan apa Tuhan Alay ini denganku?"
Meskipun aku
sudah tidak percaya sedikit pun kalau dia itu Tuhan, aku tetap meladeni
pembicaraannya untuk mencari tahu situasi sebenarnya.
《Wah, kok langsung gas ke intinya sih? Hebat,
kamu tipe orang yang nggak sabaran ya.》
Alay...
lupakan soal Tuhan, orang ini cuma cowok alay yang kebetulan sedang
mengerjaiku.
"Kamu
beneran Tuhan?"
《Eh? Masa nggak percaya sih? Dengar ya Kanade-kun, kalau bicara soal
ke-Tuhanan-ku, aku ini sudah masuk level 'Dewa di Dunia Baru', lho. Beneran
deh!》
Sama sekali tidak
bisa dimengerti.
"Kalau
begitu tunjukkan buktinya."
《Bukti?》
"Iya. Kalau
memang Tuhan, kamu pasti bisa duduk di atas awan atau mengeluarkan petir dari
tongkatmu, kan?"
Tentu saja aku
tidak serius menanyakan hal itu. Tujuanku cuma untuk melihat bagaimana
reaksinya.
《Uwah, kuno banget! Imajinasi Kanade-kun kuno
banget! Miskin kreativitas tingkat dewa nih!》
...Bikin kesal. Cowok alay ini benar-benar bikin naik darah.
《Tapi ya, aku bisa melakukan
sesuatu yang sama hebatnya dengan itu, lho~. Nih, rasakan.》
"Makanya, kalau bisa ya tunjukkan buk—"
《Oke, oke. Kalau kayak gini
gimana~?》
"Hm?"
Begitu si cowok alay itu selesai bicara, sebuah perasaan
aneh yang sangat kuat langsung menghantamku.
Apa... ini?
Rasanya seperti diriku bukan lagi diriku sendiri. Sebuah
sensasi yang sangat tidak nyaman. Tapi aku tidak tahu apa penyebabnya.
《Fufu. Coba deh sentuh dadamu.》
Suara si cowok alay terdengar seolah dia bisa membaca
pikiranku.
"Dada? Kenapa harus... Hah?"
Apa ini? Sebuah
sensasi lembut yang belum pernah kurasakan sekali pun dalam hidupku.
Aku mencoba
menyentuhnya lagi... fuyon (kenyal).
Sekali
lagi... taputapu (goyang-goyang).
Dan
sekali lagi... baiiin (membal).
《Tubuhmu sudah kuubah jadi perempuan~!》
Hah? Apa yang dia
bicarakan? Perempuan? Jangan bercanda. Tapi, sensasi tadi memang nyata...
Tanganku
secara refleks bergerak menuju selangkangan.
"........................NGGAK
ADA."
GAK ADA,
GAK ADA, GAK ADA! Benda yang seharusnya terpasang di sana sudah lenyap! Simbol
kejantanan laki-laki itu sudah tidak ada!
Wajahku
langsung pucat pasi. Aku melemparkan ponselku dan berlari menuju cermin di
kamar mandi.
Yang
terpantul di sana memang benar-benar aku. Mata, hidung, mulut, semuanya memang
fitur wajah yang sudah bersamaku selama bertahun-tahun. Itu tidak salah lagi.
Namun,
wajah yang menatap balik ke arahku itu benar-benar wajah seorang gadis. Aku,
tapi seorang gadis. Gadis, tapi adalah aku.
Model
rambutku sudah tidak berbentuk aslinya, berubah menjadi rambut semi-long
yang berkilau. T-tidak mungkin... Dengan gemetar, aku mengalihkan
pandangan ke arah bawah.
Dada. Tidak, tonjolan ini lebih cocok disebut oppai
(buah dada). Aku tidak begitu mengerti ukurannya, tapi sepertinya ini sekitar
Cup D?
Fenomena yang terjadi pada diriku ini benar-benar tidak bisa
dipahami sama sekali. Tanpa sadar apa yang ingin kulakukan, aku mulai melepas
kancing kemejaku yang sudah sangat sesak dan nyaris robek.
Polon. Dua benda yang menggantung di bagian atas
tubuhku itu adalah... yah, intinya itu adalah buah dada yang sangat nyata.
"Fu... fufu..."
Aku tertawa kecil, lalu mengambil napas dalam-dalam.
"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"
Seketika itu juga, aku berteriak histeris dan berlari
kembali ke ruang tengah.
"C-C-CEWEK! CEWEK! AKU JADI CEWEK!"
Dalam kondisi kalut, aku berteriak ke arah Chocolat yang
sedang memperhatikanku.
"Tenanglah, Kanade-chan."
"SIAPA YANG KAMU PANGGIL KANADE-CHAN... eh?"
Aku tersentak oleh tanggapanku sendiri. Aku baru sadar, bahkan nada suaraku pun sudah berubah menjadi manis dan imut seperti karakter di anime.
Aku
menyambar ponsel yang tergeletak di lantai.
"A-apa
yang terjadi?!"
《Lho, kok kamu panik gitu?》
"G-gak
ada! Benda yang harusnya ada di selangkanganku nggak ada!"
《Aduh, apanya sih yang nggak ada?》
"Makanya
kubilang, BURUNG—!?"
Tepat
saat aku akan mengucapkan kata itu, wajahku mendadak terasa panas luar biasa...
Ada apa ini?
《Apa? Burung apa?》
"Makanya,
burung di selangkanganku... augh."
Sial, aku terlalu
malu untuk melanjutkannya. Jangan-jangan... sebagian pikiranku juga ikut diubah
jadi pikiran anak perempuan?
"Kanade-chan,
kenapa kamu malah menggeliat-geliat malu gitu?"
"Udah
kubilang jangan panggil Kanade-chan!"
《Ahaha, Kanade-chan imut banget~》
"Diam kamu! Cepat kembalikan aku jadi cowok sekarang
juga!"
《Ehh, beneran mau balik? Pengalaman kayak gini kan cuma sekali seumur
hidup, lho.》
"Gak butuh!
Pengalaman kayak gini nggak bakal ada biarpun aku bereinkarnasi seratus
kali!"
《Tapi kan orang sering bilang: Mau berhenti
jadi cowok? Atau berhenti jadi manusia? Begitu kan?》
"Nggak
ada yang bilang gitu! Lagian kenapa jadi cowok malah disamain kayak narkoba
berbahaya!"
Aku meluapkan
seluruh kekesalanku lewat kata-kata.
"Pokoknya
cepet balikin aku jadi cowok—"
Pilih:
① Menghabiskan sisa hidup sebagai perempuan
② Melakukan Headstand sambil
meneriakkan nama tokoh sejarah favorit]
"JOHN MANJIROOOO!" (T/N: John Manjiro:
Tokoh sejarah Jepang yang terkenal karena terdampar di Amerika dan menjadi
penerjemah penting.)
"Kanade-chan,
kamu lagi ngapain?"
"AKU JUGA
PENGEN TAHU!"
Sambil posisi
terbalik, aku berteriak histeris ke arah Chocolat. Setelah memastikan pilihan
itu menghilang, aku segera mengakhiri posisi headstand dan menyambar
ponsel yang terlempar ke lantai.
"Pokoknya
cepet balikin aku jadi cowok!"
《Ehh, serius nih? Sayang banget, banget,
banget, kan?》
"BERISIK,
BALIKIN!"
《Buuu, ya sudahlah~》
Setelah suara
keberatan itu, sensasi aneh di tubuhku lenyap seketika. Aku meraba seluruh
bagian tubuhku. Dada besarnya sudah hilang, dan "Anu"-ku sudah
kembali.
"Haaaaah..."
Tenagaku terkuras
habis, aku terduduk lemas di lantai.
《Gimana, gimana? Sudah mulai percaya?》
Sial... setelah
diperlihatkan kejadian barusan, mau tidak mau aku harus mengakui kalau dia
bukan manusia. Tapi apa makhluk se-alay ini beneran Tuhan?
Si pengirim suara
di telepon sepertinya menganggap diamku sebagai jawaban "iya".
《Oke. Berhubung kita sudah makin akrab, mari kita masuk ke topik utama.》
Akrab? Kalau dia
beneran menganggap begitu, otaknya pasti sudah geser.
《Jadi, ini soal kutukanmu itu~》
"Kutukan...
ya."
Itu istilah yang
tadi juga sempat diucapkan Chocolat.
《Iya, benar. Di kasusmu itu—bentar, ah ini dia ketemu. Di dalam kepalamu
suka muncul sesuatu yang nyuruh milih salah satu, kan?》
"Iya, Pilihan
Mutlak."
《Pilihan Mutlak? Uwah, Kanade-kun, kamu ngasih nama yang
memalukan gitu? Dasar Chuunibyou tingkat akut~》
"Ugh..."
Karena selama ini
aku jarang mengucapkannya langsung, aku tidak terlalu sadar. Tapi kalau
dipikir-pikir, memang namanya agak memalukan sih.
《Yah, terserah mau panggil apa. Jadi, soal cara menghapus kutukan itu...》
Pembicaraan
mendadak masuk ke inti masalah. Aku menahan napas, menunggu kata-kata dari si
Tuhan Alay.
《Singkatnya sih, kamu harus menyelesaikan misi-misi yang diberikan.》
"Misi...
jangan-jangan, pesan aneh yang tadi masuk ke ponselku?"
Seingatku isinya
kalimat nggak jelas soal membuat Yukihira tertawa atau apalah.
《Oh, serius? Gila, aku emang
paling jago soal timing!》
Aku merasa ada yang janggal dengan cara bicara Tuhan Alay
ini.
"Tunggu sebentar. Dari tadi omonganmu agak nggak jelas,
jangan-jangan kamu sendiri nggak paham seluruh situasinya?"
《Yup! Bukannya nggak paham
seluruhnya sih, lebih tepatnya hampir nggak tahu apa-apa.》
Si Tuhan Alay
mengucapkannya dengan sangat santai.
"Hampir
nggak tahu apa-apa... Bukannya kamu Tuhan?"
《Yah, memang sih. Tapi masalahnya, aku baru saja ditugaskan jadi penanggung
jawab gugus duniamu ini. Pendahuluku pensiun tanpa ngasih serah terima jabatan
yang jelas, jadinya repot banget, nih!》
"Pendahulu... Maksudnya apa, Tuhan itu ada
banyak?"
《Banyak? Gila, jumlahnya mah
bejibun sampai bisa disapu kayak sampah! Tahu kan istilah Delapan Juta Dewa? Ya
segitulah jumlahnya.》
Disapu kayak sampah... kalau dia ngomong gitu, kesannya jadi
nggak ada sakral-sakralnya sama sekali. Tapi ya, kalau si Tuhan Alay ini memang level paling bawah di antara jutaan
Tuhan lainnya, aku masih bisa sedikit maklum. Malah ngeri kalau makhluk kayak
begini adalah satu-satunya Tuhan di alam semesta.
《Terus ya, sistem kutukan itu cuma ada di gugus duniamu saja, makanya aku
belum paham-paham amat.》
Kalau omongannya
benar, berarti si Tuhan Alay ini sama sekali tidak berguna dalam masalah ini.
"Apa kamu
nggak bisa nanya ke pendahulumu soal kutukan ini?"
《Ah, nggak bisa, nggak bisa. Kan tadi sudah kubilang dia sudah pensiun.》
Pensiun, ya.
Kira-kira apa alasan makhluk setingkat Tuhan sampai harus berhenti dari
jabatannya?
《Cuti melahirkan.》
"Hah?"
《Cuti melahirkan. Dia hamil.》
"H-hamil?
Tuhan bisa hamil?"
《Kanade-kun, sepertinya kamu salah paham. Tuhan itu juga makan, juga tidur
kalau capek, dan ya... mereka juga 'main' kok.》
Bagian terakhir
itu... tolong cara ngomongnya diperhalus sedikit napa.
"Tapi kan
cuma cuti melahirkan? Bukan
berarti dia luka parah, kan? Seharusnya kamu masih bisa hubungi dia."
《Aduh, nggak bisa. Dia benar-benar syok, terus
sekarang lagi pasang segel penghalang dan mengurung diri.》
"Syok?
Bukannya hamil itu berita bahagia?"
《Masalahnya, dia hamil hasil perselingkuhan,
terus istri sahnya melabrak dia sambil teriak 'Dasar pelakor!' dan nampar dia.》
"INI MAH
DRAMA KELUARGA DI TV!"
Ngapain aja sih
para Tuhan ini.
《Katanya sih dia mau berjuang membesarkan anaknya sendirian meski semua
orang menentang. Tapi ya, paling dia baru bakal muncul lagi kalau anaknya sudah
lahir.》
"Ngomong-ngomong...
berapa lama masa kehamilan Tuhan?"
《Hmm, kalau dikonversi ke waktu duniamu, kira-kira sepuluh ribu tahun.》
"KEBURU MATI
SERATUS KALI, WOI!"
Aku memang tahu
logika manusia nggak berlaku di sana, tapi sepuluh ribu tahun itu sudah
keterlaluan jauhnya dari level sembilan bulan sepuluh hari.
《Nah, sekarang aku lagi di ruang kerjanya nih. Pendahuluku itu ternyata
jorok banget, dokumennya berantakan semua. Aku lagi ngumpulin bagian soal
kutukan, tapi asli deh, males banget. Terus ruangannya agak bau apek lagi.》
Tuhan... ternyata
makhluk seceroboh ini pun bisa jadi Tuhan ya.
《Lagian Kanade-kun, kamu kudet banget sih soal
situasimu? Di sini tertulis nih: 'Mengenai kutukan Amakusa Kanade di dunia
ke-49, terdapat beberapa anomali yang tidak bisa dipahami sepenuhnya, dan
proses penghapusannya diprediksi akan sangat sulit. Oleh karena itu, salah satu pelayan paling
berprestasi akan dikirim sebagai asisten pendukung.' Dia ada di dekatmu,
kan? Detailnya tanya saja ke dia.》
Asisten pendukung, ya. Kalau melihat situasinya, pasti yang
dimaksud adalah Chocolat... tapi apa telingaku salah dengar? Tadi dia bilang
"paling berprestasi"?
《Yaudah deh, aku juga sibuk nih.
Kalau ada apa-apa nanti kutelepon
lagi. Baibyyy~》
"O-oi..."
Belum sempat
kuhentikan, si Tuhan Alay sudah mau memutus teleponnya.
《Ah, tunggu sebentar. Aku nemu bagian yang kayaknya penting nih. Katanya,
kalau kamu gagal menjalankan misi sekali saja, kutukannya bakal nempel seumur
hidup~》
"Hah?
Maksudnya..."
《Oke deh, dadah~》
Pip. Sambungan diputus secara sepihak. Aku
mencoba menelepon balik nomor yang tertera sebagai "Tuhan", tapi yang
terdengar hanyalah suara operator yang datar.
《Nomor yang Anda tuju berada di dunia yang tidak terjangkau sinyal atau
sedang tidak aktif...》
"APA-APAAN
SIH!"
Aku refleks
membanting ponselku ke lantai.
"Ah, apa
obrolannya sudah selesai~?"
Chocolat yang
sedang asyik nonton TV di sofa menyapa dengan suara santai. Pipinya menggembung
penuh dengan kue kering. Kenapa kamu santai banget sih? Serasa di rumah sendiri
ya.
"Chocolat-kun,
sini bentar."
"Iya, ada
apa?"
Setelah menelan
semua kue di mulutnya, Chocolat mendekat dengan riang.
"Aku mau
memastikan beberapa hal. Pertama, apa ingatanmu sudah kembali semua?"
"Ah, iya!
Hampir semuanya sudah ingat!"
Melihat senyum
lebarnya, aku sedikit lega. Sebebal apa pun dia, saat ini dia adalah
satu-satunya sumber informasiku. Tapi ada bagian yang mengganjal... bagian
"hampir" itu.
"Tapi entah
kenapa, aku masih nggak ingat namaku sendiri."
Nama, ya.
Syukurlah bagian yang hilang itu adalah hal yang nggak penting-penting amat.
Mau namamu Chocolat, Parfait, atau Konnyaku sekalipun, nggak ada hubungannya
sama Pilihan Mutlak-ku.
"Kalau gitu,
kasih tahu semua yang kamu tahu."
"Sayangnya,
itu tidak mungkin."
"...Hah?"
"Aku tidak
punya informasi yang bisa kuberikan pada Kanade-san."
"Lho,
katanya tadi sudah ingat semua selain namamu..."
"Iya. Aku
sudah ingat fakta bahwa aku ini sebenarnya memang tidak tahu apa-apa."
"Hah?"
"Jadi
begini, sepertinya dari awal aku memang sudah amnesia, tapi aku lupa kalau aku
amnesia. Nah, barusan aku baru ingat kalau aku ini memang amnesia."
Jadi intinya,
amnesia ganda dia sudah sembuh dan sekarang kembali jadi amnesia biasa...
Apa-apaan sih.
"Fufufu.
Begitulah, aku sendiri kaget lho ternyata aku nggak tahu apa-apa."
"Iya... aku
juga kaget lihat kamu bisa pasang muka bangga gitu."
Gimana nih...
rasanya aku langsung buntu di awal jalan. Nggak, jangan menyerah dulu. Chocolat
kan setidaknya penduduk dunia sana (?), kalau aku tanya satu-satu pasti ada
informasi yang bisa digali.
"Jelaskan
pelan-pelan dari bagian yang kamu tahu saja. Pertama, gimana ceritanya kamu
bisa dikirim ke tempatku?"
"Ah, iya.
Jadi pas aku lagi nggak punya kerjaan dan nggak punya ingatan, cuma main game
dan makan cemilan tiap hari, tiba-tiba datang sepucuk surat perintah. Isinya:
'Bantu Amakusa Kanade menghapus kutukannya'."
"Oke,
terus?"
"Cuma itu
saja."
"Hah?"
"Katanya
sih, targetnya (Kanade-san) itu orang yang sangat jenius, dan kutukannya juga
cuma masalah sepele, jadi aku disuruh nempel saja tanpa perlu
ngapa-ngapain."
Ada yang aneh...
rasanya ada sesuatu yang melenceng jauh di sini.
"Tapi aku
nggak tahu apa-apa, lho."
"Aku juga
nggak tahu apa-apa!"
Aku dan Chocolat
saling bertatapan dengan tanda tanya besar di kepala masing-masing.
"Kanade-san,
boleh aku nanya?"
Setelah
hening sejenak, Chocolat mengangkat tangan dengan penuh semangat.
"Aku mau
memastikan satu hal. Nama Amakusa Kanade itu cuma identitas samaranmu kan? Nama
aslimu itu 'A. Magusa Ganadoure', kan?"
"SIAPA ITU,
WOI!?"
"Terus di
dunia ini, setiap harinya ada perulangan antara Waktu Luar dan Waktu
Dalam, kan? Terus pas Waktu Dalam, monster Demonic Beast yang
memusuhi umat manusia bakal menyerang secara serentak, kan?"
"Settingan Chuunibyou macam apa itu!"
"Terus kalau Kanade-san terjepit, kesadaran prajurit
kuno di dalam tubuhmu bakal bangkit, terus kamu bakal memanggil robot terkuat
hasil imajinasiku, 'Eldoraon', terus—"
"Cukup... sudah cukup."
"Oh, gitu ya? Ah, ngomong-ngomong Kanade-san, sudah
waktunya tidur belum?"
"Hah? Ngomong apa sih tiba-tiba. Masih kepagian,
tahu."
"Eh? Bukannya di dunia ini, kalau Kanade-san si
'Entitas Pengubah Kausalitas' tidur, dunianya bakal berubah jadi Waktu Dalam?"
"NGGAK
BAKAL! Yang ada cuma hari esok yang datang!"
Ini... sebenarnya
ada apa sih? Setelah mempertimbangkan percakapan dengan Tuhan Alay tadi dan
perbedaan persepsi dengan Chocolat, satu-satunya kesimpulan yang masuk akal
adalah—
Jangan-jangan,
Tuhan salah mengirim orang ke dunia yang salah? Asumsikan ada dunia paralel.
Pelayan paling berprestasi yang seharusnya membantuku mungkin malah pergi ke
tempat si "A. Magusa" (yang sehari-harinya pakai nama Amakusa
Kanade), sementara aku yang beneran kena kutukan merepotkan malah dikirimi si
Chocolat bebal ini.
Begitu aku
menjelaskan teori itu pada Chocolat, dia langsung menepukkan tangannya.
"Ooh,
pantesan! Biasanya pelayan yang dikirim bakal otomatis di-install
pengetahuan umum dan bahasa dunia tersebut ke kepalanya. Tapi karena dunia ini
beda banget sama setting yang tertulis di surat perintah, aku sempat
mikir 'Kok agak aneh ya~'."
...Jadi intinya.
Makhluk aneh di depanku ini sama sekali NGGAK BERGUNA buat menghapus Pilihan
Mutlak. Sambil memasang senyum paling lebar, aku menaruh tanganku di bahu
Chocolat.
"Sana
pulang."
"Gimana
caranya?"
"Hah?"
"Menurut
surat perintah, aku nggak bisa pulang sampai kutukan target asistenku
terhapus."
"...Kenapa?"
"Nggak
tahu!"
"Kok bisa
nggak tahu?"
"Itu juga
nggak tahu!"
"Terus, apa
yang kamu tahu?"
"Kue buatan
Kanade-san enak banget!"
"KAMU LAGI
NGAJAK RIBUT YA!"
"Sudah,
sudah Kanade-san. Mending kita makan malam yang enak dulu biar tenang."
Memang sih kalau
lapar otak jadi nggak bisa mikir, tapi tetap saja aku nggak paham kenapa dia
yang ngatur.
"Gimana
kalau Salmon Meuniere? Tadi aku sudah intip isi kulkas, kayaknya bisa
bikin salad buat sampingannya juga."
Aku malas
menyerahkan dapurku pada orang asing, tapi dengan kondisi mentalku yang lagi
kacau begini, aku juga nggak sanggup masak.
"Ya sudah,
tolong masakin itu ya."
"Hm?"
Chocolat memiringkan kepalanya bingung.
"Aku
nggak bisa masak, lho?"
"Hah?
Tadi kan kamu bilang Salmon Meuniere sama salad..."
"Itu
kan menu yang PENGIN kumakan."
"JADI
TETEP AKU YANG MASAK?!"
Fix.
Sudah kuputuskan. Masa bodoh dia bisa balik ke dunianya atau nggak. Nggak ada
alasan buat membiarkan makhluk nggak berguna ini tinggal di rumahku.
"Heh,
Chocolat. Keluar dari rumah i—"
Pilih:
① Menyerah dan membiarkan Chocolat menumpang di rumah
② Menyerah dan kamu sendiri yang keluar dari rumah]
KOK GITU SIH!
...Setelah melewati satu babak yang tak terlukiskan itu,
satu malam pun berlalu hingga pagi ini. Dibandingkan denganku yang sulit tidur
karena berbagai pikiran berputar di kepala...
"Spiii..."
...Lihatlah makhluk ini. Wajah tidurnya begitu damai
sampai-sampai aku merasa berdosa kalau membangunkannya. Tapi kalau nggak
sarapan sekarang, aku bakal telat berangkat sekolah.
"Heh, bangun."
Aku
mengguncangnya pelan, tapi dia tetap tidak bergerak. Saat aku baru mau menambah tenaga—
"Ah... Kanade-san..."
Tubuh Chocolat gemetar sedikit, dan dia mengeluarkan suara
yang sangat seksi.
"Kanade-san... Kanade-san dalam bahaya..."
Hm? Bahaya apa?
"Aah, semua
lubang Kanade-san kemasukan tentakel..."
Lubang?
Tentakel? Jangan-jangan...
"Keperawanan
belakang Kanade-san... A-ahhh!"
Makhluk
ini... ternyata pikirannya mesum tingkat akut.
"Ooh...
wajah Kanade-san yang lagi menggeliat kesakitan ternyata menggoda juga ya...
Lanjut terus, hajar lagi..."
...Aku
sadar makhluk ini nggak perlu dikasihani. Aku pun menutup hidung dan mulutnya
sampai dia nggak bisa bernapas.
"...Nm?
...Fu? ...Myu-ff!?"
Setelah
mengeluarkan suara aneh, kesadaran Chocolat akhirnya pulih. Dia menatap
sekeliling dengan mata mengantuk, tapi begitu matanya bertemu denganku...
"Ah,
Kanade-san, selamat pagi!"
Seketika
wajahnya cerah dan dia memberikan senyum paling lebar.
"A-ah...
pagi."
Melihat
senyuman tulus itu secara langsung, aku refleks membuang muka. Padahal dia
sedang tidak pakai makeup sama sekali, tapi fitur wajahnya beneran
cantik banget.
Ditambah
lagi, piyama pinjaman dariku agak melorot sehingga memperlihatkan kulit
mulusnya yang cukup luas. Parahnya,
dia sendiri sama sekali tidak peduli dan benar-benar tanpa pertahanan.
"Kanade-san,
ada apa?"
"G-gak ada
apa-apa."
Seberapa keras
pun otakku bilang kalau dia bukan manusia, perasaanku tetap tidak bisa
berbohong karena bentuk fisiknya adalah seorang gadis remaja. Aku yang mendadak
panik sendiri akhirnya menundukkan kepala.
"Ah,
jangan-jangan..."
Melihat
tingkahku, Chocolat berkata dengan suara yang terdengar agak merasa bersalah.
"Kamu tahu
ya kalau karpetnya jadi basah gara-gara aku ngiler pas tidur?"
"GIMANA SIH
POSISI TIDURMU!"
...Bodoh sekali
aku tadi sempat merasa deg-degan.
◆◇◆
"Owah! Hebat
banget!"
Chocolat berseru
heboh saat melihat sarapan yang tertata di meja. Kemarin aku memang nggak mood
masak dan cuma makan mi instan, tapi kalau makan instan terus, selain nggak
sehat juga bikin kantong jebol. Hasilnya, kemampuan masakku jadi lumayan
terasah. Chocolat menatap makanan itu dengan mata berbinar.
"Ooooh!"
"Waaaah!"
Dia memberikan
reaksi berlebihan pada setiap suapan. Padahal menunya biasa saja, tapi
melihatnya makan dengan lahap sampai antena rambutnya naik-turun, aku sebagai
yang masak jadi merasa lumayan senang. Tapi ya, itu bukan berarti aku setuju
dia tinggal di sini.
"Tapi ya...
buat ukuran penumpang, kamu makannya banyak juga ya."
"Ehehe."
Eh?
Kenapa kamu malah
senang?
Struktur otaknya gimana sih sampai bisa
menganggap sindiranku sebagai pujian?
Melihat tatapan
sinisku, sepertinya Chocolat akhirnya menyadari sesuatu. Dia menggoyangkan satu
jarinya ke kiri dan kanan.
"Kanade-san,
Kanade-san. Aku ini bukan tipe parasit nggak tahu diri yang cuma mau numpang
hidup gratisan, lho."
Oh, syukurlah.
Itulah yang ingin kudengar. Aku nggak minta uang atau apa pun. Aku cuma butuh
perasaan sungkan dan rasa terima kasih.
"Serahkan
urusan keamanan rumah ini padaku!"
"ITU MAH
ARTINYA KAMU NGGAK NIAT NGAPA-NGAPAIN!"
Gak bener nih
makhluk... tapi karena terikat pilihan, aku nggak bisa mengusirnya.
"Fufufu.
Yang tadi itu cuma bercanda kok, Kanade-san."
Chocolat yang
mendadak percaya diri memasukkan tangannya ke dalam belahan dadanya. Dari belahan yang kelewat berisi
itu, dia mengeluarkan—
"Segepok...
uang?"
Itu adalah
kumpulan lembaran sepuluh ribu Yen. Jumlahnya pasti ratusan lembar.
"Ini
dikirimkan sebagai biaya operasional. Katanya kalau kurang, bakal dikirim lagi
berapa pun. Jadi, ini kutitipkan pada Kanade-san ya."
Serius nih... aku
nggak nyangka bakal muncul uang tunai beneran. Aku penasaran apa maksudnya
"dikirimkan", tapi ya sudahlah. Jumlahnya jelas-jelas terlalu banyak,
tapi nanti akan kupakai seperlunya dan sisanya akan kukembalikan. Meskipun
mencurigakan karena sumbernya dari Chocolat, tapi sepertinya ini bukan uang
palsu—
"Aku kurang
paham sih, tapi katanya uang ini sudah selesai di-laundry
(dicuci)."
"BERARTI
INI UANG HARAM, DONG!"
Refleks,
aku membanting uang itu ke lantai.
"...Pokoknya
kamu simpan dulu saja."
"Oh, gitu
ya? Bilang saja kalau butuh ya."
Chocolat
menyimpan kembali lembaran uang kotor itu ke belahan dadanya... Masalah ini
akan kupikirkan baik-baik nanti.
"Pokoknya
aku berangkat sekolah dulu."
Aku berdiri
sambil mengembuskan napas panjang.
"Iya,
hati-hati di jalan!"
Melihat senyum
lebarnya yang tidak pernah berubah, aku mendadak penasaran.
"Heh
Chocolat, kenapa kamu kelihatan senang banget sih?"
"Maksudnya?"
"Ya, kalau
aku jadi kamu, tiba-tiba dikirim sendirian ke dunia lain terus disuruh bantu
orang asing, aku nggak bakal bisa bersikap seceria itu."
Mungkin memang
faktor kepribadian, tapi kalau dipikir secara normal, sikapnya itu tidak alami.
"Anu,
begini. Kami para pelayan Tuhan tugasnya adalah membantu manusia. Jadi, kami
diciptakan untuk merasa bahagia saat melakukan tugas itu. Kalau emosi kami sama
target manusia jadi buruk, nanti tugasnya terhambat. Jadi, emosi kami sudah
'disetel' agar selalu merasa positif."
Caranya bicara
seolah-olah dia adalah sebuah barang membuatku sedikit terganggu, tapi ya aku
nggak tahu standar dunia sana sih.
"Hmm, gitu
ya."
"Iya!
Makanya aku suka banget sama Kanade-san!"
"Na..."
Itu adalah
pernyataan suka yang terlalu jujur.
"Ada
apa?"
Bukannya aku
nggak tahu. Rasa sukanya itu ibarat rasa suka anjing pada tuannya, aku tahu
banget kalau nggak ada unsur romantisnya sama sekali. Tapi kalau kata
"Suka banget" keluar dari mulut makhluk berwujud perempuan—yang
cantiknya minta ampun pula—logika laki-laki manapun pasti bakal buyar seketika.
"G-gak ada
apa-apa."
Aku cuma bisa
menunduk menyembunyikan wajahku yang mulai memerah. Padahal tadi di kamar sudah
kapok, tapi aku beneran nggak punya kemampuan belajar ya.
"Oh, gitu
ya? Kalau begitu, serahkan urusan rumah sepenuhnya padaku!"
Kata-kata itu
langsung menarikku kembali ke realitas. Benar juga. Tadi aku asal bilang
berangkat sekolah, tapi itu artinya aku harus menitipkan rumah pada makhluk
ini. Pelayan bebal yang dikirim karena salah alamat.
"Kamu
beneran oke, kan? Tahu cara nyuci piring?"
"Beres!
Bakal kucuci sampai mengkilap biar bisa dijilat!"
"Piring
kan emang harusnya bersih... tapi kenapa bahasamu kayak lagi nyuci
kloset?"
Tetap saja aku
merasa cemas. Sebaiknya aku melakukan simulasi dulu soal kejadian yang mungkin
terjadi saat aku nggak ada.
"Chocolat, ini tes kecil sebelum kutinggal."
"Siap,
laksanakan!"
Mulai dari yang
ringan.
"Kalau
tiba-tiba hujan?"
"Aku jadi
malas keluar rumah."
"AKU NGGAK
NANYA PERASAANMU! Angkatin jemurannya dong!"
Baru mulai saja
sudah parah.
"Kalau
ada sales koran datang?"
"Ambil
hadiah sabunnya saja terus tutup pintunya rapat-rapat."
"Jahat
banget kamu!"
Lanjut.
"Kalau ada
telepon penipuan 'Mama minta pulsa' atau semacamnya?"
"Minta Tuhan
kirim uang palsu terus aku transfer ke dia."
"MALAH JADI
KASUS KRIMINAL YANG LEBIH GEDE, TAHU!"
...Lanjut.
"Kalau
Nakajima datang ngajak main?"
"Main baseball!"
"GAK USAH! Lagian dia cuma ngajak Isono doang!" (T/N:
Referensi ke anime Sazae-san).
"Menurutku tadi Kanade-san yang mancing duluan."
"Ugh... bener juga sih."
Aku malah jadi ikut bercanda.
"Baguslah kalau sadar."
Aku kesal melihat wajah sok menangnya itu. Aku mau
membalasnya, tapi waktunya sudah mepet.
"Cih, ya sudah, aku berangkat."
"Daaaah, hati-hati yaaaa!"
Diringi salam perpisahan yang super ceria itu, aku
meninggalkan rumah dengan perasaan cemas yang tidak terkira.
2
"BUHIIIIIIII!"
Di tengah jam istirahat siang di kelas 2-1, menggema suara
yang terdengar seperti "seekor babi yang sedang dikeroyok massa".
"BUHIIIIIIII!"
Suara itu dipenuhi penderitaan, benar-benar mirip seperti
"seekor babi yang sedang dikeroyok massa".
"BUHIIIIIIII!"
Wajah si pemilik suara memancarkan segala jenis emosi
negatif, menunjukkan bahwa rasa sakit yang ia terima benar-benar tidak bisa
dilukiskan dengan kata-kata. Kalau pemandangan ini harus diberi judul, mungkin
judulnya adalah "Seekor Babi yang Sedang Dikeroyok Massa".
"BUHIIIIIIII!"
Setelah menyelesaikan teriakan yang kesepuluh kalinya, si
"Babi yang Dikeroyok Massa"—maksudku, aku—turun dari atas meja guru
dengan ekspresi kosong dan nyawa yang seolah sudah terbang.
Pilih:
① Berbaring telentang di atas meja guru dan menirukan
suara "Babi yang sedang dikeroyok massa" sebanyak 10 kali
② Muncul Daiko-san (telanjang) yang seluruh tubuhnya
dililit tali tambang, lalu kamu harus melakukan posisi yang sama dan melakukan Public
Boneless Ham Play]
Begitu pilihan
ini muncul, aku beneran... ya, beneran rasanya ingin loncat saja dari atap
sekolah. Tapi kalau penyebab kematianku adalah "Menolak menirukan suara
babi", kayaknya aku nggak bakal bisa mati dengan tenang. Jadi, aku
terpaksa bertahan dan... melakukannya.
"Kenapa...
kenapa aku harus mengalami ini..."
Ya, semuanya,
semuanya gara-gara Pilihan Mutlak sialan ini. Kalau aku bisa
menyingkirkan benda ini, aku bisa mendapatkan kembali hidupku yang tenang.
Syarat untuk itu
pun sudah jelas. Aku hanya perlu menyelesaikan misi yang diberikan oleh Tuhan.
Tapi, isinya
adalah "Buat Yukihira Furano tertawa dari lubuk hatinya yang paling
dalam"... apa-apaan coba. Isinya terlalu absurd sampai aku tidak punya
motivasi buat mengerjakannya.
"...Hm?"
Merasakan
kehadiran seseorang di belakangku, aku menoleh. Ternyata itu adalah si Yukihira
sendiri. Dia, dengan
ekspresi datar seperti biasanya, menaruh tangannya di bahuku.
"Amakusa-kun,
aku tahu kamu sangat mengagumiku, tapi menurutku yang barusan itu agak
keterlaluan."
"Mengagumimu?
Apa maksudmu?"
"Yah,
sebenarnya aku ingin mengakuinya, tapi dunia itu tidak semudah yang kamu
bayangkan."
"Maaf... aku
beneran nggak paham kamu lagi ngomong apa."
"Sayangnya,
yang barusan itu tidak bisa kuakui sebagai Butack Joke."
"AKU SAMA
SEKALI NGGAK BERNIAT KE SANA, TAHU!"
Oh, ini maksudnya
soal omongan dia kemarin yang bilang aku serangga atau babi itu ya...
"Ngomong-ngomong,
karena kulitmu putih, punyamu itu bukan masuk kategori Black Butack Joke,
melainkan White Butack Joke. Singkatnya, kamu itu babi putih."
"NGGAK
TANYA!"
"Terus,
kalau pakai julukan, namamu adalah 'Pig's Showtime: Candaan Renyah si Babi
Putih'."
"Kok kamu
bisa sih ngomong hal memalukan kayak gitu dengan muka datar?!"
"Kalau
begitu aku balik tanya, kalau itu bukan Butack Joke, terus aksi anehmu
barusan itu apa?"
"Ugh..."
Aku bungkam.
Gimana cara jelasinnya... lagian sejak awal memang nggak ada alasannya, jadi
nggak ada yang bisa dijelaskan.
...Eh, tunggu
dulu. Bukannya ini malah kesempatan? Daripada dibilang menirukan suara babi
tanpa alasan sama sekali, mungkin lebih baik berpura-pura kalau aku sedang
mencoba menantang diri melakukan Butack Joke (?). Luka mentalku mungkin
nggak bakal terlalu parah kalau begini caranya.
"S-sebenarnya,
karena candaanmu kemarin lucu, aku jadi pengin coba niruin sedikit..."
Setelah tadi
membantah mentah-mentah, apa alasan ini terlalu maksa ya? Saat aku menatapnya
untuk mencari tahu reaksinya, Yukihira justru menatapku dengan tatapan
menghina.
"Ternyata
dugaanku benar."
"Hah?"
"Aku cuma
mencoba menjebakmu, eh ternyata benar... Kamu mencoba menjiplak Butack Joke
yang kupikirkan setiap malam sampai begadang, ya?"
Orang ini...
ngomong apa sih?
"Ini sudah
masuk level di mana aku harus menempuh jalur hukum."
"Eh, eh, aku
nggak ada niat buat plagiat atau semacamnya kok."
"AKU AKAN
MENUNTUTMU!"
Yukihira
berteriak menirukan gaya pelawak terkenal.
"Bukannya
gitu, aku nggak nge-plagiat hal begituan—"
"AKU AKAN
MENUNTUTMU!"
Anak ini... dia
pasti cuma pengin teriak kalimat itu saja, kan!
"Oke,
oke, aku yang salah, jadi berhenti—"
"AKU AKAN
MENUNTUTMU!"
BERISIK, WOI!
"Pak Hakim!
Panggilkan Pak Hakim ke sini!"
"Nggak ada
hakim di sini! Lagian kenapa gayamu kayak lagi manggil Chef di restoran
sih!"
"Wah,
kenyang, kenyang~"
Di saat yang
sangat pas, Ouka muncul. Sepertinya dia baru selesai makan di kantin. Dia masuk ke kelas sambil
menepuk-nepuk perutnya dengan puas.
"Ah, pas
banget Pak Hakim-nya sudah kembali."
"Heh, dari
sisi mana pun dia itu cuma si Ouka, kan..."
"Hm?
Sepertinya ada aroma keributan yang menarik nih."
Gawat, firasatku
bilang urusannya bakal makin ribet...
"Pak Hakim,
orang ini adalah pelaku kriminal yang mencoba mencuri hak kekayaan intelektual
orang lain. Berikan dia hukuman yang setimpal."
Hak kekayaan
intelektual matamu... candaan soal babi dibilang kekayaan intelektual.
"Aku
nggak begitu paham sih, tapi HUKUM MATI saja."
"INI MAH
BUKAN LEVEL SIDANG KILAT LAGI!"
"Sudah
diputuskan ya. Sana gih, cepat dipanggang jadi babi guling."
"AKU
BUKAN BABI!"
Sambil
mengabaikan bantahanku, Yukihira melanjutkan dengan nada datar.
"Pak Hakim,
ada dua poin perdebatan kali ini. Pertama tentu saja apakah terdakwa 'Bersalah
atau Tidak Bersalah'. Dan yang kedua adalah apakah terdakwa itu 'Manusia
atau Babi'."
"NGGAK
NYAMBUNG!"
"Kesimpulannya,
pilihannya adalah terdakwa itu 'Bersalah atau Babi'."
"MAKIN NGGAK
NYAMBUNG!"
"Amakusa-kun,
manusia dan bersalah itu dalam satu sisi bisa dibilang sama. Karena, manusia
adalah makhluk penuh dosa yang hidup di atas pengorbanan nyawa makhluk lain...
Ya, bisa dibilang, keberadaan manusia itu sendiri adalah sebuah dosa."
"KENAPA KAMU
JADI SOK KEREN GITU SIH!"
"Ayo Pak
Hakim, saatnya membacakan vonis."
"Woi,
kecepetan! Belum ada diskusi apa-apa juga!"
Lagian, apa yang
mau didiskusikan soal pilihan "Bersalah atau Babi" coba?!
"Kalau gitu,
Babi."
"AKU BUKAN
BABI!"
"Kalau gitu,
Bersalah."
"AKU NGGAK
BERSALAH!"
"Padahal Pak
Hakim sudah berbaik hati mengubah vonisnya, tapi sikapmu malah begini... Bisa
nggak sih jangan main-main terus?"
"KALIAN YANG MAIN-MAIN! Dari sisi mana pun yang lagi bercanda itu KALIAN!"
"Tapi ya
gimana ya~ Suara tiruan babinya Amacchi tadi kedengeran sampai luar kelas lho,
terus dia juga sering ngelakuin hal-hal kriminal kan~"
"Ugh..."
Kalau dibilang
begitu, aku nggak bisa balas. Memang sih secara teknis aku sering melakukan hal-hal yang masuk
kategori tindak pidana ringan.
"Benar.
Amakusa-kun itu entah kenapa terasa seperti babi, dan entah bagaimana terasa
seperti orang bersalah."
"Terasa
gimana... itu kan murni subjektivitasmu doang!"
"Amakusa-kun.
Kalau kamu berpikir seorang individu bisa menghakimi orang lain dengan
objektivitas mutlak, itu namanya egois."
"KENAPA JADI
SOK FILOSOFIS GITU!"
"Sekarang
pilihlah, Amakusa Kanade! Mau hidup sebagai babi di kandang babi, atau hidup
sebagai manusia yang dijebloskan ke sel penjara!"
"DUA-DUANYA
NGGAK MAU!"
Sumpah, aku sudah
nggak kuat menghadapi dua orang ini.
"WOI!"
Tiba-tiba pintu
terbuka lebar, dan Utage-sensei menerobos masuk ke kelas.
"Geh..."
Sensei langsung
menyerbu ke arahku dan tanpa ba-bi-bu langsung mencengkeram kerah bajuku.
"Amakusa,
kau... kudengar kau bawa babi ke kelas terus kau elus-elus terus ya?"
"Nggak
mungkinlah! Sensei, sebenarnya Anda menganggap murid Anda ini apa sih?"
"Penyuka
babi (Butasen)."
"Jangan
dibilang kayak penyuka cowok gendut (Debusen) gitu dong!"
"Yah, itu
tadi cuma bercanda sih. Tapi masalahnya, banyak laporan masuk ke ruang guru
kalau ada suara menjijikkan kayak babi dari kelas satu.
"I-itu...
memang aku sih."
"Kan?
Amakusa-kun, seperti biasa, kalau kau bikin masalah kayak begini terus
kubiarkan bebas tanpa hukuman, aku nggak bisa kasih contoh ke murid lain,
kan?"
Ya, aku tahu itu
cuma alasan formalitas Anda, tapi mbok ya pura-pura saja. Pura-pura disiksa
sedikit terus dibawa ke ruang bimbingan konseling atau apa gitu... eh, tapi
kenapa cengkeramannya makin kencang?!
"Ooh...
sensasi jari yang menancap di daging ini, sudah lama aku tidak
merasakannya."
Orang ini
mulai menggumamkan hal-hal berbahaya!
"Gawat...
darahku mulai mendidih. Kayaknya ini nggak bakal selesai kalau cuma
sebentar."
Aneh,
aneh, orang ini beneran aneh!
"Amakusa. Ya, begitulah."
"Bukannya
gitu! Gueeeeeh!"
Tanpa
sempat memprotes, entah bagaimana ceritanya, kesadaranku perlahan memudar.
◆◇◆
"Jadi?"
"Jadi, jadi
matamu SOMPLAK! Harusnya ada kata-kata lain yang keluar dari mulutmu,
kan!"
Di ruang
bimbingan konseling. Begitu aku sadar, wali kelasku itu langsung mencoba bicara
seolah-olah tidak terjadi apa-apa, membuat kekesalanku meledak.
"Tenang
saja, manusia nggak bakal mati cuma gara-gara begitu doang."
"Masalahnya
bukan di situ, woi!"
"Aku ini
profesional dalam hal piting-memiting, jadi aku tahu persis batas aman di mana
orang nggak bakal tewas. Dulu aku sering dijuluki 'Utage si Pencerabut Nyawa',
lho."
"Itu mah judul film yakuza!"
Bukan nama panggilan yang pantas disandang oleh guru Bahasa
Jepang... Sebenarnya dia berasal dari dunia mana, sih?
"Tapi ya, kalau aku nggak bertindak begitu, keributan
di kelas tadi nggak bakal reda, kan?"
"Bakalan reda, kok! Justru Anda yang bikin masalahnya
makin gede!"
Terserah dia mau bernostalgia sambil kegirangan, tapi aku
ini tadi mendadak dipiting sampai pingsan dan hampir kena trauma mental. Begitu
aku komplain, wajah Utage-sensei tampak sedikit menyesal—tumben-tumbenan.
"Yah, mungkin aku memang agak kelewatan... Oke deh,
sebagai gantinya, aku bakal kasih tahu cara yang bagus."
"Cara yang bagus?"
"Iya. Ada satu 'titik saraf yang bisa menghapus ingatan
lima menit terakhir'."
Mencurigakan banget!
"Sekarang masih sekitar lima menitan sejak kejadian
tadi, kan? Gimana? Kalau mau lupa soal yang tadi, mau kucoba?"
"Nggak, makasih... Ngomong-ngomong, titik sarafnya ada
di sebelah mana?"
"Oh, di bagian belakang kepala. Karena aku nggak tahu
titik persisnya, jadi kepalamu harus dibenturkan berkali-kali ke dinding atau
lantai."
"Itu bukan titik saraf, itu mah namanya
penganiayaan!"
Beneran
deh, orang ini sebenarnya siapa... Tapi ya, orang yang ibaratnya menjadi
perwujudan dari kata 'sombong dan angkuh' ini pun ternyata pernah mengalami
masa-masa terkena kutukan. Aku tidak bisa membayangkan Utage-sensei
dipermainkan oleh Pilihan Mutlak...
"Sensei,
apa Anda benar-benar pernah dikutuk?"
Pertanyaan
yang keluar secara spontan itu membuat tubuh Utage-sensei tampak bergetar
sesaat.
"Ya...
Sebenarnya, sifatku jadi agak kasar begini ya gara-gara kutukan itu. Kamu pasti
paham, kan? Kalau benda sialan itu muncul di kepalamu setiap saat, sifat paling
lurus pun bakal jadi bengkok. Padahal aslinya aku itu orangnya lebih pendiam,
polos, lemah lembut... Ya, singkatnya, aku ini adalah definisi dari Yamato
Nadeshiko (wanita ideal Jepang)."
"BOHONG
BANGET!"
Suaraku
keluar secara refleks.
"NGOMONG
APA LO, HAH?!"
Ya
habisnya... mana mungkin aku bisa percaya kalau Anda menunjukkan sikap
mengancam begitu. Jujur saja,
Anda itu menakutkan, tahu.
"Cih... ya
sudahlah, lupakan soal itu. Terus, soal kejadian sesuatu yang jatuh dari langit
kemarin, gimana kelanjutannya?"
Sensei
bertanya sambil bersandar santai di kursinya. Oh, ternyata dia perhatian juga ya. Aku pun
melaporkan secara mendetail tentang bagaimana Chocolat akhirnya menetap di
rumahku, sampai percakapanku dengan Tuhan Alay itu.
"Ternyata
misi kampret itu datang juga ya..."
Wajah Sensei
tampak mendung setelah mendengar ceritaku.
"Ngomong-ngomong,
misi itu sebenarnya apa sih? Karena isinya aneh banget, aku jadi nggak punya
niat buat ngerjainnya."
Membuat Yukihira
tertawa? Hubungannya sama Pilihan Mutlak itu nggak nyambung banget.
"Dengerin
ya, itu misi serius."
"Hah?"
Atmosfer
di sekitar Utage-sensei berubah.
"Tuhan
sama pelayannya memang nggak jelas, dan isi misinya juga sering kali kelihatan
kayak bercanda. Tapi, kalau
kamu gagal sekali saja, kutukan itu nggak bakal bisa lepas selamanya... Itu
fakta."
Mendengar nadanya
yang begitu kaku, aku menahan napas.
"Nggak ada
gunanya mikirin 'kenapa'. Begitu misinya muncul, mau nggak mau kamu harus
menyelesaikannya. Dengar ya Amakusa, kerjakan seolah nyawamu jadi
taruhannya."
Melihat ekspresi
Sensei, jelas sekali kalau dia tidak sedang mengancam atau bercanda.
"Yah, aku
bakal terus kasih dukungan kayak biasanya, sisanya tergantung perjuanganmu
sendiri."
Dukungan bagian
mananya yang kayak tadi... aku menggerutu dalam hati, tapi memilih diam karena
kalau protes nanti urusannya makin panjang.
"Jadi, isi
misi yang super penting itu apa? Coba liat ponselmu bentar."
Setelah memeriksa
isinya, Sensei menatapku dengan tatapan penuh rasa iba.
"...Kasihan
sekali kamu."
"Eh, bentar,
kenapa reaksinya kayak 'Wah, mampus deh dia' gitu?"
Melihat reaksi
Utage-sensei, rasa cemas mulai merayap naik dengan cepat. Tapi ya, membuat
Yukihira tertawa dari lubuk hati paling dalam sebelum besok berakhir... Rasanya
mustahil banget.
◆◇◆
"Maka dari
itu—"
Selama pelajaran
sore berlangsung, pandanganku terus tertuju ke tengah kelas, ke arah tempat
duduk Yukihira. Yukihira
sedang mendengarkan penjelasan guru sambil menopang dagu dengan tangan. Seperti
biasa, ekspresinya datar, tapi harus kuakui fitur wajahnya memang sangat
cantik.
Nggak,
nggak, ini bukan waktunya mikirin hal santai begitu. Kalau aku nggak bisa bikin
dia tertawa terbahak-bahak sampai besok, urusannya bakal gawat.
Justru
karena ada contoh nyata seperti Utage-sensei yang berhasil melepas kutukan, dan
karena ada harapan kalau suatu saat ini akan berakhir, aku bisa bertahan
menghadapi tuntutan Pilihan Mutlak yang tidak masuk akal selama setahun
ini.
Tapi kalau aku
gagal menjalankan misi dan kutukan ini dipastikan nempel seumur hidup... Itu
mah namanya pengumuman "Game Over" bagi hidupku.
"Kukaaa~"
Suara dengkur
Ouka dari kursi belakang menarik kembali kesadaranku. Dia tertidur dengan
sangat bahagia sampai air liurnya menetes ke buku catatan.
"Fufu...
asyik, hamburg... ada nasi kari juga..."
Dia mimpi apaan
sih? Kayak anak kecil saja. Kalau misi ini targetnya si Ouka yang instingnya
selalu on begini, pasti gampang banget. Yah, percuma juga mengharapkan
hal yang nggak mungkin. Aku kembali mengalihkan pandangan ke Yukihira.
Masalah utamanya
adalah, aku belum pernah melihat Yukihira tertawa. Kalau lagi asyik bercanda
atau nge-garing, dia memang sering meninggikan suara atau memberikan reaksi
yang berlebihan, tapi begitu selesai, wajahnya langsung kembali datar tanpa
ekspresi.
Tiba-tiba,
Yukihira yang sepertinya merasakan pandanganku menoleh mendadak, membuat mata
kami bertemu secara langsung.
"Ugh..."
Bukannya aku
sedang melakukan hal yang salah, tapi ketahuan menatap orang secara intens itu
tetap saja memalukan.
Yukihira seolah
bisa membaca pikiranku; dia menyipitkan matanya sedikit, lalu kembali menatap
ke arah papan tulis.
Dan setelah
pelajaran berakhir. Yukihira berjalan lurus menuju mejaku.
"Amakusa-kun,
sayangnya sesering apa pun kamu melihatku, hubungan antara aku dan kamu tidak
akan berubah."
Ini...
jangan-jangan dia salah paham mengira aku menyukainya karena terus-terusan
menatapnya?
"E-eh, bukan
begitu Yukihira, itu sama sekali buk—"
"Aku
tidak bisa menjadi adikmu."
"...Hah?
Kamu ngomong apa sih?"
"Sebenarnya,
di episode 330 anime 'Mahou Seinen Grigua 5' yang tayang kemarin, muncul
item sihir baru bernama 'Kacamata Aku Sayang Kakak'. Efeknya adalah, jika kamu
memakainya lalu menatap punggung orang lain dengan tajam, siapa pun orang itu
akan berubah menjadi adik perempuanmu."
Setting-an yang absurd banget. Kok bisa
anime kayak gitu lanjut sampai 300 episode lebih...
"Ngomong-ngomong,
ada kakek usia seratus tahun yang berubah jadi adik perempuan, lalu mulai
bermesraan dengan karakter utamanya."
"EMANGNYA
SIAPA YANG MAU NONTON HAL KAYAK GITU!?"
"Aku
kira Amakusa-kun yang sudah mendapatkan 'Kacamata Aku Sayang Kakak' itu sedang
mencoba mengubahku menjadi adikmu."
"Mana
mungkin item sihir beneran ada di dunia nyata!"
"Tapi kan
orang-orang bilang, kalau laki-laki sudah lewat umur tiga puluh tahun dan masih
'begitu', mereka bakal jadi penyihir."
"Bisa nggak
jangan seenaknya nentuin masa depanku!"
Berlawanan dengan
ucapannya yang super ngaco, wajah Yukihira tetap datar tanpa ekspresi.
Membuat orang ini tertawa terbahak-bahak... Rasanya beneran
mustahil banget.
3
"Aku pulang... lho?"
Begitu sampai di rumah, sosok Chocolat tidak terlihat.
Padahal si bodoh itu tadi bilang "serahkan urusan rumah padaku", tapi
dia malah kelayapan keluar sendirian...
"Yah,
sudahlah."
Sekarang bukan
saatnya memikirkan Chocolat. Aku harus segera memikirkan cara untuk membuat
Yukihira tertawa.
"......Nggak
bisa."
Sambil memasak
makan malam, aku terus memikirkan hal itu, tapi sama sekali tidak ada ide yang
muncul. Lagipula, aku ini bukan pelawak atau apa pun, jadi menyuruhku membuat
orang tertawa dari lubuk hati yang paling dalam itu dasarnya memang mustahil.
Yah, seperti kata
Utage-sensei, mau tidak mau aku harus menyelesaikannya. Tapi masalahnya, ini
bukan sesuatu yang bisa diselesaikan cuma dengan mengandalkan semangat atau
tekad membara...
Tepat saat aku
menghela napas pendek sambil mematikan kompor, di saat yang sangat pas,
Chocolat pulang.
"Aku
pulang!"
"Ooh, dari
mana saja kamu... eh, tas apa itu?"
Chocolat yang
melompat masuk ke ruang tamu membawa ransel yang tampak penuh sesak di
punggungnya.
"Ini barang-barang untuk membuat Furano-san tertawa!
Aku menghabiskan waktu seharian untuk mengumpulkannya demi Kanade-san!"
Dengan wajah riang, dia menurunkan ranselnya ke lantai.
Yah, mengingat dia yang menyiapkannya, tingkat ekspektasiku
sebenarnya sangat rendah. Tapi
karena sekarang aku belum punya ide sama sekali, rasanya aku ingin mencoba apa
pun meski itu cuma harapan palsu. Baru saja aku hendak mengulurkan tangan ke
ransel itu untuk memeriksa isinya—
"Hmm... bau
enak apa ini?"
Chocolat mengendus-endus ke arah dapur.
"Ah, itu Pot-au-feu (sup daging dan sayuran)
buat makan malam."
"P-pot-au-feu... Jadi di rumah ini keluar masakan yang gaul
begitu ya?"
Baru kali ini aku melihat ada orang yang benar-benar
mengucapkan kata "gaul" di kehidupan nyata. Lagipula, kurasa Pot-au-feu yang merupakan
masakan rumahan sederhana tidak ada unsur gaul-nya sama sekali.
"Yah, kita
lihat isi ranselnya dulu... Nggak deh, makan dulu saja."
"Ayo,
ayo!"
Kalau sudah
dikasih ekspresi wajah mirip anjing yang disuruh "tunggu" begini,
mana bisa aku memeriksa barang dengan tenang.
"Hap...
hoaaa... ini... gimana ya... beneran... terasa banget pot-au-feu-nya!"
"Anjing"
peliharaanku ini ternyata punya kosakata yang sangat miskin. Yah, tapi kalau
melihat pipinya yang mengendur saking nikmatnya, aku tahu dia sangat puas
dengan rasanya.
"Nah,
sekarang boleh aku lihat isi ranselnya?"
"Ah, benar
juga. Fufufu, kalau begitu ayo kita langsung keluarkan senjata
pamungkasnya!"
Dia
menyerahkan sebuah buku yang terselip di kantong luar ransel.
"10 Cara
Mendapatkan Senyuman Gadis ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi Raja Modus!~"
......Asli,
buku ini baunya mencurigakan banget. Terus, tolonglah itu selera judul tambahannya dikondisikan.
"Coba
kulihat."
Buku jenis begini
biasanya 90% tidak berguna. Tapi biar bagaimanapun, karena Chocolat sudah susah
payah membelinya, rasanya tidak sopan kalau langsung dikembalikan tanpa
dilihat, jadi aku membukanya sekilas. Ilustrasinya banyak sekali, tapi bukunya
lumayan tebal, sepertinya bakal melelahkan kalau dibaca sampai habis.
Daftar Isi:
《① Puji dia dengan kata 'Kamu cantik, ya'》
Isinya mendadak sangat to-the-point,
tapi memang benar sih, tidak akan ada gadis yang merasa buruk kalau dipuji
seperti itu.
《Penjelasan: Jika gadis itu tidak cantik, cobalah
katakan dengan nada sedikit bercanda, 'Kamu cantik banget deh (wkwk)'》
Itu mah namanya
menghina, woi!
《② Memuji dengan menggunakan metafora》
Versi
pengembangan dari nomor satu ya? Misalnya seperti "Senyumanmu seindah bunga matahari", atau
semacam itu. Agak memalukan sih, tapi kalau disampaikan dengan benar, perempuan
pasti senang.
《Penjelasan: Contoh untuk gadis yang mukanya
panjang (muka kuda): 'Hei Nona! Wajahmu seolah-olah sedang mengejar wortel ya!'》
YANG ADA DIA
BAKAL NGAMUK!
《③ Pokoknya lakukan apa pun yang dia inginkan》
Kalau ini gimana ya... kurasa tergantung
situasinya juga sih.
《Penjelasan: Yah, meskipun apa yang menanti di
depan sana belum tentu sebuah kebahagiaan...》
KALAU GITU JANGAN
DITULIS!
《④ Pertama, cobalah kamu sendiri yang tertawa》
Oh, kalau ini
isinya lumayan mendalam. Memang benar, kalau diri sendiri saja tidak merasa senang, mana mungkin
bisa membuat orang di sekitar tersenyum.
《Penjelasan: Sebagai catatan, saat penulis
mempraktikkan hal ini di depan seorang anak kecil sambil memakai mantel dan
kacamata hitam di musim panas, anak itu malah menangis ketakutan.》
ITU MAH NAMANYA EKSIBISIONIS CABUL!
《Tangisan anak kecil itu... haah haah...》
PAK POLISI,
ORANGNYA DI SINI!
《⑤ Kasih uang》
Nggak boleh,
dong! Hal kayak gini nggak boleh dilakukan! Memang sih, mungkin mereka bakal tersenyum
sementara.
《Penjelasan: Senyuman yang didapat dengan
metode ini 100% adalah palsu.》
Penulisnya
sendiri nggak paham tujuan bukunya apa, ya?!
《⑥ Gebuk saja bokongnya terus-menerus》
Tunggu, tunggu,
apa-apaan ini tiba-tiba?
《Penjelasan: Istri penulis kalau diginiin bakal
langsung senyum tanpa syarat.》
Ini mah bukan
level Masokis lagi, woi!
《Tapi ya, aku sendiri lebih suka digebuk daripada
menggebuk sih...》
Sana
gebuk-gebukan sendiri saja!
"Buku apaan
sih ini..."
Aku mulai merasa
mual. Aku tidak menaruh harapan sama sekali pada isi selanjutnya, tapi karena
sudah terlanjur, aku memutuskan untuk membacanya sampai akhir.
《⑦ Coba katakan, 'Kurasa, akan lebih baik kalau kamu tersenyum'》
PLAGIAT JUDUL
ANIME, KAN!
《Penjelasan: Saat pacarmu yang biasanya tanpa
ekspresi bertanya, 'Di saat seperti ini, aku tidak tahu harus memasang wajah
seperti apa', cobalah balas dengan kalimat itu.》
SITUASI KAYAK
GITU NGGAK BAKAL ADA DI DUNIA NYATA!
《⑧ Membicarakan rencana tahun depan》
Itu mah
peribahasa soal Iblis yang tertawa! Tadi sama yang ini, cakupan penggunaannya
sempit banget!
《Penjelasan: Meskipun cara ini sering dianggap
hanya berlaku untuk Iblis, tapi perlu diingat bahwa setiap wanita memelihara
Iblis di dalam hatinya.》
"Melihara"
matamu! Kenapa kamu sok-sokan pengen bilang kalimat yang terdengar puitis
begitu!
《⑨ Tersenyumlah...》
Apa ini?
Ini yang paling nggak jelas sejauh ini. Aku memiringkan kepala sambil membaca penjelasannya.
《Penjelasan: Boleh saja!》 (T/N: Plesetan dari acara TV
Jepang "Waratte Iitomo").
PENULISNYA SUDAH
NGGAK NIAT KERJA YA!
《⑩ Menggelitik》
KAMU LAGI
NGELEDEKIN GUA YAAAAA!
"CEPAT TARIK
BUKU INI DARI PEREDARAN!"
Saking marahnya,
aku membanting buku itu ke lantai.
"Lho, bukunya nggak membantu ya?"
"Iya, nggak berguna satu milimeter pun."
Lagipula, fakta bahwa buku ini bisa beredar sebagai produk
itu sendiri adalah sebuah keajaiban. Tolonglah penerbitnya kerja yang bener.
"Masa sih?"
Chocolat mengambil buku yang terlempar di lantai dan
membacanya dengan penuh minat.
"Iya
kan? Nggak bermutu, kan?"
Gimana caranya
isinya bisa dikembangkan sampai jadi 300 halaman lebih? Aku malah penasaran
soal itu.
"Nggak kok,
seru lho. Jurus rahasia '48 Teknik Menggelitik' semuanya ada
ilustrasinya."
Apaan tuh...
nggak mutu banget.
"Sudahlah.
Aku mau mandi dulu."
Aku meninggalkan
ruang tamu setelah berpamitan pada Chocolat yang entah kenapa matanya tampak
berbinar-binar.
◆◇◆
"Oi, oi...
kamu masih baca itu?"
Selesai mandi,
aku kembali ke ruang tamu sambil mengeringkan kepala dengan handuk, dan
Chocolat masih terlihat asyik membaca.
Kurasa buku itu
tidak ada nilainya, tapi karena tidak ada alasan untuk melarangnya, aku duduk
di sofa dan menyalakan TV.
Awalnya aku
sempat berpikir ingin memeriksa isi ransel yang belum dibuka, tapi kalau
senjata pamungkasnya saja buku sampah itu, kurasa cuma buang-buang waktu saja
melihat yang lainnya.
Aku memindah
saluran ke acara komedi, siapa tahu bisa jadi referensi.
"...Pfft."
Isinya adalah
acara bincang-bincang biasa yang mengumpulkan para pelawak, tapi memang
profesional itu beda, mereka lucu. Tapi, kalau aku memakai bahan yang sama dan
langsung menceritakannya ke Yukihira, pasti tidak akan lucu.
Gimana ya, komedi
itu bukan cuma soal materinya, tapi juga soal membangun suasana, soal timing,
dan gabungan berbagai elemen kompleks. Rasanya aku tidak punya bakat di sana.
Terus gimana cara
membuat Yukihira tertawa? Saat pikiranku mulai berputar-putar tanpa jawaban,
tiba-tiba tangan seseorang hinggap di bahuku.
"Hm?
Chocolat?"
"Kanade-san,
aku sudah menguasai '48 Teknik Menggelitik'. Aku benar-benar tidak sabar ingin mencobanya
langsung."
Dengan
senyum penuh percaya diri, Chocolat melompat ke atas sofa.
"Lagi
pula, ini adalah kesempatan bagus untuk melakukan skinship."
"Skinship?"
"Benar.
Meskipun aku sangat ingin membantu, tapi Kanade-san selalu bersikap dingin. Aku sadar itu karena hubungan kita cuma
sebatas permukaan saja. Untuk bisa lebih akrab, kita butuh sentuhan kulit ke
kulit!"
Kenapa kamu bisa
sampai ke kesimpulan nggak jelas begitu? Alasan aku bersikap dingin itu murni
karena meladeni kamu itu melelahkan, tahu—eh?
Mendadak tubuhku
dibalikkan dengan paksa, dan kedua tangannya menyelinap masuk ke bawah ketiakku
untuk menahanku.
"W-woi,
apa-apaan kamu, lepaskan... gila, kuat banget!"
Daiko-san dan
Utage-sensei memang punya kekuatan super, tapi ini levelnya beda jauh. Padahal
badannya terasa empuk, tapi cengkeramannya terasa sangat kokoh seolah dikunci
oleh catok besi.
Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya... Masalahnya adalah, dadanya... dadanya nempel di punggungku!
"Fufu,
percuma saja melawan."
Ditambah lagi,
aroma apa ini... Wangi, benar-benar wangi dan manis. Aroma yang tak bisa
dilukiskan ini membuatku merasa seolah otakku mulai meleleh... Logikaku...
gawat...
"Oh,
ekspresimu mulai mengendur dengan cara yang bagus ya, Kanade-san."
Tunggu,
tunggu, tunggu! Tenang, diriku! Dia ini memang penampilannya gadis cantik, tapi
dia itu makhluk asing yang tidak jelas asal-usulnya, bukan manusia, dia itu
cuma seperti seekor anjing yang mendekat sambil mengibas-ngibaskan ekor...
Benar, anjing! Dia anjing!
Dia cuma
seekor anjing.
Masa aku
nafsu sama peliharaan sendiri, sih. Sebagai pemilik, aku harus mendidiknya
dengan benar.
"Oi
Chocolat, lepaskan, ini perin—ahfuu!"
Gara-gara aku
menggeliat, tangan Chocolat yang menyelinap dari bawah ketiak menyentuh puting
susuku, membuat suara aneh keluar dari mulutku.
"Fufu, kalau
begitu kita mulai. Pertama, 'Waki-ga Kuzushi'!"
"Eh, bentar
ma—BUHAHAHA!"
Ketiakku
digelitik habis-habisan.
"Bagus
sekali, lanjut ke 'Midare Ura-Botan'!"
"Ch-Chocolat, kubilang berhenti... GYAHAHAHAHAHA!"
Aku
menggeliat kegelian di atas sofa.
"Yang
ini agak luar biasa lho, 'Kiku-za Ichimonji'!"
"Woi,
bentar, di situ jangan HYAHAHAHAHAHA!"
"Fufu, skinship
yang sesungguhnya baru dimulai dari sini."
"Ihi...
ihi... cukup de—IHYA HYA HYA HYA HYA HYA HYA!"
◆◇◆
"Ahahaha...
aha... ahahahaha."
Sepuluh menit
kemudian. Aku yang terkapar di lantai diliputi oleh perasaan euforia yang luar
biasa.
Aku tertawa.
Entah kapan terakhir kali aku tertawa sebanyak ini.
"Ahahaha...
Chocolat... tertawa itu, hal yang luar biasa ya..."
"K-Kanade-san
jadi terlihat lebih berbahaya dari biasanya."
Sial, seluruh
tenagaku terkuras habis, aku bahkan tidak punya sisa kekuatan untuk membalas
ucapannya.
Lagipula,
aku mengantuk. Benar-benar mengantuk... Apa aku tidur saja ya... Nggak, nggak boleh, aku belum memikirkan cara
membuat Yukihira tertawa... Benar, aku tinggal melakukan ini saja ke
Yukihira...
Misiku selesai,
Yukihira juga jadi merasa senang, bukankah itu sekali dayung dua pulau
terlampau?
Ah, tapi kalau
aku yang melakukannya bakal jadi pelecehan seksual, ya... Kalau minta tolong
Chocolat yang melakukannya, misinya tidak akan terhitung selesai, kan...
Ahh, tapi
tetap saja aku mengantuk... ngantuk banget...
ï¼”
"A...
Aduh!"
Baru
pertama kali aku terbangun dengan keadaan sakit begini.
"Di
sini... ruang tamu?"
Kenapa
aku tidur di tempat begini? Tadi malam... oh iya, si Chocolat mulai melakukan
hal-hal nggak jelas seperti '48 Teknik Menggelitik' itu.
Terus aku merasa
keenakan dan tertidur... tidak, aku ingat sampai situ, tapi kenapa badanku
sakit semua begini?
"Ugh..."
Sambil
menyemangati otot-otot di seluruh tubuhku yang terasa kaku, aku melangkah
menuju meja dan mengulurkan tangan ke buku "10 Cara Mendapatkan
Senyuman Gadis ~Dengan Ini Kamu Akan Menjadi Raja Modus!~" yang
tergeletak di sana.
Penyebabnya pasti
cuma ini. Aku membalik halaman sampai ke bagian '48 Teknik Menggelitik'. Di
bagian paling akhir, ada catatan kaki dengan tulisan merah.
※Perhatian!
Jika kamu menguasai 48 teknik ini, kamu akan merasakan kenikmatan yang luar
biasa, namun sebanyak apa pun kenikmatan yang kamu rasakan, efek sampingnya
juga akan menyerangmu.
Apa-apaan itu...
ngawur banget. Dan di
sampingnya, ada kutipan dari karakter moe yang sedang berkedip.
『Di dunia ini, nggak ada hal yang terlalu indah
untuk jadi kenyataan, lho! ☆』
"Lho
matamu!"
Aku emosi, emosi
banget! Nanti akan kutelepon dan kuberikan komplain. Penerbit mana sih yang
mengeluarkan buku ini? Saat kulihat punggung bukunya, di sana tertulis:
'Penerbit UOG'.
"ELU
LAGI!"
Refleks,
aku membanting buku itu ke dinding.
"Terus
sekarang jam berapa... gawat."
Begitu
melihat jam di dinding, ternyata sudah waktunya aku berangkat sekolah seperti
biasanya. Sial, padahal aku nggak pernah bangun kesiangan sebelumnya...
Terpaksa, hari ini aku nggak sarapan.
Aku nggak punya waktu buat bangunin Chocolat. Lagian dia
pasti cuma lagi tidur nyenyak dengan santainya, jadi ditinggal pun nggak
masalah. Sambil mencambuk badanku yang menjerit kesakitan, aku berusaha keras
mengganti pakaian.
Kemarin teknik
yang Chocolat pakai ke aku paling cuma sekitar belasan (seingatku). Kalau
segitu saja sudah sesakit ini, gimana jadinya kalau kena full course...
Sambil gemetaran membayangkan hal itu, aku keluar ke lorong.
Untungnya rasa
sakitnya mulai mereda, mungkin karena efeknya tidak permanen.
"...Oh iya,
ada barang ini ya."
Ransel yang waktu
itu ada di depan pintu masuk. Sebuah memo dengan tulisan tangan bulat yang mencolok tertempel di
sana.
『Dengan ini, Furano-san juga
bakal, DUAARR, lho, DUAARR! Dari Chocolat』
Gimana ya bilangnya, kalimatnya kelihatan bego banget.
Awalnya aku berniat memeriksa isinya, tapi tas itu tampak
sangat penuh seolah-olah akan meledak saat dibuka.
Yah, lumayanlah
daripada nggak ada apa-apa sama sekali. Sambil merasakan beban berat di pundakku, aku
membuka pintu depan.
"Ternyata...
nggak bisa ya."
Selama perjalanan
ke sekolah, aku terus memikirkan ide komedi yang lucu, tapi sampai tiba di
kelas pun aku tidak menemukan apa-apa. Begitu membuka pintu dan melihat seisi
ruangan, mataku tertuju pada Yukihira yang berdiri tegak di dekat jendela.
Sambil memikirkan
apa yang harus kulakukan, aku mendekatinya, dan tiba-tiba saja dia berbalik
tanpa peringatan.
"Ara,
Amakusa-kun, Oha-Yoghurt!"
...Salam yang
benar-benar bikin bingung bagaimana harus menanggapinya.
Ini aku harus
gimana? Protes, atau biarkan saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa?
Biasanya sih aku
bakal pilih salah satu dari itu, tapi hari ini aku harus membuat Yukihira
tertawa terbahak-bahak. Kalau aku nggak punya semangat buat membalas
lawakannya, bakal gawat.
"Oi, oi,
bukannya itu sudah MOO-da lama... MOO."
Aku mencoba
memadukan kata yoghurt sebagai produk susu dengan suara sapi.
Yukihira
menunjukkan ekspresi terkejut sesaat, lalu kembali ke wajah datarnya dan
menatap mataku tajam.
"Kurasa
itu garing banget."
...Ditolak
mentah-mentah.
"Amakusa-kun
memadukan yoghurt sebagai produk susu dengan suara sapi, kan?"
"Bisa
nggak jangan dijelasin pakai nada datar begitu!"
"Apalagi,
mungkin karena merasa kurang jelas, kamu mengulanginya sekali lagi di akhir.
Benar-benar usaha yang sangat mengenaskan."
"Kejam
banget sih lu!"
"Terlebih
lagi, kamu terlihat agak malu dan sempat ragu sebelum mengucapkannya yang kedua
kali. Padahal rasa malu dari seorang cowok SMA itu sama sekali nggak ada
peminatnya di seluruh dunia."
"Anu...
bisakah Anda cukup sampai di sini saja?"
"Baiklah,
kita cukupkan saja sampai di sini. Ngomong-ngomong, selera humor menghubungkan sapi dengan 'moo'... (wkwk)
aku nggak tahu harus bilang apa lagi."
"Punya
lu juga nggak jauh beda, woi!"
"Ara,
tidak sopan ya. Salamku ini sudah diakui sebagai salam resmi oleh majalah
KoroK*ro Comic, jadi sudah tercantum di kamus juga, lho."
"Gimana
kalau ada anak kecil yang percaya?!"
Yukihira
sudah berada di performa puncaknya sejak pagi buta.
"Yukihira."
Begitu jam
pelajaran pertama selesai, aku langsung menuju meja Yukihira. Batas waktuku
cuma hari ini. Aku nggak punya waktu buat ragu hanya karena gagal di awal.
"Ara, ada
apa Amakusa-kun?"
"Anu, ada
sesuatu yang ingin kuperlihatkan."
Tiba-tiba wajah
Yukihira memerah dan dia mulai bertingkah gelisah.
"Eh...
jangan dong. Anu, hal seperti itu... masih siang begini."
"SAMA SEKALI
BUKAN HAL KAYAK GITU YANG LU BAYANGIN!"
"Ara, sayang
sekali ya."
Dalam sekejap
ekspresi Yukihira kembali menjadi tenang.
"Jadi, apa
yang ingin kamu tunjukkan?"
"Itu... sebuah one-liner (lawakan pendek)."
Yukihira menunjukkan wajah curiga. Ya wajarlah, aku sendiri
yang ngomong saja nggak tahu kenapa aku melakukan hal ini.
"Begini,
aku kan biasanya cuma bagian protes (tsukkomi) terus, kan? Karena itu ngebosenin, aku pikir
sekali-kali pengen nyoba jadi yang ngelawak (boke)."
Aku
mencoba mengarang alasan yang terdengar masuk akal.
"Begitu
ya, dan hasilnya adalah bencana besar pagi tadi."
"Bisakah
Anda berhenti menaburkan garam di atas luka?"
"Baiklah.
Kalau begitu, mari kita saksikan one-liner yang katanya paling lucu
sepanjang sejarah itu."
...Nih orang
kenapa malah ninggiin ekspektasi seenaknya, sih.
"Silakan,
Amakusa Kanade-san dengan judul: 'Patung Nio yang Baru Lahir'."
"MANA BISA
KAYAK GITU!"
Sial, nggak bisa.
Aku harus melakukannya dengan caraku sendiri.
"A-aku mulai
ya... 'Anjing Laut yang Tiba-tiba Sadar Geografi di Tengah Gonggongan'."
"Prok prok
prok."
Tanpa ekspresi,
Yukihira mengeluarkan suara tepuk tangan dari mulutnya... Rasanya kayak lagi
diremehkan, tapi aku harus melakukannya. Ini adalah materi andalanku yang
kupikirkan matang-matang sepanjang jam pelajaran pertama. Aku merangkak di
lantai dan membusungkan tubuh bagian atasku.
"OW OW OW! OW
OW... OW! OWUU, ouu, PEGUNUNGAN OU*!"
(T/N: Nama pegunungan di Jepang, bunyinya mirip dengan suara
gonggongan anjing laut "Ou").
"…………"
Hening
yang sangat mencekam menyelimuti ruangan.
Beberapa
detik kemudian, Yukihira berbicara dengan nada yang lebih robotik dari
biasanya.
"Amakusa-kun,
kurasa lebih baik kamu diam saja dan jadi bagian protes seperti biasa."
Ya... aku sendiri
juga mikir gitu.
"Tapi
Yukihira, kalau kamu kasih pendapat jujur, itu bakal jadi referensi buatku
nanti."
"Garing
banget, mending kamu mati saja."
"Sampai segitunya?!"
...Misi, gagal total.
Selesai jam
pelajaran kedua.
"Yukihira,
coba lihat ini."
Aku kembali ke
meja Yukihira tanpa rasa jera.
"Mentalmu
tangguh juga ya."
Yukihira
menatapku dengan sedikit kagum. Ya iyalah, kalau aku nggak berhasil nyelesaiin
ini, aku bakal terikat sama Pilihan Mutlak seumur hidup.
"Jadi,
lawakan pegunungan macam apa lagi yang mau kamu tunjukkan sekarang?"
"Nggak lah,
setelah garing kayak tadi, aku nggak bakal nyoba yang mirip-mirip lagi."
"Ada apa?
Aku nggak percaya Amakusa-kun bisa mikirin hal lain selain pegunungan."
"Woi, kenapa
aku malah dianggap punya fetish pegunungan?!"
"Tapi kan
kemarin Amakusa-kun bilang, 'Haa... haa... gawat Yukihira. Aku nggak puas cuma
sama gunung biasa. Aku cuma bisa horny kalau lihat pegunungan!'"
"Mesum macam
apa itu!"
Ujung-ujungnya
kembali ke ritme biasanya. Memang sih, bagian protes lebih cocok buatku, tapi
hal-hal nggak biasa ini cuma kulakukan sampai hari ini saja.
Bakal kubikin dia
ketawa secepatnya, terus tamat!
"Sebenarnya,
aku mau nyoba 'Patung Nio yang Baru Lahir'."
"...Amakusa-kun,
ada perbedaan antara keberanian dan kenekatan."
"Hei,
yang ngusulin ide ini kan Anda sendiri!"
"Yah,
kalau kamu memang berniat bunuh diri secara sukarela, aku nggak punya hak buat
melarangnya."
Sial... tapi
selama 50 menit ini, aku sudah memikirkan ini matang-matang dan yakin ini bakal
berhasil. Percayalah pada dirimu sendiri!
"ZUGOGOGOGOGOGO,
ZUGOGOGOGO. Ossu, saya Patung Nio. Baru saja lahir ke dunia. ZUGOGOGOGO,
ZUGOGOGOGOGO."
"…………"
Hening mencekam
kembali menyelimuti ruangan.
...Wahai diriku,
kenapa tadi aku kepikiran kalau ini bakal berhasil?
"Amakusa-kun,
kurasa Patung Nio memang terlihat lebih keren kalau diam saja."
Kupikir dia bakal
menghinaku habis-habisan, tapi komentar Yukihira ternyata cukup halus.
"Dan kurasa
Amakusa-kun juga lebih baik diam saja, selamanya."
"A... iya... maaf ya."
...Misi, gagal total.
Selesai jam olahraga ketiga.
"Haa... haa... Yukihira... haa... lihatlah...
punyaku."
Napas aku terengah-engah setelah lari kencang kembali ke
kelas.
"Amakusa-kun,
kalimat rumpangmu itu terdengar sangat mesum, lho."
"Itu...
kebetulan sekali... karena yang mau kulakukan sekarang... motifnya memang
mesum."
"Begitu ya,
jadi kamu mau menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Mungkin itu bakal lebih lucu
daripada lawakan garingmu."
Aku
menahan diri buat nggak protes dan mengatur napas. Sekarang fokus ke materinya.
"Ini dia,
'Telepon dari Si Mesum'."
Pasti lucu... ini
pasti berhasil!
"K-Kakak,
sekarang lagi pakai celana dalam warna apa? Eh? Malu? Nggak apa-apa kali, nggak
bakal luntur ini. Eh? Sebelum nanya ke orang lain, mending kasih tahu punya
sendiri dulu? Gufufu... tentu saja aku nggak pakai celana dalam! Soalnya aku
kan mesum!"
"…………"
Untuk ketiga
kalinya, hening mencekam menyelimuti ruangan.
"Amakusa-kun,
sebelum bicara soal lucu atau nggak lucu... ini menjijikkan."
"...Maafkan
aku."
"Dan tentu
saja, garing."
"...Maafkan
aku."
"Lagian, punchline-nya
mana?"
"...Maafkan
aku."
"Singkatnya?"
"...Maafkan
aku."
...Misi, gagal
total.
Setelah itu, di
jam keempat, istirahat siang, jam kelima, sampai jam keenam, aku terus-terusan
gagal total. Sampai akhirnya jam pelajaran terakhir selesai tanpa hasil sedikit
pun.
Gawat, gawat
banget! Aku menahan rasa panik dan menghentikan Yukihira yang sedang bersiap
pulang.
"Yukihira,
tunggu sebentar."
"Amakusa-kun,
maaf ya tapi setelah ini aku ada urusan, jadi aku pergi dulu."
"Eh?"
Belum sempat aku
bicara, Yukihira sudah mengambil tasnya dan berjalan pergi dengan cepat.
"Woi, oi
tunggu sebentar..."
Berniat
menghentikannya, tiba-tiba gerakanku terhenti. Apa kalau aku pakai lawakan yang
terpikir sekarang Yukihira bakal tertawa? Jawabannya TIDAK.
Tapi apa yang harus kulakukan... Di tengah keputusasaan,
mataku tertuju pada ransel yang tergantung di samping meja. Benar, aku
benar-benar lupa kalau masih punya barang ini.
Aku menyampirkan ransel itu di pundak dan mengejar Yukihira
keluar kelas.
Bukannya menuju tangga loket sepatu yang ada di sebelah
kanan kelas, Yukihira malah berjalan ke arah berlawanan di lorong. Ada urusan
di sekolah?
Aku membuntutinya di sela-sela murid lain yang berpapasan
denganku.
Yukihira berhenti di antara ruang kelas 7 dan 8. Lalu, dia
mulai melihat sekeliling dengan gelisah. Aku bersembunyi di balik dinding agar
tidak ketahuan.
Mungkin karena saat ini semua orang fokus untuk pulang atau
pergi ke klub, tidak ada yang memperhatikan Yukihira selain aku.
Yukihira menaiki tangga dengan langkah cepat. Aku
mengikutinya setelah memberi jarak sedikit.
Meskipun
lantainya berbeda, tata letaknya sama, jadi di atas sana adalah antara kelas
3-7 dan 3-8. Aku melihat lorong yang memanjang ke kiri dan kanan, tapi tidak
ada sosok Yukihira.
Apa dia masuk ke
salah satu kelas?
Tapi Yukihira kan
nggak ikut klub, dan apa dia punya kenalan anak kelas tiga?
"Satu lagi
tempat yang mungkin..."
Aku menengadah.
Di sana ada tangga menuju atap. Tapi atap sekolah kan dilarang dimasuki karena
alasan keamanan, dan di depan tangga ini juga dipasang pembatas kerucut merah
dan palang hitam-kuning.
"Hm, apa
ini?"
Di tengah debu
yang menumpuk di tangga itu, terlihat bekas sepatu seseorang dengan jelas.
Bukan cuma satu, tapi banyak.
Tapi rasanya
nggak mungkin ada banyak orang yang mau repot-repot masuk ke tempat seperti
ini.
Artinya, ada satu
orang yang kemungkinan besar sudah menggunakan tangga ini berkali-kali.
Dan melihat
situasinya, orang itu pasti Yukihira. Aku melompati pembatas dan menaiki
tangga.
Pintu besi menuju
atap terlihat cukup tua. Di sana tertempel kertas besar bertuliskan 'Dilarang Masuk'.
Aku
mencoba memutar gagang pintunya. Cklek, pintunya terkunci. Apa Yukihira
menguncinya dari dalam?
"Nuuooooh!"
Aku
mencoba memutarnya dengan paksa, tapi pintunya tidak bergeming sedikit pun.
Sial... apa aku
harus menunggu Yukihira keluar? Nggak, aku nggak punya waktu buat
santai-santai—
Pilih:
① "Fuhahahaha! Wahai pintu dunia iblis yang tabu
dan kokoh! Tunduklah padaku dan lepaskan segelmu!"
② "Ooo tayang-tayang Pintu-chan, karena kamu anak
baik, bisa nggak ya biarkan kakak lewat~"
Apa-apaan ini...
aku disuruh ngomong begitu? Kalimat memalukan kayak gini?
Yah, meskipun aku
nggak punya pilihan lain sih.
Untuk jaga-jaga,
aku memastikan keadaan di bawah. Tidak ada tanda-tanda orang... baiklah.
"Fuhahahaha!
Wahai pintu dunia iblis yang tabu dan kokoh! Tunduklah padaku dan lepaskan
segelmu!"
Setelah
suaraku bergema, keheningan kembali menyelimuti tempat itu.
"Berat
juga ya... ini."
Justru
karena nggak ada yang dengar, rasanya malah makin memalukan. Sambil memerah,
aku memegang gagang pintu.
Cklek.
"TETEP
NGGAK KEBUKA, WOI!"
Benda ini
beneran ngerjain aku. Lihat
saja ya Pilihan Mutlak sialan, kamu bakal kuhancurkan suatu saat nanti!
Langkah
pertamanya, aku harus menembus tempat ini. Mau nggak mau harus pakai kekerasan—
"Lho?"
Saat aku memegang
gagang pintu lagi, tiba-tiba gagangnya copot. Apa ini hasil dari pilihan tadi,
atau cuma karena sudah tua saja?
Yah, apa pun
alasannya, jalan sudah terbuka. Aku membuka pintu dan masuk ke atap.
"Ooooh."
Tanpa sadar aku
berdecak kagum.
Pemandangannya
luar biasa. Bukan cuma lapangan sekolah yang luas, tapi karena letaknya di
dataran tinggi, seluruh kota bisa terlihat jelas. Rasanya seperti berada di dek
observasi.
"Bentar,
sekarang bukan waktunya buat kagum, Yukihira di mana?"
Atap ini cukup
luas sebanding dengan ukuran gedung sekolah, tapi karena tidak ada penghalang
apa pun, aku segera menemukan Yukihira.
Tapi
penampilannya agak aneh. Dia bersujud di lantai dengan lemas. Singkatnya, dia sedang merangkak.
Benar-benar posisi orz yang sempurna.
"Oi,
Yukihira."
Aku
memanggilnya dari jauh, tapi dia sepertinya tidak sadar.
"Yukihiraaa!"
Aku
mendekat dan memanggilnya lebih keras, tetap tidak ada reaksi.
"Kenapa...
kenapa aku begini ya..."
Meskipun
aku sudah berada tepat di sampingnya, dia tidak sadar dan terus bergumam
sendirian.
"Kejadian
kemarin lusa itu nggak dimaafkan... kenapa aku melakukan hal sejahat itu ke
pembawa acaranya... meskipun dia ngejek dadaku kecil sih... tapi waktu itu aku
gugup banget karena banyak yang dengar sampai pikiranku kosong... uuh, maafkan
aku, maafkan aku, ternyata aku memang nggak cocok siaran sekolah..."
Perasaan janggal
yang sangat kuat.
"Kenapa...
kenapa aku selalu begini... apalagi ke Amakusa-kun, aku selalu ngomong yang
nggak-nggak... ah, aku pasti dianggap cewek aneh... Apa sesi introspeksi diri
sendirian ini harus dilakukan lebih sering daripada seminggu sekali ya?"
Ini... beneran
Yukihira?
"Tapi kan
Amakusa-kun juga salah. Biasanya kelihatan normal, tapi tiba-tiba minta pegang
dada atau ngomong mesum, terus tiba-tiba telanjang. Hari ini juga dia
makin aneh dari biasanya... Padahal aku pengen ngobrol lebih normal... lagian
kenapa sih aku jadi mikirin Amakusa-kun terus..."
"Oi, Yukihira."
Aku mencoba mencolek pundaknya.
"Tuh kan,
sekarang sampai ada halusinasi suara Amakusa-kun..."
"Nggak,
aku emang di sini."
"Haha... aku
beneran sudah kacau hari ini."
"Dibilangin
aku ada di sini, woi."
Aku melambaikan
tangan di depan wajah Yukihira yang masih menghadap ke bawah.
"...Eh?"
Akhirnya Yukihira
mendongak.
"Yo."
Mata kami
bertemu.
"…………"
"Anu,
Yukihi—"
"KYAAAAAAAAAAAAAA!"
Yukihira
mengeluarkan teriakan seolah kiamat sudah tiba, lalu sambil tetap terduduk, dia
mundur dengan kecepatan luar biasa!
"O-oi..."
"K-k-k-kenapa
A-Ama... Amakusa-kun ada di sini?!"
"Anu, aku
ada urusan sama kamu, makanya aku ikutin... Apa aku ganggu?"
"G-g-g-ganggu
atau nggak itu bukan masalahnya, j-jangan-jangan... kamu lihat?"
"Lihat
apa... yang kamu merangkak sambil gumam nggak jelas tadi?"
Pufff, dengan suara misterius, wajah
Yukihira langsung memerah padam seperti gurita rebus, dan sesaat kemudian, dia
pingsan terjatuh.
"Woi, kamu
nggak apa-apa, Yukihira?!"
Aku segera
menghampirinya dan mengguncang tubuhnya.
"U... un..."
Syukurlah,
dia nggak benar-benar hilang kesadaran. Meskipun merasa bersalah, aku
mengangkat tubuhnya dan menepuk pipinya pelan agar dia sadar.
Setelah beberapa
kali, mata Yukihira perlahan terbuka.
"Oh,
syukurlah. Kamu nggak apa-apa, Yukihira?"
"Eh... eh?
Eh? Amakusa-kun? Aku? Eh? Eh?..................!!"
Sepertinya
Yukihira baru sadar kalau dia sedang dipeluk olehku, dan tubuhnya tiba-tiba
bergetar hebat.
"U... u..."
"Ugh?
Kenapa? Apa yang mau kau katak—Hah?"
"Uwaaaaaaaaah!"
Sebuah hantaman
keras mendarat tepat di daguku, membuat kesadaranku terpental jauh ke alam
baka.
◆◇◆
"……Ngh?"
Kesadaranku
perlahan mulai pulih.
"Ara,
akhirnya kamu bangun juga?"
Sosok Yukihira
yang sedang bersedekap sambil menatap rendah ke arahku mulai terlihat.
"Yukihira...... Eh, kenapa aku bisa ada di tempat
begini?"
Ah, benar juga. Karena aku harus membuat Yukihira tertawa,
aku mengejarnya sampai ke atap dan......
"Lho, terus
setelah itu apa yang terjadi?"
Rasanya aku
melihat sesuatu yang sangat mengejutkan, tapi kepalaku terasa seperti dipenuhi
kabut, memoriku tidak mau tersambung dengan benar.
"Sebenarnya
apa yang—Aduh! Apa-apaan ini, sakit banget! Aduh!"
Tanpa sadar
tanganku meraba bagian belakang kepala. Di sana, sudah muncul benjolan raksasa
yang besarnya tidak masuk akal.
"Ah, itu
hasil perbuatanku yang terus-menerus membenturkan bagian belakang kepalamu ke
beton."
"KAMU LAGI
NGAPAIN SIH, WOI?!"
"Maaf ya.
Tadi aku mencoba 'Titik Saraf Penghilang Ingatan Lima Menit Terakhir' yang
pernah diajarkan Douraku-sensei padaku."
"Suruh guru
itu berhenti ngajar sekarang juga!"
Kalau
diingat-ingat, dia memang pernah bilang begitu kemarin, tapi barang sampah
begitu ternyata diajarkan ke murid lain juga ya...... Lagian, ini bukan soal
titik saraf atau apa, kamu cuma membunuh sel otakku dengan tenaga kasar, tahu!
"Amakusa-kun,
sebenarnya di atap ini sudah ada orang sebelum kita. Kamu pasti pernah dengar
rumornya, kan? Yamato-kun dan Zara-kun dari kelas lima. Mereka berdua tadi
sedang asyik melakukan 'perbuatan tidak senonoh' di sini."
"SERIUS?!"
Bahkan
aku yang tidak terlalu peduli dengan gosip pun pernah mendengarnya. Katanya di
kelas 2-5, ada dua cowok yang hubungannya kelewat akrab. Karena mereka berdua
tampan, kabarnya beberapa siswi sering heboh membicarakan mereka, tapi siapa
sangka kalau itu benar-benar nyata......
"Iya,
dan setelah melihatnya, kamu saking syoknya sampai pingsan sambil mengeluarkan
busa dari mulut. Karena kupikir ini bisa jadi trauma seumur hidup bagimu, aku
meminta mereka pindah tempat lalu memutuskan untuk melakukan pengobatan
ekstrem."
"Begitu ya...... Berarti aku terselamatkan......
kan?"
Yah, memori
seperti itu memang pasti ingin kuhapus dari otakku, sih. Tapi sebagai gantinya,
apa benjolan ini sepadan?
"......Syukurlah,
sepertinya berhasil."
"Hah? Kamu
bilang sesuatu?"
"......Bukan
apa-apa. Maaf ya, sepertinya aku melakukannya sedikit berlebihan."
Untuk sesaat, aku
merasa ekspresi Yukihira tampak diliputi kesedihan yang belum pernah kulihat
sebelumnya, tapi dia segera kembali ke sikap biasanya.
"Jadi, ada
urusan apa kamu mengejarku sampai ke tempat begini? Jangan-jangan, kamu mau
melanjutkan yang tadi siang?"
Benar juga.
Persetan soal ingatan itu, urusan ini lebih penting. Waktu yang tersisa sudah
sangat mepet.
"Iya,
begitulah."
"Lagian,
kenapa harus aku? Kalau cuma mau melawak, kurasa orang lain juga bisa."
Kalau aku jujur
bilang mau membuat dia tertawa terbahak-bahak di sini, dia pasti malah bakal
waspada.
"Nggak,
maksudku, kan aku hampir tiap hari membalas lawakanmu, tapi kupikir kamu itu
hebat ya. Bisa-bisanya kepikiran ide begitu. Makanya, aku mau kamu menilai
lawakanku."
"He~, hee...... Ternyata kamu punya selera juga ya.
Kalau kamu sampai sebegitu mengagumiku, aku tidak keberatan membantumu."
Apa
jangan-jangan, Yukihira ini lemah terhadap pujian? Ekspresi malunya itu benar-benar terlihat
seperti gadis biasa.
"—Begitulah
yang akan kukatakan kalau kamu pikir aku bakal tertipu!"
"SEBENARNYA
MAUMU APA SIH?!"
Dalam sekejap,
dia kembali ke wajah datarnya. Susah dipahami...... cewek ini
benar-benar susah dipahami.
"Nah, karena
basa-basi singkatnya sudah selesai, ayo kita mulai sesi pamer materinya."
Materi ya...... Yah, aku sendiri sudah sadar akan batas
kemampuanku. Aku memungut ransel yang tergeletak di lantai beton, lalu membuka
ritsletingnya.
"Owah!"
Ransel yang terlalu penuh itu meledak dan menumpahkan isinya
tepat saat ritsletingnya baru terbuka setengah. Yah, habisnya tadi memang sesak
banget, sih...... Aku akan memilih barang yang sekiranya bisa dipakai dari
tumpukan ini.
Pertama,
aku melirik benda yang meluncur ke dekat kakiku. Apa ini...... komik?
Pas aku ambil, ternyata ini seri komik komedi yang baru-baru ini dapat adaptasi
anime.
Nggak, ini memang lucu sih, aku juga membacanya, tapi
menyuruh Yukihira membacanya sekarang lalu tertawa itu rasanya agak mustahil.
"Ah, kalau yang itu, aku punya koleksi
lengkapnya."
Gagal total dua kali lipat. Sulit tertawa terbahak-bahak kalau sudah tahu isinya.
"Ngomong-ngomong,
bagian mana yang menurutmu paling lucu, Yukihira?"
Kalau barangnya
sendiri sulit dipakai, setidaknya aku ingin mencari tahu selera humornya.
"Bagian saat
ayah sang pahlawan wanita terkena tebasan pedang demi melindungi anaknya."
"ITU KAN
SATU-SATUNYA EPISODE YANG BIKIN NANGIS!"
"Habisnya
wajah pahlawan wanitanya yang berantakan karena air mata itu konyol
sekali."
"KAMU IBLIS
YA?!"
"Bercanda
kok, aslinya aku menangis sesenggukan."
"......Kok
kedengarannya bohong ya."
"Beneran
tahu, air mataku sampai membanjiri kamar dan aku hampir tenggelam."
"Anak SD
zaman sekarang pun nggak bakal pakai kebohongan kayak gitu!"
Sial...... Seperti biasa, aku malah masuk ke ritme Yukihira.
Lanjut, yang berikutnya. Aku mengalihkan pandangan.
"Ini......"
Kantong tertawa? Benda yang kalau dipencet bakal
mengeluarkan suara tawa terus-menerus itu, kan?
Yah, ada istilah 'tawa menular', jadi mungkin layak dicoba.
Aku mengambilnya lalu memencetnya di depan mata Yukihira.
『Ahyahyahyahyahyaya!』
Yap, suara tawa khas kantong tertawa. Oke, kalau mau memicu
tawa menular, harus diulang berkali-kali.
『Uwahha! Uwahha! Uwahha!』
Suara tawanya berubah drastis dari yang tadi. Sepertinya ada beberapa variasi suara.
『Fu, hahahahahaha geho......
geho! Gehon!』
"Woi, kalau
salah rekaman mbok ya diulang!"
『GEGYARA! GEGYARARA! GEGYARARARA!』
"Ini mah
suaranya sudah bukan manusia lagi!"
『Fufu...... Cuma segitu saja
kemampuanmu, Nak?』
"BUKAN GITU DONG! Memang ketawa sih, tapi kantong
tertawa tuh harusnya nggak begini!"
『Pu...... kukuku, Kondo-san itu...... masa, Kondo-san
memelihara......』
"KONDO-SAN ITU SIAPA?! Ini mah lawakan orang dalam
doang!"
『Wkwk.』
"DIAM!"
『Aku...... terkadang tiba-tiba
bertanya-tanya...... apa tidak apa-apa kalau aku cuma tertawa terus
begini......』
"Nggak apa-apa! Kamu itu kantong tertawa, jadi begitu
saja sudah benar!"
『Aku...... sudah tidak bisa
tertawa lagi......』
"SEMANGAT DONG, WOI!"
『Kantong tertawa yang tidak bisa
tertawa, hanyalah sebuah kantong biasa.』
"EMANG BENER SIH!"
Sudah, cukup. Aku membanting kantong tak berguna itu ke
tanah. Aku melirik ke arah Yukihira, tapi dia masih memasang wajah tenang tanpa
ada tanda-tanda bakal tertawa sedikit pun.
"Kalau boleh jujur, wajahmu saat sedang membalas
lawakan tadi malah lebih lucu."
Ternyata cara dia
menikmati sesuatu cukup unik ya.
"Be-Berikutnya,
lanjut!"
Namun,
barang-barang yang disiapkan Chocolat benar-benar jauh lebih tidak berguna dari
dugaanku.
《Kumpulan Lelucon Rahasia Suku Regero di Pelosok Hutan Belantara
~Mogorogururiregerorappa~》
"SUBJUDULNYA
KAN BELUM DITERJEMAHIN!"
Mana terbitan UOG
Press lagi...... Cepat bangkrut saja sana.
《Rakugo: Dua Puluh Master Era Showa》
"Malah Kaset
Pita!"
Gimana caranya
coba menikmati ini di atap sekolah?
《Aku Masih Bisa Tertawa! ~Bertanya pada Sepuluh Orang yang Kehilangan
Senyumnya, Metode Keluar dari Keterpurukan~》
"Ini mah
buku berat! Pasti nggak ada unsur lucunya sama sekali!"
Lalu aku melihat
potongan kertas yang terlipat. Saat kupungut, ada tulisan tangan Chocolat di
sana.
《Untuk Kanade-san, aku sudah memikirkan sesuatu yang hebat. Aku berikan
jurus 'Patung Ninomiya Kinjiro yang Jadi Preman dan Berambut Riezent'.》
"NGGAK BUTUH
BANGET!"
Aku meremas
kertas itu dan membantingnya sekuat tenaga ke tanah.
"L-Lanjut......"
Payah...... Semangatku sudah terkuras habis. Kalau aku saja begini, wajar kalau Yukihira mulai
kehilangan minat. Meski
ekspresinya datar, dia terlihat agak bosan sambil mengecek jam tangannya.
"Ara,
ternyata sudah lewat banyak waktu ya. Amakusa-kun, setelah ini aku ada latihan berkuda, jadi aku permisi
dulu."
Kh, gawat.
Alasannya pasti bohong, tapi hati Yukihira sudah ingin pulang. Hubungan kami
juga bukan yang bisa pulang bareng, kalau dia sudah keluar sekolah, bakal aneh
kalau aku mengejarnya hanya untuk membuatnya tertawa.
Lagipula dalam
situasi begitu, mustahil bisa memicu tawa yang tulus dari lubuk hati. Artinya,
saat ini adalah batas waktu yang sebenarnya.
Tapi, harus
bagaimana? Berjuang sendiri sepertinya mustahil, dan barang dari Chocolat juga
sampah semua...... Sial, ini benar-benar gawat.
Tepat saat itu, tiba-tiba Absolute Choice turun.
Pilih:
① Lawakan Klasik adalah Kunci. Mainstream
adalah yang Terhebat dan Mutlak
② Zaman Sekarang Itu Surealis. Kepekaan
yang Berbeda bakal Menciptakan Komedi Masa Depan]
Apa-apaan ini...... Klasik atau Surealis? Maksudnya aku
harus pilih mana yang bakal bikin Yukihira tertawa? Lawakan dia sendiri
biasanya condong ke surealis sih, tapi apa yang dia suka itu urusan lain lagi.
Ah, sudahlah! Dipikirkan juga nggak bakal tahu jawabannya.
Cuma buang-buang waktu saja. Nomor satu! Nomor satu!
Begitu aku memutuskan dan pilihan itu hilang dari kepalaku,
tidak ada hal istimewa yang terjadi. Sementara itu, Yukihira sudah mulai berjalan menuju pintu keluar.
"Yukihira!"
Yukihira menoleh
karena teriakanku yang sangat keras. Aku belum memutuskan apa yang akan
kulakukan setelah ini. Tapi setidaknya, aku harus menghentikannya dulu, atau
semuanya akan berakhir.
"Tunggu
sebent—Hah?"
Ada sensasi licin
di bawah telapak kaki yang kumajukan.
"ADUH!"
Aku terjatuh
dengan spektakuler, bagian belakang kepalaku menghantam beton dengan sangat
keras.
"Oooooogh!"
Benturan tambahan
tepat di atas benjolan tadi membuatku mengerang kesakitan selama beberapa saat.
"Gu...... ini...... kulit...... pisang?"
Aku bangkit dan
memeriksa pelakunya. Ternyata
di antara barang yang tumpah tadi, ada benda begini juga...... Nggak, tapi ini mah kelewat klasik, woi!
"Pu......
kuku......"
Tapi,
"Yukihira?"
Ada yang aneh
dengan suaranya.
"Di-Di zaman
sekarang, zaman sekarang masih ada yang pakai kulit pisang...... kuku."
Eh,
jangan-jangan, ini......
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Yukihira mendadak
meledak dalam tawa.
"Ahahaha!
A-Amakusa-kun, kamu, kulit pisang, kulit pisang! Di abad ke-21 masih pakai
kulit pisang! Apa-apaan, ini sketsa komedi zaman purba ya?! Pu,
kukukukuku!"
Aku hanya bisa
bengong tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa kulit pisang......
segitu lucunya buat dia?
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
"Hmm?"
Ponselku bergetar. Ada email masuk. Jangan-jangan, di waktu seperti ini......
Pengirimnya
adalah 'Tuhan'. Subjeknya adalah 'Mission Completed'. Aku segera
membukanya.
《Selamat. Silakan nantikan misi berikutnya dengan antusias.》
Eh? Serius? Begitu saja...... sudah dianggap clear?
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Yah, kalau dia dibilang tidak tertawa dari lubuk hati
setelah melihat ini, dia pasti pantas dapat piala Oscar. Saking hebatnya tawa
itu meledak.
"Ku...... kuhuhu...... Ampun, perutku, perutku sakit
sekali!"
Tawanya
tidak mau berhenti, sampai-sampai dia berlutut merangkak sambil gemetaran.
Yukihira Furano...... Ternyata bukan cuma sifatnya yang beda
dari orang normal, selera humornya juga aneh.
Awalnya tawanya sempat mereda menjadi tawa kecil, tapi
sepertinya sakelarnya tertekan lagi. Dia sampai berbaring telentang di lantai sambil tertawa keras.
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Melihatnya
menendang-nendang kaki dengan air mata di sudut mata, wajahnya yang cantik jadi
berantakan. Jujur saja, sama sekali tidak bisa dibilang anggun.
Tapi, ekspresi
Yukihira yang tertawa lepas sambil memegangi perut itu entah kenapa terasa jauh
lebih memikat dibanding ekspresi apa pun yang pernah kulihat darinya sampai
sekarang, hingga aku tidak bisa memalingkan mata darinya untuk beberapa saat.



Post a Comment