NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 1 Interlude 2

Interlude 2

Bicara Soal Sebuah Kemungkinan — Bagian 2


Pacarku itu sedikit aneh.

Wajahnya yang cocok dengan rambut semi-long itu sangat imut, dia juga tipe gadis rumahan yang baik hati karena suka membuatkan makanan seperti kue kering atau pot-au-feu buatanku sendiri.

Tapi, entah bagaimana ya, terkadang di sela-sela ucapannya itu sering kali terpancar aura kelaki-lakian......

"Nggak mungkin banget, Anjir! Ah, maksudku...... nggak mungkin banget ya!"

Contohnya seperti itu. Karena dia orangnya asyik, dia sering memberikan respons spontan atau tsukkomi kepada orang-orang di sekitarnya. Nah, di saat itulah, penggunaan bahasa laki-lakinya terasa sangat mencolok.

Bukan cuma kata-katanya saja, tapi tindakannya juga begitu. Beberapa waktu lalu, aku sampai panik saat harus menghentikannya yang hampir saja salah masuk ke toilet laki-laki. Dia cuma tertawa sambil bilang kalau itu kebiasaan lamanya yang tidak sengaja muncul, tapi aku benar-benar tidak paham maksudnya apa.

Padahal kalau soal dia itu benar-benar perempuan tulen, anu, itu...... bagaimanapun juga, aku sendirilah yang paling tahu.

Ah, benar juga. Selain itu, dia punya kebiasaan bicara yang aneh.

"Seandainya waktu itu aku jujur saja bilang John Manjiro......"

Sepertinya dia mengucapkannya setengah tidak sadar, tapi tiap kali aku tanya apa maksudnya, dia tidak pernah mau memberitahuku.

Lalu, terkadang dia suka melamun seolah jiwanya sedang tidak ada di sana. Ini cuma perumpamaan sih, tapi dia seakan-akan sedang melihat dunia lain yang bukan di sini......

"Kamu kenapa?"

Suaranya menarik kembali kesadaranku. Ternyata yang sedang melamun tadi itu malah aku. Wajahnya yang sedang menatapku dengan cemas itu...... ya, memang imut sekali.

"Nggak, bukan apa-apa kok. Ayo pergi."

Demi mengusir rasa cemas di hatiku, aku menggenggam erat tangan Kanade-chan dan mulai melangkah pergi.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close