NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 4 Chapter 1

Chapter 1

Masalah Kakak Kelas yang Kelewat Mesum dan Aneh


1

"Kalau kalian cuma bisa bengong begitu, biar aku saja yang ambil, ya."

Salah satu dari 'Reject 5' kelas tiga, Mitsu Hisamitsu-senpai, memberikan tatapan penuh arti ke arah Ouka, Yukihira, dan Chocolat, lalu tiba-tiba saja dia menempelkan tubuhnya ke tubuhku.

"Tunggu—"

KENA! Payudaranya kena, nih!

"A-Apa yang Kakak lakukan?!"

Aku buru-buru melompat mundur.

I-Inilah yang dipikirkan orang ini sebenarnya? Aku baru saja berpikir kenapa dia tiba-tiba menerobos masuk ke kelas, eh, tahu-tahu malah melakukan tindakan agresif begini....

"Fufu, tentu saja ini ritual pendekatan untuk kawin."

Sambil berkata begitu, Hisamitsu-senpai tersenyum misterius. Penampilannya benar-benar sudah melampaui level 'berantakan'.

Kancing blusnya cuma terpasang satu atau dua saja, dan karena dadanya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang ramping, kemeja itu kelihatan sangat sesak seolah mau meledak.

"Yah, akhir-akhir ini aku sedang dalam masa birahi, sih."

Dari tatapan matanya yang menggoda, Hisamitsu-senpai memancarkan aura dewasa yang benar-benar di luar nalar.

"Ugh..."

Lagi-lagi dia menempel padaku, hingga aku bisa merasakan hembusan napas manisnya.

"Fufufu... Amakusa-kun, mari kita lakukan hal enak bersamaku."

"H-Hal enak itu maksudnya apa?"

"Tentu saja se—"

"Bisa bicara sebentar?"

Tepat saat itu, suara Yukihira terdengar dari belakang, memotong perkataan Hisamitsu-senpai.

Yukihira berjalan mendekat, lalu mengarahkan pandangannya tepat ke arah dada Hisamitsu-senpai.

"Datang ke kelas orang lain lalu tiba-tiba memamerkan benda asusila, menurutku itu agak kurang sopan."

Benda asusila katamu...

"Ah, maaf ya. Habisnya, seluruh tubuhku ini memang benda asusila."

Bukannya marah karena ucapan kasar yang tiba-tiba itu, Hisamitsu-senpai malah menunjukkan respons dewasa dengan senyuman... Tidak, tapi apa yang dia katakan sama sekali tidak masuk akal.

"..."

Yukihira menatap Hisamitsu-senpai dalam diam. Entahlah, ekspresinya memang datar seperti biasanya, tapi dia jelas-jelas memancarkan suasana yang penuh permusuhan terhadap Senpai.

Lalu, satu sosok lagi mendekat.

"Oya, Oya, Ouka-kun juga ada apa?"

"Aku nggak begitu paham, sih... Tapi entah kenapa aku merasa aura yang nggak enak dari Hisamitsu-senpai!"

Ouka menyela di antara aku dan Hisamitsu-senpai, sambil memberikan tatapan judes. Ada apa ini? Jarang-jarang Ouka menunjukkan ekspresi seperti itu.

Meski menerima permusuhan (?) dari mereka berdua, Hisamitsu-senpai bukannya tersinggung, malah menunjukkan ekspresi yang sangat gembira.

"Aaah... kalian berdua manis sekali, ya."

Dia kemudian berjalan mendekat tepat ke hadapan Yukihira.

"Permisi sebentar, ya."

Dan tanpa ragu, dia langsung menyentuh dada Yukihira.

"...Biarpun Anda seorang senior, menyentuh payudara orang lain tanpa izin itu tindakan yang tidak terpuji."

Padahal seingatku, Yukihira sendiri dulu pernah meremas-remas dada Chocolat sepuas hatinya... Yah, terlepas dari itu, dia memang hebat.

Normalnya, kalau ada gadis yang tiba-tiba diperlakukan begitu di depan umum, pasti sudah panik setengah mati, tapi dia terlihat sama sekali tidak bergeming.

"Fufu, sesuai rumor, kau memang anak yang menarik... Tapi,"

Hisamitsu-senpai memasang senyum menantang dan menghentikan gerakan tangannya.

"Sebenarnya, bukannya kau sudah mencapai batasmu?"

Tangannya yang tadi menempel di dada, kini merayap perlahan menuju arah ketiak. Dan saat jarinya menyentuh satu titik tertentu—

"Hiu-?!"

Yukihira tiba-tiba terduduk lemas di lantai.

A-Ada apa?

"Kh..."

Dia mencoba untuk bangkit, tapi sepertinya kekuatannya tidak mau keluar.

"Fufufu... Karena aku baru saja menekan titik saraf yang 'sedikit' sensitif, kau tidak akan bisa berdiri dengan mudah."

Hisamitsu-senpai menatap Yukihira dengan puas.

"Nah, selanjutnya..."

Pandangannya kini beralih pada Ouka.

"Mu-mumu!"

Merasakan bahaya, Ouka mengambil langkah mundur.

"Oya oya Ouka-kun, kita kan sesama anggota 'Reject 5', jangan merasa risi begitu dong."

Sambil bertingkah jenaka, Hisamitsu-senpai melangkah maju.

"Hisamitsu-senpai! Kecepatanku jauh lebih tinggi, jadi biarpun Kakak mau melakukan hal mesum, Kakak nggak akan bisa menangkapku!"

Sesuai ucapannya, kemampuan fisik Ouka memang luar biasa.

Dia selalu menunjukkan spek yang jauh melampaui orang lain saat pelajaran olahraga, dan bahkan di semester kedua kelas dua ini, tawaran dari berbagai klub olahraga masih tidak ada habisnya.

Bukan cuma di kalangan perempuan, bahkan dibandingkan dengan laki-laki pun, hanya sedikit orang yang bisa menandingi kemampuan atletiknya.

"Begitu ya, yah, mungkin saja."

"Betul kan... Eh?"

Tiba-tiba Hisamitsu-senpai menunjukkan gerakan yang licin seperti pohon galah yang bergoyang, dan tahu-tahu, dia sudah berada di belakang Ouka.

"Fufu, kena."

"K-Kok bisa?!"

Hisamitsu-senpai mengunci Ouka dengan posisi seperti memeluk dari belakang.

"Fufu, kemampuan fisikmu memang hebat, tapi gerakanmu masih terlalu banyak yang sia-sia."

"L-Lepaskan!"

Ouka meronta-ronta sekuat tenaga, tapi dia tidak bisa lepas dari kuncian Hisamitsu-senpai yang terlihat tidak menggunakan banyak tenaga itu.

"Untuk menangkap orang, tidak selamanya kita butuh kecepatan atau kekuatan yang lebih unggul, tahu... Aaah, ini benar-benar payudara yang bagus."

"H-Hentikan—!"

Hisamitsu-senpai mulai meremas-remas dada Ouka dari belakang.

"Nggaaak mauuu!"

Mengabaikan Ouka yang meronta, Hisamitsu-senpai terus memainkan jarinya, hingga beberapa saat kemudian, dia melepaskan tangannya dari dada Ouka.

"Fuu, rasanya aku masih ingin meremasnya lagi, tapi... kelemahanmu itu di sini, kan?"

Sambil berkata begitu, dia mengelus lembut pusar Ouka yang terekspos.

"Eh... Tunggu... Nggaaak!"

Jeritan Ouka naik satu oktaf lebih tinggi.

"Ah... ha... h-hentikan—"

Tanpa memedulikan Ouka yang menggeliat kegelian, Hisamitsu-senpai terus mengelus area di sekitar pusarnya.




"Ah... ah..."

Kekuatan perlahan hilang dari tubuh Ouka, dan—

"Hya... uuu."

Sama seperti Yukihira tadi, dia lunglai dan jatuh terduduk di lantai begitu saja.

"Fufu, ternyata mengutak-atik pusar gadis cantik bisa bikin gairah memuncak ya... Rasanya aku ingin menaikkan levelnya satu tingkat lagi."

Hisamitsu-senpai kemudian berjalan mendekati Chocolat.

"Fue?"

"Chocolat-kun, bolehkah aku menjilat pusarmu sebentar?"

"Apa-apaan yang Kakak katakan, sih!"

Saking sesatnya permintaan itu, aku sampai berteriak mewakili Chocolat.

"Boleh saja kok."

"Nggak boleh, bego!"

"Jangan mengganggu dong, Amakusa-kun. Kamu juga pasti mau kan, mencoba menjilat pusar gadis yang kamu sukai?"

"Mana mungkin! Aku bukan orang sesat sepertimu!"

"Sesat? Tidak juga, penyanyi legendaris Uta-maru-san pernah bilang begini kan: 'Sekali saja aku ingin melihat, wanita yang menjilat simpanan rahasianya'."

"Nggak ada hubungannya sama pusar! Lagian apa-apaan itu menjilat simpanan rahasia!"

"Lho, orang tua kalau mau menghitung uang kan sering menjilat jari supaya lembap? Gerakan itu apa tidak membuatmu bergairah?"

"Jangankan bergairah, itu malah bikin ilfeel tahu!"

Malahan kalau melihat itu, rasanya hatiku jadi agak mual, jadi tolong hentikan.

"Kalau begitu, mau jilat pusar Uta-maru-san bareng-bareng?"

"Sana lakukan sendiri! Sudah, ganti topik pusar ini!"

"Hmm, kalau kamu sampai bilang begitu, ya sudah, menjilat ketiak Chocolat-kun akan kusimpan untuk kesempatan lain."

"Kenapa fantasinya malah makin parah?!"

Sudahlah, aku capek menghadapinya...

Dari Hisamitsu-senpai ini, tercium bau-bau yang sama persis dengan Ouka dan Yukihira. Yah, makanya dia dikelompokkan ke dalam 'Reject 5'...

Menurut rumor, orang ini suka menggoda cowok yang sudah punya pacar, lalu menghancurkan hubungan mereka satu per satu. Katanya sudah tak terhitung berapa banyak pasangan yang dia rusak.

Karena itulah dia dijuluki 'Love Crusher'.

Yah, yang namanya rumor pasti selalu dilebih-lebihkan... tapi setelah melihat orangnya langsung, setidaknya rumor itu sepertinya bukan sekadar isapan jempol belaka.

"Nah, mari kita kembali ke topik utama."

Selagi aku berpikir begitu, Hisamitsu-senpai menjauh dari Chocolat dan melangkah tepat ke depanku.

"Topik utama... maksudnya, aku?"

"Benar, Amakusa-kun. Sebenarnya, aku menerima 'permintaan tertentu' dari Ketua Murid, Seira-kun, mengenai dirimu."

Mendengar nama itu keluar dari mulut Hisamitsu-senpai, aku refleks mengernyitkan dahi. Orang itu lagi...

Kokuryuin Seira. Ketua Murid sekolah kami, sang karisma dari SMA Seikou yang bertahta dengan gagah di peringkat satu Ranking Atas.

Dan dia adalah keberadaan non-manusia (mungkin) yang mengetahui rahasiaku soal Absolute Choice... tapi, kadang dia mengganggu misiku, kadang malah membantu, benar-benar tidak paham apa maunya.

Sepertinya dia memang senang melihatku jatuh bangun menderita... mungkinkah dia mengirim Hisamitsu-senpai ini juga bagian dari rencananya?

Yah, apa pun alasannya mendekatiku, Hisamitsu-senpai ini memang orang aneh yang persis seperti rumor—bahkan lebih parah.

Aku tidak tahu permintaan apa yang dia terima dari Ketua, tapi kalau terlibat lebih jauh sepertinya bakal merepotkan, jadi sebaiknya aku cuek saja—


Pilih:

Mengucapkan lelucon mesum dengan tema 'Jamur' Catatan: Jika malu sedikit saja, harus diulang.

Mengucapkan lelucon mesum dengan tema 'Pisang' Catatan: Jika malu sedikit saja, harus diulang.

Dunia Terbalik]


...Muncul juga, nih.

Tapi apa-apaan pilihan nomor itu? Dunia Terbalik? Belum pernah ada frasa seperti itu sebelumnya.

Yah, tanpa perlu ragu lagi, respon dalam situasi begini sudah jelas. Teorinya adalah: jangan pernah memilih sesuatu yang isinya abstrak dalam Absolute Choice.

Dalam kondisi tanpa Save atau Load, aku tidak boleh sembarangan memilih sesuatu yang berisiko dan tidak diketahui apa yang akan terjadi.

Kalau begitu, pilihannya tinggal atau ... Yah, mumpung masih ada sedikit waktu, mari pikirkan sesuatu yang ringan dan aman—

"Guaaaaaakh!"

Rasa sakit kepala yang hebat menyerang seolah-olah menghalangi proses berpikirku. G-Gawat, rasa sakit ini!

S-Sial, aku harus bicara apa saja!

"O-Oh, menu hari ini penuh dengan jamur kesukaanku, ya! Wah, aku jadi bergairah! Bu, minta nasi porsi jumbo! Jamur di selangkanganku juga sudah mau meledak, nih!!"

"""............"""

Para siswi langsung membuang muka dengan tatapan jijik... Ya, reaksi kalian normal kok. Malah kalau kalian tidak jijik, aku yang mempertanyakan kemanusiaan kalian.

Dan aku sendiri pun merasa jijik dengan jalan pikiranku sendiri. Kenapa yang muncul secara spontan malah kalimat begitu...

"Wah, Amakusa-kun. Kamu benar-benar menarik ya."

Tiba-tiba, tangan Hisamitsu-senpai bertengger di bahuku. Sepertinya orang ini tidak jijik... Aku jadi mempertanyakan kemanusiaan Anda, Senpai.

"Jadi, seberapa ukuran jamurmu itu?"

"Malah bahas gituan?!"

"Apakah yang kamu punya itu seukuran jamur Enoki ini? Atau jamur Shiitake ini?"

"Kenapa bertanya kayak cerita 'Kapak Emas Kapak Perak'!"

"Begitu ya, ternyata bukan keduanya, melainkan seukuran camilan 'Kin*ko no Yama' (Gunung Jamur)... kamu jujur sekali ya."

"Itu mah kecil banget!"

Ugh... siapa sih sebenarnya orang ini...

Di sampingku yang sudah merasa muak, Hisamitsu-senpai yang sepertinya sudah puas bercanda mulai membuka suara.

"Nah, mari kita akhiri foreplay-nya... maksudku, pembukaannya sampai di sini saja."

...Ternyata tadi dia belum puas bercanda.

"Amakusa-kun, aku ingin kamu mengabulkan satu permintaan sederhanaku."

Masih dengan gerakan yang menggoda, Hisamitsu-senpai memberikan tatapan mautnya. Tapi, apa pun permintaannya, jawabanku adalah TIDAK.

Tanpa diminta pun, aku sudah kewalahan menghadapi orang-orang aneh di sekitarku, pilihan-pilihan gila, dan misi-misi yang melelahkan. Aku tidak mau menambah masalah lagi.

"Tidak, aku agak keberat—"

"Kalau kamu menolak, aku akan membocorkan ke teman sekelasmu kalau kamu itu masih perjaka."

"Jangan, itu bakal merep... eh, kan barusan sudah Kakak bocorkan!"

"Teman-teman kelas 2-1 sekalian, ternyata benar Amakusa-kun masih perjaka, lho."

“““Sudah tahu!”””

"Kalian jangan jawab kompak begitu dong!"

Gerombolan cowok melihat ke arahku sambil cengar-cengir. Sialan, mereka itu...

"Kalau kamu menolak, aku akan membocorkan kalau kamu cuma bisa bergairah sama anak kecil di bawah sepuluh tahun."

"Kan sudah dibilang Kakak baru saja membocorkannya!"

"Teman-teman kelas 2-1 sekalian, ternyata benar Amakusa-kun itu pedofil, lho."

"""Sudah tahu!"""

"Makanya kalian diam!"

"Bukan begitu, Kanade-san itu sebenernya maho!"

"Jangan ikut campur dengan topik yang mengerikan begitu dong?!"

Chocolat tiba-tiba fade-in ikut nimbrung.

"""...Sudah tahu."""

"Kalian semua mati saja sana!"

Para berandalan itu menjawab kompak sambil mundur serentak... Apa mereka sudah latihan naskah sebelumnya?

"Wah, Amakusa-kun sepertinya sangat dicintai semuanya ya... maksudku, 'dibelai' oleh semuanya."

"""Nggak tuh."""

"...Aku mau dong."

"Eh, kok ada satu yang aneh nyelip?!"

"Hoaaa, aku ingin melihat Kanade-san dibelai-belai!"

"Otak fujoshimu itu diam saja!"

"Wah, luar biasa ya, Amakusa-kun. Semakin dikerjai, semakin banyak bahan lucunya."

Terserah Senpai mau pikir apa, aku sudah tidak mau berurusan lagi.

"Jadi, soal permintaan tadi, atau lebih tepatnya ini adalah tawaran, sih."

Mau permintaan atau tawaran, sesuatu yang keluar dari orang ini pasti tidak ada yang normal.

Tepat saat aku melangkah mundur berniat menolak apa pun yang dia katakan,

"Fufu, jangan terlalu waspada begitu dong."

Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik pelan.

"Maukah kamu mencoba jatuh cinta denganku?"

"...Eh?"

...Barusan, dia bilang apa?

"Senpai, bisa tolong ulangi lagi—"

Hisamitsu-senpai menutup mulutku dengan jari telunjuknya saat aku ingin bertanya ulang, lalu dia tersenyum menggoda.

"Haha, yah, untuk kali ini cukup sampai di sini saja."

"Tunggu, sebentar—"

"Kalau begitu teman-teman kelas 2-1 sekalian, maaf sudah mengganggu ya."

Tanpa sempat dicegah, dia langsung melenggang keluar dari ruang kelas.

"A-Apa-apaan tadi itu... Hmm?"

Saat itu, aku merasakan hawa keberadaan yang tidak biasa dari belakang dan menoleh.

"Hiih!"

Refleks suaraku jadi tinggi.

Saat aku menoleh, di sana berdirilah Yukihira yang diselimuti aura hitam pekat.

"A-Ada apa?"

Sepertinya dia sudah pulih dari serangan (?) Hisamitsu-senpai tadi, tapi...

"Mitsu Hisamitsu... Dasar Payudara Berantakan itu, tidak akan pernah kumaafkan."

"Payudara Berantakan katamu..."

"Aduh, bisakah Ampas Pen*s yang barusan terangsang sama Payudara Berantakan itu diam saja?"

"Kasar banget!"

Kapan pun aku mendengarnya, lelucon kotor anak ini memang parah... Saingan berat Hisamitsu-senpai yang tadi.

"Yukihira, kamu harusnya lebih sedikit—"

"...Yukihira?"

Kalimatku terpotong, dan dia malah melotot tajam padaku.

...Benar juga. Kalau diingat-ingat, gara-gara serangan mendadak Hisamitsu-senpai, aku jadi lupa kalau tadi kami sedang meributkan soal aku memanggilnya dengan nama kecil atau tidak.

Lho? Tapi kan tadi pas aku panggil nama kecilnya, dia malah menusuk leherku, marah, lalu keluar kelas... Terus aku harus bagaimana?

"Begini ya Yukihira, jadinya aku harus panggil kamu apa—"

"...Yukihira?"

Dia melotot lagi... Sepertinya memang tidak boleh memanggil dengan nama keluarga.

"F-Furano?"

"!?"

Tepat setelah aku memanggil nama kecilnya, mata Yukihira membelalak.

Dan di saat berikutnya—

"Guekh!"

Lagi-lagi leherku ditusuk.

"Geho! Geho! K-Kau mau membunuhku ya!"

"...Maaf."

Yukihira sepertinya menggumamkan sesuatu sambil sedikit menunduk, tapi karena aku sibuk terbatuk-batuk, suaranya jadi tidak terdengar sama sekali.

"Hah... pokoknya aku panggil Yukihira saja lah."

Kami bakal sering berinteraksi, kalau tiap kali memanggil saja leherku ditusuk terus, nyawaku bisa terancam.

"..................Hmph."

Yukihira berjalan kembali ke tempat duduknya tanpa sepatah kata pun.

Benar-benar ya, ada pepatah yang bilang kalau hati wanita itu secepat cuaca musim gugur, tapi Yukihira ini sudah melampaui level itu.

"Hah..."

Saat aku refleks menghela napas, aku melihat Ouka yang sedang berusaha bangkit dari lantai.

"Kamu tidak apa-apa?"

Aku mengulurkan tangan. Sepertinya dia baru saja pulih dari dampak (?) serangan Hisamitsu-senpai.

"Ma-Makasih."

Ouka terlihat masih agak sempoyongan.

"Mumu... Hisamitsu-senpai, hebat juga ya—"

Suaranya masih terdengar lemas. Bisa membuat Ouka selemah ini... sebenarnya cara mainin pusar macam apa yang dilakukan orang itu.

"Hah... benar-benar deh, cewek di sekitarku kenapa isinya orang aneh semua..."

"Ahaha."

...Bukannya kamulah pemimpinnya, Ouka-san?

"Ngomong-ngomong Kanacchi... entah kenapa kalau aku perhatikan, kamu sering banget bareng sama cewek ya—"

"Eh? Begitu ya?"

...Yah, kalau dipikir-pikir lagi, dalam proses menjalankan misi, aku memang jadi terlibat dengan banyak gadis.

Hubunganku dengan Ouka dan Yukihira memang sudah dari awal, tapi dalam sebulan terakhir ini, Chocolat jadi menumpang di rumahku, lalu perjuanganku demi melihat celana dalam Yawakaze, interaksi dengan Ketua Kokuryuin, kepindahan Yuragi, dan banyak hal lainnya.

Bahkan sampai rahasia mengerikan (payudara palsu) Reikadou pun aku jadi tahu... Memang cukup banyak juga jumlahnya.

"Yah, itu cuma kebetulan saja, sih... Tapi, memangnya kenapa?"

"Emmm.................. Entahlah."

Ouka memiringkan kepalanya dalam-dalam.

Yah, kalau dia sendiri saja tidak tahu, mana mungkin aku tahu.

"Kenapa ya— Rasanya di bagian sini terasa aneh gitu—"

Sambil berkata begitu, Ouka mengelus dadanya sendiri dan menggembungkan pipinya. Ekspresinya itu entah kenapa terasa sedikit baru bagiku.


2

Malam harinya.

"Ah, sepertinya ada tamu datang."

Chocolat bereaksi terhadap suara interfon yang tiba-tiba berbunyi.

"Biar aku saja yang keluar."

Aku menahan tangan Chocolat yang hendak berdiri, lalu melangkah menuju pintu depan. Mau itu tamu atau cuma paket, kalau bocah ini yang keluar, masalahnya cuma bakal bertambah panjang...

"Iya, dengan siapa—"

Begitu aku membuka pintu sambil bicara,

"---"

Aku hanya bisa tertegun tanpa kata.

Lalu, aku langsung menutup pintunya kembali.

Namun, tepat sebelum aku sempat menguncinya, pintu itu dibuka paksa dari luar oleh orang tersebut.

"Oi, oi, Amakusa-kun. Langsung menutup pintu di depan muka orang itu kejam sekali, tahu."

"Yang kejam itu penampilanmu, tahu!"

Penampilan Hisamitsu-senpai yang berdiri di sana adalah.................. entah kenapa dia cuma pakai kemeja doang alias Naked Shirt. (T/N: Gaya berpakaian hanya menggunakan kemeja tanpa bawahan (atau dengan bawahan yang sangat pendek sehingga tidak terlihat.)

Aku sampai mengucek mata karena tidak percaya, tapi berkali-kali kulihat pun, selain sepatu dan kaus kaki, dia memang benar-benar hanya mengenakan kemeja.

"Masa, sih? Yah, anggap saja ini bagian dari upaya penyelesaian konseling, jadi jangan terlalu dipikirkan."

Penyelesaian konseling? Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi intinya, disuruh "jangan dipikirkan" saat ada orang berpenampilan begini di depan mata itu benar-benar permintaan yang mustahil.

"Aduh, musim ini memang gerah sekali, ya."

Hisamitsu-senpai tiba-tiba mengangkat ujung kemejanya yang agak kedodoran itu.

"T-Tunggu, apa yang Kakak lak— eh?"

Di baliknya, ternyata dia memakai hot pants yang super pendek.

"Fufu, tenang saja, aku tidak sekurang ajar itu sampai jalan-jalan tanpa bawahan sama sekali."

Bukan masalah pakai atau tidaknya, tapi masalahnya itu bagaimana kelihatannya dari luar... Kok bisa ya dia tidak ditangkap polisi pamong praja?

"Ngomong-ngomong, aku tidak pakai celana dalam."

"Pakai dong!"

"Soalnya tadi aku dicegat polisi pas pemeriksaan rutin, jadi kuberikan saja celanaku sebagai uang sogokan supaya dilepaskan."

"Anda sama polisinya sama-sama sampah ya!"

"Aduh, itu cuma bercanda. Itu lho, yang orang-orang sebut 'Lelucon Nggak Pakai Celana Dalam'."

"Siapa juga yang bilang begitu!"

"Tapi serius, aslinya aku pakai celana dalam gambar beruang warna pink, lho."

"Nggak ada yang nanya!"

"Tapi motifnya gambar 'Beruang dengan wajah super realistis yang lagi rakus makan ikan salmon', sih."

"Di mana ada yang jual barang kayak gitu!"

"Lebih tepatnya, warnanya pink salmon."

"Jijik banget!"

...Sudahlah, meladeni dia cuma bikin aku kelihatan bego.

"Jadi... sebenarnya Kakak mau apa ke sini?"

Orang yang baru pertama kali bicara tadi pagi tiba-tiba mendatangi rumah orang itu benar-benar tidak normal. Lagipula, dari mana dia tahu alamat rumahku...

"Mau apa? Sudah jelas, kan. Aku ke sini mau melakukan 'anu' sama Amakusa-kun—"

"Silakan pulang."

Jawabku instan dengan senyum ramah. Aku tidak tahu tujuan aslinya apa, tapi aku tidak sudi membiarkan orang mesum begini melintasi ambang pintu rumahku.

"Jangan begitu dong. Kalau aku pulang tanpa melakukan play apa pun, aku bisa dimarahi Manajer."

"Toko macam apa itu?!"

"Amakusa-kun, mulutmu memang menolak... tapi sebenarnya kamu mau lihat lebih banyak lagi, kan?"

"Ugh..."

Senpai meliuk-liukkan tubuhnya sambil menyeringai, seolah menikmati reaksiku.

Yah, kalau dibilang tidak mau lihat sih bohong, tapi kalau aku membiarkan orang ini masuk, sudah pasti bakal berakhir buruk.

"Sudahlah, silakan pulang. Aku tidak bisa membiarkan orang dengan pakaian tak senonoh begini masuk ke ruma—"


Pilih:

Masukkan ke dalam dengan jujur.

Panggil Daiko-san ke sini. Karena terbakar cemburu, dia tiba-tiba akan menciummu dan memasukkan lidahnya ke dalam.


"...Silakan masuk."

"Oh, tumben sekali berubah pikiran? Yah, kalau kamu mau me-'masukkan'-ku ke dalam, aku sih senang-senang saja. Permisi, ya."

Setelah melepas sepatu, Hisamitsu-senpai berjalan dengan santai menuju ruang tamu.

Dilihat dari belakang pun, dia tetap terlihat seperti cuma pakai kemeja doang. Dia tetap pakai kaus kaki sih, yang menurutku poinnya agak tinggi—tidak, tidak, apa yang aku pikirkan!

"Ah, Hisamitsu-san. Selamat malam!"

"Ah, Chocolat-kun, maaf mengganggu ya."

"Pakaian Kakak kelihatan adem banget, ya."

"Benar kan? Tapi area selangkanganku masih agak gerah, nih. Karena sudah di dalam ruangan, mending hot pants ini kulepas juga—"

"JANGAN DONG!"

Karena dia benar-benar mau melepasnya, aku buru-buru menghentikannya.

Hisamitsu-senpai memang merepotkan, tapi skill cueknya Chocolat yang bilang pakaian itu "kelihatan adem" juga luar biasa... Kalau dua orang ini dibiarkan berinteraksi serius, duniamu bakal kacau.

Yah, terlepas dari itu, karena sudah terlanjur kumasukkan ke rumah, biarpun ini kunjungan mendadak, aku tidak mungkin tidak menjamunya. Aku mempersilakannya duduk dan menyiapkan teh.

"...Silakan."

"Ah, makasih ya... Nah, Amakusa-kun. Tiba-tiba saja, tapi ada hal penting yang mau kubicarakan, bisa tolong duduk sebentar?"

"I-Iya."

Karena tatapan Senpai terlihat jauh lebih serius dari biasanya, aku pun duduk di hadapannya sesuai arahannya.

"..."

Senpai menatapku dalam diam.

Kalimat yang dia ucapkan tadi pagi terngiang kembali di kepalaku.

'Maukah kamu mencoba jatuh cinta denganku?'

Aku yakin tidak salah dengar, dia memang bilang begitu.

Aku sudah bersiap-siap mendengarkan makna sebenarnya dari kata-kata itu, tapi Senpai tak kunjung membuka mulut.

"..."

Karena tidak tahan dengan suasana canggung itu, tepat saat aku menyesap tehku—

"Yah, pokoknya kita seks saja yuk."

"BUFUHHH!"

Aku langsung menyemburkan tehku ke depan dengan telak.

"Ups."

Dengan gerakan meliuk, Senpai menghindari semburan teh yang seharusnya mengenai wajahnya itu.

"A-Apa-apaan yang Anda katakan, sih..."

"Maaf, maaf. Sepertinya memang terlalu mendadak, ya. Kalau begitu, kita nyan-nyan saja yuk."

"Istilah jadul macam apa itu!"

"Kalau begitu, pokoknya kita seks saja yuk."

"Belajar lagi cara pakai kata hubung sana!"

Chocolat yang mendengarkan percakapan kami bertanya dengan wajah polos.

"Kanade-san, seks itu apa?"

"Kamu nggak perlu tahu!"

"Chocolat-kun, itu adalah perbuatan yang sering diulang-ulang di dalam buku BL kesukaanmu itu, lho."

"Oh, maksudnya 'Yaranai ka?' (Mau melakukannya?) ya!"

"Pemahaman macam apa itu!"

"Nah, karena itu Chocolat-kun, mau seks denganku?"

"Anda ini apa saja diembat ya!"

"Maaf ya. Kalau aku dan Hisamitsu-san sama-sama laki-laki, aku pasti akan menerimanya dengan senang hati."

"Alasan penolakanmu aneh banget!"

Gawat... interaksi dua orang ini memang berbahaya. Kalau dibiarkan bicara bebas, waktu sebanyak apa pun tidak akan cukup. Dan aku sebagai tukang tsukkomi (pelurus lelucon) bisa mati kelelahan.

"...Senpai, aku ingin segera masuk ke topik utama."

"Ingin segera 'masuk' pas sesi utama?"

"Telingamu budek ya?!"

"Kanade-san, yang budek itu otakku."

"Memang benar sih, tapi bisa diam sebentar tidak?!"

Tolong, siapa pun bereskan si mesum gila dan si bego fujoshi ini...

Hisamitsu-senpai tertawa senang melihat wajahku yang sudah muak.

"Jadi, topik utamanya apa?"

"Maksudku, alasan Senpai jauh-jauh datang ke rumahku... Hmm?"

Tepat saat itu, interfon kembali berbunyi.

"Ah, waktunya pas sekali ya."

Hisamitsu-senpai sepertinya tahu siapa yang datang. Saat aku mengecek ke pintu depan bersamanya, ternyata itu kurir paket.

"Aku pikir tidak sopan kalau datang tiba-tiba tanpa bawa apa-apa. Jadi ini sedikit oleh-oleh. Tadi pagi saat aku memutuskan mau ke rumahmu, aku langsung menelepon orang rumahku dan minta dikirim pakai paket kilat."

Aku membawanya ke ruang tamu dan membuka kotak yang ukurannya sangat panjang itu.

"...Apaan nih, Kak?"

Kelihatannya seperti terompet tanduk yang sangat besar.

"Ini adalah sarung pen*s yang biasa dipakai oleh suku tertentu di Afrika."

"Anda bercanda ya?!"

"Bukan, ini bukan untuk dijilat, tapi dipasang di bagian vital."

"Aku juga tahu kalau itu!"

"Ngomong-ngomong nama produknya adalah, Koteka Lock Index milik suku tertentu." (T/N: Plesetan dari judul Toaru Majutsu no Index)

"Anda benar-benar mau bikin saya marah ya!"

"Ini bekas pakai kepala suku yang agung, jadi khasiatnya sudah terjamin."

"Mana bisa dipakai! Ini mah cuma sampah!"

"Ka-Kanade-san, kalau begitu coba masukkan ke pantat saja!"

"Kamu juga jangan ikut-ikutan dong!"

Sial... aku harus segera mengusirnya.

Tapi, karena aku sudah terlanjur memilihnya lewat Absolute Choice, sepertinya aku tidak bisa mengusirnya secara paksa. Aku harus menyelesaikan urusannya supaya dia pulang atas kemauannya sendiri.

"Anu, kalau ada urusan denganku, tolong cepat katakan..."

Melihatku yang sudah benar-benar muak, Senpai menyunggingkan senyum tipis.

"Fufu, pria yang terlalu 'cepat' itu dibenci lho, Amakusa-kun. Malam kita kan baru saja dimulai."

Sialan, sebenarnya Anda mau bertamu sampai jam berapa, sih...


3

Setelah itu, Hisamitsu-senpai terus asyik melontarkan lawakan garing selama kurang lebih tiga puluh menit.

"Nah, selanjutnya mari kita bahas posisi Jepang dalam ekonomi global—"

"Topiknya kejauhan, woi! Bukannya tadi Kakak lagi bahas posisi 'burung' di celana?!"

Aduh... suaraku sampai agak serak. Padahal aku bukan pelawak, tapi kenapa harus kerja keras jadi tukang tsukkomi sampai begini sih?

"Amakusa-kun, sepertinya kamu terlalu banyak mengeluarkan 'cairan' ke arahku sampai kering begitu, ya."

"Tambahkan kata 'suara', dong!"

"Fufu, kalau begitu sebaiknya kita segera masuk ke topik utama."

Akhirnya... Aku merasa lega mengetahui bahwa topik utama itu memang ada. Saking lamanya dia melawak tanpa henti, aku sampai curiga kalau dia datang ke sini cuma mau main-main.

"Kalau begitu... permisi sebentar."

Hisamitsu-senpai yang sedari tadi duduk di hadapanku dengan meja di antara kami, tiba-tiba berdiri dan mendekat ke arahku.

"Ayo pindah ke sofa sebelah sana."

"Sofa? Yah, boleh saja sih..."

Melewati Chocolat yang sedang tiduran malas-malasan di lantai sambil baca manga, kami berdua pun duduk di sofa.

"Kayaknya... jarak kita terlalu dekat, deh?"

Mengabaikan kata-kataku sepenuhnya, Senpai malah semakin menempelkan tubuhnya. D-Dadanya...

"Makanya Senpai, ini kejauhan—"

"Aku tertarik padamu."

"Hah?"

"Tentu saja, maksudku sebagai lawan jenis."

A-Apa yang orang ini katakan? Tertarik atau apa pun itu, kita kan baru bicara secara normal hari ini.

"Fufu, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Dalam cinta manusia, waktu itu sama sekali tidak ada hubungannya."

Yah, mungkin ada benarnya juga sih cara berpikir seperti itu... tapi tetap saja ini terlalu mendadak.

"Yah, ini baru tahap 'tertarik', jadi tolong jangan terlalu tegang. Meski begitu, setelah mengobrol di sini hari ini, tidak bisa dimungkiri kalau aku mendapatkan kesan yang lebih baik tentangmu. Aku sempat bingung bagaimana menjalankan permintaan dari Seira-kun... tapi sepertinya lebih baik aku menjatuhkanmu secara langsung saja."

Menjatuhkan? Ngomong-ngomong, tadi pagi dia juga sempat menyebut soal permintaan dari Ketua Murid... Sebenarnya apa lagi sih yang sedang direncanakan orang itu?

Selagi aku diliputi keraguan, aroma manis dari tubuh Senpai menusuk-nusuk hidungku hingga membuat kepalaku pening.

"Ugh... p-pokoknya menjauh dulu... hmm?"

Di sana, aku menyadari tatapan Chocolat yang sedang memperhatikan kami dengan lekat.

"Kanade-san dan Hisamitsu-san nempel banget ya, akur sekali."

Tanpa rasa malu ataupun bermaksud menggoda, Chocolat hanya mengutarakan kesan yang murni. Ugh... entah kenapa aku merasa bersalah seperti sedang memperlihatkan hal yang tidak pantas kepada anak kecil.

"L-Lihat, Chocolat saja sampai memperhatikan kita, lho."

Yah, kalau dipikir secara tenang, masalahnya bukan di situ sih.

"Hm, sepertinya kalau lebih dari ini memang rangsangannya bakal terlalu kuat... Chocolat-kun, kamu boleh makan semua bakpao yang ada di atas meja, jadi bisa tolong tinggalkan kami berdua sebentar?"

"Benaran?! Oke deh, aku mau main game di lantai atas!"

Mana mungkin perwujudan nafsu makan ini sanggup menolaknya. Dengan mata berbinar, Chocolat langsung meluncur menuju meja makan. Padahal bakpao itu kan camilan teh yang aku siapkan untuk tamu...

Tapi, ini bukan saatnya memikirkan hal itu. Kalau Chocolat pergi sekarang, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan orang ini padaku.

"Chocolat, tunggu dulu! Nanti aku kasih kue yang paling enak—"

"Amakusa-kun, jadi anak manis dan diam sebentar ya."

Hisamitsu-senpai menusuk satu titik di sekitar pinggangku dengan jarinya.

"Ah... hya-!"

Refleks aku mengeluarkan suara aneh. Kalau cuma itu sih masih mending, tapi...

Apa-apaan ini? T-Tubuhku tidak bisa digerakkan.

"Fufu, karena aku sudah menusuk titik saraf yang 'anu', kamu tidak akan bisa bergerak untuk sementara."

O-Orang ini sebenarnya siapa sih?!

"Hum hum hu~m!"

Sementara itu, Chocolat yang memegang bakpao dengan gembira keluar dari ruang tamu dan naik ke lantai dua.

"Ah..."

"Fufu, dengan ini tidak akan ada lagi yang datang menolongmu."

Sambil memasang senyum misterius, Senpai mengucapkan kalimat yang mirip sekali dengan karakter penjahat.

Tepat saat aku berpikir ala gadis yang akan diserang seperti, "Kalau dia memaksaku, aku akan berteriak sekencang-kencangnya," tiba-tiba aura Senpai berubah.

"Amakusa-kun, aku ini... sangat menyukai cinta."

Sorot matanya tampak menjadi sedikit serius.

"Aku suka saat aku jatuh cinta, aku suka melihat orang lain jatuh cinta, dan aku juga suka melihat saat-saat cinta seseorang berakhir. Pokoknya, dalam hal yang berkaitan dengan cinta, aku sangat suka mengamati tingkah laku manusia yang terlibat di dalamnya."

Aku merasa bagian 'melihat saat-saat cinta berakhir' itu agak bermasalah, tapi mungkin itulah alasan kenapa dia dijuluki 'Love Crusher'.

"Kegembiraan, kemarahan, kesedihan, kebencian; dalam cinta, semua emosi manusia terkumpul di sana. Tidakkah menurutmu tidak ada hal lain yang lebih penuh dengan romantisme daripada itu?"

Kalau dipikir-pikir mungkin memang benar, tapi bagiku yang tidak punya pengalaman, cerita itu tidak terlalu meresap.

"Karena memikirkan hal itu siang dan malam, tanpa sadar aku jadi lebih peka terhadap gejolak hati manusia soal cinta dibandingkan orang lain. Meski terdengar lancang, aku juga sering melakukan hal yang mirip seperti konsultasi asmara."

Benar juga, di samping ditakuti sebagai 'Love Crusher', aku sering mendengar kalau Hisamitsu-senpai mendapat dukungan besar dari beberapa orang.

Katanya, dia bisa menyelesaikan masalah cinta yang sangat pelik—yang tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa—dalam sekejap... Tapi, seiring dengan itu, rumor buruk pun sering beredar.

Misalnya, tepat setelah dia menyelesaikan masalah perselingkuhan pacar si klien dengan sangat cepat, si pacar itu malah digoda sendiri oleh Senpai, atau semacamnya.

"Ups, sekarang masalahku tidak penting ya... ayo cepat selesaikan apa yang harus dilakukan."

Tanpa sadar, Senpai sudah kembali ke ekspresi liciknya dan mulai menindihku yang terlentang tidak berdaya.

"T-Tunggu dulu! Selesaikan apa maksudnya—"

"Apa lagi kalau bukan ciuman?"

"Apa—"

"Boleh saja kan kalau ada cinta yang dimulai dari sebuah ciuman?"

"T-Tidak, segala sesuatu itu ada urutannya—"

"Kalau begitu, mari kita lakukan sedikit foreplay."

Wajah Senpai mendekat, lalu dia menggigit kecil daun telingaku.

"Ugh... akh..."

A-Apa-apaan rasa nikmat ini...

Lalu, selama puluhan detik, Senpai terus mengulum daun telingaku.

G-Gawat... otakku... rasanya mau... meleleh...




"Nah, sebenarnya aku ingin melakukannya lebih teliti lagi, tapi kurasa ini sudah cukup untuk membuat Amakusa-kun berada dalam kondisi siap menerima."

Sambil berkata begitu, Senpai tersenyum, dan di sela bibirnya, seutas benang air liur tampak terhubung tipis ke arah telingaku. Sosoknya saat itu benar-benar sangat menggoda.

Gawat, kepalaku terasa kosong dan aku tidak bisa berpikir jernih. Senpai itu cantik, dadanya besar... mungkin tidak apa-apa kalau aku membiarkan diriku dicium begitu saja.

"Kalau begitu, akan kunikmati hidangannya, ya."

Bibirnya semakin mendekat ke bibirku, dan tepat saat akan bersentuhan—

"---?!"

Pikiranku mendadak menjadi dingin seketika.

"T-Tidak boleh!"

Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, aku entah bagaimana berhasil menggerakkan tubuhku.

"Ups."

Senpai yang terdorong mundur akhirnya berdiri, lalu mengibaskan rambutnya dengan tatapan yang sedikit sedih.

"Oya, oya. Walaupun ini memang agak memaksa, tapi ditolak mentah-mentah begini rasanya agak syok juga, ya... Apa kamu sebegitu tidak sudi berciuman denganku?"

Kalau sebagai laki-laki yang bicara, tentu saja tidak begitu.

Daya tarik Hisamitsu-senpai itu luar biasa, tubuhnya juga lembut dan terasa nyaman... alasannya sama sekali bukan karena Senpai.

"Bukan... itu... anu..."

"Apa? Katakan saja, apa pun itu."

Aku sempat ragu untuk mengatakannya atau tidak, tapi...

"Ciuman pertama itu... menurutku harus dilakukan dengan orang yang disukai."

Mendengar itu, Senpai sempat menunjukkan ekspresi melongo sejenak, lalu—

"Hahahahahahaha!"

Dia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

"Kenapa... Kenapa Kakak tertawa?!"

Aku bisa merasakan wajahku langsung memerah padam dalam sekejap.

Hisamitsu-senpai membuka mulutnya sambil masih menekan perutnya yang geli.

"Maaf, maaf. Habisnya, cara berpikir Amakusa-kun benar-benar seperti gadis polos. Aku bingung di zaman sekarang ini masih ada 'harta karun nasional' yang selangka itu."

"A-Apa salah..."

"Tidak, tidak, itu luar biasa, Amakusa-kun. Bagiku ini membuat frustrasi, tapi demi menghargai kepolosanmu itu, mari kita akhiri sampai di sini saja untuk hari ini."

Entah kenapa, sepertinya dia mau mundur... syukurlah.

"...Tapi, ada satu hal yang ingin kupastikan."

Tiba-tiba, nada suara Senpai menjadi sedikit lebih rendah.

"Apa itu?"

"Hawa asmara dari dirimu itu benar-benar sangat tipis."

"Eh?"

"Begini ya. Tidak peduli sekarang sedang jatuh cinta atau tidak, setiap orang pasti menyimpan perasaan asmara, sekecil apa pun, di lubuk hati mereka. Itulah sebabnya aku mencoba menggoyahkannya dengan menempelkan tubuh atau menggigit telingamu... tapi, meski tubuhmu memberikan reaksi fisik, sepertinya di lubuk hatimu yang terdalam, kamu tidak merasakan apa-apa."

"Maksudnya bagaimana?"

"Biar lebih gampang dipahami, aku sama sekali tidak merasakan aura 'binatang buas' atau semangat 'ayo lakukan!' yang khas dari remaja laki-laki pada dirimu."

Yah, biarpun Kakak bicara soal aura-aura begitu, aku tetap tidak paham...

"Rasanya ini berada di dimensi yang berbeda dari istilah 'cowok herbivora' yang sempat populer dulu... Dan entah ini penyebabnya atau bukan, sepertinya kamu juga sangat peka terhadap perasaan orang lain. Padahal ada dua orang yang perasaannya begitu jelas sampai orang selain aku pun pasti sadar, tapi kamu sepertinya sama sekali tidak menyadarinya."

Dua orang? Sebenarnya Kakak sedang membicarakan apa?

"Benar juga ya... Kalau boleh kukatakan, mungkin lebih tepat kalau dibilang kamu secara tidak sadar sedang menghindari untuk jatuh cinta."

...Aku sendiri tidak begitu paham, tapi kalau Senpai merasakannya begitu, itu pasti gara-gara kutukan Absolute Choice.

Dalam situasi di mana aku tidak tahu kapan pilihan gila itu akan muncul, aku merasa tidak punya waktu untuk urusan asmara, dan mungkin saja aku secara tidak sadar memasang rem di dalam diriku.

"Aku tahu kalau ucapan 'ciuman pertama harus dengan orang yang disukai' tadi bukan bohong... tapi, apakah kamu benar-benar berpikir bisa menyukai seseorang dengan kondisimu yang sekarang?"

Tentu saja kalau kutukan ini hilang, aku ingin segera pacaran... tapi aku tidak mungkin mengatakannya pada Senpai.

Senpai sepertinya menganggap diamku sebagai jawaban 'TIDAK'.

"Sepertinya begitu. Oke, aku tarik kata-kataku. Mari kita coba menempel sekali lagi."

Senpai kembali mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"T-Tunggu dulu..."

Tadi aku bisa melawan karena ada kekuatan nekat yang muncul tiba-tiba, tapi sepertinya efek titik saraf tadi masih berlanjut, sehingga aku tidak bisa menyingkirkannya.

"Fufu, ekspresi yang bagus, Amakusa-kun."

"He-Hentik—"

"Kanade-saaan, aku haus, jadi aku ke sini mau ambil teh!"

Di saat yang tepat, Chocolat kembali. N-Nice!

"Lho? Kanade-san dan Hisamitsu-san nempelnya lebih parah dari yang tadi."

"Cho-Chocolat, tolong tarik Hisamitsu-senpai menjauh dariku!"

"Eh? Bukannya laki-laki itu senang kalau ditempeli perempuan?"

"I-Itu tidak salah, tapi sekarang situasinya bukan begitu!"

"Tapi, di kamar Kanade-san ada buku 'berwarna kulit' dengan judul Spesial Kakak Kelas yang Lebih Tua, lho." (T/N: Istilah halus majalah bokep)

"Kenapa kamu malah lihat-lihat buku itu sembarangan!"

"Haha, lihat kan? Pas sekali, bukan?"

"Nggak pas! Ini benar-benar kebalikan dari apa yang aku inginkan!"

Tiba-tiba, Chocolat menepuk tangannya seolah baru menyadari sesuatu.

"Ah... aku paham Kanade-san! Aku akan segera cari laki-laki yang lebih muda sekarang juga!"

"Bukan kebalikan yang itu, bego!"

Sampai mana sih otak fujoshinya ini merembet...

"Chocolat-kun, kamu suka kan sama Amakusa-kun?"

"Iya, suka banget!"

Jawaban instan seperti biasanya.

"Tapi biarpun aku melakukan hal seperti ini padanya, kamu tidak apa-apa? Lihat nih..."

"Uoooooh!"

Hisamitsu-senpai kembali mendekatkan bibirnya sampai batas maksimal.

"?"

Chocolat memiringkan kepalanya dengan heran.

"...Begitu ya. Chocolat-kun sendiri ternyata punya 'penyimpangan' dalam bentuk yang berbeda, ya."

Melihat reaksi itu, Hisamitsu-senpai memasang senyum yang sangat puas.

Perasaan 'suka' yang dimiliki Chocolat padaku itu bukan asmara, jadi tentu saja reaksinya begitu.

"Lalu Furano-kun yang tidak bisa jujur, dan Ouka-kun yang tidak sadar diri... Menarik. Situasi Amakusa-kun dan gadis-gadis di sekitarnya benar-benar sangat menarik."

Sambil berkata begitu, Hisamitsu-senpai menusuk area pinggangku sekali lagi.

"Ah..."

Di saat itu juga, tubuhku yang tadinya tidak bisa digerakkan mendadak menjadi ringan kembali seperti sihir.

"Daripada aku sendiri yang menjatuhkanmu, sepertinya akan lebih menarik kalau aku memprovokasi mereka dan menonton hasilnya."

Tepat saat aku berdiri dan Senpai mengucapkan kalimat yang tidak kumengerti maksudnya itu,

"Hmm?"

Ponsel di saku celanaku bergetar.

Sambil membawa firasat buruk, aku mengecek isi email tersebut... Ternyata itu adalah 'Misi Penghapusan Kutukan' dari 'Dewa'. Yah, aku sudah menduga ini akan segera datang...


Menjadi saksi saat seseorang jatuh cinta.

Batas waktu: Sampai liburan musim panas dimulai.


...Apa-apaan ini? Berbeda dengan misi sebelumnya yang menyuruhku melakukan 'ini' kepada 'siapa', kali ini target spesifiknya tidak ditentukan.

"Eh?"

Di saat yang bersamaan, satu email lagi masuk.

"Hah?"

Pengirimnya adalah 'Dewa', subjeknya: 'Misi Penghapusan Kutukan'.

Tanpa mengerti apa yang terjadi, aku membukanya.

Membuat Chocolat membencimu.

Batas waktu: Sampai liburan musim panas dimulai.


Dua misi sekaligus...?!




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close