Chapter
1
Masalah
Kakak Kelas yang Kelewat Mesum dan Aneh
1
"Kalau kalian cuma bisa bengong
begitu, biar aku saja yang ambil, ya."
Salah satu dari 'Reject 5' kelas tiga,
Mitsu Hisamitsu-senpai, memberikan tatapan penuh arti ke arah Ouka, Yukihira,
dan Chocolat, lalu tiba-tiba saja dia menempelkan tubuhnya ke tubuhku.
"Tunggu—"
KENA!
Payudaranya kena, nih!
"A-Apa
yang Kakak lakukan?!"
Aku
buru-buru melompat mundur.
I-Inilah
yang dipikirkan orang ini sebenarnya? Aku baru saja berpikir kenapa dia
tiba-tiba menerobos masuk ke kelas, eh, tahu-tahu malah melakukan tindakan
agresif begini....
"Fufu,
tentu saja ini ritual pendekatan untuk kawin."
Sambil
berkata begitu, Hisamitsu-senpai tersenyum misterius. Penampilannya
benar-benar sudah melampaui level 'berantakan'.
Kancing blusnya cuma terpasang satu
atau dua saja, dan karena dadanya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang
ramping, kemeja itu kelihatan sangat sesak seolah mau meledak.
"Yah, akhir-akhir ini aku sedang
dalam masa birahi, sih."
Dari tatapan matanya yang menggoda,
Hisamitsu-senpai memancarkan aura dewasa yang benar-benar di luar nalar.
"Ugh..."
Lagi-lagi dia menempel padaku, hingga
aku bisa merasakan hembusan napas manisnya.
"Fufufu... Amakusa-kun, mari kita
lakukan hal enak bersamaku."
"H-Hal
enak itu maksudnya apa?"
"Tentu
saja se—"
"Bisa
bicara sebentar?"
Tepat saat
itu, suara Yukihira terdengar dari belakang, memotong perkataan
Hisamitsu-senpai.
Yukihira
berjalan mendekat, lalu mengarahkan pandangannya tepat ke arah dada
Hisamitsu-senpai.
"Datang
ke kelas orang lain lalu tiba-tiba memamerkan benda asusila, menurutku itu agak
kurang sopan."
Benda asusila
katamu...
"Ah,
maaf ya. Habisnya, seluruh tubuhku ini memang benda asusila."
Bukannya
marah karena ucapan kasar yang tiba-tiba itu, Hisamitsu-senpai malah
menunjukkan respons dewasa dengan senyuman... Tidak, tapi apa yang dia katakan
sama sekali tidak masuk akal.
"..."
Yukihira menatap Hisamitsu-senpai dalam
diam. Entahlah, ekspresinya memang datar seperti biasanya, tapi dia jelas-jelas
memancarkan suasana yang penuh permusuhan terhadap Senpai.
Lalu, satu
sosok lagi mendekat.
"Oya,
Oya, Ouka-kun juga ada apa?"
"Aku
nggak begitu paham, sih... Tapi
entah kenapa aku merasa aura yang nggak enak dari Hisamitsu-senpai!"
Ouka menyela
di antara aku dan Hisamitsu-senpai, sambil memberikan tatapan judes. Ada
apa ini? Jarang-jarang Ouka menunjukkan ekspresi seperti itu.
Meski
menerima permusuhan (?) dari mereka berdua, Hisamitsu-senpai bukannya
tersinggung, malah menunjukkan ekspresi yang sangat gembira.
"Aaah...
kalian berdua manis sekali, ya."
Dia kemudian
berjalan mendekat tepat ke hadapan Yukihira.
"Permisi
sebentar, ya."
Dan tanpa
ragu, dia langsung menyentuh dada Yukihira.
"...Biarpun
Anda seorang senior, menyentuh payudara orang lain tanpa izin itu tindakan yang
tidak terpuji."
Padahal
seingatku, Yukihira sendiri dulu pernah meremas-remas dada Chocolat sepuas
hatinya... Yah, terlepas dari itu, dia memang hebat.
Normalnya,
kalau ada gadis yang tiba-tiba diperlakukan begitu di depan umum, pasti sudah
panik setengah mati, tapi dia terlihat sama sekali tidak bergeming.
"Fufu,
sesuai rumor, kau memang anak yang menarik... Tapi,"
Hisamitsu-senpai
memasang senyum menantang dan menghentikan gerakan tangannya.
"Sebenarnya,
bukannya kau sudah mencapai batasmu?"
Tangannya
yang tadi menempel di dada, kini merayap perlahan menuju arah ketiak. Dan saat
jarinya menyentuh satu titik tertentu—
"Hiu-?!"
Yukihira
tiba-tiba terduduk lemas di lantai.
A-Ada apa?
"Kh..."
Dia mencoba
untuk bangkit, tapi sepertinya kekuatannya tidak mau keluar.
"Fufufu... Karena aku baru saja
menekan titik saraf yang 'sedikit' sensitif, kau tidak akan bisa berdiri dengan
mudah."
Hisamitsu-senpai
menatap Yukihira dengan puas.
"Nah,
selanjutnya..."
Pandangannya
kini beralih pada Ouka.
"Mu-mumu!"
Merasakan
bahaya, Ouka mengambil langkah mundur.
"Oya oya
Ouka-kun, kita kan sesama anggota 'Reject 5', jangan merasa risi begitu
dong."
Sambil
bertingkah jenaka, Hisamitsu-senpai melangkah maju.
"Hisamitsu-senpai!
Kecepatanku jauh lebih tinggi, jadi biarpun Kakak mau melakukan hal mesum,
Kakak nggak akan bisa menangkapku!"
Sesuai
ucapannya, kemampuan fisik Ouka memang luar biasa.
Dia selalu
menunjukkan spek yang jauh melampaui orang lain saat pelajaran olahraga, dan
bahkan di semester kedua kelas dua ini, tawaran dari berbagai klub olahraga
masih tidak ada habisnya.
Bukan cuma di
kalangan perempuan, bahkan dibandingkan dengan laki-laki pun, hanya sedikit
orang yang bisa menandingi kemampuan atletiknya.
"Begitu
ya, yah, mungkin saja."
"Betul kan... Eh?"
Tiba-tiba Hisamitsu-senpai menunjukkan
gerakan yang licin seperti pohon galah yang bergoyang, dan tahu-tahu, dia sudah
berada di belakang Ouka.
"Fufu,
kena."
"K-Kok
bisa?!"
Hisamitsu-senpai
mengunci Ouka dengan posisi seperti memeluk dari belakang.
"Fufu,
kemampuan fisikmu memang hebat, tapi gerakanmu masih terlalu banyak yang
sia-sia."
"L-Lepaskan!"
Ouka
meronta-ronta sekuat tenaga, tapi dia tidak bisa lepas dari kuncian
Hisamitsu-senpai yang terlihat tidak menggunakan banyak tenaga itu.
"Untuk
menangkap orang, tidak selamanya kita butuh kecepatan atau kekuatan yang lebih
unggul, tahu... Aaah, ini benar-benar payudara yang bagus."
"H-Hentikan—!"
Hisamitsu-senpai
mulai meremas-remas dada Ouka dari belakang.
"Nggaaak
mauuu!"
Mengabaikan
Ouka yang meronta, Hisamitsu-senpai terus memainkan jarinya, hingga beberapa
saat kemudian, dia melepaskan tangannya dari dada Ouka.
"Fuu,
rasanya aku masih ingin meremasnya lagi, tapi... kelemahanmu itu di sini,
kan?"
Sambil
berkata begitu, dia mengelus lembut pusar Ouka yang terekspos.
"Eh... Tunggu... Nggaaak!"
Jeritan Ouka
naik satu oktaf lebih tinggi.
"Ah...
ha... h-hentikan—"
Tanpa memedulikan Ouka yang menggeliat kegelian, Hisamitsu-senpai terus mengelus area di sekitar pusarnya.
"Ah...
ah..."
Kekuatan
perlahan hilang dari tubuh Ouka, dan—
"Hya...
uuu."
Sama seperti
Yukihira tadi, dia lunglai dan jatuh terduduk di lantai begitu saja.
"Fufu,
ternyata mengutak-atik pusar gadis cantik bisa bikin gairah memuncak ya...
Rasanya aku ingin menaikkan levelnya satu tingkat lagi."
Hisamitsu-senpai
kemudian berjalan mendekati Chocolat.
"Fue?"
"Chocolat-kun,
bolehkah aku menjilat pusarmu sebentar?"
"Apa-apaan
yang Kakak katakan, sih!"
Saking
sesatnya permintaan itu, aku sampai berteriak mewakili Chocolat.
"Boleh
saja kok."
"Nggak
boleh, bego!"
"Jangan
mengganggu dong, Amakusa-kun. Kamu juga pasti mau kan, mencoba menjilat pusar
gadis yang kamu sukai?"
"Mana
mungkin! Aku bukan orang sesat sepertimu!"
"Sesat?
Tidak juga, penyanyi legendaris Uta-maru-san pernah bilang begini kan: 'Sekali
saja aku ingin melihat, wanita yang menjilat simpanan rahasianya'."
"Nggak
ada hubungannya sama pusar! Lagian apa-apaan itu menjilat simpanan
rahasia!"
"Lho,
orang tua kalau mau menghitung uang kan sering menjilat jari supaya lembap?
Gerakan itu apa tidak membuatmu bergairah?"
"Jangankan
bergairah, itu malah bikin ilfeel tahu!"
Malahan kalau
melihat itu, rasanya hatiku jadi agak mual, jadi tolong hentikan.
"Kalau
begitu, mau jilat pusar Uta-maru-san bareng-bareng?"
"Sana
lakukan sendiri! Sudah, ganti topik pusar ini!"
"Hmm,
kalau kamu sampai bilang begitu, ya sudah, menjilat ketiak Chocolat-kun akan
kusimpan untuk kesempatan lain."
"Kenapa
fantasinya malah makin parah?!"
Sudahlah, aku
capek menghadapinya...
Dari
Hisamitsu-senpai ini, tercium bau-bau yang sama persis dengan Ouka dan
Yukihira. Yah, makanya dia dikelompokkan ke dalam 'Reject 5'...
Menurut
rumor, orang ini suka menggoda cowok yang sudah punya pacar, lalu menghancurkan
hubungan mereka satu per satu. Katanya sudah tak terhitung berapa banyak
pasangan yang dia rusak.
Karena itulah
dia dijuluki 'Love Crusher'.
Yah, yang
namanya rumor pasti selalu dilebih-lebihkan... tapi setelah melihat orangnya
langsung, setidaknya rumor itu sepertinya bukan sekadar isapan jempol belaka.
"Nah,
mari kita kembali ke topik utama."
Selagi aku
berpikir begitu, Hisamitsu-senpai menjauh dari Chocolat dan melangkah tepat ke
depanku.
"Topik
utama... maksudnya, aku?"
"Benar,
Amakusa-kun. Sebenarnya, aku menerima 'permintaan tertentu' dari Ketua Murid,
Seira-kun, mengenai dirimu."
Mendengar
nama itu keluar dari mulut Hisamitsu-senpai, aku refleks mengernyitkan dahi.
Orang itu lagi...
Kokuryuin
Seira. Ketua Murid sekolah kami, sang karisma dari SMA Seikou yang bertahta
dengan gagah di peringkat satu Ranking Atas.
Dan dia
adalah keberadaan non-manusia (mungkin) yang mengetahui rahasiaku soal Absolute
Choice... tapi, kadang dia mengganggu misiku, kadang malah membantu,
benar-benar tidak paham apa maunya.
Sepertinya
dia memang senang melihatku jatuh bangun menderita... mungkinkah dia mengirim
Hisamitsu-senpai ini juga bagian dari rencananya?
Yah, apa pun
alasannya mendekatiku, Hisamitsu-senpai ini memang orang aneh yang persis
seperti rumor—bahkan lebih parah.
Aku tidak
tahu permintaan apa yang dia terima dari Ketua, tapi kalau terlibat lebih jauh
sepertinya bakal merepotkan, jadi sebaiknya aku cuek saja—
Pilih:
① Mengucapkan lelucon
mesum dengan tema 'Jamur' Catatan: Jika malu sedikit saja, harus diulang.
② Mengucapkan lelucon
mesum dengan tema 'Pisang' Catatan: Jika malu sedikit saja, harus diulang.
③ Dunia Terbalik]
...Muncul
juga, nih.
Tapi
apa-apaan pilihan nomor ③
itu? Dunia
Terbalik? Belum pernah ada frasa seperti itu sebelumnya.
Yah,
tanpa perlu ragu lagi, respon dalam situasi begini sudah jelas. Teorinya
adalah: jangan pernah memilih sesuatu yang isinya abstrak dalam Absolute
Choice.
Dalam
kondisi tanpa Save atau Load, aku tidak boleh sembarangan memilih
sesuatu yang berisiko dan tidak diketahui apa yang akan terjadi.
Kalau begitu,
pilihannya tinggal ①
atau ②...
Yah, mumpung masih ada sedikit waktu, mari pikirkan sesuatu yang ringan dan
aman—
"Guaaaaaakh!"
Rasa sakit
kepala yang hebat menyerang seolah-olah menghalangi proses berpikirku. G-Gawat,
rasa sakit ini!
S-Sial, aku
harus bicara apa saja!
"O-Oh,
menu hari ini penuh dengan jamur kesukaanku, ya! Wah, aku jadi bergairah! Bu,
minta nasi porsi jumbo! Jamur di selangkanganku juga sudah mau meledak,
nih!!"
"""............"""
Para siswi
langsung membuang muka dengan tatapan jijik... Ya, reaksi kalian normal kok.
Malah kalau kalian tidak jijik, aku yang mempertanyakan kemanusiaan kalian.
Dan aku
sendiri pun merasa jijik dengan jalan pikiranku sendiri. Kenapa yang muncul
secara spontan malah kalimat begitu...
"Wah,
Amakusa-kun. Kamu benar-benar menarik ya."
Tiba-tiba,
tangan Hisamitsu-senpai bertengger di bahuku. Sepertinya orang ini tidak jijik... Aku jadi mempertanyakan kemanusiaan
Anda, Senpai.
"Jadi,
seberapa ukuran jamurmu itu?"
"Malah
bahas gituan?!"
"Apakah
yang kamu punya itu seukuran jamur Enoki ini? Atau jamur Shiitake ini?"
"Kenapa
bertanya kayak cerita 'Kapak Emas Kapak Perak'!"
"Begitu
ya, ternyata bukan keduanya, melainkan seukuran camilan 'Kin*ko no Yama'
(Gunung Jamur)... kamu jujur sekali ya."
"Itu mah
kecil banget!"
Ugh... siapa
sih sebenarnya orang ini...
Di sampingku
yang sudah merasa muak, Hisamitsu-senpai yang sepertinya sudah puas bercanda
mulai membuka suara.
"Nah,
mari kita akhiri foreplay-nya... maksudku, pembukaannya sampai di sini
saja."
...Ternyata
tadi dia belum puas bercanda.
"Amakusa-kun,
aku ingin kamu mengabulkan satu permintaan sederhanaku."
Masih dengan
gerakan yang menggoda, Hisamitsu-senpai memberikan tatapan mautnya. Tapi, apa
pun permintaannya, jawabanku adalah TIDAK.
Tanpa diminta
pun, aku sudah kewalahan menghadapi orang-orang aneh di sekitarku,
pilihan-pilihan gila, dan misi-misi yang melelahkan. Aku tidak mau menambah
masalah lagi.
"Tidak,
aku agak keberat—"
"Kalau
kamu menolak, aku akan membocorkan ke teman sekelasmu kalau kamu itu masih
perjaka."
"Jangan,
itu bakal merep... eh, kan barusan sudah Kakak bocorkan!"
"Teman-teman
kelas 2-1 sekalian, ternyata benar Amakusa-kun masih perjaka, lho."
“““Sudah
tahu!”””
"Kalian
jangan jawab kompak begitu dong!"
Gerombolan
cowok melihat ke arahku sambil cengar-cengir. Sialan, mereka itu...
"Kalau
kamu menolak, aku akan membocorkan kalau kamu cuma bisa bergairah sama anak
kecil di bawah sepuluh tahun."
"Kan
sudah dibilang Kakak baru saja membocorkannya!"
"Teman-teman
kelas 2-1 sekalian, ternyata benar Amakusa-kun itu pedofil, lho."
"""Sudah
tahu!"""
"Makanya
kalian diam!"
"Bukan
begitu, Kanade-san itu sebenernya maho!"
"Jangan
ikut campur dengan topik yang mengerikan begitu dong?!"
Chocolat tiba-tiba fade-in ikut
nimbrung.
"""...Sudah
tahu."""
"Kalian
semua mati saja sana!"
Para
berandalan itu menjawab kompak sambil mundur serentak... Apa mereka sudah latihan naskah sebelumnya?
"Wah,
Amakusa-kun sepertinya sangat dicintai semuanya ya... maksudku, 'dibelai' oleh
semuanya."
"""Nggak
tuh."""
"...Aku
mau dong."
"Eh, kok
ada satu yang aneh nyelip?!"
"Hoaaa,
aku ingin melihat Kanade-san dibelai-belai!"
"Otak
fujoshimu itu diam saja!"
"Wah,
luar biasa ya, Amakusa-kun. Semakin dikerjai, semakin banyak bahan
lucunya."
Terserah
Senpai mau pikir apa, aku sudah tidak mau berurusan lagi.
"Jadi,
soal permintaan tadi, atau lebih tepatnya ini adalah tawaran, sih."
Mau
permintaan atau tawaran, sesuatu yang keluar dari orang ini pasti tidak ada
yang normal.
Tepat saat
aku melangkah mundur berniat menolak apa pun yang dia katakan,
"Fufu,
jangan terlalu waspada begitu dong."
Dia
mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik pelan.
"Maukah
kamu mencoba jatuh cinta denganku?"
"...Eh?"
...Barusan,
dia bilang apa?
"Senpai,
bisa tolong ulangi lagi—"
Hisamitsu-senpai
menutup mulutku dengan jari telunjuknya saat aku ingin bertanya ulang, lalu dia
tersenyum menggoda.
"Haha,
yah, untuk kali ini cukup sampai di sini saja."
"Tunggu,
sebentar—"
"Kalau
begitu teman-teman kelas 2-1 sekalian, maaf sudah mengganggu ya."
Tanpa
sempat dicegah, dia langsung melenggang keluar dari ruang kelas.
"A-Apa-apaan
tadi itu... Hmm?"
Saat itu, aku
merasakan hawa keberadaan yang tidak biasa dari belakang dan menoleh.
"Hiih!"
Refleks
suaraku jadi tinggi.
Saat aku
menoleh, di sana berdirilah Yukihira yang diselimuti aura hitam pekat.
"A-Ada
apa?"
Sepertinya
dia sudah pulih dari serangan (?) Hisamitsu-senpai tadi, tapi...
"Mitsu
Hisamitsu... Dasar Payudara Berantakan itu, tidak akan pernah kumaafkan."
"Payudara
Berantakan katamu..."
"Aduh,
bisakah Ampas Pen*s yang barusan terangsang sama Payudara Berantakan itu diam
saja?"
"Kasar
banget!"
Kapan
pun aku mendengarnya, lelucon kotor anak ini memang parah... Saingan berat
Hisamitsu-senpai yang tadi.
"Yukihira,
kamu harusnya lebih sedikit—"
"...Yukihira?"
Kalimatku
terpotong, dan dia malah melotot tajam padaku.
...Benar
juga. Kalau diingat-ingat, gara-gara serangan mendadak Hisamitsu-senpai, aku
jadi lupa kalau tadi kami sedang meributkan soal aku memanggilnya dengan nama
kecil atau tidak.
Lho? Tapi kan
tadi pas aku panggil nama kecilnya, dia malah menusuk leherku, marah, lalu
keluar kelas... Terus aku harus bagaimana?
"Begini
ya Yukihira, jadinya aku harus panggil kamu apa—"
"...Yukihira?"
Dia melotot lagi... Sepertinya memang
tidak boleh memanggil dengan nama keluarga.
"F-Furano?"
"!?"
Tepat setelah aku memanggil nama
kecilnya, mata Yukihira membelalak.
Dan
di saat berikutnya—
"Guekh!"
Lagi-lagi
leherku ditusuk.
"Geho!
Geho! K-Kau mau membunuhku ya!"
"...Maaf."
Yukihira
sepertinya menggumamkan sesuatu sambil sedikit menunduk, tapi karena aku sibuk
terbatuk-batuk, suaranya jadi tidak terdengar sama sekali.
"Hah...
pokoknya aku panggil Yukihira saja lah."
Kami bakal
sering berinteraksi, kalau tiap kali memanggil saja leherku ditusuk terus,
nyawaku bisa terancam.
"..................Hmph."
Yukihira
berjalan kembali ke tempat duduknya tanpa sepatah kata pun.
Benar-benar
ya, ada pepatah yang bilang kalau hati wanita itu secepat cuaca musim gugur,
tapi Yukihira ini sudah melampaui level itu.
"Hah..."
Saat aku
refleks menghela napas, aku melihat Ouka yang sedang berusaha bangkit dari
lantai.
"Kamu
tidak apa-apa?"
Aku
mengulurkan tangan. Sepertinya dia baru saja pulih dari dampak (?) serangan
Hisamitsu-senpai.
"Ma-Makasih."
Ouka terlihat
masih agak sempoyongan.
"Mumu... Hisamitsu-senpai, hebat
juga ya—"
Suaranya masih terdengar lemas. Bisa
membuat Ouka selemah ini... sebenarnya cara mainin pusar macam apa yang
dilakukan orang itu.
"Hah... benar-benar deh, cewek di
sekitarku kenapa isinya orang aneh semua..."
"Ahaha."
...Bukannya
kamulah pemimpinnya, Ouka-san?
"Ngomong-ngomong
Kanacchi... entah kenapa kalau aku perhatikan, kamu sering banget bareng sama
cewek ya—"
"Eh?
Begitu ya?"
...Yah, kalau
dipikir-pikir lagi, dalam proses menjalankan misi, aku memang jadi terlibat
dengan banyak gadis.
Hubunganku
dengan Ouka dan Yukihira memang sudah dari awal, tapi dalam sebulan terakhir
ini, Chocolat jadi menumpang di rumahku, lalu perjuanganku demi melihat celana
dalam Yawakaze, interaksi dengan Ketua Kokuryuin, kepindahan Yuragi, dan banyak
hal lainnya.
Bahkan sampai
rahasia mengerikan (payudara palsu) Reikadou pun aku jadi tahu... Memang cukup
banyak juga jumlahnya.
"Yah,
itu cuma kebetulan saja, sih... Tapi, memangnya
kenapa?"
"Emmm..................
Entahlah."
Ouka memiringkan kepalanya dalam-dalam.
Yah, kalau dia sendiri saja tidak tahu,
mana mungkin aku tahu.
"Kenapa
ya— Rasanya di bagian sini terasa aneh gitu—"
Sambil
berkata begitu, Ouka mengelus dadanya sendiri dan menggembungkan pipinya. Ekspresinya itu entah kenapa terasa
sedikit baru bagiku.
2
Malam
harinya.
"Ah,
sepertinya ada tamu datang."
Chocolat
bereaksi terhadap suara interfon yang tiba-tiba berbunyi.
"Biar
aku saja yang keluar."
Aku menahan
tangan Chocolat yang hendak berdiri, lalu melangkah menuju pintu depan. Mau itu
tamu atau cuma paket, kalau bocah ini yang keluar, masalahnya cuma bakal
bertambah panjang...
"Iya,
dengan siapa—"
Begitu aku
membuka pintu sambil bicara,
"---"
Aku hanya
bisa tertegun tanpa kata.
Lalu, aku
langsung menutup pintunya kembali.
Namun, tepat
sebelum aku sempat menguncinya, pintu itu dibuka paksa dari luar oleh orang
tersebut.
"Oi, oi,
Amakusa-kun. Langsung menutup pintu di depan muka orang itu kejam sekali,
tahu."
"Yang
kejam itu penampilanmu, tahu!"
Penampilan
Hisamitsu-senpai yang berdiri di sana adalah.................. entah kenapa dia
cuma pakai kemeja doang alias Naked Shirt. (T/N: Gaya berpakaian
hanya menggunakan kemeja tanpa bawahan (atau dengan bawahan yang sangat pendek
sehingga tidak terlihat.)
Aku sampai
mengucek mata karena tidak percaya, tapi berkali-kali kulihat pun, selain
sepatu dan kaus kaki, dia memang benar-benar hanya mengenakan kemeja.
"Masa,
sih? Yah, anggap saja ini bagian dari upaya penyelesaian konseling, jadi jangan
terlalu dipikirkan."
Penyelesaian
konseling? Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi intinya, disuruh "jangan
dipikirkan" saat ada orang berpenampilan begini di depan mata itu
benar-benar permintaan yang mustahil.
"Aduh,
musim ini memang gerah sekali, ya."
Hisamitsu-senpai
tiba-tiba mengangkat ujung kemejanya yang agak kedodoran itu.
"T-Tunggu,
apa yang Kakak lak— eh?"
Di baliknya,
ternyata dia memakai hot pants yang super pendek.
"Fufu,
tenang saja, aku tidak sekurang ajar itu sampai jalan-jalan tanpa bawahan sama
sekali."
Bukan masalah
pakai atau tidaknya, tapi masalahnya itu bagaimana kelihatannya dari luar...
Kok bisa ya dia tidak ditangkap polisi pamong praja?
"Ngomong-ngomong,
aku tidak pakai celana dalam."
"Pakai
dong!"
"Soalnya
tadi aku dicegat polisi pas pemeriksaan rutin, jadi kuberikan saja celanaku
sebagai uang sogokan supaya dilepaskan."
"Anda
sama polisinya sama-sama sampah ya!"
"Aduh,
itu cuma bercanda. Itu lho, yang orang-orang sebut 'Lelucon Nggak Pakai Celana
Dalam'."
"Siapa
juga yang bilang begitu!"
"Tapi
serius, aslinya aku pakai celana dalam gambar beruang warna pink, lho."
"Nggak
ada yang nanya!"
"Tapi
motifnya gambar 'Beruang dengan wajah super realistis yang lagi rakus makan
ikan salmon', sih."
"Di
mana ada yang jual barang kayak gitu!"
"Lebih tepatnya, warnanya pink
salmon."
"Jijik banget!"
...Sudahlah, meladeni dia cuma bikin
aku kelihatan bego.
"Jadi...
sebenarnya Kakak mau apa ke sini?"
Orang yang
baru pertama kali bicara tadi pagi tiba-tiba mendatangi rumah orang itu
benar-benar tidak normal. Lagipula, dari mana dia tahu alamat rumahku...
"Mau
apa? Sudah jelas, kan. Aku ke sini mau melakukan 'anu' sama Amakusa-kun—"
"Silakan
pulang."
Jawabku
instan dengan senyum ramah. Aku tidak tahu tujuan aslinya apa, tapi aku tidak
sudi membiarkan orang mesum begini melintasi ambang pintu rumahku.
"Jangan
begitu dong. Kalau aku pulang tanpa melakukan play apa pun, aku bisa
dimarahi Manajer."
"Toko
macam apa itu?!"
"Amakusa-kun,
mulutmu memang menolak... tapi sebenarnya kamu mau lihat lebih banyak lagi,
kan?"
"Ugh..."
Senpai
meliuk-liukkan tubuhnya sambil menyeringai, seolah menikmati reaksiku.
Yah,
kalau dibilang tidak mau lihat sih bohong, tapi kalau aku membiarkan orang ini
masuk, sudah pasti bakal berakhir buruk.
"Sudahlah,
silakan pulang. Aku tidak bisa membiarkan orang dengan pakaian tak senonoh
begini masuk ke ruma—"
Pilih:
① Masukkan ke dalam
dengan jujur.
② Panggil Daiko-san ke
sini. Karena terbakar cemburu, dia tiba-tiba akan menciummu dan memasukkan
lidahnya ke dalam.
"...Silakan
masuk."
"Oh,
tumben sekali berubah pikiran? Yah, kalau kamu mau me-'masukkan'-ku ke dalam,
aku sih senang-senang saja. Permisi, ya."
Setelah
melepas sepatu, Hisamitsu-senpai berjalan dengan santai menuju ruang tamu.
Dilihat dari
belakang pun, dia tetap terlihat seperti cuma pakai kemeja doang. Dia tetap
pakai kaus kaki sih, yang menurutku poinnya agak tinggi—tidak, tidak, apa yang
aku pikirkan!
"Ah,
Hisamitsu-san. Selamat malam!"
"Ah,
Chocolat-kun, maaf mengganggu ya."
"Pakaian
Kakak kelihatan adem banget, ya."
"Benar
kan? Tapi area selangkanganku masih agak gerah, nih. Karena sudah di dalam
ruangan, mending hot pants ini kulepas juga—"
"JANGAN
DONG!"
Karena
dia benar-benar mau melepasnya, aku buru-buru menghentikannya.
Hisamitsu-senpai
memang merepotkan, tapi skill cueknya Chocolat yang bilang pakaian itu
"kelihatan adem" juga luar biasa... Kalau dua orang ini dibiarkan
berinteraksi serius, duniamu bakal kacau.
Yah,
terlepas dari itu, karena sudah terlanjur kumasukkan ke rumah, biarpun ini
kunjungan mendadak, aku tidak mungkin tidak menjamunya. Aku mempersilakannya duduk dan menyiapkan teh.
"...Silakan."
"Ah,
makasih ya... Nah, Amakusa-kun. Tiba-tiba saja, tapi ada hal penting yang mau
kubicarakan, bisa tolong duduk sebentar?"
"I-Iya."
Karena
tatapan Senpai terlihat jauh lebih serius dari biasanya, aku pun duduk di
hadapannya sesuai arahannya.
"..."
Senpai
menatapku dalam diam.
Kalimat yang
dia ucapkan tadi pagi terngiang kembali di kepalaku.
'Maukah
kamu mencoba jatuh cinta denganku?'
Aku
yakin tidak salah dengar, dia memang bilang begitu.
Aku
sudah bersiap-siap mendengarkan makna sebenarnya dari kata-kata itu, tapi
Senpai tak kunjung membuka mulut.
"..."
Karena tidak
tahan dengan suasana canggung itu, tepat saat aku menyesap tehku—
"Yah,
pokoknya kita seks saja yuk."
"BUFUHHH!"
Aku
langsung menyemburkan tehku ke depan dengan telak.
"Ups."
Dengan
gerakan meliuk, Senpai menghindari semburan teh yang seharusnya mengenai
wajahnya itu.
"A-Apa-apaan
yang Anda katakan, sih..."
"Maaf,
maaf. Sepertinya memang terlalu mendadak, ya. Kalau begitu, kita nyan-nyan
saja yuk."
"Istilah
jadul macam apa itu!"
"Kalau
begitu, pokoknya kita seks saja yuk."
"Belajar
lagi cara pakai kata hubung sana!"
Chocolat yang
mendengarkan percakapan kami bertanya dengan wajah polos.
"Kanade-san,
seks itu apa?"
"Kamu
nggak perlu tahu!"
"Chocolat-kun,
itu adalah perbuatan yang sering diulang-ulang di dalam buku BL kesukaanmu itu,
lho."
"Oh,
maksudnya 'Yaranai ka?' (Mau melakukannya?) ya!"
"Pemahaman
macam apa itu!"
"Nah,
karena itu Chocolat-kun, mau seks denganku?"
"Anda
ini apa saja diembat ya!"
"Maaf
ya. Kalau aku dan Hisamitsu-san sama-sama laki-laki, aku pasti akan menerimanya
dengan senang hati."
"Alasan
penolakanmu aneh banget!"
Gawat...
interaksi dua orang ini memang berbahaya. Kalau dibiarkan bicara bebas, waktu
sebanyak apa pun tidak akan cukup. Dan aku sebagai tukang tsukkomi
(pelurus lelucon) bisa mati kelelahan.
"...Senpai,
aku ingin segera masuk ke topik utama."
"Ingin
segera 'masuk' pas sesi utama?"
"Telingamu
budek ya?!"
"Kanade-san,
yang budek itu otakku."
"Memang
benar sih, tapi bisa diam sebentar tidak?!"
Tolong,
siapa pun bereskan si mesum gila dan si bego fujoshi ini...
Hisamitsu-senpai
tertawa senang melihat wajahku yang sudah muak.
"Jadi,
topik utamanya apa?"
"Maksudku,
alasan Senpai jauh-jauh datang ke rumahku... Hmm?"
Tepat saat
itu, interfon kembali berbunyi.
"Ah,
waktunya pas sekali ya."
Hisamitsu-senpai
sepertinya tahu siapa yang datang. Saat aku mengecek ke pintu depan bersamanya,
ternyata itu kurir paket.
"Aku
pikir tidak sopan kalau datang tiba-tiba tanpa bawa apa-apa. Jadi ini sedikit
oleh-oleh. Tadi pagi saat aku memutuskan mau ke rumahmu, aku langsung menelepon
orang rumahku dan minta dikirim pakai paket kilat."
Aku
membawanya ke ruang tamu dan membuka kotak yang ukurannya sangat panjang itu.
"...Apaan
nih, Kak?"
Kelihatannya
seperti terompet tanduk yang sangat besar.
"Ini
adalah sarung pen*s yang biasa dipakai oleh suku tertentu di Afrika."
"Anda
bercanda ya?!"
"Bukan,
ini bukan untuk dijilat, tapi dipasang di bagian vital."
"Aku
juga tahu kalau itu!"
"Ngomong-ngomong
nama produknya adalah, Koteka Lock Index milik suku tertentu." (T/N:
Plesetan dari judul Toaru Majutsu no Index)
"Anda
benar-benar mau bikin saya marah ya!"
"Ini
bekas pakai kepala suku yang agung, jadi khasiatnya sudah terjamin."
"Mana
bisa dipakai! Ini mah cuma sampah!"
"Ka-Kanade-san,
kalau begitu coba masukkan ke pantat saja!"
"Kamu
juga jangan ikut-ikutan dong!"
Sial...
aku harus segera mengusirnya.
Tapi,
karena aku sudah terlanjur memilihnya lewat Absolute Choice, sepertinya
aku tidak bisa mengusirnya secara paksa. Aku harus menyelesaikan urusannya supaya dia pulang atas kemauannya
sendiri.
"Anu,
kalau ada urusan denganku, tolong cepat katakan..."
Melihatku
yang sudah benar-benar muak, Senpai menyunggingkan senyum tipis.
"Fufu,
pria yang terlalu 'cepat' itu dibenci lho, Amakusa-kun. Malam kita kan baru
saja dimulai."
Sialan,
sebenarnya Anda mau bertamu sampai jam berapa, sih...
3
Setelah itu,
Hisamitsu-senpai terus asyik melontarkan lawakan garing selama kurang lebih
tiga puluh menit.
"Nah,
selanjutnya mari kita bahas posisi Jepang dalam ekonomi global—"
"Topiknya
kejauhan, woi! Bukannya tadi Kakak lagi bahas posisi 'burung' di celana?!"
Aduh...
suaraku sampai agak serak. Padahal aku bukan pelawak, tapi kenapa harus kerja
keras jadi tukang tsukkomi sampai begini sih?
"Amakusa-kun,
sepertinya kamu terlalu banyak mengeluarkan 'cairan' ke arahku sampai kering
begitu, ya."
"Tambahkan
kata 'suara', dong!"
"Fufu,
kalau begitu sebaiknya kita segera masuk ke topik utama."
Akhirnya... Aku merasa lega mengetahui
bahwa topik utama itu memang ada. Saking lamanya dia melawak tanpa henti, aku
sampai curiga kalau dia datang ke sini cuma mau main-main.
"Kalau begitu... permisi
sebentar."
Hisamitsu-senpai yang sedari tadi duduk
di hadapanku dengan meja di antara kami, tiba-tiba berdiri dan mendekat ke
arahku.
"Ayo pindah ke sofa sebelah
sana."
"Sofa?
Yah, boleh saja sih..."
Melewati
Chocolat yang sedang tiduran malas-malasan di lantai sambil baca manga, kami
berdua pun duduk di sofa.
"Kayaknya...
jarak kita terlalu dekat, deh?"
Mengabaikan
kata-kataku sepenuhnya, Senpai malah semakin menempelkan tubuhnya. D-Dadanya...
"Makanya
Senpai, ini kejauhan—"
"Aku
tertarik padamu."
"Hah?"
"Tentu
saja, maksudku sebagai lawan jenis."
A-Apa yang
orang ini katakan? Tertarik atau apa pun itu, kita kan baru bicara secara
normal hari ini.
"Fufu,
aku tahu apa yang kamu pikirkan. Dalam cinta manusia, waktu itu sama sekali
tidak ada hubungannya."
Yah, mungkin
ada benarnya juga sih cara berpikir seperti itu... tapi tetap saja ini terlalu
mendadak.
"Yah,
ini baru tahap 'tertarik', jadi tolong jangan terlalu tegang. Meski begitu,
setelah mengobrol di sini hari ini, tidak bisa dimungkiri kalau aku mendapatkan
kesan yang lebih baik tentangmu. Aku sempat bingung bagaimana menjalankan
permintaan dari Seira-kun... tapi sepertinya lebih baik aku menjatuhkanmu
secara langsung saja."
Menjatuhkan?
Ngomong-ngomong, tadi pagi dia juga sempat menyebut soal permintaan dari Ketua
Murid... Sebenarnya apa lagi sih yang sedang direncanakan orang itu?
Selagi aku
diliputi keraguan, aroma manis dari tubuh Senpai menusuk-nusuk hidungku hingga
membuat kepalaku pening.
"Ugh...
p-pokoknya menjauh dulu... hmm?"
Di sana, aku
menyadari tatapan Chocolat yang sedang memperhatikan kami dengan lekat.
"Kanade-san
dan Hisamitsu-san nempel banget ya, akur sekali."
Tanpa
rasa malu ataupun bermaksud menggoda, Chocolat hanya mengutarakan kesan yang
murni. Ugh... entah kenapa aku merasa bersalah seperti sedang memperlihatkan
hal yang tidak pantas kepada anak kecil.
"L-Lihat,
Chocolat saja sampai memperhatikan kita, lho."
Yah, kalau
dipikir secara tenang, masalahnya bukan di situ sih.
"Hm,
sepertinya kalau lebih dari ini memang rangsangannya bakal terlalu kuat...
Chocolat-kun, kamu boleh makan semua bakpao yang ada di atas meja, jadi bisa
tolong tinggalkan kami berdua sebentar?"
"Benaran?!
Oke deh, aku mau main game di lantai atas!"
Mana mungkin
perwujudan nafsu makan ini sanggup menolaknya. Dengan mata berbinar, Chocolat
langsung meluncur menuju meja makan. Padahal bakpao itu kan camilan teh yang
aku siapkan untuk tamu...
Tapi, ini
bukan saatnya memikirkan hal itu. Kalau Chocolat pergi sekarang, aku tidak tahu
apa yang akan dilakukan orang ini padaku.
"Chocolat,
tunggu dulu! Nanti aku kasih kue yang paling enak—"
"Amakusa-kun,
jadi anak manis dan diam sebentar ya."
Hisamitsu-senpai
menusuk satu titik di sekitar pinggangku dengan jarinya.
"Ah...
hya-!"
Refleks
aku mengeluarkan suara aneh. Kalau cuma itu sih masih mending, tapi...
Apa-apaan
ini? T-Tubuhku tidak bisa digerakkan.
"Fufu,
karena aku sudah menusuk titik saraf yang 'anu', kamu tidak akan bisa bergerak
untuk sementara."
O-Orang ini
sebenarnya siapa sih?!
"Hum hum
hu~m!"
Sementara
itu, Chocolat yang memegang bakpao dengan gembira keluar dari ruang tamu dan
naik ke lantai dua.
"Ah..."
"Fufu,
dengan ini tidak akan ada lagi yang datang menolongmu."
Sambil
memasang senyum misterius, Senpai mengucapkan kalimat yang mirip sekali dengan
karakter penjahat.
Tepat
saat aku berpikir ala gadis yang akan diserang seperti, "Kalau dia
memaksaku, aku akan berteriak sekencang-kencangnya," tiba-tiba aura Senpai
berubah.
"Amakusa-kun,
aku ini... sangat menyukai cinta."
Sorot matanya
tampak menjadi sedikit serius.
"Aku
suka saat aku jatuh cinta, aku suka melihat orang lain jatuh cinta, dan aku
juga suka melihat saat-saat cinta seseorang berakhir. Pokoknya, dalam hal yang
berkaitan dengan cinta, aku sangat suka mengamati tingkah laku manusia yang
terlibat di dalamnya."
Aku merasa
bagian 'melihat saat-saat cinta berakhir' itu agak bermasalah, tapi mungkin
itulah alasan kenapa dia dijuluki 'Love Crusher'.
"Kegembiraan,
kemarahan, kesedihan, kebencian; dalam cinta, semua emosi manusia terkumpul di
sana. Tidakkah menurutmu tidak ada hal lain yang lebih penuh dengan romantisme
daripada itu?"
Kalau
dipikir-pikir mungkin memang benar, tapi bagiku yang tidak punya pengalaman,
cerita itu tidak terlalu meresap.
"Karena
memikirkan hal itu siang dan malam, tanpa sadar aku jadi lebih peka terhadap
gejolak hati manusia soal cinta dibandingkan orang lain. Meski terdengar lancang, aku juga
sering melakukan hal yang mirip seperti konsultasi asmara."
Benar
juga, di samping ditakuti sebagai 'Love Crusher', aku sering mendengar kalau
Hisamitsu-senpai mendapat dukungan besar dari beberapa orang.
Katanya,
dia bisa menyelesaikan masalah cinta yang sangat pelik—yang tidak bisa
diselesaikan dengan cara biasa—dalam sekejap... Tapi, seiring dengan itu, rumor
buruk pun sering beredar.
Misalnya,
tepat setelah dia menyelesaikan masalah perselingkuhan pacar si klien dengan
sangat cepat, si pacar itu malah digoda sendiri oleh Senpai, atau semacamnya.
"Ups,
sekarang masalahku tidak penting ya... ayo cepat selesaikan apa yang harus
dilakukan."
Tanpa
sadar, Senpai sudah kembali ke ekspresi liciknya dan mulai menindihku yang
terlentang tidak berdaya.
"T-Tunggu
dulu! Selesaikan apa maksudnya—"
"Apa
lagi kalau bukan ciuman?"
"Apa—"
"Boleh
saja kan kalau ada cinta yang dimulai dari sebuah ciuman?"
"T-Tidak,
segala sesuatu itu ada urutannya—"
"Kalau
begitu, mari kita lakukan sedikit foreplay."
Wajah Senpai
mendekat, lalu dia menggigit kecil daun telingaku.
"Ugh...
akh..."
A-Apa-apaan
rasa nikmat ini...
Lalu, selama
puluhan detik, Senpai terus mengulum daun telingaku.
G-Gawat... otakku... rasanya mau... meleleh...
"Nah,
sebenarnya aku ingin melakukannya lebih teliti lagi, tapi kurasa ini sudah
cukup untuk membuat Amakusa-kun berada dalam kondisi siap menerima."
Sambil
berkata begitu, Senpai tersenyum, dan di sela bibirnya, seutas benang air liur
tampak terhubung tipis ke arah telingaku. Sosoknya saat itu benar-benar sangat
menggoda.
Gawat,
kepalaku terasa kosong dan aku tidak bisa berpikir jernih. Senpai itu cantik,
dadanya besar... mungkin tidak apa-apa kalau aku membiarkan diriku dicium
begitu saja.
"Kalau
begitu, akan kunikmati hidangannya, ya."
Bibirnya
semakin mendekat ke bibirku, dan tepat saat akan bersentuhan—
"---?!"
Pikiranku
mendadak menjadi dingin seketika.
"T-Tidak
boleh!"
Dengan
mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, aku entah bagaimana berhasil
menggerakkan tubuhku.
"Ups."
Senpai yang
terdorong mundur akhirnya berdiri, lalu mengibaskan rambutnya dengan tatapan
yang sedikit sedih.
"Oya,
oya. Walaupun ini memang agak memaksa, tapi ditolak mentah-mentah begini
rasanya agak syok juga, ya... Apa kamu sebegitu tidak sudi berciuman
denganku?"
Kalau sebagai
laki-laki yang bicara, tentu saja tidak begitu.
Daya tarik
Hisamitsu-senpai itu luar biasa, tubuhnya juga lembut dan terasa nyaman...
alasannya sama sekali bukan karena Senpai.
"Bukan...
itu... anu..."
"Apa?
Katakan saja, apa pun itu."
Aku sempat
ragu untuk mengatakannya atau tidak, tapi...
"Ciuman
pertama itu... menurutku harus dilakukan dengan orang yang disukai."
Mendengar
itu, Senpai sempat menunjukkan ekspresi melongo sejenak, lalu—
"Hahahahahahaha!"
Dia tertawa
terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
"Kenapa... Kenapa Kakak
tertawa?!"
Aku bisa merasakan wajahku langsung
memerah padam dalam sekejap.
Hisamitsu-senpai membuka mulutnya
sambil masih menekan perutnya yang geli.
"Maaf, maaf. Habisnya, cara
berpikir Amakusa-kun benar-benar seperti gadis polos. Aku bingung di zaman
sekarang ini masih ada 'harta karun nasional' yang selangka itu."
"A-Apa
salah..."
"Tidak,
tidak, itu luar biasa, Amakusa-kun. Bagiku ini membuat frustrasi, tapi demi
menghargai kepolosanmu itu, mari kita akhiri sampai di sini saja untuk hari
ini."
Entah kenapa,
sepertinya dia mau mundur... syukurlah.
"...Tapi,
ada satu hal yang ingin kupastikan."
Tiba-tiba,
nada suara Senpai menjadi sedikit lebih rendah.
"Apa
itu?"
"Hawa
asmara dari dirimu itu benar-benar sangat tipis."
"Eh?"
"Begini
ya. Tidak peduli sekarang sedang jatuh cinta atau tidak, setiap orang pasti
menyimpan perasaan asmara, sekecil apa pun, di lubuk hati mereka. Itulah
sebabnya aku mencoba menggoyahkannya dengan menempelkan tubuh atau menggigit
telingamu... tapi, meski tubuhmu memberikan reaksi fisik, sepertinya di lubuk
hatimu yang terdalam, kamu tidak merasakan apa-apa."
"Maksudnya
bagaimana?"
"Biar
lebih gampang dipahami, aku sama sekali tidak merasakan aura 'binatang buas'
atau semangat 'ayo lakukan!' yang khas dari remaja laki-laki pada dirimu."
Yah, biarpun
Kakak bicara soal aura-aura begitu, aku tetap tidak paham...
"Rasanya
ini berada di dimensi yang berbeda dari istilah 'cowok herbivora' yang sempat
populer dulu... Dan entah ini penyebabnya atau bukan, sepertinya kamu juga
sangat peka terhadap perasaan orang lain. Padahal ada dua orang yang
perasaannya begitu jelas sampai orang selain aku pun pasti sadar, tapi kamu
sepertinya sama sekali tidak menyadarinya."
Dua orang?
Sebenarnya Kakak sedang membicarakan apa?
"Benar juga ya... Kalau boleh
kukatakan, mungkin lebih tepat kalau dibilang kamu secara tidak sadar sedang
menghindari untuk jatuh cinta."
...Aku sendiri tidak begitu paham, tapi
kalau Senpai merasakannya begitu, itu pasti gara-gara kutukan Absolute
Choice.
Dalam situasi di mana aku tidak tahu
kapan pilihan gila itu akan muncul, aku merasa tidak punya waktu untuk urusan
asmara, dan mungkin saja aku secara tidak sadar memasang rem di dalam diriku.
"Aku tahu kalau ucapan 'ciuman
pertama harus dengan orang yang disukai' tadi bukan bohong... tapi, apakah kamu
benar-benar berpikir bisa menyukai seseorang dengan kondisimu yang
sekarang?"
Tentu saja
kalau kutukan ini hilang, aku ingin segera pacaran... tapi aku tidak mungkin
mengatakannya pada Senpai.
Senpai
sepertinya menganggap diamku sebagai jawaban 'TIDAK'.
"Sepertinya
begitu. Oke, aku tarik kata-kataku. Mari kita coba menempel sekali lagi."
Senpai
kembali mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"T-Tunggu
dulu..."
Tadi aku bisa
melawan karena ada kekuatan nekat yang muncul tiba-tiba, tapi sepertinya efek
titik saraf tadi masih berlanjut, sehingga aku tidak bisa menyingkirkannya.
"Fufu,
ekspresi yang bagus, Amakusa-kun."
"He-Hentik—"
"Kanade-saaan,
aku haus, jadi aku ke sini mau ambil teh!"
Di saat yang
tepat, Chocolat kembali. N-Nice!
"Lho?
Kanade-san dan Hisamitsu-san nempelnya lebih parah dari yang tadi."
"Cho-Chocolat,
tolong tarik Hisamitsu-senpai menjauh dariku!"
"Eh?
Bukannya laki-laki itu senang kalau ditempeli perempuan?"
"I-Itu
tidak salah, tapi sekarang situasinya bukan begitu!"
"Tapi,
di kamar Kanade-san ada buku 'berwarna kulit' dengan judul Spesial Kakak
Kelas yang Lebih Tua, lho." (T/N: Istilah halus majalah bokep)
"Kenapa
kamu malah lihat-lihat buku itu sembarangan!"
"Haha,
lihat kan? Pas sekali, bukan?"
"Nggak
pas! Ini benar-benar kebalikan dari apa yang aku inginkan!"
Tiba-tiba,
Chocolat menepuk tangannya seolah baru menyadari sesuatu.
"Ah...
aku paham Kanade-san! Aku akan segera cari laki-laki yang lebih muda sekarang
juga!"
"Bukan
kebalikan yang itu, bego!"
Sampai mana
sih otak fujoshinya ini merembet...
"Chocolat-kun,
kamu suka kan sama Amakusa-kun?"
"Iya,
suka banget!"
Jawaban
instan seperti biasanya.
"Tapi
biarpun aku melakukan hal seperti ini padanya, kamu tidak apa-apa? Lihat
nih..."
"Uoooooh!"
Hisamitsu-senpai
kembali mendekatkan bibirnya sampai batas maksimal.
"?"
Chocolat
memiringkan kepalanya dengan heran.
"...Begitu
ya. Chocolat-kun sendiri ternyata punya 'penyimpangan' dalam bentuk yang
berbeda, ya."
Melihat
reaksi itu, Hisamitsu-senpai memasang senyum yang sangat puas.
Perasaan
'suka' yang dimiliki Chocolat padaku itu bukan asmara, jadi tentu saja
reaksinya begitu.
"Lalu
Furano-kun yang tidak bisa jujur, dan Ouka-kun yang tidak sadar diri...
Menarik. Situasi Amakusa-kun dan gadis-gadis di sekitarnya benar-benar sangat
menarik."
Sambil
berkata begitu, Hisamitsu-senpai menusuk area pinggangku sekali lagi.
"Ah..."
Di saat itu
juga, tubuhku yang tadinya tidak bisa digerakkan mendadak menjadi ringan
kembali seperti sihir.
"Daripada
aku sendiri yang menjatuhkanmu, sepertinya akan lebih menarik kalau aku
memprovokasi mereka dan menonton hasilnya."
Tepat
saat aku berdiri dan Senpai mengucapkan kalimat yang tidak kumengerti maksudnya
itu,
"Hmm?"
Ponsel
di saku celanaku bergetar.
Sambil membawa firasat buruk, aku
mengecek isi email tersebut... Ternyata itu adalah 'Misi Penghapusan Kutukan'
dari 'Dewa'. Yah, aku sudah menduga ini akan segera datang...
Menjadi
saksi saat seseorang jatuh cinta.
Batas waktu: Sampai liburan musim panas
dimulai.
...Apa-apaan ini? Berbeda dengan misi
sebelumnya yang menyuruhku melakukan 'ini' kepada 'siapa', kali ini target
spesifiknya tidak ditentukan.
"Eh?"
Di saat yang
bersamaan, satu email lagi masuk.
"Hah?"
Pengirimnya
adalah 'Dewa', subjeknya: 'Misi Penghapusan Kutukan'.
Tanpa mengerti apa yang terjadi, aku
membukanya.
Membuat Chocolat membencimu.
Batas waktu: Sampai liburan musim panas
dimulai.
Dua misi sekaligus...?!



Post a Comment