Chapter 1
Firasat Terbentuknya Harem?
1
"Haaaaah......"
Kenapa jadi
begini?
"Haaaaah......"
Kenapa jadi
begini?
Keputusasaanku
begitu mendalam sampai-sampai aku refleks mengulanginya dua kali.
"Kanade-san,
Kanade-saaann!"
Gadis mungil
berambut pirang yang tadi dikerubungi teman-teman sekelas itu berhasil
menyelinap keluar, lalu berjalan menghampiriku dengan langkah ceria—te-te-te.
"...Ternyata
ini memang bukan mimpi ya."
Gadis yang
menamakan dirinya Chocolat ini, karena suatu alasan, menumpang hidup di
rumahku—
"Dengarkan
ini, Kanade-san! Semuanya memberiku banyak sekali camilan!"
Entah kenapa tadi
pagi, secara mendadak, tiba-tiba, dan seketika, dia pindah ke kelas ini.
Tidak, tepatnya
dia bukan siswa pindahan, melainkan berstatus sebagai Petugas Hewan Pembantu
Akademik-ku... aku sama sekali tidak paham maksudnya apa.
"Ham-ham...
enyak fali dech!"
Pipi
Chocolat menggembung penuh cokelat dan biskuit sementara wajahnya berseri-seri
bahagia.
Seiring
dengan itu, rambutnya yang mirip ekor anjing itu bergerak naik-turun... Setiap
kali melihatnya, aku selalu bertanya-tanya bagaimana cara kerja rambut itu
sebenarnya.
"Chocolat-chaaan.
Sini, aku kasih lebih banyak camilan lagi."
"Benarkah!?"
Chocolat
menelan semua makanan di mulutnya dengan kecepatan luar biasa, matanya
berbinar, lalu dia berlari kembali ke arah kerumunan siswi... Dia benar-benar
sudah jadi anjing peliharaan yang dijinakkan dengan makanan.
Di tengah
seruan "Imutnya~ imut banget~", dia sekarang sedang dalam kondisi
"diperebutkan"—dielus-elus dan disentuh sana-sini.
Para siswa
laki-laki juga tidak mau ketinggalan melemparkan berbagai pertanyaan. Dia
benar-benar jadi idola baru.
Yah, mendapatkan
perhatian berlebih itu memang hak istimewa siswa baru (meski dia bukan), jadi
kalau kubiarkan, pasti bakal reda dengan sendirinya.
"Amakusa-kun,
bisa bicara sebentar?"
Sebuah suara yang
terdengar datar tanpa emosi memanggil dari belakang, membuatku menoleh.
"Hm? Ada
apa, Yukihira?"
Yukihira Furano.
Gadis
dengan rambut putih berkilau bak padang salju yang sangat berkesan. Wajahnya
sangat cantik, tapi karena dia tipe yang ekspresinya selalu datar, sangat sulit
untuk menebak apa yang sedang dia pikirkan.
"Begini, ini
soal Chocolat-san, Petugas Pelampiasan Hasrat Masa Muda milikmu
itu."
......Tadi
dia bilang apa? Barusan anak ini bilang apa?
"Oh,
apa tidak terdengar? Ini soal Chocolat-san, Petugas Pelampiasan Hasrat
Seksual milikmu itu."
"Kok......
isinya berubah?"
"Tidak
juga. Sejak awal aku memang ingin bilang Ona-pe—"
"SUDAH
DIAM!"
Karena
dia mengatakannya tanpa menggerakkan satu pun otot wajah, tingkat keanehannya
jadi berada di level maksimal.
"Kamu ya...... siang bolong begini, sebenarnya apa yang
kamu bicarakan?"
"Amakusa-kun, kurasa poin yang harus kamu kritik
sekarang bukan soal waktu, tapi soal kenyataan bahwa aku, seorang gadis,
membicarakan hal mesum seperti itu."
"Ternyata
kamu yang paling sadar, ya!"
"Meskipun
sadar, rasa tidak bisa berhenti dan tidak bisa tertahan adalah hal mengerikan
dari lelucon mesum."
"Kenapa kamu
malah pakai gaya slogan makanan ringan begitu!"
"Kalau
begitu, aku akan berhenti mulai besok. Jadi, khusus hari ini, aku akan
membombardirmu dengan lelucon mesum sepuasnya."
"Kenapa jadi
kayak orang yang mau diet tapi malah makan besar dulu sebelumnya! Sudahlah,
berhenti sekarang juga!"
"Meskipun
kamu bilang begitu, kalau lelucon mesum diambil dariku, yang tersisa hanya
mimpi dan harapan."
"Sebenarnya
kamu itu terbuat dari apa sih!?"
Yukihira ini,
dari segi penampilan, masuk dalam jajaran gadis tercantik di sekolah, tapi
karena isinya begini, dia diberi gelar tidak terhormat sebagai bagian dari The
Reject 5 (Okodowari 5).
Meskipun fisiknya
unggul, mereka adalah orang-orang buangan yang dianggap "Mustahil"
untuk dijadikan objek cinta karena elemen "kekurangan" mereka yang
terlalu kuat.
Aku sendiri juga
termasuk dalam daftar The Reject 5 versi laki-laki, tapi dalam kasusku,
itu murni karena aku dipaksa melakukan tindakan aneh oleh Pilihan Mutlak
(Zettai Sentakushi). Aku tidak mau disamakan dengan Yukihira yang memang
dasarnya sudah aneh.
"Ah,
Furano-san. Mau makan camilan juga?"
Chocolat kembali
lagi dengan kedua tangan penuh makanan. Sebanyak apa sih yang dia dapatkan...
"Terima
kasih, kalau begitu aku minta yang ini."
Yukihira memilih
satu camilan dari tumpukan di atas meja. Sialnya, yang dia ambil adalah cokelat
berbentuk payudara. Siapa sih yang bawa barang begini ke sekolah...
Yukihira
memasukkannya ke mulut dengan tenang, lalu mulai memutar-mutarnya di atas lidah
dengan suara lero-lero.
"G-gimana
cara makanmu itu......"
"Lho, kalau
makanan cabul begini dimakan dengan wajah memerah dan malu-malu, bukannya malah
jadi terlihat lebih mesum? Jika ingin menyembunyikan daun, sembunyikan di dalam
hutan. Jika ingin menyembunyikan kecabulan, sembunyikan di dalam mulut yang erotis."
......Logikanya
terlalu unik sampai aku tidak bisa memahaminya barang sedikit pun.
Setelah selesai
makan cokelat, Yukihira berbalik ke arah Chocolat.
"Ngomong-ngomong, Chocolat-san, boleh sebentar?"
Begitu bicara, dia langsung meremas payudara Chocolat dengan
kuat.
"Haeh?"
"Woi! Apa yang kamu lakukan tiba-tiba begitu!?"
Meskipun tubuhnya mungil, Chocolat punya "aset"
yang cukup melimpah, dan Yukihira meremasnya tanpa rasa sungkan sedikit pun.
"Lho, aku
hanya melakukan hal yang sama seperti Amakusa-kun. Kamu meremasnya setiap malam
begini, kan?"
"NGGAK
PERNAH!"
"Mustahil.
Tinggal serumah dengan paiotsu (payudara) sehebat ini tapi tidak
meremasnya—Hah! Jangan-jangan...... di usia segini, fungsi kejantananmu
sudah mati?"
Kenapa kamu bisa
sampai pada kesimpulan ekstrem begitu...... lagipula, jaga bahasamu soal paiotsu
itu.
"Nah,
silakan pilih, Amakusa-kun. Apakah kamu meremasnya, atau fungsi kejantananmu
sudah mati? Kira-kira yang mana?"
"MANA BISA MILIH!"
PILIH:
① "Sebenarnya aku meremasnya"
② "Sebenarnya fungsi kejantananku sudah mati"
"KUBILANG MANA BISA MILIH!"
Ini dia... inilah kutukan terkutuk yang membuatku menyandang
gelar "The Reject 5", Absolute Choice.
"Amakusa-kun,
kenapa barusan kamu memberikan dua reaksi tsukkomi sekaligus?"
"Nggak, ini
tuh guaaaaaaakh!"
Tiba-tiba rasa
sakit kepala yang luar biasa menyerangku.
Pilihan Mutlak
ini, jika aku mencoba menolak atau mengulur-ulur waktu, ia akan memaksaku untuk
memilih dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Batas waktu dan intensitas
rasa sakitnya bervariasi setiap saat, tapi kali ini, durasinya singkat dan
sangat kuat.
"S-sebenarnya...
fungsi kejantankanku sudah mati."
Begitu kalimat
itu terucap, rasa sakitnya lenyap seolah-olah tadi hanya kebohongan.
Sialan kau,
pilihan bajingan... setiap saat selalu menyodorkan opsi yang nggak bener. Sudah
setahun aku menderita gara-gara benda ini... Mengingatnya saja sudah membuatku
ingin menangis.
Tapi yah, dengan konten pilihan kali ini, orang-orang di
sekitarku pasti akan menganggapnya sebagai lelucon belaka.
"Lho, ada apa, Yukihira?"
Yukihira menempelkan tangan ke mulutnya, tubuhnya gemetar
hebat.
"Mungkinkah... mungkinkah hal yang kukatakan hanya
sebagai candaan, ternyata adalah kenyataan... Maafkan aku, maafkan akuuu!"
"Bisa
nggak jangan bilang begitu dengan nada yang seolah-olah ini fakta?! Ini sudah
pasti bohong, kan!"
"Oalah,
kalau begitu berarti kamu memang tipe yang meremasnya ya."
Seketika
ekspresinya kembali datar... ini sudah semacam seni wajah, ya.
"Nggak,
kenapa sih di dalam otakmu cuma ada dua pilihan itu... Hei Chocolat, aku nggak
pernah melakukan hal aneh begitu padamu, kan?"
Kalau sudah
begini, cara tercepat adalah meminta kesaksian dari orang yang bersangkutan.
"Iya!"
jawab Chocolat seketika. Yah, karena aku memang tidak melakukan apa-apa, itu
sudah sewajarnya.
Namun, tepat setelah itu,
"Tapi, bagian yang lain pernah diremas."
...... Hah?
"Kemarin pagi, waktu aku bangun, Kanade-san ada di
dekatku, lalu aku diremas-remas sampai gunyu-gunyu."
...... Memang sih, aku melakukannya. Karena dia tidur terus
kayak bangkai dan nggak bangun-bangun meski sudah dipanggil, jadi aku menarik
pipinya dan memaksanya bangun.
Tapi ya, Chocolat-san. Kalau kamu mengatakannya dengan cara
yang bisa disalahpahami begitu—
"Ugh..."
Sesuai dugaan, suasana di dalam kelas mendadak hening
seketika.
"Nggak... anu..."
Saat aku mencoba membela diri entah kepada siapa, sebuah
tangan menepuk pundakku. Ketika aku menoleh, temanku, Sato, sedang tersenyum
lebar.
"Hei Amakusa, boleh nggak aku pukul wajahmu
sebentar?"
"KENAPA!?"
Dari lingkaran siswa laki-laki yang entah kapan sudah
mengepungku, Takahashi melangkah maju perlahan.
"Hei Amakusa, boleh nggak aku colok matamu
sebentar?"
"Dibilang kenapa juga!?"
Menyusul kemudian, suara Ito yang terdengar sangat dingin.
"Hei
Amakusa, mau nggak kita pergi ke fasilitas bawah tanah buat kerja paksa?"
"Itu mah Ito-san yang di film-film, bukan kamu!"
"Amakusa, bukannya identitasmu itu 'Ganteng-ganteng
tapi mesum parah, makanya nggak laku sama sekali di mata cewek'?"
"Benar,
benar! Kalau bicara soal Amakusa, ya 'Ganteng yang Sayang Banget' kan?"
"Aku
bahkan kemarin baru saja mengirim naskah light novel ke lomba, pakai
model Amakusa dengan judul: 'Aku Ganteng Sih, tapi Karena Saking Sayangnya
Nggak Ada Satu Orang pun yang Mau Mendekat'."
"Kalian ini
menganggapku apa sih!?"
"""Ganteng (wkwk)."""
...... Kayaknya aku berhenti jadi teman mereka saja deh.
Yah sudahlah, abaikan saja orang-orang tidak berperasaan
ini, masalahnya adalah para gadis. Para nona muda di usia yang menunjukkan rasa
jijik berlebihan terhadap lelucon mesum (padahal aslinya bukan) semuanya
langsung menjauh dariku.
"Nggak, yang tadi itu salah paham."
Baru saja aku keluar dari lingkaran para lelaki dan
melangkah ke arah siswi terdekat,
"Hiih, aku bakal diremas!"
"Nggak akan kuremas!"
"Hiih, aku bakal diremas-remas!"
"Nggak akan kuremas-remas!"
"Hiih, aku bakal diremas gunyu-gunyu!"
"Setidaknya takutlah dengan bahasa Indonesia yang
benar!"
Sudah tamat... atmosfernya sudah terbentuk sedemikian rupa
sehingga apa pun yang kukatakan akan berakibat negatif.
"Anu... para
siswi sekalian, tolong beri tahu aku satu hal. Apa kalian membenciku?"
"""Yah,
bukannya kami benar-benar benci dari lubuk hati yang terdalam sih, dan pada
dasarnya kami pikir kamu orang baik, tapi perbedaan antara kegantengan dan
keanehanmu itu terlalu jauh, jujur saja itu menjijikkan."""
"Kenapa
dialog sepanjang itu bisa kompak banget harmoni suaranya! Keajaiban macam apa ini!"
"Kanade-san,
aku sangat suka padamu kok!"
"Bisa diam
nggak? Kamu cuma bikin makin ribet!"
"Semuanya,
bagaimana kalau kita maafkan dia sampai di sini saja?"
Tiba-tiba,
Yukihira menengahi.
"Maaf
membuatmu menunggu, Amakusa-kun. Karena aku sudah datang, semua akan baik-baik
saja."
"Kenapa
kamu berlagak jadi rekan yang datang membantu! Bukannya penyebab utamanya itu kamu
sendiri!?"
Capek...
menghadapi anak ini beneran bikin capek.
"Amakusa-kun,
kamu tetap bersikeras kalau kamu tidak melakukan hal cabul dengan Chocolat-san,
ya?"
"Iya,
nggak."
"Kalau bukan
hal cabul, apa mungkin hal yang 'berbau amis'?"
"Isi
kepalamu kayak om-om ya!"
"Yah,
om-om memang rata-rata berbau amis kan."
"Minta maaf
sana sama semua om-om di dunia!"
"Apakah
Anda suka om-om yang berbau amis?"
"Nggak
usah ngomong kayak iklan sabun kecantikan 'Apakah Anda suka wanita yang cantik'
begitu!"
...... Sudah cukup, aku nggak tahan lagi.
"Hadeh... hm?"
Saat itu, tiba-tiba pundakku dicolek. Saat aku menoleh ke belakang—
Aku, ada di sana.
"GYAAAAAAAAAA!!"
Sambil
berteriak histeris, aku jatuh terduduk.
"A... apa-apaan ini?"
Di hadapanku berdiri "aku" yang memakai seragam
siswi. Nggak, aku sendiri nggak paham apa yang kukatakan, tapi pemandangan itu
memang ada di depan mataku.
"Aku" (?) itu tiba-tiba tertawa seolah meledak.
"Ahahahahahaha!"
Mendengar
suara itu, aku tersadar. Rambut hitam lurus panjang, pinggang ramping yang
terlihat dari balik blus, dan rok super mini yang jelas-jelas sudah
dimodifikasi. Jika dilihat dengan tenang, elemen "aku" hanya ada pada
wajahnya saja.
"Jreeeng!"
Sosok itu
berteriak dengan semangat tinggi, lalu SREET, dia mengupas kulit
wajahnya.
"Ternyata
kamu lagi ya..."
Gadis
itu, Yuuouji Ouka, tertawa dengan ekspresi kekanak-kanakan dan mengacungkan
jempolnya.
"Iyaー, Amacchi, reaksi yang
bagus!"
Sampai sekarang aku masih agak sulit percaya, tapi Yuuouji
ini adalah putri dari presiden perusahaan raksasa yang sudah terkenal itu,
"UOG". Terlebih lagi, spesifikasi dirinya sendiri sangatlah tinggi;
dia mahir dalam segala jenis olahraga dan nilainya selalu peringkat atas di
angkatan, benar-benar manusia super yang sempurna.
Tapi, anak ini juga masuk daftar "The Reject 5"
gara-gara perilakunya yang terlalu bebas dan pola pikirnya yang sangat
kekanak-kanakan.
"Waktu lagi
nyiapin ini di toilet, ternyata makan waktu lama juga."
Pantas saja tadi
nggak kelihatan, ternyata sedang melakukan hal konyol begitu...
"Lihat,
lihat, hebat kan?"
Aku
menerima dan memandangi topeng karet itu lekat-lekat. Aku tidak tahu terbuat
dari bahan apa, tapi dari segi warna dan tekstur kulitnya, ini sudah selevel
kualitas film Hollywood. Benar-benar mengerikan, teknologi UOG.
"I-ini
adalah penemuan yang revolusioner... tak disangka 'Kanade x Kanade' bisa
terwujud, aku tidak bisa menahan debaran di dadaku ini!"
"Iya, tolong yang otaknya sudah membusuk mending diam
dulu ya."
"Ah, Chocolat-chi. Ini barang prototipe, kalau mau, aku
kasih buat kamu."
"Benarkah!?"
"Ini juga ada speaker kecil di dalamnya, jadi
kalau direkam, bisa keluar suara Amacchi juga lho."
"A-apa-apaan
itu. Kanade-san, tolong katakan 'Natsuhiko... Natsuhiko!' sebentar—"
"DIBILANG
SIAPA SIH NATSUIHIKO ITU!?"
...... Gagal. Sampai sekarang menghadapi Yukihira dan
Yuuouji saja sudah membuat hari-hariku melelahkan, tapi dengan tambahan
Chocolat, tingkat kerumitannya meningkat drastis. Masih harus menghabiskan
hampir satu tahun lagi di kelas yang sama dengan tiga orang ini... serius,
perutku sakit. Padahal aku sudah punya Pilihan Mutlak yang terburuk—
"Hm?"
Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di benakku. Kalau
dipikir-pikir, Pilihan Mutlak yang muncul saat wali kelas tadi pagi... hasilnya
belum terlihat.
Pola di mana reaksi tidak langsung muncul seketika memang
bukan hal baru, tapi ini pertama kalinya pilihan berikutnya muncul sebelum
pilihan sebelumnya tuntas. Karena tadi isinya soal "meremas" atau
"kejantanan mati" itu terlalu konyol, aku tidak sempat memikirkannya,
tapi sebenarnya apa yang terjadi?
Dan ada
satu hal aneh lagi. Aku mencoba mengingat kembali isi pilihan yang muncul di
benakku tadi pagi.
PILIH:
① Masuki Harem Time, di mana kamu akan ditembak oleh
keempat orang di peringkat atas (siswi aktif)
② Sesuatu yang terasa sangat enak akan
terjadi
Biasanya, isi Pilihan Mutlak itu ada satu yang buruk, dan
satu lagi yang jauh lebih buruk. Singkatnya, sebenarnya cuma ada satu pilihan.
Kadang keduanya sama-sama buruk, dan jarang sekali ada satu yang terlihat
lumayan bagus, tapi ini pertama kalinya kedua-duanya adalah pilihan yang
bagus.
Apakah ini ada hubungannya dengan keberhasilanku
menyelesaikan misi penghilang kutukan—
"Hm?"
Tiba-tiba bagian depan kelas menjadi gaduh.
Saat aku menoleh, terlihat kerumunan kecil orang. Dari sini
tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan pintu, tapi pandangan semua orang
tertuju pada sosok yang sepertinya berdiri di sana.
"Uwoh,
seriusan nih..."
"Orang
dari peringkat atas..."
"Aduh,
imut banget!"
Reaksi
teman-teman sekelas ini... mungkinkah... sudah datang?
Benar,
pasti itu. Ini artinya hasil dari aku memilih ① baru muncul sekarang.
Pilihan Mutlak membawakanku hasil yang bagus. Hari seperti
ini... tak disangka, aku tidak pernah membayangkan hari seperti ini akan tiba.
Dengan dada yang berdebar penuh harapan, aku melangkah menuju pintu.
Di balik kerumunan, sosok yang berdiri menunduk sambil
menggerakkan kakinya dengan gelisah di depan pintu adalah senior peringkat 4 di
ranking sekolah, Nishino Aoi-senpai.
...... Lho?
Nishino-senpai dijuluki "Putri Aoi" karena
wajahnya yang imut dan membangkitkan insting ingin melindungi. Dia memiliki
aura yang memang pantas untuk terpilih sebagai Top 5 di SMA Seiko, sekolah
raksasa dengan 45 kelas ini, tapi.
............ Lho?
Hampir bersamaan dengan pertanyaan yang muncul di benakku,
Nishino-senpai mendongak.
"Anu... kamu Amakusa Kanade-kun, kan? Ada yang ingin
kubicarakan..."
Apa-apaan... perasaan tidak tenang yang tak terlukiskan ini?
Nishino-senpai membuka suara seolah sedang diburu oleh
sesuatu.
"A-anu,
Amakusa-kun, aku—padamu—"
Pada saat itu,
sebuah kebenaran menyambar benakku bagaikan kilat.
"Su-nggh."
Aku segera
membekap mulutnya tepat pada waktunya.
...... Begitu ya, jadi begitu rupanya.
"S-senpai,
ayo kita bicara di sana saja!"
Aku memegang
tangan Nishino-senpai dan setengah memaksanya menjauh dari kelas.
"A-Amakusa-kun,
sakit..."
Nishino-senpai
menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ugh... ini boleh juga. Kalau
aku lengah sedikit saja, aku mungkin akan melakukan kesalahan. Tenang, diriku.
"M-maaf.
Tapi, karena pembicaraannya penting, bagaimana kalau kita ke tempat yang lebih
sepi?"
"Ah... i-iya juga ya."
Nishino-senpai dengan wajah memerah mengikuti langkahku
dengan patuh. Aku membimbingnya ke arah jembatan penghubung gedung khusus, dan
memastikan tidak ada orang di sekitar.
"Jadi,
Senpai, ada urusan apa denganku?"
Yah, jawabannya
sudah sangat jelas sih...
Nishino-senpai
menarik napas pendek lalu mengatakannya.
"Anu... aku
menyukaimu, Amakusa-kun."
Dia menatapku
dengan malu-malu. Wajahnya imut dan membangkitkan rasa sayang, mengingatkanku
pada hewan kecil. Yah,
kalau harus bilang meski terdengar klise, dia imut banget.
"Anu...
itu... maukah kamu... pacaran denganku?"
Dan ini tidak
salah lagi adalah sebuah pernyataan cinta. Dikejar-kejar permintaan pacaran
oleh orang seimut ini adalah situasi impian bagi setiap pria... kecuali untuk
satu poin penting.
"Nggak...
anu, nggak bisa."
"K-kenapa!?"
Senpai
menatapku dengan ekspresi tak percaya. Yah, orang sepertinya menembak seseorang
lalu ditolak memang biasanya mustahil terjadi. Faktanya, aku sendiri pun sempat merasa goyah...
"Nggak,
kalau tanya kenapa... soalnya—"
"Bagian mana
yang nggak boleh!? Padahal aku... padahal aku sesuka ini padamu!"
...... Yah, mau nggak mau aku harus mengatakannya secara
jujur.
"Nggak, Senpai, masalahnya adalah... Anda itu
laki-laki, kan?"
"Eh?"
Gerakan
Nishino-senpai terhenti.
Lalu, seolah-olah
baru saja sadar dari pengaruh mistis, dia menampakkan ekspresi bengong.
"Lho? Lho?
Kenapa tadi aku menembakmu ya?"
"...... Iya, itu yang ingin aku tanyakan."
"Hm? Hm? Terlebih lagi, kenapa aku ada di lantai dua
ya?"
"...... Mungkin karena urusannya nggak penting, jadi
Senpai lupa?
"Ehー, hmm, masa sih. Hmm... aku nggak terlalu
paham, tapi aku balik ke kelas saja deh."
Senpai,
meski terlihat tidak puas, berbalik dan berlari kecil pergi. Apa-apaan gerakan
imut itu.
Katanya,
berkat penampilannya yang androgini dan perilaku yang seperti perempuan, dia
mendapatkan banyak suara dari siswa laki-laki dan masuk peringkat 4. Yah, kalau begitu sih wajar saja kalau dia
dipanggil Putri Aoi meski laki-laki.
Namun, meskipun
urusan itu sudah beres, urusan tertipu oleh pilihan ini tidak bisa kuterima
semudah itu.
Memang dibilang
akan ditembak oleh orang dari ranking sekolah, tapi tidak ada yang
bilang kalau itu siswi perempuan.
...... Ini mah level cocoklogi anak SD.
Yah, karena kelas
3 sudah lulus, penghuni ranking sekolah saat ini adalah 4 siswa
laki-laki dan 5 siswi perempuan. Kalau dipikir dengan tenang, ini adalah
perkembangan yang bisa diprediksi, tapi tetap saja...
Sial... akhirnya
sama seperti biasanya, aku hanya dipermainkan dan dipaksa menari mengikuti
irama pilihan.
Isi Pilihan
Mutlak secara garis besar terbagi menjadi tiga jenis.
Pertama adalah
yang menentukan dialog atau tindakanku sendiri.
Contohnya yang
tadi, 【① "Sebenarnya aku meremasnya"】 atau 【②
"Sebenarnya fungsi kejantananku sudah mati"】, dan frekuensi kemunculannya sangat
tinggi.
Kedua adalah yang
dampaknya meluas ke orang lain selain diriku. Contohnya yang kali ini, 【①
Masuki Harem Time, di mana kamu akan ditembak oleh keempat orang di peringkat
atas (siswi aktif)】 masuk dalam kategori ini.
Ketiga adalah
pola tidak teratur lainnya. Sering kali kamu tidak tahu apa yang akan terjadi
sampai kamu memilihnya. 【② Sesuatu yang terasa
sangat enak akan terjadi】 masuk dalam jenis ini.
Dalam jenis pola
kedua, ada sebuah karakteristik tertentu.
Orang yang
menjadi target, setelah melakukan tindakan tersebut, akan kehilangan ingatan
tepat sebelum dan sesudah kejadian itu.
Artinya,
Nishino-senpai sudah melupakan fakta bahwa dia baru saja menembakku.
Berdasarkan pengalaman sejauh ini, ingatan yang hilang itu seolah akan
dikompensasi secara otomatis oleh otak orang tersebut agar terasa masuk akal
baginya.
Bisa dibilang,
aku berani memilih ① tadi karena adanya karakteristik ini.
Kalau pilihan ini benar-benar mengontrol perasaan cinta seseorang, itu akan
jadi bencana. Tidak
boleh ada orang yang mengendalikan emosi orang lain di luar kehendak mereka.
Tapi
kalau begini, setelah menembak, fakta tersebut langsung terhapus bersih dari
otak mereka. Artinya, asalkan
kejadiannya tidak dilihat orang lain, tidak akan ada masalah di kemudian hari.
Berdasarkan
pembenaran diri yang nyaman itulah aku memilih ①, tapi
ternyata hasilnya malah perkembangan "Cinta Sesama Jenis".
Lalu apakah lebih
baik aku memilih ②? Urusannya tidak sesederhana itu. Aturan
emas dalam menghadapi Pilihan Mutlak adalah "Jangan pilih yang isinya
abstrak". Karena si Pilihan ini sifatnya fantasi abis, kalau pilih sesuatu
yang maknanya bisa macam-macam, ada kemungkinan hasilnya benar-benar jadi apa
saja.
Aku sama sekali
tidak bisa memprediksi "hal yang sangat enak" itu seperti apa, dan
apa yang akan terjadi padaku setelah "hal yang sangat enak" itu
terjadi. Selama aku tidak bisa memprediksinya, aku tidak berani melakukan
tindakan berisiko dengan mencobanya.
Dalam skenario
terburuk, mungkin saja aku bisa "mati karena saking enaknya". Yah,
aku ingin percaya tidak akan sampai sejauh itu, tapi melihat kegilaan
pilihan-pilihan sejauh ini, aku tidak bisa menjamin hal itu mustahil terjadi.
Bisa dibilang,
aku hidup seperti membawa bom yang tidak tahu kapan akan meledak atau apa yang
akan terjadi.
"Haaaaah......"
Aku menghela
napas panjang saat kembali menyadari ketidakadilan kutukan yang menimpaku.
"Hei, kamu
Amakusa Kanade, kan?"
Tiba-tiba sebuah
suara tajam terdengar dari belakang.
Dengan
gemetar aku menoleh, dan di sana ternyata berdiri sosok penghuni peringkat 1 di
ranking sekolah.
.................. Jangan-jangan.
"Aku menyukaimu, ayo pacaran denganku."
2
"Jadi, dari empat orang itu, berapa banyak yang sudah
'menjebol' benteng belakangmu?"
"Nggak
ada yang jebol, woi!"
Bantahan
piluku menggema di dalam Ruang Konseling Siswa.
"Apaan
sih, nggak seru banget."
Wali
kelas kami, Douraku Utage, menyeringai sambil menyandarkan tubuh mungilnya—yang
dilihat dari mana pun hanya tampak seperti anak SD—ke sandaran kursi dengan
gaya bos besar.
Utage-sensei
ini konon pernah menderita kutukan yang sama denganku di masa lalu,
menjadikannya satu-satunya orang yang memahami situasi khususku.
"Apa melihat
murid sendiri ditembak sama laki-laki itu selucu itu buat Sensei?"
"Lucu
banget, tahu."
"......"
Setelah kejadian
itu, aku berturut-turut menerima pernyataan cinta yang menggebu-gebu dari
peringkat dua dan tiga di sekolah. Karena kerusakan mental sudah mencapai batas
maksimal, aku terpaksa datang berkonsultasi pada Utage-sensei... tapi responnya
keterlaluan.
"Yah, kalau
mau ini cepat berakhir, nggak ada pilihan lain selain mati-matian menyelesaikan
misinya, kan?"
"Memang
benar sih... tapi misi baru juga belum datang. Lagian, sesekali dong kasih nasihat yang cuma bisa
diberikan oleh sesama mantan penderita?"
Utage-sensei ini
entah kenapa sangat tertutup soal kutukannya. Dia punya kebiasaan mengalihkan
pembicaraan dengan cara yang aneh dan tidak mau membicarakan bagian intinya.
Menerima tatapan
menuntut dariku, Utage-sensei membuka suara dengan ekspresi sedikit cemberut.
"Dengar ya,
bukannya aku pelit berbagi informasi, tapi aku ini sedang dibatasi."
"Dibatasi?"
"Iya. Kamu
sendiri juga dilarang membicarakan soal kutukan itu pada orang lain, kan?"
Memang benar,
setiap kali aku mencoba membocorkan rahasia tentang Pilihan Mutlak, rasa sakit
kepala yang luar biasa akan menyerang dan memblokirku. Satu-satunya orang yang
bisa kuajak bicara normal seperti ini hanyalah Utage-sensei yang punya nasib
sama (dulu).
"Aku sudah
menyelesaikan beberapa misi dan kutukannya sendiri sudah hilang, tapi
'belenggu' terkait hal itu masih tersisa. Aku bisa bicara padamu sampai batas
tertentu, tapi kalau kepada orang lain, sama sekali tidak bisa."
Utage-sensei
mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk dengan ekspresi kesal.
"Bahkan
padamu pun hanya sampai 'batas tertentu'. Begitu aku mencoba bicara lebih dari
itu, kepalaku akan terblokir."
"Jadi begitu rupanya... Tadinya aku mau tanya soal
pilihan yang sepertinya mulai mengalami sedikit perubahan."
Yah, meskipun pilihan yang dua-duanya terlihat bagus tadi
akhirnya cuma tipuan belaka.
"Itu karena
kamu sudah menyelesaikan dua misi. Waktu zamanku dulu juga begitu, sedikit demi
sedikit kondisinya membaik. Setelah itu... cih."
Sensei
mengerutkan dahi. Sepertinya rasa sakit kepala untuk memblokir informasi baru
saja menyerangnya. Namun, sudah pasti bahwa dengan menyelesaikan misi,
perubahan akan terjadi pada pilihan-pilihan itu.
"Lagian ya,
daripada tanya-tanya ke aku, mending tanya ke si 'Anjing' itu. Dia kan ada di
sampingmu buat bantu menghilangkan kutukan?"
"Masalahnya
dia itu sepertinya amnesia, nggak punya informasi yang berguna sama
sekali."
"......Nggak
guna banget. Zamanku dulu, asistenku lumayan banyak kasih info, dan dia cukup
berguna buat hal lain. Sering kusuruh beli roti atau bir, sih."
......Itu sih
namanya cuma jadi babu.
"Gimana
kelakuan si Anjing itu di rumah?"
"Cuma makan, guling-guling, terus makan camilan."
"Hah? Nggak bantu urusan rumah tangga?"
"Lebih cepat kalau aku yang kerjakan sendiri."
"Kalau aku dulu, kusuruh dia bangun jam lima pagi buat
bersih-bersih seluruh rumah."
"Kalau
dia, tidur nyenyak sampai aku sendiri yang bangunkan."
"......Terus
gimana soal bantuan buat misi?"
"Niatnya sih
ada, tapi sama sekali nggak berguna."
"......Terus
kenapa kamu masih biarkan dia tinggal di rumahmu?"
......Kenapa,
ya?
3
"Hum-hum~,
pulang sekolah bareng Kanade-san~."
Dalam
perjalanan pulang, Chocolat tampak sangat gembira sambil bersenandung kecil.
Boro-boro cuma jadi beban tidak berguna di dalam rumah, sekarang aku malah
harus mengurusnya sampai ke sekolah pula... Tepat saat helaan napas hampir lolos dari mulutku—
"Ka-Kanade-chan!"
Tiba-tiba sebuah
teriakan pilu melesat dari arah belakang. Ada apa, pikirku. Begitu menoleh, aku
melihat Ibu Gondo Taiko (49 tahun), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di
lingkungan sekitar, berdiri dengan wajah pucat pasi dan bahu yang gemetar
hebat.
"I-Ibu
Taiko, ada apa sebenarnya?"
Ngomong-ngomong,
ibu yang satu ini memiliki postur tubuh yang sangat agresif, dengan berat badan
yang melampaui tiga digit tanpa kesulitan.
"Si-siapa
sebenarnya perempuan itu!?"
Tatapan Ibu Taiko
tertuju pada Chocolat yang berdiri kebingungan di belakangku.
"Eh,
Chocolat? Dia itu, anu, bisa dibilang—"
"Padahal
kamu sudah punya akuuu!"
Nggak... aku sama
sekali nggak paham maksudnya. Ibu Taiko ini, entah kenapa, selalu menunjukkan
rasa suka yang abnormal kepadaku di setiap kesempatan, dengan alasan merepotkan
bahwa wajahku sangat mirip dengan mantan suaminya sewaktu muda dulu. Terlebih lagi, ini bukan sekadar
candaan, tapi dia benar-benar serius.
"Ah,
tetangga ya? Salam kenal~!"
Chocolat menyapa
dengan santainya, namun sapaan itu tidak masuk ke telinga Ibu Taiko yang sedang
emosi.
"Hanya
karena sedikit lebih muda dan berwajah cantik, jangan sok jagoan ya... dasar
bocah tengik!"
Aduh, Ibu Taiko,
wajahmu jadi mirip penjahat di komik pertarungan begitu.
"Ibu Taiko, tolong tenang sebentar. Chocolat itu
bukan—"
PILIH:
① "Peluk aku, dong"
② "Peluk aku sampai hancur"
......Ampuni aku...... serius. Pilihannya benar-benar masih
berjalan normal seperti biasanya. Apa ini artinya meski sudah menyelesaikan dua
misi, tidak ada perubahan besar yang terjadi......
"......Peluk aku, dong."
"Kanade-chan...... akhirnyaaa!"
Kejadian lagi! Rasanya alur ini baru saja terjadi beberapa
hari yang lalu!
"Eh, tunggu sebenta—GYAAAAAAA!"
"Ooh, Kanade-san badannya jadi lembek begitu. Mirip
gurita ya!"
"Chocolat! Jangan cuma kagum, bantu aku
sebent—GYAAAAAAA!"
Akhirnya, selama
sekitar tiga menit sampai Ibu Taiko merasa puas dan pergi sambil tertawa nufu-fu......
aku terus-menerus dipeluk.
"Ugh...... ugh...... kupikir aku bakal mati......"
Tenagaku terkuras habis, aku langsung terduduk lemas di
tempat. Ngomong-ngomong, untuk pola kali ini, Ibu Taiko hanya terangsang (?)
karena ucapanku saja, bukan karena Pilihannya mengendalikan tindakannya secara
langsung, jadi ingatannya tidak akan terhapus. Malah kalau bisa, aku ingin
ingatanku saja yang dihapus......
"Bisa memikat hati seorang madam, Kanade-san
memang hebat."
Chocolat merasa
kagum pada hal yang salah. Tidak, bagi aku, daripada seorang madam, aku
lebih ingin menjalani percintaan normal dengan gadis normal...... tapi selama
Pilihan Mutlak ini ada, itu pasti mustahil.
"Aku
pulang~!"
Membuka pintu
depan, Chocolat langsung berlari masuk ke dalam—te-te-te. Aku mencoba
membangkitkan tubuh dan mental yang sudah hancur lebur gara-gara pelukan maut
Ibu Taiko, lalu menyusul masuk ke ruang tengah.
"Haaah......"
Meski begitu, aku
merasa kemampuan dia untuk berbaur—atau lebih tepatnya rasa tidak tahu malunya
itu—benar-benar hebat meski statusnya cuma penumpang.
"Kanade-san,
otakku sangat menginginkan sesuatu yang manis!"
......Tuh
kan, dia bilang begitu.
"Yah, aku juga capek sih...... aku ambil itu saja
ya."
Aku mengambil kaleng biskuit simpanan dari rak dapur, lalu
membukanya di atas meja ruang tengah.
"Hoaaa!"
Mata Chocolat berbinar. Sesuai reputasi biskuit dari toko
ternama, tampilannya saja sudah memancarkan aura kelezatan bahkan sebelum
dimakan. Menurut kartu menu di dalamnya, biskuit ini terdiri dari sepuluh
varian rasa yang masing-masing berjumlah lima keping, totalnya ada lima puluh
keping. Tepat saat aku hendak mengulurkan tangan—
"Hm?"
Ponselku berdering. Saat iseng melihat layarnya, di sana
tertera nama "Tuhan".
"......Serius nih."
Memori pahit beberapa hari yang lalu mendadak bangkit
kembali di kepalaku.
"......Halo."
《Helo-helo~, Kanade-kuuun. Gimana nih sekolah hari ini? Jangan-jangan,
terjadi sesuatu yang lebih menantang dari biasanya ya~?》
Aku
langsung merasa sangat kesal. Tanpa membuang waktu, aku langsung mematikan
teleponnya. Namun, tanpa jeda
sedikit pun, panggilan dari "Tuhan" masuk lagi.
Nomornya memang
tidak ditampilkan, tapi karena pengaturannya memungkinkan, aku segera
memasukkannya ke daftar blokir. Namun, tanpa jeda sedikit pun, panggilan dari
"Tuhan" masuk lagi. ......Gimana cara kerjanya sih?
Karena sudah tidak ada pilihan lain, aku
mematikan daya ponselku sekalian. Namun, tanpa jeda sedikit pun, panggilan dari
"Tuhan" masuk lagi.
"Semuanya
jadi mungkin ya!?"
Aku menempelkan
ponsel yang menyala sendiri itu ke telinga, lalu meluncurkan tsukkomi
dengan suara hampir berteriak.
《Haha, soalnya aku kan Tuhan~》
Pemilik suara
genit ini, sesuai pengakuannya sendiri, tampaknya memang Tuhan yang asli.
Awalnya aku hanya
menganggapnya pria genit biasa, tapi setelah diperlihatkan kemampuan di luar
nalar manusia seperti mengubahku menjadi perempuan, aku tidak punya pilihan
selain percaya.
Chocolat bisa
masuk ke kelasku sebagai Petugas Hewan Pembantu Akademik pun juga berkat campur
tangan darinya.
"Jadi, ada
urusan apa sampai repot-repot menghubungi? Apa ada informasi baru yang kamu
temukan?"
《Nggak ada tuh~》
"......Nggak
ada ternyata."
Begitulah.
Ternyata Tuhan yang sebelumnya mengawasi duniaku sedang mengambil cuti hamil
(katanya hamil akibat perselingkuhan, lalu kena syok dan sekarang sedang
mengurung diri), sehingga Tuhan Genit yang menggantikannya secara mendadak ini
hampir tidak paham soal detail kutukanku. Itulah yang kami bicarakan tempo
hari.
"Lalu, buat
apa telepon?"
《Yah, cuma iseng buat membunuh waktu.》
......Aneh ya,
aslinya aku ini tipe orang yang penyabar, tapi entah kenapa sekarang aku merasa
ingin sekali memukul seseorang.
《Ah, jangan-jangan kamu marah? Cup cup, Kanade-kun. Bahkan Tuhan pun punya
banyak hal yang tidak diketahui atau tidak bisa dilakukan, lho. Kalau cuma
mengubah Kanade-kun jadi perempuan sih gampang.》
......Aku sangat
ingin membalas ucapannya, tapi aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi.
《Selain itu, hal gampang lainnya adalah mengubah Kanade-kun menjadi cacing
kremi.》
"SERAM
BANGET WOI!"
Cacing kremi itu
bukannya yang bertelur di sekitar anus itu, ya? Seingatku aku pernah tes pakai
plester pantat, tapi rasanya baru dengar kata itu lagi sejak zaman SD.
《Ah, tapi kalau dalam kasus itu, gimana nasib cacing kremi yang aslinya
memang sudah ada di pantat Kanade-kun ya?》
"MANA SAYA
TAHU!"
Aku tidak punya
kemurahan hati sebesar itu untuk memikirkan nasib cacing kremi lain saat diriku
sendiri berubah menjadi cacing kremi.
《Atau, aku bisa mengubah semua berat badan gadis-gadis di folder foto
'Maha-Erotis' di komputer Kanade-kun menjadi bertambah dua puluh kilo.》
"ITU SIH
NERAKA!"
Ngomong-ngomong,
di komputerku tidak ada folder vulgar dengan nama seheboh
"Maha-Erotis". Koleksi berhargaku semuanya disimpan dalam folder
bernama "Jalan Menuju Filsuf".
《Omong-omong, aku juga tahu kalau sebenarnya foto-fotonya ada di folder
'Jalan Menuju Filsuf', lho.》
"Kamu ini
Tuhan ya!?"
《Iya, benar sekali.》
Oh iya, benar
juga!
《Lalu, aku bisa mengubah semua pria di duniamu menjadi penyuka sesama jenis.》
"ITU MAH
KEPUNAHAN UMAT MANUSIA!"
Pembicaraan ini
skalanya makin lama makin mengerikan, tapi melihat gaya bicara si Tuhan Genit
ini, rasanya ini bukan sekadar bualan...... Tunggu sebentar, kalau dia bisa
melakukan hal-hal hebat seperti itu, bukannya dia bisa dengan mudah
menghilangkan kutukanku sambil lalu?
《Ah, aku kurang lebih tahu apa yang sedang Kanade-kun pikirkan. Pasti kamu
berpikir 'Kalau begitu hilangkan saja kutukanku', kan?》
Ugh...... rasanya
sangat menyebalkan saat pikiranmu dibaca olehnya.
《Tapi ya, seperti yang sudah kusinggung sedikit tadi, sejujurnya itu hal
yang mustahil.》
"Mustahil?"
《Iya. Setiap dunia memiliki hukum alamnya sendiri. Misalnya, di duniamu,
apel yang lepas dari pohon akan jatuh ke tanah, manusia tidak bisa terbang, dan
anjing tidak bisa bicara bahasa manusia.》
Itu memang hal
yang sudah sangat sewajarnya. Bagi manusia yang hidup di dunia ini, itu adalah
fakta tak terbantahkan yang diketahui siapa pun.
《Sebagai Tuhan, aku bisa mengubah hal-hal itu. Membuat apel yang jatuh
melayang di udara, atau menumbuhkan sayap pada manusia.》
Yah...... dia
pasti memang bisa melakukannya.
《Tapi, ada wilayah yang benar-benar tidak bisa disentuh. Yaitu, hukum alam
yang sedari awal seharusnya tidak ada di dunia tersebut. Hukum cacat yang lahir
akibat Tuhan yang mengawasi sebelumnya memasukkan aturan buatannya sendiri
secara paksa. Benar sekali, dalam duniamu, itu disebut sebagai 'Kutukan'.》
Dimasukkan secara
paksa...... Benar juga. Saking seringnya terjadi, perasaanku sampai mati rasa
dan menerimanya begitu saja, padahal seharusnya hal seperti Pilihan Mutlak itu
tidak mungkin ada di dunia ini.
《Lagipula Kanade-kun, soal mengubah hukum alam yang kukatakan tadi, itu cuma
sebatas 'aku bisa melakukannya kalau mau', tapi aku tidak akan benar-benar
melakukannya. Bagi kami, ikut campur dalam kehidupan manusia adalah hal tabu.
Tuhan harus selalu membuang perasaan pribadi dan mengelola dunia dari sudut
pandang yang netral.》
Gaya bicara Tuhan
Genit itu kali ini terdengar lebih serius dari biasanya. Memang benar sih,
kalau hukum fisika berubah-ubah sesuka hati Tuhan, kita yang menjalaninya bakal
sangat kerepotan.
"Hm? Tunggu
dulu. Kalau begitu, bukannya tindakanmu yang mengubahku jadi perempuan kemarin,
atau meneleponku sekarang ini, juga termasuk hal yang dilarang?"
《Yah habisnya, mengerjai Kanade-kun itu seru sih.》
"PERASAAN
PRIBADIMU KELUAR SEMUA WOI!"
《Aduh~, Tuhan juga kan pernah jadi manusia, jadi wajar saja kalau sesekali
terbawa perasaan.》
"Kamu
bukannya bukan manusia ya!?"
《Kalau sedang ada masalah, aku juga suka pergi sendirian ke kedai minum,
makan cumi bakar sambil minum satu gelas, dan curhat sama ibu pemilik kedainya.》
"KAMU
MAH CUMA OM-OM BIASA!"
Sebenarnya konsep
duniamu itu kayak gimana sih......
"Yah, sudahlah...... boleh aku tanya satu hal yang
mendasar?"
《Eeeh, aku nggak punya banyak
waktu nih~.》
......Bukannya dia tadi bilang telepon buat membunuh waktu
karena senggang?
"Aku paham
kalau kamu tidak bisa ikut campur soal kutukan atau misi. Aku juga paham kalau
kamu tidak punya informasi karena Tuhan sebelumnya mengurung diri, meski
sebenarnya sulit kuterima sih."
Meskipun aku
bicara dengan nada yang cukup berani kepada Tuhan, aku tidak merasa perlu
menaruh hormat sedikit pun kepadanya, jadi mau bagaimana lagi.
"Kalau bukan
kamu atau Tuhan sebelumnya, lalu siapa sebenarnya yang sekarang mengirimkan
Pilihan Mutlak dan misi-misi itu kepadaku?"
《Hmm, nggak tahu.》
Dia menjawab
dengan sangat santainya.
《Sebenarnya, Tuhan perempuan yang mengurung diri itu pun sepertinya tidak
tahu detail soal kutukannya.》
"Hah?"
《Sepertinya dia juga cuma menerima operan dari seseorang, atau lebih
tepatnya dipaksa melakukannya...... Ah, tunggu sebentar. Apa? Waduuh,
gawat juga itu...... Ah, Kanade-kun, maaf ya, aku ada urusan mendadak.》
"Urusan mendadak?"
《Katanya, di Dunia Kedua Puluh
Dua, 'Bom Penghancur Alam Semesta' hampir selesai dibuat. Ini level gawat yang
mengharuskanku untuk ikut campur. Oke deh, sampai di sini dulu ya, byebie~.》
"Eh? Hei,
tunggu se—"
Sambungan telepon
terputus tiba-tiba. Apa tadi? Bom Penghancur Alam Semesta? Aku tidak terlalu
paham, tapi sepertinya dunia lain yang bukan di sini sedang mengalami situasi
yang luar biasa mengerikan. Namun, bagiku, masalah yang kuhadapi ini adalah hal
yang benar-benar berbeda.
"Akhirnya,
informasi baru yang didapat hampir nol besar......"
Padahal
satu-satunya sumber informasiku soal Pilihan Mutlak hanyalah dia, mengingat
Utage-sensei dan Chocolat tidak bisa diandalkan...... Saat aku tertunduk lesu,
suara Chocolat terdengar.
"Sudahlah,
Kanade-san. Ayo makan camilan manis biar lebih tenang."
Dia
menyodorkan kaleng biskuit tadi kepadaku.
"Ooh,
benar juga—"
Di dalam
kaleng itu, hanya tersisa satu keping biskuit yang tergeletak kesepian.
"KAMU MAKAN
SEBANYAK APA WOI!"
"Empat puluh
sembilan keping."
"Aku juga
tahu! Karena dari lima puluh keping sisa satu, aku juga bisa hitung! Bukan
jumlah detilnya yang ingin aku tanyakan!"
"Kalau
begitu, aku makan banyak."
"SUDAH TAHU!
Aku sudah tahu kalau kamu makan banyak karena ludes empat puluh sembilan
keping!"
"Kanade-san
jahat banget......"
"Yang
tidak masuk akal itu perutmu! Semuanya masuk ke mana di badan sekecil itu!?"
"Kan makanan
manis masuknya ke lambung cadangan."
"Padahal
dari tadi kamu cuma makan makanan manis!"
"Tidak
juga kok, Kanade-san. Sewaktu
kamu telepon tadi, aku juga makan kerupuk beras~!"
"TEGA BANGET
KAMU!"
......Rasanya aku
sudah kehilangan tenaga untuk marah. Aku memasukkan satu-satunya keping biskuit
yang tersisa ke dalam mulut, lalu mengempaskan tubuh ke sofa.
"Ah, boleh
aku duduk di sebelahmu?"
Chocolat
mendekat dengan riang seperti seekor anjing.
"......Kamu
ya. Kenapa sih selalu terlihat senang begitu?"
"Iya! Karena
dengan bisa berguna bagi Kanade-san saja sudah membuatku sangat senang!"
......Abaikan
saja soal bagian "berguna" itu, tapi di sana memang terlihat rasa
suka yang murni kepadaku. Aku juga laki-laki, jadi kalau ada gadis imut
(setidaknya tampilannya) yang menunjukkan perasaan sepositif itu padaku, tentu
saja aku tidak merasa buruk. Tapi anak ini tidak paham apa itu perasaan cinta.
"Dengar ya,
Chocolat. Sikap seperti itu hanya boleh ditunjukkan kepada orang yang
benar-benar kamu sukai."
"Eh? Aku kan
memang suka pada Kanade-san."
"Ugh......"
Mata itu
benar-benar jernih tanpa ada keraguan sedikit pun.
"N-nggak,
maksudnya bukan itu. Rasa suka yang kamu maksud itu berbeda. Ada rasa suka yang
artinya jauh lebih kompleks dari itu......"
"Memangnya
rasa suka ada jenis-jenisnya ya?"
"Ugh......"
Rasanya aku baru
saja diceramahi soal kebenaran yang mendalam.
"Kalau aku,
aku merasa rasa sukaku pada Kanade-san bertambah setiap harinya!"
"Ugh......
akh......"
Tunggu, tunggu,
tunggu, tunggu. Dia
itu anjing. Anjing, anjing, anjing.
"Hei,
Anjing."
"Iya!"
Kenapa
dipanggil anjing malah terlihat senang begitu sih. Pokoknya tenang, aku hanya
perlu menjaga akal sehatku sendiri.
"Ada
apa, Kanade-san?"
"Jangan
menempel terus!"
......Aku
bakal baik-baik saja, kan?
4
Keesokan harinya,
saat jam perwalian kelas 2-1.
"Baiklah,
bagi yang punya usul, silakan angkat tangan~."
Suara Ketua Kelas
(si kacamata cantik) bergema di ruangan. Kami sedang mendiskusikan pertunjukan
kelas untuk acara Penyambutan Siswa Baru yang akan diadakan akhir Mei nanti.
Meski rasanya
agak telat untuk acara penyambutan, katanya acara ini juga bertujuan untuk
mempererat kekompakan kelas baru, di mana karakter dan hubungan pertemanan
biasanya sudah mulai terbentuk.
Di zaman sekarang
saat anak muda sering dikeluhkan bersikap dingin terhadap apa pun, kupikir akan
banyak murid yang merasa acara seperti ini merepotkan, tapi—
"Aku, aku!
Mau menari!"
"Gimana
kalau drama?"
"Jangan,
mending komedi grup saja."
"Kedai
Takoyaki!"
"Mana
mungkin bisa kalau buat pertunjukan di panggung..."
Kelas 2-1 kami
ternyata sangat bersemangat. Atau lebih tepatnya, bukan cuma kelas kami saja,
tapi murid-murid Akademi Seikou secara keseluruhan memang cenderung menyukai
acara festival seperti ini. Dalam setahun pun jumlah acaranya lumayan banyak.
"Anu,
Yukihira-san, apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan?"
Setelah semua
pendapat umum keluar, Ketua Kelas meminta opini dari Yukihira. Yukihira yang
dipanggil terdiam sejenak, lalu dengan wajah tanpa ekspresi, dia mulai
berbicara dengan nada datar.
"Benar juga,
bagaimana kalau Gasshou?"
Paduan suara (Gasshou),
ya? Tumben sekali Yukihira memberikan usul yang waras.
"Ah,
menyanyi bersama sepertinya menyenangkan ya."
"Menyanyi?
Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Eh?
Tapi Yukihira-san tadi bilang Gasshou..."
"Ah,
sepertinya tadi kurang jelas ya. Yang kumaksud adalah yang ini."
Yukihira
merapatkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajah.
"Yukihira-san...
itu?"
"Menangkupkan
tangan (Gasshou)."
Iya...
terus?
"Sebenarnya,
inti dari rencana ini adalah permainan mencari perbedaan. Saat semua orang di
atas panggung sedang khusyuk menangkupkan tangan untuk berdoa, ternyata ada
satu orang 'tak beriman' yang telapak tangannya menempel hanya karena terkena
lem. Kita akan menyuruh penonton menebak siapa orang itu. Sebuah permainan yang
inovatif, kan?"
......Saking
inovatifnya sampai tidak ada yang bisa paham, woi!
"Nama
proyeknya adalah 'Cari Si Norisuke'."
"Nggak
mutu banget..."
"Astaga,
si Norisuke sendiri tidak boleh bicara begitu, lho."
"Maksudmu aku!?"
"Ahaha... Baiklah, aku tulis dulu ya."
Meski tampak
bingung, sang Ketua Kelas tetap menuliskan 'Cari Si Norisuke' dengan kapur di
papan tulis.
Padahal usul
sampah begitu harusnya diabaikan saja, tapi yah, itulah dia—gadis yang terlalu
baik kepada siapa pun.
Desain kacamata
yang dia pakai agak sedikit kuno, makanya tingkat kecantikannya hanya mentok di
level kelas.
Tapi ada
selentingan yang bilang kalau dia memakai lensa kontak, dia bisa masuk jajaran
peringkat atas di sekolah.
"Saya, saya,
saya!"
Di bangku
belakangku, Ouka Yuuouji mengangkat tangan dengan semangat yang berlebihan.
"Iya,
Yuuouji-san."
"Dengar ya,
kalau pakai benda yang sedang kukembangkan ini, kita bisa melakukan hal yang
seru!"
Dengan
penuh percaya diri, dia memamerkan benda berbentuk kacamata.
"Seluruh
anggota kelas kita berdiri di atas panggung pakai baju renang, lalu semua
penonton kita suruh pakai kacamata ini!"
"Hm,
terus kalau begitu bakal jadi gimana?"
"Organ dalam
mereka akan kelihatan."
......Ha?
"Ma-maaf
Yuuouji-san, aku kurang dengar tadi, bisa tolong ulangi sekali lagi?"
"Itu lho,
kalau pakai kacamata ini, cuma organ dalam manusia saja yang bakal
kelihatan!"
......Aku dengar
semuanya, tapi aku sama sekali tidak paham maksudnya.
"Ini memakai
teknologi rahasia yang belum dirilis ke dunia, lho! Bagian kulit yang diolesi
gel khusus akan membuat bagian dalamnya terlihat transparan!"
"ITU JIJIK
BANGET!"
Lagi-lagi aku
tidak tahan untuk meluncurkan tsukkomi.
"Rekomendasiku
sih bagian jantung. Ah, tapi bagian hati juga ternyata lumayan cantik,
lho~."
"NGGAK ADA
YANG TANYA!"
"Karena
perempuan pakai baju renang sekolah yang sedikit terbuka, menurutku oleskan
saja gelnya di jidat supaya otaknya kelihatan semua!"
"NGGAK
ADA YANG BAKAL SENANG LIHAT BEGITUAN!"
"Ketua
Kelas, nama proyeknya 'Pameran Jeroan ~Elegan~', ya!"
"KENAPA
DIBIKIN JADI KEREN BEGITU NAMANYA!"
"O-oke, aku
mengerti."
Ketua Kelas,
serius, nggak usah ditulis...
"Saya!"
"Ah,
Chocolat-chan, silakan."
Eh, serius...
kamu serius mau kasih usul?
"Menurutku
akan seru kalau semua murid laki-laki memakai baju renang lalu melakukan
gulat!"
......Nggak,
nggak bakal seru. Jangan paksakan seleramu yang sudah rusak itu ke orang lain,
dong.
"Semuanya,
bagaimana menurut kalian?"
Sambil
menggoyang-goyangkan rambut ekor kudanya, Chocolat menatap barisan murid
laki-laki dengan penuh harap. Nggak, jangan harap. Siapa juga yang mau
melakukan itu.
"G-gimana
nih?"
"Kalau Chocolat-chan yang minta, boleh jugalah."
"Permintaan Chocolat-chan mana bisa ditolak."
"Lagian aku juga dari awal nggak benci hal-hal
begitu."
"WOI, KALIAN SEMUA ANEH! TERUS YANG TERAKHIR TADI
SIAPA!?"
Chocolat ini... kenapa dia bisa sepopuler ini, sih?
"Chocolat-chan,
terima kasih usulnya~."
Ketua Kelas,
tolak saja kenapa, nggak usah ditulis... Eh, tunggu, kenapa kamu malah kasih
judul unik seperti 'Ugh! Gulat'!? Tadi waktu bagian Yukihira dan Yuuouji kamu
kelihatan ragu, kenapa sekarang malah semangat banget nulisnya...
Jangan-jangan, Ketua Kelas juga orang 'sana'?
Tapi sungguh, di
antara menari dan drama, judul 'Cari Si Norisuke', 'Pameran Jeroan ~Elegan~',
dan 'Ugh! Gulat' ini benar-benar mengeluarkan aura yang terlalu menyimpang.
"Anu,
Amakusa-kun, apa kamu punya... usul?"
Ketua Kelas,
terima kasih sudah bertanya padaku, tapi kenapa pas bicara sama aku nadanya
jadi agak ketakutan begitu?
"Benar juga
ya..."
Bagiku sih
asalkan semuanya bisa bersenang-senang, kontennya apa pun tidak masalah. Yah,
kasih jawaban yang aman saja—
"Maaf
mengganggu sebentar."
Saat itu, pintu
depan kelas tiba-tiba terbuka.
"Oh, lagi
diskusi buat acara penyambutan ya. Pas sekali."
Sosok yang masuk
sambil memasukkan tangan ke kantong celana itu melihat ke arah papan tulis,
lalu sedikit mengendurkan ekspresi wajahnya.
"Nggak
mungkin..."
"Itu
kan..."
"S-Souga-sama!"
Suara-suara tak
percaya dari para siswi mulai terdengar. Benar, sosok yang berdiri di samping
meja guru sambil menatap kami seolah sedang menilai adalah Souga
Shishimori-senpai.
Dia adalah Wakil
Ketua OSIS sekaligus orang yang bertahta di peringkat satu daftar peringkat
laki-laki. Jika bicara secara lebih vulgar, dia adalah pria paling populer di
Seikou.
Dari tatapan
matanya yang tajam, dia lebih memberikan kesan seperti serigala penyendiri
daripada seekor singa (Shishi).
"Ya
ampun, aslinya ganteng parah."
"Aku juga
baru pertama kali lihat sedekat ini."
"Garis
pinggangnya lebih ramping dari aku!"
Semua siswi
terpaku menatap sosoknya. Bahkan ada yang sampai wajahnya memerah karena
terpesona. Memang benar sih, dari sudut pandang laki-laki pun, dia terlihat
keren.
Dia memancarkan
aura liar, tapi bukan sekadar kasar, ada karisma dan daya tarik unik yang
terpancar darinya.
Bisa
dibilang dia punya keberandalan yang stylish. Kancing kemejanya terbuka,
dan sekilas dia tidak tampak seperti orang yang menjabat sebagai Wakil Ketua
OSIS.
Yah,
kesenjangan itu jugalah yang tampaknya menjadi salah satu faktor
popularitasnya.
Cuma
masalahnya... orang ini kemarin baru saja menembakku. Yah, itu murni gara-gara
Pilihan Mutlak, jadi bukan salah Shishimori-senpai... tidak... sebaiknya aku
berhenti mengingatnya. Berdasarkan hukum itu, dia sendiri pasti tidak punya
ingatan apa pun soal itu, dan yang terpenting, tidak baik bagi kesehatan
mentalku jika terus diingat.
"Hmph...
begitu ya."
Setelah puas
mengedarkan pandangan ke seisi kelas, Shishimori-senpai menatap Utage-sensei
yang tampak malas-malasan.
"Kak Utage (Ane-go).
Boleh minta waktunya sebentar?"
Utage-sensei yang
dipanggil langsung memelototi Shishimori-senpai dengan tajam.
"Woi, sudah
kubilang berapa kali jangan panggil 'Kakak', mau kumutilasi kamu?"
......Dua orang
ini sebenarnya punya hubungan apa, sih?
Dan Utage-sensei,
tolong jangan keluarkan kata-kata menyeramkan seperti "mutilasi" di
depan seluruh murid sekelas.
Katanya, dulu dia
punya julukan 'Utage Si Pembantai'. Entah di mana dan siapa yang menjuluki,
tapi masalahnya itu sama sekali tidak terdengar seperti candaan.
Tepat saat aku
memikirkan itu, Shishimori-senpai berjalan mendekat ke arahku dengan tangan
masih di dalam kantong.
"Kamu
Amakusa Kanade, kan?"
"Eh? Ah,
iya, benar... tapi kenapa?"
Kenapa aku
dipelototi?
"Kamu tahu
tidak? Selama setahun terakhir, tahu berapa banyak komplain yang masuk ke OSIS
gara-gara ulahmu?"
......Oalah, itu
alasannya.
"......Maaf."
Berbagai memori
pahit kembali muncul... Tahun lalu saat aku belum terbiasa dengan Pilihan
Mutlak, aku memang melakukan kekacauan yang jauh lebih parah dari sekarang.
"Yah,
kasus-kasus yang benar-benar parah sudah kuhapus setelah aku mengancam si kakek
tua Ketua Yayasan itu, sih."
Terima kasih sih, tapi... Utage-sensei, sebenarnya kamu ini
siapa? Dan jangan bilang begitu di sini, dong.
"Hmph, berterima kasihlah pada Kakak."
"Sudah kubilang JANGAN PANGGIL KAKAK, WOI!"
Di tengah adu mulut dua orang kasar itu, Yuuouji berteriak.
"Ah,
ada Senpai Singa yang ganteng!"
"Si-Singa
katamu...?"
Anak ini
benar-benar tidak kenal takut, mau itu di depan senior atau guru, dia terlalu
bebas. Tepat saat aku hendak menghentikannya, Yukihira tiba-tiba menyela masuk.
"Sekali-kali
aku ingin melihatnya, seorang wanita menyembunyikan singa di dalam rumahnya.
Ini adalah Furano." (T/N: Plesetan gaya komedi Rakugo terkenal
Utamaru-san).
Kenapa
malah pakai gaya Utamaru-san... lagipula soal 'uang simpanan' (hesokuri)
dan 'singa' (raion) itu sama sekali tidak nyambung rima-nya, kamu cuma
asal ngomong saja kan!
"Ouka
Yuuouji dan Furano Yukihira... ya."
Di hadapan dua
orang anggota 'Reject 5', Shishimori-senpai tampak agak ciut.
"Eh, apa
kamu kurang suka? Kalau begitu gimana kalau Senpai Ike-On?"
Mungkin singkatan
dari 'Ikemen' (pria ganteng) dan 'Raion' (Singa), tapi itu penamaan yang sama
sekali tidak punya selera. Kemampuan imajinasinya selevel anak SD.
"Wah, itu
terdengar lumayan bagus. Kalau ditulis dengan huruf hiragana jadi 'Ike-On!',
rasanya bakal jadi hit besar. Senpai, coba pegang kastanyet terus bilang
'un-tan' dong?"
"SIAPA JUGA
YANG MAU!"
Tanpa sadar aku
melakukan tsukkomi menggantikan korbannya. Biar pun dia gantengnya
selangit, itu adalah pose yang haram dilakukan oleh laki-laki secara visual.
"......Woi
Amakusa, sebenarnya ada apa dengan teman-temanmu ini?"
Kenapa aku
dipelototi lagi... mereka berdua jelas bukan temanku, woi!
"Apa mereka
selalu begini?"
"Ya,
begitulah."
"Dan kamu
selalu menghadapi mereka?"
"Iya,
biasanya begitu."
"......Berat
juga ya hidupmu."
Satu orang paham!
Akhirnya ada orang yang paham perasaanku di sini!
"I-iya benar
sekali, Senpai! Yang aneh itu cuma mereka berdua, aku ini manusia normal!"
Tanpa sadar aku
mencengkeram erat tangan Shishimori-senpai.
"Aduh,
jangan-jangan kehadiran kami mengganggu ya?"
"Benar,
Yuuouji-san, tidak baik jika kita mengganggu lebih lama lagi. Mari kita
serahkan sisanya pada dua sejoli muda ini, dan kita segera undur diri."
"KENAPA JADI
KAYAK ACARA PERJODOHAN BEGINI!"
"I-Ini
edisi kolektor terbatas!"
"Kamu juga
jangan ikut-ikutan!"
"Bo-bocah-bocah
ini..."
Tampaknya
Shishimori-senpai yang terkena serangan komedi Yuuouji dan Yukihira (plus satu
ekor Chocolat) mulai menunjukkan ekspresi lelah sekaligus tercengang. Aku
sangat mengerti perasaanmu, Senpai.
"Senpai,
ngomong-ngomong ada urusan apa ke sini?"
Mana mungkin
alasannya cuma buat melihat kami anggota 'Reject 5'.
"Cih,
gara-gara kalian bercanda terus, aku jadi tidak punya kesempatan buat bicara.
Baiklah, alasan aku repot-repot datang ke sini adalah—"
Pintu kelas
terbuka seolah-olah memotong kalimatnya.
"Kalau soal
itu, biarkan saya saja yang menjelaskannya~."
Pintu terbuka
dengan perlahan, dan seorang wanita masuk tanpa suara.
"——!"
Hampir semua
orang di sana, laki-laki maupun perempuan, langsung menahan napas dan mematung.
Senyum yang
lembut namun memancarkan aura bangsawan, pahatan wajah yang terlalu sempurna
sampai terasa tidak alami.
Garis tubuh yang tanpa cela. Dia adalah sang Ratu yang
bertahta di peringkat satu daftar peringkat perempuan selama tiga periode
berturut-turut sekaligus Ketua OSIS, Seira Kokubyakuin.
"Maaf ya, Shishimori-san. Saya jadi terlambat~."
Meskipun nada bicaranya sangat santai dan lambat, namun
terkandung kekuatan aneh yang mampu memikat hati siapa pun yang mendengarnya.
"Sialan,
lagian juga harusnya serahkan saja pada panitia pelaksana acara penyambutan,
kenapa kita harus repot-repot turun tangan sendiri."
"Habisnya,
sepertinya bakal seru kan~?"
"Cih... ya
sudahlah, ayo cepat selesaikan."
"Baiklah~."
Ada satu lagi
ciri fisik Ketua Kokubyakuin yang perlu dicatat. Yaitu rambutnya yang
panjangnya tidak masuk akal. Yuuouji dan Chocolat memang punya rambut panjang
sampai pinggang, tapi tingkat Ketua ini berbeda.
Jika dia sedikit
menengadahkan lehernya ke belakang, ujung rambutnya akan menyentuh
lantai—benar-benar dipanjangkan sampai batas maksimal.
"Douraku-sensei~,
maaf ya sudah membuat keributan."
Bahkan dari satu
gerakan membungkuk hormat kepada Utage-sensei saja, gerakannya terlihat sangat
anggun dan terlatih.
"Nggak usah
dipikirkan, murid-muridku memang dari awal sudah berisik."
......Masalahnya
bukan itu, kan?
"Teman-teman
kelas 2-1, maaf ya sudah mengganggu waktu kalian~. Tujuan kami datang adalah
untuk mengajak Amakusa Kanade-san, Ouka Yuuouji-san, dan Furano Yukihira-san. Kami ingin mengajak kalian bertiga
untuk ikut serta dalam 'Pertandingan Antar-Blok'."
"Pertandingan
Antar-Blok?"
Saat aku
memiringkan kepala bingung, Shishimori-senpai memberikan penjelasan.
"Tahun
lalu juga diadakan di akhir acara penyambutan, kan? Itu acara di mana
perwakilan lima orang (campuran laki-laki dan perempuan) dari jajaran Peringkat
Atas dan anggota 'Reject 5' dipilih untuk berduel satu lawan satu di atas
panggung."
......Ah,
yang itu ya. Aku ingat dulu ada duel aneh seperti 'Duel Saling Pecut Pakai Ikat
Pinggang' atau 'Duel Tahan Berendam di Air Mendidih' yang mirip acara TV gila.
Ditambah
lagi orang-orang 'Reject 5' beraksi sesuka hati sampai aku yang menonton di
kursi penonton cuma bisa melongo melihat orang-orang aneh itu... Saat itu, tidak terpikirkan sedikit pun di
mimpiku kalau aku akan menjadi bagian dari mereka.
Dan
sekarang, aku disuruh ikut acara begituan?
Jangan
bercanda, itu kan cuma bakal mempermalukan diri sendiri di depan seluruh murid
sekolah.
"Omong-omong,
anggota dari jajaran Peringkat Atas sudah ditentukan lewat undian."
"Kebetulan,
saya dan Shishimori-san juga kena undian, jadi kami masuk sebagai
anggota~."
Suasana kelas
langsung riuh rendah. Dua orang peringkat satu laki-laki dan perempuan ikut
bertanding dalam satu acara besar. Itu pasti bakal seru... asalkan aku cuma
jadi penonton saja.
"Anu, saya sepertinya nggak us—"
"Nah, kalau
begitu mari kita segera lakukan pengundiannya~."
Memotong
kalimatku, Ketua OSIS mengeluarkan kotak dan batang undian seperti yang sering
dipakai peramal dari sakunya.
"Silakan ambil. Siapa pun yang mendapat tanda 'menang', maka dia resmi jadi peserta~."
Dia
menyodorkannya sambil tersenyum ramah. Aku benar-benar merasa muak, tapi
suasananya tidak memungkinkan bagiku untuk menolak... Tidak ada pilihan lain
selain menariknya.
"Jaka-jaka-jaka-jaka,
hup!"
"Dalam
kamusku, tidak ada kata 'gagal'."
"......Melesetlah!"
Ujung batang
milik kami bertiga semuanya berwarna merah menyala.
"Wah~,
semuanya menang ya."
TUNGGU, TUNGGU,
TUNGGU! Jika tidak menghitung para alumni, seharusnya ada sembilan orang
anggota 'Reject 5' yang masih bersekolah, terdiri dari empat laki-laki dan lima
perempuan. Bagaimana mungkin probabilitasnya bisa membuat kami bertiga menarik
tanda menang secara bersamaan—
"Fufu,
kebetulan yang luar biasa ya~."
"Ke-Ketua,
apa hasil ini tidak terasa aneh menurutmu!?"
"Duh~
Amakusa-san. Mengajukan keberatan atas keputusan yang sudah dibuat itu tidak
mencerminkan sikap seorang laki-laki, lho~."
Ketua OSIS
memberikan kedipan mata ringan ke arahku. Melihat gerakan itu, pipi para murid
laki-laki langsung mengendur dengan tampang bodoh. Menuduh mereka
"lemah" karena hal ini rasanya agak terlalu kejam.
Karismatik yang
sulit ditebak, penampilan tanpa cela, dan dipadukan dengan keimutan yang
jenaka. Sosok bernama Seira Kokubyakuin ini memang benar-benar pantas bertahta
di peringkat satu.
Tapi, entah
kenapa... jujur saja, aku sama sekali tidak bisa merasakan daya tarik dari
senior yang satu ini.
Bukannya aku
tidak sadar kalau secara objektif dia itu sempurna, aku sangat paham akan hal
itu, tapi bukan itu maksudku... ya, sulit menjelaskannya, tapi... orang ini
berbahaya.
"Kalau mau
tahu rahasianya~, sebenarnya pengundian untuk anggota 'Reject 5' yang lain
sudah selesai. Karena mereka semua—kecuali satu orang—menarik batang putih,
maka tanda 'menang' untuk Amakusa-san dan yang lainnya yang terakhir diundi
sudah otomatis ditentukan~."
"Ja-jadi,
batang yang kami tarik tadi......"
"Iya, isinya
cuma warna merah saja~."
Apa-apaan...
biarpun kamu bilang ini persetujuan setelah kejadian, aku tetap tidak bisa
menerimanya. Biasanya kan hal seperti ini dilakukan dengan mengumpulkan
semua orang di satu tempat dan melakukannya bersamaan...... Aku benar-benar
mencium ada unsur kesengajaan di sini.
"Ada apa, Amakusa-san? Sepertinya kamu tidak terlalu
bersemangat~. Apa kamu benar-benar
ingin mengundurkan diri?"
"Eh, apa itu
bisa dilakukan?"
"Nggak
bisa~."
"TERUS
KENAPA TANYA!?"
"Yuuouji-san
dan Yukihira-san juga tidak keberatan, kan~?"
"Iya, iya!
Kelihatannya seru, tentu saja aku mau ikut!"
"Sepertinya
waktu bagiku untuk menunjukkan kekuatanku di depan seluruh sekolah akhirnya
tiba."
......Tolong
bagikan sedikit mental baja kalian itu padaku.
"Anu, dari
lima orang terpilih, satu orang adalah slot khusus, jadi nanti silakan kalian
pilih sendiri ya~. Ah, omong-omong, satu orang lagi yang menarik batang merah
adalah Karasu Yumejima-san kelas tiga, jadi mohon kerja samanya."
Mendengar nama
itu, seisi kelas kembali gaduh. Karasu Yumejima-senpai dikenal sebagai salah
satu orang paling aneh di antara anggota 'Reject 5'.
Anggota tim yang hanya memberikan rasa cemas akan masa
depan... Yah, di dalam 'Reject 5' memang mana ada orang yang bisa bikin tenang,
sih.
"Kanade-san, sepertinya bakal seru ya!"
Chocolat mendekat, dan tatapannya bertemu dengan sang Ketua
OSIS.
"Wah, apa kamu ini Chocolat-san, si Petugas Hewan
Pembantu Akademik itu~?"
"Iya, benar sekali!"
Gelar konyol itu ternyata juga sudah diakui OSIS, ya......
"Ngomong-ngomong, Ibu Ketua OSIS."
"Iya, ada apa~?"
"Rambut Ibu Ketua baunya harum dan manis sekali, boleh
aku coba jilat sedikit?"
"KAMU BODOH YA!"
Aku buru-buru membungkam mulutnya.
"Ma-maaf, Ketua."
"Tidak apa-apa kok~," jawab Ketua OSIS sambil
tersenyum lembut.
"Lagipula Chocolat-san benar-benar imut ya~. Seperti boneka."
"Ehehe,
terima kasih banyak!"
Saat mengelus
kepala Chocolat, entah kenapa Ketua OSIS menatap ke arahku dan berkata,
"Iya,
benar-benar—seperti bukan manusia."
"——!"
Kulitku
langsung merinding hebat. Sesaat setelah kata-kata itu terucap, mata sang Ketua
OSIS tampak seperti mata burung pemangsa yang sedang mengincar buruannya.
"Fufu,
cuma bercanda kok~."
Begitu
aku sadar, yang ada di hadapanku hanyalah senyum santai yang sama seperti
sebelumnya.
"Nah,
sepertinya sudah waktunya kami undur diri. Teman-teman kelas 2-1, maaf ya sudah
mengganggu~."
Ketua OSIS
memberi anggukan hormat kepada Utage-sensei, lalu pergi meninggalkan kelas
bersama Shishimori-senpai. ......Apa maksudnya tadi? Reaksi Ketua OSIS itu, apa
dia tahu sesuatu tentang Chocolat? Atau dia cuma punya intuisi tajam seperti
Yuuouji tempo hari?
Di saat pikiranku
berputar-putar, tiba-tiba ponselku bergetar. Pengirim email:
"Tuhan", Subjek: "Misi Penghilang Kutukan".
"Datang di waktu seperti ini pula... Eh, APA-APAAN
INI!?"
Dapatkan
pernyataan 'Suka' dari seluruh peserta perempuan yang ikut dalam Pertandingan
Antar-Blok. Batas waktu: Sampai Pertandingan Antar-Blok berakhir pada
hari Jumat, 31 Mei.
......Nggak, itu mah mustahil.



Post a Comment