NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Firasat Terbentuknya Harem?


1

"Haaaaah......"

Kenapa jadi begini?

"Haaaaah......"

Kenapa jadi begini?

Keputusasaanku begitu mendalam sampai-sampai aku refleks mengulanginya dua kali.

"Kanade-san, Kanade-saaann!"

Gadis mungil berambut pirang yang tadi dikerubungi teman-teman sekelas itu berhasil menyelinap keluar, lalu berjalan menghampiriku dengan langkah ceria—te-te-te.

"...Ternyata ini memang bukan mimpi ya."

Gadis yang menamakan dirinya Chocolat ini, karena suatu alasan, menumpang hidup di rumahku—

"Dengarkan ini, Kanade-san! Semuanya memberiku banyak sekali camilan!"

Entah kenapa tadi pagi, secara mendadak, tiba-tiba, dan seketika, dia pindah ke kelas ini.

Tidak, tepatnya dia bukan siswa pindahan, melainkan berstatus sebagai Petugas Hewan Pembantu Akademik-ku... aku sama sekali tidak paham maksudnya apa.

"Ham-ham... enyak fali dech!"

Pipi Chocolat menggembung penuh cokelat dan biskuit sementara wajahnya berseri-seri bahagia.

Seiring dengan itu, rambutnya yang mirip ekor anjing itu bergerak naik-turun... Setiap kali melihatnya, aku selalu bertanya-tanya bagaimana cara kerja rambut itu sebenarnya.

"Chocolat-chaaan. Sini, aku kasih lebih banyak camilan lagi."

"Benarkah!?"

Chocolat menelan semua makanan di mulutnya dengan kecepatan luar biasa, matanya berbinar, lalu dia berlari kembali ke arah kerumunan siswi... Dia benar-benar sudah jadi anjing peliharaan yang dijinakkan dengan makanan.

Di tengah seruan "Imutnya~ imut banget~", dia sekarang sedang dalam kondisi "diperebutkan"—dielus-elus dan disentuh sana-sini.

Para siswa laki-laki juga tidak mau ketinggalan melemparkan berbagai pertanyaan. Dia benar-benar jadi idola baru.

Yah, mendapatkan perhatian berlebih itu memang hak istimewa siswa baru (meski dia bukan), jadi kalau kubiarkan, pasti bakal reda dengan sendirinya.

"Amakusa-kun, bisa bicara sebentar?"

Sebuah suara yang terdengar datar tanpa emosi memanggil dari belakang, membuatku menoleh.

"Hm? Ada apa, Yukihira?"

Yukihira Furano.

Gadis dengan rambut putih berkilau bak padang salju yang sangat berkesan. Wajahnya sangat cantik, tapi karena dia tipe yang ekspresinya selalu datar, sangat sulit untuk menebak apa yang sedang dia pikirkan.

"Begini, ini soal Chocolat-san, Petugas Pelampiasan Hasrat Masa Muda milikmu itu."

......Tadi dia bilang apa? Barusan anak ini bilang apa?

"Oh, apa tidak terdengar? Ini soal Chocolat-san, Petugas Pelampiasan Hasrat Seksual milikmu itu."

"Kok...... isinya berubah?"

"Tidak juga. Sejak awal aku memang ingin bilang Ona-pe—"

"SUDAH DIAM!"

Karena dia mengatakannya tanpa menggerakkan satu pun otot wajah, tingkat keanehannya jadi berada di level maksimal.

"Kamu ya...... siang bolong begini, sebenarnya apa yang kamu bicarakan?"

"Amakusa-kun, kurasa poin yang harus kamu kritik sekarang bukan soal waktu, tapi soal kenyataan bahwa aku, seorang gadis, membicarakan hal mesum seperti itu."

"Ternyata kamu yang paling sadar, ya!"

"Meskipun sadar, rasa tidak bisa berhenti dan tidak bisa tertahan adalah hal mengerikan dari lelucon mesum."

"Kenapa kamu malah pakai gaya slogan makanan ringan begitu!"

"Kalau begitu, aku akan berhenti mulai besok. Jadi, khusus hari ini, aku akan membombardirmu dengan lelucon mesum sepuasnya."

"Kenapa jadi kayak orang yang mau diet tapi malah makan besar dulu sebelumnya! Sudahlah, berhenti sekarang juga!"

"Meskipun kamu bilang begitu, kalau lelucon mesum diambil dariku, yang tersisa hanya mimpi dan harapan."

"Sebenarnya kamu itu terbuat dari apa sih!?"

Yukihira ini, dari segi penampilan, masuk dalam jajaran gadis tercantik di sekolah, tapi karena isinya begini, dia diberi gelar tidak terhormat sebagai bagian dari The Reject 5 (Okodowari 5).

Meskipun fisiknya unggul, mereka adalah orang-orang buangan yang dianggap "Mustahil" untuk dijadikan objek cinta karena elemen "kekurangan" mereka yang terlalu kuat.

Aku sendiri juga termasuk dalam daftar The Reject 5 versi laki-laki, tapi dalam kasusku, itu murni karena aku dipaksa melakukan tindakan aneh oleh Pilihan Mutlak (Zettai Sentakushi). Aku tidak mau disamakan dengan Yukihira yang memang dasarnya sudah aneh.

"Ah, Furano-san. Mau makan camilan juga?"

Chocolat kembali lagi dengan kedua tangan penuh makanan. Sebanyak apa sih yang dia dapatkan...

"Terima kasih, kalau begitu aku minta yang ini."

Yukihira memilih satu camilan dari tumpukan di atas meja. Sialnya, yang dia ambil adalah cokelat berbentuk payudara. Siapa sih yang bawa barang begini ke sekolah...

Yukihira memasukkannya ke mulut dengan tenang, lalu mulai memutar-mutarnya di atas lidah dengan suara lero-lero.

"G-gimana cara makanmu itu......"

"Lho, kalau makanan cabul begini dimakan dengan wajah memerah dan malu-malu, bukannya malah jadi terlihat lebih mesum? Jika ingin menyembunyikan daun, sembunyikan di dalam hutan. Jika ingin menyembunyikan kecabulan, sembunyikan di dalam mulut yang erotis."

......Logikanya terlalu unik sampai aku tidak bisa memahaminya barang sedikit pun.

Setelah selesai makan cokelat, Yukihira berbalik ke arah Chocolat.

"Ngomong-ngomong, Chocolat-san, boleh sebentar?"

Begitu bicara, dia langsung meremas payudara Chocolat dengan kuat.

"Haeh?"

"Woi! Apa yang kamu lakukan tiba-tiba begitu!?"

Meskipun tubuhnya mungil, Chocolat punya "aset" yang cukup melimpah, dan Yukihira meremasnya tanpa rasa sungkan sedikit pun.

"Lho, aku hanya melakukan hal yang sama seperti Amakusa-kun. Kamu meremasnya setiap malam begini, kan?"

"NGGAK PERNAH!"

"Mustahil. Tinggal serumah dengan paiotsu (payudara) sehebat ini tapi tidak meremasnya—Hah! Jangan-jangan...... di usia segini, fungsi kejantananmu sudah mati?"

Kenapa kamu bisa sampai pada kesimpulan ekstrem begitu...... lagipula, jaga bahasamu soal paiotsu itu.

"Nah, silakan pilih, Amakusa-kun. Apakah kamu meremasnya, atau fungsi kejantananmu sudah mati? Kira-kira yang mana?"

"MANA BISA MILIH!"


PILIH:

"Sebenarnya aku meremasnya"

"Sebenarnya fungsi kejantananku sudah mati"


"KUBILANG MANA BISA MILIH!"




Ini dia... inilah kutukan terkutuk yang membuatku menyandang gelar "The Reject 5", Absolute Choice.

"Amakusa-kun, kenapa barusan kamu memberikan dua reaksi tsukkomi sekaligus?"

"Nggak, ini tuh guaaaaaaakh!"

Tiba-tiba rasa sakit kepala yang luar biasa menyerangku.

Pilihan Mutlak ini, jika aku mencoba menolak atau mengulur-ulur waktu, ia akan memaksaku untuk memilih dengan rasa sakit yang tak terbayangkan. Batas waktu dan intensitas rasa sakitnya bervariasi setiap saat, tapi kali ini, durasinya singkat dan sangat kuat.

"S-sebenarnya... fungsi kejantankanku sudah mati."

Begitu kalimat itu terucap, rasa sakitnya lenyap seolah-olah tadi hanya kebohongan.

Sialan kau, pilihan bajingan... setiap saat selalu menyodorkan opsi yang nggak bener. Sudah setahun aku menderita gara-gara benda ini... Mengingatnya saja sudah membuatku ingin menangis.

Tapi yah, dengan konten pilihan kali ini, orang-orang di sekitarku pasti akan menganggapnya sebagai lelucon belaka.

"Lho, ada apa, Yukihira?"

Yukihira menempelkan tangan ke mulutnya, tubuhnya gemetar hebat.

"Mungkinkah... mungkinkah hal yang kukatakan hanya sebagai candaan, ternyata adalah kenyataan... Maafkan aku, maafkan akuuu!"

"Bisa nggak jangan bilang begitu dengan nada yang seolah-olah ini fakta?! Ini sudah pasti bohong, kan!"

"Oalah, kalau begitu berarti kamu memang tipe yang meremasnya ya."

Seketika ekspresinya kembali datar... ini sudah semacam seni wajah, ya.

"Nggak, kenapa sih di dalam otakmu cuma ada dua pilihan itu... Hei Chocolat, aku nggak pernah melakukan hal aneh begitu padamu, kan?"

Kalau sudah begini, cara tercepat adalah meminta kesaksian dari orang yang bersangkutan.

"Iya!" jawab Chocolat seketika. Yah, karena aku memang tidak melakukan apa-apa, itu sudah sewajarnya.

Namun, tepat setelah itu,

"Tapi, bagian yang lain pernah diremas."

...... Hah?

"Kemarin pagi, waktu aku bangun, Kanade-san ada di dekatku, lalu aku diremas-remas sampai gunyu-gunyu."

...... Memang sih, aku melakukannya. Karena dia tidur terus kayak bangkai dan nggak bangun-bangun meski sudah dipanggil, jadi aku menarik pipinya dan memaksanya bangun.

Tapi ya, Chocolat-san. Kalau kamu mengatakannya dengan cara yang bisa disalahpahami begitu—

"Ugh..."

Sesuai dugaan, suasana di dalam kelas mendadak hening seketika.

"Nggak... anu..."

Saat aku mencoba membela diri entah kepada siapa, sebuah tangan menepuk pundakku. Ketika aku menoleh, temanku, Sato, sedang tersenyum lebar.

"Hei Amakusa, boleh nggak aku pukul wajahmu sebentar?"

"KENAPA!?"

Dari lingkaran siswa laki-laki yang entah kapan sudah mengepungku, Takahashi melangkah maju perlahan.

"Hei Amakusa, boleh nggak aku colok matamu sebentar?"

"Dibilang kenapa juga!?"

Menyusul kemudian, suara Ito yang terdengar sangat dingin.

"Hei Amakusa, mau nggak kita pergi ke fasilitas bawah tanah buat kerja paksa?"

"Itu mah Ito-san yang di film-film, bukan kamu!"

"Amakusa, bukannya identitasmu itu 'Ganteng-ganteng tapi mesum parah, makanya nggak laku sama sekali di mata cewek'?"

"Benar, benar! Kalau bicara soal Amakusa, ya 'Ganteng yang Sayang Banget' kan?"

"Aku bahkan kemarin baru saja mengirim naskah light novel ke lomba, pakai model Amakusa dengan judul: 'Aku Ganteng Sih, tapi Karena Saking Sayangnya Nggak Ada Satu Orang pun yang Mau Mendekat'."

"Kalian ini menganggapku apa sih!?"

"""Ganteng (wkwk)."""

...... Kayaknya aku berhenti jadi teman mereka saja deh.

Yah sudahlah, abaikan saja orang-orang tidak berperasaan ini, masalahnya adalah para gadis. Para nona muda di usia yang menunjukkan rasa jijik berlebihan terhadap lelucon mesum (padahal aslinya bukan) semuanya langsung menjauh dariku.

"Nggak, yang tadi itu salah paham."

Baru saja aku keluar dari lingkaran para lelaki dan melangkah ke arah siswi terdekat,

"Hiih, aku bakal diremas!"

"Nggak akan kuremas!"

"Hiih, aku bakal diremas-remas!"

"Nggak akan kuremas-remas!"

"Hiih, aku bakal diremas gunyu-gunyu!"

"Setidaknya takutlah dengan bahasa Indonesia yang benar!"

Sudah tamat... atmosfernya sudah terbentuk sedemikian rupa sehingga apa pun yang kukatakan akan berakibat negatif.

"Anu... para siswi sekalian, tolong beri tahu aku satu hal. Apa kalian membenciku?"

"""Yah, bukannya kami benar-benar benci dari lubuk hati yang terdalam sih, dan pada dasarnya kami pikir kamu orang baik, tapi perbedaan antara kegantengan dan keanehanmu itu terlalu jauh, jujur saja itu menjijikkan."""

"Kenapa dialog sepanjang itu bisa kompak banget harmoni suaranya! Keajaiban macam apa ini!"

"Kanade-san, aku sangat suka padamu kok!"

"Bisa diam nggak? Kamu cuma bikin makin ribet!"

"Semuanya, bagaimana kalau kita maafkan dia sampai di sini saja?"

Tiba-tiba, Yukihira menengahi.

"Maaf membuatmu menunggu, Amakusa-kun. Karena aku sudah datang, semua akan baik-baik saja."

"Kenapa kamu berlagak jadi rekan yang datang membantu! Bukannya penyebab utamanya itu kamu sendiri!?"

Capek... menghadapi anak ini beneran bikin capek.

"Amakusa-kun, kamu tetap bersikeras kalau kamu tidak melakukan hal cabul dengan Chocolat-san, ya?"

"Iya, nggak."

"Kalau bukan hal cabul, apa mungkin hal yang 'berbau amis'?"

"Isi kepalamu kayak om-om ya!"

"Yah, om-om memang rata-rata berbau amis kan."

"Minta maaf sana sama semua om-om di dunia!"

"Apakah Anda suka om-om yang berbau amis?"

"Nggak usah ngomong kayak iklan sabun kecantikan 'Apakah Anda suka wanita yang cantik' begitu!"

...... Sudah cukup, aku nggak tahan lagi.

"Hadeh... hm?"

Saat itu, tiba-tiba pundakku dicolek. Saat aku menoleh ke belakang—

Aku, ada di sana.

"GYAAAAAAAAAA!!"

Sambil berteriak histeris, aku jatuh terduduk.

"A... apa-apaan ini?"

Di hadapanku berdiri "aku" yang memakai seragam siswi. Nggak, aku sendiri nggak paham apa yang kukatakan, tapi pemandangan itu memang ada di depan mataku.

"Aku" (?) itu tiba-tiba tertawa seolah meledak.

"Ahahahahahaha!"

Mendengar suara itu, aku tersadar. Rambut hitam lurus panjang, pinggang ramping yang terlihat dari balik blus, dan rok super mini yang jelas-jelas sudah dimodifikasi. Jika dilihat dengan tenang, elemen "aku" hanya ada pada wajahnya saja.

"Jreeeng!"

Sosok itu berteriak dengan semangat tinggi, lalu SREET, dia mengupas kulit wajahnya.

"Ternyata kamu lagi ya..."

Gadis itu, Yuuouji Ouka, tertawa dengan ekspresi kekanak-kanakan dan mengacungkan jempolnya.

"Iyaー, Amacchi, reaksi yang bagus!"

Sampai sekarang aku masih agak sulit percaya, tapi Yuuouji ini adalah putri dari presiden perusahaan raksasa yang sudah terkenal itu, "UOG". Terlebih lagi, spesifikasi dirinya sendiri sangatlah tinggi; dia mahir dalam segala jenis olahraga dan nilainya selalu peringkat atas di angkatan, benar-benar manusia super yang sempurna.

Tapi, anak ini juga masuk daftar "The Reject 5" gara-gara perilakunya yang terlalu bebas dan pola pikirnya yang sangat kekanak-kanakan.

"Waktu lagi nyiapin ini di toilet, ternyata makan waktu lama juga."

Pantas saja tadi nggak kelihatan, ternyata sedang melakukan hal konyol begitu...

"Lihat, lihat, hebat kan?"

Aku menerima dan memandangi topeng karet itu lekat-lekat. Aku tidak tahu terbuat dari bahan apa, tapi dari segi warna dan tekstur kulitnya, ini sudah selevel kualitas film Hollywood. Benar-benar mengerikan, teknologi UOG.

"I-ini adalah penemuan yang revolusioner... tak disangka 'Kanade x Kanade' bisa terwujud, aku tidak bisa menahan debaran di dadaku ini!"

"Iya, tolong yang otaknya sudah membusuk mending diam dulu ya."

"Ah, Chocolat-chi. Ini barang prototipe, kalau mau, aku kasih buat kamu."

"Benarkah!?"

"Ini juga ada speaker kecil di dalamnya, jadi kalau direkam, bisa keluar suara Amacchi juga lho."

"A-apa-apaan itu. Kanade-san, tolong katakan 'Natsuhiko... Natsuhiko!' sebentar—"

"DIBILANG SIAPA SIH NATSUIHIKO ITU!?"

...... Gagal. Sampai sekarang menghadapi Yukihira dan Yuuouji saja sudah membuat hari-hariku melelahkan, tapi dengan tambahan Chocolat, tingkat kerumitannya meningkat drastis. Masih harus menghabiskan hampir satu tahun lagi di kelas yang sama dengan tiga orang ini... serius, perutku sakit. Padahal aku sudah punya Pilihan Mutlak yang terburuk—

"Hm?"

Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di benakku. Kalau dipikir-pikir, Pilihan Mutlak yang muncul saat wali kelas tadi pagi... hasilnya belum terlihat.

Pola di mana reaksi tidak langsung muncul seketika memang bukan hal baru, tapi ini pertama kalinya pilihan berikutnya muncul sebelum pilihan sebelumnya tuntas. Karena tadi isinya soal "meremas" atau "kejantanan mati" itu terlalu konyol, aku tidak sempat memikirkannya, tapi sebenarnya apa yang terjadi?

Dan ada satu hal aneh lagi. Aku mencoba mengingat kembali isi pilihan yang muncul di benakku tadi pagi.


PILIH:

Masuki Harem Time, di mana kamu akan ditembak oleh keempat orang di peringkat atas (siswi aktif)

Sesuatu yang terasa sangat enak akan terjadi


Biasanya, isi Pilihan Mutlak itu ada satu yang buruk, dan satu lagi yang jauh lebih buruk. Singkatnya, sebenarnya cuma ada satu pilihan. Kadang keduanya sama-sama buruk, dan jarang sekali ada satu yang terlihat lumayan bagus, tapi ini pertama kalinya kedua-duanya adalah pilihan yang bagus.

Apakah ini ada hubungannya dengan keberhasilanku menyelesaikan misi penghilang kutukan—

"Hm?"

Tiba-tiba bagian depan kelas menjadi gaduh.

Saat aku menoleh, terlihat kerumunan kecil orang. Dari sini tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan pintu, tapi pandangan semua orang tertuju pada sosok yang sepertinya berdiri di sana.

"Uwoh, seriusan nih..."

"Orang dari peringkat atas..."

"Aduh, imut banget!"

Reaksi teman-teman sekelas ini... mungkinkah... sudah datang?

Benar, pasti itu. Ini artinya hasil dari aku memilih baru muncul sekarang.

Pilihan Mutlak membawakanku hasil yang bagus. Hari seperti ini... tak disangka, aku tidak pernah membayangkan hari seperti ini akan tiba. Dengan dada yang berdebar penuh harapan, aku melangkah menuju pintu.

Di balik kerumunan, sosok yang berdiri menunduk sambil menggerakkan kakinya dengan gelisah di depan pintu adalah senior peringkat 4 di ranking sekolah, Nishino Aoi-senpai.

...... Lho?

Nishino-senpai dijuluki "Putri Aoi" karena wajahnya yang imut dan membangkitkan insting ingin melindungi. Dia memiliki aura yang memang pantas untuk terpilih sebagai Top 5 di SMA Seiko, sekolah raksasa dengan 45 kelas ini, tapi.

............ Lho?

Hampir bersamaan dengan pertanyaan yang muncul di benakku, Nishino-senpai mendongak.

"Anu... kamu Amakusa Kanade-kun, kan? Ada yang ingin kubicarakan..."

Apa-apaan... perasaan tidak tenang yang tak terlukiskan ini?

Nishino-senpai membuka suara seolah sedang diburu oleh sesuatu.

"A-anu, Amakusa-kun, aku—padamu—"

Pada saat itu, sebuah kebenaran menyambar benakku bagaikan kilat.

"Su-nggh."

Aku segera membekap mulutnya tepat pada waktunya.

...... Begitu ya, jadi begitu rupanya.

"S-senpai, ayo kita bicara di sana saja!"

Aku memegang tangan Nishino-senpai dan setengah memaksanya menjauh dari kelas.

"A-Amakusa-kun, sakit..."

Nishino-senpai menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ugh... ini boleh juga. Kalau aku lengah sedikit saja, aku mungkin akan melakukan kesalahan. Tenang, diriku.

"M-maaf. Tapi, karena pembicaraannya penting, bagaimana kalau kita ke tempat yang lebih sepi?"

"Ah... i-iya juga ya."

Nishino-senpai dengan wajah memerah mengikuti langkahku dengan patuh. Aku membimbingnya ke arah jembatan penghubung gedung khusus, dan memastikan tidak ada orang di sekitar.

"Jadi, Senpai, ada urusan apa denganku?"

Yah, jawabannya sudah sangat jelas sih...

Nishino-senpai menarik napas pendek lalu mengatakannya.

"Anu... aku menyukaimu, Amakusa-kun."

Dia menatapku dengan malu-malu. Wajahnya imut dan membangkitkan rasa sayang, mengingatkanku pada hewan kecil. Yah, kalau harus bilang meski terdengar klise, dia imut banget.

"Anu... itu... maukah kamu... pacaran denganku?"

Dan ini tidak salah lagi adalah sebuah pernyataan cinta. Dikejar-kejar permintaan pacaran oleh orang seimut ini adalah situasi impian bagi setiap pria... kecuali untuk satu poin penting.

"Nggak... anu, nggak bisa."

"K-kenapa!?"

Senpai menatapku dengan ekspresi tak percaya. Yah, orang sepertinya menembak seseorang lalu ditolak memang biasanya mustahil terjadi. Faktanya, aku sendiri pun sempat merasa goyah...

"Nggak, kalau tanya kenapa... soalnya—"

"Bagian mana yang nggak boleh!? Padahal aku... padahal aku sesuka ini padamu!"

...... Yah, mau nggak mau aku harus mengatakannya secara jujur.

"Nggak, Senpai, masalahnya adalah... Anda itu laki-laki, kan?"

"Eh?"

Gerakan Nishino-senpai terhenti.

Lalu, seolah-olah baru saja sadar dari pengaruh mistis, dia menampakkan ekspresi bengong.

"Lho? Lho? Kenapa tadi aku menembakmu ya?"

"...... Iya, itu yang ingin aku tanyakan."

"Hm? Hm? Terlebih lagi, kenapa aku ada di lantai dua ya?"

"...... Mungkin karena urusannya nggak penting, jadi Senpai lupa?

"Ehー, hmm, masa sih. Hmm... aku nggak terlalu paham, tapi aku balik ke kelas saja deh."

Senpai, meski terlihat tidak puas, berbalik dan berlari kecil pergi. Apa-apaan gerakan imut itu.

Katanya, berkat penampilannya yang androgini dan perilaku yang seperti perempuan, dia mendapatkan banyak suara dari siswa laki-laki dan masuk peringkat 4. Yah, kalau begitu sih wajar saja kalau dia dipanggil Putri Aoi meski laki-laki.

Namun, meskipun urusan itu sudah beres, urusan tertipu oleh pilihan ini tidak bisa kuterima semudah itu.

Memang dibilang akan ditembak oleh orang dari ranking sekolah, tapi tidak ada yang bilang kalau itu siswi perempuan.

...... Ini mah level cocoklogi anak SD.

Yah, karena kelas 3 sudah lulus, penghuni ranking sekolah saat ini adalah 4 siswa laki-laki dan 5 siswi perempuan. Kalau dipikir dengan tenang, ini adalah perkembangan yang bisa diprediksi, tapi tetap saja...

Sial... akhirnya sama seperti biasanya, aku hanya dipermainkan dan dipaksa menari mengikuti irama pilihan.

Isi Pilihan Mutlak secara garis besar terbagi menjadi tiga jenis.

Pertama adalah yang menentukan dialog atau tindakanku sendiri.

Contohnya yang tadi, "Sebenarnya aku meremasnya" atau "Sebenarnya fungsi kejantananku sudah mati", dan frekuensi kemunculannya sangat tinggi.

Kedua adalah yang dampaknya meluas ke orang lain selain diriku. Contohnya yang kali ini, Masuki Harem Time, di mana kamu akan ditembak oleh keempat orang di peringkat atas (siswi aktif) masuk dalam kategori ini.

Ketiga adalah pola tidak teratur lainnya. Sering kali kamu tidak tahu apa yang akan terjadi sampai kamu memilihnya. Sesuatu yang terasa sangat enak akan terjadi masuk dalam jenis ini.

Dalam jenis pola kedua, ada sebuah karakteristik tertentu.

Orang yang menjadi target, setelah melakukan tindakan tersebut, akan kehilangan ingatan tepat sebelum dan sesudah kejadian itu.

Artinya, Nishino-senpai sudah melupakan fakta bahwa dia baru saja menembakku. Berdasarkan pengalaman sejauh ini, ingatan yang hilang itu seolah akan dikompensasi secara otomatis oleh otak orang tersebut agar terasa masuk akal baginya.

Bisa dibilang, aku berani memilih tadi karena adanya karakteristik ini. Kalau pilihan ini benar-benar mengontrol perasaan cinta seseorang, itu akan jadi bencana. Tidak boleh ada orang yang mengendalikan emosi orang lain di luar kehendak mereka.

Tapi kalau begini, setelah menembak, fakta tersebut langsung terhapus bersih dari otak mereka. Artinya, asalkan kejadiannya tidak dilihat orang lain, tidak akan ada masalah di kemudian hari.

Berdasarkan pembenaran diri yang nyaman itulah aku memilih , tapi ternyata hasilnya malah perkembangan "Cinta Sesama Jenis".

Lalu apakah lebih baik aku memilih ? Urusannya tidak sesederhana itu. Aturan emas dalam menghadapi Pilihan Mutlak adalah "Jangan pilih yang isinya abstrak". Karena si Pilihan ini sifatnya fantasi abis, kalau pilih sesuatu yang maknanya bisa macam-macam, ada kemungkinan hasilnya benar-benar jadi apa saja.

Aku sama sekali tidak bisa memprediksi "hal yang sangat enak" itu seperti apa, dan apa yang akan terjadi padaku setelah "hal yang sangat enak" itu terjadi. Selama aku tidak bisa memprediksinya, aku tidak berani melakukan tindakan berisiko dengan mencobanya.

Dalam skenario terburuk, mungkin saja aku bisa "mati karena saking enaknya". Yah, aku ingin percaya tidak akan sampai sejauh itu, tapi melihat kegilaan pilihan-pilihan sejauh ini, aku tidak bisa menjamin hal itu mustahil terjadi.

Bisa dibilang, aku hidup seperti membawa bom yang tidak tahu kapan akan meledak atau apa yang akan terjadi.

"Haaaaah......"

Aku menghela napas panjang saat kembali menyadari ketidakadilan kutukan yang menimpaku.

"Hei, kamu Amakusa Kanade, kan?"

Tiba-tiba sebuah suara tajam terdengar dari belakang.

Dengan gemetar aku menoleh, dan di sana ternyata berdiri sosok penghuni peringkat 1 di ranking sekolah.

.................. Jangan-jangan.

"Aku menyukaimu, ayo pacaran denganku."


2

"Jadi, dari empat orang itu, berapa banyak yang sudah 'menjebol' benteng belakangmu?"

"Nggak ada yang jebol, woi!"

Bantahan piluku menggema di dalam Ruang Konseling Siswa.

"Apaan sih, nggak seru banget."

Wali kelas kami, Douraku Utage, menyeringai sambil menyandarkan tubuh mungilnya—yang dilihat dari mana pun hanya tampak seperti anak SD—ke sandaran kursi dengan gaya bos besar.

Utage-sensei ini konon pernah menderita kutukan yang sama denganku di masa lalu, menjadikannya satu-satunya orang yang memahami situasi khususku.

"Apa melihat murid sendiri ditembak sama laki-laki itu selucu itu buat Sensei?"

"Lucu banget, tahu."

"......"

Setelah kejadian itu, aku berturut-turut menerima pernyataan cinta yang menggebu-gebu dari peringkat dua dan tiga di sekolah. Karena kerusakan mental sudah mencapai batas maksimal, aku terpaksa datang berkonsultasi pada Utage-sensei... tapi responnya keterlaluan.

"Yah, kalau mau ini cepat berakhir, nggak ada pilihan lain selain mati-matian menyelesaikan misinya, kan?"

"Memang benar sih... tapi misi baru juga belum datang. Lagian, sesekali dong kasih nasihat yang cuma bisa diberikan oleh sesama mantan penderita?"

Utage-sensei ini entah kenapa sangat tertutup soal kutukannya. Dia punya kebiasaan mengalihkan pembicaraan dengan cara yang aneh dan tidak mau membicarakan bagian intinya.

Menerima tatapan menuntut dariku, Utage-sensei membuka suara dengan ekspresi sedikit cemberut.

"Dengar ya, bukannya aku pelit berbagi informasi, tapi aku ini sedang dibatasi."

"Dibatasi?"

"Iya. Kamu sendiri juga dilarang membicarakan soal kutukan itu pada orang lain, kan?"

Memang benar, setiap kali aku mencoba membocorkan rahasia tentang Pilihan Mutlak, rasa sakit kepala yang luar biasa akan menyerang dan memblokirku. Satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara normal seperti ini hanyalah Utage-sensei yang punya nasib sama (dulu).

"Aku sudah menyelesaikan beberapa misi dan kutukannya sendiri sudah hilang, tapi 'belenggu' terkait hal itu masih tersisa. Aku bisa bicara padamu sampai batas tertentu, tapi kalau kepada orang lain, sama sekali tidak bisa."

Utage-sensei mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk dengan ekspresi kesal.

"Bahkan padamu pun hanya sampai 'batas tertentu'. Begitu aku mencoba bicara lebih dari itu, kepalaku akan terblokir."

"Jadi begitu rupanya... Tadinya aku mau tanya soal pilihan yang sepertinya mulai mengalami sedikit perubahan."

Yah, meskipun pilihan yang dua-duanya terlihat bagus tadi akhirnya cuma tipuan belaka.

"Itu karena kamu sudah menyelesaikan dua misi. Waktu zamanku dulu juga begitu, sedikit demi sedikit kondisinya membaik. Setelah itu... cih."

Sensei mengerutkan dahi. Sepertinya rasa sakit kepala untuk memblokir informasi baru saja menyerangnya. Namun, sudah pasti bahwa dengan menyelesaikan misi, perubahan akan terjadi pada pilihan-pilihan itu.

"Lagian ya, daripada tanya-tanya ke aku, mending tanya ke si 'Anjing' itu. Dia kan ada di sampingmu buat bantu menghilangkan kutukan?"

"Masalahnya dia itu sepertinya amnesia, nggak punya informasi yang berguna sama sekali."

"......Nggak guna banget. Zamanku dulu, asistenku lumayan banyak kasih info, dan dia cukup berguna buat hal lain. Sering kusuruh beli roti atau bir, sih."

......Itu sih namanya cuma jadi babu.

"Gimana kelakuan si Anjing itu di rumah?"

"Cuma makan, guling-guling, terus makan camilan."

"Hah? Nggak bantu urusan rumah tangga?"

"Lebih cepat kalau aku yang kerjakan sendiri."

"Kalau aku dulu, kusuruh dia bangun jam lima pagi buat bersih-bersih seluruh rumah."

"Kalau dia, tidur nyenyak sampai aku sendiri yang bangunkan."

"......Terus gimana soal bantuan buat misi?"

"Niatnya sih ada, tapi sama sekali nggak berguna."

"......Terus kenapa kamu masih biarkan dia tinggal di rumahmu?"

......Kenapa, ya?


3

"Hum-hum~, pulang sekolah bareng Kanade-san~."

Dalam perjalanan pulang, Chocolat tampak sangat gembira sambil bersenandung kecil. Boro-boro cuma jadi beban tidak berguna di dalam rumah, sekarang aku malah harus mengurusnya sampai ke sekolah pula... Tepat saat helaan napas hampir lolos dari mulutku—

"Ka-Kanade-chan!"

Tiba-tiba sebuah teriakan pilu melesat dari arah belakang. Ada apa, pikirku. Begitu menoleh, aku melihat Ibu Gondo Taiko (49 tahun), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di lingkungan sekitar, berdiri dengan wajah pucat pasi dan bahu yang gemetar hebat.

"I-Ibu Taiko, ada apa sebenarnya?"

Ngomong-ngomong, ibu yang satu ini memiliki postur tubuh yang sangat agresif, dengan berat badan yang melampaui tiga digit tanpa kesulitan.

"Si-siapa sebenarnya perempuan itu!?"

Tatapan Ibu Taiko tertuju pada Chocolat yang berdiri kebingungan di belakangku.

"Eh, Chocolat? Dia itu, anu, bisa dibilang—"

"Padahal kamu sudah punya akuuu!"

Nggak... aku sama sekali nggak paham maksudnya. Ibu Taiko ini, entah kenapa, selalu menunjukkan rasa suka yang abnormal kepadaku di setiap kesempatan, dengan alasan merepotkan bahwa wajahku sangat mirip dengan mantan suaminya sewaktu muda dulu. Terlebih lagi, ini bukan sekadar candaan, tapi dia benar-benar serius.

"Ah, tetangga ya? Salam kenal~!"

Chocolat menyapa dengan santainya, namun sapaan itu tidak masuk ke telinga Ibu Taiko yang sedang emosi.

"Hanya karena sedikit lebih muda dan berwajah cantik, jangan sok jagoan ya... dasar bocah tengik!"

Aduh, Ibu Taiko, wajahmu jadi mirip penjahat di komik pertarungan begitu.

"Ibu Taiko, tolong tenang sebentar. Chocolat itu bukan—"


PILIH:

"Peluk aku, dong"

"Peluk aku sampai hancur"


......Ampuni aku...... serius. Pilihannya benar-benar masih berjalan normal seperti biasanya. Apa ini artinya meski sudah menyelesaikan dua misi, tidak ada perubahan besar yang terjadi......

"......Peluk aku, dong."

"Kanade-chan...... akhirnyaaa!"

Kejadian lagi! Rasanya alur ini baru saja terjadi beberapa hari yang lalu!

"Eh, tunggu sebenta—GYAAAAAAA!"

"Ooh, Kanade-san badannya jadi lembek begitu. Mirip gurita ya!"

"Chocolat! Jangan cuma kagum, bantu aku sebent—GYAAAAAAA!"

Akhirnya, selama sekitar tiga menit sampai Ibu Taiko merasa puas dan pergi sambil tertawa nufu-fu...... aku terus-menerus dipeluk.

"Ugh...... ugh...... kupikir aku bakal mati......"

Tenagaku terkuras habis, aku langsung terduduk lemas di tempat. Ngomong-ngomong, untuk pola kali ini, Ibu Taiko hanya terangsang (?) karena ucapanku saja, bukan karena Pilihannya mengendalikan tindakannya secara langsung, jadi ingatannya tidak akan terhapus. Malah kalau bisa, aku ingin ingatanku saja yang dihapus......

"Bisa memikat hati seorang madam, Kanade-san memang hebat."

Chocolat merasa kagum pada hal yang salah. Tidak, bagi aku, daripada seorang madam, aku lebih ingin menjalani percintaan normal dengan gadis normal...... tapi selama Pilihan Mutlak ini ada, itu pasti mustahil.

"Aku pulang~!"

Membuka pintu depan, Chocolat langsung berlari masuk ke dalam—te-te-te. Aku mencoba membangkitkan tubuh dan mental yang sudah hancur lebur gara-gara pelukan maut Ibu Taiko, lalu menyusul masuk ke ruang tengah.

"Haaah......"

Meski begitu, aku merasa kemampuan dia untuk berbaur—atau lebih tepatnya rasa tidak tahu malunya itu—benar-benar hebat meski statusnya cuma penumpang.

"Kanade-san, otakku sangat menginginkan sesuatu yang manis!"

......Tuh kan, dia bilang begitu.

"Yah, aku juga capek sih...... aku ambil itu saja ya."

Aku mengambil kaleng biskuit simpanan dari rak dapur, lalu membukanya di atas meja ruang tengah.

"Hoaaa!"

Mata Chocolat berbinar. Sesuai reputasi biskuit dari toko ternama, tampilannya saja sudah memancarkan aura kelezatan bahkan sebelum dimakan. Menurut kartu menu di dalamnya, biskuit ini terdiri dari sepuluh varian rasa yang masing-masing berjumlah lima keping, totalnya ada lima puluh keping. Tepat saat aku hendak mengulurkan tangan—

"Hm?"

Ponselku berdering. Saat iseng melihat layarnya, di sana tertera nama "Tuhan".

"......Serius nih."

Memori pahit beberapa hari yang lalu mendadak bangkit kembali di kepalaku.

"......Halo."

Helo-helo~, Kanade-kuuun. Gimana nih sekolah hari ini? Jangan-jangan, terjadi sesuatu yang lebih menantang dari biasanya ya~?

Aku langsung merasa sangat kesal. Tanpa membuang waktu, aku langsung mematikan teleponnya. Namun, tanpa jeda sedikit pun, panggilan dari "Tuhan" masuk lagi.

Nomornya memang tidak ditampilkan, tapi karena pengaturannya memungkinkan, aku segera memasukkannya ke daftar blokir. Namun, tanpa jeda sedikit pun, panggilan dari "Tuhan" masuk lagi. ......Gimana cara kerjanya sih?

 Karena sudah tidak ada pilihan lain, aku mematikan daya ponselku sekalian. Namun, tanpa jeda sedikit pun, panggilan dari "Tuhan" masuk lagi.

"Semuanya jadi mungkin ya!?"

Aku menempelkan ponsel yang menyala sendiri itu ke telinga, lalu meluncurkan tsukkomi dengan suara hampir berteriak.

Haha, soalnya aku kan Tuhan~

Pemilik suara genit ini, sesuai pengakuannya sendiri, tampaknya memang Tuhan yang asli.

Awalnya aku hanya menganggapnya pria genit biasa, tapi setelah diperlihatkan kemampuan di luar nalar manusia seperti mengubahku menjadi perempuan, aku tidak punya pilihan selain percaya.

Chocolat bisa masuk ke kelasku sebagai Petugas Hewan Pembantu Akademik pun juga berkat campur tangan darinya.

"Jadi, ada urusan apa sampai repot-repot menghubungi? Apa ada informasi baru yang kamu temukan?"

Nggak ada tuh~

"......Nggak ada ternyata."

Begitulah. Ternyata Tuhan yang sebelumnya mengawasi duniaku sedang mengambil cuti hamil (katanya hamil akibat perselingkuhan, lalu kena syok dan sekarang sedang mengurung diri), sehingga Tuhan Genit yang menggantikannya secara mendadak ini hampir tidak paham soal detail kutukanku. Itulah yang kami bicarakan tempo hari.

"Lalu, buat apa telepon?"

Yah, cuma iseng buat membunuh waktu.

......Aneh ya, aslinya aku ini tipe orang yang penyabar, tapi entah kenapa sekarang aku merasa ingin sekali memukul seseorang.

Ah, jangan-jangan kamu marah? Cup cup, Kanade-kun. Bahkan Tuhan pun punya banyak hal yang tidak diketahui atau tidak bisa dilakukan, lho. Kalau cuma mengubah Kanade-kun jadi perempuan sih gampang.

......Aku sangat ingin membalas ucapannya, tapi aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi.

Selain itu, hal gampang lainnya adalah mengubah Kanade-kun menjadi cacing kremi.

"SERAM BANGET WOI!"

Cacing kremi itu bukannya yang bertelur di sekitar anus itu, ya? Seingatku aku pernah tes pakai plester pantat, tapi rasanya baru dengar kata itu lagi sejak zaman SD.

Ah, tapi kalau dalam kasus itu, gimana nasib cacing kremi yang aslinya memang sudah ada di pantat Kanade-kun ya?

"MANA SAYA TAHU!"

Aku tidak punya kemurahan hati sebesar itu untuk memikirkan nasib cacing kremi lain saat diriku sendiri berubah menjadi cacing kremi.

Atau, aku bisa mengubah semua berat badan gadis-gadis di folder foto 'Maha-Erotis' di komputer Kanade-kun menjadi bertambah dua puluh kilo.

"ITU SIH NERAKA!"

Ngomong-ngomong, di komputerku tidak ada folder vulgar dengan nama seheboh "Maha-Erotis". Koleksi berhargaku semuanya disimpan dalam folder bernama "Jalan Menuju Filsuf".

Omong-omong, aku juga tahu kalau sebenarnya foto-fotonya ada di folder 'Jalan Menuju Filsuf', lho.

"Kamu ini Tuhan ya!?"

Iya, benar sekali.

Oh iya, benar juga!

Lalu, aku bisa mengubah semua pria di duniamu menjadi penyuka sesama jenis.

"ITU MAH KEPUNAHAN UMAT MANUSIA!"

Pembicaraan ini skalanya makin lama makin mengerikan, tapi melihat gaya bicara si Tuhan Genit ini, rasanya ini bukan sekadar bualan...... Tunggu sebentar, kalau dia bisa melakukan hal-hal hebat seperti itu, bukannya dia bisa dengan mudah menghilangkan kutukanku sambil lalu?

Ah, aku kurang lebih tahu apa yang sedang Kanade-kun pikirkan. Pasti kamu berpikir 'Kalau begitu hilangkan saja kutukanku', kan?

Ugh...... rasanya sangat menyebalkan saat pikiranmu dibaca olehnya.

Tapi ya, seperti yang sudah kusinggung sedikit tadi, sejujurnya itu hal yang mustahil.

"Mustahil?"

Iya. Setiap dunia memiliki hukum alamnya sendiri. Misalnya, di duniamu, apel yang lepas dari pohon akan jatuh ke tanah, manusia tidak bisa terbang, dan anjing tidak bisa bicara bahasa manusia.

Itu memang hal yang sudah sangat sewajarnya. Bagi manusia yang hidup di dunia ini, itu adalah fakta tak terbantahkan yang diketahui siapa pun.

Sebagai Tuhan, aku bisa mengubah hal-hal itu. Membuat apel yang jatuh melayang di udara, atau menumbuhkan sayap pada manusia.

Yah...... dia pasti memang bisa melakukannya.

Tapi, ada wilayah yang benar-benar tidak bisa disentuh. Yaitu, hukum alam yang sedari awal seharusnya tidak ada di dunia tersebut. Hukum cacat yang lahir akibat Tuhan yang mengawasi sebelumnya memasukkan aturan buatannya sendiri secara paksa. Benar sekali, dalam duniamu, itu disebut sebagai 'Kutukan'.

Dimasukkan secara paksa...... Benar juga. Saking seringnya terjadi, perasaanku sampai mati rasa dan menerimanya begitu saja, padahal seharusnya hal seperti Pilihan Mutlak itu tidak mungkin ada di dunia ini.

Lagipula Kanade-kun, soal mengubah hukum alam yang kukatakan tadi, itu cuma sebatas 'aku bisa melakukannya kalau mau', tapi aku tidak akan benar-benar melakukannya. Bagi kami, ikut campur dalam kehidupan manusia adalah hal tabu. Tuhan harus selalu membuang perasaan pribadi dan mengelola dunia dari sudut pandang yang netral.

Gaya bicara Tuhan Genit itu kali ini terdengar lebih serius dari biasanya. Memang benar sih, kalau hukum fisika berubah-ubah sesuka hati Tuhan, kita yang menjalaninya bakal sangat kerepotan.

"Hm? Tunggu dulu. Kalau begitu, bukannya tindakanmu yang mengubahku jadi perempuan kemarin, atau meneleponku sekarang ini, juga termasuk hal yang dilarang?"

Yah habisnya, mengerjai Kanade-kun itu seru sih.

"PERASAAN PRIBADIMU KELUAR SEMUA WOI!"

Aduh~, Tuhan juga kan pernah jadi manusia, jadi wajar saja kalau sesekali terbawa perasaan.

"Kamu bukannya bukan manusia ya!?"

Kalau sedang ada masalah, aku juga suka pergi sendirian ke kedai minum, makan cumi bakar sambil minum satu gelas, dan curhat sama ibu pemilik kedainya.

"KAMU MAH CUMA OM-OM BIASA!"

Sebenarnya konsep duniamu itu kayak gimana sih......

"Yah, sudahlah...... boleh aku tanya satu hal yang mendasar?"

Eeeh, aku nggak punya banyak waktu nih~.

......Bukannya dia tadi bilang telepon buat membunuh waktu karena senggang?

"Aku paham kalau kamu tidak bisa ikut campur soal kutukan atau misi. Aku juga paham kalau kamu tidak punya informasi karena Tuhan sebelumnya mengurung diri, meski sebenarnya sulit kuterima sih."

Meskipun aku bicara dengan nada yang cukup berani kepada Tuhan, aku tidak merasa perlu menaruh hormat sedikit pun kepadanya, jadi mau bagaimana lagi.

"Kalau bukan kamu atau Tuhan sebelumnya, lalu siapa sebenarnya yang sekarang mengirimkan Pilihan Mutlak dan misi-misi itu kepadaku?"

Hmm, nggak tahu.

Dia menjawab dengan sangat santainya.

Sebenarnya, Tuhan perempuan yang mengurung diri itu pun sepertinya tidak tahu detail soal kutukannya.

"Hah?"

Sepertinya dia juga cuma menerima operan dari seseorang, atau lebih tepatnya dipaksa melakukannya...... Ah, tunggu sebentar. Apa? Waduuh, gawat juga itu...... Ah, Kanade-kun, maaf ya, aku ada urusan mendadak.

"Urusan mendadak?"

Katanya, di Dunia Kedua Puluh Dua, 'Bom Penghancur Alam Semesta' hampir selesai dibuat. Ini level gawat yang mengharuskanku untuk ikut campur. Oke deh, sampai di sini dulu ya, byebie~.

"Eh? Hei, tunggu se—"

Sambungan telepon terputus tiba-tiba. Apa tadi? Bom Penghancur Alam Semesta? Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya dunia lain yang bukan di sini sedang mengalami situasi yang luar biasa mengerikan. Namun, bagiku, masalah yang kuhadapi ini adalah hal yang benar-benar berbeda.

"Akhirnya, informasi baru yang didapat hampir nol besar......"

Padahal satu-satunya sumber informasiku soal Pilihan Mutlak hanyalah dia, mengingat Utage-sensei dan Chocolat tidak bisa diandalkan...... Saat aku tertunduk lesu, suara Chocolat terdengar.

"Sudahlah, Kanade-san. Ayo makan camilan manis biar lebih tenang."

Dia menyodorkan kaleng biskuit tadi kepadaku.

"Ooh, benar juga—"

Di dalam kaleng itu, hanya tersisa satu keping biskuit yang tergeletak kesepian.

"KAMU MAKAN SEBANYAK APA WOI!"

"Empat puluh sembilan keping."

"Aku juga tahu! Karena dari lima puluh keping sisa satu, aku juga bisa hitung! Bukan jumlah detilnya yang ingin aku tanyakan!"

"Kalau begitu, aku makan banyak."

"SUDAH TAHU! Aku sudah tahu kalau kamu makan banyak karena ludes empat puluh sembilan keping!"

"Kanade-san jahat banget......"

"Yang tidak masuk akal itu perutmu! Semuanya masuk ke mana di badan sekecil itu!?"

"Kan makanan manis masuknya ke lambung cadangan."

"Padahal dari tadi kamu cuma makan makanan manis!"

"Tidak juga kok, Kanade-san. Sewaktu kamu telepon tadi, aku juga makan kerupuk beras~!"

"TEGA BANGET KAMU!"

......Rasanya aku sudah kehilangan tenaga untuk marah. Aku memasukkan satu-satunya keping biskuit yang tersisa ke dalam mulut, lalu mengempaskan tubuh ke sofa.

"Ah, boleh aku duduk di sebelahmu?"

Chocolat mendekat dengan riang seperti seekor anjing.

"......Kamu ya. Kenapa sih selalu terlihat senang begitu?"

"Iya! Karena dengan bisa berguna bagi Kanade-san saja sudah membuatku sangat senang!"

......Abaikan saja soal bagian "berguna" itu, tapi di sana memang terlihat rasa suka yang murni kepadaku. Aku juga laki-laki, jadi kalau ada gadis imut (setidaknya tampilannya) yang menunjukkan perasaan sepositif itu padaku, tentu saja aku tidak merasa buruk. Tapi anak ini tidak paham apa itu perasaan cinta.

"Dengar ya, Chocolat. Sikap seperti itu hanya boleh ditunjukkan kepada orang yang benar-benar kamu sukai."

"Eh? Aku kan memang suka pada Kanade-san."

"Ugh......"

Mata itu benar-benar jernih tanpa ada keraguan sedikit pun.

"N-nggak, maksudnya bukan itu. Rasa suka yang kamu maksud itu berbeda. Ada rasa suka yang artinya jauh lebih kompleks dari itu......"

"Memangnya rasa suka ada jenis-jenisnya ya?"

"Ugh......"

Rasanya aku baru saja diceramahi soal kebenaran yang mendalam.

"Kalau aku, aku merasa rasa sukaku pada Kanade-san bertambah setiap harinya!"

"Ugh...... akh......"

Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu. Dia itu anjing. Anjing, anjing, anjing.

"Hei, Anjing."

"Iya!"

Kenapa dipanggil anjing malah terlihat senang begitu sih. Pokoknya tenang, aku hanya perlu menjaga akal sehatku sendiri.

"Ada apa, Kanade-san?"

"Jangan menempel terus!"

......Aku bakal baik-baik saja, kan?


4

Keesokan harinya, saat jam perwalian kelas 2-1.

"Baiklah, bagi yang punya usul, silakan angkat tangan~."

Suara Ketua Kelas (si kacamata cantik) bergema di ruangan. Kami sedang mendiskusikan pertunjukan kelas untuk acara Penyambutan Siswa Baru yang akan diadakan akhir Mei nanti.

Meski rasanya agak telat untuk acara penyambutan, katanya acara ini juga bertujuan untuk mempererat kekompakan kelas baru, di mana karakter dan hubungan pertemanan biasanya sudah mulai terbentuk.

Di zaman sekarang saat anak muda sering dikeluhkan bersikap dingin terhadap apa pun, kupikir akan banyak murid yang merasa acara seperti ini merepotkan, tapi—

"Aku, aku! Mau menari!"

"Gimana kalau drama?"

"Jangan, mending komedi grup saja."

"Kedai Takoyaki!"

"Mana mungkin bisa kalau buat pertunjukan di panggung..."

Kelas 2-1 kami ternyata sangat bersemangat. Atau lebih tepatnya, bukan cuma kelas kami saja, tapi murid-murid Akademi Seikou secara keseluruhan memang cenderung menyukai acara festival seperti ini. Dalam setahun pun jumlah acaranya lumayan banyak.

"Anu, Yukihira-san, apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan?"

Setelah semua pendapat umum keluar, Ketua Kelas meminta opini dari Yukihira. Yukihira yang dipanggil terdiam sejenak, lalu dengan wajah tanpa ekspresi, dia mulai berbicara dengan nada datar.

"Benar juga, bagaimana kalau Gasshou?"

Paduan suara (Gasshou), ya? Tumben sekali Yukihira memberikan usul yang waras.

"Ah, menyanyi bersama sepertinya menyenangkan ya."

"Menyanyi? Apa yang sedang kamu bicarakan?"

"Eh? Tapi Yukihira-san tadi bilang Gasshou..."

"Ah, sepertinya tadi kurang jelas ya. Yang kumaksud adalah yang ini."

Yukihira merapatkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajah.

"Yukihira-san... itu?"

"Menangkupkan tangan (Gasshou)."

Iya... terus?

"Sebenarnya, inti dari rencana ini adalah permainan mencari perbedaan. Saat semua orang di atas panggung sedang khusyuk menangkupkan tangan untuk berdoa, ternyata ada satu orang 'tak beriman' yang telapak tangannya menempel hanya karena terkena lem. Kita akan menyuruh penonton menebak siapa orang itu. Sebuah permainan yang inovatif, kan?"

......Saking inovatifnya sampai tidak ada yang bisa paham, woi!

"Nama proyeknya adalah 'Cari Si Norisuke'."

"Nggak mutu banget..."

"Astaga, si Norisuke sendiri tidak boleh bicara begitu, lho."

"Maksudmu aku!?"

"Ahaha... Baiklah, aku tulis dulu ya."

Meski tampak bingung, sang Ketua Kelas tetap menuliskan 'Cari Si Norisuke' dengan kapur di papan tulis.

Padahal usul sampah begitu harusnya diabaikan saja, tapi yah, itulah dia—gadis yang terlalu baik kepada siapa pun.

Desain kacamata yang dia pakai agak sedikit kuno, makanya tingkat kecantikannya hanya mentok di level kelas.

Tapi ada selentingan yang bilang kalau dia memakai lensa kontak, dia bisa masuk jajaran peringkat atas di sekolah.

"Saya, saya, saya!"

Di bangku belakangku, Ouka Yuuouji mengangkat tangan dengan semangat yang berlebihan.

"Iya, Yuuouji-san."

"Dengar ya, kalau pakai benda yang sedang kukembangkan ini, kita bisa melakukan hal yang seru!"

Dengan penuh percaya diri, dia memamerkan benda berbentuk kacamata.

"Seluruh anggota kelas kita berdiri di atas panggung pakai baju renang, lalu semua penonton kita suruh pakai kacamata ini!"

"Hm, terus kalau begitu bakal jadi gimana?"

"Organ dalam mereka akan kelihatan."

......Ha?

"Ma-maaf Yuuouji-san, aku kurang dengar tadi, bisa tolong ulangi sekali lagi?"

"Itu lho, kalau pakai kacamata ini, cuma organ dalam manusia saja yang bakal kelihatan!"

......Aku dengar semuanya, tapi aku sama sekali tidak paham maksudnya.

"Ini memakai teknologi rahasia yang belum dirilis ke dunia, lho! Bagian kulit yang diolesi gel khusus akan membuat bagian dalamnya terlihat transparan!"

"ITU JIJIK BANGET!"

Lagi-lagi aku tidak tahan untuk meluncurkan tsukkomi.

"Rekomendasiku sih bagian jantung. Ah, tapi bagian hati juga ternyata lumayan cantik, lho~."

"NGGAK ADA YANG TANYA!"

"Karena perempuan pakai baju renang sekolah yang sedikit terbuka, menurutku oleskan saja gelnya di jidat supaya otaknya kelihatan semua!"

"NGGAK ADA YANG BAKAL SENANG LIHAT BEGITUAN!"

"Ketua Kelas, nama proyeknya 'Pameran Jeroan ~Elegan~', ya!"

"KENAPA DIBIKIN JADI KEREN BEGITU NAMANYA!"

"O-oke, aku mengerti."

Ketua Kelas, serius, nggak usah ditulis...

"Saya!"

"Ah, Chocolat-chan, silakan."

Eh, serius... kamu serius mau kasih usul?

"Menurutku akan seru kalau semua murid laki-laki memakai baju renang lalu melakukan gulat!"

......Nggak, nggak bakal seru. Jangan paksakan seleramu yang sudah rusak itu ke orang lain, dong.

"Semuanya, bagaimana menurut kalian?"

Sambil menggoyang-goyangkan rambut ekor kudanya, Chocolat menatap barisan murid laki-laki dengan penuh harap. Nggak, jangan harap. Siapa juga yang mau melakukan itu.

"G-gimana nih?"

"Kalau Chocolat-chan yang minta, boleh jugalah."

"Permintaan Chocolat-chan mana bisa ditolak."

"Lagian aku juga dari awal nggak benci hal-hal begitu."

"WOI, KALIAN SEMUA ANEH! TERUS YANG TERAKHIR TADI SIAPA!?"

Chocolat ini... kenapa dia bisa sepopuler ini, sih?

"Chocolat-chan, terima kasih usulnya~."

Ketua Kelas, tolak saja kenapa, nggak usah ditulis... Eh, tunggu, kenapa kamu malah kasih judul unik seperti 'Ugh! Gulat'!? Tadi waktu bagian Yukihira dan Yuuouji kamu kelihatan ragu, kenapa sekarang malah semangat banget nulisnya... Jangan-jangan, Ketua Kelas juga orang 'sana'?

Tapi sungguh, di antara menari dan drama, judul 'Cari Si Norisuke', 'Pameran Jeroan ~Elegan~', dan 'Ugh! Gulat' ini benar-benar mengeluarkan aura yang terlalu menyimpang.

"Anu, Amakusa-kun, apa kamu punya... usul?"

Ketua Kelas, terima kasih sudah bertanya padaku, tapi kenapa pas bicara sama aku nadanya jadi agak ketakutan begitu?

"Benar juga ya..."

Bagiku sih asalkan semuanya bisa bersenang-senang, kontennya apa pun tidak masalah. Yah, kasih jawaban yang aman saja—

"Maaf mengganggu sebentar."

Saat itu, pintu depan kelas tiba-tiba terbuka.

"Oh, lagi diskusi buat acara penyambutan ya. Pas sekali."

Sosok yang masuk sambil memasukkan tangan ke kantong celana itu melihat ke arah papan tulis, lalu sedikit mengendurkan ekspresi wajahnya.

"Nggak mungkin..."

"Itu kan..."

"S-Souga-sama!"

Suara-suara tak percaya dari para siswi mulai terdengar. Benar, sosok yang berdiri di samping meja guru sambil menatap kami seolah sedang menilai adalah Souga Shishimori-senpai.

Dia adalah Wakil Ketua OSIS sekaligus orang yang bertahta di peringkat satu daftar peringkat laki-laki. Jika bicara secara lebih vulgar, dia adalah pria paling populer di Seikou.

Dari tatapan matanya yang tajam, dia lebih memberikan kesan seperti serigala penyendiri daripada seekor singa (Shishi).

"Ya ampun, aslinya ganteng parah."

"Aku juga baru pertama kali lihat sedekat ini."

"Garis pinggangnya lebih ramping dari aku!"

Semua siswi terpaku menatap sosoknya. Bahkan ada yang sampai wajahnya memerah karena terpesona. Memang benar sih, dari sudut pandang laki-laki pun, dia terlihat keren.

Dia memancarkan aura liar, tapi bukan sekadar kasar, ada karisma dan daya tarik unik yang terpancar darinya.

Bisa dibilang dia punya keberandalan yang stylish. Kancing kemejanya terbuka, dan sekilas dia tidak tampak seperti orang yang menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS.

Yah, kesenjangan itu jugalah yang tampaknya menjadi salah satu faktor popularitasnya.

Cuma masalahnya... orang ini kemarin baru saja menembakku. Yah, itu murni gara-gara Pilihan Mutlak, jadi bukan salah Shishimori-senpai... tidak... sebaiknya aku berhenti mengingatnya. Berdasarkan hukum itu, dia sendiri pasti tidak punya ingatan apa pun soal itu, dan yang terpenting, tidak baik bagi kesehatan mentalku jika terus diingat.

"Hmph... begitu ya."

Setelah puas mengedarkan pandangan ke seisi kelas, Shishimori-senpai menatap Utage-sensei yang tampak malas-malasan.

"Kak Utage (Ane-go). Boleh minta waktunya sebentar?"

Utage-sensei yang dipanggil langsung memelototi Shishimori-senpai dengan tajam.

"Woi, sudah kubilang berapa kali jangan panggil 'Kakak', mau kumutilasi kamu?"

......Dua orang ini sebenarnya punya hubungan apa, sih?

Dan Utage-sensei, tolong jangan keluarkan kata-kata menyeramkan seperti "mutilasi" di depan seluruh murid sekelas.

Katanya, dulu dia punya julukan 'Utage Si Pembantai'. Entah di mana dan siapa yang menjuluki, tapi masalahnya itu sama sekali tidak terdengar seperti candaan.

Tepat saat aku memikirkan itu, Shishimori-senpai berjalan mendekat ke arahku dengan tangan masih di dalam kantong.

"Kamu Amakusa Kanade, kan?"

"Eh? Ah, iya, benar... tapi kenapa?"

Kenapa aku dipelototi?

"Kamu tahu tidak? Selama setahun terakhir, tahu berapa banyak komplain yang masuk ke OSIS gara-gara ulahmu?"

......Oalah, itu alasannya.

"......Maaf."

Berbagai memori pahit kembali muncul... Tahun lalu saat aku belum terbiasa dengan Pilihan Mutlak, aku memang melakukan kekacauan yang jauh lebih parah dari sekarang.

"Yah, kasus-kasus yang benar-benar parah sudah kuhapus setelah aku mengancam si kakek tua Ketua Yayasan itu, sih."

Terima kasih sih, tapi... Utage-sensei, sebenarnya kamu ini siapa? Dan jangan bilang begitu di sini, dong.

"Hmph, berterima kasihlah pada Kakak."

"Sudah kubilang JANGAN PANGGIL KAKAK, WOI!"

Di tengah adu mulut dua orang kasar itu, Yuuouji berteriak.

"Ah, ada Senpai Singa yang ganteng!"

"Si-Singa katamu...?"

Anak ini benar-benar tidak kenal takut, mau itu di depan senior atau guru, dia terlalu bebas. Tepat saat aku hendak menghentikannya, Yukihira tiba-tiba menyela masuk.

"Sekali-kali aku ingin melihatnya, seorang wanita menyembunyikan singa di dalam rumahnya. Ini adalah Furano." (T/N: Plesetan gaya komedi Rakugo terkenal Utamaru-san).

Kenapa malah pakai gaya Utamaru-san... lagipula soal 'uang simpanan' (hesokuri) dan 'singa' (raion) itu sama sekali tidak nyambung rima-nya, kamu cuma asal ngomong saja kan!

"Ouka Yuuouji dan Furano Yukihira... ya."

Di hadapan dua orang anggota 'Reject 5', Shishimori-senpai tampak agak ciut.

"Eh, apa kamu kurang suka? Kalau begitu gimana kalau Senpai Ike-On?"

Mungkin singkatan dari 'Ikemen' (pria ganteng) dan 'Raion' (Singa), tapi itu penamaan yang sama sekali tidak punya selera. Kemampuan imajinasinya selevel anak SD.

"Wah, itu terdengar lumayan bagus. Kalau ditulis dengan huruf hiragana jadi 'Ike-On!', rasanya bakal jadi hit besar. Senpai, coba pegang kastanyet terus bilang 'un-tan' dong?"

"SIAPA JUGA YANG MAU!"

Tanpa sadar aku melakukan tsukkomi menggantikan korbannya. Biar pun dia gantengnya selangit, itu adalah pose yang haram dilakukan oleh laki-laki secara visual.

"......Woi Amakusa, sebenarnya ada apa dengan teman-temanmu ini?"

Kenapa aku dipelototi lagi... mereka berdua jelas bukan temanku, woi!

"Apa mereka selalu begini?"

"Ya, begitulah."

"Dan kamu selalu menghadapi mereka?"

"Iya, biasanya begitu."

"......Berat juga ya hidupmu."

Satu orang paham! Akhirnya ada orang yang paham perasaanku di sini!

"I-iya benar sekali, Senpai! Yang aneh itu cuma mereka berdua, aku ini manusia normal!"

Tanpa sadar aku mencengkeram erat tangan Shishimori-senpai.

"Aduh, jangan-jangan kehadiran kami mengganggu ya?"

"Benar, Yuuouji-san, tidak baik jika kita mengganggu lebih lama lagi. Mari kita serahkan sisanya pada dua sejoli muda ini, dan kita segera undur diri."

"KENAPA JADI KAYAK ACARA PERJODOHAN BEGINI!"

"I-Ini edisi kolektor terbatas!"

"Kamu juga jangan ikut-ikutan!"

"Bo-bocah-bocah ini..."

Tampaknya Shishimori-senpai yang terkena serangan komedi Yuuouji dan Yukihira (plus satu ekor Chocolat) mulai menunjukkan ekspresi lelah sekaligus tercengang. Aku sangat mengerti perasaanmu, Senpai.

"Senpai, ngomong-ngomong ada urusan apa ke sini?"

Mana mungkin alasannya cuma buat melihat kami anggota 'Reject 5'.

"Cih, gara-gara kalian bercanda terus, aku jadi tidak punya kesempatan buat bicara. Baiklah, alasan aku repot-repot datang ke sini adalah—"

Pintu kelas terbuka seolah-olah memotong kalimatnya.

"Kalau soal itu, biarkan saya saja yang menjelaskannya~."

Pintu terbuka dengan perlahan, dan seorang wanita masuk tanpa suara.

"——!"

Hampir semua orang di sana, laki-laki maupun perempuan, langsung menahan napas dan mematung.

Senyum yang lembut namun memancarkan aura bangsawan, pahatan wajah yang terlalu sempurna sampai terasa tidak alami.

Garis tubuh yang tanpa cela. Dia adalah sang Ratu yang bertahta di peringkat satu daftar peringkat perempuan selama tiga periode berturut-turut sekaligus Ketua OSIS, Seira Kokubyakuin.

"Maaf ya, Shishimori-san. Saya jadi terlambat~."

Meskipun nada bicaranya sangat santai dan lambat, namun terkandung kekuatan aneh yang mampu memikat hati siapa pun yang mendengarnya.

"Sialan, lagian juga harusnya serahkan saja pada panitia pelaksana acara penyambutan, kenapa kita harus repot-repot turun tangan sendiri."

"Habisnya, sepertinya bakal seru kan~?"

"Cih... ya sudahlah, ayo cepat selesaikan."

"Baiklah~."

Ada satu lagi ciri fisik Ketua Kokubyakuin yang perlu dicatat. Yaitu rambutnya yang panjangnya tidak masuk akal. Yuuouji dan Chocolat memang punya rambut panjang sampai pinggang, tapi tingkat Ketua ini berbeda.

Jika dia sedikit menengadahkan lehernya ke belakang, ujung rambutnya akan menyentuh lantai—benar-benar dipanjangkan sampai batas maksimal.

"Douraku-sensei~, maaf ya sudah membuat keributan."

Bahkan dari satu gerakan membungkuk hormat kepada Utage-sensei saja, gerakannya terlihat sangat anggun dan terlatih.

"Nggak usah dipikirkan, murid-muridku memang dari awal sudah berisik."

......Masalahnya bukan itu, kan?

"Teman-teman kelas 2-1, maaf ya sudah mengganggu waktu kalian~. Tujuan kami datang adalah untuk mengajak Amakusa Kanade-san, Ouka Yuuouji-san, dan Furano Yukihira-san. Kami ingin mengajak kalian bertiga untuk ikut serta dalam 'Pertandingan Antar-Blok'."

"Pertandingan Antar-Blok?"

Saat aku memiringkan kepala bingung, Shishimori-senpai memberikan penjelasan.

"Tahun lalu juga diadakan di akhir acara penyambutan, kan? Itu acara di mana perwakilan lima orang (campuran laki-laki dan perempuan) dari jajaran Peringkat Atas dan anggota 'Reject 5' dipilih untuk berduel satu lawan satu di atas panggung."

......Ah, yang itu ya. Aku ingat dulu ada duel aneh seperti 'Duel Saling Pecut Pakai Ikat Pinggang' atau 'Duel Tahan Berendam di Air Mendidih' yang mirip acara TV gila.

Ditambah lagi orang-orang 'Reject 5' beraksi sesuka hati sampai aku yang menonton di kursi penonton cuma bisa melongo melihat orang-orang aneh itu... Saat itu, tidak terpikirkan sedikit pun di mimpiku kalau aku akan menjadi bagian dari mereka.

Dan sekarang, aku disuruh ikut acara begituan?

Jangan bercanda, itu kan cuma bakal mempermalukan diri sendiri di depan seluruh murid sekolah.

"Omong-omong, anggota dari jajaran Peringkat Atas sudah ditentukan lewat undian."

"Kebetulan, saya dan Shishimori-san juga kena undian, jadi kami masuk sebagai anggota~."

Suasana kelas langsung riuh rendah. Dua orang peringkat satu laki-laki dan perempuan ikut bertanding dalam satu acara besar. Itu pasti bakal seru... asalkan aku cuma jadi penonton saja.

"Anu, saya sepertinya nggak us—"

"Nah, kalau begitu mari kita segera lakukan pengundiannya~."

Memotong kalimatku, Ketua OSIS mengeluarkan kotak dan batang undian seperti yang sering dipakai peramal dari sakunya.

"Silakan ambil. Siapa pun yang mendapat tanda 'menang', maka dia resmi jadi peserta~."




Dia menyodorkannya sambil tersenyum ramah. Aku benar-benar merasa muak, tapi suasananya tidak memungkinkan bagiku untuk menolak... Tidak ada pilihan lain selain menariknya.

"Jaka-jaka-jaka-jaka, hup!"

"Dalam kamusku, tidak ada kata 'gagal'."

"......Melesetlah!"

Ujung batang milik kami bertiga semuanya berwarna merah menyala.

"Wah~, semuanya menang ya."

TUNGGU, TUNGGU, TUNGGU! Jika tidak menghitung para alumni, seharusnya ada sembilan orang anggota 'Reject 5' yang masih bersekolah, terdiri dari empat laki-laki dan lima perempuan. Bagaimana mungkin probabilitasnya bisa membuat kami bertiga menarik tanda menang secara bersamaan—

"Fufu, kebetulan yang luar biasa ya~."

"Ke-Ketua, apa hasil ini tidak terasa aneh menurutmu!?"

"Duh~ Amakusa-san. Mengajukan keberatan atas keputusan yang sudah dibuat itu tidak mencerminkan sikap seorang laki-laki, lho~."

Ketua OSIS memberikan kedipan mata ringan ke arahku. Melihat gerakan itu, pipi para murid laki-laki langsung mengendur dengan tampang bodoh. Menuduh mereka "lemah" karena hal ini rasanya agak terlalu kejam.

Karismatik yang sulit ditebak, penampilan tanpa cela, dan dipadukan dengan keimutan yang jenaka. Sosok bernama Seira Kokubyakuin ini memang benar-benar pantas bertahta di peringkat satu.

Tapi, entah kenapa... jujur saja, aku sama sekali tidak bisa merasakan daya tarik dari senior yang satu ini.

Bukannya aku tidak sadar kalau secara objektif dia itu sempurna, aku sangat paham akan hal itu, tapi bukan itu maksudku... ya, sulit menjelaskannya, tapi... orang ini berbahaya.

"Kalau mau tahu rahasianya~, sebenarnya pengundian untuk anggota 'Reject 5' yang lain sudah selesai. Karena mereka semua—kecuali satu orang—menarik batang putih, maka tanda 'menang' untuk Amakusa-san dan yang lainnya yang terakhir diundi sudah otomatis ditentukan~."

"Ja-jadi, batang yang kami tarik tadi......"

"Iya, isinya cuma warna merah saja~."

Apa-apaan... biarpun kamu bilang ini persetujuan setelah kejadian, aku tetap tidak bisa menerimanya. Biasanya kan hal seperti ini dilakukan dengan mengumpulkan semua orang di satu tempat dan melakukannya bersamaan...... Aku benar-benar mencium ada unsur kesengajaan di sini.

"Ada apa, Amakusa-san? Sepertinya kamu tidak terlalu bersemangat~. Apa kamu benar-benar ingin mengundurkan diri?"

"Eh, apa itu bisa dilakukan?"

"Nggak bisa~."

"TERUS KENAPA TANYA!?"

"Yuuouji-san dan Yukihira-san juga tidak keberatan, kan~?"

"Iya, iya! Kelihatannya seru, tentu saja aku mau ikut!"

"Sepertinya waktu bagiku untuk menunjukkan kekuatanku di depan seluruh sekolah akhirnya tiba."

......Tolong bagikan sedikit mental baja kalian itu padaku.

"Anu, dari lima orang terpilih, satu orang adalah slot khusus, jadi nanti silakan kalian pilih sendiri ya~. Ah, omong-omong, satu orang lagi yang menarik batang merah adalah Karasu Yumejima-san kelas tiga, jadi mohon kerja samanya."

Mendengar nama itu, seisi kelas kembali gaduh. Karasu Yumejima-senpai dikenal sebagai salah satu orang paling aneh di antara anggota 'Reject 5'.

Anggota tim yang hanya memberikan rasa cemas akan masa depan... Yah, di dalam 'Reject 5' memang mana ada orang yang bisa bikin tenang, sih.

"Kanade-san, sepertinya bakal seru ya!"

Chocolat mendekat, dan tatapannya bertemu dengan sang Ketua OSIS.

"Wah, apa kamu ini Chocolat-san, si Petugas Hewan Pembantu Akademik itu~?"

"Iya, benar sekali!"

Gelar konyol itu ternyata juga sudah diakui OSIS, ya......

"Ngomong-ngomong, Ibu Ketua OSIS."

"Iya, ada apa~?"

"Rambut Ibu Ketua baunya harum dan manis sekali, boleh aku coba jilat sedikit?"

"KAMU BODOH YA!"

Aku buru-buru membungkam mulutnya.

"Ma-maaf, Ketua."

"Tidak apa-apa kok~," jawab Ketua OSIS sambil tersenyum lembut.

"Lagipula Chocolat-san benar-benar imut ya~. Seperti boneka."

"Ehehe, terima kasih banyak!"

Saat mengelus kepala Chocolat, entah kenapa Ketua OSIS menatap ke arahku dan berkata,

"Iya, benar-benar—seperti bukan manusia."

"——!"

Kulitku langsung merinding hebat. Sesaat setelah kata-kata itu terucap, mata sang Ketua OSIS tampak seperti mata burung pemangsa yang sedang mengincar buruannya.

"Fufu, cuma bercanda kok~."

Begitu aku sadar, yang ada di hadapanku hanyalah senyum santai yang sama seperti sebelumnya.

"Nah, sepertinya sudah waktunya kami undur diri. Teman-teman kelas 2-1, maaf ya sudah mengganggu~."

Ketua OSIS memberi anggukan hormat kepada Utage-sensei, lalu pergi meninggalkan kelas bersama Shishimori-senpai. ......Apa maksudnya tadi? Reaksi Ketua OSIS itu, apa dia tahu sesuatu tentang Chocolat? Atau dia cuma punya intuisi tajam seperti Yuuouji tempo hari?

Di saat pikiranku berputar-putar, tiba-tiba ponselku bergetar. Pengirim email: "Tuhan", Subjek: "Misi Penghilang Kutukan".

"Datang di waktu seperti ini pula... Eh, APA-APAAN INI!?"

Dapatkan pernyataan 'Suka' dari seluruh peserta perempuan yang ikut dalam Pertandingan Antar-Blok. Batas waktu: Sampai Pertandingan Antar-Blok berakhir pada hari Jumat, 31 Mei.


......Nggak, itu mah mustahil.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close