NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (NouCome) Volume 4 Chapter 4

Chapter 4

Sedang Menyusup ke Acara Cosplay Mixer, Ada Pertanyaan?


1

Tiga minggu telah berlalu, dan hari yang dinanti pun tiba: hari penyelenggaraan Cosplay Mixer.

"Wah—luar biasa ya."

Chocolat mendongak menatap hotel tempat acara berlangsung sambil mengeluarkan suara kagum.

Kekagumannya itu sama sekali tidak berlebihan. Acara hari ini menyewa seluruh aula di sebuah hotel mewah di dalam kota. Skalanya cukup besar dan terasa sangat spesial (biasanya acara kencan berkelompok seperti ini lebih sering diadakan di tengah kota secara kasual).

Sepertinya Senpai mendapatkan tiketnya dengan metode yang agak mencurigakan, tapi kudengar biaya partisipasi normalnya adalah 12.000 yen untuk pria dan 10.000 yen untuk wanita.

Meskipun harganya dua kali lipat dari harga pasaran kencan berkelompok pada umumnya, melihat kemewahan tempat ini, kurasa harga segitu wajar-wajar saja.

Ditambah lagi, mereka juga menyediakan peminjaman kostum. Kalau tidak memungut biaya sebesar itu, pihak penyelenggara pasti tidak akan balik modal.

Aku berpisah dengan Chocolat lalu masuk ke ruang ganti pria. Aku mengenakan salah satu kostum yang tersedia, lalu menuju aula utama yang menjadi titik temu dengan rombongan perempuan lainnya.

Begitu mengedarkan pandangan ke sekeliling, di sana-sini penuh dengan orang yang ber-cosplay.

Mulai dari yang standar seperti baju cheongsam dan berbagai jenis seragam, sampai karakter anime atau manga—baik yang populer maupun yang asing bagi telinga—semuanya ada.

Namun, di antara kerumunan itu, ada satu sosok yang benar-benar memancarkan aura aneh yang mencolok.

Laki-laki itu, meskipun mendapat tatapan ganjil dari hampir semua orang yang lewat di dekatnya, tetap terlihat percaya diri tanpa rasa takut sedikit pun.

Penampilannya? Seluruh tubuhnya dicat emas mengilap, dia berdiri dengan kaki mengangkang lebar, dan kedua tangannya memegang pedang... Tolonglah, tahu diri sedikit.

Kalau ini di acara sekelas Comiket mungkin masih dimaklumi, tapi berpenampilan seperti itu di acara untuk mencari pasangan benar-benar terlihat seperti tindakan bunuh diri sosial.

Yah, meski aku mengomentari orang lain begitu, penampilanku sendiri hanyalah setelan jas kantoran biasa yang dipinjam dari penyedia kostum. Sama sekali tidak ada istimewanya.

Mungkin orang akan protes, "Apanya yang cosplay?", tapi kalau aku bersikeras bilang aku sedang memerankan Shima Kosaku atau Salaryman Kintao, kurasa tidak masalah. (T/N: Shima Kosaku / Salaryman Kintaro: Karakter manga populer di Jepang yang berprofesi sebagai karyawan kantoran (salaryman)

Sejujurnya ini sangat membosankan dan tidak menarik, tapi karena tujuanku berbeda dengan peserta lain, begini saja sudah cukup.

Tiba-tiba, sebuah suara menyapa dari belakangku.

"Ya ya, maaf membuatmu menunggu, Amakusa-kun."

Oh, suara ini pasti Hisaka Senpa—

"Pffft!"

Begitu menoleh, aku langsung menyemburkan tawa.

"An-Anda... sebenarnya pakai baju apa itu!?"

"Apa katamu? Lihat saja, bukankah sudah jelas? Aku jadi mumi perempuan."

Dia hampir telanjang. Penampilan Hisaka Senpai benar-benar nyaris telanjang.

Seperti katanya, temanya adalah mumi, jadi seluruh tubuhnya dibalut perban (yang sengaja dibuat compang-camping). Tapi masalahnya, rasio kulit yang terlihat benar-benar tidak masuk akal. Hanya bagian-bagian yang benar-benar "berbahaya" saja yang tertutup, sisanya terekspos semua.

"Enggak... ini, apa boleh pakai begini?"

Para pria yang lewat di dekat kami, tanpa terkecuali, semuanya melotot menatap sosok Senpai yang memalukan itu.

"Bukan masalah boleh atau tidak. Aku hanya ingin memakai ini. (Kirim)"

...Tidak, biar kamu pasang wajah keren pun, yang tidak boleh ya tetap tidak boleh.

"Lagipula, kok bisa-bisanya mereka meminjamkan kostum seperti itu..."

"Dipinjamkan? Tidak, tidak, tentu saja ini milikku sendiri."

Kenapa juga kamu punya barang beginian...

"Sebenarnya aku sempat terpikir ingin pakai perban warna kulit, tapi aku menahan diri, lho."

Perban warna kulit... Sial, malah terbayang.

"Oh, sepertinya Furano-kun juga sudah datang."

Mendengar suara Senpai, aku berbalik.

Yukihira tampak mengenakan tuksedo hitam pekat.

Oh, dari semua orang, aku paling tidak bisa menebak Yukihira bakal pakai apa, tapi ternyata jadinya begini ya. Bisa dibilang dia bergaya ala "Wanita Cantik Berpakaian Pria".

"...Hoo~"

Hisaka Senpai memberikan reaksi yang seolah menyiratkan sesuatu. Apa dia punya pendapat tertentu soal kostum Yukihira?

"......"

Yukihira menatapku dalam diam... Apa aku harus mengatakan sesuatu?

"Wah, itu benar-benar cocok untukmu."

Aku mengatakannya apa adanya, bukan sekadar basa-basi.

"...... Terima kasih kalau begitu."

Yukihira mengangguk dengan ekspresi yang tampak agak kesal... Kenapa sih?

"Ah, semuanya sudah kumpul ya, yaho~!"

Berikutnya, Ouka muncul.

Dia mengenakan kostum Sinterklas dengan rok mini. Meskipun sekarang sedang puncak musim panas dan penampilannya sangat tidak sesuai musim, entah kenapa karena sangat cocok dengannya, aku tidak merasa terlalu aneh.

Sama seperti saat berseragam sekolah, dia juga memamerkan pusarnya. Ini juga termasuk pakaian yang cukup terbuka, tapi ngerinya, dibandingkan dengan milik Hisaka Senpai, yang ini jadi terlihat biasa saja.

"Ouka, karung putih yang kamu bawa itu isinya apa?"

Aku melirik karung putih yang dia panggul.

"Waktu aku bilang ke Papa mau pakai kostum Sinterklas, dia bilang dia bakal menyiapkan hadiahnya, jadi aku harus membawanya. Aduh, membawanya ini berat dan merepotkan sekali, lho."

Hadiah pilihan Presiden UOG, Yuuouji Ouya... Isinya kira-kira barang macam apa ya?

"Sini, sini, coba lihat!"

Judul buku yang dikeluarkan Ouka dengan riang langsung tertangkap mataku.

Sepuluh Cara Mendapatkan Senyuman Gadis~ Dengan Ini Kamu Bakal Jadi Raja Populer~

"Itu mah cuma barang stok lama yang enggak laku!"

"? Katanya sih laku banget sampai enggak karuan, makanya Papa bilang dia mengumpulkannya khusus untukku."

Kamu ditipu... Kamu sedang ditipu, Ouka-san.

Sepertinya orang yang mau beli buku seperti itu memang cuma Chocolat saja. Dan benar saja, buku-buku dengan judul konyol lainnya mulai bermunculan satu per satu.

"Oh, apa ini?"

Beberapa buku yang keluar dari dasar karung berbeda dengan yang sebelumnya; pinggiran kertasnya dilapisi warna emas.

"Katanya sih, buat level ahli, desain sampulnya dibuat mewah."

Level ahli? Sambil merasakan firasat yang sangat buruk, aku mengambil salah satunya.

Sepuluh Cara Agar Gadis-Gadis Mau Membantu Mengambil Sampel Cacing Kremi Milikmu~ Dengan Ini Kamu Bakal Jadi Raja Cacing~

"Itu mah bukan level ahli lagi! Terus subjudulnya bahaya banget, berhenti deh!"

Sepuluh Cara Agar Gadis-Gadis Memakimu dengan Kata "Dasar Sampah!"~ Dengan Ini Kamu Bakal Jadi Raja Sampah~

"Kenapa nada bicaranya malah mirip pemain bola King Kazu!?"

Sepuluh Cara Agar Gadis-Gadis Mengabaikanmu~ Dengan Ini Kamu Bakal Jadi Raja Dicuekin~

"Sudah kubilang subjudulnya bahaya, berhenti!"

Sepuluh Cara Agar Bisa Telanjang Bulat di Depan Gadis~ Dengan Ini Kamu Bakal Jadi Raja Telanjang (Wkwk)~

"Itu mah bukan 'cara' lagi, tapi murni tindak kriminal!"

"Ini sih levelnya sudah tidak boleh diterbitkan..."

Memang benar-benar level ahli (?), meski baru melihat judulnya saja, barisan buku-buku terburuk ini membuatku merasa buku-buku yang kubaca sebelumnya masih jauh lebih waras.

"Masa sih? Yah, sudahlah. Nanti aku taruh di meja resepsionis saja, biar yang mau bisa ambil gratis."

Ouka berjalan ke meja resepsionis sambil memanggul karungnya. Kalau aku sih, dikasih gratis pun ogah...

"Nah, tinggal Chocolat ya."

Bahkan setelah Ouka kembali dari meja resepsionis, sosok Chocolat belum terlihat. Padahal kami datang bersamaan, tapi dia lama sekali ya.

"Semuanya, maaf membuat menunggu~"

Akhirnya suara Chocolat terdengar.

"Uwoh..."

Begitu berbalik, aku spontan berseru.

Chocolat mengenakan kostum boneka pinguin. Tipe kostum yang hanya memperlihatkan wajah dari bagian depannya, dan dia mendekat sambil berjalan terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya.

"Ooh, ini luar biasa sekali."

"Chocolat-chi imut banget~!"

Hisaka Senpai dan Ouka berseru kompak.

Ugh... ini memang diakui lumayan juga.

"Kanade-san, Kanade-san, bagaimana menurutmu?"

"Hm... uuh."

Tanpa sadar aku mengelus kepalanya saat dia mendekat. Sejujurnya, ini imut sekali.

"Ehehe."

Chocolat terlihat senang sambil sedikit menggerakkan bagian ekornya.

"I-Ini..."

"Ada apa, Yukihira?"

Di sampingku, tubuh Yukihira tampak gemetar hebat.

"T-Tidak apa-apa kok."

Meskipun bilang begitu, dia mendekat ke arah Chocolat dengan gelagat yang sangat gelisah. Bagi penyuka benda imut, pemandangan ini pasti sulit ditahan.

"Tahan... tahan, diriku."

"Ahaha, empuk banget~!"

Entah kenapa Ouka malah mendahului Yukihira yang sedang berusaha menahan diri dan langsung memeluk Chocolat.

"Ah..."

Yukihira menatap pemandangan itu dengan wajah iri.

Padahal kalau dia tidak gengsi dan jujur saja, segalanya akan lebih mudah...

"Furano-san juga, coba lihat sini."

Mungkin bukan karena dia menyadari suasana hati Yukihira, tapi Chocolat mendekat tepat ke sampingnya.

"Kostum boneka ini bagaimana menurutmu?"

Yukihira sempat mematung sejenak, namun akhirnya dia membuka mulut perlahan.

"Aku sama sekali tidak tertarik pada kostum boneka ini, tapi... ya, sama sekali tidak tertarik. Hanya saja, sebagai latihan jika suatu saat nanti aku terpilih menjadi anggota ekspedisi Antartika, bolehkah aku mencoba menyentuhnya?"

"? Aku kurang mengerti maksudmu, tapi boleh saja kok!"

"Kalau begitu... aku mulai, ya."

Tangan yang diulurkan ke arah Chocolat itu gemetar hebat, sampai-sampai dia terlihat seperti nenek-nenek.

Tepat saat tangan itu hampir menyentuh Chocolat...

"Ah, dari sana tercium bau yang enak sekali!"

"Ah..."

Sepertinya Chocolat mencium bau makanan, dia berbalik dengan semangat dan langsung lari kecil menjauh.

"......"

Yukihira kembali mematung dengan satu tangan masih terulur ke depan.

"Ngomong-ngomong, Furano-kun."

Hisaka Senpai menyapa Yukihira.

"...... Ada apa?"

Yukihira sudah kembali ke ekspresi datarnya yang biasa, tapi karena gagal menyentuh kostum boneka tadi, sepertinya dia agak down. Suaranya terdengar sedikit kurang bertenaga.

"Padahal ini acara cosplay yang langka, tapi sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan?"

"Apa... maksudnya?"

"Kostummu. Kostummu itu, kenapa bisa jadi begini?"

"Apa ada yang salah dengan penampilanku? Aku tidak mengerti apa yang ingin Senpai katakan."

"Tidak ada kulit yang terekspos sama sekali, kan?"

"Karena ini pakaian pria, kurasa itu wajar-wajar saja."

Senpai mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan mata Yukihira.

"Itulah masalahnya, Furano-kun. Sejak awal, pilihan berpakaian pria itu sudah tidak masuk akal. Di tempat di mana hasrat pria dan wanita bercampur aduk seperti ini, penampilanmu itu benar-benar tidak waras."

Kalau soal penampilan yang tidak waras, jelas Anda pemenangnya, Senpai... Jadi itu alasan kenapa tadi Senpai memasang wajah aneh saat melihat kostum Yukihira.

"Sepertinya... ini butuh bimbingan."

Sambil memasang senyum misterius, Hisaka Senpai mendekati Yukihira.

"Ta-tapi Chocolat-san juga hampir tidak ada bagian yang terbuka, kan..."

Yukihira berjengit mundur saat tubuh Senpai merapat hingga nyaris bersentuhan.

"Yang kubicarakan ini adalah masalah kesiapan mental. Chocolat-kun memilih kostum itu karena dia memang menyukainya, tapi pilihanmu ini adalah bentuk pelarian, bukan?"

"...... Tidak begitu. Aku memilih ini karena menurutku ini memang cocok untukku──"

"Sebenarnya ada kostum lain yang lebih ingin kamu pakai, kan?"

"...... Bisakah Anda berhenti bicara berdasarkan asumsi belaka?"

"Fufun, kalau tidak mau jujur, biar tubuhmu saja yang menjawab."

"Eh, tunggu... apa yang Anda sentuh!?"

"Ini titik sensitifmu yang sudah kuselidiki sampai tuntas."

Hisaka Senpai mulai meraba-raba tubuh Yukihira.

"Ja-jangan bercan—ah..."

Ini sudah ketiga kalinya Yukihira menjadi korban seperti ini... Tidak ada cara untuk menghentikan Hisaka Senpai kalau sudah begini.

"He-hentikaaaan!"

"Hahaha, saatnya waktu ganti baju yang menyenangkan!"

Yukihira pun diseret paksa pergi begitu saja.

Setelah menunggu belasan menit, Hisaka Senpai dan Yukihira kembali.

"Fufu, bagaimana? Konsepnya adalah Putri dari Negara yang Kalah Perang."

Pakaian yang dulunya pasti sebuah gaun yang indah itu sekarang compang-camping dan sobek di sana-sini. Tentu saja itu bukan karena sudah lama dipakai, melainkan sengaja dibuat seperti itu.

Meskipun tidak separah Senpai, tingkat keterbukaannya cukup luar biasa. Meski jauh lebih baik daripada sekadar perban, aku heran kok ada ya yang menyewakan kostum begini...

Di belakang Hisaka Senpai yang tampak puas, Yukihira menggigit bibirnya dengan wajah yang sedikit memerah. Sepertinya dia berusaha keras untuk tetap tenang, tapi rasanya rasio kulit yang terlihat memang sudah keterlaluan.




Namun... kalau diperhatikan lagi, level grup kami ini benar-benar gila. Ditambah lagi dengan tingkat keterbukaan pakaian beberapa orang yang sangat ekstrem, kami sukses menyedot perhatian seluruh ruangan. Dari segi visual sih nilainya sempurna... ya, cuma visualnya saja.

Saat aku sedang membatin begitu, sebuah suara yang lantang menggema melalui mikrofon.

"Baiklah semuanya, terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk berkumpul di sini malam ini!"

Begitu aku menoleh, pria yang tampaknya adalah pembawa acara itu juga sedang ber-cosplay.

Jas hitam, kacamata hitam, dan wig dengan bentuk yang aneh... Ah, itu pembawa acara turnamen Tenkaichi Budokai, ya? (T/N: dari dragon ball)

"Yang telah dinanti-nantikan pun tiba! Dengan ini, saya nyatakan acara Cosplay Mixer resmi dimulai!"

"""""UOOOOOHHHHHH!"""""

Menanggapi deklarasi sang pembawa acara, seisi aula langsung meledak dalam kemeriahan yang luar biasa.

Wajar saja sih, pada dasarnya ini adalah ajang mencari jodoh. Terutama para wanita yang kelihatannya sudah berumur di atas tiga puluh tahun, sorot mata mereka punya kilatan yang berbeda.

Tentu saja ada juga orang yang datang hanya untuk mencari teman main, tapi sebagian besar orang di sini pastilah murni mencari pasangan serius.

Dengan berkumpulnya pria dan wanita sebanyak ini yang berbagi tujuan yang sama, situasi di mana tidak ada satu pun pasangan yang terbentuk itu hampir mustahil. Singkatnya, seperti kata Hisaka Senpai, peluangku untuk menyaksikan momen seseorang jatuh cinta sangatlah tinggi.

Tapi, bukan berarti aku tidak melakukan apa-apa selama tiga minggu terakhir setelah menerima tiket itu.

Aku sudah berusaha sebisaku... seperti sengaja pergi ke tempat-tempat yang ramai pasangan, atau berdiskusi berkali-kali dengan Chocolat tentang bagaimana caranya agar dia bisa membenciku. Ya, meskipun pada akhirnya semua usahaku berakhir sia-sia, sih.

Tetap saja... hari inilah penentuannya.

"──Acara akan dimulai dengan sesi free time, jadi silakan mengobrol dengan bebas!"

Setelah pembawa acara selesai memberikan sambutan pembukaan, para peserta mulai menyebar sesuai keinginan masing-masing. Bersamaan dengan itu, Hisaka Senpai memberi instruksi kepada kami semua.

"Nah, tidak ada gunanya kalau kita cuma berkumpul dengan wajah-wajah yang sudah saling kenal. Mari kita berpencar juga."

Baiklah... setidaknya hari ini, salah satu misiku harus tuntas.

Dengan tekad yang bulat di dalam dada, aku pun mulai melangkah maju.


2

...Yah, meskipun sudah bertekad begitu, mana mungkin aku bisa seberuntung itu menyaksikan momen orang jatuh cinta secara tiba-tiba.

"Sekarang, enaknya ngapain ya..."

Setelah mengamati seisi aula, para peserta terbagi menjadi dua kelompok: grup pria dan wanita yang sudah asyik mengobrol akrab, serta orang-orang yang hanya mondar-mandir karena tidak tahu harus melakukan apa sepertiku. Sepertinya di saat-saat seperti inilah, orang yang jago membawa diri bakal jadi yang paling populer...

Sambil memikirkan hal itu, aku terus berjalan hingga—

"Uwah!"

"Uwoh!"

Aku menabrak seseorang.

"Ah, maaf."

"Sorry, Sorry."

Hm? Rasanya aku pernah mendengar suara ini di suatu tempat...

"Utage... Sen... sei?"

Sosok di depanku mengenakan seragam pelaut—sailor fuku.

Kupikir aku salah lihat, jadi aku mengucek mataku berkali-kali.

"......"

"......"

Dilihat berapa kali pun, tidak salah lagi. Dia adalah wali kelas Kelas 2-1, Douraku Utage.

"...... Kalau begitu, permisi."

Baru saja aku berbalik untuk kabur dari sana—

"Higyak!"

Tengkukku dicengkeram dengan tenaga yang luar biasa kuat.

"BRENGSEK... kenapa kau bisa ada di tempat seperti ini!?"

"Tunggu... Aduh, duh, duh, duuuhhh!"

Wajah Utage-sensei merah padam, entah karena marah atau malu.

"I-Itu, begini, ada alasannya..."

Karena merasa nyawaku terancam, aku pun menjelaskan tentang misi kali ini dan kronologi kenapa aku bisa sampai ke sini.

"Apa kau bilang... Jadi bocah-bocah yang lain juga ada di sini... Si Utage itu, dia benar-benar menjebakku!"

Utage-sensei berdecak kesal. Sepertinya Utage-senpai memberikan tiket terakhir itu kepada Sensei.

"Kau... Kau pasti berpikir wanita umur dua puluh sembilan tahun sepertiku pakai seragam sekolah itu sangat tidak masuk akal, kan!?"

Itu benar-benar tuduhan sepihak. Yah... meskipun aku memang sempat berpikir begitu, sih, sedikit.

"Tidak, justru dengan visual Sensei, seragam sekolah ini terasa masuk akal, kok..."

Maksudku, kalau cuma melihat penampilannya, dia cuma terlihat seperti anak SD yang sedang bergaya sok dewasa dengan seragam sekolah.

Tapi umur aslinya dua puluh sembilan tahun... Sepertinya situasi ini bakal jadi "kebutuhan" yang sangat dicari oleh kalangan tertentu.

"DI-DIAM LUUUUU!"

"Gueehh!"

Cengkeramannya makin menguat... Aku harus bagaimana, coba?

"Ukuran bajunya... cuma ini yang tersisa," gumam Utage-sensei pelan.

"Sejak awal stok baju sewaan yang ukurannya pas denganku memang terbatas... Ditambah lagi aku datang agak telat, jadi yang tersisa cuma baju untuk permainan mesum begini... Sialan."

Oalah, jadi begitu ceritanya—


PILIH:

"Daripada soal itu Sensei, bisakah Anda memakai baju bayi sebentar?" (Wajah Serius)

"Daripada soal itu Sensei, bisakah Anda memakai baju bayi sebentar?" (Wajah Bangga)

"Daripada soal itu Sensei, bisakah Anda memakai baju bayi sebentar?" (Wajah Jelek)




...Mau membunuhku?

...Atau seriusan nih, kamu memang mau aku mati?

...Aku sudah paham, sih.

Mau seberapa keras pun aku mengadu soal nyawa yang terancam ini, Absolute Choice tidak akan berubah.

Ugh... kepalaku mulai berdenyut sakit... mau tidak mau... harus kukatakan.

"...Daripada soal itu Sensei, bisakah Anda memakai baju bayi sebentar?"

K-Kamu paham, kan?

Kalau itu Utage-sensei, dia pasti paham kalau ini semua gara-gara pilihan mutlak itu, kan?

Tapi, masalahnya bukan di situ──

"DASAR BRENGSEK, LAGI PASANG WAJAH SERIUS BEGITU KENAPA NGOMONGNYA NGASAL, HAH!?"

"Gueeehh!"

Intinya, biarpun orang ini paham, dia tetap tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman mati.

"Kau pasti membayangkan aku pakai baju bayi barusan, kan!?"

"T-Tidak, mana mungkin..."

Aku membayangkannya, sumpah. Lengkap dengan empengnya pula.

"Wajahmu itu bilang kalau kau baru saja membayangkannya!"

"GUEEEEEHHHHH!"

"Sialan... harusnya aku tidak usah datang saja tadi."

Utage-sensei melemparkanku ke lantai begitu saja, lalu menghilang di balik kerumunan orang sambil menggerutu tidak jelas.

"Uhuk! Uhuk!"

Ha-Hampir saja... Pitingan tadi benar-benar terasa seperti mau mencabut nyawaku.

Tapi, sebenarnya Utage-sensei sedang apa di sini... Yah, sudah pasti sedang mencari calon suami, sih.

Wajar saja kalau wanita umur dua puluh sembilan tahun ikut satu atau dua acara kencan begini.

Sensei menikah, ya... Coba kubayangkan sebentar. ...Yang muncul di otakku cuma Gokuzuma. (T/N: Singkatan dari Gokudou no Onnatachi, judul seri film terkenal tentang istri-istri bos yakuza.)

Yah, terlepas dari kepribadiannya, kalau Sensei dengan visual seperti itu main di film yakuza, pasti bakal terasa sangat sureal.

Pokoknya, menurutku dia harus memperbaiki kebiasaannya (?) yang suka mencekik orang setiap kali ada masalah.

Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar suara yang asing.

"Permisi."

Saat aku berbalik, ada dua orang wanita yang tidak kukenal. Mereka mengenakan kostum perawat dan kelinci alias bunny girl.

"Kamu lagi sendirian? Kalau iya, mau mengobrol sebentar dengan kami?"

Si mbak perawat melemparkan senyuman ramah yang menenangkan. Dilihat dari auranya, mungkin mereka berumur sekitar pertengahan dua puluhan. Keduanya benar-benar cantik.

"Eh? Ah, tidak, aku itu agak..."

"Sudah, jangan sungkan-sungkan~"

"Tu-tunggu..."

Si mbak kelinci yang bicaranya agak manja itu menarik tanganku dan menyeret paksa ke arah meja terdekat.

"Maaf ya. Temanku ini orangnya memang agak agresif. Nah, silakan."

Mbak perawat menyodorkan segelas minuman padaku.

"Ah, terima kasih banyak... eh, pffft!"

Begitu minumannya menyentuh mulut, aku refleks menyemburkannya.

"I-Ini kan alkohol!?"

Begitu mengatakannya aku baru sadar, ini acara khusus usia dua puluh tahun ke atas, jadi wajar saja kalau disediakan minuman beralkohol.

"Eh, apa kamu tipe yang tidak bisa minum?"

"Bukan masalah bisa atau tidak, tapi..."

"Hmm? Jangan-jangan, kamu ini masih di bawah umur?"

Mbak kelinci mendekatkan wajahnya sambil menatapku dalam-dalam.

"Ugh..."

Sepertinya aku harus menjelaskan situasinya dengan jujur...

"──Jadi begitu, aku diberi izin masuk secara khusus."

Mendengar penjelasanku, mereka berdua mengangguk paham.

"Oalah. Kupikir kamu mahasiswa yang wajahnya kelewat awet muda, ternyata memang masih SMA ya."

"Kakak berdua ini datang ke sini untuk serius mencari pasangan, kan? Maaf ya kalau aku malah mengganggu."

"Tidak apa-apa, kok. Kami cuma datang untuk melihat-lihat siapa tahu ada pertemuan yang menarik, jadi tidak seserius itu juga bawaannya."

"Lagipula bagiku, anak sekolahan pun masih masuk kriteria, lho~"

"Ah, kalau dipikir-pikir, aku juga tidak masalah, sih~"

"Hah?"

Apa-apaan? Kok arah pembicaraannya jadi makin aneh?

"Wajahmu imut juga ya. Kamu pasti populer di sekolah, kan?"

"Tidak, sama sekali tidak begitu."

"Masa, sih~?"

"Iya benar, cowok ganteng sepertimu tidak bagus kalau terlalu rendah hati, lho~"

Yah... andai saja ini benar-benar karena rendah hati, alangkah indahnya hidupku.

"Ka-Kakak berdua juga cantik, kok. Tanpa perlu repot-repot datang ke tempat begini pun, pasti banyak laki-laki yang mengantre."

Aku mencoba membalas dengan basa-basi sekuat tenaga. Memang benar kalau mereka berdua cantik, tapi karena aku hampir tidak pernah memuji perempuan secara sadar, wajahku jadi sedikit memerah setelah mengatakannya.

"Aduh, kamu pinter banget ya ngomongnya~"

Mbak perawat tiba-tiba memajukan tubuhnya ke arahku.

"Tunggu..."

Dari sisi satunya, mbak kelinci juga mulai menghimpitku.

"Bukannya banyak yang mengantre, tapi di kantorku isinya cuma bapak-bapak tahu~"

"Benar banget. Kalaupun ikut kencan buta, isinya cuma cowok-cowok sok keren yang menyebalkan."

"Ugh..."

Aroma parfum yang berbeda menyerang indra penciumanku dari kiri dan kanan secara bersamaan, membuat kepalaku pening.

"Anu, ka-kakak..."

Tiba-tiba si mbak perawat menyadari sesuatu dan menarik-narik stoking jaring si mbak kelinci.

"Ada apa sih?"

"I-Itu, di sana ada anak perempuan yang terus-terusan melotot ke arah sini..."

Tepat saat aku ikut menoleh bersama mbak kelinci—

"Uwoh!"

Aku spontan berteriak.

Di sana berdiri Yukihira. Seperti kata mbak perawat, dia sedang melotot dengan aura yang sangat mengerikan, seolah-olah ingin membunuhku hanya lewat tatapan mata.

"Benar juga. Apa dia kenalanmu?"

"Iya, lebih tepatnya teman sekelas, sih..."

Tapi jelas sekali Yukihira bukan melotot ke arahku, melainkan ke arah kedua mbak-mbak cantik di depanku ini.

"Oh, begitu ya. Aku paham sekarang."

Mbak perawat memasang senyum jahil seolah-olah dia telah mengerti sesuatu... Apa maksudnya dengan "paham"?

Mbak perawat kemudian bicara pada si mbak kelinci.

"Sayang sekali ya, tapi sepertinya kita sebaiknya mundur sekarang."

Mbak perawat berniat pergi, tapi mbak kelinci menahannya.

"Tunggu dulu sebentar. Hmm, melihat reaksi imut seperti itu, aku jadi malah ingin menjahilinya sedikit."

"Eh..."

Mbak kelinci yang menempel padaku itu tersenyum nakal dan mengalihkan pandangannya ke arah Yukihira.

"Kamu mau melakukan sesuatu yang enak dengan Kakak?"

"Tunggu..."

"Aduh, kamu ini kekanak-kanakan sekali sih," kata mbak perawat yang tampak heran di sampingnya.

"Fufu. Habisnya wajahmu memang imut banget sih."

Dia mengatakannya sambil mengedipkan satu mata di depan wajahku. Uwoh... jadi ini yang namanya pesona wanita dewasa?

Suasana yang tidak mungkin bisa dikeluarkan oleh anak SMA.

Dalam arti tertentu Hisaka Senpai juga terlihat dewasa, tapi ini adalah jenis keseksian yang punya arah berbeda.

"Hei, sudah hentikan. Kasihan anak itu tahu."

"Fufu, sebentar lagi saja~"

Mbak kelinci itu malah semakin menggesekkan tubuhnya padaku. I-Ini sih sudah keterlaluan—


PILIH:

Meremas payudara si mbak kelinci.

Meremas payudaramu sendiri.


"......"

"Ada apa?"

Mbak kelinci menatapku dengan heran karena aku tiba-tiba terdiam. Lalu di hadapannya, aku... meremas dadaku sendiri.

"Eh? Eh?"

Wajah mbak kelinci tampak bingung total. Tenang, Mbak, aku sendiri juga bingung kok. Dan rasa sakit di kepalaku masih belum hilang. Berarti... aku harus lanjut meremasnya.

"......"

Aku terus meremas dadaku sendiri dalam keheningan.

"Tu-tunggu, kamu tidak apa-apa?"

"Ka-kamu kenapa?"

Mereka berdua bertanya dengan nada khawatir, tapi sakit kepalaku tidak kunjung reda. Berarti... aku tidak punya pilihan selain terus meremasnya.

"......"

Masih dalam keheningan, aku meremas dadaku sendiri dengan lebih intens.

"......"

Masih dalam keheningan, dan seterusnya (titik-titik-titik).

"...A-Anak ini gawat lho."

"...Ka-kan sudah kubilang, makanya cepat berhenti tadi."

Kedua mbak-mbak yang sudah ilfeel total itu akhirnya pergi menjauh dengan langkah seribu. Pada saat itulah, rasa sakit di kepalaku langsung sirna seketika.

Aku langsung lunglai sambil menjatuhkan bahu. Sialan... dasar Pilihan Mutlak, padahal di sekolah aku sudah sering sengsara gara-gara kamu, masa di sini kamu tidak bisa tenang sedikit saja, sih...

Tiba-tiba, ada tangan yang menepuk bahuku.

"Sayang sekali ya usahamu menggoda wanita tadi gagal."

Itu Yukihira.

"Enggak, aku bukannya mau menggoda mereka—"

"Yah, dengan ekspresi wajah seolah-olah 'bagian bawah tubuhmu terbuka lebar' begitu, mana mungkin bisa berhasil."

"Wajah macam apa itu!?"

"Di antara mata dan mulutmu, ada benda mesum yang bergelantungan begitu, berani-beraninya kamu bicara begitu."

"Kenapa hidungku diprotes pakai alasan aneh begitu, sih!"

"Jadi, apa yang kau bicarakan dengan dua wanita tua bangka tadi?"

"Heh, wanita tua bangka katamu—"

"Kamu pasti terpana melihat payudara kedua wanita tua bangka yang sudah hampir melorot itu, kan."

Yah, memang payudara mereka berdua besar, sih, tapi tidak perlu pakai istilah sekejam itu juga, kan.

"Kamu sendiri, kenapa melototi mereka begitu? Itu kan tidak sopan."

"Wah, aku dituduh melotot? Menyinggung sekali ya. Aku itu justru sedang melindungi kedua wanita itu dari nafsu birahimu yang tidak normal tahu."

"Nafsuku normal-normal saja, kok..."

"Aku itu sedang melindungi kedua wanita itu dari nafsu birahimu yang sama sekali tidak ada menarik-menariknya."

"Maksudmu apa, sih!"

"Aku itu sedang melindungi kedua wanita itu dari nafsu birahimu yang sedang mencari arti dari tujuan dilahirkan."

"Kenapa gaya bicaramu jadi mirip gim Tales begitu! ...Eh?"

Tanpa kusadari, kami sudah menjadi pusat perhatian orang di sekitar. Tentu saja, kalau ada gadis dengan kostum seperti ini berteriak-teriak soal nafsu birahi, pasti bakal mencolok.

"......"

Sepertinya Yukihira mulai merasa tidak enak, dia pun pergi dari sana dalam diam.

"Hah... dia benar-benar tidak bisa dimengerti seperti biasa... owa!"

Tiba-tiba, aku dipeluk dari belakang. Hanya ada satu orang yang bakal melakukan hal seperti ini.

"Tunggu, Hisaka Senpa—eh, Ouka?"

"Benal fali, ini Ouka-chan di sini~"

Saat aku menoleh, yang kulihat adalah sosok Ouka yang tampak aneh.

"Kamu... wajahmu kok merah begitu?"

"Fuhehe... enggak kok, pebeasaanmu saja~"

Apa jangan-jangan... dia mabuk? Tadi aku juga hampir salah minum, sih... tapi masa ada orang yang tidak sadar sampai jadi begini?

"Ehehe... Kanade-chi~"

"He-hei, hentikan!"

Dia menggesekkan pipinya ke pipiku tanpa pertahanan sedikit pun. Biasanya pun jarak Ouka memang sudah terlalu dekat, tapi ini sudah di luar nalar.

"Kenapa kamyu lali... funya~?"

"Bahaya!"

Tiba-tiba keseimbangan Ouka goyah dan dia hampir terjatuh. Untungnya aku sempat menahannya, tapi...

"Ugh..."

Sekarang posisinya kami malah sedang berpelukan erat dari arah depan.

"Le-lepaskan, Ouka."

"Gak mavu~"

Dia malah semakin mengencangkan pelukannya.

"Ehehee..."

Dia terus menggesekkan tubuhnya seolah-olah sedang bermanja-manja. Be-beberapa bagian tubuhnya terasa menempel padaku... Tidak, bukan saatnya memikirkan hal itu. Mabuk begini sepertinya agak gawat. Aku khawatir soal keracunan alkohol, lebih baik aku melapor ke panitia dan membawanya ke ruang medis. Minum alkohol bagi anak SMA memang bakal jadi masalah besar, tapi keselamatan nyawanya lebih penting.

"Lho, Ouka-kun ada di sini rupanya."

Mendengar suara Hisaka Senpai dari belakang, aku menoleh.

"Amakusa-kun. Jangan khawatir soal Ouka-kun."

"Enggak, kalau dilihat begini pun ini sudah gawat, kan."

"Bukan begitu, Amakusa-kun. Di bagian dalam aula ada demonstrasi memasak steik. Ouka-kun yang matanya berbinar-binar melihat itu langsung berdiri tepat di depan wajan panggangan untuk menonton. Awalnya tidak ada masalah, tapi di akhir, sang koki menuangkan brendi untuk aroma. Sepertinya dia tidak sengaja menghirup uap brendi itu."

"Hah? Cuma karena menghirup uapnya saja dia jadi begini?"

"Iya, Ouka-kun sama sekali tidak meminum alkohol setetes pun. Yah, sepertinya fisiknya memang sangat lemah terhadap alkohol."

Serius... tapi memang benar sih wajahnya saja yang merah, tapi tidak ada bau alkohol sama sekali dari napasnya.

"Hei, hei. Kanade-chi... apa yang kamyu pikilkan soal aku?"

Sambil tetap memelukku, tiba-tiba Ouka menanyakan hal yang tidak jelas.

"Maksudmu?"

Aku hanya bertanya balik karena tidak mengerti maksudnya, tapi entah kenapa Ouka malah memanyunkan bibirnya.

"Muu~"

Tapi sepertinya karena mabuk, emosinya jadi tidak terkendali, dan tiba-tiba dia jadi bersemangat lagi.

"Pan-paka-paan! Kalau begitu, aku bakal bilang apa yang aku pikilkan soal Kanade-chi. Pafu-pafu-pafu~!"

Cuma bau brendi saja sudah begini, bagaimana kalau dia benar-benar minum alkohol...

"Aku itu..."

"He-hei..."

Lagi-lagi, Ouka mendekatkan wajahnya sampai batas maksimal.

"Aku itu ya..."

Hembusan napas Ouka terasa menyentuh hidungku.

"Soal Kanade-chi—"

Tiba-tiba dia berhenti bicara dan menatapku dalam diam. Ugh... matanya yang sayu itu benar-benar berbeda dari Ouka yang biasanya, membuat jantungku berdebar kencang.

"Soal Kanade-chi itu ya..."

Soal aku... apa?

"Ehehe... entahlah aku lupa~"

Dia nyengir lebar sampai matanya tertutup. Pada saat itu juga, tenaga Ouka tiba-tiba hilang dan seluruh beban tubuhnya bertumpu padaku.

"Zzz... zzz..."

Dia tidur...

"Waduh. Yah, wajah merahnya sudah mulai reda, sepertinya saat dia bangun nanti dia sudah akan kembali normal. Amakusa-kun, sampai saat itu berikanlah dadamu padanya... eh, aku salah ngomong. Sampai saat itu remaslah dadanya."

"KENAPA MALAH REVISINYA BEGITU!?"

Terlepas dari becandaan Senpai, aku tidak bisa terus-terusan memeluknya di tempat seperti ini.

"Hei, Ouka, bangun. Aku akan membawamu ke ruang medis, kalau mau tidur, tidurlah di sana."

"Aduh Amakusa-kun, jangan tidak peka begitu. Di saat seperti ini harusnya kamu menggendongnya... eh, salah ngomong lagi. Harusnya kamu mempermainkannya, kan?"

"MAKANYA KENAPA MALAH REVISINYA BEGITU!?"

"Munya-munya..."

Bahkan meskipun aku sudah berteriak di dekat telinganya, Ouka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

"Hah... mau tidak mau harus digendong, ya."

Dengan bantuan Senpai, aku menggendongnya di punggungku.

"Zzz... sedikit lagi... mungkin... aku bakal paham..."

Sambil mendengarkan gumaman tidurnya yang terdengar nyaman, entah kenapa aku merasa suhu tubuh Ouka jadi sedikit lebih hangat daripada sebelumnya.

  Setelah menidurkan Ouka di ruang medis dan menyerahkan sisanya pada mbak panitia, aku kembali ke aula. Kondisinya bukan sakit parah, jadi tidak perlu menemaninya terus, apalagi aku masih punya misi yang harus diselesaikan...

"Hm?"

Saat itulah, mataku tertangkap oleh sosok seorang laki-laki. Laki-laki yang mengenakan seragam bisbol itu sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula dengan sorot mata yang sangat tajam.

Mungkin dia sedang mencari orang untuk diajak bicara... tapi tindakannya itu menurutku terlalu mencolok. Sambil memperhatikannya tanpa maksud apa-apa, pandangan laki-laki itu mendadak berhenti di satu titik. Sesaat kemudian, wajah pria bisbol itu memerah padam.

"I-Ini adalah..."

Ucap si pria bisbol sambil memegangi bagian dadanya. Di ujung pandangannya, berdiri seorang wanita yang mengenakan kostum yang sangat provokatif. Pakaian wanita itu nyaris menyerupai baju renang. Bayangannya seperti kostum penari yang dipakai di karnaval Amerika Selatan.

Menurutku itu kostum dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk dipakai, tapi wanita itu punya bentuk tubuh yang sanggup mengenakannya, dan wajahnya pun sangat cantik. Si pria bisbol itu pun memantapkan hatinya dan melangkah menuju sang penari. Lalu, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah—

"Aku suka kamu, tolong jadilah pacarku!"

Heh, serius... seberapa nekat pun dia, ini terlalu mendadak bukan?

"Eh..."

Tentu saja, si penari tampak sangat kebingungan.

"A-Aku jatuh cinta pada pandangan pertama."

Pernyataan cinta si pria bisbol itu benar-benar terdengar garing. Tapi tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Jangan-jangan ini... misiku sudah selesai?

"...Anu... hmm... Maaf ya."

Hasil yang wajar, si pria bisbol ditolak mentah-mentah. Tapi meski aku merasa kasihan padanya, hatiku dipenuhi harapan. Aku baru saja menyaksikan momen si pria bisbol itu jatuh cinta pada sang penari.

Namun.

"...Tidak datang juga."

Meski aku menunggu berapa lama pun, tidak ada tanda-tanda email pemberitahuan kalau misi sudah selesai akan masuk. Apa maksudnya ini? Melihat reaksi si pria bisbol tadi, sulit dibayangkan kalau itu cuma akting untuk menggoda wanita, dan targetnya pun tidak diberikan batasan umur atau jenis kelamin.

Kemungkinan lain yang terpikirkan adalah... tingkat "suka" si pria bisbol kepada si penari belum mencapai standar "cinta" yang ditetapkan oleh misi. Singkatnya, nilai ambang batas yang ditetapkan misi ini sangat tinggi, dan jatuh cinta pada pandangan pertama saja belum cukup untuk menyelesaikannya. Cuma perasaan tertarik sedikit setelah bertemu di sini itu dianggap tidak masuk kriteria.

Tapi kalau standarnya begitu, bukankah sulit sekali menyelesaikan misi di aula ini?

"Serius nih..."

Semangatku langsung merosot tajam. Lalu, bagaimana caranya aku bisa menyelesaikan misi ini...

"Hoe? Saya?"

Saat itulah, suara bodoh yang sudah tidak asing lagi terdengar di telingaku. Begitu aku menoleh, ternyata Chocolat sedang diajak bicara oleh seorang pria dengan setelan putih yang mewah.

"Iya benar. Mau tidak ikut aku ke sana sebentar?"

Awalnya aku ingin langsung menghentikannya, tapi aku urungkan karena ada hal yang ingin kupastikan.

"Tidak, Kanade-san bilang jangan mengikuti orang yang tidak dikenal. Jadi maaf ya."

Bagus, sepertinya dia mematuhi perintahku dengan benar. Tapi, pria itu tidak menyerah semudah itu.

"Siapa itu Kanade-san? Temanmu ya?"

Sepertinya setelah mendengar namaku, dia menyangka aku ini perempuan.

"Bukan, dia adalah orang yang paling aku su—"

Gruyuuuuuuuuuuukkkkk.

Di tengah kalimatnya, perut Chocolat berbunyi dengan sangat keras.

"Haha, kamu lapar ya. Wah, kamu lucu juga ya. Di meja sebelah sana banyak makanan enak, lho, mau tidak pergi bersama?"

"Mau, aku mau!"

"DASAR BODOH!"

Tanpa sadar aku berteriak di tempat itu juga. "Ma-maaf, permisi sebentar."

Dengan emosi yang meluap, aku menyela di antara pria itu dan Chocolat.

"Ah, Kanade-san!"

"Kanade... Kamu? Sebenarnya apa hubunganmu dengan gadis ini?"

Pria itu menatapku dengan tatapan yang sangat tidak senang. Yah, wajar saja dia merasa terganggu kalau ada yang menghalangi saat dia (tampaknya) hampir berhasil.

"Enggak, gimana ya... aku ini... walinya."

"Walinya? Penampilan kalian saja seumuran. Lagipula, aku belum pernah dengar ada gadis yang datang ke acara kencan berkelompok didampingi walinya. Hei kamu, sebenarnya apa hubunganmu dengan si cowok ini?"

Chocolat yang ditanya oleh pria itu langsung membusungkan dada dan menjawab dengan lantang.

"Iya! Kanade-san adalah orang yang paling aku sukai!"

Mendengar jawaban yang sangat jujur itu, pria itu awalnya tampak bengong tak percaya, tapi—

"...Cih, jangan datang ke tempat begini kalau kalian sudah berpasangan!"

Sambil berdecak kesal, dia pun melenggang pergi. Kami memang bukan pasangan, tapi perkataan pria itu ada benarnya. Tadi kedua kakak berdua itu bilang mereka tidak keberatan, tapi memberikan kesalahpahaman kepada orang-orang yang sudah membayar mahal dan serius mencari pasangan itu memang perbuatan yang kurang baik.

"Chocolat, ayo kita minggir ke pojokan sebentar."

"? Kenapa?"

"Soalnya tanpa berbuat apa-apa pun kamu itu sudah mengundang perhatian orang tahu."

"? Aku tidak mengerti."

Aku menatap lekat-lekat wajah Chocolat yang sedang memiringkan kepalanya. ...Yah, penampilannya memang luar biasa, sih. Kalau aku tidak tahu sifat aslinya, mungkin aku pun bakal terpikat olehnya.

"Kamu kan tidak tertarik soal cinta-cintaan begitu, kan? Kasihan kalau kamu malah mengganggu orang yang serius mencari pasangan, jadi mari kita jangan terlalu mencolok."

"Baiklah, kalau itu kata Kanade-san, aku akan menurutinya."

"Nah, bicara soal itu. Chocolat, kamu tadi melanggar perintahku gara-gara tergoda makanan ya."

Aku menatapnya dengan tajam. Kalau di tempat seperti ini mungkin masih mending, tapi kalau kamu digoda orang di jalanan, tidak tahu apa yang bakal terjadi.

"Maaf, aku sudah berusaha sekuat tenaga tapi itu sudah batasanku."

"Bohong! Kamu kan langsung luluh cuma dengan satu kalimat tadi!"

"Uuu... tapi Kanade-san, kenapa kamu sampai semarah itu?"

"Hah? Ya karena ini sedang menasihatimu, jadi wajar saja kalau marah."

Aku jadi bingung sendiri dengan pertanyaan Chocolat yang tiba-tiba.

"Bukan begitu."

"Bukan apa?"

"Bagi aku yang sudah biasa dimarahi Kanade-san, aku bisa merasakannya. Saat Kanade-san marah karena aku mencuri makanan, kerutan di wajahmu benar-benar berbeda dari yang sekarang."

Sampai sejauh itu dia tahu...

"Ah, Kanade-san, aku sudah tahu jawabannya!"

Chocolat tiba-tiba memajukan wajahnya ke arahku.

"A-Apa?"

"Cemburu."

"Hah?"

Cemburu? Tiba-tiba dia ngomong apa sih anak ini.

"Atau kalau pakai bahasa lainnya, jilesi. Aku baru saja membacanya di buku kemarin. Katanya kalau orang yang kita sukai sedang akrab dengan lawan jenis lain, hati kita bakal merasa tidak tenang."

"Eh, jilesi katamu..."

Chocolat memasang wajah yang sedikit bangga. Anak ini pasti menggunakannya tanpa benar-benar mengerti artinya...

"Lagipula, pemikiranmu itu kan berdasarkan premis kalau aku menyukaimu."

"Kanade-san, apa kamu membenciku?"

"Eh?"

Karena dibalas dengan cara yang di luar dugaan, aku mengeluarkan suara yang aneh.

"...Apa kamu membenciku?"

Chocolat menatapku dengan tatapan sedih dari bawah.

"E-Enggak... bukannya membencimu, sih..."

"Kalau begitu, apa kamu menyukaiku?"

"Ya... begitulah... kurasa."

"Aku juga sangat menyukaimu!"

Dalam sekejap ekspresinya menjadi cerah, dan bulu di bagian ekornya langsung berdiri tegak. Meskipun itu hampir mirip seperti interogasi jebakan, kalau dia sudah memasang wajah seperti itu, aku jadi tidak bisa berkata-kata lagi... Seperti biasa, kalau ada yang bilang suka padaku, rasanya memang tidak buruk juga sih.

"Lho?"

Chocolat sepertinya menyadari sesuatu.

"Ada apa?"

"Tiba-tiba aku terpikir. Padahal aku sangat menyukai Kanade-san, tapi kenapa ya aku tidak merasakan apa-apa meski Kanade-san akrab dengan wanita lain... bukankah itu aneh?"

Itu adalah bukti kalau perasaan yang dimiliki Chocolat padaku bukanlah perasaan cinta.

"Chocolat, apa kamu tahu artinya cinta?"

"Te-teorinya sih aku tahu."

Yots*ba kali... Yah, kalau soal cinta, aku yang belum pernah pacaran dengan orang beneran ini juga tidak bisa sok menggurui, sih.

"Cinta itu ya... gimana ya... itu hal yang sulit."

Aku mencoba mengatakan sesuatu yang keren, tapi tidak ada satu pun ide yang muncul di otakku.

"Oalah, begitu ya. Ternyata sulit ya..."

Jarang-jarang Chocolat memasang wajah seolah sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Saat itulah, suara pembawa acara menggema melalui mikrofon.

"Semuanya, tolong perhatiannya ke sini!"

Sesuai instruksi, aku menoleh ke panggung di bagian depan aula.

"Baiklah, setelah satu jam berlalu, pasti hubungan kalian sudah semakin akrab, kan? Sekarang, mari kita mainkan satu permainan!"

Mendengar itu, suasana aula mulai riuh.

"Namanya adalah King Game Terbuka dan Terpaksa!"

"Sepertinya seru ya!"

Chocolat tampak santai-santai saja, tapi aku punya firasat buruk soal ini. Kalau sampai Pilihan Mutlak muncul saat semua mata tertuju padaku, itu bukan bercanda lagi namanya...

"Aturannya sangat sederhana. Kalian semua memakai nomor dada, kan? Saya akan mengocok undian, dan tiga orang yang nomornya keluar harus naik ke atas panggung. Lalu saya akan mengambil undian lagi dari kotak lain, dan mereka harus mematuhi perintah yang tertulis di sana... Ada banyak perintah yang 'sedikit nakal' juga di dalamnya, jadi bagi para pria, silakan menantikannya!"

Mendengar itu, para pria langsung bertepuk tangan dengan riuh. Sebaliknya, beberapa wanita tampak memasang wajah yang kurang senang.

"Sebagai informasi, bagi peserta wanita yang terpilih, kami akan memberikan hadiah mewah dari katalog hadiah."

Oalah, ternyata persiapan untuk mencegah peserta wanita kabur sudah matang, ya. Kalau tidak begitu, nanti acaranya isinya cuma batangan semua.

"Tentu saja partisipasi dalam permainan ini tidak dipaksa, jadi kami sudah menyiapkan aula terpisah di sebelah bagi yang tidak ingin ikut... Tapi, di acara sebelumnya, tidak sedikit pasangan yang lahir dari permainan ini. Jadi silakan kalian pikirkan baik-baik. Kalau begitu kita istirahat sejenak, dan permainan akan dimulai sepuluh menit lagi!"

Pasangan lahir, ya. ...Kira-kira, apakah aku bisa melihat cinta yang melampaui standar misi di permainan itu nanti?


3

Sepuluh menit kemudian.

Hampir sembilan puluh persen orang masih bertahan di aula. Mungkin karena isi katalog hadiah yang dipamerkan tadi luar biasa mewah, atau bisa jadi karena kebanyakan dari mereka sudah menenggak alkohol, jadi bawaannya merasa santai dan lepas kendali.

Lalu, permainan pun dimulai.

Dan ini diaaa! Kita langsung tancap gas dengan PELUKAN! Berhubung pesertanya satu wanita dan dua pria, silakan pihak wanita memeluk pria yang dia sukai!

Waduh, kalau yang ini adu panggul alias sumo pantat! Kalian bertiga harus tanding sistem round-robin, ya!

Sesuai penjelasan pembawa acara, perintah yang diberikan kebanyakan melibatkan kontak fisik. Seiring berjalannya permainan, suasana di aula pun menjadi sangat panas dan meriah.

W-Waduh, ini panas banget! Mereka bertiga membentuk segitiga untuk Pocky Game! Tapi pesertanya cowok semua, ini sih berat bangeeet!

"Kanade-san, Kanade-san! Lihat, lihat, liiiaaat!"

...Tapi ada juga satu orang yang tingkat antusiasmenya melenceng ke arah lain.

"Gimana kalau kamu ikutan nyampur di sana sebentar?"

"SIAPA JUGA YANG MAU NYAMPUR?!"

Setelah itu, si Chocolat mulai berkhayal aku diserang oleh tiga laki-laki. Karena merasa ngeri setengah mati, aku pun menelantarkannya dan memilih untuk berkeliling aula.

"Tapi, ini gawat juga ya..."

Dilihat dari waktunya, permainan ini pasti sudah hampir mencapai babak akhir, tapi aku belum melihat tanda-tanda ada orang yang jatuh cinta. Di atas panggung memang beberapa kali terlihat pria yang wajahnya memerah kesenangan (dere-dere), tapi sepertinya itu belum cukup untuk memenuhi kriteria.

"Benar-benar acara yang konyol."

Saat aku sedang memikirkan hal itu, tanpa sadar Yukihira sudah berdiri di sampingku.

"Yah, tapi bagi orang yang hobinya mengulum dada dua wanita stw sambil ketawa menjijikkan, acara ini pasti sangat menyenangkan."

"SIAPA YANG MELAKUKAN HAL BEGITU?!"

"Aduh, apa aku salah dengar? Mungkin maksudku ketawa kegirangan?"

"BUKAN DI SITU MASALAHNYA!"

Sambil melontarkan lawakan garingnya, Yukihira menatapku dengan tatapan tajam nan sinis... Kenapa sih dia kelihatannya tidak suka sekali melihatku mengobrol dengan dua mbak-mbak tadi?

"Ah, ketemu juga!"

Tiba-tiba, Ouka berlari menghampiri kami dari arah depan.

"Ouka, kamu sudah tidak apa-apa? Mabuknya sudah hilang?"

Tadi saat waktu istirahat sepuluh menit, aku sempat mengecek ke ruang medis tapi dia sudah tidak ada di sana. Jadi aku berasumsi dia sudah agak sadar.

"Mabuk apa? Seingatku tadi aku lagi lihat demonstrasi masak bistik, eh tahu-tahu ketiduran~"

Ouka memiringkan kepalanya dengan warna kulit yang sudah kembali normal seperti biasa. Begitu ya, dia tidak ingat kejadian tadi.

"Enggak... bukan apa-apa."

Melihat kecenderungannya selama ini, kalau dia sampai ingat kejadian itu, dia pasti bakal malu setengah mati dan kabur entah ke mana. Lebih bijak kalau aku diam saja.

Hadirin sekalian, sayang sekali waktu kita hampir habis. Akhirnya kita sampai pada permainan terakhir!

Suara pembawa acara menggema di seluruh ruangan.

Gawat, sudah mau berakhir? Kalau begini, aku hanya bisa berharap ada perintah yang sangat dramatis di bagian akhir—


PILIH:

Kanade Amakusa, Furano Yukihira, dan Ouka Yuuouji terpilih.

. Kanade Amakusa, Daiko Gondo, dan Daiko Gondo (yang kedua) terpilih.

Dunia Bawah.


Woi, "yang kedua" itu maksudnya apa, hah?!

Seperti biasa, abaikan opsi nomor 3. Pilihan yang normal—maksudku, meski sama sekali tidak normal, pilihan yang tersisa cuma nomor 1...

Nomor 57, 110, dan 204, silakan naik ke atas panggung!

"Ah, itu nomorku!"

"Aku juga."

...Yah, akhirnya jadi begini.

Biasanya, kalau aku mengendalikan tindakan orang lain melalui pilihan, ingatan mereka akan dihapus. Tapi kali ini dampaknya tidak langsung ke mereka, jadi sepertinya aturan itu tidak berlaku.

Meski rasanya enggan bukan main, mau bagaimana lagi karena sudah terpilih. Kami pun naik ke atas panggung.

Ouka duduk di kursi , aku di kursi , dan Yukihira di kursi .

Waaah! Di akhir acara kita mendapat perintah yang sangat klasik! Nomor harus mencium pipi nomor dan nomor !

Apa... katamu?!

""""""CIUM! CIUM! CIUM!""""""

Sorakan penonton pecah memenuhi aula. Semua orang sudah dalam kondisi high karena pengaruh alkohol.

"W-Woi. Gimana nih?" tanyaku pada Ouka dan Yukihira yang ada di kedua sisiku.

"Gimana apanya? Ya mau tidak mau harus dilakukan, kan?"

"Ahaha, iya juga ya~"

Secara mengejutkan, mereka berdua terlihat santai saja. Ciuman lho... Eh, kalian sadar tidak sih kalau ini itu CIUMAN?!

Padahal ini hal yang sangat penting, tapi kalian mau melakukannya di depan umum begini walau cuma di pipi...? Apa pemikiranku saja yang terlalu kuno?

Eitss, tapi tunggu dulu! Nomor dan nomor harus saling menempelkan pipi mereka, lalu nomor akan mencium tepat di tengah-tengahnya!

"Hah?! M-Mana mungkin hal begitu—"

""""UUUOOOOOOHHHHH!""""

Aula semakin heboh tidak karuan.

Nah, ayo nomor dan nomor , segera tempelkan pipi kalian!

Mengikuti instruksi pembawa acara, Ouka dan Yukihira menempelkan pipi kiri dan kanan mereka... Woi, kalau aku mencium di tengah-tengah mereka... itu artinya wajah kami bertiga bakal saling berdempetan dalam jarak super dekat, dong?!

Aku sudah berdiri di depan mereka, tapi tubuhku kaku dan tidak bisa melangkah maju.

"Amakusa-kun, sepertinya kamu sedang memikirkan hal yang macam-macam, ya? Ini cuma permainan, jadi cepat selesaikan saja kenapa?"

"Betul banget, yang penting itu suasananya, Kanade-chi!"

Ugh... kalau dua gadis ini saja bisa setenang itu, rasanya memalukan kalau cuma aku yang gemetaran.

Baiklah... ayo kita lakukan.

""""""CIUM! CIUM! CIUM!""""""

Semangat para penonton sudah mencapai puncaknya.

"Kalau begitu... aku mulai, ya."

Tepat saat aku mendekatkan wajahku ke arah mereka berdua yang sudah memejamkan mata—




"...!!"

Aku baru saja menyadari sesuatu.

Ada apa dengan mereka... Mereka berdua sedang gemetar.

Lho, ada apa Nomor ? Jangan pakai acara tarik ulur begini dong—!

Mendengar komentar pembawa acara tersebut, seisi aula langsung tertawa riuh.

"..."

Aku berbalik menghadap pembawa acara, lalu membuka mulutku.

"Maaf, aku tidak bisa melakukannya."

Eh?

"Maaf, aku tidak bisa mencium gadis-gadis ini."

L-Lho, tapi tadi kan sampai detik terakhir kamu sudah siap?

"Maaf, situasinya berubah, jadi aku tidak bisa lagi."

K-Kami bakal kesulitan kalau kamu tidak mengikuti aturan. Setidaknya berikan alasan yang masuk akal, kalau tidak para hadirin tidak akan terima. Iya kan semuanya?!

""""BETUL! BETUL BANGET!""""

Suara kecaman mulai bermunculan dari arah penonton. Yah, wajar sih, soalnya peserta-peserta sebelumnya meski awalnya keberatan, akhirnya tetap melakukannya juga.

Alasan... alasannya apa ya? Mana mungkin aku jujur di sini dan malah membuat mereka berdua malu.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menatap mata Ouka dan Yukihira lekat-lekat. Kata-kata yang mendadak muncul di kepalaku langsung saja aku lontarkan.

"Aku merasa bersalah pada laki-laki yang akan mereka sukai di masa depan nanti, jadi aku tidak bisa mencium mereka."

""...Eh?""

Ekspresi Ouka dan Yukihira langsung melongo bodoh.

"Menurutku, ciuman itu harus dilakukan dengan orang yang benar-benar disukai, jadi aku tidak bisa."

"Uugh..." "Auu..."

Sesaat kemudian, wajah mereka berdua langsung memerah padam sampai ke telinga.

D-Duh, gawat. Ujung-ujungnya aku malah membuat mereka malu. Kalau mau bohong, harusnya aku cari alasan yang sedikit lebih waras...

Saking "GELI"-nya ucapanku tadi, suasana aula malah jadi hening dan canggung.

Duh, nanti aku harus minta maaf bagaimana ya ke mereka—

""AHAHAHAHAHAHA!""

"Hah?"

Tiba-tiba saja, suara tawa mereka berdua pecah dan bergema.

A-Ada apa ini? Padahal baru sedetik yang lalu mereka malu sampai wajahnya merah padam...

"K-Kalian kenapa...?"

Tanpa menjawab pertanyaanku, Ouka dan Yukihira mulai berbicara sambil memegangi perut mereka yang kaku karena tertawa.

"D-Dengar tidak tadi, Yuuouji-san?" "I-Iya, dengar kok, dengar banget!"

Kalau dipikir-pikir, Yukihira ini sebenarnya memang gampang tertawa. Tapi, bagian mana dari ucapanku tadi yang menurutnya lucu sekali?

"Orang ini, dia mengira kita gemetar karena merasa jijik atau takut lho."

Eh... Memangnya bukan?

"Salah paham yang khas Kanade-chi banget ya~!"

Salah paham... soal apa?

"Dan kalimat tadi itu... Menyebalkan memang, tapi karena bayangannya sudah muncul di kepalaku, mau tidak mau aku harus mengakuinya."

"Aku juga... karena bayangan itu muncul, aku akhirnya sadar!"

Entah kenapa, wajah mereka berdua terlihat sangat cerah, seolah-olah beban berat baru saja terangkat dari pundak mereka.

"Kalian ini... sebenarnya kenapa sih?"

"Aku tidak mau memberi tahu Amakusa-kun."

"Ahaha, aku juga tidak mau kasih tauuu~!"

"Iya kan?" "Iyaaa!"

L-Lho? Sejak kapan mereka jadi seakrab ini?

"Ouka, Yukihira, sebenarnya apa yang—"

Yukihira menempelkan jari telunjuknya di bibirku, memotong kalimatku.

"Furano."

"Hah?"

"Bukan Yukihira, tapi Furano, Amakusa-kun."

"Eh?"

Di tengah kebingunganku atas usulan yang tiba-tiba itu...

"Mulai sekarang, bisakah kamu memanggilku dengan nama itu?"

Yukihira mengatakannya sambil menatap lurus ke mataku.

"Eh, tapi bukannya waktu itu akhirnya dibatalkan..."

"Aku ingin kamu memanggilku Furano."

Di matanya, terpancar sinar keseriusan yang tidak seperti biasanya.

"A-Ah, oke... aku mengerti."

Aku mengambil napas sejenak, lalu mengucapkannya perlahan.

"Furano... begini sudah oke?"

D-Duh, apa tidak apa-apa ya?

Aku khawatir tenggorokanku bakal ditusuk lagi seperti waktu itu—

"Terima kasih."

"Eh?"

Kata-kata dan ekspresinya itu membuat tubuhku terpaku.

Ternyata... dia bisa menunjukkan senyuman yang selembut itu?

"Kanade-chi."

Ouka mendekat ke arahku yang masih dalam kondisi setengah bengong.

"Aku ya, akhirnya aku mengerti lho."

"Mengerti soal apa?"

"Hehe, seperti yang kubilang tadi, rahasiaaa~"

Setelah tertawa riang, ekspresi Ouka tiba-tiba berubah.

"Kali ini, aku yang akan membuat Kanade-chi mengerti."

"Ugh..."

Lagi-lagi aku dibuat kaku.

Pada saat itu, Ouka terlihat sangat dewasa. Rasanya sulit dipercaya aku bisa mendapat kesan seperti itu darinya, seolah-olah dia baru saja tumbuh dewasa beberapa tahun dalam sekejap... Ya, bisa dibilang dia menunjukkan wajah seorang "Wanita".

Anu...

Tiba-tiba terdengar suara yang bernada segan.

Ada apa ya... Rasanya aku melupakan sesuatu yang sangat penting...

Saat kami menoleh, pemandangan yang tertangkap oleh mata kami adalah—

Kalian bertiga... tidak lupa kan kalau seluruh hadirin sedang mendengarkan kalian?

"""...Ah!"""

Setelah itu, kami bertiga turun dari panggung dengan wajah semerah kepiting rebus.


4

Mundur ke beberapa menit sebelumnya.

(Ooh, Ouka-kun dan Furano-kun... mereka berdua jatuh cinta di saat yang bersamaan!)

Melihat Kanade dan kedua gadis itu di atas panggung, Hisamitsu Himeru benar-benar dalam kondisi sangat antusias.

 Bagi Himeru, mengamati emosi asmara adalah hiburan paling mewah. Entah itu emosi positif maupun negatif, ekspresi yang ditunjukkan seseorang saat jatuh cinta selalu terlihat indah tanpa pengecualian.

Keindahan itu berbanding lurus dengan besarnya perasaan mereka.

Mengingat Ouka dan Furano memang sudah punya perasaan luar biasa terhadap Kanade, ekspresi mereka di saat menyadari perasaan tersebut adalah salah satu kilauan paling terang yang pernah dilihat Himeru sejauh ini.

(Tapi, meski disuguhi perasaan sehebat itu tepat di depan matanya, Amakusa-kun sedikit pun tidak terlihat menyadarinya ya...)

Himeru sebenarnya sudah merasakan hal ini sejak lama, tapi menurutnya ini sudah bukan lagi di level "peka atau tidak peka". Ketumpulan itu tidak hanya berlaku pada perasaan orang lain, tapi juga pada perasaan Kanade sendiri.

Ini hanya berdasarkan insting Himeru saja, tapi... dari diri Kanade Amakusa, dia sama sekali tidak merasakan adanya "hawa romansa".

"Kalau sudah begini... aku menyerah, deh," gumamnya pelan, lalu memanggil seseorang yang berdiri di belakangnya.

"Hei, kamu juga berpikir begitu, kan?"

"Aduh, ternyata ketahuan ya~"

Seira Kokubyakuin yang sedari tadi berdiri diam di belakang Himeru, melangkah maju sambil memasang senyum tenang seperti biasanya.

"Yah, dengan keberadaan yang sedalam itu, mau tidak mau aku pasti sadar."

"Aduh, aduh. Padahal menurutku penampilanku jauh lebih 'sopan' dibanding pakaian Hisamitsu-san lho~"

Seira berputar sekali di tempat, seolah memamerkan gaun pengantin model rok mini dengan bagian dada yang terbuka cukup berani.

Himeru sebenarnya tidak sedang membicarakan soal pakaian, tapi... sepertinya Seira sengaja pura-pura bodoh. Bahkan bagi Himeru yang sering dianggap orang aneh oleh sekitarnya, Ketua OSIS yang satu ini memang punya sisi misterius yang sulit ditebak.

"Sudahlah. Kamu juga lihat sendiri kan bagaimana keadaan Amakusa-kun di panggung tadi? Maaf karena tidak bisa memenuhi ekspektasimu, tapi sepertinya permintaanmu tidak akan bisa kuteruskan."

Permintaan yang diterima Himeru dari Seira adalah: "Tumbuhkanlah perasaan 'Cinta' dalam diri Kanade Amakusa, tidak peduli dengan siapa pun orangnya."

Rayuan maut sudah gagal, kencan settingan lewat konsultasi asmara palsu juga gagal, bahkan setelah ditembak perasaan cinta yang sebegitu mencolok pun dia tetap tidak bergeming. Benar-benar tidak ada cara lagi.

Atau mungkin, ini bukan masalah cara pendekatannya. Kalau dari sisi Kanade-nya sendiri belum siap untuk menerima cinta, apa pun yang dilakukan pasti akan sia-sia.

"Aduh, sayang sekali ya~ Padahal kalau Hisamitsu-san yang turun tangan, aku pikir bakal berhasil."

"Maaf ya. Ngomong-ngomong, aku penasaran sejak awal... Bukannya kamu sendiri yang suka pada Amakusa-kun?"

Kejadian saat Seira memeluk Kanade di depan seluruh siswa saat perang antara Peringkat Populer dan Reject 5 masih segar di ingatan.

"Aduh, kalau dipikir-pikir memang begitu ya~" ucap Seira sambil menempelkan tangan di pipi dan tersenyum menghindar. Bahkan Himeru yang sangat peka terhadap dinamika hati manusia pun tidak bisa membaca apa yang dipikirkan gadis ini.

"Tapi ini cukup mengejutkan~ Aku pikir Hisamitsu-san akan menyerang sendiri sampai akhir."

"Yah, awalnya aku berpikir begitu. Tapi setelah berinteraksi dengan Amakusa-kun, pemikiranku berubah. Daripada merebutnya untuk diriku sendiri, sepertinya jauh lebih menarik melihat gadis-gadis yang sejak awal sudah menyukainya."

"Aduh, aduh. Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh seorang Love Crusher, ya~"

"Haha, julukan itu... dari dulu sampai sekarang rasanya memang tidak cocok untukku."

Himeru mengangkat bahu sambil tertawa kecut.

Dia sendiri sama sekali tidak punya niatan aktif untuk merusak hubungan cinta orang lain. Hanya saja, jika dia sudah membatin, 'Aku ingin melihat ekspresi orang ini saat jatuh cinta', tubuhnya akan bergerak sendiri tanpa sempat mempertimbangkan apakah targetnya sudah punya pacar atau belum.

Dalam kasus terakhir, meskipun targetnya sudah menjalin hubungan, Himeru tidak akan puas hanya dengan mengamatinya saja.

Karena dia yakin, dia bisa membuat targetnya merasakan jatuh cinta yang lebih kuat dan membuat ekspresi wajah mereka jauh lebih bersinar.

Hasilnya, tindakan para pacar yang direbut kekasihnya pun bermacam-macam. Ada yang langsung jijik karena perselingkuhan dan pergi menjauh, ada juga yang meluapkan amarahnya langsung ke si pria.

Tentu saja, tidak sedikit juga yang melampiaskan amarahnya kepada Himeru sebagai dalangnya.

Himeru sudah beberapa kali dilabrak langsung, tapi jika itu terjadi, dia biasanya akan membuat si gadis malah jatuh cinta kepadanya untuk sementara waktu.

Bagi Himeru, dalam observasi cinta, tidak ada perbedaan gender. Itu bisa menyelesaikan masalah sekaligus memuaskan hasratnya, sekali dayung dua pulau terlampaui.

Perasaan cinta dari sesama perempuan pun punya cita rasa yang berbeda dari hubungan heteroseksual, dan itu cukup menarik baginya.

Yah, dia tetap berusaha menyudahinya sebagai "cinta sesaat" agar tidak merusak orientasi seksual gadis-gadis normal tersebut.

Himeru sadar tindakannya secara moral tidak bisa dibenarkan. Tapi karena ini sudah mendekati insting, dia sama sekali tidak berniat untuk berhenti.

Namun, untuk kasus Kanade, situasinya berbeda. Kanade adalah orang yang sangat menyenangkan, dan Himeru ingin melihat ekspresinya saat mengenal cinta, tapi dia benar-benar tidak bisa membayangkan gambaran Kanade saat menyukai seseorang.

Meski dia bilang pada Seira kalau melihat Ouka dan Furano jauh lebih menarik, bagi kedua gadis itu pun, peluang mereka saat ini masih sangat tipis.

"Yah, campur tanganku sampai di sini saja. Kalau kamu ingin membuat Amakusa-kun jatuh cinta, silakan lakukan sendiri."

Kalau dipikir-pikir lagi, ini adalah permintaan yang aneh. Meminta agar seseorang jatuh cinta pada siapa saja dan bukan pada dirinya sendiri adalah keinginan yang sangat tidak alami.

Himeru jadi teringat kalau Kanade sendiri juga pernah bilang ingin "melihat momen saat seseorang jatuh cinta".

Keinginan aneh yang dimiliki kedua orang ini... rasanya bukan sekadar kebetulan. Apakah mereka berdua punya rahasia yang sama?

"Begitu ya~ Sayang sekali, tapi sepertinya aku harus memikirkan cara lain ya~"

"Baguslah kalau begitu. Yah, aku sendiri agak menyesal karena tidak bisa mendapatkan imbalan kesuksesannya."

Benar, Himeru tidak menerima permintaan Seira secara cuma-cuma. Saat Seira menawarkan hal itu, Himeru mengajukan satu syarat pertukaran.

"Ngomong-ngomong, Hisamitsu-san sebenarnya ingin menanyakan apa padaku~?"

Imbalan yang diminta Himeru adalah: Seira harus menjawab satu pertanyaan apa pun secara jujur.

"Cinta itu indah."

Himeru mulai bercerita tanpa menjawab pertanyaan Seira.

"Kegembiraan, kemarahan, kesedihan, kebencian, keterkejutan, rasa malu, kecemburuan, kegundahan, keputusasaan, penyesalan... kalau dihitung tidak akan ada habisnya. Tapi dalam tindakan cinta, semua emosi yang dimiliki manusia terkandung di dalamnya. Aku sangat mencintai dan menganggap indah emosi yang terpancar sesuai insting tersebut. Bahkan jika itu adalah emosi negatif sekalipun."

Seira tidak menyahut, dia hanya diam mendengarkan sambil tetap memasang senyum seperti biasanya.

"Dalam hal itu, bisa dibilang Amakusa-kun tidak terlalu indah. Dari dirinya, entah itu emosi positif maupun negatif, tidak ada perasaan semacam itu yang tersampaikan sama sekali... Pandangannya soal cinta jelas-jelas sudah menyimpang."

Ya, rasanya seolah-olah dia mati-matian menolak untuk jatuh cinta. Ketumpulannya yang ekstrem itu kemungkinan besar adalah bentuk perlindungan diri (guard) yang dia pasang secara tidak sadar. Apa penyebabnya, mungkin hanya dia sendiri... atau bahkan dia pun tidak tahu.

"Ya, dia benar-benar berlawanan arah denganmu."

Pada saat itu, alis Seira sedikit berkedut.

"Apa maksudnya itu~?"

"Ini hanya perasaanku saja, jadi anggap angin lalu pun tidak apa-apa... tapi, hawa romansa dalam dirimu itu terlalu pekat."

"Terlalu pekat, ya~?"

"Iya. Biasanya, hawa ini akan semakin pekat seiring dengan banyaknya jumlah atau kualitas pengalaman cinta seseorang. Aku pernah bicara dengan pasangan yang bersatu setelah cinta yang hebat, atau orang-orang yang akhirnya menemukan kebahagiaan setelah melewati banyak liku-liku asmara. Emosi mereka sangat kental dan indah... tapi..."

Himeru menjeda kalimatnya sejenak.

"Seira-kun, kepekatan hawa dalam dirimu itu benar-benar tidak normal. Tidak mungkin itu berasal dari seorang siswi SMA biasa. Ya, ibaratnya seperti pengalaman cinta selama ratusan tahun yang tidak punya tempat tujuan dan terus terpendam di dalam hati... Sesuatu yang berlebihan itu sama buruknya dengan sesuatu yang kurang. Perasaan cintamu, dalam arti yang berbeda dari Amakusa-kun, sama sekali tidak indah."

"Aku tidak begitu mengerti, tapi dibilang seperti gadis nakal begitu rasanya jahat sekali~"

Himeru mengabaikan kalimat pura-pura bodoh Seira dan melanjutkan ucapannya.

"Ya, sejak pertama kali kita bertemu, aku selalu mempertanyakan hal ini."

Himeru menatap tajam mata Seira dan melontarkan pertanyaannya.

"Seira Kokubyakuin... sebenarnya kamu ini siapa?"

"..."

"..."

Keheningan menyelimuti mereka berdua selama beberapa puluh detik. Setelah itu—

Seira tersenyum lebar dan menjawab.

"Itu adalah sesuatu yang hanya Tuhan yang tahu~"

Setelah itu, dia berbalik dan pergi meninggalkan Himeru dengan langkah santai.

◆◇◆

(Hisamitsu-san ternyata cukup tajam juga ya~ )

Sambil menerima tatapan dari para pria di sekitarnya, Seira berjalan menuju pintu keluar aula.

Sebagai pelayan Tuhan, tugas yang diberikan Tuhan kepadanya saat ini adalah: "Membuat Kanade Amakusa mengenal cinta."

Namun itu hanyalah sebuah sarana, tujuan akhirnya ada di hal yang lain.

Demi membantu pencapaian tujuan tersebut, Seira telah mengamati pola asmara manusia di dunia ini selama ratusan tahun.

Ya, ucapan kiasan Himeru tadi hampir sepenuhnya tepat menggambarkan pengalaman Seira yang sebenarnya.

Lalu, kenapa Seira menetap di dunia ini dalam waktu yang sangat lama?

Itu semua karena Tuhan, majikannya. Sang majikan yang memiliki usia kekal itu memiliki konsep waktu yang sembarangan dan jarang mau bergerak secara aktif.

Entah tujuannya tercapai besok atau seratus tahun lagi, bagi sang majikan itu tidak ada bedanya.

Ditambah lagi, karena kepribadian majikannya yang suka bermain-main tidak jelas, sistem "Kutukan" yang diciptakan sebagai sarana mencapai tujuan itu sama sekali tidak efisien dan malah menyebabkan penundaan yang lebih lama lagi.

Selama majikannya belum mencapai tujuannya, Seira tidak akan pernah dibebaskan dari dunia ini.

Meski tidak setingkat Tuhan, Seira yang memiliki umur yang jauh melampaui manusia tidak merasa terburu-buru. Tapi, mengulangi hal yang mirip terus-menerus itu rasanya sulit dibilang menyenangkan.

(Duh, jadi pelayan itu memang tidak mudah ya~ )

Tiba-tiba, dia teringat akan Chocolat, sesama pelayan Tuhan seperti dirinya.

Sepertinya ingatan gadis itu sedang kacau balau, sehingga dia tidak begitu memahami tugas dan nasibnya sendiri.

(Yah, mungkin itu lebih membahagiakan bagi dia~)

Berbeda dengan Seira yang dikirim untuk tujuan akhir Tuhan, Chocolat datang ke dunia ini hanya untuk mendukung Kanade.

Jika Kanade benar-benar jatuh cinta pada seseorang, pada saat itulah dia akan—


5

"Anu, apa kamu Amakusa Kanade-san?"

Saat hendak pulang, seorang staf Onee-san cantik memanggilku.

"Iya, benar... tapi kenapa Anda tahu nama saya?"

"Tadi ada seorang wanita yang mengaku kenalanmu menitipkan ini."

Sambil berkata begitu, si Mbak menyerahkan sebuah benda... ponselku.

Apa aku menjatuhkannya tanpa sadar? Aku benar-benar tidak ngeh.

Tapi, siapa ya kenalan yang dimaksud? Kalau itu anggota rombongan yang datang bersamaku, harusnya mereka langsung memberikannya padaku secara pribadi... Karena penasaran, aku mencoba bertanya seperti apa ciri-ciri orangnya.

"Umurnya kira-kira sebaya denganmu. Rambutnya saaaangat panjang sampai mau menyentuh tanah. Cara bicaranya juga sangat khas. Kayak gimana ya, pokoknya suka memanjangkan akhir kalimatnya begitu."

Sudah tidak salah lagi, itu si Ketua Seira Kokubyakuin. Belakangan ini dia jarang muncul di depanku... tapi sepertinya dia tetap bergerak di balik layar.

Singkat kata, aku berterima kasih pada si Mbak dan menerima ponselku.

"Oh."

Ada notifikasi tiga pesan masuk, jadi aku membuka kotak masukku.

"Hah? Apa-apaan ini?"

Nama pengirimnya semua adalah "Tuhan". Ditambah lagi, semua subjek pesannya sama: "MISI SELESAI".

Sambil kebingungan, aku membuka pesan pertama.

Selamat. Silakan tunggu misi berikutnya dengan antusias.

Aku membuka pesan kedua dan ketiga, tapi isinya benar-benar sama persis kata demi kata.

"Serius nih...?"

Entah kenapa waktu pengirimannya tidak muncul, jadi aku tidak tahu kapan pesan-pesan ini masuk. Tapi ini artinya, tanpa aku sadari, aku sudah menyaksikan momen seseorang jatuh cinta sebanyak tiga kali.

Berarti, sekarang sisa misi "dibenci oleh Chocolat" saja?

Tapi, rasanya aku tidak ingat tuh melihat momen orang jatuh cinta sampai tiga kali...

"Kanade-san, ada apa?"

Tahu-tahu Chocolat sudah mendekat ke sampingku.

"Chocolat, boleh aku tanya sesuatu?"

Mungkin ini mustahil, tapi aku ingin memastikannya untuk berjaga-jaga.

"Iya, ada apa~?"

"Hari ini di aula ini, apa ada kejadian yang membuatmu jadi membenciku?"

Chocolat tampak berpikir sejenak, lalu menjawab.

"Ada."

"Tuh kan, mana mung—eh, APA?!"

Saking tidak menduga jawabannya, aku sampai mengeluarkan suara aneh.

"Eeto, aku pikir mungkin kejadian yang 'itu'."

"Keinginan yang 'itu'?"

"Tadi kan Furano-san dan Ouka-san hampir dicium sama Kanade-san di atas panggung."

"A-Ah, iya..."

"Terus setelah itu, mereka berdua tertawa keras sekali kan?"

"Iya sih... terus emangnya kenapa?"

"Saat melihat Furano-san dan Ouka-san pada saat itu... rasanya kepalaku kayak dipukul GAAANN! gitu, syok banget... Terus... aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi... gimana ya..."

Tumben-tumbennya Chocolat terbata-bata. Dia menjeda kalimatnya, lalu mendongak menatap wajahku.

"Aku merasa sangat kesal sekali pada Kanade-san."

"...Hah?"

Aku benar-benar tidak paham apa yang dia bicarakan.

"Maksudnya gimana?"

"Aku tidak tahu... tapi yang jelas, aku merasa sangat tidak enak di hati."

Chocolat sendiri pun sepertinya merasa kebingungan.

"Kalau bahasanya diganti, mungkin bisa dibilang aku jadi membencimu."

Tapi, Chocolat yang sekarang terlihat benar-benar normal seperti biasanya.

"Tapi kamu tidak kelihatan kesal sama sekali tuh..."

"Iya, itu dia! Dengerin dulu, Kanade-san!"

Rambut kuncirnya berdiri tegak (pyoko!), lalu dia memajukan wajahnya ke arahku.

"Aku juga tidak paham, tapi setelah merasa kesal itu, terjadi hal yang ajaib!"

"Hal ajaib?"

"Anu... rasa sukaku pada Kanade-san jadi bertambah jauh, jauh, jauuuuh lebih besar dari sebelumnya!"

"...Hah?"

Apa-apaan itu? Sempat benci sebentar, tapi sedetik kemudian jadi makin suka dari yang sebelumnya?

"Maksudnya gimana sih?"

"Tidak tahu... pokoknya aku saaaangat suka Kanade-san!"

"Woi, jangan tiba-tiba peluk-peluk begini!"

"Lalu, aku jadi menyadari hal baru."

"Hal baru?"

Chocolat mengangkat wajahnya yang tadi terbenam di dadaku. Sambil merona merah di pipinya, dia pun membuka mulut.




"Iya, rasa suka ini... adalah rasa suka yang ingin menempuh jenjang pernikahan!"

"……Hah?"

I-Ini orang sebenarnya ngomong apa, sih?

"Lalu, gara-gara syok melihat Furano-san dan Ouka-san tadi, aku jadi teringat sesuatu... Cara agar Kanade-san bisa terlepas dari Absolute Multiple Choice selamanya."

"……Hah?"

Saking banyaknya pernyataan mengejutkan yang keluar bertubi-tubi, reaksiku sampai tidak bisa mengejar.

Cara melepaskan diri dari Absolute Multiple Choice... dia baru saja mengingatnya?

Chocolat memelukku semakin erat, lalu menunjukkan senyuman paling lebar yang pernah kulihat.

"Kanade-san. Tolong, jatuh cintalah padaku sebagai seorang wanita!"

◆◇◆

Furano Yukihira telah mengakui bahwa emosi yang selama ini ia pendam adalah cinta.

Ouka Yuuouji telah memahami bahwa emosi yang selama ini ia rasakan adalah cinta.

Chocolat telah mengalami sendiri bagaimana emosi yang ia miliki berubah menjadi cinta.

Namun, Kanade Amakusa... tetap tidak bisa memiliki emosi yang disebut cinta.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close