NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 2 IInterlude 2

Interlude 2

Bicara Soal Sebuah Kemungkinan — Bagian 2


"Aku pulaaaang!"

Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun masuk ke ruang tamu dengan penuh semangat. Sambil memelintir puting susunya sendiri.

"Oh, selamat datang kembali," jawab sang ayah yang menyambutnya dengan senyum lebar. Sambil memelintir puting susunya juga.

"Nee, nee, Ayah, ada yang mau aku tanyain sebentar."

"Hm, ada apa?"

"Kenapa sih, kita harus melintir puting kalau lagi menyapa orang?"

"Aduh, aduh, pertanyaanmu aneh sekali. Ya karena dari dulu aturannya sudah ditetapkan begitu."

Benar sekali. Di Jepang pada abad ke-23, gerakan melintir puting saat bertukar salam adalah etika umum yang sangat, sangat wajar.

"Eeeh, tapi kenapa? Kenapaaa?"

Namun, logika semacam itu tidak mempan bagi rasa ingin tahu bocah di usia tersebut.

"Haha, ya sudah, mau bagaimana lagi. Mari kita coba cari tahu sebentar lewat mesin pencari."

Sang ayah menjentikkan jarinya—CTAK! Di saat yang sama, sebuah bola transparan muncul di udara.

"Asal-usul, Salam, Pelintir Puting."

Segera setelah sang ayah bersuara, laser memancar dari bola yang melayang itu. Hasil pencarian yang telah dioptimalkan langsung diproyeksikan ke retina sang ayah.

"Apa katanya, ya... Errr, 'Asal-usulnya bermula lebih dari dua ratus tahun yang lalu, pada abad ke-21. Saat itu, seorang siswa melakukan gerakan tersebut ketika melerai perkelahian. Kebetulan, seorang putri dari pemilik perusahaan raksasa yang berada di lokasi merasa sangat terinspirasi oleh tindakan itu. Dia lalu memasukkan gerakan tersebut ke dalam iklan produk perusahaannya, hingga akhirnya meledak dan menjadi fenomena sosial. Tren ini tidak berhenti begitu saja, melainkan terus bertahan selama bertahun-tahun hingga akhirnya menetap sebagai gerakan standar saat memberikan salam' ...Begitu katanya."

"Hooo... Aku nggak terlalu paham sih, tapi orang zaman dulu kalau kasih salam nggak pakai pelintir puting, ya?"

"Sepertinya memang begitu."

"Orang zaman dulu itu bodoh, ya?"

"Haha, jangan bicara begitu. Yang namanya norma itu kan berubah seiring zaman—Oh? Sepertinya ada tamu. Iya, iyaaa, sebentar!"

Merespons suara bel pintu yang berbunyi di tengah percakapan, sang ayah pun terburu-buru lari menuju pintu depan.

Tentu saja, sambil memelintir puting susunya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close