NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 2 Chapter 2

Chapter 2

Adik Perempuan, Muncul?


1

Istirahat siang keesokan harinya. Suara keluhanku bergema di area kelas satu.

"Enggak, ini sih mustahil ketemu..."

Ada tujuan tertentu kenapa aku sengaja datang ke lantai satu—tempat yang biasanya hampir tidak pernah kupijaki—bersama dengan Chocolat, Yukihira, dan Oujisaka. Tujuannya adalah mencari 'pemain pengganti' untuk Pertandingan Antar-Klub.

Ya, karena pertandingan ini merupakan bagian dari rangkaian acara penyambutan murid baru, baik tim Peringkat Utama maupun tim "Lima Teritolak" punya sistem yang merepotkan: anggota kelima harus dipilih dari murid kelas satu sebagai pemain pengganti.

Kalau dipanggil oleh tim Peringkat Utama sih mungkin jadi sebuah kehormatan, tapi kalau berpartisipasi sebagai bagian dari tim "Lima Teritolak", reputasi sebagai 'golongan orang aneh' bakal tertanam kuat, dan ada kemungkinan bakal terpilih masuk daftar "Lima Teritolak" di pemungutan suara bulan September nanti... Aku tidak yakin ada orang yang cukup gila untuk mau bergabung.

"Yah, tidak ada gunanya juga kita berempat berkeliling barengan. Gimana kalau kita mencar dulu?"

Usul ini lima puluh persen demi efisiensi, dan lima puluh persen sisanya karena aku memang sedang tidak ingin bergerak dalam satu kelompok dengan orang-orang ini.

"Baiklah. Kalau begitu, dua puluh menit lagi kita kumpul di sini. Aku berharap bisa menemukan bakat yang setidaknya bisa membuatku mati tertawa."

"Okee! Intinya aku harus cari anak yang 'nendang' banget, kan!?"

Yukihira dan Oujisaka berjalan pergi menuju koridor yang lebih dalam. Mereka berdua itu... apa tidak salah paham soal tujuannya, ya? Padahal tidak ada aturan kalau pemain pengganti "Lima Teritolak" itu harus orang aneh juga...

"Kanade-san, ayo kita berjuang mencarinya~!"

Berbanding terbalik dengan Chocolat yang semangatnya meluap-luap, tensiku sama sekali tidak naik.

...Meski begitu, karena masalah ini berkaitan erat dengan penyelesaian misi, aku tidak bisa tinggal diam saja.

Setelah misi kemarin muncul, aku sempat tenggelam dalam keputusasaan untuk beberapa saat, tapi tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

Ini soal Absolute Choice dan misi-misinya yang sangat suka dengan permainan kata licik. Mungkinkah kata "Suka" yang tertulis di persyaratan itu tidak hanya berarti 'Love' (cinta), tapi juga mencakup 'Like' (suka sebagai teman/manusia)?

Untuk membuktikannya, aku mencoba bereksperimen pada Oujisaka.

"Hei Oujisaka, apa kamu suka aku sebagai sesama manusia?"

"Iya, aku suka kok!"

Oujisaka menjawab instan tanpa ragu sedikit pun.

Nah, bagaimana hasilnya? Tepat di saat aku memikirkan itu, sebuah surel masuk.

Oujisaka Ouka: CLEAR

Ooh...! Tadinya aku cuma coba-coba, tapi ternyata hipotesis itu terbukti benar. Kalau makna 'Like' saja sudah oke, berarti tingkat kesulitannya turun drastis.

Mumpung lagi semangat, aku mencoba menyelesaikan bagian Yukihira dengan taktik yang sama.

"Hei Yukihira, apa kamu suka aku sebagai sesama manusia?"

"Eh? Amakusa-kun itu manusia, ya?"

...Sebuah balasan yang terlalu di luar nalar.

Kalau aku protes, urusannya bakal panjang, jadi aku abaikan saja dan memaksa pembicaraan kembali ke jalurnya.

"Oke, soal aku manusia atau bukan kita simpan dulu. Intinya, kalau disuruh pilih antara suka atau benci, kamu pilih yang mana?"

Mendengar kalimat itu, Yukihira tiba-tiba menunduk dan mulai bertingkah gelisah.

"Ha-hal seperti itu... mana mungkin bisa kukatakan..."

Reaksi apa-apaan ini...?

"Enggak, maksudku ini bukan masalah besar..."

Suaraku sama sekali tidak masuk ke telinganya; dia sudah hanyut dalam dunianya sendiri.

"Aku... aku... terhadap Amakusa-kun..."

Setelah terdiam cukup lama untuk membangun suasana, dia berucap seolah telah memantapkan tekadnya.

"Aku benci."

"Kenapa tadi pakai malu-malu segala, sih?!"

"Terang saja, aku tidak bisa menyukai manusia yang nama panggilannya 'Norisuke'."

"Kan kamu sendiri yang kasih nama itu, woi!"

Sial... tidak bisa. Pembicaraan tidak akan maju kalau mengikuti alur biasanya. Aku harus mengoreksi jalurnya secara paksa.

"Lalu, kalau nama panggilan itu tidak ada, apa Yukihira bakal suka aku?"

"...Amakusa-kun, apa kamu sedang mencoba menggiringku ke sesuatu?"

"Ugh..."

Sepertinya caraku terlalu terang-terangan.

"E-enggak, aku cuma ingin tahu apakah aku disukai sebagai pribadi saja..."

Melihatku yang bicara gelagapan, Yukihira berucap dengan wajah serius.

"Maaf, sepertinya bagaimanapun juga, aku tetap tidak bisa menganggap Norisuke sebagai manusia."

"Kamu bisa diprotes (oleh Norisuke asli) lho, ya!"

Akhirnya, aku gagal mendapatkan pengakuan 'Suka' dari Yukihira.

◆◇◆

Dan begitulah hingga akhirnya sampai ke situasi saat ini.

'Seluruh siswi yang berpartisipasi dalam Pertandingan Antar-Klub'. Itu berarti siswi dari tim Peringkat Utama juga termasuk, begitu pula dengan pemain pengganti tim "Lima Teritolak" yang akan kami pilih.

Mencari anak yang akan mengangguk jujur saat ditanya, 'Apa kamu menyukaiku sebagai manusia?'. Itulah tujuan terpenting hari ini.

Yah, meski aku sangat meragukan ada anak seperti itu yang mau membantu "Lima Teritolak"... Ah, tunggu, sebelum itu, bukannya aku bisa pilih murid laki-laki saja sebagai pemain pengganti?

Tapi kalau dipikir lagi, ini benar-benar misi yang tidak masuk akal. Apa sih tujuannya menyuruhku melakukan hal seperti ini?

"Hei Chocolat, menurutmu misi kali ini gim—hm?"

Chocolat yang seharusnya ada di sampingku baru saja, tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Saat aku mengedarkan pandangan mencari keberadaannya, terdengar suara teriakan histeris dari kelas terdekat.

"Lucunyaaa!"

"Wah, kulitnya kenyal banget!"

"Ya ampun, cara makannya kayak tupai!"

Aku mendekat ke jendela dan mengintip ke dalam.

Chocolat sedang dikerumuni oleh siswi kelas satu, sampai-sampai dia hampir 'tertelan' kerumunan. Begitu menyadari tatapanku, Chocolat berseru dengan riang.

"Ah, Kanade-san. Orang-orang di sini juga memberiku banyak camilan!"

...Anak ini, apa dia punya kemampuan khusus untuk membuat orang-orang memberikan makanan secara cuma-cuma?

Aku melangkah masuk ke kelas, lalu menarik tangan Chocolat keluar dari kerumunan.

"Maaf ya, Chocolat-ku merepotkan kalian."

Para siswi kelas satu itu sempat memasang wajah bingung sejenak, tapi melihat warna dasiku, mereka tampaknya menyadari tingkatan kelasku. Salah satu dari mereka mewakili yang lain untuk bicara.

"Anu... Kakak kelas, ya?"

Chocolat juga pakai dasi merah yang menandakan kelas dua, sih... tapi yah, memang sulit menganggap anak ini sebagai kakak kelas.

Dari kerumunan siswi di sekitar, terdengar bisik-bisik seperti, "Wah, ganteng," atau, "Bukannya dia lumayan keren?".

Ooh, reaksi seperti ini... aku sudah tidak merasakannya sejak SMP, saat hidupku masih normal. Perasaan yang sudah lama hilang ini membuat tensiku naik. Bagaimanapun juga, manusia tidak akan merasa buruk kalau dipuji.

"Ah, namaku Amakusa Kan—"

"Kanade-san, mahyumaro (marshmallow) ini enak lho!"

Chocolat memotong kalimatku sambil menempelkan tubuhnya padaku.

"He-hei, jangan nempel-nempel!"

Dasar bodoh, apa sih yang dia pikirkan di tempat ramai begini? Aku segera menjauhkannya, tapi...

"KYAAA!"

"Ka-kawaii banget!"

"Tuan Majikan sudah dataaang!"

Teriakan histeris itu menyebar dalam sekejap.

"Apa kalian berdua pacaran!?"

Gadis yang tadi menyapaku dengan segan, kini matanya berbinar-binar penuh semangat.

"E-enggak, bukan begitu..."

Aku mencoba menyangkal dengan gugup, tapi antusiasme para siswi tidak terbendung.

"Pasti iya! Tadi dia bilang 'Chocolat-ku' lho!"

"Aku juga mau Chocolat-chan!"

"Aku juga mau pacar ganteng!"

Kalau adegan ini terjadi di kelasku sendiri, aku yakin bakal habis dicaci maki.

Tapi bagi para adik kelas yang belum tahu reputasi burukku (aku tidak mau mengakuinya, tapi ya begitulah), reaksi mereka sangat segar dan positif.

Ini dia. Inilah yang kucari. Kehidupan sekolah yang damai seperti i—


PILIH:

"Kuhahaha, kalian semua juga jadilah peliharaanku, dasar betina rendah!"

"Hei, hei, jangan buru-buru, aku akan menyayangi kalian semua secara adil kok, kucing-kucing manisku."


Kehidupan... sekolah... yang damai...

"Sabar ya, Kanade-san!"

"Lagipula sudah pasti aku bakal terpilih masuk 'Lima Teritolak' lagi bulan September nanti... Dengan begini aku bakal makin dibenci oleh semua siswi di sekolah."

Dengan aura suram yang menyelimuti punggungku, aku berjalan gontai di koridor.

Setelah terpaksa memilih opsi nomor dengan hati hancur, aku teringat ekspresi para siswi yang langsung ilfeel (hilang feeling) total dan menjauh dariku.

"Ja-jangan-jangan orang ini Amakusa siapa-gitu itu?"

"Eh, itu kan orang yang di siaran siang kemarin bilang pengen lepas celana juga...?"

"I-iya, suaranya persis begitu!"

"Yang katanya 'Lima Teritolak' itu?"

"Eh? Ternyata itu beneran ada ya?"

"Ngomong-ngomong, kakak kelas di klubku juga bilang kalau 'Lima Teritolak' itu beneran bahaya..."

...Sudahlah. Kalau kuingat lebih jauh, aku bisa-bisa ingin berhenti jadi manusia.

"Tidak apa-apa kok. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di samping Kanade-san!"

"Chocolat..."

"Puk-puk, ya."

Chocolat ternyata sangat ahli dalam mengelus kepala. Sensasi tangannya yang empuk terasa nyaman, dan rasanya hatiku sedikit lebih ringan.

"Yah, kalau dengan begini makan malam hari ini bisa jadi daging sapi, itu harga yang murah."

"Ternyata ada udang di balik batu!"

Semuanya jadi sia-sia.

"Dasar, kenapa sih kamu itu selal—Aduh!"

Karena aku berjalan sambil menoleh ke arah Chocolat, aku benar-benar tidak memperhatikan jalan di depan. Aku menabrak seseorang telak.

"Ah, maaf—eh!?"

Pikiranku langsung kosong.

"Na... na..."

Wajah gadis yang seharusnya tidak mungkin ada di sini, berada tepat di depanku.

"Na-na-na-na, kenapa kamu ada di sini!?"

Aku mundur sejauh mungkin dengan sekuat tenaga.

Mustahil... mana mungkin dia ada di tempat seperti ini. Benar, ini pasti salah li—

"Kanade-onii-chan?"

...Bukan salah lihat.

"Ternyata benar, Kanade-onii-chan!"

Belum sempat dia selesai berteriak, dia sudah menerjang masuk ke pelukanku.

"Uwoh!"

Aroma yang familier menggelitik hidungku. Bau manis yang khas ini... tidak salah lagi.

"Le-lepaskan, Yuragi!"

Secara refleks aku menjauhkan gadis yang membenamkan wajahnya di dadaku itu, Hakoniwa Yuragi.

"Aah, Kanade-onii-chan pasti malu karena kita sudah setahun tidak bertemu, kan?"

Dilihat berapa kali pun tetap sama. Di depanku ini adalah orang yang sangat kukenal, sekaligus orang yang paling merepotkan.

"Yuragi... kenapa kamu ada di sini?"

Aku berucap pelan kata demi kata, mencoba menenangkan pikiranku yang kacau.

"Kenapa? Ya karena aku murid sini, lho?"

Yuragi menjawab dengan santai. Benar saja, blazer merah tua dan dasi biru yang melingkar di lehernya menunjukkan bahwa pemakainya adalah murid kelas satu di Akademi Seikou ini.

"Tapi bukannya keluargamu sudah pindah ke Amerika..."

Ya, aku dan gadis bernama Hakoniwa Yuragi ini adalah apa yang orang sebut sebagai 'teman masa kecil'.

Sekitar setahun yang lalu, ayahnya dipindah tugaskan ke Amerika dan katanya tidak akan kembali dalam hitungan tahun. Jadi, dia pergi ke sana bersama ibu dan ayahnya.

"Habisnya, awalnya sih dibilang bakal lama di Amerika, tapi baru-baru ini ada penempatan mendadak buat buka usaha baru di Benua Afrika... di daerah mana ya, aku lupa nama detailnya... pokoknya di pedalaman banget!"

Dari Jepang ke Amerika, lalu ke Afrika... seagresif apa sih perusahaannya?

"Terus, karena di daerah itu tidak ada SMA, jadi cuma aku yang pulang ke tempat Kanade-onii-chan!"

Yuragi menatap wajahku dengan senyuman lebar yang memenuhi wajahnya.

"Hari ini aku cuma datang untuk urusan administrasi pindahan, tapi mulai besok aku bakal jadi murid sekolah ini juga, sama seperti Onii-chan!"

Reuni dengan teman masa kecil setelah satu tahun. Biasanya ini adalah momen yang sangat membahagiakan, tapi aku sama sekali tidak merasa begitu.

"Begitu ya, aku paham. Yah, sekolah ini punya budaya yang bebas, jadi nikmatilah masa sekolahmu. Kalau begitu, dah!"

"Onii-chan, tunggu duluuu!"

Aku mencoba fade out begitu saja, tapi lenganku ditarik dan dihentikan.

...Memang tidak semudah itu, ya.

"Iih, Kanade-onii-chan jahat! Padahal adik perempuannya yang imut ini sudah pulang setelah setahun, kenapa reaksinya dingin banget!?"

"...Yah, itu karena aku bukan kakakmu."

Seorang anak kecil memanggil anak laki-laki yang lebih tua di tetangganya dengan sebutan "Kakak" adalah hal yang lumrah. Tapi yang satu ini bukan jenis yang menggemaskan seperti itu.

Hakoniwa Yuragi ini memperlakukanku murni sebagai 'Kakak Kandung'.

Lebih tepatnya, dia menemukan identitas mutlak dalam posisi menjadi 'Adik Seseorang'. Ya, yang ada di depanku sekarang bukanlah Hakoniwa Yuragi yang asli. Dia hanya memerankan sosok 'Adik' yang dia tetapkan sendiri.

"Kanade-san, ini siapa?"

Chocolat menarik-narik bajuku.

"Ah, gimana ya bilangnya, dia ini—"

"Aku adiknya!"

"Bukan!"

"? Jadi saya boleh menganggap kalau Kanade-san menyuruh gadis yang bukan adiknya untuk memanggilnya 'Kakak'?"

"Enggak boleh!"

"Begitu, saya sangat paham."

Enggak, paham apanya sih...

"Salam kenal, nama saya Chocolat. Yuragi-san, mohon bantuannya."

Chocolat menganggukkan kepalanya ke arah Yuragi.

"Ah, aku Hakoniwa Yuragi, salam kenal juga. Eh, mumpung baru ketemu, boleh tidak kalau aku panggil Chocolat-onee-chan?"

Begitulah. Jangkauan 'Adik' miliknya ini tidak hanya berlaku padaku, tapi diaplikasikan ke semua orang di sekitarnya.

"Chocolat-onee-chan..."

Chocolat seolah sedang meresapi frasa itu sejenak, lalu wajahnya langsung bersinar.

"Panggilan yang sangat manis! Tentu saja boleh!"

Wah... dia malah senang.

"O-onii-chan, makhluk ini lucu banget!"

"Ehehe."

Chocolat terlihat senang kepalanya dielus. Sebelah mananya yang 'kakak'? Itu sih sudah dianggap peliharaan total.

"Ah, Chocolat-onee-chan, aku bawa camilan, mau makan?"

"Mauuu!"

Lagi-lagi... Yah, perasaannya mungkin sama seperti orang yang ingin memberi makan anjing.

"Ngomong-ngomong, kenapa Onii-chan ada di lantai satu?"

Benar juga, karena reuni yang terlalu mendadak ini, aku sampai lupa tujuan utamaku.

"Bukan urusan penting, kok."

"Hmm... mencurigakan~"

Yuragi menoleh ke arah Chocolat dengan suara yang dibuat-buat manis.

"Chocolat-onee-chaaan. Di dalam tas ini ada donat spesial, lho. Kalau Onee-chan beri tahu kenapa kalian ada di sini—"

"Kami sedang mencari murid kelas satu yang agak aneh untuk ikut acara bersama-sama!"

"Cepat banget kena sogoknya!"

"Ini adalah rasa yang tak tertandingi!"

"Cepat banget makannya!"

Untuk si anjing bodoh yang mulutnya penuh donat ini, nanti bakal kuhukum dengan penyitaan satu lauk saat makan... tapi kalau sudah begini, mencoba kabur malah bakal makin merepotkan. Akhirnya aku menyerah dan menjelaskan situasinya pada Yuragi.

"Hee~ sekolah ini ternyata melakukan hal yang cukup menarik ya... Eh, tapi bukannya aneh?"

"Aneh? Apanya?"

"Kenapa Onii-chan ada di pihak 'Lima Teritolak' itu? Padahal waktu SMP kan Onii-chan populer banget, menurutku seharusnya Onii-chan masuk peringkat yang satunya lagi, lho."

Ah, benar juga. Dia tidak tahu apa yang terjadi padaku selama setahun terakhir ini.

"Yah, banyak hal terjadi..."

Memang benar-benar 'banyak hal'. Aku tidak mungkin menjelaskan soal Absolute Choice, jadi aku harus cari alasan yang tepat... Tunggu dulu, bukankah ini sebuah kesempatan?

Kalau aku menceritakan kondisiku yang kacau selama setahun ini dengan berlebihan dan berhasil membuatnya ilfeel, mungkin perasaan menyimpannya padaku bakal hilang.

Masalahnya adalah, bumbu seperti apa yang harus kutambahkan agar dia ilfeel—


PILIH:

Berakting sebagai 'Playboy' dingin dan mengusirnya.

Mengeluarkan ingus dingin dan menempel padanya.


...Opsi itu sih namanya cuma jadi orang cabul!

Terpaksa... aku melangkah maju, lalu mengangkat dagu Yuragi dengan jari telunjukku.

"Hmph, dasar bocah..."

"O-onii-chan?"

"Dalam setahun, manusia bisa berubah drastis. Aku yang sekarang bukan lagi Amakusa Kanade yang kamu kenal. Tadinya aku pikir mau pura-pura baik sampai kamu jadi milikku, tapi lupakan saja. Gadis ingusan sepertimu tidak akan bisa memuaskanku. Pergi sana."

Yuragi memasang ekspresi melongo. Bagus, reaksi yang mantap. Mari kita beri serangan tambahan.

"Semua wanita di sekolah ini adalah milikku. Babi-babi betina yang sudah kubuang itu merasa dendam dan memilihku hingga aku disebut 'Lima Teritolak'. Kalau kamu memaksa, aku tidak keberatan meladeni bocah sepertimu sesekali, tapi kalau tidak mau diperlakukan sebagai 'barang sekali pakai', mending cepat hilang dari hadapanku—"

"Keren banget!"

"...Hah?"

"Onii-chan yang baik memang oke, tapi Onii-chan yang tipe Do-S (Sadis) dan arogan begini juga keren banget!"

Entah kenapa, pipi Yuragi malah merona merah.

"Akhirnya... Onii-chan yang dulu cuma bisa ditembak tapi tidak berani merespons sama sekali, akhirnya dia terbangkitkan ke jalan ini!"

...Benar. Dia memang orang yang seperti ini.

Karena sudah lama tidak bertemu, aku sempat meremehkan tingkat keanehannya. Kalau cuma diusir sedikit saja dia sudah menyerah, hal itu pasti sudah berhasil kulakukan sejak setahun yang lalu.

Yuragi mengangkat tangannya ke arah ruang kosong seolah sedang berakting dalam drama.

"Kalau Onii-chan jadi Do-S, aku akan jadi Do-M (Masokis) seperti apa pun!"

"Chocolat... ayo pergi."

"Eh? Boleh?"

"Menyesuaikan diri dengan sosok Kakak seperti apa pun adalah bentuk 'Adik' yang sejati!"

"...Sudahlah, abaikan saja."

Aku meninggalkan Yuragi yang sedang hanyut dalam dunianya sendiri dan segera pergi dari sana dengan langkah cepat.


2

"Haaa..."

Yah, wajar saja kalau aku ingin menghela napas panjang. Setelah mengalami kejadian menyedihkan di kelas satu, aku malah harus bereuni dengan orang yang paling merepotkan.

"Ara, Amakusa-kun."

Saat aku sedang tertunduk lesu, suara Yukihira terdengar.

"Oh, Yukihira. Gimana? Apa ada murid kelas satu yang mau bantu?"

"Begini. Aku masuk ke kelas asal, lalu mengumumkan, 'Aku tidak tertarik pada manusia biasa. Kalau di antara kalian ada alien, penjelajah waktu, orang dari dunia lain, pengguna kekuatan supranatural, atau iblis super, datanglah padaku. Sekian'. Tapi mereka malah ilfeel total, dan tidak ada satu pun yang mengaku."

"Yah... itu sih sudah sewajarnya."

"Sepertinya aku salah pilih kata... Harusnya di bagian akhir aku sebut 'Pahlawan Super' saja, ya."

"Enggak... yang salah itu jelas bukan di bagian itunya!"

"Ooi, semuanya sudah kumpul ya!"

Dari arah berlawanan di koridor, Oujisaka ikut bergabung.

"Hm, ada apa?"

Arah belakang tempat Oujisaka berjalan tadi tampak sangat gaduh.

"Ah, itu? Jadi begini, tadi ada anak laki-laki yang wajahnya kelihatan tua banget. Dia mengintip ke dalam kelas dari koridor sambil napasnya haah-haah pas lihat anak perempuan. Kupikir karakternya unik, jadi aku ajak bicara."

"Enggak, aku benar-benar ogah kalau harus tampil bareng orang kayak gitu..."

"Ternyata dia cuma paman-paman pengangguran umur tiga puluh tahun yang beli seragam sekolah kita di toko cosplay."

"Itu namanya penyusupan ilegal, woi!"

Jadi itu alasan kenapa di sana jadi ribut-ribut...

"Kalian ini... apa tidak bisa mengajak orang dengan cara yang lebih normal sedikit?"

Yah, jujur saja aku memang tidak berharap banyak sejak awal.

"Kalau Amakusa-kun sendiri, orang hebat seperti apa yang berhasil kamu temukan?"

"Ooh, jadi penasaran, nih!"

"Ugh... Enggak, aku juga belum mene—"

"Lho, lho lho lhooo!?"

Su-suara ini...

"Onii-chan, ketemuuu!"

Sialan... Di waktu yang paling buruk, orang yang paling buruk malah muncul.

""Onii-chan?""

Suara Oujisaka dan Yukihira terdengar berbarengan.

"Enggak, ini tuh—"

"Iih, Onii-chan jahat! Masak aku ditinggal sendirian begitu saja."

Yuragi memotong kalimatku sambil menggembungkan pipinya sedikit.

"Eh, mereka ini siapa? Ah, jangan-jangan mereka ini gadis-gadis yang tadi Onii-chan bilang sudah bosan terus dibu—mmph!"

Tepat sebelum dia membocorkan hal yang tidak-tidak, aku segera membekap mulut Yuragi untuk membungkamnya. Aku mendekatkan wajahku dan berbisik pelan.

(Yuragi... jangan katakan hal aneh-aneh di depan mereka berdua.)

Setelah memperingatkannya, aku melepaskan tanganku.

(Kenapa? Ah, apa mereka target yang baru mau Onii-chan dekati?)

(Bukan begitu, maksudku...)

Sial... kalau aku mencoba menutup-nutupinya malah bakal makin runyam.

(Yang aku bilang tadi itu bohong. Aku cuma... sedikit mau pamer saja.)

(Ya ampun, Onii-chan yang mencoba terlihat keren di depan adik perempuannya manis banget!)

...Benar-benar tidak tertolong, anak ini.

Aku ingin sekali meninggalkannya seperti tadi, tapi... dalam situasi seperti ini, itu tidak mungkin dilakukan.

Terpaksa, aku menjelaskan hubunganku dengan Yuragi kepada Yukihira yang menatapku dengan mata setengah tertutup (entah kenapa), dan kepada Oujisaka yang tampak sangat penasaran.

"Begitu ya. Intinya, Amakusa-kun itu seorang Siscon (Sister Complex), kan?"

"Tadi itu kamu dengerin bagian mananya, sih!?"

"Ama-chi, teman masa kecil sekaligus adik perempuan itu bukannya kombinasi yang INVINCIBLE!?"

"Aku sama sekali tidak paham maksud 'Invincible' di sini apanya."

...Percuma saja menjelaskan pada mereka.

"Hei Onii-chan, kenalkan aku juga dong!"

Yuragi menarik-narik ujung lengan kemejaku. Cih... meski aku tidak mau dia terlibat lebih jauh, apa boleh buat.

"Ini teman sekelasku, Yukihira Furano dan Oujisaka Ouka."

Yuragi menyalami tangan mereka berdua dengan wajah riang.

"Maaf kalau mendadak, tapi boleh tidak kalau aku panggil Furano-oneesama dan Ouka-oneechan?"

Kumat lagi... anak ini benar-benar tidak pandang bulu.

"Nggak mau."

Yukihira menolak dengan tegas. Yah, kalau dipikir-pikir itu wajar. Siapa juga yang tidak bingung kalau baru pertama ketemu tiba-tiba dianggap kakak perempuan.

"Kalau boleh pilih, aku lebih suka dipanggil 'Tuan Putri' (Onee-sama) saja."

"Ke situ arahnya!?"

"Kalau begitu, Furano-oneesama!"

Tepat saat dipanggil begitu, Yukihira mengulurkan tangannya perlahan ke arah kerah baju Yuragi.

"Yuragi-san, dasimu agak miring, lho."

"Kamu cuma pengen ngelakuin itu saja, kan!"

"Hei, hei, Yuragi-chi. Boleh tidak aku minta kamu panggil 'Onii-chan' sekali lagi, tapi per suku kata?"

Oujisaka mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya.

"O-ni-i-chan."

"Okee! Sekarang versi 'Onee-chan' ya, tolong!"

"O-ne-e-chan."

"Sip, CUT!"

Dia jelas-jelas merekamnya... buat apa coba?

Tiba-tiba, Yuragi menepukan kedua tangannya.

"Ah, benar juga Onii-chan. Pemain pengganti untuk Pertandingan Antar-Klub yang Onii-chan bilang tadi belum ketemu, kan? Kalau begitu, biar aku saja—"

"Ditolak."

"Uuuh, dingin banget. Kanade-onii-chan, jangan-jangan... kamu benci aku?"

"Iya, nggak pakai 'jangan-jangan' lagi, aku memang benci."

"Laki-laki tipe Tsundere itu nggak ada pasarnya, lho."

"Aku nggak ada niat buat Dere (manis) sama kamu. Ini murni dari lubuk hati."

"Muuu, nggak apa-apa! Aku nggak bakal minta tolong sama Onii-chan kok!"

Sambil menggembungkan pipinya, Yuragi menghampiri para gadis.

"Furano-oneesama, Ouka-oneechan, Chocolat-oneechan. Aku juga mau ikut main!"

Anak ini... dia malah menyerang lewat jalur belakang.

Yuragi berakting berlebihan dengan menangkupkan kedua telapak tangannya sambil memasang wajah memelas yang dibuat-buat.

"Kurasa boleh saja. Lagipula dia sepertinya anak yang jujur dan baik."

"Aku juga setuju!"

"Karena tadi donatnya enak, aku setuju-setuju saja!"

Sial... tapi kalau mempertimbangkan misinya, bergabungnya Yuragi itu sebenarnya menguntungkan. Tidak ada jaminan aku bisa menemukan pemain pengganti laki-laki, dan bagiku, rasanya sulit menemukan gadis lain yang bisa dengan mudah bilang 'Suka' padaku selain dia.

"...Yah, mau bagaimana lagi."

"Onii-chan, makasiii!"

Yuragi menerjang dan menyandarkan tubuhnya padaku.

"He-hei, jangan peluk-peluk!"

"Enggak mauuu! Habisnya aku sudah lama tidak peluk Onii-chan!"

Saat aku sedang berjuang melepaskan diri dari anak ini, Yukihira angkat bicara.

"Hakoniwa-san, kurasa tindakanmu di depan umum itu agak kurang sopan."

Aku kaget mendengar kata 'kurang sopan' keluar dari mulut Yukihira.

"Eh, kalau cuma begini sih masih dalam batas kasih sayang kakak-adik, Furano-oneesama. Ah, jangan-jangan Furano-oneesama juga mau melakukan hal seperti ini?"

Alis Yukihira yang tadinya tanpa ekspresi berkedut sedikit.

"...Aku tidak punya hobi memeluk laki-laki yang baunya seperti tikus got."

"Apa aku beneran bau begitu...?"

"Maaf, maksudku bau siluman tikus."

"Nggak jauh beda!"

"Kanade-san nggak bau, kok!"

"Kenapa kamu malah ikutan peluk-peluk juga!?"

Chocolat ikut menempel dari sisi kiri.

"Wah, sepertinya alurnya memang mengharuskanku ikut juga, ya. Hup!"

"Kita bukan anak kecil lagi, jangan asal nempel karena terbawa suasana!"

Ditambah lagi, Oujisaka dari belakang.

"............"

Dari arah depan yang merupakan satu-satunya sisi yang terbuka, Yukihira menatapku dalam diam tanpa ekspresi... Tapi apa ini? Aku bisa merasakan tekanan tak kasat mata yang sangat kuat darinya.

"Kalau begitu... aku juga harus mengambil tindakan."

Yukihira melangkah maju satu langkah. Lalu, tepat di depanku, dia merendahkan tubuhnya... Eh, serius? Jangan-jangan Yukihira juga mau memeluk—

"GOFUH!"

Detik berikutnya, tinju Yukihira yang dilancarkan seperti gerakan uppercut mendarat telak di ulu hatiku.

"Guefh... a-apa yang kamu lakukan!?"

Aku jatuh tersungkur di tempat dan berteriak protes sambil menatap Yukihira.

"Maaf. Terjadi anomali medan magnet lokal yang membuat tanganku dan perutmu berubah menjadi kutub Utara dan Selatan yang sangat kuat."




"Mana mungkin begitu!"

"Atau mungkin itu adalah takdir Tuhan."

"Bukan, itu murni niat burukmu!"

"Oujisaka-san, Chocolat-san, Hakoniwa-san. Si elemen pengacau ini sepertinya sedang berisik sekali, tapi setidaknya kita berempat harus tetap menjaga kekompakan."

"Okee!"

"Siap, Furano-oneesama!"

"Baiklah!"

"Kenapa malah aku yang jadi penjahatnya, sih!?"

Tim seperti ini...aku tidak menginginkannya.


3

Keesokan harinya, setelah pengumuman bahwa Yuragi resmi menjadi pemain pengganti, kami dipanggil oleh OSIS. Katanya, mereka ingin mengadakan pertemuan tatap muka antaranggota yang akan berpartisipasi dalam Pertandingan Antar-Klub di ruang OSIS sepulang sekolah.

Begitulah, aku datang bersama Yukihira dan Oujisaka ke depan ruang OSIS di gedung kelas khusus.

"Ini sih... ruang direktur mana, coba?"

Itulah kata-kata pertama yang meluncur dari mulutku saat berdiri di depan pintu. Pintu kayu yang kokoh itu memancarkan kilauan yang tidak wajar, memancarkan kesan mewah yang sangat kontras dengan pintu kelas lainnya.

"Anggaran OSIS sepertinya melimpah ruah, ya. Daripada membuang uang untuk hal seperti ini, lebih baik investasi untuk fasilitas kelas saja."

Komentar yang cukup waras untuk ukuran Yukihira.

"Atau lebih baik berikan saja uangnya padaku."

Komentar yang sangat khas Yukihira.

"Ho~ ho~"

Oujisaka mengetuk permukaan pintu dengan rasa ingin tahu.

"Ama-chi, pintu ini kokoh banget lho! Kurasa kalau aku melakukan drop kick sekuat tenaga pun, pintunya bakal baik-baik saja."

"Yah, standar pengukuran kekokohanmu itu yang aneh..."

"Ah, ada Onii-chan dan yang lain!"

Tiba-tiba dari belakang, terdengar suara yang menyebalkan.

"Sudah kuduga..."

Saat aku menoleh, Yuragi sedang berjalan mendekat dengan riang.

"Eh, Onii-chan, kok wajahmu kelihatan jijik begitu? Ada apa?"

Bukan 'kelihatan', tapi aku memang 'merasa' jijik.

Ya sudahlah, dengan ini empat dari lima anggota tim "Lima Teritolak" sudah berkumpul.

Satu orang lagi, Kak Yumejima Karasu, masih belum terlihat batang hidungnya. Karena tidak ada tanda-tanda dia akan muncul, aku memutuskan untuk mengetuk pintu.

"Permisi, saya Amakusa dari kelas 2-1."

"Ouh, masuk."

Terdengar balasan suara yang kuyakin adalah Kak Shishimori.

"Permisi... Uwoh."

Begitu melangkah masuk, aku spontan berseru kagum. Lantai yang dilapisi karpet tebal di seluruh ruangan, ditambah berbagai interior dengan warna-warna elegan.

Apa yang ada di dalamnya adalah sebuah ruang bergaya Barat yang megah, sampai-sampai sulit dipercaya kalau ruangan ini berada di gedung yang sama dengan koridor luar tadi.

Di depan, Ketua Kokubyakuin yang berdiri berdampingan dengan Kak Shishimori tersenyum ke arah kami.

"Maaf ya mendadak memanggil kalian~ Teman-teman dari Peringkat Utama sudah datang, lho~"

Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar raksasa yang sepertinya cukup untuk diduduki lebih dari dua puluh orang. Di sisi seberang, tiga orang sudah duduk manis.

Aku mengenali wajah gadis yang duduk dengan gaya sedikit angkuh itu. Reikado Ayame, dia satu angkatan denganku, dan kalau tidak salah, dia berada di peringkat lima kategori siswi.

Di sebelahnya, ada seorang siswa laki-laki yang duduk dengan senyum ramah yang tidak kukenali sama sekali. Mungkin dia adalah pemain pengganti dari kelas satu.

Dan satu orang lagi, seorang gadis yang duduk dengan kesan sangat menciut.

"Ah, Ouka-chan!"

Melihat Oujisaka, wajah gadis itu berbinar senang. Dia segera berdiri dan berlari kecil menghampiri.

"Oh, Konagi-tan, yaho!"

"Ouka-chan, aku menunggumu lho. Di sini isinya orang yang tidak kukenal semua, jadi aku tegang sekali."

Yaze Konagi. Sahabat baik Oujisaka dan gadis yang namanya bertengger gagah di peringkat tiga Peringkat Utama.

"Amakusa-kun juga ikut Pertandingan Antar-Klub, ya?"

Konagi mengalihkan pandangannya padaku. Saat misi beberapa hari yang lalu, kami sempat cukup banyak berinteraksi.

Meski setelah perbuatan bejatku akibat Absolute Choice, dia adalah tipe gadis murni yang sangat langka di zaman sekarang karena tidak menunjukkan rasa jijik dan tetap tersenyum padaku.

"Yah... meski sebenarnya aku sama sekali tidak berniat ikut."

"Iya, aku sangat paham. Aku juga tidak pandai dalam hal seperti ini. Tapi syukurlah, selain Ouka-chan, ada orang lain yang kukenal."

Dia menangkupkan kedua telapak tangannya sambil tersenyum lebar. Gerakan yang membuat hati siapa pun yang melihatnya merasa tenang.

"Baiklah, baikla~h. Kalian berempat, karena acaranya akan segera dimulai, silakan duduk. Yaze-san juga, silakan kembali ke kursimu~"

Atas arahan Ketua Kokubyakuin, kami duduk di sisi dekat pintu, berhadapan langsung dengan anggota tim Peringkat Utama.

"Nah semuanya, terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan kalian~ Hari ini, kita berkumpul supaya bisa saling mengenal kepribadian satu sama lain sebelum pertandingan dimulai~"

Yah, meski judulnya 'pertarungan', bukan berarti kami bakal adu jotos. Memang lebih baik mengenal lawan sebelumnya daripada tiba-tiba disuruh bertanding dengan orang asing.

"Ngomong-ngomong, Kak Yumejima ke mana?"

Di dalam ruangan ini hanya ada sembilan orang termasuk aku.

"...Bajingan itu tidak bisa ditangkap."

Kak Shishimori mengerutkan dahi dengan kesal. Kalau dipikir-pikir, meski aku sering mendengar nama dan rumor tentang Kak Yumejima, aku belum pernah melihat wujud aslinya.

"Jangan pikirkan hal tidak penting, cepat kita mulai."

Kak Shishimori yang masih tampak gusar dan Ketua Kokubyakuin yang tetap santai seperti biasa ikut duduk.

"Kalau begitu, mari kita mulai perkenalannya~ Kita mulai dari pihak 'Lima Teritolak', ya. Pertama, Amakusa-san."

Langsung aku, ya... Yah, daripada menunggu giliranku setelah para orang aneh ini yang entah bakal bikin suasana seperti apa, mungkin lebih baik diselesaikan di awal.

Aku berdiri sambil menggaruk kepala sedikit.

"Amakusa Kanade dari kelas 2-1. Aku tidak terlalu pandai dalam acara seperti ini, tapi mohon bantuannya."

Saat aku hendak duduk setelah memberikan perkenalan yang aman,

"Tunggu sebentar, Amakusa."

Kak Shishimori yang melipat tangan menatapku tajam dari kursinya.

"Dengar ya, pertemuan ini diadakan supaya kalian tahu siapa lawan kalian. Kalau cuma menyebutkan nama dan kelas, apa gunanya, hah?"

"Hah..."

"Kalau kamu laki-laki, setidaknya ceritakan satu atau dua kisah duel hebatmu. Bilang saja begitu."

...Enggak, tidak ada. Lagipula, duel...? Orang ini pasti dulunya preman.

Melihatku yang kebingungan karena perbedaan nilai ini, Ketua Kokubyakuin memberikan bantuan.

"Benar juga ya~ Mungkin akan lebih baik kalau kamu memberitahu hobi atau keahlianmu."

"Hobi dan keahlian, ya..."

Meski aku mencoba banyak hal, semuanya hanya sebatas kulitnya saja, jadi aku tidak punya hobi spesifik yang bisa dibanggakan. Keahlian yang langsung terpikirkan juga tidak ada...

"Amakusa-kun, tidak perlu sungkan begitu."

"Hah?"

Tiba-tiba Yukihira yang duduk di sebelahku menyela.

"Bukankah kamu punya keahlian hebat yaitu Master of Areola?"

"Apa-apaan... itu?"

"Sesuai namanya, keahlian untuk mengidentifikasi individu hanya dengan melihat lingkaran di sekitar puting susunya."

"Woi, itu terlalu maniak...!"

"Masalahnya, objek yang bisa diidentifikasi terbatas hanya pada babi saja."

"Itu sih bukan level maniak lagi!"

"Cuma Pig Joke kok."

"Jangan mengatakannya seolah itu Black Joke!"

Ada apa sih dengan seri leluconmu itu sejak tadi...?

"Kalau begitu, apakah keahlian Amakusa-san boleh dicatat sebagai Pig Master of Areola?~"

"Mana boleh, dong!"

Ini sudah melampaui level sesat atau semacamnya.

"Hobi saya membaca buku saja. Untuk keahlian... tidak ada."

Membaca buku itu bukan bohong untuk menutupi keadaan. Aku adalah tipe pembaca rakus yang melahap apa saja, mulai dari novel umum, light novel, non-fiksi, sampai buku ilmiah populer, jadi rak bukuku penuh dengan berbagai macam genre.

"Benar sekali, Onii-chan memang suka sekali membaca buku sejak dulu!"

...Lagi-lagi si pembuat onar menyela.

Mendengar kata 'Onii-chan', anggota Peringkat Utama memasang wajah heran.

"...Apa yang kamu bicarakan, Hakoniwa-san?"

Karena merepotkan, aku memutuskan untuk pura-pura tidak kenal.

"Iih, Onii-chan, kenapa bicaranya formal sekali seperti pada orang asing begitu sih?"

Ya karena kita memang orang asing, ada masalah?

"Kalau Onii-chan bersikap jahat begitu, bakal aku bongkar lho kalau Onii-chan cuma mengoleksi buku-buku mesum bertema adik perempuan."

"...Oke, boleh tidak aku memukul wajahmu sekali saja?"

"Kalau di sana ada bentuk cinta yang baru, boleh kok."

"Yang ada cuma kemarahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata!"

"Onii-chan Kanade, seorang kakak yang sebenarnya sangat, sangat sayang pada adiknya tapi tidak bisa mengungkapkannya dan malah bersikap dingin. Benar-benar laki-laki yang merepotkan."

"Kenapa kamu bicara pakai nada narator Chibi Maru*o segala!"

Sial, kalau kubiarkan mereka semau mereka, pembicaraan ini bakal makin melantur.

"Ke-Ketua, perkenalanku sudah cukup, tolong lanjut ke yang lain."

"Ara, begitu ya~? Kalau begitu selanjutnya, Yukihira-san, silakan~"

Setelah ditunjuk, Yukihira berdiri dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.

"Yukihira Furano dari kelas 2-1. Hobiku adalah kegiatan sukarelawan. Kata-kata favoritku adalah 'semua manusia adalah saudara'. Tokoh yang kukagumi adalah Bunda Teresa. Poin menarik dariku adalah sifat jenaka yang suka mengobrol dengan boneka dan fakta bahwa aku adalah orang yang gampang tertawa."

...Hebat juga dia bisa mengocehkan kebohongan sebanyak itu dengan lancar... Yah, aku tahu kalau dia memang gampang tertawa, tapi kalau mengatakannya dengan wajah datar begitu, kurasa tidak akan ada yang percaya.

"Lalu, keahlianku adalah Kikkou-shibari (Ikatan Tempurung Kura-kura)."

"Tunggu, tunggu, tunggu!"

Aku tidak tahan untuk tidak berteriak.

"Jangan salah paham, Amakusa-kun. Ini bukan Kikkou-shibari dalam arti mesum, tapi aku ahli mengikat tempurung kura-kura sungguhan dengan tali."

"Itu malah lebih berbahaya!"

"Cuma Turtle Joke kok."

"Apa-apaan lagi itu!"

"Ngomong-ngomong, aku tidak menyebutnya Turtle Joke dalam bahasa Inggris karena dulu aku pernah salah dengar jadi Turtleneck."

"Itu sih telinga pendengarnya yang bermasalah!"

"Sebagai catatan, aku selalu memilih kura-kura yang Do-M (Masokis), jadi ini bukan penyiksaan hewan."

"Poinnya bukan di situ, woi!"

Benar-benar deh, anak ini... Lihat, Kak Shishimori sampai ilfeel total begitu.

Setelah merasa puas bercanda, Yukihira duduk, dan Ketua menunjuk Oujisaka berikutnya.

"Iya, iya! Oujisaka Ouka dari kelas 2-1! Makanan favoritku kari dan hamburger! Acara TV favoritku anime dan tokusatsu! Pekerjaan rumah yang paling aku benci adalah menulis resensi buku!"

...Kamu anak SD, ya?

Ketua Kokubyakuin menanggapi Oujisaka yang bicara sambil mengangkat tangan dengan penuh semangat.

"Oujisaka-san. Aku punya hubungan baik dengan ayahmu lho~"

Ayah Oujisaka itu... si Oujisaka Ouma itu, kan? Ada hubungan apa antara seorang siswi SMA dengan Presiden UOG?

"Eh, Ibu Ketua kenal dengan Ayahku?"

"Iya, beliau banyak membantuku~"

"Hee, hebat ya Ibu Ketua. Soalnya Ayahku itu orangnya aneh, jadi kebanyakan orang tidak bisa mengobrol normal dengannya."

...Apa tidak apa-apa Presiden UOG yang tersohor itu disebut begitu? Yah, menurut rumor di dunia luar, dia memang sosok yang cukup nyentrik. Tapi kalau sampai Oujisaka menyebutnya aneh, pasti dia memang luar biasa.

"Tidak juga, Ayahmu itu orang yang sangat menarik. Aku juga banyak mendengar tentangmu darinya lho~"

"Ah, jangan-jangan soal aku dan Ayah yang masih mandi bareng?"

"Buh!"

Aku spontan tersedak.

"Ada apa, Ama-chi?"

"A-ada apa katamu... kamu serius?"

"Ahaha, ya nggak mungkin lah. Tapi, waktu aku bilang 'mulai sekarang aku mau mandi sendiri saja', Ayah kaget setengah mati. Sambil berkaca-kaca dia bilang, 'Se-setidaknya aku akan pamer pada orang-orang kalau kita masih mandi bareng!'"

"Kayak anak kecil!"

Benar-benar deh, keluarga Oujisaka ini isinya apa sih. Dan lagi, 'waktu aku bilang' itu kapan tepatnya...? Aku terlalu takut untuk bertanya.

"Yah, soal Ayahmu kita bahas lagi nanti ya. Oujisaka-san, terima kasih~"

"Okee!"

Dengan ini, tiga dari empat orang yang hadir dari pihak "Lima Teritolak" sudah selesai memperkenalkan diri. Sisanya tinggal Yuragi... tapi apa dia bakal baik-baik saja?

Yuragi yang ditunjuk Ketua berdiri sambil tetap menatap ke arahku.

"Hakoniwa Yuragi dari kelas 1-8. Aku adik perempuannya Onii-chan Kanade!"

Uwaah...

"Yah... karena penjelasannya kurang, tolong tambahkan sesuatu yang lain, Hakoniwa-san."

Setidaknya tambahkan kalau dia 'pura-pura' jadi adik, atau 'suka' berperan jadi adik begitu.

"Semuanya, orang ini cuma pura-pura tidak kenal karena malu, padahal aku ini adik kandungnya."

"Jangan asal menambahkan kata 'kandung' begitu!"

"Kalau begitu, adik tiri."

"Kenapa malah ganti! Kita beda bapak beda emak!"

"Meski bapak dan emaknya beda, aku tetap adiknya."

"Itu namanya orang asing!"

"Aku adalah adik dengan status orang asing."

"Pokoknya terserah kamu lah!"

Gawat... anak ini benar-benar gawat.

"Amakusa, sebenarnya siapa sih anak ini dari tadi? Bukannya kamu anak tunggal?"

Kak Shishimori melemparkan pertanyaan yang sangat masuk akal.

"Lebih tepatnya, aku bukan cuma adiknya Onii-chan Kanade, tapi adik seluruh umat manusia. Jadi, aku juga adikmu lho, Onii-chan Souga!"

"A... pa?"

Wajah Kak Shishimori langsung menegang seketika.

"Hm? Ada apa, Onii-chan Souga?"

"...Hentikan."

Kenapa ya, sikap Kak Shishimori terasa agak aneh.

"Eh, eh eh?"

Saat aku merasakan ada sesuatu yang tidak wajar dari reaksi aneh itu, Yuragi mengalihkan pandangannya padaku.

"Jangan-jangan, Onii-chan Kanade cemburu karena aku memanggil laki-laki lain dengan sebutan Onii-chan?"

"Enggak... sedikit pun tidak. Malah aku ingin kamu memanggil orang lain saja sesukamu."

"Tenang saja, Onii-chan 'murni'-ku cuma Onii-chan Kanade, jadi jangan khawatir!"

"Dengerin orang ngomong dong..."

Lagipula, apa-apaan itu istilah Onii-chan 'murni'...

"Sudah cukup... hentikan perkenalan dari pihak sana."

Kak Shishimori menutupnya secara paksa dengan ekspresi muak.

"Fufu, benar-benar mencerminkan anggota 'Lima Teritolak' ya~"

Sebaliknya, Ketua Kokubyakuin sama sekali tidak goyah. Dia menepukkan tangan dan mengalihkan pandangan ke sampingnya.

"Kalau begitu mari kita lanjut ke pihak Peringkat Utama~"

Rasanya sudah lama sekali, padahal baru setengah jalan... Yah, karena ini anggota tim Utama, kurasa tidak akan ada perkembangan yang terlalu aneh.

"Kalau begitu, silakan dimulai dari Yaze-san."

"I-iya!"

Konagi yang ditunjuk sebagai pembuka berdiri dengan wajah tegang.

"Anu... itu, nama saya Yaze Konagi dari kelas 2-15... mohon bantuannya. Lalu, sisanya, itu..."

Mungkin karena tertekan atmosfer ruangan, Konagi bicara dengan sangat gugup dan terbata-bata. Kak Shishimori pun melontarkan kata-kata padanya.

"Yaze, aku tahu kamu tidak pandai dalam hal seperti ini. Tapi pertandingan tetaplah pertandingan. Selama kamu berada di timku, aku tidak akan memaafkan sikap lemah. Musuh ada di depan matamu. Berikan gertakan yang telak!"

Kak Shishimori dengan pemikiran premannya yang masih membara. Konagi malah makin menciut dan suaranya makin pelan.

"I-iya, anu... saya akan berusaha sekuat tenaga supaya tidak kalah. Tapi, saya tidak menganggap kalian musuh atau semacamnya, itu, saya harap kita bisa bertanding dengan menyenangkan... ya kan, Ouka-chan?"

Mendapat tatapan minta tolong, Oujisaka mengacungkan jempol dengan senyum lebar.

"Enggak mau!"

PENOLAKAN TOTAL.

"Fufu, naif... kamu naif sekali Konagi-tan! Karena sudah jadi begini, kita adalah musuh. Sampai hari pertandingan nanti, jangan harap aku mau bicara denganmu!"

"Te-tega sekali..."

Oujisaka yang tampak sangat senang melipat tangannya dan berseru dengan suara lantang.

"FUHAHA! Tunggulah, salah satu dari Empat Raja Kegelapan, 'Konagi Agung', aku akan membasmimu sampai tak bersisa!"

Enggak, kalau dilihat dari gayanya, sepertinya kamu deh yang jadi penjahatnya...

"Di hari pertandingan nanti, seperti pahlawan di mana pun, kami berlima akan mengeroyok dan menghajar Konagi Agung sampai babak belur!"

"Eeeh!?"

"Kenapa kita jadi kayak tim Super Sentai begitu?"

"Habisnya nama 'Lima Teritolak' itu terdengar cocok untuk itu, kan?"

Yah, kalau dipikir-pikir memang benar... 'Pasukan Orang Aneh, Teritolak Five!'... Siapa juga yang mau nonton acara kayak begini.

Ngomong-ngomong, menurutku Sentai terbaik itu Dekaranger. Tidak terima perdebatan. Dan satu lagi, Rider terbaik itu 555 (Faiz). Benar-benar tidak terima perdebatan.

"Ka-kalau begitu aku juga akan memanggil Raja Kegelapan lainnya untuk membantuku!"

Konagi dengan setia mengikuti skenario yang dibuat.

"Fufufu, itu mustahil. Konagi Agung yang terlalu baik hati selalu mengampuni manusia dan tidak membunuhnya, jadi dia dibenci oleh Raja Kegelapan lain yang kejam!"

Konagi Agung ternyata orang yang sangat baik hati.

"Dan kami akan menggilas Konagi Agung yang sudah terisolasi tanpa bantuan dengan robot raksasa!"

Makanya, siapa sih yang jadi penjahat di sini...

"Padahal aku benar-benar tidak ingin bertarung dengan Ouka-chan..."

"Kufufu, Konagi Agung, meski kamu memasang wajah sedih begitu, teman-samamu tidak akan datang menolongmuuu."

Tepat saat Oujisaka mengeluarkan kalimat khas penjahat rendahan yang penuh dengan flag,

"Hei kamu, apa-apaan sih ini. Jangan biarkan orang-orang ini meremehkanmu terus."

Wah, temannya beneran datang.

Gadis yang tadi duduk dengan gaya angkuh itu berdiri.

"Reikado Ayame dari kelas 2-10. Hobiku menikmati lukisan, keahlianku bermain piano."

Mata yang tajam, alis yang terbentuk sempurna, dan ekspresi yang seolah merendahkan orang lain. Secara keseluruhan dia memberikan kesan yang judes, tapi tidak salah lagi kalau dia adalah gadis yang sangat cantik.

Tapi jujur saja, wajah dan atmosfernya itu hanya faktor sekunder. Hal yang patut dicatat dari gadis bernama Reikado Ayame ini adalah—dadanya.

Meski aku berusaha keras untuk tidak memikirkannya, mau tidak mau bagian yang ukurannya di luar nalar itu tertangkap mataku.

Itu sudah melampaui level Dada Besar (Big Oppai) dan mencapai ranah yang disebut Dada Meledak (Busty).

"Yaze-san, cukup. Duduklah."

"Ah... iya."

Saat dia bicara sambil menyibakkan rambutnya, gerakan kecil itu saja sudah membuat asetnya berguncang hebat.

Yah, lupakan soal itu. Sepertinya dia menolong Konagi bukan karena rasa kawan, tapi lebih karena dia merasa kesal.

"Benar-benar deh, kenapa gadis kampungan begini bisa ada di peringkat tiga."

"Haha... maaf ya."

Tatapan Reikado pada Konagi yang meminta maaf terasa dingin. Sepertinya dia tidak terima peringkat Konagi lebih tinggi darinya yang berada di peringkat lima. Sesuai dugaanku, dia tipe orang yang punya harga diri sangat tinggi.

Tapi, terlepas dari sifatnya... dadanya beneran besar, ya.

Aku ini bukan 'Alien Penggila Dada' yang menganggap makin besar makin bagus, tapi tetap saja ukuran ini membuatku terbelalak. Dengan visual dan dada seperti ini, wajar saja kalau dia dapat banyak suara meski sifatnya agak judes.

Malah di antara para laki-laki di kelasku, ada jargon aneh yang beredar:

'Si Nomor Satu yang Sempurna dan Tak Tergoyahkan (Ketua Kokubyakuin)', 'Si Nomor Tiga yang Menggemaskan dan Ceroboh (Konagi)', dan 'Si Nomor Lima yang Dadanya Mantap (Reikado)'.

Selain itu, Reikado juga mendapat dukungan dari pihak selain para pecinta dada.

Kabarnya, sifat judesnya ini sangat disukai oleh para laki-laki tipe Do-M (Masokis), dan dia mendapat dukungan fanatik dari mereka.

Tapi... dadanya beneran besar, ya.

"Amakusa-kun, kurasa kamu terlalu berlebihan memandangi Gunung Kembar-nya."

"Buh!"

Teguran Yukihira menyadarkanku.

Gawat... aku benar-benar melakukannya secara tidak sadar, apa aku tadi sampai melotot begitu?

"Sudah kuduga... laki-laki memang lebih suka yang dadanya besar, ya."

"Hm? Kamu bilang sesuatu?"

Yukihira sepertinya menggumamkan sesuatu, tapi suaranya terlalu pelan sehingga tidak terdengar.

"...Bukan apa-apa."

Lalu, suara tajam dari Reikado terdengar.

"Hei, laki-laki menyedihkan di sana."

"Eh? Menyedihkan itu... aku?"

"Iya, lebih tepatnya laki-laki yang punya wajah kurang beruntung."

Uwaah... orang ini sifatnya beneran buruk. Yah, aku tidak menyangkal kalau wajahku memang kurang beruntung, tapi...

"Kalau kamu laki-laki, wajar kalau matamu tertuju pada dadaku, jadi aku maafkan. Tapi setidaknya gunakanlah etika dengan melirik saja. Kalau kamu terang-terangan melotot begitu, aku merasa tidak nyaman."

"...Apa aku melihatnya sejelas itu?"

"Makanya, kan aku sudah bilang begitu."

"Ahaha, Ama-chi sih melihatnya terlalu berani."

"Onii-chan mesum... tapi Onii-chan yang begitu malah membuatku bergairah."

Jawaban instan dari ketiga rekanku. Anak yang terakhir itu agak aneh, ya.

"...Maaf soal itu."

Aku menundukkan kepala dengan jujur. Meski dilakukan secara tidak sadar, kalau sampai semua orang menyadarinya, itu sudah termasuk pelecehan seksual tingkat tinggi.

Setelah menerima permintaan maafku, Reikado mendengus kecil lalu mengalihkan pandangannya pada Yukihira.

"Dan kamu, gadis Dada Rata di sana, berhentilah merasa cemburu yang tidak berguna."

"Da... da... rata?"

Seketika itu juga, gerakan Yukihira terhenti total.

Wah, ini gawat... topik dada rata adalah kata terlarang bagi Yukihira. Dulu waktu hal itu disinggung di siaran sekolah, dia membuat pembawa acaranya mengalami kejadian yang mengerikan.

"Reikado-san... maaf kalau aku salah dengar, tapi jangan-jangan barusan kamu mengatakan kalau Aset Berharga-ku tidak terlalu melimpah tanpa menggunakan bahasa kiasan?"

Wajahnya tetap datar, tapi dia pasti marah besar. Buktinya area pelipisnya sampai berkedut-kedut begitu.

"Hah? Aku tidak paham apa yang kamu bicarakan dengan bahasa berbelit-belit begitu. Kan aku bilang kamu Dada Rata."

"Dada rata... kamu mengatakannya dua kali."

Yukihira bergumam pelan dengan intonasi seperti Amuro saat dipukul Bright.

"Huh, jangankan dua kali, aku akan mengatakannya berkali-kali. Berhentilah cemburu, Dada Rata!"

Reikado memasang senyum sadis. Sepertinya dia tipe orang yang secara alami merendahkan orang lain untuk mempertahankan keunggulannya sendiri.

"Tiga kali... target pemusnahan teridentifikasi."

Ini... gawat.

"Lagipula, aku benar-benar tidak suka pada kalian. Padahal kalian sudah dicap sebagai 'Lima Teritolak' yang menjijikkan, harusnya kalian diam saja dengan rendah hati, bukannya malah mencoba bersaing dengan kami—"

"Diamlah, dasar Dada Busuk."

"...Hah?"

"Apa kamu tidak dengar? Aku bilang Dada Busuk."

"A-apa-apaan kata-kata kasar itu!"

"Kasar? Dengan dada serendah itu, berani-beraninya kamu mengatakan hal seperti itu."

"A-apanya yang rendah dari dadaku, hah!?"

"Mungkin warna kulit dan bagian hitamnya, ya."

"Itu kan semuanya, woi!"

"Ara, kamu baru saja mengakui kalau Pai-rin (Lingkaran Dada)-mu menghitam, ya."

"Bu-bukan... di-diamlah!"

Wajah Reikado memerah seketika. Ah, ada ya tipe orang yang suka mengatai orang lain tapi giliran dikatai balik langsung tidak punya pertahanan sama sekali.

Lagipula, istilah Pai-rin-mu itu... rasanya malah lebih mesum daripada menyebutnya lingkaran puting biasa.

Setelah beberapa detik dan tampak sedikit tenang, Reikado mencoba membalas.

"Hu-huh, paling-paling itu cuma rasa iri dari si Dada Rata, kan?"

Yukihira sepertinya sudah menduga balasan seperti itu. Dia tetap memasang wajah datar dan berucap dengan tenang.

"Mungkin saja begitu, wahai Yang Mulia Dada Raksasa. Tapi kalau kamu sebegitu bangganya dengan dadamu, kenapa tidak coba tambahkan kata 'Dada' di setiap akhir kalimatmu?"

"Hah? Apa yang kamu bicarakan—"

"Aku Reikado Ayame-dada. Aku bangga dengan dadaku yang besar-dada."

"He-hei..."

"Ah, laki-laki di sana sedang melihat dadaku-dada. Fufu, bagaimana ya-dada. Apa aku perlihatkan sedikit saja ya-dada~"

"Apa-apaan kalimat yang kelihatan bodoh begitu!"

"Ah benar juga Amakusa-kun. Aku memikirkan sesuatu yang inovatif."

Yukihira tiba-tiba mengalihkan pembicaraan padaku dan memotong alur tadi.

"Hei... kenapa malah bicara dengan orang lain!"

"Dalam manga atau anime, kata-kata yang tidak boleh diucapkan biasanya disensor dengan suara 'Pi' atau lingkaran, kan? Kurasa itu terlalu kaku dan membosankan."

"Hmm... begitu ya?"

"Kalau semua kata terlarang diganti dengan kata 'Dada', kurasa akan jadi sedikit lebih menarik."

"Yah, premisnya saja sudah salah. Kata 'Dada' itu sendiri sudah hampir masuk kategori terlarang, tahu."

"Yu-Yukihira-san, kamu sedang berdebat denganku—"

"Mari kita coba dulu."

"Hei... jangan abaikan aku!"

"Taro memasukkan dadanya yang tegak ke dalam dada Hanako yang sudah basah kuyup."

"Itu sih sudah pasti OUT!"

"Begitu ya? Kalau begitu mari kita ubah arahnya sedikit."

"Ka-kamu... kalau tidak berhenti, aku bakal marah lho!"

"Tidak mungkin dadaku bisa sedada ini."

"Malah jadi kayak judul light novel!"

"Dada dan dadaku terlalu dada."

"Lebih dari setengah kalimat isinya cuma dada, woi!"

"Begitu? Kalau begitu selanjutnya—"

"A-aku mohon, ladeni aku dong!"

Teriakan pilu Reikado bergema di seluruh ruangan.

"Ara, ternyata ada si Dada Busuk."

"Di-diamlah!"

Yang benar yang mana, sih.

"Uu... uu... menganggap remeh orang..."

Reikado yang merasa terpojok berteriak sekuat tenaga.

"Dasar Dada Tepos!"

"—!"

Ah, Yukihira terkena damage. Karena yang tadi itu bukan ejekan biasa tapi teriakan jujur dari hati yang terdesak, dampaknya pasti besar.

"Dada Tepos! Dada Tepos! Dada Tepos!"

"...Selanjutnya, serangan dada seperti apa yang kamu inginkan untuk memojokkanmu?"

Gawat, kalau dibiarkan terus ini bakal jadi perang lumpur, sebaiknya aku hentikan saja seka—


PILIH:

"Ya ya, pertengkaran konyol ini sampai di sini saja." Sambil mencubit puting susu sendiri.

"Dada dada, pertengkaran konyol ini sampai di sini saja."


...Konyol banget. Meski ini berasal dari otakku sendiri, ini benar-benar konyol. Kamu bodoh ya, Otak.

"Guh!"

Mungkin karena tidak suka dianggap remeh, aku merasakan sakit kepala yang kuat. Sial... terpaksa harus diucapkan.

"Dada dada, pertengkaran konyol ini sampai di sini saja."

"Jangan bercanda di saat orang sedang berdiskusi serius soal dada, bisa tidak?"

"Benar, orang luar diam saja!"

Aku malah dimarahi.

"Ah, iya... maaf soal itu."

Aku pun mundur dengan lesu.

Karena tidak ada lagi yang menghentikan mereka, perang dada itu pun berlanjut. Hasilnya,

"Uu... si-siapa sih anak itu."

Reikado tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca. Yah, Reikado sendiri yang mulai duluan jadi ini salahnya sendiri, tapi aku merasa pertahanan Yukihira tadi sedikit berlebihan.

"Fufu, pemandangan yang manis ya~"

Menyebut itu manis... orang ini juga sarafnya agak bermasalah, ya.

Ketua Kokubyakuin kemudian mengalihkan pandangannya pada siswa laki-laki yang sejak tadi tidak bicara sepatah kata pun.

"Kalau begitu, Yoshiwara-san, silakan~"

Siswa itu menjawab singkat, lalu berdiri dengan tenang.

"Yoshiwara Touya dari kelas 1-11. Hobiku adalah perempuan, hal yang kusukai adalah perempuan, dan tujuan hidupku adalah perempuan."

...Satu lagi orang aneh muncul.

Siswa kelas satu bernama Yoshiwara itu berjalan mendekati kami dengan senyum ramah di wajahnya.

Begitu sampai di depan Yukihira, dia menatap matanya dalam-dalam.

"Yukihira Furano-san, permisi sebentar."

Belum sempat dia selesai bicara, dia sudah menarik tangan Yukihira dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"...Apa maksudnya ini?"

Setelah terdiam sejenak, Yukihira bertanya dengan nada datar.

"Bukan apa-apa, ini cuma salam. Aku tidak tahan jika tidak memberikan kecupan pada gadis secantik dirimu yang ada di depanku."

Uwaah... kalimat yang sangat murahan sampai-sampai rasanya mau terbang saking ringannya. Apa ada gadis yang senang dibilang hal yang sudah jelas gombal begitu?

"Ka-kamu cukup mengerti juga ya."

Ternyata ada!

"Yukihira... kamu gampang banget ya."

Yukihira menjawab dengan wajah tanpa dosa.

"Amakusa-kun, jangan salah paham. Karena kulitku sangat kering, aku hanya senang karena kulitku jadi lembap berkat air liurnya."

"Alasannya terlalu dipaksakan!"

Dia pasti senang tadi... Yah, karena baru saja dikatai dada rata berkali-kali dan merasa tertekan, dipuji begitu pasti rasanya luar biasa menyenangkan.

"Lagipula, aku bukan wanita murahan yang hatinya goyah hanya karena kata-kata bocah kencur ini."

Bocah kencur... padahal kalian cuma beda satu tahun, kan.

"Aduh, jangan memaksakan diri untuk sok kuat begitu, Furano-san."

"Sok kuat? Apa maksudmu?"

"Sejak dulu, entah kenapa aku bisa langsung tahu tentang seorang wanita hanya dengan sekali lihat."

"Bisa tolong jelaskan lebih spesifik?"

"Yah, pura-pura tidak tahu lagi. Meski kamu berakting jadi orang aneh, sebenarnya kamu adalah orang yang sangat polos, kan? Reaksi senangmu tadi pun sebenarnya adalah akting untuk menutupi perasaanmu yang sesungguhnya. Sebenarnya kamu sedang menahan rasa malu setengah mati sampai ingin meringkuk setelah dikecup, kan? Wah, Gap (perbedaan sifat)-mu luar biasa."

Yukihira itu polos? Berakting jadi orang aneh? Apa-apaan yang dikatakan orang ini. Hal seperti itu tidak mungkin... eh, tunggu dulu.

"Gap? Rasanya... aku teringat sesuatu."

Ingatan yang tertidur di dasar otakku seolah terpicu. Apa ini... sedikit lagi, kata kunci yang menghubungkan Yukihira dengan 'Gap' seolah akan muncul.

"Benar, atap sekolah! Yukihira, kamu di atap sekolah melakukan—"

"—!?"

Seketika itu juga, mata Yukihira membelalak kaget.

"Ad-ada apa Yukihi—Aduh!"

Benturan keras menghantam kepalaku. Eh? Tinju? Apa dia baru saja memukul kepalaku dengan tinju?

"Maaf. Karena tadi ada tarantula, ular beludak, dan ikan buntal yang hinggap di kepalamu secara bersamaan, aku berusaha memukulnya sekuat tenaga."

"Situasi macam apa itu!"

Lagipula kalau ketiga hewan itu hancur di atas kepalaku, malah jadi bencana besar, kan!

"...Yoshiwara-kun, apa ada untungnya bagimu jika melanjutkan pembicaraan ini?"

Yukihira berbalik dan menatap tajam ke arah Yoshiwara.

"Haha, baiklah. Mari kita berhenti, Furano-san. Bukan hobiku membuat gadis merasa tidak nyaman."

Yoshiwara mengalihkan pandangannya dari Yukihira dengan senyum yang tetap sama.

Ngomong-ngomong, tadi di atap ada kejadian apa ya... Saat aku membuat Yukihira tertawa karena misi, sepertinya ada kejadian lain... Sial, aku tidak ingat.

"Oujisaka Ouka-san."

Suara Yoshiwara menarikku kembali dari lamunanku.

"Iya, iya!"

Entah sejak kapan Yoshiwara sudah berada di dekat Oujisaka. Dia menarik tangan Oujisaka yang tidak diangkat dan mengecup punggung tangannya.

"Ooh, kecupan! Kecupan!"

Oujisaka kegirangan seperti anak kecil.

"Bagus sekali, Ouka-san. Di balik sifat kekanak-kanakan yang polos ini, tubuhmu sudah menjadi seorang wanita dewasa yang matang. Pesona yang dihasilkan dari ketidakseimbangan ini benar-benar tidak tertahankan."

Hebat juga dia bisa mengeluarkan kata-kata memalukan seperti itu dengan lancar. Apa ini yang dinamakan 'Playboy Alami'?

"Ngomong-ngomong Ouka-san, apa pernah punya pengalaman pacaran?"

"Tidak punya!"

"Sudah kuduga. Dari yang kulihat, mentalmu belum mencapai tahap untuk bisa jatuh cinta... tapi,"

Yoshiwara menjeda kalimatnya sejenak sebelum lanjut bicara.

"Aku bisa merasakan sedikit benih kewanitaanmu yang mulai tumbuh. Apa baru-baru ini terjadi sesuatu?"

"Sesuatu apa?"

"Yah, misalnya terjadi sesuatu yang membuat jantungmu berdebar atau kejadian memalukan dengan seorang laki-laki."

Oujisaka mengalihkan pandangannya ke udara sejenak, lalu menepukkan tangannya.

"Ah, kalau dipikir-pikir waktu itu celana dalamku terliha—"

Dia terhenti di tengah kalimat,

"Nggak jadi, nggak jadi! Yang barusan nggak dihitung!"

Tidak biasanya dia melambaikan tangannya dengan panik begitu.

Lalu, setelah melirikku sekilas, dia membuang muka. Wajahnya terlihat sedikit memerah.

Apa? Jangan-jangan dia hampir keceplosan soal waktu aku tidak sengaja melihat celana dalamnya, tapi dia malu dan berhenti di tengah jalan? Tapi tadi dia santai saja bicara soal mandi bareng... Aku benar-benar tidak paham standar rasa malu Oujisaka.

Yoshiwara menatap sikap Oujisaka itu sambil tersenyum ramah.

"Hee, sepertinya benihnya tumbuh lebih besar dari dugaanku. Hebat juga ya Amakusa-senpai, meski punya wajah kayak Jomblo Abadi (Doutei), ternyata kamu cukup jago juga."

"Apa maksudmu dengan wajah 'Jomblo Abadi', hah!"

"Onii-chan, meski kamu Jomblo Abadi pun aku tetap suka, kok!"

"Jangan ikut campur di saat begini, woi!"

...Kenapa ya, para gadis di timku ini selalu saja mencari celah untuk ikut campur.

"Hm?"




Ponsel di saku celanaku bergetar.

Ah, benar juga. Barusan Yuragi baru saja bilang "Suka" padaku dengan sepenuh hati.

Baiklah, meski dia adalah lawan dengan tingkat kesulitan paling rendah, tidak diragukan lagi kalau aku sudah semakin dekat untuk menyelesaikan misi. Memilih Yuragi sebagai pemain pengganti ternyata ada gunanya juga.

Yoshiwara kemudian melangkah menuju Yuragi. Sebenarnya, kenapa sih si brengsek ini harus berinteraksi dengan setiap gadis padahal ini gilirannya memperkenalkan diri?

"Hakoniwa Yuragi-san."

"Ada apa, Onii-chan Touya?"

Yuragi... ternyata kamu tetap pakai mode "adik" bahkan kepada teman seangkatan, ya? Konsistensi yang luar biasa.

Yoshiwara mengecup punggung tangan Yuragi. Gerakannya sangat sok keren, tapi yang membuatku kesal adalah fakta bahwa dia terlihat pantas melakukannya.

"Ti-tidak boleh, Onii-chan. Antara kakak dan adik tidak boleh melakukan hal seperti itu..."

Kenapa wajahmu memerah!? Kamu begitu mendalami peran adikmu itu sampai ke sumsum tulang? Kamu bodoh, ya? Mau mati?

"Itu salah, Yuragi. Di hadapan cinta sejati, hubungan darah tidaklah berarti."

DIA MALAH IKUT-IKUTAN!

"Ka-kalau Onii-chan bilang begitu... boleh deh."

"BOLEH APANYA! Perkembangannya terlalu cepat! Ini novel mesum dari mana, hah!?"

Perkembangan yang terlalu tiba-tiba ini membuatku mual melihatnya. Aku ini tipe orang yang menuntut adanya alur cerita yang masuk akal... Eh, tunggu, apa sih yang sedang kubicarakan?

"Ngomong-ngomong, kalau boleh bicara detail, aku lahir di akhir Maret, jadi kurasa kamulah yang sebenarnya 'kakak perempuan'-ku."

"Kalau begitu, kamu adalah Onii-chan yang lebih muda!"

"Kalian benar-benar seenaknya sendiri, ya!"

"Begitu ya, kalau dipikir sebagai permainan situasi (roleplay), ini boleh juga."

...Sial, aku tidak bisa mengikuti percakapan sesama orang sesat ini.

Melihatku yang sudah muak, Yuragi mendekat dengan wajah riang.

"Eh, Onii-chan Kanade, kenapa wajahmu cemberut begitu? Jangan-jangan, kamu cemburu karena aku selingkuh dengan Onii-chan la—"

"Bagian itu merepotkan sekali, tahu!"

Yoshiwara memperhatikan interaksiku dengan Yuragi sambil tersenyum ramah.

"Yuragi-san, esensimu adalah... hmm, sepertinya bakal panjang kalau dijelaskan, jadi kita lupakan saja. Aku sudah cukup menikmati tiga tipe gadis yang berbeda."

Yoshiwara yang menyimpulkan sendiri pembicaraannya kembali ke kursinya dengan wajah puas. Begitu Yoshiwara duduk, Ketua Kokubyakuin membuka suara untuk memberikan penjelasan tambahan.

"Berdasarkan hasil penyelidikanku~ jumlah siswi yang berkencan dengan Yoshiwara-san sudah mencapai lebih dari sepuluh orang."

Serius...? Padahal sekolah baru jalan dua bulan, tapi sudah lebih dari sepuluh orang...

"Yang patut dicatat adalah fakta bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang merasa tidak puas atau saling bermusuhan. Benar-benar keajaiban dalam hal after-care ya~ Saat ini, dia dianggap sebagai kandidat terkuat untuk masuk ke Peringkat Utama periode berikutnya~"

"Prinsipku adalah membahagiakan semua gadis yang menjalin hubungan... ah, maksudku yang berinteraksi denganku. Aku akan mencintai siapa pun dengan adil."

Enggak, meski kamu mengatakannya dengan sangat fresh, isinya itu sampah banget tahu...

Lagipula, Yoshiwara ini kelihatannya bakal mengajak bicara semua gadis yang dia temui. Jangan-jangan, dia juga melakukan hal serupa pada anggota Peringkat Utama yang datang lebih awal tadi?

Seolah menyadari keraguanku dari gerakan mataku, Yoshiwara mengalihkan pandangannya pada Konagi.

"Ah, tentu saja aku sudah memberi salam pada para gadis di sini. Reaksi Konagi-san sangat imut, lho."

"He? Ta-ta-ta-tapi..."

Karena tiba-tiba diajak bicara, Konagi yang sepertinya teringat sesuatu langsung menunduk dengan wajah merah padam.

"Bahkan Ayame-san benar-benar jatuh hati padaku."

"A-apa yang kamu bicarakan! Ak-aku tidak jatuh hati, tahu!"

Reikado spontan menggebrak meja dan berdiri. Sepertinya dia sudah berhasil pulih dari damage akibat serangan Yukihira tadi.

"Aku sudah merayu banyak gadis sampai sekarang, tapi baru kali ini aku bertemu orang yang jatuh hati semudah ini."

"Sudah kubilang aku tidak jatuh hati!"

"Haha, cuma bercanda kok. Kamu imut sekali."

"Apa... ka-kamu berani menggoda kakak kelasmu..."

"Aku tidak pernah bercanda saat memuji wanita. Kamu benar-benar imut."

"U... au..."

...Anda hampir jatuh hati sepenuhnya, Reikado-san.

"Ngomong-ngomong, Ketua Seira punya pertahanan yang sangat kuat, jadi aku tidak diizinkan mengecup tangannya."

"Fufu, meski hanya tangan, aku sudah memutuskan hanya akan memberikan kecupan pada laki-laki yang aku sukai saja~"

"Yah, itu tidak masalah. Tapi Ketua Seira, bisakah kamu sedikit melonggarkan pertahananmu? Di dalam hatimu sama sekali tidak ada celah, aku tidak bisa membaca apa pun darimu."

"Hati seorang gadis itu kompleks, tahu~"

Ketua Kokubyakuin dan Yoshiwara saling melempar senyum... Kenapa ya, rasanya malah menyeramkan.

"Nah, kalau begitu mari kita minta Kak Shishimori untuk memperkenalkan diri~"

Tepat saat Ketua menepukkan tangannya dan perhatian semua orang tertuju pada Kak Shishimori—

"Kanade-san!"

"Hah?"

Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras, dan Chocolat melompat masuk ke dalam ruangan.

"Ka-kamu... kenapa ada di sini? Kan sudah kubilang tunggu di kelas."

"Aku lapar!"

...Terus?

Seolah membuktikan kata-katanya, suara gugyuuuuuuuu yang sangat kencang terdengar dari perut Chocolat.

"Aku lapar!"

...Makanya, terus kenapa!?

"...Kamu kan tadi sudah makan bekal porsi super besar, dan hari ini juga sudah dapat banyak camilan, kan?"

"Semuanya sudah terserap ke dalam tubuh. Level organ pencernaanku berbeda dengan orang biasa."

Kenapa kamu malah bangga begitu...

Padahal anggota di sini saja sudah terlalu "berwarna", kalau ditambah Chocolat, aku tidak tahu kekacauan macam apa yang bakal terjadi. Aku harus segera mengusirnya—

"I... ini dia!"

Suara kursi yang bergeser dengan keras terdengar. Saat aku menoleh, Yoshiwara sudah berdiri sampai kursinya terjatuh. Entah kenapa tubuhnya gemetar hebat.

"Ada apa denganmu?"

Yoshiwara sepertinya tidak mendengar pertanyaan Kak Shishimori. Dia langsung berlari lurus ke arah Chocolat dan menggenggam kedua tangannya erat-erat.

"Menikahlah denganku!"

"Hoe?"

...Hah?

"Siapa namamu?"

"Chocolat."

"Chocolat-san, ya... Ini pertama kalinya. Dalam sejarah petualangan cintaku, baru kali ini jiwaku terguncang sehebat ini. Kamu sempurna!"

"Haa, aku sempurna ya."

Si brengsek ini... tiba-tiba bicara apa sih.

"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku tidak akan bilang 'menikah'. Mari kita mulai dari membuat anak saja."

"URUTANNYA SALAH, WOI!"

Perkembangan macam apa yang mendadak ini. Tapi, dilihat dari nada bicara Yoshiwara yang jelas berbeda dari sebelumnya, dia sepertinya tidak sedang bercanda.

"Ah, maaf. Saking senangnya, aku jadi terlalu bersemangat dan terburu-buru. Bagaimana kalau kita keluar sebentar dan pergi ke gudang olahraga? Aku ingin bicara berdua saja denganmu."

Yoshiwara dengan santai merangkul bahu Chocolat.

"Tu-tunggu sebentar!"

Refleks, aku menyambar lengan Yoshiwara.

"Eh, kenapa Amakusa-senpai ikut campur? Aku kan sedang bicara dengan Chocolat-san."

Yah, memang benar sih, tapi...

"Po-pokoknya yang tidak boleh ya tidak boleh!"

Argumenku benar-benar tidak punya dasar logika sedikit pun.

"Aku tidak terlalu paham, tapi kalau Kanade-san bilang tidak boleh, aku tidak akan pergi."

Mendengar perkataan Chocolat, Yoshiwara mundur satu langkah.

"Chocolat-san, sebenarnya apa hubunganmu dengan Amakusa-senpai ini?"

"Hubungan ya? Aku ada di sini untuk melayani Kanade-san!"

Chocolat mendongak menatapku dengan senyum lebar.

"...Begitu ya, sepertinya kalian punya kepercayaan yang sangat dalam."

Yah, daripada disebut 'kepercayaan', lebih tepatnya dia itu 'manja' padaku.

Lalu, suara tajam Kak Shishimori terdengar.

"Woi kalian, cukup main-mainnya. Aku mengumpulkan kalian di sini bukan untuk melakukan drama percintaan konyol."

"Ah, maaf. Kalau begitu Chocolat-san, kita lanjutkan lagi nanti ya."

Yoshiwara kembali ke kursinya dengan santai. Senyum ramahnya sudah kembali, tapi kenapa ya dia terlihat jauh lebih mengerikan daripada tadi.

...Yah, soal Yoshiwara kita pikirkan nanti saja, yang penting sekarang adalah nasib Chocolat di sini.

"Chocolat, kalau kamu di sini semuanya jadi makin rumit, sana keluar—"

"Mumpung dia di sini, bagaimana kalau Chocolat-san ikut mengobrol bersama kita saja? Silakan duduk di mana saja yang kamu suka~"

Ketua malah menambahkan satu kalimat yang tidak perlu dan memotong perkataanku.

"Terima kasih!"

"Ah, hei!"

Chocolat langsung duduk sebelum sempat kuhentikan.

"Ya ampun... baiklah, tinggal dua orang lagi, kalau kamu bisa diam dengan manis—HEI KENAPA KAMU MALAH DUDUK DI PANGKUANKU!"

Seolah itu adalah tempat duduk tetapnya, dia dengan santai duduk di atas pangkuanku.

"Tadi katanya boleh duduk di mana saja."

"Pangkuanku tidak termasuk dalam cakupan 'di mana saja' itu!"

"Kanade-san, tsukkomi-mu sulit dimengerti."

"BERISIK!"

Aku mencengkeram tengkuknya dan menurunkannya secara paksa.

"Uuu, sungguh disayangkan-dada..."

Chocolat duduk di sebelahku dengan wajah lesu. Yang disayangkan itu adalah cara berpikirmu!

Ketua yang melihat kejadian itu sambil tersenyum mengalihkan pandangannya pada Kak Shishimori.

"Hai hai~ Kalau begitu Shishimori-san, silakan dilanjutkan~"

Kak Shishimori berdiri dengan ekspresi wajah yang tampak sudah muak.

"Sial, kalian menghabiskan waktu berapa lama sih... Yah, rasanya sudah telat, tapi perkenalkan, Shishimori Souga dari kelas 3-5, Wakil Ketua OSIS. Keahlianku adalah semua jenis olahraga. Seperti yang kubilang tadi, meski ini cuma acara sekolah, pertandingan tetaplah pertandingan. Aku akan menghancurkan kalian sekuat tenaga, jadi bersiaplah."

Dia bilang 'semua jenis olahraga' dengan santai, tapi itu memang fakta... Di festival olahraga tahun lalu, dia bisa menyaingi para pemain inti dari berbagai klub di banyak cabang olahraga. Nilai akademisnya juga kabarnya selalu berada di jajaran teratas. Dia benar-benar versi laki-laki dari Oujisaka—sosok dengan spek yang mengerikan.

"Hai, aku punya pertanyaan untuk Onii-chan Souga!"

Tiba-tiba Yuragi mengangkat tangan.

"Aku bukan kakakmu."

Kak Shishimori mendelik tajam dengan kesal, tapi Yuragi sama sekali tidak peduli.

"Ah, itu dia. Barusan juga begitu, waktu aku memanggilmu Onii-chan, wajahmu kelihatan sangat jijik, kan?"

Itu hal yang aku rasakan juga. Yah, dipanggil Onii-chan oleh orang asing memang tidak mengenakkan, tapi reaksi Kak Shishimori rasanya terlalu berlebihan.

"Sebenarnya ya~ Kak Shishimori punya lima orang adik perempuan. Dari kelas 6 SD sampai kelas 1 SMA, semuanya berurutan setiap tahun~"

Ketua Kokubyakuin memberikan penjelasan tambahan dari samping. Satu laki-laki lima perempuan... formasi yang luar biasa.

"Kokubyakuin, jangan bicara hal yang tidak perlu."

Meski dipelototi dengan tajam, Ketua Kokubyakuin sama sekali tidak goyah.

"Semua adik-adiknya itu sangat menyayangi Kak Shishimori, dan setiap hari mereka selalu memaksa untuk melakukan kontak fisik (skinship). Karena intensitasnya yang terlalu ekstrem, Kak Shishimori jadi merasa ngeri dengan adik perempuan~"

"Kenapa kamu bisa tahu sampai sejauh itu, hah!"

"Karena itu menarik~"

...Itu sama sekali bukan jawaban.

Tapi apa-apaan itu? Disukai oleh semua adik perempuannya, itu kan perkembangan ala harem. Padahal dia sudah menyandang status Riajuu (orang sukses dalam kehidupan sosial) terkuat di sekolah. Sebaiknya dia meledak... ah tidak, menguap saja dari bumi.

"Mereka itu ya, sehabis mandi cuma pakai handuk langsung memelukku, memaksaku menemani beli pakaian dalam, atau diam-diam menyelinap ke kamarku dan masuk ke dalam selimut di malam hari. Di mana pun aku berada di rumah, tidak ada waktu bagi jiwaku untuk beristirahat."

...Kenapa ya, 'cerita malang' ini terdengar seperti pamer yang luar biasa menyebalkan. Yah, aku tahu kalau dia benar-benar tidak bermaksud begitu dan sungguh-sungguh merasa terganggu, tapi rasa marah tetap saja membuncah dalam diriku.

"Pokoknya, begitulah. Karena mereka selalu menempel padaku sejak kecil, aku jadi tidak bisa menerima wanita yang mendekatiku dengan rasa suka."

Aku pernah dengar kalau Kak Shishimori menolak semua pernyataan cinta dari para gadis, ternyata ada alasan seperti itu di baliknya.

"Hebat ya, Onii-chan Souga. Punya enam adik perempuan di dunia nyata, itu sih sudah jadi King of Onii-chan!"

Yuragi secara alami memasukkan dirinya sendiri ke dalam hitungan adik perempuan itu.

"Hakoniwa, brengsek... kamu tadi dengerin ceritaku tidak? Aku bilang hentikan karena sosok mereka jadi tumpang tindih denganmu."

"Ah, maaf ya, apa karakterku mirip dengan salah satu dari kelima adikmu?"

"Bukan itu maksudnya!"

Yuragi sama sekali tidak gentar meski Kak Shishimori membentaknya. Dia meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

"Hmm, kalau begitu, bagaimana kalau aku ganti sedikit?"

Ganti...? Jangan-jangan dia mau melakukan 'itu'?

Tepat saat firasat buruk yang tak terlukiskan muncul di dadaku—

"Kak, jangan salah paham dulu dong."

Tatapan mata Yuragi mendadak berubah menjadi sangat tajam.

...Firasatku benar.

"Ada apa denganmu?"

Kak Shishimori menatap heran ke arah Yuragi yang gaya bicaranya berubah drastis.

"Apanya yang 'ada apa'? Di sekolah setiap hari ditembak gadis-gadis, di rumah disukai kelima adikmu selain aku, dan kamu tidak suka itu? Kamu bodoh ya? Kamu tahu tidak berapa banyak laki-laki yang ingin berada di posisimu tapi tidak bisa?"

Benar, pola akting adik perempuan Yuragi bukan cuma satu. Sampai setahun yang lalu pun, dia selalu mengikutiku dengan berbagai variasi peran adik. Ngomong-ngomong, yang sekarang ini adalah pola 'Adik Tsundere yang tidak bisa menunjukkan rasa suka pada kakaknya'.

"Oi Hakoniwa, aku tidak punya waktu buat meladeni candaanmu."

"Hah, kamu pikir dengan bersikap sok preman begitu semua wanita bakal bertekuk lutut kepadamu, Kak? Lagipula, gaya bicaramu yang kayak preman pasar itu sudah kuno dan norak, bisa berhenti tidak?"

Yuragi benar-benar mendalami perannya.

"Kamu... sudah cukup ya!"

Kak Shishimori menggebrak meja dengan kepalan tangannya untuk menunjukkan ketidaksukaannya.

"A-apa... dengan wajah seram begitu, apa yang mau kamu lakukan... jangan mendekat!"

...Padahal jangankan mendekat, Kak Shishimori bahkan tidak bergerak satu langkah pun karena dia berada di sisi meja yang berlawanan... Sepertinya adegan drama berdasarkan delusi sudah dimulai.

"Eh, tu-tunggu... apa yang kamu lakukan, Kakak brengsek! Mentang-mentang kalah debat, malah pakai kekerasan, kamu rendah sekali... Eh, kamu menyentuh bagian ma—AKU SAYANG BANGET PADAMU!"

"Cara Dere-nya aneh banget!"

Antara 'menyentuh' dan 'aku sayang banget' yang cuma jeda sesaat itu, sebenarnya terjadi apa sih!?

Kak Shishimori sendiri mematung tanpa bisa berkata-kata... Kondisi ini biasa disebut dengan istilah ilfeel tingkat dewa.

"Yuragi, sudah cukup. Tidak ada yang bisa mengikuti alurmu."

"Eh, kurasa tidak begitu kok~"

Dalam sekejap, Yuragi kembali ke mode standarnya (yah, ini pun sama sekali tidak normal sih) dan memberikan senyum lebar padaku.

"Ah, Onii-chan Kanade, jangan-jangan kamu cemburu karena aku memperhatikan Onii-chan la—"

"SUDAH KUBILANG BAGIAN ITU MEREPOTKAN!"

"Amakusa... kenapa sih kamu memilih orang seperti ini sebagai pemain pengganti?"

Kak Shishimori memegang keningnya dengan ekspresi yang benar-benar muak.

"...Aku juga ingin tahu jawabannya."

Melihat kondisi Kak Shishimori yang kelelahan secara mental, aku malah merasa punya rasa simpati padanya.

Di tengah situasi itu, sosok terakhir berdiri dengan senyum ramah yang selalu terpasang.

"Kalian berdua sepertinya bersenang-senang ya~ Baiklah, meskipun lancang, izinkan saya memperkenalkan diri~ Kurohakuyin Seira dari kelas 3-3. Saya menjabat sebagai Ketua OSIS~"

Suaranya tetap santun dan lembut seperti biasa, tapi nada bicaranya punya kekuatan aneh yang membuat orang tanpa sadar mendengarkannya. Mungkin inilah alasan kenapa dia menjadi karisma yang berdiri di puncak 1.800 siswa.

"Hobiku... yah, mungkin 'mengamati manusia' ya~"

Dia sedikit memiringkan kepalanya sambil menatapku. Lalu, dia memberikan tatapan penuh arti pada Chocolat.

Sudah kuduga, orang ini... apa dia tahu sesuatu?

"Nah~ karena perkenalannya sudah selesai semua, kalau tidak ada hal lain dari kalian, pertemuan ini kita akhiri sampai di sini."

Tepat saat Ketua hendak menutup pertemuan dengan kecepatannya sendiri—


PILIH:

Berteriak pada semua gadis: "Dengar ya kalian semua, akan kubuat kalian bilang 'suka' padaku!"

Dicintai oleh semua gadis di ruangan ini (Tanpa penghapusan ingatan)


Apa-apaan ini? Pilihan (Tanpa penghapusan ingatan)... Pilihan semacam ini belum pernah muncul sebelumnya. Itu artinya hasil dari pilihan tersebut akan bertahan selamanya, kan?

...Ini yang terburuk.

Selama ini, karena aku tahu ingatan orang lain akan dihapus, aku bisa memilih opsi yang bahkan mengendalikan tindakan orang lain. Tapi kalau pengaman itu hilang, aku tidak bisa memilihnya kecuali isinya benar-benar tidak penting.

Ini pasti perubahan pilihan akibat menyelesaikan misi, tapi frekuensi kemunculannya tidak menentu, isinya juga samar dan tidak punya pola yang jelas. Apa mungkin kalau aku terus menyelesaikan misi, perubahannya akan jadi lebih nyata?

Pokoknya kali ini aku terpaksa memilih ... Tapi kalau aku mengucapkannya, sudah pasti tingkat kesulitan penyelesaian misi akan melonjak drastis...

"Ara~ Amakusa-san, wajahmu seolah ingin mengatakan sesuatu ya."

Ketua tersenyum ramah ke arahku. Apa cuma perasaanku saja, atau dia memang sedang menilaiku?

"Enggak, bukan begi—GUH!"

Sial... aku cuma perlu mengucapkannya, kan!

"Ketua... boleh aku bicara satu hal saja?"

"Fufu, silakan silakan~"

Sambil menahan rasa sakit yang mengamuk di dalam kepalaku, aku mengedarkan pandangan ke arah para gadis.

"DENGAR YA KALIAN SEMUA... AKAN KUBUAT KALIAN BILANG 'SUKA' PADAKU!"

"..............................................."

Keheningan yang aneh menguasai ruangan. Wajar saja, aku sendiri merasa ini terlalu tiba-tiba. Kalau tiba-tiba ada orang yang menyatakan hal seperti itu di tengah alur ini, siapa pun pasti akan ilfeel total.

Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara Chocolat yang tidak tahu situasi.

"Ooh, enam orang sekaligus, luar biasa Kanade-san!"

"E-enggak, bukan begitu maksudku..."

Aku mencoba membela diri, tapi gadis-gadis lain sudah mulai bereaksi secara serempak.

"Suka... hau..." Konagi memegang pipinya dengan wajah memerah.

"Ka-kamu benar-benar sampah rendahan!" Reikado melontarkan kalimat ala kesatria wanita di suatu tempat.

"Onii-chan yang tidak hanya memberikan cintanya padaku juga boleh." Yuragi malah terlihat senang entah kenapa.

"Ooh, berani juga ya Ama-chi! ...Hm?" Oujisaka yang tadinya mau kegirangan tiba-tiba memiringkan kepalanya heran.

"..." Yukihira diam tanpa ekspresi, aku tidak tahu sama sekali apa yang dia pikirkan.

"Ara ara~" Ketua Kokubyakuin tersenyum lebar.

"Bu-bukan, semuanya, dengarkan dulu..."

Aku mencoba membela diri lagi, tapi kata-kata tidak mau keluar dengan benar.

Lalu Chocolat menepuk dadanya dengan mantap dan kembali membuka suara.

"Tenang saja! Di dalam tumpukan buku berwarna kulit di kamar Kanade-san, ada banyak cerita tentang satu laki-laki yang disukai oleh banyak perempuan! Kita semua di sini tinggal melakukan hal yang sama seperti itu saja!"

...Sebaiknya aku mati saja sekarang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close