NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 2 Chapter 1 - 3

Musim Semi, Usia Dua Belas — Bagian 1


Selebaran (Handout) Informasi yang diberikan oleh GM kepada para pemain sebagai modal awal untuk memulai permainan.

Dengan meletakkan dasar umum bagi cerita dan karakter, handout memberikan arahan pada kampanye yang akan dijalankan.

Sementara beberapa handout disusun rapi untuk mengatur suasana sesi, yang lain hanya menawarkan deskripsi samar—lagipula, akan selalu ada pemain yang mengabaikannya sama sekali.

Di dunia Barat, handout sering kali menjadi alat tematik yang digunakan untuk memikat pemain agar tenggelam dalam dunia yang mereka jelajahi.

◆◇◆

Mataku terbuka tiba-tiba saat indra penciumanku diserang oleh aroma asam yang asing.

"Oh, kau sudah bangun."

Aku melihat sekeliling dengan kaget. Di samping tempat tidurku, berdiri Methuselah dengan botol obat di tangannya. Ia tampak lelah saat menutup botol tersebut dan bertanya malas tentang kondisiku.

Perlahan dan hati-hati, aku mencoba duduk. Anehnya, rasa sakit yang seharusnya membuatku menangis kini telah lenyap dari tubuhku.

Beberapa gigiku memang patah, tapi untungnya itu semua adalah gigi susu yang memang akan tanggal. Aku pasti akan putus asa jika yang hilang adalah gigi permanen.

Yang tersisa hanyalah rasa berat karena kelelahan. Terus terang saja, dengan hantaman sebelumnya, aku seharusnya mengalami patah tulang di beberapa bagian.

Ketiadaan rasa sakit ini justru terasa meresahkan bagiku.

"Di mana aku...?" Aku bergumam bingung sampai akhirnya mengenali kamar ini. Ini adalah kediaman Kepala Desa; satu-satunya tempat di kanton ini yang memiliki kamar tamu layak huni.

Saat melihat wanita itu duduk di kursi samping tempat tidur dengan wajah letih, ingatanku kembali: aku pingsan karena ledakan amarah yang luar biasa.

"Ada yang sakit?" tanyanya datar.

"Tidak, saya baik-baik saja," jawabku sesopan mungkin.

"Wah, syukurlah. Aku tidak begitu ahli dalam memanipulasi jaringan tubuh dan tulang, tahu... Ah, dan jangan khawatir, kau baru pingsan sebentar. Matahari baru saja terbenam, tidak lebih."

Penyihir berambut perak itu menyimpan botol-botol kecilnya sambil mengabaikan fakta bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang nyaris mustahil dalam medis.

Ia menjentikkan jari, memanggil sebuah kotak tembakau dari udara hampa.

Benda pernis putih berhias mutiara itu berisi tembakau cincang dan asbak; sebuah barang yang jelas tak ternilai harganya.

Pipa emas yang ia keluarkan kemudian mungkin cukup untuk membeli rumah keluargaku berkali-kali lipat.

Tunggu, siapa sebenarnya wanita yang kumaki habis-habisan tadi?

"Sekarang, dari mana aku harus mulai?" tanyanya.

Gerakannya tampak anggun saat ia mengisi pipanya. Ia menempelkan pipa itu ke bibir tanpa repot-repot mencari api, namun sesaat kemudian, asap tipis mulai mengepul.

Tampaknya, ia bahkan tidak perlu menyulut api secara fisik.

"Normalnya, sangat aneh jika aku yang menjelaskan ini padamu. Tapi orang tuamu sepertinya tidak mampu memahami detail teknisnya, jadi aku tidak bisa menyerahkan urusan ini kepada mereka."

"Saya... mengerti?" sahutku ragu.

Aku merasa kemarahanku sebelumnya sudah keterlaluan, tapi dia tampaknya tidak keberatan.

Jelas sekali dia meremehkanku—hal yang sudah biasa kualami hingga aku tidak merasa terganggu—tapi aku tidak mengerti mengapa dia repot-repot memberi penjelasan panjang lebar padaku.

"Sebaliknya, kau adalah yang paling aneh di antara semuanya. Bagaimana mungkin kau belum menyadarinya?"

Aku memiringkan kepala karena bingung, dan dia hanya meniru gerakanku.

"Maksudku, kau memiliki kapasitas sihir sebanyak ini, tapi matamu tetap tertutup? Ini pasti semacam lelucon," katanya, menatapku seperti spesimen laboratorium.

Setidaknya, tindakannya memperjelas bahwa dia tidak memandangku sebagai manusia.

"Apakah kau tidak pernah merasakan gelombang Mana mengganggu tubuhmu? Tidak pernah kewalahan oleh dorongan tiba-tiba atau diserang sakit kepala yang tak tertahankan?"

"Tidak, tidak pernah," jawabku jujur.

"Aneh sekali..." gumamnya. Dari caranya membuang asap rokok yang beraroma manis, tampaknya ia menaruh sedikit rasa hormat padaku. Namun, ada sesuatu yang mengganggu: mata biru dan hijaunya yang menatapku itu tidak sedang menatap seorang manusia.

Jadi ini alasan kenapa orang-orang tidak menyukai Methuselah.

Buku-buku yang kubaca hanya menuliskan bahwa mereka "tidak diterima dengan baik oleh ras lain"—sebuah eufemisme yang sangat diperhalus.

Aku sempat menduga itu karena kesombongan mereka yang berumur panjang, tapi... aku sulit membayangkan ada makhluk berakal yang sanggup bertahan di bawah tatapan sedingin ini.

"Normalnya, seseorang dengan bakat sepertimu seharusnya sudah memiliki tingkat kognisi tertentu sebagai seorang penyihir."

Sejujurnya, aku memang sengaja meningkatkan statistik dasar Mana Capacity dan Mana Output dengan harapan suatu hari bisa menggunakan sihir.

Aku telah mendorong keduanya hingga ke level V: Good. Namun, karena aku tidak suka ketidakpastian dalam belajar sihir secara otodidak, aku belum mengambil Skill aktif apa pun untuk membangkitkan kekuatan itu.

Bisa dibilang, ini adalah celah dalam kekuatanku.

Secara umum, Skill yang "seharusnya" kumiliki tidak diberikan secara otomatis; sistem hanya memberitahuku bahwa aku bisa mempelajarinya sendiri melalui pengalaman jika aku mau.

Inilah alasan mengapa aku belum menguasai sihir satu pun meski punya bakat.

Tapi aku tidak keberatan. Keuntungan terbesarku justru ada di sisi lain: saat orang normal tanpa sadar membuang Experience Points untuk Skill atau Trait yang tidak berguna, aku bisa menghindarinya.

Kategori Vice penuh dengan bakat sampah seperti Shifty Imagination atau Petty Theft, dan fakta bahwa aku bisa memilih untuk tidak mengambilnya membuat pertumbuhanku jauh lebih efisien.

Tetap saja, statistik Mana-ku seharusnya hanya sedikit di atas rata-rata. Aku tidak yakin mengapa penyihir ini tampak begitu terkejut.

Mungkin karena kebanyakan manusia di dunia ini sangat lemah, sehingga level Good milikku menempatkanku di jajaran elit di mata mereka.

"Baiklah, kurasa aku akan menganggapmu sebagai sebuah anomali dan berhenti di situ saja," ucapnya sambil mengetukkan pipa ke kotak tembakau untuk membuang abu.

penyihir kembali mengisi pipanya dengan seringai nakal. Dia mungkin tampak seperti peri bijaksana dari buku dongeng, namun senyumnya yang tajam menegaskan bahwa ada perbedaan fatal antara dirinya dan literatur fantasi di duniaku sebelumnya.

"Izinkan aku mengungkap kebenaran yang sesungguhnya."

Satu bagian dari buku yang pernah kubaca melintas di benak saat aku mencoba mengingat perbedaan mendasar antara Elf dan Methuselah: tidak seperti Elf pecinta alam yang menghargai kesehatan dan kesederhanaan, kaum penyihir ini adalah keturunan peradaban yang sangat maju.

Methuselah mendirikan monumen-monumen tinggi yang jauh dari jangkauan tangan kotor ketidaktahuan. Hasil sampingan dari kehausan mereka akan pengetahuan adalah budaya canggih yang sangat mendalam.

Mereka adalah orang-orang kota yang lebih menyukai batu pahat daripada kayu; pesta-pesta megah mereka hanyalah salah satu cara untuk menikmati hal-hal baru demi mencari cita rasa yang mutakhir.

Dalam upaya meredakan kelelahan mengerikan akibat kehidupan kekal, masing-masing dari mereka telah menyerah pada hedonisme dan memiliki kegemaran membelanjakan uang demi hiburan dan studi.

Hasilnya, mereka memegang pengaruh politik yang sangat besar, meskipun jumlah populasi mereka jauh lebih sedikit daripada manusia.

Dari tujuh majelis elektorat yang memahkotai Kaisar Rhine, dua di antaranya dipimpin oleh Methuselah.

"Aku tegaskan sekali lagi, adik perempuanmu bukanlah seorang Mensch."

Aku merasakan darah mengalir deras ke kepalaku lagi. Namun, sebelum aku sempat mendebatnya, jari seputih salju milik wanita itu menyentuh bibirku, membungkamku seketika.

Aku menuruti perintahnya, dan dia terkekeh pelan, tampak puas karena aku masih memiliki sedikit sopan santun.

"Adikmu adalah seorang Changeling."

Apa katanya?

Bayi yang tertukar?

Elisa kita yang menggemaskan?

Berita itu sangat sulit untuk diterima. Mitos tentang bayi yang tertukar—atau Changeling—adalah tradisi lama dari duniaku sebelumnya; peri yang menculik bayi manusia dan menggantinya dengan kaum mereka sendiri karena rasa benci atau sekadar iseng. Sering kali kisah itu berakhir tragis.

Namun di dunia ini, peri bukanlah sekadar mitos—mereka nyata. Koin peri yang kucari bersama kakak-kakakku saat kecil bukan hanya bualan orang tua.

Peri adalah entitas metafisik yang berbeda dari manusia, iblis, maupun kaum demi-human.

Mereka adalah fenomena berakal yang tak kasat mata bagi orang awam. Hanya penyihir dengan Mystic Eyes atau anak-anak dengan ego yang belum berkembang yang bisa melihat mereka.

"Kau tahu, peri terkadang bisa lahir ke dunia dalam wujud fisik dengan meminjam rahim makhluk hidup lain."

Hei, bagian itu tidak tertulis di buku mana pun!

"Karena terpesona oleh kehangatan sebuah keluarga," lanjutnya, "jiwa mereka mendambakan raga, dan hasrat itu terwujud menjadi seorang Changeling. Aku berani menjamin ceritaku ini asli, karena sumbernya berasal dari—bisa dikatakan—sumber primer."

Aku masih belum bisa mencerna kata-katanya. Elisa—gadis yang kurawat selama tujuh tahun ini—bukan manusia?

"Sayangnya, proses ini sangat melelahkan. Para Changeling muda sering kali tumbuh lambat, memiliki fisik yang lemah, atau terlalu disfungsional untuk bertahan hidup lebih dari beberapa tahun."

Penjelasan itu menghantamku tepat di ulu hati. Itulah alasan mengapa Elisa selalu sakit-sakitan.

Aku ingat betul bagaimana kami bergantian merawatnya setiap kali dia demam. Dia memang sangat kekanak-kanakan untuk ukuran usianya.

"Dan terakhir, peri sangat menyukai rambut pirang dan mata biru... Kau mengerti maksudku, kan?"

Tentu saja. Ibuku, Hanna, dan aku sendiri adalah bukti hidup yang paling menarik bagi mereka.

"Gadis itu adalah Changeling," simpulnya. "Aku berani bertaruh dia akan segera menyadari bakatnya. Begitu kabut masa balita menghilang dari pikirannya, egonya yang tumbuh akan membangkitkan kekuatan yang menjadi hak lahirnya."

Aku tahu dia benar. Dan bagi seorang penyihir setingkat dia untuk menjelaskan ini secara gamblang, dia pasti sudah sangat yakin. Tindakannya menyelamatkan kami bukan sekadar iseng.

Lagipula, aku telah mengalami sendiri kekuatan aneh Elisa. Aku sempat bertanya-tanya mengapa hawa panas dari mantra penyihir bandit itu lenyap seketika.

Dari sudut pandang pemula, mantra tingkat itu tidak mungkin gagal total seolah-olah tidak pernah dirapal jika bukan karena campur tangan pihak lain. Bandit itu pun terkejut karena Mana miliknya menghilang begitu saja.

Satu-satunya penjelasan logis adalah seseorang telah menghapusnya.

Dan aku jelas mendengar Elisa meneriakkan namaku sekuat tenaga... tepat saat cahaya maut itu padam. Aku tidak diselamatkan oleh keberuntungan, tapi oleh Elisa.

Roda takdir mulai berputar. Sesuatu yang besar mengancam untuk mengubah hidup kami. Namun, bahkan saat menyadari itu semua...

"Lalu?" tanyaku tenang. "Apa hubungannya dengan kami?"

Bagiku, keluarga bukan sekadar masalah genetik. Ikatan kekerabatan ditemukan dalam cinta dan penerimaan.

Darah mungkin tempat keluarga bermula, tapi bukan tempat keluarga itu berakhir.

Apakah Elisa itu Changeling atau Goblin sekalipun, itu tidak mengubah hubungan kami sebagai saudara.

Tercengang mendengar reaksiku, Methuselah menatapku heran. Ia menggelengkan kepala seolah mencoba mengusir emosi yang tidak nyaman. "Apa aku salah ingat? Apakah manusia punya budaya untuk membesarkan ras lain sebagai anak kandung?"

"Ini bukan soal membesarkan anak. Ini soal ikatan," tegasku, membuat wanita itu mendesah jengkel. "Apakah orang tuaku mengatakan hal yang sama?"

Nada bicaraku yang percaya diri membuatnya mengangkat alis. Setidaknya, aku berhasil membuatnya sedikit lengah. Dia bilang dia sudah menyerah bicara dengan orang tuaku, dan aku tahu alasannya.

Di kanton terpencil ini, nilai-nilai "berbudaya" miliknya sama sekali asing. Ayah dan Ibu pasti menolak keras menyerahkan putri mereka, tak peduli apa pun asal-usulnya.

Cinta yang mereka berikan selama tujuh tahun ini telah membeku menjadi ikatan yang tak tergoyahkan.

"Menyebalkan sekali melihatmu begitu percaya diri," gerutunya. "Terlalu cerdas itu tidak baik untuk masa depanmu, tahu?"

"Saya tidak bermaksud bergurau, Nona. Saya hanya berbicara atas nama ikatan keluarga kami."

"Ikatan, ya?" gumamnya pelan.

Aku teringat bahwa Methuselah adalah kaum individualis yang ekstrem. Mereka bisa hidup puluhan tahun tanpa memberi kabar pada orang tua mereka.

Mereka yang tidak peduli pada gelar bahkan enggan menyebutkan nama keluarga saat berkenalan.

"Aku bayangkan dia akan dikejar-kejar jika berada di tanah airku," katanya lagi. "Perbedaan nilai antara dua negara kita memang sangat jauh."

Seperti dugaanku, dia bukan dari sekitar sini. Dia tidak memahami bahwa di pedesaan seperti ini, hubungan manusia jauh lebih rumit daripada sekadar logika hukum.

"Baiklah, cukup soal ikatan itu. Semua itu tidak akan berpengaruh pada hukum."

"Hukum?" tanyaku waspada.

"Benar. Aku yakin kau sudah mengerti bahwa adikmu adalah seorang Changeling, bukan?" Setelah memastikan aku menyimaknya, ia mulai mengucapkan setiap kata dengan perlahan, seolah sedang mengajari orang bodoh yang bebal. "Changeling menemukan bakat sihir luar biasa mereka saat kesadaran mereka mulai matang. Kekuatan mereka begitu hebat, bahkan bisa dibilang berbahaya."

Aku tidak butuh kepintarannya untuk memahami hal itu setelah melihat Elisa menghapus bola energi raksasa sebelumnya. Tidak perlu jenius untuk menebak apa yang akan terjadi begitu tubuh dan cadangan Mana-nya matang sempurna.

Negara tidak akan pernah membiarkan ancaman alami terhadap keamanan publik dibiarkan tanpa pengawasan.

Sebagai pemegang otoritas dan pemungut pajak, pemerintah pasti akan mengambil tindakan untuk mencegahnya melukai siapa pun.

"Dalam kasus terburuk, aku yakin dia mampu menghapus satu kanton kecil dari peta tanpa jejak, melihat betapa mengesankannya Mana Capacity miliknya. Aku menduga dia berasal dari garis keturunan peri yang sangat unggul. Mungkin rumah kecilmu ini memiliki sesuatu yang patut membuat iri..."

penyihir terdiam dan mulai berpikir sambil memegangi dagunya.

Aku memanfaatkan waktu itu untuk bertanya apa yang akan terjadi pada Elisa, karena itulah yang terpenting.

Dalam kasus terburuk...

"Singkirkan niat jahatmu itu," potongnya tajam. "Aku tidak akan memperlakukannya dengan buruk."

Astaga, aku ketahuan. Aku memang mulai menyusun rencana cadangan untuk membawa Elisa bersembunyi jika situasi memburuk.

"Jangan khawatir, aku akan menjaminnya. Aku tidak bisa berbohong soal sihir—kami para Magia terikat oleh banyak aturan."

Ia tertawa, menyebutkan bahwa upaya memutarbalikkan kebenaran mistis bisa berakhir dengan kepala yang terpental, tapi aku terlalu terpaku pada gelarnya yang tidak biasa. Apa sebenarnya Magia itu?

"Meskipun begitu, makhluk mistik yang berbahaya harus dikontrol ketat oleh pemerintah."

Itu terdengar masuk akal, tapi tetap sulit kuterima. Malaikat kesayangan keluarga kami tidak mungkin membakar kota; dia adalah gadis termanis di dunia.

Namun, aku sadar bahwa membiarkannya tanpa kendali adalah risiko besar. Aku tidak ingin melihatnya secara tidak sengaja menyakiti orang-orang yang ia cintai.

"Jika negara yang menanganinya," lanjutnya, "aku menduga dia akan diperlakukan sebagai objek penelitian. Aku yakin banyak peneliti yang haus akan spesimen berumur panjang seperti dia."

Setiap pori di tubuhku meremang mendengar kata "spesimen". Kata itu mengisyaratkan bahwa dia akan digunakan seperti reagen sihir dalam eksperimen mengerikan.

Faktanya, di era di mana nyawa tidak dianggap berharga, apa pun yang tidak dilarang hukum akan menjadi sasaran empuk.

"Dalam kasus terbaik, dia akan langsung dibedah untuk diambil sampel penelitiannya. Namun, dalam kasus terburuk, siapa yang bisa menjamin betapa menyedihkannya—"

"Cukup ancamannya," potongku. "Pasti ada sesuatu yang Anda inginkan sehingga seseorang dengan kedudukan tinggi seperti Anda bersedia bicara dengan orang seperti saya."

Intimidasi itu sia-sia; aku sudah bersedia memberikan apa pun. Jelas sekali, jika dia tidak membutuhkanku, dia tidak akan membuang waktu bicara dengan anak kecil. Aku bersumpah demi namaku sebagai kakak untuk melindungi Elisa.

"Bagus sekali. Aku menghargai ketajaman otakmu. Begini, Changeling hanya berbahaya karena ketidakstabilan yang berasal dari buruknya kontrol sihir mereka."

"Yang berarti..." aku mulai menyadari arah pembicaraannya.

"Benar. Selama mereka belajar memanipulasi Mana, mereka tidak akan berbahaya. Kekaisaran tidak sekejam itu untuk menganiaya makhluk hidup yang tidak berbahaya dan menganggap dirinya sebagai warga negara."

Secercah harapan muncul. Namun, pertanyaannya: bagaimana ia bisa menguasai kekuatannya?

Ia tidak bisa belajar sendiri.

"Aku akan menjadikan adikmu sebagai muridku," penyihir mengumumkan. "Aku akan mendidiknya menjadi seorang Magus sejati. Dengan begitu, hak-haknya sebagai warga negara akan dipulihkan dan ia bebas menjalani kehidupan yang layak."

"Kedengarannya bagus, tapi..."

"Benar, kau pasti memikirkan soal kompensasi. Sejujurnya, aku tidak peduli soal hal itu."

Dia tidak butuh imbalan? Methuselah ini terdengar seperti pahlawan, namun nada bicaranya yang acuh tak acuh dan kepulan asap pipanya menyiratkan motif lain.

"Sejujurnya, aku tidak kekurangan uang. Bahkan, aku bersedia membayar untuk menyelesaikan 'tugas lapangan' yang merepotkan ini."

Tugas lapangan?

"Namun, aku tidak bisa menerima murid begitu saja. Magia tidak suka penyebaran ilmu sihir yang tak terkendali, jadi aku harus menarik biaya pendidikan untuk murid resmi."

"Apa sebenarnya Magia itu?" tanyaku.

Wanita bangsawan itu tampak mulai bosan dengan ketidaktahuanku, namun ia tetap menjelaskan tentang Imperial College of Magic.

Lembaga tersebut adalah pusat penelitian negara bagi para penyihir jenius yang memegang gelar Magus.

Magia sendiri adalah praktisi berlisensi yang kedudukannya setara birokrat sihir negara.

Untuk menjaga kerahasiaan ilmu sihir, mereka menetapkan biaya kuliah yang sangat mahal.

"Adikmu harus menjadi Magus resmi agar bisa bertahan hidup," katanya serius. "Tapi biayanya sangat tinggi."

Ia menyebutkan angka: lima belas Drachmae per tahun bagi murid magang yang memiliki rekomendasi.

Sebagai gambaran, keluarga petani rata-rata hanya menghasilkan lima Drachmae per tahun. Angka itu mustahil bagi kami.

"Yah," katanya santai, "kurasa itu di luar jangkauanmu?"

"Jika menolak makan selama setahun hanya untuk mendapatkan setengah dari jumlah itu disebut 'kurang', maka Anda benar, Nona."

"Benarkah? Apakah petani hidup semiskin itu?"

Aku ingin sekali membalasnya! Tapi aku menahan diri. Dia adalah bangsawan yang hidup di dunia yang berbeda.

"Cukup soal uang," katanya mengalihkan pembicaraan. "Aku punya usulan yang akan menyelesaikan masalahmu. Maukah kau menjadi pelayanku?"

"Pelayan?"

Sistem perbudakan kontrak masih berlaku di Kekaisaran. Ini adalah bentuk bimbingan: sebagai imbalan atas tempat tinggal dan makan, seorang pekerja kontrak bekerja tanpa upah sampai mereka cukup umur.

"Aku akan menjadikanmu sebagai pengurusku (Steward). Uang muka kontrakmu akan kuberikan kepada orang tuamu untuk membiayai sekolah adikmu. Bagaimana? Ini tawaran yang cukup menguntungkan," katanya sambil menyeringai—tidak, ia mencibir.

Magus benar: kesepakatan itu adalah semua yang kubutuhkan. Seorang anak petani sepertiku tidak punya harapan mendapatkan pekerjaan dengan upah sebesar itu. Pengaturan ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Betapapun meragukannya tawaran itu, aku tidak bisa berpaling. Aku rela menghancurkan masa depanku sendiri asalkan Elisa bisa tumbuh dengan aman. Aku melipat selimut, turun dari tempat tidur, dan berlutut di hadapannya.

"Hamba dengan rendah hati menerima tawaran Yang Mulia."

"Bagus sekali. Anak baik," katanya sambil mengangguk puas.

"Mohon maaf atas kelancangan hamba, namun sebagai pelayan resmi, bolehkah hamba mengetahui nama majikan hamba yang terhormat?"

Magus akhirnya menyadari bahwa kami belum memperkenalkan diri. Ia tampak tidak tertarik mengingat nama rakyat jelata, namun ia akhirnya menyilangkan kakinya dan memulai perkenalan.

"Namaku Agrippina," katanya. "Agrippina du Stahl, peneliti formal di Imperial College of Magic Kekaisaran Trialis Rhine, anggota faksi Leibniz, School of Daybreak."

Kesan pertamaku adalah bahaya. Namanya terkenal di kehidupanku sebelumnya sebagai ibu dari salah satu penjahat terbesar dalam sejarah.

"Hamba Erich," kataku dengan suara yang dimantapkan. "Erich dari kanton Konigstuhl, putra keempat Johannes."

"Tidak masalah. Aku akan melakukan apa saja demi keselamatan Elisa. Kerja paksa bukan apa-apa dibandingkan harus beradu pedang dengan segerombolan bandit." Sambil tetap berlutut, aku menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan wanita yang kini menjadi majikanku.

"Mm. Baiklah, Erich. Lakukan yang terbaik untuk membuatku senang. Aku akan bertindak sesuka hatiku, jadi jangan ragu untuk melakukan apa pun yang kau bisa demi mencapai tujuanmu sendiri."

Aku merasa tidak perlu memberikan kesetiaan sepenuh hati selama aku menjalankan peranku dengan baik—lagipula, dia tampaknya memikirkan hal yang persis sama. Kami hanya dua pihak yang saling memanfaatkan.


[Tips] Indentured Servitude (Kerja Kontrak) adalah sistem yang mencegah pergolakan sosial besar namun tetap mengakomodasi kebutuhan lapangan kerja dan mobilitas sosial masyarakat.

Konsep serupa yang dikenal sebagai Sistem Decchi digunakan di Jepang feodal, di mana pekerja magang muda akan bekerja keras hingga mereka diakui sebagai pengrajin penuh. Di Kekaisaran, kerja kontrak adalah salah satu dari sedikit jalur hukum bagi anak di bawah umur untuk mendapatkan pekerjaan.




Agrippina du Stahl adalah seorang wanita muda—setidaknya menurut standar ras Methuselah—yang berasal dari Kerajaan Seine, salah satu negara satelit di sebelah barat kekaisaran.

Partikel bangsawan "du" pada namanya membuktikan silsilah keluarganya yang terpandang, dan wilayah Baroni milik ayahnya cukup luas untuk memperkuat kedudukan tersebut.

Akan tetapi, para penguasa tanah dari ras Methuselah biasanya tidak terlalu memedulikan wilayah kekuasaan mereka.

Tuan Stahl, ayah Agrippina, terkenal karena kecintaannya pada perjalanan. Ia memiliki kebiasaan buruk menyerahkan pengelolaan tanah miliknya kepada para pengikutnya, sementara ia sendiri menghabiskan sebagian besar waktunya mengembara ke seluruh penjuru dunia.

Kadang-kadang, raja mencoba memanggilnya kembali, namun tidak ada yang tahu ke mana harus mengirimkan surat panggilan tersebut.

Sebagai gambaran betapa santainya pria itu, ia pernah menghabiskan waktu dua puluh tahun tanpa sekalipun menginjakkan kaki di tanah airnya.

Bahkan, ia sama sekali tidak menyadari adanya perang saudara yang terjadi selama tiga tahun masa liburannya. Kata-katanya saat kembali ke istana kerajaan kini terukir dalam sejarah:

"Apa? Ada raja baru? Kapan kakek tua itu meninggal?"

Tentu saja, Agrippina menghabiskan masa mudanya dengan bepergian ke berbagai tempat karena mengikuti hasrat berkelana keluarganya.

Selama seratus lima puluh tahun masa hidupnya, ia hampir tidak pernah menghabiskan waktu di kerajaan yang memberinya gelar bangsawan tersebut.

Saat merayakan ulang tahunnya yang ke-100, ia seolah "meludahi" wajah kaum bangsawan dan lebih memilih untuk mendaftar di Imperial College di Rhine. Pilihannya itu semata-mata didasari oleh kegemarannya pada masakan dan cuaca di wilayah Rhine.

Orang tuanya hanya menanggapi dengan, "Baiklah, lakukan saja sesukamu," lalu memerintahkan bawahan mereka untuk mengiriminya uang saku dalam jumlah yang tidak masuk akal.

Mereka pun sama eksentriknya, tapi itu bukan inti masalahnya. Methuselah memang didefinisikan oleh perilaku semacam ini. Sia-sia saja bagi manusia atau makhluk fana lainnya untuk mencoba memahami cara berpikir mereka.

Sama seperti kita yang tidak bisa memahami apa yang dirasakan semut saat berbaris, kaum Methuselah yang abadi gagal memahami nilai-nilai kehidupan yang fana.

Mungkin sebagai reaksi atas masa kecilnya yang terus berpindah tempat, kemalasan Agrippina memuncak dalam satu pernyataan sederhana: "Kurasa aku sudah cukup puas dengan perjalanan."

Jika ayahnya adalah layang-layang tanpa tali, maka Agrippina ditakdirkan menjadi pemberat kertas yang tidak bisa digerakkan.

Agrippina memanfaatkan sepenuhnya sistem pencernaan rasnya yang sempurna dan minimnya pembuangan limbah tubuh untuk menghabiskan tujuh tahun berturut-turut terkurung di perpustakaan besar kampus. Wanita luar biasa itu menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk membaca.

Orang normal pasti akan kehilangan kewarasan dengan gaya hidup seperti itu.

Fakta bahwa ia memilihnya atas kemauan sendiri sambil tetap menikmati kemewahan memicu pertanyaan: mungkinkah seorang Methuselah benar-benar dianggap waras?

Terlebih lagi, setelah lima tahun berlalu, ia hanya berkomentar, "Aku sudah tahu cara menata buku-buku di sini."

Sejak saat itu, ia menyeret tempat tidurnya ke ruang baca dan tidak berpindah posisi selama dua tahun terakhir. Itulah gambaran jati diri seorang Methuselah.

Mereka membenamkan diri dalam apa pun yang mereka sukai tanpa memedulikan hal lain. Dari sudut pandang manusia, mereka mungkin dianggap sebagai organisme yang "rusak".

Namun, masa indahnya tidak bertahan lama. Meski ia adalah putri bangsawan asing, kepala arsiparis perpustakaan memiliki otoritas absolut di wilayahnya. Akhirnya, kesabaran pustakawan mencapai batasnya.

Ketika sumbangan emas dan hasil transkripsi Agrippina tidak lagi mampu meredam amarah pustakawan, ia dipaksa keluar.

Sejak saat itu, ia harus memulai hidup baru di bengkel penelitian yang telah ditentukan.

Sayangnya, kejadian itu tidak membuatnya bertobat. Sebaliknya, jika ras Methuselah begitu mudah mengevaluasi diri setelah mengalami kegagalan, mereka pasti sudah menguasai planet ini sejak lama.

Setelah terusir dari perpustakaan, ia hanya berpindah tempat mengurung diri di bengkelnya sendiri.

Tentu saja, Imperial College bukanlah tempat yang lunak. Baik peneliti maupun profesor memiliki kewajiban untuk menghadiri kuliah dan debat berkala.

Aturan ini berlaku teguh bagi siapa pun, tak peduli seberapa berkuasanya mereka.

Dalam kasus terburuk, seseorang bisa diturunkan jabatannya atau dicopot gelarnya.

Gelar Magus lebih dari sekadar sebutan—itu adalah julukan kehormatan bagi mereka yang memajukan ilmu sihir.

Para profesor awalnya membiarkan Agrippina selama tujuh tahun karena sumbangan besar Tuan Stahl.

Namun, setelah insiden perpustakaan, mereka tidak punya alasan lagi untuk bersikap baik. Dewan profesor menuntutnya untuk berperan aktif sebagai peneliti sejati.

Agrippina, perwujudan kemalasan, menanggapi tuntutan itu dengan cara yang unik: ia menggunakan mantra Remote Vision atau bantuan makhluk famili untuk menghadiri kuliah.

Ia menyerahkan laporannya dengan melipat kertas menjadi bentuk kehidupan buatan yang akan terbang ke tujuannya.

Puncak kemalasannya adalah saat ia menemukan selembar perkamen yang disinkronkan dengan isi debat secara real-time agar ia tidak perlu hadir secara fisik.

Ia adalah orang pertama dalam sejarah yang melakukan hal ini secara ekstrem.

Meskipun penggunaan Remote Vision secara teknis diizinkan bagi mahasiswa yang bekerja paruh waktu, para dosen tidak pernah membayangkan ada "badut" yang menggunakannya untuk setiap kelas.

Agrippina tidak diragukan lagi adalah Methuselah pertama yang menyia-nyiakan waktu sebanyak itu demi kemalasan.

Karena tindakannya secara teknis tidak melanggar hukum, pihak kampus menemui jalan buntu. Sampai akhirnya, Dekan fakturnya kehilangan kesabaran.

Meski kamar Agrippina telah diisolasi dengan sihir pembengkok ruang, Dekan tetap memaksa masuk dan memerintahkannya untuk segera berangkat melakukan kerja lapangan.

Agrippina menolak keras perintah untuk mengawal karavan layaknya penyihir bayaran, namun ia terpaksa menyerah ketika Dekan mengancam akan mengusirnya dari School of Daybreak.

Baginya, kehilangan status faksi sama saja dengan terusir dari perguruan tinggi sepenuhnya.

Dekan mengirimnya dalam perjalanan penelitian dan melarangnya kembali tanpa izin tertulis.

Namun, di tengah khotbah panjang Dekan saat keberangkatannya, Agrippina mengingat satu detail penting: "Aku rasa kau baru boleh kembali jika kau menerima seorang murid karena suatu keajaiban, tapi ketahuilah bahwa..."

Tentu saja, Dekan yakin Agrippina yang malas tidak akan pernah mau membimbing siapa pun.

Namun hari ini, keberuntungan berpihak padanya. Ia menemukan seorang anak yang harus menjadi muridnya agar bisa bertahan hidup.

Agrippina tidak butuh uang; sebagai bangsawan, ia memiliki tabungan yang melimpah. Yang ia butuhkan hanyalah "tiket" untuk kembali ke bengkel penelitiannya secara sah.

Dengan adanya murid ini, ia punya alasan hukum untuk mengakhiri masa pengasingannya.

Terlebih lagi, kontrak ini memberinya seorang pelayan kecil yang tampak sangat berguna.

Hari ini benar-benar menjadi hari yang luar biasa bagi Agrippina.


[Tips] Ada tiga gelar utama di Imperial College:

1.    Student (Mahasiswa): Penyihir yang tengah menjalani pelatihan.

2.    Researcher (Peneliti): Mereka yang telah memiliki bengkel penelitian sendiri.

3.    Professor (Profesor): Pemimpin yang membawahi mahasiswa dan peneliti.

Student dan Researcher biasanya bernaung di bawah faksi yang dipimpin oleh Profesor mereka. Memiliki hubungan baik dengan Profesor adalah kunci untuk mendapatkan akses ke pengetahuan eksklusif atau pendanaan laboratorium.




Musim Semi, Usia Dua Belas — Bagian 2


Buku Peraturan (Rulebook)

Buku yang berisi seluruh informasi mengenai dunia permainan papan, serupa dengan data yang tersimpan dalam cakram permainan video.

Buku ini memuat aturan dasar dan profil karakter untuk menyusun latar belakang sebelum petualangan dimulai. Mungkin juga terdapat beberapa halaman rahasia yang tidak boleh dilihat oleh pemain…

◆◇◆

Butuh waktu seharian penuh untuk menyelesaikan semua rincian kesepakatan itu.

Setelah diskusi selesai, Nona Agrippina mendorongku kembali ke tempat tidur. Meskipun ia telah menggunakan sihir penyembuhan, tubuhku masih sangat babak belur. Ia mengembuskan asap pipa ke arahku, dan seketika aku jatuh pingsan.

Rupanya, aku mengalami patah tulang di lima titik, luka di berbagai bagian tubuh, dan memar yang menutupi hampir seluruh kulitku.

Fakta bahwa aku sudah bisa bergerak setelah tidur sebentar membuktikan bahwa majikan baruku adalah seorang penyihir yang luar biasa.

Saat aku terbangun untuk kedua kalinya, kediaman kepala desa sudah sesak oleh orang tuaku, kepala desa sendiri, uskup, bahkan juru tulis setempat. Keributan besar terjadi. Bagaimana dengan kontraknya?

Bisakah seorang anak bekerja?

Bagaimana nasib Elisa?

Pertanyaan dan kekhawatiran membanjir, hingga butuh waktu seharian bagi semua orang untuk membubuhkan tanda tangan dan segel darah pada dokumen resmi.

Akhirnya aku bebas, namun para orang dewasa masih terus meributkan hal-hal sepele di dalam rumah.

Aku merasa pembicaraan mereka kehilangan sosok kunci—yaitu aku—tetapi orang dewasa memang tidak suka melibatkan anak-anak dalam diskusi yang rumit.

Jika aku berada di posisi ayahku, aku pun tidak akan membiarkan anakku melihatku berdebat sengit seperti itu.

Tetap saja, semuanya jadi berantakan… Aku tahu suatu hari aku akan meninggalkan Konigstuhl, tetapi aku tidak menyangka kepergianku akan secepat ini.

Terlebih lagi, aku tidak menyangka akan memboyong adik perempuanku ke ibu kota, jantung dari Kekaisaran Trialis.

Ini terlalu berlebihan, bahkan untuk biodata karakter PC. Situasiku jauh lebih parah daripada selamat dari kecelakaan pesawat. Aku bersumpah daduku dicurangi!

"Aku lihat banyak hal telah berubah ke arah yang tidak terduga."

Aku menoleh kaget dan mendapati sahabat masa kecilku yang muram berdiri di sana.

Jarang sekali Margit terlihat begitu serius, dan lebih jarang lagi baginya untuk tidak melakukan serangan kejutan seperti biasanya. Melihatnya seperti ini, hatiku terasa hancur.

"Aku sudah menunggumu dengan cemas. Rumor sudah menyebar ke seluruh kanton."

Ia berjalan mendekat perlahan dan diam-diam dengan kaki-kaki laba-laba kecilnya, sementara sinar redup terpantul dari matanya yang berwarna kuning.

"Apakah kau punya waktu luang?"

Pertanyaan Margit lebih terasa seperti perintah. Aku mengangguk canggung, meraih tangannya yang terulur, dan mulai berjalan di sampingnya.

Aku tidak bisa menolaknya; nada bicaranya membuatku kehilangan keinginan untuk membantah. Suaranya yang dingin membuatku merasa seperti seekor laba-laba jantan yang sedang ditatap oleh betinanya.

Kami berjalan dengan kecepatan aneh ke sebuah bukit besar di tepi kanton dalam keheningan total.

 Tidak ada yang menarik di sini—bahkan bunga pun tidak mekar. Paling-paling, kami hanya punya pemandangan jelas ke arah rumah kami dan hutan tempat kami biasa bermain sejak kecil.

Saat aku duduk di tanah, Margit tidak memilih posisi duduk yang biasanya; sebaliknya, ia melipat kakinya tepat di depanku. Ia tampak semanis kucing di dalam kotak, tetapi ini bukan saatnya untuk merasa terpesona.

Jika aku berani mengucapkan sesuatu yang bodoh, aku merasa taring panjang yang mencuat dari bibirnya akan mencabik leherku—setidaknya, itulah aura yang ia pancarkan.

Tatapan kosongnya mendesakku untuk mengakui segalanya, jadi aku membiarkan kebenaran mengalir bebas dari mulutku.

Aku bercerita tentang Elisa, tentang Changeling, dan tentang masa depanku.

Margit tidak mengangguk ataupun berkomentar. Ia hanya mendengarkan sampai akhir, lalu mengembuskan napas terberat yang pernah kudengar—napas yang seolah meresap hingga ke dasar jiwaku.

"Semuanya benar-benar sudah di luar kendali," katanya dengan suara yang sarat emosi.

Aku merasa tidak bersalah, namun keseriusan pernyataannya membuatku ingin meminta maaf.

"Menjadi Servant kontrak bagi seorang penyihir di ibu kota... Ini jauh lebih rumit dari dugaanku. Siapa yang mengira keterkejutanku atas penculikan Elisa akan tertutup oleh berita ini begitu cepat?"

Aku melihatnya menutup mata kanan dengan tangan, menatap langit seolah menahan sakit migrain.

Aku tidak punya kata-kata untuk menghiburnya—karena aku pun merasakan hal yang sama.

Secara intelektual, aku tahu Elisa adalah seorang Changeling. Namun, jauh di lubuk hati, aku masih tidak benar-benar mempercayainya; sulit menerima kenyataan bahwa ia mungkin akan dijadikan "spesimen".

Di suatu bagian hatiku, aku masih berharap ini semua hanya lelucon, dan aku akan terbangun di tempat tidurku sendiri setelah mengerjap sekali lagi.

Lalu semuanya kembali normal. Elisa menjadi gadis kecil biasa, aku tidak perlu ke ibu kota, tumbuh besar di Konigstuhl, dan suatu hari pulang dari petualangan untuk merayakan pernikahan Elisa.

Itu adalah mimpi indah... ya, hanya mimpi. Aku sedang berpegang teguh pada fantasi.

Namun kenyataan menghantam. Elisa akan berangkat sebagai murid Magus, dan aku akan menyertainya sebagai Servant untuk membayar biaya pendidikannya.

"Bukan berarti aku akan menjadi pelayan selamanya," kataku, lebih kepada diriku sendiri. "Aku tidak berniat menghabiskan seluruh hidupku melayani seorang Magus."

"Tapi itu bukan jenis pekerjaan yang bisa kau tinggalkan setelah setahun, bukan? Mengingat besarnya uang yang harus kau hasilkan, biasanya orang akan menghabiskan seumur hidup untuk melunasinya."

Logika temanku langsung mematahkan pertahananku. Ia benar: biaya minimum untuk belajar di bawah bimbingan seorang Magus adalah lima belas Drachmae per tahun. Rakyat jelata seperti kami hampir tidak dapat membayangkan kekayaan sebanyak itu.

Uang itu berstatus pinjaman. Gajiku sebagai pelayan akan langsung digunakan untuk membayar utang biaya kuliah dan kebutuhan Elisa.

Aku tidak akan bebas sampai utang itu lunas. Penyihir jahat itu sendiri yang mengatakannya: ia tidak bisa mengubah peraturan, jadi aku harus bekerja untuk membayar iuran tersebut.

Pertanyaannya, berapa gaji seorang pelayan?

Jika dihitung dengan biaya kamar dan makan, awalnya aku mungkin tidak akan menerima sepeser pun. Gundukan utang itu mustahil dilunasi dengan gaji normal.

Apalagi, rata-rata siswa membutuhkan minimal lima tahun sebelum bisa mendapatkan posisi penelitian.

Artinya, aku harus menghitung pengeluaran setidaknya selama lima tahun.

Total biaya kuliah saja sudah tujuh puluh lima Drachmae. Seorang rakyat jelata harus mengulang hidupnya puluhan kali untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Dan itu hanyalah perkiraan kasar.

Sebagai orang yang pernah kuliah di kehidupan sebelumnya, aku tahu mahasiswa sangat cepat menghabiskan uang.

Elisa akan membutuhkan pakaian baru seiring pertumbuhannya. Di era ini, pakaian sangat mahal. Bahkan kain katun pun membutuhkan biaya tenaga kerja yang besar.

Elisa akan dikelilingi oleh anak-anak bangsawan atau orang kaya. Aku tidak ingin ia dihina karena pakaiannya compang-camping.

Penampilan adalah alasan utama perundungan, terutama bagi makhluk tidak biasa seperti Changeling.

Lalu ada buku pelajaran. Perkamen di zaman ini harganya selangit. Buku biasa bisa seharga dua hingga tiga Drachmae, sementara buku langka bisa seharga satu Province.

Belum lagi biaya hidup kami berdua di ibu kota. Aku tidak yakin Nona Agrippina akan memedulikan kebutuhan harian kami.

"Sepuluh tahun?" tanya Margit tiba-tiba. "Dua puluh tahun? Erich, berapa lama kau berniat pergi?"

"Aku harap bisa selesai dalam lima tahun," jawabku setelah jeda yang menyesakkan.

Saat aku mencapai usia dewasa, aku berencana mencari pekerjaan tambahan secara legal.

Dengan memanfaatkan berkah "Masa Depan" yang kumiliki, aku yakin bisa menciptakan sumber pendapatan baru.

Demi Elisa, aku tidak akan pelit. Jika aku bisa membeli nyawa adikku dengan Experience Points, aku akan melakukannya tanpa ragu.

"Lima tahun, ya? Kau optimis sekali."

"Aku akan melakukan apa pun agar bisa bebas saat itu."

"Tetap saja, lima tahun lagi aku akan berusia sembilan belas tahun. Semua orang akan menertawakanku karena belum menikah," katanya sambil cemberut.

Di Rhine, usia umum untuk menikah adalah lima belas hingga tujuh belas tahun.

Aku tidak berani menanggapi implikasi dari perkataannya—itu akan terlalu tidak bijaksana.

Aku sangat sadar ke mana arah hubungan kami jika kami terus bersama.

"Aku akan berusaha sebaik mungkin," kataku akhirnya.

"Dan kau akan kembali sebelum kita terlalu tua untuk berpetualang?"

"Akan kucoba."

"Benarkah?"

Tanpa suara, bagian tubuh bawahnya bergerak-gerak dan ia merangkak ke pangkuanku.

Mata cokelatnya menatap lurus ke arahku dengan kilatan jingga yang berbahaya.

"Apakah kau bersumpah? Kau bersumpah akan menyelesaikan masa tugasmu sebagai pelayan, lalu kembali untuk mengajakku berpetualang?"

Margit bicara dengan nada kasar.

Biasanya suaranya membelai lembut benakku, namun kali ini suaranya menusuk tepat di ulu hati.

Ini lebih dari sekadar pertanyaan—ini adalah bilah tajam yang mengiris dasar keinginanku.

"Ya," jawabku mantap. "Aku bersumpah. Kita sudah mempersiapkan diri begitu lama; aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan menjadi petualang dan memastikan Elisa lulus dengan selamat. Aku akan melakukan keduanya."

Interogasinya yang tajam justru membuat jawabanku semakin tulus.

Pisau bedah itu tak perlu menyayat lebih dalam, karena aku telah menarik jawaban itu dari lubuk hatiku yang terdalam.

Aku sudah membuat keputusan sejak lama: jika aku bisa menjadi apa pun di dunia ini, aku akan mengejar apa yang benar-benar kuinginkan.

Menjadi petualang bukanlah jalan yang kupilih secara asal; aku memulai jalan ini karena semua orang percaya aku mampu melakukannya.

Di saat yang sama, aku ingin menjadi kakak yang baik; aku ingin tetap berdiri tegak saat Elisa menatapku dengan penuh kekaguman.

Ini adalah manifesto tulusku. Setelah menghabiskan dua belas tahun sebagai Erich dari kanton Konigstuhl, kata-kata ini adalah wujud resolusiku.

Aku memiliki kewajiban untuk memegang teguh tekad ini guna memberi makna pada dua belas tahun kasih sayang keluarga dan teman-temanku—untuk mempertahankan keaslian tujuh tahun yang kujalani sebagai diriku sendiri.

Untuk itu, aku rela mendedikasikan semua Experience Points yang telah kusimpan. Aku bahkan siap mencurahkan semuanya ke dalam Domestic Skills jika memang diperlukan.

Lagipula, dengan levelku saat ini, aku masih bisa bertahan sebagai seorang pendekar pedang.

Ini memang jalan memutar. Namun, aku menolak untuk membohongi diri sendiri.

Aku akan melakukan apa pun yang kumau, seperti para pahlawan dalam permainan papan yang dulu membuatku lupa waktu.

Aku selalu menyukai perasaan luar biasa di akhir sesi permainan yang bagus.

Melihat sebuah cerita menjadi nyata dan karakter yang kami ciptakan mencapai konklusi sungguh menggetarkan.

Bahkan ketika mereka ditakdirkan mengalami nasib buruk, itu tetap menyenangkan karena aku dan teman-temanku merajut cerita itu bersama di ruang klub tua yang berantakan.

Kegembiraan terbesar adalah saat semua karakter kami mencapai tujuan mereka di babak akhir.

Kami telah menghabiskan waktu yang tak terhitung jumlahnya untuk mengejar kejayaan itu lagi dan lagi. Situasiku sekarang pun sama. Ini adalah hidupku sendiri, namun prinsipnya tidak berubah.

Aku akan mengejar keinginanku untuk menjadi sosok yang kuinginkan. Bukankah itu alasan "Buddha Masa Depan" mengirimku ke sini?

"Lakukan apa yang kau mau," begitu katanya?

Kalimat dari dewa jahat yang sudah kukenal itu kini menjadi titah surgawi termanis yang pernah kudengar.

Tanpa adanya mandat ilahi yang mengekang, aku diizinkan mengejar impianku. Sungguh sebuah Injil yang membebaskan.

Benar. Aku akan menjadi seorang petualang… sekaligus pahlawan bagi Elisa.

Aku memantapkan keyakinanku dan menatap lurus ke dalam sepasang permata cokelat milik Margit.

Entah berapa lama kami saling bertatapan. Warna merah senja yang lembut mulai memudar menjadi ungu redup. Saat siang dan malam menyatu, bintang-bintang mulai menempati posisinya di samping bulan sabit.

Bulan yang kian memudar itu memiliki julukan puitis di tanah airku yang dulu: Fukemachi-zuki.

Aku pernah menyebut nama itu—bahwa kita berdua harus menunggu masa depan yang jauh untuk kembali menjadi utuh, tepat saat malam bersiap menelan sisa-sisa diri kita yang lama.

Oh, betapa aku berharap bisa bersinar sepenuhnya seperti dirimu.

"Benarkah? Yah… itu memang sangat mirip denganmu." Margit bicara dengan nada santai dalam dialek umum.

Tatapannya tak pernah lepas dariku, namun ekspresinya yang kaku tiba-tiba melunak saat ia tersenyum.

 "Baiklah, aku akan percaya padamu. Tidak ada gadis lain yang sebaik aku di luar sana, tahu?"

"Aku tahu," jawabku. "Terima kasih, Margit."

Aku yakin ia akan terus menunggu petualangan kami dimulai. Lagipula, ia tidak pernah membohongiku sebelumnya—tidak sekali pun, bahkan sebagai lelucon.

Namun, meski aku memercayai janjinya, aku harus waspada agar tidak menjadi sombong.

Pria adalah makhluk yang rentan terhadap delusi egois seperti, "Dia akan selalu mencintaiku selamanya."

"Saat aku memulai petualanganku nanti, tempat pertama yang akan kutuju adalah untuk menjemputmu," aku bersumpah.

Hanya sumpah sungguh-sungguh inilah yang bisa kuberikan sebagai balasan atas kepercayaannya.

Sebagian orang mungkin menganggap janji tanpa bentuk itu hampa, namun janji yang tulus akan mengakar di hati mereka yang memercayainya.

Tak peduli apa kata orang, aku memegang teguh kebenaran ini.

Margit menanggapinya dengan tawa kecil yang sangat lembut. Tiba-tiba, ia mengangkat kepalanya dan melingkarkan tangannya di belakang leherku.

Kembali ke posisi yang sangat kukenal, hidung kecil Arachne yang menggemaskan itu bersentuhan dengan hidungku.

Tatapan pantang menyerah di matanya berubah menjadi senyum yang lesu.

Meski gigi taring rampingnya mencuat dari sisi mulut, bibirnya tetap tampak mempesona.

Wajahnya memiliki perpaduan antara keimutan gadis muda dan aura menawan dari seorang wanita sejati.

Napas kami saling beradu, dan bulu mata kami saling bertautan. Aku hampir tak bisa bernapas.

"Kalau begitu, aku akan memastikan kau tidak bisa melupakanku." Rasa menggigil yang Margit tanamkan ke tubuhku muncul sekali lagi. Suaranya yang manis selalu menggelitik bagian belakang otakku. "Tutup matamu…"

Tunggu, apakah dia akan melakukannya? Serius? Apakah ini benar-benar terjadi?

Aku tidak pernah mengalami momen semanis ini di kehidupanku yang dulu.

Bolehkah aku membanggakan ini?

Aku sudah menjadi pria sejati sekarang, kan?

Aku akan merayakannya malam ini!

Pikiranku berputar histeris hingga napas yang kurasakan di bibirku tiba-tiba berbelok ke samping.

Saat otakku mulai bekerja kembali, aku merasakan kehangatan kulit Margit di pipiku dan napasnya menggelitik telingaku.

Hah? Tunggu sebentar, apa yang terja— "Aduuuh?!"

Rasa sakit yang luar biasa menyerang telingaku. Aku terlonjak kaget, tapi cengkeramannya di leherku terlalu kuat.

Setiap upaya untuk melihat apa yang terjadi dihalangi oleh kepala Margit.

Bahkan, ia masih menjepit cuping telingaku dengan mulutnya. Aku sama sekali tidak bisa berkutik.

Hah? Apa-apaan ini?! Apa yang dia lakukan padaku?!




Setelah beberapa detik kebingungan dan penderitaan, Margit akhirnya melepaskan telingaku.

Dengan rasa ingin tahu sekaligus ngeri, aku menyentuh telingaku dan mendapati bagian itu basah oleh ludah dan darah. Namun, aku juga merasakan sebuah lekukan di ujung jariku.

Apakah ini sebuah lubang?

Setelah meraba sedikit lebih lama, jelas sudah bahwa ia telah melubangi cuping telingaku.

"Terima kasih atas makanannya," katanya sambil menjilati darahku yang menetes dari bibirnya.

Sisa-sisa cahaya matahari masih terpantul pada taring tidak manusianya itu.

Tampaknya ia dengan cekatan menggunakan taringnya untuk menusuk daging telingaku.

"A—tapi kenapa?! Kenapa kau menggigitku?!"

"Sudah kubilang, kan? Aku akan memastikan kau tidak akan pernah melupakan janji kita."

Saat Margit bicara, ia menarik tanganku yang tadinya melindungi telinga, lalu memasukkan sesuatu ke dalam lubang yang masih berdenyut itu.

Aku meliriknya; itu adalah kerang laut merah muda yang telah diubah menjadi anting-anting.

Anting yang dikenakan gadis itu tampak sederhana. Jenis aksesoris yang biasa dibeli anak-anak di festival dengan harga sekitar satu keping perak.

Aku ragu ia sudah lama memilikinya. Mungkin ia membelinya di sebuah kios saat aku terjebak di dalam rumah tadi—tapi mengingat ia terus menunggu di dekat rumah kepala desa, dugaanku mungkin salah.

"Jangan dilepas, ya? Ini bukti janji kita. Ingatlah aku setiap kali kau melihatnya."

Sekarang tunggu dulu, niat di balik anting ini memang manis, tapi bagaimana bisa kau...

Hmm... Senyum Margit langsung melenyapkan semua amarahku.

Anehnya, melihatnya tampak puas justru membuatku berpikir, Yah, setidaknya dia tidak merobek telingaku sampai putus.

Waduh, menjadi cantik itu benar-benar tidak adil.

Saat aku sibuk merenungkan absurditas dunia ini, Margit meletakkan benda lain di tanganku. Aku menunduk dan melihat sebatang jarum panjang.

Jarum itu besar dan kokoh—lebih cocok untuk kerajinan kulit daripada sulaman. Jarum itu masih terasa lembap dan berbau alkohol tajam yang biasa kami gunakan untuk disinfektan.

"Sekarang, bisakah kau membalas budiku?" katanya sambil menjulurkan telinga kanannya.

"Hah?" Apa? Maksudmu... aku juga harus menusuk telingamu? Tunggu dulu, ini terlalu ekstrem bagiku. Fetis aneh macam apa ini?

"Apa yang kau tunggu?" tanyanya mendesak. "Aku sudah memastikan kau tidak akan melupakanku. Tidakkah kau ingin memastikan bahwa aku juga tidak akan melupakanmu?"

Entah mengapa, tatapan matanya yang melirik saat ia mengangkat rambutnya menghancurkan pertahananku dalam sekejap.

Fakta bahwa ia bisa terlihat begitu menggoda meskipun sedang memintaku melakukan sesuatu yang gila pasti lebih dari sekadar pengaruh status setengah manusianya.

"Bersiaplah, karena ini mungkin akan sangat menyakitkan. Aku pun merasakan hal yang sama."

"Tidak apa-apa. Maukah kau tunjukkan padaku seperti apa rasa sakit itu?"

Ya ampun, semua nada sugestif ini bisa membuatku kena serangan jantung!

Aku menenangkan detak jantungku yang menggila dan menekan jarum itu ke telinganya.

Hanya butuh satu dorongan kuat untuk menembus cuping telinganya yang lembut, membuat butiran merah menari di udara.

Di bawah siraman cahaya matahari terbenam dan rembulan yang mulai naik, keindahan di hadapanku sungguh tak terlukiskan.

"Hngh..."

Margit mengeluarkan erangan provokatif saat aku mencabut jarum tersebut. Ia mengusap bekas luka itu dengan jarinya, dengan tatapan yang mencampurkan rasa pedih dan kasih sayang.

Tanpa menghentikan darah yang menetes, ia menyerahkan belahan anting lainnya kepadaku.

Aku pun harus melakukan hal yang sama, begitulah dugaanku. Kami pernah menyaksikan ritual serupa musim gugur lalu, meski ini terasa jauh lebih aneh dari yang kubayangkan.

Namun, melihat Margit tampak begitu bahagia... kurasa tidak apa-apa.

Terpapar cahaya merah tua yang sekilas, senyumnya yang berlumuran darah itu pasti akan melekat dalam ingatanku seumur hidup.


[Tips] Bagi pria, anting di telinga kiri melambangkan keberanian dan kebanggaan; bagi wanita, anting di telinga kanan melambangkan kebaikan dan kedewasaan. Mengambil masing-masing satu bagian dari satu set anting merupakan simbol dari ikatan yang tidak dapat terputuskan.




Musim Semi, Usia Dua Belas — Bagian 3


Suplemen (Supplement) Buku panduan tambahan untuk melengkapi aturan dasar sebuah permainan. Isinya bisa berupa Skills dan Items baru bagi PC, latar petualangan baru, NPC tambahan, hingga variasi musuh untuk dihadapi.

Melihat dunia yang semakin berkembang memang menyenangkan, namun ekspansi yang tanpa batas terkadang justru menimbulkan kebingungan besar.

◆◇◆

Setelah kejadian tak terlupakan di bukit senja, aku pulang ke rumah tanpa harapan akan mendapatkan ketenangan. Menidurkan putri kecil kami benar-benar menjadi sebuah mimpi buruk.

Dan itu sangat wajar. Elisa baru berusia tujuh tahun, dan secara mental ia bahkan lebih muda dari usianya. Ia pasti merasa terguncang setelah diculik, menyaksikan pertumpahan darah, dan tiba-tiba diberi tahu bahwa ia harus meninggalkan rumah dalam dua atau tiga hari ke depan.

Bagi seorang anak kecil dengan pandangan dunia yang terbatas, orang tua dan keluarga adalah seluruh dunianya.

Aku mungkin kakak favoritnya, tetapi ia mencintai setiap anggota keluarga kami dengan besaran yang sama.

Elisa selalu berseri-seri saat Ayah mengangkatnya ke udara. Ia menyukai masakan Ibu dan selalu berjanji akan membantu di dapur saat ia dewasa nanti.

Ketiga kakak laki-laki kami sangat memanjakannya, dan ia memainkan peran sebagai putri kecil yang manis di tengah mereka.

Ia juga sangat menyayangi Mina, kakak iparnya, layaknya saudara kandung sendiri.

Karena dikelilingi laki-laki sepanjang hidupnya, ia selalu gembira setiap kali Mina meluangkan waktu di sela pekerjaan untuk menata rambutnya.

Elisa jarang sekali merasakan suasana "feminim" di rumah yang penuh laki-laki ini, sehingga kegembiraannya selalu terasa tulus.

Apa pun alasannya, seorang anak tidak akan sanggup menerima kenyataan bahwa ia harus dipisahkan dari keluarga tercinta.

Seperti pepatah lama, ia hanyalah seorang anak kecil.

Kami semua mencoba menjelaskan bahwa aku akan menemaninya dan ini demi kebaikannya sendiri, namun amarah Elisa tidak kunjung reda.

Mudah bagi orang lain untuk menganggap tangisannya sebagai bentuk ketidakdewasaan, tetapi siapa pun yang masih mengingat masa kecil mereka pasti akan memandangnya dengan rasa iba.

Jika aku berada di posisinya, aku ragu akan sudi mengikuti orang asing mencurigakan itu ke ibu kota.

Aku tahu dengan jiwaku saat ini bahwa langkah ini perlu diambil demi kedamaian keluarga dan kanton kami.

Namun, jika aku kembali menjadi diriku yang asli saat berusia tujuh tahun, meyakinkanku akan menjadi misi mustahil.

Rasa sakit yang dirasakan Elisa mendorong kami untuk terus berusaha menenangkannya. Di tengah malam, ia akhirnya kehabisan tenaga dan tertidur—meskipun kami tahu ia akan kembali mengamuk keesokan paginya.

Begitu "pertempuran sengit" yang sanggup memicu protes tetangga apartemen mana pun itu berakhir, semua orang tampak lunglai.

Pasangan muda itu menyeret diri ke tempat tinggal mereka, dan si kembar berjalan ke kamar seperti sepasang mayat hidup.

Ibu menggendong Elisa ke tempat tidur, namun ia sendiri ikut pingsan kelelahan di sana. Terkulai lemas, hanya Ayah dan aku yang tersisa di ruang tamu.

"Ayah ingin minum sesuatu?"

"Ya, tolong," jawabnya letih. Ia menjatuhkan diri ke kursi. "Bisa kau ambilkan makanan spesial itu di dapur?"

Aku membuka papan rahasia di lemari dapur untuk mengambil minuman keras kesayangan Ayah (ia sudah menunjukkan tempat penyimpanannya karena tahu aku tidak akan mencurinya).

Cairan emas itu adalah wiski gandum hitam, minuman staples dari wilayah utara kekaisaran.

Aku sudah tidak lagi terkejut dengan keberadaan barang-barang yang secara historis terasa "salah tempat" ini, dan dengan hati-hati mengeluarkan botol kaca bening tersebut.

Sekali lihat saja, aku tahu harganya mahal. Transportasi utama di sini adalah karavan kuda, jadi barang impor memiliki harga selangit.

Tidak seperti abad ke-21, di mana satu klik tombol cukup untuk mencicipi rasa dari belahan dunia lain.

Harga wiski ini pasti melonjak tiga kali lipat selama perjalanan panjang ke sini, dan Ayah hanya meminumnya dalam dua kesempatan.

Pertama, saat merayakan pencapaian besar. Aku ingat ia menyesapnya dengan penuh sukacita saat Elisa sembuh dari demam parah.

Kedua, saat menghadapi situasi yang terlalu berat untuk ditanggung dalam keadaan sadar.

Dengan sepertiga botol yang tersisa, Ayah menuangkannya ke gelas kecil dan menenggaknya tanpa campuran.

Aromanya saja sudah membuktikan betapa kuat kadarnya.

Aku sempat tertegun, lalu menyadari bahwa mungkin ini satu-satunya cara baginya untuk menghadapi kenyataan; aku belum pernah melihat sosok Ayah yang dapat diandalkan ini tampak begitu rapuh.

Tegukan pertama belum cukup. Ia meminum tegukan kedua, lalu ketiga, hingga akhirnya tangannya berhenti.

"Erich, kau mau mencoba?"

Cairan kuning keemasan itu bergoyang di gelas kecil yang ia sodorkan. Aroma alkohol yang menyengat sebenarnya tidak cocok untuk lidah anak dua belas tahun, jadi biasanya aku akan menolak. Namun malam ini, aku pun merasa ingin minum.

Saat meneguknya, rasa panas yang membakar meresap ke dalam perutku. Rasa asam yang tertinggal tidaklah buruk; kupikir aku akan sangat menikmati minuman ini setelah beberapa tahun lagi.

"Hebat. Kau benar-benar anakku," katanya sambil tertawa kecil.

Ia mengangkat gelasnya lagi, menuang, dan menenggaknya kembali. Karena minumannya begitu kuat, aku mengambil sisa daging kering dari musim dingin sebagai camilan. Ayah mulai memotongnya tanpa sepatah kata pun.

"Aku tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Takdir memang kejam."

Alkohol mulai melunakkan lidahnya. Setelah gelas keempat, ia menatapku lekat-lekat dengan bibir bergetar ragu, sebelum akhirnya mulai bicara dengan suara sangat pelan.

"Kurasa aku belum pernah menceritakan ini padamu, tapi sebenarnya aku adalah anak kedua."

"Benarkah?" Aku sungguh tidak tahu.

Kakek dan nenekku meninggal sebelum aku lahir—hanya Heinz yang pernah melihat mereka, itu pun saat ia masih sangat kecil.

Kerabat kami di kanton tidak punya alasan untuk menceritakan hal ini.

Paman dan bibiku pun tidak pernah menyinggungnya. Aku jadi penasaran, bagaimana Ayah bisa mewarisi rumah ini di era di mana hak sulung begitu diagungkan?

"Benar. Kakakku meninggal saat aku... berusia delapan belas tahun?" Ia bergumam memastikan pada diri sendiri.

Rupanya, kakak laki-laki dan kakak ipar Ayah terserang wabah lokal sebelum aku lahir.

Sebagai pewaris berikutnya, ia dipanggil pulang untuk mengurus rumah dan pertanian.

Kepergian putra sulung membuat kakek-nenekku sangat terpukul hingga mereka meninggal sesaat sebelum si kembar lahir.

"Itulah sebabnya aku tahu betapa sakitnya harus menyerah pada impianmu karena sesuatu yang di luar kendalimu." Ia bicara seolah sedang menelan kesedihan yang tak kasat mata.

Aku yakin ia sangat mengerti. Ayahku dulunya adalah pemuda yang mengejar mimpinya sendiri. Ia pasti kabur dari rumah agar tidak perlu hidup di bawah bayang-bayang sebagai anak kedua.

"Kau tahu, Erich... dulu aku adalah seorang tentara bayaran."

"Hah? Ayah?!"

Aku pikir tidak ada lagi yang bisa mengejutkanku setelah fakta Elisa adalah seorang Changeling, namun harapanku pupus sebelum hari ini berakhir. Ayahku?

Petani teladan ini dulu seorang tentara bayaran?

Citra tentara bayaran di Kekaisaran Trialis tidaklah bagus; mereka dianggap penjagal karier yang mencari nafkah dari darah.

Ayah memang kuat, tapi aku tidak pernah membayangkan ia cocok berada di kelompok itu.

"Tujuh perang dan lima belas pertempuran kecil adalah semua yang kulalui dalam tiga tahun. Aku mengalahkan dua jenderal dan mendapatkan cukup uang. Itulah alasan kita bisa membeli lebih banyak tanah beberapa tahun lalu. Aku membeli Holter dari seorang kawan lama."

Hari ini benar-benar memusingkan. Informasi mengejutkan menghantamku bertubi-tubi.

Adikku seorang peri, teman masa kecilku melubangi telingaku, dan sekarang ayahku ternyata mantan tentara bayaran. Jika ini terus berlanjut, otak kecilku bisa meledak.

"Tapi ketika ayahku datang menangis padaku dengan kondisi hancur... aku tidak bisa menolak. Tangan yang dulu keras itu mencengkeramku dengan sangat lemah..."

Ayah menatap ke arah kejauhan. Aku bisa membayangkan mengapa seorang tentara bayaran yang sanggup mematahkan lengan prajurit lawan, justru tidak berdaya menghadapi tangan keriput seorang petani tua yang sekarat.

"Aku tidak pernah menyangka akan memaksamu melakukan hal yang sama."

Aku yakin Ayah juga menderita saat itu. Tentara bayaran memang sering dianggap dekat dengan bandit, tapi mereka adalah profesional yang bekerja dengan koordinasi kompi. Melanggar sumpah kepada rekan-rekan seperjuangan pasti sangat menyiksa baginya.

"Maafkan aku. Aku tahu kau punya keinginan sendiri. Aku sangat menyesal kami memaksakan nasib buruk ini padamu."

Melihat Ayah terisak, hatiku terasa sakit. Tidak ada orang tua yang sanggup melepas anaknya memikul beban utang yang mungkin tak akan lunas seumur hidup tanpa rasa bersalah. Namun demikian...

"Aku tidak melihatnya sebagai nasib buruk, Yah."

"Hah?"

Tekadku sudah bulat: aku akan menjadi sosok yang kuinginkan. Dan aku ingin menjadi kakak yang keren bagi Elisa.

Selain itu, utang kami memang besar, tapi bukan berarti tidak bisa dilunasi.

Aku bisa mendapatkan uang sebanyak yang kubutuhkan. Terlalu dini untuk menyerah pada keputusasaan.

"Aku ini kakak Elisa. Bukankah memang tugasku untuk pamer di depan adikku sendiri? Bagaimana mungkin aku membenci Ayah karena melakukan sesuatu yang memang ingin kulakukan?"

Aku mengucapkannya sambil tersenyum, lalu mencuri gelasnya dan menghabiskan sisa wiski di sana. Alkohol itu membakar tenggorokanku dan mendidih di perut.

"Tidak ada yang salah. Bukan Ayah, bukan Ibu, bahkan bukan Elisa. Jadi, tolong berhentilah meminta maaf. Lagipula, aku pergi ke ibu kota hanya untuk pamer."

Aku membuang rasa malu untuk menghibur Ayah yang sedang patah hati.

"Hah, begitu ya? Kau hanya ingin pamer?"

"Benar sekali. Dan setelah urusanku selesai, aku akan kembali untuk mengejar apa yang benar-benar kuinginkan. Aku bersumpah."

"Ha ha ha, benarkah?" Ia tertawa riang lalu tiba-tiba bangkit. Ia menyuruhku menunggu dan pergi ke ruang penyimpanan bawah tanah. Dengan kemampuan Listening-ku, aku tahu ia sedang menggali sesuatu.

Tak lama kemudian, Ayah kembali dengan tas yang berlumuran tanah.

Ia mengeluarkan sebilah pedang yang terbungkus kertas minyak. Meskipun hiasannya sudah dilepas, baja pedang itu berkilau indah di bawah cahaya lilin.

"Dulu aku memakainya sebelum aku berhenti. Tombak, perisai, dan baju besiku sudah kujual, tapi pedang ini kudapatkan setelah mengalahkan seorang jenderal sungguhan. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja," Ayah membanggakan senjatanya sambil membersihkan sisa minyak dengan kain lap.

"Pedang ini memang bukan sekelas Mystarille atau Mystic Blade, tapi kualitasnya sangat bagus. Pandai besi bilang ini dibuat dengan teknik tingkat tinggi bernama Pattern Welding."

Aku baru tahu belakangan bahwa teknik itu melibatkan penempaan berbagai senyawa logam yang dilapis menjadi satu bilah, menciptakan pedang yang kuat dan sangat tajam.

"Dulu kau menatapku seolah aku orang tua yang cerewet, tapi saat itu aku merasa sangat bahagia."

Maksudnya pasti saat festival musim gugur di mana aku berhasil membelah helm.

Saat itu aku memang heran mengapa ia menghabiskan satu Drachma untuk mentraktir semua orang. Namun sekarang aku mengerti.

Bagi seorang pria yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk mencari nafkah, melihat putranya sendiri menunjukkan bakat pendekar pedang yang luar biasa pasti membuatnya sangat bangga.

"Pedang ini milikmu sekarang."

Ia menyeka sisa minyak dan menyerahkannya padaku. Di sisi bilahnya, terdapat ukiran seekor serigala di samping sebuah batu nisan yang sudah agak pudar.

"Wicked Wolf?"

"Ya. Namanya diambil dari monster tua dalam legenda."

Aku pernah mendengar mitosnya. Seekor serigala yang berkeliaran di malam hari; meski ia akan memangsa orang-orang yang kasar, ia akan melindungi orang-orang lemah dan mereka yang menunjukkan rasa hormat ke tempat yang aman.

Pedang itu pasti diberi nama dengan harapan agar dapat menuntun penggunanya kembali kepada orang-orang yang menantikannya… Ironisnya, pedang itu justru berakhir di tanganku.

Bagaimanapun, ini adalah senjata yang luar biasa. Titik beratnya sangat seimbang meskipun bentuknya mencolok.

Satu ayunan saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa pedang ini tidak hanya ringan secara fisik, tetapi juga terasa "ringan" saat digerakkan.

Efektivitas pedang bergantung pada perpaduan berat dan kecepatan untuk menebas musuh, dan pedang ini adalah contoh sempurna dari keseimbangan tersebut.

Aku merasa seolah sanggup membelah helm yang terbuat dari Mystarille murni dengan senjata ini.

"Aku serahkan padamu. Jaga Elisa tetap aman untuk kami, Tuan Kakak." Setelah berkata demikian, Ayah menutup kembali botol wiskinya dengan rapi dan diam-diam mengembalikannya ke tempat persembunyian semula.

"Aku akan melakukannya." Saat ia bergumam tentang rasa pening karena terlalu banyak minum dan berjalan sempoyongan menuju kamar tidur, aku tetap berdiri dengan kepala tertunduk penuh hormat.


[Tips] Ada tiga jenis Bilah Mistis (Mystic Blades):

1.    Adamant Blades: Dibuat melalui proses magis yang dikenal sebagai Arcane Forging.

2.    Enhanced Blades: Pedang yang ditingkatkan secara permanen dengan sihir penguat.

3.    Conceptual Blades: Perwujudan fisik dari konsep "pedang" atau "tebasan" itu sendiri. Umumnya, orang-orang merujuk pada jenis pertama, kedua, atau gabungan keduanya saat membicarakan Bilah Mistis.

◆◇◆

Sebuah boneka latihan berdiri di hadapanku. Boneka itu terdiri dari satu set baju besi tua lusuh yang dililitkan pada inti kayu, telah dihantam ratusan, bahkan ribuan kali oleh para penjaga kanton selama bertahun-tahun.

Pelat logam bersisik itu bernoda darah yang telah lama mengering; aku berasumsi itu adalah kenang-kenangan terakhir dari bandit bodoh yang mencoba menyerang kanton kami.

Apa pun ceritanya, ia tidak bisa lagi bicara.

Yang kutahu hanyalah kayu di dalamnya sangat kokoh dan baju besi itu sendiri tetap mempertahankan bentuknya meski telah bertahun-tahun digunakan secara berlebihan oleh Pasukan Penjaga Konigstuhl.

Namun, ini sudah lebih dari cukup—setidaknya, tidak ada manusia yang sekuat balok kayu berlapis baja.

"Hup!" Aku tidak lagi berteriak atau melompat secara berlebihan; aku hanya mengayunkan pedang dengan lincah. Pedang digerakkan oleh kekuatan dada dan kaki, bukan sekadar lengan. Aku menggerakkan seluruh tubuh secara serempak, menjejakkan kaki dan menyerang dengan sudut yang tepat untuk memperkuat ayunan bawahku dengan energi dari tanah yang kupijak.

Dengan bentuk yang sempurna, bahkan seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun dapat membelah logam menjadi dua.

Bilah pedang menembus sasarannya tanpa tersangkut di kayu atau memberikan guncangan balik yang melumpuhkan tanganku. Yang tersisa hanyalah kepuasan luar biasa dari sebuah serangan yang elegan.

Angin sepoi-sepoi bertiup melewati kami, menyebabkan separuh bagian target meluncur turun, seolah baru menyadari bahwa ia telah terkena luka fatal.

Taring ramping Schutzwolfe benar-benar sesuai dengan namanya.

"Demi Dewi!" teriak si pandai besi dengan nada kagum.

Ia dengan senang hati menerima permintaanku yang tidak masuk akal untuk membuat sarung dan pegangan baru dalam dua hari, bahkan bersedia memoles pedang itu meski aku membangunkannya saat fajar menyingsing.

Bagus, ini sudah cukup.

Dengan pedang berkualitas seperti ini, memotong daging akan menjadi hal yang mudah selama aku mengikuti prinsip dasarnya.

Aku telah meningkatkan Hybrid Sword Arts hingga mencapai level VI: Expert dalam empat tahun pelatihanku.

Hasil ini sudah bisa diduga jika memperhitungkan seluruh Skills dan Traits pendukungku.

Kerendahan hati mungkin sebuah kebajikan, tetapi kemampuanku telah memberiku hak untuk menyandang pedang kesayangan Ayah.

Ke depannya, aku mungkin mengakui bahwa aku kurang berpengalaman, tetapi aku tidak akan pernah membiarkan diriku disebut lemah.

Aku telah bersumpah untuk melindungi adikku dan mewarisi impian Ayah dengan tanganku sendiri.

Aku bersumpah dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah menodai harga diri mereka maupun harga diriku.

"Wah, mataku tidak sedang menipuku, kan?"

Si pandai besi mendekat untuk melihatku menguji Schutzwolfe dengan dalih memeriksa kualitas karyanya, meskipun aku tahu itu hanya alasan.

Matanya yang terlatih tidak dapat menemukan satu pun goresan, apalagi lekukan pada logamnya.

"Bilahnya tetap lurus sempurna dan bahkan tidak ada goresan setelah membelah baju besi itu? Ini tidak normal."

Sejujurnya, bahkan pedang terbaik pun biasanya tidak dirancang untuk membelah baju besi menjadi dua, jadi keterkejutannya sangat beralasan.

Aku pun tidak akan mencoba aksi ekstrem seperti ini jika bukan untuk menguji batas kekuatannya. Namun kali ini saja, aku ingin merasakan sensasi mengayunkan pedang dengan kekuatan penuh.

"Nak, kau yakin kau bukan avatar dari Dewa Perang?"

"Tolonglah, aku ini Erich. Putra keempat Johannes, seorang petani dari kanton Konigstuhl."

Aku menyarungkan pedangku sambil tersenyum. Meskipun dibuat dengan tergesa-gesa, sarungnya sama bagusnya dengan hasil karya pandai besi ras Dvergar lainnya.

Tidak ada setitik debu logam atau serpihan kayu yang tertinggal pada bilah yang baru diasah itu; sarung barunya sangat pas.

"Menurutku, Dewa Penempa pasti telah memberkatimu dengan kasih sayangnya. Kau yakin tidak memiliki darah dewa?"

"Diamlah, bocah nakal. Jangan bicara sembarangan."

Aku merasa segar kembali. Sekarang, besok adalah harinya. Sebaiknya aku segera membantu menyeka air mata putri kecil kita yang masih menangis itu.


[Tips] Di tangan seorang ahli, sebilah pedang sanggup menebas rintangan apa pun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close