Henderson Scale 0.1
Henderson Scale 0.1 - Istilah untuk peristiwa yang
menggagalkan rencana awal namun tidak berdampak signifikan pada keseluruhan
cerita.
Namun, beberapa penyimpangan kecil dapat mengarah pada
konsekuensi yang lebih besar saat Skala Henderson berputar di luar kendali…
◆◇◆
Elisa sangat
sedih dan menderita. Tenggorokannya sakit karena terus berteriak, matanya perih
karena menangis, dan anggota tubuhnya lemas setelah mengamuk hebat—tetapi semua
rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan kesedihan di hatinya.
Selama ini, Elisa
tidak pernah mendapati keinginannya ditolak. Ia pasti mengerti jika ia meminta
sesuatu yang buruk; Mama dan Papa memang baik, tetapi mereka tetap akan
memarahinya jika ia melakukan kesalahan.
Namun kali ini,
ia hanya bisa berkubang dalam kebingungan.
Ia ingin Ayah
menepuk kepalanya. Ia ingin Ibu memeluknya erat saat tidur.
Ia ingin tinggal
bersama kakaknya, Heinz, dan istrinya, Mina.
Ia ingin bermain
dengan si kembar, Michael dan Hans, lalu meminta mereka membantunya naik ke
punggung Holter. Ia ingin bertemu dengan semua orang di desa.
Apakah
keinginan itu salah?
Karena tidak
mengerti, Elisa hanya bisa menangis. Air mata mengalir begitu deras hingga ia
bertanya-tanya apakah tenaganya akan habis.
Kehidupan
sehari-hari yang ia pikir akan berlangsung selamanya kini hancur berantakan,
dan itu sangat, sangat menakutkan. Amarah dan frustrasi membuatnya tak bisa
berhenti terisak.
Elisa senang
karena kakak tercintanya, Erich, ikut bersamanya. Ia suka saat Erich memeluknya
dan berjanji akan selalu melindunginya… tetapi Erich bisa melakukan itu di
rumah.
Sebaliknya, ia
justru jauh lebih bahagia karena mereka sudah berada di rumah.
Yang diinginkan
Elisa hanyalah tinggal di rumah mereka yang hangat bersama kakak laki-lakinya
yang baik hati. Ia membenci akademi itu.
Ia membenci
wanita berjubah merah yang terus mengucapkan hal-hal aneh.
Ia tidak
peduli dengan sihir. Ia tidak butuh rumah yang lebih besar dan mewah jika itu
berarti harus meninggalkan tempat ini.
Semua pakaian
lucu dan makanan lezat di dunia pun tak akan bisa membujuknya pergi.
Satu-satunya
permintaan Elisa adalah hidup bahagia bersama orang-orang yang ia cintai di
rumah kecil mereka yang indah.
Ayahnya kuat dan
baik; ibunya cantik dan pandai memasak; kakak-kakaknya lucu dan asyik diajak
bermain; bahkan ia baru saja mendapatkan kakak perempuan baru yang tahu
segalanya tentang mode. Elisa sudah sangat Bahagia.
Terlebih lagi, ia
tidak ingin meninggalkan teman-teman yang tinggal bersamanya.
Kadal merah lucu
yang menghuni tungku dan selalu menghangatkan Elisa di malam yang dingin.
Anjing hitam
besar di halaman yang selalu menangkap serangga dan tikus menakutkan; anjing
baik yang membiarkan Elisa bermain dengan ekor lebatnya setiap kali ia
sendirian di rumah.
Juga gadis kecil
yang lembut di sudut kamar dan kakek tua berambut putih yang selalu
mendengarkan ceritanya sejak ia mulai bisa bicara.
Elisa tidak ingin
mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Mereka semua sudah sangat baik
padanya.
Sudut pandang
gadis kecil itu sangatlah sempit: keluarga dan teman-temannya adalah seluruh
dunianya.
Direnggut dari
mereka terasa seperti jiwanya sedang diiris, dan tiap kepingannya dibawa ke
negeri jauh untuk tidak pernah kembali lagi.
Tak peduli
seberapa besar ia mencintai kakak yang menemaninya. Tak peduli seberapa
tertarik ia pada kota besar saat mendengar cerita Ayah.
Tak peduli ia
akhirnya bisa naik kereta pos yang megah. Ia tetap tidak ingin pergi.
Sayangnya, tak
peduli seberapa keras Elisa menendang atau berteriak, hari keberangkatan tetap
tiba.
Tidak ada yang
bisa menenangkannya: baik itu pakaian indah jahitan Ibu, permen es kesukaannya,
bahkan rambut palsu pemberian Mina pun tak mempan.
"Elisa,
tidak apa-apa. Kakak di sini bersamamu."
Digendong oleh
kakak kesayangannya biasanya membuat Elisa senang, tapi hari ini hanya
ketakutan yang ia rasakan.
Kakaknya sedang
membawanya ke suatu tempat yang tidak ingin ia kunjungi.
"Tidak!
Kakak, aku tidak mau! Aku
suka di sini!"
Elisa baru
menyadari betapa menakutkannya saat kakinya tidak menyentuh tanah. Pintu keluar
rumah yang ia pikir tak akan pernah ia tinggalkan kini semakin mendekat.
"Ini demi
kebaikanmu." Suara Erich terdengar kaku, seolah ia sedang meyakinkan
dirinya sendiri ketimbang adiknya.
Elisa sudah
mendengar kalimat itu berulang kali selama beberapa hari terakhir. Ia
mencengkeram erat pakaian perjalanan kakaknya. Kain linen yang kasar itu
menggores wajahnya, namun kehangatan di balik kain itu adalah satu-satunya
pegangan yang tersisa di dunianya.
Jika ini
benar-benar demi aku, mengapa semua orang melakukan hal yang membuatku sangat
tidak bahagia?
Elisa
benar-benar tidak paham.
"Kakak
janji, suatu hari nanti aku akan membawa kalian kembali ke sini. Apa Kakak
pernah membohongimu?"
Gadis kecil itu
tidak punya pilihan selain bergantung pada kakaknya dan janji yang
diucapkannya.
[Tips] Peri dan Roh tinggal di alam eksistensi yang
berbeda dari manusia biasa. Namun,
mereka selalu hadir meski tidak terlihat oleh mata telanjang.
◆◇◆
Melihat putri
bungsu mereka menangis di tengah tumpukan barang bawaan, keluarga itu
mengucapkan selamat tinggal dengan perasaan bersalah yang mendalam.
Hanna menyelipkan
sekantong kue panggang kesukaan putrinya. Mina menyematkan rambut palsu
usangnya ke rambut Elisa, tahu betul betapa gadis kecil itu mengagumi
keindahannya.
Heinz, putra
sulung, menyelimuti Elisa dengan jubah indah agar ia tidak kedinginan.
Michael dan Hans
memberikan sekantong penuh buah-buahan hutan yang mereka kumpulkan sendiri.
Johannes
mengalungkan sebuah jimat yang telah diberkati oleh Dewa Perjalanan ke leher
anak bungsunya.
Ia sengaja pergi
ke gereja dan memohon kepada uskup untuk mendapatkan kalung itu; melihat
lempengan perak berbentuk tongkat dan sepatu bot itu saja sudah cukup untuk
mengetahui harganya sangat mahal.
Jimat itu telah
diberikan kekuatan melalui Miracle. Pelancong lain pasti akan sangat
gembira menerima hadiah seperti itu, tetapi air mata seorang gadis muda tidak
peduli pada kegunaan mistisnya.
Elisa terus
berpegangan pada kaki mereka, pada pintu, lalu pada pagar dalam upaya putus asa
untuk bertahan, hingga akhirnya Erich berhasil membawanya masuk ke dalam kereta
yang megah.
Yang tersisa
hanyalah keluarga yang kesepian, meratapi ketidakberdayaan mereka sendiri,
sementara sesosok Methuselah memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu
yang dingin.
"Baiklah,
jangan khawatir. Aku akan menggunakan nama keluargaku untuk melindunginya
semampuku. Dia adalah murid resmiku."
Magus benar-benar tidak bisa memahami mereka.
Ia tidak mengerti prinsip apa yang membuat air mata orang tua itu mengalir,
atau emosi apa yang berkecamuk di dada para pemuda itu saat melepas saudara
mereka.
Wajar saja,
karena kaum Methuselah memang diciptakan seperti itu.
Emosi telah lama
meninggalkan mereka, dan indra fisik mereka pun tumpul demi mencegah pengikisan
jati diri dalam aliran keabadian yang menjemukan.
Baik yang fana
maupun yang abadi, semua makhluk selalu berubah—bahkan emosi pun berubah bentuk
saat disadari.
Namun Methuselah
hampir tidak peduli pada apa pun di luar satu minat yang melekat dalam jiwa
mereka.
Dalam praktiknya,
Agrippina tidak bisa memahami cinta kekeluargaan.
Bukan berarti
orang tuanya menyiksanya—meskipun membawa bayi berkeliling dunia selama satu
abad mungkin bisa dianggap penganiayaan bagi sebagian orang—tetapi bagi
Agrippina, pengetahuan abadi yang ia dapatkan adalah sebuah kemenangan telak
dalam "transaksi" tersebut.
Namun, selama
perjalanan panjang itu, ia tidak pernah merasakan momen kehangatan orang tua.
Mereka tidak pernah memangku atau memegang tangannya.
Tidur di samping
mereka adalah hal yang tak terpikirkan. Percakapan mereka selalu mengikuti tata
krama aristokrasi; jujur namun tanpa kehangatan.
Sebagai penikmat
sastra, Agrippina memahami konsep psikologis cinta dan mengapresiasinya dalam
fiksi, namun emosi itu tetap asing baginya.
Saat mencoba
mengingat pesan dari orang tuanya, ia hanya teringat satu nasihat bijak:
"Sembunyikan
selalu belati pengetahuan di dalam pikiranmu. Hanya itu pilihan terakhirmu;
senjata yang tidak akan pernah bisa dirampas oleh siapa pun."
Ayah Agrippina
telah menjejalkan segala hal tentang sihir, politik, dan ekonomi ke kepalanya.
Ia tidak tahu
apakah itu pepatah ciptaan ayahnya sendiri atau warisan turun-temurun, tapi
kata-kata itu terukir sangat dalam di benaknya.
Kalau
dipikir-pikir, mungkin transfer pengetahuan ini adalah bentuk sentimen
tersendiri.
Biasanya,
kaum bangsawan tidak membesarkan anak mereka sendiri; mereka menyewa
cendekiawan untuk itu.
Kekayaan
keluarga du Stahl dianggap "tak ternilai" oleh kerajaan, jadi Tuan
Stahl pasti sanggup menyewa guru terbaik. Namun, ia memilih mendidik putrinya
secara pribadi.
Aneh
sekali. Sepertinya aku baru saja menyaksikan sebuah drama cinta orang tua yang
cukup intim,
pikir Agrippina sambil melihat keluarga petani itu melepas kepergian Erich dan
Elisa.
Mungkin
pengetahuan yang akan ia berikan pada kakak beradik itu kelak juga akan menjadi
bentuk emosinya sendiri.
"Aku
bersumpah: Aku akan menjadikannya seorang Magus yang hebat."
Mempelajari
hal baru selalu menyenangkan bagi Agrippina. Meskipun ia tidak memahami
kesedihan keluarga itu, ia tidak bisa menutupi rasa antusiasnya akan
"proyek" barunya ini.
Agrippina
kembali ke keretanya. Ia mengaktifkan Mantra, dan roda pun mulai
berputar.
Akhirnya,
waktu kepulangannya tiba setelah dua puluh tahun perjalanan.
Perjalanan pulang
ini pasti akan penuh dengan penemuan yang menakjubkan.
penyihir berwajah
datar itu menekan kegembiraannya. Alih-alih tersenyum, ia memilih untuk
mengembuskan asap rokoknya ke udara.
[Tips] Demi melepaskan diri dari belenggu kehidupan kekal, banyak Methuselah yang memenuhi pikiran mereka dengan pemikiran hedonistik yang instan.



Post a Comment