NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 4.5 Bonus Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Di Atas Pangkuan



Sejak Elisa datang ke Ibukota Kekaisaran, ada satu waktu yang paling ia sukai. Waktu belajar. Namun, bukan berarti ia menyukai semua jenis pelajaran.

Sang Guru terkadang merangkai kata-kata yang sulit, dan saat Elisa menjawab tidak mengerti, Guru akan memiringkan kepala dengan ekspresi seolah bertanya, "Kenapa bisa tidak tahu?" Hal itu sungguh menjengkelkan bagi Elisa.

Sebenarnya, Sang Guru tidak pernah marah atau meremehkannya saat ia tidak paham. Guru tidak akan pernah membiarkannya begitu saja; setelah berpikir sejenak dengan wajah serius, beliau akan mengajarinya kembali hingga Elisa mengerti.

Hanya saja, ada rasa tidak nyaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Elisa tidak suka diperlakukan seperti anak kecil yang "disayangkan" karena belum mampu memahami sesuatu.

Namun, ia sangat menyukai waktu saat kakaknya menemaninya belajar mandiri. "Elisa sudah semakin besar, ya."

Jika Elisa meminta duduk di pangkuan karena ingin membaca buku bersama, kakaknya—Erich yang lima tahun lebih tua—hampir tidak pernah menolak, kecuali saat ia benar-benar sibuk. Erich akan menghentikan pekerjaannya, merapal sihir pembersih noda pada pakaiannya, lalu mengangkat Elisa dengan lembut.

Dan setiap kali, ia akan memuji betapa Elisa telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Itu adalah sebuah fakta. Elisa adalah seorang Changeling, ras di mana jiwa peri bersemayam di dalam rahim manusia.

Karena itu, ia memiliki bagian yang dekat dengan peri—makhluk yang disebut sebagai fenomena atau konsep hidup.

Akibatnya, cangkang biologisnya, yakni tubuh manusia, sering kali tertarik dan bergerak mengikuti keinginan jiwa dan mentalnya.

Selama ini, jiwa Elisa merasa sangat bahagia dalam posisinya sebagai putri bungsu yang manis dan adik kecil yang selalu dijaga, sehingga ia secara tidak sadar memperlambat "pertumbuhannya".

Seorang Changeling adalah makhluk yang bisa melakukan hal-hal yang bahkan tidak bisa dilakukan manusia meski mereka menginginkannya. Namun, sejak datang ke Ibukota, keadaan mulai berubah.

Untuk melindungi kakaknya yang sering melakukan hal-hal berbahaya jika dibiarkan, Elisa harus menjadi kuat.

Keinginannya tidak akan terkabul jika ia terus menjadi anak kecil. Begitu ia menyadari hal itu, tubuhnya mulai tumbuh untuk mencapai tingkat di mana ia bisa mengerahkan kekuatan perinya tanpa kendala.

Namun bagi Elisa, pertumbuhan untuk mencapai tujuan itu terasa menyenangkan sekaligus sangat menyebalkan.

Pangkuan kakaknya yang dulu terasa sangat pas dan nyaman, kini mulai terasa sempit.

Dulu, ia hanya perlu duduk dan semuanya terasa sempurna seolah pangkuan itu memang diciptakan hanya untuknya. Sekarang, ia harus bergeser dua-tiga kali untuk menemukan posisi yang pas, dan itu membuatnya merasa sangat sedih.

Meskipun ia mendapatkan banyak hal, ia memahami dari lubuk jiwanya bahwa sesuatu yang sangat berharga dan tak tergantikan sedang hilang.

"Kalau begini terus, mungkin Elisa akan segera menyalip tinggi badanku, ya."

Saat mereka membaca buku sihir bersama, ada bagian yang tidak dipahami Erich. Karena itu adalah materi yang pernah diajarkan Guru sebelumnya, Elisa memberitahunya.

Erich pun memujinya dengan berlebihan seperti biasanya. Namun, kata-kata selanjutnya membuat dada Elisa terasa sesak. Sebab sedikit demi sedikit, ia bukan lagi "Elisa yang kecil dan imut" milik kakaknya.

"……Anu, Kakak."

"Hmm? Ada apa, Elisa?"

"Elisa... bertambah tinggi sedikit. Kemarin saat diundang ke kediaman Lord Leisenitz, penjahit di sana yang mengatakannya."

"Wah! Bukankah itu bagus?"

Demi mendapatkan kembali rasa kekanak-kanakannya, Elisa sengaja mengubah kata ganti dirinya menjadi nama kecilnya, bukan lagi "Watakushi" yang sudah mulai biasa ia gunakan.

Namun, kakaknya hanya tersenyum polos dan mengelus kepalanya.

Bagi Erich, pertumbuhan adalah hal yang patut disyukuri, bukan sesuatu yang menyedihkan.

Setiap kali membuat pakaian baru, pertumbuhan itu terasa semakin nyata.

Tubuh gadis kecil yang bulat mulai bersiap menghadapi masa pubertas; tangan dan kakinya mulai memanjang, dan perutnya yang dulu tembam mulai ramping.

Wajahnya pun perlahan menjadi lebih dewasa, hingga penjahit memujinya bahwa ia sudah mulai cocok memakai riasan.

Namun, setiap kali melihat pakaian yang ia buat sejak pertama kali datang ke Ibukota—pakaian yang kini sudah terlalu pendek hingga mata kakinya terlihat canggung—Elisa merasa sangat sedih.

Seolah kenyataan sedang menghujamnya bahwa ia tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu.

"……Tapi, Elisa tidak mau jadi lebih besar." "Eh? Kenapa begitu?"

"Karena kalau sudah dewasa dan jadi besar, Elisa tidak akan muat lagi di pangkuan Kakak."

Mungkin karena itulah, ia akhirnya membocorkan keluh kesah yang selama ini ia tahan. Ia tidak sanggup menahan kesedihan itu hingga hidungnya tersedu kecil.

Akan tetapi, kakaknya hanya tertawa lembut dan mengelus kepalanya. Ia tertawa seolah berkata Elisa sangat lucu.

"Dengar, Elisa. Aku ini lima tahun lebih tua darimu."

"Aku sudah tahu hal itu……"

"Ini adalah hal yang tidak akan pernah berubah. Berapa pun usiamu nanti, aku akan tetap lebih tua dan tetap menjadi kakakmu. Karena aku juga akan tumbuh besar, jadi berapa pun usiamu, aku akan selalu mendudukkanmu di pangkuanku."

"……Benarkah?"

"Tentu saja. Aku rasa aku juga akan tumbuh cukup tinggi nanti. Lihat saja Ayah dan kakak-kakak kita, mereka semua tinggikan?"

Erich menatapnya dengan pandangan hangat seolah menyuruhnya untuk tidak khawatir. Elisa pun terus melontarkan pertanyaan.

"Lalu, kalau Elisa sudah dewasa, apakah Kakak tetap mau memangku Elisa?"

"Tentu saja."

"Bahkan kalau Elisa sudah jadi bibi-bibi?"

"Tidak masalah."

"Meskipun sudah jadi nenek-nenek keriput?"

"Saat itu aku juga sudah jadi kakek-kakek. Selama Elisa tidak keberatan, tentu saja boleh."

Elisa merasa sangat bahagia mendengar jawaban tanpa ragu itu. Jika kakaknya mau menerimanya meski ia bertambah besar, maka menjadi dewasa tidak lagi terasa menakutkan.

Namun, kalimat Erich selanjutnya benar-benar merusak suasana.

"Lagi pula, suatu hari nanti pasti akan muncul seseorang yang lebih hebat dariku untuk Elisa. Seseorang yang lebih kuat dariku, lebih jago sihir daripada Lady Agrippina, dan juga punya banyak uang……"

Mendengar daftar syarat minimal yang disebutkan kakaknya untuk menjadi "orang yang hebat bagi Elisa"—syarat yang bahkan sulit dilampaui oleh Putra Mahkota sekalipun—Elisa menggembungkan pipinya dengan kesal.

Elisa hanya ingin berada di pangkuan kakaknya. Ia ingin melindungi kakaknya dan dipuji olehnya.

Tapi kakaknya malah selalu membicarakan orang lain yang akan melindunginya melebihi dirinya sendiri. Padahal, orang seperti itu tidak akan pernah ada di dunia ini.

"Orang tuanya juga harus baik, meski latar belakang keluarga tidak masalah, asalkan tidak menjahatimu…… Aduh!? Sakit!? Eh, Elisa!? Kenapa tiba-tiba mencubit paha Kakak!?"

"Tidak tahu!"

Adik perempuan yang pahanya baru saja dicubit oleh kakaknya itu memalingkan wajah sambil tetap menggembungkan pipi.

Itu adalah pernyataan keras bahwa ia tidak akan memaafkan kakaknya untuk sementara waktu.

Jika kakaknya ingin dimaafkan, ia harus mengajaknya jalan-jalan, mendudukkannya di pangkuan sambil memakan es krim, lalu menyisir rambutnya, dan kemudian……


Tips Tubuh seorang Changeling tertarik oleh kondisi mental mereka, sehingga dengan kemauan yang kuat, mereka sebenarnya bisa mempertahankan wujud fisik tertentu. Sebab apa pun ras inangnya, jiwa mereka tetaplah murni seorang Peri.



Previous Chapter | ToC | End V4.5

Post a Comment

Post a Comment

close