Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Di Atas Pangkuan
Sejak Elisa
datang ke Ibukota Kekaisaran, ada satu waktu yang paling ia sukai. Waktu
belajar. Namun, bukan berarti ia menyukai semua jenis pelajaran.
Sang Guru
terkadang merangkai kata-kata yang sulit, dan saat Elisa menjawab tidak
mengerti, Guru akan memiringkan kepala dengan ekspresi seolah bertanya,
"Kenapa bisa tidak tahu?" Hal itu sungguh menjengkelkan bagi Elisa.
Sebenarnya, Sang
Guru tidak pernah marah atau meremehkannya saat ia tidak paham. Guru tidak akan
pernah membiarkannya begitu saja; setelah berpikir sejenak dengan wajah serius,
beliau akan mengajarinya kembali hingga Elisa mengerti.
Hanya saja, ada
rasa tidak nyaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Elisa tidak suka
diperlakukan seperti anak kecil yang "disayangkan" karena belum mampu
memahami sesuatu.
Namun, ia sangat
menyukai waktu saat kakaknya menemaninya belajar mandiri. "Elisa sudah
semakin besar, ya."
Jika Elisa
meminta duduk di pangkuan karena ingin membaca buku bersama, kakaknya—Erich
yang lima tahun lebih tua—hampir tidak pernah menolak, kecuali saat ia
benar-benar sibuk. Erich akan menghentikan pekerjaannya, merapal sihir
pembersih noda pada pakaiannya, lalu mengangkat Elisa dengan lembut.
Dan setiap kali,
ia akan memuji betapa Elisa telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Itu
adalah sebuah fakta. Elisa adalah seorang Changeling, ras di mana jiwa
peri bersemayam di dalam rahim manusia.
Karena itu, ia
memiliki bagian yang dekat dengan peri—makhluk yang disebut sebagai fenomena
atau konsep hidup.
Akibatnya,
cangkang biologisnya, yakni tubuh manusia, sering kali tertarik dan bergerak
mengikuti keinginan jiwa dan mentalnya.
Selama ini, jiwa Elisa
merasa sangat bahagia dalam posisinya sebagai putri bungsu yang manis dan adik
kecil yang selalu dijaga, sehingga ia secara tidak sadar memperlambat
"pertumbuhannya".
Seorang Changeling
adalah makhluk yang bisa melakukan hal-hal yang bahkan tidak bisa dilakukan
manusia meski mereka menginginkannya. Namun, sejak datang ke Ibukota, keadaan
mulai berubah.
Untuk melindungi
kakaknya yang sering melakukan hal-hal berbahaya jika dibiarkan, Elisa harus
menjadi kuat.
Keinginannya
tidak akan terkabul jika ia terus menjadi anak kecil. Begitu ia menyadari hal
itu, tubuhnya mulai tumbuh untuk mencapai tingkat di mana ia bisa mengerahkan
kekuatan perinya tanpa kendala.
Namun bagi Elisa,
pertumbuhan untuk mencapai tujuan itu terasa menyenangkan sekaligus sangat
menyebalkan.
Pangkuan kakaknya
yang dulu terasa sangat pas dan nyaman, kini mulai terasa sempit.
Dulu, ia hanya
perlu duduk dan semuanya terasa sempurna seolah pangkuan itu memang diciptakan
hanya untuknya. Sekarang, ia harus bergeser dua-tiga kali untuk menemukan
posisi yang pas, dan itu membuatnya merasa sangat sedih.
Meskipun ia
mendapatkan banyak hal, ia memahami dari lubuk jiwanya bahwa sesuatu yang
sangat berharga dan tak tergantikan sedang hilang.
"Kalau
begini terus, mungkin Elisa akan segera menyalip tinggi badanku, ya."
Saat mereka
membaca buku sihir bersama, ada bagian yang tidak dipahami Erich. Karena itu
adalah materi yang pernah diajarkan Guru sebelumnya, Elisa memberitahunya.
Erich pun
memujinya dengan berlebihan seperti biasanya. Namun, kata-kata selanjutnya
membuat dada Elisa terasa sesak. Sebab sedikit demi sedikit, ia bukan lagi
"Elisa yang kecil dan imut" milik kakaknya.
"……Anu,
Kakak."
"Hmm? Ada
apa, Elisa?"
"Elisa...
bertambah tinggi sedikit. Kemarin saat diundang ke kediaman Lord Leisenitz,
penjahit di sana yang mengatakannya."
"Wah!
Bukankah itu bagus?"
Demi mendapatkan
kembali rasa kekanak-kanakannya, Elisa sengaja mengubah kata ganti dirinya
menjadi nama kecilnya, bukan lagi "Watakushi" yang sudah mulai biasa
ia gunakan.
Namun, kakaknya
hanya tersenyum polos dan mengelus kepalanya.
Bagi Erich,
pertumbuhan adalah hal yang patut disyukuri, bukan sesuatu yang menyedihkan.
Setiap kali
membuat pakaian baru, pertumbuhan itu terasa semakin nyata.
Tubuh gadis kecil
yang bulat mulai bersiap menghadapi masa pubertas; tangan dan kakinya mulai
memanjang, dan perutnya yang dulu tembam mulai ramping.
Wajahnya pun
perlahan menjadi lebih dewasa, hingga penjahit memujinya bahwa ia sudah mulai
cocok memakai riasan.
Namun, setiap
kali melihat pakaian yang ia buat sejak pertama kali datang ke Ibukota—pakaian
yang kini sudah terlalu pendek hingga mata kakinya terlihat canggung—Elisa
merasa sangat sedih.
Seolah kenyataan
sedang menghujamnya bahwa ia tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu.
"……Tapi, Elisa
tidak mau jadi lebih besar." "Eh? Kenapa begitu?"
"Karena
kalau sudah dewasa dan jadi besar, Elisa tidak akan muat lagi di pangkuan
Kakak."
Mungkin karena
itulah, ia akhirnya membocorkan keluh kesah yang selama ini ia tahan. Ia tidak
sanggup menahan kesedihan itu hingga hidungnya tersedu kecil.
Akan tetapi,
kakaknya hanya tertawa lembut dan mengelus kepalanya. Ia tertawa seolah berkata
Elisa sangat lucu.
"Dengar, Elisa.
Aku ini lima tahun lebih tua darimu."
"Aku sudah
tahu hal itu……"
"Ini adalah
hal yang tidak akan pernah berubah. Berapa pun usiamu nanti, aku akan tetap
lebih tua dan tetap menjadi kakakmu. Karena aku juga akan tumbuh besar, jadi
berapa pun usiamu, aku akan selalu mendudukkanmu di pangkuanku."
"……Benarkah?"
"Tentu saja.
Aku rasa aku juga akan tumbuh cukup tinggi nanti. Lihat saja Ayah dan
kakak-kakak kita, mereka semua tinggikan?"
Erich menatapnya
dengan pandangan hangat seolah menyuruhnya untuk tidak khawatir. Elisa pun
terus melontarkan pertanyaan.
"Lalu, kalau
Elisa sudah dewasa, apakah Kakak tetap mau memangku Elisa?"
"Tentu
saja."
"Bahkan
kalau Elisa sudah jadi bibi-bibi?"
"Tidak
masalah."
"Meskipun
sudah jadi nenek-nenek keriput?"
"Saat itu
aku juga sudah jadi kakek-kakek. Selama Elisa tidak keberatan, tentu saja
boleh."
Elisa merasa
sangat bahagia mendengar jawaban tanpa ragu itu. Jika kakaknya mau menerimanya
meski ia bertambah besar, maka menjadi dewasa tidak lagi terasa menakutkan.
Namun, kalimat
Erich selanjutnya benar-benar merusak suasana.
"Lagi pula,
suatu hari nanti pasti akan muncul seseorang yang lebih hebat dariku untuk Elisa.
Seseorang yang lebih kuat dariku, lebih jago sihir daripada Lady Agrippina, dan
juga punya banyak uang……"
Mendengar daftar
syarat minimal yang disebutkan kakaknya untuk menjadi "orang yang hebat
bagi Elisa"—syarat yang bahkan sulit dilampaui oleh Putra Mahkota
sekalipun—Elisa menggembungkan pipinya dengan kesal.
Elisa hanya ingin
berada di pangkuan kakaknya. Ia ingin melindungi kakaknya dan dipuji olehnya.
Tapi kakaknya
malah selalu membicarakan orang lain yang akan melindunginya melebihi dirinya
sendiri. Padahal, orang seperti itu tidak akan pernah ada di dunia ini.
"Orang
tuanya juga harus baik, meski latar belakang keluarga tidak masalah, asalkan
tidak menjahatimu…… Aduh!? Sakit!? Eh, Elisa!? Kenapa tiba-tiba mencubit paha
Kakak!?"
"Tidak
tahu!"
Adik perempuan
yang pahanya baru saja dicubit oleh kakaknya itu memalingkan wajah sambil tetap
menggembungkan pipi.
Itu adalah
pernyataan keras bahwa ia tidak akan memaafkan kakaknya untuk sementara waktu.
Jika kakaknya
ingin dimaafkan, ia harus mengajaknya jalan-jalan, mendudukkannya di pangkuan
sambil memakan es krim, lalu menyisir rambutnya, dan kemudian……
【Tips】
Tubuh seorang Changeling tertarik oleh kondisi mental mereka, sehingga
dengan kemauan yang kuat, mereka sebenarnya bisa mempertahankan wujud fisik
tertentu. Sebab apa pun ras
inangnya, jiwa mereka tetaplah murni seorang Peri.
Previous Chapter | ToC | End V4.5



Post a Comment