NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 2 Epilog

Epilog


Akhir — Adegan terakhir dari sebuah sesi. Tidak peduli jalan mana yang ditempuh, ini adalah pemberhentian terakhir.

Apakah malam itu berakhir dengan kemenangan PC yang menggembirakan atau kekalahan yang menyedihkan, akhir selalu datang. TRPG adalah skrip yang belum selesai tanpa jaminan hasil, dan akhir cerita adalah contoh utamanya. Tidak adanya jaminan "akhir yang bahagia" adalah salah satu kenyataan pahit dari permainan papan.

◆◇◆

Dipeluk erat, gadis itu memejamkan mata dan menarik napas panjang. Sesuatu di dalam dirinya membisikkan bahwa ia tidak akan pernah menghirup udara lagi setelah ini.

Namun, ia tidak menderita. Bahkan saat tangan dan kakinya mulai hancur, ia tidak merasakan sakit—hanya kedamaian. Anak laki-laki yang memeluknya saat mereka jatuh dari langit terasa begitu hangat, dan ia bisa merasakan kebaikan di mata biru yang indah itu.

"Permisi... Tuan Muda?"

Setelah serangan itu, ia akhirnya mampu melihat siapa sosok yang mendekapnya. Dia sama sekali bukan ayahnya—hanya orang asing malang yang terjebak dalam kekacauan ini.

"Ada apa?" tanya bocah itu.

"Aku sangat lelah," jawabnya lirih.

Sejak awal, keduanya memang tidak mirip. Rambut ayahnya jauh lebih panjang dan warna emasnya lebih redup, seperti cahaya bulan purnama. Anak laki-laki ini jauh lebih muda, dan suara mereka pun berbeda sama sekali.

Namun, saat ia didekap seperti ini, ia merasa seolah telah kembali ke pelukan ayahnya. Hal itu membuat gadis merasa bahagia.

"A... aku yakin begitu. Jika kau lelah, sebaiknya kau beristirahat."

Suara anak laki-laki itu terdengar seperti sedang menahan tangis. Tak lama kemudian, ia benar-benar mendengar isak tangisnya. Gadis itu menganggap ini konyol.

Anak laki-laki ini tidak perlu menahan diri, dan lebih tidak perlu lagi menangis untuknya. Bagaimanapun juga, ia merasa sangat diberkati.

"Kurasa aku bisa melakukannya," katanya.

Sejujurnya, gadis itu ingin mengucapkan terima kasih. Di tengah kemarahan dan kegilaannya tadi, akhir yang setenang ini sungguh tak terbayangkan.

Sisa-sisa kesadaran yang ia miliki memberitahunya bahwa kematiannya seharusnya menyakitkan. Namun, ini jauh lebih baik dari apa pun yang pernah ia harapkan.

"Tapi," ucapnya, "sebelum itu..."

Gadis itu ingin mengucapkan terima kasih, namun ia mengurungkan niatnya.

Ia merasa anak laki-laki ini akan semakin sedih jika ia melakukannya.

Ia lebih suka melihat mata indah itu berseri karena gembira daripada tenggelam dalam kesedihan.

Meskipun ia tidak tahu mengapa, keinginan ini muncul tulus dari lubuk hatinya.

"Maukah kau menyanyikan sebuah lagu untukku?" pintanya. "Saat aku tidur... aku selalu tidur dengan nyenyak jika seseorang bernyanyi untukku."

Sebagai ganti rasa terima kasih, ia mengajukan sebuah permintaan. Kaum bangsawan hampir tidak pernah tidur bersama orang tua mereka, tetapi ayah gadis itu sering membawanya ke tempat tidur untuk menyanyikan lagu pengantar tidur.

"Aku bukan penyanyi yang baik," jawab anak laki-laki itu.

"Aku tidak keberatan," balasnya. "Aku hanya ingin kau yang menyanyikannya... itu saja."

Gadis itu merasa permintaannya mungkin terlalu berlebihan. Di sinilah ia, sudah menikmati akhir yang tenang; siapakah dirinya hingga berani meminta sebuah lagu sebagai tambahan?

"Wahai malam yang tenang... wahai malam yang lembut..."

Namun, bocah itu tetap bernyanyi. Gadis itu belum pernah mendengar lirik sesederhana dan tanpa hiasan ini sebelumnya, tetapi ia merasa bahwa orang-orang biasa yang baik di negeri ini sering menyanyikan lagu ini untuk menidurkan anak-anak mereka.

"Wahai malam yang diterangi rembulan... biarkan lengan cahayamu yang penuh kasih mendekap kami... biarkan jiwa-jiwa yang tertidur beristirahat dengan tenang..."

Anak laki-laki itu bernyanyi, bahkan jemarinya menepuk-nepuk kepala gadis dengan lembut. Tangan itu lebih kecil dan lebih kasar daripada tangan dalam ingatannya, tetapi tetap saja, sentuhan itu membuatnya merasa utuh.

Gadis itu benar-benar merasa seolah sedang terlelap seiring tubuhnya mulai meluruh.

Setelah anggota tubuhnya memudar menjadi debu, seluruh raga gadis mulai berubah menjadi bintik-bintik cahaya pucat yang menari di udara, tidak akan pernah kembali lagi ke bumi. Ikatan-ikatan kutukan yang kosong kini saling tumpang tindih, seolah mengutuk gadis yang telah berhasil lolos dari cengkeraman mereka.

"Selamat malam," bisiknya penuh kebahagiaan.

Akhirnya, ia menemukan tidur nyenyak yang akan menemaninya selamanya.

Saat kepalanya menghilang sepenuhnya, sebuah batu jatuh ke pangkuan anak laki-laki itu. Itu adalah batu permata berwarna biru es yang sangat disukai gadis.

Jejak terakhir dari Changeling yang pernah dicintai dengan nama Helga itu berkilau bangga di bawah sinar bulan, seolah berbisik bahwa memang beginilah seharusnya segalanya berakhir.


[Tips] Saat makhluk agung menemui ajalnya, emosi yang kuat dapat menyatu menjadi jejak fisik keberadaan mereka.

Kristal sentimen yang sangat langka ini pasti akan melindungi siapa pun yang menggunakannya dengan hasrat tulus yang sama seperti saat ia tercipta.







Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close