Masa Kanak-Kanak
Musim Gugur, Usia Tiga Belas
Lembar Karakter — Selembar kertas yang digunakan untuk mencatat segala hal,
mulai dari HP dan MP hingga barang habis pakai. Sering kali,
lembar ini digunakan untuk mencatat EXP yang diberikan oleh GM, dan pada
dasarnya berfungsi sebagai buku harian yang merekam jejak petualangan
seseorang.
Pentingnya
pelacak pengalaman tidak perlu dijelaskan lagi, namun coretan di bagian
"Catatan" bisa menjadi pengingat tentang petualangan yang telah lama
berlalu setelah sebuah kampanye berakhir. Mengingat nilai fungsional dalam
permainan dan sentimen yang tak ternilai, catatan ini harus disimpan di tempat
yang aman.
◆◇◆
Gandum
yang melimpah menghiasi tanah, sementara angin sepoi-sepoi yang sejuk membelai
tangkai-tangkai emas. Saat itu adalah musim tersibuk di Kekaisaran. Rambut emas
Dewi Panen tampak tumbuh subur seiring para petani bersiap untuk memanen.
Di
kanton-kanton pedesaan, keluarga petani bekerja dengan penuh kebanggaan untuk
memamerkan hasil kerja keras mereka selama setahun. Mereka merayakan
berakhirnya musim panas yang hangat dan dimulainya musim gugur yang tenang
tanpa badai. Bulan-bulan ini menjanjikan imbalan besar; hanya pada saat seperti
inilah setiap tetes keringat terasa semanis nektar.
Kereta-kereta
yang membawa biji-bijian hasil pajak berlalu-lalang, sementara karavan pedagang
menjajakan barang serupa ke pelosok negeri. Para pengawal kekaisaran berpatroli
di jalan raya yang sibuk sepanjang waktu. Suara derap langkah kuda yang
bersemangat terdengar di mana-mana.
Namun, hiruk pikuk musim gugur juga mengundang orang-orang
tidak bermoral untuk mencari keuntungan besar dengan cara instan.
Di sebuah jalan sederhana yang bercabang dari jalan raya
utama menuju ibu kota, sekelompok pria bersiap siaga. Jalan setapak itu
membelah lembah di antara dua bukit landai, menciptakan medan yang penuh dengan
titik buta.
Para pria itu adalah tentara bayaran, namun banyak orang pada
masa itu percaya bahwa kejahatan paling keji sekalipun adalah peluang mudah
selama mereka tidak tertangkap.
Selama tidak ada saksi yang menyebarkan berita, para tentara
bayaran ini tidak ragu terjun ke dunia kriminal.
Tiap tahun, beberapa kanton melaporkan kepada magistrat di
musim semi bahwa bandit telah menguras habis persediaan makanan mereka selama
musim dingin. Tragisnya, para pelaku hampir selalu berhasil menghilang sebelum
pasukan kekaisaran tiba.
Tiga puluh anggota kelompok ini pun tidak berbeda. Meski
jalan yang mereka awasi sempit, ada beberapa kanton dan kota kecil yang
terbentang di depan.
Mereka menantikan kereta pengangkut pajak atau karavan
pedagang ambisius yang membawa makanan dan anggur eksotis untuk festival panen.
Apalagi para penjaga patroli hanya fokus pada jalan raya
utama yang menghubungkan kota-kota besar.
Daerah
pelosok dan jalanan yang terlupakan jarang dikunjungi tentara terlatih. Musim
ini saja, para tentara bayaran ini sudah berhasil merampok tiga kali.
Satu
adalah iring-iringan kereta pajak berisi gandum hitam dan pakan ternak yang
membosankan. Dua lainnya adalah karavan pedagang kecil.
Hasil
jarahan mereka sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memberi makan kelompok
yang berjumlah kurang dari empat puluh orang itu, namun mereka tetap haus akan
mangsa baru.
Jarahan
sebelumnya terasa mengecewakan. Karavan pertama hanya berisi ikan kering dari
laut selatan yang tidak mereka sukai. Karavan terakhir memang membawa banyak
minuman keras, tapi sayangnya sebagian besar hanya bir tawar yang terasa asam.
Terlebih
lagi, mereka merasa kecewa karena tidak ada wanita. Memang ada beberapa wanita
di kereta yang mereka serang, tetapi semuanya adalah penyihir yang melawan
sampai mati sehingga tidak layak untuk ditawan.
Saat
sedang bosan dan menggerutu, mereka melihat sepasang pengembara. Walaupun kedua
sosok kecil itu berpakaian sederhana, kuda yang mereka tunggangi sangatlah
megah.
Sekali
melihat kuda perang hitam yang gagah itu, para pejuang terlatih tersebut
langsung tahu nilainya. Kuda itu adalah hadiah yang terlalu mewah untuk
dikendalikan oleh sepasang anak-anak.
Meskipun
kuda jantan itu sendiri bisa mendatangkan untung besar, penampilan para
penunggangnya pun cukup rapi saat diamati dari dekat. Pakaian perjalanan mereka
bersih dan tanpa noda.
Salah
satu bandit berbisik, "Mereka pasti anak haram bangsawan."
Kuda
perang mewakili kekuatan militer suatu negara, jadi tidak mudah untuk
mendapatkannya. Menunggangi binatang seperti itu dengan pakaian yang tetap
bersih menandakan kekayaan yang besar. Karena tidak ada kereta pengawal,
anak-anak itu dianggap punya uang namun tidak punya kekuasaan politik.
Dengan
kata lain, mereka adalah sasaran empuk. Para bandit menyeringai, membayangkan
pundi-pundi emas yang akan segera mereka jarah.
Didorong
keserakahan, para pria itu mengambil posisi. Sekelompok kecil akan mengejar
target ke lembah, sementara sisanya mengepung dari sisi lain. Taktik mereka
sederhana namun mematikan. Mengepung musuh adalah strategi klasik yang tidak
akan pernah mereka tinggalkan.
Delapan
orang bersembunyi di balik bayangan batu besar, menunggu anak-anak itu lewat
untuk menembak dari belakang.
Tujuan
mereka adalah melukai penunggangnya tanpa mengenai kuda-kuda berharga itu.
Manusia membenci rasa sakit, dan ancaman itu biasanya membuat orang yang lemah
membeku atau melarikan diri.
Kecurigaan
akan adanya jebakan tidak akan banyak membantu korban. Kereta kuda memiliki
radius putar yang besar, dan lereng bukit membuat pelarian menjadi rumit.
Para
pencuri sudah menyiapkan tali dan tiang kayu untuk pagar darurat, sementara
pasukan utama hanya menunggu aba-aba suar untuk menyerbu.
Semuanya
tampak terlalu mudah. Seperti biasa, anak panah dilepaskan cukup dekat untuk
mengancam. Para bandit tersenyum puas.
Namun,
saat itulah segalanya menjadi kacau. Anak panah-anak panah itu berhenti
mendadak di udara. Tidak ada yang tahu mengapa.
Empat
proyektil membeku seolah ditangkap oleh kekuatan gaib, sementara empat lainnya
memantul dari layar tak terlihat dan terbang ke arah yang tak menentu.
Terdengar
suara decakan lidah dari arah bandit. Sesekali, karavan yang dijaga penyihir
memang menggunakan dinding transparan—mereka tidak peduli dengan istilah formal
Barrier—untuk memblokir serangan awal.
Kemungkinan
besar, salah satu anak itu adalah seorang penyihir. Namun, itu tidak masalah
bagi mereka; sihir tidak akan mengubah fakta bahwa anak-anak yang ketakutan
biasanya akan langsung masuk ke perangkap.
Optimisme
itu segera memudar saat kedua kuda tersebut keluar dari jalur jalan. Salah satu
kuda berlari kencang menaiki bukit, sementara yang lainnya mundur ke arah
datangnya mereka.
Penunggang
kuda yang mundur itu memposisikan dirinya sedemikian rupa untuk menghalangi
pandangan para bandit terhadap rekannya yang melarikan diri.
Pinggul
penunggang itu melayang di atas pelana saat ia memacu kudanya langsung menuju
kelompok pengintai.
Sekali
lagi terdengar paduan suara decakan lidah. Wakil kapten bandit meludah ke
tanah, namun ia memerintahkan tujuh anggotanya untuk tidak menyia-nyiakan
kesempatan.
Jika mangsanya datang sendiri, mengapa harus mengeluh?
Mereka hanya menginginkan kudanya, jadi mereka hanya perlu
menghabisi "barang bawaan" di atasnya.
Para bandit ini tidak tertarik melakukan negosiasi sandera.
Meskipun tebusan bisa sangat besar, prosesnya terlalu rumit bagi mereka.
Menjual barang jarahan dan mengubur bukti kejahatan jauh lebih praktis.
Atas perintah wakil kapten, tujuh anak panah menghujani
penunggang kuda yang nekat itu. Anak panah melesat dengan kecepatan yang tak
mungkin tertembus oleh mantel linen biasa.
Bahkan dengan perlindungan mistis, penyihir biasa tidak akan
mampu menghalau tujuh proyektil dari berbagai arah.
Namun, dia bukan penyihir biasa.
Kilatan perak menyambar dari pinggangnya, menebas tiga anak
panah dengan mudah. Empat anak panah sisanya membeku di ruang hampa, lalu
berbalik arah dengan kecepatan tinggi menuju asalnya, menancap tepat di tubuh
para pemanahnya sendiri.
Setengah
dari pasukan terdepan tumbang seketika tanpa sempat memahami apa yang terjadi.
Sulit
untuk mengukur seberapa cepat reaksi yang dibutuhkan untuk melakukan itu. Di
saat para bandit masih terkejut melihat darah rekan mereka, penunggang kuda itu
melepaskan kakinya dari sanggurdi dan melompat tinggi.
Lalu, seolah menginjak udara, dia melompat sekali lagi di
langit dan menerjang bandit terdekat dengan serangan yang mematikan.
Serangannya yang luwes mengaburkan batas antara gerakan dan
serangan, membelah ibu jari tentara bayaran itu beserta busur yang dipegangnya.
Hanya dengan satu serangan tambahan, kini tersisa tiga orang saja yang masih
berdiri.
Dua pria di antaranya berhasil menghunus pedang meski baru
saja menyaksikan pemandangan yang tak masuk akal—sebuah prestasi yang layak
dipuji. Karier mereka bukan sekadar omong kosong; para pembunuh profesional ini
memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjatuhkan seorang penyihir pemula.
Sayangnya, sang penunggang kuda—yang ironisnya kini berdiri
dengan kedua kakinya sendiri—tidak peduli dengan keterampilan mereka. Permainan pedangnya
secara paradoks terasa rumit sekaligus alami saat ia melucuti persenjataan para
bandit dengan sekali sentak. Teriakan singkat memenuhi udara setiap kali bilah
pedang yang tadi melayang di langit biru itu mencium kulit lawan.
Wakil kapten adalah orang terakhir yang tersisa. Rasa
terkejut melihat tujuh anak buahnya tumbang dalam sekejap telah lenyap,
berganti dengan rasa takut yang murni. Siapa sebenarnya yang baru saja mereka
serang?
Dari balik tudung kepala anak laki-laki itu, sang bandit
dapat melihat kilatan biru tajam yang membuatnya merinding. Naluri pria itu
menuntunnya pada kartu as terakhir yang telah menyelamatkannya dalam
pertempuran tak terhitung: sebuah crossbow yang tergantung di
pinggangnya, siap ditembakkan dalam sekejap.
Bobot
senjata itu memberikan rasa percaya diri. Dalam peperangan, crossbow
dikenal sebagai "pembunuh ksatria" karena daya tembusnya yang mampu
merobek dinding sihir semudah menembus baju zirah.
Pengalaman
memandu pria itu saat ia membidik dan menarik pelatuk. Dengan anak panah yang
melesat jauh lebih cepat daripada busur standar, menghindari tembakan dari
jarak ini seharusnya mustahil. Pikiran musuh mungkin bisa mengenali ancaman
itu, tetapi tubuh mereka tidak akan sempat menghindar.
Sayangnya bagi si bandit, bocah itu menentang segala logika.
Ia terus maju seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menghantamkan sisi pedangnya
yang lebar tepat ke pelipis pria itu hingga ia pingsan seketika.
Saat kesadarannya memudar, sang wakil kapten meyakinkan diri
bahwa ia hanyalah korban ilusi. Bagaimanapun, ia merasa anak panahnya barusan melesat
tepat ke dalam robekan jalinan Reality itu sendiri.
[Tips: Hukum
Kekaisaran menganggap pajak yang hilang akibat pencurian telah dibayar penuh,
dan melarang keras bangsawan menuntut pembayaran tambahan dari rakyat.
Akibatnya, tersedia hadiah besar bagi siapa pun yang berhasil meringkus bandit
selama musim panen.]
◆◇◆
Karena cemas menunggu tanpa
ada kabar dari pasukannya, kapten tentara bayaran membawa dua puluh anak buah
sisanya menyusuri jalan. Sesampainya di lokasi, ia tidak menemukan apa pun
kecuali bau darah yang masih tertinggal.
Apakah mereka sudah mati? tanyanya dalam hati.
Namun,
logika menolak kemungkinan itu. Meski ia hanya menugaskan delapan orang, mereka
adalah anggota terbaiknya.
Wakil kaptennya adalah veteran berpengalaman yang telah
memenggal lima jenderal. Tidak mungkin dua bocah desa bisa mengalahkan mereka.
Namun, penyangkalan sang kapten tidak mengubah kenyataan
bahwa pasukannya telah lenyap. Tepat saat ia mulai mempertimbangkan kemungkinan
terburuk, hujan anak panah tiba-tiba menghujani barisan depannya.
Anak panah tersebut membentuk lengkungan lebar, meski
sebagian besar hanya memantul dari helm dan pelat baja.
Tidak seperti dalam dongeng kepahlawanan, perlengkapan perang
yang asli memang dirancang untuk menangkis proyektil.
Jika tidak, tak seorang pun akan sudi memakai baju zirah
berat jika masih bisa tertusuk dengan mudah.
Beberapa teriakan kesakitan terdengar dari mereka yang
tertembak di celah lempengan baja.
Meski
jatuh korban, sang kapten segera memerintahkan formasi pertahanan. Berkumpul
dan mengangkat perisai adalah cara terbaik untuk meminimalkan kerugian.
Sang kapten adalah lambang ketenangan. Sebagai tentara
bayaran veteran, ia sering melihat serangan mendadak yang berbalik arah.
Pikiran pertamanya adalah bahwa mangsa yang mereka incar sebenarnya hanyalah
umpan.
Rupanya, mereka terlalu sukses dalam merampok hingga
memancing perhatian serius. Ia pernah mendengar bahwa penjaga menggunakan umpan
lemah untuk menarik bandit keluar dari jalur patroli utama.
Petugas
patroli Kekaisaran mungkin terlihat jujur, namun taktik mereka sangat licik.
Artinya... Sang kapten memerintahkan anak buahnya bersiap menghadapi serangan
penjepit.
Ia paham betul strategi perang; menyerang musuh yang terjepit
adalah langkah yang masuk akal. Pertahanan preemptif harus segera dilakukan untuk
menghentikan kerugian lebih lanjut.
Namun,
harapan sang kapten hancur oleh kenyataan. Penyerang yang datang bukanlah
pasukan penjaga—melainkan sosok yang awalnya mereka anggap sebagai mangsa
empuk.
Pemandangan
berikutnya benar-benar asing. Otaknya menolak mempercayai apa yang dilihat
matanya.
Seorang
anak laki-laki berlari kencang ke arah mereka dengan sebilah pedang di bahu,
sementara enam pedang lainnya melayang di sampingnya. Sosok tunggal itu
menutup jarak dengan cepat. Bilah-bilah pedang yang melayang tanpa pegangan itu
tampak sangat mengerikan, seolah masing-masing dikendalikan oleh prajurit hantu
tak terlihat.
Meski
pemandangan itu membingungkan, para tentara bayaran tetap bersiap. Bagi mereka,
pedang melayang tetaplah pedang. Bahkan jika dianggap sebagai tujuh pendekar
pedang sekaligus, bocah itu takkan sanggup menembus formasi phalanx yang
telah teruji selama ribuan tahun.
Namun,
beberapa langkah sebelum memasuki jarak serang, sosok itu mengulurkan tangan
kirinya. Para bandit terkekeh, mengira itu adalah upaya sia-sia untuk
melindungi tubuhnya yang terbuka.
Mereka
salah besar. Detik berikutnya, dunia bersinar lebih terang daripada kilat,
disusul suara gemuruh yang menghancurkan kesadaran mereka—dunia seolah hancur
berkeping-keping.
[Tips: Sihir memang
mengacu pada hukum realitas, namun tujuannya adalah untuk melanggarnya.
Memungkinkan bagi penyihir untuk menetapkan sifat fisik ke arah ekstrem,
seperti panas satu arah, getaran frekuensi tinggi, atau cahaya yang
membutakan.]
◆◇◆
Para tentara bayaran tidak
mampu memahami apa yang terjadi. Raungan memekakkan telinga adalah hal biasa
dalam perang, namun ini berbeda. Ini bukan sekadar gemuruh pertempuran,
melainkan jeritan melengking yang menusuk otak, merampas penglihatan, dan mengguncang
dunia.
Tanah seolah melompat dan
menghantam wajah mereka.
Tunggu... apa aku baru
saja jatuh? Sang kapten yang
kebingungan mencoba memutar lehernya, namun gagal. Dengan mata yang tidak lagi
berfungsi, ia tidak bisa melihat apa pun.
Kebutaannya
lebih parah daripada sekadar silau matahari. Pikirannya yang kacau mulai
merenungkan apakah para korbannya dulu merasakan hal yang sama.
Apa
lagi yang bisa ia lakukan?
Logika
telah meninggalkannya. Alam semesta yang goyah membuat perutnya mual hingga ia
memuntahkan semua makanan hasil jarahannya.
Rasa
sakit yang menderu seolah mengejeknya, bertanya apakah dia pernah peduli
pada permohonan belas kasihan orang lain.
Di balik tirai kebisingan, sang kapten masih bisa mendengar
dentingan pedang. Mungkin bawahannya masih berjuang. Ia membatin, berjanji akan
bertanya kepada mereka bagaimana caranya bertahan atau menghindari sensasi
mengerikan ini setelah semua kekacauan ini berakhir.
Anehnya,
indra perabanya pun mulai meninggalkannya. Wajahnya tertanam di tanah yang
terasa tertutup rumput pendek, namun tiba-tiba permukaan itu mencair menjadi
rawa berlumpur. Tanah melunak, seolah-olah ratusan orang telah berbaris di hari
hujan untuk menggilasnya menjadi lumpur.
Sang
kapten berusaha keras mengangkat wajahnya agar tidak tenggelam, tetapi
seseorang jatuh menimpanya dan membantingnya kembali. Terkubur di rawa, ia
tidak bisa berbuat apa-apa saat sentakan rasa sakit yang luar biasa menyerang
ibu jarinya.
[Tips: Sebagai
landasan mekanik, kehilangan ibu jari memberikan penalti berat pada banyak Stat
Check. Menggunakan sekop atau cangkul mungkin masih bisa dilakukan, tetapi
menggunakan pedang dengan mahir adalah hal yang mustahil. Lebih jauh lagi,
sihir pemulihan tingkat tinggi dari Magia atau Bishop memerlukan
izin khusus dari akademi atau gereja, menjadikan prosedur medis sebagai praktik
negara yang dijaga ketat.]
◆◇◆
Bertemu
kendala di tengah misi adalah kiasan klasik. Sang GM yang berada di surga telah
melempar dadu, dan perjalanan kali ini ternyata memicu Random Encounter.
Aku
sedang dalam misi tanpa bos atau tujuan besar, hanya pengambilan barang biasa,
tapi mengapa aku harus bertemu monster pengembara di tengah jalan?
"Apakah
meminta satu perjalanan pulang-pergi tanpa insiden itu terlalu
berlebihan?" gerutuku.
Aku
membersihkan noda darah dari Schutzwolfe dan menyarungkannya kembali.
Bersamaan
dengan itu, aku menonaktifkan mantra Unseen Hand dan Farsight
yang kugunakan untuk memanipulasi setiap pedang melalui Independent
Processing.
Mengendalikan
enam lengan tambahan di luar tubuhku sendiri telah melampaui batas kemampuanku;
rasa sakit berdenyut kini menyerang bagian belakang kepalaku. Sejauh menyangkut
efisiensi, teknik ini sangat boros mana.
Aku
hanya bisa mempertahankan Appeasement Arts dan Hybrid Sword Arts
pada tingkat Master (Rank VIII) selama lima menit. Jika aku hanya
menggunakan ayunan sederhana atau Shortbow Marksmanship, mungkin aku
bisa bertahan satu atau dua jam, tapi sayang sekali kekuatanku tidak sehemat
itu.
Kelemahan
fatal dari susunan kombo ini adalah ketidakmampuannya dalam pertempuran jangka
panjang. Andai saja Mana Stone ada di dunia ini sebagai item habis
pakai untuk memulihkan MP...
"Kita
akan tertahan di sini sampai musim dingin kalau terus begini," keluhku.
"Erich,
kau baru saja menghabisi lebih dari tiga puluh orang. Mendengarmu mengeluh
seolah kita hanya terkena macet di jalan... jujur saja, itu agak aneh, bahkan
bagiku."
Aku
menoleh ke arah suara derap kuda dan melihat Mika menunggangi Castor,
dengan Polydeukes mengekor di belakang—kuda yang tadi kutinggalkan saat
melompat. Wajah temanku itu tetap terlihat androgini dan menawan seperti biasa,
meski ekspresinya tampak gelisah.
Namun,
aku merasa perlu memprotes nada bicaranya.
"Aku
bisa mengatakan hal yang sama kepadamu," balasku. "Kaulah yang
menggabungkan sihir Mutation dan Migration untuk mengubah tanah
menjadi mortar, sehingga kita bisa mengubur mereka hidup-hidup."
Aku tidak berjuang sendirian dalam pertemuan ini. Sebuah
bayangan menukik turun dari langit, menyahuti ucapanku dengan suara gaduh.
Jangan membantah tuanku, kata gagak itu. Dia adalah spesimen besar dengan bulu
hitam berkilau—seorang Familiar yang sangat cocok dengan selera teman
lamaku.
Familiar adalah makhluk hidup misterius yang telah dimodifikasi secara magis agar
sesuai dengan kebutuhan para Magia. Mengembangkan makhluk dengan
kemampuan supernatural membutuhkan waktu generasi ke generasi, sehingga
industri ini mulai memudar.
"Familiar-mu
sangat setia padamu," kataku.
"Iri,
ya? Floki kecilku memang anak yang baik." Mika membusungkan dada dengan
bangga. Gagak
bernama Floki itu tampak puas menerima pujian dan menepuk-nepukkan paruhnya.
Floki adalah kurir sejati; ia bisa menyampaikan pesan tertulis maupun lisan,
dan memiliki mantra Vision Sharing yang tertanam di tubuhnya.
Meski
begitu, aku merasa Mika melupakan sesuatu. Dialah yang pertama kali mengamati
formasi para bandit ini dengan Floki dan menyarankan agar kami
"menghakimi" mereka. Padahal aku sudah bersedia memutar jalan untuk
menghindari masalah.
Memang,
membunuh bandit adalah tindakan mulia yang disertai bonus rampasan; setiap
karakter pemain yang waras pasti akan melawan mereka demi EXP. Aku tidak
tahu apakah Mika sedang dikuasai nafsu membunuh atau sekadar terkena sindrom
pubertas, tapi dialah yang paling bersemangat dalam pertarungan ini.
Kontribusiku hanyalah menyusun rencana tindakan setelah dia melakukan
pengintaian.
"Baiklah,
baiklah," kataku. "Berdasarkan kesaksian dari Familiar-mu yang
terhormat, aku mengaku kalah dalam kontes 'siapa yang lebih menakutkan'."
"Kurasa
tidak perlu ada keraguan bahwa kau sudah pasti kalah di kontes itu..."
Dua
lawan satu memang tidak adil. Tapi jujur saja, sihir pendukung Mika akan sangat
mengerikan dalam pertempuran massal. Jika dia mengunci musuh di tanah sementara
unit pemanah menyerang dari kejauhan, itu akan menjadi pembantaian total.
Untungnya,
korban hari ini adalah para bandit, bukan aku. Aku telah mengambil ibu jari
mereka semua untuk mencegah perlawanan. Mika juga sudah mengubur delapan orang
pertama hingga leher mereka.
Sesuai
dengan nama Oikodomurge, bukan? Architectural Mage biasanya ahli
dalam pembangunan gedung atau sistem limbah, namun saat bakat mereka dialihkan
untuk perang, kengerian seperti inilah yang terjadi. Tidak heran Kekaisaran
memberikan gelar tinggi untuk mengikat para penyihir kuat ini pada negara.
Tiba-tiba,
telingaku yang tajam menangkap suara dentingan logam. Seseorang melepaskan
pelatuk senjata. Aku segera merapal mantra, dan tiga suara terdengar berurutan:
tembakan panah, udara yang terbelah, dan... robeknya lubang di angkasa.
"Apa?!"
Aku
berputar dan memerintahkan Unseen Hand untuk mengambil belati dari musuh
terdekat, lalu menancapkannya tepat ke telapak tangan si pemanah. Belati itu
menjepit tangannya ke tanah sebagai balasan atas upaya balas dendamnya yang
menyedihkan.
Aku
sedikit ceroboh. Aku mengira tanpa ibu jari mereka tidak bisa menembak, tapi
bandit itu merangkak di tanah dan menggunakan jari telunjuk untuk menarik
pelatuk Crossbow. Lain kali, aku bersumpah akan memotong dua jari, bukan
satu.
"Hampir
saja," kataku. "Mika, kau baik-baik saja? Maaf, aku kurang
teliti."
"Y-Ya,
aku tidak apa-apa... Maaf merepotkanmu, Erich." Mika mengusap dadanya
seolah ingin memastikan tidak ada luka di sana. Matanya tidak lepas dari
robekan ruang yang baru saja tertutup.
Inilah
hasil dari pertumbuhanku: sihir pembengkok ruang. Beberapa malam lalu, Nona
Agrippina mengirimiku pesan berisi detail cara kerja sihir ini—teknologi yang
dianggap punah sekaligus terlarang. Dia mengirimkannya hanya melalui secarik
kertas biasa! Saat kutanya keesokan harinya, dia hanya menjawab, "Orang
biasa tidak akan bisa menguraikannya."
Aku segera paham mengapa sihir ini langka. Biayanya sangat
tidak masuk akal. Untuk menguasainya, aku harus menghabiskan poin EXP
yang cukup untuk memaksimalkan beberapa skill sekaligus. Sekadar memecah
realitas fisik saja membutuhkan biaya besar, belum lagi tambahan untuk
menentukan tujuan koordinat atau durasi robekan tersebut.
Membuka portal entah ke mana mungkin tidak efisien untuk
transportasi, tapi ini adalah Ultimate Shield. Aku memiliki perisai mutlak yang
bisa melenyapkan serangan paling tak terhentikan sekalipun ke ujung dimensi
lain.
Selain
itu, aku telah meningkatkan Hybrid Sword Arts dari Rank VI ke Rank
IX: Divine. Sekarang aku bisa menggunakan hingga tujuh senjata sekaligus.
Meski aku masih bisa menggunakan senjata raksasa, pemandangan enam bilah pedang
yang melayang dengan gerakan yang sama terampilnya denganku jauh lebih
mengintimidasi musuh.
Aku
juga menambahkan add-on Iron Fist pada Unseen Hand-ku,
mengubah perisai improvisasi menjadi penghalang sekuat zirah berat. Lalu, aku
meningkatkan Parallel Processing menjadi Independent Processing.
Kini, tangan-tangan gaibku tidak lagi terikat secara tidak sadar dengan gerakan
tubuh utamaku. Aku bahkan bisa mengendalikan sepuluh tangan sekaligus jika
punya cukup mana.
"Kurasa
aku harus memberi mereka satu serangan terakhir," kataku, menyiapkan trik
sulap yang kukembangkan dengan sisa poin EXP-ku.
Cahaya
menyilaukan sebesar 75.000 candela dan ledakan suara 150 desibel menyembur dari
tangan kiriku. Para bandit yang sudah lumpuh itu kembali menggeliat kesakitan.
Gendang telinga mereka mungkin hancur, tapi nasib mereka di tangan ksatria
kekaisaran nanti pasti akan jauh lebih buruk.
Mantranya
sederhana: mutasi bubuk dolomit dan garam amonium menjadi magnesium dan amonium
perklorat. Aku mereplikasi efek Flashbang dengan sihir. Aku bahkan
menyempurnakan mantra pengarah cahaya dan suara agar aku sendiri tidak terkena
efeknya.
Ini
adalah alat yang hebat untuk melumpuhkan musuh tanpa harus menghancurkan
lingkungan sekitar. Terinspirasi dari kehidupan masa laluku, ini adalah ide
yang benar-benar jenius.
Maksudku,
tentu saja itu adalah tiruan dari teknik Magus yang ditunjukkan Profesor
Leibniz padaku. Namun, aku telah mengembangkan tekniknya cukup jauh hingga bisa
dibilang versiku adalah sebuah bentuk penghormatan. Mengakui keberhasilan diri
sendiri itu penting, bukan?
"Baiklah,
aku akan memanggil petugas patroli. Aku yakin ada ksatria yang berjaga di jalan
raya utama saat ini."
Mika
mengeluarkan selembar kertas dan mulai menulis. Dia berniat mengikatkan pesan
itu di kaki hewan peliharaannya layaknya merpati pos.
Aku
mulai membayangkan berapa banyak uang yang akan kami hasilkan dari kejadian
ini. Kudengar, bahkan bandit kelas teri pun memiliki harga yang lumayan selama
musim panen. Belum lama ini, aku melihat beberapa orang digantung di depan umum
dengan nilai buronan beberapa lusin librae. Kabarnya, kepala bandit yang
tertangkap hidup-hidup dihargai lima drachmae oleh kerajaan.
Terlebih
lagi, tidak akan ada yang protes jika kami menjarah barang-barang
mereka—kecuali barang curian yang jelas harus dikembalikan. Kami pasti akan
menemukan sedikit uang simpanan di sana. Peralatan mereka juga tampak kokoh;
aku yakin kami bisa mendapat untung besar jika menjualnya ke negara.
Membawa
semua ini pulang pasti merepotkan, tapi para berandalan ini pasti punya kereta
barang di suatu tempat yang bisa ditarik oleh Dioscuri.
Tunggu,
aku hampir lupa soal bonus tangkapan hidup-hidup. Kami memiliki sekitar tiga
puluh tawanan yang masih bernapas... Apakah kami baru saja menjadi kaya? Bahkan
setelah dibagi dua, jumlah ini cukup untuk melunasi biaya sekolah Elisa tahun
ini.
Hidup
terasa indah, Tuhan ada di surga-Nya, dan dunia baik-baik saja. Kebaikan menang
atas kejahatan, dan para pahlawan tersenyum merayakan kemenangan. Nilai Henderson
hari ini benar-benar rendah dan stabil.
Namun,
pertarungan berturut-turut dengan seluruh Unseen Hand yang bekerja
penuh, ditambah penggunaan perisai pembengkok ruang, telah menguras habis Mana
milikku. Sakit kepalaku semakin parah, membawa rasa pedih yang tak tertahankan.
"Dengarlah, kawanku yang terhormat."
"Hah? Ada apa dengan gaya bicaramu yang tiba-tiba itu,
Erich?"
Tubuh kekanak-kanakanku ini memang belum mengerti soal
efisiensi biaya. Meskipun anak-anak cepat pulih, stamina mereka sangat terbatas. Jujur
saja, aku sudah berjuang sangat keras untuk anak seusiaku... kan?
"Aku
lelah," kataku. "Bisakah kita istirahat sebentar?"
Siapa
yang tega menolak permintaan istirahat di puncak bukit yang indah ini?
[Tips:
Penjaga patroli Kekaisaran menawarkan keamanan tak tertandingi di jalan raya
utama. Namun, pelancong yang paling tidak beruntung sekalipun tetap bisa
terjebak dalam situasi seperti ini.]
◆◇◆
Saat
menatap langit yang tak berbatas, aku dirasuki sensasi seolah aku bisa jatuh ke
dalam jurang biru yang menyegarkan. Tidak ada rasa takut—hanya kegembiraan
bahwa aku mungkin akan tenggelam dalam warna biru yang indah itu. Beberapa awan
tipis musim gugur bergulung di depan mata, dan aku bermimpi bisa memeluk
mereka.
Bicara
soal pelukan, aku menerima surat dari Margit seminggu yang lalu. Dia menitipkan
surat itu pada karavan pedagang yang berkunjung ke ibu kota. Dilihat dari
tanggalnya, dia mengirimkannya sesaat sebelum aku sampai di Berylin, sehingga
butuh waktu agak lama sampai ke tanganku.
Surat
itu bercerita tentang keadaan di rumah. Seperti prediksiku, Heinz berhasil
mengisi perut Nona Mina. Kakak iparku itu kurus, jadi tonjolan di perutnya
sudah terlihat meski baru dua bulan.
Kabar
kehamilannya menyebar di kanton seperti api. Mereka menjadi pasangan tercepat
kedua yang hamil setelah menikah dalam sejarah lokal. Rekor pertama masih
dipegang oleh pria tua yang sering membual soal koin peri; dia berhasil
menghamili istrinya hanya dalam waktu satu bulan.
Sekarang
aku sudah menjadi seorang paman. Rasanya menyenangkan. Meskipun aku pernah
merasakan perasaan ini di dunia lamaku, aku tidak pernah bosan merayakan
keberuntungan keluarga.
Kelanjutan
garis keturunanku adalah alasan untuk bersukacita. Episode bandit ini akan
menghasilkan uang, jadi aku harus menyisihkan tabunganku untuk menyiapkan pesta
penyambutan bagi keponakanku nanti. Hadiah mungkin tidak berarti bagi bayi yang
baru lahir, namun mengetahui mereka dicintai sejak lahir akan membuat mereka
bahagia saat dewasa nanti.
...Tapi
tetap saja, aku heran mengapa aku memikirkan hal-hal bijak ini sambil berbaring
di pangkuan temanku?
"Bagaimana
perasaanmu?" tanya Mika.
"Sangat
nyaman," pikirku sambil mendongak, bertemu pandang dengan pemuda tampan
itu.
Aku
menatapnya seperti melihat makhluk asing; ekspresinya yang tenang tampak
androgini seperti biasa. Bingung dengan tatapan analitisku, dia memiringkan
kepalanya dan tersenyum. Dengan wajah seperti itu, dia bisa hidup hanya dengan
modal senyuman saja.
Angin
musim gugur meniup lembut rambut hitamnya yang bergelombang, memperlihatkan
hidung yang tegas dan bibir yang feminin.
Matanya
yang berwarna kuning seperti batu permata memperkuat keyakinanku bahwa dalam
beberapa tahun ke depan, wanita kaya di seluruh dunia akan berebut mendapatkan
cintanya.
Bahkan aku bisa membayangkan para pria yang
"tersesat" juga akan ikut mengantre.
Sebenarnya, aku tidak keberatan mendapat kursi barisan depan
untuk melihat wajah yang bisa menyembuhkan sakit kepala ini. Namun, posisi
duduk kami ini agak bermasalah.
Tentu, akulah yang mengajak istirahat. Tentu, aku yang ingin
berbaring demi meredakan Mana Depletion. Namun, aku tidak menyangka Mika
akan menyimpulkan bahwa dia harus meminjamkan pangkuannya padaku sebagai
bantal.
Dan mengapa aku setuju? Yah, kakinya terasa jauh lebih empuk
daripada lenganku sendiri. Cukup mengkhawatirkan, dugaanku benar: latihan
bertahun-tahun membuat ototku keras, sedangkan kaki Mika tetap terasa lembut
dan nyaman.
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku tidur di
pangkuan seseorang sejak menjadi Erich. Aku tidak bisa meminta ini pada Margit, karena dia tidak
punya "pangkuan" untuk tempat tidur.
"Wah,
rambutmu jadi lebih panjang sekarang... Tumbuhnya cepat sekali." Mika
memutus lamunanku sambil memainkan sejumput rambutku. Aku merasakan tarikan
lembut di kulit kepala. Ah, sial... dia mempermainkanku.
"Hei,
apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku.
"Habisnya,
tanganku sedang menganggur dan aku suka tekstur rambutmu."
Aku tidak bisa melihatnya, tapi aku yakin dia sedang
mengepang rambutku dengan telaten.
Sekarang rambutku memang sudah melewati leher, dan aku sering
menyisir poni ke belakang agar tidak menghalangi pandangan. Namun, gaya rambut
feminin yang dia buat ini sulit kuterima.
"Bisa miring sedikit? Aku tidak sampai ke bagian
ini," kata Mika.
"Eh,
oke?"
Kenapa
aku menuruti—hei, tunggu, berhenti memetik bunga! Jangan ditaruh di rambutku!
Ada apa dengan selera modemu? Rambut seperti ini hanya cocok untuk Elisa.
Menata rambutku seperti putri hanya akan membuat orang menyiramku dengan air
dingin.
"Selesai,"
katanya. "Kau harus bangun untuk sentuhan akhir. Ayo, angkat
kepalamu."
Aku
tidak bisa menolaknya setelah semua dukungan ergonomis yang dia berikan. Saat
aku bangkit, aku merasakan dia melingkarkan salah satu kepangan poni ke
belakang kepalaku.
Apa
namanya? Crown braid? Gaya ini memang sedang tren di ibu kota, tapi
masalahnya: mengapa aku yang memakainya?
"Mika,
kalau kau sangat ingin bermain rambut, kenapa tidak memanjangkan rambutmu
sendiri saja?"
"Hm? Tidak, aku begini saja. Rambut pendek lebih cocok
untukku. Kalau panjang, ikalnya jadi tidak terkendali." Sambil bicara, dia
terus menghiasi kepalaku dengan daun semanggi putih.
...Apa aku punya salah padamu?
Bagaimanapun,
sakit kepalaku sudah hilang. Aku bersiap merapikan diri karena petugas patroli
akan segera tiba. Aku tidak ingin mereka melihatku seperti ini—
"Oh,
sepertinya mereka sudah sampai," kata Mika.
Sialan. Hidup ini memang tidak adil.
[Tips: Para dewa tidak
langsung menghukum manusia karena perilaku menghujat. Paling-paling, mereka
mengirim seorang rasul. Lelucon dan ejekan yang tidak disengaja adalah kejadian
sehari-hari; perkelahian antara orang berdosa dan orang suci tidak termasuk
dalam ranah hukuman ilahi.]
◆◇◆
"Jadi, maksudmu kalian
bertemu bandit-bandit ini saat sedang dalam perjalanan dan memutuskan untuk
menangkap mereka sendiri?"
"Benar,
Tuan. Kira-kira seperti itulah kejadiannya."
Henrik
von Runingen adalah seorang ksatria kekaisaran terhormat yang telah berpatroli
di jalur perdagangan sibuk selama enam belas tahun. Ia adalah seorang bangsawan
tanpa keturunan—yang berarti gelar dan tunjangan yang ia terima tidak dapat
diwariskan—serta tidak memiliki wilayah kekuasaan. Namun, kurangnya hak
istimewa itu tidak menghalangi kesetiaannya yang tak terbatas kepada
Kekaisaran.
Sepanjang
hidupnya, ia telah mendedikasikan pedangnya dalam pertempuran untuk melindungi
jalanan negaranya... tetapi hari ini, ia mengalami sesuatu yang belum pernah ia
lihat sebelumnya.
Runingen
sedang memimpin satu regu yang terdiri dari tujuh orang di jalan yang jarang
dilalui ketika seekor gagak menukik turun, membawa pesan yang terikat di
kakinya. Ini adalah bagian dari pekerjaan sehari-hari; para penyihir secara
rutin menggunakan berbagai jenis Familiar untuk meminta bantuan atau
penyelamatan dari patroli terdekat.
Namun,
isi surat itu di luar dugaan sang ksatria. Surat itu bukanlah permohonan
bantuan, melainkan permintaan agar ia datang untuk mengamankan sekelompok
bandit yang telah ditangkap. Meski agak tidak biasa, ini adalah situasi yang
pernah ia hadapi sebelumnya. Baik itu petualang kawakan atau Magus
dengan moral kuat, sekitar setahun sekali Runingen harus membantu memproses
sejumlah besar penjahat yang ditangkap oleh perapal mantra kuat.
Meski
begitu, ia tidak pernah membayangkan akan disambut oleh dua anak laki-laki
tampan yang jelas-jelas masih di bawah umur. Salah satunya hanya bisa dikenali
sebagai laki-laki dari pakaiannya, sementara yang lainnya memiliki kepala yang
penuh dengan bunga semanggi putih layaknya seorang putri cantik di tengah
taman. Runingen kehilangan kata-kata.
Jika
mereka mengatakan sesuatu yang polos seperti, "Kami melihat
pencuri!", maka ia akan mengira mereka hanya melihat tindak kejahatan saat
bermain dan melaporkannya. Jika demikian, ia akan menepuk kepala mereka dan
memberi koin tembaga agar mereka bisa membeli permen sebagai imbalan kerja
keras.
Lalu,
apa yang seharusnya dilakukan orang dewasa ketika dua anak muncul dengan
seluruh komplotan bandit yang sudah dilumpuhkan? Bahkan veteran berpengalaman
pun tidak punya jawaban instan untuk momen seperti ini.
"Um...
Tuan Runingen? Kami menemukan dua puluh empat orang di seberang jalan ini,
dan... mereka terjebak dalam semacam pasta yang mengeras. Sepertinya semuanya
masih hidup."
"Eh,
Tuan? Saya menemukan delapan orang terkubur dari leher ke bawah di sisi sebelah
sini."
Puncaknya
adalah para bandit itu ditangkap dengan cara yang sangat menyedihkan hingga
Runingen hampir merasa kasihan. Ini jelas bukan pekerjaan orang biasa;
pelakunya pasti seorang penyihir, Magia, atau Alfar.
"Kami
berdua memiliki hubungan dengan Imperial College dan sedikit memahami
sihir," kata bocah pirang itu.
"Saya
terdaftar sebagai mahasiswa resmi, dan teman saya ini adalah perapal mantra
yang melayani seorang profesor," tambah anak berambut hitam itu.
"Jadi, kami memiliki sedikit keterampilan praktis, meskipun tidak
seberapa."
Sepele? Sedikit? Bagaimana bisa kalian mengucapkan kata-kata itu tanpa
rasa malu?
Kedua
bocah ini mengaku telah menangkap sekitar tiga puluh orang dewasa. Dilihat dari
jejak di lokasi, mereka telah berhadapan langsung dengan para penjahat itu.
Setelah diperiksa lebih lanjut, Runingen menemukan bahwa para bandit yang
menggeliat di tanah itu semuanya telah kehilangan ibu jari mereka. Apakah
kalian ingin mengatakan bahwa begini cara kalian menaklukkan mereka?
Segala
sesuatu dalam situasi ini terasa aneh. Namun, ketika Runingen meminta bukti
kewarganegaraan, anak-anak itu dengan patuh mengeluarkan batu tulis identitas.
Alat autentikasi milik Runingen bersinar biru—tanda bahwa identitas mereka
asli—mengonfirmasi siapa mereka sebenarnya.
"Tuan!
Kami menemukan tempat perkemahan besar dengan kereta kekaisaran curian di
sana!"
"Ada juga jejak kuburan dangkal. Perintah Anda,
Kapten?"
Runingen harus memimpin anak buahnya yang sama bingungnya
dengan dirinya sendiri. Ia mengusap pelipis sejenak dan mengubah pola pikirnya:
akan jauh lebih mudah memperlakukan mereka sebagai "makhluk
mengerikan" daripada sekadar anak-anak.
"Baiklah,"
katanya. "Kalian berdua tunggu di sini. Aku akan menulis surat rujukan
setelah meninjau lokasi kejadian."
Terlepas
dari pergulatan batinnya, ia memiliki tugas yang harus diselesaikan. Ia perlu
memastikan apakah para bandit itu cocok dengan daftar buronan dan menghitung
jumlah mereka; jika tidak, "monster kecil" ini tidak akan bisa
mengklaim hadiah dari negara.
Akal
sehatnya sempat berbisik bahwa hadiah itu terlalu besar untuk anak-anak, atau
ia seharusnya menasihati mereka agar tidak mengambil risiko berbahaya. Namun,
ia menyingkirkan pikiran itu dan fokus pada pekerjaan. Ada waktu dan tempat
untuk akal sehat, dan ini bukanlah saat yang tepat.
Lagi
pula, dunia ini penuh dengan orang-orang luar biasa yang tidak bisa diukur
dengan logika biasa.
Banyak
kisah nyata tentang pahlawan yang mengalahkan jenderal musuh di pertempuran
pertama mereka, atau pembunuh naga yang baru saja menginjak usia dewasa.
Membasmi
sekelompok bandit di usia dua belas tahun terasa hampir wajar jika dibandingkan
dengan itu.
Runingen
menekan rasa herannya dan pergi memeriksa para perusuh yang berlumuran mortir
kering, menjalankan tugasnya sebagai petugas patroli yang baik.
[Tips: Hadiah untuk penangkapan bandit tidak langsung
dibayarkan. Hal tersebut memerlukan penyelidikan menyeluruh, dan hadiah
biasanya baru diberikan sebulan setelah penangkapan awal.]
◆◇◆
Para
petugas patroli itu tampak menahan berbagai emosi saat mengikat dan menggiring
para penjahat. Yah, aku bisa mengerti alasannya. Aku juga akan mempertanyakan
kewarasanku jika melihat sepasang anak kecil muncul membawa puluhan tawanan,
apalagi jika salah satunya terlihat konyol dengan hiasan bunga di kepala.
"Wah,
aku tidak sabar menunggu prosesnya selesai," kata Mika sambil memegang
surat dari petugas patroli.
Aku
dengan panik memetik semua bunga yang ia tanam di rambutku menggunakan Unseen
Hand. Aku heran bagaimana dia bisa tetap tidak tahu malu melihatku begitu
putus asa ingin membersihkan diri.
Namun,
aku harus mengakui kepangannya cukup bagus; rasanya nyaman karena rambut tidak
lagi menghalangi pandangan, sampai aku hampir tergoda untuk memintanya
menatanya lagi suatu saat nanti.
"Membayar
tagihan akan jauh lebih mudah sekarang," lanjutnya sambil mengibaskan
kertas itu dengan gembira. Tiba-tiba, ia mengernyit. "Tapi apa kau yakin
ingin membaginya secara merata?"
"Tentu
saja," jawabku. "Kau sudah bekerja keras."
Akulah
yang pertama kali mengusulkan pembagian ini. Meskipun aku yang bertarung di
garis depan, Mika-lah yang mendeteksi mereka lebih dulu sehingga kami tidak
terjebak—pengetahuan awal adalah kunci kemenangan kami.
Selain
itu, sebagai mantan pemain solo, memiliki sekutu di garis belakang untuk
memberikan dukungan adalah hal yang patut disyukuri.
Kontribusi
besarnya yang lain adalah mengumpulkan semua penjahat itu setelah pertarungan.
Jika dikerjakan sendiri, itu akan sangat melelahkan.
Aku
tidak punya cukup tali atau Mana untuk menjaga mereka semua tetap
pingsan sampai bantuan datang. Dan tentu saja, aku tidak cukup biadab untuk
menghancurkan kaki mereka agar tidak lari...
Intinya,
aku sangat berterima kasih atas bantuan Mika. Pertarungan bukan hanya soal
mengayunkan pedang; membereskan kekacauan setelah menang juga merupakan bagian
yang krusial.
Mana
mungkin aku menolak memberi imbalan pada teman yang mengerjakan bagian paling
membosankan?
Aku
tidak ingin menjadi tipe protagonis penyendiri yang kaku seperti di fiksi dunia
lamaku.
Melihatnya
masih tampak tidak enak hati karena pembagian hadiah itu, aku mencoba
mencairkan suasana.
"Kenapa?"
kataku bercanda. "Apa kau merasa hadiah dari Kekaisaran ini kurang sebagai
pembayaran atas jasamu sebagai 'tukang bantal'?"
"Baiklah,
kau menang." Senyumnya yang menawan kembali. Aku kembali menyadari bahwa
kecantikan idealnya memang paling terpancar saat dia tersenyum. "Sekadar
informasi, layananku tidak menerima uang kembalian."
"Jangan
khawatir. Anggap saja sisanya sebagai tip," tutupku dengan gembira.
"Ayo berangkat. Aku ingin sampai sebelum matahari terbenam. Berkemah tiga
malam mungkin hemat uang, tapi aku sudah sangat rindu mandi air hangat di
penginapan."
"Tentu,
mari kita percepat langkah."
Kami
memuat sedikit barang jarahan yang tersisa, melompat ke atas kuda, dan
meninggalkan tempat perhentian kami. Sebelum pergi, kami menyerahkan semua
senjata kecuali sebilah pedang kepada petugas patroli.
Meskipun
kami bisa saja menyewa kereta dan menjual barang-barang itu sendiri, para
ksatria kekaisaran menawarkan harga yang dapat diandalkan sesuai mandat hukum.
Harganya sedikit di bawah pasar, namun menukarkan barang milik bandit langsung
menjadi tunai jauh lebih praktis daripada harus mengangkut semuanya sendiri.
Aku
hanya memilih satu pedang untuk dibawa pulang. Memiliki banyak koleksi senjata
memang keren, tetapi membawanya ke mana-mana adalah hal mustahil. Bahkan Polydeukes
tidak akan sanggup menanggung beban seberat itu.
Sebagai
gantinya, aku memutuskan untuk hanya membawa pedang sang kapten bandit yang
terawat dengan baik. Sebenarnya ada beberapa pedang bagus lainnya, namun aku
harus menahan diri.
◆◇◆
Dengan
selesainya urusan bandit, kini saatnya fokus pada tugas utama yang diberikan
oleh Nona Agrippina sendiri. Hadiah yang dijanjikannya sangat besar—jumlah Drachma
yang pasti akan mengubah persepsiku tentang uang saat resmi menjadi petualang
nanti.
Bahkan,
dia memberiku sepuluh Librae sebagai dana operasional. Hebatnya lagi,
kepingan perak itu boleh kami simpan jika ada sisa, yang tentu saja membuat
kami langsung bersemangat mencari cara untuk berhemat.
Mika
dan aku berkemah di jalanan selama berhari-hari sebelum akhirnya tiba di kota
bernama Wustrow. Kota kecil ini terletak tepat di luar wilayah kutub barat laut
Kekaisaran. Dibangun di sekitar kastil hakim setempat, kota ini berfungsi
sebagai ibu kota kanton-kanton sekitarnya.
Sektor
utama mereka adalah pertanian dan peternakan, meski terkadang mereka juga
memproduksi kerajinan kulit. Dengan populasi delapan ribu jiwa, skala kota ini
sedikit di bawah rata-rata Kekaisaran.
Namun,
kota ini adalah rumah bagi seorang juru tulis ternama yang digambarkan Nona
Agrippina memiliki kemampuan transkripsi yang hebat. Konon, ia dulu tinggal di
Berylin namun bosan dengan keramaian dan pesanan buku mewah di usia tuanya. Ia
pun memilih pensiun ke kota asalnya, Wustrow.
Menyalin
buku kuno adalah proses yang membutuhkan keterampilan tinggi.
Salinan
teks mistik biasanya dikerjakan secara eksklusif oleh tangan para mahasiswa
yang kekurangan biaya, atau terkadang peneliti dan profesor yang kurang
beruntung, melalui malam-malam tanpa tidur.
Mengingat butuhnya desainer dan penjilid buku profesional,
tidak heran jika literatur akademis sangat langka.
Akan tetapi, juru tulis profesional memiliki teknik khusus
untuk menghasilkan Mana yang dibutuhkan guna menciptakan buku
berkualitas tinggi.
Aku akan mengunjungi Tuan Marius von Feige, pria yang konon
bisa membuat salinan yang mustahil dibedakan dari aslinya.
Perlu dicatat bahwa Nona Agrippina menyebut nama lengkap pria
ini dengan nada yang serius.
Beliau juga menggambarkannya sebagai orang yang sangat keras
kepala, jadi aku sudah bersiap untuk negosiasi yang alot.
Namun, hadiah misinya sepadan, dan mencoba meyakinkan NPC
yang sulit justru terasa sangat menantang.
Kebetulan Mika baru saja mendapat tugas mengawasi alokasi
pajak panen musim gugur—mengingat Kekaisaran Trialist memperlakukan para Magia
sebagai entitas politik—jadi aku mengajaknya ikut selagi dia luang.
Akhirnya,
kami hampir sampai di tujuan.
Setelah
sempat tersayat di jalan, kini tugas kami tinggal sedikit lagi. Yang tersisa
hanyalah berusaha sebaik mungkin demi mendapatkan uang kuliah Elisa.
Kira-kira suvenir apa yang akan dia sukai nanti?
[Tips: Transkripsi
adalah proses menyalin buku dari kulit domba secara manual dan menyewa
pengrajin lokal untuk menjilidnya. Beberapa buku kuno akan kehilangan maknanya
jika tulisan tangan juru tulis tidak sesuai dengan protokol mistik tertentu.
Akibatnya, salinan yang sempurna bisa bernilai setara teks asli; bahkan yang
paling langka dihargai setara dengan gelar bangsawan.]
◆◇◆
Kami
tiba sesaat setelah malam jatuh. Berbeda dengan benteng tinggi di kota besar seperti
Berylin, gerbang kota ini hanya dikelilingi tembok sederhana setinggi tiga
meter.
Meskipun
tata kotanya mengikuti pedoman kekaisaran, tembok ini pasti akan runtuh dalam
waktu dua minggu jika dikepung.
Tentu
saja, karena hanya berjarak dua hari perjalanan dari Berylin bagi utusan cepat,
Wustrow tidak perlu berinvestasi besar pada pertahanan.
Jika
kota sedekat ini dengan ibu kota sampai jatuh, artinya Kekaisaran sudah dalam
bahaya besar dan kemungkinan sedang sibuk memindahkan tahta.
Setelah
pemeriksaan identitas di gerbang, kami membayar lima puluh Assarii
sebagai biaya masuk—mungkin ini pengganti pajak jalan raya—dan memasuki kota.
Hal pertama yang kami lakukan adalah...
"Baiklah,
mari kita cari penginapan."
"Ya,
ayo."
Mencari
penginapan. Urusan misi bisa menunggu besok pagi.
Bertamu
ke rumah orang saat jam makan malam sangatlah tidak sopan.
Hal
ini berlaku dua kali lipat bagi siapa pun yang direkomendasikan oleh Agrippina
du Stahl, apalagi pria bernama Feige ini dianggap keras kepala.
Aku berasumsi Tuan Feige adalah orang yang berkarakter kuat,
jadi aku harus berhati-hati.
Aku bahkan sudah menyiapkan hadiah berupa permen dari ibu
kota. Kurasa uang saku lebih dari majikanku adalah petunjuk halus bahwa aku
harus menggunakan diplomasi semacam ini.
"Permisi, boleh minta waktunya sebentar?" tanyaku.
"Hm? Ada apa, Nak?"
Aku menghentikan seorang penjaga yang sedang tidak bertugas
dan bertanya tentang penginapan murah di daerah tersebut. Dia memberitahuku
sebuah tempat, dan aku memberinya koin tembaga sebagai tanda terima kasih. Aku
masih harus membiasakan diri melihat petugas desa menerima uang tip dengan
mudah seperti ini.
Kami berjalan menyusuri kota. Rumah-rumah berjejer dengan
jarak yang longgar. Meskipun jalan utama berbatu, jalan-jalan kecil di sini masih
berupa tanah. Lampu jalan magis yang biasa kulihat di ibu kota tidak ada di
sini; tempat ini terasa seperti representasi nyata dari pedesaan yang tenang.
Penginapan tersebut terletak di distrik buruh dekat tembok
luar. Kami menyewa kamar dengan harga sepuluh Assarii. Bangunannya agak
miring dimakan usia, tetapi bagian dalamnya tertata rapi.
Aku menempatkan Castor dan Polydeukes di
kandang kuda terdekat. Meskipun tempatnya terlihat tua, ayah dan anak yang
menjaganya tampak sangat telaten. Walau kami masih remaja, mereka memanggil
kami "Tuan-tuan" dengan hormat.
Biaya perawatan kuda adalah lima belas Assarii per
hari, atau dua puluh lima untuk dua ekor.
Terasa aneh membayar lebih mahal untuk kuda daripada untuk
diriku sendiri, tetapi hewan pengangkut memang butuh perawatan ekstra.
Karena Dioscuri adalah rekan setia kami, aku tidak keberatan
memberi mereka tempat yang nyaman. Aku bahkan menambahkan tip lima Assarii agar mereka
diberi makan lebih banyak.
Selanjutnya,
Mika dan aku pergi untuk mengisi perut.
"Jadi,
kau ingin makan apa?" tanyaku.
"Hm,"
gumamnya, "aku tidak melihat banyak kios makanan di sekitar sini."
Dia
benar. Ibu kota memang aneh karena memiliki tempat makan di setiap sudut. Di
desa asalku, Konigstuhl, kami hanya punya satu pub dan satu restoran yang hanya
buka saat musim pelancong tiba.
"Sial," gerutuku sambil menggaruk kepala. "Harusnya tadi kita
tanya soal tempat makan pada penjaga tadi."
"Bagaimana
kalau di sana, Erich?" Mika menarik lengan bajuku dan menunjuk ke sebuah
pub. "Banyak orang yang masuk ke sana. Mungkin makanannya enak?"
Aku
menoleh dan melihat bangunan yang tampak agak kumuh, namun cukup ramai.
Beberapa pelanggan terlihat seperti petualang atau tentara bayaran, dilihat
dari pelindung dada dan lengan yang mereka kenakan.
Sebagai
catatan, di Wustrow berlaku aturan yang sama dengan ibu kota: hanya penjaga,
bangsawan, dan pengawal resmi yang boleh membawa senjata secara terbuka.
Larangan ini standar di seluruh Kekaisaran untuk mencegah pertikaian berdarah
di tempat umum.
Schutzwolfe, pedang jarahan, dan zirahku semuanya tersimpan di
penginapan. Saat ini aku hanya membawa sarung tangan, penutup leher, pisau di
lengan baju, dan Moon Ring. Memiliki katalis mistik membuatku tetap
berbahaya meskipun tanpa pedang.
Setelah
menenangkan imajinasiku yang liar, kami masuk ke bar tersebut. Ruangannya luas
namun sesak oleh pelanggan. Bau minuman keras yang menyengat dan kerumunan
orang bercampur dengan aroma masakan, menciptakan kekacauan sensorik.
Suara
dentingan gelas dan tawa keras memenuhi udara. Beberapa orang asyik bermain
kartu dengan tumpukan koin di meja.
Ini dia! Inilah suasana yang seharusnya! Adegan fantasi tradisional
seperti ini adalah pemandangan yang menyegarkan setelah rangkaian kejadian aneh
belakangan ini.
Kemunculan
dua anak laki-laki tidak memicu klise pria kasar yang menyuruh kami pulang.
Karavan pedagang sering mempekerjakan remaja seusia kami, jadi kehadiran kami
tidak terlalu mencolok.
"Hai!" sapa seorang
pelayan dengan ceria. "Tunggu sebentar ya! Sedang ramai, tapi kami masih
punya tempat untuk kalian!"
Gadis itu mengenakan pakaian
adat Rhinian utara dengan kerah rendah. Rambut pirangnya dikepang tebal, dan
pipinya yang berbintik-bintik dihiasi senyum ramah. Dia adalah tipe pelayan
desa yang klasik.
Kami dibawa ke kursi di
bagian belakang, tepat di samping sekelompok pria yang sedang berjudi kartu.
"Jadi,
mau pesan apa?" tanya pelayan itu. "Kami baru saja menyembelih domba,
supnya sangat lezat malam ini!"
Daging domba? pikirku. Ini agak jarang karena protein utama orang Rhinian
adalah babi. Namun, mengingat cuaca dingin di utara, domba memang lebih tahan
dibanding hewan ternak lainnya.
"Wah,
sudah lama sekali aku tidak makan itu," kata Mika antusias. "Aku mau
satu porsi semur daging domba."
Aku
hampir lupa Mika berasal dari daerah ini. Karena dia tampak bersemangat, aku
pun memesan menu yang sama.
"Aku tidak percaya bisa makan daging domba lagi. Di ibu
kota tidak ada yang menyajikannya, lho."
Kekaisaran Trialist adalah wilayah berhutan lebat, sehingga
lahan untuk padang rumput sangat terbatas.
Sebagai
gantinya, babi menjadi primadona karena bisa dilepas di hutan untuk makan biji
pohon ek. Hanya bangsawan yang biasanya bisa menikmati daging sapi atau domba.
Nostalgia ini pasti membuat Mika sangat senang.
Bicara
soal nostalgia, aku jadi merindukan nasi dan sup miso. Meskipun sudah terbiasa
dengan roti dan babi, cita rasa Jepang tetap terpatri dalam jiwaku.
Aku
pernah mendengar wilayah selatan yang berbatasan dengan laut memiliki beras,
namun aku ragu kualitasnya setara dengan beras Japonica yang telah melewati
seleksi pembiakan berabad-abad.
"Aku turut senang
untukmu... Makanlah yang banyak!" Terbawa suasana, aku menepuk bahu Mika dengan penuh
semangat. Dia menatapku seolah aku sudah gila, tapi aku terlalu sentimental
untuk peduli.
Saat
semur kami datang dengan harga delapan Assarii, Mika berbisik bahwa
rasanya sedikit berbeda dengan di rumahnya—terlalu banyak jahe. Namun, bagi
harganya, rasanya cukup lezat. Jahe menutupi bau prengus daging, dan teksturnya
empuk. Jika boleh jujur, aku hanya butuh sedikit merica atau nasi sebagai pendamping.
Setelah
makan, kami berpisah sementara. Mika yang merasa kenyang dan bernostalgia
berkata bahwa dia pasti akan bermimpi indah malam ini. Ia kembali ke motel,
sementara aku menuju pemandian umum untuk membersihkan debu perjalanan.
Pemandian
itu terletak sedikit di luar tembok kota, di samping sungai kecil. Tempatnya
terlihat tua namun terawat baik dan cukup ramai. Aku membayar tiket masuk dan
melangkah ke dalam. Di sana ada kolam air dingin, hangat, dan panas—dan yang
mengejutkan, mereka punya pemandian uap.
Bagus. Sudah lama aku tidak sauna, pikirku riang. Sauna di ibu kota
biasanya kurang panas bagi seleraku.
"Wah,
aku mendapatkan ruangan ini untuk sendiri."
Tungku
di tengah ruangan terasa sangat panas. Setiap percikan air langsung berubah
menjadi uap putih yang menyesakkan namun nyaman, memancing keringat keluar dari
pori-pori. Inilah yang namanya mandi uap sejati.
Aku
mengenang masa-masa mandi bersama di Konigstuhl. Jika aku masih di sana, tahun
ini aku pasti sudah mulai menolak diajak Margit bergabung ke pemandian pria
dewasa.
Aku
menikmati relaksasi itu selama beberapa menit sampai tamu lain datang.
Pendatang baru itu berjalan menembus kabut uap dan duduk di sebelahku, menjaga
jarak yang sopan. Aku mengangguk sesuai etika, dan dari siluetnya yang
berkabut, dia tampak memperhatikanku.
"Aku
belum pernah melihatmu sebelumnya."
Logatnya unik—mungkin dialek utara. Berbeda dengan bahasa halus di
ibu kota, aksen ini terasa kasar namun jujur.
"Iya,
Tuan," jawabku sopan. "Saya di sini untuk menjalankan tugas
kecil."
"Oh? Tugas yang berat untuk anak muda. Berapa umurmu,
Nak?"
"Saya berusia tiga belas tahun musim gugur ini."
"Asalmu
dari mana? Ke sini sendirian?"
Nada
suara pria itu serak, diwarnai ketenangan tertahan khas seorang pria tua. Dia
mungkin seorang pensiunan lokal. Oh, dia orang yang tepat untuk ditanyai.
Penduduk lama biasanya tahu banyak tentang karakter Tuan Feige yang sedang
kucari.
"Tidak, Tuan," kataku. "Aku datang bersama
seorang teman. Rasanya agak kesepian kalau berkemah sendirian, kau tahu?"
"Mm, benar. Jalanan sedang tidak aman belakangan ini.
Tapi harus kuakui, kau anak yang pintar," katanya sambil mengulurkan
tangan di balik kabut uap untuk menepuk kepalaku.
Sentuhannya lembut, namun teksturnya benar-benar berbeda dari
tangan orang tuaku atau belaian Nona Agrippina. Sesuatu yang kasar dan
bergerigi menggesek rambutku. Itu bukan daging—melainkan kulit kayu.
Teksturnya persis seperti batang pohon tua yang kering.
"Eh, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Ada apa, Nak?" tanyanya.
Memasuki dekade kelima dalam kehidupan mentalku, aku tidak
hanya sekadar bicara soal kebijaksanaan. Aku sangat sadar betapa pentingnya
persiapan sebelum menjalankan tugas. Aku bukan tipe orang yang akan berlari ke
sarang monster tanpa persiapan, hanya untuk menyadari bahwa segerombolan
kerangka yang kebal baja sudah menungguku. Setidaknya, hal itu hanya terjadi sekali.
Aku telah melakukan riset mendalam tentang targetku. Dia
adalah juru tulis berbakat, suka makanan manis, bisa meledak marah jika
pekerjaannya diganggu, dan dianggap sangat keras kepala oleh semua informanku.
Namun yang paling penting...
"Saya rasa, Anda adalah Tuan Feige yang terhormat. Apakah saya salah?"
...dia adalah seorang Treant
tua. Sosok yang duduk di sampingku ini jelas merupakan manusia kayu yang sudah
sangat sepuh. Anggota tubuhnya terdiri dari cabang dan dedaunan yang melilit,
sementara wajahnya terbentuk dari akar pohon besar yang melingkar. Dari celah
akarnya, matanya bersinar menembus uap seperti sepasang batu permata yang
berkilauan.
Mata itu terbuka lebar—sebuah
kiasan untuk ekspresi kaget di wajah kayunya—dan menatapku dari ujung kepala
sampai ujung kaki. Kemudian, dia mengangguk dengan wibawa, dan cara bicaranya
yang sederhana berubah menjadi dialek istana yang sangat murni.
"Memang benar. Nah, Nak,
apa urusanmu dengan tunggul tua yang sudah layu sepertiku?"
[Tips: Treant
secara teknis termasuk ras manusia, namun secara alami mereka lebih dekat
dengan roh. Oleh
karena itu, mereka memiliki kapasitas Mana yang sangat tinggi dan mampu
menggunakan ikatan alami mereka dengan alam untuk meningkatkan kekuatan.]
◆◇◆
Pemandian
umum di Kekaisaran Trialist hampir menyerupai taman hiburan kecil. Di sana
terdapat ranjang untuk pijat, bangku untuk mengobrol, bahkan area latihan
gulat. Tuan Feige dan aku meninggalkan sauna menuju bangku di dekat kolam air
dingin untuk menyejukkan diri.
Melihat
sosoknya secara utuh, keanehan bentuk seorang Treant memukauku.
Wajah
dan anggota tubuhnya tampak seperti kulit kayu keriput yang secara kebetulan
membentuk anatomi manusia. Jika matanya tidak bersinar, dia mungkin hanya akan
dianggap sebagai batang pohon tua yang unik.
Dedaunan
perak menghiasi kepalanya layaknya rambut, sementara cabang-cabang runcing
memberikan kesan pohon kuno yang agung. Tubuhnya secara diam-diam menceritakan
betapa panjang usia yang telah ia lalui.
"Seiring
bertambahnya usia, kelembapan mulai meninggalkan tubuhku. Aku datang ke sini
untuk merendam kayu keringku ini," katanya sambil melambaikan tangan ke
arah seorang pelayan air.
"Ya,
Tuan," sapa si pelayan air. "Datang lagi? Anda sepertinya tidak pernah bosan
dengan tempat ini."
"Semua orang bebas mandi sepuasnya," jawab Tuan
Feige. "Aku
akan di sini sampai merasa cukup. Ah, berikan aku air terbaikmu."
Pohon
tua itu rupanya sudah akrab dengan si pelayan, yang segera menuangkan secangkir
air dingin beraroma asam segar.
"Berikan satu juga untuk anak ini," tambah Tuan
Feige, mentraktirku. Minuman dingin itu terasa segar dengan aroma jeruk dan
sedikit ekstrak kulit kayu. "Silakan minum. Air yang diteguk setelah tubuh
tenggelam dalam uap—"
"—Akan terasa lebih manis daripada nektar."
Aku menyambung kutipan puisi klasik itu dan langsung
meneguknya, membiarkan cairan segar itu memulihkan tubuhku yang dehidrasi.
"Oh?" Tuan Feige mengelus lumut abu-abu di dagunya
yang berfungsi sebagai janggut. "Kau mengenal karya klasik?"
"Itu karya Bernkastel, bukan? Sang maestro puisi
prosa."
Kalimat yang kami kutip berasal dari lagu pastoral kuno yang
sudah ada sebelum Kekaisaran berdiri.
Wilayah ini memiliki sejarah panjang dalam puisi emosional
yang populer bahkan di kalangan rakyat jelata. Dulu, Margit dan aku sering
memainkan permainan kata yang berakar dari tradisi literasi ini.
Saat masih kecil, aku sering mengurung diri di perpustakaan
gereja lokal untuk membaca apa saja. Selain teks teologis, koleksi para uskup ternyata
menyimpan banyak antologi puisi yang sangat dekat dengan kehidupan petani.
"Tepat
sekali," Tuan Feige membenarkan. "Karya yang luar biasa. Dia tidak
perlu dialek yang rumit untuk mencapai keanggunan. Kegembiraan hidup terpancar
dalam setiap katanya."
"Saya
sangat setuju. Membaca karyanya benar-benar membuatku ingin segera mandi atau
sekadar jalan-jalan menikmati alam."
Bernkastel
adalah sosok misterius. Para sejarawan menduga dia adalah penyair awam yang
memiliki pelindung bangsawan.
Meskipun
lingkungan aristokrat saat ini lebih menghargai teknik bahasa yang rumit, aku
tidak menyangka seorang juru tulis ulung seperti Tuan Feige justru menggemari
puisi prosa yang lebih sederhana dan jujur.
"Tidak
banyak pemuda seusiamu yang bisa memahami kejeniusannya. Aku terkesan." Treant
itu tampak senang dan memesan segelas air lagi untuk kami berdua.
Aku
tahu persis perasaannya: seseorang akan menjadi sangat dermawan ketika
menemukan teman yang berbagi hobi yang sama.
"Anak
muda zaman sekarang hanya bicara soal Verlaine atau Heinrich. Mereka hanya
ingin disuapi informasi detail. Padahal yang tidak mereka ketahui
adalah..."
Apa
yang terjadi selanjutnya adalah sebuah kuliah panjang—atau lebih tepatnya
omelan—yang kuserap dengan saksama saat kami bergantian pindah antara kolam air
panas dan uap.
Sekarang
aku mengerti mengapa dia disebut "keras kepala". Tuan Feige adalah
pria yang cerdas dan sombong karena kemampuannya yang luar biasa.
Namun,
dari ceritanya, ia tidak memiliki bakat untuk menciptakan kisahnya sendiri;
transkripsi adalah caranya untuk tetap dekat dengan sastra yang ia cintai.
Tragedinya
adalah keterampilannya terlalu hebat. Karena sangat ahli, ia justru
terus-menerus dibanjiri pesanan untuk menyalin dokumen sejarah, opini politik,
atau novel populer yang sebenarnya tidak ia sukai. Kesenjangan antara apa yang
ia kuasai dan apa yang ia cintai sungguh menyayat hati.
Kepalaku
mulai terasa pusing karena terlalu lama berendam, namun aku tidak menyesal.
Kedalaman pengetahuannya memberiku banyak EXP hanya dengan mendengarkan.
Pusing ini adalah harga yang murah.
"Maafkan
aku, Nak," kata Tuan Feige. "Aku terbawa suasana. Ini kebiasaan buruk
pohon tua."
"Tidak
perlu minta maaf, Tuan. Saya sangat terpesona mendengarnya."
Kami
melangkah keluar dari pemandian. Angin malam musim gugur yang sejuk segera
memulihkan kesadaranku. Di langit, bulan putih bersembunyi di balik awan tipis,
sementara bulan hitam yang redup hampir tak terlihat.
"Nah, aku belum dengar urusanmu denganku. Apa yang
membawa anak sepertimu menemui tunggul layu ini?"
Tuan
Feige memberiku kesempatan untuk menyampaikan tujuan utamaku. Sebagai
anak-anak, kejujuran adalah diplomasi terbaik.
"Baiklah,
Tuan. Majikanku meminta saya untuk mengambil Compendium of Forgotten Divine
Rituals yang pernah Anda salin."
Aku
membungkuk dalam-dalam. Alis sang Treant terangkat, dan mata merahnya
kini bersinar redup. Tugas dari Nona Agrippina ternyata bukan memesan salinan
baru, melainkan mengambil buku yang sudah diselesaikan Tuan Feige namun belum
diserahkan kepada klien sebelumnya karena perselisihan besar.
Sejauh
risetku, istilah "Forgotten" dalam judul itu bisa berarti hilangnya
nama dewa tersebut dari sejarah. Teks semacam itu jelas dianggap terlarang dan
berbahaya. Aku tidak berniat membukanya; aku akan langsung menyerahkannya pada Nona
Agrippina tanpa melihat isinya. Aku tidak ingin berakhir tragis seperti Orpheus
hanya karena rasa penasaran yang salah tempat.
"Apakah
Anda masih menyimpan buku tersebut?" tanyaku tetap dalam posisi
membungkuk. Suara derit kayu yang berat terdengar, mengiringi kepakan sayap
burung di pepohonan dekat sana.
"Baiklah,"
katanya. "Ini bukan sesuatu yang pantas dibicarakan di tempat umum.
Ikutlah denganku."
Aku
segera mengejar langkah Tuan Feige yang menjauh.
[Tips: Sepanjang
sejarah, beberapa dewa menghilang karena kehilangan pengikut atau muncul
kembali seiring berkembangnya kepercayaan baru.]
◆◇◆
Tuan Feige membawaku ke
sebuah pohon cemara raksasa yang menakjubkan di dekat tembok kota. Ia menjelaskan bahwa
pohon itu adalah "ibunya" sekaligus tempat tinggalnya saat ini.
Treant lahir dari roh pohon yang membentuk kesadaran diri, dan biasanya mereka
tinggal di dekat pohon induk sampai menemukan tujuan hidup mereka.
"Masuklah."
"Wow...
Luar biasa." Bagian dalam pohon itu jauh lebih luas daripada yang terlihat
dari luar. Aku terpaku melihat koleksi buku yang memenuhi ruangan.
Di
tengah ruangan terdapat meja kerja berwarna cokelat karamel yang elegan,
lengkap dengan kursi bersandaran tinggi yang menambah kesan agung. Rak-rak buku
berjejer rapi, dikelompokkan berdasarkan pengarang. Hebatnya, bahkan
cerita-cerita murah dari perpustakaan umum pun dijilid dengan sangat mewah di
sini.
Ruangan ini adalah cerminan gairah seorang kolektor sejati.
Semua buku ini pasti disalin dan dijilid oleh Tuan Feige sendiri dengan penuh
cinta.
"Aku
tahu cerita ini!" seruku antusias. "Tunggu, aku pernah melihat drama
romansa pengarang ini di festival! Anda bahkan punya koleksi puisinya?!"
Bagi
pecinta sastra, ini adalah harta karun yang tak ternilai.
"Oh,
kau menyukainya? Kau mau membawa pulang satu?"
"Benarkah?!"
Aku hampir melompat kegirangan, namun segera tersipu malu saat menyadari sikap
kekanak-kanakanku. Menggunakan status anak-anak sebagai tameng memang berguna,
tapi aku tidak ingin benar-benar bersikap tidak sopan. "M-Maafkan
kelancanganku. Saya tidak bisa menerima sesuatu yang begitu berharga secara
cuma-cuma."
"Tidak, jarang sekali ada pengunjung yang begitu
antusias dengan koleksiku seperti dirimu. Semua yang mereka bawakan untukku
benar-benar membosankan. Mereka menolak setiap kali aku menyarankan sebuah
kisah, seolah-olah selera mereka terlalu tinggi untuk cerita-cerita ini."
Tuan Feige tampak tenang saat melanjutkan ceritanya.
"Aku sangat muak sampai-sampai meninggalkan bengkel kerjaku di ibu kota
untuk pulang. Meninggalkan semua gangguan itu dan mengelilingi diri sendiri
dengan legenda favorit sangatlah menyegarkan. Namun... tetap saja ada sebuah
noda di tempat suciku ini."
Pria
itu membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah buku tebal, lalu
melemparkannya ke atas meja. Buku itu dijilid dengan kulit hitam dan hiasan
tulang yang mewah. Satu pandangan saja sudah cukup untuk mengetahui bahwa itu
adalah salah satu dari "benda" terlarang itu.
Membuka
buku ini tanpa persiapan adalah jenis tindakan yang akan memicu lemparan dadu 1D100
dan senyum jahat dari seorang Game Master di balik layar. Tanpa sadar,
aku melangkah mundur.
Penampakannya
sangat mengintimidasi. Aku semakin gelisah karena penglihatan keduaku yang
masih awam bisa melihat dengan jelas kekuatan mengerikan yang mengalir darinya.
Aku bahkan tidak sudi menyentuh benda itu.
Jangan biarkan benda ini tergeletak begitu saja seperti buku biasa!
Serius, beri rantai atau apa pun. Paling tidak, pasang kunci agar tidak ada
orang yang bisa membukanya!
"Ini adalah Compendium
of Forgotten Divine Rituals yang dicari oleh majikanmu."
Aku menelan rasa mual yang
menyertai ketidaknyamanan tak terkatakan ini, namun mataku seolah terkunci pada
buku tersebut. Ini bukan dorongan yang sama seperti saat seseorang ingin
menonton film horor karena penasaran. Dorongan ini terasa jauh lebih jahat.
"Permintaan
awal memintaku menerjemahkan teks kuno ini ke bahasa Rhinian sedetail mungkin.
Teks ini penuh dengan anotasi untuk memastikan makna aslinya tetap jelas."
Itu
berarti aku bisa memahami isinya jika aku membukanya. Begitu pikiran itu
terlintas, sesuatu di dalam otakku berbisik: Bacalah.
Tidak, tidak, tidak mungkin! Sama sekali tidak! Meskipun aku hampir pasti akan
mendapatkan Skill baru dengan melakukannya, itu adalah jenis kemampuan
yang seharusnya tidak pernah kusentuh.
Kehadiran
ide asing dalam alur pikiranku adalah bukti cukup bahwa aku sedang berhadapan
dengan peninggalan terkutuk. Pada titik ini, aku tidak akan terkejut jika benda
ini memicu misi panjang yang hanya akan berakhir setelah ia dilemparkan ke
kawah gunung berapi.
Jari-jari
kayu Tuan Feige meluncur di atas sampulnya, tanpa rasa sayang sedikit pun.
Sebagai pencipta teror ini, dia tahu betapa berbahayanya buku ini; dia hanya
memastikan bahwa kekuatan dahsyatnya belum pudar.
"Nak, seberapa banyak yang kau ketahui tentang
Tuhan?"
"Hal-hal ilahi?" ulangku. "Dulu aku sering ke
gereja. Aku tahu dewa-dewi yang mereka bicarakan dalam teks umum, khotbah, dan
cerita rakyat."
"Kalau begitu, aku yakin kau tahu bahwa dewa yang kita
sembah saat ini sedang berperang dengan dewa lainnya."
Aku mengangguk. Dari yang kupahami, para dewa di planet ini
saling bertarung untuk mendapatkan pengikut fana. Buku sejarah menjelaskan
bahwa pada suatu masa, para dewa berhenti bertempur secara langsung, mengakhiri
Zaman Para Dewa.
Zaman
Kuno yang mengikutinya menyaksikan perang proksi yang dilancarkan melalui para
pengikut mereka. Baik di masa lalu maupun sekarang, mereka yang kalah dalam
pertempuran memiliki beberapa kemungkinan nasib.
"Tahukah
kau apa yang terjadi pada dewa yang jatuh?" tanya Tuan Feige.
"Ya.
Dewa mana pun yang kalah akan kehilangan pengikutnya..."
Pertama,
mereka bisa dilupakan begitu saja hingga melebur dalam kehampaan.
Kedua,
mereka dapat diambil alih oleh dewa yang menang. Mereka direndahkan menjadi
entitas ilahi tingkat rendah atau binatang mistis, hingga akhirnya binasa di
tangan manusia.
Metode
ini mudah dipahami; agama-agama Abrahamik yang sukses di dunia lamaku
menggunakan taktik serupa. Dewa asing diubah menjadi iblis yang merusak jiwa,
sementara kemenangan budaya mereka dikaitkan dengan orang suci fiktif. Perang
suci ternyata tidak banyak berbeda antar dunia.
Ketiga,
dewa yang ditaklukkan dapat bergabung dengan jajaran dewa pemenang dan
menemukan jati diri baru. Ini cukup umum, karena banyak dewa di Kekaisaran
Trialist awalnya adalah dewa sesat yang akhirnya "diadopsi" ke dalam
kepercayaan resmi.
Sebelum
Kekaisaran berdiri, Dewa Siang dan Dewi Malam menguasai jajaran dewa asli di
wilayah ini. Mitos penciptaan menyatakan bahwa pada awalnya dunia mengalami
kekacauan, hingga muncul satu dewa yang mewujudkan segala kebaikan.
Dewa
itu menjelajahi hamparan pasir tak bertepi selama ribuan tahun hingga tiba di
ujung dunia—ambang kehampaan. Di sana, perwujudan segala kejahatan telah
menantinya.
Dua
dewa yang bertolak belakang ini langsung bertempur hebat. Mereka saling
mencekik dan menggunakan batu sebagai senjata, hingga akhirnya menciptakan
pedang dan tombak. Pertempuran mereka berlangsung selamanya bagi makhluk fana,
meski bagi mereka itu hanya sekejap mata.
Darah
yang tumpah, daging yang terpotong, dan percikan api dari pedang mereka
menciptakan keilahian baru yang ikut terjun dalam peperangan. Namun, di tengah
pertarungan abadi itu, mereka menyadari sebuah pencerahan.
Baik
kebaikan murni maupun kejahatan murni tidak dapat menopang dunia sendirian.
Keduanya saling membutuhkan. Setelah menyadari sifat tak terpisahkan ini,
masing-masing memberikan luka fatal pada diri mereka sendiri dan membelah jiwa
mereka menjadi dua.
Dari
gabungan separuh jiwa mereka, lahirlah Dewa Siang dan Dewi Malam. Dari dua
makhluk sempurna yang terisolasi, muncul harmoni cacat yang melahirkan dunia
seperti yang kita kenal sekarang.
Dewa
Siang menerangi langit dengan kehangatan untuk menanam makanan, namun juga
menyiksa manusia dengan kekeringan. Dewi Malam membawa kegelapan dan dingin,
namun juga memberikan waktu untuk istirahat.
Beberapa
dewa kecil yang muncul dari percikan pertempuran mistis itu terlempar ke
pelosok planet dan menjadi dewa lokal yang disembah berbagai sekte. Namun, Sang
Ibu dan Sang Ayah tidak pernah lupa; mereka selalu menerima kembali
"anak-anak" mereka yang tersesat ke dalam pelukan.
Setelah
menata ulang informasi ini dengan pandangan sinis—mengetahui ada entitas di
luar planet ini—jelas bahwa mengubah objek pemujaan yang kalah agar sesuai
dengan nilai panteon pemenang adalah langkah politik yang cerdas. Bangsa Romawi
dan Yunani juga melakukannya.
"Mengesankan,"
kata Tuan Feige. "Kau sangat terpelajar."
"Saya
senang bisa menyenangkan Anda, Tuan." Aku menundukkan kepala.
"Namun,"
katanya sambil mengangkat buku terkutuk itu dengan alis berkerut, "apa
yang akan kau katakan jika aku bilang ada kemungkinan keempat?"
Satu lagi? Aku memiringkan kepala dengan bingung. Sang Treant memutar
kursinya dan menyilangkan kaki, menatap kosong ke luar jendela.
"Ada dewa-dewi yang mengalami nasib berbeda. Mereka yang
dianggap tidak layak menjadi bagian dari Ciptaan oleh manusia, lalu dikubur
oleh tangan kehendak manusia sendiri."
Sulit dipercayai. Kita hidup di dunia di mana keberadaan
makhluk lebih tinggi dapat diamati secara nyata. Bagi ras berakal, menumbangkan
kekuatan surgawi ke dalam liang kubur adalah ide yang sangat radikal.
Tentu, fiksi abad ke-21 penuh dengan kisah pembunuh dewa.
Beberapa sistem permainan meja bahkan memiliki statistik agar dewa bisa
dikalahkan. Ada pepatah terkenal: Aku akan membunuh Tuhan jika angka-angka
di dadu mengizinkannya.
Namun, di era informasi, agama telah mengalami penurunan. Aku
tidak menyangka akan mendengar sentimen serupa di dunia yang begitu didominasi
oleh penghormatan kepada ilahi. Bahkan dewa paling kejam di mitologi Bumi pun
biasanya hanya dihukum oleh sesama dewa.
Memang ada kisah pembunuh dewa, tetapi pelakunya biasanya
adalah setengah dewa atau pahlawan terpilih dengan senjata surgawi. Bahkan
Mesias yang menyerahkan nyawanya untuk menebus dosa manusia pun tidak mengalami
kematian yang "sebenarnya"; kematiannya adalah bagian dari mukjizat
keselamatan.
Namun di sini, di dunia dengan dewa-dewi yang nyata, manusia
telah menghapus nama mereka dari keberadaan. Beban dari tindakan tersebut
sungguh tak terbayangkan.
Rasa ngeri menjalar di tulang belakangku. Sekali lagi, aku
dihadapkan pada pengetahuan yang mengancam kewarasanku.
"Sekarang setelah kau tahu..." Tuan Feige memainkan
nasib dunia dengan santai, seperti orang yang membalik kerikil. "Berapa harga yang
ditetapkan tuanmu untuk buku ini?"
Sialan, monster kayu tua ini! Satu Drachma untuk mengangkut
benda ini?! Aku akan menolaknya meskipun dibayar dua kali lipat! Nona Agrippina pasti
sudah tahu apa yang menantiku. Aku bisa membayangkan senyum menyebalkannya saat
menertawakan keputusasaanku.
Meskipun
baru saja mandi hangat, aku merasa kedinginan sampai ke tulang. Tuan Feige
mengangkat benda terkutuk itu dan menoleh ke arahku dengan wajah muram.
[Tips: Di antara
buku-buku mistis, banyak yang memiliki efek langsung pada siapa pun yang
melihatnya—bahkan memengaruhi lingkungan sekitar hanya dengan keberadaannya. Gudang buku
terdalam di Kampus dianggap terlarang karena alasan ini.]
◆◇◆
Menatap
buku yang jahat itu, aku merasa perisai kewarasanku terkikis. Aku teringat
sistem permainan papan yang penuh dengan ranjau mental; skenario di mana
kematian seringkali dianggap sebagai nasib yang lebih baik.
Buku
di tangan Tuan Feige adalah kutukan murni. Aku tidak tahu dari mana asalnya,
tapi aku yakin tidak akan ada hal baik yang terjadi. Paling baik ia akan
menghancurkan jiwa, paling buruk ia akan menghancurkan dunia.
Aku
sama sekali tidak ingin terlibat, apalagi membawanya pulang. Nona Agrippina,
tolong, ini bukan saatnya bercanda!
"Hm...
Mungkin ini terlalu provokatif untuk jiwa muda."
Tuan Feige akhirnya menjauhkan benda mengerikan itu. Hasratku untuk melarikan
diri mereda seketika setelah buku itu hilang dari pandangan. Entah kekuatannya
memang terbatas, atau meja itu memiliki pelindung khusus.
"Sekarang," lanjutnya, "berapa harga yang
ditawarkan tuanmu?"
Jantungku berdegup kencang, namun aku mulai memaksakan diri
untuk bernegosiasi. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikiran
yang diamplas oleh kengerian tadi. Aku harus berjuang demi masa depan Elisa.
Tenangkan dirimu. Berhenti gemetar. Kau adalah kakak yang
hebat, bukan?
Aku mengingatkan diriku tentang tujuan utama. Dalam
tawar-menawar, mengetahui batas akhir adalah kunci. Namun, ada masalah besar:
majikanku memintaku membeli barang ini dengan harga "berapa pun yang
diminta."
Memberikan cek kosong kepada penjual adalah langkah berani
bagi Nona Agrippina, tapi bagiku, ini adalah ujian ketajaman bisnis. Jika aku langsung
menyetujui harga apa pun, itu akan membuatku terlihat seperti amatir. Aku ingin
memberikan kejutan pada majikanku dan menunjukkan bahwa aku bukan anak kecil
biasa.
"Kami siap memberikan kompensasi yang adil sebagai
imbalan atas barang tersebut," kataku. "Baik berupa uang atau
pembayaran alternatif, kami siap memenuhi kebutuhan apa pun yang Anda
miliki."
"Hm..."
Langkah ini bertujuan memancing Tuan Feige memberikan
perkiraan harga terlebih dahulu. Dialah yang memegang kendali penjualan.
Sebagai pembeli, aku berhak bertanya apa yang ia inginkan agar mau melepaskan
benda itu.
"Terus
terang saja," katanya, "aku tidak keberatan menggunakan benda
terkutuk itu untuk menyalakan perapian. Buku itu membosankanku. Aku tidak
tertarik pada kisah dewa yang dianggap penghujatan oleh pendeta kuno. Lagi
pula, pengabdianku pada dewa zaman sekarang pun tidak seberapa."
Sang
Treant menjentikkan jari, membuat sebuah kursi melayang ke tengah
ruangan menggunakan Unseen Hand. Ia siap berdiskusi dengan serius.
"Silakan
duduk. Kau tampak lelah."
"Terima
kasih banyak." Kakiku masih gemetar, jadi aku menerima tawarannya.
Tuan
Feige melanjutkan, "Buku ini sama sekali tidak cocok denganku. Pembeli
awalnya juga sangat menyebalkan soal detail jilidnya, sampai kami hampir
bertengkar hebat sebelum aku mengusirnya."
Aku
merasa merinding. Aku curiga pembuatan buku hitam itu melibatkan sumber daya
yang berasal dari manusia. Fiksi horor kosmik yang kukenal biasanya menggunakan
kulit manusia sebagai sampulnya... Aku berharap dugaanku salah.
"Dengan
semua itu, izinkan aku membuat kesepakatan," kata Tuan Feige. "Aku
tidak ingin bernegosiasi dengan majikanmu... tapi denganmu. Bagaimana
menurutmu?"
Butuh
waktu sejenak bagiku untuk memproses usulannya. Dia bersedia menukar buku itu
bukan dengan uang Nona Agrippina, melainkan dengan sesuatu yang bisa kuhasilkan
sendiri.
"Dari
yang kulihat, kau memiliki Aura yang cukup menarik."
"Ah...
Ya, kurasa begitu." Dia tidak salah; ada berbagai entitas yang menghantui
keberadaanku.
"Aku
sangat suka mendengar cerita dari para pelancong muda. Aku mungkin tidak
berbakat menulis ceritaku sendiri, tapi mendengarkan kisah orang lain tidak
pernah membosankan."
Kecintaannya
pada hobi ini terlihat dari rak-rak bukunya yang penuh dengan legenda naga dan
tragedi pahlawan muda.
"Jadi,"
katanya, "aku ingin mengajakmu melakukan petualangan kecil."
"Apa?
Sebuah petualangan?"
Tuan
Feige mengeluarkan sebuah peta daerah setempat. Garis topografinya sangat
akurat; peta semacam ini pasti merupakan rahasia militer. Nilainya setara
dengan tumpukan koin emas terbesar.
"Yah,
saat kau berada di posisiku, hal-hal seperti ini akan menemukan jalannya
kepadamu."
Ia
bercanda, tapi hukuman mati bisa menantinya jika peta ini jatuh ke tangan
asing. Sang juru tulis tampaknya tidak menyadari tubuhku yang gemetar saat ia
menunjuk ke hutan di utara Wustrow.
"Hutan ini tidak memiliki banyak predator, kecuali
seekor beruang."
Uh, beruang itu predator
yang cukup serius! Aku lebih suka
menghadapi tank daripada beruang dengan tangan kosong.
"Jaraknya
sekitar satu hari jalan kaki," tambahnya.
"...
Cukup jauh untuk kaki seorang anak," sahutku.
"Hah, tapi tidak ada
tantangan bagi anak laki-laki yang dikirim sejauh ini oleh majikannya,
kan?"
Aku tidak punya argumen untuk membantah.
"Kau tahu," lanjutnya, "seorang petualang
eksentrik pernah membangun tempat persembunyian di hutan ini, tapi..."
"Tapi belum ada kabar darinya lagi?"
"Benar sekali. Aku dengar dia sudah pergi atau meninggal
dunia sejak lama."
Tuan
Feige ingin aku pergi ke sana untuk menemukan sebuah buku harian. Itu bukan
buku sihir atau sejarah kuno, melainkan jurnal perjalanan seorang petualang
yang terkenal di masa muda Tuan Feige.
"Dan
jika jurnal itu masih ada," kata sang Treant sambil tersenyum,
"bukankah itu akan membuat jantungmu berdebar kencang?"
"Yah..."
Sepertinya aku memang punya banyak kesamaan dengan pria kayu ini. "Tentu
saja."
Ayolah,
kedengarannya sangat menyenangkan. Buku harian seorang petualang
terkenal pada dasarnya adalah replay dari seorang pemain TRPG. Tidak ada
penggemar gim petualangan atau gim papan yang bisa menahan antusiasme mereka
dalam situasi seperti ini.
"Secara
pribadi," kata Tuan Feige, "saya akan sangat senang jika Anda bisa
membawakan buku harian itu. Namun jika ternyata sudah tidak ada, saya juga akan
senang mendengar kisah perjalanan Anda sendiri."
Pada
dasarnya, dia ingin mengatakan bahwa tidak ada ruginya untuk mencoba. Aku tidak
berniat menolak, namun aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya;
mengapa semua makhluk berumur panjang di dunia ini begitu bersikeras
menggunakan kehidupan manusia yang singkat sebagai bahan hiburan?
Tentu
saja, permintaan pria ini jauh lebih masuk akal dibandingkan kegilaan yang
pernah kusaksikan sebelumnya. Berjalan-jalan ke hutan jauh lebih baik daripada
melihat adik perempuanku disandera untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga,
atau terlibat dalam acara cosplay yang hampir melanggar norma.
"Lagi
pula," imbuhnya, "aku tidak bisa membiarkanmu membawa buku
membingungkan ini tanpa persiapan perjalanan yang layak."
Aku
merasa Tuan Feige menyadari gairahku saat ia mengelus jenggot lumutnya. Aku
jelas tidak ingin menyentuh buku terkutuk itu dengan tangan kosong, dan
memasukkannya ke dalam ransel begitu saja terasa seperti sedang membawa bom
waktu. Tawaran wadah penahanan khusus sangatlah kupuja.
"Butuh
waktu dua atau tiga hari bagi batang kayu tua sepertiku untuk merakit semuanya
tanpa bengkel pribadiku. Anggap saja misi ini sebagai cara untuk membunuh
waktu."
Meskipun
pencarian ini agak berbahaya hanya untuk sebuah hiburan, beruang bisa dihindari
dengan tindakan pencegahan yang tepat. Jika petualang itu tinggal di reruntuhan
kuno, aku pasti sudah memanggil teman-teman periku untuk sesi Hack and Slash,
namun lokasi di hutan dangkal ini seharusnya cukup mudah.
"Tetapi
jika pergi keluar terasa terlalu merepotkan, aku akan menjual buku itu kepadamu
seharga dua puluh lima Drachmae."
Dua
puluh lima Drachmae... Jumlah itu setara dengan satu koin emas besar
yang digunakan pedagang kelas kakap. Dibutuhkan
waktu lima tahun bagi keluarga petani biasa untuk mengumpulkan uang sebanyak
itu, itu pun jika mereka rela kelaparan dan menghindari pajak.
"Aku tidak berniat mengambil untung lebih dari biaya
produksinya. Aku hanya ingin mengosongkan laci ini untuk hal lain."
Aku
hampir jatuh dari kursiku. Tunggu, butuh dua puluh lima Drachmae
hanya untuk membuat benda ini? Terbuat dari apa sebenarnya buku ini?!
Jika
hipotesisku benar bahwa buku ini tidak melibatkan bagian tubuh manusia, maka
aku justru semakin khawatir tentang bahan pembuatannya. Apa aku akan
baik-baik saja? Mengesampingkan horor kosmik itu, aku merasa para dewa mungkin
akan menghukumku karena berani menyentuh benda semahal itu dengan tanganku yang
kotor.
Melihatku
yang syok dengan mentalitas pedesaanku ini, Tuan Feige tertawa kecil hingga
bahunya yang anggun bergoyang. Mengapa setiap kejutan di dunia ini selalu
membawa "teman-teman" tak terduga lainnya?
[Tips: Para petualang
sering kali menuntut gaji ekstra dari atasan mereka untuk menutupi komplikasi
yang ditemui di lapangan. Mereka yang biasa bertaruh nyawa tampaknya tidak
merasa menyesal bahkan ketika negosiasi berubah menjadi pertumpahan darah.]
◆◇◆
Setelah menerima misi yang
jauh lebih menantang daripada tugas terkutuk sebelumnya, aku kembali ke
penginapan di bawah naungan malam.
Aku melangkah dalam keadaan
linglung akibat serangan terhadap nilai keuanganku, hanya untuk mendapati teman
perjalananku sudah tertidur lelap.
Aku lupa kalau dia tadi
berkata akan langsung tidur setelah merasakan masakan yang (nyaris) seperti
rumah.
Kami telah menghemat banyak
biaya perjalanan, dan dia pun sangat berambisi mengumpulkan uang sepertiku.
Tidur di tempat tidur sungguhan setelah berhari-hari pasti sangat nikmat
baginya.
Aku akan mengajaknya ke hutan
besok pagi saja. Tidak perlu terburu-buru hingga harus membangunkannya
sekarang.
Saat aku hendak merebahkan
diri, aku melihat Mika sudah merapal mantra Clean pada kasurnya.
Sihir memang cara luar biasa
untuk membasmi kutu dan tungau, meski tetap saja tidak bisa membuat seprai
tipis itu terasa lebih empuk. Tapi, ini jauh lebih baik daripada tidur di
lantai.
Aku bergumam terima kasih
pada temanku yang baik hati itu dan membuka selimut.
Ngomong-ngomong, rambutnya
tampak sangat sehat meskipun aku yang baru saja mandi.
Dia pernah memperingatiku
untuk tidak pamer soal kesehatan rambut pada wanita, dasar bajingan yang
beruntung.
Selimutku
memang tipis, tapi kombinasi perjalanan panjang, mandi uap, dan kelelahan
mental membuat kasur ini terasa seperti awan.
Aku
tidak punya piyama—barang mewah yang hanya dimiliki kaum ningrat—jadi aku
langsung merangkak naik dengan pakaian perjalananku.
Aku
tidur sangat lelap tanpa mimpi. Namun tiba-tiba, sebuah rasa tidak nyaman yang
aneh menyentak kesadaranku.
Egoku perlahan bangkit dari tidur, dan dalam
keadaan setengah sadar yang surealis, aku menyadari sumber masalah di bagian
bawah tubuhku.
Aku
tahu betul perasaan ini... Aku mengompol.
Memalukan
untuk mengakuinya, tapi sejak aku terbangun di tubuh ini pada usia lima tahun,
butuh dua tahun penuh bagiku untuk mengatasi masalah ini.
Ini
murni masalah fisik kandung kemih yang tidak bisa kukontrol. Aku buru-buru
duduk, merasakan hawa dingin lembap yang sangat familiar.
"Ya
Tuhan, aku tahu aku mengolok-Mu hari ini, tapi bukankah ini agak berlebihan
sebagai balasan?"
Mungkin
ini hukuman karena mengejek dewa di dunia di mana mereka adalah peserta aktif.
Aku
hampir menangis melihat betapa remehnya cara mereka menghukumku. Atau mungkin,
ini efek stres setelah melihat buku traumatis tadi.
Apa
pun itu, rasa malu ini membuatku ingin menggali kuburan sendiri—aku sudah tiga
belas tahun, ini menyedihkan.
Aku
menatap ranjang sebelah dengan cemas, namun Mika tidak ada di sana.
Barang-barangnya masih ada, jadi kupikir dia sudah bangun lebih dulu. Beruntung
sekali dia.
Aku
harus membersihkan ini. Aku menyelinap keluar, menggunakan sisa Mana
untuk merapal Clean pada tempat tidur—hanya sebagai prinsip—dan melepas
celanaku yang kotor.
Tugas
pertama adalah— hm? Oh... begitu.
Setelah
membuka pakaian, aku menyadari kesalahanku berbeda. Jika aku seorang gadis,
kejadian ini akan menjadi momen perkenalanku dengan dunia produk kebersihan
wanita.
"Ah...
Yah, kurasa aku sudah berusia tiga belas tahun sekarang. Seharusnya ini
tidak mengejutkan..."
Ternyata
aku lebih menyedihkan dari dugaanku. Kurasa kejadian biologis seperti ini
memang wajar terjadi setelah melewati situasi yang mengancam jiwa.
Sebagai
pria yang sudah melewati masa remaja di kehidupan sebelumnya, aku paham
teorinya. Namun, dorongan hormonal ini adalah sesuatu yang sudah lama tidak
kurasakan sejak reinkarnasi dalam tubuh pra-remaja. Pikiranku ternyata terikat
erat pada tubuh yang menampungnya.
Sungguh
menyedihkan. Harus menanggung kebodohan masa muda untuk kedua kalinya bukanlah
sesuatu yang kunantikan. Masa remajaku yang dulu penuh dengan keputusan bodoh
demi terlihat sebagai "Pria Keren". Aku bersumpah tidak akan
mengulangi kesalahan yang sama.
Bagaimanapun,
ada sisi positifnya. Ini bukti nyata bahwa tubuhku mulai tumbuh menuju
kedewasaan; aku akan segera memiliki kekuatan fisik seorang petualang sejati.
Aku
menenangkan diri dan menuju sumur di belakang penginapan untuk membersihkan
diri sebelum Mika kembali. Aku sudah merapal Clean, tapi perasaan
"kotor" secara psikologis hanya bisa hilang dengan air sungguhan.
Aku
berjalan mengendap-endap ke halaman belakang demi privasi. Sumur itu diapit
oleh dinding penginapan dan pepohonan. Namun, di sana, aku menemukan sesuatu
yang benar-benar mengejutkanku: temanku sedang mandi.
Mika pernah bilang dia tidak suka berbagi kamar mandi.
Mungkin itu sebabnya dia bersusah payah merebus air sumur dengan sihir di
tengah malam seperti ini. Aku hendak menyapanya, namun kata-kataku tertelan kembali
karena tidak percaya.
Mika
kehilangan anatomi yang kuharapkan—tapi bukan dalam gaya klasik "Kau
seorang gadis?!". Mika tidak punya apa-apa.
Konsep
pria dan wanita biasanya dibedakan dari satu organ yang sama sekali tidak
dimiliki Mika. Cahaya bulan menerangi tubuhnya yang seputih salju; kontur
dadanya yang rata berlanjut tanpa interupsi hingga ke bagian bawah.
Mika
tidak punya alat kelamin. Ciri reproduksi yang kita anggap alami tidak ada
padanya. Namun, bentuknya tidak terlihat aneh; di bawah sinar bulan, dia tampak
seperti sosok suci yang dipahat dari marmer putih. Keberadaannya seolah
menyatakan bahwa kecantikan ada demi dirinya sendiri.
"Siapa
di sana?!"
Gawat.
Aku
sudah meminimalkan kehadiranku, tapi tidak menyangka dia akan menyadarinya
secepat itu. Aku justru terpaku tanpa bersembunyi. Mika yang sedang mencuci
rambutnya langsung menoleh ke arahku setelah membilas matanya.
"E-Erich?"
Tatapan tajamnya berubah menjadi raut sedih begitu dia menyadari bahwa pengintip itu adalah aku. Ekspresinya persis seperti seseorang yang rahasia besarnya baru saja terbongkar.
"Mika..."
"Tunggu,
tidak, jangan lihat! Erich, kau salah paham, aku—aku tidak—"
"Kau..."
Oh, tentu saja. Mika, temanku, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya
selama ini? "Kau adalah seorang Malaikat."
"...Apa?"
Kejujuranku
justru disambut dengan ekspresi wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
[Tips:
"Malaikat" di dunia ini merujuk pada ras tertentu yang tinggal jauh
di sebelah barat Rhine dan mengabdikan diri kepada satu Dewa Sejati. Penduduk
Kekaisaran Trialist jarang yang mengetahui keberadaan mereka. Utusan ilahi yang
asli disebut sebagai Rasul, yang hanya berkunjung sementara ke alam fana.]
◆◇◆
Momen canggung kami berakhir
seketika saat Mika bersin akibat tiupan angin musim gugur yang dingin. Aku
membujuknya untuk segera berpakaian, lalu kami kembali ke dalam kamar. Kami duduk di
tempat tidur masing-masing dalam suasana yang sangat tegang.
Dengar, aku tahu ini memalukan, tapi ayolah! Apa ada yang bisa
menyalahkanku karena teringat tradisi Abrahamik di Bumi saat melihat sosok
tanpa gender seperti itu?!
Keheningan
yang berat seolah nyaris meremukkan kami. Akhirnya, Mika membuka suara dengan
mata yang tetap tertuju pada lantai kayu.
"Klanku berasal dari wilayah paling utara."
Kisah
garis keturunannya ternyata sangat kelam. Selama beberapa generasi, mereka
tinggal di sebuah pulau dekat kutub planet yang bernama Nifleyja. Dalam bahasa
kuno, nama itu berarti "Pulau yang Suram". Di sana, kehidupan
berjalan dengan sangat lambat dan keras.
Sayangnya,
kondisi ekstrem membuat perubahan sekecil apa pun berarti maut. Kekurangan ikan
berarti kelaparan, dan wabah pada domba bisa melenyapkan seluruh keluarga lebih
cepat daripada bunga yang layu. Belum lagi ancaman bajak laut dari kepulauan
utara yang kerap menyerbu.
Hanya
ras manusia dan manusia setengah manusia tertentu yang sanggup bertahan di
sana. Selchie bertahan dengan lemak tebal mereka, sementara Callistoi
beradaptasi dengan fisik kuat seperti beruang kutub.
Namun,
manusia biasa di sana berevolusi dengan cara berbeda untuk mengatasi masalah
reproduksi yang tidak seimbang.
"Aku...
adalah seorang Tivisco," gumam Mika, tampak sangat malu dengan
identitasnya.
Tivisco sering digambarkan sebagai manusia yang mengaburkan batas jenis kelamin.
Namun, mereka bukanlah hermafrodit; mereka adalah ras yang mengalami peralihan
jenis kelamin secara berkala.
Ras
manusia (Mensch) biasanya berkembang biak dengan cepat, namun gurun musim
dingin di utara sangat tidak bersahabat bagi ras biasa.
Untuk
menutupi celah populasi akibat kematian pria atau wanita yang tidak seimbang, Tivisco
lahir tanpa jenis kelamin hingga mereka mencapai kematangan seksual.
Setelah
dewasa, tubuh mereka berubah secara berkala.
Mereka
menghabiskan satu bulan tanpa jenis kelamin (netral), bulan berikutnya memiliki
organ reproduksi tertentu, kembali netral di bulan berikutnya, dan beralih ke
jenis kelamin seberangnya di bulan setelah itu.
Fleksibilitas
seksual ini memungkinkan Tivisco menjaga keseimbangan populasi agar
tetap stabil di lingkungan ekstrem.
Aku
merasa sistem evolusi ini sangat efisien, meskipun kaum bangsawan di Kekaisaran
tidak memberikan sambutan hangat bagi ras seperti mereka.
"A-Aku tidak bermaksud menipumu..."
Keluarga
Mika pindah ke Kekaisaran tiga generasi lalu karena sudah tidak sanggup menahan
kerasnya kutub. Namun, warga Kekaisaran justru takut pada mereka.
Manusia
memang takut pada hal yang tidak diketahui, tapi mereka jauh lebih takut pada
sesuatu yang hampir mirip dengan mereka namun berbeda secara
fundamental.
Reaksi
sosial yang aneh ini memaksa kaum Tivisco hidup di pinggiran masyarakat
sebagai orang asing abadi. Mika datang ke Kampus dengan tekad besar: dia ingin
menjadi seorang Oikodomurge hebat yang bisa mengubah wilayah ekstrem
menjadi layak huni, sehingga kaumnya tidak perlu lagi dipandang sebelah mata.
"Aku
tahu aku harus mengatakannya padamu suatu saat nanti, tapi... aku
hanya..."
Suara
Mika bergetar. Cahaya bulan dari jendela menyinari air mata yang menggantung di
bulu matanya yang panjang. "Aku tidak ingin kau membenciku."
Mika
menceritakan pengalaman pahitnya saat mencoba menjalin pertemanan di masa lalu.
Dulu, ia pernah jujur pada teman-temannya di Kampus, namun mereka justru
memperlakukannya sebagai objek penelitian karena rasa ingin tahu yang
berlebihan. Kekejaman yang lahir dari kepolosan anak-anak itu menyisakan luka
dalam di hatinya.
Sejak
saat itu, ia menutup diri, hingga aku muncul—seorang pekerja kontrak yang tidak
punya hubungan dengan lingkaran mahasiswa tersebut. Ia mencoba berteman
denganku dengan tulus, meski rasa takut akan penolakan terus menghantuinya.
"Aku
hanya tidak ingin kehilangan teman pertamaku. Aku tidak ingin kau
memandangku seperti objek wisata. Saat membayangkan itu, aku tidak sanggup
mengatakannya..."
Pengakuannya
berubah menjadi isak tangis penyesalan. Baginya, identitasnya seolah-olah
adalah sebuah dosa yang merusak perjalanan kami. Aku tidak bisa membayangkan
betapa dalam luka itu. Sebagai manusia biasa, aku tidak akan meremehkan
perjuangannya dengan kata-kata empati yang dangkal.
"Hah?"
Tanpa
berkata apa-apa, aku menarik sahabatku itu ke dalam pelukanku. Aku merengkuhnya
erat agar dia berhenti melukai hatinya sendiri dengan kata-kata tajam yang
keluar dari bibirnya.
[Tips:
Tivisco adalah ras manusia asli kutub utara. Mereka tidak memiliki organ
reproduksi secara permanen dan berubah setiap bulan setelah pubertas (usia
13-15 tahun). Perubahan fisik dan struktur rangka terjadi selama periode
dua hari dalam siklus tersebut.]
◆◇◆
Dalam
keadaan darurat medis, tekanan adalah kunci untuk menghentikan pendarahan. Aku
percaya prinsip yang sama berlaku untuk luka emosional. Pelukan hangat adalah
perban terbaik untuk jiwa yang hancur.
"...Erich?"
Aku
terus memeluknya dan membisikkan apa yang perlu ia dengar. "Mika,
menurutmu kau ini siapa?"
"Apa?"
"Siapa
kau, Mika? Mahasiswa Imperial College? Imigran Tivisco?" tanyaku
lagi. "Apakah ras atau jenis kelaminmu itu memengaruhi persahabatan
kita?"
Mika
terdiam. Aku mengakui bahwa itu adalah bagian penting dari identitasnya. Namun
bagiku, Mika tetaplah Mika. Diri yang ada di dalam tubuh itu tidak akan
berubah, dan dia akan tetap menjadi teman yang berbagi kegembiraan denganku.
"Kau
adalah dirimu sendiri, Mika. Tidak peduli apa pun detail fisikmu, kau adalah
sahabat terbaikku. Apakah aku salah?"
Aku
melepaskannya sejenak dan menatap matanya yang masih terkejut. "Aku memilih
menjadi temanmu karena kau menyenangkan. Aku mengajakmu karena aku suka
menghabiskan waktu bersamamu. Aku membawamu karena aku percaya padamu."
Aku
meraih bahunya dan menempelkan hidungku ke hidungnya, menatapnya lurus-lurus.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah aku hanya orang asing yang bisa
dimanfaatkan? Apakah sosok 'Erich' tidak ada di matamu?"
"Tidak,
Erich! Apa pun kecuali itu!" seru Mika dengan suara serak. Air matanya
jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sedih. "Aku juga menganggapmu
sangat berharga. Aku tidak takut kehilangan teman... aku hanya takut
kehilanganmu."
Tangan
Mika mencengkeram bahuku dengan kuat, seolah memastikan aku tidak akan pergi.
"Aku
tahu, Mika," kataku lembut. "Jadi, apa arti aku bagimu?"
"...Seorang
teman, Erich. Temanku."
"Benar
sekali. Bukankah itu sudah cukup? Kita berteman, Mika. Terikat oleh segalanya,
kecuali darah."
"Terima
kasih, Erich... Terima kasih banyak..."
"Persahabatan bukanlah
sesuatu yang harus disyukuri, kawan lama."
Aku memeluknya sekali lagi
dan menepuk punggungnya hingga ia tertenang dan akhirnya tertidur lelap.
[Tips: Prinsip
toleransi di Kekaisaran Rhine berakar dari sejarah panjang di mana berbagai ras
berjuang bahu-membahu. Kelompok mana pun yang memiliki keinginan untuk
berintegrasi akan dianggap sebagai bagian sejati dari Kekaisaran seiring
berjalannya waktu.]
◆◇◆
Keesokan paginya, aku
terbangun dengan rasa malu yang luar biasa.
Darah panas semalam
benar-benar membuatku melakukan hal-hal yang membuatku ingin mengubur wajah di
bantal!
"Selamat
pagi, sobat lama," sapa Mika dengan ceria.
"Ya,
selamat pagi," jawabku kaku. "Mika... soal semalam..."
"Jangan
katakan apa-apa lagi, kawan terkasih," potong Mika dengan nada sedikit
dramatis. "Aku mengerti. Kata-kata itu adalah sesuatu yang istimewa,
kan?"
Duh... Mika sepertinya jadi sedikit terlalu dramatis.
Tapi
setidaknya suasana sudah mencair. Kami berjalan menuju restoran untuk sarapan.
Mika berjalan setengah langkah lebih dekat dari biasanya, bahkan sempat
menuntun tanganku.
Kami
menikmati sarapan seharga 5 Assarii: roti hitam, sosis putih, keju, dan
aprikot, ditemani teh dandelion hangat.
"Oh,
ngomong-ngomong, Mika," kataku di sela makan. "Aku punya usul kecil
untukmu."
“Hm?
Ada apa, wahai sahabatku yang terhormat? Tanyakan saja. Pada saat ini, aku
bahkan akan senang berbagi bak mandi denganmu, kawan lama.”
Kalau
begitu, mari kita—tunggu, bukan itu intinya! Mika begitu bahagia sehingga aku
ingin seseorang mengabadikan senyum tulusnya itu dalam sebuah potret. Namun,
aku harus menahan kegembiraannya sejenak agar dapat mengajaknya dalam
perjalanan ke hutan.
“Hmm,”
renungnya. “Buku harian seorang petualang, ya?”
Mika
menggigit sosisnya, tampak mengunyah lamaranku bersama makanannya. Awalnya,
tugas kami hanyalah datang ke kota ini dengan imbalan satu Drachma.
Mengambil pekerjaan tambahan adalah keputusannya sendiri, meski aku merasa
sedikit bersalah karena menanyakannya di saat seperti ini.
“Kedengarannya menyenangkan! Aku akan ikut.”
Suasana hati Mika begitu positif sehingga aku membayangkan
dia bahkan akan setuju jika aku memintanya melihatnya telanjang lagi. Ketika
aku mencoba memperingatkannya tentang risiko bertemu beruang, dia justru
tersenyum lebar.
“Itulah
alasan mengapa aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri,” katanya mantap.
Berapa
lama waktu yang dibutuhkannya untuk benar-benar tenang?
Entahlah,
tapi memikirkan segala konsekuensi dari permintaanku adalah tanggung jawabku.
Aku
tidak ingin memanfaatkan kegembiraannya atas persahabatan kami yang baru pulih
ini untuk kepentingan sepihak.
Aku
meneguk teh untuk membilas kekhawatiran serta sisa sarapan. Setelah selesai
makan, kami mulai mempersiapkan perjalanan. Meski perjalanan hanya memakan
waktu beberapa jam dengan kuda, kami bersiap untuk berkemah selama beberapa
hari, jadi kami hanya perlu menambah persediaan air dan makanan.
“Hmm,”
gumam Mika saat kami di pasar, “semuanya sangat mahal.”
“Ini
memang musimnya,” jawabku.
Pasar
di dekat distrik pekerja dipenuhi hasil bumi segar dan suasana musim gugur yang
meriah. Namun, permintaan barang yang meningkat selalu melambungkan harga di
waktu-waktu seperti ini.
Kafilah
pedagang beserta pengawal dan tentara bayaran berpindah antar kota, memborong
makanan kemasan ke mana pun mereka pergi. Rakyat biasa juga membeli barang
awetan untuk bertahan hidup di musim dingin, yang semakin menambah panjang
antrean pembeli.
Permintaan
yang melonjak membuat para penjual leluasa menaikkan harga. Akibatnya, hampir
setiap kios menjual barang dengan harga dua atau tiga Assarii lebih
mahal dari harga standar.
“Berapa banyak uang yang tersisa?” tanyaku.
“Uhh,” Mika menghitung, “kita perlu menyisihkan uang untuk
penginapan, lalu untuk pajak keluar di gerbang...”
“Jadi,
kita tinggal punya segini untuk makanan. Baiklah, kita harus membeli
dendeng, kan?”
“Secara pribadi, aku rasa aku tidak bisa melewatkan apel
kering dan aprikot, tapi harganya agak mahal...”
Kami berdua menghitung koin tembaga di dompet bersama—kami
menyembunyikan koin perak di dalam sepatu untuk keadaan darurat—dan mulai
mendiskusikan anggaran. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya pemilik kios makanan
kaleng di dekat kami menghela napas panjang.
“Kurasa
aku tidak bisa membiarkan sepasang bocah nakal kelaparan,” katanya dengan
dialek utara yang kental. “Kemarilah, akan kupotong harganya.”
Intonasinya
sangat jauh dari bahasa istana yang biasa kudengar di wilayah selatan
Kekaisaran, sehingga aku kesulitan menangkap ucapannya. Namun, jelas dia merasa
kasihan melihat dompet kami yang tipis.
“Benarkah?!”
Kejutan
yang sesungguhnya adalah melihat Mika menjawab dengan fasih dalam dialek yang
sama persis.
“Wah,
kau dengar itu?” kata penjaga toko senang. “Ambil saja apa yang kau butuhkan.”
“Terima
kasih banyak!”
Mereka
berbicara dengan sangat akrab, dan Mika akhirnya berhasil membeli barang-barang
itu dengan harga standar. Gaya bicara Mika biasanya selalu mengikuti standar
dialek istana, tapi masuk akal jika dia menguasai aksen utara.
Aku
memperhatikan Mika dengan saksama saat dia riang mengambil tas berisi ransum
kering. Menyadari tatapanku, dia tiba-tiba tersipu dan bersembunyi di balik
kantong belanjaan.
“Eh,
maksudku, aku biasa bicara seperti ini sebelum belajar bahasa istana, jadi...
apa terdengar aneh?”
Melihatnya
malu karena cara bicaranya yang unik justru terasa... manis. Sayangnya,
pikiranku jadi sedikit liar semenjak aku tahu dia tidak sepenuhnya memiliki
jenis kelamin yang sama denganku.
“Tidak,” jawabku, “aku selalu terkesan saat mendengar orang
berbicara dengan dialek yang jarang kudengar.”
“Terkesan? Benarkah?”
“Ya, kalian luar biasa. Bagi telingaku, kalian berdua seperti
sedang menggunakan bahasa asing.”
Bahasa Rhinian Modern sebenarnya mudah dipelajari jika sudah
menguasai tata bahasanya. Namun, di lembar karakterku, cabang Skill
untuk dialek daerah dikenakan biaya yang sangat mahal. Kekaisaran Trialist
dulunya adalah kumpulan negara berbeda dengan budaya yang beragam, sehingga
dialek lokal sering kali terdengar seperti bahasa yang sepenuhnya baru.
“Dialek
Utara memang memiliki banyak kata kuno,” kata Mika menjelaskan. “Aku juga paham
Bahasa Utara Kuno dan bahasa kepulauan. Ketiganya memiliki banyak kosakata yang
mirip, hanya berbeda ejaan dan penekanan suku kata. Menarik, bukan?”
“Sangat
menarik. Aku yakin perjalanan ke utara akan terasa mudah jika kau ada di
sampingku.”
Kami
terus berjalan menyusuri jalanan pedesaan, namun pikiranku melayang lebih jauh
ke utara. Sejujurnya, aku tidak tahu apa-apa tentang tanah di luar Kekaisaran.
Pengetahuanku hanya terbatas pada apa yang diajarkan di gereja Konigstuhl dan
kisah para penyair, yang tentu saja sangat bias terhadap sejarah Kekaisaran.
Menjelajahi
negeri yang belum pernah kubaca sebelumnya hanya dengan pedang dan akal sehat
pasti akan menghasilkan kisah yang memikat. Menyelami lingkungan baru tanpa
mengetahui mekanismenya memang berisiko, tapi itulah letak kesenangannya.
Inilah arti petualangan yang sesungguhnya!
“Kalau
begitu, ayo kita pergi ke sana kapan-kapan,” kata Mika bersemangat. “Aku tahu
banyak tempat indah. Kamu bisa berjalan menyeberangi laut utara yang membeku di
musim dingin, melihat aurora yang berkilauan, dan air terjun raksasa yang
membeku.”
Mika
dengan senang hati menceritakan keajaiban utara. Meski dia merasa sakit hati
jika bicara tentang diskriminasi rasnya, jelas bahwa dia sangat mencintai tanah
airnya.
“Semua
tempat itu terdengar indah,” kataku. “Aku ingin sekali melihatnya.”
“Kalau
begitu... aku akan mengajakmu ke kampung halamanku suatu hari nanti, Erich.
Meski di sana hanya ada es, salju, domba, dan rusa kutub.”
“Aku
menantikannya.”
Kami
saling bertukar janji untuk masa depan: bahwa kami akan menjelajahi utara
bersama, dan dia akan mengembalikan kejayaan tanah airnya. Langkah pertama
untuk mewujudkan itu adalah membereskan petualangan kecil yang ada di depan
mata ini.
[Tips: Bahasa Rhinian
Modern muncul sebagai gabungan buatan dari bahasa-bahasa negara pendiri
Kekaisaran.]
◆◇◆
Istilah
"Hutan" bisa bermakna sangat luas. Peta mungkin menunjukkan garis
kartografi di mana hutan dimulai, tapi jarang sekali memperlihatkan dimensi
ketinggiannya. Setelah mendengar tujuan kami mungkin dihuni beruang, aku
bersiap menghadapi semak belukar yang lebat, namun kenyataannya melampaui
ekspektasiku.
“Ini
yang disebut ‘hutan’?” Mika bergumam kagum. “Yang kulihat hanyalah lautan pohon
yang tak berujung.”
“Kebetulan
sekali, kawan lama. Aku juga melihat hal yang sama.”
Kami
berdua mendongak hingga leher terasa sakit. Dinding pepohonan yang tinggi dan
rapat seolah menolak kehadiran manusia. Ini bukan petualangan
"kecil". Hutan lebat seperti ini biasanya menjadi rumah bagi penyihir
kuno atau monster berbahaya.
Hutan
ini merupakan campuran kacau antara berbagai jenis pohon raksasa. Akar-akar
besarnya menyembul dari tanah, tersembunyi di balik hamparan daun gugur yang
licin. Pepohonan di sini seolah secara proaktif mencegah orang luar untuk
masuk.
Dalam
waktu singkat, perjalanan kami berubah menjadi penjelajahan Dungeon
terbuka yang berliku. Jika aku tidak punya pengalaman menjelajahi hutan, aku
pasti sudah berbalik untuk menyewa Scout atau pemandu jalan.
Meski
hanya mengenakan baju zirah tipis dan membawa persediaan alakadarnya, kami
tidak berniat berhenti. Medan yang berat ini mungkin akan mengsayat rombongan biasa,
tapi kami punya cara sendiri.
Sebagai
calon Oikodomurge, Mika sangat ahli mengolah tanah dan kayu. Ia segera
merapal mantra—sejenis sihir pembangunan yang menuntut keteguhan—untuk
memadatkan tanah menjadi jalan setapak selebar bahu.
Jalan
setapak itu memanjang langsung ke kegelapan hutan, menutupi akar-akar yang
menonjol dan gundukan tanah yang bisa membuat kami tersandung.
“Maaf,
ini yang terbaik yang bisa kulakukan tanpa menguras terlalu banyak Mana,”
kata Mika.
“Apa
maksudmu? Ini luar biasa!”
Jalan
tanah itu datar sempurna dan sangat membantu kami menghindari kebingungan arah.
Berkat sihir Mika, kami tidak perlu khawatir tersesat di tengah lautan pohon
ini.
“Begitukah?
Yah, aku tidak ingin merusak ekosistem hutan ini. Siapa tahu kita akan mendapat
masalah jika melakukannya...”
Aku
menepuk bahu Mika pelan untuk menenangkan kekhawatirannya. Setelah jeda
sebentar, dia menepukku balik seperti biasa, lalu kami mulai melangkah
menyusuri jalan setapak barunya dengan ritme yang santai.
Hutan
ini terasa remang-remang bahkan di siang hari. Lumut yang menyelimuti setiap
batang pohon menciptakan suasana yang mencekam, namun anehnya, tempat ini
terasa sangat damai. Sejauh ini, kami tidak menemui babi hutan, beruang,
ataupun bandit yang mengamuk.
Lagipula,
jika dipikir secara logis, tidak ada alasan bagi sekelompok penjahat untuk
mendirikan kemah di tempat terpencil ini. Siapa yang akan mereka rampok di
tengah hutan sunyi begini? Para kriminal pasti lebih memilih hutan yang dekat
dengan jalur perdagangan kota demi mendapatkan mangsa.
Tanpa
gangguan musuh yang tidak masuk akal, kami berjalan santai sambil sesekali
memetik tanaman yang berguna. Di hutan tua yang tak terjamah ini, banyak tumbuh
herba berkualitas tinggi yang nilainya setara dengan satu atau dua koin.
"Lihat,
Erich! Biji pohon ek! Lihat, banyak sekali!"
Mika
mengumpulkan setumpuk biji pohon ek dari lantai hutan dengan senyum lebar. Dia
tidak sedang bermain-main; biji pohon ek adalah makanan pokok masyarakat utara
selama beberapa generasi.
"Kami
biasa mengumpulkan ini untuk persediaan musim dingin. Jika dihancurkan menjadi
bubuk dan ditambah sedikit air, rasanya lumayan enak," ujarnya sambil
mengisi tas. "Nanti akan kubuatkan saat kita sampai di rumah."
Meski
menjadi makanan pokok di utara, penduduk ibu kota menganggap biji pohon ek
sebagai makanan orang miskin atau pakan babi. Namun, tampaknya daging kambing
yang kami makan kemarin telah membangkitkan gairah memasak dalam diri Mika.
"Jika
bagian pahitnya dihilangkan, ini bisa digunakan untuk roti dan kue, bahkan bisa
diseduh menjadi teh. Favoritku adalah saat direbus perlahan menjadi
pasta."
Perjalanan
kami berlanjut dengan beberapa kali berhenti untuk memetik rempah dan buah.
Saat ransel mulai terasa berat, aku merasakan sesuatu bergejolak di kantong
pinggangku—mawar milik Ursula.
"Ada
apa?" tanya Mika bingung melihatku mendadak berhenti.
Aku
mencabut mawar itu. Meski aku bisa merasakan kehadiran Ursula melalui
getarannya, dia tidak muncul dalam wujud manusia seperti biasanya. Aku baru
sadar bahwa malam ini adalah bulan purnama.
Kekuatan
Alfar berfluktuasi mengikuti False Moon. Saat bulan mencapai puncaknya,
para fey justru berada dalam kondisi terlemah. Aku baru saja kehilangan
dukungan tempur utamaku.
Untunglah aku tidak terlalu banyak mengandalkan skill fey. Jika aku memiliki musuh
yang tahu kelemahanku, mereka pasti akan menghajarku tepat saat False Moon
muncul.
Meski
Ursula tidak bisa bicara atau berubah wujud, gerakannya di dalam kantong terasa
seperti sebuah peringatan mendesak.
"Tetap
waspada," kataku dengan nada serius. "Aku punya firasat buruk."
"Hanya
firasat? Jangan khawatir, Erich, kan ada aku."
Tanpa ragu, Mika mengayunkan tongkat sihirnya dan menciptakan
lubang di tanah. "Kita harus berhati-hati, kan? Mari kita kubur barang
bawaan kita di sini agar tidak mengsayat."
Mika tidak hanya menggali lubang, tapi juga menutupnya dengan
susunan batu agar tidak dibongkar hewan liar. Melihat kemampuannya, aku semakin
paham mengapa para karawan sangat menghargai jasa seorang penyihir.
Setelah
terbebas dari beban berat, aku memimpin jalan dengan kemampuan Stealth
yang seadanya. Mika mengikuti dari jarak tertentu untuk menghindari serangan
mendadak yang bisa mengenai kami berdua sekaligus.
Tiba-tiba,
embusan angin membawa bau busuk yang sangat kukenal ke hidungku. Bau manis yang
mual bercampur aroma kotoran—bau kematian.
Di
Kekaisaran, bau ini bukan hal asing. Mayat penjahat sering digantung di dinding kastil
sebagai peringatan, dan eksekusi publik adalah tontonan rutin. Namun, bau yang
tercium di tengah hutan ini terasa berbeda.
Aku mengangkat tinju, memberi isyarat agar Mika berhenti.
Secara sembunyi-sembunyi, aku melangkah menuju sumber bau. Di sana, aku menemukan
sosok pria berdiri tegak di balik pepohonan.
Pakaiannya
kotor, rambutnya kusut, dan kulitnya berlumuran lumpur. Yang paling mengerikan
adalah lengan kirinya yang hilang. Pria itu sudah tidak bernyawa.
Oh, seharusnya aku sudah menduganya. Bau busuk daging manusia yang
membusuk ini tidak mungkin salah. Ini adalah pertama kalinya aku melihat mayat
hidup (Undead) secara langsung.
Di
dunia ini, ada tiga tipe makhluk abadi. Tipe pertama adalah ras panjang umur
seperti vampir. Tipe kedua adalah mereka yang dikutuk tidak bisa mati sebagai
hukuman ilahi. Dan tipe ketiga adalah yang ada di depanku: cangkang kosong yang
dihidupkan kembali tanpa jiwa.
Aku
pernah melihat Skill Tree untuk memanggil Undead, namun aku
mengabaikannya karena tidak ingin menjadi musuh publik. Namun, sepertinya
seseorang di hutan ini memiliki pemikiran yang berbeda.
Tiba-tiba,
leher mayat itu berputar dengan sudut yang mustahil untuk menghadapku. Bola
mata kirinya yang keriput menjuntai keluar dari rongganya, sementara mata
kanannya telah digantikan oleh lumpur. Dia mengunyah udara kosong
dengan rasa lapar yang tak terpuaskan.
Tunggu, bagaimana dia bisa tahu posisiku?! Aku lupa bahwa Undead bisa
merasakan keberadaan jiwa melalui sensor non-fisik.
Pria
itu berlari ke arahku dengan kelincahan yang tidak masuk akal untuk ukuran
zombie. Aku langsung mencabut Schutzwolfe dan dalam satu ayunan cepat,
aku memenggal kepalanya.
Kecepatannya
memang mengejutkan, tapi gerakannya yang tanpa otak membuatnya menjadi sasaran
empuk. Kepalanya terpental dan berguling di dekat pohon. Aku merasa telah
memberikan serangan fatal yang sempurna.
Hm? Sesuatu menyentuh kakiku.
Aku menunduk dan mendapati kepala yang baru saja kupenggal
itu sedang berusaha menggigit sepatu botku. Dari arah belakang, terdengar suara
langkah kaki yang menginjak ranting kering.
"Wah?!" teriakku
spontan.
Aku baru ingat: musuh jenis
ini memiliki resistensi fisik yang luar biasa, dan serangan kritis hampir tidak
ada gunanya bagi mereka!
[Tips: Serangan tipe Slashing
kurang efektif terhadap musuh yang tidak memiliki organ vital.]
◆◇◆
Pertanyaannya: Apa perbedaan
antara zombie fantasi dan zombie horor modern?
Jawabannya: Alasan mengapa
mereka terus bergerak.
"Waaaah!" Aku
berteriak dan menendang kepala itu sekuat tenaga hingga ia menghilang ke dalam
hutan lebat.
Zombie dalam film horor
modern biasanya lahir dari virus, parasit, atau mutasi genetik. Mereka umumnya
akan berhenti bergerak setelah kepala mereka hancur. Terkadang, mereka bahkan
benar-benar mati jika jantungnya lenyap.
Di luar beberapa pengecualian
yang secara harfiah tidak bisa mati, bahaya dari zombie standar biasanya
berakhir ketika kepala mereka hancur oleh tembakan yang fatal.
Jika
kita mempertimbangkan mengapa mereka berhenti saat dipenggal, jawabannya tentu
karena kepala merupakan pusat kendali tubuh. Entah itu parasit yang menguasai
sistem saraf, atau virus yang menyerang batang otak dan otak kecil.
Otak
selalu dibutuhkan untuk membuat manusia bertindak. Namun, jika kita berpikir
sebaliknya—asumsikan pusat komando berada di tempat lain—maka kepala zombie
yang hancur berkeping-keping hanyalah kehilangan kamera sekaligus senjata utama
mereka.
Hal
itu tidak akan menghentikan mereka sama sekali.
Bukti
A.
Meski
canggung, tubuh itu mendorong dirinya sendiri dengan satu lengan yang tersisa
dan menerjang ke arahku. Aku menyadari bahwa Schutzwolfe adalah bilah
yang terlalu panjang untuk diayunkan bebas pada jarak sedekat ini.
Aku
membalikkannya, lalu meraih ujung bilah dengan tangan kiriku yang bersarung
tangan. Setelah mengelak dari cengkeraman zombie itu, aku menggunakan seluruh
beban tubuhku untuk menghantamkan gagang pedang ke perutnya.
Aku merasakan tulang-tulang retak dan daging terbelah, tetapi
tubuh itu hanya terhuyung mundur tanpa ambruk. Manusia hidup pasti akan
terengah-engah dan memuntahkan isi perutnya, tetapi makhluk ini bahkan tidak
tampak terganggu.
Aku sudah menduganya. Jika tubuh tidak membutuhkan kepala
untuk bergerak, maka paru-paru yang bernapas dan jantung yang berdetak tidaklah
lebih penting.
Aku bisa saja menghancurkan diafragmanya, tetapi ia tidak
memiliki kemampuan untuk merasakan ketidaknyamanannya sendiri.
Sambil meraih batu di dekatnya, aku memukulnya beberapa kali
lagi dengan keras demi keamanan. Dahulu kala, ini mungkin senjata jarak dekat pertama yang
digunakan nenek moyangku.
Batu
yang dapat diandalkan itu terus memberikan banyak kerusakan hingga hari ini...
namun zombie itu tetap tidak mati. Itulah kengerian dari kematian yang tak
bernyawa.
Dihidupkan
dengan cara-cara mistis atau spiritual, mereka tidak memiliki titik lemah untuk
dilumpuhkan. Tidak ada reaksi terhadap cedera layaknya organisme hidup.
Meskipun
aku tidak mengambil risiko "berubah" karena gigitan atau cakaran,
makhluk itu memiliki kekuatan mentah yang cukup untuk mencabut anggota tubuh.
Hal itu membuat situasi ini menjadi sangat berbahaya.
Manusia
yang masih hidup akan tersentak saat terpotong, kehilangan orientasi saat buta
atau tuli, dan terkulai kesakitan saat isi perut mereka tumpah keluar.
Beberapa
orang hanya melihat sekilas tubuh kekanak-kanakanku dan menurunkan kewaspadaan
mereka. Meski kekuatan setiap orang bervariasi, secara keseluruhan, mereka
adalah lawan yang mudah bagiku.
Namun,
tidak satu pun kelemahan itu berlaku untuk mayat hidup. Mantra yang telah
kukembangkan untuk mengganggu indra tidak berarti apa-apa terhadap mereka.
Rasa
sakit tidak akan pernah menghalangi kemajuan mereka. Aku telah menyesuaikan Build
milikku untuk menghasilkan Critical Hit demi Critical Hit, tetapi
di sini semuanya sia-sia.
Aku
telah diserang oleh serangan balik keras yang belum siap kuhadapi.
"Apa
yang harus kulakukan sekarang?" renungku sambil menatap zombie yang
menggeliat itu.
Aku
menahannya, tetapi tubuhnya menjadi lebih kuat setelah dihidupkan kembali.
Meskipun aku telah mencengkeram punggung, tangan, dan lututnya dengan Unseen
Hands milikku yang baru, kelemahan dasar mantra itu menjadi masalah nyata.
Inilah
kelemahan terbesarku pasca lonjakan kekuatan: Aku tidak cocok bertarung melawan
mereka yang jauh lebih besar atau lebih kuat daripada manusia normal.
Keahlianku
menggunakan pedang dan kemampuan sihirku merupakan kombinasi yang hebat, tetapi
pedang tetaplah pedang. Yang terbaik yang dapat kulakukan adalah memotong
bagian daging yang sempit.
Jangkauanku
tidak cukup untuk menembus langit maupun membelah lautan. Meskipun batas-batas
permainan pedang di dunia sihir ini tidak jauh berbeda dari Bumi, sayangnya
banyak makhluk yang melampaui level manusia.
Entitas
seperti mayat hidup yang melanggar semua aturan ada di mana-mana. Cepat atau
lambat, fokusku untuk membantai manusia di medan perang akan menemui jalan
buntu.
Aku
ingin memiliki Skill yang memungkinkan aku mengirimkan gelombang kejut
di setiap tebasan, tetapi sayangnya, kenyataan tidak sesuai dengan logika manga
shonen mingguan.
Tidak,
planet ini lebih menyukai kekasaran majalah seinen bulanan.
Itu
bukan berarti ilmu pedangku tidak efektif. Pedangku tajam, dan ayunan yang
bagus akan membelah baju besi maupun sisik.
Aku
cukup mampu menumbangkan raksasa selama aku terus merantai Critical Hit.
Namun, memotong anggota tubuh atau leher mereka yang besar tetap mustahil
dilakukan.
Itulah
batas maksimal ilmu pedang: pedang menawarkan peluang untuk menang, tetapi aku
tidak akan bisa memotong ekor monster sebelum benda itu menghantam rekan timku.
Ketika
berhadapan dengan musuh yang secara harfiah tidak memiliki kelemahan kritis,
kelemahanku sendiri menjadi terlihat jelas. Saat aku merenungkan dilema ini,
aku merasakan mantra diucapkan dari arah belakang.
Kemudian,
lumpur abu-abu melesat di udara, memercik ke tubuh yang menggeliat itu. Begitu
mendarat, lumpur itu mulai mengeras dari bentuk pasta menjadi padat.
"Apa
kau baik-baik saja?!"
Oikodomurge yang dapat diandalkan di sampingku telah menghantam zombie
itu dengan semen yang cepat kering. Diperkaya dengan sihir pagar, cairan kental
itu kehilangan kelembapannya lebih cepat daripada spons di gurun.
Bahkan mayat hidup tidak dapat mengatasi beton yang mengeras.
Sedikit anggota tubuhnya yang masih terbuka tidak dapat berbuat apa-apa selain
meronta tanpa daya.
"Terima
kasih, Mika. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa bantuanmu."
Aku
menepuk bahunya sebagai tanda terima kasih, dan ekspresi khawatirnya akhirnya
mereda. Dia mungkin langsung bergegas menghampiri begitu mendengar jeritanku yang
menyedihkan tadi.
"Kau...
kalah dalam pertarungan?" tanya Mika. "Aku tidak menyangka, padahal
kau terlihat sangat gagah saat menghunus pedangmu."
Menerima
pujian setinggi langit tepat setelah berteriak seperti bayi baru lahir rasanya
sangat memalukan. Saking malunya, aku sampai ingin mati saja—sebuah fakta yang
tidak akan pernah kukatakan pada sahabat lamaku ini.
Lagi
pula, aku bukannya tanpa rasa takut. Ada banyak musuh yang mustahil kukalahkan
sendirian.
Jika
seseorang menyuruhku mengambil kepala Nona Agrippina, kerusakan terbesar yang
bisa kubuat mungkin hanyalah menyentuhnya saat dia tertidur (dan tentu saja,
dia akan langsung membunuhku saat itu juga).
Jika
targetku adalah Nona Leibniz, aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Tunggu...
Apakah aku memang dikelilingi oleh monster? Ah, tapi kehadiran mereka justru membantu mengendalikan egoku agar aku
tidak mati konyol karena kesombongan.
Ya, aku benar-benar beruntung memiliki mereka! Bagaimanapun
juga, kerendahan hati adalah tantangan abadi yang harus dipertahankan.
"Ayolah, Magus," godaku. "Kau seharusnya lebih
tahu dariku bahwa pedang hanya bisa membawamu sampai sejauh ini. Kegunaan
pedang hanyalah untuk membunuh manusia."
Menghadapi kekejian yang tidak manusiawi ini, aku merasa
bersyukur atas kesederhanaan organisme hidup yang mati ketika mereka kehilangan
kepalanya.
"Masuk akal. Kalau begitu, kurasa itu alasan yang lebih
tepat bagiku untuk ikut."
Mika membusungkan dadanya dengan bangga. Beton buatannya
sudah mengeras sepenuhnya tanpa ada retakan atau gelembung sedikit pun.
Benar-benar seorang Workaholic.
...Oh. Kurasa dia adalah jawaban untuk menghadapi mayat
hidup.
Makhluk hidup yang dibangkitkan kembali dengan tubuh fisik
diberkati dengan keuletan dan kemampuan regenerasi yang hebat. Zombie yang
menyerangku ini terus bergerak setelah puluhan serangan, dan tetap bertahan
meski telah menjadi bantalan jarum dari tombak dan anak panah.
Mereka adalah Tank garis depan yang ideal, tetapi Debuff
gerakan membuat mereka tak berdaya. Ini sama saja dengan mengurung vampir di
peti mati batu lalu melemparkannya ke kolam air suci.
Oh, aku tidak bisa membunuh mereka? Baiklah, kalau begitu
tidak usah repot-repot!
Dengan pelatihan Oikodomurge miliknya, Mika adalah
penangkal sempurna bagi para zombie. Dia bisa menutupi mereka dengan beton,
menjatuhkan mereka ke dalam lubang, atau menyegel mereka selamanya di dalam
sana.
Semua metode penyerangannya sangat brutal. Sekali lagi aku
diingatkah betapa hebatnya teman perjalananku ini sebagai seorang Debuffer.
"Tapi, Nak," kata Mika sambil berjongkok di dekat
kaki mayat hidup itu, "zombie itu sangat langka. Aku penasaran dari mana
asalnya?"
"Sepatu
bot kulit babi dan... pakaian linen," kataku, ikut mengamati. "Hei,
lihat tumitnya..."
"Pasti
ada taji di sana. Mungkin taji itu tersangkut di akar atau sesuatu hingga
terlepas."
Taji
biasanya mengeluarkan suara dan sering kali menghalangi jalan, jadi biasanya
bisa dilepas dan diikatkan di ikat pinggang. Tak perlu dikatakan lagi, aku
selalu melepas tajiku sendiri demi alasan Stealth.
Namun,
zombie ini tampaknya berkeliaran di hutan dengan taji yang masih terpasang,
dilihat dari bagian sepatu botnya yang patah. Dari situ, kita dapat
menyimpulkan bahwa ia cukup kaya untuk bepergian dengan menunggang kuda.
Apa
yang dilakukan orang berpangkat tinggi hingga menjadi zombie di tengah hutan
adalah sebuah misteri. Aku telah menendang kepalanya hingga terlepas, tetapi
mungkin lebih baik mengambilnya kembali untuk penguburan yang layak.
Meskipun
aku sendiri tidak yakin bagaimana tepatnya cara mengistirahatkannya.
Mayat
hidup—terutama yang muncul karena Miasma atau kerasukan roh—merupakan
penghinaan terhadap alam. Tubuh berdaging mereka memberikan ketahanan luar
biasa terhadap hukum dunia yang mencoba mengakhiri mereka.
Tidak
seperti monster misterius lainnya, mereka akan terus berkeliaran hingga
kehabisan Mana, kecuali ada yang menghentikannya.
Jika
zombie ini dihidupkan dengan mantra, itu tidak masalah. Mereka akan memiliki
persediaan Mana terbatas yang akhirnya akan habis. Namun, roh jahat atau
tempat yang memancarkan energi negatif jauh lebih sulit dihadapi.
Mayat
hidup semacam itu bisa bertahan tanpa batas waktu. Sayangnya, dua orang awam
seperti kami tidak cukup ahli untuk mencari tahu akar permasalahannya.
Kami
bisa memeras otak seharian, tetapi tetap saja akan berakhir dengan kebuntuan.
Sebagai ciptaan tidak suci, mayat hidup seharusnya disucikan dengan mukjizat.
Bahkan
tanpa bantuan surgawi, kaum Alfar atau roh kuat bisa mengembalikan
mereka ke bentuk yang benar. Sayang sekali, tidak ada satu pun dari kami yang
bisa melakukan itu.
Memang
benar nasihat bijak yang mengatakan: selalu tempatkan seorang Priest
dalam setiap kelompok.
Dahulu,
kelompok bermainku pernah mencoba kampanye di mana kami mengabaikan dewa-dewa
manusia. Petualangan tanpa Priest itu benar-benar neraka.
Setiap
luka tidak bisa diobati, dan kami harus bersiap mati bahkan karena luka kecil
sekalipun. Kami hanya bisa menyesap teh herbal buatan Ranger dengan
putus asa.
Kurangnya
obat-obatan yang tepat membuat kami merasa seperti berada dalam perang besar di
era modern awal. Mika dan aku kini dihadapkan pada masalah yang sama: ketiadaan
Priest.
Pikiran
yang sama terlintas di benak kami. Kami saling bertatapan dan mengangguk tanpa kata: Ayo
pulang. Ini berita buruk.
Jika kami adalah petualang veteran, kami mungkin akan dengan
gembira bersiap untuk Looting di ruang bawah tanah yang baru ditemukan.
Sayangnya, seorang pendekar pedang dan penyihir pendukung bukanlah Party
Composition yang cocok untuk menjelajahi Dungeon.
Aku tidak tahu neraka macam apa yang menanti di kedalaman
sana, tetapi kehadiran zombie berarti tempat itu pasti tidak menyenangkan. Ini
di luar kemampuan anak-anak dalam petualangan "kecil".
Hal terbaik yang bisa kami lakukan adalah melaporkan temuan
ini kepada para profesional. Menjelajah dengan sembrono memang menantang, tapi
ini terlalu berlebihan bagi sepasang bocah yang tidak punya uang sepeser pun.
Tuan Feige mungkin terlihat keras kepala bagi orang yang
tidak mengenalnya, tapi dia tidak akan memaksakan tugas konyol ini kepada kami.
Aku yakin
dia akan memberikan misi baru jika aku kembali.
Aku
sama sekali tidak mau bermain api. Aku tidak punya kemewahan untuk meminta Character
Sheet baru; lagipula, aku tidak menginginkan kesempatan ketiga.
Sambil
mengamati tempat kejadian untuk mencari bukti, pandanganku berhenti pada tangan
zombie yang tak berdaya itu. Jika kami memotongnya, seorang ahli pasti bisa
mengenali bahwa itu berasal dari mayat yang tidak biasa.
Dengan
begitu, kami tidak akan dianggap sebagai sepasang anak kecil yang mencoba
mencari perhatian—
"Hei, Erich? Kurasa aku mendengar sesuatu
bergerak."
Jalan
pikiranku teralihkan oleh ucapan Mika yang penuh firasat. Aku begitu asyik
merencanakan langkah selanjutnya hingga tidak memperhatikan sekitar.
Aku
mencoba mendengarkan dengan saksama, tetapi hutan itu terasa sunyi.
"Aku tidak mendeng—"
Begitu aku bicara, aku mendengar suara rumput yang bergeser. Suara itu berasal dari
selatan: arah yang tadi kami lalui.
Aku terdiam, memalingkan telinga, dan mendengar suara lain.
Sebenarnya, aku mendengar dua, tidak, tiga suara. Begitu aku mengaktifkan Presence
Detection...
"Uh,"
kata Mika. "Teman lama? Ada apa?"
"Mika,
periksa tali sepatumu," perintahku sambil melakukan hal yang sama.
Aku
mengembalikan Schutzwolfe ke sarungnya; aku tahu pedang itu hanya akan
menghalangi jika aku harus lari cepat.
"Hah?
Oke..."
Aku
sangat bersyukur temanku ini patuh meskipun dia kebingungan. Sambil dia
membetulkan simpul sepatunya, aku mengeluarkan karambit peri milikku.
Warnanya
tampak lebih pudar dari biasanya. Aku mulai mengumpulkan batu dan ranting
sebagai senjata tambahan menggunakan Unseen Hands.
Argh,
seharusnya aku tahu. Tidak ada zombie yang muncul sendirian.
"Ih?!"
Mika memekik.
Semak
belukar bergerak dan pohon-pohon bergoyang saat para mayat hidup merangkak
keluar dari balik barikade cabang pohon. Dua, tiga, empat—anggota kerumunan
yang berkumpul itu masing-masing unik, tetapi tidak ada yang utuh.
Mereka
semua disatukan oleh satu hal yang mengerikan: rasa lapar abadi yang mendorong
mereka memangsa yang hidup.
"Lari
sekarang!" teriakku.
Bagaimana
mungkin aku lupa bahwa mereka selalu datang berkelompok? Mereka telah menghiasi
layar kaca selama setengah abad. Bahkan di zaman film hitam-putih kuno pun,
mereka adalah monster pertama yang muncul dalam jumlah besar.
Aku
menyambar tangan Mika dan berlari sekencang mungkin, bertekad untuk lolos dari
pasukan orang mati itu.
[Tips] Mereka yang menggunakan mukjizat ilahi memiliki batasan ketat. Dewa
perang menolak memberikan mukjizat penyembuhan; dewa persalinan tidak
menunjukkan kekuatan militer; dan dewa ketenangan melarang kehancuran.
Namun,
semua penjaga dunia memiliki kemampuan yang sama untuk memperbaiki kesalahan
yang merusak planet ini. Jika situasi mendesak, mereka akan berbagi kekuatan
ini dengan siapa pun.
◆◇◆
Ada
lima atau enam zombie yang sudah berlari ke arah kami. Aku tidak yakin berapa
jumlah pastinya, tapi yang jelas jumlah mereka terus bertambah.
Bala
bantuan musuh menyerbu dari segala arah. Kalau saja ini adalah zombie klasik
tipe Romero, kami pasti akan menang dengan mudah.
Sebaliknya,
kami justru berhadapan dengan ancaman yang bisa berlari kencang dan memberikan
pukulan dahsyat. Meskipun aku bisa menaklukkan satu zombie dengan memotong
anggota tubuhnya secara sistematis, saat ini kami benar-benar kehabisan waktu.
"Hei,
Erich, tunggu!"
Aku
hampir menyeret Mika melintasi lantai hutan. Dia akhirnya berhasil berdiri
tegak dengan menggunakan tongkat sihirnya sebagai kruk.
"Tidak
bisakah kita sedikit pelan?!"
"Tidak
mungkin! Mereka sudah dekat! Kita hampir terkepung!"
Sayangnya,
aku tidak punya waktu untuk bersantai dan memikirkan kenyamanannya. Paduan
suara langkah kaki yang terus bertambah itu terdengar dari posisi-posisi yang
sangat menjengkelkan, seolah mereka mengepung kami tanpa memberi celah untuk
meninggalkan hutan.
Kami
akan baik-baik saja jika mereka menyerang dalam satu garis lurus. Jika begitu,
Mika bisa saja memanggil rawa untuk menjebak para pengejar kami, seperti yang
dia lakukan pada para bandit kemarin. Namun, diserang dari segala sisi membuat
hal itu mustahil jika kami ingin tetap berada di jalur pulang.
Di
atas segalanya, mengurung diri dalam struktur pertahanan adalah cara sempurna
untuk kalah dari taktik klasik zombie. Jika jumlah mereka cukup banyak, mereka
akan menggunakan tubuh rekan mereka yang gugur sebagai jembatan, dan kami akan
benar-benar terpojok.
Meski
begitu, melarikan diri dari gelombang kematian ini juga tidak terasa lebih
baik: pada akhirnya, kami justru berlari semakin jauh ke dalam hutan.
Aku
telah menuntun kami lebih dalam ke lautan pepohonan hanya berdasarkan naluri.
Tindakan ini tidak hanya gagal menyelamatkan kami, tetapi justru membawa kami
ke bahaya yang lebih besar. Ini adalah contoh nyata dari usaha yang sia-sia;
ketidaktahuanku terlihat jelas.
"Wah,
awas!" teriak Mika.
Kepanikan
temanku menyentakku dari kebencian pada diri sendiri. Aku melihat sesosok
zombie baru melompat dari balik pohon.
Sebuah
dahan ditancapkan ke pahanya sebagai pengganti kaki yang hilang. Armor
yang dikenakannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang petualang atau tentara
bayaran sebelum tewas.
Namun,
aku tidak punya waktu untuk mengamati lebih jelas. Aku menghantamkan dua
genggam batu ke wajahnya hingga dia terjatuh ke belakang. Dengan tangan
yang lain, aku menusukkan ranting besar ke perutnya yang terbuka.
Armor compang-camping itu tidak mampu menutupi dagingnya
yang busuk. Ranting itu memaku tubuhnya ke tanah, membuatnya tidak bisa
mengejar kami untuk sementara waktu.
◆◇◆
Aku tidak ingat lagi sudah
berapa lama kami berlari. Mika dan aku melawan serangan mayat hidup dua kali, saling
melindungi saat salah satu dari kami tersandung.
Di
satu titik, dia kehilangan pegangan pada tongkat sihirnya, dan aku menebas
mayat-mayat itu untuk memberinya waktu mengambilnya kembali. Saat aku jatuh
tersungkur karena tersangkut akar, dia memanggil dinding sihir untuk
melindungiku.
Rasanya
perjuangan ini sudah berlangsung lama, tetapi di bawah kanopi hutan yang lebat,
mungkin baru beberapa menit berlalu. Hanya ada dua hal yang pasti: kelelahan
kami dan suara langkah kaki yang terus bertambah.
Tunggu
sebentar. Ini konyol. Hutan ini berada di perbatasan; seharusnya tidak ada
cukup banyak orang yang mati di sini hingga membentuk pasukan sebesar ini. Dari
mana mereka—
"Mereka—"
Mika terengah-engah, "mereka datang!"
"Oh,
keparat!"
Mungkin
lemparan dadu pertamaku terlalu bagus, sehingga hujan nasib buruk ini adalah
cara semesta menyeimbangkan statistik. Astaga, aku bersumpah aku dikutuk...
Bisakah aku setidaknya diberi waktu untuk mengumpat tentang absurditas situasi
ini?
Mika mengucapkan mantra
dengan tergesa-gesa untuk memutus jalan di belakang kami dengan genangan
lumpur. Sementara itu, aku memukul mundur para zombie di depan untuk membuka
jalan.
Saat
kami melanjutkan aksi kejar-kejaran ini, kecurigaan merasuki pikiranku: apakah
kami sedang dituntun ke suatu tempat?
Wahyu
itu datang terlambat. Kami menerobos celah pepohonan menuju tempat terbuka yang
diterangi cahaya matahari, hanya untuk disambut oleh pintu masuk sebuah labirin
yang terbuka lebar.
Bangunan
itu tampak seperti rumah kosong, tetapi lebih tepat disebut sebagai pameran
arsitektur avant-garde: struktur kayu yang ditumpuk acak seperti balok
mainan anak-anak. Jika diamati, setiap bagiannya tampak seperti hasil copy-paste
dari rumah biasa untuk menciptakan keanehan ini.
Hanya
dengan melihatnya saja, aku tahu ini berita buruk. Jika aku sedang bermain RPG
di atas meja, aku pasti sudah membakar tempat ini tanpa bertanya apa pun.
Sayangnya,
kami tidak punya pilihan lain.
"Lari
ke sana!" teriakku.
"Tentu
saja!"
Kami
melompat keluar dari semak-semak, dan segerombolan mayat hidup yang tak
terhitung jumlahnya muncul bersamaan dengan kami. Aku heran bagaimana
gerombolan sebesar itu bisa bersembunyi begitu lama.
Aku
bergegas masuk sambil terengah-engah dan berusaha keras menutup pintu di
belakang kami. Mika menekan tongkat sihirnya ke kusen pintu. Dia menggumamkan
mantra, mengaktifkan satu per satu kunci sihir hingga sebuah palang besi
membentang di ambang pintu.
Dengan
pertahanan itu, benturan keras dari para zombie yang lapar di luar tidak lebih
dari sekadar goresan pada kayu. Kami bersandar pada pintu dan merosot ke lantai
secara serempak.
"Tapi
kau tahu, kan..." kataku terengah-engah.
"Ya,
aku tahu..." Mika menimpali.
"Kita
dalam kesulitan," ucap kami bersamaan.
Aku
mendesah, dan Mika menempelkan tangan di dahinya. Sekali lagi, kami keluar dari
mulut harimau masuk ke mulut buaya.
"Maafkan aku," aku terengah-engah. "Aku mengacau.
Seharusnya aku membawa kita kembali ke jalan setapak..."
"Sudahlah
kawan, ini bukan salahmu," kata Mika sambil menarik napas dalam.
"Kita tidak punya pilihan. Lagipula, kurasa mereka memang mengurung kita
di sini. Aku yakin ada kawanan lain yang menunggu di pintu masuk hutan."
Dia
menyerahkan kantung air kepadaku. Aku meneguknya dalam-dalam. Cairan itu
akhirnya membantuku mendapatkan kembali ketenangan.
Mika
benar; kami telah digiring ke sini. Ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana
seseorang bisa mengumpulkan mayat hidup sebanyak ini dan menempatkan mereka
dengan sangat presisi untuk mengepung kami?
"Mika,
bisakah kau menghubungi Familiar milikmu?" tanyaku.
Burung
gagaknya memainkan peran penting selama pengejaran tadi. Namun setelah
berkonsentrasi, Mika mendesah keras dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak
bisa," katanya. "Aku tidak bisa merasakan apa pun dari Floki—ada
sesuatu yang menghalangi. Aku yakin dia masih hidup, tetapi aku tidak bisa
mengirim perintah atau meminjam penglihatannya."
"Sayang
sekali. Kita benar-benar kehabisan pilihan, ya?"
Satu-satunya
cara kami menghubungi dunia luar telah terputus. Kemungkinan untuk diselamatkan
sangatlah kecil. Sekutu kuatku berada di ibu kota yang jauh, dan Tuan Feige
tidak mungkin menyadari kami dalam bahaya dalam waktu dekat.
"Jadi,"
kata Mika, "apakah ini berarti..."
"...Kita
harus mengurusnya sendiri," simpulku.
Aku berdiri dan memeriksa kondisiku. Meskipun lelah, aku tidak
terluka. Mika juga sama. Di sisi magis, aku hanya menggunakan Unseen Hands
sejauh ini, jadi aku masih punya cukup kekuatan. Namun, Mika telah menguras
banyak mana.
Aku
menyalakan lentera dengan api mistik kecil. Bagian dalam gedung hanya diterangi
sedikit cahaya matahari yang menembus celah langit-langit. Cat's Eye
milikku mencegah kebutaan total, tetapi aku tetap membutuhkan sumber cahaya
tambahan.
"Baiklah,"
kataku. "Siap untuk masuk?"
"Tentu
saja. Aku yang akan memegang cahayanya."
◆◇◆
Lantai
kayu berderit setiap kali kami melangkah. Kami melewati banyak pintu yang
tampak identik. Lorong ini memiliki pola berulang yang dijahit dengan kasar,
seolah kami berada dalam gim indie dengan tekstur yang buruk.
Kami
memeriksa pintu-pintu yang ternyata hanya menempel pada dinding buntu, lalu
menandainya dengan simbol X. Tiba-tiba, Mika berbicara seolah mendapat
pencerahan.
"Kau
tahu, kurasa ini yang disebut Ichor Labyrinth. Aku hanya pernah
membacanya sekilas, tapi..."
Menurutnya,
tanah terkutuk yang dipenuhi Ichor atau emisi misterius lainnya dapat
berubah menjadi labirin seperti ini. Ichor adalah kekuatan yang
mendistorsi hukum fisika.
Penjara
bawah tanah megah seperti ini seharusnya dijelajahi oleh kelompok
berpengalaman, bukan kami. Aku mengutuk nasib burukku sambil membuka pintu
berikutnya. Seketika, bau busuk yang menyengat menusuk hidung: bau mayat
manusia.
"Erich..."
"Aku
tahu... Ayo kita hadapi."
Aku memasuki ruangan itu. Di
tengahnya, seorang zombie berdiri sendirian. Dilihat dari pakaian dan jubahnya,
dia dulunya adalah petualang berpengalaman—sangat disayangkan kini kepalanya
telah hilang.
Di
tangan kanannya, dia memegang senjata eksotis: sebuah Falchion.
"Mika,
simpan tenagamu," kataku sambil melangkah maju dengan Schutzwolfe.
"Duel adalah keahlianku."
Tepat
setelah aku bicara, zombie itu menyerang lebih cepat dari mayat mana pun.
Meskipun ayunannya pendek, dia memanfaatkan berat ujung bilahnya untuk
menghasilkan momentum besar. Aku menangkisnya dan mencoba melakukan serangan
balik.
Namun,
makhluk itu dengan cekatan memutar pergelangan tangannya untuk mengendalikan
pedang dan bersiap menghadapi serbuanku.
...Zombie ini bisa bertarung dengan teknik.
Aku langsung mengubah seranganku menjadi tusukan. Namun,
mayat itu melompat mundur. Begitu seranganku luput, dia menghantam pedangku
untuk menjatuhkan lenganku. Dia memahami kekuatan senjata uniknya; dia menunggu
momentumku habis untuk menepis senjataku. Ini adalah perilaku petarung yang
berpikir.
Zombi
itu melangkah maju dan mengayunkan pedangnya ke arah bahuku. Aku mungkin
mengenakan Armor, tetapi benturan itu pasti akan menghancurkan tulangku.
Tentu
saja, aku terlalu berpengalaman untuk membiarkan hal itu terjadi. Begitu dia
menepis Schutzwolfe, aku sengaja memutar peganganku menjadi posisi backhand.
Aku membiarkan dia memukul pedangku agar aku bisa menggunakan inersia untuk
mengubah posisi tangan.
Clang!
Aku
menjepit bilah pedangnya di antara gagang dan pelindung tangan Schutzwolfe.
Tanganku gemetar karena benturan, tetapi aku segera memutar pedangku. Torsi
yang dihasilkan memungkinkan aku melepaskan jepitan sambil menempatkan bilahku
tepat di bawah ketiaknya.
Dengan
menggunakan kekuatan tekanannya sendiri, ujung tajam Schutzwolfe
mengiris bersih dagingnya. Ayunannya sendiri justru membantuku memotong lengan
kanannya hingga putus. Tubuh itu terguling ke depan dalam kondisi mengenaskan.
Pertarungan itu berakhir dalam sekejap. Aku segera memotong
kaki dan urat-urat di persendiannya hingga makhluk itu hanya bisa menggeliat
tak berdaya.
Zombie ini kuat. Kemampuannya setara dengan tingkatan V:
Adept. Jika tentara biasa yang menghadapinya, mereka mungkin hanya akan
menang tipis—itu pun jika selamat.
Suara
napasku tertutup oleh derit kayu. Aku menoleh dan melihat pintu di bagian
belakang ruangan terbuka dengan sendirinya.
[Tips] Zombie mampu melakukan hal-hal luar biasa tergantung
pada kualitas mantra atau roh yang membangkitkan mereka. Beberapa bahkan mempertahankan
seluruh Skill yang mereka miliki saat masih hidup.
◆◇◆
Menyelami
Dungeon selalu melibatkan kiasan umum: musuh yang bersembunyi, harta
karun, kunci, dan teka-teki penuh jebakan.
"Baiklah,
apa isinya?"
"Coba
kulihat... Ugh, aku tidak bisa membaca tulisan tangan sialan ini..."
Setelah
mengalahkan zombie pertama, Mika dan aku menyusuri serangkaian lorong hingga
menemukan sebuah tanda misterius. Tanda itu diletakkan di antara dua pintu dan
berbunyi:
"Akulah sahabatmu seumur hidup, menunggu di ruangan di seberang sana.
Kita angkat senjata bersama, makan bersama, mandi bersama, dan tidur bersama.
Hanya aku yang layak mendapatkan rasa hormat dan persahabatanmu. Temukan aku
dan kebenaran akan mengikuti."
"Itu
teka-teki," kataku.
"Jadi
kita harus memilih pintu yang sesuai dengan jawabannya?" tanya Mika.
"Aku penasaran apa yang akan terjadi jika kita salah pilih."
"Lebih
baik aku tidak memikirkannya..."
Coretan
berdarah itu jelas merupakan jenis permainan asah otak klasik yang dimaksudkan
untuk menuntun kelompok ke jalan yang benar. Jika dipikir-pikir, ini adalah
jenis hal yang mungkin membuat seorang pemain tersenyum dan berpikir, Aww,
GM pasti sangat bersemangat menyiapkan ini.
"Kurasa
aku tahu jawabannya," kataku.
"Anehnya,
aku juga begitu," sahut Mika.
Kami
menghitung sampai tiga dan keduanya menunjuk ke pintu yang sama. "Teman
seumur hidup" adalah metafora untuk tubuh jasmani kita, tetapi detail
tentang persenjataan, makanan, dan tidur tidak memberikan petunjuk arah yang
substansial.
Namun,
rasa hormat dan persahabatan dilambangkan dengan jabat tangan, yang secara
tradisional dilakukan dengan tangan kanan. Di kalangan bangsawan, etiket
termasuk membungkuk dengan tangan kanan menutupi dada. Menunjukkan tangan
dominan adalah bentuk itikad baik, dan semua ras di Kekaisaran mengikuti etiket
ini.
Siapa pun yang membangun labirin ini jelas merupakan
penggemar desain Dungeon klasik. Mengingat pintu sebelumnya terbuka setelah zombie
dikalahkan, aku ragu kami akan menemukan teka-teki tanpa solusi.
Tetap
saja, waspada itu perlu. Aku meminta Mika menunggu dalam jarak aman sementara
aku perlahan bersandar di pintu kanan, menggunakan tiga lapis Unseen Hands
untuk melindungiku. Setelah memastikan tidak ada suara atau jebakan, aku
memutar kenopnya. Klik. Pintu terbuka normal.
"Semua
aman, Mika. Ayo lanjutkan."
"Oke.
Wah, aku benar-benar berkeringat, tapi kau sepertinya sudah terbiasa. Seberapa
banyak yang kau ketahui tentang jebakan labirin?"
"Hanya
hal dasar. Aku tidak bisa menandingi seorang profesional."
Aku mengabaikan pujiannya, lalu menyadari bahwa aku bahkan
tidak mengenal seorang spesialis dalam bidang ini. Margit ahli di alam liar,
tetapi aku ragu dia bisa membobol kunci atau melucuti jebakan mekanis. Ke depannya, aku mungkin
harus mempelajari Skill ini sendiri jika punya poin pengalaman lebih.
Saat
menyusuri lorong, secarik kertas di lantai menarik perhatianku. Seseorang telah
menulis catatan harian di sana menggunakan arang.
"Mustahil..."
"Apakah
itu buku harian yang seharusnya kita temukan?" Mika mendekatkan
lenteranya.
Catatan
itu ditulis hampir enam puluh tahun yang lalu. Isinya menceritakan kemajuan
pekerjaan seorang petualang dan kesehariannya. Halaman ini menceritakan tentang
seorang Goblin pengintai yang salah memasukkan bumbu makan malam, dan bagaimana
mereka menertawakan semur daging sapi yang terlalu asin itu.
Titik-titiknya
mulai terhubung. Aku yakin aku tahu siapa yang menciptakan Ichor Labyrinth
ini.
Tiba-tiba,
derit kayu mengganggu kami. Pintu di depan terbuka sendiri, seolah mendesak
kami untuk bergegas. Di dalam, aku melihat dua bayangan menunggu.
"Wah,
wah. Bersemangat sekali, ya?" candaku untuk mengusir rasa takut.
"Hei,
kami mungkin menggigit, tapi keramahan kasar seperti ini tidak populer di
kalangan wanita, tahu?" Mika ikut menimpali, membuat suasana lebih ringan.
Baiklah,
tidak sopan membuat mereka menunggu. Kita
maju.
[Tips] Ichor Labyrinth merupakan cerminan kepribadian
pemiliknya. Apa yang lebih sulit ditemukan daripada teman baik? Seseorang yang
akan menghunus pedang dan mempertaruhkan nyawa untukmu? Tidak ada yang lebih
langka daripada teman sejati.
◆◇◆
"Oh, demi dewa!"
Meski
Mika mengumpat—hal yang jarang dia lakukan—gerakannya saat bertarung sangat
memukau. Erich terlihat sangat tangguh; dia memanggilku sahabat, dan dia
membiarkanku memanggilnya hal yang sama.
Pedangnya
berkilauan saat terayun ke bawah. Meski serangannya dimulai lebih lambat dari
zombie itu, sang mayat hidup kehilangan tangan pedangnya dalam sekejap. Erich
menghindari percikan darah dengan gerakan lincah, lalu mendaratkan tendangan
pada zombie yang telah dilucutinya.
Pada
saat yang sama, dia menyikut mulut zombie lain yang mencoba menyerangnya dari
belakang. Diperkuat dengan pelindung lengan yang keras, serangan Erich berhasil
melepaskan rahang makhluk itu.
Sambil
menyiapkan tongkat sihir, aku membacakan mantra.
"Pilar-pilar
menjulang dari dasar batu di setiap sudut; namun dukungan mereka saja tidak
akan cukup. Aku meminta seorang pelindung—untuk mata yang selalu waspada."
Aku
memeras Mana milikku. Salah satu zombie telah mundur ke dinding, dan
sihirku menyebabkan tiang kayu di dekatnya memanjang dan menjeratnya. Banyak
yang menganggap Oikodomurge tidak berguna dalam pertempuran langsung,
tetapi dengan memanipulasi struktur bangunan, aku bisa membengkokkan ruangan
sesuai keinginanku.
"Nyalakan
pipamu dan rebus tehmu—giliran penjagaanmu tidak akan pernah berakhir!"
Kata-kata
sihirku membuat zombie itu menyatu ke dalam pilar kayu.
"Terima
kasih, Mika!"
"Tidak
masalah! Aku mendukungmu!"
Erich
tersenyum penuh terima kasih. Ini adalah ruangan ketiga yang kami lalui. Erich
menaklukkan ruangan pertama dengan mudah, dan tiga musuh di ruangan kedua juga
bukan tandingan baginya.
Sekarang,
musuhnya bertambah menjadi lima. Mereka mengepung kami saat masuk, tetapi Erich
langsung menghabisi dua di antaranya. Aku memanggil pagar sihir untuk
menghalangi sisanya.
Erich
mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku. Dukunganku tidak seberapa
dibandingkan itu, tetapi setidaknya aku bisa menjauhkan zombie tambahan, meski
aku mulai merasakan sakit kepala hebat akibat terkurasnya Mana.
Lihat,
dia melakukannya lagi! Menangkis tombak dengan pedang seharusnya sangat sulit,
namun Erich berhasil mengunci senjata musuh dan melesat maju, mengiris ketiak
mayat hidup itu dengan pisau di tangan kirinya.
Langkah kakinya mengalir seperti penari. Dia menggunakan Unseen
Hands untuk mengambil tombak yang dijatuhkan musuh, lalu menusukkannya ke
tangan pemilik aslinya hingga zombie itu terpaku ke dinding. Dia benar-benar
puncak keandalan dalam pertempuran.
"Fiuh," dia terengah-engah. "Lima... itu yang
kelima."
Erich tidak seperti pahlawan dalam dongeng yang bisa
menghancurkan musuh dengan satu serangan besar. Dia menyusun
serangan-serangannya dengan jujur dan teliti untuk menjagaku agar tetap aman.
Oh, Erich, sahabatku. Betapa baiknya dirimu? Mempertaruhkan
nyawa agar kita bisa pulang bersama... meskipun aku mulai merasa menjadi beban
bagimu.
"Mika,
kau terlihat tidak sehat. Ini, minumlah air."
"Tapi
Erich, kita hampir sampai di ujung..."
"Jangan
khawatir. Dalam kondisi terburuk, kita bisa mengekstrak air dari udara.
Minumlah. Kehilangan sedikit air lebih baik daripada melihatmu pingsan di
depanku."
Aku
tahu Erich sangat lelah. Dia telah bertarung habis-habisan sejak tadi, dan aku
ragu pedang serta baju besinya bisa dianggap ringan. Dia pasti lelah, dan lebih
pasti lagi, dia sangat haus.
Namun,
kau malah memberikan air itu kepadaku...
Aku
menuruti niat baiknya dan meneguk air dari kantung kami. Namun, dia terus
menunggu, mendorongku untuk minum lebih banyak. Aku meneguk lagi, dan sesuatu
seolah meledak di dalam diriku—aku tidak bisa berhenti. Aku meneguk untuk
ketiga, lalu keempat kalinya, dan saat aku berhasil mengendalikan diri, kantung
air itu sudah terasa jauh lebih ringan.
Aku
tidak bermaksud begitu... Kelelahanku sungguh aneh; secara fisik, aku
seharusnya tidak selelah ini.
"Kau
tidak perlu menyisakannya untukku, tahu? Tapi, terima kasih."
Erich
mengambil wadah air yang hampir kosong itu dan meneguk sisanya tanpa mengeluh
sedikit pun. Tanpa tahu berapa lama lagi kami harus bertahan, Mana
adalah komoditas yang lebih berharga daripada koin emas; namun, dia kemudian
mengucapkan mantra untuk mengisi ulang cadangan air kami dari kelembapan udara
tanpa ragu-ragu.
Aku
harus berusaha lebih keras. Sakit kepalaku masih tergolong ringan, dan
rehidrasi ini pasti membantu. Selama aku bisa menghemat Mana dengan
mantra yang tepat, aku akan mampu bertahan.
Jika kau rela mempertaruhkan nyawamu untukku, maka aku akan melakukan hal
yang sama untukmu. Bukankah itu gunanya
teman?
[Tips] Efek dari Mana Depletion secara umum terbagi
dalam lima tahap:
1.
Pusing ringan.
2.
Sakit kepala menyengat.
3.
Migrain yang tak tertahankan.
4.
Pendarahan dari hidung atau telinga.
5.
Kematian otak yang tak
terelakkan.
◆◇◆
Entah
mengapa, aku merasa tatapan Mika menjadi agak berapi-api sejak kami memasuki
labirin ini. Mungkin ini hanya perasaanku, tetapi caranya mengawasiku dari
belakang terasa berbeda dari biasanya—aku tidak bisa menjelaskan apa yang
salah, tetapi atmosfernya memang berbeda.
Mungkin
karena panasnya pertempuran. Adrenalin yang mengalir deras telah menurunkan
standar bahasaku—aku tidak berani mengulang kata-kata kasar yang kuteriakkan di
sini di depan orang tuaku—jadi aku bisa mengerti jika dia juga merasa
emosional.
Aku
bisa menghitung dengan jari berapa kali aku bermain-main dengan maut, tetapi
sensasi pertarungan itu sudah terpatri di jiwaku. Ini adalah pertama kalinya
Mika berada di dalam Dungeon dan pertama kalinya dia bertarung jarak
dekat; tidak heran jika kegembiraan dan ketegangan itu menguasai dirinya.
"Baiklah,"
kataku, "ayo kita mulai lagi."
"Tentu
saja. Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Kalimat
itu terdengar seperti kutukan bagiku—aku sering mendengar kalimat serupa dalam
film atau novel sebelum bencana terjadi—tetapi Mika tampak sangat bersemangat.
Aku membuka pintu berikutnya dan langsung mengerang lesu.
Tiga
meja berjejer di tengah ruangan. Di atas masing-masing meja terdapat setumpuk
pernak-pernik kayu kecil.
"Um..." Mika mengamati benda-benda itu. "Sepertinya satu set
kepingan Puzzle kayu."
"Ya,"
kataku lemas. "Itu teka-teki siluet..."
Aku
sudah tahu penjaga labirin ini punya kegemaran pada teka-teki, tetapi melihat
ini membuatku ingin menyerah saja. Aturannya sederhana: kami harus
menggabungkan potongan kayu agar sesuai dengan gambar yang disediakan di atas
meja.
Permainan
ini murah dan mudah, menjadikannya hobi populer di Kekaisaran. Aku dan
saudara-saudaraku sering menghabiskan musim dingin di dalam rumah mencoba
membuat bentuk-bentuk baru dari potongan kayu.
Setiap
meja menuntut satu gambar: dari kanan ke kiri ada pedang, perisai, dan tongkat
sihir. Yang menyebalkan, teka-teki ini menggunakan aturan non-standar.
Potongannya berjumlah dua kali lipat dari biasanya, dan ada sebuah jam pasir
yang menandakan bahwa kami sedang dikejar waktu.
Serius? pikirku. Petualang macam apa yang perlu memecahkan puzzle kayu?
"Mungkin
ini membantu saat menjelajahi reruntuhan," saran Mika. "Katanya,
prasasti kuno bisa dijual sangat mahal jika kau bisa menyusun
potongan-potongannya kembali."
Aku
mengerang lagi. Mengingat pengalamanku di sesi RPG masa lalu, mencoba
menyatukan relik kuno sering kali berakhir dengan bencana jika lemparan dadu
gagal. Namun, tidak ada jalan keluar dari tugas ini.
"Siap?"
tanya Mika.
"Ya,
balikkan jam pasirnya."
Kami
mulai menyusun. Gambar pedang cukup mudah karena hanya memiliki empat ujung
tajam. Kami masih memiliki sisa waktu yang cukup banyak saat selesai. Bekerja
berpasangan memang membuat segalanya jadi lebih mudah, pikirku. Namun,
kesombonganku langsung sirna.
"Baiklah,
perisainya sudah jadi, sekarang—"
"Tunggu
sebentar! Erich, masih ada satu bagian lagi! Lihat, satu segitiga kecil
tersisa!"
"Apa-apaan!
Kau pasti bercanda! Bagaimana cara memasukkan ini?!"
"Artinya
semuanya salah! Argh, ini sulit sekali!"
Aturan
yang melarang adanya sisa potongan adalah tantangan sebenarnya. Satu bentuk
yang tidak terpakai berarti kesalahan fatal. Saat kepanikan melanda, butiran
pasir terakhir jatuh... dan hukuman pun dimulai.
Pintu
berderit terbuka dan enam zombie berhamburan masuk. Meski mereka tidak
bersenjata, Armor mereka dalam kondisi lebih baik daripada yang lain,
membuat pertarungan ini jauh dari kata mudah.
"Sial... Mika, kau
siap?"
"Y-Ya, aku bisa bertarung."
Responsnya kurang meyakinkan; aku harus menyelesaikannya
dengan cepat. Melakukan serangan dengan kecepatan penuh memang melelahkan,
tetapi lebih baik daripada terluka. Mana bisa pulih dengan istirahat, tetapi luka fisik jauh lebih
sulit diperbaiki.
"Dengarkan
panggilanku, wahai pedang setia—para juara bersenjataku..."
Magia kekaisaran biasanya tidak membutuhkan rapalan mantra yang muluk-muluk,
tapi aku masih amatir dan butuh bantuan fokus. Mengungkit kenangan memalukan
dari masa mudaku adalah harga kecil demi efisiensi.
"Berdirilah
tegak di hadapanku. Ambil pedangmu dengan tanganmu yang tak tergoyahkan!"
Kata-kataku
mencapai tumpukan senjata yang telah kukumpulkan. Senjata-senjata itu melayang
ke udara.
"Pergilah
dan bawakan aku kepala mereka!"
Aku
memanggil semua Unseen Hands yang bisa kukerahkan dan mempersenjatai
masing-masing dengan senjata yang kuambil dari penjuru labirin. Tombak menusuk
leher barisan depan zombie, sementara belati dan pedang pendek melesat memotong
anggota tubuh mereka.
Aku
memotong-motong mereka secepat mungkin. Tidak butuh waktu lama untuk
membersihkan seluruh kerumunan, tetapi beban pada cadangan Mana milikku
sangat berat. Aku mungkin hanya bisa melakukan ini satu atau dua kali lagi.
Labirin ini benar-benar menguras staminaku.
"Erich,
jangan memaksakan diri," kata Mika, berlari ke arahku sambil memegang
botol air. "Kau seharusnya membiarkanku membantu."
"Siapa
yang sebenarnya memaksakan diri? Aku tahu kau mulai sakit kepala." Aku
menatapnya tajam sambil berlutut terengah-engah, dan dia hanya bisa menggerutu
karena aku benar.
Potongan
Puzzle di meja telah menghilang. Rupanya, penjaga labirin ini
mengizinkan kami lewat jika kami menang dalam pertempuran.
"Istirahatlah
dulu, Erich."
Saat
aku mencoba berdiri, Mika mendorong bahuku agar aku tetap duduk. Dia mengambil
potongan kayu dari meja terakhir—gambar tongkat sihir—dan membawanya ke lantai.
Kemudian, dia menarik kepalaku dan memaksanya bersandar di pangkuannya.
"Serahkan
sisanya padaku."
Tunggu, kau membuatku malu.
Dengan
tekad yang luar biasa, Mika memecahkan teka-teki tersulit itu sementara
kepalaku berada di pangkuannya. Dia menyelesaikannya bahkan sebelum separuh
pasir di jam pasir habis.
◆◇◆
Waktu
terasa samar di dalam labirin ini. Kami telah melewati beberapa ruangan lagi.
Pola pertarungannya masih sama: zombie terampil yang harus dihadapi dengan
taktik cerdik.
Ada
satu teka-teki logika tentang "Harapan" yang berpindah dari satu
kotak ke kotak lain. Mika menyelesaikannya dalam hitungan detik.
Dia
menjelaskan bahwa dengan menghitung kemungkinan pergerakan, kita pasti akan
menemukannya pada hari keenam. Aku hanya bisa melongo melihat kecerdasannya.
Kini,
kami berdiri di depan sebuah pintu ganda besar yang memberikan kesan
berbeda—jenis gerbang yang seolah bertanya: Apakah Anda yakin ingin
melanjutkan?
Kami
memutuskan untuk beristirahat sebelum menghadapi apa pun yang ada di balik
pintu itu. Kami merebus air dan membuat teh merah untuk menenangkan tubuh.
Kemudian, kami tidur bergantian untuk memulihkan Mana.
Aku
menawarkan pangkuanku agar Mika bisa tidur lebih dulu. Saat aku tenggelam dalam
lamunan tentang kehidupanku sebelumnya yang penuh kerja keras, sebuah tangan
dingin di pipiku membuyarkan segalanya.
Aku
menunduk dan melihat mata mengantuk sahabatku menatapku. Bahkan dalam kondisi
lelah, kecantikannya tetap bersinar.
"Jangan
menyesali apa pun," kata Mika lembut.
Mataku
terbelalak. Bagaimana dia bisa tahu?
Sejujurnya,
aku diliputi rasa bersalah karena telah menyeretnya ke neraka ini. Aku
bermaksud menjadikan ini petualangan kecil yang menyenangkan. Namun, perjalanan
kami justru berubah menjadi tarian kematian yang hiruk-pikuk, penuh dengan
zombie dan genangan darah.
Kami
berjalan di jalur ini, tidak yakin apakah ada ujungnya. Siapa yang tahu apakah
kami bisa keluar hidup-hidup?
Kalau
saja Mika adalah sesama petualang yang siap mengorbankan nyawa demi
penjelajahan, aku tidak akan meremehkannya dengan kekhawatiran seperti ini.
Tapi
dia bukan petualang—dia hanyalah temanku. Dia bergabung denganku karena kami
telah bersumpah menjadi sahabat semalam sebelumnya, dan aku memanfaatkan
kegembiraannya untuk menyeretnya ke sini.
Membawa
teman baikku mengarungi sungai darah ini sangat menyakitkan hatiku hingga
rasanya aku ingin mencabut jantungku sendiri. Aku akan melakukannya dalam
sekejap jika itu berarti dia bisa pulang dengan selamat.
"Aku
tidak menyesali apa pun, lho," kata Mika tiba-tiba. "Maksudku, aku
berhasil mencegahmu lari ke lubang neraka ini sendirian, bukan?"
Ia
tersenyum penuh belas kasih, mencoba meyakinkanku agar tidak khawatir.
Betapa
berbudi luhurnya jiwa seseorang yang begitu peduli pada orang lain di tengah
situasi seperti ini?
Bagaimana
mungkin ia masih ingin mengikutiku?
Aku
tidak akan menyalahkannya jika ia berteriak dan mengutukku... Bahkan, sebagian
diriku menginginkannya agar rasa bersalah ini berkurang.
"Jadi,
tersenyumlah, Erich. Senyum jauh lebih cocok untukmu daripada cemberut."
"...Ya,"
akhirnya aku berkata. "Kau benar."
Aku
tak bisa menolak permintaan sahabatku, jadi aku menarik bibirku membentuk
seringai canggung.
Puas,
Mika memejamkan mata dan tertidur. Aku menyingkirkan poninya dan menatap
wajahnya yang lelah sebelum menutupinya dengan jubahku.
Ya
Tuhan, aku benar-benar telah menemukan teman seumur hidup.
[Tips] Ichor Labyrinth dapat membengkokkan aliran
waktu, menyebabkan perbedaan waktu yang signifikan antara bagian dalam dan
luar.
◆◇◆
"Bagaimana, siap?"
"Ya. Aku siap
berangkat."
Setelah tidur sejenak, kami
memuaskan rasa lapar dengan sedikit perbekalan yang tersisa. Pintu di depan
mengumumkan adanya pertempuran puncak, tetapi kami bertekad untuk
menyelesaikannya. Kami akan pulang, apa pun yang menghalangi jalan kami.
Para penganut paham Min-Max
hebat di masa lalu pernah menyatakan bahwa Tuhan sekalipun dapat dikalahkan
jika jumlah manusianya memungkinkan. Jadi, apa arti satu atau dua tugas sulit bagi kami?
Kami
mendorong pintu berat itu. Dunia terbuka ke sebuah ruang luas yang disatukan
dari berbagai ruangan, tanpa dinding penyekat. Keberanianku menciut saat
melihat tujuh zombie berbaris menyambut kami. Aku sudah kenyang dengan mayat
hidup, terima kasih banyak.
Kalau
saja mayat-mayat ini adalah monster lemah yang hanya menang jumlah, aku tidak
akan keberatan. Tapi zombie di labirin ini berbeda: mereka semua terlihat
sangat kuat.
Tenangkan diri kalian, GM. Anggota kelompok kami cuma dua orang!
Semua prajurit mayat hidup di
depan kami memiliki perlengkapan lengkap.
Meskipun beberapa kehilangan
anggota tubuh, kekurangan itu telah ditutupi dengan prostetik. Senjata dan baju
zirah mereka berkualitas tinggi. Ini bukan sekadar rintangan; ini adalah ujian
keterampilan.
Siapa
pun yang membuat labirin ini jelas ingin menguji kekuatan dan kecerdasan kami.
Kami sedang diamati, dan aku hanya bisa berharap kami lebih dari sekadar tikus
laboratorium.
Pekerjaan seorang GM, sederhananya, adalah menang dengan
gaya. Mereka mendorong pahlawan hingga batas kemampuan, memberikan kemenangan
kecil yang menyiksa, namun pada akhirnya membiarkan pahlawan menang.
Namun, dunia ini tidak mengenal belas kasihan seperti itu.
Semua zombie di sini kemungkinan besar adalah pejuang kelas atas yang kalah
dalam pertempuran terakhir mereka.
"Ha ha," aku terkekeh pelan. "Ini... hebat."
"Ya,
benar sekali," Mika setuju dengan nada getir. "Kurasa aku bisa
mendengar suara hatiku yang hancur."
Enam zombie mengambil posisi di samping, mengangkat senjata
mereka dalam dua baris, seolah menghiasi jalan menuju bagian belakang aula. Di
ujung formasi, sesosok mayat duduk di kursi, menyandarkan berat badannya pada
sebuah pedang raksasa.
Pria berkulit kering dengan janggut putih besar itu adalah
sang petualang yang kami cari. Baju besinya tipis namun berkualitas tinggi.
Namun yang paling menonjol adalah pedang yang dipegangnya—sebuah Zweihander
hitam legam yang memancarkan aura jahat.
"Itulah akar dari semuanya... Dialah penyebabnya,"
bisik Mika.
Zombie itu begitu unik dan
terkutuk hingga ia mampu membelokkan ruang dan waktu untuk menciptakan
perangkap ini.
"Ayolah,"
kata Mika, "jangan terlalu pesimis."
Kami
bertukar candaan terakhir dan melangkah maju. Tiba-tiba, keenam prajurit mayat
hidup itu menoleh ke arah kami secara serentak. Senjata mereka siap sedia.
Klimaksnya telah dimulai.
[Tips] Untuk menghancurkan Ichor Labyrinth, seseorang
harus menghancurkan atau menjarah Core yang menopangnya.
◆◇◆
Dalam RPG, biasanya ada fase
persiapan untuk memberikan buff. Namun, para zombie ini tidak
sportif. Baru saja aku hendak mengangkat pedang, dunia di sekitarku
terdistorsi. Saat aku kembali fokus, formasi mereka sudah berubah total.
"B-bagaimana mereka bisa ada di belakang kita?!"
teriak Mika.
Dua zombie dari pasukan mereka berhasil mengepung kami. Ini sudah di luar
kendali.
"Mika,
pegangan yang kuat!"
"Apa
yang kau—whoa?!"
Aku
menggunakan Unseen Hands untuk mencengkeram tengkuk Mika dan
melemparkannya ke arah kiri. Memisahkannya dari pertempuran jarak dekat adalah
pilihan terbaik agar dia tidak menjadi target utama. Lagipula, tampaknya
gerombolan ini hanya menginginkan kepalaku.
Seorang
zombie wanita dengan luka besar di leher menerjangku dengan belati.
Kecepatannya luar biasa. Di saat yang sama, sesosok Floresiensis
setengah kerangka melompat tinggi menggunakan bahu temannya sebagai tumpuan,
mengayunkan Shotel melengkung dari udara.
Dari
belakang, aku mendengar gemerincing baju zirah dari duo pembawa tombak dan
pedang besar yang mengapitku. Aku dikepung, kekurangan Mana, dan
kelelahan.
Tapi,
aku tidak akan menyerah begitu saja.
"Tidak
ada gunanya menahan diri sekarang!" teriakku.
Dengan
Flash Reflexes dan Insight, aku bisa melihat serangan mana yang
paling mematikan. Aku mulai dengan menggunakan Unseen Hands untuk
menghantam lutut wanita yang menyerang lebih dulu, lalu membanting wajahnya ke
lantai saat dia kehilangan keseimbangan.
"Grargh?!"
Zombi itu mencium lantai dengan keras hingga kepalanya hampir terlepas.
Tanpa
membuang waktu, aku memanggil Unseen Hands lain untuk menangkapku di
tengah lompatan, mencegat si Floresiensis di udara. Aku menangkis
serangannya dengan karambit, lalu melepaskan Schutzwolfe sejenak untuk
mencengkeram lehernya dengan tangan kanan.
Kekuatan
momentum kami yang berlawanan meretakkan tulang belakangnya. Aku mengabaikan
suara tulang yang hancur itu, berputar di udara menggunakan pijakan tak
kasatmata lainnya, dan melemparkan tubuh si Floresiensis tepat ke arah
ujung tombak prajurit yang datang dari belakang.
"Tepat
sasaran!"
Zombi
kecil itu mendarat tepat di tempat yang kubidik. Tidak peduli seberapa ringan
tubuhnya, berat seorang dewasa—meskipun sudah menjadi mayat—cukup untuk
mendorong tombak dan penggunanya ke belakang.
Perlawanan
si Floresiensis justru mencegah pengguna tombak melepaskan sekutunya
dengan cepat, menyebabkan makhluk kecil itu meluncur semakin dalam ke batang
tombak. Kerja bagus. Teruskan.
Aku
mengabaikan Unseen Hands yang menopangku, lalu menjejakkan tumitku
kuat-kuat di punggung bawah zombie wanita yang tergeletak di lantai.
Suara
berderak tulang yang hancur menjadi debu memberikan sensasi sentuhan yang
memuaskan. Menghancurkan pinggulnya berarti merampas titik tumpunya; dia sudah
keluar dari persamaan untuk sementara waktu.
"Atas,
bawah, kiri, dan kanan. Gabungkan setiap sudut menjadi satu..."
Aku
mendengar Mika mulai melantunkan mantra di sela-sela batuknya. Aku mungkin
telah membuatnya kehabisan napas dengan lemparan tadi.
Maaf,
Mika, tapi dua infanteri berat lainnya sudah menyadari pengepungan kami jebol.
Mereka mulai bergerak. Aku harus menghadapi mereka secepat mungkin.
Aku
memanggil Schutzwolfe yang melayang untuk mengiris jari-jari zombie
wanita tadi. Jari-jarinya menggeliat seperti ulat saat akhirnya melepaskan
belati yang ia pegang, menambah koleksi senjataku.
"Lihatlah
baja berduri ini, simbol penolakan," Mika bernyanyi. "Dari sini ke
sana adalah ke sini; dari sana ke seberang adalah ke sana..."
Mendengar syair temanku, aku mengambil belati itu dengan Unseen
Hand. Sekarang
aku punya empat senjata, termasuk pisau peri di tangan kiriku. Anehnya,
karambit itu terasa lebih berat—seolah-olah atmosfer ruangan ini mulai menekan.
Aku berbalik menghadap zombie dengan pedang dua tangan.
Dialah satu-satunya yang tidak terkena tipu dayaku. Dia menyerang dengan
hati-hati. Aku menepis pedangnya dengan bilahku yang tumpul, masuk ke posisi
terkunci.
"Urgh!" Dia sangat kuat. Persilangan pedang
kami berderit. Tulang-tulangku memprotes beban luar biasa ini. Tidak adil bagi
mayat hidup untuk memiliki kekuatan sebesar ini tanpa rasa sakit.
Tapi aku tidak akan adu otot. Aku harus bertarung lebih
cerdas.
Thud. Suara pelan terdengar. Dua pisau yang kukendalikan
menembus ketiak kiri dan lutut kanannya. Aku tahu ototnya butuh tendon untuk
bergerak, dan dengan memutusnya, kekuatannya berkurang drastis... atau
begitulah pikirku.
Zombie itu justru menyandarkan seluruh berat tubuhnya ke
pedangnya. Meski lengan dan kakinya patah, hasratnya untuk menang membuatnya
rela hancur demi menjepitku. Apa kau benar-benar sudah mati?!
Aku tidak ingin ditindih mayat berbaju besi lengkap, jadi aku
menggeser berat badanku dan berputar menghindar. Aku berhasil lolos, tapi...
Aduh!
Rasa
sakit tajam menusuk punggungku. Ujung tombak. Armor-ku menahan sebagian
besar benturan, tapi tetap saja sakit. Dan yang lebih parah...
"Klak
klak..."
Bajingan
itu menusukku dengan Floresiensis yang masih menancap di tombaknya!
Zombie kecil itu mencengkeram kerah bajuku dengan sudut tangan yang tidak
wajar. Saat si prajurit tombak menarik senjatanya, si kecil itu terlepas dan
menempel di punggungku, mencari celah untuk menggigit leherku. Hebat, aku
benar-benar jadi bintang film zombie sekarang.
"Dasar
kutu busuk, jangan harap!" teriakku.
"Kami
di sini; kamu di sana! Tidak seorang pun boleh melewati pagar ini!"
Mika menyelesaikan nyanyiannya. Aku mundur dengan kecepatan
penuh, menghantamkan punggungku ke dinding dengan keras. Menjepit si Floresiensis
di antara Armor besiku dan tembok batu. Aku bisa merasakan
tulang-tulangnya remuk dan daging busuknya hancur di punggungku. Cengkeramannya
terlepas; dia hancur menjadi tumpukan daging tak berguna.
Dari sudut mataku, sebuah pagar kayu yang dibalut kawat
berduri menjulang dari lantai. Pagar itu seolah hidup, menjerat dua zombie
berbaju besi yang tersisa dengan kawat baja berduri yang melilit seperti
kepompong.
"Sial, itu mengerikan," gerutuku. Sihir Mika
benar-benar mimpi buruk bagi petarung garis depan. Namun, imajinasiku terhenti saat
mendengar suara jatuh yang keras. Mika pingsan.
"Mika?!"
Tidak
ada respons kuat, hanya lambaian tangan lemah. Dia mengalami migrain hebat
akibat Mana Depletion. Dia telah memaksakan diri mengeluarkan kartu
trufnya untuk mengikat dua musuh terkuat demi memberiku jalan.
Aku
menendang Shotel yang jatuh ke arah zombie aktif terakhir, lalu memotong
tangannya saat dia mencoba menangkis. Membedah zombie yang sendirian ini
semudah membantai ternak.
"Baiklah...
saatnya hidangan utama." Aku menjentikkan darah dari Schutzwolfe.
Zombie
terakhir, sang petualang berjanggut putih, bangkit dari kursinya. Dia
mengangkat Zweihander hitamnya seolah beratnya hanya khayalan. Suara
ayunannya begitu halus hingga tidak meninggalkan hembusan angin.
Tunggu... apa cuma aku, atau dia memang jauh lebih kuat dariku?
Keringat
dingin membasahi dahiku. Auranya hampir menghancurkan jiwaku. Labirin ini
adalah kesalahan desain; musuh seperti ini tidak seharusnya dihadapi oleh dua
remaja. Tapi aku tidak bisa menyerah.
Sekam terakhir itu mendekat dengan tenang. Dia menempelkan
bilah pedangnya ke dahi seolah sedang berdoa atau memberi penghormatan
terakhir.
Baiklah kalau begitu. Aku memanggil sisa keberanianku dengan
teriakan keras.
"Ayo, keparat!"
Semuanya akan baik-baik saja. Seperti yang selalu kami
katakan di meja permainan: Yang harus kulakukan hanyalah mendapatkan
Critical Hit.
[Tips] Critical Success adalah keajaiban yang
tertanam dalam sistem dunia. Ketika kejadian langka ini muncul, unta pun bisa melewati
lubang jarum. Keberuntungan hanya berpihak pada mereka yang berdoa dengan
sepenuh hati.
◆◇◆
Gambaran
teman lama di meja judi terlintas di pikiranku. "Bertindak lebih dulu
tidak berarti apa-apa," ejeknya dalam ingatanku.
Aku
bertanya-tanya: jika dia mengalami apa yang sedang kualami sekarang, apakah dia
masih berani meremehkan nilai inisiatif?
Pedang
kami beradu. Dentang logamnya bergema keras, menciptakan percikan api yang
memercikkan kecemerlangan nyata di medan pertempuran yang remang-remang ini.
Zombie itu mengayunkan beban bajanya dengan kemudahan yang sama seperti saat
aku mengayunkan ranting pohon. Kekuatannya mutlak. Saat aku meluncur mundur
karena dampak benturan itu, aku melihat dia tidak mengendurkan kewaspadaannya
sedikit pun.
Apakah kau akan rugi jika sedikit saja bersikap lunak padaku?
Dalam
situasi di mana satu pukulan berarti kematian—seperti sekarang—kecepatan bukan
lagi sekadar statistik, melainkan ancaman eksistensial.
Petualang
yang sudah meninggal itu langsung menerjang begitu aku berteriak. Langkahnya
yang semula tampak biasa tiba-tiba berubah menjadi tebasan horizontal yang
mengirimku melayang. Aku bahkan tidak melihat gerakannya—dia terlalu cepat.
Namun,
keberhasilanku menangkis bukanlah sebuah kebetulan. Rasa gatal akibat haus
darah meluap, membelai tulang belakangku dengan getaran peringatan akan
serangan yang akan datang. Aku yakin pedang Zweihander hitam itu adalah
perwujudan semua kejahatan di dunia, dan instingku bereaksi terhadapnya.
Karena
sudah waspada, aku berhasil menangkis serangan itu dengan melemparkan diriku ke
belakang, membiarkan udara menghilangkan sebagian besar momentumnya. Jika aku
terlambat sedetik saja, atau jika Schutzwolfe hanyalah bongkahan besi
tua, tubuh bagian atasku sudah pasti akan berpisah dengan bagian bawahku. Bilah
pedang yang kucuri dari majikan pertamanya kini menjadi pembela setiaku yang
paling tangguh.
Aku
memanggil beberapa lapis Unseen Hands untuk menahan jatuhku. Aku mendarat
dengan posisi siaga, mendekap Schutzwolfe di dekat tubuh. Aku tahu
sekarang bahwa aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku mulai merapal mantra
dengan kecepatan penuh.
Aku
mengumpulkan sisa Mana terakhir untuk melengkapi Hands milikku
dengan add-on tempur. Pengabaian yang sembrono ini membuatku merasakan
dasar dari tangki misteriusku: penglihatanku mulai berkedip merah kusam, sebuah
kekuatan dunia lain meremas bagian depan otakku, dan denyutan tumpul di
belakang tengkorakku terasa seolah aku baru saja ditendang oleh seekor kuda.
Aku
tidak butuh pikiran jernih untuk tahu bahwa tubuhku sedang memprotes keras.
Rasa sakit adalah cara tubuh memperingatkan tuannya agar tidak mendorong
terlalu jauh, tetapi saat ini, aku harus melawan insting bertahan hidup itu.
Aku menelan rasa sakitnya dan berteriak dalam hati agar sayatan bawah sadarku
runtuh demi menyelesaikan mantra ini.
Enam
lengan tak terlihat muncul, memulihkan senjata-senjata milik para petualang
yang telah gugur. Masing-masing lengan itu kini bersiap menggunakan teknik Hybrid
Sword Arts yang presisi.
Pedang, pedang besar, tombak, belati, dan shotel—semuanya
menyerang balik raja yang pernah mereka layani. Senjata-senjata ini telah
diayunkan oleh mayat hidup, hanya untuk dihidupkan kembali demi menebas musuh
yang menolak untuk mati. Sungguh ironi yang luar biasa.
Meskipun tombak itu membutuhkan dua Unseen Hands, aku
terus melipatgandakan seranganku.
Aku ingin tertawa memikirkan betapa besar keuntungan
jangkauan tombak ini jika lawanku manusia normal... tapi zombie di hadapanku
ini langsung beralih ke serangan lain, merampas setiap detik optimisku.
Boom! Lantai hancur saat ia lepas landas. Sebuah kawah tercipta saat ia
mendarat dan berlari ke arahku.
Aku
hampir tak percaya bahwa sekantung kulit dan tulang ini sanggup menangkis tujuh
bilah pedang hanya dengan satu ayunan dahsyat, tapi ia melakukannya demi
membuka celah.
Zweihander terkutuk itu menerjangku layaknya badai. Sang petualang menyerang dengan
tebasan menyilang, menggunakan momentum sudut untuk berputar penuh dan
melanjutkan dengan pukulan ke atas.
Setiap
putarannya adalah presisi profesional. Dia bukan prajurit batalion yang kaku;
dia adalah penghancur massa. Di kedalaman neraka ini, aku justru mendapat
pelajaran teknik pedang dari seorang tetua yang sudah membusuk.
Glegar!
Pedang
hitam itu turun seperti guntur. Schutzwolfe saja tidak cukup.
Aku
mengunci senjatanya dengan tiga pedang sekaligus.
Ini
seharusnya memberiku celah untuk menusuknya dengan tombak dan shotel, tapi dia
berputar pada titik kontak, menggunakan bagian tumpul bilahnya untuk menepis
kedua serangan itu.
Lebih
buruk lagi, belati yang mencoba memotong pergelangan kakinya patah seperti
permen batangan saat ia menghentakkan kaki ke bumi.
Kau tidak mungkin sekuat ini! Berapa kali kau mau menghindari serangan
penamatku?!
Aku
melepaskan semua senjata pinjamanku dan menggunakan enam Hands untuk
mendorong dadanya kuat-kuat. Aku berhasil menciptakan jarak untuk membangun
kembali tembok pertahananku.
Zombie
itu berdiri dengan tenang, mengayunkan pedangnya di udara kosong seolah sedang
membersihkan sisa debu. Saat aku melirik kumpulan senjata yang melindungiku,
jantungku mencelos. Sisi tajam pedang-pedang itu telah berubah menjadi pola
zig-zag yang menyedihkan, hancur seperti gergaji kayu yang tumpul.
Pedang petualang itu terlalu berat dan terlalu tajam. Aku iri pada senjatanya,
tapi aku tak akan berani menyentuhnya. Pedang terkutuk seperti itu hanya akan
membawa malapetaka bagi siapa pun di sekitarnya.
Aku menenangkan napas yang tak teratur. Sakit kepalaku
mencapai puncaknya. Aku merasakan cairan hangat mengalir dari hidung ke
bibirku. Cairan yang kental dan amis.
Oh, sial. Efek samping Mana Depletion. Aku sudah mimisan. Apa ini batas
kemampuanku?
Ksatria
kematian di depanku tidak terganggu sedikit pun. Dia tidak butuh napas. Dia
adalah mesin pembunuh yang sempurna.
"Beri aku kelonggaran... ini tidak adil."
Inilah saatnya. Monster tak kenal lelah itu datang untuk
menaklukkan manusia menyedihkan ini dengan statistik yang brutal.
Rotasinya menghasilkan ayunan yang lebih banyak daripada
tetesan air hujan. Aku menepis, menangkis, dan menghindar dalam keputusasaan.
Setiap sayatan pedangnya menggores kulitku, darah mulai membasahi pakaianku.
Aku akan minum air, pikirku linglung. Setelah aku menidurkan orang ini, aku
akan minum air sebanyak mungkin.
Krak! Tombak itu patah. Prang! Pedang besar itu
hancur menjadi serpihan. Shotel, belati, dan pedang panjang—semuanya tumbang. Pasukan persenjataan yang
kuhidupkan dengan sisa Mana terakhirku telah musnah.
Dalam
putaran takdir yang puitis, yang tersisa hanyalah pedang kesepian di tanganku: Schutzwolfe.
Kebanggaan ayahku tetap utuh, seolah membisikkan bahwa aku punya rumah untuk
tempat pulang.
Sudah
berapa lama tarian maut ini berlangsung? Aku sudah mendaratkan beberapa
pukulan, tapi hanya berhasil mencabik kain dan baju besinya. Mengalahkan bos
sendirian benar-benar usaha yang sia-sia.
Zombie
itu perlahan menyiapkan pedangnya. Posisi tebasan silang yang sangat ia sukai.
Saat aku melihatnya meletakkan pedang di bahu, aku merasakan nyeri hebat
menjalar dari bahu ke pinggulku. Aku tahu, jika aku tidak menghentikan serangan
ini, aku akan mati.
Pikiranku
mendadak jernih di tengah rasa sakit.
Tolong... Beri aku
Critical Hit. Satu saja... jika tidak, perjalananku berakhir di sini.
Aku mendengar suara dadu yang berdenting di kepalaku. Diamlah,
ini giliranku.
...Ah. Sial. Aku akan mati.
Doaku dijawab bukan oleh angka enam kembar, melainkan oleh Snake
Eyes—angka satu kembar yang melambangkan kegagalan total.
Aku terpeleset oleh genangan darahku sendiri. Saat
keseimbanganku hilang, pertaruhan terakhirku untuk meraih pergelangan tangannya
gagal total.
Bilah
pedang raksasa itu mulai mengayun. Aku bertanya-tanya bagaimana rasanya
terbelah oleh Zweihander hitam itu.
Aku
memejamkan mata, pasrah pada nasib sebagai pecundang yang gagal di saat paling
krusial.
Demi Tuhan, berikan aku keajaiban!
"Aku
akan melindungimu... teman lama."
Tepat
sebelum kegelapan merenggutku, aku mendengar suara Mika.
Zombie
itu telah menebas udara dengan kecepatan penuh, tapi mengapa pedangnya belum
mencapaiku?
Cahaya
samar apa yang tiba-tiba menyelimuti bilah terkutuk itu?
Aku
tidak punya waktu untuk mencari jawaban atau logika di balik keajaiban itu.
Serangan
yang melambat sudah cukup untuk mengubah kematian pasti menjadi satu-satunya
celah untuk hidup.
Aku
membalikkan pegangan Schutzwolfe dalam sekejap.
Apa
yang seharusnya menjadi tangkisan pasif berubah menjadi pukulan ke atas yang
mengarahkan Zweihander hitam itu menghantam tanah di sampingku.
Meskipun
aku terpeleset, aku mengerahkan sisa tenaga terakhir untuk menusukkan pisau
ajaib itu tepat ke bahu kanan sang mayat hidup. Ujung tajamnya menghancurkan
otot dan sendi yang sudah layu. Bahunya patah, dan pedang raksasa yang
mengerikan itu pun terlepas, berguling dengan suara logam yang memekakkan
telinga.
Dengan
suara seperti ranting kering yang patah, sang petualang mayat hidup membisikkan
kata terakhirnya: "Splen... telah melakukannya."
[Tips] Critical Failure (Fumble) adalah kegagalan
mutlak. Namun, siapa tahu? Terkadang kegagalan fatal satu pihak dapat mengarah
pada keajaiban bagi pihak lain...
◆◇◆
Di
sisi lain ruangan, Mika merosot lemas. Dia telah melampaui batasnya.
"Aku
akan melindungimu... sobat tua," gumamnya pelan sebelum kesadarannya
menghilang.
Mika
telah memaksakan diri melakukan sihir yang melampaui kapasitasnya. Dia
memanipulasi jaring laba-laba di langit-langit, memperkuatnya menjadi
kabel-kabel baja mistis hanya untuk memperlambat ayunan pedang itu selama
sepersekian detik. Detik yang menyelamatkan nyawaku. Harganya mahal: Mika
pingsan dengan pendarahan di telinga dan hidung akibat tekanan Mana yang
ekstrem.
Aku
berdiri dengan tubuh gemetar, menggunakan Schutzwolfe sebagai tongkat
penyangga. Pertempuran selesai. Kami menang. Tapi pikiranku hanya tertuju pada
satu hal: Aku tidak akan melakukan ini lagi.
Aku
menghampiri Mika, memeriksanya dengan cemas. Untungnya, dia masih bernapas. Aku
menyeka darah dari wajahnya dan memberinya minum. Dia selamat, tapi dia butuh
perawatan medis mistis secepatnya.
Tiba-tiba,
pedang hitam di lantai bergetar. Ia melayang sendiri, memancarkan emosi yang
pekat—sebuah "cinta" yang obsesif dan mengerikan. Ia ingin aku
menjadi tuannya yang baru.
"Jangan
harap!" teriakku.
Dengan
sisa tenaga terakhir yang membuat otakku terasa seperti digiling, aku merapal
sihir pembengkok ruang. Sebuah lubang kosong terbuka dan menelan pedang
terkutuk itu, membuangnya ke dimensi tak berpenghuni. Aku tidak butuh barang yandere
seperti itu.
Seketika,
realitas di sekitar kami mencair. Ichor
Labyrinth runtuh setelah kehilangan
intinya.
[Tips] Setelah kehilangan intinya, Labirin Ichor akan
kembali ke bentuk aslinya, membawa serta ketidaknormalan yang ada di dalamnya
kembali ke dunia nyata.
◆◇◆
"Aku tidak mengenali langit-langit ini."
Aku terbangun di dalam sebuah gubuk kayu tua yang lapuk di
tengah hutan. Rupanya, labirin itu hanyalah distorsi dari tempat persembunyian
petualang ini. Mumi yang kulawan tadi adalah pemilik asli gubuk ini, dan
penulis buku harian yang kini tergeletak di meja.
Aku membaringkan Mika di tempat tidur yang tersedia. Dia masih tertidur lelap.
Aku duduk di kursi tua, memegang tumpukan catatan harian petualang itu—tujuan
utama misi kami.
Kami
berhasil. Kami menyelesaikan misi, mendapatkan buku harian itu, dan tetap
hidup. Rasa puas yang mengalir di dadaku terasa begitu nyata, meski tubuhku
terasa seperti remuk. Tadi aku bilang tidak akan melakukan ini lagi, tapi
sekarang? Mungkin petualangan seperti ini tidak seburuk itu jika dilakukan
bersama sahabat.
Aku akan beristirahat sejenak di sini, menjaga Mika sampai dia bangun, sambil menikmati keheningan hutan yang akhirnya kembali normal. Kemenangan ini adalah milik kami.



Post a Comment