NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 4.5 Chapter 1

Masa Remaja

Akhir Musim Semi, Usia Tiga Belas — Bagian Dua


Ciri-ciri Ras — Bonus atau kemampuan unik yang eksklusif untuk suatu ras. Beberapa bahkan mungkin cukup kuat untuk menjadi fondasi seluruh struktur kekuatan...

◆◇◆

Mengetahui fakta bahwa Nona Celia adalah seorang vampir tidak banyak membantu perjalanan pulang kami.

Begini, tidak ada jaminan bahwa dia tidak bisa mati, atau bahwa dia baik-baik saja dengan rasa sakit. Aku tidak akan sanggup membiarkan seorang wanita muda pergi dan melukai dirinya sendiri demi melindungiku.

Masyarakat pun tidak mengharapkan hal itu dariku; aku tidak bisa menyebut diriku seorang pria jika membiarkannya. Selain itu, aku tidak ingin melihatnya hancur lalu bangkit kembali untuk kedua kalinya.

Tertawalah jika kalian mau dan menganggapku kuno, tapi pemikiran ini sangat cocok dengan zaman di Kekaisaran ini. Lagipula, betapapun rapuhnya manusia, aku masih memiliki harga diri sebagai prajurit yang terlatih.

Aku akui, seandainya dia adalah seorang PC yang pemainnya bisa kuajak bicara, aku akan dengan senang hati mengirimnya sebagai pendeteksi ranjau berteknologi rendah demi keamanan kelompok. Perintah paling kejam sekalipun bisa menjadi bahan tawa di meja permainan, dan aku senang memainkan skenario gila semacam itu di masa lalu. Barbarisme adalah bumbu komedi, dan kegilaan adalah pembersih lidah di sela-sela sesi kami.

Akan tetapi, aku tidak lagi duduk di meja lamaku sembari menertawakan kejahatan kemanusiaan atau mengolah angka status hingga ke titik absurd. Setelah hidup sekian lama sebagai Erich, aku tidak bisa lagi memisahkan identitas ini. Aku tidak bisa mengabaikan bahaya demi efisiensi semata.

Tentu saja, aku masih bersedia menanggung risiko sendiri. Aku juga tidak merasa bersalah membiarkan seseorang yang sangat kuat dan tidak bermoral seperti Nona Agrippina membahayakan dirinya sendiri. Tapi, tidak untuk Nona Celia. Meski jiwaku sudah "keriput", hatiku tidak akan membiarkanku menertawakan seorang wanita baik-baik yang berlari menuju kematian.

Teman-teman di meja lamaku pasti akan menyeringai melihat betapa lemahnya aku sekarang, tapi aku tidak peduli. Ini hidupku, dan aku akan memainkan peranku sesuai keinginanku.

Setelah perdebatan panjang tentang keinginannya untuk memimpin jalan, kami berhasil meyakinkannya untuk tetap berada di tengah. Aku menjadi barisan terdepan dan Mika bertugas mengawasi dari belakang, persis seperti formasi awal kami.

Sekali lagi aku tekankan, terowongan di bawah Wizard's Corridor itu sangat berbahaya. Sekarang setelah kami tahu ada penjahat yang bisa mengintai di setiap sudut, kami harus ekstra waspada. Ini berbeda jauh dari misi damai memberikan makan Slime dari Kampus; bagian terburuk dari misi itu biasanya hanyalah masalah kelembapan.

"Aku tidak akan mati, tidak peduli bahaya macam apa yang menghadang jalan kita, kau tahu..." gumam Nona Celia.

"Aku mohon," pintaku. "Kami akan baik-baik saja, jadi tolong tetaplah di belakangku."

"Kami hanya tidak ingin melihat teman kami mulai memuntahkan pelangi, Celia," tambah Mika.

"Te-Teman..." dia mengulangi kata itu dengan suara pelan.

Meninggalkannya dalam momen emosional itu, aku membuang semua kecerobohan dan memutuskan untuk meminta bantuan Fairy sekali lagi. Sebenarnya aku takut berutang apa pun kepada Ursula, tapi itu lebih baik daripada disergap hanya karena menggunakan cahaya obor yang mencolok.

Aku meminjam penglihatan malam luar biasa yang pernah dipinjamkannya kepadaku di rumah Helga, dan sekali lagi aku terkagum-kagum. Terowongan ini biasanya memerlukan senter untuk melihat lebih dari satu atau dua langkah, tapi sekarang rasanya seolah aku sedang berjalan di luar pada siang hari.

Akan lebih baik jika aku bisa memanggil Lottie juga, tapi aku tidak bisa menghubunginya; Elf yang berbeda menguasai udara basi di sini. Meskipun Lottie menguasai konsep angin, kurasa wajar jika dia tidak bisa ikut campur di tempat di mana udara hanya bersirkulasi di pintu keluar yang terbuka. Itu seperti meminta pelaut laut lepas untuk menavigasi sungai berlumpur dengan perahu kecil. Aku bukan orang bodoh yang akan berkata, "Keduanya sama-sama perahu, kan?"

Dengan penglihatan yang memadai, aku menangkap seekor tikus menggunakan Invisible Hand. Hama yang mampu bertahan hidup meski penjaga selokan terus berpatroli biasanya gemuk dan ganas. Aku menduga populasi kota yang tinggi membuat mereka punya banyak sumber makanan.

Kami tidak perlu khawatir tentang tikus seukuran anjing yang akan mengincar nyawa kami karena spesies itu telah dimusnahkan bertahun-tahun lalu—fakta yang mengerikan karena itu berarti makhluk semacam itu memang pernah ada. Namun, tikus kecil tetap bisa menggigit dan membawa penyakit sampar. Mereka benar-benar ancaman bagi keselamatan.

Jadi, mengapa aku menangkapnya? Jawabannya adalah karena aku butuh "burung kenari". Dengan terus-menerus mengulurkan tangan gaib untuk membawa hewan pengerat itu di depanku, aku dapat mendeteksi awan gas beracun lebih awal.

Aku menolak menghirup aerosol dari zat terlarang yang mungkin dibuang oleh penyihir ceroboh ke sini. Mengunjungi dokter karena terkena kutukan Prismatic Flux, seperti kata Mika, sama sekali tidak ada dalam rencanaku.

Aku membungkam moncong tikus itu agar tidak mencicit dan mulai berjalan. Setelah beberapa lama berjalan hati-hati dan mencari kemungkinan adanya Homunculus yang menunggu, kami berhasil menemukan jalur keluar yang familier menuju permukaan.

Rupanya, tidak ada orang gila yang memutuskan untuk membuang limbah sihir berbahaya hari ini. Sungguh hal yang patut disyukuri. Sejujurnya, aku sudah bersiap jika harus bertemu dengan buaya putih raksasa atau sejenisnya, mengingat betapa kacaunya hariku.

"Apakah ini tujuan kita?" tanya Nona Celia.

"Ya," jawabku. "Penginapanku ada di jalan tepat di atas kita."

Aku melepaskan tikus itu sebagai ucapan terima kasih atas "jasanya", dan melambaikan tangan kepada dua tikus lainnya yang mengikuti dari kejauhan. Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, aku harus menghentikan Nona Celia agar tidak memanjat tangga duluan. Tolong biarkan aku yang memimpin jalan...

"Ya ampun," kata Mika, "aku tidak pernah menyangka tangga kumuh ini akan terlihat begitu mempesona... Wah, aku ingin segera mandi."

"Aku setuju sekali," desahku. "Sayang sekali pemandian umum sudah tutup jam segini. Kita harus puas dengan seember air."

"Baiklah. Aku hanya ingin menghilangkan perasaan lengket yang mengerikan ini. Mantra saja tidak cukup."

Aku mendengar temanku itu mengerang saat aku mulai memanjat. Mantra Clean memang luar biasa, tetapi tidak memberikan sensasi segar setelah mandi. Setelah terendam air selokan dari kepala sampai kaki, aku benar-benar butuh mandi air hangat. Musim semi memang akan berakhir, tapi kejadian malam ini sukses membuatku merinding.

"Hrgh... Oke."

Setelah menggeser penutup lubang got yang berat, akhirnya aku sampai di rumah. Handuk dan bak air hangat sudah cukup bagiku, dan aku bisa bersantai setelahnya dengan secangkir teh merah.

"...Kakak tersayang?"

"Apa—Elisa?!"

Aku menjulurkan kepalaku ke permukaan, hanya untuk mendapati adik perempuanku tercinta sedang duduk di depan pintu rumahku dengan pakaian terbaiknya...


[Tips] Permintaan untuk memberi makan Slime yang rutin diunggah di papan pengumuman Kampus hanya berlaku untuk area selokan yang relatif aman. Area Wizard's Corridor biasanya ditangani oleh penyihir spesialis yang memiliki kemampuan bela diri. Erich bisa mengetahui area tersebut hanya karena ia menggunakannya sebagai jalan pintas menuju tujuannya.




◆◇◆

Akhir-akhir ini, suasana hati Elisa sedang sangat baik. Tuannya menghilang begitu tiba-tiba sebagaimana kemunculannya, yang berarti ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama kakak laki-lakinya yang tercinta.

Tentu saja, ia terkadang merasa kesepian tanpa Mama, Papa, kakak laki-laki dan perempuan lainnya, serta semua teman yang ia tinggalkan di rumah. Namun, selama Erich bersamanya, Elisa merasa sanggup bertahan. Saat Erich menepuk kepalanya dengan tangannya yang kasar namun hangat, Elisa merasa senyaman sedang tidur siang di bawah terik matahari.

Kakaknya itu memberikan perhatian jauh lebih banyak dari biasanya sejak sang majikan menghilang. Ketika Elisa mencoba pakaian pemberian dari "wanita tembus pandang yang menjijikkan" itu, Erich bertepuk tangan begitu semangat hingga tangannya sakit. Kakaknya bahkan mengajaknya bermain ke luar rumah, dan itu sangat menyenangkan.

Elisa masih ingat hari saat mereka pergi melihat para ksatria berparade dengan baju zirah berkilauan seolah baru terjadi kemarin. Sampai saat itu, ia tidak pernah mengerti mengapa tuannya memaksanya menulis buku harian demi tradisi; namun sekarang, ia akhirnya memiliki kenangan yang benar-benar ingin ia simpan dalam bentuk tulisan.

Itu adalah hari pertama Elisa bertemu seseorang yang baru sejak tiba di ibu kota. Anak berambut hitam yang diperkenalkan Erich padanya—yang belakangan dijelaskan sang kakak tidak selalu berjenis kelamin laki-laki—awalnya terasa agak menakutkan, namun Elisa mulai akrab dengannya saat mereka bermain bersama.

Meskipun anak itu lebih pendiam dibanding saudara-saudaranya di rumah, dia sangat baik. Setelah menghabiskan waktu bersama, Elisa tahu bahwa dia bukanlah musuh—baik bagi dirinya maupun bagi Erich tersayang.

Sejujurnya, Elisa awalnya kesulitan memahami Mika. Konsep kehidupan makhluk gaib sangat berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Bahkan ras Methuselah dan vampir yang kekal sekalipun terasa fana jika dibandingkan dengan makhluk yang kendali intuitifnya terhadap sihir mampu mewujudkan konsep yang tak terpahami.

Sebagai jiwa dari sebuah fenomena yang hidup, Elisa memiliki kemampuan yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun: ia bisa melihat jati diri seseorang.

Itulah sebabnya ia begitu dekat dengan keluarganya; jiwa mereka tidak menunjukkan apa pun kecuali kasih sayang. Mereka memberinya cinta dan ketenangan yang sangat ia dambakan, bahkan hingga ia rela mengorbankan diri demi mereka.

Namun, ia kesulitan memahami Mika. Ras Tivisco adalah pendatang baru di Kekaisaran, dan Elisa belum pernah bertemu satu pun bahkan sebelum ia terlahir kembali. Emosi mereka kabur dan rumit; ia melihat warna seorang anak laki-laki, pigmen seorang anak perempuan, dan campuran memusingkan saat keduanya menyatu.

Semua itu adalah bagian tulus dari diri mereka, namun masing-masing tersembunyi—bagaikan cat yang berputar di dalam air namun menolak untuk menyatu menjadi satu warna tunggal, malah menciptakan pusaran pelangi.

Ego sang Changeling muda ini belum siap untuk memahami pikiran yang menolak harmoni monokromatik. Meskipun ia yakin perasaan Mika penuh kasih sayang, kontur emosinya lebih sulit dinavigasi daripada lilitan batu geode yang rumit.

Persahabatan, cinta, iri hati, keterikatan, kegembiraan, dan... keinginan? Apa pun itu, tiga jati diri Mika menentang pemahaman Elisa. Terlalu membingungkan bahwa hanya satu sisi yang muncul pada satu waktu, sementara jiwa dasarnya tetap menjadi jangkar yang tak terlukiskan dan berwarna-warni.

Meski tahu bahwa Mika adalah sekutu sejati kakaknya, Elisa tidak tahu cara bergaul dengannya. Ia sebenarnya tidak keberatan dengan persahabatan seperti yang sering ia baca di buku. Mereka sudah berteman dengan Erich, dan Elisa mulai menyukai mereka selama parade ksatria tempo hari.

Anak-anak di Konigstuhl sempat menakuti Elisa. Bagi mereka, keraguan adalah hal asing, begitu pula pemikiran yang mendalam.

Mereka menganggap semua orang bisa melakukan apa yang mereka bisa, dan semua orang berpikir dengan cara yang sama.

Meski wajar bagi anak-anak yang belum belajar berempati, hal itu tetap membuat gadis lemah seperti Elisa ketakutan.

Mika adalah cerita yang berbeda. Mereka penuh perhatian dan selalu memperhatikan orang-orang di sekitar mereka; Elisa tidak perlu mengintip ke dalam jiwa mereka untuk menyadari hal itu.

Secara pribadi, ia tidak keberatan berteman dengan mereka. Pergi bermain bersama terdengar menyenangkan, dan ia rasa ia akan menikmati sesi minum teh di rumah. Meski selama ini ia selalu didandani oleh orang lain, ia pernah membaca bahwa gadis-gadis sering membeli pakaian bersama sebagai hobi—mungkin mereka bisa mencobanya jika jadwal mereka cocok.

Namun, ada satu hal yang menahan Elisa: emosi rumit Mika terhadap Erich. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kakaknya? Tidak ada yang bisa menjawabnya, bahkan dengan intuisinya yang tajam sekalipun.

Merkewelt milik mereka berbeda dengan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Perjalanan waktu mungkin tak terpahami bagi mereka, namun perasaan pribadi terasa sangat jelas dan konkret.

Bagi kebanyakan Fairy, kasih sayang mencakup rentang cinta, keterikatan, kepemilikan, dan sensualitas tanpa batas. Sementara manusia menciptakan batasan kaku untuk menjaga ketertiban, para Alfar memilih untuk tidak melakukannya—bahkan, mereka tidak bisa.

Dorongan itulah yang membuat mereka menculik anak-anak manusia untuk bergabung dalam tarian riang di bawah senja abadi, berharap bisa mengubah anak-anak itu menjadi bagian dari kaum mereka sendiri.

"Kejahilan" keji ini bukanlah hasil dari niat jahat. Siapa pun yang berakal sehat tahu betapa menderitanya anak yang direnggut dari rumahnya—bahkan Methuselah yang angkuh pun bisa memahaminya secara logika—namun Alfar sama sekali tidak mengerti. Sebaliknya, mereka menculik anak-anak justru untuk menunjukkan versi kebahagiaan mereka.

Umat manusia tidak akan pernah benar-benar memahami apa yang dirasakan Alfar sebagai cinta. Bahkan seorang Changeling yang berpikir menggunakan otak manusia pun tidak akan mampu memecahkan kode tersebut.

Meskipun pikiran seorang manusia dan ego seorang Alf telah menyatu dalam diri Elisa, prosesnya belum sempurna. Hidupnya yang cukup panjang membuatnya merasakan cinta manusia dan nilai-nilai fana yang justru memperdalam kebingungannya saat mencoba mencampur dua esensi yang saling bertolak belakang.

Perjuangan batin antara etika manusia dan naluri Alfar seringkali menyebabkan kehancuran mental yang hebat bagi para Changeling, yang biasanya memperpendek usia mereka. Namun, meski hidup dalam kondisi mental yang kacau, Elisa merasa kondisi Mika jauh lebih membingungkan.

Sebenarnya, apa yang Mika inginkan dari Erich?

Jika Margit, itu mudah. Kasih sayang romantisnya begitu terbuka hingga Elisa yang berusia lima tahun pun bisa membayangkan harapan si gadis laba-laba itu: menikah, memulai keluarga, dan hidup bersama sampai mati. Margit memimpikan akhir bahagia yang konvensional.

Elisa membenci Margit—membencinya karena laba-laba itu ingin merebut posisi nomor satu di hati kakaknya. Bahkan jika Margit gagal, sisi manusia dalam hati Elisa tahu bahwa anak yang mereka hasilkan nanti pasti akan berhasil menggeser posisinya.

Erich suka membual tentang bagaimana adik perempuannya adalah gadis termanis di dunia; Elisa sama sekali tidak berniat melepaskan gelar itu.

Agrippina juga mudah dipahami. Makhluk itu sangat jahat menurut standar Elisa. Namun, sang Methuselah itu jelas tidak tertarik mengganggu hubungan kakak-adik mereka. Hati majikannya penuh dengan niat jahat yang begitu murni hingga ia hanya peduli pada kesenangannya sendiri. Selama dia tidak mengancam kedudukan Elisa, ia masih bisa ditoleransi.

Tapi bagaimana dengan Mika?

Saat menjadi laki-laki, Mika menunjukkan rasa percaya dan persahabatan. Ikatannya dengan Erich tampak tak tergoyahkan, semacam perasaan "saudara seperjuangan." Jika hanya itu, Elisa akan dengan senang hati menerima nasihat Erich untuk memperlakukan Mika seperti saudara laki-laki lainnya.

Masalahnya, dua jenis kelamin lainnya terbungkus dalam tubuh yang sama. Jiwa di baliknya adalah satu individu yang bersatu, dan perbedaan jenis kelamin itu hanyalah seperti pakaian yang mereka kenakan.

Erich mungkin memahami kondisi Mika sebagai kepribadian yang berganti-ganti, namun Elisa melihat lebih dalam. Mereka seperti karya seni dari tiga warna berbeda yang pigmennya pasti akan menyatu di tepiannya. Campuran halus inilah yang menjadi akar kebingungannya. Apa yang sebenarnya diinginkan Mika? Gadis kecil yang terpecah itu belum bisa menemukan jawabannya.

Meski begitu, Elisa yakin Mika adalah orang baik. Mereka bahkan pernah membantunya belajar di perpustakaan kampus, yang membuat Erich kini sering menemaninya belajar—sesuatu yang sangat ia syukuri.

Tumpukan buku dari tuannya sangat membosankan, namun Erich membawakannya cerita yang jauh lebih menarik. Buku-buku itu lucu dan "emosional"—kata yang diajarkan kakaknya—dan mereka membacanya bergantian. Setiap kali Elisa melakukan tugas dengan baik, Erich akan memujinya.

Satu prestasi, kakaknya akan tersenyum; dua prestasi, kepalanya akan ditepuk; tiga prestasi, ia akan dipeluk. Untuk pertama kalinya, Elisa merasa ingin menjadi lebih baik dalam segala hal. Pikiran tentang apa yang akan Erich lakukan setelah prestasi keempat atau kelima membuat jantungnya berdebar kencang.

Hari-hari ini begitu membahagiakan. Ia bangun setiap hari dengan kakak tersayang di sisinya, sarapan bersama tanpa gangguan sang majikan, lalu belajar bersama. Ia berharap tuannya tidak akan pernah kembali.

Dan hari ini adalah hari damai lainnya. Pagi harinya, Erich mengizinkannya menunggang kuda hitam bernama Polydeukes. Kuda itu besar namun sangat lembut, membuat dunia di sekeliling Elisa tampak jauh lebih indah dari atas pelana.

Siang harinya, Erich harus berangkat kerja, namun Elisa menunggu dengan penuh harap karena kakaknya berjanji akan kembali malam nanti. Ia menunggu dengan sangat sabar.

Namun, matahari mulai terbenam dan kakaknya belum juga kembali. Kegelapan menyelimuti kota, dan Erich masih belum muncul. Elisa mulai merasa sangat, sangat sedih.

Akhirnya, Elisa memutuskan untuk mencarinya. Kakaknya selalu melakukan hal-hal berbahaya—menggunakan peralatan berbahaya, mempelajari sihir berbahaya, dan menghadapi bahaya dengan senyuman. Itulah sebabnya Elisa harus mencarinya.

Elisa tahu di mana kakaknya tinggal. Ia pernah dibawa ke sana beberapa kali dan berteman dengan wanita tua pemilik penginapan yang sangat baik hati. Wanita itu jauh lebih baik daripada "ngengat perak" jahat yang selalu datang menyombongkan diri.

Elisa mengenakan pakaian yang paling sering dipuji Erich—blus putih bersih dan rok korset hitam—lalu bersiap pergi. Ia mengemas banyak hadiah ke dalam keranjang: kaleng daun teh yang dicurinya dari kamar tuannya, sekantong kue kering, bahkan sebotol anggur merah dan keju yang baunya menyengat.

Tuannya sering membeli barang secara acak dan melupakannya, jadi dia tidak akan sadar ada satu botol yang hilang.

Elisa yakin Erich akan menyukainya, dan mereka bisa mencampurnya dengan madu serta air agar Elisa juga bisa mencicipinya.

◆◇◆

Setelah meminta bantuan teman-teman rohnya untuk mengepang rambut, Elisa berangkat. Ia menerobos kerumunan orang yang memusingkan dan kebisingan kota yang membuatnya mual, namun sesampainya di rumah Erich, kakaknya tidak ada di sana.

Elisa begitu sedih hingga hampir menangis. Pemilik penginapan keluar untuk menghiburnya, namun kekhawatiran Elisa tak kunjung hilang.

Bagaimana jika kakaknya tidak pernah pulang?

Ia belum menjadi penyihir yang cukup kuat untuk melindunginya...

Tepat saat air matanya hampir tumpah, kakak laki-lakinya muncul secara misterius dari sebuah lubang di jalan tepat di depan rumah.

"Apakah kamu datang sejauh ini sendirian?!"

Erich melompat keluar dari lubang dengan panik dan segera menggendong Elisa.

Saking bahagianya, Elisa tidak sempat bertanya mengapa kakaknya tidak mengenakan baju. Rasa sedihnya sirna seketika; baginya, kehadiran Erich adalah matahari yang terbit di tengah malam. Kakaknya terasa hangat dan lembut.

Jika kegembiraan memiliki warna, itu adalah warna rambut kakaknya; jika kebahagiaan memiliki wujud, itu adalah binar di matanya. Erich adalah kebahagiaan itu sendiri bagi Elisa.

"Eh... bolehkah aku keluar juga?"

Seseorang lain menjulurkan kepalanya dari lubang itu. Rambutnya hitam basah dan ia mengenakan kemeja yang biasa dikenakan oleh kakak laki-lakiku. Elisa tidak tahu perhiasan apa yang tergantung di leher wanita itu, tetapi ia punya firasat buruk tentangnya.

Wanita ini juga memiliki aura "emas"... tetapi bukan kebahagiaan keemasan yang dibawa oleh kakaknya. Tidak, dia adalah cahaya bulan sabit yang melayang tinggi di langit—persis seperti gambar yang terukir jelas pada medali berkilaunya.

Mereka mirip, namun berbeda. Wanita ini tidak menunjukkan kegembiraan, tidak menyenangkan, dan jelas tidak memancarkan kebahagiaan. Warna kulitnya terasa jauh lebih dingin.

Warna itu membuat Elisa takut. Dadanya terasa sesak, persis seperti malam saat ia tahu mereka akan membawanya pergi dari rumah. Seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram jantungnya dan mencoba meremasnya hingga berhenti berdetak.

Yang bisa dilakukan Elisa hanyalah berpegangan erat pada kakaknya sambil menatap gadis menakutkan yang bermandikan cahaya bulan itu.


[Tips] Iklim Kekaisaran paling cocok untuk memproduksi anggur putih yang manis, tetapi anggur merah yang lebih berat lebih disukai di wilayah barat. Botol-botol yang diproduksi di kilang anggur kerajaan dikenal sebagai "Darah Bangsawan" di Seinian, dan satu botol saja harganya bisa setara dengan sebuah rumah besar.

◆◇◆

Kau tahu, pada dasarnya aku adalah tipe orang yang hanya bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Ini mungkin terdengar tidak masuk akal bagi seseorang yang memiliki Independent Parallel Thought tingkat lanjut, tetapi aku percaya bahwa merapal banyak mantra dan memecahkan banyak masalah emosional adalah dua hal yang berbeda.

Maksudku, tidak ada sedikit pun kemungkinan aku bisa menangani suasana hati adik perempuanku yang sensitif sekaligus membantu seorang gadis yang sedang dalam kesulitan secara bersamaan.

Demi segala yang baik, wahai GM, jangan masukkan mereka ke dalam sesi yang sama hanya karena kau malas mengatur jadwal.

Setelah menyingkirkan pemikiran konyol itu dari kepalaku, kami menyelinap masuk ke rumah dan mulai membenahi pakaian kami. Aku tidak bisa terus-menerus bertelanjang dada, dan hal yang sama berlaku untuk kaki Nona Celia yang terpampang jelas di depan dunia.

"Maafkan aku, Elisa. Bersikaplah baik dan duduklah diam sebentar. Kita semua akan masuk angin jika terus memakai pakaian basah ini."

"...Ya, Kakak. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ceritanya panjang... Cerita yang sangat, sangat panjang."

Aku segera lari ke lantai dua untuk melepaskan diri dari tatapan menuduh Elisa. Sejak diskusi besar kami waktu itu—tentang "kenapa kau selalu melakukan hal-hal menakutkan"—dia mulai bersikap sangat protektif.

Syukurlah aku tidak mengalami luka luar selama perkelahian dengan bandit tadi; jika dia memelukku sambil menangis lagi, aku pasti akan bersujud di lantai untuk memohon belas kasihan.

Sambil berterima kasih dalam hati kepada Nona Celia karena telah memastikan pertarungan berakhir tanpa luka, aku mengeluarkan tiga set pakaian biasa dari laci. Sebagai catatan, pakaian mewah yang diberikan oleh "si cabul" itu kusimpan di laboratorium majikanku.

Tidak ada pengusir serangga praktis di zaman ini, jadi aku tidak ingin menyimpan kain sebagus itu di lemari pakaian yang tidak memiliki segel mistik.

Ashen Fraulein mungkin bisa mengatasinya, tapi aku tidak ingin menambah bebannya.

Tentu saja, aku tidak berniat meminjamkan kostum itu pada Mika atau Nona Celia—meskipun aku harus mengakui bahwa kostum itu pasti akan terlihat lebih cocok untuk sahabat lamaku itu daripada diriku sendiri.

...Tunggu sebentar. Karena celana dalamku sudah dicuci bersih, aku baru sadar bahwa mungkin tidak sopan jika aku meminjamkannya. Mika mungkin tidak akan peduli—dia biasanya memilih pakaian maskulin saat dalam mode Agender—tetapi menawarkannya kepada Nona Celia bisa dianggap sebagai pelecehan seksual.

Namun, budaya pakaian dalam di Kekaisaran sudah sangat maju, bahkan mirip dengan yang ada di Bumi modern. Membiarkannya memakai pakaian luar tanpa pakaian dalam juga terasa sangat tidak sopan.

Tapi, naluriku mengatakan bahwa memberikan celana dalam bekas pakaiku juga salah. Ah, tapi jika tidak pakai apa-apa, kulitnya bisa lecet, dan...

Duh. Aku menoleh dan melihat seember air panas sudah tersedia di atas meja tulisku. Airnya masih mengepul hangat, menyebarkan aroma herbal yang menenangkan ke seluruh ruangan.

Terlebih lagi, satu set pakaian yang tidak kukenali tergeletak rapi di sampingnya: pakaian dalam wanita. Set pakaian tidur dan celana pendek tradisional itu tampak ditenun dari kain misterius yang lebih lembut dari sutra. Jelas, ini bukan milikku, dan tidak ada wanita yang pernah menginap di sini sebelumnya.

"Ashen Fraulein?" panggilku.

Tidak ada tanggapan. Aku memang belum pernah mendengar roh pengurus rumah itu berbicara, tapi keheningan hari ini terasa berbeda.

Dia tetap membantu seperti biasa, tapi aku tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah aku telah menyinggung perasaannya. Biasanya dia tidak bersuara saat bekerja, namun kali ini aku merasa dia sedikit marah padaku.

Tetap saja, dia bukan tipe yang akan marah hanya karena aku mengundang seorang gadis, apalagi Nona Celia adalah orang yang sangat sopan.

Aku tidak bisa membayangkan Nona Celia melanggar etiket dalam waktu sesingkat ini. Dia adalah tipe wanita terhormat yang selalu menghormatiku sebagai tuan rumah, meskipun aku terlahir dari kalangan rendah.

Bagaimanapun, aku tidak punya waktu untuk memikirkan suasana hati teman serumahku yang bisu itu. Aku mengucapkan terima kasih pada udara kosong dan turun ke bawah.

Permintaan maafku kepada Ashen Fraulein harus menunggu sampai aku bisa mengambilkan krim berkualitas tinggi dari studio Nona Agrippina.

"Nona Celia," panggilku. "Pakaian ganti sudah tersedia di atas. Silakan gunakan."

"Benarkah? Oh, tapi Erich, aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh."

"Jangan khawatir. Ada juga seember air hangat untuk membersihkan diri."

"Wah!" serunya sambil merapatkan kedua tangannya. Sikapnya yang sopan terasa sangat menyegarkan bagi seseorang yang biasanya hanya bergaul dengan orang desa atau preman sepertiku.

Nona Celia melompat menaiki tangga dengan langkah ringan. Kegembiraannya saat membayangkan bisa membersihkan diri terlihat jelas; dia pasti merasa sama tidak nyamannya dengan kami. Ternyata keabadian pun tidak bisa menghilangkan rasa lengket yang memuakkan akibat air selokan.

"Ayo kita ganti baju juga, Mika. Kita benar-benar berantakan."

"Benar. Ngomong-ngomong... aku sempat kaget saat ember ini muncul entah dari mana. Apa ini ulah dia?"

Mika menunjuk ke arah meja makan—yang sudah kubenahi kaki-kakinya hingga kembali kokoh—di mana sebuah bak besar telah diletakkan.

Irisan jeruk kering mengapung di dalamnya, memberikan aroma asam yang menyegarkan. Aroma jeruk sangat cocok untuk pria; mungkin sedikit menyengat bagi ras Demihuman dengan hidung sensitif, tapi ini sudah lebih dari cukup.

Bak itu dilengkapi dengan handuk dan bahkan sisir. Aku sangat bersyukur; setelah berendam di air kotor, rambutku penuh dengan partikel pasir yang gatal dan menyakitkan.

Elisa dengan patuh berbalik menghadap tembok, jadi kami segera berganti pakaian tanpa ragu. Tumbuh di keluarga pedesaan yang sederhana membuat kami tidak keberatan berganti baju di depan lawan jenis; tidak ada yang peduli saat kami mandi uap atau bermain di sungai dulu.

Kami merapal mantra Clean terlebih dahulu, lalu menyeka tubuh dengan kain basah. Meski bukan mandi sungguhan, terbebas dari rasa lembap ini terasa sangat melegakan.

Sihir telah menghilangkan sebagian besar pasir dari kepalaku, tapi rambutku yang tebal membuatnya sulit dibersihkan sepenuhnya dalam sekali jalan. Saat aku sedang bingung, Mika menarik kursi dan memberi isyarat padaku.

"Izinkan aku membilas rambutmu, Kawan. Aku tidak ikut berenang tadi dan rambutku pendek, jadi aku baik-baik saja. Tapi aku yakin kau kesulitan dengan rambut panjangmu itu."

"Kau yakin?"

"Andai saja kau mengizinkanku menyentuh rambutmu yang berkilau ini."

Gaya bicara "Pangeran Tampan" milik sahabatku ini membuat pipiku sedikit memerah. Astaga, ketampanan itu benar-benar curang. Mika hanya perlu memperbaiki postur tubuhnya sedikit untuk mengubah suasana santai menjadi momen yang bisa memikat hati siapa pun.

"Aku juga mau! Hmm... Aku juga ingin membantu! Boleh kan, Kakak?"

Jadi, adik perempuanku yang antusias ikut bergabung. Mereka berdua mulai mencuci rambutku. Aku melepaskan ikatan rambut dan bersandar di tepi ember.

Meskipun mirip dengan suasana di salon kecantikan, kursi ini tidak memiliki sandaran; aku harus menopang berat badanku sendiri dengan otot perut. Untungnya latihan harianku membuahkan hasil.

Mika dan Elisa menyiramkan air hangat, menyisir rambutku dengan jari-jari mereka untuk membuang sisa kotoran. Rasanya sangat menenangkan membiarkan mereka melakukan itu.

Aku mulai merasa rambut panjang ini merepotkan, tapi mereka berdua memijat kulit kepalaku seolah-olah sedang memegang barang pecah belah yang sangat rapuh.

"Kalian tidak perlu selembut itu, lho. Rambut pria itu kuat."

"Jangan bicara begitu," kata Mika. "Kita tidak boleh kasar pada sesuatu yang terawat dengan baik seperti ini, kan?"

"Benar sekali," Elisa setuju. "Rambut Kakak lebih lembut daripada pakaian Nona Leizniz. Aku akan mencucinya dengan sangat hati-hati!"

Mereka berdua kompak mendengus, dan aku pun menyerah. Mereka melakukan ini karena kasih sayang; aku tidak ingin merusak momen itu.

Sebenarnya, aku belum pernah potong rambut sejak meninggalkan Konigstuhl.

Rambut yang awalnya kubiarkan panjang untuk menyenangkan para Alfar kini sudah melewati bahu hingga mencapai punggung.

Aku ingin memangkasnya, tapi aku yakin semua orang yang kukenal—kecuali Nona Agrippina—pasti akan protes besar.

Tapi jujur saja, ini sangat menyebalkan... Panas, berat, dan susah dibersihkan.

"Baiklah," kata Mika. "Sudah bersih. Sekarang duduklah agar kami bisa mengeringkannya."

"Tidak perlu, aku bisa menggunakan mantra untuk—"

"Kakak, jangan! Kakak selalu melakukan hal yang sama untuk Guru! Bukankah Kakak bilang mengeringkan rambut dengan tangan akan membuatnya lebih indah?"

"Ya, tapi itu karena dia bangsawan dan aku pelayannya..."

Sayangnya, logikaku tidak mempan pada mereka. Mereka segera menyiapkan tumpukan handuk untuk mengeringkan rambutku.

Aku heran mengapa Mika tampak jauh lebih bersemangat dari biasanya, tapi kupikir mungkin ia sedang mencoba meredakan ketegangan setelah pertempuran tadi melalui aktivitas harian yang tenang ini.

Masuk akal, karena ini baru kedua kalinya mereka mengalami situasi hidup dan mati. Ini jauh lebih baik daripada mencari pelarian ke alkohol atau seks, jadi aku membiarkannya.

Sebaliknya, akulah yang aneh karena bisa langsung melupakan pertarungan seolah tidak terjadi apa-apa.

Otakku sudah terbiasa menafsirkan transisi dari pertarungan ke kehidupan sehari-hari sebagai "perpindahan adegan", efek samping dari berkah ala TRPG milikku. Namun, aku sadar perilakuku ini tidak normal bagi orang lain.

Tuan Lambert pernah bilang bahwa kemampuan beralih mode antara santai dan darurat adalah tanda bakat besar, tapi aku tidak ingin terlihat terlalu berbakat.

Mika mungkin memaklumi karena persahabatan kami, tapi orang lain mungkin akan menjauhiku jika tahu.

Aku mencatat dalam hati untuk lebih berhati-hati dan berpura-pura jika perlu.

Meski begitu, aku merasa tenang karena berhasil menang tanpa harus membunuh siapa pun.

Mungkin aku bisa tetap tenang justru karena aku belum pernah terdesak dalam pertarungan sejauh ini.

"Fiuh. Terima kasih banyak, kalian berdua."

Suara derit tangga yang terinjak menyadarkanku dari lamunan. Seorang wanita muda berjalan menuruni tangga dengan penampilan yang baru.

Dia mengikat rambut hitam pekatnya menjadi kepang yang terurai indah, memperlihatkan dahi halusnya dengan jelas. Gaya rambut seperti itu sebenarnya sangat cocok dipadukan dengan gaun pesta, namun sayangnya, saat ini dia hanya mengenakan pakaian petani pria yang ukurannya jauh terlalu besar untuk tubuhnya.

"Pakaian itu tidak seberapa," kataku. "Maaf karena hanya bisa memberikan pakaian yang minim seperti itu."

"Ini sama sekali tidak kurang. Di Circle Immaculate, seragam kami sering kali hanya terbuat dari rami atau katun. Lagipula, aku belum pernah mencoba gaya cross-dressing sebelumnya, jadi ini terasa cukup menyenangkan."

Nona Celia menutupi bibirnya untuk menyembunyikan senyum khas bangsawan, namun binar di matanya lebih menyerupai kegembiraan seorang anak kecil. Tampaknya dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

"Yang lebih penting lagi," katanya sembari duduk di kursi terdekat, "kalian semua tampaknya sedang bersenang-senang."

Aku memiringkan kepala dengan bingung. Dia menunjuk ke arah belakangku dengan gerakan tangan yang elegan.

"Hei, berhenti bergerak, Erich!"

"Eh, M-Mika, tolong pegang bagian itu erat-erat!"

Aku mencoba berbalik, tetapi rambutku justru tertarik ke belakang. Aku bahkan tidak sempat merasa bangga melihat adikku begitu akrab hingga memanggil nama Mika tanpa embel-embel kehormatan.

"Tunggu... Apa yang kalian berdua lakukan?"

"Begini," kata Mika, "kami sudah bersusah payah membersihkan rambutmu, jadi kami pikir sebaiknya kami mempercantiknya sekalian dengan kepangan yang bagus."

"Bentuknya akan berantakan kalau Kakak bergerak," tambah Elisa. "Harus simetris supaya cantik!"

"Apa maksudmu 'sebaiknya begitu saja'?!"

Mengapa semua orang yang kukenal selalu saja terobsesi mempermainkan kepalaku?!

Sayangnya, aku tidak tega merusak kesenangan sahabat dan adik perempuanku tercinta. Yang bisa kulakukan hanyalah duduk diam menahan rasa canggung, sementara Nona Celia memperhatikan kami dengan senyum geli dari kejauhan.


[Tips] Berdasarkan norma yang berlaku di Kekaisaran, seorang pria yang mengenakan pakaian wanita dianggap aneh. Namun, hal sebaliknya justru dianggap lumrah. Dalam masyarakat kelas atas, cross-dressing (wanita memakai pakaian pria) dipandang sebagai pernyataan mode yang kuat, asalkan pemakainya mampu membawakannya dengan gaya yang tepat.

◆◇◆

Aku membawa kabar buruk: kepalaku telah berubah menjadi hamparan bunga.

Bagi mereka yang gemar mengkritik secara objektif, mungkin akan mengatakan bahwa kepalaku sudah "berbunga-bunga" sejak aku memutuskan untuk terus menjadi petualang meskipun memiliki koneksi kuat dan bakat besar. Terhadap sindiran itu, aku tidak punya bantahan. Namun, kali ini yang kumaksud adalah secara harfiah; bunga-bunga fisik kini tumbuh di setiap sudut kepalaku.

Sekali lagi, keusilan ini dimulai dari ide "jenius" Mika yang mengerikan. Rumahku menyimpan koleksi bunga kering yang digantung untuk menyegarkan udara, dan dia memetik segenggam bunga itu untuk diselipkan ke rambutku.

Tertarik melihat hal itu, Elisa mulai mengambil beberapa helai rambutnya sendiri untuk ditambahkan. Sejak saat itu, situasi menjadi tidak terkendali.

Sekarang, aku memiliki satu kepangan besar yang dililit rumit dengan kepangan-kepangan kecil lainnya, lengkap dengan seluruh ekosistem taman yang ditanam di sana.

Puncaknya, Nona Celia memutuskan untuk ikut bergabung dalam kegilaan ini dengan menempelkan permen marshmallow tepat di pelipis rambutku.

Baiklah, silakan saja. Lakukan sesuka kalian.




Meskipun aku ingin sekali mengatakannya keras-keras lalu segera tidur agar bisa pergi ke alam mimpi, hari panjang kami ternyata belum berakhir. Kami masih harus menyelesaikan urusan yang tersisa, jadi aku menyuruh semua orang untuk kembali fokus dan mendudukkan mereka di meja ruang tamu.

Mika dan Nona Celia mengambil posisi di sofa, aku duduk di seberang mereka di lantai, sementara Elisa duduk di pangkuanku.

Ashen Fraulein cukup baik dalam membaca keadaan; dia menyiapkan teko teh sehingga kami dapat menikmatinya sambil berdiskusi. Nona Celia sangat terkejut melihat set teh siap saji muncul tanpa peringatan, tetapi aku terlalu lelah untuk memberikan penjelasan panjang lebar.

Aku hanya berkata, "Itu adalah sihir," dan membiarkannya begitu saja. Aku tidak menyebutkan siapa pemilik sihir tersebut, jadi secara teknis aku tidak sepenuhnya berbohong.

Aku meneguk tehku—dari sekian banyak jenis yang bisa ia sajikan, Ashen Fraulein memutuskan untuk menyajikan teh mallow blue dengan sedikit perasan lemon yang menurutku adalah sebuah kenakalan—dan menepuk-nepuk kepala adikku agar ia berhenti menatap meja dengan tatapan kosong.

"Perkenalkan, Nona Celia. Ini adik perempuan saya, Elisa, putri sulung Johannes dari kanton Konigstuhl. Saat ini, dia sedang belajar di bawah bimbingan seorang magus agar bisa masuk ke Imperial College of Magic sebagai mahasiswa penuh."

"Wah," kata Nona Celia heran. "Perguruan Tinggi? Halo, gadis kecil. Saya Cecilia. Saya anggota Gereja Dewi Malam; saya melayani Dewi Bulan yang penyayang dari posisi saya yang rendah dan tak berperingkat di dasar Circle Immaculate. Saya berdoa semoga kita bisa akur."

Tidak diberi peringkat? Betapa terkejutnya aku mendengar hal itu. Namun, masalah yang lebih mendesak adalah Elisa yang memalingkan pipinya dan menolak menjawab.

Aku heran apa yang salah? Kupikir dia sudah terbiasa dengan hal-hal semacam ini berkat waktunya bersama Mika, tapi mungkin dia masih takut pada orang asing.

"Ada apa, Elisa?" tanyaku. "Ayo, sampaikan salam."

"Mm... Mmgh..."

Aku mengintip untuk melihat wajah adikku; dia gemetar dan menggigit bibirnya. Dia tampak takut akan sesuatu, tetapi aku tidak tahu apa. Mengetahui bahwa bersikap seperti ini kepada seorang bangsawan adalah hal yang tidak sopan, aku mencoba menggoyangkan bahunya, tetapi Nona Celia mengangkat tangannya dengan lembut untuk menghentikanku.

"Cukup, Erich. Dia tidak perlu bicara padaku jika dia tidak mau. Anak-anak seusianya memang jarang bicara pada orang asing. Tempat-tempat suci Dewi Malam sering kali berfungsi ganda sebagai panti asuhan, jadi aku sudah terbiasa berurusan dengan anak-anak kecil."

"Tetapi..."

"Sudahlah, sudah cukup. Tidakkah kau setuju, Elisa kecil?"

Nona Celia tersenyum dengan penuh belas kasih seperti Dewi Ibu, tetapi adikku justru berbalik dan membenamkan wajahnya di dadaku. Setelah menatapnya dengan sedih sejenak, Nona Celia mengangkat tangannya sedikit sebagai tanda bahwa dia sudah selesai dengan topik itu.

Aku menoleh ke arah Mika, tetapi mereka hanya menggelengkan kepala; mereka sama bingungnya denganku. Sikap Elisa sangat mengesankan saat parade tempo hari, sepertinya aku perlu membicarakan hal ini dengannya secara pribadi nanti.

Beranjak dari perubahan mendadak adikku—dari yang tadinya riang bermain dengan rambutku menjadi merajuk—kami masih punya hal penting untuk dibahas...

"Kalian berdua telah membantuku lebih dari yang pernah aku minta."

Namun, wanita baik hati di depan kami ini berhasil menguasai pembicaraan sebelum aku sempat memulai.

"Aku tidak bisa membiarkan kalian terseret lebih jauh dalam masalah yang akan datang. Meskipun kalian telah memberiku bahkan pakaian yang kukenakan ini, aku tidak punya apa pun untuk membalas kalian saat ini. Tapi ingatlah kata-kataku, aku pasti akan membayar utang budi ini."

Wah, dia salah paham. Sambil terus menepuk punggung Elisa, aku melirik Mika; mereka juga tahu ke mana arah pembicaraan ini, lalu menjawab tatapanku dengan anggukan kecil. Mika mencoba mengonfirmasi maksudku dengan kedipan mata ingin tahu; dan kali ini giliranku yang mengangguk.

Meskipun waktu kebersamaan kami sangat singkat, kami berdua yakin bahwa Nona Celia bukanlah orang jahat. Terlebih lagi, dia telah menyelamatkan nyawaku. Apa gunanya ragu sekarang? Bagaimana aku bisa menyebut diriku seorang pria—bukan, bagaimana aku bisa menyebut diriku manusia—jika aku mengusirnya karena rasa curiga?

Kira-kira, sudah terlambat untuk mundur sekarang. Kami memiliki pepatah umum di Kekaisaran bahwa koin assarius dan drachma memiliki nilai yang sama di dalam satu pot, mirip dengan ungkapan bahwa jika sudah terlanjur basah, lebih baik mandi sekalian.

Bagaimanapun, intinya adalah kami sudah terlibat atas kemauan kami sendiri. Terlepas dari apakah dia membawa masalah atau tidak, kami punya kewajiban untuk menuntaskan apa yang telah kami mulai.

Selain soal tanggung jawab, perasaan kami sendiri tentang masalah ini jauh lebih penting. Aku tidak akan pernah bisa tidur nyenyak di malam hari jika mengusirnya setelah hanya membantunya setengah jalan.

"Nona Celia," kataku, "saya harap Anda tidak meminta sesuatu yang begitu kejam kepada kami seperti meninggalkan Anda sekarang."

"Sahabat lamaku berkata jujur, Celia. Kupikir izinmu untuk menggunakan nama panggilan berarti kita sudah berteman. Apa aku salah?" tambah Mika.

"Tentu saja tidak!" serunya. Sesaat kemudian, dia menyadari kesalahannya dan segera menutup mulut. Sayang sekali, sudah terlambat: dia sudah berjanji.

"Kalau begitu, menurutku tidak perlu ada rahasia di antara teman," kataku. "Kami sudah menemanimu sejauh ini, jadi kalau menyelamatkanmu masih dalam batas kemampuan kami, kami akan dengan senang hati melakukannya."

"Lagipula," Mika menimpali, "orang tua kami tidak membesarkan kami menjadi orang yang tidak berperasaan hingga tega melempar seorang gadis muda ke jalanan tanpa apa pun. Tolong, biarkan kami tetap bisa menghadapi keluarga kami dengan kepala tegak."

Ketololan kami yang biasa mulai menyusup ke dalam permohonan ini, tetapi niat kami tulus. Tidak membantunya di sini pasti akan meninggalkan rasa mengganjal di hati kami selama bertahun-tahun ke depan.

Lagipula, mengabaikan ketidakhadirannya akhir-akhir ini, aku punya koneksi yang sangat besar yang melindungiku; peluang keberhasilan kami tidaklah kecil.

Aku tidak yakin apa yang akan diminta oleh "si majikan jahat" itu sebagai imbalan, tapi dia pasti akan menyiapkan cobaan berat untukku. Tetap saja, dia mungkin akan menghargai permintaanku: memberikan bantuan sesekali demi mengamankan pengaruh di Berylin pasti akan menguntungkannya.

Mika dan aku menatapnya dengan penuh harap. Setelah jeda singkat, setetes air mata mengalir dari matanya yang merah delima, dan dia meremas kedua tangannya dengan mata tertunduk.

"Terima kasih banyak, Erich, Mika. Aku... Yah..."

Meskipun suaranya masih ragu-ragu, Nona Celia akhirnya mengungkapkan alasan pelariannya.

"Begini, aku melarikan diri dari sebuah pernikahan. Ya, pernikahan yang tidak kuinginkan."

Sudah kuduga!

Kisah klasik sejak zaman kuno; seorang gadis cantik yang melarikan diri pasti sedang menghindari altar.

Aku sudah sering melihat kisah gadis muda yang kabur dari cengkeraman pria tua licik atau perencana jahat yang hanya menginginkan kekayaan keluarganya di berbagai media.

Kiasan ini juga berlaku pada kisah-kisah di Kekaisaran. Aku sudah tak terhitung berapa kali mendengar kisah tentang ksatria dan petualang yang menyelamatkan gadis bangsawan dari perjodohan berbahaya. Tentunya, banyak pemuda di bangsa ini yang memimpikan aksi heroik seperti itu.

Meski begitu, perjodohan adalah hal yang sangat umum di sini.

"Seperti yang kalian lihat, aku telah memutuskan untuk bergabung dengan Gereja, tetapi ini awalnya adalah keinginan keluargaku. Meskipun sekarang aku melayani Dewi Malam atas kemauanku sendiri, ayahkulah yang pertama kali mengirimku ke sana."

Baik bagi bangsawan maupun rakyat jelata, pernikahan di zaman ini bukanlah hal yang diputuskan oleh perasaan pribadi, melainkan urusan keluarga.

Konsekuensi dari penyatuan antara bangsawan dan rakyat jelata sudah jelas, tetapi bahkan putra petani kaya pun akan menghadapi masalah serius jika mencoba menjalin asmara dengan putri dari keluarga buruh tani yang miskin.

Konsep asmara hanya bisa diprioritaskan ketika masyarakat sudah cukup maju; di era di mana ekonomi dan industri masih lemah, hal semacam itu dianggap sebagai kesia-siaan yang berbahaya.

"Namun sekarang, ayah menuntutku untuk kembali ke kehidupan duniawi... Awalnya kupikir dia memanggilku hanya untuk bertemu, karena aku jarang memiliki kesempatan turun dari Fullbright Hill. Tidak pernah terpikir olehku bahwa dia akan menodai imanku dengan cara seperti ini..."

Wewenang orang tua atas pernikahan anak dianggap sebagai bentuk menjaga ketertiban sosial. Mencoba ikut campur adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Jika dilakukan di sini, itu sama saja dengan memicu pertengkaran—atau dalam kasus terburuk, memulai perang antar faksi.

"Aku mendengar rencana itu, lalu melarikan diri tepat saat aku akan dibawa kembali ke kediamannya."

Kami bertiga mungkin saja bisa menimbulkan kekacauan, melarikan diri dalam pengejaran nekat ala film aksi, tetapi kami tetap harus menjalani sisa hidup kami di sini.

Jika kami adalah karakter dalam novel murahan, kami bisa saja menampar wajah ayah Nona Celia dan menceramahinya sampai dia bertobat, tapi sayangnya kenyataan tidak semudah itu.

Meski aku merasa pesimis, aku punya firasat bahwa kami akan mampu menemukan jalan keluar di dalam batasan hukum.

Kami tidak akan punya pilihan selain angkat kaki seandainya Nona Celia hanyalah gadis bodoh yang mencoba kawin lari dengan rakyat jelata.

Tapi aku yakin Nona Celia bukan tipe orang yang bertindak tanpa berpikir. Dia pasti tahu ayahnya akan mengirim pengejar, dan aku ragu dia akan berani lari jika tidak memiliki peluang untuk menang.

"Untungnya, aku rasa tidak semua anggota keluargaku menerima pertunangan ini. Aku punya seorang bibi yang sangat kusayangi, dan aku yakin dia bisa meyakinkan ayahku untuk berhenti."

"Itu baru melegakan!"

Meskipun aku agak penasaran dengan caranya menyebut "bibi" tadi, memiliki sekutu di dalam keluarganya akan mempercepat segalanya. Aku tahu dia pasti punya rencana.

"Dengan bantuan bibiku, aku akan dapat menghubungi Gereja, yang kuyakin juga akan memihakku. Aku tidak bermaksud sombong, tetapi posisiku cukup baik di antara rekan-rekanku, dan Kepala Biara Grand Chapel adalah teman dekatku. Jadi, selama aku bisa menghindari penangkapan untuk sementara waktu..."

Dengan adanya otoritas keagamaan di pihak kita, peluang untuk memenangkan situasi ini benar-benar terbuka lebar. Tunggu, yang lebih penting lagi, Kepala Biara Grand Chapel adalah otoritas tertinggi yang mengawasi seluruh pengikut Dewi Malam. Kenalan macam apa yang dimiliki Nona Celia ini?!

Mungkin inilah salah satu sisi dari keabadian rasnya. Nona Celia adalah seorang vampir yang tampak seumuran denganku, yang berarti usia aslinya pasti sudah lebih dari lima puluh tahun. Jika dia pernah mengasuh anak-anak di masa mudanya, sangat masuk akal jika salah satu dari mereka kini telah tumbuh besar dan naik pangkat di struktur Gereja.

Meskipun aku sangat penasaran, itu bukan masalah mendesak. Aku memutuskan untuk mengesampingkan rasa ingin tahu itu dan menyimpannya untuk lain waktu saat kami punya lebih banyak waktu luang.

Berita besarnya adalah kami memiliki bibi Nona Celia sebagai sekutu. Sejak dahulu kala, adik laki-laki sudah ditakdirkan untuk tunduk kepada kakak perempuan mereka—aku tahu betul rasanya. Meskipun namanya sudah sulit kuingat, memori menyakitkan di tangan kakak perempuanku di kehidupanku yang dulu masih terasa segar.

Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Momen ulang tahun dan Natal adalah satu-satunya kesempatan bagiku untuk memohon permainan baru kepada orang tua, namun dia selalu menggertakku agar memilih apa yang dia inginkan.

Mungkin menyamakan trauma kecilku dengan konflik internal keluarga bangsawan tidaklah tepat, namun aku tetap berpendapat bahwa manusia tetaplah manusia, tidak peduli di dunia mana pun. Lagipula, sudah jelas siapa yang memegang kendali di sini, melihat betapa yakinnya Nona Celia bahwa bibinya bisa membereskan segalanya.

"Kalau begitu," kata Mika, "yang perlu kita lakukan hanyalah menghubungi bibimu."

"Kemenangan akhirnya terlihat, Sobat!" seruku.

Sekarang setelah kami memiliki target yang jelas, ada banyak cara untuk mencapainya. Jika dia berada di dekat sini, kami bisa menyelinap keluar dari ibu kota dan langsung menuju ke sana. Jika jauh, kami bisa mencoba menghubunginya melalui pos. Paling buruk, kami bisa bersembunyi di sekitar Berylin sambil menunggunya datang menjemput, asalkan pesan kami sampai.

Tujuan sudah jelas; kini saatnya bertindak. Bagaimanapun, lawan kami adalah kaum bangsawan. Mereka memiliki sumber daya tak terbatas dan bisa menyerang dari sudut mana pun karena keunggulan kekayaan serta tenaga kerja.

Rencana yang sempurna bisa menunggu—kecepatan adalah kunci utama dalam permainan ini. Sebagai pelarian, posisi kami hanya akan memburuk jika kami memberikan waktu bagi para pengejar untuk bersiap.

Dilihat dari betapa rapinya pakaian kelompok pengejar pertama tadi, aku menduga ayah Nona Celia bukanlah bangsawan sembarangan. Sebaiknya aku berasumsi bahwa dia tidak main-main dan akan menyewa ratusan orang untuk mencari kami. Skenario terburuknya, dia bahkan bisa merekrut penjaga kota, yang akan mengubah seluruh Berylin menjadi zona bahaya.

Sialan kaum borjuis ini...

"Ngomong-ngomong, Nona Celia," kataku, "di mana bibimu tinggal? Apakah dia memiliki tanah di ibu kota? Atau mungkin kediaman utamanya dekat dari sini?"

Aku menahan keinginan aneh untuk mencari tanda-tanda "bendera merah" dan menatap sang vampir itu lekat-lekat. Tiba-tiba, dia terdiam dan mengalihkan pandangannya, jemarinya bertaut dengan gelisah.

"Dia ada di... eh... Lipzi."

"Apa?!"

Lipzi adalah ibu kota negara administratif—secara resmi disebut Regierungsbezirk—yang mencakup wilayah timur Kekaisaran. Kota itu juga merupakan markas besar salah satu dari tiga keluarga kekaisaran, Wangsa Erstreich.

Namun yang paling krusial adalah fakta bahwa jarak dari ibu kota ke Lipzi mencapai seratus empat puluh kilometer.


[Tips] Ibu kota negara administratif merupakan pusat urusan politik dan eksekutif regional, sehingga paling sering ditemukan di wilayah keluarga bangsawan berpengaruh. Para bangsawan kelas atas memiliki tanah milik di setiap wilayah dan memberikan tunjangan kepada bangsawan lokal di bawah naungan mereka demi mempertahankan pengaruh. Mereka biasanya berkumpul di ibu kota kekaisaran selama bulan-bulan politik untuk menjalankan urusan oligarki negara.

◆◇◆

Aku begitu terkejut mendengar jarak itu hingga terdiam seribu bahasa. Bahkan Mika, yang kurang begitu mengenal geografi sekitar, ikut mengernyitkan dahi.

Pemahamanku tentang wilayah ini berasal dari perjalanan tiga bulan bersama Nona Agrippina. Karena kupikir akan berguna, aku menghafal peta nasional—sketsa kasar yang mencakup setiap wilayah Kekaisaran—yang memberiku gambaran jelas tentang jarak relatif. Pemahaman itulah yang membuatku merasa putus asa sekarang.

Seratus empat puluh kilometer terdengar mudah di Bumi; kira-kira sama dengan jarak dari Osaka ke Nagoya. Di dunia modern, perjalanan itu hanya menghabiskan waktu satu kali makan di kereta peluru, atau perjalanan darat selama dua hingga tiga jam di jalan raya. Namun bagi kami, itu adalah jarak yang sangat jauh.

Terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi jarak seratus empat puluh kilometer itu hanyalah garis lurus di atas peta. Perjalanan sebenarnya pasti mengharuskan kami menempuh jarak beberapa kali lipatnya.

Kekaisaran adalah rumah bagi pegunungan terjal, sungai besar, dan perbukitan. Ini bukan permainan simulasi kota di mana kau bisa membangun jalan lurus sesukamu.

Di antara Berylin dan Lipzi terbentang pegunungan terjal yang dikenal sebagai Southern Sword. Meskipun tidak seganas Ice Spirit Peaks yang dihuni para raksasa, pendaki biasa akan mati kedinginan atau terpeleset dalam waktu setengah hari jika tidak memiliki perlengkapan memadai.

◆◇◆

Jelas tidak ada jalan yang langsung membelah pegunungan itu. Memang akan menjadi investasi besar jika ada jalur lurus ke selatan, namun para Oikodomurge (Penyihir Arsitek) tidaklah mahakuasa.

Idealnya, mereka akan menggali terowongan menembus gunung untuk membuat jalur langsung, namun itu hanyalah impian masa depan. Hal itu baru mungkin terjadi ketika teknologi arsitektur telah melahirkan mesin berat dan material kokoh yang dibutuhkan untuk proyek sebesar itu.

Kekaisaran Trialist memang jauh lebih maju dari negara lain, dan permata dari jaringan transportasinya adalah High Highway, serangkaian jalan beraspal yang menghubungkan ibu kota regional.

Namun, sistem ini tidak memprioritaskan rute terpendek; jalannya berkelok-kelok demi menghindari rintangan alam serta efisiensi konstruksi.

Tidak ada cara untuk mempersingkat jarak tersebut.

Dan masalahnya, kami tidak cukup beruntung untuk bisa menggunakan jalan utama itu.

◆◇◆

Sistem jalan raya Kekaisaran dibangun di atas fondasi batu yang kokoh, lengkap dengan sistem drainase dan jalur lalu lintas yang luas. Area di pinggir jalan selalu dibersihkan dari semak agar perampok tidak punya tempat untuk bersembunyi.

Para Oikodomurge telah memoles jalan tol abad pertengahan ini hingga lebih halus dari cermin. Jalan-jalan kecil kemudian bercabang dari arteri pusat ini seperti pembuluh kapiler, menghubungkan kota dan kanton ke pusat Kekaisaran.

Semua ini demi keamanan nasional dan kemakmuran ekonomi. Selama lima abad sejarahnya, Kekaisaran membangun jalan dengan semangat yang hampir gila.

Mereka tidak melihat jalan raya sebagai celah bagi musuh untuk menyerang, melainkan sebagai sarana untuk mengerahkan pasukan dengan cepat ke garis depan.

Sebaliknya, jalan-jalan kecil di luar rute utama tidak terawat dengan baik. Anggaran negara terbatas, dan raksasa berusia lima ratus tahun ini tidak terkecuali.

Penguasa lokal hanya memelihara jalan di wilayah mereka sejauh itu menguntungkan mereka; mereka tidak peduli pada kebutuhan publik untuk bepergian secara gratis.

Akal sehat di sini mengatakan bahwa bepergian tanpa menggunakan jalan utama adalah keputusan yang berisiko, dan risikonya ditanggung sendiri oleh pelancong.

◆◇◆

Bagi kami, ini adalah situasi yang sangat buruk. Tempat pertama yang akan diperiksa oleh pengejar adalah jalur utama; memblokir rute pelarian cepat adalah langkah pertama menangkap buronan.

Sama seperti polisi di Bumi yang mendirikan pos pemeriksaan di jalan tol dan bandara, para pengejar kami pasti akan mengawasi setiap pintu keluar dari Berylin.

Akan ada penjaga di setiap gerbang yang memeriksa barang bawaan dan melarang penggunaan penutup wajah. Aku yakin mereka telah menyebarkan jaring yang sangat ketat hingga seekor anak kucing pun tidak akan bisa lolos tanpa diinterogasi.

Menghindari pihak berwenang sambil berjalan kaki menembus ratusan kilometer pegunungan liar bersama seorang wanita bangsawan... itu sama saja dengan bunuh diri.

Jika kami punya akses ke jalan yang layak, aku masih bisa mengusahakannya. Aku bisa menempuh tiga puluh kilometer sehari dengan berjalan kaki—meskipun kakiku pendek seperti anak kecil—sambil beristirahat di penginapan. Jarak itu bisa dua kali lipat jika aku menunggangi Castor atau Polydeukes.

Bahkan bersama gadis yang tidak berpengalaman pun, aku yakin bisa melakukannya jika kami bisa naik kereta pos atau bergabung dengan karavan pedagang yang rutin bepergian antara ibu kota dan daerah.

◆◇◆

Namun, jaring pengepungan pasti akan semakin menyempit. Menghindari patroli ketat akan menjadi hal yang mustahil. Mereka tidak bodoh; rute menuju Lipzi pasti akan ditutup secepat mungkin untuk mencegah kami mencari bantuan.

Uh... apa kita benar-benar terjepit?

Jika hanya aku dan Mika, kami bisa saja menempuh perjalanan berbahaya itu sendirian untuk mengantarkan surat kepada bibi Nona Celia.

Tapi jika begitu, apa yang harus kami lakukan dengan Nona Celia?

Kami bisa menitipkannya di studio Nona Agrippina, tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian dengan Elisa sementara sang majikan bisa pulang kapan saja.

Meskipun Nona Agrippina tidak sepenuhnya jahat, dia tidak punya toleransi terhadap hal-hal yang mengganggunya. Jika dia mendapati aku membawa "beban" yang bukan urusannya, dia akan langsung mengusir Nona Celia.

Lebih buruk lagi, aku akan menyeretnya ke dalam masalah politik bangsawan tanpa izin; aku pasti akan berakhir menjadi "budaknya" setelah dia membereskan kekacauan ini sesuai keinginannya.

Andai saja aku sudah menguasai sihir pembengkok ruang. Jika aku punya Teleportation, aku hanya perlu menjentikkan jari dan masalah ini akan selesai semudah ibu peri memanggil kereta labu.

Mungkin alasan kenapa Teleportation membutuhkan biaya pengalaman yang sangat tinggi adalah karena sihir itu bisa membatalkan banyak skenario konflik seperti ini.

Jika aku memilikinya, petualangan saluran pembuangan tadi tidak akan terjadi, dan kami bisa langsung sampai di Lipzi dalam sekejap!

◆◇◆

"Eh, tapi tidak perlu khawatir! Aku punya kendaraan! Aku tahu betul tempat itu terlalu jauh untuk dicapai dengan berjalan kaki!" seru Nona Celia tiba-tiba.

"Kendaraan?" tanyaku.

Nona Celia pasti menyadari keraguanku. Rupanya, dia punya cara untuk pergi dari Berylin ke Lipzi tanpa tertangkap polisi.

"Aku belum bisa memberikan rinciannya sekarang," lanjutnya. "Namun, kendaraan itu akan tiba dalam tiga hari. Jika semuanya lancar, aku akan sampai di Lipzi sehari setelahnya."

"Sehari?! Itu tidak masuk akal..."

"Bahkan Dragon Knight pun butuh waktu lebih lama dari itu. Apa kau yakin hanya butuh sehari?"

Keterkejutanku diikuti oleh Mika yang memiringkan kepala dengan rasa ingin tahu yang tertahan.

Dalam keadaan normal, seekor kuda yang cepat akan membutuhkan beberapa hari untuk sampai ke sana, dan seorang utusan yang berjalan kaki butuh waktu dua hingga tiga minggu. Menempuh perjalanan dalam satu hari saja adalah hal yang tidak masuk akal.

Hanya seekor Drake yang dapat terbang tinggi di langit dalam garis lurus, tetapi makhluk itu hanya dapat ditangani oleh joki berpengalaman—itu pun jika seseorang cukup gila untuk mencuri salah satu "senjata hidup" ini dari bawah hidung Sang Ratu.

"Ya, satu hari! Kalian harus menunggu dan melihat sendiri, tapi dari apa yang kudengar, itu pasti hanya akan memakan waktu satu hari."

Nona Celia membusungkan dadanya dengan percaya diri. Namun, penolakannya untuk menjelaskan lebih lanjut justru membuatku khawatir. Lebih dari apa pun, matanya yang berbinar menandakan bahaya; apa pun cara pelariannya, itu adalah sesuatu yang dianggap "menyenangkan" oleh wanita yang haus rasa ingin tahu ini.

Kesenangan yang sama itulah yang membuatnya dengan riang menyuruh kami menunggu; meskipun aku tahu dia hanya ingin menghibur kami sebagai teman, rasanya dia tidak memahami betapa seriusnya situasi kami.

Ah, baiklah. Setidaknya itu lebih baik daripada mengambil risiko mendaki gunung.

"Baiklah," kataku. "Kalau begitu kita hanya perlu mengulur waktu selama tiga hari, benar?"

"Ya," jawabnya. "Tapi aku curiga dia bersembunyi di sini..."

"Itu hanya akan memberi kita waktu sekitar satu hari."

Memiliki tujuan konkret membuat kemenangan tampak dalam jangkauan, tetapi segalanya tidak semudah itu. Kedengarannya kami bisa menghindari deteksi selama tiga hari jika terus bersembunyi, namun itu mustahil ketika lawan memiliki cara sihir untuk mencari seseorang.

Nona Leizniz dan Agrippina biasa mengirimkan burung dan kupu-kupu origami kepadaku tanpa pernah tersesat karena menggunakan sistem pelacakan yang sama dengan sihir pencarian.

Fakta bahwa lokasi Nona Celia belum terungkap sepenuhnya mungkin karena para pengejarnya belum menggunakan jasa penyihir.

Aku menduga mereka masih percaya bahwa dia hanyalah putri yang terlindungi yang berkeliaran tanpa tujuan di ibu kota, sehingga mereka belum bertindak serius. Mengingat dia hampir tertangkap saat kami berpapasan tadi, aku yakin mereka akan segera meningkatkan upaya pencarian.

Jika seorang penyihir yang cukup terlatih—misalnya, murid dari seorang Magus resmi—mulai mencari dengan sungguh-sungguh, cepat atau lambat kami akan tertangkap. Kami akan terpojok di saluran pembuangan jauh sebelum sempat menyeruput teh di meja ini jika ada penyihir yang terlibat sejak awal.

"Seorang penyihir berpengalaman dapat menemukan targetnya di antara puluhan ribu orang di kota ini dalam waktu singkat," jelasku.

"Sehelai rambut atau potongan kuku sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk menandai Anda sebagai sasaran mantra."

◆◇◆

Sihir pencarian menjelajahi jalinan realitas untuk mencari jejak yang cocok.

Jejak-jejak ini pada dasarnya adalah "kerutan" yang tertinggal pada jalinan keberadaan. Bersembunyi di sudut terdalam dan tergelap sekalipun tidak akan menghilangkan bukti tersebut.

Ruang rahasia atau katakombe di kedalaman bumi tidak bisa menghentikan prosedur yang berhubungan dengan alam metafisik.

Namun, ada satu kekurangan: pencarian hanya akurat jika disertai item yang memiliki hubungan kuat dengan target.

Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kami punya sebelum mereka mulai menggunakan ilmu hitam, tapi dengan memperhitungkan persiapan yang diperlukan, kami hanya punya waktu satu hari.

Jika mereka sudah mulai bersiap malam ini, maka bahaya sudah di depan mata. Magia yang melayani keluarga bangsawan biasanya hanya sepelemparan batu dari ibu kota.

Aku tidak akan khawatir tentang pelarian selama tiga hari jika lawan kami hanyalah keluarga pengemis yang tidak punya koneksi ke College of Magic.

Artinya, tidak ada waktu untuk bersantai.

"Jangan takut," kataku. "Aku ingin percaya bahwa aku tahu satu atau dua hal tentang cara menghadapi Magia."

Aku hanyalah seorang pelayan, bukan seorang Magus—tetapi aku adalah orang yang sangat ahli dalam urusan strategi.

Aku tahu betul bahwa taktik yang paling tidak ingin kuhadapi adalah taktik yang juga akan membuat lawanku paling frustrasi. Aku selalu menyiapkan kemungkinan untuk melawan hal-hal yang kuanggap mengganggu.

Lagi pula, melakukan apa yang kita inginkan sambil melarang musuh melakukan hal yang sama merupakan salah satu strategi terkuat dalam permainan apa pun, entah itu Ehrengarde, TRPG, atau permainan kehidupan nyata.


[Tips] Sihir pencarian mengacu pada campuran True Magic dan Hedge Magic yang menelusuri jejak mistik dari sebuah tanda. Mantra paling sederhana hanya menyorot partikel dengan aroma yang cocok, tetapi sebagian besar menggunakan katalis untuk menemukan sang pemilik. Para ahli sihir pencarian merekayasa balik lokasi target dengan menggunakan bukti keberadaan target untuk menciptakan koneksi semantik menuju tujuan mereka.

◆◇◆

Meskipun kota ini seolah tak pernah tidur, sebagian besar penghuni ibu kota bersembunyi saat Dewi Ibu berlayar di angkasa.

Di sebuah ruangan yang redup, seorang pria menghela napas berat. Ia mengenakan jubah tebal berkerudung gelap, identitas khas seorang Magus.

"...Apakah gagal?"

Wanita yang bertanya adalah orang yang sama yang mengejar Cecilia di atap. Dia telah berganti pakaian menjadi celana ketat dan atasan putih, dengan jubah pelisse yang disampirkan di bahu kirinya agar tidak menyinggung bangsawan yang mungkin ia temui. Rambutnya dipotong pendek dan disisir rapi ke belakang dengan minyak rambut.

"Saya khawatir begitu."

Di atas meja di depan pria itu tergeletak peta Berylin yang paling mutakhir dan lengkap. Tidak ada detail yang terlewat, bahkan rahasia militer sekalipun; warga biasa tidak mungkin bisa mendapatkan peta kualitas seperti ini.

◆◇◆

Sebuah bandul tergantung di atas peta, ayunannya menyerupai piramida segitiga dari batu Blue Topaz. Nama permata itu berarti "apa yang dicari" dalam bahasa selatan, dan rumus mistis yang terukir di sisinya memperkuat sifat bawaannya.

Sang Magus mencoba menemukan gadis itu melalui teknik dowsing, bentuk ramalan yang awalnya digunakan untuk mencari air atau bijih besi. Meskipun saat ini para penyihir tidak berani mengganggu wilayah kekuasaan dewa bumi, teknik ini masih umum digunakan untuk menemukan benda atau orang yang hilang.

"Apakah katalis yang kubawa terlalu lemah?" tanya wanita itu. "Aku seharusnya tahu satu kunci saja tidak akan cukup..."

"Tidak, itu seharusnya sudah cukup. Biasanya, saya tidak memerlukan katalis sama sekali untuk menemukan seseorang. Sebagai contoh... apakah Anda mengenal seseorang di ibu kota yang lokasinya bisa Anda pastikan sekarang?"

Sang ksatria berpikir sejenak, lalu menyebutkan tiga nama bawahan yang bersamanya tadi siang. Mereka semua seharusnya sedang beristirahat di kediaman pelayan di tanah milik tuannya.

"Tuan Karl ada di sini, begitu pula Tuan Lars..."

Pria itu mengangkat bandulnya, dan alat itu membengkok melawan gravitasi, menunjuk tepat ke arah bangunan tempat para bawahan wanita itu beristirahat.

"Ah, tapi sepertinya Tuan Luitpold berada di daerah kumuh... dekat sebuah pub, kalau tidak salah."

Si tolol itu, pikir sang wanita sambil menahan amarah.

Sudut bandul yang tiba-tiba bergeser mengarahkan mereka ke bar kelas rendah di distrik lampu merah. Keahlian pria itu terbukti nyata. Siapa pun yang tahu rumah siapa yang ia layani pasti bisa menebak lokasi tersebut—majikannya memang setenar itu.

Namun, wanita itu mengenal baik bawahannya yang ceroboh itu; Luitpold adalah pencinta minuman keras dan wanita. Mudah membayangkan dia mengabaikan perintah istirahat demi pergi ke distrik lampu merah.

Sambil mencatat dalam hati untuk menyuruh Luitpold menulis laporan dan berlari keliling Berylin lima puluh kali nanti, perhatian wanita itu kembali ke bandul.

"Tapi ini," kata sang Magus, "adalah reaksi untuk nona muda yang dimaksud."

"Apa-apaan ini?"

Hingga saat ini, benang bandul itu selalu tegang menunjuk satu lokasi pasti. Namun kini, benang itu mulai menarik ke segala arah tanpa tujuan. Setiap beberapa detik, ia berhenti sejenak sebelum melesat ke tempat baru. Titik-titik yang ditunjuknya tidak masuk akal; terkadang di luar tembok kota, bahkan sempat berhenti tepat di istana kekaisaran.

"Biasanya, kegagalan tidak akan menghasilkan reaksi yang tidak menentu seperti ini. Dengan kemampuanku, paling buruk pun target seharusnya terbatas pada satu distrik. Mengingat aku memegang rambutnya, aku yakin bisa menemukan gedung tempat ia berada."

"Lalu apa maksud dari semua ini?"

"Boleh saya bertanya, apakah nona muda itu ahli dalam ilmu sihir?"

"Itu tidak mungkin."

Wanita itu menjawab dengan yakin, tetapi sang Magus tetap tenang. Ia kemudian bertanya apakah Dewi Malam memberikan mukjizat yang dapat menghalangi mantranya.

Kali ini, sang wanita tidak bisa menjawab dengan pasti. Meskipun setiap anggota keluarga yang ia layani memuja Dewi Ibu, ia secara pribadi tidak tahu banyak tentang "mukjizat".

Mukjizat adalah pemberian ilahi yang dijaga kerahasiaannya oleh setiap ordo agama dari mata publik.

Gereja modern memang mencatat banyak hal, namun detail teknis mukjizat hanya diwariskan secara lisan. Dewi Malam dikatakan meminjamkan kekuatannya untuk penyembuhan dan perlindungan; sulit dikatakan apakah menyembunyikan diri termasuk di dalamnya.

Meskipun kegelapan malam membantu menyembunyikan seseorang, sifat sejati sang dewi adalah cahaya bulan yang menawarkan penghiburan. Menemui jalan buntu, sang Magus akhirnya menyatakan bahwa fenomena ini tidak alami.

"Kalau begitu," lanjutnya, "apakah dia memiliki koneksi kuat di ibu kota? Spesifiknya, seorang penyihir atau seseorang yang dekat dengan dunia sihir?"

"Itu juga tidak mungkin. Nona menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berdoa di puncak Fullbright Hill. Satu-satunya kenalannya di kota ini hanyalah segelintir pejabat agama."

Fullbright Hill sebenarnya adalah gunung tertinggi di wilayah selatan. Legenda mengatakan cahaya bulan di puncaknya adalah yang paling terang di seluruh negeri, itulah sebabnya kuil utama Dewi Malam didirikan di sana.

Tidak mungkin bagi seorang pendeta yang mengasingkan diri di sana untuk memiliki kenalan penyihir di ibu kota.

Wanita itu menanyakan tujuan pertanyaan sang Magus. Sambil menangkap bandul yang terus bergoyang, ia menjawab dengan serius.

"Sederhananya, kita sedang ditantang untuk melawan perang mantra. Kita para Magia cenderung melawan sihir dengan sihir kita sendiri."

Intinya, ia menyimpulkan bahwa gadis itu memiliki seorang penyihir yang membantunya melarikan diri.

"Itu tidak masuk akal! Nona tidak membawa apa-apa selain pakaian yang ia kenakan—bahkan tidak membawa dompet—saat melarikan diri!"

"Yang membuat mustahil bagi dia untuk menyewa penyihir... Maaf jika ini lancang, tapi apakah nona muda itu... memiliki penampilan yang menarik?"

"Saya yakin dia sangat cantik."

"Kalau begitu, aku curiga ada pemuda bermasalah yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Setiap pemuda pasti pernah bermimpi menyelamatkan gadis cantik yang sedang dalam kesulitan."

Sang Magus mendesah sambil menggulung petanya. Ia mengeluarkan sesuatu yang berkilauan dalam cahaya lilin dari laci mejanya.

"Reaksi saat ini menunjukkan bahwa kehadiran wanita muda tersebut 'tersebar' di seluruh kota."

Mendengar kata "tersebar," wajah sang pelayan langsung pucat pasi. Pikiran mengerikan muncul di benaknya; bahwa nonanya telah dipotong-potong dan disembunyikan di berbagai penjuru kota.

Sebagai ras yang tahan terhadap kematian namun bisa hancur secara fisik, cara paling brutal untuk menunda regenerasi mereka adalah dengan memisahkan bagian tubuh ke tempat yang berbeda.

"Tenanglah, maksudku bukan secara fisik. Mantra ini tidak akan memberikan efek apa pun jika dia sudah tewas."

"Syukurlah. Jika sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

Sambil memberi isyarat kepada rekannya yang berwajah pucat agar tetap tenang, sang Magus membuka tutup pedupaan perak berkilau yang diambilnya dari laci. Dalam benaknya, ia sempat bertanya-tanya dengan sinis apakah reaksi wanita itu murni karena kesetiaan atau sekadar insting mempertahankan diri.

"Jika dijelaskan secara sederhana, pelacakan mistik adalah seni memindai jalinan realitas untuk mencari noda yang membandel—yaitu, seseorang. Mata batin kita diarahkan ke noda yang paling mencolok, namun jika ada banyak bercak warna yang sama di sekitarnya, perhatian kita akan teralihkan."

"Apa maksudmu? Apakah berkumpulnya anggota keluarga yang memiliki hubungan darah akan membuat prosesnya lebih sulit?" tanya wanita itu.

"Itu salah satu kemungkinan. Namun, lebih sering lagi mantra pencarian menangkap jejak yang ditinggalkan oleh target itu sendiri, seperti rambut yang rontok atau barang-barang yang sering dipakai."

"Lalu apa gunanya menggunakan sihir jika begitu?!"

"Tentu saja, itu adalah masalah yang hanya dihadapi oleh pemula. Meskipun terdengar sombong, saya menganggap diri saya spesialis di bidang ini. Rumus mantraku mampu menepis 'suara bising' dari mantra rendah lainnya. Namun, akurasi metodeku pasti akan menurun saat berhadapan dengan Decoy yang sangat berkualitas."

"Decoy?"

Sebagai jawaban, sang Magus mulai menghitung contohnya: sesuatu yang berlumuran darah (jejak mistik terkuat), perhiasan berharga yang selalu dibawa, gigi yang tanggal, atau bagian tubuh mana pun yang lebih signifikan dari sehelai rambut. Bahkan, sebuah tubuh pengganti yang dibuat khusus untuk mewakili target.

"Tubuh ganda?" gumam wanita itu kagum.

"Banyak bangsawan yang menggunakannya lebih dari yang kau duga. Bagaimanapun, membiarkan orang lain mengetahui lokasi pastimu sering kali berujung pada masalah."

Sang Magus kembali merogoh mejanya dan mengeluarkan lumpang serta alu. Ia menaruh sedikit abu ke dalam mangkuk, membuka kotak kecil, lalu memasukkan seikat rambut yang ditemukan di dalamnya.

Prajurit wanita itu telah memperoleh rambut tersebut dari tempat tidur dan sisir milik nonanya. Meskipun sang nona memiliki metabolisme efisien yang menghasilkan sedikit kotoran, tidak ada pembersihan yang bisa menghapus jejaknya secara total.

"Paper Double adalah jimat yang sederhana," jelas sang Magus. "Ambil selembar kertas dengan rumus misterius, minta orang tersebut menuliskan namanya di sana, dan teteskan sedikit darahnya. Itu sudah cukup untuk mengalihkan perhatian mistik dari target utama. Jimat ini mudah dibuat dan dibawa-bawa. Aku yakin banyak yang memakainya—meskipun itu tidak akan menghalangi ahli sepertiku."

Pria itu mulai menumbuk rambut dan abu bersamaan. Meskipun rambut biasanya sulit dihancurkan, gumpalan itu langsung hancur menjadi bubuk hitam halus saat bercampur dengan abu tersebut.

"Umpan kertas sering dikirim ke tubuh ganda tradisional untuk memperkuat penyamaran. Hal itu umum dalam bidang ini, tapi ada alternatif yang jauh melampaui teknik tipuan itu."

Sang Magus mengeluarkan sebuah pipa dari saku dalamnya. Ia memasukkan beberapa helai daun dari kotak tembakaunya, menghisapnya, dan daun itu pun bersinar merah tanpa api.

"...Yang mana?" tanya wanita itu tak sabar.

"Boneka."

Ia mengembuskan asap tanpa memedulikan wanita di depannya yang mengernyit, lalu membuang sisa daun ke dalam wadah. Bara api perlahan menyebar, memenuhi ruangan dengan asap beraroma aneh. Akhirnya, ia menuangkan bubuk hitam tadi ke dalam wadah, memicu pilar api besar yang melesat lurus ke langit-langit.

Wanita itu secara naluriah menutupi wajahnya dan meraih belati karena kilatan cahaya yang tiba-tiba. Namun sesaat kemudian, panasnya hilang. Ia mendongak dan melihat pilar api telah berubah menjadi awan asap gelap yang berputar, membentuk wujud seekor burung gagak.

Burung itu mengepakkan sayap asapnya dan mendarat di meja, bahkan mulai merapikan bulunya seperti burung sungguhan.

"Pergi."

Atas perintah tuannya, gagak itu terbang pergi. Ia tidak menghilang saat menabrak pintu, melainkan menyelinap melalui celah kusen dengan cara yang misterius.

"Dengan ini, kita akan menemukannya dalam waktu singkat. Apakah Anda ingin minum teh selagi menunggu?"

Sang Magus berjalan santai ke lemari, mengeluarkan cangkir, dan mulai menyiapkan teh. Masih terpana oleh pemandangan fantastis barusan, wanita itu berusaha menenangkan diri dan menerima tawarannya dengan sopan.

Bukannya teh merah biasa, ia menyajikan ramuan herbal. Aroma yang menenangkan membantu sang wanita melepas lelah setelah seharian bertugas. Ketelitian sang Magus bahkan dalam hal kecil seperti ini membuat reputasinya di mata sang wanita meningkat drastis.

Setelah menghabiskan setengah cangkir, wanita itu hendak bertanya berapa lama proses pelacakan ini akan berlangsung. Namun, ia melihat sang Magus membeku. Wajahnya berubah sangat muram.

Napas pria itu memendek, ia terbatuk hebat seolah-olah ada rasa sakit luar biasa yang menghantamnya. Wanita itu tidak sanggup memanggilnya karena suasana yang tiba-tiba berubah mencekam.

Tepat saat wanita itu hendak mendekat, sang Magus menjerit kesakitan dan membanting cangkirnya ke lantai. Ia mencengkeram dadanya, berjuang mati-matian untuk menghirup udara.

"Tuan! Anda baik-baik saja?! Apa yang terjadi?!"

"Aduh! Hrgh... gah!"

Pria itu menggeliat hebat, mendorong sang prajurit hingga terhuyung kembali ke kursinya. Mulutnya mulai berbusa, hingga tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari dalam laci mejanya.

"Grah?! Hah... hah..."

Suara itu seolah menandakan berakhirnya siksaan tersebut. Sang Magus jatuh berlutut dengan napas terengah-engah.

"Anda tidak apa-apa?! Apa yang sebenarnya terjadi?!"

"Ugh... Apakah ini... Mana Backlash?"

Dengan bantuan wanita itu, sang Magus tertatih menuju mejanya. Ia mengeluarkan sebuah benda dari laci: gumpalan kayu yang dulunya adalah boneka pengganti dirinya.

"Backlash? Karena apa?!"

"Di dalam sihir pertahanan," ia menghela napas berat, "ada kutukan balasan... Ugh... yang menyerang siapa pun yang mencoba mengintip ke lokasi tersebut..."

Boneka itu telah menjadi tameng bagi sang Magus. Karena boneka itu dibuat menyerupai dirinya dan membawa namanya, ia berfungsi sebagai target pengganti secara mistik. Malam ini, benda itu menyelamatkan nyawanya. Jika boneka itu tidak meledak, maka tubuhnyalah yang akan hancur menerima serangan mematikan tadi.

Ia menduga mantra pencariannya terdeteksi oleh seseorang yang sangat kuat di lokasi target. Mereka membalas dengan kutukan yang dirancang untuk membunuh, bukan sekadar peringatan. Kekuatan kutukan itu berada di batas atas kemampuan manusia—level yang hanya bisa dijangkau oleh para profesor di College.

"Saya minta maaf... Saya sangat malu mengakuinya... tapi permintaan Anda berada di luar kemampuan saya."

"A... aku mengerti," kata wanita itu pelan. "Anda yakin akan baik-baik saja?"

"Jangan khawatir. Aku tidak akan mati... tapi aku mohon izin untuk beristirahat malam ini."

Meskipun misinya mendesak, wanita itu tidak bisa memaksa. Wajah sang Magus pucat pasi, tampak seperti orang yang hampir mati.

"Tentu saja. Silakan beristirahat."

◆◇◆

Setelah keluar dari studio tersebut, Mechthild mengacak rambutnya dengan frustrasi. Pria itu adalah Magus terbaik yang ia kenal. Untuk mencari yang lebih ahli, ia harus menghubungi petinggi klan, namun mereka semua sedang berada di wilayah pribadi untuk persiapan musim gugur.

Mechthild tidak bisa menyerah. Ia tidak tahan membayangkan nonanya mengembara sendirian, apalagi sekarang ada penyihir tak dikenal yang melindunginya.

"Nona," bisiknya, "Mechthild akan datang. Kumohon, jaga dirimu."

Mechthild menaiki lift College yang bergerak liar, membuatnya pusing. Ia mengambil botol kecil dari sakunya dan meminumnya. Itu adalah botol ketiga hari ini, padahal labelnya memperingatkan hanya boleh satu botol per hari. Efek sampingnya adalah insomnia dan kelumpuhan ringan, tapi itu harga yang murah demi keselamatan anak didiknya.

Begitu lift berdenting terbuka, ia berlari keluar menuju gerbang depan dan memerintahkan penjaga untuk menyiapkan kuda. Ia harus kembali ke istana, menemui pengawal kota, dan mengatur anak buahnya. Malam yang sangat panjang menantinya.

Di atas sana, bulan—objek pemujaan nonanya—bersinar tenang, membasahi bumi dengan cahaya perak yang jernih.


[Tips] Berhasil merapal mantra tidak selalu menjamin efeknya aktif. Mantra tidak akan bekerja jika target menolak efeknya secara mistik atau jika aktivasinya diblokir. Dalam taktik militer modern, ada chaff dan flare untuk mengecoh rudal. Dalam dunia sihir, prinsipnya sama: umpan dan kilatan mistik adalah mantra penangkal yang hebat.

◆◇◆

"Wah... Hebat sekali!"

"Kakak keren sekali!"

Seru Elisa dengan mata berbinar-binar setelah melihat "pertunjukan" kecil di ruang tamu.

Dua pasang mata anak kecil menatap tajam ke arah tanganku. Di sana, aku sedang mengerahkan segerombolan Invisible Hand untuk memahat balok kayu.

Melihat potongan bahan mentah yang mati itu berubah bentuk setiap detiknya—hingga akhirnya menerima lapisan logam dan cat yang halus—pastilah menjadi pemandangan yang mempesona bagi mereka.

Ditemani dua anak sekolah dasar yang sedang bertamasya dan terkesima oleh hasil karyaku, aku menyelesaikan satu dari sekian banyak umpan yang kurencanakan.

Aku telah melakukan pekerjaan yang cukup mengesankan, jika boleh kubilang sendiri. Menggunakan perlengkapan kerajinanku, aku berhasil menghasilkan sesuatu yang menyerupai figur hobi skala 1/8.

Yah, secara teknis bukan sekadar menyerupai—mereka benar-benar patung yang dibuat dengan skala satu banding delapan dari Nona Celia.

Ketangkasanku kini mulai mengetuk pintu keajaiban ilahi, dan aku telah meninggalkan keahlian Sculpting-ku di Rank VI. Dikombinasikan dengan pembelian impulsifku atas sifat Keen Eye, aku mampu mereproduksi modelku dengan akurasi yang mengejutkan.

Pertarungan sengitku dengan Nona Celia dalam ehrengarde telah memberiku banyak pengalaman, jadi aku tidak ragu untuk menginvestasikan sebagian darinya demi sosoknya.

Lebih jauh lagi, sebagaimana Insight meningkatkan indra penglihatanku dalam pertempuran, Keen Eye melakukan hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

Insight memungkinkanku melihat detail halus tanpa celah, serta membuatku lebih tanggap terhadap hal-hal yang tidak pada tempatnya. Aku menduga Margit sudah memiliki sifat ini, karena dia peka terhadap ranting yang patah atau jejak kaki di debu. Aku yakin Insight akan tetap berguna untuk masa mendatang.

Didukung oleh investasiku, patung-patung kayu ini nyaris menenggelamkanku dalam pusaran narsisme karena hasilnya yang begitu sempurna.

Nona Celia kecil yang memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangan dalam doa, lengkap dengan jubah sucinya, adalah gambaran nyata dirinya. Aku yakin siapa pun yang mengenalnya akan mampu menyebutkan namanya dalam sekali lirik.

Dari sana, Mika menambahkan lapisan foil agar lebih kokoh, lalu mewarnainya. Produk akhirnya benar-benar layak untuk dipasarkan.

"Kau benar-benar seorang perfeksionis," Mika mendesah. "Kau tahu 'kan, kau tidak perlu bertindak sejauh ini?"

"Jangan seperti itu, kawan lama. Lagipula, kau bukan orang yang pantas bicara begitu. Lihat saja seberapa banyak detail yang kau berikan pada rona kulitnya."

"Itu hanya karena kau sangat pemilih saat aku mewarnai bidak-bidak ehrengarde. Kau bilang, 'Tidak, paha ini butuh warna yang lebih menggoda—'"

"Baiklah, Mika! Sudah waktunya untuk diam! Lagipula, kau sama bersalahnya denganku! Aku belum pernah melihatmu sebersemangat itu saat memegang kuas cat!"

Aku menggunakan salah satu tangan asliku untuk membungkam mulut temanku sebelum dia menghina karakterku lebih jauh. Aku segera mengambil produk jadi yang dia berikan dan menyembunyikannya di balik punggung.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengklarifikasi bahwa figur Cecilia skala satu banding delapan ini tidak tercipta hanya karena kecantikannya tiba-tiba menarik perhatianku. Kami memiliki tujuan yang sangat spesifik.

Jika dibiarkan sendiri, itu hanyalah patung indah yang mungkin dijual seharga 29.800 JPY di toko hobi. Karena itulah, aku berusaha memasukkan makna mistis ke dalamnya.

Setiap boneka memiliki kompartemen untuk membawa secarik kertas yang ditulisi darah oleh Nona Celia. Efeknya, setiap ukiran itu tampak seperti dirinya, memiliki nama Cecilia, dan membawa bagian kecil tubuhnya di dalam.

Hal ini mengubah pernak-pernik kayu tersebut menjadi benda ajaib yang mungkin saja adalah dirinya. Algoritma misterius yang mencari posisinya akan mulai bimbang; Apakah ini dia? Rasanya seperti dia...

Tidak masalah jika orang sungguhan bisa mengetahui bahwa itu palsu dalam sekali pandang. Mirip seperti suar berkualitas tinggi yang mengecoh pelacak rudal, bagian terpenting adalah pengganti ini mampu mengecoh mantra yang tidak memiliki kesadaran.

"Di sini," bisikku. "Aku mengandalkanmu."

Dengan memanggil Hand, aku membawa patung yang baru saja kuambil dari Mika ke suatu sudut. Aku berpura-pura menyembunyikannya dengan sihirku sendiri, padahal sebenarnya aku sedang mengajukan permintaan kepada tetanggaku yang tak kasatmata melalui Voice Transfer.

"Ya, ya, baiklah. Permintaan dari Sang Kekasih adalah permintaan yang layak dihormati. Kurasa sudah sepantasnya aku menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Tolong urusi kami sepuasnya."

"Oke, oke! Ummm, di mana Lottie harus meletakkan yang berikutnya..."

Duo peri itu menerima tawaran tersebut dan menghilang entah ke mana. Umpan tidak akan berarti jika mereka berkumpul di satu area saja.

Jika mereka mengetahui lokasi umum kami, para pengejar itu bisa menggunakan wewenang mereka untuk menggeledah setiap rumah di distrik ini.

Sebaliknya, jika umpan-umpan ini tersebar di setiap sudut kota tanpa pola yang jelas, penemuan mereka tidak akan pernah mengungkapkan posisi kami yang sebenarnya.

Menyebarkan kerajinan kayu dengan tangan kosong akan sangat merepotkan. Jadi, tugas untuk membawanya ke tempat-tempat yang konyol—dan beberapa lokasi masuk akal—diserahkan kepada alfar yang telah memberkatiku dengan bibir mistis.

Ekspresi Ursula menunjukkan bahwa dia kurang bersemangat untuk bekerja lembur setelah keluar dari selokan, tetapi Lottie tampak menikmati pekerjaan itu sebagai bentuk kenakalan kecil.

Bagaimanapun, usaha mereka sangat membantu. Aku yakin mereka sedang menyelundupkan barang-barang itu ke berbagai tempat yang akan membingungkan para penyihir saat ini.

Meski begitu, aku tidak ingin mereka bertindak terlalu jauh. Kemiripan mencolok dari patung-patung itu berarti mereka bisa digunakan untuk kutukan jika jatuh ke tangan yang salah.

Walaupun tanpa hubungan pribadi dengan Nona Celia hal itu bukan masalah besar, kami tetap harus mengambilnya kembali nanti.

Aku sudah menegaskan agar mereka mengingat di mana lokasi penyembunyiannya. Namun selain Ursula, aku khawatir apakah Lottie benar-benar mendengarkan peringatanku.

Kurasa dalam skenario terburuk, aku bisa menawarkan mereka permen atau membiarkan mereka bermain dengan rambutku selama beberapa menit agar mereka mau mencari patung-patung yang hilang itu.

Namun, tetap saja aku tidak bisa menghilangkan rasa takut karena telah menyebarkan sesuatu yang "lebih pribadi daripada sekadar informasi pribadi" ke seluruh kota.

Aku hanya bisa berdoa agar tidak ada orang mesum yang menemukannya dan membawanya pulang.

"Sihir itu benar-benar menakjubkan," kata Nona Celia. "Memikirkan bahwa Anda dapat membuat patung kayu seperti ini sungguh luar biasa."

"Kekuatan sihir adalah ia dapat melakukan apa saja, selama penggunanya memiliki cukup akal untuk mencari tahu caranya."

Sang Pendeta wanita dengan riang menyaksikan pisau dan pahatku menari, sementara adikku menatap kosong ke arah langit—dia lebih fokus pada konstruksi mantra itu sendiri.

Aku pernah mengeluh sebelumnya karena terlalu menarik perhatian, tetapi pujian yang tulus seperti ini adalah masalah yang berbeda.

Dengan ini, kami aman dari penyihir mana pun yang mencoba melacak kami... meski sayangnya, aku harus menambahkan catatan: "untuk saat ini."

Kami punya tiga hari lagi untuk melakukan ini. Aku hanya berharap apa pun rencana Nona Celia, semua usaha ini akan membuahkan hasil yang sepadan.

"Sudah waktunya pergi," kataku.

"Pergi?" si vampir mengulang perkataanku. "Apakah kau akan pergi ke suatu tempat?"

Aku telah mengerahkan tenagaku selama beberapa jam untuk menghasilkan lebih dari sepuluh action figure Nona Celia. Kurasa ini sudah cukup; mengerjakan lebih dari ini hanya akan memberikan hasil yang tidak sebanding dengan usahanya.

Meskipun masih ada risiko efektivitasnya berkurang jika para pengejar berhasil mengumpulkannya, aku selalu bisa membuat lebih banyak lagi di masa mendatang.

Setelah berhasil melemahkan pengaruh sihir pelacak musuh, kini tibalah waktunya untuk meninggalkan tempat tinggalku di distrik bawah ini. Kami akan menuju ke tempat yang tidak akan berani diganggu oleh siapa pun: Krahenschanze.

"Kita mungkin sudah aman dari pelacakan sihir," jelasku. "Namun, kita tidak akan punya tempat untuk bersembunyi jika pihak berwenang datang mengetuk pintu. Mereka tidak akan ragu sedetik pun untuk mendobrak masuk ke rumah seorang pembantu."

Terlebih lagi, aku merasakan Ashen Fraulein mengamuk di lantai atas beberapa saat yang lalu. Kehadiran kami membuat rumah ini menjadi sasaran mantra pencarian, dan itu menyulut kemarahan sang silkie.

Sebagai penjaga tempat tinggal ini, kehadiran tamu tak diundang pasti akan membuatnya sangat kesal. Secara pribadi, aku menganggap diriku hanya sebagai penyewa berkat kebaikannya semata. Lebih baik kami menghadapi situasi ini di luar sana daripada di sini.

Ditambah lagi, seorang silkie yang menjaga rumahnya sendiri hampir mustahil untuk dikalahkan. Alfar mampu mengerahkan kekuatan yang luar biasa saat berada di wilayah kekuasaan mereka. Aku tidak ingin ada penyihir malang yang harus menanggung beban amarahnya hanya karena tidak sengaja masuk tanpa izin.

"Aku tahu suatu tempat di mana tidak akan ada seorang pun yang berani menginjakkan kaki tanpa diundang."

"Tunggu," Mika menyela. "Apa kau yakin soal ini, Erich?"

"Tidak apa-apa. Dia tidak akan mengeluh hanya karena aku mengundang tamu."

Lagipula, pikirku, aku punya satu atau dua alasan kuat untuk ke sana.


[Tips] Counter-Magic War adalah pertempuran antar penyihir yang dilakukan melalui manipulasi sihir. Meski beberapa di antaranya berupa pertukaran mantra penghancur, banyak pula yang terjadi sepenuhnya dalam ranah spionase dan intrik.

Sama seperti perang tradisional yang terjadi di dalam maupun luar medan perang, Counter-Magic War mencakup berbagai kemungkinan latar. Istilah ini juga sering digunakan bahkan ketika salah satu pihak memanfaatkan mukjizat ilahi alih-alih ilmu sihir murni.

◆◇◆

Mengapa Kekaisaran Trialist mampu berdiri kokoh selama lima abad meski dikelilingi musuh di segala penjuru?

Mengapa mereka bisa mempertahankan budaya dan cara hidup masyarakat yang unik dibandingkan negara lain?

Mengapa ia tetap tegak sebagai kekuatan besar yang pengaruhnya menyebar luas di wilayah barat benua tengah?

Jawabannya beragam: lokasi geopolitik yang menguntungkan, ketiadaan penganiayaan rasial yang memungkinkan pemanfaatan penduduk multikultural secara penuh, hingga proses seleksi birokrasi kaum bangsawan yang efisien sekaligus kejam.

Jika kita meminta penjelasan, para sejarawan akan menghujani kita dengan teori yang tak terhitung jumlahnya, masing-masing bersikeras bahwa merekalah yang paling benar.

Namun, jika kita bertanya tentang kualitas apa yang memungkinkan orang Rhinian membangun kekaisaran seluas itu, satu hal pasti akan muncul dalam setiap daftar:

keyakinan teguh bahwa setiap pencapaian harus dihargai dengan limpahan imbalan.

◆◇◆

Seorang wanita duduk dalam kondisi kelelahan. Kantung matanya yang tebal dan kulitnya yang kusam tersembunyi di balik lapisan bedak dan perona pipi yang tebal.

Rambutnya yang berantakan karena tidak dicuci selama berhari-hari hanya bisa ditata dengan bantuan minyak wangi yang menyengat. Saat ia menatap pernak-pernik yang berjejer di mejanya, ia merasa seolah seluruh energinya telah menguap dari tubuhnya.

"Saya menemukan benda-benda ini tersebar di seluruh kota, jadi saya memutuskan untuk membawanya kepada Anda. Saya telah mencoba menghilangkan umpan-umpan ini untuk meningkatkan kemanjuran mantra pelacak saya, tetapi usaha saya hanya berujung pada benda-benda ini."

Meja Mechthild tampak sesak oleh surat yang baru setengah jadi, setumpuk laporan yang belum dibuka, dan tumpukan keluhan resmi yang meluap hingga jatuh ke lantai.

Meskipun telah mempekerjakan seorang pegawai negeri untuk menangani urusan administratif, volume masalah yang membutuhkan pengawasannya sebagai komandan pencarian benar-benar luar biasa hingga ia tak sanggup lagi menanganinya.

Penyihir yang ia temui tiga hari sebelumnya telah bersusah payah mengunjunginya. Ia memanfaatkan ruang meja yang tersisa untuk menunjukkan sesuatu yang sangat mengejutkan.

Dalam sekali lirik, sang pelayan langsung menyadari bahwa ketiga boneka itu menggambarkan tuannya. Boneka-boneka itu dibuat dengan sangat teliti, seolah-olah seseorang telah mengecilkan sang tuan hingga skala 1/8.

Untuk alasan yang tidak jelas, masing-masing boneka menampilkan pose yang berbeda, seolah ingin memanjakan mata dengan mahakarya seni yang sesungguhnya.

Boneka pertama memperlihatkannya berdiri tegak, berdoa dengan mata terpejam. Yang kedua memperlihatkannya berlutut menghadap bumi, seakan sedang melantunkan himne suci. Yang terakhir menggambarkannya sedang menari dengan kedua lengan terentang, rambutnya seolah berkibar tertiup angin.

Setiap karya begitu unik dan mendetail. Jika ini adalah hari yang normal, wanita itu pasti sudah merogoh dompetnya dan memohon untuk membelinya.

Namun, harga bukanlah masalah dalam situasi mereka saat ini. Hal yang jauh lebih penting adalah kenyataan bahwa ini adalah umpan yang telah dijelaskan oleh sang penyihir pada pertemuan pertama mereka.

Mechthild tidak habis pikir. Tentu saja, benda-benda ini dibuat untuk mengecoh dirinya dan anak buahnya, tetapi apakah benda-benda ini benar-benar harus dibuat sebagus ini?

"Saya telah memeriksa ini untuk laporan saya dan menemukan bahwa ini adalah umpan yang sangat berkualitas tinggi. Di dalamnya terdapat jimat dengan tanda tangan yang ditulis menggunakan darah. Ditambah dengan perhatian yang sangat teliti terhadap detail, hampir mustahil untuk membedakannya dari wanita asli melalui sihir."

Sang penyihir melanjutkan dengan nada serius. "Saya benar-benar yakin bahwa siapa pun yang menciptakan ini adalah orang cabul—tidak ada orang waras yang akan bertindak sejauh ini hanya untuk sebuah umpan."

"Aku sudah menduganya... bahkan aku pun bisa merasakannya."

Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pengrajin itu saat mengerjakannya?

Melihat benda-benda ini, rasanya bukan seperti seorang penyihir yang sedang jatuh cinta yang mencoba membantu gadis itu melarikan diri, melainkan lebih seperti seorang pria gila yang terobsesi oleh kecantikannya dan memutuskan untuk menculiknya.

Komandan pencarian itu setuju sepenuhnya dengan penilaian sang penyihir mengenai "penyimpangan" sang pencipta.

"Ada beberapa pengamanan yang dipasang untuk mencegah boneka ini digunakan sebagai media kutukan, tetapi saya membawanya ke sini untuk berjaga-jaga. Apa yang Anda ingin saya lakukan? Saya bisa membuangnya dengan cara yang aman jika Anda mau. Namun, saya rasa Anda mungkin ingin menanganinya sendiri secara internal, mengingat boneka ini menggambarkan nona muda di rumah ini."

"Ya, baiklah... Tolong tinggalkan saja di sini. Kami yang akan mengurusnya."

Meskipun telah setuju untuk bertanggung jawab atas barang-barang itu, sang wanita mulai mengasihani dirinya sendiri. Membayangkan harus membuang sesuatu yang sangat mirip dengan tuannya sendiri terasa seperti beban mental yang berat.

Meskipun sulit untuk menyingkirkannya, menunjukkan benda ini kepada tuannya setelah semua masalah ini berakhir pasti akan disambut dengan senyum cemas, dan mereka berdua akan menanggung rasa malu itu bersama-sama.

Memberikan boneka-boneka itu kepada sang kepala keluarga—sosok yang ia layani sekaligus yang membayarnya—bukanlah pilihan yang lebih baik. Pria itu adalah orang eksentrik yang membiarkan hobi menelan seluruh waktunya, hingga Mechthild sering bertanya-tanya bagaimana klan itu bisa tetap bertahan di bawah kepemimpinannya.

Meski begitu, dia adalah ayah yang sangat mencintai putrinya. Menjauhkan benda-benda ini darinya jauh lebih bijaksana daripada memancing respons gila yang tak terduga.

Namun, Mechthild merasa bahwa menghancurkan hasil kreasi sesempurna ini—seperti saran sang penyihir—hanya akan membuang-buang mahakarya. Ia benar-benar menemui jalan buntu: tidak sanggup menyingkirkannya, namun memajangnya di kamar pribadi hanya akan memicu keributan di masa depan. Dilema ini sukses membuatnya sakit kepala.

"Saya juga membawa surat dari tuan saya."

Membuka surat itu dengan satu tangan memijat pelipis, Mechthild harus menahan keinginan kuat untuk merobek kertas itu hingga hancur. Isinya terbaca seperti ini:

"Maaf atas muridku yang belum berpengalaman. Aku akan mengembalikan uangmu untuk pekerjaan yang telah dia lakukan. Aku ingin sekali datang membantu, tapi penelitianku sedang mencapai bagian yang sangat menarik, jadi beri aku sedikit waktu lagi, oke?"

Penulisnya adalah seorang penyihir bergengsi berpangkat profesor. Secara teknis, tata bahasa, gaya, dan pilihan katanya adalah contoh sempurna dari etiket aristokrat kekaisaran yang anggun.

Satu-satunya cela adalah, di balik segala kesopanan bahasanya, pesan intinya tetap sama: sebuah pengabaian tugas yang dibungkus alasan seadanya.

Anda mungkin berpikir, Tentu saja dia tidak bisa lolos begitu saja setelah mengirim surat seperti itu. Sayangnya, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Terlepas dari karakternya yang buruk, pria itu adalah profesor di Imperial College yang meraih statusnya melalui kecerdasan murni, bukan garis keturunan. Sistem meritokrasi ketat yang menjadi fondasi kekaisaran memberikan kelonggaran besar bagi orang-orang berbakat seperti dia, bahkan jika perilaku sosial mereka berantakan.

Satu-satunya cara untuk menundukkan orang yang memiliki kekuatan seperti itu adalah dengan otoritas yang lebih besar. Mechthild hanyalah seorang pengurus rumah tangga, dan ia tidak memiliki kekuatan absolut yang dimiliki majikannya.


"...Saya sangat menyesal," kata sang penyihir muda di hadapannya. "Tuan saya akan segera menghadiri konferensi, Anda tahu sendiri bagaimana beliau..."

Pria itu membungkuk meminta maaf. Ia berharap gurunya akan menutupi kesalahannya, namun tampaknya proyek kesayangan sang profesor jauh lebih berharga daripada martabat muridnya sendiri.

"Tidak, itu bukan masalah besar. Sama sekali tidak... Bisakah Anda sampaikan kepadanya bahwa saya akan sangat menghargai balasannya jika beliau memiliki waktu luang?"

"Tentu saja. Saya juga akan terus bekerja semaksimal mungkin. Kalau begitu, saya pamit."

"Semoga perjalanan Anda aman."

Kalian semua benar-benar tidak berguna. Amarah dan nafsu membunuh membuncah dari lubuk hatinya, namun Mechthild mengerahkan seluruh kendali diri untuk melepas pria itu pergi dengan ekspresi datar yang sempurna.

Semua ini adalah kesalahan majikannya. Pria itu begitu ceroboh saat bersiap menyambut putrinya hingga membocorkan rahasia penting kepada salah satu pembantu. Meski pembantu itu kini sedang menerima hukuman berat, Mechthild yakin sang tuan rumah tetaplah pihak yang paling bersalah karena kecerobohannya.

Amarahnya begitu membara hingga ia takut pembuluh darahnya akan pecah, namun serangkaian ketukan hati-hati di pintu memadamkan api emosi tersebut. Ia merapikan dokumen sebelum mengizinkan tamu masuk.

"U-Um, Nona Mechthild?"

Salah satu bawahannya masuk. Biarawati itu adalah semacam ajudan yang bertugas menemani sang nona muda ke tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki pengawal pria. Ia membawa nampan berisi semangkuk makanan panas; uap yang mengepul menunjukkan perhatiannya pada sang atasan yang kelelahan.

Sayangnya, Mechthild tidak mengharapkan hidangan lezat. Senyum sedih biarawati itu dan nampan yang hanya berisi semangkuk bubur—semua orang tahu tentang penyakit gastritis kronisnya—serta segelas anggur adalah bukti bahwa harapannya telah dikhianati lagi.

"Belum ada kabar, ya?"

"Eh, begitulah... Beliau belum bisa dihubungi."

Jika desahan memiliki berat, maka desahan Mechthild pasti sudah amblas ke dasar neraka. Ia memijat pangkal hidungnya dan mempersilakan gadis itu masuk.

Mechthild membenci majikannya dengan segenap jiwa. Pria itu bukan hanya pemicu mimpi buruk ini, tapi juga penyebab pelarian dramatis sang nona muda yang telah berlangsung selama tiga hari.

Andai saja pria itu lebih berhati-hati dalam suratnya. Andai saja dia lebih memperhatikan pertumbuhan putrinya. Jika satu saja dari hal itu benar, Mechthild tidak perlu menyiksa tubuhnya selama tiga hari tiga malam hanya dengan bantuan tidur singkat dan obat-obatan keras.


"Sepertinya, um, diskusi beliau saat ini terbukti cukup... menarik, dan belum ada tanda-tanda akan berakhir..."

"Cukup," potong Mechthild. Ia sudah tahu betul seperti apa tabiat majikannya.

Dalam banyak kasus, majikannya adalah pria jenius. Sementara bangsawan rendahan mungkin akan menangis menyerah setelah mewarisi beban tugas yang begitu berat, pria ini menanganinya seperti pekerjaan sampingan di tengah hobinya.

Namun begitu rasa ingin tahunya terusik, segalanya berantakan. Bahkan jika Kaisar sendiri yang memanggilnya ke istana, ia akan tetap mengabaikannya demi apa pun yang sedang menarik perhatiannya saat itu.

"Bagaimana dengan laporan dari jalan raya?" tanya Mechthild.

"Garnisun kota telah dikerahkan, tapi belum ada hasil. Direktur Pengawal Kekaisaran juga telah menugaskan infanterinya untuk memeriksa perbatasan ibu kota, tapi..."

"Belum beruntung juga, biar aku yang menyimpulkannya."

Garnisun Berylin terdiri dari para veteran berbakat. Unit Jager Kaisar juga terdiri dari para pemburu dan pengintai terbaik. Mereka adalah tim impian yang mampu menangkap mata-mata kelas dunia.

Bagaimana mungkin mereka membiarkan seorang pendeta wanita muda berkeliaran bebas selama tiga hari? Seolah-olah mereka sedang mengejar roh yang bisa menghilang sesuka hati.

"Minta mereka melanjutkan pencarian. Aku akan menuju istana untuk berbicara dengan para sekretaris."

"Nona Mechthild, Anda perlu istirahat."

"Banyak hal yang harus kulaporkan secara langsung."

Sambil mendorong semangkuk bubur itu menjauh, Mechthild mengambil jubahnya. Itu adalah pelisse tebal dengan lambang gelas anggur yang terbelah—simbol dari Wangsa Erstreich yang terhormat.

Ia bersiap menghadapi rasa sakit di perutnya dan beranjak pergi. Ia harus bertemu dengan para sekretaris vampir yang nasibnya sama malangnya dengan dirinya, membawa kabar bahwa kapal udara akan segera tiba di ibu kota.


[Tips] Lambang keluarga Erstreich adalah gelas anggur yang terbelah dua. Erstreich asli adalah milik salah satu cabang vampir kuno. Setelah memenangkan perang pendirian, mereka memecahkan lambang patriark lama—gelas anggur—untuk menyatakan bahwa kekuasaan lebih berarti daripada sekadar warisan darah.

◆◇◆

Berjalan-jalan di kota belakangan ini terasa seperti berada di tengah ancaman teroris. Patroli keamanan ada di mana-mana, titik pemeriksaan muncul di setiap distrik, dan petugas bea cukai melakukan pemeriksaan super ketat.

Bahkan ada penggeledahan rumah warga non-bangsawan tanpa surat perintah. Aku terkejut melihat penduduk ibu kota hanya menanggapi hal ini dengan santai: "Lagi?"

"Ya, ini sering terjadi di sini," Mika memberi tahu sebagai penduduk lama Berylin sambil memilih apel di kios pinggir jalan.

"Selalu seperti ini kalau ada tokoh penting dari luar negeri yang datang. Aku ragu ini semua hanya karena teman kita itu."

Mika tampak begitu menawan. Hari ini adalah hari pertama siklus perubahannya, dan ini adalah ketiga kalinya aku melihat wujud wanitanya. Tetap saja, aku belum terbiasa dengan pesonanya yang begitu kuat.

"Halo? Erich? Ada yang salah?"

"Tidak, hanya saja... Apel itu terlihat cocok untukmu."

"Apa-apaan, itu tidak masuk akal," Mika terkekeh. Tawa gadis cantik itu terdengar lebih manis daripada apel merah di tangannya.

"Mm, yang ini sedikit berair dan manis!"

Pemandangan bibirnya yang merah dan ranum menempel di kulit apel yang tak kalah merah seharusnya menjadi hal yang biasa saja.

Namun, entah mengapa, pemandangan itu terasa begitu menggoda hingga kepalaku terasa pening. Tatapanku terpaku pada titik sentuh tersebut, mataku mengikuti gerakan lidahnya yang menyapu butiran air yang mengalir di pipinya.

Ketertarikanku mungkin sebagian didorong oleh rasa lelah, namun itu hanya sebagian kecil. Tindakannya menciptakan atmosfer seperti mimpi.

Jika ini adalah mimpi, mungkin seorang filsuf brilian akan menafsirkan kesimpulanku melalui psikoanalisis bahwa aku hanyalah seorang pria yang terkurung dalam hasratnya sendiri.

"Kau lelah?" tanyanya sambil melemparkan buah yang baru dimakan setengah itu ke arahku. "Ini, makanlah dan tegakkan kepalamu."

Ada sesuatu dalam situasi ini yang membuatku merasa jika ini adalah sebuah simulasi kencan, momen pemberian apel ini pasti akan dijadikan materi pemasaran utama, lengkap dengan soundtrack paling menyentuh dan animasi berkualitas tinggi.

"...Enak."

Aku menggigitnya, membiarkan harmoni rasa manis dan asam memenuhi mulutku. Seperti kata Mika, aku merasa sedikit lebih baik.

Kami memang sering berbagi makanan tanpa memedulikan jenis kelaminnya, jadi aku tidak akan tersipu hanya karena sebuah "ciuman tidak langsung"... tapi kulitku tak bisa berbohong: rupanya, wajahku sangat pucat.

"Kau kelihatan kurang sehat," kata Mika. "Apa kau tidur nyenyak?"

"Tidak juga... Semua yang kita lakukan mulai terasa dampaknya, dan kecemasan itu terus membayangiku. Belum lagi para penjaga kota yang mengetuk pintuku di tengah malam, itu benar-benar menguras nyali."

Beban yang kupikul mulai meningkat, bukan hanya soal isi dompet. Mika pun tampak cukup lelah, jadi setidaknya aku tidak sendirian dalam kegelisahan ini.

"Kau merasakannya juga?" tanyanya. "Maksudku, kita telah terlibat dalam sesuatu yang sangat besar, jadi wajar jika aku merasa gugup. Menurutmu, apa yang akan terjadi jika rencana wanita cantik itu gagal?"

"Entahlah..."

Meski pikiran itu tak penting selama kami berhasil, membayangkan kegagalan tetap membuatku merinding. Bahkan jika kami berdalih hanya mematuhi perintah bangsawan, kemarahan keluarganya tetap akan menentukan hukuman kami karena membantunya melarikan diri.

Ketaatan hukum adalah salah satu pilar Kekaisaran Trialist, namun sayangnya, wewenang untuk memberikan pengampunan ada di tangan para aristokrat.

Siapa yang tahu apa yang akan mereka lakukan jika suasana hati mereka sedang buruk? Mereka mungkin tidak akan menggantung seluruh keluarga kami—hukum kekaisaran tidak sekejam itu—tapi hukuman penjara atau kerja paksa tetap menjadi kemungkinan yang nyata.

Aku tidak menyesali tindakan kami sedikit pun, tapi kami benar-benar melakukan sesuatu yang gila. Memiliki koneksi dengan Nona Leibniz yang bersedia mendengar pendapat kami adalah satu-satunya hal yang membuat kami tidak sepenuhnya tersesat.

Jika tidak memiliki "kartu mati" berupa janji bantuan pemodelan untuknya, aku tidak yakin bisa bertahan selama tiga hari ini hanya dengan insomnia ringan.

Mungkin Anda bertanya-tanya apa yang kulakukan selama tiga hari penuh ini. Jawabannya sederhana, bisa dirangkum dalam satu kalimat: Nona Celia, Elisa, dan aku mengurung diri di ruang kerja seorang wanita simpanan.

Ini semua sudah diperhitungkan. Pertama, para pengejar kami memiliki hubungan dengan gereja, sehingga kecil kemungkinan mereka memiliki akses ke Kampus.

Kalaupun ada, laboratorium pribadi seorang peneliti hanya bisa digerebek jika ada kecurigaan pengkhianatan atau kejahatan berat.

Kedua, sang ikon kemalasan—Agrippina—sangat membenci jika privasinya diganggu. Penghalang sihir yang ia pasang di sekeliling studionya begitu rumit hingga aku, muridnya sendiri, tidak bisa memahaminya. Kami aman dari mantra pelacak siapa pun, kecuali mungkin dari profesor tingkat atas.

Terakhir, aku punya banyak alasan masuk akal untuk berada di sana.

Para penyihir dan murid mereka memang sering mengunci diri di dalam rumah; jika aku beralasan adikku sakit dan butuh bantuan pembantu untuk merawatnya, itu hal yang lumrah.

Tidak ada pemeriksaan identitas yang ketat untuk setiap orang yang masuk dan keluar gedung itu.

Mengingat reputasi gedung tersebut, aku yakin ada beberapa kasus di mana orang masuk namun tak pernah terlihat keluar lagi. Bahkan ada rumor tentang seseorang yang keluar berulang kali secara berurutan...

◆◇◆

Kami berjalan menyusuri pasar di daerah kumuh, menikmati apel sambil membeli kebutuhan sehari-hari. Berkat kecintaan Nona Agrippina pada layanan pesan-antar makanan, kami tidak perlu repot memasak.

Namun, karena aku memberikan jatah makanku kepada Nona Celia, aku harus mencari makanan tambahan di luar.

Aku tak berani berlama-lama di tempat tinggalku sendiri. Suasana hati Elisa masih buruk, dan aku tidak ingin meninggalkan Nona Celia sendirian menghadapinya.

Saat aku menghabiskan malam pertama di rumah untuk memeriksa keadaan, penjaga kota datang melakukan penggeledahan.

Untungnya aku telah mencegah masalah lebih lanjut, karena jika mereka mendobrak pintu, Ashen Fraulein pasti akan mengamuk. Tetap saja, melihat mereka menyisir setiap sudut rumah benar-benar menguras kewarasanku.

Aku berkeringat dingin, takut mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan, meski tak ada alasan rasional bagi mereka untuk mencurigaiku.

Bagaimanapun, tiga hari yang penuh debaran jantung dan rasa mual ini akan segera berakhir. Menjelang malam, Nona Celia akan bangun, dan kami mendengar bahwa ia berencana pergi menemui bibinya di Lipzi dalam satu hari.

"Hei, Erich, mau istirahat sebentar?"

Aku mendongak dari tas belanjaanku—tiadanya lemari es membuat belanja harian menjadi pekerjaan yang melelahkan—dan melihat Mika menarik lengan bajuku.

Terasa tidak adil bagaimana tingkah laku sesederhana itu terasa begitu manis saat dia berada dalam wujud wanitanya.

Aku mengikuti arah telunjuk Mika menuju sebuah kios familier yang selalu muncul di musim seperti ini.

"Es permen, ya? Kedengarannya bagus."

"Kan? Cuacanya mulai hangat, jadi mari kita duduk sebentar. Aku yakin dua orang lainnya akan senang jika kita membawakan mereka juga."

Gerobak dorong berpayung itu adalah pemandangan khas penjaja camilan musim panas.

Di kota sebesar Berylin, bisnis es permen ini biasanya dikelola secara massal, di mana para perantara menyewa gerobak untuk menjajakan produk hasil sihir para penjaga es atau penyihir yang butuh uang tambahan.

Harganya memang tidak murah. Di sini, harganya bisa mencapai dua kali lipat dibanding di pedesaan.

"Tujuh puluh lima assarii per porsi," aku membacanya keras-keras. "Yah, sesekali Self-Reward itu penting."

"Dan kita selalu bisa membuat lebih banyak kepingan perak jika butuh uang."

Dompet kami cukup tebal berkat uang saku dari Tuan Feige dan hasil taruhan ehrengarde. Kami berjalan berdampingan menuju kios tersebut.

Tapi kau tahu, Mika, kurasa kita tidak perlu bergandengan tangan jika kau memang merasa kepanasan seperti yang kau katakan tadi.

"Oh, ada es loli. Aku pilih itu saja," kataku.

Aku memilih es loli batangan putih yang renyah dan dingin. Sementara itu, Mika tampak bimbang melihat banyaknya pilihan rasa.

"Hmm, kalau begitu aku pilih... duh, sulit sekali. Menurutmu susu atau lemon yang lebih enak? Aku ingin yang manis, tapi juga ingin merasa segar."

Melihat perjuangannya, aku segera memberikan koin kepada penjaga toko dan memintanya memberikan satu sendok untuk masing-masing rasa.

"Hah?! Tidak, Erich, aku tidak bisa menerima ini!"

"Sudahlah, jangan khawatir. Anggap saja ini hadiah permintaan maaf karena aku sudah banyak merepotkanmu."

"Tapi ini mahal sekali..."

Kegigihan Mika membuat si penjaga toko tertawa terbahak-bahak. Pria berbadan besar itu tampak terhibur melihat kami.

"Nona kecil, pacarmu ini sedang berusaha pamer, dan menjadi pacar yang baik berarti membiarkannya melakukannya. Anak laki-laki itu makhluk lucu yang akan memamerkan otot atau dompet mereka untuk membuktikan bahwa mereka bisa diandalkan, mengerti?"

"Pa-Pacar?!"

Mika benar-benar mati kutu saat pria itu menyodorkan mangkuk es krim dengan cekatan. Pria itu bahkan memberikan sedikit diskon pada uang kembalianku.

"Sekali ini saja, oke?" katanya sambil mengedipkan mata.

"...Terima kasih banyak," jawabku. "Aku akan mampir lagi nanti."

Aku menarik temanku yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus itu ke sebuah bangku. Aku mulai menikmati es loliku sebelum mencair.

Wah, enak sekali! Rasa susunya manis, namun tetap terasa ringan dan menyegarkan.

"Eh, terima kasih, Erich."

"Hm? Jangan khawatir. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan bantuanmu selama ini. Tapi sebaiknya kau cepat—atasnya sudah mulai mencair."

"Ah!"

Aku menahan tawa kecil melihatnya panik dan segera menyantap es itu dengan sendok kayu kecil. Kami menikmati camilan manis itu sejenak. Butuh sekitar setengah batang es loli untuk mendinginkan kepalaku hingga aku bisa berpikir jernih kembali. Tiba-tiba, Mika angkat bicara seolah baru saja mengingat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, pernahkah kau mendengar tentang kapal yang bisa berlayar di udara?"

Kapal di udara? Meskipun aku belum pernah mendengar hal seperti itu di dunia ini, topik tersebut adalah fantasi murni yang memicu rasa ingin tahuku. Kapal udara adalah kiasan umum dalam mitologi kuno karena mampu membangkitkan sisi romantis yang ada dalam setiap budaya manusia.

Penghuni Bumi modern memang sering terbang, namun hanya dalam konteks pelayaran udara yang steril. Seseorang tidak bisa merasakan semilir angin atau menatap cakrawala yang tak berujung di bawah sana; yang dirasakan dalam kotak kedap udara pesawat terbang hanyalah turbulensi atau perubahan tekanan udara yang memekakkan telinga.

Namun, kapal udara dalam latar fantasi berbeda. Angin kencang menerpa mereka yang berdiri di dek, dan seseorang bisa menjuntaikan kaki di tepian kapal untuk menikmati lautan awan sepuasnya. Anak laki-laki mana yang bisa menahan antusiasme saat mendengar kata Airship?!

"Aku tidak sengaja mendengarnya saat kuliah," lanjut Mika. "Sepertinya, hari ini akan ada kapal yang berlayar di langit."

"Wah," aku terkagum. "Lalu... apa lagi? Apa lagi yang kau dengar?"

Selama aku hidup di dunia ini, aku belum pernah mendengar sepatah kata pun tentang kendaraan ajaib yang biasa muncul di negeri dongeng—sampai detik ini.

"Yah, aku tidak tahu detailnya karena ini hanya informasi tangan kedua..."

Mika tampak sangat menikmati momen ini saat dia mengungkapkan rumor besar tersebut.

Sama seperti aku yang tenggelam dalam delusi kekanak-kanakan tentang kapal terbang, dia pun tampak terbuai oleh romansa penerbangan itu sendiri. Betapa beruntungnya aku memiliki teman yang bisa berbagi mimpi-mimpi seperti ini.

"Tapi rupanya, itu adalah kapal ciptaan baru yang didukung oleh Kaisar sendiri! Kapal itu seharusnya mengubah masa depan Kekaisaran, dan semua pihak sedang mengerjakannya. Mereka membawanya ke Berylin untuk memamerkan kekuatan mahkota."

"Wah! Tapi anehnya tidak ada berita resmi soal itu."

"Ayolah, Erich. Jelas, cara terbaik untuk menarik perhatian adalah dengan tetap diam, lalu... bam! Kejutan! Jika mereka terlalu banyak gembar-gembor sebelumnya, sensasinya tidak akan terlalu terasa."

Benar juga. Teknologi inovatif seperti ini memang paling menakjubkan saat muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Jika sebuah kapal terbang melintas di atas ibu kota tanpa pemberitahuan, setiap warga pasti akan mengingatnya seumur hidup.

"Lagipula, tuanku dipanggil ke istana hari ini untuk menghadiri jamuan makan besar di teras. Aku tahu ini hampir musim panas, tapi bukankah ibu kota masih agak dingin di malam hari?"

"Dan mereka menyelenggarakannya di luar... yang berarti orang-orang di sana..."

"Benar! Kupikir mereka mengundang para diplomat dan duta besar asing ke sana."

◆◇◆

Berylin merupakan rumah bagi kedutaan besar dari seluruh mitra politiknya.

Lembaga semacam ini muncul karena kebutuhan akan hubungan internasional yang cepat, terutama setelah negara-negara menyadari bahwa diplomasi lebih menguntungkan daripada perang yang berlarut-larut.

Meskipun ada teknologi misterius untuk transfer pikiran atau Voice Receiver, dunia ini masih belum memiliki telepon atau telegram.

Memulai dan mengakhiri perang terbukti menjadi masalah logistik yang luar biasa berat.

Perang adalah usaha yang sangat mahal. Menang di medan pertempuran bukan berarti otomatis mendapatkan pembayar pajak yang setia; membersihkan sisa-sisa perlawanan dan membangun pemerintahan baru membutuhkan biaya yang seringkali lebih besar daripada rampasan perang yang didapat.

Akibatnya, konflik antar kekuatan besar berevolusi menjadi permainan strategis: merebut kedaulatan negara satelit atau saling menukar tuntutan ekonomi.

Karena itulah, negara-negara mulai menempatkan kedutaan di dalam wilayah satu sama lain untuk menjaga keseimbangan.

Aku hanya bisa membayangkan betapa terkejutnya para diplomat itu jika tiba-tiba melihat kapal angkatan laut terbang di udara saat jamuan makan resmi.

Aku ingin tahu berapa banyak anggur yang akan mereka semburkan saat melihatnya secara langsung. Kehadiran pesawat terbang akan mengubah segalanya, persis seperti dampak Perang Dunia Pertama di Bumi.

"Rumor soal pengembangan kapal terbang sudah ada selama beberapa dekade, tapi kudengar ini pertama kalinya akan diresmikan. Pestanya akan dimulai malam ini, aku sudah tidak sabar."

"Kurasa kita harus terus menatap langit saat perjalanan pulang nanti."

Jantungku berdebar kencang. Langit yang terbuka adalah sesuatu yang fantastis—mimpi masa kecilku untuk berdiri di dek kapal udara dengan angin yang membelai rambut kembali bangkit.

Imajinasi tentang terbang di atas punggung naga atau pesawat pribadi dengan mesin kecil memenuhi benakku.

"Aku iri sekali," kataku. "Aku juga ingin mencoba menaikinya."

"Sama. Sihir terbang sangat sulit dan aku tidak cocok untuk itu, jadi aku sempat menyerah. Namun, berpikir bahwa aku mungkin bisa terbang suatu hari nanti membuat masa depan tampak begitu mempesona."

Mika dan aku terus berbincang sambil menatap langit. Impian untuk terbang bahkan sempat menggodaku untuk bergabung dengan tentara kekaisaran.

Meskipun aku pernah mencoba sihir pembengkok ruang, mantra terbang murni tetaplah barang langka dan mahal. Seorang penyihir yang bisa bergerak bebas dalam tiga dimensi adalah aset yang sangat dihargai, bahkan mereka memiliki gelar khusus: Ornithurge.

Kemampuan terbang adalah game-changer. Dari sudut pandang mekanik permainan, terbang setara dengan teleportasi yang bisa mengacaukan skenario apa pun.

Entah itu menyelinap ke markas musuh atau melewati blokade, terbang meniadakan semua jebakan yang dirancang Game Master dengan susah payah.

"Aku penasaran seperti apa bentuk kapalnya," kata Mika. "Aku hanya pernah melihat perahu sungai, tapi mungkin itu seperti kapal laut raksasa di lukisan."

"Aku yakin itu akan menjadi perahu layar raksasa—yang membentangkan puluhan layar di latar langit biru, mengapung perlahan mengikuti arus angin."

"Luar biasa..."

"Ya, aku tahu..."

Masih terjebak dalam dunia mimpi, kami membeli es tambahan untuk dua orang yang menunggu di studio.

Sayangnya, karena terlalu lelah, kami gagal menghubungkan titik-titik antara "kapal terbang" ini dengan rencana "perjalanan" Nona Celia. Kami berjalan kembali ke Kampus tanpa tahu apa yang sebenarnya telah disiapkan oleh teman kami itu.


[Tips] Berbeda dengan perselisihan antarindividu, pertikaian antarnegara membawa paradoks: membutuhkan kompromi tanpa adanya cara negosiasi yang instan. Karena teknologi komunikasi gagal mengimbangi luasnya wilayah, negara-negara besar memilih untuk menempatkan duta besar yang dilindungi secara politik sebagai jembatan komunikasi.

◆◇◆

Cecilia adalah sosok yang sangat terlindungi. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di sebuah biara, memuja Dewi Malam, berdoa di tempat suci yang tenang, dan melayani masyarakat. Gaya hidupnya tenang dan teratur.

Himne yang dinyanyikannya adalah lagu yang sama selama ratusan ribu kali.

Hari-harinya diisi dengan mempelajari peribahasa dan memberi sedekah—sebuah pengulangan jadwal yang bagi sebagian orang mungkin membosankan, namun bagi Cecilia, itu adalah kedamaian.

Di Rhine Selatan, jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, di Bukit Fullbright—puncak setinggi 2.400 meter—ia menemukan kehidupan yang sesuai dengan hatinya.

Meski awalnya ia berada di sana karena perintah orang tua, seiring waktu, keinginannya sendiri telah selaras dengan jalan tersebut.

Sensasi ketenangan ini adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh vampir berdarah murni—kedamaian yang terbatas bagi mereka yang lahir dengan "dosa warisan" dan tidak diberi takdir kematian.

Baginya, malaikat maut terkadang adalah bentuk kebebasan dan pengampunan. Manusia fana mungkin tidak akan pernah bisa memahami proses berpikir makhluk abadi, begitu pula sebaliknya.

Cecilia lebih menghargai keadaan tenang ini daripada tumpukan koin emas.

Namun, kehidupannya setelah tiba di ibu kota dan dipanggil ke sisi ayahnya ternyata menjadi rangkaian kejutan yang penuh dengan kegembiraan yang tak terduga.

Bukan berarti dia menganggap yang satu lebih baik dari yang lain. Namun, dalam tiga hari singkat sejak dia mendengar bisikan para pembantu dan melarikan diri dari rumah, kedua sahabatnya telah memberinya lebih banyak keajaiban dan drama dibandingkan tahun-tahun yang telah dilaluinya di gereja.

Dia berlari di atas atap demi menghindari para pengejarnya; dia menyelinap ke selokan hanya untuk menyaksikan pertarungan hidup-mati pertamanya.

Dia berpakaian menyamar, bersembunyi di Mage’s Corridor, bahkan menginjakkan kaki di Imperial College—sebuah tempat yang selama ini hanya dia dengar dari cerita orang.

Semuanya benar-benar baru baginya. Banjir informasi yang tidak disaring itu menyalakan kembali rasa ingin tahu yang telah lama terpendam dalam dirinya.

Bahkan sekarang, dia ingin segera bangun dan menjelajahi tempat mana pun yang bisa dijangkau kakinya. Satu-satunya alasan dia menahan diri adalah permohonan dari si pemahat kayu muda yang telah menyelamatkannya.

Pemuda itu memintanya tetap tinggal, memberinya buku teka-teki ehrengarde, dan mendudukkannya di kamar saudara perempuannya sambil memohon dengan mata berkaca-kaca.

Dan tentu saja, bagaimana mungkin dia bisa melupakan pemuda itu? Jika bukan karena dia, Cecilia pasti sudah diseret kembali ke rumah bangsawan sejak lama.

Dia pasti sudah jatuh ke lorong yang berwarna jingga oleh matahari terbenam, dan kepalanya pasti sudah pecah seperti buah ara yang terlalu matang. Pemenggalan kepala memang bukan akhir bagi seorang vampir, namun Matahari dan Bulan sedang bersaing menguasai langit saat itu; regenerasinya pasti akan memakan waktu lama.

Bahkan ras murni seperti dirinya pasti akan tertangkap sebelum sempat sadar kembali. Cecilia sempat berada di ambang kematian untuk pertama kalinya di kota yang asing, menyongsong ajalnya tepat saat maut itu sendiri datang menjemput.

Namun, takdir berkata lain. Sambil memeluknya dengan lembut, mereka berdua muncul.

Dia adalah pemuda pembuat papan catur yang sering dia lawan dalam permainan. Meskipun memiliki rambut yang cantik dan mata seperti kucing, dia adalah bajingan yang kejam dalam permainan mereka. Cecilia sering datang ke kiosnya dengan tekad bulat untuk mengalahkannya.

Pemuda itu sangat baik. Dia adalah sosok pahlawan yang tak terbayangkan dalam drama hidupnya, bahkan melindunginya tanpa ada ikatan apa pun di antara mereka.

Dia bertindak tanpa memedulikan nasib yang akan menimpa rakyat jelata jika ikut campur dalam politik bangsawan demi memperbaiki kesalahan dari pernikahan yang tidak diinginkan.

Jauh dari sekadar berhenti di situ, dia bahkan menanggung risiko dengan melindunginya di kediaman tuannya tanpa keraguan sedikit pun.

Bersamanya, datanglah penyihir berambut hitam yang setia di sisinya. Berasal dari kaum yang sama anehnya dengan Cecilia, mereka telah menerimanya sebagai teman.

Sihir mereka tidak hanya melindunginya, mereka juga telah menciptakan jalan menuju keselamatan ketika tampaknya tidak ada lagi tempat untuk dituju.

Tentu saja, kesan pertama yang diberikan Cecilia tidaklah baik. Tanpa kehadirannya, Mika dan Erich seharusnya bisa mengakhiri hari mereka dengan bahagia setelah berendam nyaman di pemandian.

Jika mereka memilih demikian, mereka bahkan bisa menghentikan teman mereka untuk mengambil jalan yang berbahaya. Cecilia langsung menyadari bahwa ikatan mereka berdua adalah sesuatu yang tak tergoyahkan oleh seorang gadis yang benar-benar "jatuh dari langit".

Namun, mereka tidak memilih jalan aman itu. Si Gagak Hitam tidak menolak aksi emas yang berkilauan; dia justru memilih untuk melindungi kegelapan malam.

Meskipun pasangan itu tidak memiliki baju zirah dan kuda seperti kesatria dalam dongeng, saat mereka menarik tangannya dan menyeretnya maju, Cecilia merasa mereka pastilah pahlawan yang sering dinyanyikan para penyair. Menyingkirkan segalanya demi seseorang yang membutuhkan—demi seorang gadis yang terjebak dalam kesulitan—adalah inti dari kisah-kisah legendaris.

Tanpa pamrih dan penuh kasih sayang, mereka menawarkan diri untuk menghadapi kemalangannya. Mereka menolak meninggalkannya bahkan setelah mengetahui asal-usulnya; mereka tetap tinggal meskipun rasnya semakin dibenci seiring bertambahnya pengetahuan dunia.

Cecilia adalah seorang Vampire, keturunan dari seorang mensch yang kisahnya abadi dalam dongeng terkenal, The Man Who Swindled the Sun.

Setelah menipu Dewa Matahari demi mendapatkan keabadian, vampir asli itu mengundang murka ilahi sang Bapa, yang kemudian menjatuhkan kutukan: cahaya-Nya akan membakar dan melepuhkan kaum vampir selamanya.

Tanpa perlindungan bayangan, kutukan itu akan melelehkan daging dan tulang, bahkan menghanguskan jiwa mereka hingga menjadi abu.

Sejujurnya, kutukan ini masih bisa ditoleransi. Faktanya, Dewi Malam yang disembah Cecilia menegur separuh dirinya, menyatakan bahwa Dia yang tertipu juga bersalah.

Ketika sang Dewi muncul di langit, kutukan itu melemah; saat Dewa Matahari melepaskan kekuasaannya di penghujung hari, para vampir sepenuhnya mendapatkan kembali sifat abadi mereka. Namun, kutukan yang satunya lagi... benar-benar menyiksa.

Hukuman dewa pelindung berbunyi demikian: minumlah langsung dari sumber hangat nektar berdarah yang telah Dia ciptakan, atau derita kehausan abadi.

Beberapa orang mungkin menganggap ini sebagai sebuah kesalahan; mengapa tidak menutup akses mereka ke ciptaan-Nya saja? Namun, terlepas dari sifat impulsifnya, Dewa Matahari bukanlah orang bodoh.

Dia tahu bahwa dengan mengaitkan satu-satunya cara untuk meredakan haus dengan konflik, Dia dapat mengekang kekuatan kaum terkutuk untuk mendominasi dunia. Pembatasan inilah alasan utama mengapa vampir gagal meraih kekuasaan hegemonik dan hanya terbatas sebagai negarawan di negara-negara yang damai.

Tanpa populasi manusia untuk dimakan, mereka ditakdirkan punah bersama mangsanya. Jika mereka menyerah pada dorongan purba tersebut, gumpalan Mana di samping jantung mereka yang berdetak akan mengotori jiwa dan mengubah mereka menjadi binatang buas. Jika itu terjadi, mereka akan menjadi musuh seluruh umat manusia—berubah dari manusia menjadi monster yang harus diusir ke bawah terik matahari.

Kutukan itu melekat pada naluri vampir, membelokkan selera dan nafsu mereka terhadap kejahatan dengan cara yang tidak dialami makhluk lain. Rasa haus itu mengerikan, apalagi karena mereka tidak bisa mati.

Tidak peduli seberapa haus atau lapar mereka, Dewa Matahari menolak mengambil kembali karunia keabadian-Nya; lagipula, mereka lebih menderita jika tetap hidup dalam kondisi seperti ini.

Lamanya waktu sebelum seorang vampir mulai merasa lapar bervariasi, dan pengabdian Cecilia kepada Dewi Ibu dibalas dengan masa istirahat yang panjang. Sementara yang lain harus makan sebulan sekali, dia bisa bertahan selama setengah tahun. Jika dia berpuasa, dia bahkan bisa bertahan beberapa tahun tanpa kehilangan akal sehatnya.

Sayangnya, situasi sekarang berbeda. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dia menerima sumbangan darah dari jemaat gereja, padahal dia dijadwalkan untuk menghadiri jamuan makan di vila ayahnya.

Pelariannya telah menghanguskan kesempatan itu, dan kelelahan fisik yang dia alami baru-baru ini membuat hasrat makannya semakin memuncak selama masa persembunyian.

Itu adalah siksaan. Meskipun setiap makhluk memahami rasa sakit akibat kelaparan, penderitaan manusia tidak ada bandingannya dengan kengerian rasa haus seorang vampir.

Seorang manusia bisa kelaparan sampai di ambang kematian hingga cukup gila untuk menggigit bayi mereka sendiri, namun mereka tetap tidak akan mengerti rasa sakit ini. Itulah akar dari klasifikasi iblis bagi vampir; seluruh kegilaan mereka berpusat pada urusan perut.

Meskipun Cecilia berusaha keras untuk tetap kuat, pemuda cerdas itu langsung menyadarinya. Dia sangat memahami kesulitan unik yang dialami kaum vampir di dunia ini, mungkin karena kedekatannya dengan Kampus, dan pasti telah memahami situasi Cecilia setelah melihat perjuangannya.

Ketika Cecilia terbangun, dia beranjak dari sofa dan mendapati gelas anggur berisi darah segar. Dia tidak membuang waktu untuk menanyakan hal-hal bodoh seperti milik siapa darah itu.

Hanya ada dua sumber nektar hangat di tempat ini, dan waktu singkat yang mereka habiskan bersama sudah cukup untuk memastikan bahwa pemuda yang sangat menyayangi adiknya itu tidak akan pernah menumpahkan darah saudaranya sendiri.

Fakta bahwa pemuda itu tidak mengatakan apa pun dan berpura-pura tidak tahu menunjukkan kualitas karakternya. Dia tahu bahwa vampir kekaisaran menganggap tindakan meminum darah sebagai sesuatu yang sangat tidak sopan.

Hanya saat makan malam dengan teman dekat, keluarga, atau di ruangan terpencil mereka berani melakukannya, bersembunyi dalam bayangan yang tak terlihat. Budaya kuliner vampir kekaisaran benar-benar suram.

Tentu saja, mereka juga bisa mengonsumsi makanan standar atau membiarkan rasa mabuk menidurkan mereka. Namun, satu-satunya hal yang bisa memuaskan rasa lapar sejati adalah warna merah tua yang mengapung di dalam cawan ini.

Mengetahui beban yang ditanggung kaumnya, pemuda itu memilih untuk mengambil langkah lebih jauh dari sekadar menyelamatkan masa depan Cecilia: dia mempersembahkan kemurahan hati dari darah hidupnya sendiri.

Bagi seorang penyihir, darah adalah harta yang tak ternilai. Darah berfungsi sebagai penyalur Internal Mana dan katalisator mantra; hanya sedikit penyihir yang mau memberikannya dalam keadaan apa pun.

Semakin dalam ilmu sihir yang dipelajari, semakin mereka menyadari bahaya mempercayakan darah mereka kepada orang lain.

Namun, di sinilah Cecilia, memegang secangkir penuh darah—jumlah yang tidak sedikit menurut ukuran apa pun. Dia bahkan tidak memintanya, dan persembahan itu ada di sana tanpa mengharapkan ucapan terima kasih.

Darahnya terasa kental dan lezat. Sering kali, rasa darah bisa menceritakan apa yang dikonsumsi oleh pemiliknya, namun saluran Mana cair ini mengungkapkan lebih dari sekadar silsilah keluarga di gereja.

Lidah Cecilia terasa mati rasa, dan tubuhnya berkedut karena sensasi nikmat. Darah itu berasal dari raga yang muda, sehat, dan penuh dengan kekuatan magis; memberikan rangsangan yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Rasanya lembut sekaligus meledak-ledak, menari di lidahnya dengan keunikan yang hanya dimiliki darah manusia. Saat cairan itu meluncur ke tenggorokannya, tertinggal rasa yang kaya sekaligus menyegarkan.

Mengingat isi gelas itu berasal dari tubuh seorang pemuda, jumlahnya tampak terlalu banyak, namun dia menghabiskannya dalam sekejap mata.

Mengabaikan ajaran kesederhanaan yang dianut oleh Dewi Malam, dia dengan rakus menjilati tetesan yang tersisa di cangkir dengan taring yang terbuka tanpa rasa malu.




Cecilia tidak akan pernah bisa melupakan hal ini. Kehilangan kendali diri hingga lebih mementingkan kerakusan daripada tata krama bukanlah sekadar masalah kependetaan atau kebangsawanan; dia merasa tak lagi pantas menyebut dirinya seorang Vampire.

Menatap gelas anggur yang telah bersih dengan penuh kerinduan setelah kejadian itu adalah aib yang tak tertandingi.

Pada titik ini, dia merasa layak menyandang gelar merendahkan yang sering digunakan orang luar: dia benar-benar seorang "pengisap darah".

Dia segera menenggelamkan diri ke dalam teka-teki ehrengarde yang rumit untuk menenangkan batinnya.

Sambil menyingkirkan gelas kosong yang seolah enggan dia lepaskan, dia menguatkan hati untuk menyambut pemuda itu kembali sebagai seorang pendeta wanita yang bermartabat.

Pemuda itu akan segera pulang dari berbelanja. Cecilia harus menjelaskan rencananya untuk melarikan diri, jadi dia harus menjernihkan pikiran, bersikap tenang, dan memastikan tidak ada pikiran memalukan yang—

"Kami kembali! Wah, cuacanya makin panas saja."

Bidak Permaisuri di tangannya jatuh ke meja, menghantam bidak Pelayan dan Ksatria yang setia menunggu di bawahnya, merobohkan seluruh struktur kastil yang kokoh. Bencana di atas papan itu menggambarkan keadaan batinnya yang kacau dengan sempurna.

Berakhirnya musim semi membawa hawa hangat; hawa hangat membawa kerah baju yang terbuka; dan kerah yang terbuka menampakkan leher pemuda itu—telanjang, menggoda, dan begitu nyata.


[Tips] Di Kekaisaran Trialist, menggunakan taring untuk memangsa secara langsung dianggap tidak sopan; Vampire makan dengan cara minum dari gelas. Tradisi ini muncul untuk meredakan ketakutan masyarakat awal akan sifat predator mereka.

Namun, ada pengecualian bagi seorang "kekasih"—pasangan spesial yang memperbolehkan Vampire menancapkan taringnya ke daging tanpa halangan.

◆◇◆

Mika dan aku kembali ke studio dan mendapati nona vampir kami dalam keadaan panik. Sebenarnya masih terlalu pagi baginya untuk bangun, tapi mungkin karena lingkungan yang asing, dia kesulitan tidur.

Dia tampak menyibukkan diri dengan buku teka-teki ehrengarde tingkat menengah yang kubawa, lalu menjatuhkannya begitu saja saat melihatku.

Hah? Apa ada yang lucu denganku?

Aku sudah memastikan untuk membersihkan tubuhku dengan cepat agar tidak muncul di depan wanita bangsawan ini dalam keadaan basah kuyup oleh keringat. Aku juga merapikan pakaianku agar tidak bau. Mungkin sudah saatnya aku menambahkan elemen parfum pada mantra pembersihku agar bisa memberikan aroma yang menyenangkan setelahnya.

"Eh," kataku hati-hati, "ada apa?"

"T-Tidak! Sama sekali tidak ada apa-apa! Selamat datang kembali!"

Kupikir akan lebih baik untuk menyelidiki kesalahanku, namun Nona Cecilia malah menutup wajahnya dengan buku teka-teki itu begitu cepat hingga meninggalkan bekas. Cukup adil, pikirku. Menunjukkan kekurangan di depan orang lain memang terasa sangat canggung.

"Asalkan tidak ada yang penting..." Aku tahu itu pasti penting, tapi aku terus berjalan dan mulai membongkar barang bawaan kami. Saat aku berbalik, aku bisa merasakan tatapan tajam menusuk kepala dan punggung atasku.

Karena khawatir, aku meraba-raba dengan Invisible Hand... tapi tidak menemukan sesuatu yang aneh menempel padaku. Sesaat, kupikir aku dikerjai dengan tanda "tendang aku" yang klasik. Meskipun aku yakin Mika akan menyadarinya—dengan asumsi dia bukan pelakunya.

Aku masih memikirkan hal itu sambil mengibaskan baju untuk mengusir hawa panas, ketika tiba-tiba aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku.

Aku tahu kau mencoba bersembunyi, tapi kau tidak akan bisa mengejutkanku semudah itu. Menurutmu, berapa tahun yang telah kuhabiskan untuk menghindari Margit?

"Selamat datang di rumah, Kakak!"

Tentu saja, aku tidak akan menghindar dari adik perempuanku yang menggemaskan. Elisa menyelinap dari balik pintu lemari dan melompat ke arahku; aku sengaja membiarkannya. Aku menangkap tubuhnya yang ringan saat dia melingkarkan lengan di leherku dan menempelkan dagunya di bahuku. Memenuhi harapan adik perempuan adalah bagian dari tugas kakak laki-laki yang baik.

"Wah, kau mengejutkanku!" kataku. "Ayolah, Elisa, itu berbahaya. Bagaimana kalau kau jatuh?"

"Tapi aku tahu Kakak pasti akan menangkapku!"

Dahulu, Margit pernah berkata bahwa melompat ke arah orang lain membutuhkan keberanian besar: mereka bisa saja menepis secara refleks, atau kehilangan keseimbangan hingga keduanya jatuh.

Berpegangan erat pada kerah baju seseorang dan membenamkan wajah di punggungnya hanya bisa dilakukan kepada orang yang benar-benar bisa diandalkan.

Senyum Elisa yang riang membuktikan bahwa dia benar-benar percaya padaku. Aku merasa telah menghabiskan seluruh karma baikku; putri kecil keluarga kami adalah malaikat. Aku harus waspada terhadap dewa mana pun yang mencoba mencurinya.

"Tidak baik menyerang orang tanpa pemberitahuan, Elisa."

"Oh, selamat datang juga, Mika!"

Aku terlalu menyayanginya untuk memarahinya dengan serius, tapi untungnya, Mika memberikan teguran lembut sebagai gantiku. Aku senang karena setelah menghabiskan waktu bersama, mereka berdua sudah merasa nyaman memanggil nama masing-masing.

"Lagipula, Elisa," Mika melanjutkan, "kau adalah wanita muda yang terhormat. Kau tidak boleh bersembunyi di lemari terus. Sudah berapa lama kau di sana?"

"Umm, sejak Kakak pergi tadi."

"Bwah?" Suara aneh keluar dari mulutku. Aku sudah pergi selama beberapa jam; apakah dia ada di sana selama itu? Saat aku bertanya mengapa, adikku hanya cemberut dan memalingkan muka.

Ugh, jadi begitu. Dia masih merasa tidak nyaman berada di dekat Nona Cecilia.

Aku mencubit pipinya yang bengkak karena cemberut, yang justru membuatnya tertawa dan memelukku lebih erat. Meskipun aku tahu seharusnya aku menegurnya dengan serius, aku tidak bisa bersikap keras saat dia bersikap semanja ini.

"Kau tidak boleh mengabaikan tamu kita, Elisa," Mika ikut mencubit pipinya dengan lembut. "Dia sudah menyiapkan banyak cerita untukmu, lho."

Mika menunjuk ke meja kecil di samping sofa tempat Nona Cecilia beristirahat. Meja itu penuh dengan buku tentang Dewi Malam yang dipinjam Mika dari perpustakaan kampus—teks suci, himne, hingga buku bergambar untuk anak-anak. Namun, tak ada tanda-tanda buku itu pernah dibuka; Elisa benar-benar bersembunyi sepanjang waktu.

Aku merasa bersalah. Nona Cecilia sudah berusaha keras meminta semua ini untuk Elisa, namun tidak pernah mendapat kesempatan untuk menggunakannya.

"Semuanya baik-baik saja, Mika," kata sang pendeta wanita. "Anak seusianya memang rentan terhadap perasaan seperti itu. Terkadang masalah kecocokan memang sulit dipaksakan."

Nona Cecilia benar-benar memiliki hati yang luas. Dia tidak hanya memahami psikologi anak secara logis, tapi juga memiliki belas kasih untuk memaafkan sifat kekanak-kanakan mereka.

"Kau terlalu lembut, Celia..."

"Maafkan aku, Mika. Tapi sungguh, aku tidak keberatan."

Sang vampir tersenyum anggun sementara Elisa masih cemberut di leherku. Aku merasa sangat beruntung berada di antara wanita-wanita cantik ini, namun di saat yang sama, aku merasa seperti pria yang "mengotori" suasana suci tersebut hingga ingin berubah menjadi tanaman pot di sudut ruangan saja.

"Tunggu, Kakak! Apa ini?!"

"Hah? Oh, benar, ini hadiah. Lihat, es krim!"

"Yay!"

Putri kecil kami segera menyadari buah tangan kami. Aku telah menggunakan mantra Heat Resistance untuk menjaganya tetap beku. Aku tidak ingin membuat adikku yang bermata berbinar menunggu lebih lama lagi.

"Baiklah," aku memasang senyum terbaikku. "Bagaimana kalau kita minum teh bersama?"


[Tips] Karena populasi yang multikultural, aroma tubuh adalah bagian besar dari estetika di Kekaisaran. Bau badan atau parfum yang menyengat dianggap menyinggung ras dengan penciuman tajam.

Pilihan teraman adalah menggunakan sabun atau bunga beraroma ringan untuk menutupi keringat. Aroma jeruk biasanya dihindari untuk penggunaan sehari-hari karena ras dengan keturunan anjing atau kucing menganggap bau asamnya terlalu tajam.

◆◇◆

Perintah para dewa di Kekaisaran Trialisme Rhine tidaklah seberat di negeri lain. Sebagian besar dewa—kecuali Dewa Matahari—menjunjung tinggi kesederhanaan, namun tidak menuntut orang awam untuk patuh secara kaku.

Bahkan para pendeta paling berdedikasi pun tidak terikat pada standar yang mencekik.

Kerakusan yang tak terkendali, perzinaan, atau hawa nafsu yang liar adalah alasan kuat bagi seorang hakim—baik itu dewa maupun manusia—untuk menjatuhkan teguran. Kelonggaran panteon Rhinian terlihat jelas dari bagaimana para pendetanya diizinkan menikah, mengejar kenikmatan daging, atau menyesap minuman manis, asalkan semua dilakukan dalam batas kewajaran.

Namun, ada satu pengecualian: mereka yang meniru jejak Ibu Malam yang penuh kasih hidup dalam kedisiplinan diri yang ketat. Dewi Ibu mengajarkan bahwa kasih sayang sejati tidak lahir dari kelimpahan.

Kebajikan bukanlah alat bagi orang kaya untuk menukar harta mereka demi kepuasan batin semata.

Kadang kala, cinta itu terasa berat, menyakitkan, dan bahkan menyiksa. Empati sejati berakar pada kesediaan untuk mengorbankan sebagian dari diri sendiri demi orang lain.

Hal ini tidak hanya eksklusif bagi Dewi Malam, karena gerejanya sendiri terdiri dari beberapa golongan yang berbeda.

Berbeda dengan penggambaran agama di Bumi yang terkadang memiliki ritual atau entitas sembahan yang berbeda akibat interpretasi kitab suci, di Kekaisaran, sekte-sekte ini tetap mengabdi pada dewa yang sama.

Mereka membaca kitab yang sama dan secara resmi merupakan bagian dari kelompok yang sama.

Namun, orang-orang beriman selalu mencari cara unik untuk menunjukkan pengabdian mereka. Meditasi teologis mengenai aspek mana dari tuhan mereka yang paling suci, atau apa yang paling mewakili keinginan mereka, menjadi awal dari keragaman religius ini.

Para dewa mungkin mengawasi umat-Nya dengan penuh kasih, namun mereka yang memerintah Rhine dari singgasana surgawi memiliki aturan tak tertulis untuk tidak mencampuri perjalanan spiritual kawanan mereka.

Hukuman ilahi dan ramalan digunakan dengan sangat hemat, selama interpretasi manusia tidak menodai nama Mereka.

Akibatnya, umat manusia mendirikan berbagai lingkaran untuk mengasah doa menjadi sesuatu yang lebih mendalam.

Saat pertama kali mengetahui hal ini, seorang anak laki-laki berambut pirang bergumam dalam hati, "Mereka seperti pengarang yang membiarkan pembacanya melanggar aturan dunia buatannya, hanya karena senang ada orang yang mau mendalami karya mereka." Sebuah analogi yang mungkin agak tidak relevan.

Penyembahan hadir dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, ambillah Sang Bapa yang duduk di puncak panteon. Circle Brilliant memilih untuk menguras harta mereka demi menghiasi kuil dan ritual dengan kemewahan atas nama-Nya.

Di sisi lain, anggota Circle Vivacious menerima cahaya-Nya dengan penuh syukur dan menggunakannya untuk menanam tanaman yang telah Ia beri kehidupan.

Ada pula Circle Austere yang menundukkan diri pada penebusan dosa yang bahkan akan membuat para pengikut Dewa Perang sekalipun bergidik. Meski di bawah panji yang sama, bentuk iman mereka sangat bervariasi.

Dalam kasus Dewi Malam, terdapat dua cabang utama: The Generous dan The Immaculate. Cecilia telah memilih yang terakhir.

Jika The Generous menceburkan diri dalam amal untuk membantu sesama, anggota The Immaculate justru menjunjung tinggi kemiskinan yang terhormat.

Mereka membantu orang lain bukan dengan harta yang melimpah, melainkan dengan sedikit sisa yang mereka miliki setelah melepaskan keterikatan duniawi.

Banyak yang menganggap jalan ini tidak cocok bagi bangsawan Vampire, namun filosofi tersebut sangat selaras dengan karakter Cecilia.

Kepatuhan yang teguh ini sering disebut sebagai asketisme yang tak tergoyahkan. Dengan menjalani puasa yang menyiksa, para anggota The Immaculate dan semangat radikal mereka berhasil memicu rasa hormat bahkan dari pendeta golongan lain yang paling taat sekalipun.

Cecilia bukanlah pengecualian dari disiplin keras ini, terbukti dari kemampuannya menggunakan mukjizat. Dia terbiasa menjalani puasa di mana dia bahkan tidak menelan ludahnya sendiri sebelum bulan terbit. Dia mengorbankan waktu tidurnya untuk menyalin sutra suci.

Sang pendeta wanita telah hidup dalam kesederhanaan yang melarat begitu lama, hingga gaya hidup yang mungkin membuat orang lain gila itu dianggapnya sebagai standar kehidupan yang wajar. Namun, gadis yang sama kini mendapati dirinya tidak mampu memproses emosinya sendiri.

Perlu diingat, ini bukan semata-mata karena kehadiran Elisa yang menghalangi pandangannya terhadap leher Erich yang indah. Hal itu sama sekali tidak membuatnya kecewa.

Dia tidak akan merasa kecewa hanya karena tidak bisa lagi melihat otot-otot tegang yang terbungkus kulit putih bersih tersebut.

Tidaklah memalukan bahwa tulang selangka pemuda itu—yang tadi sempat mengintip dari balik kerah—kini tertutup kembali.

Tentu saja, air liurnya tiba-tiba meluap hingga pipinya menggembung, namun itu positif bukan satu-satunya hal yang sedang terjadi.

Entah disengaja atau tidak, Cecilia dibuat bingung oleh Elisa. Selama tiga hari terakhir, dia telah mencoba membuka diri kepada sang changeling itu berkali-kali, namun selalu gagal.

Setiap upaya percakapan menemui jalan buntu; setiap ajakan bermain ehrengarde ditolak dengan alasan tidak tahu aturan; dan pertanyaan tentang kegiatannya hanya dijawab singkat, "Pekerjaan rumah dari tuanku."

Cecilia tidak dapat memahami Elisa. Sebenarnya, vampir itu merasa cukup pandai bergaul dengan anak-anak. Panti asuhannya sering menampung anak yatim piatu, dan dia sering bepergian ke kota-kota sekitar untuk melayani mereka.

Anak-anak biasanya sangat menyukainya karena dia baik hati dan energik. Namun, dia sadar bahwa beberapa anak yang memiliki masa lalu sulit atau ego yang belum matang mungkin tidak akan langsung menyukainya. Dia cukup dewasa untuk menghormati setiap anak sebagai individu.

Namun, Elisa berbeda. Terkadang, saat gadis kecil itu menatapnya, Cecilia merasakan sesuatu yang asing di mata cokelat besar itu. Itu bukanlah tatapan seorang anak yang belum genap berusia sepuluh tahun.

Cecilia tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, namun tatapan itu terasa lebih... "dewasa". Tatapan itu mengingatkannya pada orang-orang yang pernah ia temui di perkebunan keluarganya—rekan bisnis ayahnya atau para wanita dari rumah bangsawan lain. Ia yakin mata yang bisa berubah warna dari cokelat ke kuning keemasan itu menyembunyikan sesuatu yang luar biasa.

Lihat, pikir Cecilia. Bahkan sekarang, saat kami minum teh, aku bisa merasakannya dari seberang meja...

Sang pendeta wanita menyesap teh harum dan memakan es manis untuk mengusir rasa tidak nyaman tersebut. Ia berdeham, bersiap beralih ke topik serius.

Tiba saatnya untuk mengungkap kartu trufnya—bagaimana ia berencana menghindari pengejaran dan pergi ke Lipzi.

"Ngomong-ngomong, Elisa, Mika memberitahuku rumor menarik hari ini."

"Rumor?"

Terperangkap dalam ide kekanak-kanakan bahwa ia harus menunggu saat yang tepat demi kejutan maksimal, Cecilia menunggu kakak-beradik itu menyelesaikan momen manis mereka. Elisa duduk di pangkuan kakaknya, menunggu disuapi dengan riang.

"Ayo, beritahu dia, Mika."

"Hm? Oh, baiklah. Dengarkan baik-baik, Elisa. Hari ini, sebuah kapal yang bisa terbang di udara akan datang ke ibu kota!"

"Apaaa?!"

Dua suara berteriak kaget secara bersamaan. Cecilia menjerit sedih karena kejutan besarnya telah dicuri sebelum sempat ia sampaikan.

Tiga orang lainnya tersentak kaget saat sang vampir tiba-tiba melesat berdiri. Bagaimana tidak? Seorang biarawati suci yang biasanya sopan dan kalem, tiba-tiba melompat sambil berteriak keras.

"Eh... Ada apa?" tanya Erich bingung.

Pertanyaan Erich yang bergumam hati-hati itu dijawab dengan gelombang keheranan yang memusingkan dari Cecilia: "Bagaimana kau bisa tahu?!"


[Tips] Di Bumi, golongan agama merujuk pada kelompok yang menyembah Tuhan yang sama dengan cara berbeda, atau menafsirkan teks suci secara berbeda. Tuhan memberikan perintah dan kitab suci, namun rincian penyembahan diserahkan pada penafsiran iman. Dengan demikian, bentuk penyembahan yang dianggap paling suci oleh seseorang akan menghasilkan kesalehan yang paling tulus.

◆◇◆

Jika ada orang lain di sana, mereka pasti akan berteriak, "Apa-apaan kau ini, bocah?!" sebelum akhirnya menyadari bahwa sang vampir memanglah seorang gadis kecil. Namun, ketiga orang yang hadir di sana hanya bisa terdiam membeku.

Cecilia telah menyembunyikan rencana petualangannya untuk menggunakan moda transportasi tersebut jauh di dalam hatinya. Tak ada yang menyangka bahwa sarana yang ia maksud adalah kapal udara yang selama ini hanya menjadi bisikan rahasia di ibu kota.

Bagi mereka yang tidak terlibat pembangunannya, benda itu hanyalah rumor tentang kapal yang bisa terbang tinggi.

Namun, rumor itu benar: Airship ini adalah senjata canggih milik Kekaisaran untuk membuka jalan melewati perbatasan wilayah yang tidak memiliki pelabuhan.

Selama ini, sang Naga Berkepala Tiga gagal mengamankan satu pun pelabuhan di perairan hangat. Kekaisaran tidak mampu lagi mengambil lebih banyak wilayah demi akses ke laut lepas.

Wilayah utara memang berakhir di garis pantai, namun tebing terjal dan musim dingin yang ekstrem membuat lautan di sana hampir mustahil untuk dilayari. Semua pelabuhan di utara hanyalah kota nelayan kecil yang terisolasi.

Ada satu jalur di barat laut melalui Semenanjung Howaldtswerke, dengan pelabuhan Schleswig di ujungnya yang bisa meluncurkan kapal ke perairan internasional.

Namun, sabuk kepulauan yang menghalangi jalur ke utara dan barat memaksa kapal Kekaisaran melakukan putaran jauh untuk mencapai perairan yang lebih makmur. Pihak takhta tidak melihat hal ini sebagai investasi yang berharga.

Dahulu, mereka sempat mempertimbangkan pembangunan kanal besar, namun ombak Utara yang ganas menyembunyikan naga dan ular laut yang membuat konstruksi menjadi mustahil.

Proyek itu diprediksi memakan waktu tujuh generasi, sehingga akhirnya terbengkalai dan hanya menjadi angan-angan para Kaisar.

Selama ini, Kekaisaran bertahan dengan memberikan hak istimewa perdagangan pada negara satelit di selatan demi menggunakan pelabuhan mereka.

Namun, ketergantungan ini berisiko; akses tersebut bisa diputus kapan saja. Hal inilah yang mendorong lahirnya ide-ide gila: mulai dari kanal raksasa hingga inovasi perjalanan udara yang kini hampir selesai.

Karena proyek ini menentukan nasib kekuatan Rhine, pembangunannya melibatkan ribuan orang.

Kapal raksasa itu mustahil disembunyikan sepenuhnya; bocoran informasi keluar dari setiap sudut meski Kekaisaran mencoba merahasiakannya demi sebuah pengungkapan yang bombastis.

Cecilia, yang merasa kecewa karena elemen kejutannya sirna, menjelaskan rinciannya dengan nada lesu. Elisa kecil hanya paham bahwa ini adalah sesuatu yang luar biasa, namun Erich dan Mika membeku dengan bibir terkatup rapat.

"Malam ini," lanjut Cecilia, "kapal udara itu akan tiba di Berylin dan berlabuh di pinggiran kota... tempat Yang Mulia Kaisar akan naik. Kemudian, mereka akan menjelajahi setiap negara bagian Kekaisaran dengan pesawat itu."

"Dan kau ingin menyelinap? Ke kapal luar biasa ini?"

"Benar-benar rencana yang nekat..."

Erich dan Mika menggigil membayangkan keberanian tersebut. Ini adalah proyek nasional yang didukung langsung oleh Imperial, dan malam ini adalah pelayaran perdananya.

Menumpang kapal pribadi Yang Mulia bukan sekadar langkah berani; itu adalah tindakan yang hampir menyentuh batas kesombongan.

Keamanan di sana pasti sangat ketat. Dengan kehadiran Kaisar, Pengawal Kekaisaran akan menyisir setiap sudut. Jangankan membiarkan seekor kucing masuk, mereka bahkan tidak akan membiarkan sebutir debu pun menyelinap tanpa diperiksa.

"Tentu saja, aku tidak bermaksud masuk secara paksa seperti bandit. Aku punya jalan masuk." Cecilia ragu sejenak sebelum mengungkap rencananya. "Sebenarnya, pihak Gereja juga terlibat dalam pembangunan kapal terbang itu."

Selama ini, desain teknis dipimpin oleh para ahli dari Imperial College. Namun, pada percobaan ketiga ini, otoritas keagamaan akhirnya mengambil alih sebagian beban tugas.

Hal yang sebenarnya terjadi adalah: dua percobaan pertama habis hanya untuk memperdebatkan hal-hal sepele.

Akhirnya, melalui diskusi mendalam yang melibatkan ramalan ilahi, diputuskan dewa mana yang berhak menaungi teknologi penerbangan ini.

Sesungguhnya, Airship Kekaisaran ini juga memicu persaingan di antara para dewa.

Awalnya, Dewa Angin dan Awan mengklaim bahwa segala sesuatu yang terbang adalah wilayahnya. Dewi Pasang Surut menolak, bersikeras bahwa benda bernama "kapal" adalah miliknya.

Tak mau kalah, Dewa Pengrajin menyela bahwa pengerjaan rumit tersebut hanya bisa dilakukan di bawah nama-Nya. Dalam sekejap, setiap dewa mencari pembenaran untuk menjadikan proyek ini yurisdiksi mereka.

Bagi para dewa, ini adalah masalah hidup dan mati. Keilahian mereka berasal dari Faith; semakin banyak pengikut, semakin besar kekuatan mereka. Siapa pun yang berhasil menguasai titik balik sejarah ini akan mendapatkan lonjakan popularitas yang luar biasa.

Perdebatan teologis ini berlangsung selama beberapa dekade sebelum akhirnya mencapai kompromi yang aneh: kapal udara tersebut akan memiliki kuil diberkati di dalamnya... namun mereka gagal memutuskan kuil milik siapa.

Hasilnya adalah pengaturan yang sangat rumit: Dewa Pengrajin memberikan perlindungan saat pembangunan; Dewi Pasang Surut memberikan berkat saat kapal akan berangkat; dan begitu berada di udara, Dewa Angin yang mengambil alih penjagaan. Situasi ini sangat kacau; tidak ada yang benar-benar tahu siapa "kapten" spiritual benda itu.

"Eh, dan karena kapal itu berencana melakukan pelayaran malam..."

"Dewi Malam ikut campur tangan?" potong Erich.

"Yah... benar."

Cecilia menjelaskan bahwa utusan Dewi Malam yang akan naik ke kapal adalah teman pribadinya dari Gereja Fullbright. Temannya itu adalah sosok yang sangat baik; jika Cecilia menjelaskan situasinya, dia yakin akan mendapatkan dukungan.

"Aku yakin dia akan membawaku sebagai asistennya jika aku memintanya. Karena Dewi Malam tidak terlalu dominan dalam urusan kapal ini, jumlah utusan kami akan sangat sedikit. Jika aku berhasil naik, aku ragu para pengawal akan memperhatikan kami secara detail."

"Begitu ya. Kalau begitu, tugas kami hanya perlu mengantarmu sampai ke gereja..."

"Benar. Dari sana, aku bisa menyelinap masuk, lalu turun di pemberhentian pertama. Begitu sampai di Lipzi, aku akan aman di bawah perlindungan bibiku."

Secara keseluruhan, rencananya adalah kisah klasik tentang penumpang gelap. Meski terasa agak kasar dan berisiko, ini tetap merupakan opsi terbaik yang tersedia.

Berusaha mencapai titik aman demi menempuh sisa perjalanan dengan damai jauh lebih menjanjikan daripada harus berjalan kaki sejauh ratusan kilometer di daerah terpencil Kekaisaran yang infrastrukturnya buruk.

Rencana ini juga jauh lebih cerdas daripada mencoba menerobos keamanan demi melakukan pembajakan udara pertama di dunia.

"Dimengerti. Kalau begitu, mari kita pergi ke tempat suci itu."

Erich berhenti sejenak, lalu bergumam pelan, "Tapi... bagaimana caranya?"

Masih banyak masalah yang tersisa, namun yang terbesar adalah para pengejar yang masih tersebar di seluruh ibu kota. Mereka memang tidak memasang poster pencarian, tapi justru itu yang membuatnya sulit diatasi.

Sepanjang hari, aku terus mengawasi para penjaga di sekitar kota, dan aku melihat pemandangan yang mengkhawatirkan. Polisi standar yang hanya dilengkapi tongkat tidak bertugas sendirian; mereka ditemani oleh orang-orang berseragam militer hitam pekat yang tampak mengancam.

Melarikan diri dari pengawasan ketat penjaga kota adalah satu hal, namun bermain kucing-kucingan dengan para pemburu profesional—Jager milik Yang Mulia—adalah tantangan di level yang berbeda.


[Tips] Unit Jager Kekaisaran adalah kelompok pengintai militer yang terdiri dari pemantau dan pemburu terbaik di negara ini. Para maestro bayangan ini bertugas mengintai lokasi strategis, memata-matai logistik musuh, dan menghentikan spionase di wilayah Kekaisaran. Mereka adalah salah satu kelompok paling dihormati karena peran krusial mereka dalam berbagai perang besar.

◆◇◆

Menghindari pencarian terkoordinasi dari para ahli seperti mereka sangatlah sulit.

Komposisi tim kami saat ini: seorang pendekar pedang sihir (dengan penekanan pada pedang), seorang penyihir sekaligus sarjana yang mengkhususkan diri pada Support Spell, dan seorang pendeta wanita tipe non-kombatan.

Bisa kau lihat masalahnya? Benar sekali: kami tidak punya seorang pun pengintai!

Jika ini adalah sebuah party petualang, komposisi kami sangat konyol. Formasi seperti ini hanya bisa diterima jika misinya adalah pengawalan kecil tanpa pertempuran, atau jika Game Master (GM) berbaik hati menyediakan NPC bantuan. Di tempat lain, seseorang pasti akan dipaksa berpindah kelas demi keseimbangan tim.

Pengintai bertugas mengamankan rute di depan dan menjaga barisan belakang. Menjelajahi kota metropolitan tanpa mereka rasanya seperti berlari cepat dengan mata tertutup.

Satu-satunya keuntungan adalah aku telah berinvestasi pada Trait tingkat tinggi seperti Permanent Battlefield dan memiliki mantra Farsight untuk memantau area di luar jangkauan mata telanjang.

Aku mungkin bisa menghindari penyergapan total, namun musuh kami mengenakan pakaian warga sipil untuk membaur. Dengan keahlian mereka, aku mungkin baru bisa mendeteksi mereka tepat saat serangan pertama diluncurkan.

Ah, betapa aku merindukan teman masa kecilku, si mutiara bersinar.

Aku bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Margit di kampung halaman kami. Kalau saja dia ada di sini untuk menerangi jalan kami seperti di Konigstuhl, aku tidak akan mengenal rasa takut.

Kami telah bersumpah untuk memulai perjalanan bersama, dan sekarang dialah kepingan puzzle yang hilang untuk melengkapi tim kami yang kacau ini. Tanpa dia, punggungku terasa tidak terlindungi; aku menggigil seolah ditinggalkan sendirian di alam liar.

"…Oh, aku hampir lupa."

Meninggalkanku yang tenggelam dalam kesendirian, Mika menepukkan tinjunya ke telapak tangan dan berdiri. Ia berkata akan kembali sebentar lagi. Tak lama kemudian, ia kembali dengan napas terengah-engah sambil membawa tas besar, lalu menumpahkan isinya ke atas meja.

"Aku yakin kita bisa memanfaatkan ini."

"…Ramuan?"

Mika membawa banyak botol kecil berisi cairan misterius. Setiap botol kaca berbentuk sempurna itu ditutup dengan segel mistis. Katanya, ia mendapatkan produk kualitas tinggi ini dari tuannya.

"Guruku mendapat banyak hadiah dan sampel dari sesama penyihir setiap kali menghadiri perkumpulan, dan dia memberiku banyak barang saat aku pertama kali berubah menjadi wanita. Katanya, aku harus mulai belajar tentang tata rias."

"Oh, jadi ini ramuan kosmetik?" tanyaku heran. "Aku tidak percaya mereka membagikan barang semewah ini sebagai sampel gratis."

"Jika satu sampel berhasil menarik pelanggan, keuntungannya bisa puluhan kali lipat dari harga barang gratis itu. Lagipula pasarnya besar. Pria pun akan membelinya untuk istri atau kekasih mereka."

Ini informasi baru bagiku. Tapi dipikir-pikir, para penyihir memang kaya raya—kecuali mereka yang penelitiannya tidak menghasilkan uang. Mengingat majikanku adalah tipe penyihir yang tidak suka bersosialisasi, wajar jika aku buta soal konsep dasar seperti ini.

"Uhh, bukan yang ini. Bukan yang itu… Aha!"

Mika akhirnya mengangkat tiga botol kecil sambil tersenyum. "Untung aku menyimpannya. Tadinya aku mau menjualnya atau memberikannya pada Elisa saat dia sudah besar. Siapa sangka ini akan sangat berguna?"

"Apa fungsi ramuan-ramuan ini?"

Nona Celia mencondongkan tubuh dengan penuh minat. Mika menjelaskan botol-botol itu satu per satu.

Botol pertama adalah obat untuk memanjangkan rambut secara instan. Awalnya ini ditujukan untuk riset penumbuh rambut—karena kebotakan adalah momok bagi pria di seluruh dunia—namun gagal. Meski begitu, ramuan ini laku keras sebagai cara bagi para wanita kaya untuk mengganti gaya rambut dalam sekejap.

Botol kedua berfungsi meluruskan rambut yang ikal. Ini juga produk gagal yang awalnya ditujukan untuk efek permanen, namun ternyata hanya bertahan beberapa jam.

Botol ketiga adalah ramuan pengubah warna mata. Di Rhine, warna mata adalah karakteristik paling menonjol selain rambut dan kulit. Ramuan ini sangat berguna untuk menyamar atau aktivitas rahasia lainnya.

"Eh, satu tetes saja bisa memanjangkan rambut sebanyak ini, jadi aku harus minum… kira-kira segini?" Mika mengukur dosis botol pertama. "Astaga! Kenapa rasanya tidak enak sekali?!"

"Itu tumbuh!" seru Nona Celia. "Mika, rambutmu tumbuh!"

"Wah!" Elisa ikut berteriak. "Selanjutnya aku! Aku juga mau!"

Aku hanya bisa terdiam merenungkan niat-niat gelap di balik penciptaan ramuan ini, sementara gadis-gadis di depanku asyik bereksperimen. Rambut Mika tumbuh memanjang, hitam bergelombang seperti samudra di malam hari. Tampak sangat alami.

"Wah, begini rupanya penampilanku jika berambut panjang… Astaga, rambutku berantakan sekali! Tidak bisa diikat! Sudah cukup, nanti akan kupotong pendek lagi. Jika rambutku begini sulit diatur saat aku menjadi gadis, aku tidak bisa membayangkan betapa menyebalkannya ini jika aku sedang menjadi pria."

"Apakah rambutmu berubah saat kau menjadi laki-laki?" tanya Nona Celia penasaran.

"Ya, rambutnya jadi lebih kasar dan keriting. Kurasa itu turunan dari ayahku."

"Hah? Kenapa rambutku tidak tumbuh?"

Di sisi lain, Elisa tampak bingung karena ramuan itu tidak mempan padanya. Meski tubuhnya manusia, Elisa memiliki jiwa Alf. Aku menduga dia memiliki Magic Resistance bawaan yang sangat tinggi sehingga dosis kecil tidak akan berpengaruh.

"Berikutnya ramuan pelurus… ugh, ini juga rasanya buruk! Lidahku seperti terbakar!"

"Tapi lihat, Mika!" Nona Celia berseru. "Efeknya sudah mulai bekerja! Luar biasa!"

Seteguk kecil cairan kedua mengubah rambut bergelombang Mika menjadi selurus permukaan danau yang tenang, memantulkan cahaya ruangan seperti bulan tengah malam. Rambutnya tampak sangat halus hingga aku merasa ingin menyisirnya.

"Ugh," keluh Mika. "Leherku terasa panas dan berat… Apa kau selalu merasakan ini, Erich?"

"Senang akhirnya kau paham penderitaanku," jawabku. "Bagaimana? Menikmati penampilan barumu?"

"Tentu saja. Tapi kurasa cukup sekali ini saja. Bagaimana menurutmu? Kau yang melihatnya—apa aku terlihat berbeda?"

Mika berpose dengan mengibaskan rambutnya yang panjang dan lurus. Sangat menawan. Fakta bahwa jantungku berdebar kencang melihat penampilan temanku yang asing ini adalah rahasia yang akan kubawa sampai ke liang lahat.

"Ya, kau terlihat sangat cantik."

Meski begitu, aku telah mengasah seni poker face selama bekerja di bawah asuhan Sang Nona. Pipiku tetap tidak memerah saat menyuarakan pendapat yang sungguh-sungguh itu, yang ditanggapinya dengan berputar-putar dalam kegembiraan yang luar biasa.

"A… aku mengerti. Terima kasih."

Namun, aku masih bisa melihat wajahnya dengan jelas di cermin. Wajahnya tampak merah padam; sepertinya pujian aku benar-benar membuatnya malu. Kalau dipikir-pikir, aku selalu memuji Mika saat dia dalam wujud laki-laki atau agender, tapi aku sering merasa terlalu sungkan untuk melakukannya saat dia menjadi perempuan. Pujian semacam ini biasanya tidak pernah menjadi bagian dari percakapan kami.

Untuk saat ini, situasinya adalah seorang teman perempuan yang berusaha menyembunyikan rasa malunya. Terus mengintip hanya karena aku bisa, akan dianggap tidak sopan. Aku memiringkan kursi sedikit dan memutuskan untuk menghibur Elisa, yang masih mendengus kesal karena ramuan itu tidak bekerja padanya.

"Apa kau baik-baik saja, Mika?" tanya Nona Celia. "Aku berdoa semoga kau tidak merasakan efek samping yang aneh."

"T-Tidak perlu khawatir, Celia. Aku baik-baik saja. Uh, um… oh, benar, yang berikutnya!"

Aku menutup telinga terhadap suaranya yang serak dan terus menenangkan adik saya. Setelah beberapa saat, Mika memanggil kami kembali; persiapannya telah selesai.


Kami menoleh dan melihat dua gadis di sana—bukan saudara kembar, tapi cukup mirip. Usia, tinggi, warna, hingga panjang rambut mereka hampir identik. Meskipun mata Mika tidak sepenuhnya merah terang, warnanya cokelat kemerahan yang bisa dikira sebagai mata Vampire jika dilihat dari sudut yang tepat.

Siapa pun yang mencari ciri-ciri tersebut pasti akan menghentikannya untuk diinterogasi. Untuk menyempurnakan penyamaran, Mika telah berganti pakaian menjadi jubah gelap berkerudung yang mirip dengan pakaian biarawati.

"Bagaimana menurutmu, Erich? Mirip sekali dengannya, kan?"

Itulah sebabnya Aku langsung menyadari rencananya begitu dia kembali— aku tahu persis untuk apa ramuan mistik itu akan digunakan.

"Aku akan keluar lebih dulu sebagai umpan. Aku akan membiarkan para penjaga menemukanku di sekitar salah satu gerbang kota utama dan memancing mereka menjauh."

Mika membusungkan dada dengan percaya diri. Baru sekarang setelah rencana itu terucap, Nona Celia menyadarinya; wajahnya memucat saat dia mencengkeram bahu Mika.

"Tidak boleh! Itu terlalu berbahaya!"

"Jangan khawatir, Celia. Orang-orang yang mencarimu menganggapmu sebagai VIP. Mereka tidak akan bersikap kasar saat mencoba menangkapku."

"Tetap saja! Bagaimana kalau kau ketahuan?!"

"Aku adalah veteran Berylinian, luar dan dalam. Aku bersumpah tidak akan membiarkan mereka menangkapku."

Meskipun kata-kata Mika terasa didorong oleh rasa percaya diri yang tipis, aku memutuskan untuk memercayainya. Dia memang suka memaksakan diri, tapi dia selalu jujur jika merasa tidak mampu. Aku tahu dia tidak akan menjadikan dirinya pengorbanan yang sia-sia.

Sebagai calon Oikodomurge, Mika telah menjelajahi setiap sudut ibu kota untuk mempelajari arsitektur dan tata kota. Dia tahu setiap gang tersembunyi dan hampir setiap jalur selokan. Jika dia bilang dia bisa mengulur waktu untuk kita, maka dia mengatakan yang sebenarnya.

"Baiklah," kata saya. "Kami mengandalkanmu, Mika."

"Tentu saja. Serahkan saja padaku, kawan lama." Berbalik ke arah sang vampir, dia berkata, "Dan Celia, maukah kau memberkatiku dengan keberuntungan alih-alih mencemaskan keselamatanku? Rasanya menyedihkan jika harus pergi ke medan perang tanpa doa dari seorang gadis."

Nona Celia masih tampak cemas, tapi permintaan itu terlalu tulus untuk ditolak. Ia menatap Mika tepat di matanya dalam keheningan, hingga akhirnya menerima keputusan sahabat lama-ku itu. Untuk pertama kalinya, ia melepaskan medali sucinya.

"Tolong," pintanya, "aku mohon jangan membahayakan dirimu sendiri. Jika kau jatuh ke tangan mereka, aku berjanji akan melindungimu berapa pun biayanya. Sampai saat itu tiba, semoga Dewiku memberimu perlindungan-Nya."

Sang pendeta wanita mengecup ikon perak itu dan dengan khidmat mengalungkannya di leher sang penyihir.

"Terima kasih, Celia. Lihat itu, Erich? Dengan jimat luar biasa ini, kesuksesan sudah di depan mata."

"Aku hanya iri karena bukan aku yang memakainya," kataku sambil tersenyum. "Kemenangan kita sudah pasti."

Aku mengulurkan tangan dan Mika menjabatnya dengan kuat. Kami saling merangkul bahu dengan satu tangan tanpa melepaskan genggaman—sebuah pelukan persahabatan dan harapan baik yang selalu kami bagikan tanpa syarat, apa pun jenis kelaminnya.

"Jaga dirimu."

"Kau juga."

Pipi kami bersentuhan sejenak saat kami menjauh. Dia berjalan menuju pintu sambil mengucapkan selamat tinggal… sampai sebuah teriakan menghentikannya.

Itu Elisa.

Kami bertiga menoleh padanya dengan heran. Elisa memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan bangkit dari kursinya. Kami menunggu saat dia mempersiapkan diri untuk sesuatu.

Kemudian, meskipun dia masih mengabaikan Nona Celia, dia berjalan mendekati tamu kami dan menjepit roknya dengan hormat, layaknya seorang wanita bangsawan.

"Saya dengan tulus meminta maaf atas sikap saya yang tidak sopan. Saya akan menerima hukuman apa pun yang Anda anggap pantas, tetapi bolehkah saya dengan rendah hati meminta sehelai rambut Anda?"

Kalimat Elisa yang paling formal hingga saat ini mengejutkan kami semua. Nona Celia tercengang menerima permintaan maaf dari gadis yang semula tampak membencinya; Mika terkejut melihat sisi dewasa Elisa; dan aku… aku terpaku oleh rasa takut yang tak terjelaskan yang membuncah di hatiku.

Dadaku terasa sesak hingga aku harus menggenggamnya erat. Kenangan tentang Helga terlintas sekilas di benakku.

"Aku tidak menuntut apa-apa, Elisa. Kau tidak perlu meminta maaf—aku tidak pernah marah padamu. Jika sehelai rambut adalah yang kau butuhkan, silakan ambil."

Pendeta wanita yang baik hati itu mengabulkan permintaan Elisa tanpa ragu. Mika terharu, mengira Elisa melakukan hal cerdas demi kakaknya.

Hanya aku yang terperangkap dalam ingatan kelam: kenangan tentang dosaku di mansion tepi danau, dan apa yang telah aku pelajari dari sana.

Alfar berubah sesuai keinginan mereka. Entah itu berarti pertumbuhan atau kegilaan, itu tidak masalah; jika jiwa peri di dalam menganggapnya perlu, cangkang manusia dari seorang changeling akan berubah bentuk untuk menyesuaikannya.

Elisa ingin menjadi apa?

Apa yang sedang dilakukannya?

Aku tidak tahu, dan itu membuat aku takut. Ini bukan pertama kalinya, dan dulu aku selalu senang melihatnya tumbuh dewasa.

Namun sekarang, untuk alasan yang tidak dapat aku jelaskan, aku sangat takut melihat adik-ku mencoba tumbuh dewasa.

"Terima kasih banyak."

Elisa mengambil helaian rambut itu, berjalan ke meja, dan mengeluarkan sebuah kantung kecil. Ia memasukkan rambut itu ke dalamnya dan mengisinya dengan Mana.

Dahulu, Nona Agrippina mengajarkan trik kecil ini agar Elisa bisa membuang energi misterius yang terkumpul di tubuhnya. Nona pernah memuji betapa patuhnya Elisa menjalankan latihan itu hingga hari ini.

Sebenarnya, ini hanyalah permainan untuk membantu balita mengenal dasar-dasar mistis—mengajarkan cara sirkulasi Mana sejak dini. Biasanya, anak-anak akan memasukkan bunga atau rempah untuk membuat pengharum ruangan (potpourri).

Namun, Elisa telah memodifikasinya. Ia selesai menyihir kantung itu dan menyerahkannya kepada Mika.

"Ini akan menutupi aroma alami Anda dan menghasilkan sesuatu yang mirip dengan bau Nona Cecilia. Ini akan menipu bahkan mereka yang memiliki hidung paling tajam sekalipun."

"Oh, benar juga!" seru Mika. "Aku lupa bahwa mereka mungkin menggunakan anjing Demihuman yang bisa melacak aroma Celia!"

Mika memeluk Elisa dan memujinya habis-habisan. Adik kecil-ku tersenyum polos dan berkata, "Mika, aku tidak bisa bernapas," dengan nada senang.

Tiba-tiba, dia menatapku dengan mata besarnya yang memohon. Seketika, aku kembali ke dunia nyata. Elisa tetaplah Elisa yang biasa.

Kecemasan tak berdasar yang sempat mencekamku menghilang begitu saja. Kenangan tentang Helga kembali meredup dalam benakku.

Apa yang tadi kutakutkan? Ah, apa yang kupikirkan tadi?

"Kau hebat, Elisa! Jenius sepertimu pasti akan segera menjadi profesor!"

Aku mengusir kabut di pikiranku dan ikut memeluk Mika untuk memuji usaha Elisa yang cemerlang.

Setelah itu, si "jenius masa depan" itu juga menggunakan sehelai rambutnya sendiri untuk membantu menyamarkan aroma Nona Celia.

Kini, persiapan kami sudah sempurna.

"Baiklah, aku berangkat," kata Mika. "Beri aku waktu sekitar setengah jam sebelum kalian menyusul."

"Oke," jawabku. "Semoga berhasil."

"Semoga rahmat Bunda Maria senantiasa menyertaimu," doa Nona Celia.

"Hati-hati, Kak!" seru Elisa. "Aku akan menunggu di rumah dengan manis!"

Akhirnya tiba saatnya: petualangan seumur hidup akan segera dimulai.


[Tips] Potpourri adalah penyegar udara yang umumnya dibuat dari herba atau bunga kering, atau kapas yang direndam dalam minyak esensial. Selain berfungsi menyembunyikan aroma tubuh, benda ini juga menjadi bagian dari gaya hidup untuk menjaga kesan elegan melalui aroma yang dibawa. Varian mistis yang lebih khusus bahkan mampu menghilangkan bau tanpa menambahkan aroma baru, biasanya digunakan untuk keperluan non-estetika seperti penyamaran.

◆◇◆

Elisa dengan berat hati menerima tugasnya untuk menunggu kepulangan mereka. Tentu saja, hatinya dipenuhi rasa tidak puas saat melihat kakaknya pergi, namun ia menyimpan perasaan itu dengan rapi di dalam lubuk hatinya.

Elisa tahu. Ia tahu bahwa kakaknya akan lebih menderita jika ia memaksa ikut daripada jika dia pergi sendiri bersama wanita menakutkan itu. Ia tahu kakaknya akan menghabiskan banyak waktu berharga hanya untuk menenangkannya.

Seiring dengan meningkatnya kecerdasan dan keinginannya untuk belajar, Elisa mulai menyadari apa yang harus ia lakukan. Dia sekarang mengerti apa yang akan membuat kakaknya paling bahagia, apa yang paling tidak membebaninya, dan yang terpenting, apa yang akan membuat kakaknya semakin menyayanginya.

Elisa yang dulu mungkin akan meronta dan menjerit agar kakaknya tetap di rumah. Pikirannya yang masih hijau tidak tahu pilihan lain selain menangis tersedu-sedu sampai sang kakak mengabulkan permohonannya.

Namun, pendidikan telah memupuk kecerdasannya melewati batas ketidaktahuan. Dia sekarang mengerti bahwa ada alasan di balik tindakan kakaknya yang menuju bahaya; dia memahami mengapa kakaknya memilih berjalan menuju jurang neraka atas kemauannya sendiri.

Kakaknya terlalu baik. Begitu baik hingga dia tidak tahan melihat orang lain menderita di hadapannya, bahkan jika kesulitan itu tidak berpengaruh padanya atau jika hubungan mereka hanya sebatas orang asing yang berpapasan di jalan.

Yang terburuk dari semuanya, saudara laki-laki Elisa sangat berbakat hingga dia merasa bisa menyelesaikan segalanya jika dia bekerja keras sampai mati.

Jika situasinya benar-benar mustahil bahkan setelah memeras setiap tetes kekuatannya, mungkin dia akan menyerah sambil menggerutu.

Namun, seceroboh apa pun kakaknya, dia selalu memiliki rencana logis untuk menyelesaikan misinya dengan aman. Dia tidak akan pernah secara sukarela melibatkan diri dalam ujian yang peluang kematiannya lebih besar daripada keberhasilannya… atau setidaknya, Elisa berharap demikian.

Termasuk saat menyelamatkan Elisa dahulu, ini adalah kali kelima kakaknya melangkah ke dalam bahaya. Pada titik ini, jelas bahwa Elisa tidak bisa menghentikannya; memang begitulah sifat kakaknya.

Kesulitan yang terjadi saat ini bahkan merupakan akibat dari tindakannya yang pernah menghentikan kakaknya sekali—ia tidak punya pilihan selain menerimanya.

Kau tahu apa artinya, bisik jiwanya yang mulai dewasa.

Jika dia tidak bisa menghentikan kakaknya lari ke tempat berbahaya, maka satu-satunya hal yang tersisa adalah membuat perjalanan itu tidak terlalu berisiko dengan cara apa pun yang dia bisa.

Elisa telah memutuskan: meskipun emosi yang membentuk jiwa Mika masih membingungkannya, dia akan mempercayai penyihir itu sepenuhnya.

Tidak peduli seberapa rumit keinginan dalam diri Mika, kasih sayangnya tulus, begitu pula tekadnya untuk menghadapi bahaya yang menghadang.

Mika selalu bersikap baik kepada Elisa. Dia tidak pernah berbohong, dan perasaannya terhadap sang changeling murni berasal dari rasa cinta.

Tak ada alasan bagi Elisa untuk menjauh. Bahkan, tujuan mereka selaras: ingatan tentang tuannya yang mencibir sambil merinci kebutuhan Erich akan perlindungan terlintas kembali di benaknya.

Perisai akan lebih kuat jika jumlahnya banyak. Meskipun Elisa ingin menjadi benteng terdepan, dia butuh waktu untuk tumbuh. Sampai saat itu tiba, dia bersedia menerima bantuan orang lain sebagai kawan seperjuangan demi menjaga kakaknya.

Namun, Cecilia sang Vampire adalah pengecualian. Elisa tidak bisa menerimanya.

Mata Cecilia bagaikan cahaya bulan yang dingin dan tak acuh. Berbeda jauh dari cinta yang hangat dan menenangkan yang dicurahkan kakaknya, Elisa tidak merasakan kebahagiaan dari binar di mata Cecilia.

Baginya, itu adalah cahaya yang buruk. Cahaya itu mungkin bisa melindungi kakaknya… tapi sesuatu dalam dirinya berbisik bahwa cahaya itu akan merenggut kakaknya dan membawanya ke tempat yang sangat jauh.

Secara pribadi, Elisa tidak membenci Cecilia. Warna jiwanya cantik dan jernih; jarang sekali menemukan seseorang yang begitu murni. Kemurniannya bukanlah seperti salju yang mudah kotor saat terinjak.

Elisa menganggap jiwa Cecilia lebih mirip seperti berlian yang terkadang menghiasi leher tuannya: tidak berwarna, namun berkilau dengan keindahan yang murni.

Ketika Elisa pernah memohon untuk melihat batu itu dari dekat, Sang Nona menyerahkannya sambil memberikan pelajaran sejarah.

Nama berlian itu berasal dari kata "gigih" dalam bahasa Orisons—bahasa kuno Kerajaan yang Terberkati—yang memberikan ketahanan serupa kepada pemakainya.

Dahulu, kekerasannya yang luar biasa membuat permata itu sulit dipoles menjadi bentuk yang indah; bongkahan kasarnya bahkan hampir tidak bersinar. Untuk waktu yang lama, berlian dianggap tidak berharga dibandingkan rubi atau zamrud.

Namun, kemajuan teknik sihir dalam beberapa abad terakhir telah mengubah segalanya. Dengan teknik khusus, batu itu bisa dipoles hingga bersinar seterang mentari; kini ia berdiri sebagai raja dari segala permata.

Rupanya, leluhur Agrippina telah membeli sebuah sungai di Seine bagian barat, yang baru-baru ini menghasilkan bongkahan bijih seukuran kepalan tangan.

Bongkahan itulah yang kemudian ditempa menjadi kalung untuk tuannya sebagai perayaan debut di kalangan masyarakat kelas atas.

Bagi mata Elisa yang tajam, keindahan sempurna dan tak berawan itu tampak seperti sesuatu yang mustahil untuk dirusak—dan warna yang sama bersinar dalam diri Cecilia.

Murni dan tak tercemar, Cecilia adalah sosok yang hanya bisa dibentuk oleh orang lain yang memiliki kekuatan setara dengannya.

Karakternya bukanlah sekadar hasil dari kehidupan yang terkurung, melainkan sebuah takdir yang akan tetap terwujud tanpa memedulikan lingkungannya.

Elisa menyukai hal ini: sang pendeta wanita tidak mewujudkan kebajikan yang hanya bergantung pada keberuntungan, jenis kebaikan yang akan langsung hancur saat pertama kali berhadapan dengan kejahatan. Namun, kekuatan vampir itu sendiri adalah masalahnya; dia bisa menjadi batu yang menghancurkan apa pun di sekitarnya.

Hanya berlian yang dapat memahat berlian, dan yang terbaik sangat disayangi oleh para ahli perhiasan maupun kolektor. Elisa sempat melihat penglihatan samar tentang cahaya menyilaukan yang menelan seluruh tubuh kakak laki-lakinya yang tersayang.

Pikiran bahwa cahaya bulan yang dingin dapat menyerap hangatnya mentari menjadi cahaya tanpa panas membuatnya takut, hingga ia sempat menjauhi Cecilia.

Namun kini Elisa sadar: jika kakaknya telah menerima sang vampir, maka penolakan darinya tidak akan mengubah apa pun. Jadi, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah melakukan segala daya untuk memastikan sang rembulan tidak merenggut kehangatan matahari.

"Jaga dirimu baik-baik, Kakak. Tolong, pulanglah padaku."

Dengan bisikan yang berat sekaligus lembut, sang changeling itu menangkupkan kedua tangannya. Selama ini dia hanya meniru gerakan orang tuanya di gereja setempat, tetapi hari ini dia berdoa dengan sepenuh hati kepada Dewi yang dilayani sang pendeta wanita, berharap Sang Dewi tidak akan membawa pergi pemuda itu.


[Tips] Karena proses pembuatan yang sulit dan kelangkaannya di Kekaisaran, berlian dijuluki sebagai Raja Batu Permata di Rhine. Meski tersedia dalam berbagai warna, batu akromatik (bening) sangat dihargai oleh pemakai maupun penyihir. Batu ini tidak akan bengkok hingga benar-benar hancur total, menjadikannya katalisator yang tak tertandingi dalam sihir pertahanan.

◆◇◆

Mika menarik tudung kepalanya serendah mungkin dan berjalan menyusuri kota yang mulai remang-remang, sambil terus mengamati keadaan sekitar.

Meski matahari telah tenggelam di cakrawala, jalanan Berylin tetap ramai. Para buruh berjalan pulang dengan langkah lelah, pekerja malam bersiap memulai giliran kerja, dan para pemuda mabuk saling merangkul sambil merayakan hari mereka.

Di permukaan, ibu kota tampak damai. Tempat ini adalah wadah berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat, latar belakang yang sempurna untuk membaur.

Ada banyak sosok berkerudung lainnya yang berjalan di sana, entah untuk bersembunyi dari sisa panas mentari atau sekadar menghindari kebisingan.

Gelombang orang yang biasanya akan menelan nyali seorang petani desa yang tidak berpengalaman mengalir melewati Mika.

Dengan cekatan, ia menerobos kerumunan menuju Gerbang Selatan.

Pada siang hari, gerbang ini dipenuhi pedagang dan kuda, namun menjelang waktu penutupan, lalu lintas mulai sepi. Jalannya memang beraspal baik dan aman, namun jarang ada yang berani bepergian ke luar tembok setelah matahari terbenam.

Jalanan padat yang selama ini menjadi pelindung Mika tidak lagi bisa menyembunyikannya.

Dalam perjalanannya ke sini, beberapa penjaga sempat memperhatikan pakaian "pendeta" yang ia kenakan dari belakang dan mencoba memanggilnya, namun tak ada yang bisa menandingi langkah cepatnya di tengah kerumunan—setidaknya, sampai saat ini.

Mulai sekarang, aku akan sendirian, pikir sang Tivisco itu, sementara hawa dingin menjalar di punggungnya. Ada gumpalan di tenggorokannya yang terasa sangat sulit untuk ditelan.

"Tapi aku sudah bicara besar di depan kawan lamaku," gerutunya di balik jubah. "Sekarang waktunya membuktikan omonganku."

Mika melangkah santai menuju antrean pendek di titik pemeriksaan keluar. Para penjaga memeriksa setiap paspor dan wajah dengan sangat teliti.

Mereka bahkan menggunakan alat mistik—mungkin pendeteksi penyamaran magis—yang membuat antrean bergerak sangat lambat.

Orang-orang mulai menggerutu karena prosedur ini telah menjadi rutinitas membosankan di setiap gerbang selama beberapa hari terakhir.

Mika memainkan paspor kayu pemberian Cecilia di tangannya. Tentu saja mereka tidak akan membiarkanku lewat begitu saja, kan?

Dia tidak boleh ditemukan secara sengaja. Penemuannya harus terasa alami, seolah-olah merupakan hasil dari kecelakaan yang tak terelakkan.

Itulah sebabnya dia mengantre seperti warga biasa—tampak seperti seseorang yang mencoba menyelinap keluar tanpa menimbulkan keributan.

Gilirannya tiba. Saat hanya tersisa beberapa orang di depannya, penjaga gerbang memperhatikan Mika dan mengusap dagunya. Penjaga itu mengeluarkan lembar deskripsi dari saku dadanya, lalu mendongak dengan tatapan waspada.

Sekarang! Begitu sang penjaga menyadari sesuatu, Mika langsung melesat keluar dari barisan.

"Hei, tunggu! Berhenti di sana!"

"Ada apa?!"

"Gadis yang baru saja kabur itu cocok dengan deskripsinya! Hei, cepat kejar!"

Suara peluit melengking bergema di jalanan, memberi tahu semua orang bahwa tersangka telah ditemukan. Para penjaga langsung bertindak tanpa berpikir panjang. Jika mereka sempat merenung sejenak, mereka akan sadar bahwa seseorang yang benar-benar ingin kabur tidak akan muncul di gerbang dengan penampilan yang begitu mencolok.

Namun, untuk saat ini, itu sudah cukup. Naluri pengejaran telah membakar semangat mereka; paduan suara siulan yang bersahutan akan segera memanggil rekan-rekan mereka ke lokasi kejadian dalam sekejap.

Mika melompat ke sebuah gang, merapal mantra pada tumpukan kotak kayu yang tersusun di sana hingga hancur berkeping-keping dan menyumbat jalan.

"Wah?!"

"Apa-apaan ini?! Hampir saja!"

"Sial, kita tidak bisa lewat! Putar balik dan panggil bantuan!"

Meski merasa bersalah telah merusak barang orang lain, Mika harus melakukannya demi menyelamatkan seorang gadis yang tidak bersalah. Ia terus berlari melewati jalan-jalan sempit menuju area rendah tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.

Jalan yang ia pilih sangat sempit dan bercabang, memberikan banyak celah untuk meloloskan diri. Ia sengaja memilih jalur yang tertutup atap atau lorong di antara gedung untuk menghindari pantauan dari tempat tinggi, sambil terus memanfaatkan benda-benda di sekitar untuk menghambat pengejar.

Para pengejarnya pasti merasa heran: gadis yang mereka kejar seharusnya adalah putri bangsawan yang manja, jadi bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan kotak-kotak kokoh itu dengan begitu mudah?

"Hah, hagh," Mika terengah-engah. "Jalan ini diblokir; waktunya ganti rute."

Meski Mika mengenal kota ini dengan baik, para pengejarnya juga bukan amatir.

Mereka adalah pelindung ibu kota yang hafal setiap jengkal jalanan tanpa perlu melihat peta. Mereka mulai membaca pergerakan sang Tivisco dan mencoba mengepungnya.

Saat suara peluit terdengar semakin dekat, Mika sadar mereka mulai mempersempit jarak.

Ia sudah menduga hal ini. Jumlah penjaga kota lebih dari seribu, dan bahkan jika hanya sebagian yang mengejarnya, jumlah itu tetap mencapai ratusan.

Cepat atau lambat mereka akan menangkapnya, kecuali ia tiba-tiba bisa menembus dinding.

"Wah, mereka sudah sampai di sini juga!"

Sang penyihir mencoba menyeberangi jalan utama untuk bersembunyi di distrik lain, namun ia mendengar derap kaki kuda yang mendekat dari ujung gang.

Di ibu kota, kuda biasanya tidak bisa berlari cepat, kecuali jika itu adalah unit kavaleri resmi negara.

Derap langkah kavaleri itu menimbulkan rasa takut di hati Mika, namun ia justru merasa bersyukur. Setiap pasukan dan kuda yang mengepungnya berarti berkurangnya gangguan bagi kawan lamanya dan sang pendeta wanita yang sedang menyelinap keluar dari Kampus saat ini.

"Wah, aku senang sekali tadi sempat berolahraga! Baiklah! Bertahanlah sedikit lagi!"

Dengan memanfaatkan medan yang dihadapinya dan sihirnya yang tepat namun sangat menyebalkan, Mika terus menghindari kejaran patroli dan pengawal Kekaisaran—meskipun ia sadar, pengawal yang terakhir disebutkan itu pasti akan langsung meringkusnya dalam pertarungan satu lawan satu yang adil.

Namun, semangatnya justru membara; bibirnya melengkung membentuk seringai nakal yang luar biasa.

Kegemaran Erich akan petualangan dan berkuda telah memicu Mika untuk melawan rasa kantuk setiap pagi dan berlari kecil mengelilingi Berylin. Latihan dasar yang membosankan itu akhirnya membuahkan hasil.

Dengan adrenalin yang memuncak, Mika bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan siapa pun menangkapnya, meski dia tahu bahwa jalan buntu mungkin saja sudah menantinya di depan sana.


[Tips] Ada tiga jalur untuk bergabung dengan Pengawal Kota Berylin: melalui seleksi ketat pengawal veteran dari kota lain, rekomendasi khusus, atau pendaftaran bagi penduduk asli melalui program tertentu. Karena para bangsawan paling berpengaruh berkumpul di sini selama musim sosial dan Kaisar menetap hampir sepanjang tahun, standar keterampilan dan fisik mereka sangatlah tinggi.

Gaji mereka jauh melampaui penjaga biasa dan menyaingi ksatria daerah demi meminimalisir risiko suap dan korupsi. Akibatnya, posisi ini selalu dibanjiri pelamar, meski sebagian besar dari mereka akan gugur dalam proses seleksi yang ibarat melewati lubang jarum.

◆◇◆

Unit Jager milik Yang Mulia dari Tentara Kekaisaran berbagi tempat tinggal dengan Kekaisaran itu sendiri. Kaisar Pendiri, Richard, bersikeras bahwa hasil perang sangat bergantung pada keakuratan intelijen.

Sebagai langkah nyata, ia membangun majelis mata-mata dan utusan yang terorganisasi.

Kaisar Penciptaan hanya menuntut satu hal: keinginan untuk pulang hidup-hidup. Ia menginginkan sosok bertubuh baja dan berhati dingin yang sanggup mengabaikan moral demi membawa informasi berharga. Ia menyadari bahwa para pemburu adalah ahli dalam sembunyi-sembunyi dan memiliki kecerdasan untuk memprioritaskan kelangsungan hidup mereka sendiri.

Sejarah mencatat bahwa sebelum Richard menjadi kaisar, ia mengumpulkan lima belas pemburu sebagai mata dan telinganya. Mereka memainkan peran krusial dalam pendakiannya menuju takhta.

Di masa modern, Kekaisaran terus menghormati unit pengintai ini dengan gelar Jager. Jika tugas memanggil, mereka akan bergerak ke garis depan untuk menavigasi medan berbahaya, sama sekali tidak terikat oleh taktik kehormatan tradisional yang kaku.

Kini, para sejarawan Rhinian modern mulai curiga bahwa "pemburu" sebenarnya adalah julukan halus untuk sekelompok bandit yang diberi pengampunan oleh Richard sebagai imbalan dinas militer.

Namun, apa pun kebenarannya, sejarah itu telah terkubur selama lima ratus tahun. Para Jager masa kini diagungkan sebagai personel pengintai paling mahir di seluruh Kekaisaran... meskipun gengsi mereka tidak banyak membantu saat mereka harus merangkak di kedalaman selokan kota.

"Ya Tuhan, kelembapannya benar-benar menusuk hidung..."

"Serius. Aku tidak tahan dengan bau ini. Bagaimana manusia bisa betah tinggal di atas saluran seperti ini?"

Para Jager bekerja minimal dalam tim berpasangan. Duo Werewolf dan Gnoll Hyenid mendengus di udara yang lembap sambil menajamkan moncong mereka. Misi memburu sang vampir ini memicu banyak keluhan di antara mereka.

Di antara semua ras, Werewolf dan Gnoll adalah pengintai terbaik.

Selain fisik yang tangguh, kemampuan mereka memakan daging mentah memungkinkan mereka bertahan dalam ekspedisi panjang.

Yang terpenting, hidung sensitif mereka mampu menangkap petunjuk aroma dengan cara yang mustahil bagi manusia biasa.

Kemampuan mereka mengingat bau bahkan menyaingi para Magia—tak heran jika ras mereka mengisi sepertiga dari seluruh Pengawal Kekaisaran.

"Argh, mengirim kita ke sini pasti sebuah lelucon kejam. Mana mungkin ada putri bangsawan yang mau masuk ke selokan menjijikkan ini?"

"Diamlah. Apa kau lupa bagaimana para atasan menggonggong di telinga kita saat pemeriksaan? Kita tidak boleh mengesampingkan kemungkinan sekecil apa pun."

"Baiklah, baiklah. Tapi ayolah, kenapa kita harus di sini hanya untuk peluang satu banding sejuta? Sudah tiga hari penuh. Aku yakin dia sudah kabur dari kota sejak lama."

Sang Gnoll mengernyitkan hidung sambil terus menggerutu; rekan serigalanya memarahi, meskipun sebenarnya dia pun merasakan kekesalan yang sama.

Keduanya terus mengikuti jejak samar aroma manusia, berkeliaran di labirin selokan yang gelap dan berbau busuk.

Karena usaha pencarian di permukaan tidak membuahkan hasil, mereka tidak bisa menepikan kemungkinan adanya pelarian melalui jalur bawah tanah. Peluangnya memang sangat kecil, namun para atasan bersikeras mengirim seseorang, dan keduanya adalah bagian dari kru yang tidak beruntung itu.

Selama tiga hari penuh mereka merangkak di sekitar pipa-pipa kotor ini, mengarungi aroma menjijikkan yang meresap hingga ke bulu, namun belum menemukan apa pun. Sesekali mereka mencium bau manusia, namun biasanya itu hanya para petualang yang ikut mencari—meski mereka jarang ada di ibu kota—atau mahasiswa yang bekerja paruh waktu untuk memelihara fasilitas tersebut.

Salah satu unit lain setidaknya telah mencapai sesuatu: kabarnya mereka berhasil menangkap sekelompok penjahat yang bersembunyi di selokan. Selain itu, tak satu pun dari para Jager menemukan jejak pergerakan atau tempat tinggal di area tersebut—bukan berarti tempat ini layak huni.

Kelembapannya cukup parah hingga membasahi lapisan bulu yang seharusnya hidrofobik, apalagi baunya. Namun, masalah sebenarnya adalah Imperial College memelihara sekelompok makhluk hidup berbahaya sebagai "hewan peliharaan" pembersih. Makhluk-makhluk terkutuk itu merayap di sekitar pipa untuk melahap kotoran sepanjang hari.

Bertemu dengan yang kecil mungkin hanya menyebabkan luka bakar ringan, tetapi jatuh ke cengkeraman yang besar berarti malapetaka. Bahkan jika seseorang berhasil lolos sebelum terbakar hidup-hidup, mereka pasti tidak akan layak tampil di depan umum lagi; pensiun dini ke rumah sakit militer bagi tentara cacat sudah dijamin.

Pasangan pengintai itu telah menahan bau yang menyerang hidung sensitif mereka sambil menghindari lendir-lendir menjengkelkan selama berhari-hari tanpa hasil. Prajurit paling setia sekalipun pasti akan mengeluh dalam kondisi seburuk ini.

Namun, seseorang yang kinerjanya dipengaruhi oleh preferensi pribadi tidak akan pernah menjadi Jager. Meskipun saling mengeluh, para veteran yang terasah itu tetap dalam kondisi terbaik mereka, apa pun situasinya.

Tiba-tiba, telinga mereka berkedut. Mereka menangkap suara yang terlalu samar untuk didengar oleh seorang mensch: dua pasang langkah kaki yang memantul di antara pipa. Bagi para penguntit ahli ini, volume suara menunjukkan berat badan, dan jarak antar langkah menunjukkan tempo; gabungan keduanya memudahkan mereka membayangkan siapa subjeknya.

Keduanya berjalan dengan dua kaki, dengan berat dan langkah yang identik, menggambarkan sepasang manusia muda. Bunyi logam yang berdenting menandakan adanya baju besi.

Salah satu dari mereka memiliki gaya berjalan mantap dan hampir tak terdeteksi—khas seseorang yang terlatih bela diri—sementara yang lainnya tampak awam dalam menyembunyikan kehadiran. Irama kontak kaki dengan tanah menunjukkan bahwa keduanya adalah laki-laki.

Para pengintai Kekaisaran saling melirik dan segera berlari kencang. Tak peduli seberapa banyak mereka mengeluh tentang bulu mereka yang kotor, mereka adalah pemburu Kaisar yang bangga.

Peluangnya tipis, namun sekecil apa pun itu tetap layak diselidiki. Mereka melesat seperti anak panah yang dilepaskan, tidak akan berhenti sampai menemukan sasarannya.

Mereka menerobos lorong sempit dan melompati lereng menurun dalam satu gerakan.

Mereka meloncati aliran air, dan di tempat yang tidak ada jalan setapak, cakar mereka menancap kuat di dinding agar tetap bisa bergerak dengan kecepatan penuh.

Bagi mereka, kecepatan yang sulit diikuti mata manusia biasa ini adalah hal yang lumrah—syarat mutlak untuk menyebut diri sebagai Jager.

Meskipun udara berbau busuk, aroma mensch tercium jelas; manusia memang buruk dalam menyembunyikan bau badan.

Bahkan, kaum mereka sering kali sengaja memakai parfum beraroma kuat yang sangat menyebalkan bagi para Demihuman berhidung tajam.

Namun, saat jarak semakin dekat, pasangan itu memiringkan kepala dengan heran: kedua bau itu adalah bau laki-laki. Dengan keraguan di hati, mereka melompat ke koridor untuk mencegat dan memeriksa kedua orang tersebut.

Yang pertama adalah seorang pemuda berambut pirang yang agak terlalu panjang untuk standar Kekaisaran, dikepang rapi agar tidak tersangkut di baju besi kulitnya. Dia tampak seperti petualang pemula.

Meski tidak bersenjata—tentu saja, karena mereka berada di dalam kota—gerak kaki dan sikapnya menunjukkan keahlian bermain pedang yang mumpuni.

Di belakangnya ada pemuda lain yang mengenakan jubah khas Magia: seorang mahasiswa. Dia membawa tas penuh tabung reaksi berisi cairan aneh dan memegang peta terowongan. Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu mahasiswa miskin yang ditugasi pekerjaan kotor di selokan.

Melihat sepasang Jager muncul tiba-tiba dari dinding, kedua pemuda itu tampak ketakutan.

Pemuda berbaju besi langsung melompat melindungi rekannya, namun ia segera menurunkan kewaspadaan saat mengenali seragam mereka.

Mantel bulu musang murni dengan kerah pendek dan celana panjang hitam legam itu sangat mudah dikenali.

Warna hitam kesetiaan yang tidak akan luntur oleh pewarna apa pun, ditambah sulaman halus yang menandakan pangkat pengawal Kekaisaran; mereka adalah pahlawan bagi setiap anak muda di ibu kota.

"Pengawal Kekaisaran?! Kenapa kalian ada di sini?!"

Para Jager sudah terbiasa menerima tatapan kagum seperti ini. Meskipun si mahasiswa tampak masih bingung, pendekar pedang kecil itu jelas adalah penggemar berat mereka.

Salah orang lagi, desah mereka dalam hati. Namun, ini bagian dari tugas. Para Jager memasang senyum ramah dan meminta waktu mereka sebentar.


[Tips] Para wajib militer merupakan bagian terbesar dari pasukan Kekaisaran, dan negara tidak menetapkan aturan berpakaian ketat untuk pasukan umum. Namun, pengawal pribadi Kaisar dan penjaga ibu kota mengenakan seragam khusus yang tertata sempurna sebagai simbol kebanggaan.

◆◇◆

Banyak orang seperti aku yang telah meninggalkan jejak estetika modern di dunia ini.

Aku tahu lebih baik daripada menunjukkan bahwa pakaian militer dengan kerah tegak baru populer di abad kedelapan belas di Bumi.

Hanya ada satu jawaban yang benar: Mereka sangat keren!

Meskipun memiliki ciri fisik binatang, baik Werewolf maupun Gnoll tersebut sama-sama tampan dalam seragam hitam mereka. Sang Werewolf memiliki moncong ramping yang cerdik, sementara Gnoll dengan surai acaknya memancarkan kesan maskulin.

Aku menatap mereka layaknya bocah laki-laki yang kagum melihat pengawal Kekaisaran. Aku bekerja sama dengan menunjukkan tanda identitasku. Setelah diperiksa, mereka mengembalikannya tanpa interogasi lebih lanjut.

Wajar saja. Kedua pria ini sedang mencari bangsawan Vampire berambut hitam dan bermata merah; menginterogasi mahasiswa dan temannya tidak akan memberikan hasil apa pun.

"Oh, tapi untuk jaga-jaga," kata sang Gnoll, "bisakah kau melepas tudungmu, Sobat?"

"Maaf soal ini," tambah sang Werewolf. "Aku tahu menyebalkan kalau bau selokan menempel di rambutmu, tapi tugas tetaplah tugas."

"Hah? Oh, ya, tentu saja."

Dengan dua Jager yang mengawasi dari belakang, temanku tentu saja menurutinya. Saat tudung kepalanya terlepas, yang terlihat hanyalah rambut pendek berwarna kastanye dan sepasang mata merah tua.

Bentuk bahu dan dadanya memperlihatkan siluet tubuh laki-laki yang meyakinkan. Bahkan bagi mereka yang memiliki penciuman lebih tajam dariku, aroma tubuh yang terpancar darinya pasti akan menghapus keraguan bahwa dia adalah seorang pria.

"Terima kasih," kata si Gnoll itu. Aku menduga dia adalah tipe orang yang sangat memperhatikan detail, karena kerutan kecewa di wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan sedikit pun.

"Maaf sekali lagi karena telah menghentikanmu. Silakan lanjutkan perjalanan kalian, dan jangan lupa berteriak jika kalian bertemu orang yang mencurigakan. Kami akan segera tiba di sana."

Sang Manusia Serigala menyikut sisi tubuh rekannya sambil memamerkan senyum yang tampak bisa diandalkan. Meski begitu, seringai serigalanya memperlihatkan taring yang terlalu mengerikan bagi naluri manusiaku.

"Tidak masalah sama sekali," jawabku tenang. "Eh, apa terjadi sesuatu di sekitar sini?"

"Bukan hal yang penting. Kami hanya sedang berpatroli untuk memastikan tidak ada pembuat onar yang berkeliaran di area ini."

"’Biji-bijian di ladang masih lebih terbatas jumlahnya daripada orang jahat,’ dan begitulah seterusnya," si Gnoll menimpali sambil meringis dan mencengkeram tulang rusuknya.

Manusia Serigala itu melanjutkan kalimat dari salah satu penyair favoritku. Tak satu pun dari Jager itu yang mencurigai kami lebih dari sekadar sepasang anak laki-laki yang sedang menjalankan tugas.

Tentu saja, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku ragu ada orang yang mampu mengenali temanku ini sebagai Nona Celia tanpa bantuan mata mistis atau teknik Mind Reading yang konyol.

"Pasti sangat sulit menjadi bagian dari Pengawal Kekaisaran. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda."

Meskipun dia menutupi bibirnya dengan tangan yang sopan saat berbicara, sosoknya saat ini benar-benar memancarkan aura seorang "laki-laki yang baik hati".

Bagaimanapun, penyamaran ini tidak akan berhasil jika hanya Mika yang berdandan. Rambut dan mata Nona Celia adalah hasil dari keajaiban tabir surya miliknya, sementara kantong aroma milik Elisa menjaga bau tubuhnya tetap tersamarkan. Sisanya adalah tugasku.

Wah, aku benar-benar telah mengerahkan segalanya. Aku menggunakan skill Crafting milikku untuk menyulap kain perca menjadi bantalan bahu yang tepat demi menciptakan garis tubuh maskulin.

Aku bahkan membungkus bagian tengah tubuhnya dengan sangat teliti untuk menyembunyikan lekuk femininnya. Karena rahangnya yang halus juga terlalu feminin, aku memintanya menyumpal mulutnya dengan kapas agar terlihat lebih tegas.

Sebagai sentuhan akhir, aku mengambil satu set jubah berharga mahal milik Nona Leizniz dari lemari pakaianku. Meskipun kenangan yang melekat pada jubah itu kurang menyenangkan—"Andai saja kau adalah muridku," begitu katanya saat memberikannya—pakaian itu sangat cocok untuk memancarkan aura seorang Magus.

Lalu, di saat-saat terakhir, Nona Celia dengan bersemangat menyatakan bahwa dia harus memotong rambutnya jika ingin dianggap sebagai laki-laki. Mengingat betapa panjang rambut indahnya, aku mencoba mencegahnya.

Namun, dia bersikeras dengan alasan bahwa rambutnya akan kembali ke panjang semula setelah keajaiban itu berakhir. Meski hatiku sakit melihatnya, dia mengambil gunting dan memotong rambutnya dengan sembarangan.

Bukan itu yang ingin kukatakan. Meski hanya sementara, melihatnya dengan ceroboh mengorbankan apa yang secara tradisional merupakan harga diri seorang wanita sungguh menyakitkan, tak peduli betapa senangnya dia melakukan itu.

Terlebih lagi, potongan rambut yang tidak direncanakan itu awalnya berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Mencoba menatanya kembali menjadi sesuatu yang rapi benar-benar sebuah cobaan berat bagiku.

Aku sangat bersyukur bisa memperbaikinya menjadi sesuatu yang layak dengan mengandalkan statistik Dexterity murni dan sepasang gunting.

Sepertinya kerja kerasku terbayar lunas karena para Jager itu tidak mengenalinya. Aku tahu akulah yang memberikan sentuhan akhir, tetapi aku ragu bahkan aku bisa mengenalinya jika kami baru bertemu kembali setelah beberapa tahun.

Tepat saat aku bersiap mengucapkan selamat tinggal dengan senyum tenang, kedua agen rahasia itu tiba-tiba menolehkan leher mereka serentak ke arah yang sama dengan kecepatan yang menakutkan.

"Ke arah sana."

"Jauh sekali. Berlari lewat atas akan lebih cepat."

"Setuju. Pintu keluar terdekat ada di dua pipa di belakang."

Bagi kami, percakapan mereka seolah muncul begitu saja tanpa konteks. Mereka pasti mendengar sesuatu yang terlalu samar untuk telinga manusia... seperti gema bisu dari peluit bantuan di kejauhan.

"Jika Anda berkenan, kami harus pamit sekarang. Hati-hati di sini, kawan."

"Terima kasih sekali lagi atas bantuannya! Berhati-hatilah agar tidak terpeleset!"

Para Jager itu melesat secepat kedatangan mereka. Bahkan aku tidak akan bisa menandingi kecepatan tinggi mereka. Aku melambaikan tangan dan tetap memasang wajah ramah hingga mereka benar-benar hilang dari pandangan.

Langkah kaki mereka bergema di pipa-pipa untuk beberapa saat, sebelum akhirnya sunyi kembali menyelimuti.

"Apakah..." Nona Celia mengintip ke dalam terowongan yang mereka lalui. "Apakah mereka sudah pergi?"

"Ssst, mereka belum terlalu jauh." Aku menarik bahunya dan menutup mulutnya dengan tangan. Kami harus mengambil rute yang aman karena tujuan kami masih cukup jauh.

"Apakah itu tadi Mika?"

"Aku tidak bisa membayangkan itu adalah orang lain. Sepertinya dia benar-benar berhasil memancing mereka."

Aku merasa kagum dengan strategi Mika. Menyadari bahwa para penjaga yang kewalahan akhirnya akan mengepungnya di jalanan, dia pasti melompat ke selokan untuk mendapatkan keuntungan medan.

Mengetahui betapa liciknya dia, aku yakin dia akan mempermainkan mereka di atas tanah sampai hampir tertangkap, lalu bersembunyi di pipa besar tempat dia bisa menggunakan air mengalir untuk berpindah lokasi dalam hitungan detik.

Blessing milikku mungkin memberiku kemampuan untuk mengasah mental, tetapi kecerdasan Mika jauh melampaui apa pun yang bisa kuharapkan.

Aku merasa kasihan pada para penjaga malang yang terpaksa melintasi selokan asing ini demi mengejarnya. Setidaknya, aku berharap tidak ada dari mereka yang harus berhadapan langsung dengan Giant Slime.

Kalau dipikir-pikir, Mika baru-baru ini dengan gembira memamerkan mantra baru: dia bisa mengubah katalis kecil menjadi sebuah rakit untuk satu orang. Sekarang, dia pasti sedang meluncur di aliran air, menjauh dari para pengejarnya.

Sahabat lamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan teman baru kami. Sekarang, giliranku untuk melindungi Nona Celia dengan segenap tenagaku.

Kami berdua berjalan mencari jalan keluar. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, Nona Celia kembali membuka suara. Meskipun waktu kebersamaan kami singkat, aku tahu dia adalah tipe yang tidak tahan dengan keheningan saat bersama orang lain.

Aku akan melayaninya berbicara, asalkan dia tidak memilih topik yang berbahaya.

"Kau tahu," dia memulai, "ada begitu banyak petugas patroli hari ini. Aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang sedang terjadi."

Pengakuannya bahwa kami sedang dikelilingi oleh orang-orang yang peka menghasilkan ungkapan-ungkapan yang agak bertele-tele—sesuatu yang sangat aku syukuri. Terlepas dari hidupnya yang menyendiri, kefasihannya dalam hal rumit seperti ini menunjukkan garis keturunan aristokratnya.

"Benar," jawabku. "Bayangkan saja, kita berpapasan dengan Pengawal Kekaisaran sampai tiga kali. Hari ini pasti hari keberuntungan kita."

Ya, itu adalah sebuah sarkasme.

Oke, aku akui: Aku meremehkan mereka. Penyamaran Nona Celia awalnya hanyalah tindakan pencegahan. Dalam hati, aku mengira ruang bawah tanah akan sepenuhnya aman setelah tiga hari bersembunyi.

Namun, saat kami turun, tempat ini justru penuh dengan para pelacak yang bekerja sangat keras.

Sepasang Jager tadi bukanlah yang pertama. Tidak, kehormatan itu jatuh kepada Goblin dan Floresiensis yang kami temui sebelumnya. Setelah mereka, muncul seekor Orb Weaver Spider—jenis laba-laba yang umum—dan seekor reptil mirip tokek.

Setiap kali dihentikan, kami menunjukkan identitas dan surat perintah kerja palsu yang kucuri dari papan pengumuman kampus agar mereka berhenti mengganggu kami.

Bisakah kau menyalahkanku karena lengah setelah tiga hari? Kebanyakan orang normal akan mengira target mereka sudah lama meninggalkan kota dan mulai fokus mencari di luar tembok.

Situasi ini menuntut kami untuk bertindak cepat. Aku memilih jalan yang biasanya diblokir oleh Slime dan merangsek maju menggunakan Unseen Hands. Jika kami kehilangan kesempatan sekarang, kami akan menghabiskan sisa hidup kami bersembunyi di studio.

Ditambah lagi, kita sudah memberikan mereka terlalu banyak waktu. Jika mereka sampai mengerahkan Magus sekalipun yang tingkatnya setara Nona Leizniz atau pendeta tingkat tinggi dengan kemampuan Miracle, maka itu akan menjadi skakmat yang mustahil dimenangkan...


[Tips] Distrik Suci terletak di Berylin Utara, tepat di sebelah kawasan bangsawan. Setiap dewa dalam jajaran dewa Rhinian memiliki kuil di sana. Namun, bahkan para dewa memahami kota politik itu apa adanya.

Hampir tidak ada kapel yang berfungsi sebagai pusat otoritas utama bagi agama terkait, meskipun arsitekturnya yang mengesankan sering membuat orang berasumsi demikian.

Kuil tidak hanya terbatas di Distrik Suci. Ada paroki-paroki kecil yang tersebar di seluruh kota untuk umat awam. Biara di Distrik Suci lebih difokuskan untuk studi apologetika dan asrama pendeta, sementara layanan masyarakat harian dilakukan di tempat yang lebih dekat dengan pemukiman.

◆◇◆

Dua pikiran terukir dalam hati pelajar muda itu: Ini berjalan dengan sangat baik! dan, Tapi aku bersumpah akan berendam di bak mandi selama seharian penuh setelah semua ini selesai.

Setelah menghabiskan lebih dari setengah jam berlari ke sana kemari, gadis itu akhirnya merasa terpojok.

Saat para penjaga mendekat, dia bisa saja menyerah dengan lapang dada agar tidak mendapat perlakuan kasar saat ditangkap... namun dia tidak melakukannya.

Sebaliknya, dia merobek penutup lubang got yang seharusnya hanya bisa diakses oleh personel khusus, lalu melompat masuk ke dalamnya.

Penutup saluran pembuangan tersebut memang dirancang khusus untuk mencegah warga sipil atau anak-anak yang penasaran masuk sembarangan.

Penutup itu hanya bisa dibuka dengan memutarnya ke posisi tertentu dan menariknya dengan sudut yang sangat spesifik.

Tentu saja, hanya petugas perusahaan air kota yang mengetahui rahasia ini, dan mereka semua terikat kontrak ketat untuk tidak membocorkannya kepada siapa pun.

Para pengejar pun terhenti dalam kebingungan. Target mereka tidak hanya mengambil jalan yang seharusnya tidak ia ketahui, tetapi juga terjun ke perosotan kotor yang akan membuat orang normal bergidik ngeri. Saluran itu mengarah ke pipa air hujan yang mengalir deras dari jalanan.

Selama seseorang bisa menahan rasa sakit luar biasa di bokong mereka—atau menyiapkan papan kayu untuk berseluncur seperti yang dilakukan Mika—pipa berkelok-kelok itu bisa menjadi rute pelarian praktis menuju lantai bawah tanah.

Segelintir penjaga melompat mengejarnya karena refleks, tetapi sebagian besar tertahan dengan bahu menegang. Pertunjukan yang tidak masuk akal itu memaksa mereka menilai kembali situasi.

Tak ada wanita normal yang sudi memilih selokan, tidak peduli seberapa putus asanya dia. Lagi pula, gadis bangsawan mana yang memiliki stamina untuk berlari lebih cepat dari penjaga kota dalam waktu selama itu?

Sayangnya, kasihan para lelaki itu. Sebagai pelayan masyarakat dan anggota garnisun, mereka diborgol oleh sumpah kesetiaan.

Ada sosok mencurigakan yang melakukan tindakan mencurigakan; fakta bahwa dia menghilang ke dalam selokan yang gelap dan lembap bukanlah alasan bagi mereka untuk berhenti bertindak.

Teriakan perang yang gagah—meski beberapa terdengar sangat tidak jantan—bergema di belakang Mika saat ia dengan cekatan mengarahkan kereta luncurnya ke bawah.

Dahulu kala, ia pernah bercanda tentang meluncur di dalam pipa untuk menghemat waktu; lamunan konyol itu kini menjadi kenyataan yang sangat nyata.

Karena tidak mampu mengikuti liku-liku jalur yang telah diperhitungkan Mika, sebagian besar pengejarnya tersesat ke jalur bercabang yang salah.

Akhirnya, Mika tiba di tujuannya: sebuah pipa lebar berisi aliran air yang deras.

Enggan melepaskan tunggangannya, sang penyihir merombak kereta luncur kayu itu dengan mantra saat masih di udara. Ia mendarat di sungai bawah tanah dengan sebuah rakit yang baru saja tercipta.

"Wah, ini benar-benar mengerikan!"

Papan-papan kayu itu merenggang secara otomatis, dan salah satunya berubah menjadi dayung untuk mengendalikan perahu.

Mika menggigit tongkat sihirnya agar kedua tangannya bebas—tidak ada aturan yang melarang menggigit tongkat sihir—dan berusaha keras menenangkan diri. Ia merapalkan mantra untuk menstabilkan perahu yang bergoyang-goyang itu.

Selama dia tidak terbalik, sisa rencananya pasti akan berjalan lancar. Dengan membiarkan dirinya terbawa arus yang deras, dia mengapung ke hilir jauh lebih cepat daripada yang bisa dikejar oleh siapa pun.

Meskipun ini adalah momen pelarian yang mendebarkan bagi Mika, bagi para pengejarnya, ini adalah sebuah tragedi. Mereka terjatuh dari perosotan panjang yang bergelombang hanya untuk terhempas ke air setinggi kepala.

Garnisun ibu kota memang memiliki program pelatihan di parit luar, jadi prajurit berbaju besi itu tidak berisiko tenggelam, tetapi itu bukan berarti mereka bisa bergerak dengan lincah di dalam air.

Terus terang, ini adalah medan terburuk bagi mereka. Tak ada satu pun penjaga yang mengenakan perlengkapan untuk misi amfibi.

Mereka mengenakan pelindung dada yang berat, atau pakaian kulit yang menjadi sangat berat dan menempel di tubuh saat basah.

Dengan sepatu bot yang terendam air, setiap langkah mereka terasa seperti sedang menyeret beban berat.

Lebih buruk lagi, mereka yang tidak memiliki kemampuan Night Vision hampir tidak bisa melihat apa pun.

Cahaya alami adalah hal asing di tempat ini, dan mereka turun terlalu terburu-buru hingga tidak sempat menyiapkan penerangan yang memadai.

Hanya para kapten yang dilengkapi dengan obor ajaib yang mampu menyala di tengah badai, namun para perwira komandan itu tetap berada di atas untuk koordinasi.

Mengingat harga obor itu sangat mahal, Kekaisaran tidak mampu membekali setiap prajurit dengan peralatan luar biasa semacam itu.

"Sialan! Jangan melompat sembarangan atau kalian tidak akan bisa keluar! Siapa pun yang tidak punya Night Vision, minggir!"

"Argh! Aku tidak bisa mencium bau apa pun! Hei, siapa yang punya lentera?!"

"Lupakan saja! Aku bahkan tidak bisa menyalakan kotak korek apiku!"

Di sisi lain, Mika sedang mendayung ke hilir dengan cahaya misterius sebagai penunjuk jalan. Dia telah belajar banyak dari pertemuan terakhirnya di selokan.

Selama tiga hari terakhir, dia telah mengembangkan mantra baru yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri dengan bantuan gurunya.

Meskipun sang guru tampak kurang senang karena muridnya mempelajari rumus yang tidak terkait dengan Oikodomurgy, beliau tetap membantu dengan prinsip bahwa ide-ide sederhana sering kali membawa momen pencerahan.

"Bagaimana bisa dia berlayar dalam kegelapan ini?! Sial... Apa kita harus menunggu lebih lama lagi sampai pasukan nokturnal tiba?!"

"Siapa pun yang bisa melihat harus memimpin jalan! Prioritas utama adalah memastikan kita tidak tenggelam!"

"Bunyikan peluit! Kita harus memanggil Patroli Saluran Pembuangan!"

Perbedaan situasi yang mencolok itu membuat para penjaga yang kebingungan tertinggal jauh di belakang, berubah menjadi titik-titik kecil dalam sekejap mata.

"Um," Mika bergumam pada dirinya sendiri, "Aku harus berbelok di sini, lalu melihat ke kanan, dan kemudian..."

Namun, sang penyihir tahu bahwa keuntungannya hanya sementara. Garda kota memiliki pasukan Duyung yang tangguh mengingat luasnya parit di Berylin.

Betapapun kotornya pipa-pipa ini, para spesialis akuatik itu akan langsung terjun jika diberi kesempatan sedikit saja.

"Baiklah, sekarang atau tidak sama sekali!"

Mika mungkin sudah mengenal dunia bawah tanah, tetapi dia tidak akan bisa menang jika seluruh penjaga kota mulai serius mengepungnya. Pada akhirnya, dia akan tertangkap—kecuali jika dia segera menjalankan rencana selanjutnya.

Saat mendekati sebuah persimpangan, Mika mengeluarkan botol kecil dari tasnya dan melemparkannya ke dinding. Kaca rapuh itu pecah, menumpahkan isinya ke dalam air. Tiba-tiba, reaksi mistis terjadi, mengubah aliran air menjadi parfum berminyak.

Ini adalah hadiah dari gurunya. Tujuan aslinya adalah untuk mengubah mandi biasa menjadi perawatan kulit aromatik bagi wanita bangsawan.

Membuang produk seindah itu ke dalam limbah adalah pemborosan yang mengerikan, apalagi beberapa tetes saja sudah cukup untuk satu bak mandi penuh. Namun, Mika menghabiskan seluruh botol demi rencananya.

Di kejauhan, suara gemuruh yang mengerikan mengguncang pipa-pipa. Hanya beberapa hari sebelumnya, suara cairan kental yang mengalir di air akan membuat darahnya membeku. Namun sekarang, "penjaga selokan" itu adalah sekutunya. Seekor Giant Slime telah menyadari tingkat polusi dramatis yang disebabkan oleh ramuan ajaib tersebut.

"Oh—astaga! Berhasil! Oke, oke, selanjutnya!"

Mika tidak lupa teriakan para bandit saat mereka mundur dari pertempuran sebelumnya: "Terlalu banyak darah!". Melalui analisis itu, penyihir tekun ini menyadari bahwa para Slime bisa dimanipulasi dengan mengotori air menggunakan kontaminan yang kuat.

Ia menggunakan pengetahuan yang didapat dari upaya penculikan tempo hari untuk membantu sang putri yang menjadi targetnya. Ironi itu membuat Mika terkekeh kecil saat ia melemparkan botol kedua untuk menutup jalan sepenuhnya.

Tak peduli seberapa hebat pengejarnya, tidak ada yang bisa melewati Slime jika makhluk itu memenuhi seluruh terowongan. Meskipun seorang penyihir mungkin bisa mendorongnya dengan penghalang, ukurannya terlalu besar untuk dilewati tanpa memutar jauh. Terlebih lagi, para penjaga adalah pekerja yang patuh; mereka tidak akan beranjak ke lokasi baru sampai tugas mereka di sana benar-benar selesai.

Mika tahu dia tidak punya peluang dalam pertarungan langsung, tetapi para penjaga itu tidak lebih dari sekadar orang-orangan sawah jika tidak ada jalan untuk mencapainya. Dia benar-benar merasa dirinya jenius saat menyusun rencana ini.

Trik itu berjalan mulus, dan ia akhirnya mendekati ujung jalur. Beberapa pipa saling terhubung membentuk terowongan raksasa. Di depan, terbentang lubang hitam pekat yang menelan derasnya arus air.

Mika terjatuh—dia meluncur bebas dari tepi air terjun bawah tanah.

Tentu saja, dia tidak terjun tanpa persiapan. Dia baru saja mempelajari mantra Physical Barrier, menyelimuti dirinya dengan lapisan pelindung tipis dari kepala hingga kaki yang juga berfungsi sebagai kantong udara. Meski hanya bertahan beberapa menit, derasnya arus air berarti dia tidak butuh waktu lama.

Masalah sebenarnya ada di depannya. Mika menyipitkan mata, menatap tajam ke arah air yang berlumpur.

"Itu dia!"

Batang-batang logam raksasa mulai terlihat. Di titik pertemuan air ini, terdapat kisi-kisi penyaring sampah fisik yang terdiri dari tiga lapisan.

Lapisan pertama berukuran sangat besar untuk menangkap kayu apung; lapisan kedua adalah jaring yang lebih rapat yang hanya bisa dilewati anak kecil; dan yang terakhir adalah dinding serat untuk menyaring partikel terkecil.

Dengan arus sekuat ini, tabrakan langsung dengan jeruji besi bisa berakibat fatal. Mika tetap tenang, menganalisis arus, dan memposisikan dirinya.

Namun di detik-detik terakhir, dia hanya bisa memejamkan mata dan berdoa.

Perjudiannya berhasil. Dia menyelinap melalui celah tanpa hantaman fatal. Sebaliknya, rakit yang membawanya hancur berkeping-keping saat menghantam sekat logam.

Setelah lolos dari hantaman air dan logam, Mika mendapati dirinya terperangkap di lapisan kedua yang lunak. Jaring ini menampung berbagai sampah dan bangkai hewan kecil. Mika merasa jijik saat menyadari dirinya dikelilingi tumpukan kotoran. Bahkan dengan penghalang yang aktif, dia bisa merasakan kulitnya merinding.

Ini membuktikan bahwa sistem filtrasi biologis di selokan ini tidaklah sempurna.

Mengingat para Slime tidak bisa berada di mana-mana sekaligus, jaring ini menjadi semacam "kafetaria" yang hanya dibersihkan sesekali.

Tak ingin membuang oksigen berharganya di tempat menjijikkan ini, Mika dengan panik mendorong tumpukan sampah untuk mencapai sisi lain.

Akhirnya, dia berhasil melepaskan diri melalui lubang di jaring. Penghalang sampah tadi telah mengurangi sebagian besar momentum air, sehingga sang penyihir membiarkan arus yang lebih lembut membawanya sejenak.

Hingga akhirnya, ia membentur dinding cokelat yang besar. Ini adalah salah satu penemuan jenius dari Kampus: jaring serat yang sangat tipis namun kuat, dirancang sebagai tahap pemurnian terakhir.

Karena mustahil melewatinya secara normal, Mika mengaktifkan mantra untuk melubangi kain tersebut.

Menghancurkan infrastruktur publik sebenarnya melukai harga dirinya sebagai seorang Oikodomurge, tetapi saringan itu dirancang untuk bisa memperbaiki dirinya sendiri secara otomatis.

Ia melewati lubang tersebut sambil membisikkan permintaan maaf kepada penciptanya.

Setelah keluar ke sisi lain, ia hanyut sedikit lebih lama sebelum akhirnya dilepaskan sepenuhnya.

Dia telah keluar: air yang telah dimurnikan di selokan ini akhirnya mengalir menuju sungai besar yang membelah kota.

Ada jarak jatuh yang cukup tinggi dari ujung pipa terakhir menuju permukaan sungai. Mika meluncur keluar seperti batu yang jatuh. Ia terjun ke sungai dengan cipratan hebat, sempat merasa panik sampai suara sahabatnya terngiang di benaknya.

"Begini, Mika, kalau kau kehilangan arah di bawah air, hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah berhenti bergerak sejenak. Apakah kau akan tenggelam atau mengapung itu tergantung banyak faktor, tapi dengan begitu, kau bisa tahu ke arah mana permukaan berada."

Saat itu, mereka sedang mendiskusikan sebuah adegan novel di mana tokoh utamanya jatuh dari air terjun. Saat Mika bercanda bahwa dia akan tamat jika mengalami hal serupa, itulah jawaban yang diberikan sang sahabat.

Sejujurnya, Mika lebih mengharapkan jawaban seperti, "Jangan khawatir, aku pasti akan menyelamatkanmu."

Namun, nasihat paling berguna memang sering datang dari momen tak terduga. Mika meringkuk dalam posisi janin dan melemaskan seluruh ototnya, membiarkan aliran sungai membawanya.

Gelembung pelindungnya mulai kehabisan oksigen, tetapi udara yang terperangkap di dalamnya perlahan menyeretnya naik.

Akhirnya, Mika muncul di permukaan. Sambil berbaring telentang, dia mengapung perlahan mengikuti arus, menatap langit malam yang berkilauan.

Bulan menggantung tanpa beban—tidak purnama, melainkan bulan sabit yang sedang memudar.

Sayang sekali. Bulan purnama pasti akan terlihat lebih indah.

Namun, sinar lembutnya tetap bersinar terang, seolah memberikan penghormatan atas segala pengorbanan yang telah ia lakukan demi sahabatnya—demi pengikut setia Sang Malam itu.

"Wah... aku benar-benar kehabisan tenaga."

Kehabisan energi, Mika membiarkan arus sungai menentukan arahnya. Saat ia hanyut, rambut yang sebelumnya ia potong pendek mulai menyusut kembali ke panjang aslinya dan menyerap kelembapan hingga membentuk gelombang yang lembut.

Penyamaran magis terakhirnya pun luntur, mengembalikan warna matanya ke semula. Seolah-olah ramuan itu sendiri menyatakan bahwa perannya dalam sandiwara ini telah berakhir.

"…Baiklah, saatnya mandi. Aku akan kembali segera setelah pakaianku kering!"

Sambil berenang tengkurap, Mika menuju ke tepi sungai dengan sumpah di dalam hati.

Meskipun ia tidak bisa meredakan kecemasan atas nasib teman-temannya, ia tahu bahwa ia tidak akan bisa menghubungi mereka dalam waktu dekat.

Untuk saat ini, hal terbaik yang dapat dilakukannya adalah membersihkan diri dari sisa air hujan, kotoran, dan keringat yang membasahinya, lalu menunggu dengan sabar hingga mereka kembali.

Aku yakin mereka akan baik-baik saja, pikir Mika sambil menatap langit. Bagaimana mungkin mereka tidak selamat di bawah bulan seindah ini?


[Tips] Fase bertambah dan berkurangnya bulan merupakan hal yang sakral bagi pemuja Dewi Malam, di mana setiap fasenya memiliki makna puitis tersendiri. Namun, bulan baru bukanlah pertanda buruk; itu adalah hari istirahat bagi para pengikutnya, karena sang Dewi diyakini sedang berkunjung ke kediaman Dewa Matahari.

◆◇◆

Distrik Suci terletak di bagian utara ibu kota—tepatnya di wilayah utara-barat laut. Setiap bangunan di sana adalah tempat ibadah atau tempat tinggal para pendeta.

Sebagian besar orang sepakat bahwa berziarah ke sini adalah hal terpenting kedua setelah kuil utama agama masing-masing, bahkan bagi mereka yang tidak terlalu spiritual.

Nuansa kalem dari batu bata, marmer, granit, dan batu kapur mewarnai pemandangan dengan anggun tanpa terkesan berlebihan.

Lokasinya sangat tenang; menara-menara di sana tidak dibuat menjulang tinggi demi menghormati istana kekaisaran, dan ornamen-ornamennya dibuat sederhana tanpa patung megah atau ikon berlapis emas.

Bahkan para pencinta kemewahan norak dari Circle Brilliant pun membatasi kilauan mereka hanya di dalam ruangan.

Hal ini membuat kuil Dewa Matahari tetap terlihat bersahaja dalam segala kemegahannya.

Namun, Biara Bapa Tuhan mungkin adalah bangunan terbesar di wilayah yang dilindungi ini.

Meskipun Kekaisaran tidak mengatur ukuran tempat suci melalui undang-undang, otoritas keagamaan telah lama menetapkan hierarki mereka sendiri.

Sekali pandang saja sudah cukup untuk mengetahui siapa yang berkuasa di sini. Pengamatanku tertuju pada lambang matahari, yang membuktikan bahwa tebakan awalku memang benar.

Wajar jika kuil terbesar kedua di sebelahnya adalah milik istrinya, namun warna bangunan yang lebih terang menunjukkan bahwa itu adalah milik Dewi Panen.

Ayah dan Ibu para dewa biasanya ditempatkan di lokasi yang berjauhan, sering kali di sisi jalan atau distrik utama yang berseberangan.

Meskipun aku tidak bisa melihat lambang bundel gandum milik dewi-ku di bangunan itu, hampir mustahil tradisi budaya tersebut dipatahkan di ibu kota.

Aku hanya sekadar melihat-lihat, namun pengamatan singkat ini akhirnya menenangkan jiwaku yang lelah. Arsitektur yang sederhana dan anggun menunjukkan integritas tinggi yang membuat seluruh sektor terasa diberkati.

Aku benar-benar terpesona; tempat ini dirancang sedemikian rupa untuk membangkitkan suasana surga di bumi, sebuah tempat yang pantas untuk menyambut para dewa.

Di Era Informasi, tempat ini pasti akan dipenuhi peziarah yang sibuk mengambil foto dengan ponsel mereka—bukan berarti aku berhak memandang rendah mereka.

Jika punya waktu, aku ingin sekali berjalan-jalan santai menikmati pemandangan. Sayangnya, rutinitas pekerjaan membuatku terlalu sibuk untuk mengunjungi sudut kota yang kurang relevan bagi urusanku.

Mengesampingkan pengamatan pribadi, hari sudah beranjak sore. Aku tetap berada di dalam lubang got, hanya membukanya sedikit untuk mengintip. Area ini ternyata tidak terganggu oleh hiruk-pikuk yang biasanya melanda ibu kota.

Keindahan tenang dari tempat ibadah yang unik ini seolah mampu menyihir setiap pengunjung yang melewati jalan setapak suci ini ke dalam keheningan yang penuh kagum.

Suka atau tidak, Koridor Penyihir adalah tempat yang jauh lebih ramai dan berkembang. Bahkan dalam hal suasana, ilmu sihir dan agama tetap menjadi dua kutub yang bertolak belakang.

"Akhirnya kita sampai," kataku sambil membantu Nona Celia keluar. Setelah membersihkan bau selokan dari tubuh, kami akhirnya punya waktu untuk beristirahat… atau setidaknya begitulah pikirku. "Tapi, ini sedikit lebih buruk dari dugaanku."

Ada lebih banyak penjaga yang berbaris di Distrik Suci daripada yang kubayangkan. Para penjaga kota bersenjata lengkap berbaur dengan prajurit biasa yang mengenakan pelindung dada dan helm yang sering kulihat setiap hari.

Selain itu, tidak ada yang memberitahuku bahwa aku harus waspada terhadap lebih banyak petugas rahasia setelah bertemu mereka tiga kali dalam satu hari.

Oke, secara logika, ini masuk akal. Menjaga tempat perlindungan bagi seorang pelarian adalah prosedur standar. Seorang gadis yang selalu terlindungi tidak akan mungkin melarikan diri selama tiga hari sendirian melawan kekuatan sebesar ini; jelas, mereka menduga ada bantuan dari orang dalam.

Teman lamaku memang telah membuat perjalanan kami ke sini menjadi lebih mudah, namun kehadiran target yang paling dicurigai tidak akan membuat mereka meninggalkan pos demi melakukan pengejaran.

Mengapa para penjaga ini harus begitu kompeten? Rasanya menyenangkan saat mereka melindungiku, tetapi saat aku mencoba menyelinap melewati mereka, kompetensi itu sungguh menjengkelkan. Cukup sudah. Aku tidak akan pernah mencoba melawan pihak berwenang lagi.

Mencoba mencari celah, aku berpikir untuk berlindung di gang sambil merencanakan langkah selanjutnya… hanya untuk mendapati bahwa jalan belakang pun dipenuhi penjaga.

Cara mereka berdesakan di setiap sudut membuatku merasa seolah-olah mereka sedang berusaha menindasku secara pribadi.

Bahkan seorang pembunuh parkour berkerudung pun akan kesulitan menembus jaring ini. Namun, kami berhasil memanfaatkan peluang sekilas untuk menyelinap ke sebuah gang.

Otakku berputar dengan kecepatan penuh, namun pikiran pertama yang muncul adalah: Mengapa orang-orang brengsek ini begitu keras kepala?

Dan tentu saja, jawabannya karena ini adalah kenyataan. Sekali lagi, aku diingatkan bahwa kesulitan yang kuhadapi bukanlah sebuah stealth game yang dirancang untuk bisa diselesaikan.

Sungguh luar biasa bagaimana aku bisa menipu diriku sendiri setelah sebelumnya menjadi sasaran haus darah di rumah bangsawan dan labirin itu.

Meski aku kesal pada diriku sendiri karena sulit belajar dari pengalaman, pikiran negatif tidak akan membantu. Aku memutuskan untuk menyuarakan kekhawatiranku kepada Nona Celia.

"Aku rasa kita tidak akan bisa melewati penjaga sebanyak ini…"

"Benar," jawabnya. "Kapelnya ada di sana… lihat? Kau lihat bangunan dengan menara itu?"

Aku mengikuti arah telunjuknya dan menemukan sebuah menara lonceng tinggi. Di puncaknya, sebuah bayangan tampak berjongkok, diwarnai merah tua oleh matahari terbenam. Sosok Siren dengan sayap besar sedang bertengger di sana.

Siren adalah ras aneh yang posisinya tidak jelas antara manusia setengah (Demi-human) dan manusia iblis. Meskipun berasal dari satu bangsa, anatomi mereka sangat bervariasi.

Ada yang ditutupi bulu dengan sayap sebagai pengganti lengan, sementara yang sangat jarang, sosok mereka tidak berbeda dari manusia kecuali sepasang sayap di punggung mereka.

Beberapa penulis di Bumi pernah berpendapat bahwa manusia dengan sayap di punggung tidak akan bisa terbang karena berat tubuh melebihi daya angkat.

Namun, para Siren tidak peduli dengan teori itu; mereka tetap terbang. Yang terkecil bisa lepas landas dari posisi diam, dan yang lebih berat hanya butuh lari pendek untuk membubung ke langit.

Ada beberapa keluarga Siren di Konigstuhl. Yang aku kenal biasanya cukup canggung dengan tangan mereka, tetapi mereka menggunakan kemampuan terbangnya untuk bekerja sebagai pengantar surat antar kota.

Dulu, aku hanya akan bereaksi dengan takjub, tapi sekarang aku menyadari bahwa biologi mereka memungkinkan penggunaan sihir secara intuitif. Dalam beberapa hal, mereka mirip dengan peri atau roh.

Kemampuan terbang alami ini membuat mereka menjadi pengintai tingkat atas. Dan dilihat dari seragam yang mereka kenakan…

"Jager lagi?!"

Dunia ini benar-benar melemparkan musuh tingkat tinggi—yang terbaik dari yang terbaik—tepat ke hadapan kami.

Aku hanya bisa melihat punggung mereka, tetapi dari bentuk sayap dan kepala, mereka berasal dari garis keturunan burung pemangsa.

Kemampuan mencari mereka adalah yang terbaik di kelasnya. Aku pernah mendengar bahwa elang dapat menukik mangsanya dengan akurat dari jarak satu kilometer; menghindari pengawasan mereka hampir mustahil.

Melihat semua kejadian hari ini, sepertinya nasibku memang sedang buruk. Jika hidup memiliki tabel Random Encounter, aku baru saja mendapatkan hasil terburuk berturut-turut.

"Mungkin akan sulit untuk meminta bantuan temanmu," kataku sambil meringis.

Mereka telah menjaga titik paling rentan dengan pasukan utama mereka. Pada titik ini, aku tidak yakin Nona Celia bisa mencapai sekutunya bahkan jika dia berhasil menyelinap ke dalam gereja. Dia tidak perlu terlihat oleh penjaga; jika ada orang yang setia kepada keluarganya mengenalinya di dalam, semuanya berakhir.

"Oh, apa yang harus kita lakukan? Aku khawatir terlalu berbahaya jika kita mencoba menyamar sebagai anggota kru."

"Aku ragu itu bisa berhasil. Baik kau maupun aku tidak terlihat seperti pelaut kekar, dan pihak kerajaan tidak akan mungkin mempekerjakan pelaut tua untuk tugas seperti ini."

Berlabuh di Berylin menunjukkan bahwa kapal udara itu akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengisi bahan bakar atau persediaan. Namun, berpakaian seperti awak kapal saja tidak akan cukup.

Proyek yang disponsori negara untuk memajukan kepentingan nasional bukanlah tempat bagi buruh harian untuk mencari pekerjaan. Aku menduga awak kapal dengan pangkat terendah di sana pun adalah pelayan langsung para ksatria.

"Berapa banyak orang yang dikirim Dewi Malam?"

Pertanyaan itu menyisakan satu rute terakhir: metode penyelundupan barang bawaan yang sudah teruji. Jika gereja mengirim utusan, pasti akan ada rombongan besar dengan banyak kargo.

Meskipun mereka tidak akan membawa barang sebanyak rombongan pindahan istana—mereka bukanlah uskup korup dari Abad Pertengahan di Bumi—para pendeta berpangkat tinggi tetap membutuhkan perlakuan yang pantas. Aku membayangkan pasti ada tempat bagi Nona Celia untuk bersembunyi di antara barang-barang itu.

"Hah? Kurasa rombongan asrama kita beranggotakan tiga orang. Kepala Biara akan ditemani oleh dua pendeta, dan karena mereka semua penganut Immaculate, tak seorang pun memilih untuk mempekerjakan pembantu."

Oh? Dalam pikiranku, keterlibatan Dewi Malam seharusnya minimal, tetapi Beliau tetap mendapatkan tiga perwakilan. Itu berarti gereja-gereja dengan jemaat lebih padat akan membawa rombongan yang jauh lebih besar. Jika digabungkan, jumlah afiliasi keagamaan ini akan sangat masif.

Mungkin kapal udara ini jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Awalnya aku membayangkan sebuah Galleass sederhana yang berlayar di langit, tetapi untuk mengakomodasi penumpang sebanyak itu, dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih kolosal.

Para bangsawan, profesor perguruan tinggi, dan pendeta berpangkat tinggi tentu tidak akan tidur di dipan lusuh. Selain kamar tidur mewah yang tak terhitung jumlahnya, para pelayan mereka juga membutuhkan tempat tinggal dan fasilitas dapur. Kapal ini pasti sangat besar.

Tampaknya fantasiku tentang kapal klasik yang mengambang di atas awan telah meleset jauh. Aku justru merasa kurang bersemangat membayangkan kapal mewah yang siap memanjakan penumpangnya dengan perjalanan pesiar keliling dunia muncul di langit.

Apa pun pendapat pribadiku mengenai hal ini, informasi baru tersebut mengharuskan perubahan rencana.

"Tahukah Anda di kapel mana rombongan yang akan berangkat melakukan persiapan?"

Nona Celia meletakkan tangan di dagunya sambil berpikir. Setelah beberapa saat, dia menjawab dengan ragu, "Mungkin."

Tugas ini akan menguras banyak tenaga, tetapi setidaknya matahari sudah hampir terbenam.

Mata burung pemangsa yang waspada itu akan segera kehilangan ketajamannya yang menakutkan. Penglihatan Siren lebih mirip burung daripada manusia; mereka sangat rentan terhadap hilangnya cahaya.

Untuk saat ini, tindakan terbaik adalah menunggu hingga malam tiba sebelum melakukan— Tunggu. Apa-apaan itu?

Aku sedang mencoba mengawasi Siren tersebut ketika sebuah titik melayang muncul di langit utara. Berlatar belakang langit merah tua, noda putih yang mencolok itu semakin membesar setiap detiknya.

Noda yang tadinya kecil menggelembung menjadi bayangan raksasa yang bentuknya terlihat jelas oleh mata telanjang. Meskipun mengambang entah di ketinggian berapa, noda itu tampak sangat besar—lebih besar dari yang dapat dibayangkan oleh otakku.

Perahu putih kapur yang masif itu meluncur di langit yang terbakar warna merah matahari terbenam.

Meskipun bentuknya panjang dan ramping, benda itu seolah mengancam akan menelan seluruh distrik saat membelah atmosfer dengan busur putih salju yang berkilau.




"Itu... sangat besar."

Aku tahu kami harus tetap bersikap rendah hati, tetapi kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Namun, aku tidak sendirian. Semua orang di kota yang memiliki pandangan ke arah langit pasti akan memberikan reaksi yang sama.

Kapal itu sangat ramping—maksudku, relatif terhadap panjangnya. Bagian depannya tampak setajam ujung berlian yang runcing, dan semakin melebar di bagian belakang.

Ujungnya setajam tombak, membelah udara dengan keanggunan aerodinamis yang luar biasa. Dua kelompok sayap, yang masing-masing terdiri dari tiga bilah, membentang di setiap sisinya... didorong oleh mantra yang begitu kuat hingga aku bisa melihat rumusnya secara kasatmata.

Tunggu sebentar. Seberapa besar sebenarnya benda ini?

Perspektifku mengatakan benda ini berada di ketinggian yang cukup jauh, tetapi ukurannya begitu masif hingga indra skalaku seolah menghilang. Kapal itu mungkin tidak menutupi seluruh Berylin, tetapi ukurannya pasti setara dengan salah satu distrik utama kota ini.

Aku tahu ini menakjubkan, tapi... bukan ini yang kuharapkan. Aku menantikan sesuatu yang keluar dari dunia fantasi klasik. Tapi apa-apaan ini?! Benda ini praktis merupakan senjata pemusnah massal—ia sudah mengetuk pintu genre fiksi ilmiah!

Ini benar-benar di luar ekspektasiku! Di mana GM-nya?!

Setelah ternganga sesaat karena terkejut, sebuah pencerahan muncul: perhatian semua orang saat ini tertuju ke langit. Aku melirik ke puncak menara dan mendapati sang Siren berdiri mematung, menatap langit dengan bingung. Penjaga lainnya pun setali tiga uang.

Mereka mungkin—bahkan hampir pasti—sama terkejutnya denganku. Meskipun mereka sudah diberitahu sebelumnya tentang kedatangan kapal itu, tidak ada orang normal yang akan menduga hal mengerikan itu hanya dari deskripsi "kapal yang berlayar di langit".

...Bukankah ini kesempatan yang sempurna untuk melarikan diri?

Para penjaga terpaku menatap langit, dan semua orang terlalu bingung untuk menyadari suara langkah kaki yang lewat di dekat mereka. Saat raksasa itu melaju, aku mengguncang bahu wanita yang masih terkagum-kagum di sampingku untuk menyadarkannya. Sudah waktunya kami pergi.


[Tips] Mystic Circle adalah salah satu dari banyak metode tambahan bagi para penyihir untuk menyempurnakan perapalan mantra mereka. Biasanya lingkaran ini digambar dengan tinta di lantai atau dibentuk dengan untaian cahaya misterius. Para penyihir dari Kekaisaran Trialis menganggapnya terlalu mencolok dan kurang berseni dibandingkan dengan nyanyian mantra (Chanting), tetapi mereka yang mengutamakan fungsi bahkan rela menato tubuh mereka dengan Spell Curse yang paling sering digunakan.

◆◇◆

Dengan paksa menekan suara keras kepala di dalam benaknya yang terus berteriak, Mengapa?, Agrippina du Stahl dengan cekatan memasang senyum anggun setelah berhasil melewati pemeriksaan sosial.

Rambut peraknya yang panjang dijalin menjadi kepang yang menghiasi kepalanya jauh lebih indah daripada mahkota buatan mana pun.

Mengenakan gaun merah tipis yang memperlihatkan keanggunan bahu dan lengannya adalah pernyataan berani yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang dikaruniai kecantikan alami.

Dia tidak butuh riasan berlebih untuk meningkatkan daya tariknya; kehadirannya sendiri menyatakan kepada dunia bahwa pakaian semacam itu memang diciptakan hanya untuknya.

Dengan segelas anggur di satu tangan dan senyum manis yang diwarnai gurat kesedihan, sang Methuselah tampak seperti bunga yang berkilauan di tengah pesta.

Pria-pria dari berbagai kalangan langsung tergila-gila pada bunga indah yang jarang mekar di acara seperti ini—tanpa menyadari adanya racun di akarnya. Mereka mengerumuninya layaknya lebah yang mencari nektar.

Agrippina sebenarnya membenci pertemuan sosial, tetapi bukan karena ia kurang mahir dalam etiket. Sebagai bangsawan Seinian, sekitar satu abad yang ia habiskan untuk bersosialisasi bersama ayahnya sudah lebih dari cukup untuk menyempurnakan keahliannya.

Tidak, sang Methuselah hanya menganggap percakapan basa-basi yang berputar-putar itu sebagai pekerjaan yang melelahkan.

Diundang ke pelayaran mewah atau sekadar berjalan-jalan di taman sama sekali tidak menarik minatnya, bahkan membuatnya ingin muntah.

Dia berusaha menjaga kontak minimal dengan orang lain, dan satu-satunya tujuan dari tempat terkutuk ini adalah menjalin hubungan baru yang sebenarnya ingin ia hindari.

Terus terang, dia ingin membakar teras itu dan pulang.

Hanya sisa-sisa pikiran pragmatisnya yang mampu menahan dorongan destruktif tersebut. Menutupi jiwanya yang suram dengan senyum sempurna, dia berpartisipasi dalam percakapan yang memuakkan dan dengan halus menolak setiap ajakan berdansa.

Dalam hati, dia terus mengumpat penuh kebencian. Objek kebencian utamanya tidak lain adalah Duke Martin, yang telah menyeretnya ke sini dengan dalih, "Ada sesuatu yang harus saya tunjukkan kepada Anda sebelum menulis rujukan untuk jabatan profesor!"

Bayangkan saja, Agrippina begitu gembira ketika Duke Martin membuka surat dari pelayannya dengan wajah kecewa sambil menggerutu soal waktu.

Akhirnya, pikirnya, mimpi buruk ini akan berakhir. Namun, saat dia sudah bersiap pergi, sang Methuselah justru berakhir di balkon dengan pakaian lengkap.

Sebagai pukulan terakhir, sang Adipati yang menjadi sumber penderitaannya justru menghilang karena "keadaan darurat yang tiba-tiba".

Kalau saja pria itu ada di sini, Agrippina bisa menggunakannya sebagai tameng untuk menghalangi serbuan para pelamar bodoh.

Agrippina ingin mengamuk. Mengapa? Mengapa dia harus berada di teras utara istana kekaisaran—Taman Astral yang terkenal itu—untuk menghadiri pertemuan sosial yang dihadiri langsung oleh sang Kaisar?

Bosan dengan segalanya, Agrippina tetap mencatat nama-nama setiap pria yang menghampirinya, sambil melayani topik membosankan yang sebenarnya sudah ia pecahkan sejak masa kecilnya.

Dia terus menyemangati diri sendiri; pertemuan seperti ini paling lama hanya berlangsung beberapa jam lagi.

Dalam keputusasaan, dia meneguk anggur mewah yang disediakan istana.

Saat matahari terbenam membakar langit untuk terakhir kalinya sebelum warna biru tua berkuasa, perhatian orang-orang mulai teralihkan ke arah bintang-bintang.

Agrippina ikut mendongak—dan seketika mata mistiknya terasa perih. Karena dipaksa menyaksikan terlalu banyak rumus sihir sekaligus secara tiba-tiba, retinanya seolah berteriak minta dilepaskan.

"Hngh..."

Kapal yang membelah langit merah itu, tanpa diragukan lagi, adalah kumpulan sihir murni. Mystic Circle terpampang di setiap inci permukaannya, menyerang penglihatannya dengan kilatan mantra yang tak terhitung banyaknya.

Ukurannya terlalu besar untuk stabil secara fisik, sehingga pesawat itu disatukan oleh mantra pengikat (Binding Spell) yang menutupi seluruh permukaannya.

Sihir pengerasan (Hardening) juga dilapisi di atasnya untuk melindungi lapisan misterius pertama. Kapal itu dibangun dengan skala yang begitu gila sehingga tanpa sihir tersebut, ia akan hancur seketika.

Mystic Circle terukir begitu rapat hingga terlihat enam lapisan yang tumpang tindih. Setiap mantra yang digunakan adalah mahakarya: sihir Anti-Gravity, Physical Repulsion Barrier, dan sistem rumit untuk menyalurkan udara melalui celah medan gaya guna mengubah hambatan menjadi tenaga pendorong.

Dibuat dengan teknologi magis paling mutakhir, mantra-mantra pada pesawat itu memancarkan cahaya yang bahkan bisa dilihat oleh orang awam sekalipun—sebegitu besarnya pelanggaran terhadap hukum alam semesta yang dilakukan benda tersebut.

Begitu, ya, pikir Agrippina. Aku mengerti mengapa benda ini layak mendapat pujian dari sang Adipati yang terobsesi pada kebaruan sihir.

Sambil melirik ke sekeliling, Agrippina melihat sebagian besar tamu pesta membeku karena heran.

Beberapa menjatuhkan cangkir mereka, bergumam ketakutan tentang akhir zaman—mungkin akibat terpengaruh ramalan dewa-dewi asing.

Sang Methuselah menyadari bahwa banyak diplomat asing yang hadir; pertunjukan mencolok ini jelas telah mencapai tujuannya untuk mengintimidasi. Melihat reaksi orang-orang di sekitarnya, mereka yang menulis laporan ke tanah air mungkin akan dianggap gila karena deskripsi yang terlalu berlebihan tentang kapal ini.

"Ya ampun. Mereka pasti telah melengkapinya dengan persenjataan yang sangat lengkap."

Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, Agrippina mengambil gelas anggur baru dari nampan pelayan yang masih mematung.

Di saat yang sama, ia melihat para Dragon Knight keluar dari bagian bawah lambung kapal dan terbang ke angkasa. Sungguh, berapa banyak lagi kejutan yang ingin dipamerkan Kekaisaran sebelum mereka merasa puas?

Kini setelah emosinya lebih tenang, Agrippina setuju bahwa pemandangan di hadapannya adalah karya yang mengagumkan. Pesawat itu sangat mencolok, memberikan hiburan visual bagi siapa pun yang memandangnya.

Para Dragon Knight yang berhamburan keluar mulai terbang dalam formasi teatrikal, meninggalkan jejak asap di belakang mereka yang menambah kesan artistik. Namun, kemunculan sesuatu yang begitu menakjubkan justru menimbulkan satu pertanyaan besar: ke mana perginya sang Adipati yang sebelumnya begitu antusias?


[Tips] Istana Kekaisaran adalah rumah bagi tiga aula dansa kecil dan satu aula dansa besar. Terdapat tujuh aula perjamuan, enam ruang makan kecil, dan total dua puluh lima ruang pertemuan—istana ini benar-benar kastil yang dirancang khusus untuk acara sosial.

Empat balkon yang menghadap ke setiap arah mata angin utama digunakan untuk pesta malam hari. Balkon-balkon ini dirawat secara khusus dengan sihir untuk mempertahankan suhu yang nyaman sepanjang tahun, menjadikannya lokasi favorit bagi para politisi.

◆◇◆

Meskipun angin kencang dari kapal besar itu menderu hingga ke jantung ibu kota, suara nyaring Siren yang sedang mengawasi dari kejauhan tidak membiarkan indranya tumpul. Suara samar dari engsel jendela yang berderit terdengar jelas di telinganya.

Atas permintaan pribadi Yang Mulia, Gereja Dewi Malam telah memberlakukan status darurat militer. Siapa pun yang mencoba masuk atau keluar harus berada di bawah pengawasan penjaga kota, dan para pendeta diberi perintah ketat untuk melapor jika sekadar ingin menghirup udara segar.

Biasanya, asosiasi keagamaan Rhine yang sangat independen tidak akan pernah menerima penghinaan seperti itu. Para fanatik itu bersedia menghadapi mahkota kekaisaran dengan pedang di tangan jika iman dan hak mereka dipertaruhkan.

Khususnya, Kepala Biara Malam yang memimpin sekte paling radikal di Kekaisaran. Mereka yang tergabung dalam Immaculate Circle adalah orang-orang gila yang fanatismenya hanya bisa disaingi oleh Austere Circle dari pihak pria.

Suci hingga ke tahap gila, mereka menganggap kesulitan hidup sebagai berkat. Bagi organisasi seperti mereka, tunduk pada otoritas sekuler hampir tidak terpikirkan. Namun, kali ini mereka harus memikul beban tanggung jawab yang berat.

Hilangnya anak yang mereka asuh menuntut pembalasan, meskipun mereka tidak terlibat dalam pelarian tersebut—begitulah kesengsaraan hidup bermasyarakat. Menerima persyaratan yang biasanya mereka tantang adalah bentuk penyesalan yang paling nyata.

Sejujurnya, sang Kepala Biara merasa beruntung karena skandal ini tidak sampai membuat para uskup kehilangan posisi mereka. Bekerja sama dengan negara adalah harga yang sangat murah untuk menghindari nasib itu, meskipun dia harus menggertakkan gigi dan menancapkan kuku ke telapak tangannya saat berseru marah, "Tidak bisakah suster kita yang baik itu menjalani satu tahun saja tanpa insiden?"

Karena itulah, seluruh bagian dalam kuil terkunci rapat. Suara berderit tadi kemungkinan besar adalah hasil campur tangan dari pihak luar.

Ibu kota yang multikultural ini dihuni oleh banyak ras yang pandai memanjat. Kaum Reptilia bisa menempel di permukaan vertikal, dan ras serangga seperti Laba-laba bisa memanjat tembok dengan mudah. Tak jarang warga yang gelisah nekat mengabaikan pintu demi kenyamanan, sehingga pemandangan seseorang dibentak oleh penjaga kota sudah menjadi hal biasa.

Pria itu terbang: satu kepakan kuat dari lengan sayapnya memicu reaksi ajaib yang melepaskan ikatan gravitasi. Dengan memanfaatkan anatomi tubuhnya yang mirip manusia, ia meringkuk untuk berputar cepat saat melompat dari puncak menara, lalu meluncur turun hanya beberapa inci dari atap.

Menganggap gerakannya sebagai akrobat belaka adalah sebuah kesalahan besar. Bagi mereka yang terbiasa dalam tarian hidup-mati pertempuran udara, penguasaan gerakan ini adalah syarat mutlak untuk bertahan hidup.

Hampir menggesekkan paruhnya yang megah di atas kerikil saat turun, sang Imperial Jager melihat seorang penyusup yang mencoba masuk sendirian dan langsung berteriak.

"Kau di sana! Apa yang kau lakukan?! Diam dan buka tudung kepalamu!"

Dilihat dari bentuk tubuhnya, tersangka itu adalah seorang Mensch muda. Bagi seorang Siren seperti dirinya, Mensch adalah ras yang paling mudah ditangani. Untuk alasan yang tidak diketahui, para manusia itu keliru percaya bahwa burung pemangsa sama butanya dalam kegelapan seperti unggas peliharaan.

Kesalahpahaman itu begitu umum sehingga para penyair mengabadikannya dalam pantun: Biarkan kelemahanmu menjadi ringan, karena kegelapan tak memberi cacat pada sang Siren.


[Tips] Banyak prasangka populer tentang ras lain muncul dari beragamnya kelompok di Kekaisaran: kaum Duyung harus berendam dalam air setengah hari atau mati, Vampir akan meleleh jika terkena sinar matahari, ras Stuart makan kacang hanya untuk mengasah gigi, atau Siren tidak bisa melihat dalam gelap. Meskipun mudah menyebar, kaum Mensch juga tidak luput dari prasangka tersebut.

◆◇◆

Dalam setiap permainan papan, ada situasi di mana pemain diminta melempar dadu yang sebenarnya tidak penting. Terkadang karena kegagalan hampir tidak mungkin terjadi, atau hanya sekadar formalitas aturan. Namun, setiap pemain pernah melempar dadu wajib itu secara sembarangan tanpa peduli hasilnya…

Dan pada saat itulah, aku menghadapi sebuah kesialan yang dahsyat.

Kemungkinan besar, aku sudah berhasil. Nona Celia dan aku telah menaiki tangga tak terlihat dari Unseen Hands menuju jendela lantai dua biara, dan dia sudah berhasil masuk ke dalam. Namun, tepat saat aku mencoba menyusulnya…

"Kau di sana! Apa yang kau lakukan?! Diam dan buka tudung kepalamu!"

Sesaat, aku tidak bisa mencerna perintah itu. Bukan karena aku tercengang oleh kebodohanku sendiri, tetapi karena pita suara pembicara itu tidak cocok untuk bahasa manusia; suaranya lebih melengking daripada gesekan kaca.

Aku telah gagal dalam taktik stealth dan terlambat bereaksi. Jika dia langsung menyerang tanpa peringatan, aku ragu aku punya waktu untuk membalas. Para penjaga memang diwajibkan menyatakan kehadiran mereka sebelum bertindak—baik patroli biasa maupun dinas rahasia, kebijakannya tetap sama.

Lagi pula, mereka mampu melakukan itu. Persiapan beberapa detik tidak cukup bagi penjahat biasa untuk menghindari sergapan mereka. Namun, meskipun penjaga itu memerintahkanku untuk identifikasi diri, dia sudah bergerak untuk menyerang.

Siapa pun yang cukup bodoh untuk menyelinap ke gedung di bawah pengawasan Jager pasti dianggap berniat jahat. Sekarang tugas formalnya sudah selesai, menumbangkanku adalah prioritasnya.

Entah karena ceroboh atau disengaja, dia menerjangku dengan kaki yang siap menendang—lekukan tubuhnya yang seperti elang terlihat jelas.

Budaya kekaisaran mewajibkan pemakaian sepatu terlepas dari bentuk kaki, tetapi sandal hibrida milik Siren itu membuat cakarnya terekspos berbahaya. Pisau cukur itu cukup tajam untuk mengirisku seperti steak, bahkan mungkin menggores tulang.

Ini adalah situasi hidup atau mati. Sisa cahaya matahari yang terpantul dari cakarnya mempertegas bahwa serangan itu akan menempatkanku dalam Death Saving Throw.

Seketika, aku melepaskan Unseen Hands yang menopang tubuhku dan terjun bebas. Dengan menjaga pijakan untuk langkah berikutnya, aku jatuh dengan cara tidak wajar untuk menghindari serangan itu.

Aku berterima kasih pada sang Jager atas peringatannya, dan pada skill Flash Reflex-ku yang memungkinkanku memanfaatkan sepersekian detik yang ada.

Ujung cakarnya melesat melewati hidungku. Ya Tuhan, itu menakutkan! Aku menggunakan tangan lain untuk menutupi wajah dengan tudung, tetapi dia merobek medan gaya mistik saat lewat; aku bisa saja kehilangan hidung jika tergores sedikit saja!

Nyaris menjadi daging cincang, aku meringkuk seperti kucing dan menahan jatuh dengan tanganku. Aku meredam benturan dengan menekuk lengan, lalu berguling ke bahu kiri untuk mendarat sempurna.

Momentum yang tersisa hilang setelah beberapa kali jungkir balik. Kemampuan Roll untuk mengurangi damage jatuh ternyata jauh lebih berguna daripada menahan jatuh dengan sihir.

Tanpa membuang waktu, aku menggunakan inersia untuk berdiri dan berlari ke gang. Segalanya akan hancur jika aku tertangkap; mereka bahkan mungkin menggunakan Psycho Magic saat interogasi.

"Apa— Hei! Berhenti, bocah nakal! Argh, sialan!"

Siren mungkin menguasai langit, tetapi di darat situasinya berbeda. Meskipun ada beberapa suku yang cepat berjalan kaki, lebar sayap Jager membuatnya kesulitan bermanuver di jalan sempit. Setelah menghindari serangan pertamanya, aku berada di medan yang tepat untuk melarikan diri.

"Wah, cekatan sekali kau, dasar perayap bumi sialan!" teriaknya sambil meniup peluit.

...Ya, sudah kuduga. Dia jelas punya cara untuk memanggil bantuan, meskipun aku bingung bagaimana dia meniup benda itu dengan paruhnya. Suara peluit yang memekakkan telinga menyadarkan para petugas patroli lain dari keterpukauan mereka terhadap kapal udara.

"Wah, siapa yang—"

"Permisi!" teriakku sambil menepuk bahu seorang pemuda.

Saat ia terdorong ke tembok, aku melepaskan tongkat dari genggamannya. Daerah ini memiliki tingkat kejahatan rendah, jadi penjaga lokal biasanya tidak membawa senjata tajam.

"Aduh?!"

Gerutuannya terdengar menyakitkan saat terjepit di antara aku dan dinding, tapi aku tidak peduli. Meraih tongkat yang panjangnya hampir setinggi badanku itu, aku memutarnya dan menjepitnya di ketiak.

Oke, langkah selanjutnya adalah… hah. Apa langkahku selanjutnya?

Aku menitipkan Nona Celia dengan bantuan terakhir sebelum melarikan diri, sehingga ia harus menempuh sisa jalan di depannya sendirian.

Meski terdengar tidak masuk akal datang dari orang yang tertangkap, menyerahkan dua asetku yang paling berharga kepadanya seharusnya sudah cukup membuktikan bahwa aku telah menjalankan tugasku dengan baik—setidaknya, begitulah harapanku.

Sejujurnya, aku ingin mendampingi perjalanannya sampai akhir, namun saat ini hal itu hanyalah angan-angan belaka.

Mengkhawatirkan masa depan Nona Celia memang perlu, tetapi masa depanku sendiri jauh lebih mendesak.

Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan jika berhasil menangkapku…

Melihat betapa kacaunya situasi ini, aku ragu bisa lolos dengan akting klasik seperti, "Ampuni anak jalanan malang ini yang hanya mencoba mencuri sepotong roti!" Mereka tidak akan sekadar memanggil waliku—yang dalam hal ini adalah Nona Agrippina—untuk memarahiku lalu menganggap masalah selesai seperti anak sekolah yang nakal.

Wah, gawat! Peluit berbunyi nyaring dan mereka kini dalam siaga penuh. Dengan serangan mendadak yang sudah di depan mata, aku tidak punya pilihan selain menghadapi mereka secara langsung.

Meskipun para penjaga Berylin adalah elit yang dipilih dengan cermat dan rajin berlatih, mereka bukanlah lawan yang sulit bagiku. Meski kemampuanku masih jauh dari puncak ilmu pedang, aku telah berlatih hingga mencapai batas Divine Grace. Terlebih lagi, ibu kota ini terlalu damai sehingga mereka kurang terasah dalam pertarungan hidup-mati.

"Makan ini!"

Aku melesat maju tanpa memasang kuda-kuda dengan tongkatku, seolah sengaja membiarkan kepalaku yang tak terlindungi menjadi sasaran. Penjaga pertama dengan berani menuruti pancinganku.

Tidak ada yang lebih mudah dimanipulasi daripada serangan yang dipancing, dan ayunannya jelas dilakukan sesuai keinginanku. Aku berputar ke sisi kiri, menghindari hantaman dari atas kepala, lalu mencambuknya dengan tongkatku dalam satu gerakan halus.

Dengan menjepit tongkat panjang itu di ketiak, aku mengayunkannya tepat ke rahangnya hingga ia pingsan seketika.

"Apa-apaan?!"

Melihat rekannya tumbang, penjaga kedua tampak panik—itu kesalahan fatal. Seorang penjaga dari kota-kota paling berdarah di Kekaisaran seharusnya sudah menyingkirkan tubuh temannya dan menerjangku saat itu juga.

Para penjaga ibu kota mungkin disebut yang terbaik karena dipilih dari seluruh negeri, tetapi sebagai pendekar pedang yang terlatih dalam taktik pedesaan yang kotor dan pertempuran tanpa batas, aku menganggap mereka terlalu naif.

Tentu saja, keterampilan mereka patut disegani. Aku dengar ujian seleksi mereka melibatkan duel satu lawan satu dengan instruktur tingkat tinggi, jadi aku tidak ragu mereka kompeten dalam menggunakan pedang maupun tombak.

Namun, jabatan mereka sebagai penjaga kota di Berylin yang damai membuat mereka kurang pengalaman lapangan.

Ibu kota adalah pusat pertukaran internasional, sehingga prajurit yang menjaganya harus memiliki kekuatan dan otak yang seimbang.

Namun, secara umum, mereka tidak memiliki tekad baja untuk merebut kemenangan dari ambang kekalahan, apa pun taruhannya.

Meskipun mereka bangga dengan misi luhur melindungi perdamaian, mereka tidak memiliki keputusasaan seperti penjaga kanton pedesaan yang tahu bahwa kematiannya berarti kehancuran bagi keluarganya.

Bagi pelindung desa-desa terpencil, kekalahan adalah akhir dari segalanya.

Meski teknik mereka mungkin belum sempurna, mereka lebih memilih ditusuk perutnya demi bisa merampas senjata musuh daripada melihat bandit menebas orang-orang yang mereka cintai.

Terus terang, menghadapi penjaga ibu kota yang jujur dan adil ini jauh lebih mudah.

Menurut penilaian pribadiku, orang-orang ini terampil namun masih "mentah"; aku akan mengibaratkan mereka seperti wiski yang belum menua.

Yang lebih parah, mereka tampak tidak terbiasa bertarung di ruang sempit. Penjaga kedua mengayunkan tongkatnya hingga membentur dinding gang, membuat serangannya melenceng jauh.

Aku hanya perlu sedikit memiringkan leher untuk menghindarinya. Itulah akibat dari latihan pengeroyokan di mana targetnya tidak pernah berani membalas maju ke arah mereka.

Saat tongkatku memantul dari rahang orang pertama, aku membiarkan momentum itu terus berlanjut. Penjaga kedua sibuk mengatur langkah agar tidak menginjak rekannya yang pingsan, membuat kakinya terbuka lebar. Aku langsung menyapunya.

"Wah— Aduh?!"

Karena merasa sayang jika energi kinetik ini terbuang percuma, aku menempatkan ujung tongkatku tepat di posisi kepalanya akan mendarat, lalu menendangnya ke arah dagunya. Sebut aku biadab jika mau, tapi serangan itu sukses membuatnya gegar otak.

...Fiuh, mereka masih hidup. Mereka mungkin tidak akan bisa makan makanan padat dalam waktu dekat, tapi setidaknya aku berhasil menjaga agar gigi mereka tidak rontok. Baiklah, berapa banyak lagi yang harus kulewati?

"Aku mendengar suara dari arah sini!" "Kepung mereka! Pastikan lingkaran kepungannya luas!" "Ingat, bantuan segera datang! Prioritas utama adalah menemukan lokasi tersangka!"

Sudah waktunya bersiap untuk permainan kejar-kejaran ini. Aku akan baik-baik saja; ini jelas tidak sesulit mencoba mengalahkan Margit, meskipun nyawaku tetap menjadi taruhan di kedua skenario tersebut. Melangkah melewati dua penjaga yang pingsan itu, anting-antingku berdenting, seolah mendoakan keberuntunganku.


[Tips] Tugas utama penjaga ibu kota adalah mencegah dan menangani kriminalitas, yang mereka tunjukkan dengan berpatroli mengenakan baju besi lengkap. Secara resmi mereka adalah pasukan cadangan militer dengan kemampuan bela diri yang hebat. Sayangnya, karena kondisi ibu kota yang stabil selama bertahun-tahun, penjahat paling kejam yang biasanya dihadapi petugas patroli hanyalah pemabuk di bar. Hanya para veteran tua atau makhluk abadi yang sudah bekerja puluhan tahun yang memiliki pengalaman tempur yang signifikan.

◆◇◆

Cecilia terdorong keluar melalui jendela yang terbuka, lalu terduduk lemas di lantai selama hampir satu menit penuh dalam keadaan linglung. Di luar, suara teriakan dan benturan keras bercampur dengan paduan suara peluit polisi. Matanya yang besar berkedip bingung; ia mencoba mencerna situasi yang berkembang begitu cepat. Pada saat ia menyadari bahwa Erich telah ditemukan, suara peluit sudah terdengar menjauh.

"Jangan!" Cecilia mencoba berteriak. Ia membuka mulutnya, namun anugerah bahasa yang biasanya ia gunakan tanpa berpikir kini menolak mengeluarkan suara apa pun.

Dengan heran ia menatap sekeliling, dan menemukan sepasang cahaya berkelap-kelip di dekatnya: cahaya yang sama milik "para pembantu" yang muncul saat Erich membuat umpan sihir.

Sebagai penganut Dewi, Cecilia tidak pernah mencoba menggunakan Mystic Eyes yang diwarisi dari ayahnya. Meskipun ia bisa melihat sekilas hal-hal gaib, bakat alaminya hanya cukup untuk melihat wujud asli mereka jika mereka memilih menampakkan diri.

Cahaya dengan warna berbeda menari-nari di udara. Saat berbicara pada cahaya-cahaya ini, Erich tampak lelah sekaligus penuh kasih sayang. Erich menyebut mereka sebagai Alfar, sebuah rahasia yang ia simpan sendiri.

Melihat benda-benda berpendar itu mendorong Cecilia untuk berdiri. Ia menyadari bahwa para peri itu ada di sana. Meskipun dirinya sendiri terpojok, Erich telah meninggalkan para Alfar untuk menjaganya.

Sang pendeta ingin sekali membuka jendela dan berteriak agar Erich tidak terluka. Seberapa pun terlindunginya hidupnya selama ini, ia tahu bahwa penangkapan Erich tidak akan berakhir baik. Mereka mungkin tidak akan membunuhnya, tapi mereka akan memukulinya hingga menyerah, mematahkan tulangnya, atau memotong urat nadinya.

Namun, fakta bahwa Erich meninggalkan para Alfar ini adalah bukti bahwa ia tidak menyerah... dan bahwa ia percaya padanya. Itu adalah pesan bisu: "Aku bersumpah akan melarikan diri, jadi sampailah ke Lipzi dengan selamat."

Cecilia menahan diri, tubuhnya gemetar. Akhirnya ia menguatkan hati, mengepalkan tinju, dan mengibaskan debu dari jubahnya. Meski tahu suaranya takkan terdengar, ia menatap bola cahaya hijau dan hitam itu.

"Maukah kalian membantuku?"

Para Alfar tidak menyangka akan diajak bicara. Mereka berhenti berputar sejenak seolah-olah sedang terkejut. Akhirnya, para peri itu melanjutkan tarian mereka, berputar membentuk pola heliks menuju pintu. Pesannya jelas: Ikuti kami, kami akan menunjukkan jalannya.

Meski suara peluit di luar mengusik pikirannya, Cecilia memilih menganggap suara itu sebagai bukti bahwa Erich masih bertahan. Sekarang gilirannya memainkan permainan yang ia nikmati saat kecil. Bahkan seorang putri yang terlindungi pun punya kenangan tentang kenakalan, dan menyelinap ke dalam koper saat bermain petak umpet adalah salah satunya.


[Tips] Kebanyakan orang tidak dapat melihat Alfar, karena persepsi terhadap peri ditentukan oleh keinginan dan hawa nafsu manusia itu sendiri. Hanya mereka yang dikaruniai kekuatan Mystic Observation yang melampaui kemampuan menyamar para peri yang dapat melihat keberadaan mereka.

◆◇◆

Dalam pertempuran antara segelintir orang melawan massa, biasanya jumlah yang menang; itulah sebabnya kita selalu menceritakan kembali kisah langka tentang kemenangan pihak yang sedikit. Akibatnya, legenda tentang pahlawan yang mengalahkan segala rintangan menjadi begitu umum hingga turun ke ranah klise. Dan tidak peduli seberapa melelahkannya pertempuran aslinya, para penyair selalu melukiskan adegan itu dengan bahasa yang sederhana untuk menonjolkan kekuatan sang pahlawan.

Intinya, kemenangan satu baris dalam kisah-kisah legendaris itu sebenarnya sangat tidak berperasaan.

"Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa mengenainya?!"

Saat aku berjongkok, seberkas cahaya menyilaukan melesat tepat di atas kepalaku dan menghantam dinding di belakang. Serangan itu, secara sederhana, adalah sinar laser. Sinar itu langsung menghanguskan tudung kepalaku. Versi magis dari cahaya berdaya tinggi ini benar-benar destruktif.

Ini sangat membingungkan. Bagaimana mungkin aku harus berhadapan dengan pria berseragam hitam legam—anggota Imperial Mage Corps milik Yang Mulia? Serius, saat pertama kali melihatnya berbaur di antara penjaga kota, jantungku hampir berhenti berdetak.

Para Hexenkrieger bukanlah Magia biasa; mereka adalah pakar yang melindungi Kaisar dalam segala urusan mistis. Mereka mungkin tidak sedisplin akademisi di Kolese dan tidak bisa merapal mantra rumit dengan presisi sempurna, namun pemahaman intuitif mereka tentang sihir praktis tidak boleh diremehkan.

Sama seperti Jager yang dipilih dari para pemburu, Hexenkrieger terdiri dari perapal mantra berbakat dari sektor swasta atau mahasiswa yang putus kuliah. Mereka adalah spesialis tempur yang memprioritaskan pertahanan terhadap kutukan dan sihir, bahkan terkadang menggunakan Counter-Spell untuk racun atau perangkap.

Entah mengapa—mungkin karena keberuntunganku yang buruk—monster seperti dia muncul untuk menghujaniku dengan rentetan mantra. Ini konyol; hari ini benar-benar hari sial. Meskipun dunia ini tidak memiliki horoskop pagi seperti di kehidupanku sebelumnya, aku yakin keberuntunganku berada di titik terendah.

Sambil bergerak menghindari sinar energi murni yang sanggup melelehkan baja—yang, omong-omong, melaju secepat cahaya—aku menusukkan tongkatku ke perut penjaga terdekat, lalu mengayunkannya untuk melemparkannya ke arah rekan-rekannya. Bertempur sambil menghindari tembakan sihir memang sulit, tapi jika aku berhenti sejenak untuk bernapas, aku akan menjadi sasaran empuk.

Aku rasa tidak perlu dijelaskan, tapi Agility siapa pun tidak akan cukup untuk menghindari laser setelah ditembakkan. Skill Flash Reflex-ku memang cepat, tapi tetap patuh pada hukum fisika.

Metode yang kugunakan untuk menghindar adalah cara yang sering ada di manga shonen: aku memperhatikan mata dan gerakan penggunanya untuk membaca arah serangan berikutnya, lalu memposisikan diri menjauh dari garis tembak.

Mantra sihir selalu membutuhkan proses mental; ada jeda beberapa detik sebelum Mana berubah menjadi efek nyata.

Meskipun monster seperti Nona Agrippina bisa mengabaikan batasan itu dengan "perangkat keras" mereka, keseimbangan dunia akan hancur jika orang seperti dia ada di setiap sudut. Bahkan aku pun tidak sesial itu.

Artinya, aku harus berusaha keras mengelabui sang penyihir sambil memanfaatkan "kebaikan"-nya: dia tidak ingin mengenai rekan penjaga yang tidak bersalah, kan?

Otakku bekerja sekuat tenaga—aku mungkin terlihat seperti tipe otot, tapi aku akan tersinggung jika organ di antara telingaku ini tidak dianggap.

Lagipula, aku tidak bisa sembarangan menggunakan sihir kecuali nyawaku benar-benar terancam. Sisa Mana-ku bisa mengungkap identitasku, jadi sihir adalah pilihan terakhir. Ini bukan berarti aku mengalah, aku hanya sangat serius dalam mengikuti batasan "level" ini.

"Sial! Beri aku jalan! Aku tidak bisa menembaknya kalau begini!" "Ubah mantramu! Dia akan menerjang kita kalau kami keluar dari formasi!" "Kau pikir aku ini dewa?! Sinar ini punya kekuatan untuk menembus Dragon Scales—sulit sekali dikendalikan! Kau tahu sendiri cahaya itu bergerak lurus!"

Maaf, aku tidak salah dengar, kan? Apa yang bisa ditembusnya? Tunggu dulu. Kapan statusku berubah jadi buronan "hidup atau mati"? Apa yang terjadi dengan rencana membawaku untuk diinterogasi?!

Saat keringat dingin membasahi punggungku, aku memutuskan untuk menghadapi pengawal kekaisaran itu terlebih dahulu. Ada perbedaan besar antara bisa menghindar dan mampu terus bertahan; jika terdesak, dia bisa saja menyerah pada presisi dan menyerangku dengan serangan area yang tak terhindarkan.

"Ikut aku!" teriakku.

"Tunggu, ap— Hrgh?!"

Setelah menjatuhkan dua penjaga kota dengan tongkat, aku melepaskan senjataku dan mencengkeram kerah baju mereka berdua, lalu berlari cepat sambil memanggul tubuh berat mereka di punggung.

Tujuanku? Tentu saja sang penyihir kekaisaran dan dua pengawalnya.

"Apa?!" teriaknya. "Dasar pengecut!"

"Terima kasih atas pujiannya!"

Jawabanku mendarat bersamaan dengan tubuh penjaga yang kulempar, menjatuhkan mereka semua dalam satu tabrakan keras.

Para pengawal istana tampaknya masih manusia biasa. Kalau saja penyihir itu menembak tanpa mempedulikan orang-orang yang kujadikan tameng, aku pasti sudah tamat.

Kalau dipikir-pikir, kebaikan hati penyihir itu sudah terlihat sejak awal.

Dia sengaja menggunakan cahaya dari spektrum yang terlihat agar rekan-rekannya di garis depan bisa melihat arah tembakannya.

Seorang penyihir murni yang kejam tidak akan sudi memikul tanggung jawab atas keselamatan orang lain; mereka akan menggunakan sinar inframerah yang sangat panas untuk menembus tubuhku, tubuh sekutu mereka, bahkan tembok di belakangku sekaligus.

Membuang-buang Mana untuk tindakan pencegahan—seperti menghentikan pancaran sinar lebih awal demi menjaga keutuhan arsitektur kota—membuktikan bahwa pria ini adalah orang suci.

Hmm... pola pikirku mulai meniru para bajingan bejat di kampus, pikirku. Aku harus segera menata ulang nilai-nilaiku agar lebih normal, atau aku akan menghadapi masalah serius di kemudian hari.

Namun, masalah yang sedang kuhadapi tidak memberiku waktu untuk memikirkan hal konyol itu. Aku berlari ke arah penyihir yang terjatuh dan mendaratkan tendangan keras ke rahangnya hingga ia pingsan. Pengawalnya mencoba bangkit, tapi aku membuat mereka "tertidur" kembali sebelum mereka sempat berdiri tegak.

"Kamu... kamu pasti bercanda..."

Aku tidak tahu siapa yang menggumamkan itu, tapi itulah yang sedang kupikirkan. Bukan saja aku dikeroyok oleh hampir dua puluh penjaga kota, mereka bahkan membawa penyihir yang lebih kompeten dalam pertarungan mistis dibanding aku—lelucon yang sungguh tidak lucu.

Setelah melemparkan senjataku untuk melakukan trik tadi, aku menendang tongkat yang menggelinding di dekat kakiku ke udara, menangkapnya, dan bersiap kembali. Ini adalah senjata keenam yang kupakai hari ini.

Aku mengamati sisa kerumunan penjaga. Meski beberapa tampak terguncang, tidak ada yang berani meninggalkan pos mereka. Kesetiaan mereka sungguh mengharukan; aku hanya berharap mereka melakukannya untuk hal lain selain menangkapku.

Lelah terus berlari, aku mengangkat tangan kiri dan memberi isyarat agar mereka maju. Dengan teriakan yang lebih bertujuan untuk menenangkan diri mereka sendiri ketimbang mengintimidasi, mereka menerjang maju.

"Ugh... Haah... Ya Tuhan," desahku. "Totalnya... dua puluh dua orang? Kau pasti sedang mempermainkanku..."

Namun dalam narasi sejarah nanti, mungkin penulis akan melakukan ketidakadilan pada kami berdua: serangan gagah berani mereka dan pembelaan gigihku hanya akan diringkas dalam satu baris prosa pendek. Yang tersisa bagiku hanyalah aliran keringat yang tak kunjung berhenti. Pada saat aku berhasil mengatur napas, aku sudah dikelilingi oleh segunung prajurit yang tumbang.

Mereka benar-benar teladan. Mereka menyebar untuk menebar jaring pengepungan yang luas; setiap kelompok kecil berisi dua hingga empat orang bertugas mengulur waktu sambil meniup peluit. Begitu perangkap siap, mereka langsung membanjiriku dengan jumlah massa.

Taktik mereka begitu metodis hingga aku merasa seperti isian pangsit yang terbungkus adonan tanpa jalan keluar. Karena membiarkan mereka mengulur waktu, aku akhirnya harus bertarung satu lawan dua puluh dua.

Para sipir ibu kota ini telah mengasah keterampilan mereka menjadi ahli dalam penangkapan massal. Jika aku tidak memanfaatkan berkah Bodhisattva sepenuhnya, aku pasti sudah diborgol di pos polisi terdekat sejak tadi.

Sayangnya, tongkat ini retak karena terlalu sering digunakan. Aku membuangnya dan memungut tombak tangan yang tergeletak di dekat sana. Meski Hybrid Sword Arts memungkinkanku menggunakan tombak dengan cukup baik, aku tetap lebih suka pedang panjang untuk memaksimalkan seluruh status tambahanku.

Meski begitu, pedang sulit dikendalikan kecuali bilahnya tumpul. Saat mereka pulang nanti, para penjaga ini adalah putra, putri, atau orang tua yang baik; aku tidak ingin meninggalkan luka permanen pada mereka, apalagi membunuh mereka.

Kalau saja ini dunia komik di mana aku bisa menghajar mereka dengan efek suara Kapow! atau Kerblam! hingga mata mereka berputar-putar, aku bisa menghemat banyak energi. Siapa pun yang membangun dunia ini benar-benar membuatnya menjadi sangat merepotkan.

Aku memantapkan pegangan pada "partner" baruku dan mengayunkan tombak untuk merasakan bobotnya. Bagus dan lurus. Aku pinjam ini—tapi tidak janji bakal kembali.

"Cepat! Suara mereka sudah tidak terdengar!" "Apa pasukan kita kalah?! Mustahil!"

Rupanya, mereka tidak memberiku waktu untuk bernapas. Teriakan dan siulan yang semakin mendekat memaksaku untuk terus bergerak.

Suara-suara itu membantu mereka berkomunikasi sekaligus merampas kesempatanku untuk beristirahat.

Aku mengaitkan ujung tombak ke salah satu botol air milik penjaga yang tumbang sambil berlari menyusuri gang.

Setelah menyesapnya sedikit, aku menyiramkan sisanya ke kepalaku yang tertutup tudung untuk mendinginkan suhu tubuh yang kepanasan.

Jalanan mulai tampak seperti jalan buntu... dan atap gedung pun hanya menawarkan ancaman lain.

Saat matahari terbenam mewarnai langit menjadi ungu gelap, aku melihat bayangan melintas dengan kecepatan luar biasa di atas celah bangunan.

Siren Jager yang memulai pengejaran ini terus membuntutiku dengan gigih meski cahaya mulai meredup.

Dia membayangiku dari langit, menukik setiap kali aku memilih jalan yang terbuka, memaksaku untuk terus waspada.

Dengan mobilitasnya, atap gedung adalah wilayah kekuasaannya. Memanjat untuk mencari posisi untung hanya akan menjadikanku sasaran empuk.

 Lagipula, ini bukan stealth game di mana aku bisa melumpuhkan satu penjaga untuk menurunkan tingkat kewaspadaan seluruh kota.

Aku mungkin mengulang-ulang ini, tapi hidup sebagai orang miskin memang penuh kesedihan.

Orang normal di posisiku pasti sudah putus asa: aku tidak bisa membunuh mereka, tidak bisa melukai mereka secara permanen, tidak bisa membocorkan identitasku, dan yang terburuk, aku tidak bisa bersembunyi karena aku harus menjadi umpan untuk Nona Celia.

Wow, ini benar-benar buruk.

Aku ingin mengumpat, namun firasat buruk tiba-tiba membuat bulu kudukku berdiri, seolah seseorang menempelkan es ke leherku.

Meski aku berlari kencang, anting-anting merah muda itu berdenting jelas di telingaku.

Aku sudah terbiasa dengan sensasi ini: seseorang sedang membidik nyawaku.

Menyerahkan kendali sepenuhnya pada insting, aku melompat. Aku tahu menangkis dengan tombak yang tidak kukenal adalah tindakan bodoh.

Meski saltoku terlihat ceroboh, lebih baik menjamin penghindaran total daripada memaksakan posisi yang enak.

Sesaat kemudian, sebuah anak panah menancap di batu jalan, tepat di titik kaki kananku berpijak tadi—perlu diingat, jalan ini telah diperkuat dengan sihir pelindung oleh para Oikodomurge dari Kolese.

Anak panah itu menancap sedalam sepertiga bagian ke dalam trotoar tanpa memecahkan batunya.

Kekuatannya luar biasa, akurasinya mengerikan. Kalau aku terkena itu, pergelangan kakiku pasti sudah hancur. Tunggu sebentar. Kenapa aku tidak merasakan Mana pada benda ini?!

Aku sudah muak dengan kejahilan sang GM. Sambil menahan air mata, aku mempersiapkan diri menghadapi serangan udara dan penembak jitu sekaligus.


[Tips] Hexenkrieger milik Yang Mulia adalah subunit dari Pengawal Kekaisaran yang seluruh anggotanya terdiri dari penyihir. Mereka menangani keamanan mistis kekaisaran dan dibagi menjadi beberapa regu spesialis: penjaga penghalang kediaman kaisar, pencari bahaya preemptif, hingga regu penyerang proaktif terhadap ancaman keamanan nasional.

◆◇◆

Menara jam dan menara megah menghiasi cakrawala ibu kota, bersanding dengan cerobong asap distrik manufaktur. Di salah satu gedung tinggi tersebut, seorang penembak jitu dan pengintainya sedang bertengger.

Sesosok Laba-laba besar (Arachne) melilitkan kakinya di sekeliling menara, menjadi pijakan bagi penembak jitu ras Floresiensis kecil yang ia bawa.

Meski sudah dewasa, wanita itu tampak mungil di bahu si Laba-laba, namun busur di tangannya berukuran raksasa.

"Tidak mungkin," gerutu pria itu. "Dia berhasil menghindarinya?"

Mengenakan seragam khusus, sang Arachne hampir menjatuhkan teleskopnya. Rekannya telah berlatih memanah hingga tangannya sekeras baja, dan selama bertahun-tahun bertugas, ia jarang melihat tembakannya meleset.

"Penjahat itu pasti punya mata di belakang kepala," desahnya.

Beberapa tahun lalu, Compound Bow dengan sistem katrol mulai beredar di Kekaisaran.

Sejak rekannya menguasai senjata non-standar itu, keahlian memanahnya menjadi sangat menakutkan.

Wanita itu tidak mengandalkan dewa maupun sihir hitam; semuanya murni hasil latihan.

Namun, sang virtuoso yang obsesif ini baru saja luput.

Sang Laba-laba melirik. Meski usianya mendekati tiga puluh, pesona wanita Floresiensis itu tetap memikat—setidaknya menurut selera ras Laba-laba—kecuali fakta bahwa saat ini dia sedang gemetar sambil menggigit bibir.

Reaksinya menunjukkan bahwa dia tidak meleset karena nasib buruk. Dia sadar betul tekniknya sempurna, namun anak panahnya tetap dihindari secara sadar oleh target. Lawan mereka jelas bukan tersangka biasa.

Di Kekaisaran, meremehkan seseorang yang bertubuh kecil adalah kesalahan fatal. Laporan bahwa pelarian itu "tampak seperti anak kecil" sebaiknya diabaikan saja.

"Cih," gerutu sang Laba-laba. "Dia keras kepala. Sudah bersembunyi lagi."

Sasaran mereka dengan cepat bangkit dan berbelok; target telah memperkirakan garis tembak dari satu anak panah tadi dan melarikan diri ke gang lain. Posisi mereka saat ini tidak lagi menguntungkan.

"...Kejar dia."

"Hah?"

Karena embusan angin kencang di ketinggian, gumaman lirih sang Floresiensis nyaris tak terdengar. Namun, pria itu sudah mengenalnya sangat lama; ia tahu nada bicara rekannya saat ini bukanlah nada wanita dewasa yang tegas.

"Kejar dia! Sekarang juga!"

Itu terdengar seperti gadis kecil yang sedang merajuk. Ya ampun, pikirnya sambil menepuk dahi. Jika rekannya sudah begini, tidak ada logika soal "waktu reposisi" yang bisa menenangkannya.

Singkatnya, penembak jitu ini adalah tipe orang yang tidak mau kalah. Kesombongannya muncul dari kegigihan yang luar biasa. Dan saat ia gagal melakukan tembakan sempurna, gaya bicaranya yang dewasa pun ikut lenyap.

"Ya, ya," kata sang Laba-laba. "Sesuai keinginanmu."

Ia mulai turun. Sebagai jenis tarantula, stamina rendah menghambat kelincahannya, namun ia berusaha secepat mungkin.

Sementara itu, rekannya terus melotot tajam seolah bertanya, Bagaimana kalau orang lain yang menangkapnya duluan?!

Setelah berpindah ke atap yang lebih rendah, ia menggunakan instingnya untuk menyimpulkan jalur pelarian target. Begitu mereka mencapai posisi yang tepat, wanita itu segera melepaskan anak panah tanpa memberi kesempatan si Laba-laba untuk melihat sasarannya.

"TIDAK!"

Teriakan sang Floresiensis kembali mengejutkan sang Laba-laba. Wanita itu tampak sangat terpukul.

"Apa yang terjadi?!" tanyanya panik. Jika rekannya sudah mulai terisak, biasanya ia harus menghiburnya sepanjang malam.

Dua butir air mata besar memenuhi mata wanita itu saat ia meratap, "Dia jatuh..."

"Apa?"

"Tembakanku mengenanya, tapi... dia jatuh ke air."

Saat tangisan sedih itu tertiup angin, sang pria hanya bisa mendekap rekannya. Ini lebih buruk daripada sekadar kehilangan target.

Ugh, keluh si pria dalam hati. Pasukan pencari mayat tidak akan pernah membiarkan kita tenang setelah mendengar laporan ini...


[Tips] Hampir tidak ada kesamaan antara ras Laba-laba (Arachne) yang mewarisi darah Laba-laba Pelompat, Tarantula, atau Orb-weaver selain jumlah kaki mereka. Sering ditemukan suku-suku dengan nama klasifikasi yang sama namun memiliki karakteristik fisik yang sangat berbeda.



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close