NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 1 Bonus Short Story

Bonus Cerita Pendek

Konser Bak Mandi


Bak mandi adalah surga bagi orang Jepang. Tentu saja, aku sekarang adalah warga negara Kekaisaran, tapi tetap saja, jiwa lamaku tidak bisa berbohong.

"Baiklah, kurasa ini sudah cukup."

Aku menyeka keringat dari dahi sambil menatap hasil kerja keras selama beberapa hari di tepi sungai kecil di hutan dekat kantonku.

Setelah membayar lunas dengan keringat dan penderitaan yang menyertai setiap mahakarya, aku akhirnya berhasil mewujudkan seluruh kecerdikan dan rasa frustrasiku ke dalam bentuk fisik.

Melihat bak kayu besar yang berdiri megah di hadapanku, rasanya aku hampir ingin menitikkan air mata.

Ukurannya pas untuk merendam miso atau kecap, tapi aku tidak berniat menciptakan kembali cita rasa tanah airku—yang kuinginkan hanyalah mandi.

Wilayah kami terlalu pelosok untuk memiliki fasilitas selain pemandian ala Turki yang hemat biaya.

Sauna memang punya kelebihan sendiri, tapi jiwaku yang terbentuk di Negeri Matahari Terbit mendambakan berendam di air panas sedalam bahu.

Setiap kali pergi ke pemandian uap, hasrat itu semakin berkobar, hingga akhirnya aku kehilangan kesabaran dan membangun pemandianku sendiri.

Wah, aku jadi terdengar sombong sekali.

Awalnya kupikir membuat ember besar akan mudah dengan skill mengukirku, tapi prosesnya ternyata sangat sulit.

Menjajarkan semua papan kayu agar menciptakan sambungan kedap air benar-benar membutuhkan tangan seorang pengrajin ahli.

Kurasa aku tidak akan bisa menyelesaikan proyek ini tanpa saran dari pandai besi setempat.

Setelah tiga kali gagal menyatukan papan-papan cacat yang kuselamatkan dari tempat penggergajian kayu, aku akhirnya berhasil membuat wadah yang mampu menampung air pada percobaan keempat.

Aku juga telah menambal lubang pada tungku kayu bakar tua dari tumpukan sampah kanton, lalu menaruh panci berkarat di atasnya untuk merebus air.

Aku tidak mampu membuat sistem pemanas yang rumit, jadi rencana sederhanaku adalah mengencerkan air mendidih dengan air segar dari sungai agar suhunya pas untuk satu orang.

"Sungai di dekat sini benar-benar memudahkan segalanya," gumamku sambil melemparkan kayu bakar ke dalam tungku.

Aku bermandikan keringat saat menyendok air ke dalam bak, tapi aku melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanapun, tidak ada yang lebih nikmat daripada berendam di air panas saat tubuh sedang lelah dan berkeringat.

"Hampir siap..."

Menaikkan suhu air ternyata lebih melelahkan dari dugaanku, tapi akhirnya persiapanku selesai. Berendam dalam air yang sedikit terlalu panas adalah "Kebenaran" bagiku.

Aku merasa sangat puas saat mencelupkan tangan untuk memeriksa suhunya—sampai tiba-tiba rasa dingin menjalar ke tulang belakangku.

"Akhir-akhir ini kau terasa begitu jauh, tapi aku tidak pernah menyangka kau bersembunyi dan membangun sesuatu seperti ini."

Suara sensual yang masuk ke telingaku itu disertai dengan sensasi beban di punggungku. Leherku berputar seperti engsel berkarat yang butuh diminyaki untuk melihat teman masa kecilku yang sedang menyeringai.

"Semua orang pasti ingin ikut mencoba jika berita ini tersebar. Bukankah itu akan sangat merepotkan?"

"...Bagaimana ceritanya sampai jadi seperti ini?" tanyaku pasrah.

"Ahh, menyegarkan sekali," gumam Margit, mengabaikan pertanyaanku sepenuhnya.

Meskipun situasinya menyimpang jauh dari rencana awal, beberapa menit kemudian aku sudah berada di dalam air. Gadis yang tadi mengancamku dengan senyum ceria kini duduk dengan tenang di pangkuanku.

Aku membuat bak mandi ini dengan ukuran minimalis agar lebih cepat diisi; orang dewasa pasti akan berdesakan di dalamnya, dan dua anak kecil pun sebenarnya tidak akan muat.

Namun, karena tubuh Margit kecil, masih ada sedikit ruang tersisa, asalkan dia melipat kakinya dan bersandar pada tubuhku.

Hanya saja, ada satu masalah besar: sesi mandi yang seharusnya menenangkan ini telah berubah menjadi "sup ketegangan" yang sangat nyata bagi mentalku.

"Mmm, aku pernah mendengar tentang berendam air panas sebelumnya, tapi aku tidak pernah tahu kalau rasanya akan senikmat ini, Erich," katanya sambil melirik dari balik bahu dengan senyum nakal.

Kuncir rambutnya yang biasa kini terurai, dan pesona misterius yang ia pancarkan sama sekali tidak meninggalkan jejak kepolosan anak-anak seusianya.

"Aku senang kalau kau menyukainya..."

"Sangat suka," sahutnya. "Bagaimana kalau kita melakukannya lagi lain waktu?"

Sambil bicara, lengannya melingkari leherku dan dia menyandarkan seluruh berat tubuhnya ke dadaku.

"Apa—hei!"

"Tapi sayang sekali airnya cepat mendingin. Oh, jadi itu sebabnya kau tetap merebus air meskipun kita sudah di dalam bak. Coba kupikir, berapa banyak air panas yang harus kutambahkan lagi?"

Margit sebenarnya bisa meraih air panas dengan mudah jika dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

Tapi dia malah sengaja melakukannya sambil menempel padaku... Benar-benar mengerikan! Anak laki-laki lain seusia kami pasti sudah kehilangan kendali dalam berbagai hal jika berada di posisiku!

"Tetap saja, aku akan sangat menghargai jika kau memberiku peringatan lebih dulu."

Dia menyendok air panas lagi untuk menyesuaikan suhu, lalu menatapku dengan tatapan menuduh.

"Aku tidak tahu kalau harus membawa sabun, jadi aku tidak bisa mencuci badan."

"Tunggu sebentar," sela aku cepat, "kau tidak boleh melakukan itu."

"Apa? Tapi tujuan mandi 'kan untuk membersihkan tubuh."

"Bukan begitu. Di bak mandi ini, kau harus menjaga airnya tetap bersih."

"Hah? Tapi rasanya aneh kalau tidak sambil memakai sabun..."

"Pokoknya kau sama sekali tidak diperbolehkan mengotori air di bak mandi ini!"

Baik atau buruk, ceramah panjangku tentang etika mandi yang benar membuatku benar-benar lupa akan detail "berbahaya" dari situasi kami saat ini.

Namun, Margit yang hanya pernah mencoba sauna seumur hidupnya tetap tampak tidak yakin, tidak peduli seberapa antusias aku menjelaskan posisiku.


[Tips] Warga Kekaisaran biasanya juga membersihkan diri sebelum masuk ke tempat pemandian, namun menggunakan sikat badan di dalam air masih dianggap sebagai hal yang wajar.




Cinta yang Bergetar dan Cepat Berlalu


Tatapan sendu seorang gadis muda jatuh pada seorang anak laki-laki seusianya.

Bermandikan sinar matahari lembut yang tersaring melalui celah pepohonan di hutan kanton, Erich sedang tertidur lelap.

Di wilayah Rhinian, Erich bukan sekadar anak laki-laki biasa; ia menikmati ketenaran lokal yang bukan hanya bersumber dari rambut pirang dan mata birunya yang menawan.

Ada banyak alasan mengapa namanya dikenal di seluruh kanton mereka. Pertama dan yang paling sederhana: ia populer di kalangan wanita.

Di dunia yang belum mencapai kematangan budaya ini, Erich memiliki daya tarik paling mematikan yang bisa dimiliki seorang pria: kemampuan untuk menghasilkan uang.

Normalnya, seorang putra keempat yang tidak punya harapan mewarisi harta keluarga tidak akan dilirik lebih dari sekadar ranting jatuh.

Namun, Erich adalah topik utama dalam gosip setiap kali gadis-gadis muda berkumpul.

Patung Dewi buatannya begitu indah hingga pihak gereja memborongnya, dan papan permainan kayu hasil ukirannya menarik perhatian para perajin profesional.

Bahkan, ada rumor bahwa ia membiayai sendiri pengobatan adik perempuannya yang sakit-sakitan.

Di era di mana kelaparan adalah hukuman mati, siapa pun yang bisa menyediakan makanan pasti akan memenangkan hati lawan jenis.

Namun, ketertarikan gadis ini berbeda. Seperti Erich, ia adalah seorang Mensch, dan masa pubertasnya datang lebih awal dibanding teman sebaya—karena itu, makna di balik tatapan gairahnya pun berbeda.

Kisahnya klise dan biasa saja; namun bagi gadis berusia sepuluh tahun, itu terasa seperti takdir.

Suatu hari, teman-temannya mengejek pertumbuhan tubuhnya yang pesat.

Mereka tidak bermaksud jahat; gadis itu menjadi semakin cantik, dan teman-temannya hanya menggoda untuk menutupi rasa minder mereka sendiri.

Namun, bagi gadis muda yang rapuh, kata-kata tajam itu sangat menyakitkan. Ia merasakan luka dalam di hatinya dan hanya bisa berdoa agar dirinya menghilang.

Saat itulah Erich melangkah maju. Dengan Silver Tongue yang tak tertandingi, ia memutarbalikkan suasana hingga sebelum mereka sadar, mereka semua sudah bermain bersama lagi.

Gadis itu kembali menemukan tempatnya, dan di saat yang sama, ia terpikat oleh tatapan lembut Erich yang mengawasi mereka.

Bagi orang luar, kefasihan bicara Erich mungkin terlihat mencurigakan, namun bagi gadis itu, Erich adalah sosok yang paling bisa diandalkan. Rasa syukurnya pun perlahan bermutasi menjadi cinta.

Sejak saat itu, ia tidak bisa mengalihkan pandangan setiap kali Erich muncul.

Namun, ia memilih untuk tetap diam dan tidak ikut campur dalam gosip teman-temannya.

Bagi gadis itu, nilai terbaik Erich bukan karena uangnya. Erich itu baik, peduli, dan tidak akan meninggalkanmu di masa sulit. Terlebih lagi, ia mendengar Erich menjalani latihan berat bersama Konigstuhl Watch karena satu alasan yang menggetarkan hatinya: Erich tidak ingin orang lain merasakan sakit yang sama. Betapa gagah dan muliakah dia?

Tak satu pun gadis lain memahami nilai aslinya. Uang bukanlah hal utama.

Gadis itu hanya bisa membayangkan betapa besarnya perhatian yang akan Erich berikan pada wanita yang dianggapnya paling berharga.

Fantasi itu mengirimkan sensasi geli yang manis ke seluruh tubuhnya.

Namun, hari ini perasaannya sedikit berbeda. Ketakutan sedingin es menjalar dari tulang belakangnya.

Terkejut karena kehangatan bahagianya terganggu, ia berbalik dan bertemu dengan sepasang mata emas yang bersinar tajam.

"Permisi, apakah kau keberatan bergabung denganku untuk mengobrol santai?"

Suara itu terdengar ramah sekaligus mengancam. Hawa dingin yang dibawanya seketika menenggelamkan perasaan hangat sang gadis—dan itu adalah terakhir kalinya ia merasakan getaran cinta tersebut.


[Tips] Dahulu kala dalam sejarah manusia, kemampuan mencari penghasilan tambahan di musim dingin jauh lebih memikat daripada ketampanan atau suara nyanyian yang merdu.




Seni Pembunuhan Rahasia


Hanna memiringkan kepalanya saat mendengar ketukan pelan di pintu. Ia tidak mengharapkan tamu, dan kerabatnya biasanya tidak akan bersikap sopan dengan meminta izin masuk.

Saat ia membuka pintu, berdirilah seorang gadis muda yang membawa keranjang.

"Oh, ternyata Margit!"

"Apa kabar, Ibu Hanna?" ucap si gadis laba-laba sambil membungkuk anggun layaknya seorang bangsawan.

Hanna sangat menyukai teman putranya ini. Baginya, Margit sangat menggemaskan, mulai dari rambut kastanya hingga mata cokelat keemasannya yang jernih.

Di pedesaan yang minim hiburan, drama kehidupan menjadi tontonan utama, dan tidak ada yang lebih menarik bagi seorang ibu daripada kisah cinta anaknya.

Sebagai putra keempat yang sulit mencari pasangan, melihat Erich terlibat dalam romansa muda membuat Hanna sangat gembira.

Terlebih lagi, Margit adalah pekerja keras yang santun. Jelas sekali bahwa gadis itu sangat mencintai Erich.

Hanna, yang juga pernah menjadi gadis yang jatuh cinta, bisa melihatnya dengan jelas.

"Ini dari ibuku, sebagai balasan karena telah meminjamkan minyak tempo hari."

Keranjang itu berisi potongan daging rusa yang diproses dengan sangat rapi. Para pemburu di sini mencari nafkah dengan melindungi cagar alam, dan daging rusa adalah komoditas mahal.

Karena sering membuat sabun dari lemak buruan, para pemburu membutuhkan banyak minyak untuk merawat peralatan mereka. Keluarga Johannes yang memiliki ladang zaitun sering membantu mereka.

"Wah," puji Hanna, "ini potongan daging bagian bahu!"

"Iya, aku dengar kalian sekeluarga menyukainya."

Hanna pun mendapat pencerahan. "Kau tahu, Margit... Erich sedang keluar menjalankan tugas kecil."

"Iya, aku tahu," jawab Margit. "Aku tidak ingin mengganggu, jadi aku pamit—"

"Aku akan memasak salah satu hidangan kesukaannya. Mau ikut membantu?"

"Tentu saja!"

Hanna tersenyum lebar melihat antusiasme Margit. Ia teringat masa mudanya saat menghabiskan waktu di dapur bersama calon ibu mertuanya. Ia merasa sangat beruntung; ada seorang gadis yang mencintai Erich bukan karena kekayaan, tapi tulus karena pribadinya.

"Untuk bahan utamanya, kita akan mencari anggur yang paling asam."

"Hah? Tapi Erich suka anggur manis..."

"Hehe, benar. Tapi kita akan menyeimbangkan rasanya dengan madu agar tidak terlalu tajam."

Melihat Margit mendengarkan dengan serius seolah sedang menyimak khotbah uskup, Hanna dengan senang hati mengajarkan "seni rahasia" untuk menaklukkan hati seorang pria.


[Tips] Sauerbraten adalah hidangan daging rendam bumbu yang merupakan masakan klasik di Kekaisaran. Biasanya menggunakan daging babi atau rusa yang direndam dalam saus berbahan dasar anggur.

◆◇◆

Suara riang bergema di meja makan keluarga. Makan siang porsi besar adalah ciri khas warga Rhinian untuk mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan berat di sore hari.

"Wah, ini luar biasa seperti biasanya!"

Saat aku sedang asyik menyantap hidangan favoritku, ibu tersenyum penuh arti. Ia mulai bercerita dengan nada merdu bahwa hidangan hari ini dibuat bersama Margit yang mampir tadi pagi.

"Oh, jadi ini dari gadis itu," sahut ayah. "Pantas saja dagingnya lebih lembut, pengolahan dari keluarga pemburu memang beda."

"Heinz, kau jenius!" seru Michael. "Erich, kalau kau menikah dengan Margit, apa kita bisa makan daging babi hutan dan burung sesuka hati?!"

"Itu ide bagus," Hans menimpali. "Jadi, Erich, kapan kau akan meminang keluarga mereka?"

Ucapan saudara-saudaraku membuatku mengernyitkan dahi. Cara Margit memasang jebakan ini benar-benar licik! Pikirku sambil terus mengunyah.

"Tuan Kakak, jangan menikah!" seru Elisa tiba-tiba.

"Kenapa tidak, Elisa? Memangnya kau tidak mau makan daging enak setiap hari?" goda abangku.

Aku hanya bisa menghela napas, menikmati pembelaan dari adik perempuanku sambil terus memakan hidangan yang sebenarnya adalah "perangkap kuliner" ini. Rasanya memang lezat, tapi kenyataan bahwa rasa ini bisa menentukan masa depanku membuatku sedikit getir.


[Tips] Pernikahan biasanya lebih banyak ditentukan oleh orang-orang di sekitar pasangan daripada keinginan pasangan itu sendiri.




Ibu yang Agresif


Aku mengetuk pintu sebuah rumah yang hampir tidak mirip dengan kediamanku sendiri, lalu sebuah suara lembut menjawab dari dalam.

Rumah batu yang berdiri di bawah bayang-bayang hutan ini adalah rumah bagi pemburu resmi yang ditunjuk oleh hakim kanton—yang sekaligus merupakan tempat tinggal Margit. Namun, bukan Margit yang menyambutku di depan pintu.

"Wah, wah! Selamat datang!"

"Maafkan aku, Sayang. Margit sedang pergi keluar sebentar. Kenapa kau tidak masuk saja dulu?"

Rambut kastanye yang familier dan mata cokelat besar yang manis menyambutku.

Wajahnya bulat dan tampak sangat muda, seolah-olah kami sebaya jika hanya dilihat dari penampilannya.

Namun, instingku berkata lain; wanita berkaki delapan ini sama sekali bukan saudara perempuan teman masa kecilku.

Rambutnya sedikit bergelombang, dan auranya benar-benar berbeda dari Margit. Jika putrinya memancarkan aura kenakalan, wanita ini memiliki ketenangan layaknya wanita dewasa yang matang.

"Apakah kau mau teh?" tanya ibu Margit yang terhormat kepadaku.

Sikapnya benar-benar berbenturan dengan penampilannya: dia jelas tidak terlihat seperti wanita berusia tiga puluhan.

Meskipun ia bisa saja dikira sebagai kakak perempuan Margit yang masih remaja, ekspresi dan tingkah lakunya memancarkan keanggunan seorang wanita dewasa.

Aku bisa melihat anting yang menjuntai di telinganya dari balik helai rambutnya, dan pakaian longgarnya memperlihatkan kulit yang dipenuhi tato di baliknya.

Ini bukan pertama kalinya aku terkejut dengan gaya penampilannya yang berani.

Saat festival sebelumnya, ia mengenakan pakaian tradisional suku laba-laba dengan potongan rendah yang memperlihatkan tato laba-laba di perut bawahnya, serta sepasang sayap kupu-kupu tepat di atas tulang ekornya.

"Tidak, terima kasih, Tuan Putri—maksudku, Bibi. Saya baik-baik saja," jawabku sopan.

"Tidak baik bersikap terlalu sungkan sejak usia muda. Ayo, duduklah, aku baru saja menyeduh teh baru."

Wanita "berpengalaman" itu mendorongku ke kursi dan menuangkan secangkir teh merah.

Teh itu tidak hanya segar, ia bahkan mencampurnya dengan buah kering buatan sendiri agar aku tidak segera beranjak pergi. Harga diriku tidak akan membiarkanku menyia-nyiakan teh seenak ini.

Ah, sudahlah, nikmati saja.

"Anak muda memang luar biasa," katanya sambil terkekeh. "Kalian semua begitu penuh dengan gairah hidup."

Pernyataannya sarat akan makna mendalam yang mengirimkan getaran aneh ke tulang belakangku.

Jika bisikan Margit terasa seperti tetesan es yang tiba-tiba, maka suara ibunya terasa seperti bulu yang mengelitik punggungku dengan lembut.

"Kau tahu, saat aku masih muda dulu—"

"Ibu! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan?!"

Suara familier sahabatku memecah suasana manis yang menggoda telingaku.

Dengan keranjang di lengannya, entah mengapa ia masuk melalui jendela yang terbuka.

Ia melompat ke arahku dengan kelincahan luar biasa hingga aku sempat kehilangan jejak gerakannya, dan sebelum aku sempat bereaksi, ia sudah menerjang ke dadaku.

Senyum cerianya menghilang, digantikan tatapan tajam yang ditujukan kepada ibunya dari balik bahuku.

"Kenapa Ibu merayu Erich?!"

"Apa maksudmu? Ibu hanya menuangkan teh untuknya."

Kemarahan Margit yang tidak biasa membuatnya tampak seperti serigala muda yang agung, alisnya berkerut saking marahnya.

Aku mencoba menenangkannya dan segera menghabiskan tehku agar bisa segera pergi. Kami sudah janji akan latihan memanah di hutan hari ini.

"Apa yang membuatmu begitu kesal?" tanyaku heran.

"Aku melihat betapa kau terpikat pada ibuku," gerutunya.

"Apa?! Tidak, tunggu dulu..." Aku mencoba meredakan kecurigaannya, tapi ia tetap merajuk, dan latihan memanah hari itu berubah menjadi siksaan yang melelahkan.


[Tips] Ras Arachne mencapai kematangan fisik relatif cepat dan penampilan mereka hampir tidak berubah setelah itu.

◆◇◆

"Margit terdengar sangat marah. Apa yang terjadi?"

Seorang lelaki kurus berjalan turun dari lantai dua sesaat setelah putrinya menyeret temannya pergi dengan kemarahan yang meluap-luap.

Lelaki itu menanggalkan sarung tangan kerjanya dan mengibaskan serpihan kayu dari pakaiannya.

Ia tampak berusia sekitar lima puluh tahun; meskipun ia terlihat seperti kakek bagi Margit, hubungan mereka sebenarnya adalah ayah dan anak.

Sedikit orang yang akan percaya bahwa usia lelaki ini dan istrinya sebenarnya tidak terpaut jauh.

"Hm? Aku hanya memberinya sedikit 'dorongan'."

Sang pemburu sejati duduk di sebelah istrinya. Berbeda dengan senyum riang sang istri, ia membiarkan otot-otot wajahnya rileks. "Apa yang akan kau lakukan jika kau malah membuatnya benar-benar bergairah?"

"Tapi Sayang, menurutku tidak baik jika dia terlalu percaya diri dengan posisinya sekarang." Sang istri meletakkan tangan di pipi dan memiringkan kepalanya, menyebabkan sensasi familier menjalar ke tulang belakang suaminya. "Jika seorang pemburu ceroboh dan membiarkan buruannya lolos... yah, itu bukan hal yang patut dibanggakan, bukan?"

Alasan sang suami merinding sangatlah sederhana: ekspresi istrinya saat ini adalah ekspresi predator murni.

Mengingat sejarah mereka, sang suami tersadar bahwa meskipun ia berstatus sebagai pemburu, dulu ia hanyalah mangsa tak berdaya yang terjerat dalam jaring laba-laba wanita ini.

Menurut pandangan istrinya, putri mereka memang kandidat terkuat dalam kompetisi cinta ini, namun keberhasilan itu membuatnya sombong dan mulai "bermain-main dengan makanannya".

Tentu saja sang ibu tidak melarang periode manis tersebut, namun baginya, tidak bisa diterima jika Margit lengah dan melupakan bahaya dari para pesaing romantis lainnya.

"Gadis kecil kita punya banyak pesaing berat. Kau tahu itu, kan?"

"Masuk akal," jawab sang suami. "Anak itu punya reputasi yang sangat baik."

Wajah Erich terlintas di pikiran sang pemburu kurus. Anak itu tekun, jujur, dan populer berkat hasil ukirannya yang bernilai tinggi.

Para janda dan keluarga tanpa anak laki-laki di kanton sangat menyukainya.

Sang ayah sebenarnya terkesan dengan kemampuan putrinya menjaga posisi di samping Erich.

Namun, jika Margit terus mengulur waktu, ia berisiko kehilangan mangsanya akibat sergapan predator lain.

 Lagipula, ada situasi di mana seorang pria tidak punya pilihan selain "bertanggung jawab".

"Jadi, begitulah..." sang istri terkekeh nakal.

Tawa itu membuat sang suami dipenuhi firasat buruk. Ia diam-diam bersimpati pada Erich.

Ini akan menjadi jalan yang berduri untukmu, Nak.

"Ada apa, Sayang? Ada yang salah?"

"...Mana mungkin. Aku hanya berpikir betapa cantiknya istriku hari ini."

"Wah, merayu istrimu sendiri tidak akan memberimu hadiah apa-apa, tahu? Tapi tentu saja, aku akan dengan senang hati menerima apa pun yang kau 'berikan' padaku nanti."

Sang istri menyeringai menanggapi gurauan suaminya. Kedua senyum mereka, meski memiliki arti yang berbeda, terus bertahan untuk beberapa saat di dalam rumah batu itu.


[Tips] Istilah "Tanggung Jawab" umumnya dibebankan kepada pihak laki-laki, bahkan ketika sebenarnya ialah yang dipojokkan.




Pandangan Arachne tentang Cinta


Setiap percakapan di dalam lingkaran gadis-gadis muda pasti akan bermuara pada topik tentang asmara, lengkap dengan aroma kelopak bunga yang seolah menari di udara.

Bibir yang telah dibasahi alkohol dalam dosis yang pas biasanya akan mulai membocorkan nama pria idaman mereka, atau bahkan rahasia terdalam mengenai kriteria pria yang mereka sukai.

"Kenapa aku jatuh cinta padanya?" Margit mengulang pertanyaan itu untuk meyakinkan diri.

Menghadapi pertanyaan tersebut, senyumnya yang biasa kini berganti menjadi seringai yang jarang ia perlihatkan.

Ocehan asmara para gadis lokal saat mabuk sebenarnya cukup membosankan baginya.

Terlebih lagi, ia merasa tidak pantas membicarakan hal sepribadi itu secara terbuka. Margit sangat menikmati "posisi" yang ia tempati saat ini: bukan kekasih, tapi lebih dari sekadar teman.

Hubungan manis yang menyisakan sedikit rasa asam itu memberikan rangsangan yang menyenangkan bagi indranya.

Di atas segalanya, Margit sadar betul bahwa ia tidak sendirian dalam usahanya memenangkan hati sang pujaan. Ia tidak berniat memberikan amunisi sedikit pun kepada para pesaingnya.

Namun, karena terus didesak tentang alasan ia begitu mencintai Erich, sang pemburu kecil itu akhirnya mengalah—sebab menonjol secara negatif di antara teman-temannya bukanlah hal yang ideal. Terkadang, kemampuan untuk "mengalah" adalah sebuah skill yang berguna.

Sosok yang mengisi hati Margit tentu saja teman masa kecilnya, Erich.

Dorongan rasa ingin tahunya mungkin sederhana, namun akar cintanya tumbuh sangat dalam.

Ia memikirkan alasan yang jumlahnya lebih banyak dari jemarinya, mencoba mencari alasan yang paling fundamental.

"Biar kupikir..." Setelah jeda yang cukup lama, ia memulai. "Mungkin karena keteguhan tekadnya."

Erich adalah orang yang tidak mudah goyah. Ada kalanya ia berhenti sejenak untuk berpikir, namun ia tidak akan pernah mengabaikan nilai-nilai inti yang telah ia pilih.

Sesulit atau serumit apa pun tugas yang dihadapi, ia selalu menuntaskan apa yang sudah ia mulai. Begitu pula dengan janji; ia tidak pernah mengingkarinya.

Watak itu juga tercermin secara fisik: Erich tidak pernah membiarkan Margit terjatuh saat gadis itu menerkamnya.

Melompat ke arah seseorang bukanlah hal sepele; kesalahan kecil bisa berakibat cedera serius bagi si pelompat maupun yang ditubruk.

Apalagi bagi ras laba-laba yang memiliki tubuh padat—hantaman dalam kecepatan penuh bisa mematahkan satu atau dua tulang jika tidak diantisipasi dengan benar.

Namun, Erich selalu menangkapnya dengan penuh kasih sayang. Margit memiliki kepercayaan mutlak saat menerjang Erich, sama seperti saat ia melompat ke dahan pohon tua yang besar dan kokoh.

"Kalian tahu, daftar hal yang bisa dilakukan tanpa persiapan itu sangatlah terbatas," ucap si gadis laba-laba sambil menghabiskan minumannya.

Kata-katanya hanya menyulut api kecemburuan di hati gadis-gadis lain.

Berapa banyak 'tempat' di dunia ini yang bisa dipercayai untuk menyerahkan seluruh berat tubuh mereka?

Bahkan bagi kebanyakan orang, sulit untuk benar-benar rileks saat berbaring di tempat tidur sendiri dengan keyakinan bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Kepercayaan diri Margit meninggalkan kegelisahan di benak teman-temannya: apakah gebetan atau tunangan mereka sanggup menerima mereka sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional?

 Rasa frustrasi para penonton dan efek mead (yang diperparah oleh toleransi alkohol Margit yang rendah) mendorong si gadis laba-laba untuk terus memamerkan sifat-sifat Erich yang menawan.

Ia bercerita tentang hal-hal kecil yang dilakukan Erich dengan santai saat menggendongnya; tentang betapa perhatiannya Erich menyiapkan apa pun yang ia inginkan bahkan sebelum diminta; tentang sifat pemaafnya dan kesediaannya membantu Margit belajar dari kesalahan tanpa sedikit pun celaan; dan yang terpenting, tentang bagaimana Erich selalu tahu kata-kata yang ingin ia dengar di setiap kesempatan.

Berapa banyak orang di dunia ini yang akan peduli padanya sedalam itu?

"...Oh, dan kalau dipikir-pikir lagi, rambutnya sangat indah."

Pujian Margit atas ketampanan Erich justru muncul di akhir ceritanya sebagai sekadar pemikiran lewat, membuat gadis-gadis di sekitarnya merasa semakin rendah diri.

Tanpa menyadari—atau mungkin tidak peduli—dengan gejolak batin mereka, ia bangkit dari meja untuk pergi sambil berujar, "Nah, lihat saja sendiri."

Baru saja Margit membicarakannya, sosok yang dimaksud pun muncul.

Erich tampaknya baru saja mendapatkan 'undian buruk' lagi, terlihat dari wajah lelahnya saat berjalan membawa minuman di tangan.

Si gadis laba-laba menyiapkan kuda-kuda untuk manuver rutinnya.

Sebagai gadis yang sedang dimabuk cinta, pertunjukan bombastis ini adalah hak yang diberikan Dewa untuknya.

Ia menyembunyikan kehadirannya dengan skill Stealth, menyelinap ke belakang Erich tanpa suara, lalu menggunakan seluruh kelincahan khas Arachne untuk melompat langsung ke arahnya.

Hasilnya tak perlu dijelaskan lagi dengan kata-kata—melihat banyaknya gelas yang dikosongkan dengan penuh frustrasi oleh gadis-gadis di meja tadi sudah menjadi bukti kesuksesannya.

Setelah serangan diam-diamnya berhasil, Margit dengan riang membenamkan wajahnya ke rambut emas Erich yang lembut dan tersenyum penuh kemenangan.




Previous Chapter
 | ToC | End V1

Post a Comment

Post a Comment

close