Translated by: Nels-chan
Profreader by: Nels-Chan
Chapter 2
Akan Dimarahi Jika Memancing Murka
Beberapa hari setelah Bennett-san datang untuk memeriksa,
ada reaksi pada penghalang. Karena Ivern dan yang lainnya bertiga yang selalu
datang ke sini sudah kuberi tanda izin, itu bukan mereka. Kalau begitu, entah
orang tersesat, atau... penyusup.
"Mayleen, sepertinya ada seseorang yang terjebak di
penghalang. Aku akan pergi melihat sebentar."
Hari ini mual-mualnya tidak terlalu berat, dan aku memanggil
Mayleen yang terlihat lebih bugar dari biasanya menuju pintu depan. Mayleen
mengantarku sampai ke depan pintu.
"Berhati-hatilah, ya?"
Sambil berkata demikian, Mayleen memberiku ciuman sebelum
berangkat.
"...Sekali lagi."
"Fufu, Papa yang manja ya."
Mayleen mengelus perutnya yang bahkan belum terlihat buncit,
lalu menciumku sekali lagi. Ah, entah mengapa, hanya saat bersentuhan dengan
Mayleen seperti inilah aku benar-benar merasa hidup.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Kali ini aku benar-benar keluar rumah dan berpindah ke
tempat di mana ada reaksi pada penghalang. Aku bergerak mengikuti reaksi itu...
dan menemukannya. Ada tiga orang. Walaupun mereka memakai baju zirah, tapi...
bukan ksatria. Aku sudah beberapa kali melihat ksatria Weimar, dan mereka semua
memakai baju zirah yang seragam. Baju zirah orang-orang di sini semuanya
berbeda-beda. Sepertinya masing-masing dibeli dari toko pelindung yang berbeda.
Jadi, mereka ini bukan ksatria,
melainkan penjelajah atau pemburu hadiah.
Jika mereka hanya
penjelajah yang tersesat, akan merepotkan jika aku menghabisi mereka begitu
saja. Karena itu, hal pertama yang kulakukan adalah memastikan identitas mereka
bertiga.
"Yo. Sedang
apa di tempat seperti ini? Apa kalian tersesat?"
Begitu aku
memanggil mereka, ketiganya sangat terkejut, lalu memegang gagang pedang di
pinggang mereka.
"Oi, oi, aku
memanggil kalian karena khawatir, tahu? Lepaskan tangan kalian dari benda
berbahaya itu."
Aku mengangkat
kedua tanganku di depan wajah sambil memanggil mereka bertiga. Namun, mereka
tidak melepaskan tangan dari gagang pedang. Ah, sepertinya memang pemburu
hadiah.
"...Kenta
Maya, kah?"
Dugaanku benar,
namaku dipanggil. Sudah pasti pemburu hadiah.
"Memangnya
kenapa?"
Saat aku menjawab
begitu, mereka bertiga celingukan melihat sekeliling, lalu menghela napas
kecewa.
"Kau punya
rumah di sekitar sini, kan? Bisa antarkan kami ke sana?"
"Kenapa?"
Apa mereka ini
bodoh? Kenapa aku harus mengundang pemburu hadiah ke rumahku sendiri. Karena
pertanyaan polosku itu, salah satu dari mereka yang tampak tidak sabaran
memelototiku dengan penuh ancaman.
"Hah!?
Berisik amat sih!! Diam dan antarkan saja kami ke rumahmu!!"
"Makanya,
kenapa?"
Bukankah wajar
jika aku tidak ingin mengundang orang kasar seperti ini ke rumahku? Namun,
sepertinya pria tidak sabaran ini tidak suka dengan sikapku, dan dia semakin
naik pitam.
"Kau!!
Jangan meremehkanku!? Kau pikir aku ini siapa!! Aku ini pemburu hadiah terkuat,
Nigimar-sama!!"
"Eh?
Tidak kenal."
Nigemaru
(lari tunggang langgang)? Begitu kedengarannya, tapi karena ini bukan bahasa
Jepang, tidak ada gunanya mengejeknya. Omong-omong, alasan mengapa aku bisa
berbicara lancar dengan orang-orang di dunia ini adalah karena bonus
pemanggilan. Hah, benar-benar kebetulan yang praktis. Terlepas dari itu, saat
aku sengaja memprovokasinya, si Nigimar itu wajahnya memerah padam, seolah-olah
pembuluh darahnya akan pecah saat itu juga.
"K-Kau...
ini pertama kalinya dalam hidupku aku dihina sampai seperti ini... Aku
benar-benar marah sekarang... Baiklah, aku akan menghajarmu sampai babak belur.
Lalu, aku akan membuatmu membocorkan lokasi rumahmu sambil menangis
kesakitan."
"Hmm. Lalu,
setelah tahu lokasi rumahnya, mau kau apakan?"
Saat aku bertanya
begitu, Nigimar tersenyum dengan menjijikkan.
"Tentu saja,
aku akan mengacak-acak wanita yang kau sembunyikan itu..."
Begitu aku
memahami kata-katanya, aku langsung menebas leher dua orang lainnya selain
Nigimar.
"...Eh?"
"Hei."
"Hii!?"
Saat aku memegang
rambut di kepala kedua orang itu dan mengangkatnya sambil memanggil Nigimar,
dia mengeluarkan suara yang menyedihkan.
Aku
mengabaikan Nigimar dan menendang perutnya sekadar agar dia tidak mati.
"Goekk!!"
"Siapa
yang memberitahumu soal itu?"
Aku
menatap rendah ke arah Nigimar yang memegangi perutnya sambil memuntahkan isi
perutnya.
"O...
oekk..."
"Oi,
cepat jawab."
"Ugikk!?"
Aku
menginjak kepala Nigimar yang meringkuk tak menjawab, memaksa wajahnya masuk ke
dalam muntahannya sendiri.
"Siapa yang memberitahumu soal itu?"
Tergantung jawabannya, aku harus menentukan tindakanku
selanjutnya. Karena itu, aku ingin dia cepat menjawab.
"I-Iya,
aku mengerti! Aku akan bicara! Aku akan bicara, jadi tolong angkat
kakimu!"
"Mana
mungkin aku mengangkatnya. Bicara saja seperti itu."
Kenapa
aku harus melakukan hal yang menguntungkan bagi orang ini?
Aku menolak
permohonan Nigimar dan semakin menekan kepalanya dengan kakiku.
"Agakk!
P-Pecah!! Kepalaku bisa pecah!!"
"Ternyata
kau masih bisa bicara. Kalau cepat bicara, kepalamu tidak akan pecah."
"Aku bicara!
Aku akan bicara!!"
Setelah terdiam
sejenak, Nigimar mengambil sebuah surat buronan dari balik bajunya dalam posisi
terjatuh.
Itu adalah surat
buronan diriku, tapi sepertinya itu baru saja diterbitkan.
Aku menerimanya
dan membaca isi surat tersebut.
Begitu
membacanya, aku merasa darah di sekujur tubuhku mendidih.
Di surat buronan
itu tertulis...
'Surat Buronan: The Wicked Summoner Kenta Maya dan
kekasihnya. Terutama bagi yang berhasil menangkap kekasihnya dalam keadaan
hidup, akan dibayar dua kali lipat. Diterbitkan oleh: Weimar Kingdom.'
...Hooo.
Jadi begitu. Karena mereka merasa tidak bisa menjinakkan
aku, kali ini mereka berniat menyandera Mayleen agar aku menurut.
Terlebih lagi, di sana hanya tertulis 'tangkap hidup-hidup',
yang berarti tidak masalah meski mereka berbuat kasar padanya asalkan dia masih
bernapas.
"Haa..."
Sambil tetap menginjak kepalanya, aku mengikat kedua tangan
dan kaki Nigimar dengan tali, lalu memanggulnya di bahu.
"Hii! M-Mau
pergi ke mana!?"
"Hah? Sudah
jelas, kan?"
Bisa-bisanya
mereka menerbitkan hal seperti ini.
Sepertinya Weimar
Kingdom... ingin menyatakan perang denganku.
"Ke Kastil
Weimar Kingdom. Aku tidak tahu jalannya, jadi kau yang harus
menunjukkannya."
"Ha...
haah!?"
"Ah, kalau
kau berani memberitahu jalan yang salah, aku akan mencincangmu di tempat. Jadi
tunjukkan jalan yang benar."
"Hii...
I-Iya, aku mengerti..."
Dengan begitu,
aku pun menuju Kastil Weimar Kingdom dengan dipandu oleh Nigimar.
Ah, sebelum itu,
aku harus memberitahu Mayleen lewat telepati.
Mari kita lihat.
'Mayleen.
Sepertinya Weimar ingin perang denganku, jadi aku pergi ke kastil mereka
sebentar. Aku akan pulang sebelum makan malam.'
'Oke. Hati-hati
ya.'
Mendengar jawaban
Mayleen, aku langsung mengincar Kastil Weimar Kingdom... dan mulai terbang di
angkasa.
"NUWAAAAAAA!!!!"
"Berisik
sekali. Apa arahnya benar lewat sini?"
"Aaaaa....
hya? I-Iya, benar! A-Agak ke kanan sedikit!"
"Kanan ya.
Di mana?"
"Ce-Cepat
sekali!! Uwooo... jalannya kelihatan kecil sekali dari sini... dan ini cepat
sekali..."
"Oi, aku
tanya di mana."
"Ha-Haik!
Jalan yang terlihat di bawah ini terhubung langsung ke ibu kota, Bos!!"
Entah
kenapa, cara bicaranya tiba-tiba berubah jadi seperti kacung.
Memang
benar-benar Nigimar... si lari tunggang langgang.
Mengikuti
petunjuknya dan terus lurus menyusuri jalan utama, akhirnya sebuah kota besar
terlihat di kejauhan.
"Oi,
yang itu?"
Meskipun
kotanya besar, belum tentu itu adalah ibu kota Weimar. Jadi aku memastikannya,
dan Nigimar mengangguk mantap.
"I-Iya,
benar itu, Bos!! Gila! Padahal biasanya butuh waktu seminggu untuk sampai ke
ibu kota, tapi ini cuma sekejap!!"
Begitu
ganti profesi jadi kacung, dia malah jadi bersemangat dengan situasi ini.
Benar-benar orang yang menjijikkan, si Nigimar ini.
"Oke.
Kalau begitu, mari turun dan bicara."
Aku bergumam
pelan lalu mulai turun dari angkasa.
"Eh?
Bicara?"
"Iya. Aku
merasa terganggu gara-gara surat buronan konyol yang kalian terbitkan itu. Aku
akan menuntut permintaan maaf dan uang kompensasi."
Saat aku
mengatakannya sambil turun, Nigimar mulai berteriak lagi.
"H-Hah!? Apa
kau bodoh, Bos!? Itu sama saja cari ribut dengan keluarga kerajaan!!"
Orang ini bicara
apa, sih.
"Ini bukan
cari ribut."
Benar, yang akan
kulakukan sekarang adalah...
"Ini
perang."
"GYAAAAAA!!!!"
Nigimar terus berteriak
di sampingku saat aku menukik turun.
◆
Ibu Kota Weimar.
Tempat itu adalah
kota terbesar di Weimar Kingdom. Karena merupakan lokasi kastil tempat keluarga
kerajaan tinggal, pemeriksaan dilakukan di gerbang masuk—sesuatu yang tidak
ditemukan di kota atau desa tetangga demi alasan keamanan.
Hari itu, petugas
pemeriksaan di ibu kota sedang menjalankan tugas seperti biasanya. Tugas mereka
adalah memeriksa orang dan barang yang keluar-masuk ibu kota, mencegah masuknya
orang atau benda berbahaya, serta menekan kebocoran rahasia negara.
Rutinitas harian
yang biasa.
Semua itu hancur
berantakan sesaat setelah tugas dimulai.
"............aaaaaaa"
"Hm?"
Petugas
pemeriksaan mengangkat wajah dari barang yang sedang diperiksanya karena
mendengar suara sayup-sayup.
"Apa kau
baru saja mengatakan sesuatu?"
"Tidak? Saya
tidak bicara apa-apa... tapi saya juga mendengar sesuatu tadi."
Saat menanyai
orang di depannya, orang itu juga mengaku mendengar sesuatu meskipun bukan dia
yang bersuara. Begitu mereka berdua celingukan melihat sekeliling, petugas
pemeriksaan lain pun melakukan hal yang sama.
Saat itulah
mereka menyadari bahwa bukan hanya mereka yang mendengar suara misterius itu.
Itu artinya, suara tadi jelas-jelas berasal dari seseorang. Mungkinkah ada yang
mencoba masuk secara ilegal atau melarikan diri ke luar ibu kota dengan
bersembunyi di dalam muatan barang?
Petugas lain juga
menyadari kemungkinan itu dan baru saja hendak menggeledah semua barang
sekaligus, saat...
"AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!"
Seorang pria
jatuh dari angkasa sambil berteriak kencang.
"H-Hah!?"
Pemandangan yang
sangat aneh itu membuat mata para petugas dan warga yang sedang diperiksa
membelalak lebar. Seorang pria jatuh lurus ke arah mereka. Jika begini terus,
dia akan menghantam tanah dan hancur berkeping-keping.
Namun, tidak ada
yang bisa mereka lakukan. Paling tidak, tugas mereka adalah mengevakuasi warga
sipil agar tidak ikut menjadi korban.
Tepat saat mereka
hendak mengarahkan warga, tiba-tiba kecepatan jatuh pria itu melambat.
"...Hah?
Eh?"
Lagi-lagi terjadi
kejadian yang tidak masuk akal. Menghadapi pemandangan tidak realistis yang
terjadi berturut-turut, semua orang di tempat itu hanya bisa melongo dan
memperhatikan pria yang turun tersebut.
Setelah pria itu
cukup dekat, barulah mereka menyadari bahwa yang turun bukan hanya satu orang,
melainkan dua. Dan pria yang tadi berteriak kencang itu berada dalam keadaan
terikat tangan dan kakinya.
Sebenarnya,
situasi macam apa ini?
Dalam situasi
yang sama sekali tidak dipahami itu, semua orang terpaku bingung. Tiba-tiba,
pria yang memanggul tawanan itu menyodorkan surat buronan kepada petugas
pemeriksaan.
"Anu,
aku ingin menghubungi orang yang menulis ini, bisa tolong antarkan?"
"Bos! Jangan
bicara seperti itu!"
"Berisik,
diamlah."
Jelas terlihat
itu percakapan antara atasan dan bawahan, namun si atasan benar-benar bersikap
sangat angkuh. Terlebih lagi, untuk sampai ke sini seharusnya orang-orang harus
mengantre panjang, tapi dia malah berbuat curang dengan datang langsung dari
langit. Merasa tidak senang, petugas pemeriksaan memutuskan untuk bersikap
tegas.
"Itu surat
buronan yang diterbitkan keluarga kerajaan. Mana mungkin aku bisa mengantarmu.
Aku baru pertama kali melihat orang mencurigakan sepertimu. Tangkap dia
sekarang juga!!"
Mendengar
perintah itu, para prajurit penjaga mulai bergerak. Pria itu melirik mereka
sejenak, menghela napas pendek, lalu tiba-tiba melepaskan energi sihirnya.
Energi sihir itu begitu pekat, lebih dari apa pun yang pernah mereka rasakan
dari bangsa iblis sekalipun—sebuah energi yang memancarkan kengerian murni.
Seketika, semua orang di tempat itu tidak bisa menggerakkan tubuh mereka barang
selangkah pun.
"A... a...
a..."
"Tidak perlu
bertindak berlebihan seperti itu. Tanya saja pada orang yang menulis ini.
Berani-beraninya menerbitkan surat buronan seperti ini..."
Pria itu
tiba-tiba berubah. Sikap santainya menghilang, digantikan tatapan tajam yang
menghujam ke arah istana.
"Ini artinya
kalian ingin perang denganku, kan?"
Begitu kata-kata
itu terucap, semua orang termasuk petugas pemeriksaan jatuh terduduk lemas.
Orang ini berbahaya. Dia adalah sosok yang seharusnya tidak boleh dibiarkan
masuk ke ibu kota. Kami harus menghentikannya di sini! Begitu pikir sang
petugas, namun bertolak belakang dengan hatinya, tubuhnya gemetar ketakutan dan
tidak bisa bergerak sama sekali. Hal yang sama terjadi pada orang-orang di
sekitarnya; bahkan ada yang sampai mengompol.
Melihat
pemandangan itu, pria tersebut kembali menghela napas pendek dan menghentikan
pelepasan energi sihirnya.
"Nah,
sekarang sudah bisa bergerak kan. Cepat sana kirim orang ke istana untuk menanyakan pertanyaan tadi."
"……"
Meskipun sudah
diperintah, tidak ada yang berani bergerak. Hingga kemudian...
"CEPAT!!"
Begitu dia
membentak dengan keras, salah satu prajurit dengan terburu-buru naik ke kudanya
dan memacu kencang menuju istana. Pria itu melihat kepergiannya, lalu bicara
pada orang-orang yang masih terduduk lemas di sekitarnya.
"Ah—kalian
lebih baik segera lari dari ibu kota ini sekarang juga. Soalnya..."
Dia
tersenyum menyeringai.
"Sebentar
lagi ibu kota ini akan hancur lebur."
Mendengar
itu, rakyat yang masih teringat pekatnya energi sihir tadi langsung berusaha
melarikan diri dari ibu kota, bahkan ada yang sampai merangkak karena kaki
mereka masih lemas. Para petugas pemeriksaan pun sebenarnya ingin ikut kabur,
namun karena menjaga gerbang ibu kota adalah tugas mereka, mereka berhasil
bertahan di tempat berkat harga diri yang tersisa.
"Heh,
ternyata kalian punya nyali juga."
Pria itu
mengatakannya dengan nada santai, namun bagi para petugas, tidak ada yang lucu
dari situasi ini. Selama menunggu jawaban dari istana, mereka terus bersama
pria itu, dan tidak pernah ada keheningan yang terasa begitu menyiksa seperti
saat ini. Di tengah waktu yang terus berjalan, petugas pemeriksaan mulai merasa
penasaran. Sebenarnya, apa alasan pria ini sampai mengatakan hal gila seperti
ingin berperang melawan kerajaan?
"N-Nah,
boleh aku tanya satu hal?"
"Hah?
Apa?"
Jawaban ketusnya
hampir mematahkan semangat sang petugas, namun dia memberanikan diri untuk
bertanya.
"Kenapa kau
bilang ingin perang dengan kerajaan? Apa yang sebenarnya tertulis di surat
buronan itu?"
Mendengar
pertanyaan itu, si pria melihat ke surat buronannya sejenak, lalu
menyodorkannya kepada sang petugas. Petugas pemeriksaan menerima surat itu dan
membaca kalimat yang tertulis di sana.
"……Eh, ini.
Benarkah keluarga kerajaan yang menerbitkan ini?"
"Iya. Isinya
konyol sekali, kan? Padahal aku sudah bicara baik-baik dengan kedua Tuan Putri
di sini, lho. Tapi balasannya justru begini. Ini hanya bisa dianggap keluarga
kerajaan sedang mengajak ribut. Dan jika keluarga kerajaan mengajak ribut... itu
artinya perang, kan?"
Petugas
pemeriksaan tidak bisa membantahnya. Karena statusnya ada di surat buronan,
pria di depannya ini secara hukum adalah kriminal. Menangkap atau membunuhnya
bukanlah masalah secara hukum. Namun, tulisan di surat ini yang menyebutkan
tentang penangkapan kekasih pria ini sebagai sandera, itu adalah sebuah
kesalahan fatal. Mereka secara terang-terangan menyatakan akan menjadikan warga
sipil tidak berdosa sebagai sandera.
Petugas
pemeriksaan tidak bisa memercayai bahwa keluarga kerajaan telah menerbitkan
surat buronan seperti ini.
"Mungkin ada
suatu kesalahan..."
"Kita sedang
pergi untuk memastikannya, bukan? Oh, panjang umur, sepertinya yang kita
bicarakan sudah datang."
"Eh?"
Mendengar
perkataan pria itu, petugas pemeriksaan mengikuti arah pandangannya. Awalnya ia
tidak melihat apa-apa, namun perlahan-lahan terlihat sebuah kereta kuda milik
keluarga kerajaan mendekat dengan kecepatan sangat tinggi.
"Apa!?
Kenapa..."
Pria itu tidak
menjawab. Ia terus menatap tajam ke arah kereta kuda kerajaan tanpa lengah sedikit
pun.
Kereta kuda itu
perlahan melambat dan berhenti tepat di depan mereka, lalu seorang wanita
melompat keluar dengan sangat terburu-buru.
"Hah!
Hah!"
Mungkin karena ia
mati-matian menahan tubuhnya di dalam kereta yang melaju kencang, wanita yang
keluar itu—Putri Pertama Weimar Kingdom, Victoria—tampak terengah-engah.
Biasanya, seorang putri tidak akan turun dari kereta tanpa dikawal oleh
pelayan, namun seolah merasa situasi ini terlalu mendesak, ia melompat keluar
dengan sikap yang tidak seharusnya diperlihatkan oleh seorang bangsawan.
Para petugas
pemeriksaan yang menyaksikan pemandangan tidak masuk akal itu sempat tertegun
sejenak, namun mereka segera memberikan hormat. Namun, pria yang berdiri di
samping mereka sama sekali tidak menunjukkan sikap serupa. Malah...
"Yo, Tuan
Putri. Aku datang untuk melayani tantangan yang kalian berikan," kata pria
itu sambil melambai-lambai surat buronan dan melontarkan kata-kata angkuh
kepada Putri Victoria. Sebagai bawahan Weimar Kingdom, tindakan pria itu
benar-benar tidak terbayangkan hingga membuat mereka terdiam, namun tindakan
Putri Victoria selanjutnya justru membuat petugas pemeriksaan semakin bingung.
Karena...
"T-Tidak!!
Tolong dengarkan saya!!" ucap sang putri dengan nada memohon seolah sedang
tertangkap basah, sambil terus mencoba menjelaskan kepada pria itu. Petugas
pemeriksaan hanya bisa terdiam melihat interaksi antara pria itu dan sang
putri, sembari merasakan hancurnya seluruh nilai-nilai yang ia yakini selama
ini.
◆
Aku menatap dingin ke arah kakak Tuan Putri yang sedang berlutut di depanku dan memohon dengan putus asa, "Bukan begitu! Tolong dengarkan aku!".
"Kenapa dia
malah memberikan alasan seperti istri atau kekasih yang ketahuan selingkuh,
ya?" pikirku.
"Bukan
begitu, apa maksudnya?"
Saat aku
bertanya, kakak Tuan Putri meremas surat buronan di tangannya dengan penuh
kebencian hingga kusut sambil menjawab.
"Ini adalah
rencana yang dibuat seenaknya oleh adik saya yang terlalu ingin berprestasi!
Keluarga kerajaan sama sekali tidak mengetahuinya!!"
"Hah?
Keluarga kerajaan tidak tahu? Lalu, apa maksud dari segel penerbitan keluarga
kerajaan ini?"
"I-Itu...
adik saya adalah seorang putri... para bawahan tidak mungkin bisa menentang
perintah dari anggota keluarga kerajaan..."
"Heh, jadi
maksudmu, kau mengakui bahwa keluarga kerajaanmu itu sudah membusuk."
"Bukan
begitu!! Saya dan Ayah sudah menyerah untuk menarik Anda sebagai sekutu!! Hanya
saja, adik saya salah paham dan berpikir jika ia berhasil menyelesaikan misi
yang gagal saya lakukan, ia mungkin memiliki peluang untuk menjadi ratu
berikutnya..."
"Hmm."
Yah, sebagai
keluarga kerajaan, tidak ada pilihan lain selain memberikan alasan seperti itu.
Kejadian kali ini adalah tindakan semena-mena dari adik Tuan Putri, dan
keluarga kerajaan sama sekali tidak terlibat.
"Hei."
"I-Iya!"
"...Apa kau
pikir alasan seperti itu akan diterima?"
Saat aku berkata
demikian, wajah kakak Tuan Putri tampak menderita.
"Sedari tadi
kau bilang keluarga kerajaan tidak ada hubungannya, tapi kau sendiri yang
bilang para bawahan tidak bisa menentang perintah karena adik Tuan Putri adalah
anggota keluarga kerajaan."
"...Ah."
"Kau sadar
kalau perkataanmu itu bertolak belakang? Keluarga kerajaan terlibat sepenuhnya,
kan."
"I-Itu..."
"Sudah jelas
sekali kalau kau hanya ingin lepas tangan. Lagipula, kenapa kau yang datang dan
bukannya adik Tuan Putri?"
"..."
"Pasti
kalian berpikir kalau orang lain yang datang daripada pelaku aslinya,
kemarahanku akan lebih mereda, kan?"
Yah, dalam hal
itu, mungkin mereka berhasil. Kenyataannya, jika adik Tuan Putri yang merupakan
pelaku utamanya ada di depanku, aku mungkin akan langsung membunuhnya tanpa
banyak bicara.
"Ti-Tidak,
bukan begitu... anu..."
"Anu
apa?"
Aku menunggu
kakak Tuan Putri untuk mulai bicara. Namun, dia tidak kunjung membuka mulut.
"Hah...
sudahlah."
"Eh?"
"Karena
alasan bahwa keluarga kerajaan tidak terlibat sudah terbantahkan, sekarang kau
sedang memikirkan alasan lain dengan putus asa, kan?"
"T-Tidak
mungkin begitu!"
"Lalu, apa
yang sedang kau pikirkan?"
"I-Itu...
anu, tentang bagaimana caranya agar Maya-sama bisa merasa puas..."
"Eh?
Bukankah aku sudah mengatakannya?"
"Eh, i-iya.
Sejauh ini, Maya-sama hanya mengatakan bahwa Anda datang untuk melayani
tantangan ini..."
Karena begitu
kakak Tuan Putri tiba dia langsung berlutut dan memohon, aku jadi lupa
mengatakan hal yang seharusnya kukatakan di awal.
"Ah—benar
juga. Kalau begitu, aku katakan sekarang. Gara-gara surat buronan yang
diterbitkan oleh keluarga kerajaan kalian, kami sangat merasa terganggu. Aku
menuntut permintaan maaf dan kompensasi."
Begitu aku
mengatakannya, kakak Tuan Putri segera berdiri, menangkupkan kedua tangan di
depan perut, dan menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Orang yang tadi menyapaku
yang sepertinya adalah pejabat, tampak sangat terkejut. Yah, katanya anggota
keluarga kerajaan tidak boleh menundukkan kepala. Itu informasi dari novel
ringan di dunia sebelumnya, sih.
"Atas
kecerobohan yang dilakukan adik saya kali ini, saya telah menyebabkan masalah
besar bagi Maya-sama. Mewakili keluarga kerajaan, saya memohon maaf yang
sebesar-besarnya. Saya benar-benar minta maaf."
Begitu katanya
sambil tetap menundukkan kepala.
"Hmm.
Baiklah. Aku terima permintaan maafmu."
Saat aku berkata
demikian, kakak Tuan Putri mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang sangat
lega.
"Lalu,
berikutnya soal kompensasi."
"I-Iya.
Silakan katakan berapa pun
yang Anda inginkan. Saya akan membayar uang kompensasi sesuai harga yang Anda
minta."
Kakak Tuan Putri
berkata begitu, tapi bukan itu yang kumaksud.
"Aku
tidak butuh uang."
"Eh?"
"Apa
kau pikir orang yang tinggal di tempat seperti itu membutuhkan uang? Tidak ada
gunanya."
"La-Lalu,
apa yang harus saya lakukan..."
Hah, hal seperti
itu saja tidak paham.
"Tentu saja
adalah hukuman bagi pihak yang terlibat, pembatalan surat buronan saat itu
juga, dan sosialisasi menyeluruh mengenai hukuman berat bagi
pelanggarnya."
"S-Saya
mengerti. Saya pasti akan... melaksanakannya."
"Ah, aku
peringatkan ya, jangan berbohong. Jika aku datang untuk memastikan dan ternyata
kau berbohong, kali ini..."
Aku memutus
kalimat di sana lalu mendekat ke telinga kakak Tuan Putri.
"Aku akan
menghancurkan ibu kota tanpa banyak bicara."
Saat aku membisikkan
itu di telinganya, wajah kakak Tuan Putri memucat dan dia mengangguk
berkali-kali. Melihat itu, aku yakin kakak Tuan Putri pasti akan mati-matian
menyudutkan adiknya. Lagi pula, dia sepertinya memang mengincar takhta ratu
berikutnya. Sekarang dia punya alasan sah untuk menjatuhkan adiknya.
"Ah, benar
juga. Aku lupa."
Setelah
mendapatkan jaminan dari kakak Tuan Putri, aku teringat satu hal tepat sebelum
hendak pulang. Aku memanggul Nigimar yang tadi kubiarkan, lalu melemparkannya
ke depan kakak Tuan Putri. Oh, sekalian juga dengan kepala dua pemburu hadiah
lainnya yang tadi kutebas.
"Hii!!
A-Apa-apaan ini!?"
"Ini pemburu
hadiah yang datang ke tempatku membawa surat buronan itu."
Mendengar itu,
wajah kakak Tuan Putri yang sudah pucat menjadi semakin putih pasi.
"Ini sudah
menyebabkan kerugian nyata bagiku. Sebaiknya kau cepat, mengerti? Jika lain
kali orang-orang seperti ini muncul lagi, aku akan menganggap keluarga kerajaan
telah melanggar janji."
"Segera
umumkan pembatalan surat buronan ini sekarang juga! Beritahukan bahwa siapa pun
yang mengikuti perintah di surat ini akan dihukum berat!! Lakukan sekarang
juga!!"
"S-Siap!!"
Melihat kakak
Tuan Putri segera memberikan instruksi kepada prajurit dan pejabat di
sekitarnya, aku merasa puas. Karena orang-orang di sekitar juga mendengar
percakapan kami, tindakan mereka sangat cepat.
"Kalau
begitu, aku pulang."
Setelah
memastikan mereka mulai bergerak, aku merapal satu sihir, lalu mengaktifkan
sihir teleportasi tepat di depan mata kakak Tuan Putri dan pergi dari sana.
Sebagai catatan, alasan aku tidak menuntut permintaan maaf langsung dari adik
Tuan Putri adalah karena dia pasti hanya akan melontarkan berbagai macam
alasan, dan aku tidak sudi melihat hal yang menjijikkan seperti itu. Dan alasan
aku menggunakan sihir teleportasi di depan mata kakak Tuan Putri adalah untuk
memberi pesan bahwa aku bisa muncul di hadapan mereka kapan saja. Biarkan saja
mereka ketakutan setengah mati. Nah, sekarang mari kita lihat apakah mereka
akan melaksanakan permintaanku dengan sungguh-sungguh atau tidak.
◆
Victoria yang
terpaku karena Kenta menghilang menggunakan sihir teleportasi tepat di
depannya, tersadar kembali setelah mendengar suara pelayan yang memanggil,
"Y-Yang Mulia."
"S-Segera
kembali ke istana! Berangkat sekarang juga!"
Sama seperti saat
datang, Victoria naik ke kereta kuda tanpa bantuan siapa pun. Dari tindakannya
saja sudah terlihat betapa paniknya Victoria saat ini. Setelah bergegas kembali
ke istana, Victoria langsung menuju ruang kerja ayahnya, sang Raja.
"Permisi!"
Raja yang sedang
duduk di kursi menatap Victoria yang masuk ke ruang kerja dengan wajah lelah.
"...Bagaimana
hasilnya?"
Raja bertanya
singkat tentang bagaimana negosiasi dengan Kenta.
"Untuk saat
ini, situasi terburuk... yaitu perang dengan Maya-sama sudah bisa
dihindari."
Mendengar
perkataan Victoria, Raja menghela napas panjang untuk mengatur napasnya.
"Lalu? Apa
yang diminta oleh Maya-dono? Uang?"
"Tidak.
Tuntutan mendesaknya adalah pembatalan segera surat buronan tersebut dan
hukuman berat bagi siapa pun yang mematuhinya."
"Begitu
ya. Aku akan segera mengaturnya."
"Saya
juga sudah memberikan perintah kepada orang-orang yang ada di lokasi tadi, jadi
mohon koordinasinya agar tidak terjadi kesalahpahaman."
"Baiklah.
Lalu? Hanya itu saja?"
Bagi Raja, karena
tidak ada pembicaraan soal uang, ia mengira pasti ada hal lain. Namun, Victoria
mulai berbicara dengan wajah yang tampak sangat tertekan.
"Tidak...
sebenarnya, dia meminta agar Wimpel dan wanita yang menghasutnya dihukum."
"Apa!?
Menghukum sang Putri!?"
Meskipun kali ini
Wimpel menyebabkan masalah yang tidak perlu, dia tetaplah putri kesayangan sang
Raja. Sebagai seorang ayah, tuntutan itu sangat sulit untuk diterima. Lagi
pula, bagi sang Raja, apa yang dilakukan Wimpel hanyalah memerintahkan untuk
menculik wanita simpanan dari seorang asing yang tidak mau menuruti mereka.
Hanya karena itu dia harus menghukum putrinya? Itu adalah tuntutan yang sangat
sulit diterima oleh sang Raja. Ia berpikir, orang rendah yang bahkan bukan
bangsawan itu sudah salah paham dan bertindak terlalu angkuh.
Namun, lawannya
adalah sosok yang mampu mengalahkan Raja Iblis, musuh yang selama ini membuat
mereka sendiri kewalahan. Jika sampai menjadikannya musuh, ada kemungkinan
negara ini benar-benar akan hancur. Setelah mempertimbangkan masak-masak, sang
Raja akhirnya mengambil sebuah keputusan.
“……Baiklah. Kalau
begitu, wanita dari rumah bordil yang telah menghasut Wimpel akan dihukum mati
atas tuduhan makar karena telah menjerumuskan negara ke dalam krisis.”
“……Baik,
Ayahanda.”
Mendengar
keputusan Raja, Victoria merasa kasihan kepada wanita rumah bordil tersebut
yang harus dieksekusi hanya karena terbuai oleh nafsu sesaat.
“Selanjutnya
mengenai Wimpel…… Karena ia telah menelan mentah-mentah perkataan rakyat jelata
dan lalai dalam melakukan penyelidikan, ia dianggap tidak memiliki kesadaran
sebagai anggota keluarga kerajaan. Aku memerintahkan pencabutan hak waris
takhtanya dan pengurungan di Menara Utara.”
Mendengar
keputusan Raja, Victoria merasakan firasat buruk di dadanya. Dari cara bicara
Kenta sebelumnya, kemungkinan besar ia mengharapkan Wimpel juga dieksekusi. Meski Kenta menggunakan kata ‘disingkirkan’,
ia tidak secara spesifik mengatakan ‘dihukum mati’.
“……Apakah
Maya-sama akan merasa puas dengan keputusan itu?”
“Kalau begitu,
kita umumkan saja bahwa Wimpel meninggal karena kecelakaan. Lagipula ia akan
dikurung di Menara Utara. Di mata publik, itu sama saja dengan kematian, dan
tidak akan ada cara bagi siapa pun untuk memastikannya. Ini mungkin berat bagi
Wimpel…… tapi selama ia tetap hidup, itu sudah cukup bagiku.”
Dalam hati
Victoria berpikir (Karena ada sihir teleportasi, bukankah ada kemungkinan hal
ini akan ketahuan……?), namun ia tidak sanggup memberikan saran lebih jauh
kepada Raja. Sama seperti sang Raja, seberapa pun besarnya persaingan takhta di
antara mereka, Wimpel tetaplah adik kandungnya. Ia tidak bisa bersikap keras
dengan menuntut hukuman mati. Terlebih lagi, bagi seorang adik yang mengincar
posisi ratu berikutnya, dicabut hak warisnya dan dianggap mati oleh dunia luar
pastilah merupakan penghinaan yang luar biasa. Victoria berpikir bahwa jika
mereka mengumumkan kematiannya dan mengadakan upacara pemakaman kenegaraan yang
megah, mereka akan bisa mengelabui mata Kenta meskipun pria itu datang
menggunakan sihir teleportasi untuk memastikan kondisi Wimpel.
***
Beberapa hari
kemudian, sebuah pengumuman disampaikan di ibu kota. Kabar tersebut menyatakan
bahwa Putri Kedua Wimpel telah kehilangan nyawanya dalam sebuah kecelakaan saat
perjalanan menggunakan kereta kuda. Mendengar berita duka yang mendadak dari
anggota keluarga kerajaan, rakyat pun meratap sedih, dan upacara pemakaman
kenegaraan diadakan dengan sangat megah. Kemegahan itu semata-mata bertujuan
untuk mengelabui mata Kenta. Di balik layar, eksekusi wanita rumah bordil yang
menghasut Wimpel dilakukan secara diam-diam. Mengenai surat buronan baru Kenta,
para pejabat dan prajurit menyebarkan pengumuman ke seluruh negeri bahwa surat
tersebut diterbitkan karena kesalahan teknis, dan siapa pun yang mencoba
menjalankan isi surat tersebut akan dihukum berat. Berkat hal itu, surat
buronan tersebut segera diabaikan oleh publik.
Untuk mencegah
kemungkinan pemburu hadiah mendekati rumah Kenta, prajurit penjaga ditempatkan
di pintu masuk hutan yang menuju ke kediamannya, memastikan tidak ada seorang
pun yang bisa masuk ke dalam hutan. Hal ini juga berlaku bagi Ivern dan
teman-temannya yang hendak menuju rumah Kenta; mereka ditegur di pintu masuk
hutan dan tidak diperbolehkan lewat. Pada awal penempatan prajurit, memang ada
beberapa pemburu hadiah yang mencoba masuk ke hutan mengikuti instruksi surat
buronan tersebut, sehingga Victoria merasa lega karena mereka berhasil
dihentikan. Urusan pembatalan surat buronan berjalan lancar, dan mereka
berhasil mencegah orang-orang mencapai Kenta. Wanita rumah bordil telah
dieksekusi, dan Wimpel telah dikurung di Menara Utara dengan dalih kematian
akibat kecelakaan.
Awalnya Wimpel
sempat melakukan perlawanan sengit terhadap hukuman pencabutan hak waris dan
pengurungan tersebut, namun setelah menerima teguran keras dari Raja, akhirnya
ia terpaksa menerimanya. Segalanya berjalan dengan baik. Victoria berpikir
bahwa setelah tidak ada lagi pemburu hadiah yang muncul, mereka tinggal menarik
mundur para prajurit dan semuanya akan berakhir. Namun, pemikiran itu segera
terpatahkan tidak lama kemudian. Suatu hari, saat Victoria sedang tidur di
kamarnya, tiba-tiba terjadi suara ledakan dahsyat dan guncangan yang
menggetarkan seluruh istana. Peristiwa yang sangat mendadak itu membuat seisi
istana gempar seperti sarang lebah yang diusik. Victoria pun bergegas melihat
ke luar jendela dengan panik, lalu seketika terdiam seribu bahasa. Di lokasi di mana Menara Utara
berada, api ledakan yang sangat besar tampak membubung tinggi ke langit.
“Ah……
ah……”
Di sana
adalah tempat Wimpel dikurung. Meski dikatakan dikurung, kamarnya sangat mewah
dan ia memiliki pelayan pribadi. Ia hanya tidak bisa keluar, namun ia menjalani
kehidupan elegan dengan makan tiga kali sehari, waktu tidur siang, dan tidak
perlu bekerja. Bagi sebagian orang, itu adalah kehidupan yang membuat iri.
Namun Menara Utara tempat Wimpel tinggal tersebut kini hancur lebur bersama
kobaran api ledakan. Dengan skala kehancuran seperti itu, mustahil bagi siapa
pun yang berada di dalam menara tersebut untuk bisa tetap hidup. Itu adalah
kehancuran yang mutlak. Victoria pun diserang rasa takut yang membuat tubuhnya
tidak berhenti gemetar, bukan karena fakta bahwa adiknya kemungkinan besar
telah tewas, melainkan karena hal lain.
"...Sudah
ketahuan... Fakta bahwa aku membiarkan Wimpel hidup sudah ketahuan..."
Itu pasti
perbuatan Kenta. Karena mereka tidak menghukum mati Wimpel, Kenta sendiri yang
datang untuk menyelesaikannya. Tidak hanya Victoria yang meyakini hal itu; sang Raja pun memikirkan hal
yang sama. Entah bagaimana caranya, Kenta menargetkan Menara Utara tempat
Wimpel berada dengan sangat akurat. Semuanya sudah ketahuan oleh Kenta... Hal
itu sudah lebih dari cukup untuk membuat sang Raja dan putrinya gemetar
ketakutan. Sejak saat itu, sang Raja dan Victoria hidup dalam bayang-bayang
ketakutan terhadap Kenta. Sebagai bentuk penebusan dosa, mereka mencabut status
buronan Kenta di dalam wilayah Weimar Kingdom. Seluruh dunia terkejut dengan
pencabutan status buronan internasional tersebut, namun alasan negara-negara
lain tetap mempertahankan status itu adalah karena mereka ingin menangkap dan
memanfaatkan Kenta. Terhadap Weimar yang telah mundur dari persaingan untuk
mendapatkan Kenta, tidak ada negara yang mempertanyakan alasannya. Namun,
berita tentang pencabutan status buronan itu sendiri tersebar ke seluruh dunia.
◆
Setelah kembali
dari ibu kota Weimar, aku 'melihat' pergerakan kakak Tuan Putri melalui sihir
yang kugunakan sebelum pulang. Sihir yang kugunakan sebelum melakukan
teleportasi adalah sihir yang kukembangkan sendiri, yang pada dasarnya
berfungsi seperti kamera pengawas untuk melihat gambar dari jarak jauh.
Suaranya pun bisa terdengar. Aku sengaja tidak mengatakan 'hukum mati',
melainkan 'singkirkan'. Aku berniat melihat ketulusan mereka terhadapku
berdasarkan cara keluarga kerajaan menanggapi perkataan tersebut.
Hasilnya, wanita
yang waktu itu mencoba mendekatiku... ternyata benar dia adalah wanita dari
rumah bordil. Sepertinya dia yang menghasut adik Tuan Putri dengan mengatakan
bahwa aku pasti memiliki seorang wanita dan menyarankan untuk menjadikannya
sandera. Oleh karena itu, wanita tersebut diputuskan untuk dihukum mati atas
tuduhan makar. Sejujurnya, aku sempat mengira informasi itu bocor dari kota
tempat tinggal Ivern, ternyata itu adalah hasil deduksi dari wanita tersebut...
Aku sempat sedikit mencurigai Ivern.
Ketika aku
bertanya kepada Mayleen mengenai tuduhan makar, dia menjelaskan bahwa itu
adalah hukuman bagi mereka yang berencana menggulingkan negara, dan di negeri
bangsa iblis, hukumannya tanpa pengecualian adalah hukuman mati. Di sisi lain,
diputuskan bahwa adik Tuan Putri akan dicabut hak waris takhtanya dan dikurung
di Menara Utara. Aku sempat merasa kesal dengan ringannya hukuman itu karena
dia hanya dikurung sementara wanita rumah bordil itu dieksekusi, namun Mayleen
menjelaskan kepadaku bahwa bagi seorang anggota kerajaan, dicabut hak warisnya
dan dikurung adalah hukuman yang sangat berat. Katanya, ditolak keberadaannya
seumur hidup dan tidak bisa lagi tampil di hadapan publik memiliki rasa sakit
yang setara dengan kematian bagi seorang bangsawan. Aku pun mencoba menerima
penjelasan itu.
Namun, terjadi
sesuatu yang mengejutkan. Keluarga kerajaan mengumumkan kematian adik Tuan
Putri karena kecelakaan, alih-alih mengumumkan pemenjaraannya karena kejahatan.
Mayleen memberitahuku bahwa ini adalah taktik yang sering digunakan saat
keluarga kerajaan tidak ingin rakyat tahu bahwa anggota mereka telah berbuat
kriminal. Meski merasa tidak puas, aku memutuskan untuk berhenti
mempermasalahkannya karena Mayleen, yang merupakan mantan bangsawan bangsa
iblis, merasa hukuman itu sudah cukup berat dan bahkan menunjukkan sedikit rasa
simpati pada adik Tuan Putri tersebut.
Suatu hari, saat
aku pergi menjemput Bennett-san ke kota untuk pemeriksaan rutin Mayleen, aku
menemukan Ivern dan Yulia berada di kamar Bennett-san.
"Eh? Kenapa
kalian ada di sini?"
Mendengar
pertanyaanku, Ivern menjawab dengan wajah cemberut.
"Kami tidak
bisa masuk ke hutan."
"Kenapa?
Bukankah aku sudah memberikan tanda izin kepada kalian?"
Yulia pun ikut
mengeluh dengan wajah kesal.
"Bukan
karena penghalang milik Kenta, tapi kami tidak bisa masuk ke hutannya sama
sekali! Duh, ada apa dengan prajurit-prajurit itu! Mereka bilang hutan itu
terlarang untuk dimasuki dan tidak mengizinkan kami lewat!!"
Mendengar cerita Yulia
yang sangat marah, aku mulai memahami situasinya.
"Hoo, jadi
mereka mengambil langkah pencegahan seperti itu."
Saat aku merasa
kagum dengan langkah yang diambil oleh kakak Tuan Putri, Ivern memelototiku dan
menuntut penjelasan. Akhirnya, aku menceritakan seluruh kronologi kejadian
mengenai surat buronan tempo hari kepada mereka bertiga. Mendengar hal itu, Ivern dan
Bennett-san langsung memegangi kepala mereka.
"Pergi
untuk menantang perang dengan keluarga kerajaan... itu benar-benar
gila..."
"Sepertinya,
aku memang harus menyarankan Mayleen untuk memikirkan kembali pilihannya
bersamamu."
Di saat
Ivern dan Bennett-san bergumam seperti itu, Yulia justru terlihat sangat marah.
"Berani-beraninya
mereka mengeluarkan pengumuman yang membahayakan Mayleen! Apa yang dipikirkan
oleh Weimar Kingdom!?"
Yulia
merasa sangat geram atas keberadaan surat buronan yang membahayakan sahabat
baiknya, Mayleen.
"Sudah
kubilang pada mereka untuk membereskan masalah itu. Makanya mereka menempatkan
prajurit penjaga agar pemburu hadiah tidak masuk ke hutan."
"Oh,
jadi begitu rupanya."
Mendengar
penjelasanku, Ivern akhirnya mengerti.
"Ah, berarti
prajurit-prajurit itu melindungi Mayleen. Kalau begitu mereka aku
maafkan."
Yulia memaafkan
para prajurit itu dengan sudut pandang atasan yang misterius.
"Meskipun begitu, aku sempat berpikir kenapa Ivern dan
yang lainnya tidak kunjung datang. Malas juga jika aku harus terus menjemput kalian,
jadi sebaiknya aku bicara dengan para prajurit itu."
Oleh karena itu, aku membawa Ivern dan yang lainnya, lalu
melakukan teleportasi langsung ke pintu masuk hutan, bukannya ke rumah.
"Halo,
terima kasih atas kerja keras kalian."
Saat aku
melontarkan kata-kata pujian kepada para prajurit, mereka secara serentak
menoleh dengan wajah waspada.
"Siapa kau!?
Hutan ini sedang ditutup untuk umum sekarang!!"
Wah, wah, mereka
sangat setia pada tugas, mengagumkan sekali.
"Itu
dilakukan supaya pemburu hadiah tidak bisa mendekati orang yang tinggal di
dalam hutan ini, bukan?"
Mendengar
perkataanku, para prajurit penjaga menunjukkan wajah terkejut.
"Ba-Bagaimana
kau tahu hal itu..."
"Ah, aku
adalah orang yang tinggal di dalam hutan itu."
Begitu aku
mengungkapkan identitasku, mereka dengan terburu-buru mengeluarkan surat
buronan dari balik baju dan mulai membandingkan sketsa wajah di sana dengan
wajahku.
"...Sepertinya
benar dia orangnya. Lalu, ada urusan apa kau yang merupakan buronan dengan
kami?"
Ah, benar juga.
Karena aku adalah buronan, bagi para prajurit aku adalah musuh. Di wajah mereka
juga terpancar ketidakpuasan, seolah bertanya-tanya mengapa mereka harus
menjaga keselamatan seorang buronan.
"Itu
perintah dari Tuan Putri, bukan? Diam dan patuhi saja."
"...Cih.
Lalu? Apa urusanmu?"
"Ah, benar
juga. Orang-orang ini bukan pemburu hadiah melainkan kenalanku, jadi tolong
izinkan mereka lewat saat mereka datang."
"...Siapa
mereka?"
"Siapa pun
boleh, bukan? Apa ada hubungannya dengan kalian?"
Karena Ivern
sepertinya akan menjawab dengan terlalu jujur, aku langsung memotongnya dengan
tegas.
"Cih! Jika
bukan karena perintah Yang Mulia Victoria, aku sudah menebasmu dengan satu
serangan...!"
"Hehe,
jangan membicarakan hal yang bahkan tidak mampu kau lakukan."
Omong-omong,
kalimat tadi memiliki makna ganda; pertama, kau tidak bisa membangkang perintah
Tuan Putri, bukan? Dan kedua, kau memang tidak akan bisa menebasku, bukan?
Prajurit ini
sepertinya menangkap makna yang kedua, dan seketika tangannya memegang gagang
pedang. Prajurit yang sepertinya adalah atasannya dengan terburu-buru
menghentikannya.
"Hei! Apa
kau berniat membangkang perintah Yang Mulia Victoria!?"
"Ta-Tapi!"
"Perintah Yang Mulia adalah mutlak! Meskipun orang ini
adalah penjahat kejam, jika Yang Mulia memerintahkan agar tidak mencelakainya,
kita tidak punya pilihan selain patuh! Untuk apa kau melanggarnya
sendiri!!"
"Nugh... kuuh..."
Para prajurit itu seolah sedang memainkan drama yang penuh
semangat, namun sebenarnya semua ini terjadi karena ulah adik Tuan Putri, jadi
silakan sampaikan keluhan kalian padanya. Yah, karena dia dianggap sudah mati,
tidak ada tempat untuk mengadu.
"Kalau begitu, aku titip untuk selanjutnya ya."
Aku mengatakan
itu lalu masuk ke dalam hutan sambil menerima tatapan penuh kebencian dari para
prajurit. Kemudian, setelah sosok para prajurit tidak terlihat lagi, aku hendak
menggunakan sihir teleportasi untuk menuju ke rumah, namun Ivern memukul punggungku.
"Aduh! Apa
yang kau lakukan!?"
"Itu
kata-kataku! Kenapa kau memprovokasi mereka!? Aku yang harus berhadapan dengan orang-orang
itu nanti, tahu tidak!? Apa
kau mengerti!?"
...Ah, sepertinya
Ivern akan menerima sindiran dari para prajurit itu mulai sekarang.
"...Semangat
ya."
"Kau
ini!!"
Saat aku
menghiburnya dengan senyuman, Ivern yang sepertinya tidak suka langsung
mengejarku.
"Sudahlah!
Aku tahu kalian sangat akrab, tapi ayo cepat jalan!"
"Benar!
Tidak boleh membuat ibu hamil menunggu!!"
Sebenarnya
ibu hamil bukanlah orang sakit, dan dia tidak akan melahirkan saat ini juga
sehingga tidak terlalu mendesak, tapi... Aku memikirkan hal itu, namun tidak
mungkin mengatakannya kepada Yulia yang sangat peduli pada temannya, sehingga
kami pun segera menuju ke rumah.
Kemudian,
beberapa hari setelah itu. Untuk memastikan kondisi adik Tuan Putri, aku
memeriksa rekaman sihir kamera pengawas yang sengaja tidak kuhapus dan
kubiarkan di istana. Karena mereka bilang Menara Utara, apakah itu menara yang
di sekitar sini?
Istana itu
luasnya tidak keruan, sehingga aku sedikit kesulitan mencari menara tempat adik
Tuan Putri dikurung, namun akhirnya aku berhasil menemukannya. Kemudian, aku
melihat keadaannya.
“……Hei, Mayleen.”
“Iya? Ada apa?”
“Bisa ke sini
sebentar?”
“? Baiklah.”
Mayleen yang
sedang menyiapkan makanan datang mendekat atas panggilanku.
“Coba lihat ini.”
Aku
memperlihatkan rekaman kamera pengawas kepada Mayleen. Layar yang tercipta dari
sihir itu menampilkan gambar di udara, sehingga siapa pun yang berada di
dekatnya bisa melihat.
“……Eh?”
“Apakah hukuman
kurungan bagi anggota keluarga kerajaan memang bisa menjalani kehidupan semewah
ini?”
Yang aku lihat
adalah sosok adik Tuan Putri yang mengenakan gaun mewah sedang membaca buku
dengan wajah bosan di sebuah ruangan yang sangat mewah hingga tidak terlihat
seperti sebuah hukuman. Di sampingnya ada pelayan yang bersiap, dan di atas
meja tersedia teh yang baru diseduh beserta kue-kue. Sama sekali tidak terlihat
seperti apa pun selain kamar seorang nona muda biasa.
“……Tidak. Di
negeri bangsa iblis, hukuman kurungan bagi keluarga kerajaan hanya diberikan
pakaian dan makanan minimum, dan ruangannya pun sangat sederhana, hanya ada
tempat tidur dan meja. Tidak akan ada ruangan mewah seperti ini, apalagi gaun,
pelayan, buku, teh, atau kue-kue. Hal-hal itu sama sekali tidak akan diberikan.”
“Artinya…… mereka
hanya menyembunyikan adik Tuan Putri dari publik, tapi tidak benar-benar
menghukumnya, kan?”
“Yah…… karena dia
dianggap sudah mati, dia mungkin tidak bisa muncul di depan publik…… tapi
seiring berjalannya waktu, dia pasti akan keluar lagi.”
Begitu ya, begitu
ya.
Jadi itu rencana
mereka.
Artinya, mereka
tidak berniat menepati janji kepadaku.
“Malam
ini, aku akan keluar sebentar.”
“Iya. Aku
mengerti.”
Malam
itu, aku berteleportasi ke ibu kota Weimar sebelum tidur. Jika di siang hari, ada kemungkinan seseorang akan
melihatku. Aku memanfaatkan kegelapan malam untuk melayang di angkasa di atas
istana yang ada di ibu kota. Kemudian, setelah memastikan dengan mata kepalaku
sendiri Menara Utara tempat adik Tuan Putri berada, aku melepaskan sihir ke
arah menara tersebut. Sihir yang menghantam menara itu menyelimuti seluruh
bangunan dan meledak dengan dahsyat. Setelah memastikannya, aku meninggalkan
istana yang sedang gempar dan kembali ke rumah dengan teleportasi.
“Selamat datang
kembali. Bagaimana hasilnya?”
“Ya, aku sudah
menghancurkannya dengan meriah sebagai peringatan.”
“Begitu ya.
Terima kasih atas kerja kerasmu.”
Mayleen memelukku
dengan lembut untuk menenangkan aku yang baru saja pulang. Sekali lagi aku
menyadari bahwa para penguasa di dunia ini benar-benar tidak bisa dipercayai.
***
“Hei…… sepertinya
Istana Weimar baru saja diserang oleh seseorang…… apa kau tahu sesuatu?”
Suatu hari, Ivern
yang datang membawakan logistik seperti biasa langsung mengajukan pertanyaan
itu begitu bertemu denganku.
“Hm? Oh,
karena mereka tidak menepati janji, aku yang langsung turun tangan.”
Karena
tidak ada alasan atau keperluan untuk berbohong, aku menjawab dengan jujur, dan
Ivern langsung memegangi kepalanya.
“……Sudah
kuduga, itu memang perbuatanmu……”
“Begitulah.”
Karena
Ivern sepertinya sudah menduga hal itu, aku menjawab singkat, dan dia menghela
napas panjang.
“Kau ini
ya…… gara-gara kejadian itu, sekarang Weimar Kingdom sedang kacau balau, tahu?
Ada perselisihan dengan bangsa iblis, dan ada orang-orang yang bilang kalau ini
adalah perbuatan bangsa iblis. Sekarang seluruh negeri sedang heboh untuk
melakukan perlawanan total terhadap bangsa iblis.”
“Hoo.”
“Kau bicara
seolah-olah itu urusan orang lain! ……Tidak, bagimu itu memang urusan orang
lain, ya.”
Tepat sekali
Ivern, kau benar-benar memahamiku.
“Begitulah
adanya. Apa pun yang dilakukan Weimar atau apa pun yang terjadi pada mereka,
itu bukan urusanku.”
“Yah, kau
memang orang yang seperti itu, ya.”
Ivern
bergumam dengan nada lelah sambil mengeluarkan barang logistik.
“Kenapa? Apa kau
tidak berpikiran sama?”
“Ah, masalahnya
ada perekrutan tentara sukarelawan untuk para penjelajah. Banyak orang di
sekitarku yang ikut serta. Aku juga ditawari, jadi malas sekali rasanya untuk
terus-menerus menolak.”
"Kenapa?
Pergi saja tidak apa-apa."
Mengingat sifat Ivern,
aku mengira dia akan menjadi orang pertama yang mengajukan diri jika ada hal
seperti itu, jadi aku sedikit terkejut saat dia berniat menolaknya.
Karena itu, saat
aku mengatakannya dengan santai, Ivern menatapku dengan tatapan tajam.
"Apa?"
"Aku hampir
yakin sembilan puluh persen kalau itu adalah perbuatanmu. Memang semangat
orang-orang sedang tinggi untuk melakukan pembalasan terhadap bangsa iblis,
tapi sulit bagiku untuk merasakan hal yang sama. Jika aku berpartisipasi dengan
semangat seperti itu, aku hanya akan merepotkan yang lain."
"Hoo. Kau
memang serius seperti biasanya ya."
Sifat serius
Ivern sepertinya bekerja seperti itu kali ini.
"Jika aku
tidak tahu tentang perselisihanmu dengan keluarga kerajaan, aku pasti sudah
ikut serta sebagai tentara sukarelawan. Tapi sejujurnya, kejadian kali ini
adalah tuduhan palsu terhadap bangsa iblis. Aku justru lebih merasa
bersalah."
Begitu ya,
pikirku sambil menyelesaikan pemeriksaan logistik yang dibawa Ivern.
Lalu, saat kami
berdua sedang beristirahat sejenak, Ivern mulai berbicara seolah teringat
sesuatu.
"Omong-omong,
setelah insiden peledakan istana kali ini, status buronanmu dicabut."
"Hoo."
Mendengar cerita
Ivern, sepertinya keluarga kerajaan menyadari bahwa pelaku sebenarnya dari
insiden ini adalah aku. Mungkin karena mereka sadar bahwa fakta mereka
menyembunyikan adik Tuan Putri telah ketahuan, mereka mencabut status buronanku
untuk mengambil hatiku. Mereka benar-benar ketakutan padaku. Kalau begitu,
biarkan saja mereka tetap ketakutan. Mereka akan terus bertanya-tanya apakah
suatu saat aku akan menyerang lagi atau tidak. Biarkan saja mereka menghabiskan
energi dengan rasa cemas yang tidak pasti.
"Jika status
buronanku sudah dicabut, tidak perlu bersembunyi lagi, kan. Apa sebaiknya
penghalang ini dicabut saja?"
"Tidak,
sebaiknya tunggu dulu sebentar."
"Hah?
Kenapa?"
Aku sempat
berpikir untuk mencabutnya karena merasa repot harus memeriksa sendiri setiap
kali ada yang terjebak di penghalang, atau harus memeriksa lewat kamera
pengawas yang kupasang pada kakak Tuan Putri untuk memastikan situasi, namun
entah kenapa Ivern menghentikanku. Saat aku menanyakan alasannya, dia
memberikan jawaban yang mengejutkan.
"Karena yang
mencabutnya hanya Weimar. Di negara lain status buronanmu masih berlanjut,
tahu?"
"Hah?"
Serius, kenapa?
Jika satu negara sudah mencabutnya, negara lain seharusnya ikut mencabut juga.
"Gara-gara
itu, ada rumor yang beredar bahwa serangan istana bukan perbuatan bangsa iblis,
melainkan perbuatanmu."
"Itu bukan
rumor, tapi kenyataan."
"Aku tahu.
Tapi jika begitu, mungkin akan muncul orang-orang yang menganggapmu penjahat
lagi dan datang untuk menangkapmu, kan? Jadi, biarkan saja penghalangnya tetap
seperti sekarang."
"Hah, apa
aku harus terus menjalani kehidupan yang merepotkan ini."
"Meskipun
merepotkan, lebih baik penghalangnya tetap dipertahankan demi melindungi
Mayleen-san."
Jika masalah
keselamatan Mayleen yang dibawa-bawa, aku tidak punya pilihan lain selain
mempertahankan penghalang itu.
"Hah,
merepotkan sekali..."
Di sana, aku
merasa penasaran akan satu hal.
"Hei,
Ivern."
"Apa?"
"Apa kau
tahu alasan kenapa status buronanku tidak dicabut oleh negara lain?"
"Ah..."
Ivern mulai
berbicara dengan nada yang sepertinya agak sulit untuk dikatakan.
"Mungkin
karena mereka tidak bisa menyerah begitu saja padamu. Di surat buronan memang
tertulis tidak peduli hidup atau mati, tapi sebenarnya mereka ingin menangkapmu
tanpa membunuhmu."
Artinya,
mereka ingin menjadikanku bidak yang praktis bagi mereka.
"Seperti
biasa, mereka adalah sekumpulan orang yang menjijikkan... Apa perlu kuhancurkan
saja?"
"Tunggu,
tunggu! Jangan mencoba mencari ribut di sembarang tempat! Jika kau
melakukannya, kali ini seluruh dunia akan benar-benar datang untuk memburumu!?
Kau punya Mayleen-san dan anakmu, apa kau tidak masalah dengan itu?"
"Hmm. Itu
tidak boleh. Kalau begitu, akan kulepaskan saja mereka."
"...Dalam
kasusmu, itu bukan sekadar kata-kata angkuh, tapi kau benar-benar melepaskan
mereka, itu yang membuatku ngeri."
Aku tertawa
mengejek mendengar perkataan Ivern yang diucapkan sambil menghela napas itu.
"Heh. Kalau
begitu jangan ikut campur urusanku. Jika mereka diam, aku juga tidak akan
melakukan apa-apa."
Karena mereka
terus ikut campur, aku jadi harus menanggapinya. Bersikaplah tenang sedikit.
"Haha.
Yah, memang benar sekali. Karena kau sebenarnya adalah orang yang tidak
berbahaya jika tidak diganggu."
"Ooh,
ternyata kau cukup mengerti juga."
"Yah,
karena kita sudah cukup lama bersama. Untuk saat ini, pantau saja situasinya lebih lama lagi."
"Haa...
merepotkan sekali ya."
Setelah menerima
saran Ivern, aku memutuskan untuk mempertahankan penghalang untuk sementara
waktu. Aku merasa bersyukur telah mendengarkan peringatan itu tidak lama
kemudian.
◆
Sebuah pangkalan
militer bangsa iblis yang terletak tidak jauh dari garis perbatasan Weimar
Kingdom.
Di sebuah
tenda yang paling besar di sudut pangkalan itu, para kapten medan perang
berkumpul untuk mengadakan rapat.
"Hei,
bukankah jumlah pasukan militer Weimar sepertinya bertambah?"
Yang
mengatakan hal itu adalah seorang pria berbadan besar dengan dua tanduk yang
tumbuh di dahinya.
"Benar.
Meskipun sihir mereka lemah, kekuatan fisik mereka besar. Sangat merepotkan
jika mereka berkerumun," jawab pria setinggi anak manusia dengan telinga
dan hidung runcing sambil menghela napas.
"Jumlah
personelnya memang dipastikan bertambah. Sejauh yang saya amati, peralatan
personel tambahan tersebut tidak seragam. Mungkin mereka melakukan wajib
militer dari warga sipil," kata seorang wanita menawan dengan sayap kecil
di punggungnya, menyampaikan informasi yang dia amati beserta hasil analisisnya
kepada semua orang.
"Wajib
militer atau tentara sukarelawan... merepotkan juga jika bangsa manusia sampai
menjadi begitu bersemangat seperti ini..." gumam pria terbesar di tempat
itu yang berkulit biru sambil menyilangkan tangan.
"Bagaimana
menurut Anda? Perang ini sendiri tujuannya hanya untuk memantau situasi.
Haruskah kita melakukan gencatan senjata sementara dan menarik mundur
pasukan?" Dari nada bicaranya, terlihat bahwa pria bertubuh kecil itu
adalah komandan di medan perang ini.
"Begitulah...
untuk saat ini mari persiapkan semua orang untuk kemungkinan itu. Hanya saja,
aku ingin tahu alasan mengapa begitu banyak tentara dari warga sipil yang
berkumpul. Mona."
"Baik."
Wanita menawan yang dipanggil Mona itu menjawab.
"Bisakah kau
menggunakan unitmu untuk menyusup ke ibu kota Weimar?"
"Dimengerti.
Kalau begitu, mohon tunggu beberapa hari."
"Aku
serahkan padamu."
Mona menjawab
lalu segera keluar dari tenda, dan rapat hari itu pun dibubarkan.
Beberapa hari
kemudian.
Mona kembali dan
kembali mengumpulkan personel yang sama seperti tempo hari.
"Saya sudah
kembali."
"Ya, kerja
bagus. Jadi? Apa kau menemukan sesuatu?"
Begitu sang
komandan bertanya, Mona mulai membaca catatan yang ada di tangannya.
"Ya,
ada beberapa hal yang terungkap. Pertama, alasan kenapa tentara warga sipil
tiba-tiba berkumpul... sepertinya tempo hari terjadi insiden peledakan di
istana, dan pelakunya dianggap adalah kita, bangsa iblis, sehingga tentara
sukarelawan pun berkumpul."
"Hah!?"
Mendengar
laporan Mona, semua orang di tempat itu secara serentak mengeluarkan suara
terkejut.
"Tunggu
dulu. Apa memang ada seseorang yang benar-benar melakukan hal itu?"
Mendengar
pertanyaan sang komandan, Mona mengangguk kecil.
"Saya
juga merasa penasaran sehingga saya melakukan konfirmasi kepada orang-orang di
medan perang ini. Hasilnya, tidak ada seorang pun yang melakukan hal semacam
itu."
Mendengar
perkataan Mona, semua orang di tempat itu menunjukkan wajah yang mengerti.
"Memang
benar sih. Jika ada seseorang
yang bisa meledakkan istana tanpa ketahuan oleh siapa pun, lebih baik dia
sekalian saja meledakkan keluarga kerajaan."
"Fakta bahwa
dia tidak melakukan hal itu berarti pelakunya bukan dari pihak kita."
"……Jika
demikian, berarti kita sedang difitnah, begitu?"
"Begitulah
kenyataannya."
Karena Mona
membenarkan analisis sang komandan, amarah mulai muncul di tempat itu.
"Siapa
bajingan yang berbuat seenaknya itu!? Benar-benar merepotkan!"
"Benar
sekali. Hanya menyusahkan
orang lain saja."
Pria berbadan
besar menunjukkan amarah yang meluap-luap, sementara pria bertubuh kecil
menunjukkan amarah yang tenang. Di tengah situasi itu, sang komandan tetap
tenang dan meminta Mona melanjutkan laporannya.
"Jadi,
apakah kau sudah memiliki target yang dicurigai sebagai pelakunya?"
Mendapat
pertanyaan dari sang komandan, Mona sempat ragu sejenak sebelum menggumamkan
prediksinya.
"Mungkin...
orang ini pelakunya? Begitulah prediksi saya..."
"Tidak
apa-apa. Beritahu kami."
Mendengar
perkataan sang komandan, Mona mengeluarkan selembar surat buronan. Begitu
melihatnya, semua orang secara terang-terangan menunjukkan wajah muak.
"Cih!
Wajahnya masih menyebalkan seperti biasa!"
"Benar. Tapi
kudengar dia dijadikan buronan oleh seluruh negara bangsa manusia. Rasakan
itu."
"……Status
buronan orang itu baru saja dicabut, tapi hanya di Weimar."
"Hah!?"
Suara para pria
itu kembali bersahutan karena perkataan Mona.
"Pencabutan
itu terjadi segera setelah insiden peledakan istana. Berdasarkan situasi yang
ada, saya menduga Weimar Kingdom mungkin telah melakukan sesuatu pada orang itu
sehingga memicu kemarahannya yang berujung pada peledakan istana. Lalu, karena
ketakutan, Weimar Kingdom mencabut status buronannya... Tapi ini hanya dugaan
saja, tidak ada bukti."
Meskipun Mona
berkata begitu, bagi mereka yang ada di sana, hal itu terasa seperti sebuah
kebenaran.
"...Berarti,
kita sekali lagi dipermainkan olehnya?"
"Ini murni
hanya dugaan."
"Aku
mengerti. Namun..."
Sang komandan
berkata demikian sambil menyilangkan tangan dan memejamkan mata. Dia terdiam
dalam posisi itu sejenak, lalu akhirnya membuka mata dan menatap Mona.
"Apakah kau
mengetahui lokasi keberadaan orang itu... Kenta Maya?"
"Ya. Karena
itu sudah menjadi rahasia umum."
"Begitu ya.
Kalau begitu... bisakah kau pergi untuk memastikan situasinya?"
Saat sang
komandan mengatakan itu, wajah Mona mengerut dan ia menggertakkan giginya.
"Apakah...
saya?"
Sang komandan
mengangguk dengan tenang.
"Benar. Bagi
kita bangsa iblis, Kenta Maya adalah musuh bebuyutan. Melihatnya saja sudah
pasti akan membangkitkan kebencian... Namun, bangsa kita telah difitnah. Kita
tidak bisa mengabaikan hubungan antara dia dan Weimar. Kita harus
menyelidikinya bagaimanapun caranya."
Mona terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka suara.
"...Jika ada
kesempatan, apakah saya boleh menghabisinya?"
Sang komandan
terkejut sesaat, namun segera kembali tenang.
"Lawannya
adalah sosok yang mampu menumbangkan Baginda Raja, tahu?"
Mona menggigit
bibir bawahnya begitu keras hingga berdarah.
"Benar, ya.
Sudah jelas bahwa saya hanya akan berakhir terbunuh jika melawannya...
ya."
Meskipun tidak
menunjukkannya di wajah, sang komandan menghela napas lega.
"Baguslah
kalau kau mengerti. Kau adalah kekuatan tempur penting bagi negara kita. Lebih
baik menghindari pengorbanan yang tidak perlu."
"...Baik."
Mendengar
persetujuan enggan Mona, dua pria lainnya angkat suara.
"Jika Mona
tidak mau melakukannya, biar saya saja!"
"Saya juga
akan ikut."
Terhadap dua
orang yang memiliki kebencian di mata mereka dan tampak sangat ingin menghabisi
Kenta saat ini juga, sang komandan berkata dengan tegas.
"Tidak
boleh."
"!?
Ke-Kenapa!?"
"Tolong
beritahu alasannya!"
Kedua
pria yang tidak puas dengan larangan sang komandan itu mencoba memprotes. Melihat mereka, sang komandan menghela
napas.
"Kalian,
apakah kalian memahami sifat dari misi kali ini? Kita pergi untuk menyelidiki
hubungan antara Kenta Maya dan Weimar. Jika kalian yang pergi, kalian pasti
akan mengabaikan penyelidikan dan langsung menyerang Kenta Maya, bukan?"
"Tentu
saja!!"
"...Saya
memang tidak percaya diri bisa hanya melakukan penyelidikan."
"Sudah jelas
bahwa kalian tidak layak untuk misi ini. Mona, aku serahkan padamu."
"...Baik."
Meskipun merasa
bangga dengan kepercayaan sang komandan, Mona sendiri meragukan apakah ia bisa
tetap tenang saat berhadapan dengan musuh bebuyutannya. Namun, karena ini
adalah misi yang diberikan berdasarkan kepercayaan sang komandan, ia harus
memenuhi harapan tersebut. Mona menerima tugas itu setelah mengalami gejolak
batin yang luar biasa.
"Baiklah,
karena perang kali ini hanyalah untuk melihat pergerakan bangsa manusia, aku
ingin menghindari situasi yang semakin buruk. Kita tarik mundur pasukan untuk
sementara. Beritahukan ke seluruh pasukan!"
"Siap!"
Menerima perintah
sang komandan, ketiganya keluar dari tenda satu per satu. Sang komandan, sambil
memperhatikan punggung Mona yang menjauh, bergumam seolah sedang berbicara pada
dirinya sendiri.
"Kenta Maya...
pembunuh Baginda Raja... suatu saat nanti pasti, dengan tanganku
sendiri..."
Setetes
darah mengalir dari kepalan tangannya yang mengerat. Kebencian bangsa iblis
terhadap Kenta... benar-benar sangat mendalam.
◆
"Kau
tahu tidak? Katanya bangsa iblis sudah menarik mundur pasukannya dari garis
perbatasan Weimar."
"Lama-lama,
kau benar-benar terlihat seperti seorang pedagang keliling."
"Kenapa
begitu!?"
Habisnya,
setiap kali dia membawa logistik, dia juga memberikan informasi tentang dunia
luar.
"Kau
itu pedagang keliling, kan."
"Bukan,
bukan, bukan! Bukankah sebelumnya aku sudah masuk kategori teman!? Eh!? Belum
masuk!?"
Ivern
tampak kebingungan.
"Lalu?
Kenapa bangsa iblis menarik diri?"
"Eh, topik
itu sudah selesai? Jadi
kategori teman tidak apa-apa, kan?"
"Iya, iya,
teman, teman. Jadi? Bagaimana?"
"Perlakuannya
kasar sekali... ah, soal bangsa iblis ya. Menurut pengumuman militer, mereka
mundur karena takut pada pasukan Weimar."
"...Pengumuman
yang abstrak dan terkesan bohong."
"Aku
juga berpikir begitu. Yah, jika mereka membuat pengumuman abstrak seperti itu,
bukankah artinya mereka tidak tahu alasan pastinya?"
"Pasti
begitu. Yah, mereka pasti menafsirkannya sesuka hati demi kepentingan mereka
sendiri."
Saat aku
mengatakannya, Ivern bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Hoho.
Berarti, kau sudah punya perkiraan kasarnya, ya?"
Orang ini
ternyata cukup tajam.
"Begitulah."
"Perkiraan
seperti apa yang kau buat? Beritahu aku sebagai referensi."
"Boleh saja,
tapi ini hanya sekadar perkiraan."
"Itu tidak
masalah."
Setelah
mendapatkan persetujuan Ivern, aku menyampaikan perkiraanku.
"Bangsa
iblis baru saja menyambut raja baru setahun lebih sedikit. Sistem
pemerintahannya pasti sudah mulai stabil sekarang. Jadi, mereka mungkin mencoba
menyerang bangsa manusia sekali untuk melihat reaksinya."
"Hoho."
"Awalnya itu
hanya konflik seperti biasa, tapi pihak Weimar mengumpulkan tentara sukarelawan
dan beralih melakukan serangan total. Bangsa iblis menarik diri setelah
memastikan bahwa tekad serangan balik pihak manusia lebih tinggi dari
perkiraan. Bukankah begitu?"
Mendengar
perkiraanku, Ivern bergumam kecil 'Oh'.
"Luar biasa.
Bagaimana kau bisa melihat sejauh itu?"
"Ini hanya
sekadar perkiraan, jadi jangan menyebarkannya, ya?"
"A-Ah. Benar
juga, itu tadi hanya perkiraan."
"...Kau
melupakannya?"
"Karena
terlalu realistis, di tengah pembicaraan aku berhalusinasi kalau kau sedang
menceritakan kebenaran."
"Yah,
bagaimanapun juga aku bertarung sendirian melawan negeri bangsa iblis selama
sekitar satu setengah tahun. Aku sangat memahami pergerakan mereka."
Meskipun
pemimpinnya berubah, bagi bangsa iblis, manusia adalah musuh. Ada sejarah kelam
penindasan di masa lalu, bahkan di zaman modern pun negara-negara manusia
sepertinya sangat ingin menaklukkan negeri bangsa iblis dan terus mengulangi
perang invasi. Setiap kali itu terjadi, kebencian bangsa iblis terhadap manusia
semakin bertumpuk, dan sekarang bangsa iblis memiliki kesadaran untuk
menaklukkan negara-negara manusia. Wajar bagi bangsa iblis untuk berpikir
memulai kembali invasi ke arah manusia setelah sistem pemerintahan mereka
stabil. Hanya saja, perang sebelumnya... yah, aku adalah lawannya, tapi karena
sudah ada selang waktu sejak saat itu, mereka mungkin ingin mengetahui reaksi
bangsa manusia.
Saat aku
menjelaskan hal itu kepada Ivern, awalnya ia tampak setuju, namun setelah
beberapa saat ia memiringkan kepala.
"Hei."
"Apa?"
"Bangsa
manusia ingin menaklukkan negeri bangsa iblis, kan?"
"Benar.
Makanya aku dipanggil ke
sini."
"Kalau
begitu, kenapa bangsa manusia tidak melancarkan perang penaklukan saat negeri
bangsa iblis sedang kacau karena pergantian pemimpin?"
Itu pertanyaan
yang wajar.
"Itu karena
pihak manusia tidak sempat memikirkan hal tersebut."
"...Memangnya
terjadi sesuatu?"
"Mengamankan
Summoner yang melarikan diri."
"Ah..."
Ivern
menatapku dengan penuh rasa iba setelah aku menceritakan situasi di pihak
manusia.
"Bajingan-bajingan
itu terus muncul ke mana pun aku pergi. Karena aku memukul mundur mereka setiap
kali itu terjadi, negara-negara manusia sibuk mencari dan menangkapku, sehingga
mereka tidak punya waktu untuk mengurusi bangsa iblis."
"Jadi begitu
rupanya..."
Setelah aku
membalas mereka berkali-kali, lama-lama tidak ada lagi negara yang mengejarku.
Pertemuan dramatisku dengan Mayleen terjadi tepat di sekitar waktu itu.
Waktunya juga
dramatis sekali.
“Namun, mengingat
selain Weimar Kingdom tidak ada yang mencabut status buronanmu, sepertinya
tidak ada negara yang menyerah padamu, ya.”
“Benar-benar
gigih sekali mereka. Apa aku sebaiknya benar-benar pergi menghancurkan istana
mereka saja?”
“Makanya,
hentikan itu.”
“Aku tahu.”
Karena
kejadian-kejadian itulah, aku sangat membenci negara-negara bangsa manusia di
dunia ini. Sebaliknya, aku sempat merasa sedikit kasihan pada negeri bangsa
iblis karena mereka ditipu hingga aku akhirnya membunuh Raja mereka. Namun
perasaan itu hanya bertahan sampai aku mendengar cerita dari Mayleen. Sekarang, tidak ada ruang untuk
simpati bagi negeri bangsa iblis. Jika sesuatu terjadi, aku akan membalas mereka tanpa banyak bicara.
Tepat saat kami
sedang membicarakan hal itu...
“……Hm?”
“Ada apa?”
“Bukan, ada
reaksi pada penghalang.”
Mendengar
perkataanku, Ivern membelalakkan matanya.
“Eh, serius?
Padahal prajurit penjaga di pintu masuk hutan masih ada?”
“Ya, entah mereka
dihabisi, atau orang itu masuk ke hutan lewat rute lain.”
Hutan tempatku
tinggal ini pepohonannya cukup rimbun, sehingga sangat sulit untuk melewatinya
selain melalui jalan setapak yang sudah ada. Jika ada seseorang yang bersusah
payah masuk hingga ke posisi penghalang, entah dengan mengalahkan prajurit
penjaga atau melewati rute lain yang belum dibuka...
“……Mungkin lawan
yang merepotkan.”
Memang
merepotkan, tapi tidak ada pilihan lain. Aku beranjak dari kursi lalu mengetuk
pintu kamar tidur tempat Mayleen dan Yulia berada.
“Iya”
Setelah mendapat
jawaban, aku membuka pintu dan melihat Mayleen serta Yulia sedang membuat
pakaian bayi.
"Oh, kalian
sedang membuat sesuatu yang lucu ya."
"Fufu, benar
kan? Omong-omong, ada sesuatu, Kenta?"
"Ya, ada
reaksi pada penghalang."
Mendengar
perkataanku, Mayleen membelalakkan matanya.
"Dalam
situasi seperti sekarang ini?"
"Ya. Karena
itu aku akan pergi memastikannya."
"Baiklah.
Berhati-hatilah ya."
Mayleen
mengatakan itu lalu mencium pipiku, dan memasukkan sesuatu ke dalam saku
dadaku.
"Apa
ini?"
"Sapu tangan
yang baru saja aku sulam. Bawalah sebagai jimat."
Aku merasa
terharu dengan perhatian Mayleen, lalu memeluknya erat sebelum melepaskannya.
"Kalau
begitu, aku pergi melihat sebentar."
"Selamat
jalan."
Dilepas oleh
lambaian tangan Mayleen, aku menuju ke lokasi di mana ada reaksi pada
penghalang. Mengingat ada orang yang bisa sampai ke sini dalam situasi
sekarang, aku harus tetap waspada semaksimal mungkin. Lagi pula, aku
benar-benar bersyukur telah mengikuti saran Ivern untuk membiarkan penghalang
itu tetap aktif. Ternyata orang itu ada gunanya juga selain hanya membawakan
logistik dan informasi.
Sambil
memikirkan hal itu, aku memasang penghalang pada diriku sendiri. Itu adalah
penghalang yang membuat energi sihir dan keberadaanku tidak bocor, serta
membuat sosokku sulit terlihat hanya dengan pandangan sekilas. Dengan ini, aku
bisa mendekat tanpa disadari oleh lawan.
Lalu, di
tempat yang aku datangi...
"Bangsa
iblis?"
Di sana
ada seorang wanita bangsa iblis yang tampak sangat menawan dengan sayap hitam
kecil yang tumbuh dari punggungnya. Kenapa bangsa iblis ada di tempat seperti
ini? Bagiku, bangsa iblis adalah musuh bebuyutan. Tidak aneh jika mereka datang
untuk memburuku. Namun, selama ini yang datang hanyalah pemburu hadiah dari
bangsa manusia yang mengincar uang, tidak ada satu pun bangsa iblis yang
datang. Lalu, kenapa baru sekarang?
Pertanyaan
itu muncul di benakku, dan aku terus mengawasi wanita bangsa iblis itu dengan
waspada. Wanita itu tampak mencoba menganalisis penghalangku, namun karena
tidak berhasil, dia tampak panik dan hanya melontarkan keluhan terhadap
penghalang tersebut. Aku memperhatikannya sejenak sambil berharap dia akan
membocorkan sesuatu, namun karena dia tidak menunjukkan tanda-tanda itu, aku
memutuskan untuk menyapanya.
"Yo. Sedang
apa kau di tempat seperti ini?"
"KYAAAAAAA!!"
Saat aku
menyapanya, wanita bangsa iblis itu mengeluarkan jeritan yang memekakkan
telinga dan menjauh dariku dengan kecepatan tinggi.
Apa-apaan, apa
aku terlihat seperti hantu atau semacamnya?
“Apa!?
Ba-bagaimana!?”
Mungkin dia ingin
bertanya “bagaimana bisa”, tapi dia terlalu terkejut hingga kata-katanya tidak
keluar dengan jelas.
"Tenanglah,
aku bukan hantu."
Begitu aku
mengatakannya, wanita bangsa iblis itu sepertinya akhirnya berhasil tenang,
lalu kali ini dia memelototiku. Yah, itu adalah reaksi yang wajar jika bangsa
iblis bertemu denganku, tapi dia benar-benar tidak stabil secara emosional.
“Kenta Maya...!”
Aku tidak merasa
mengenali wanita yang mengucapkannya dengan penuh kebencian itu. Apakah Mayleen
mengenalnya? Sepertinya mereka seumuran.
"Ya, benar.
Siapa kau? Dan apa urusanmu datang ke sini?"
Saat aku
bertanya, wanita bangsa iblis itu memelototiku, lalu tiba-tiba menunjukkan
senyuman yang meremehkan. Benar-benar tidak stabil secara emosional.
“Memasang
penghalang semegah ini, apa kau sudah mulai merasa takut karena berpikir
pembalasan kami akan segera dimulai?”
"Sama sekali
tidak."
Karena dia
mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal, aku langsung
membantahnya, dan ekspresinya kembali penuh kebencian.
“...Cih. Kalau
begitu, kenapa tiba-tiba memasang penghalang padahal sebelumnya membiarkannya
terbuka lebar?”
Dari rentetan
kejadian ini, aku jadi mengerti. Orang ini bukan pasukan tempur yang datang
untuk membunuhku, melainkan mata-mata yang datang untuk menyelidikiku. Jika
begitu, tidak ada yang perlu kubicarakan dengannya.
"Kenapa aku
harus memberitahumu?"
“...Dengan
mencoba menyembunyikannya seperti itu, berarti memang ada sebuah rahasia...”
"Apa kau
tidak dengar? Kenapa, aku, harus, memberitahumu?"
Karena dia cukup
gigih, aku mengatakannya sambil menekannya dengan energi sihir. Seperti yang
diharapkan dari bangsa iblis; tidak seperti bangsa manusia yang energi sihirnya
rendah, dia menunjukkan sedikit perlawanan. Hanya saja, dia tetap tertekan.
Setidaknya dia tidak sampai jatuh terduduk.
“!? Uhuk!?”
Wanita itu
berusaha bertahan, namun seberapa keras pun dia mencoba, jawabanku tetap sama.
"Aku tidak
tahu apa yang kau selidiki, tapi aku tidak berniat membicarakan apa pun.
Cepatlah pulang."
Saat aku berkata
demikian, wanita bangsa iblis itu tetap dengan ekspresi penuh kebencian namun
berhenti bicara. Kuharap ini sudah cukup. Saat aku melepaskan tekanan sihirku, wanita
itu langsung jatuh bertumpu pada lututnya.
"Aku sangat
mengerti perasaan kalian yang membenciku. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan
diriku terbunuh begitu saja karena aku belum ingin mati. Oleh karena itu,
selama kalian tidak melakukan apa-apa, aku juga tidak akan melakukan apa pun
pada kalian. Hanya saja... jika kalian berniat membunuhku, aku pun akan
membalas dengan sekuat tenaga. Jika ingin menantangku, bersiaplah dengan tekad
seperti itu."
“...”
Dalam posisi
berlutut, wanita itu menatapku dengan penuh rasa kesal. Pasti sangat
menyakitkan melihat musuh bebuyutan di depan mata tapi tidak bisa berbuat
apa-apa. Tepat saat aku memikirkan itu, mata wanita itu tiba-tiba membelalak
kaget.
“...Ah, eh?
Tidak, mungkinkah...”
"Hah? Ada
apa?"
“T-Tidak, tidak
ada apa-apa.”
Reaksi wanita itu
barusan tidak menunjukkan permusuhan, melainkan murni ekspresi terkejut.
"Ada apa
sebenarnya?"
“Sudah kubilang
tidak ada apa-apa!!”
"...Jangan
berteriak tiba-tiba begitu. Baiklah. Kalau begitu, cepatlah pergi."
Saat aku
mengibaskan tangan seolah mengusirnya, wanita bangsa iblis itu terdiam sejenak
sebelum berbalik pergi. Saat
aku mengira dia akhirnya akan pulang, dia sedikit menoleh ke arahku.
“...Namaku Mona.”
"Hm? Kenapa
tiba-tiba memperkenalkan diri?"
“...Tidak adil
jika hanya aku yang mengetahui namamu.”
"Sebenarnya
aku tidak ingin tahu, sih..."
“Po-pokoknya!!
Hari ini, aku, Mo-na! Yang datang ke sini!!”
Wanita bangsa
iblis itu... yang ternyata bernama Mona, berteriak untuk terakhir kalinya
sebelum berlari keluar dari penghalang. Penghalang ini membuat orang tersesat
jika mencoba masuk lebih dalam, namun akan sangat mudah untuk keluar jika
berniat pulang. Mona berlari lurus ke arah luar, jadi sepertinya akan baik-baik
saja. Namun, sebenarnya ada apa dengannya? Kunjungan bangsa iblis hari ini bisa
dibilang hanyalah sebuah inspeksi dan bukan sebuah serangan.
Sekarang setelah
Mona kembali, urusan ini pun selesai.
Aku memastikan
Mona sudah keluar dari penghalang sebelum pulang ke rumah.
"Selamat
datang di rumah."
Saat aku sampai
di rumah, Mayleen yang sudah pindah dari kamar tidur ke ruang tamu menyambut
saya.
"Aku
pulang."
Sambil berkata
demikian, aku memeluk Mayleen, lalu ia mulai mengendus-endus di sekitar bahuku.
"Mayleen?"
Mayleen mengendus
aromaku sejenak, namun sesaat kemudian ia mengeluarkan suara rendah yang belum
pernah kudengar sebelumnya.
"...Ada
aroma wanita."
"Memang
tamunya adalah seorang wanita... tapi aku tidak menyentuhnya, bagaimana kamu
bisa tahu?"
"Ada sedikit
aroma wanita yang menempel."
"Eh? Serius?
Aku sama sekali tidak merasakannya."
"Eh? Kalau
begitu, apakah aromaku juga menempel pada Kenta?"
"Iya. Tapi,
karena Yulia adalah teman baikku yang bisa kupercayai, jadi tidak
apa-apa."
"Ehehe. Aku
juga sangat sayang Mayleen!"
Mayleen dan Yulia
sedang berbincang dengan hangat, namun tangan Mayleen mencengkeram pakaianku
dan tidak melepaskannya.
"Anu,
Mayleen? Aku akan menceritakan kejadian tadi. Yang datang ke sini adalah... seorang wanita
bangsa iblis."
"!!"
Mayleen
terkejut mendengar perkataanku, ia segera melepaskan tangannya dari pakaianku
dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Ba,
bangsa iblis... mungkinkah, dia sedang mencariku..."
"Tidak,
sepertinya bukan begitu. Dia hanya datang untuk melihat situasi karena ada
penghalang yang sebelumnya tidak ada."
"Begitu
ya..."
Meski
begitu, aku memeluk erat Mayleen yang tampak cemas, sambil mengelus kepalanya
dan berbicara untuk menenangkannya.
"Aku tidak
memberitahukan alasan kenapa aku memasang penghalang. Aku hanya menekannya
sedikit, lalu ia segera pulang."
"...Begitu
ya."
Setelah aku
memberitahunya bahwa tidak ada informasi yang diberikan kepada bangsa iblis, ia
sepertinya mulai merasa tenang.
"Lalu,
wanita seperti apa dia?"
Karena ia sudah
kembali tenang, aku pun menjawab.
"Anu, ada
sayap hitam kecil yang tumbuh di punggungnya."
"Sayap hitam kecil..."
"Ada apa?"
"Ah, tidak,
bukan apa-apa."
"Lalu... ah,
dia sempat meneriakkan namanya dengan keras saat hendak pergi. Ada apa ya
dengan itu? Apa bangsa iblis punya kebiasaan seperti itu?"
"Tidak,aku
baru pertama kali mendengar kebiasaan seperti itu. Lalu, nama siapa yang dia
sebutkan?"
"Anu... ah,
Mona. Dia bilang namanya Mona."
Saat aku
mengatakannya, Mayleen membelalakkan matanya sesaat, lalu tersenyum dengan raut
kesedihan.
"Ada
apa?"
"Wanita
bernama Mona itu, bukankah dia sangat menawan?"
"Ah,
memang benar begitu... mungkinkah, kamu mengenalnya?"
"Iya."
Mayleen
menunduk sedikit dan berkata dengan suara pelan.
"Mona
adalah salah satu pelayan yang dulu melayaniku."
Mendengar itu,
aku pun membelalakkan mata karena terkejut. Bagaimana mungkin orang yang
kebetulan datang adalah kenalan Mayleen, apakah kebetulan seperti itu
benar-benar ada?
Aku terkejut
dengan kebetulan itu, namun Mayleen dengan wajah yang tampak agak gusar
menyentuh sapu tangan bersulam yang ada di saku dadaku.
"Aku
melakukan kesalahan. Seandainya aku tahu kalau Mona yang akan datang, aku tidak
akan memberikan sapu tangan ini kepada kamu."
"Maksudmu..."
Aku memahami apa
yang ingin dikatakan Mayleen.
"Keberadaanku
mungkin saja sudah ketahuan."
Sudah kuduga.
◆
Musuh bebuyutan
bangsa iblis, Kenta Maya.
Menerima perintah
untuk menyelidiki kehidupan pribadinya dan hubungannya dengan Weimar, Mona
datang ke hutan tempat persembunyian Kenta yang sudah menjadi rahasia umum.
Dan di sana, ia
segera menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.
"...Kenapa
prajurit Weimar menjaga pintu masuk hutan ini?"
Mona bisa masuk
ke hutan bukan melalui jalan setapak pegunungan yang dijaga prajurit, melainkan
melalui jalan yang belum dibuka. Namun, kali ini adalah penyelidikan pribadi
Kenta. Prajurit yang menjaga pintu masuk hutan tempat Kenta tinggal adalah hal
yang tidak normal. Apakah ini bukti kuat bahwa Kenta dan Weimar menjalin kerja
sama secara rahasia? Begitulah yang dipahami Mona.
"Perlu
diselidiki."
Ia memutuskan
untuk mencoba berbicara dengan prajurit saat perjalanan pulang setelah
melakukan penyelidikan pribadi Kenta, dan memilih untuk masuk ke hutan terlebih
dahulu. Mona bergerak menembus hutan rimbun dengan pepohonan yang rapat
menggunakan sihirnya. Akhirnya, ia berhasil keluar ke jalan setapak pegunungan
di posisi yang tidak terlihat oleh prajurit.
"Penjagaan
yang sangat longgar. Apa mereka benar-benar berniat melakukan penjagaan?"
Ia bisa menyusup
dengan sangat mudah hingga sempat berpikir apakah ini adalah sebuah jebakan.
Karena itu, ia bergerak dengan semakin waspada, dan berkat kewaspadaan itu pula
ia berhasil menyadari keberadaan sesuatu.
"Penghalang?"
Setelah menyusuri
jalan setapak pegunungan selama beberapa saat, ia menemukan sebuah penghalang
yang energi sihirnya disembunyikan dengan cerdik.
"...Aku
benci memujinya, tapi ini hebat sekali. Jika bangsa manusia, hampir tidak ada
yang akan menyadarinya. Bahkan di antara bangsa iblis, entah berapa banyak yang
bisa menyadarinya..."
Karena ia
bergerak sambil mewaspadai jebakan, ia berhasil menemukan penghalang yang masih
menyisakan sedikit jejak energi sihir ini. Namun, ia menyadari jika ia bergerak
tanpa kewaspadaan, ia mungkin tidak akan menyadarinya. Meskipun lawan yang
tidak ingin ia puji, ia merasa takjub dengan tingginya teknik sihir tersebut.
"Menurut
laporan sebelumnya, penghalang seperti ini tidak ada. Lalu, kenapa sekarang
tiba-tiba ada penghalang seperti ini..."
Kenta, yang
sebelumnya tidak pernah memasang penghalang meskipun berurusan dengan berbagai
negara manusia, tiba-tiba memasang penghalang sekarang. Ia memikirkan
alasannya, dan jika itu bukan penghalang untuk melawan bangsa manusia, maka
satu-satunya kemungkinan adalah penghalang untuk melawan mereka, bangsa iblis.
"Tapi,
kenapa tiba-tiba... Haa, kali ini terlalu banyak hal yang harus
diselidiki."
Mona menggumamkan
hal itu, lalu mengulurkan tangannya ke arah penghalang untuk mencoba
menganalisisnya.
"...Formula
sihir yang sangat teliti dan efisien. Ini memiliki spesifikasi di mana hanya
dengan menyentuh penghalang, laporan akan langsung terkirim kepadanya..."
Artinya, pada
saat ini, laporan pasti sudah sampai ke tangan Kenta. Mona bergegas melakukan
analisis penghalang sebelum Kenta datang, namun analisisnya sama sekali tidak
mengalami kemajuan.
"Ah,
sudahlah! Kenapa dia bisa menyusun formula sihir yang serumit ini padahal bukan
bangsa iblis!"
Rasa cemas karena
Kenta akan segera datang dan rasa kesal terhadap formula sihir penghalang yang
sama sekali tidak bisa dianalisis membuat Mona berteriak tanpa sengaja. Itu
adalah tindakan yang tidak seharusnya dilakukan saat sedang bergerak dalam
persembunyian, namun dua alasan sebelumnya telah membuat Mona kehilangan
kemampuan penilaian yang tenang. Akibatnya...
"Yo. Sedang
apa kau di tempat seperti ini?"
"KYAAAAAAA!!"
Saat ia
sedang asyik menganalisis penghalang, seseorang menyapanya dari belakang.
Sapaan yang tiba-tiba itu membuat Mona terkejut dari lubuk hatinya, dan ia
berteriak kencang yang belum pernah ia keluarkan dalam waktu lama sambil
melangkah mundur. Karena kejadian yang sangat mendadak itu, jantung Mona
berdegup sangat kencang, dan tubuhnya gemetar hebat seiring dengan detak
jantungnya.
"Apa!?
Ba, bagaimana!?"
Karena
tubuhnya gemetar hebat, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara dengan benar.
Mona berada dalam kondisi setengah panik.
"Tenanglah,
aku bukan hantu."
Karena
pria yang tiba-tiba muncul tanpa tanda-tanda itu berkata demikian, Mona
berusaha menekan detak jantungnya yang kencang dan melihat wajah pria itu.
Lalu, ia menyadari bahwa pria tersebut adalah musuh bebuyutan bangsa iblis,
Kenta.
"Kenta
Maya...!"
Bertemu
dengan musuh bebuyutan secara tiba-tiba membuat Mona hanya bisa mengucapkan
itu. Ia memelototi Kenta dengan perasaan benci dan takut yang bercampur aduk,
namun Kenta merespons dengan nada bicara yang sangat santai.
"Ya,
benar. Siapa kau? Dan apa urusanmu datang ke sini?"
Sikap
yang sangat angkuh itu membuat Mona merasa sangat marah hingga rasanya ingin
meledak, namun ia sadar tidak ada peluang menang jika bertarung melawan Kenta.
Kalau begitu, ia berpikir untuk memprovokasi Kenta agar bisa menggali informasi
sekecil apa pun. Kemudian, ekspresinya yang penuh kebencian tadi berubah
drastis, dan ia berbicara dengan sikap yang meremehkan Kenta.
"Memasang
penghalang semegah ini, apa kau sudah mulai merasa takut karena berpikir
pembalasan kami akan segera dimulai?"
"Sama
sekali tidak."
Meskipun
ia sudah berusaha meremehkan sekuat tenaga, Kenta membantahnya dengan nada
bicara yang santai lagi. Malah, wajah Kenta seolah bertanya, "Kau sedang
bicara apa?". Sikap yang sangat merendahkannya itu membuat amarah Mona
kembali meluap.
"...Cih.
Kalau begitu, kenapa tiba-tiba memasang penghalang padahal sebelumnya
membiarkannya terbuka lebar?"
Mona
memutuskan tidak ada gunanya bicara berputar-putar dengan orang ini, sehingga
ia langsung menanyakan alasan pemasangan penghalang. Namun, kali ini ekspresi Kenta berubah menjadi
sangat dingin dan memotong pertanyaan Mona.
"Kenapa aku
harus memberitahumu?"
"...Dengan
mencoba menyembunyikannya seperti itu, berarti memang ada sebuah
rahasia..."
"Apa kau
tidak dengar? Kenapa aku harus memberitahumu?"
Setelah Kenta
mengatakannya, Mona merasakan tekanan yang sangat kuat. Sumbernya adalah Kenta.
Kenta memasukkan tekanan ke dalam energi sihirnya dan mengarahkannya pada Mona.
"!?
Uhuk!?"
Menghadapi
tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Mona hampir saja jatuh
bertumpu pada lututnya. Ia berusaha keras untuk bertahan, lalu sekali lagi
Kenta mengeluarkan kata-kata dengan nada dingin.
"Aku tidak
tahu apa yang kau selidiki, tapi aku tidak berniat membicarakan apa pun.
Cepatlah pulang."
Karena perkataan
yang sangat menepis itu, ditambah dengan tekanan yang ia rasakan, Mona menjadi
tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa memelototi Kenta dengan penuh kebencian.
Setelah mereka
saling memelototi selama beberapa saat, tiba-tiba tekanan dari Kenta
menghilang. Mona, yang telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan
tekanan tersebut, mendadak menjadi lemas karena tekanan itu hilang secara
tiba-tiba, sehingga ia tanpa sengaja jatuh bertumpu pada lututnya.
Terhadap Mona
yang bersikap demikian, Kenta kembali berbicara.
"Aku sangat
mengerti perasaan kalian yang membenciku. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan
diriku terbunuh begitu saja karena aku belum ingin mati. Oleh karena itu,
selama kalian tidak melakukan apa-apa, aku juga tidak akan melakukan apa pun
pada kalian. Hanya saja... jika kalian berniat membunuhku, aku pun akan
membalas dengan sekuat tenaga. Jika ingin menantangku, bersiaplah dengan tekad
seperti itu."
"..."
Mendengar
kata-kata itu, Mona mengutuk ketidakberdayaannya sendiri, menyadari bahwa ia
tidak bisa melakukan apa pun selain menarik diri dari sini untuk saat ini.
Padahal di depan matanya ada pembunuh Baginda Raja sebelumnya. Akibat perbuatan
orang itu, negeri bangsa iblis jatuh ke dalam kekacauan besar, dan bahkan sang
Putri yang naik takhta menjadi Ratu untuk menenangkan keadaan pun telah
menghilang karena kegagalan kebijakannya.
Ia sendiri tidak
berdaya sama sekali di hadapan Kenta. Hal itu sangat menyakitkan baginya
sehingga ia memelototi Kenta seolah ingin merekam sosoknya di matanya. Mungkin
karena ia menatapnya begitu tajam, atau mungkin karena ia teringat akan sang
Putri dari negeri bangsa iblis... secara tidak sengaja sesuatu menarik
perhatiannya, dan Mona membelalakkan matanya.
Itu adalah sebuah
sapu tangan dengan sulaman yang sangat ia rindukan.
"...Ah, eh?
Tidak, mungkinkah..."
Ia pernah melihat
ciri khas sulaman itu. Lebih tepatnya, itu adalah sesuatu yang ia ajarkan
sendiri, mustahil baginya untuk salah lihat. Tidak mungkin, hal seperti itu...
"Hah? Ada
apa?"
Sambil berpikir
bahwa hal itu mustahil namun merasa curiga bahwa mungkin saja itu benar, Kenta memanggilnya dan membuat pikirannya kembali ke kenyataan.
"T-Tidak,
tidak ada apa-apa."
Hanya
itulah yang bisa diucapkan Mona untuk berpura-pura.
"Ada
apa sebenarnya?"
"T-Tidak,
benar-benar tidak ada apa-apa!!"
Sebenarnya
ia ingin menanyakan tentang sapu tangan bersulam itu, namun karena rasa benci
yang besar terhadap Kenta, Mona tidak bisa bertanya dengan jujur. Oleh karena itu, ia secara spontan
membantahnya dengan suara keras.
"……Jangan
berteriak tiba-tiba. Baiklah. Kalau begitu, cepatlah pergi."
Melihat gerakan
Kenta yang seolah sedang mengusir anjing, amarahnya kembali meluap, namun saat
ini ia tidak punya pilihan selain menuruti perkataan Kenta. Terpaksa ia
berbalik untuk pulang, namun karena merasa ada sesuatu yang mengganjal, Mona
menoleh sedikit ke belakang.
"……Namaku
Mona."
"Hm? Kenapa
tiba-tiba memperkenalkan diri?"
Kenta bertanya
demikian, dan Mona sendiri sadar bahwa situasi saat ini terasa tidak wajar.
Namun, jika ia mengungkapkan namanya di sini, mungkin namanya akan tersampaikan
kepada wanita yang diduga berada bersama Kenta. Jika itu terjadi, mungkin akan
ada reaksi tertentu. Oleh karena itu, ia mati-matian memikirkan alasan.
"……Tidak
adil jika hanya aku yang mengetahui namamu."
"Sebenarnya
aku tidak ingin tahu, sih……"
"Po-pokoknya!!
Hari ini, aku, Mo-na! Yang datang ke sini!!"
Setelah
meneriakkan namanya dengan keras kepada Kenta yang sedang memiringkan kepala,
Mona langsung berlari menuju ke luar penghalang. Di tengah perjalanannya,
pikiran Mona dipenuhi oleh wanita yang menyulam sapu tangan tersebut…… yaitu
mantan Ratu Mayleen.
"Mayleen-sama
berada di bawah perlindungan orang itu…… Mungkinkah, beliau ditangkap dan
dipaksa menjadi pemuas nafsunya…… Tidak, jika itu yang terjadi, sulaman dengan
motif seperti itu tidak mungkin ada, dan energi sihir yang terkandung dalam
sulaman itu pun tidak bisa dijelaskan. Artinya…… Mayleen-sama sedang dilindungi
oleh orang itu……"
Sulaman yang
dilihat Mona adalah bunga mawar. Itu adalah sulaman yang dibuat ketika seorang
wanita memberikan kasih sayang kepada kekasih atau suaminya. Artinya, Mayleen
tidak berada di bawah Kenta karena paksaan, melainkan berada di sana atas
keinginannya sendiri. Fakta itu saja sudah cukup untuk membuat hati Mona merasa
gembira.
Alasan Mona
membenci Kenta adalah karena ia mengira akibat perbuatan Kenta, negeri bangsa
iblis jatuh ke dalam kekacauan, dan sebagai hasilnya Mayleen menghilang.
Setelah mengetahui bahwa Mayleen mungkin masih hidup, sebenarnya perasaan
buruknya terhadap Kenta sudah sangat memudar. Mona berada di departemen yang
utamanya melakukan kegiatan intelijen adalah demi mencari Mayleen, dan karena
Mayleen kemungkinan besar sudah ditemukan, ia bahkan mulai bimbang apakah
sebaiknya ia meninggalkan negeri bangsa iblis dan pergi ke tempat Kenta.
Sambil memikirkan
hal itu, ia menemukan prajurit penjaga yang berada di pintu masuk hutan.
"Omong-omong,
aku juga harus mencari informasi dari mereka."
Teringat
akan tugasnya, Mona menyimpang dari jalan setapak dan masuk ke dalam hutan,
mengenakan tudung untuk menyamar, lalu keluar menuju jalan raya. Kemudian, ia
mendekati prajurit penjaga dengan berpura-pura menjadi penjelajah yang hendak
masuk ke hutan untuk mencari bahan.
"Hm?
Berhenti!"
"Eh? Ah,
iya."
Mona menuruti
perkataan prajurit tersebut sambil berpura-pura tampak sedikit bingung.
"Penampilan
itu, apakah kau seorang penjelajah?"
"I-iya. Saya
datang untuk mengambil tanaman obat yang tumbuh di hutan ini, tapi……"
"Begitu ya.
Maaf, hutan ini dilarang untuk dimasuki selama beberapa waktu."
"Eh!? Tidak
mungkin! Kenapa begitu?"
Mona sengaja
menunjukkan keterkejutan sambil menatap prajurit itu dengan pandangan dari
bawah ke atas. Para prajurit sama sekali tidak mewaspadai Mona yang tidak bisa
dibedakan dengan bangsa manusia jika menyembunyikan sayap dan telinganya.
Sebaliknya, mereka merasa senang karena Mona yang memiliki tubuh menawan
menatap mereka seperti itu, sehingga mereka mulai berbicara dengan leluasa.
"A-ah.
Katanya, tempo hari ada surat buronan yang salah diterbitkan. Kami berjaga di
sini untuk memastikan tidak ada korban yang berjatuhan."
"Surat
buronan yang salah?"
"Iya. Apakah
kau tidak pernah melihat surat buronan untuk orang yang tinggal di dalam hutan
ini?"
"Di dalam
sini, maksudnya orang yang menjadi buronan dari seluruh bangsa manusia
itu?"
"Benar
sekali, orang itu. Surat buronan terbarunya diterbitkan, tapi…… yah, isinya memang
keterlaluan, bahkan menurutku sendiri. Kami berjaga agar tidak ada pemburu
hadiah yang salah masuk ke dalam hutan."
"Hmm…… Hei,
seperti apa isi permintaan yang salah itu?"
Mona menyentuh
sedikit tubuh prajurit tersebut, dan kembali menatapnya dengan pandangan dari
bawah ke atas.
"A-apa boleh buat ya. Ini rahasia, tahu?"
Prajurit tersebut
berkata demikian, lalu mengeluarkan surat buronan Kenta dari balik bajunya dan
memperlihatkannya kepada Mona. Begitu membaca isi tulisan di surat buronan
tersebut, Mona hampir saja menyemburkan energi sihirnya karena ledakan amarah.
Namun, jika ia melakukan itu maka identitasnya sebagai bangsa iblis akan
ketahuan, sehingga ia mati-matian menahan amarahnya.
"Nah, kejam
sekali, bukan? Tidak peduli walau tujuannya menangkap kriminal paling jahat,
tapi sampai menyuruh menangkap pasangannya yang tidak berdosa. Yah, memang
langsung ditarik kembali karena itu kesalahan. Namun karena informasinya sudah
terlanjur tersebar sampai tingkat tertentu, kami berjaga-jaga di sini untuk
mengantisipasi kemungkinan terburuk."
"Begitu ya.
Terima kasih sudah memberitahu. Sampai jumpa."
"Ah, tunggu,
anu, setidaknya namamu..."
Prajurit penjaga
itu mengatakan sesuatu di belakangnya, namun Mona mengabaikannya sepenuhnya dan
pergi dari sana. Kemudian, setelah tidak ada orang di sekitarnya, ia mulai
berbicara sendiri.
"Aku sudah
tahu alasan kenapa dia... Kenta Maya memasang penghalang itu. Itu demi
melindungi Mayleen-sama. Karena surat buronan seperti itu tersebar, dia
melakukan pembalasan terhadap Weimar yang menerbitkannya."
Setelah
mengetahui fakta tersebut, Mona menentukan langkah selanjutnya. Ia harus segera
bersiap setibanya di rumah nanti. Berbeda dengan saat berangkat yang terasa suram, Mona pulang dengan
penuh semangat.
◆
Keberadaan
Mayleen mungkin sudah diketahui oleh bangsa iblis. Wanita bangsa iblis bernama
Mona yang datang tempo hari ternyata adalah mantan pelayan Mayleen di masa
lalu. Menurut Mayleen, Mona-lah yang mengajarkan sulaman kepadanya, dan jika
wanita itu melihat sulaman pada sapu tangan di saku dadaku, ia akan langsung
tahu bahwa itu adalah buatan Mayleen. Apakah Mona tiba-tiba menyebutkan namanya karena sudah menyadari hal itu?
Dengan memperhitungkan bahwa namanya akan disampaikan kepada Mayleen. Hal itu
memang berjalan sesuai rencana Mona, namun pada akhirnya aku tidak tahu apa
niat sebenarnya. Apakah dia ingin membuat Mayleen merasa aman dengan mengetahui
bahwa dia baik-baik saja? Ataukah untuk memperingatkan Mayleen bahwa lokasinya
sudah ditemukan? Selama tidak tahu yang mana, lebih baik aku tetap waspada. Aku
terus waspada terhadap penyusup selama seminggu. Kemudian, ada reaksi pada
penghalang. Ada, tapi...
“……Hmm?”
"Ada
apa?"
Mayleen yang
sedang duduk di sofa merajut topi wol bayi bertanya kepadaku yang tiba-tiba
memiringkan kepala.
"Tidak...
karena lokasi Mayleen mungkin sudah ketahuan oleh bangsa iblis, aku waspada
karena mengira mereka akan datang untuk menjemputmu paksa suatu saat nanti,
tapi..."
"……Itu
artinya, mereka datang?"
"Ya, mereka
datang, tapi..."
"Tapi?"
"Entah
kenapa hanya ada satu reaksi..."
"Kalau
begitu, bukankah mungkin itu bukan bangsa iblis?"
"Tidak, saat
ini pintu masuk jalan setapak pegunungan sedang ditutup oleh prajurit Weimar,
kan? Jika ada yang bersusah payah menerobos atau menghindarinya, itu pasti
bangsa iblis atau orang-orang dari negara manusia yang sangat ingin
menangkapku. Dan dalam kasus negara manusia, mustahil jika hanya satu
orang."
"Artinya,
kemungkinan besar adalah bangsa iblis ya. Tapi, kenapa hanya satu orang?"
"Aku tidak
tahu. Makanya aku merasa aneh..."
Kami berdua
memiringkan kepala sambil berpikir keras, namun seberapa pun dipikirkan,
jawabannya tidak kunjung keluar.
"Apa boleh
buat. Aku akan pergi melihat situasinya sebentar."
Aku mencoba
mendeteksi area luas di sekitar perbatasan penghalang, namun tidak ada bangsa
iblis lain. Karena alasan kunjungannya hanya bisa diketahui dengan
menanyakannya langsung, aku pergi menemui bangsa iblis tersebut. Sama seperti
saat bertemu Mona sebelumnya, aku pergi dengan meniadakan energi sihir dan
keberadaanku...
"……Mona?"
Tanpa sengaja aku
mengeluarkan suara, dan Mona yang berada di dalam penghalang sempat tersentak
kaget, namun ia tidak berteriak seperti sebelumnya dan perlahan menatap ke
arahku.
"……Bisakah
Anda berhenti mengejutkan saya secara tiba-tiba seperti itu?"
Mona yang membuka
suara kali ini berbicara dengan bahasa formal, berbeda dari sebelumnya.
"Maaf soal
itu. Aku tidak menyangka kaulah yang ada di sini."
Mendengar
perkataanku, Mona tampak kesal namun ia tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.
"Lalu?
Sedang apa kau di sini? Dan, apa itu? Barang bawaan itu."
Karena Mona
mengalah dengan mudah, aku menanyakan alasan kunjungannya sekaligus menanyakan
dua koper besar yang diletakkan di dekat kakinya. Mona terdiam sejenak, namun
ia tidak terlihat seperti tidak bisa menjawab, melainkan seolah sedang memilih
kata-kata. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu sampai ia mulai bicara. Dan
akhirnya, setelah pikirannya tenang, ia mulai menjelaskan alasan kunjungannya
ke sini.
"……Saya
adalah pelayan yang melayani Putri Mayleen pada masa pemerintahan Baginda Raja
sebelumnya."
"Hoo."
Saat aku
memberikan jawaban yang seolah-olah sudah tahu, itu akan membuat keberadaan
Mayleen terkonfirmasi secara pasti bagi Mona, jadi aku hanya memberikan
tanggapan singkat. Mungkin karena tanggapanku berbeda dari yang ia harapkan,
wajahnya kembali tampak sedikit kesal, namun ia tetap melanjutkan perkataannya.
"Saat
Baginda Raja sebelumnya ditumbangkan oleh Anda, dan Mayleen-sama naik takhta
sebagai Ratu, saya juga berada di sisi beliau."
"Begitu
ya."
"Namun,
menata kembali negeri bangsa iblis yang sudah sangat kacau ternyata sulit.
Akhirnya adik laki-laki Mayleen-sama melakukan pemberontakan, sehingga
Mayleen-sama diusir dari singgasana."
"……"
Benar, orang yang
menggulingkan Mayleen dari takhta Ratu melalui pemberontakan adalah adik
laki-laki Mayleen sendiri. Adik laki-lakinya yang sepertinya memiliki ambisi
kekuasaan yang kuat itu berniat menjadi Raja bangsa iblis setelah kematian ayah
mereka. Namun, meskipun kemampuan sihirnya dikabarkan luar biasa, ia tidak
terlalu pintar. Akibatnya, yang dibutuhkan oleh negeri bangsa iblis yang sedang
kacau setelah kehilangan Rajanya bukanlah adik yang kuat, melainkan Mayleen yang
cerdas. Oleh karena itu Mayleen naik ke takhta Ratu…… namun adiknya yang tidak
terima akan hal itu melakukan pemberontakan bersama para pengikutnya, dan
menyeret turun Mayleen dari takhta secara paksa.
"Saat
Mayleen-sama diusir dari singgasana, sayalah yang membantu beliau melarikan
diri dari istana."
"……Begitu
rupanya."
Jadi begitu
ceritanya. Aku mendengar dari Mayleen bahwa ia diusir dari takhta Ratu dan
diasingkan, namun jika dipikir-pikir, aneh jika seorang penguasa yang takhtanya
direbut langsung diasingkan begitu saja. Tentu saja, mereka seharusnya berniat
untuk mengeksekusinya. Begitu ya. Ternyata Mona-lah yang membantu Mayleen
melarikan diri.
"Saya terus
mencari ke sana kemari mengejar Mayleen-sama yang melarikan diri dari istana.
Namun…… entah mengapa saya tidak bisa menemukan beliau. Saya akhirnya masuk ke
departemen intelijen tentara negeri bangsa iblis dan terus mencari keberadaan
Mayleen-sama selama ini."
"Hoo."
Mona memberikan
tatapan tajam ke arahku, namun tatapannya itu tidak salah sasaran. Itu karena
aku bertemu kembali dengan Mayleen sesaat setelah ia melarikan diri dari
istana. Sejak saat itu, aku terus menyembunyikannya dengan sihirku.
"Dan……
akhirnya, akhir…… nya, saya menemukan jejak itu……"
Mata Mona
seketika berkaca-kaca.
"Kenta Maya……
Mayleen-sama ada bersama Anda, bukan?"
"……Omong-omong,
apakah kau sudah melaporkan hal ini ke negeri bangsa iblis?"
"Belum."
"Begitu ya……
Dia ada di sini."
Begitu aku
menjawab pertanyaan Mona, ia segera berlutut dengan kedua kaki dan kedua tangan
menyentuh tanah, lalu terakhir ia menempelkan dahinya ke tanah. Serius, orang
ini benar-benar melakukan dogeza.
"Saya
memohon! Izinkan saya untuk tetap berada di sisi Mayleen-sama!!"
Aku tertegun
melihat dogeza Mona saat ia memohon seperti itu. Sepertinya ia memang tidak
memiliki niat jahat…… tapi apa yang harus kulakukan ya.
"……Tunggu
sebentar."
"Baik."
Karena aku tidak
bisa memutuskan ini sendirian, aku mencoba memastikan kepada Mayleen melalui
telepati.
'Mayleen, bisa
bicara sebentar?'
'Ada apa, Kenta?'
'Mona
yang datang tempo hari sekarang ada di sini, dan dia bilang ingin tetap berada
di sisimu. Bagaimana menurutmu?'
Saat aku
bertanya dengan singkat, Mayleen menjawab setelah sempat ragu sejenak.
'Untuk sekarang,
tolong bawa dia ke sini. Mari kita pikirkan apa yang harus dilakukan setelah
itu.'
'Mengerti.'
Setelah
menyelesaikan telepati dengan Mayleen, aku mengalihkan pandangan kepada Mona.
Wah, dia masih melakukan dogeza.
"Angkat
wajahmu."
"Baik."
Entah kenapa, dia
menjadi sangat penurut sampai terasa aneh. Seharusnya baginya aku adalah musuh
bebuyutan, namun apakah berada di sisi Mayleen jauh lebih penting baginya?
"Untuk
sementara aku akan membawamu ke rumah. Kita akan memikirkan apa yang harus
dilakukan setelah itu."
"!! I-iya!
Terima kasih banyak!"
"Omong-omong,
tidak ada orang lain selain dirimu, kan?"
Meskipun aku
sudah tahu melalui sihir pendeteksi, aku mencoba memastikannya.
"Tentu saja,
saya datang sendirian."
"Baiklah.
Kalau begitu, berdiri dan bawalah satu barang bawaan."
"Satu?"
"Satu lagi
akan aku bawa."
"Kenapa?"
"Jika kau
tidak keberatan aku menyentuh tubuhmu, kau boleh bawa keduanya. Jika tidak mau,
biarkan aku membawa satu dan kau yang menyentuh tubuhku."
"Maksudnya..."
"Paham atau
tidak, aku hanya bertanya kau mau melakukannya atau tidak. Bagaimana?"
Karena sepertinya
dia akan terus bertele-tele, aku hanya bertanya apakah dia mau melakukannya
atau tidak. Mona tampak tidak senang karena ucapannya dipotong, namun akhirnya
ia membawa satu barang saja.
"……Lalu, di
bagian mana saya harus menyentuh Anda?"
"Lengan,
punggung, di mana saja boleh."
Begitu aku
mengatakannya, Mona menempelkan tangannya ke punggungku. Setelah memastikannya,
aku mengambil koper yang satu lagi.
"Kalau
begitu, ayo jalan."
"Eh?"
Sebelum Mona
sempat mengatakan sesuatu, aku mengaktifkan sihir teleportasi. Detik
berikutnya, kami sudah berada di depan rumahku.
"Sudah
sampai. Nih, koper
milikmu."
Aku
meletakkan koper yang kubawa tadi di hadapan Mona.
"……Eh? Ah,
eh?"
"Kenapa
bengong? Cepat masuk ke dalam rumah."
"Ah,
i-iya."
Aku mengerti dia
terkejut dengan sihir teleportasi, tapi tidak ada alasan bagiku untuk meladeni
reaksinya satu per satu, dan barang-barang itu adalah miliknya. Aku pun tidak
punya kewajiban untuk terus membawakannya. Meski begitu, karena dia membawa
koper di kedua tangannya, dia pasti tidak akan bisa membuka pintu, jadi aku
membukakan pintu untuknya. Betapa baiknya aku.
Setelah masuk ke
dalam rumah, Mona segera menjatuhkan koper besarnya ke lantai. Jatuhnya cukup
keras, apa kopernya tidak rusak? Apa dia baik-baik saja? Namun, sepertinya Mona
tidak punya waktu untuk memedulikan hal itu.
"……Mayleen-sama……"
Begitu melihat
Mayleen yang sedang duduk di sofa, air mata yang tadi hanya berkaca-kaca kini
mengalir deras tanpa henti.
"Fufu, sudah
lama tidak bertemu ya, Mona."
"Mayleen-samaaa!!"
Begitu disapa
oleh Mayleen, Mona berlari menghampirinya sambil menangis tersedu-sedu dan
berlutut di bawah kakinya.
"Syukurlah, syukurlah
Anda selamat!! Benar-benar, benar-benar syukurlah……"
Mona mengatakan hal itu, namun saat ia melihat sosok Mayleen dengan jelas, ia seketika mematung. Saat ini Mayleen mengenakan gaun terusan yang longgar, dan menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut agar perutnya tidak kedinginan.
Bagi orang yang
paham, mereka mungkin akan berpikir, "Mungkinkah?".
"Ma-Mayleen-sama...
jangan-jangan..."
"Aduuh,
fufu, kamu bisa tahu?"
Mayleen mengelus
perutnya dengan lembut setelah mengatakan hal itu.
"Aku akan
segera menjadi seorang ibu."
Mendengar itu,
Mona kembali mematung, lalu menoleh ke arahku dengan suara gerit gigi.
"K-Kau
bajingan..."
"Mona."
"!? Ha,
baik!"
Mona hendak
mengatakan sesuatu padaku, tapi ia bereaksi terkejut mendengar suara rendah
Mayleen, lalu berbalik menghadap Mayleen dan menundukkan kepalanya.
"Kenta
adalah suami yang sangat aku cintai. Aku tidak akan memaafkan tindakan tidak
sopan apa pun terhadap Kenta. Jika kau tidak bisa patuh..."
Mayleen
memberikan tatapan yang sangat dingin kepada Mona.
"Matilah di
tempat ini."
"!!??"
Wah, wah, Mona
benar-benar terkejut.
Yah, tapi
perkataan Mayleen memang ekstrem tapi tidak salah. Mona bilang dia belum
melaporkan keberadaan Mayleen ke negeri bangsa iblis, tapi jika aku
membiarkannya pergi karena tidak bisa patuh padaku, keberadaan Mayleen mungkin
akan terbongkar melalui mulut Mona. Di dalam perut Mayleen, bersemayam anak
dari seorang Summoner yang memiliki kekuatan terkuat di dunia ini. Bagi Raja
bangsa iblis saat ini, itu pasti merupakan ancaman yang nyata. Tentu saja,
karena dia pasti ingin keturunannya sendiri yang mewarisi takhta. Jika
keberadaan anak Mayleen ketahuan, kemungkinan besar mereka akan mengirimkan
pasukan bangsa iblis ke sini. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Bagaimana
keputusanmu?"
Mona tertegun
sejenak mendengar pertanyaan dingin Mayleen, namun akhirnya ia perlahan-lahan
menundukkan kepala.
"……Saya
mengerti. Mulai saat ini, sebagaimana kepada Mayleen-sama, saya juga bersumpah
setia kepada Kenta-sama dan juga kepada anak yang akan dilahirkan nanti."
Mendengar
kata-kata itu, sikap kejam Mayleen tadi menghilang dan ia tersenyum lebar.
"Fufu,
begitu ya. Syukurlah aku tidak perlu membiarkan Mona mati."
"Ha,
haha..."
Terdengar
suara tawa hambar dari Mona, tapi bagiku, merekrut Mona adalah hal yang
menguntungkan. Lagipula, aku tidak terlalu pandai melakukan pekerjaan rumah
tangga, sehingga sampai sekarang pun Mayleen yang sedang hamil masih melakukan
banyak hal. Meskipun aku membantu, aku tetap merasa bersalah karena memberikan
beban kepada Mayleen yang sedang hamil. Dengan adanya Mona yang merupakan
mantan pelayan, beban Mayleen bisa dihilangkan. Kesetiaannya kepada Mayleen
juga tampaknya tinggi, ini benar-benar sebuah keberuntungan.
◆
"Ngomong-omong,
apakah Mona benar-benar sudah mengundurkan diri dari militer?"
Pria
bertanduk yang berada di tenda markas komando saat konflik dengan Weimar tempo
hari mengatakan hal itu di kantin dalam tempat pelatihan tentara negeri bangsa
iblis. Yang mendengarkannya adalah pria dengan telinga dan hidung runcing yang
juga berada di tenda yang sama.
"Iya.
Katanya, orang tuanya di kampung halaman jatuh sakit. Dia mundur untuk merawat
mereka."
Mendengar
perkataan si pria kecil, si pria besar menghela napas dengan kecewa.
"Begitu
ya... Mona itu punya tubuh yang bagus, aku sempat berpikir ingin menjadikannya
pasangan suatu saat nanti."
"……Hentikan
pikiran mesummu itu, Decker."
"Kamu serius
seperti biasanya ya, Cornell."
Sepertinya pria
bertanduk itu bernama Decker, dan pria dengan telinga serta hidung runcing
bernama Cornell. Saat Cornell menegur Decker, Decker mengangkat bahunya seolah
berkata 'Aduh, ampun'.
"Ini
bukan soal serius atau tidak. Aku bilang jangan melihat rekan kerja dengan
tatapan seperti itu."
"Tapi,
di dalam militer pun ada orang-orang yang menjalin hubungan asmara, kan?
Bagaimana dengan mereka? Jika tidak melihat pasangan dengan tatapan seperti
itu, hubungan mereka tidak akan terjalin."
"……Hubungan
asmara dan hubungan fisik saja itu berbeda."
"Ah,
benar juga ya."
Cornell
menatap Decker yang tertawa terbahak-bahak dengan wajah jengkel. Interaksi
seperti ini tidak ada bedanya, entah itu manusia atau bangsa iblis. Hal ini
dengan jelas menunjukkan bahwa mereka semua adalah sesama makhluk hidup.
"Tapi,
kepergian Mona benar-benar sebuah kerugian besar. Bukan karena fisiknya, tapi
dalam hal kemampuan intelijennya."
"Benar.
Kemampuan intelijen Mona adalah yang terbaik di departemen intelijen. Bahkan
dikatakan bahwa kepala departemen intelijen berikutnya adalah Mona."
"Tapi yah,
kalau orang tuanya jatuh sakit, mau bagaimana lagi. Aku pun kalau dengar ibuku
di kampung halaman jatuh sakit pasti bakal langsung lari pulang."
"……"
"Ada apa, Cornell?"
"Ah, tidak."
Mendengar perkataan Decker, Cornell merasa ada sesuatu yang
mengganjal. Namun, ia tidak tahu apa yang mengganjal itu. Cornell terus
merasakan kegelisahan tersebut, tetapi ia tetap tidak bisa menemukan alasannya.
"Ngomong-omong, setelah kejadian itu, bagaimana
pergerakan Weimar atau bangsa manusia?"
"Hm? Oh, Weimar sudah menarik mundur pasukannya
sepenuhnya. Menurut laporan dari departemen intelijen, para prajurit di
lapangan bersikeras untuk melakukan serangan balik, tetapi pihak atasan
mengeluarkan perintah untuk mundur."
Mendengar
hal itu, Decker menyilangkan tangan dan mengerutkan keningnya.
"Hee,
negara bangsa manusia yang selama ini begitu gigih mencoba menginvasi negeri
bangsa iblis bisa bersikap begitu ya…… Bukankah itu berarti ada udang di balik
batu?"
"Entahlah."
"Ooh,
kalian sedang makan siang juga?"
Saat
Decker dan Cornell sedang mengerang sambil berhadapan, seorang pria bertubuh
besar menyapa mereka dari samping. Dia adalah komandan yang tempo hari.
"Ah,
Yarman-sama. Selamat siang, Pak."
"Selamat
siang."
"Ya. Aku
duduk di sini ya."
Komandan yang
dipanggil Yarman itu duduk di sebelah Decker.
"Jadi?
Kenapa kalian berdua memasang wajah serius begitu, apa yang sedang
dibicarakan?"
"Ah,
itu……"
Decker
menceritakan isi pembicaraan mereka berdua tadi kepada Yarman. Sambil menyantap
makan siangnya, Yarman mendengarkan cerita itu, lalu ia menghentikan tangannya
sejenak, menoleh ke arah mereka berdua, dan merendahkan suaranya.
"Kalian
berdua tahu kan kalau Mona pergi untuk menyelidiki kehidupan pribadi Kenta Maya?"
"Siap,
tahu."
"Iya. Itu
tugas terakhir Mona sebelum berhenti, kan?"
"Benar.
Berdasarkan laporan penyelidikan itu, sepertinya Weimar dan Kenta Maya bukannya
bekerja sama, malah bermusuhan."
"!!"
Mendengar
perkataan Yarman, Decker dan Cornell hampir saja berteriak karena terkejut,
namun mereka mati-matian menahannya.
"Meskipun
dia bilang tidak tahu apa alasannya, sepertinya Weimar sedang sibuk menangani
masalah itu sehingga tidak punya waktu untuk berperang dengan kita."
"Haa, jadi
begitu ceritanya."
Di samping Decker
yang menunjukkan wajah mengerti, Cornell memperlihatkan ekspresi tidak senang.
"Kenapa
bangsa manusia selalu saja memicu masalah untuk diri mereka sendiri ya? Aku
tidak tahu apa yang membuat mereka berselisih, tapi Kenta sebenarnya adalah
orang dari pihak manusia, kan? Menjadikannya buronan lalu berakhir berselisih
dengannya, apa mereka itu bodoh?"
(TLN: frfr nambah masalah sendiri loh
cik)
Mendengar
kritikan tajam Cornell, Yarman pun tertawa mengejek bangsa manusia.
"Fufu.
Mungkin mereka memang bodoh. Itulah sebabnya kita bangsa iblis dibuat menderita
selama bertahun-tahun."
"Benar
sekali!"
Perkataan
Yarman sangat tepat sasaran bagi Decker sehingga ia tertawa terbahak-bahak. Di
sampingnya, Cornell pun ikut tertawa kecil.
"Yah,
karena alasan itulah, kita bisa membiarkan Weimar untuk sementara waktu. Namun,
negara-negara lain masih belum mencabut status buronan Kenta Maya. Kita harus
melihat bahwa langkah negara-negara manusia tidaklah seragam. Untuk sementara, mungkin kedua belah pihak
akan saling memantau situasi."
Begitulah kesimpulan yang diambil Yarman…… Namun, prediksi itu akan dikhianati dalam bentuk yang lain.



Post a Comment